Boyfriend Tsun!

Monsta X's fanfic

Wonho (Shin Hoseok) x I.M (Im Changkyun)

[Warn! Rated] -saya betul betul memperingatkan-


TingTong!

Wonho menoleh cepat ke arah pintu dari atas sofa yang sedaritadi dijadikan sandaran olehnya.

"Siapa?"

"A-ah ya?" Wonho kembali memusatkan fokusnya ke arah ponselnya yang masih terhubung panggilan dengan seseorang. "Tidak tau."

"Tidak tau?" Wonho menahan diri untuk tidak membayangkan sedikit kerut yang pasti tercipta di kening lawan bicaranya. "Bukankah disana sudah hampir tengah malam?"

"Oh benarkah?" Wonho bangkit dari posisi telentangnya lalu menoleh ke belakang. Benar saja, jam dindingnya sudah menunjukkan pukul 11 malam.

"Kita sudah berbicara hampir 2 jam lebih, hyung~ Apa kau tidak sadar? Kkkk~"

"Ahahaha..." Refleks dia mengeluarkan suara tawa. Merasa tidak masuk akal bisa berbicara 2 jam lamanya dengan mantannya sendiri.

Ya, Wonho sedaritadi mengajak Hyungwon –mantan kekasihnya mengobrol.

2 jam? Yang benar saja...

Tengkuknya tak sengaja digaruk saking canggungnya mendengar suara manja seperti itu yang rasanya asing dan tabu untuk didengar kembali.

Segera Wonho beranjak dari sofanya, menarik jaket di atas lengan sofa lalu memakainya.

"Bukankah disana sudah hampir malam? Atau baru pagi? Aku akan membukakan pintu jadi istiraha-"

"Hyung...Siapa pula yang berkunjung ke apartementmu malam-malam? Kecuali hyung masih melakukan kebiasa-" Ada sedikit jeda dalam perkataannya. "Apa selama aku tidak ada, tidak ada yang berubah ya? Justru intensitasnya semakin banyak?"

"Bicara apa sih kau hahaha," 'Justru saat kau tidak ada, rasanya semuanya runtuh' tetapi Wonho tidak berani mengatakannya. Kepergiaan Hyungwon adalah pilihan yang tepat dan tak perlu keduanya sesali jadi sudah seharusnya mereka tak berbicara panjang-lebar.

"Mungkin saja tetangga? Atau temanku? Tidak ada yang tau, Hyungwon-ya."

"Bagaimana dengan orang jahat? Ah, hyung kan tidak suka ada orang yang menginap," Ada sedikit rasa aneh yang menyelinap masuk ke celah hati Wonho. Entahlah, Hyungwon terlihat masih mengingat seluruh kebiasaannya dan itu agak membuat penyesalan mulai dirasakannya. Tetapi di satu sisi, dia ingin terlihat 'tidak seburuk itu' di hadapan Hyungwon, playboy kelas kakap langsung 'ambruk' hanya karena satu lelaki? Tidak mungkin.

Lagipula seharusnya Hyungwon yang menyesal karena meninggalkannya, meskipun kalau pemuda kurus itu menyesal Wonho sangsi akan mengajaknya bersama lagi.

TingTong!

"Lihatlah betapa tidak sabarnya itu. Hati-hati hyung."

"Aku bisa menjaga diriku sendiri," Wonho yang tersadar dari lamunannya cepat-cepat memakai jaketnya dan bergerak mendekati pintu.

"Setelah kau pergi, sepertinya hidupku agak berubah. Bukan orang berbeda yang selalu datang ke apartementku tapi sekarang aku-"

TingTong!

"Ya?"

Wonho berdecih kesal. 'Tidak sabaran sekali'

Meski dia ingin cepat-cepat memutuskan sambungan telepon, tetapi Wonho juga ingin memperkenalkan Changkyun juga.

Hanya saja lidahnya terasa kelu untuk menjelaskan, siapa Hyungwon sampai harus diberitaunya?

"Hyung, aku punya sedikit kabar ba-" Wonho tak mendengar penjelasan apapun karena dengan cepat dia membuka pintu dan-

BRUKKK!

"Hyung?!"

Ponselnya terlempar cukup jauh, sejauh tubuh Wonho yang kembali telentang di atas sofa saat seseorang yang sedaritadi menekan bel pintu menerjangnya begitu saja.

"Hei hei, aish! Siapa kau?!" serunya keras saking terkejutnya. Seseorang itu langsung memeluknya erat yang membuat keseimbangnya menjadi tak stabil dan dengan mudah jatuh dalam posisi tertindih.

"Kau itu berat jadi lepas-"

"Wonho hyung..."

Wonho tertegun.

Suara ini...

"Changkyun?!"

SRET!

"H-hyung..." Tepat sesuai dugaannya, dengan tubuh sekecil dan perawakannya yang mudah dikenali jelas ini adalah Changkyun. Pemuda Im itu berusaha keras untuk menutupi wajahnya di dada bidang Wonho serta memeluknya makin erat pula.

Tubuh Changkyun bergetar membuat hati Wonho ikut bergetar pula.

"H-hei..." Kepala yang lebih muda berusaha dijauhkannya tetapi pada akhirnya Wonho menyerah juga dan membiarkan Changkyun tetap memeluknya. Diusapnya rambut Changkyun oleh Wonho. "Ada apa hmm? Ini sudah hampir tengah malam dan kau terlambat. Apa terjadi sesuatu saat kau dalam perjalanan pulang?"

"Ti-tidak terjadi apa-apa kok."

Suara rintihan itu...

Wonho meringis kecil.

"Kau tidak bisa berbo-"

"Hiks..."

Rasanya seperti jantungnya jatuh bebas ke lambung ketika mendengar suara isakan lirih itu.

Wonho memejamkan matanya seerat mungkin, seerat dia membalas pelukkan Changkyun. Sementara Changkyun sendiri sudah menangis keras, membasahi kaus Wonho.

"Hyung...Neo...gwaechana? Hiks!"

"Gwaechana, nan gwaechana," balas Wonho cepat. "Kau tidak mau cerita? Baik, tapi minimal menangis atau jangan mering-"

"H-hyung..."

Tubuhnya semakin bergetar dan ujung kaus Wonho sudah ditarik oleh Changkyun.

Wonho terus mengusap rambut Changkyun dan punggungnya secara bergiliran, sesekali ditepuknya punggung sempit itu.

"Sudah tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja oke? Tenanglah, aku disini."

"Hyung..."

Wonho menghela nafas lega saat akhirnya Changkyun melepaskan pelukkannya, tidak sepenuhnya tapi karena jarak yang dibuatnya dengan cepat Wonho menangkup kedua pipi kurus Changkyun agar dia tak bertindak aneh lagi.

Changkyun berusaha menghindari tatapan tajam Wonho yang terarahkan padanya namun yang lebih tua terus memaksakan Changkyun untuk tetap menatapnya, tepat di mata.

"Percayalah padaku. Setidaknya jangan menolak. Hatiku sakit saat melihatmu sedih tau?"

Saat Wonho mengusap lembut pipinya, barulah tubuh kurus itu berhenti bergetar. Justru Changkyun semakin menekan pipinya pada telapak tangan Wonho.

"Aku tidak akan melakukan apapun sesuai perjanjian kecuali kau yang-"

"Bisakah kau memelukku lebih lama lagi?"

Sebenarnya perkataan seperti itu sering kali Wonho dengar. Entah hanya modus berujung di ranjang ataupun ledekkan semata, semua trik sudah Wonho ketahui, praktekkan, bahkan dia alami jadi dia sudah berpengalaman dalam menanggapinya tetapi...

...Dia terkejut sampai membelakkan matanya saat Changkyun menerjangnya kembali, bukan melempar tubuhnya ke dalam pelukkan tetapi 'melempar' bibirnya untuk menempel pada bibir tebal Wonho.

"Apa-apaan i-hmph!" Posisi tak nyamannya di sofa apalagi masih ditindih oleh Changkyun membuatnya susah bergerak apalagi untuk menolak, terutama saat sepasang tungkai panjang pemuda manis tersebut memeluk kakinya.

"Im Chang-"

"Hyung..."Wonho mengambil nafas sebanyak mungkin saat tautan bibir mereka terlepas. Jantungnya berdebar kencang dan sulit baginya untuk bernafas saking terkejutnya.

Ya, tentu saja karena aku terkejut bukan karena yang lain.

"Hyung...tidak sayang padaku ya?"

"A-apa?" Wonho bungkam saat manik mata mereka bertemu dan terlihat mata Changkyun yang masih berkaca-kaca, bahkan masih ada jejak air mata baik yang sudah terhapus atau baru.

Wonho tak bisa melihat orang menangis. Sekasar apapun permainannya, para jalang justru memekik meminta lebih bukannya menangis. Dia tidak tega, apalagi melihat wajah sendu seperti itu.

"Bu-bukan seperti itu tapi-"

"Jangan tinggalkan aku, hyung," Changkyun kembali memeluknya, kali ini terasa lebih hangat dan penuh perasaan yang membuat Wonho tertohok karenanya.

Kenapa tiba-tiba begini? Apa dia salah minum? Mabuk? Atau kecelakaan dan amnesia? All of suddenly...

"Aku tidak pergi kemana-mana, tidak akan meninggalkanmu ju-"

Bibir mereka kembali bertemu.

Tapi kali ini Wonho tidak terkejut karenanya terutama saat melihat wajah Changkyun yang damai di atasnya.

Di atasnya?

Oh shit.

"Ahh..." Changkyun mendesah kecewa saat ciuman mereka kembali terlepas. "Hyung kena-akh!"

Changkyun memekik dan Wonho tersenyum licik.

Posisi mereka sudah berbalik, Wonho di atas dan Changkyun di bawah, bawah kuasanya.

Kedua matanya terpejam erat saat wajah Wonho mendekat.

"Kau yang memulai dan aku yang mengakhirinya," bisiknya dengan suara rendah tepat di telinga Changkyun. "Maka dari itu dengar aturanku; jangan menangis, jangan merintih, jangan berteriak, jangan meminta berhenti dan-"

"-jangan lupa mendesahkan namaku, then i will treat you like a little prince –ups," Wonho menyeringai lebar saat melihat wajah Changkyun semakin memerah. "-pardon me, little princess i mean?"

Satu hembusan nafas dilayangkannya di atas leher jenjang Changkyun, refleks dia mendongakkan kepalanya seakan mengundangnya.

"Kata kuncinya, tolong?"

"Hngghh, h-hyungg..."

Senyum Wonho melebar.

Tidak ada lagi tangisan atau rintihan keluar dari bibir manisnya, sesuai peraturan Wonho, Changkyun tak bisa menahan dirinya untuk tidak mendesah keras.

Pemuda itu tidak bilang untuk tidak menjerit dan bersuara keras kan?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Yeoboseyo? Hyung? Wonho hyung? Suara aneh apa itu?!"

Tut...Tut...


"Ahh, Kkung-kkungie..."

Wonho memutar tubuhnya ke samping dan seketika matanya terbelak lebar.

Tidak ada siapapun di sebelahnya.

Terakhir kali dia sadari juga hari masih malam tapi sekarang cahaya matahari sudah mencuri jalan masuk ke kamar.

Wonho langsung terduduk di samping ranjang, berpikir sejenak dalam keadaan matanya masih terasa lenget, kepalanya masih agak nyeri setelah dipaksa segera bangun, dan tubuhnya sangat lelah.

Jangan bilang semalam aku...

Dirabanya kasur dekat perut dan kakinya.

Lengket.

Sialan! Jadi yang semalam itu hanya mimpi? Hanya imajinasiku? Argh!

Wonho menyingkap selimut tebal yang membungkuk tubuh polosnya –oke, ini kebiasaannya jadi jangan heran lalu mengambil pakaiannya yang selalu tersampir di meja kecil sebelah ranjang dan memakaikannya satu persa-

Tunggu dulu

Kepala berputar dan matanya mulai memandang sekeliling.

Ini bukan kamarnya.

Dia melirik ke bawah.

Ini bukan ranjangnya.

Terakhir ke arah meja kecil.

Dan dia tidak pernah menaruh rapih pakaiannya.

Apa semalam bukan mimpi? Apa aku tidak bisa menahan diri dan berakhir meniduri jalang dari club tapi membayangkannya itu Changkyun?

Buru-buru Wonho memakai pakaiannya.

Tapi itu terasa sangat nyata! Mana mungkin?

Tapi lebih tidak masuk akal lagi kalau itu bukan mimpi

Aku harus cepat memastikan-

KREK...

Wonho yang baru memakai boxernya refleks menarik kembali selimutnya dan berpura-pura tidur.

Suara pintu kembali ditutup terdengar oleh gendang telinganya dan itu semakin membuat Wonho memejamkan matanya erat, berusaha nampak natural.

Dari sudut matanya, terlihat ada bayangan seseorang yang masuk dan memutari kamar sebelum menarik kursi dan duduk di sebelah ranjang, lebih tepatnya berhadapan langsung dengan Wonho.

Tubuhnya membelakangi matahari jadi sulit mengenalinya dari pandangannya yang minim tapi justru matanya menangkap sesuatu yang lain di kamar ini.

Satu-satunya foto yang pastinya hanya dimiliki pemilik kamar ini dan satu-satunya juga foto yang ada di kamar ini.

Foto kelulusan SMA seorang pemuda dengan ekspresi datar.

...ini kamar Changkyun!

Nyaris saja Wonho berteriak saat tiba-tiba keningnya merasakan hawa hangat dari telapak tangannya yang kecil itu.

Jelas itu adalah Changkyun.

Pertanyaannya kenapa bisa Wonho berada di kamar Changkyun dan Changkyun bersikap tidak biasa seperti sekarang? Wonho jadi berpikir yang bukan-bukan karena mimpi kotornya tadi.

Keningnya diraba beberapa kali sebelum tangan itu menjauh.

"Tidak panas...tidak apa-apa...sehat. Pastinya," Wonho menahan nafasnya saat jeda tercipta. "...Wonho hyung itu nyata, ini bukan bayangannya atau apapun itu. Ini Wonho hyung, Wonho hyung masih ada disini, disisiku. Wonho hyung tidak menghilang. Dia masih disini."

Wonho menahan diri untuk tidak mengerutkan kening apalagi mengerutkan wajahnya karena bingung.

"Dahaengida..."

"Ah, pasti tadi malam aku hanya sedang kacau balau. Ya ya ya, laki-laki selalu seperti itu jika kacau balau –tak terkendali. Wonho hyung yang sering meniduri orang pasti beberapa karena sedang emosi, pasti dia mengerti ya ya ya, tenang saja Im Changkyun tenanglah."

Sial, yang semalam itu bukan mimpi?!

Lagi-lagi Wonho menahan dirinya.

"Lagipula satu ciuman dan satu kali bercinta itu bukan masalah baginya bukan? Harusnya dia senang karena bercinta denganku yang...masih perjaka."

Ada jeda lagi dan Wonho bersyukur akan tindakkan cepatnya untuk berpura-pura tidur, mungkin saja dia tidak akan mendengar kejujuran yang keluar langsung dari bibir manisnya dan malah dianggap melakukan pelecehan karena tidak tau apapun.

Kalau benar semalam bukanlah mimpi, Wonho akui itu rasanya sangat luar biasa tetapi kalau tiba-tiba diserang tanpa alasan begitu, dia agak ngeri juga.

"Itu bisa dijadikan alasan olehmu. Banyak alasan kok. Kecelakaan, mabuk, salah minum, apapun itu."

"Apa aku menuduhnya saja?"

Hampir saja Wonho mengeluarkan protes saat Changkyun melanjutkan perkataannya.

"Tidak tidak, itu tidak baik. Tidak boleh berbohong. Intinya aku tidak boleh mengakui bahwa dari segimanapun sebenarnya aku terlihat sedang melakukan pelecehan padanya..."

Helaan nafas mulai terdengar dan itu agak memberatkan perasaan Wonho yang mendengarnya.

"Mungkin setelah ini aku akan berpindah profesi langsung menjadi penghibur saja. Jalang-jalang di club haha~"

Jangan...

"A-aku hanya kalap,"Ada jeda lagi disini. "A-aku takut. Ya, hanya takut. Takut yang tak berlandaskan apapun hehe. Konyol sekali bukan? Pasti Hyungwon tidak se-protektif dan se-creepy."

Takut? Takut apa? Ada aku disini.

Wonho mengggumamkannya dalam hati tanpa dia sadari.

"Ah, apa-apaan ini kenapa aku membandingkan diriku dengan Hyungwon lagi? Toh sekarang sudah tamat, dan tidak ada untungnya bertindak seperti yang dia inginkan. Kontrak batal dan tentunya aku bisa menemukan orang sepertinya lagi, masih banyak di dunia ini seperti Wonho hyung...iya kan? Tentu saja."

Kubilang jangan pergi, sialan. Aku sudah tinggal disini untukmu.

"...Atau aku mengaku dan membeberkan saja semuanya karena toh aku akan membatalkan kontrak, membayarkan denda, dan pergi dari sini. Atau langsung kabur sa-"

Wonho membuka matanya selebar mungkin dan mencengkram pergelangan tangan Changkyun.

Di balik ekspresi datarnya, Changkyun sendiri terlihat terkejut dan berusaha terlihat baik-baik saja.

Akting yang bagus.

Senyumnya mengembang lebar. Senyum yang perlu diwaspadai.

"Sampai kau berani membawa kopermu keluar dari apartement ini, akan aku pastikan kau tidak akan bisa berjalan selama seminggu."

Netranya nampak sedikit bergetar namun Changkyun membalasnya hanya dengan senyuman sampai matanya sembari sesekali menarik-narik ringan lengannya yang masih dicengkram.

"Oh sudah bangun hyung? Maaf semalam aku pulang larut dan tidak menepati janjiku, hari ini aku ada kelas jadi acara bersamanya nanti sa-"

Changkyun nyaris memekik saat pergelangan tangannya semakin kuat dicengkram dan ditarik agar wajah mereka saling berhadapan.

"Kau pikir aku tidak mendengar pengakuan jujurmu sedaritadi?"

"A-apa?"Manik matanya bergerak tak tentu arah, menghindari tatapan serius dari Wonho yang sudah separuh duduk ini. "Bicara apa sih kau hyung? Semalam kau kelupaan minum kah? Aku tidak menger-"

"Sejak kapan kau bersikap baik padaku?" Wonho memicingkan matanya dan Changkyun meringis saat tangannya agak diputar olehnya. "Maaf katamu? Dan panggilan hyung berturut-turut? Yang benar saja."

"Kau tidak bisa berbohong," Senyumnya kali ini terulas lebih normal saat tangannya yang bebas mengusap lembut wajahnya, lebih lembut daripada yang semalam dia lakukan. Cengkraman di pergelangan tangannya juga mulai melonggar.

Senyumnya masih terpantri di wajah saat air wajah lawan bicaranya berubah menjadi lebih keras dan secara kasar, dia menarik terus-menerus tangannya yang dicengkram tak terlalu keras. Karena Wonho sudah yakin bahwa yang dia anggap mimpi kotor itu bukanlah mimpi belakang, fisik Changkyun tentunya masih lelah dan sedikit lemah untuk mengeluarkan tenaga lebihnya.

"Shin Hoseok, lepaskan tangan-"

"Memangnya kau mau kemana hm?" Changkyun mendengus keras. "Perjanjian kita belum tercapai tujuannya dan aku tidak berniat menyudahi sekarang. Sudah kubilang aku tidak akan membiarkan kau pergi kemanapun. Jangan melawan atau kubuat kau benar-benar tak bisa pergi kemanapun bahkan untuk sekedar ke supermarket."

"Oh, atau kau mau kuhukum sampai tak bisa jalan selama seminggu? Ah tidak, dilihat dari kondisimu sekarang, kau mau pergi kemana padahal tak bisa jalan dengan normal?"

"Shin Hoseok brengsek! Tanganku bisa putus!"

"Kau sendiri yang bilang tidak mau aku pergi lalu kenapa sekarang kau yang mau pergi? Apa kau marah karena kata-kataku yang seperti melecehkanmu?" Salah satu alisnya terangkat tinggi. "Toh aku sudah melihat tu-"

"Karena aku seperti jalang jadi lepaskan aku!"

"Jalang yang hanya menjadi milikku maksudmu?"

Akhirnya Changkyun berani menatap balik mata Wonho dengan matanya yang sudah melotot. Wajahnya memerah tapi kali ini bukan karena hembusan nafas melewati lehernya seperti yang semalam terjadi.

Wonho mengulas senyum puas.

"Baik, kalau itu mau-mu."

PLAK!

Wonho melupakan salah satu tangan Changkyun masih bebas bergerak.

"Shin Hoseok, kau tetap tidak bisa mengerti perasaan orang lain. Kau pikir karena aku dulu boyfriend experience dan sering di club di usia muda berarti aku semurah itu? Kau pikir hanya dengan satu malam dan kau berhasil mengambil keperjakaanku maka kau sudah mendapatkanku? Sudah menang? Tidak seperti itu, brengsek. Aku masih punya hati."

Wonho masih memegangi pipi kanannya yang terasa kebas saat Changkyun akhirnya bisa menarik tangannya dari cengkraman pemuda Shin itu dan bergegas untuk keluar dari kamar yang suasananya sudah memanas ini.

"Aku sudah memperingatimu untuk lepaskan tanganku. Sekarang itu salahmu sendiri memancing a-"

"Intinya kau malu dan merasa harga dirimu jatuh kan?" Changkyun yang hendak memutar kenop pintu terdiam di tempat sementara Wonho membetulkan posisinya sampai bersender pada hardboard ranjang. "Aku tidak berpikir seperti itu. Kalau kau malu, katakan. Kalau kau tau itu salah atau apapun itu, katakan saja. Aku tidak akan tertawa sampai mati kalau kau melakukan hal itu, aku selalu jujur pada pacar dan mantanku –jujur akan kekhilafanku tetapi bukannya dihargai, justru mereka selalu menamparku. Hadiah darimu itu tak seberapa," Wonho mengusap pipi kanannya.

"Justru kalau setelah mendengar pengakuanku mereka masih berada disisiku, berarti mereka tulus. Aku masih kekeuh untuk mempertahankan perjanjian kita dan berada disisimu karena memang kau perlu seseorang di sisimu, semalam aku sudah melihat kelemahanmu tapi tidak tau alasannya. Beruntungnya kau bertemu denganku, kalau kau menunjukkan kelemahanmu pada orang yang salah, mungkin kau akan dimanfaatkan. Beruntung, aku masih peduli padamu. Intinya, aku tau kau tidak bisa sendirian.."

"Aku tidak membutuhkan rasa kasihanmu –bahkan orang terdekatku bungkam akan hal itu, aku bukan siapa-siapamu, siapa kau sangat ingin tau masalahku dan asal menyimpulkan seperti itu. Aku yakin pada akhirnya kau akan memanfaatkan hal yang kau sebut kelemahan itu untuk bisa meniduriku lagi bukan?"sinis Changkyun tak tertahankan. Meski begitu, dia tidak sedikitpun menoleh ke belakang dan terus memunggungi Wonho.

"Karena..." Wonho menyeringai dan melipat kedua tangannya di depan dada. "...Kau masih boyfriend experienceku?"

Changkyun menghela nafas berat, dia lupa satu hal.

Seburuk apapun Wonho terlihat di depan mata orang lain, dia sebenarnya orang baik.

Baik yang keterlaluan. Baik yang tidak tau waktu dan tempat.

Wonho baik sih, tapi ke semua orang –sama rata.

"Kau terlalu baik. Kau boleh tampan dan segala macam kepercayaan dirimu itu tapi kau terlalu baik, itu kelemahanmu."

BRAK!

"Kau tau kalau kau tidak akan bisa pergi kemana-mana dalam keadaan seperti itu!"

"Berisik."

Wonho tertawa keras sebelum menggeleng-gelengkan kepalanya.

Meski sekarang dia mulai mempertanyakan 'betapa baiknya' dia.


Bubar kalian bubarrrrr

10 hal nih, puas? :D

Ganti rating gak ya:"D Cuma satu aja sih part ini, sisanya bahkan kata kasar diusahakan tidak ada

Keajaiban gak nih saya muncul? Ajaib banget

Bukannya stuck maaf ya minna-sanTT not in mood saja (bisa ya sampai 2 bulan:")

Gatau kenapa waktu itu gasempet nulis samsekTT jadi ini bonus untuk kalian/? Dadah!