DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

RATE : T

WARNING : AU, MULTICHAPTER, OC, CANON, ... DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

Informasi mengenai sejarah dan latar belakang dari Ryujin dan Tora Akuma telah berhasil Sasuke dapatkan. Keduanya adalah pecahan dari organisasi induk yakuza yang bernama Akatsuki. Terbelah menjadi dua fraksi akibat masalah ketidakadilan, ego, serta iri dengki. Dan kini ketiga falkon malam akan kembali meneruskan investigasinya lagi dimulai dari kelompok yang berisikan para dewa naga, Ryujin.

.

.

.


~ Sky God VS Earth Demon (Part 5) ~

Ame. Artinya hujan. Sebuah kota satelit di region Konoha, tepatnya dua puluh satu kilometer ke barat daya dari ibukota prefektur Shinobi ini. Kota yang dinamai sesuai dengan kondisi geografisnya yang memiliki curah hujan tinggi sebesar rata-rata 650 milimeter per tahun dan merupakan salah satu daerah yang tertinggi tingkat curah hujannya di Jepang.

Siang ini agen Simeone, Newton, dan Steve memutuskan untuk pergi ke tempat yang berada di sekitar kawasan lereng gunung Myobokuzan itu. Untuk meneruskan penyelidikan kasus tewasnya Kisame Hoshigaki yang masih dirasa jauh dari titik akhir.


09.53

Headquarter Ryujin, Ame

Tidak terlalu sulit untuk menemukan lokasi markas tempat para penjahat-penjahat eksklusif yang melambangkan diri mereka bak hewan naga berada. Kelompok yang dipimpin oleh Yahiko 'Pein' ini laksana penguasa di kota yang terkenal dengan keindahan alam pegunungannya itu. Gedung markas besar mereka adalah salah satu dari segelintir bangunan tertinggi di Ame. Itu informasi yang diperoleh dari seorang penjaja makanan dan minuman kaki lima yang sempat ditanyai oleh Naruto di dekat gapura raksasa selamat datang tadi.

Tidak ada hujan berarti anda salah tujuan.

Kalimat slogan khas yang sengaja dibuat oleh pemerintah untuk menarik atensi sekaligus simpati wisatawan ini hampir bisa ditemui di sepanjang jalan. Terutama di persimpangan. Dan kata-kata nyeleneh itu ada benarnya. Bukan hanya sebatas deretan huruf pemanis mata. Gerimis mulai turun begitu mobil yang dikemudikan oleh Sasuke semakin mendekati tujuan.

"Teme, menurutmu kenapa orang bernama Yahiko ini membuat markas megah di kota kecil dekat gunung seperti ini? Dan bukannya di Konoha atau bahkan Osaka atau Tokyo yang lebih metropolis, begitu?" Naruto menanyakan sesuatu yang sepele seperti ini dengan tujuan untuk menghangatkan suasana di dalam mobil yang mulai terasa dingin akibat suasana gerimis deras di luar. Ditambah laki-laki yang sedang menyetir di sandingnya adalah seorang yang pasif, tak akan mau berbicara tanpa dirangsang. Dan yang satunya lagi, oh ... lebih parah. Sedang keenakan tertidur pulas di jok belakang yang telah sepenuhnya dikuasai oleh dirinya seorang. Ditambah alunan suara rintik-rintik hujan gerimis yang terdengar merdu bagi telinga dan terasa sejuk untuk kulit. Shikamaru resmi mati suri!

Sosok yang ditanya hanya melirik sekilas, "Entahlah. Tapi menurutku itu ada hubungannya dengan ungkapan lebih baik jadi raja di kerajaan kecil daripada panglima di kerajaan besar."

Si penanya hanya manggut-manggut saja. Lalu tiba-tiba dia berseru, "Hey, sepertinya itu di depan!"

Sasuke ikut mengamati posisi yang ditunjukkan oleh jari telunjuk si rambut pirang. Tidak langsung terlihat jelas akibat terpaan air hujan yang membasahi kaca depannya dipadu dengan gerakan konstan wiper bolak-balik. "Hn. Bersiaplah."

Mobil sedan hitam berharga mahal itu menepi. Pintu-pintunya tidak langsung terbuka karena orang-orang di dalamnya sedang mempersiapkan diri terlebih dahulu.

"Kau tidak lupa kan membawa senjata api?" tanya si pengemudi kepada penumpang yang duduk di samping kirinya.

"Tentu." Naruto mengangguk penuh kemantapan. "Tentu saja. Tapi masalahnya kini ... " kepalanya bergerak ke belakang. Diikuti oleh Sasuke.

Terdengar dengkuran keras dari arah jok belakang. Shikamaru tertidur pulas. Tidak, bahkan terlampau pulas seakan mati suri. Ingin rasanya Naruto jambak lagi sekencang mungkin kuncir rambut lelaki itu supaya bangun. Namun akibat posisi tidurnya yang terlentang sempurna, kepala belakangnya sukses menindih kunciran nyentrik itu. Tapi bukan Uzumaki Naruto namanya kalau miskin ide.

-Plak!-

-Plok!-

"Brengsek!" terbangunlah si raja tidur dari dunia paralelnya. Spontan dia pegangi kedua pipinya yang terasa sedikit perih lagi panas. "Bisa tidak kau bangunkan aku dengan cara yang lebih manusiawi?!"

Naruto terkekeh keras melihat reaksi rekannya. "Hehehehe, apakah kau lupa jika saat ditampar pipi kanan maka berikan juga pipi kirimu?"

Si korban tidak berniat menanggapi karena terlampau sibuk mengusap sepasang pipinya ditambah mengendalikan rasa kantuknya akibat dipaksa bangun mendadak.

Sasuke yang jarang-jarang tertawa bahkan harus merelakan imejnya sedikit luntur. Namun secepat kilat dia kembalikan ke mode serius. "Cepat bersiap. Kita sudah sampai."

Setelah Shikamaru merasa sudah lebih 'sadar', mereka bertiga keluar dari dalam kendaraan. Berlari-lari kecil menerobos hujan yang semakin deras. Menghampiri pintu masuk sebuah gedung bertingkat kurang lebih sepuluh lantai yang pada bagian atasnya tertulis aksara kanji besar yang dibaca 'Ryujin'. Berarti bangunan ini adalah tempat yang benar.

Sampai ke ruangan besar dan luas yang sepertinya itu adalah lobi. Naruto yang berjalan paling depan segera menghampiri meja panjang yang pada dinding bagian belakangnya kembali tertulis huruf kanji Ryujin namun dengan dihiasi gambar ular naga raksasa.

"Maaf, bisakah kami bertiga bertemu dengan Nagato-san, Konan-san, dan ketua organisasi ini yang bernama Yahiko-san?" Naruto bertanya sopan di depan meja resepsionis. Namun tak seperti resepsionis pada umumnya. Tak ada wanita molek, langsing, semampai, ditambah cantik yang melayani. Kebalikannya. Justru seorang pria botak sangar, kekar, jelek yang memakai setelan jas warna ungu dan pada wajahnya dipenuhi dengan bekas luka. Sosok Ibiki si 'Pitbull' sang guru konseling langsung berkelebat di pikiran ketiga remaja ini.

"Ya? Ada urusan apa kau dengan nyonya, Nagato-san, terlebih okashira, eh?" pria botak itu malah bertanya balik dengan nada bicara yang terdengar serak. Sambil mengetuk-ngetukkan abu cerutunya di asbak.

"Kami dari Natchfalke. Detektif sekaligus intelijen dari KPD." Sasuke yang merespon.

"Urusan?"

"Investigasi lanjutan. Kasus kematian Hoshigaki Kisame kemarin malam, tuan." Shikamaru yang menambahkan.

Raut muka pria sangar yang sepertinya bertugas sebagai resepsionis ini berubah seketika menjadi penuh prasangka. "Untuk apa kalian mau-maunya meladeni urusan itu. Biarkan saja si congkak itu mati membusuk. Toh, dia bukanlah orang baik."

"Tolong jangan mempersulit kami. Kami hanya ingin menemui atasanmu." dibalas kilat oleh agen Simeone begitu kalimat anggota yakuza bawahan Yahiko itu mencapai titik.

Orang tadi menghisap dalam-dalam cerutunya kemudian menganggukkan kepala berulangkali. "Oke-oke, kuhubungi sebentar."

Sasuke, Naruto, dan Shikamaru terpaksa harus berdiri menunggu sementara si resepsionis gedung ini sedang terlibat percakapan dengan seseorang di seberang telepon kabelnya. Gagang alat komunikasi jarak jauh itu ditaruh di posisi semula. "Nyonya Konan mengijinkan kalian untuk menemuinya. Lantai tujuh, ruangan pojok timur laut."

Tak lupa Naruto yang mengucapkan kata terimakasih. Ketiga anggota Natchfalke ini naik menggunakan lift yang interiornya didesain dengan ukiran-ukiran ular naga yang mewah dan indah menuju ke lantai tempat dimana ruangan asisten Pein itu berada.

Segera mereka menuju ke arah timur laut begitu pintu lift terbuka guna menemukan ruang kerja tangan kanan dari sang ketua Ryujin. Ada dua buah ruangan berdempet yang terdapat di pojokan. Shikamaru dapat dengan mudah menemukan mana ruangan yang tepat.

"Kojin hisho. Ini adalah ruangannya." ucapnya sambil menunjuk-nunjuk sebuah papan kotak yang tertempel di jejer pintu bertuliskan kanji Kojin hisho. *Asisten pribadi*

Sasuke yang kebagian mengetuk. Tiga kali repetisi ketukan pertama. Tak ada respon. Empat kali repetisi ketukan kedua. Tak ada jawaban. Ketukan ketiga ditambah satu repetisi dan tetap sama.

Ia coba putar kenopnya dan rupanya tidak dikunci.

"Langsung masuk saja." anak ini mengajak kedua rekannya untuk memasuki ruangan tanpa ijin sang empunya. Namun sebetulnya tak masalah karena sudah mendapat izin di bawah tadi.

Ruang kerja pribadi seorang asisten sekaligus orang yang paling dipercaya oleh seorang ketua kelompok yakuza ternyata hampir sama persis dengan ruang kerja kantoran pada umumnya. Hanya yang paling membedakan adalah sejumlah tanaman bunga yang terdapat di sejumlah sudut ruangan. Lisianthus berwarna ungu di atas meja kerja, lily of the valley kekuningan berdiri sendirian di setiap sudut, hydrangea yang digantung, dan sebuah pot berisikan anggrek emas Kinabalu yang mahal nan langka termangu sendirian di atas meja bulat kecil.

Mereka bertiga tetap menanti dengan sabar kehadiran sang pemilik ruangan. Keberadaan bunga-bunga mahal itu setidaknya mampu mengurangi kebosanan ketiga tamu ini.

Terdengar suara pintu yang digeser dari ujung ruangan dan sontak gumpalan uap menyeruak dari dalam pintu yang terbuka. Kaki jenjang seorang wanita nampak muncul duluan dan diikuti dengan bagian tubuhnya yang lain hingga kepala.

"Oh, Tensho daijin-sama sedang berbaik hati sekali padaku detik ini." ceplos Naruto yang kini mulutnya menganga sangat lebar diiringi kedua bola mata birunya yang terbelalak sempurna. *Dewa matahari dalam kepercayaan Shinto yang memiliki nama lain Amaterasu*

Di ujung depan sana, dengan tubuh yang masih basah kuyup terkena lelehan air sehabis mandi, Konan memperlihatkan nyaris seluruh tubuhnya tanpa helaian benang kecuali daerah intimnya yang tertutupi oleh g-string. Penampakan irezumi membalut hampir di sekujur tubuh moleknya. Mulai dari betis naik ke paha, pantat, punggung, lengan, perut, hingga kedua buah dadanya yang membusung kencang. Warnanya didominasi oleh perpaduan antara merah, hitam, dan hijau. Selebihnya adalah warna minor. Dengan gambar-gambar saling bercampur-aduk tumpang-tindih antara bunga, tangkai, daun, awan, huruf kanji, dan yang paling mencolok dari itu semua. Lukisan naga mendaki langit memenuhi seluruh bagian punggungnya. *seni tato ala yakuza*

"Oh, kalian rupanya. Maaf telah membuat kalian menunggu." kata Konan datar. Tanpa rasa malu, canggung, terlebih takut. Ia ambil sebuah jubah mandi warna putih yang tergantung di cantelan baju lalu lekas memakainya sehingga kini tubuh setengah telanjangnya sudah tak terekspos lagi.

Sasuke kesulitan untuk melenyapkan warna merah yang bersemu di pipinya. Jujur baru pernah dia melihat langsung menggunakan mata kepala sendiri tubuh wanita dewasa tanpa busana. Bahkan Sakura akan langsung mengomel jika dia sekedar mencuri pandang pada bagian tubuhnya yang terbuka. Shikamaru terus-terusan salah tingkah dengan menggaruki rambut di bawah kuncirnya yang tidak gatal. Ekspresinya campur-aduk tidak karuan. Dan yang paling mencolok tentu saja si rambut durian. Terus-terusan nampak gelisah karena merasakan celananya sangat 'sesak'. Seandainya saja dia diberi privasi sendirian maka pasti akan langsung merancap tanpa pandang resiko jangka panjang ejakulasi dini.

"Ada keperluan apalagi kalian para detektif datang kemari?" tanya Konan sembari menarik kursi sedikit ke belakang untuk duduk.

Sasuke berusaha sekuat tenaga untuk mengenyahkan pikiran negatifnya. Ia harus tetap profesional. "Kami, khususnya saya ingin menginterogasi anda dan kedua rekan anda lebih dalam lagi."

Wanita berambut biru tua itu tersenyum simpul kemudian mengangguk lirih. "Saya paham. Duduklah."

Hanya Sasuke seorang yang menurut. Yang lain memilih untuk tetap berdiri di posisinya.

"Jadi, bagaimana?" tanya Konan. Aroma palmolive yang harum, pekat, dan mengikat menguar dari tubuhnya. Membuat jantung si Uchiha muda berdegup lebih cepat.

"Ehm, begini." ia mencoba menenangkan diri sejenak. "Aku ingin menanyai anda mengenai hubungan dengan korban, yaitu Kisame." ungkapnya.

Konan menarik bibir sebelah kirinya sedikit ke bawah. Kedua alisnya terangkat. "Hmm, begitu. Saya tidak terlalu dekat dengan Kisame. Dulu kami adalah rekan ketika masih berada di organisasi lama. Dia bukan pria yang menyenangkan."

'Jadi informasi dari tukang ceramah itu benar.' Sasuke membatin.

"Tapi saya bersyukur atas kematian pria itu. Setidaknya dunia akan lebih terasa segar jika satu sampah busuk telah dibuang ke tempatnya." lanjut si wanita yang memasang sebuah pierching di bawah bibirnya ini.

Sasuke hanya mengangguk sekali. Lantas pertanyaan selanjutnya, "Lalu, apakah menurut anda Yahiko-san dan Nagato-san pernah memiliki masalah dengan Kisame?"

Tiba-tiba jemari telunjuk kanan Konan yang lentik dan berkuku panjang warna biru mengusap nakal dagu lelaki yang sedang menanyainya. Membuat Sasuke merasa terkena efek setruman dahsyat dalam sekejap. "Kenapa kau kelihatan ingin tahu sekali, tampan?"

Naruto yang melihat hal barusan hanya bisa memendam rasa iri dalam hatinya. Seandainya saja dia yang mengalami.

"Ehm, mohon jawab saja." Sasuke bereaksi canggung.

Konan melepaskan sentuhan elektrik sensasionalnya dari dagu laki-laki itu. "Oke-oke, santai saja. Emm, saya kurang tahu untuk hal itu. Itu adalah masalah privat mereka berdua. Setahu saya okashira hanya membenci satu orang saja dengan sepenuh hati di dunia ini."

"Obito?" celetuk Shikamaru yang tiba-tiba ikut masuk ke dalam pembicaraan.

Konan melirik sebentar ke arah orang yang barusan menyuarakan tebakannya. "Benar."

"Nagato-san?"

Wanita itu kembali melihat ke arah mata Sasuke. "Lebih-lebih dia. Saya kurang tahu. Laki-laki itu terkadang membuat saya iri. Entah mendapat uang darimana dia bisa membeli sebuah Subaru Forester yang cantik menawan itu. Ah, maaf kalau saya curhat." ia tertawa halus di akhir.

Sasuke menempelkan kedua permukaan tangannya di atas meja lalu bangkit berdiri dari tempatnya duduk. "Baiklah Konan-san. Cukup sekian. Terimakas ... "

Tanpa diduga tubuh perempuan berwajah sensual itu berdiri condong ke arah depan. Wajahnya pelan-pelan bergerak menggerayangi samping kiri kepala Sasuke. Ia berbisik lirih nan menggoda, "Simeone kan namamu? Jika kau butuh kehangatan malam ini ... " tak disangka lidahnya menjilat pipi kiri milik si pemuda bujangan. " ... aku siap."

Baru pernah seumur hidup perasaan aneh ini menghinggapi otaknya. Sensasi yang tak bisa diungkapkan oleh bait, syair, sajak, bahkan puisi kesusastraan manapun. Sangat-sangat memabukkan laksana candu opium. Untung saja Shikamaru mau menarik tangannya dengan keras sehingga membuatnya cepat tersadar dari dunia fantasi 'dewasa'. Kedua orang itu keluar dari ruangan berurutan dan disusul oleh anggota Natchfalke terakhir yang sedang sibuk merutuki keberuntungan si rambut pantat ayam terus-terusan terutama setelah peristiwa barusan.

Di jalan Sasuke sempat menanyakan keberadaan ruangan pribadi Nagato kepada salah seorang anggota kelompok ini yang kebetulan berpapasan. Dikatakan berada di lantai empat, dekat dengan gudang. Tiga detektif ini pun kembali turun tiga lantai ke bawah.

Di dalam lift, Naruto masih terlihat seperti orang yang jengkel. Wajahnya tertekuk sedari tadi.

"Kenapa kau?" tanya Sasuke singkat.

Lelaki yang mempunyai kumis di kedua pipinya itu mendengus keras, "Kau enak ya tadi. Menyebalkan."

"Jadi kau iri?" tuduh si penanya frontal.

Tak merespon, mukanya berpaling ke samping hingga tak kelihatan dari pandangan kedua rekan satu organisasinya.

"Hahaha, makanya. Jangan terlalu banyak mengonsumsi film porno dan melakukan masturbasi. Pikiranmu selalu dipenuhi fantasi erotis, kau tahu?" Shikamaru nampak senang sekali meledeknya kali ini. Mungkin membalas tamparan pipi dua kali di dalam mobil tadi.

Pintu elevator bergerak masing-masing ke samping berlawanan arah. Dan kebetulan sekali orang yang dicari sedang berdiri tepat di hadapan ketiganya.

"Nagato-san?" sapa agen Steve.

Laki-laki berambut merah terang itu sedikit terkejut. Lantas dia perhatikan muka-muka orang yang ada di depannya. "Kalian kan ... "

"Natchfalke." Sasuke menunjukkan lencananya. "Kita pernah bertemu kemarin di restoran. Kami ada perlu dengan anda detik ini juga." ungkapnya jujur

"Untuk?"

Shikamaru yang menerangkan, "Interogasi lanjutan. Kami harap anda mau meladeni."

Kedua bola matanya bergerak tanpa irama ke berbagai penjuru selama beberapa sekon. Nagato sedang berpikir mempertimbangkan. "Emm, baiklah. Tapi harap cepat saja. Karena aku sedang ada janji untuk menemui klien di Kumo."

Sasuke mengangguk sekali sentak, "Oke."


Ruangan tempat Nagato bekerja sehari-harinya tidaklah jauh berbeda dengan ruangan milik Konan. Cuma yang ini lebih sempit dan tidak memiliki fasilitas kamar mandi dalam.

Terdapat sekitar delapan buah hiasan dinding yang tertempel rapi beraturan di situ. Naruto dan Shikamaru sempat mengaguminya sejenak.

"Wow, ini kan sniper jenis ... "

Nagato yang sudah duduk di kursinya langsung menyambung kalimat Naruto yang tidak selesai karena bingung. "M24 SWS. Lumrah digunakan oleh serdadu militer USA."

Anak itu lalu ber'ohh' ria sembari mengusap-usap senjata api laras panjang berwarna hitam keabu-abuan yang sedang diamati olehnya.

Shikamaru turut berkomentar, "Bahkan Heckler & Koch PSG1 idaman tentara NAZI dan Dragunov SGD andalan tentara-tentara Stalin kau punya. Kolektor sejati rupanya."

Kata-kata pujian dari si rambut nanas barusan ditanggapi hanya dengan seulas senyum tipis oleh Nagato. "Ya, itu adalah koleksi-koleksi berhargaku. Namun kepunyaanku masih jauh dari yang namanya lengkap." tuturnya merendah.

Tak mau membuang menit lebih banyak lagi, Sasuke yang sudah siap segera menjalankan tugasnya. "Nagato-san, aku akan memulai pertanyaannya."

Orang itu sontak melihat ke arah laki-laki yang barusan memanggilnya. "Oh, tentu. Cepatlah. Aku ada janji."

Sasuke menarik nafas pendek, "Apa hubungan anda dengan korban, maksudku, Kisame?"

"Kisame? Aku dan dia adalah teman. Dulunya. Saat kami berdua masih menjadi anggota kelompok Akatsuki yang diketuai oleh ayah Yahiko. Hanya itu." jawabnya lugas.

"Hanya itu?" Sasuke sedikit memancing.

Nagato menyingkirkan poni panjang yang menutupi mata kanannya, lalu kembali menimpali, "Iya. Tak ada hubungan lebih. Apalagi kini dia adalah musuh organisasiku. Dulu terkadang aku tidak suka dengan sikapnya yang arogan. Yang selalu menyinggung perawakanku ini dan membanding-bandingkan dengan dirinya yang memiliki bodi tinggi dan berotot. Namun itu semua kini tinggal menjadi kenangan." ia menyenderkan punggungnya ke kursi.

Sasuke melanjutkan pertanyaan, "Lalu apakah anda tahu jika ketua anda dan Konan sekiranya memiliki masalah dengan Kisame?"

Pupil Nagato terarah ke langit-langit sedangkan otaknya sibuk mengingat. "Okashira kurasa tidak memiliki problem pribadi dengannya. Setahuku untuk sejauh ini jika ada orang yang ini dihabisi oleh Pein, dia adalah Obito."

Agen Simeone mengangguk-angguk. "Konan?"

Dijawab cepat, "Wanita itu juga tidak kupikir. Namun semenjak orang itu tewas kemarin, dia nampak bahagia. Seperti merasa sangat lega sekaligus bersyukur. Aku tak tahu alasannya apa."

Sasuke langsung berdiri. "Terimakasih, Nagato-san. Sudah selesai."

Karena sedang terburu-buru, pria kurus ini langsung cepat-cepat angkat kaki dari ruangannya. Tapi Shikamaru sempat menghentikan langkah cepatnya saat bodyguard pribadi Yahiko itu baru saja melewati pintu. "Nagato-san."

Yang merasa terpanggil kontan menoleh, "Ada apa? Cepat. Aku sedang dikejar waktu."

Shikamaru paham akan hal itu. Jadi dia akan menuruti keinginan pria itu untuk tidak berlama-lama. "Dimana ketua anda sekarang?"

Nagato menyingkapkan lengan panjang jas yang menutupi pergelangan tangan kirinya untuk melihat jam tangan. "Jam segini dia sedang berlatih di dojo."

"Dojo? Lantai?" Naruto bertanya.

"Delapan. Tutup lagi pintunya jika kalian bertiga keluar." orang ini segera melenggang pergi menuju ke lift dengan sangat tergesa-gesa.

Sasuke, Shikamaru, Naruto saling bertatapan satu sama lain.

"Ayo kita naik empat lantai." ajak Shikamaru.

Tujuan berikutnya adalah lantai delapan. Bolak-balik naik-turun lagi menggunakan elevator. Sesampainya di lantai yang dituju, ketiganya segera bergerak cekatan untuk mencari lokasi tempat latihan atau yang lumrah disebut dojo. Dua menit berselang dan sampailah mereka di tempat yang dimaksud. Terindikasi dari tulisan huruf kanji yang berbunyi 'Dojo' tercetak di sebuah ukiran papan pada bagian atas pintu masuk lebar.

"Ayo masuk." Sasuke memberi instruksi.

Pintu berdaun ganda itu dibuka dan begitu kaki mereka menginjak lantai marmer ruangan di dalamnya, terdengar suara seruan-seruan ramai lagi berisik dari ujung depan sana. Kira-kira itu berasal dari sebuah ruangan lagi yang tersembunyi di balik deretan shoji yang menjadi dindingnya. *panel dari rangka kayu berlapis kertas transparan ala Jepang*

Sebelum menggeser pintu kayu, Sasuke sempat meminta persetujuan dari kedua rekannya. Tanpa berkata sepatah kata, dia hanya pandangi mereka bergantian. Naruto mengangguk, disusul Shikamaru juga. Si penyandang marga Uchiha sempat menelan ludah sekali sebelum dia geser sebuah panel shoji di hadapannya.

Sebuah pemandangan ala tempat-tempat latihan beladiri langsung nampak jelas oleh mereka. Puluhan pria yang kemungkinan besar adalah anggota fraksi yakuza Ryujin sedang berkumpul di dalam dojo. Sebagian hanya duduk-duduk santai sembari minum arak di pinggiran, dan separuhnya sedang sibuk mempraktekkan kemampuan bertarung mereka.

Namun tak ada yang namanya sambutan penuh kehangatan bagi ketiga tamu berpakaian jas hitam-hitam berkacamata ini. Yang ada justru kehebohan berlandaskan kecurigaan besar yang mereka terima.

"Hey, siapa kalian?!"

"Mau apa kalian kemari?!"

"Dasar orang-orang tak tahu sopan-santun dalan bertamu!"

"Kalian ingin diberi pelajaran, hah?!"

Naruto dan kawannya diibaratkan seperti sedang masuk ke kandang binatang buas. Yang akan selalu siap menerkam kapan saja mengikuti insting naluri kebinatangannya sekalipun tidak kelaparan.

Yakuza-yakuza anak buah Pein yang berpenampilan sangar, urakan, keras, dan bertato di seluruh bagian tubuhnya itu hanya dalam hitungan detik langsung mengerumuni agen-agen Natchfalke. Tatapan mereka semua tidak ada yang bersahabat. Semuanya sama-sama menyiratkan kekejaman.

"Hey, jawab pertanyaanku brengsek!" gertak seorang pria yang ikut berkerumun sambil menodongkan sebuah pistol. Dan aksinya itu segera diikuti yang lain. Puluhan senjata api bermacam-macam tipe kini seluruhnya terarah kompak ke satu sasaran.

"Oh shit, aku tidak menyangka akan seperti ini jadinya." dalam kondisi terpojok yang mengancam nyawanya, Naruto benar-benar dilanda kepanikan luar biasa. Kulit wajahnya yang cokelat tan kini berubah mendekati warna kulit Sasuke. Tangan kanannya bergetar mendekati pistol yang terpasang di pinggang sebelah kanan.

Rasa kantuk Shikamaru bahkan sampai sirna seutuhnya dalam sekejap mata. Kelenjar adrenalnya memproduksi hormon kortisol dalam jumlah besar pada momen-momen sangat menegangkan seperti ini. Yang menyebabkan kewaspadaannya berada di titik puncak.

"Merepotkan." gumamnya sambil perlahan-lahan mengambil senjata api dari sarungnya.

Sedangkan orang terakhir dari organisasi mereka, Sasuke, sudah siap sedia untuk meletuskan isi senapan. Pelatuknya tinggal ditarik. Sekalipun ini hanya tindakan gertak sambal belaka karena sebodoh-bodohnya manusia pun tahu, mustahil tiga akan menang melawan puluhan.

"Kami ingin menemui pimpinan kalian. Itu saja." ucapnya tenang sekalipun jantungnya kini sedang mengalami kondisi aritmia. Tangan kanannya yang memegang pistol digeser berulang ke kanan dan kiri.

Seorang pria telanjang dada yang memiliki tato irezumi hewan mitologi naga pada perut hingga dadanya muncul dari belakang kerumunan. Para yakuza langsung memberikan jalan baginya untuk lewat. Seorang pria berambut spike oranye sudah berdiri persis di hadapan moncong pistol kepunyaan Sasuke. Sorot bola matanya menatap sangat tajam ke arah manik onyx si Uchiha bungsu.

"Omae wa boku kara nani o shitaidesu ka, tantei?" *Apa yang kau inginkan dariku, detektif?*

~ TSUZUKU ~


Oke, chapter 5 sudah author update. : )

Terimakasih kepada readers yang masih mengikuti jalannya cerita sampai chapter ini.

Sampai jumpa di chapter depan!