Chapter 14 : Epilog : I Still Love You.

Disclaimer : ©Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)

Genre : Romance, Drama, Tragedy, Fantasy, Friendship, Yaoi, Shounen Ai

Warning : Canon, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, yaoi, dan hal absurd lainnya.

Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read

.

.

.

.

.

Naruto menatap ke luar jendela kaca, memandang langit biru di siang hari yang rasanya sangat menyengat dari kantor Hokage. Musim panas kali ini lebih menyengat dari biasanya. Lebih panas dari hari-hari sebelumnya. Air Conditioner pun tidak berguna disaat-saat seperti ini.

Harus mengerjakan pekerjaan Negara yang berat di musim panas yang berat membuat bebannya semakin berat. Sungguh hidup yang berat.

Naruto melirik jam dinding di atas jendela. Jarum jam pendek menunjukkan angka 2 sedangkan yang panjang menunjukan angka 10. Sudah hampir waktunya Naruto datang ke rumah sakit untuk melihat perkembangan dari Sasuke.

Setelah kejadian satu minggu yang lalu, yang membuat Naruto lumayan terpukul dengan keadaan Sasuke yang sekarang, membuat Naruto makin bersalah pada Sakura juga. Naruto tidak menceritakan detail cerita kejadian di hutan itu. Ketika mendapati orang yang dicintainya pulang dengan keadaan lumpuh dan mata satunya hilang adalah sebuah musibah untuknya.

Naruto hanya mengucapkan kata maaf pada Sakura, walaupun Sakura pasti memaafkannya. Sebenarnya maaf itu tidak Naruto ajukan pada Sakura karena keadaan Sasuke yang seperti sekarang ini, lebih tepatnya adalah 'Maaf, aku mencintaimu Suamimu.'

Ketika Hinata bertemu kembali pada Naruto, Hinata hanya bisa menangis di pelukannya. Naruto kembali mengatakan kata maaf. Dan Hinata, tentu saja tidak menerima kata maaf dari Naruto. Karena menurutnya, Naruto tidak melakukan kesalahan apapun. Maaf itu lagi-lagi tidak untuk itu, lebih tepatnya 'Maaf, aku mengkhianatimu.'

Naruto menangis memeluk Hinata menyalurkan kata maaf yang tak tersampaikan. "Maaf karena telah menjadi seseorang yang telah berani menyakitimu." Ucapnya. Hinata menggeleng dengan keras di dada Naruto.

"Kau tidak pernah menyakitiku." Ucapan Hinata membuat Naruto semakin mengeratkan pelukannya dan menangis selagi ia bisa. Naruto yang sekarang telah berubah. Aku bukan Naruto yang dulu lagi.

Naruto tidak tahu apa yang harus dilakukan kedepannya. Mungkin ia akan menyimpan rahasianya bersama Sasuke sampai tua nanti.

Naruto mulai membereskan mejanya dan bangkit keluar kantor Hokage dan menuju rumah sakit Konoha. Tempat Sasuke dirawat dan tempat Sakura bekerja. Sakura mengatakan pada Naruto jika Naruto tidak perlu menjenguk Sasuke setiap hari, tapi Naruto beralasan kalau Naruto jarang bertemu Sasuke, maka selagi masih bisa bertemu, Naruto akan memanfaatkannya sebisa mungkin. Lagipula Naruto hanya menjenguk Sasuke selama satu jam.

Naruto mengetuk pintu kamar pasien kelas satu bernomor kamar 145 dan mendapat sahutan dari seseorang yang sangat dikenalnya. Naruto masuk dan menatap ke sekeliling ruangan. Biasanya ada Sakura disebelah Sasuke di jam-jam ini. Tapi ternyata Sasuke hanya sendiri.

Rumah sakit sebesar ini, dengan Seorang Dokter pengalaman, tidak mungkin terus-menerus berdiam diri dikamar suaminya, kan? Sakura mungkin sedang memeriksa pasien yang lain.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Naruto kemuadian duduk di kirsi sebelah ranjang yang di tiduri oleh Sasuke.

"Tidak lebih baik saat aku melihatmu." Ucap Sasuke. Sebenarnya Sasuke hanya bercanda, ia menginginkan reaksi hiperaktif dari Naruto, tapi yang ia dapat malah kebalikannya. Naruto memasang wajah sedih saat memandang wajah Sasuke, sepertinya manusia pirang ini masih merasa bersalah atas kejadian yang Sasuke alami sekarang.

Dan sebentar lagi, Naruto akan mengucapkan kata— "Maaf." Dan terjadilah. Sasuke agak kesal karena Naruto akhir-akhir ini jadi makin melembut dan sering memasang wajah sedih saat menatap wajah Sasuke. Sasuke menghela nafas balik menatap wajah Naruto. Tangannya terluru dan mengacak rambut pirang berantakan itu.

"Apa kau ingin tahu apa yang selama seminggu ini aku inginkan, Naruto?" Sasuke menatap bola mata langit yang menyendu itu dengan lembut. Berusaha menyalurkan berupa semangat tak terlihat untuk Naruto.

"Aku hanya ingin dirimu." Ucap Sasuke. Naruto menyeritkan keningnya. "Maksudnya, Naruto yang seperti biasanya, Naruto yang selalu bahagia dan enerjik. Walaupun berisik aku lebih suka Naruto yang seperti itu. Bukan yang lemas dan selalu mengatakan kata maaf yang tak berguna itu."

Pandangan Naruto jatuh pada ranjang yang dialasi sprei putih bersih. "Aku tidak tahu aku yang biasanya seperti itu."

Sasuke kembali menghela nafas. Mungkin yang perlu memulihkan keadaan bukan dirinya, tetapi Naruto. Sasuke akan lebih bersabar sedikit lagi. Sang Hokage hanyalah seorang Shinobi biasa yang akan melemah jika orang yang dicintainya tidak bisa apa-apa, yang dilakukan hanyalah terbaring di atas kasur dan menatap keluar jendela.

"Matanya bekerja dengan baik." Ucap Sasuke mengalihkan keadaan yang suram ini. Mata yang bisa di munculkan oleh Naruto kemarin mulai ia praktikkan pada Sasuke. Sesuai dugaan Naruto, Mata baru Sasuke telah bekerja dengan baik.

"Benarkah? Kalau begitu baguslah." Naruto tersenyum menatap Sasuke. Tatapan sendu itu masih terpasang di mata Naruto. Tangan Sasuke terulur menggapai pipi bergaris tiga berkulit tan itu. Membawanya pada wajahnya dan mengecupnya sejenak. Menatap wajah tegas yang sekarang ada di depan wajahnya.

"Apa kau mau berjanji padaku?" Ucap Naruto tiba-tiba. "Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan diriku. Ataupun pisah denganku."

Sasuke tertawa kecil dan melepaskan sentuhannya pada wajah tan itu. "Seharusnya aku yang mengatakan itu."

.

.

.

.

"Aku pulang!" Seru Naruto saat telah sampai rumahnya. Melepaskan sepatunya dan menyusunya di bawah lantai tatami, masuk kedalam rumah dan melihat Hinata—yang sekali lagi—tertidur di atas meja. Saat suara langkah Naruto terdengar ke kuping Hinata, Hinata terbangun dan tersenyum menatap Naruto. Bangun dan langsung menuju pantry.

"Selamat datang. Hari ini lembur lagi, ya? Kau ingin makan apa? Aku tadi membuat katsudon. Tidak apa-apa jika makan katsudon?" Hinata menatap Naruto meminta jawaban. Naruto hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari Hinata. Hinata tersenyum dan kembali bergelut pada kegiatannya.

"Tunggulah di meja makan. Sebentar lagi katsudon akan jadi."

Naruto menatap punggung lelah Hinata. Sampai Hinata membawa katsudon ke atas meja, sampai Naruto menghabiskan makanannya, sampai kapan? Sampai kapan Naruto bisa keluar dari permasalahan hati ini?

.

.

.

.

Setelah beberapa hari yang lalu, Sasuke memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Mengenakan kursi roda untuk keluar lebih baik daripada berada di dalam kamar terus-menerus.

Sasuke tengah mengendalikan kursi rodanya menggunakan remote control—yang berada di atas pegangan lengan kursi kanan—kearah kantor Hokage. Beberapa berkas tersusun rapi yamg berada di dalam tas yang ada di atas pahanya. Beberapa orang yang lewat tetap menundukan tubuhnya untuk menghormati Sasuke. Sasuke hanya tersenyum kecil untuk membalas sapaan orang-orang yang berpas-pasan dengannya.

Setelah sampai di depan pintu, Sasuke tidak langsung masuk seperti biasanya. Tubuhnya berhenti ketika suara gebrakan terdengar dari dalam. "Ah, maaf." Ucapan dari Naruto terdengar walaupun tidak terlalu keras. Entah apa yang di pikiran Sasuke untuk tidak masuk kedalam, sampai suara yang Sasuke kenali keluar dan sampai ke telinganya.

"Selama ini aku hanya diam melihat hubungan kalian. Aku tidak peduli. Ah, Tidak! Sebenarnya aku hanya berpura-pura tidak peduli. Tapi sekarang aku tidak bisa tinggal diam." Ucapan Shikamaru benar-benar menohok hati Sasuke. Sasuke tahu Shikamaru sedang membicarakan siapa.

"Kau tidak bisa mempertahankan hubungan seperti itu. Itu tidak benar. Ingatlah kau kau punya keluarga. Kau punya Istri dan dua anak, Naruto. Apa yang akan terjadi pada mereka jika kau meninggalkan mereka?" Tanya Shikamaru. Keheningan sempat tercipta beberapa detik.

"Aku tidak berniat untuk meningalkan mereka."

"Oh, bagus! Sekarang, apa kau ingin coba-coba jadi laki-laki yang bejat? Bajingan? Brengsek? Yang mana?"

"Bukan begitu!"

"Lalu bagaimana?" Ucapan Shikamaru membuat keheningan lama tercipta. Sasuke meremas kuat sisi kanan rodanya. Naruto tidak ada niatan untuk meninggalkan keluarganya, begitupun Sasuke. Sasuke tidak ada niat untuk meninggalkan keluarganya. Lalu, kalau begitu, Sasuke ini apa?

"Aku hanya ingin bersama dengan Sasuke. Lebih dekat. Aku—"

"Oh, Baiklah Hokage yang terhormat. Hokage tukang selingkuh dan seisinya, aku tidak peduli. Aku tidak pernah peduli dengan masalahmu." Keheningan kembali terjadi. Sepertinya Naruto tidak bisa membalas kata-kata dari Shikamaru.

"Baiklah. Sekarang, Kau hanya punya dua pilihan. Pilih jabatanmu sebagai Hokage, atau kau pilih Sasuke? Kira-kira, apa yang akan laki-laki egois ini akan pilih?"

"Shikamaru!" Naruto mengeluarkan suaranya walaupun tidak membentak. Hanya menekan. Hati Sasuke semakin berdenyut ketika Naruto di panggil oleh Shikamaru panggilan yang buruk, tetapi tangan kanannya makin mengerat pada roda besi itu ketika Shikamaru mulai menekan Naruto.

Shikamaru menjatuhkan pilihan yang sangat mudah untuk dijawab.

"Apa yang terjadi jika aku memilih Hokage?" Sasuke membelalakkan matanya. Jawabannya mudah ditebak oleh Sasuke, Sasuke sudah tahu jawabannya, tapi tetap saja—

"Sasuke masih di Konoha. Hanya kau tidak boleh mendekatinya seperti sepasang kekasih. Hanya sebatas teman kerja, dan aku akan menugaskan sekertaris barumu. Dia akan ada di sisimu dua puluh empat jam."

"Dua puluh empat jam?"

"Aku akan mengangkat Hinata menjadi sekertaris pribadimu. Aku masih menjadi tangan kanan Hokage. Dengan begitu, kau tidak akan dekat dengan Sasuke lagi."

"Baiklah, aku mengerti. Yang penting Sasuke masih ada di sini." Ucapan Naruto membuat Sasuke bergetar. Tangannya yang bergetar berusaha untuk menjalankan kursi rodanya. Menjauh dari kantor Hikage. Walaupun memakai remot kontrol di sisi kanannya, entah mengapa mengendalikan kursi roda ini begitu berat.

Sasuke hanya butuh ketenangan. Ide Shikamaru memang bagus. Membuat pilihan yang sangat sangat mudah untuk Naruto. Tapi itu membuat Sasuke ingin berteriak di depan wajah Shikamaru. Hati Sasuke semakin berdenyut ketika kursi roda itu telah keluar dari gedung Hokage.

Sasuke harus mengsugestikan dirinya sendiri saat ini. Ini adalah pilihan yang bagus. Pilihan ini tidak sulit. Benar apa yang di katakan Naruto, yang penting Naruto masih ada di sini. Yang penting dirinya masih ada di sini. Dan yang terpenting adalah, Naruto dan Sasuke masih saling bertemu.

Tapi ternyata mengsugestikan diri lebih berat daripada menahan air matanya agar tidak jatuh. Perasaan ini sama seperti ketika Sasuke melihat Naruto mati di depannya. Menyentuh mayatnya—

Mayat!

Itu dia!

.

.

.

.

Naruto menatap dengan sedih dan menghela nafas beratnya setelah kepergian Shikamaru dari kantornya. Apa yang dikatakan Shikamaru menurutnya sangat kejam. Tapi Naruto tidak bisa meninggalkan impiannya sedari kecil, Naruto juga tidak ingin berpisah dari Sasuke.

Tapi Shikamaru bilang, Naruto tidak berpisah dengan Sasuke, kan? Hanya—

Sama saja. Tidak bisa memeluk Sasuke sama saja dengan berpisah. Apalagi akan ada Hinata di sampingnya selama satu hari penuh. Akan sangat sulit menyempatkan dirinya untuk bertemu dengan Sasuke.

Naruto membalik badannya dan menatap keluar jendela. Hari-hari yang ia lalui kedepannya akan semakin berat. Naruto tidak tahu apakah dirinya sanggup menjalaninya. Tapi bukan Naruto kalau menyerah. Pasti ada jalan untuk masalahnya.

Naruto menatap kebawah dan mendapati Sasuke keluar dari Gedung Hokage menggunakan kursi rodanya. Naruto tidak tahu jika Sasuke sudah diperbolehkan untuk pulang. Sasuke bahkan memakai kursi roda. Senyum Naruto mengembang, tetapi seketika kembali luntur.

Naruto tidak bisa bertemu dengan Sasuke kalau seperti ini. Maka dari itu, jurus Kagebunshin sangat diperlukan untuk situasi semacam ini. Naruto tertawa kecil untuk kegeniusan otaknya.

Setelah mengeluarkan satu bayangan, Naruto menyuruh bayangan itu menggantikannya menjadi Hokage, sedangkan dirinya yang asli.. meloncat keluar jendela dan meloncat ke bawah. Tidak lupa dengan jurus menyamarnya, Naruto berubah menjadi seorang gadis kecil yang tidak dikenal.

Rambut pony tail berwarna coklat dengan yukata moderen—Dengan rok di atas lutut dan lengan yang lebar—berwarna biru muda. Terlihat sangat manis saat dipakai.

Naruto dengan tubuh kecilnya berlari menghampiri Sasuke yang masih berjalan. Naruto menangkap kursi roda Sasuke dan menghentikan pergerakan kursi roda itu. Membuat Sasuke menoleh mencari tahu siapa yang sudah berani-beraninya menghalangi perjalanannya.

"Hallo!" Sapa gadis asing itu dengan senyuman lebarnya. Sasuke menyeritkan keningnya tidak suka dengan suara nyaring gadis itu masuk ke telinganya, apalagi sekarang Sasuke masih dengan mood yang buruk.

"Maaf. Aku buru-buru." Sasuke kembali mengendalikan kursi roda itu melaju dengan kecepatan sedang. Naruto berjalan beriringan dengan kursi roda Sasuke.

"Apa maumu, gadis kecil?" Tanya Sasuke dengan nada dinginnya. Naruto menggeleg-gelengkan kepalanya dan berdecak.

"Masih belum menyadarinya juga—" Sasuke berhenti ketika suara yang ia kenal keluar dari mulut gadis kecil itu. "—Sasuke?!" Lanjutnya kembali dengan suara gadis kecil yang riang pada umumnya.

"Dasar. Kalau mau menyamar pikir dulu, jangan seenaknya menggunakan tubuh seorang gadis kecil, apa jadinya jika orang-orang melihat aku sedang berjalan dengan gadis kecil, hah?" Sasuke kembali mengendalikan kursi rodanya melaju dengan Naruto berjalan di sampingnya.

"Akan lebih aneh jika kau berjalan bersama dengan dirimu sendiri." Ucap Naruto sambil tertawa. Sudah lama Naruto tidak tertawa selepas ini.

"Ngomong-ngomong, kenapa kau menyamar?" Tanya Sasuke. Sebenarnya Sasuke bukannya tidak tahu alasannya, hanya saja Sasuke memilih diam agar Naruto menceritakan sendiri padanya.

"Tidak ada apa-apa, kok. Hanya ingin saja." Ucap Naruto. Ternyata Naruto menutupi pembicaraannya dengan Shikamaru di kantor Hokage. Sasuke hanya mengangguk mengerti.

"Tidak! Sebenarnya ada beberapa masalah, sih. Oh iya, kau tidak bilang padaku kalau kau keluar dari rumah sakit hari ini, kau juga terlihat baru keluar gedung Hokage, ada apa?"

"Masalah apa?" Tanya Sasuke. Naruto hanya menatap Sasuke dengan senyum paksanya. Sasuke tahu Naruto hanya mengalihkan topik pembicaraan mereka. Yang Sasuke herankan, mengapa Naruto tidak ingin menceritakan masalah itu dengan Sasuke? Apa Sasuke tidak berhak tahu?

"Eh? Masalah?" Sasuke mengangguk. Naruto berhenti berjalan dan menatap punggung Sasuke yang masih berjalan. Ketika Sasuke menyadari bahwa Naruto tidak di sampingnya, Sasuke memutar kursi rodanya dan berjalan menghampiri Naruto. Kebetulan mereka berdua telah ada di belokan jalanan yang jarang dilewati oleh orang-orang.

"Ada apa, Naru—" Naruto meletakkan telunjuknya di depan bibir Sasuke. Wajahnya menunduk tertutup poni. Sasuke jadi tidak bisa melihat wajahnya.

"Diamlah! Saat ini aku bukan diriku. Aku orang lain." Lirih Naruto menurunkan telunjuknya dan membelakangi Sasuke. Naruto saat ini bingung harus menghadapi Sasuke seperti apa.

"Apa kau pikir hubungan ini akan lancar?" Tanya Naruto. Sasuke menatap punggung kecil di depannya. Sasuke memberi jedanya sejenak atas pertanyaan dari Naruto.

"Tidak."

"Kalau begitu, kenapa kau memintaku hal yang mustahil ketika di rumah sakit?"

"Aku hanya berharap."

"Harapan macam apa yang kau harapkan padaku?"

"Naruto! Tidak apa-apa. Hanya dengan melihatmu aku—"

"—Bahagia?" Naruto memotong ucapan dari Sasuke. Naruto berbalik dan kembali menatap Sasuke dengan air mata yang sudah mengalir. Sasuke tersentak ketika air mata itu turun dari gadis kecil yang ada di hadapannya.

"Kau pikir dengan pemikiran 'hanya melihatmu saja, aku sudah bahagia' akan memjamin dirimu benar-benar bahagia? Bukankah itu malah menyakitkan? Jujur saja saat ini aku sedang tidak bahagia." Ucapan lirik dari Naruto membuat dada Sasuke semakin sesak.

"Bisakah kau tidak membual?" Ucap Naruto pada Sasuke. Sasuke menggeleng mengelak kata-kata dari Naruto. "Jangan berikan padaku harapan yang mustahil aku gapai. Katakan jika kenyataannya kita tidak akan bisa bersatu." Lanjutnya. Naruto mengusap kasar pipi yang dialiri oleh air matanya dengan lengan yukatanya.

"Aku tidak mau bilang." Sasuke menatap tajam mata yang masih tetap biru itu. "Kalau aku mengatakan itu, aku takut jika itu akan menjadi kenyataan."

"Sudah terjadi, kok." Ucap Naruto sambil tersenyum. Sasuke membelalakkan matanya, ternyata Naruto benar-benar akan mengakhiri hubungan ini. Naruto benar-benar tidak memikirkannya. "Tolong jangan buat aku berharap lebih dari ini." Ucapan Naruto terus berlanjut tetapi Sasuke tidak mendengarkan. Telinga kanan Sasuke berdenging, tetapi masih menatap wajah Naruto.

"Pekerjaanku akan berantakan jika aku terus memikirkan dirimu." Pada akhirnya Naruto tidak akan memilihnya. Sasuke tahu itu. Sasuke sangat tahu, Naruto akan lebih memilih Hokage daripada dirinya. Tapi tetap saja, menyakitkan.

"Aku akan membuatmu sakit dan sakit, lebih sakit daripada ini." Ucap Sasuke akhirnya memantapkan tekat dan ide gilanya saat terlintas beberapa menit yang lalu. "Aku mencintaimu." Lanjut Sasuke. Naruto menatap Sasuke tak percaya. Naruto pikir, cinta Sasuke tidak sebesar itu dan masih bisa meninggalkan Naruto, tapi ternyata dia salah.

"Aku bisa meninggalkan keluargaku jika kau memintanya." Sasuke menjeda kalimatnya untuk melihat reaksi yang Naruto berikan. "Aku bisa meninggalkan pekerjaanku jika kau memintanya."

"Sasuke—"

"Aku bahkan sanggup mati jika kau memintanya. Aku akan mengorbankan semua yang aku punya jika kau memintanya. Aku—"

Naruto memotong kalimat Sasuke yang belum selesai. "—Benarkah?" Sasuke mengangguk.

"Bisakah aku berharap padamu, Naruto?" Tanya Sasuke meremas tangan kiri Naruto. Karena sekarang Naruto masih gadis kecil jadi dengan tangan besar Sasuke, kepalan tangan Naruto tertelan oleh tangan lebar Sasuke.

"Kalau begitu, bisakah kau meninggalkanku?"

"Tidak!" Sasuke menjawab dengan cepat dan tegas. Bagaimanapun Sasuke harus mempertahankan hubungan ini bagaimanapun caranya. Presetan dengan kata-kata Shikamaru, Sasuke harus mempertahankan hubungan ini.

"Kau tahu ini akan rumit."

Sasuke mengangguk. "Aku tahu."

Setelah Naruto tenang, Sasuke mengajak Naruto mendorong kursi rodanya memutari Konoha. Membeli beberapa camilan dan melihat pusat perbelanjaan. Naruto lebih banyak diam tetapi masih bisa tertawa.

Beberapa orang yang melihat Naruto sebagai sorang gadis kecil menanyakan pada Sasuke siapa sebenarnya gadis yang mendorong kursi roda Sasuke, Sasuke hanya menjawab anak hilang yang perlu di ajak jalan-jalan. Kadangkala Naruto ingin menjitak kepala Sasuke karen jawaban ngawurnya.

Setelah capai berjalan jauh, Naruto memutuskan untuk duduk di ayunan yang sering ia mainkan ketika masih kecil dulu. Sedangkan Sasuke berada di sebelahnya melihat Naruto mengayunkan badannya di ayunan.

Sesekali tangan kanannya ikut mendorong Naruto lebih melaju kencang. Setelah berhenti, Naruto duduk dengan tenang mengamati langit senja. Berwarna oranye, warna kesukaan nya.

"Apa kau masih betah dengan tubuh yang seperti itu?" Tanya Sasuke. Kalau boleh memujinya, tubuh samaran Naruto ini cukup cantik. Mungkin karena memang gadis yang masih kecil dengan mengenakan yukata yang lucu, yang membuat kadar keimutannya bertambah.

"Tidak." Ucap Naruto. Naruto merasakan rambutnya terhempas kesamping merasakan angin sore yang menghantam tubuhnya. Tapi karena musim ini musim panas, tetap saja terasa panas walaupun angin berhembus kencang. Tapi lumayan lah, masih bisa mengurangi kadar panas musim ini.

"Hei, Sasuke. Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" Sasuke menoleh menatap Naruto sejenak. Lalu perhatiannya teralih pada kucing hitam yang lewat di depannya.

"Ketika hubungan kita terdengar oleh Hinata, maukah kau membunuhku?" Sasuke langsung menatap Naruto dengan tidak percaya. Sasuke ingin tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, tetapi sepertinya telinganya tidak ada yang salah.

"Sebenarnya aku sempat terpikirkan untuk membunuhmu. Tapi aku tidak menyangka kau akan memintanya padaku. Kenapa kau menginginkan aku membunuhmu?" Tanya Sasuke. Naruto menghela nafasnya.

"Kau tahu, kan? Aku sudah bukan suami yang baik. Aku adalah manusia terburuk—menurutku. Aku juga sudah bukan Hokage yang patut dicontoh oleh warga. Aku terburuk dari yang terburuk. Hahahah" Naruto tertawa hambar membayangkan dirinya yang akan mati konyol di tangan Sasuke nanti.

Sasuke menghela nafasnya. "Kalau begitu kau akan mati dalam waktu dekat ini, Shikamaru itu tidak bodoh. Kau tahu?!"

"Aku tahu itu. Lalu, kenapa kau terpikirkan untuk membunuhku sebelumnya?" Tanya Naruto.

"Mudah. Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada yang boleh memilikimu." Jawab Sasuke dengan entengnya. Naruto menggelengkan kepalanya kagum.

"Uuaa... Mengerikan. sangat Sasuke sekali. Ternyata kau ini tipe Yandere, ya? Hahaha."

"Terimakasih."

"Hei, itu bukan pujian!"

"Semua yang dikatakan olehmu adalah pujian."

"Hei, makin lama kau makin menjijikkan."

"Mulai sekarang aku tidak akan menahan diri lagi."

"Ya... Terserah."

Saat keheningan kembali terjadi di antara mereka, suara yang nyaring terdengar dari kejauhan. Seorang gadis cilik berambut hitam pendek berlari memanggil Papanya.

"Papa!" Sarada berhenti di depan Papanya sambil mengatur nafasnya terlebih dahulu. Setelah nafasnya sudah normal kembali, Sarada yang awalnya berniat mencari Papanya karena tiba-tiba menghilang dari rumah sakit, mengalihkan perhatiannya pada gadis kecil yang duduk di atas papan ayunan itu.

"Anu.." Ucap Sarada sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merasa diperhatikan, Naruto bangkit berdiri lalu membungkukkan badannya di hadapan Sarada.

"Ah.. maaf. Nama saya Narumi." Ucap Naruto asal. Sarada mengangguk mengerti. "Saya Sarada." Balas Sarada. Setelah sadar niat awalnya adalah mencari Papanya, Sarada menatap Papanya dengan wajah marah yang dibuat-buat.

"Papa dari mana saja? Aku mencarimu dari tadi."

"Hanya cari angin. Lalu aku bertemu dengan Narumi." Jawab Sasuke. Sarada tersenyum pada Naruto yang Naruto balas dengan senyuman juga.

"Apa jangan-jangan kau putri dari Paman Sasuke? Maaf membuat Ayahmu kerepotan." Ucap Naruto berlaku sopan sebisa mungkin. Sarada menggeleng sambil tersenyum.

"Tidak, bukan apa-apa. Walaupun wajah Papaku ini dingin tapi Papaku ini orang baik."

"Aku tahu Paman Sasuke orang yang baik."

"Kalau boleh tahu, kenapa kau bersama Papaku?" Sarada bertanya. Naruto menatap Sasuke sejenak dan mulai mengarang cerita.

"Sebenarnya, Aku bukan dari Konoha. Aku sangat mengagumi Hokage-sama, di Negara kami kabar tentang Hokage yang berasal dari Desa Konoha itu sangat keren dan sangat baik dalam memimpin. Wajahnya juga tampan, jadi aku mengaguminya.—"

"Huh! Memuji dirimu sendiri. Usuratonkachi." Batin Sasuke.

"—Aku dan Ibuku memutuskan untuk berkunjung ke Desa Konoha untuk bertemu dengan Hokage-sama, tetapi Hokage itu super sibuk, ya? Aku kurang beruntung."

Sarada yang sebagai salah satu penggemar dari Naruto berbinar ketika tahu jika ada orang dari luar Konoha yang mengagumi dan memuji Naruto.

"Benar, kan? Nanadaime memang sangat keren. Suatu saat aku ingin keren sepertinya." Ucap Sarada bersemangat.

"Benarkah?"

"Tentu saja. Aku akan menjadi Hokage di masa depan." Jawab Sarada menggebu-gebu. "Oh iya, aku sangat dekat loh dengan Nanadaime, mungkin aku bisa membantu agar kau bertemu dengan beliau."

"Tidak perlu, terimakasih." Naruto menggeleng penuh kelembutan. "Aku akan pulang besok pagi dengan Ibuku. Hanya dengan datang ke Konoha aku sudah sangat senang. Terimakasih atas bantuanmu. Lagipula aku bisa menyampaikan pesan pada paman Sasuke untuk diberikan pada Hokage-sama."

Sarada mengangguk mengerti. "Begitu, kah? Baiklah kalau itu maumu."

"Tapi, Sarada, bisakah kau menunggu di depan taman sebentar? Karena pesanku untuk Hokage belum selesai." Sarada mengangguk tersenyum dan berjalan meninggalkan Papanya dan Narumi berdua.

"Apa lagi? Kupikir kau sudah ingin kembali. Lagipula sudah hampir malam." Naruto berdiri didepan Sasuke dan mencondongkan tubuhnya pada wajah Sasuke. Sentuhan antara bibir itu hanya berlangsung satu detik, tapi cukup membuat dada Sasuke berdesir.

"Akan kupastikan bahwa kau tidak akan bisa membunuhku." Ucap Naruto dengan penuh percaya diri.

"Hah?"

"Apa kau bisa membangun sebuah pondok kecil ditengah hutan?" Dua tangan Kecil itu terulur menyentuh kaki Sasuke yang ada di kursi roda. Sasuke menyeritkan keningnya kurang paham dengan apa yang dikatakan oleh Naruto. Membangun pondok ditengah hutan? Dirinya?

"Buat pondok itu tak terlihat oleh semua orang maupun penciuman tajam anjing dengan kekuatanmu." Sasuke melihat Cakra keluar dari tangan Naruto dan mengalir pada Kakinya. Sasuke membelalakkan matanya ketika ia kembali merasakan sakit pada kakinya. Itu berarti, dia masih bisa menggunakan kakinya kembali, kan?

"Kita akan bertemu di sana setiap hari Sabtu jam tujuh malam disana." Rasa sakit di kaki Sasuke semakin terasa, Sasuke melihat Naruto yang mulai mengeluarkan keringat. Sepertinya sangat berat bagi Naruto untuk membuat kakinya kembali berfungsi. Walaupun Naruto itu Jinjuriki, tetapi menyembuhkan kaki yang lumpuh itu sangat mustahil.

"Kau tidak perlu meninggalkan keluargamu, kau tidak perlu mati untukku, kau tidak perlu mengorbankan apapun untukku." Nafas Naruto mulai memendek, tetapi penyembuhan kaki Sasuke belum selesai.

"Dengan adanya pondok itu, kami masih bisa bersama." Naruto mengangkat tangan saat dirasa pekerjaannya telah selesai. "Kau harus menunggu beberapa hari agar bisa menggerakkan kakimu. Selebihnya kau serahkan pada Sakura. Sakura lebih tahu daripada dirimu."

"Pondok itu—"

"Itu janji yang aku berikan padamu. Apa kau bisa mengerjakannya?" Potong Naruto. Sasuke mengangguk mantap.

"Aku akan kerjakan. Pasti."

"Terima kasih. Bunshinku yang ada di kantor telah hilang. Aku harus kembali." Naruto menatap Sasuke dengan wajah lelahnya dan masih memaksa untuk tersenyum. "Aku juga mencintaimu."

Naruto melompat keatas melewati gedung demi gedung agar lebih cepat sampai pada kantor Hokage. Akan gawat jika Shikamaru mendapati dirinya tidak ada di Kantor.

Sasuke menatap kepergian Naruto dengan senyuman tipis yang masih tersemat di bibirnya. Ide Naruto tentang pondok kecil itu sangat bagus. Sasuke sangat menyetujui itu.

Sasuke mengendalikan kursi roda itu keluar dari taman. Menghampiri Sarada yang sudah lama menunggu di depan taman. Sarada tersenyum menghampiri Sasuke dan membantu mendorong kursi roda Sasuke. Dengan begitu, baterai kursi roda Sasuke bisa lebih hemat, begitu menurut Sarada.

Mulai sekarang, usaha yang dilakukan oleh Sasuke dan Naruto adalah menyembunyikan hubungan terlarang mereka dari semua orang. Tak terkecuali.

.

.

.

Owari

Telah tamaaaattttt... Horeeee! Sungguh lelah otakku. Heheheh maap ya buat semua kalau kurang memuaskan. Karena hasil epilognya jadi anchor kayak gini =_=

Tapi tetap aku bilang makasih buat semua yang baca, terus riview dan fav dan follow cerita gaje ini. Terimakaasiiiihhh 😘😘😘😘😘