Chapter 14

.

.

.

.

"Kaa-san..." Bisik Sakura parau.

Sakura berdiri dan berlari ke pelukan Mebuki, membuat tiga orang yang ada di sana terheran-heran. Tentu saja, mereka pikir masalah keluarga yang terjadi begitu rumit dan sulit diselesaikan. Tapi melihat Sakura yang seperti ini membuat siapapun pasti berpikir jika mereka tak ada masalah.

"Kaa-san... hiks... kaa-san... " Isakan Sakura menyadarkan Mebuki. Wanita anggun itu langsung mendekap erat putri yang dirindukannya.

"Maaf Sakura-chan... maaf..." Mebuki menangis mengingat apapun yang sudah dilakukan mereka pada putri sulungnya ini. Sedangkan Sakura menggeleng kencang dipelukan ibunya. wanita itu bahkan tak tahu apa yang harus di maafkan dari orang tuanya. Dia tak pernah memikirkan itu.

"Tou-san tak ingin memelukku?" Sakura mengerjap setelah melepaskan diri dari Mebuki. Mendengar putri yang sudah di usirnya enam tahun yang lalu seperti itu membuat pertahanan Kizashi runtuh. Bibirnya bergetar hebat. Begitu pula tangannya yang terulur menyentuh wajah Sakura.

"Sakura... putriku..." Bisiknya parau lalu memeluk Sakura dengan lembut. Menyalurkan segala rindu yang di milikinya. Betapapun keras kepala dan kejamnya dirinya, Kizashi tetaplah seorang ayah. Yang memiliki penyesalan untuk perlakuannya pada putrinya, yang memiliki sejuta rindu pada putrinya yang pergi dari rumah, yang memiliki harapan bertemu Sakuranya, putri kecilnya dan mampu mengalahkan kekeraskepalaan dan gengsinya.

Sementara itu Sasuke tersenyum lembut. Baginya Sakura semakin terlihat menakjubkan. Ketidakpeduliannya pada sesuatu ternyata bisa berguna memperbaiki hubungan keluarganya dengan mudah. Ini memang terlihat tak masuk akal. Akan banyak orang tak mengerti dan menganggap aneh Sakura, tapi bagi Sasuke Sakuranya memang aneh. Aneh yang menakjubkan. Yah meski terkadang sifat Sakura yang satu itu terasa menyebalkan. Perlahan Sasuke berniat keluar ruangan, memberi waktu reuni pada mereka.

"Ah Sasuke..." Sakura melepaskan diri dari pelukan ayahnya dan menarik tangan Sasuke. "Lihat tou-san, ini rupa ayah biologis Sarada." Ucapan Sakura membuat Sasuke tersedak salivanya sendiri. Dia menoleh ganas pada wanita pink yang sepertinya sudah mulai keluar dari zona depresinya.

Sementara itu Mebuki dan Kizashi menganga tak percaya. Bukan saja karna ucapan mengejutkan Sakura, tapi juga karna fakta ayah biologis Sarada adalah Sasuke. Orang yang bisa di bilang keluarganya tak jauh dari pandangan Kizashi. Padahal mereka sudah menduga jika ayah Sarada adalah seorang preman atau gangster yang mampu membuat Sakura takut untuk minta pertanggung jawaban. Ini Sakura, seharusnya dia bisa memaksa Sasuke bertanggung jawab. Toh itu hanya seorang Sasuke, apalagi keluarga mereka bisa di bilang berhubungan baik.

"Apa? Sasuke? Tidak mungkin." Sasuke langsung sakit hati mendengar gumaman tak percaya Mebuki. Berbagai pikiran buruk berkecamuk di kepala raven itu. Memangnya Sasuke seburuk itu sampai mereka tidak percaya jika Sakura melakukan itu dengannya? Hey bahkan Sasuke tak memiliki rencana melakukan itu dengan Sakura. Kenapa yang merasa terhina di sini justru dia. Tunggu, mungkin saja orang tua Sakura hanya berpikir Sasuke tak mungkin melakukan hal buruk seperti itu. Oke, mungkin memang begitu mengingat Uchiha adalah keluarga terpandang. Positif thinking Sasuke. Pria itu menarik nafas meredakan emosinya yang meletup-letup.

"Yah abaikan itu dulu." Hancur. Niat Sasuke meredakan emosinya hancur seketika. Dia merasa diabaikan, dilecehkan dan ini penghinaan. Uchiha Sasuke tak pernah mengalami ini. Sekarang Sasuke tahu dari mana sifat menyebalkan Sakura yang suka mengabaikan sesuatu. Oke, ini rumah sakit. Tak pantas jika membuat keributan. Sasuke Uchiha adalah pria cool yang keren. Marah hanya merusak imejnya saja. Sasuke mensugesti dirinya sendiri. "Kami minta maaf tentang Sarada..." Lanjutan ucapan Kizashi membuat Sakura langsung murung seketika. Wanita itu mendekati putrinya, mengusap sayang pipi gembil gadis kecilnya yang masih terlelap.

"Aku sangat ingin tahu orang yang menabrak Sarada-chan." Ucap Sakura berapi-api. Suasana mellow yelow yang menyelimuti wanita pink itu seketika berubah merah membara. Sasuke menyeringai senang melihat wajah pucat orang tua Sakura.

"Memangnya apa yang akan kau lakukan pada orang yang menabrak Sarada, Sakura?" Pancing Sasuke. Pria itu ingin bersorak melihat pasangan paruh baya itu menelan ludah gugup.

"Aku akan menyeretnya ke sini, membuatnya melihat hasil perbuatannya agar dia tahu alasanku mencincangnya setelah itu." Sebut Sasuke calon menantu durhaka yang mati-matian menahan seringai girangnya melihat Mebuki dan Kizashi gelisah ditempatnya.

Krek. Empat orang itu menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Kepala dengan rambut berwarna merah menyembul dari pintu. Manik hijaunya yang sama seperti Sakura mengamati seisi ruangan.

"Gaa-chan..." Jerit mebuki senang dan langsung berlari berniat memeluk pria itu. Tapi Mebuki harus kecewa saat Gaara melewatinnya begitu saja. Pria itu justru langsung memeluk Sakura erat.

"Rasanya masih nyaman seperti dulu. Aku kangen, Sakura." Ucap Gaara lembut. Sayangnya kelembutannya itu hanya di balas getokan kuat di kepalanya oleh Sakura.

"Panggil aku nee-san." Sewot Sakura.

"Tinggi kita sama, kau bukan nee-sanku." Sahut Gaara cuek. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya. Sementara Mebuki ngomel-ngomel dan berniat menjambak rambut Gaara jika saja tidak dipegangi Kizashi.

Sasuke hanya bisa mendesah melihat reuni kacau keluarga Haruno. Mereka seperti hanya tidak bertemu enam hari, bukan enam tahun lebih. Sasuke tak yakin dia akan tetap waras jika menjadi bagian keluarga aneh itu. Jika saja dia tak menyukai Sakura, mungkin dia tak akan terlibat dalam keanehan yang membuatnya frustasi ini. Mana keanggunan yang sempat Sasuke lihat beberapa waktu lalu dari seorang mebuki dan Kizashi? Ternyata itu hanya kedok.

"Nee-chan..." Sasuke kenal suara ini. Entah kenapa tiba-tiba kepalanya berdenyut nyeri.

Kenichi menerobos masuk sembari memanggil-manggil pelan nee-chan kesayangannya yang sedang tertidur. Di belakang bocah itu ada Konan, Itachi dan kedua orang tua Sasuke. Kamar Sarada jadi penuh orang yang berguman rendah saling menyapa, saling menyemangati dan apapun. Intinya ruang rawat Sarada jadi menyerupai pasar. Berisik. Dan keberisikan itu berhenti oleh teriakan tak percaya Mikoto. Sasuke yang sedari tadi duduk di sofa dan tak terlibat kericuhan (?) mengangkat alisnya. Apa lagi kali ini?

"Kau memperkosa Sakura dan tak bertanggung jawab? oh aku tak menyangka memiliki putra brengsek sepertimu." Jgeerr! Ucapan lirih Mikoto bagaikan bom atom yang meledak di kepala Sasuke. Sasuke shock. Sepertinya belum selesai penderitaannya hari ini.

"Ck ck ck aku tak percaya ini Sasuke." Itachi.

"Aku malu." Fugaku mengusap wajahnya.

"Tou-san..."

"Bukan begitu baa-san..."sakura memotong penjelasan Sasuke. "Aku... aku yang memperkosa Sasuke." Ucap Sakura malu sembari memainkan jarinya.

Dan JGEEEERRRRRRRRRRRRRRRRR! Semua orang yang ada di situ ternganga. Mebuki langsung menutup wajahnya sembari bergumam Sakura bukan anaknya. Wanita diperkosa saja sudah merupakan aib meski musibah. Apalagi ini justru putrinya yang memperkosa seorang pria. Putrinya sangat memalukan. Mebuki tak menyangka pertemuan dengan putrinya lagi setelah enam tahun menguak kenyataan seperti ini. Harusnya dia tak usah bilang pada Mikoto bahwa Sasuke ayah biologis Sarada tadi. Semuanya jadi semakin kacau. Rasanya sekarang Mebuki tak menyesali tindakan Kizashi mengusir Sakura. Putrinya itu bukan hanya memperkosa seorang pria dan tak mau mengatakan siapa ayah Sarada dulu, tapi juga mempermalukan mereka didepan keluarga besar tunangannya dulu.

"Sasuke..." Wajah Sasuke memucat mendengar nada sedih Mikoto. Sasuke tak butuh dikasihani. Tak ada yang berkurang meski Sasuke diperkosa sepuluh gadis sekalipun. "Putraku sama sekali tak jantan." Sasuke nyaris sekarat mendengar ucapan Mikoto selanjutnya.

"Kaa-san..."

"Kau harus belajar dariku agar lebih macho." Potong Itachi.

"Ck ck ck." Fugaku menggelengkan kepalanya tak percaya membuat Sasuke makin meradang.

"Memperkosa Sasuke? Kau bukan jalang murahankan?" Sinis Konan pada Sakura. Kali ini Sasuke bingung, harus membenci Konan karna mengatai Sakura atau berterima kasih karna Konan tak menghujatnya?

"Apa kau bilang?" O oh mereka semua lupa jika Konan dan Sakura adalah dua monster berbahaya jika disatukan. Segala kemungkinan terburuk memudar saat suara kecil nan lemah memanggil Sakura.

"Mama..." Semua orang memandang Sarada haru. Akhirnya gadis kecil mereka bangun.

"Saradaku... Sarada..." Sakura sudah menangis dan akan memeluk putrinya jika saja ucapan Sarada tak menghentikannya.

"Berisik ma... kenapa kalian berisik sekali... bagaimana aku bisa tidur jika berisik." Keluh Sarada yang bersiap memejamkan matanya lagi.

"Jangan." Nyaris semua orang berteriak agar Sarada tak tidur lagi. Mereka justru khawatir Sarada tak bangun jika tidur lagi. Sedangkan Sarada hanya mengrenyit melihat raut cemas mereka. Tiba-tiba dia mengingat seseorang yang beruraian air mata sebelum pandangannya menjadi gelap.

"Nee-chan... nee-chan... lihat aku di sini. Kenichi di sini." Sarada menatap Kenichi yang melonjak-lonjak ceria di samping ranjangnya. "Nee-chan jangan tidur lagi ya, aku ingin main dengan nee-chan." Kenichi meraih tangan Sarada. sementara Sarada hanya menyunggingkan senyum manisnya pada bocah itu yang langsung cekikikan kegirangan melihat senyum Sarada.

Semua orang terharu melihat interaksi dua bocah itu. Hanya Konan yang mendengus jengkel tanpa diketahui siapapun. Seberapa besarpun dia tak menyukai Sarada dan Sakura, tetap saja tak ada yang bisa dilakukannya. Putranya sangat menyukai Sarada. Yah mungkin dia bisa sedikit menerima kenyataan ini. Hanya sedikit. Anggap saja itu kompensasi dari rasa bersalah karna kurang memperhatikan Kenichi selama ini.

"Hai Sara-chan." Sarada mengrenyit bingung melihat orang tak di kenal menyapanya.

"Ah ini Gaara, sayang, ji-sanmu, Adik kecil mama." Sakura menjelaskan.

"Ji-san?" Sarada masih mengrenyit. Reaksinya sangat jauh dari harapan semua orang yang membayangkan Sarada tersenyum girang.

"Sepertinya kau lebih butuh dokter daripada ji-san hm? Aku akan panggilkan dokter untukmu." Perlahan senyum manis Sarada merekah mendengar ucapan Gaara. Sasuke langsung iri setengah mati melihat betapa mudahnya Gaara membuat Sarada tersenyum di pertemuan pertama.

"Biar aku yang panggil dokter." Ucap Sasuke menahan jengkel.

"Ma, Boruto di mana?" Tanya Sarada.

"Aku juga akan panggil Boruto." Ucap Sasuke sebelum Sakura sempat menyahuti Sarada.

Semua orang di situ memandang aneh Sasuke yang terlihat kesal saat keluar untuk memanggil Dokter dan Boruto. Entah apa yang ada di kepala ravennya, tapi kelihatannya mereka tak ambil pusing. Mereka kembali mengobrol ringan atau menyapa Sarada. Diam-diam Sakura tersenyum haru melihat keluarganya dan keluarga Sasuke berkumpul di sini, di ruangan Sarada. Sakura mengusap air mata harunya, Sarada selalu membawa kebahagiaan untuknya. Bahkan dengan cara yang nyaris membunuhnya seperti kali ini.

"Jangan menangis Sakura." Gaara memeluk Sakura dari belakang.

"Nee-chan, Gaa-chan... nee-chan..." Sakura memukul kepala Gaara pelan.

"Kau bukan kakakku." Gaara cemberut mempererat pelukannya.

"Ya ya kita kembarkan? Aku bosan mendengar fantasimu itu. Lepas, aku harus menghubungi Sasori dan Deidara."

"Aku sudah melakukannya. Biarkan aku memelukmu lebih lama, aku kangen." Sakura terkekeh mendengarnya dan membiarkan Gaara memeluknya selama yang adik kecilnya itu mau.

"Ya tuan muda Haruno." Sakura tak akan bertanya bagaimana Gaara tahu tentang Sasori dan Deidara. Tak ada yang tak bisa dilakukan adik gilanya ini. Gaara selalu mempunyai seribu satu cara mendapatkan apa yang diinginkannya.

Dua pasang manik hijau itu memperhatikan bagaimana Kizashi dan Mebuki meyakinkan Sarada jika mereka adalah kakek neneknya. Dan Mikoto tertawa saat wajah pasangan itu pucat ketika Sarada menanyakan kemana saja mereka selama Ini. Yah Sepertinya perjuangan Kizashi dan Mebuki tak akan mudah.

.

.

.

.

.

Sementara itu Sasuke masuk ke ruangan Naruto. Sebenarnya yang menangani Sarada itu Hinata. Tapi Sasuke pikir sama saja. Toh mereka pasangan dokter yang tak perlu diragukan lagi kemampuannya.

"Teme..." Sapa Naruto saat menyadari Sasuke masuk ke ruangannya. Di situ ada Hinata yang sedang memeluk Boruto. Sepertinya bocah itu belum bisa ditenangkan.

"Sarada Sudah sadar. Ku pikir dia perlu di periksa." Mendengar ucapan Sasuke Boruto langsung melesat keluar ruangan.

"Boruto!" Naruto bergegas mengikuti putranya.

"Sasuke-kun." Panggil Hinata saat Sasuke akan mengikuti Naruto. "Ini hasil tes DNAmu dengan Sarada-chan." Sasuke menerima berkas yang di sodorkan Hinata padanya dan meneliti berkas itu.

"Ini..."

"Kalian memang ayah dan anak, bukankah ini kabar bagus?" Hinata tersenyum.

"Ya. Ini kabar yang sangat bagus. Aku tak meragukan ini sejak awal, tapi untuk berjaga-jaga jika ada masalah suatu saat. Tapi..." Sasuke menutup mulutnya tak percaya. Rasa senang yang tak terkira memenuhi hatinya. Dia tahu ini. Tapi hasil tes DNA ini tetap saja membuatnya sangat senang. Sarada putrinya, Sakura tak akan memiliki alasan menolaknya. Tak akan ada kekhawatiran tentang pria lain bagi Sakura. Sasuke berjanji, dia akan menjadi satu-satunya pria Sakura, dan ayah... bukan tapi papa Sarada. Sasuke mengembalikan berkas itu pada Hinata. Membuat istri Naruto itu mengernyit heran.

"Simpan ini untukku Hinata. Aku tak akan melukai Sakura dengan ini. Aku hanya akan menggunakannya jika perlu." Ucap Sasuke. Hinata tersenyum mengerti.

"Kita juga harus ke ruang rawat Sarada-chan. Aku ingin melihat Borutoku yang tersenyum lagi." Sasuke mengangguk setuju. Mereka menuju ruangan Sarada setelah Hinata menyimpan berkas Sasuke.

Sasuke mengerang mendengar keramaian di ruang Sarada. Sebenarnya ini ruang rawat atau tempat nongkrong sih? Suara berisiknya terdengar sampai keluar ruangan. Hinata terkekeh mendengar gerutuan Sasuke. Memang terkadang ada pasien yang memiliki jumlah pengunjung berlebih seperti Sarada.

Sasuke benar-benar mendesah jengkel sekarang, pembuat onar di ruangan itu bertambah. Selain Boruto dan Naruto ada Sasori dan Deidara. Entah siapa yang mengabari duo aneh itu. Sasuke tak yakin ada suasana yang lebih kacau dari ini.

"Sebenarnya ini rumah sakit atau taman hiburan?" Sinis Sasuke yang membuat Hinata tergelak. Wanita itu masuk sembari berusaha menghentikan tawanya.

"Halo Sarada-chan. Baa-san senang kau sadar, jika lebih lama lagi mungkin putraku akan menyusulmu." Kekeh Hinata menggoda Boruto.

"Kaa-san..." Protes Boruto.

"Dia menangis terus karnamu." Hinata masih senang membuat putranya malu.

"Aku tak heran, Boruto memang cengeng. Aku bahkan ingat dia menjerit seperti bayi saat itu." Ejek Sarada.

"Kau... Aku bukan bayi!" Dan suasana di kamar itu benar-benar seperti di taman bermain. Menyenangkan.

.

.

.

.

.

.

Saat ini Sasuke dan Gaara sedang menuju apartemen Sakura untuk mengambil pakaian ganti ibu dan anak itu. Gaara yang menyetir, Sasuke tersenyum miris melihat betapa urakan gaya menyetir Gaara. Padahal wajah pria itu terlihat tenang layaknya orang dewasa. Tapi prilakunya membuat Sasuke lebih suka menyebutnya aneh daripada dewasa.

Bahkan Sasuke mengerang saat dengan santai Gaara memasukkan dalaman Sakura ke dalam tas. Sedangkan wajah Sasuke sudah merah padam melihat dalaman Sakura. Sasuke bukan mesum. Dia hanya pria normal. Ya normal karna membayangkan bagaimana erotisnya Sakura saat hanya memakai itu. Sasuke menggelengkan kepalanya kuat, menyadarkan otaknya dari fantasi gila nan berbahaya.

"Aku tahu Sakura cantik dan kau normal. Tapi tidak bisakah kau menunda tingkah mesummu selagi ada aku?" Celetukkan Gaara membuat Sasuke menganga. Benar, harusnya Sasuke tak perlu heran dengan tingkah menjengkelkan Gaara. Dia adik Sakura. Mereka aneh. Sasuke lebih aneh lagi karna menyukai orang aneh.

"Apa kau menyukai Sakura?" Tanya Gaara. Sasuke terdiam. Jika dia mengatakan 'apa urusanmu?' jelas Gaara adalah adik Sakura. Jika dia menjawab 'ya', memangnya apa urusannya. Itu masalahnya dengan Sakura. Sasuke hanya butuh privasi untuk masalah ini. Tapi ya dia memang menyukai... tidak, Sasuke mencintai Sakura.

"Jangan salah paham. Aku hanya akan memperingatkanmu, jangan bersamanya hanya karna sebuah tanggung jawab. Sakura tak butuh itu. Dan aku tak akan membiarkan kau merusak senyumnya. Dulu kau ku biarkan karna tidak tahu apa-apa, dan juga ku anggap kondisi Sakura bukan kesalahanmu. Meski sebenarnya kau bisa menolongnya hanya dengan sedikit rasa ingin tahu. Tapi sekarang keadaannya berbeda, jadi meski kau Uchiha, aku akan membunuhmu saat kau menghilangkan senyumnya. Ini ancaman." Gaara melewati Sasuke yang menegang. Dia terluka karna ucapan pria merah itu. Entah apa yang ada di kepalanya, tapi...

"Bukankah kau tak berhak mengatakan itu?" Ucapan Sasuke menghentikan langkah Gaara. Sasuke dan Gaara sama-sama berbalik saling tatap. "Kau... kalian yang tega membiarkan Sakura pergi. Dia menderita sendirian, dimana kalian saat dia susah. Kenapa sekarang kau begitu sok melindunginya. Seolah kau adalah keluarga yang baik baginya."

"Kami hanya tak bertemu. Bukan tak memperdulikannya. Aku bahkan memiliki data semua yang dikerjakan Sakura hingga hal terkecil. Aku juga yang menyediakan apartemen ini. Aku mengetahui semua orang yang berhubungan dengannya. Aku memastikan tak ada orang yang akan membahayakannya. Aku bahkan tahu latar belakang kehidupan setiap orang yang berada di sekitar mereka. Aku bahkan tahu berapa jumlah wanita yang kau kencani. Aku lebih dari sekedar tahu semua tentang Sakura dan Sarada. Sampai hal terkecil yang tak kau pedulikan. Kesalahan terbesarku adalah saat aku luput mengetahui Sakura yang akan melahirkan karna hujan lebat." Gaara menatap tajam Sasuke. Dia sangat tak terima jika dibilang tak memperdulikan Sakura. Tak akan ada yang mengerti seberapa berharga Sakura baginya. Gaara bahkan sanggup membunuh semua orang demi Sakura.

"Lalu kenapa kau tak menemuinya. Harusnya kau tahu kemungkinan Sakura yang merindukan kalian." Ucap Sasuke nyaris berbisik. Pria raven ini sama sekali tak mengerti dengan pola pikir keluarga Haruno.

"Aku menghargai setiap keputusannya sebesar aku menghargai setiap keputusan tou-san. Saat itu tou-san sangat marah dan Sakura sangat keras kepala. Mereka memiliki alasan yang sama kuatnya untuk mempertahankan keputusan masing-masing. Tak ada yang bisa ku lakukan selain mendukung mereka. Memastikan setiap anggota keluargaku tersenyum adalah prioritasku." Gaara tersenyum lembut memikirkan itu.

"Kau memiliki banyak kesempatan menemui Sakura. Bukankah kau merindukannya?" Cecar Sasuke. Dia masih belum mengerti pemikiran Gaara.

"Itu hanya akan membuat Sakura semakin merindukan rumah. Bukan hal sulit untuk keluargaku berkumpul lagi, hanya butuh momen dan alasan yang pas untuk bertemu, mencairkan kecanggungan dan saling menguatkan sekaligus, meleburkan segala gengsi tou-san dan Sakura. Aku sedang menunggu itu. Biarpun terdengar buruk, tapi aku bersyukur Sarada mengalami kecelakaan." Sasuke masih tak mengerti. Tapi terserahlah. Sasuke menyerah untuk mengerti pola pikir para Haruno.

"Aku tak akan melepaskan Sakura." Ucapan Sasuke membuat Gaara menatapnya serius. "Ku bilang aku tak akan melepaskan Sakura. Aku mencintainya." Lanjut Sasuke yakin. Mereka bertatapan beberapa saat sebelum akhirnya Gaara menghela nafas dan melangkah keluar apartemen. Melihat itu Sasuke ikut menghela nafas. Kenapa Haruno suka sekali mengabaikan saat orang berbicaara serius?

Sasuke mengikuti Gaara menuju mobil. Pria itu meletakkan tas berisi pakaian Sakura di jok belakang lalu duduk di belakang kemudi. Sebenarnya Sasuke tak setuju Gaara yang menyetir. Tapi dia sedang malas bicara gara-gara di abaikan tadi.

"Mau dengar cerita tentang Sakura?" Tanya Gaara memecah keheningan. Ucapan Gaara membuat Sasuke menoleh cepat ke arahnya. "Ah baiklah aku akan menceritakannya." Sasuke berdecak sebal mendengar nada mengejek Gaara. Ya ya semua tentang Sakura membuatnya tertarik. Dan sialannya pria ini tahu gengsinya akan membuatnya tetap tutup mulut.

.

.

tbc...

Terima kasih buat segala bentuk apresiasinya.

Keyikarus

15/10/2017