.
RUMOR
Chapter 12 - [8,5k words]
0o0-0o0
Suasana di Club Ice malam itu tidak begitu ramai. Terlihat beberapa orang menegak minuman keras sedang beberapa lainnya asik meliuk-liukkan tubuh mereka di lantai dansa. Pria, wanita, sama saja. Mereka seakan melepas semua kepenatan setelah seharian menghadapi hari sulit. Perekonomian Korea yang melaju pesat mengharuskan semua pekerja dan pelajar bekerja keras demi pembangunan. Jika ini akhir pekan, Donghae yakin tempat ini akan berubah menjadi lautan manusia yang bergoyang tiada henti hingga menjelang pagi hari.
Donghae memperhatikan pemandangan tersebut dari lantai dua, di sudut yang gelap dan lebih tersembunyi. Saat Donghae sedang menegak bir ringan, tangan seorang wanita mendarat di bahunya. Donghae tersenyum.
"Lama menunggu, oppa?" kata Hyuna dengan suara yang terdengar sensual di telinganya.
Donghae menoleh ke arah Hyuna yang kini melingkarkan tangan di lengannya.
"Apa yang membuatmu lama sekali?" tanya Donghae.
"Kenapa? Apa oppa begitu kesepian?" timpal Hyuna sambil tersenyum menggoda. Jari-jari tangannya yang lentik memainkan rambut indahnya.
"Hmm, mungkin," kata Donghae.
Aktor tampan itu lalu menempelkan kaleng bir dingin yang di pegangnya ke pipi Hyuna, membuat Hyuna terkejut dan memukuli dada Donghae.
"Oppaa…!" pekik Hyuna yang takut riasannya luntur terkena embun kaleng bir tersebut.
"Itu hukumanmu karena membuatku lama menunggu," kata Donghae.
Hyuna berdecis sebelum mengambil kaleng bir dari tangan Donghae dan meneguk minuman tersebut. Donghae mengunakan kesempatan itu untuk mengamati penampilan Hyuna. Donghae melihat, paha jenjang Hyuna terekspos diantara gaun malamnya. Punggung Hyuna pun tak tertutupi sehelai kain hingga hampir ke bagian pinggang.
Perfect! Hyuna itu memang seksi.
"Kau tau… kau…seksi sekali malam ini," komentar Donghae.
Mendegar perkataan Donghae tersebut Hyuna tertawa lebar.
"Apa aku saja melontarkan lelucon?" tanya Donghae datar dan itu membuat Hyuna tertawa lagi.
Donghae menggelengkan kepala melihat reaksi Hyuna atas kata-katanya. Setelah beberapa saat, akhirnya tawa Hyuna mereda. Hyuna meletakkan kaleng bir sekenanya lalu mengambil posisi berdiri berhadapan dengan Donghae.
"Katakan oppa, apa yang kau inginkan dariku? Kau tidak memintaku ke sini hanya untuk bermanis-manis bukan? " kata Hyuna sambil menyentuh kemeja bagian depan Donghae, seolah-olah merapikan kemeja tersebut.
"Haruskah aku mengatakannya dengan jujur?" kata Donghae dengan tersenyum.
"Apa kau akan berbohong padaku?" kata Hyuna. Idol seksi itu balas tersenyum. Tangannya kini menggenggam dan menarik ujung kerah kemeja Donghae sehingga wajah keduanya sangat dekat. Tak ada yang berbicara diantara mereka detik itu dan Donghae tahu ia harus mengatakan sesuatu. Donghae meletakkan tangannya di kedua sisi pinggang Hyuna. Ia lalu mencondongkan tubuhnya, menundukkan kepalanya sedikit dan berbisik di telinga Hyuna. Oh, ini adalah pemandangan yang tentu saja bisa menimbulkan salah persepsi.
"Saat ini seorang reporter sedang memperhatikan kita," bisik Donghae.
Mendengar itu Donghae merasa otot Hyuna menegang. Tapi hal tersebut tak berlangsung lama karena ia mendengar Hyuna tertawa kecil setelahnya.
"Begitukah?" kata Hyuna. Donghae menebak, idol seksi itu kini sudah memahami maksud pertemuan mereka. "Hmmm," gumam Hyuna. Ia lalu melingkarkan tengannya di leher Donghae dan menatap Donghae dengan senyuman manis.
"Jadi besok pagi akan ada headline tentang kita?" kata Hyuna.
Donghae tersenyum dan mengangguk pelan.
"Aku pikir kau tak kan pernah mau memiliki skandal denganku," kata Hyuna. "Siapa yang kau lindungi kali ini, oppa?" imbuh Hyuna, bibirnya menunjukkan seringai yang manis. Hyuna tak buta atau tuli, ia tahu betul dengan siapa Donghae dirumorkan belakangan ini.
"Hmm, " Donghae mengangkat satu tangannya untuk mengelus area dagu Hyuna dengan lembut.
"Aku baru sadar. Kau ini makin hari makin cantik dan… menggoda," kata Donghae.
Perkataan Donghae itu lagi-lagi membuat Hyuna tertawa. Tapi kali ini Hyuna tahu Donghae sedang mengalihkan topik pembicaraan.
"Oppa, apa yang satu ini begitu spesial?" pancing Hyuna lagi.
"Rambutmu yang cokelat ini juga sangat cocok denganmu," puji Donghae untuk kesekian kali.
Hyuna tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Baiklah kalau kau tak mau mengatakannya," Hyuna menyerah. "Sekarang, biarkan aku menamparmu," kata Hyuna.
"Hah?Apa?" kata Donghae.
"Kau ini akan membuatku susah besok. Jadi aku ingin memukulmu," kata Hyuna.
"Ck, kau tak memukul Sehun waktu rumor kalian muncul di media," sergah Donghae.
"YAH!" Wajah Hyuna memerah.
"Baiklah. Baiklah. Kau boleh memukulku. Di sini," kata Donghae. Aktor tampan itu menunjuk pipi kirinya. Donghae tahu ia memang pantas mendapatkan tamparan. Ia sudah memanfaatkan Hyuna.
Donghae menutup matanya dan menunggu tangan Hyuna mendarat di wajahnya. Tapi saat tangan Hyuna bergerak, Donghae tiba-tiba membuka matanya dan berkata,
"Tunggu-tunggu. Pipi yang sebelah kanan saja ya…".
Donghae baru teringat, pipi kirinya sudah dua kali terkena pukulan keras. Donghae khawatir sesuatu akan terjadi pada wajah tampannya jika tamparan Hyuna mendarat di tempat yang sama. Donghae menutup matanya lagi dan menunggu Hyuna beraksi. Tak sampai satu detik, Donghae akhirnya merasa sesuatu mendarat di pipinya.
Bibir.
Donghae membuka matanya karena terkejut dan menatap Hyuna.
"Kau…," Donghae kehabisan kata-kata.
Hyuna tertawa kecil. "Sejak kapan aku peduli pada rumorku dan perkataan orang?" kata Hyuna sambil tersenyum.
Donghae menghela nafas lalu tersenyum lega. Keputusannya memilih Hyuna untuk rumor kali ini ternyata memang sangat tepat. Beginilah Hyuna yang selalu dikenalnya. Sangat cuek! Tidak pernah peduli dengan imej yang melekat padanya; nakal, binal, dan penggoda.
Donghae sudah lama berteman baik dengan Hyuna di belakang layar. Mereka bertemu karena lingkaran pertemanan. Selama berteman dengan idol seksi itu, tak pernah sekalipun Donghae menganggap Hyuna sebagai gadis jalang sabagaimana komentar pada haters dan netter. Sebaliknya, Donghae justru melihat Hyuna sebagai gadis yang sangat jujur pada dirinya sendiri. Jika Hyuna tahu bahwa dirinya seksi lalu berani mengeksplore dirinya, apa salahnya? Donghae pikir itu adalah hak Hyuna.
Hyuna pernah berkata bahwa ia tak peduli dan tak keberatan memiliki skandal dengan Donghae. Tapi Donghae sendiri selalu berusaha agar tak membuat Hyuna dalam masalah. Label buruk orang tentang Hyuna saja sudah cukup. Namun, sekarang ini Donghae benar-benar membutuhkan Hyuna. Donghae butuh Hyuna untuk mengalihkan rumor asmaranya dengan Hyukjae.
"Hyuna, kau mungkin harus merubah imejmu. Kalau tidak, tak ada pria baik-baik yang akan berani memacarimu," komentar Donghae.
"YAH oppa! Kau sendiri juga punya imej buruk! PLAYBOY! Huh! Sebaiknya kau juga berubah!" timpal Hyuna yang kini melipat tangan di dada.
"Ah kau benar. Seseorang bahkan mengatakan aku ini arogan, mesum dan bertingkah sesuka hati," kata Donghae.
"WOAAAHH. Dia mengatakan itu langsung di hadapanmu? Siapa dia?" kata Hyuna.
"Dia sangat… sangat… membenciku," kata Donghae.
"Bahkan ada orang yang secara terang-terangan berani mengatakan bahwa ia membenci seorang LEE ?! LEE DONGHAE?" tanya Hyuna terkejut.
"Ck. Dia juga berani memukulku. Dua kali!" ujar Donghae sambil memegangi pipi kirinya, menyebabkan Hyuna tak sanggup menahan tawa lebarnya.
" Ya ampun. Aku rasa, aku menyukai orang ini! Aku harus memberinya sesuatu!" kata Hyuna disela-sela tawanya.
"Yah! Tunjukkan sedikit simpatimu! Aku ini temanmu!" kata Donghae tapi Hyuna tak mendengarkannya dan masih tertawa lebar.
Donghae memutuskan untuk tidak bicara lagi dan tentu… ia takkan pernah mengatakan pada Hyuna bahwa rambutnya, rambut seorang LEE DONGHAE, juga pernah ditarik-tarik secara brutal oleh orang yang sama.
"Aisshh…stroberi!" desis Donghae pelan.
0o0-0o0
Esok hari, pagi menjelang siang.
Di dalam van menuju gedung SM ….
"Jadi… Donghae sebenarnya memacari Hyuna?" komentar Heechul setelah membaca sebuah situs selebriti online. "Waaaah…mereka terlihat sangat intim! Hyukjae, Hyukjae…lihat ini!" tambah Heechul sambil mencondongkan tab-nya ke arah Hyukjae.
"Kenapa aku harus melihatnya, hyung?" tanya Hyukjae dengan alis berkerut.
"Kau tidak penasaran? Lihat, Hyuna bahkan terlihat sangat seksi. Waaaaah, punggungnya…pahanya…Waaaah. Ooo…tangan Dongh…" kata-kata Heechul terputus karena Hyukjae mengambil tab Heechul dan melemparnya ke kursi van paling belakang.
"Apa yang kau lakukan!" pekik Heechul yang kemudian meraih kembali tab-nya. "Yah! Hyuk, kenapa kau ini terlihat kesal?!" kata Heechul lagi.
"Kesal? Aku? Hah…!" kata Hyukjae. "Lihat senyumku ini, hyung…" imbuh Hyukjae sambil memamerkan senyumnya.
Heechul memandang Hyukjae tak percaya. Benar-benar tak percaya. Dan entah mengapa pandangan Heechul itu membuat Hyukjae terganggu.
"Hyung, jalan ini agak padat sekarang. Kira-kira apa jadinya jika aku membuang tab-mu ke luar van?" kata Hyukjae dengan senyuman yang manis, membuat sang manajer buru-buru mengamankan tab-nya. Menjadi manajer Hyukjae selama beberapa waktu membuat Heechul menyadari situasi dengan baik. Senyuman Hyukjae bisa bermakna dua hal, pertama, sebuah kebahagian dan ketulusan yang murni. Kedua, sebuah ancaman. Untuk kondisi sekarang ini, Heechul yakin yang sedang berlaku adalah makna yang kedua.
"Aishh…kalau cemburu seharusnya bilang saja," gumam Heechul pelan tapi ternyata Hyukjae mendengarnya.
"Berikan tab-mu padaku, hyung!" pekik Hyukjae sambil bergerak menerjang Heechul, berusaha mengambil tab manajernya itu.
Heechul menatap Hyukjae dengan horor.
"Tidak akan!" kata Heechul. Kali ini ia benar-benar memastikan tab-nya aman dan berusaha menghindari tangan Hyukjae yang sedang meraih-raih ke belekang punggungnya.
"Berikan padaku!" kata Hyukjae.
"Yah! Hyuk! Kenapa kau seperti ini?" kata Heechul.
"Berikan padaku!" sahut Hyukjae lagi. Tangannya masih berusaha meraih-raih tab milik Heechul.
"Tadi Kau bilang kau tidak sedang kesal!" timpal Heechul.
" Sekarang aku kesal!" balas Hyukjae.
"Apaa! Apa salahku? Yah! Yah! Apple-kuuuuu!" pekik Heechul, saat benda itu berpindah ke tangan Hyukjae dan model manis itu membuka jendela van.
"Hyuuuk…..!" pekik Heechul lagi.
Rttttt….Rttttt…..Rtttttt….
Ponsel Hyukjae bergetar, membuat Hyukjae tak jadi melemparkan tab Heechul ke jalanan.
"Halo," kata Hyukjae begitu ia menjawab panggilan.
Secepat kilat Heechul menggunakan kesempatan itu untuk menarik kembali tab-nya, lalu memeluk dan menangisi benda itu.
Hyukjae tertawa melihat sikap antik sang manajer.
"Ah, staf Kho. Ada apa?" kata Hyukjae di ponselnya.
Mendengar perkataan staf Kho dari ponsel, perlahan wajah Hyukjae berubah pucat pasi. Hyukjae mendapat kabar bahwa seorang Detektif dan beberapa penyidik dari Kepolisian sedang berada di gedung SM, mencarinya. Tangan Hyukjae pun jadi berkeringat dingin.
Rasanya baik Hyukjae maupun semua orang di dunia ini tahu bahwa jika polisi mencarimu, itu adalah suatu pertanda yang tidak baik.
0o0-0o0
Hyukjae melangkah dengan cepat ke arah ruang manajemen SM Entertainment bersama Heechul. Keduanya tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ketika Hyukjae tiba di lorong tempat ruang manajemen berada, Hyukjae bisa melihat beberapa staf berdiri di dekat pintu ruangan. Semuanya mengobrol dengan serius dan di antara para staf, Hyukjae mendapati Donghae sedang berbicara dengan dua orang. Dua orang berseragam polisi.
Seperti mendengar derap langkah kakinya, Hyukjae melihat Donghae menoleh ke arahnya. Tapi itu hanya sesaat karena setelah itu Donghae melanjutkan pembicarannnya.
"Hyukjae ssi," sapa seorang staf sambil membukakan pintu ruangan untuknya.
"Kau akan mendapat penjelasan nanti," kata staf tersebut karena melihat tatapan bingung Hyukjae.
Hyukjae mengambil nafas sebelum memasuki ruangan. Jantungnya berdetak cepat mendengar pintu ditutup.
"Akhirnya kau datang," kata staf Kho.
Hyukjae membungkuk memberi salam pada staf Kho juga pada dua orang yang tak ia kenal.
"Hyukjae ssi, perkenalkan ini Detektif Yoo dan rekannya, penyidik Song," kata staf Kho.
Hyukjae mengulurkan tangan untuk menjabat tangan keduanya.
"Lee Hyukjae ssi, kami dari Kantor Kepolisian wilayah Gangnam," kata Detektif Yoo. Nada suaranya tegas.
Hyukjae mengangguk, ia dapat melihat mata sang detektif memandang menyelidik ke arahnya dan itu membuatnya bertambah gugup.
"Aku akan meninggalkanmu di sini. Tolong bekerjasama sebaik-baiknya dengan Detektif Yoo. Setelah itu aku ingin bicara denganmu, Hyukjae ssi" kata Staf Kho.
Hyukjae lagi-lagi hanya mengangguk. Perasaannya jadi semakin tak enak setelah staf Kho meninggalkan ruangan. Tak tahu apa yang harus dilakukan, Hyukjae hanya berdiri mematung.
"Silahkan duduk," kata penyidik Song.
Dengan kikuk Hyukjae duduk di tempat yang dipersilahkan. Penyidik Song kemudian duduk di hadapannya, membuka map file yang mereka bawa lalu menyalakan alat perekam. Sementara itu Detektif Yoo melipat tangan di dada dan berdiri di hadapannya.
"Mereka menginvestigasiku?" batin Hyukjae. Perutnya serasa bergejolak. Hal ini selalu dirasakannya ketika sedang gugup.
"Baiklah kita langsung saja, Hyukjae ssi. Dua hari yang lalu, kau berada di mana dan apa saja aktivitasmu?" tanya Detektif Yoo.
"D-Dua hari yang lalu?" kata Hyukjae dan ia berusaha mengingat-ingat aktivitasnya hari itu.
Setelah Hyukjae mengingat semuanya, Hyukjae menjelaskan secara detil pada Detektif Yoo. Hyukjae melihat selama ia berbicara, tangan penyidik Song bergerak membuat tanda centang pada kertas yang dipegangnya. Hyukjae berasumsi kertas itu adalah jadwal kegiatannya.
Seakan puas dengan jawaban Hyukjae, Detektif Yoo kemudian mengambil sebuah foto dari map file dan menunjukkan foto tersebut pada Hyukjae.
"Apa kau mengenal pria ini?" tanya Detektif Yoo.
Hyukjae mengambil foto tersebut dan berusaha mengenali wajah orang yang dimaksud.
"Namanya adalah Jang Seo Jun, umur 47 tahun," kata Detektif Yoo.
"Aku… tak pernah melihat orang ini sebelumnya," respon Hyukjae. Matanya masih tertuju pada foto.
"Apa kau yakin?" desak Detektif Yoo.
"Aku yakin. Aku tak pernah bertemu dengannya," kata Hyukjae.
"Begitu kah?" tanya Detektif Yoo yang kemudian mencondongkan badannya ke arah Hyukjae, seakan ingin mengamati ekspresi wajah Hyukjae dengan sesama.
"Apa kau tahu…pria ini telah meninggal dua hari yang lalu?" imbuh Detektif Yoo.
"A-apa?" Hyukjae membuka matanya lebar-lebar. Seketika itu sekenario buruk memasuki alam pikirannya. "Aku…aku bukan pembunuh!" kata Hyukjae.
Mendengar itu, penyidik Song yang sedang menulis sesuatu di file-nya mengangkat wajah dan memandang Hyukjae dengan alis berkerut. Sementara Detektif Yoo menegakkan kembali tubuhnya.
"Tak ada yang mengatakan kau seorang pembunuh, Hyukjae ssi," kata Detektif Yoo.
"Ta-tapi…kalian…," kata Hyukjae dengan gagap.
Detektif Yoo menunjuk foto Jang Seo Jun, si korban meninggal dan berkata, "Dia tewas akibat mengkonsumsi kue yang mengandung sianida. Dari hasil penyelidikan kami sebelum ini, pada kotak kue tersebut terdapat sidik jarimu".
Mata Hyukjae terbelalak, model manis itu membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu namun Penyidik Song menyodorkan foto lainnya. Di foto tersebut Hyukjae bisa mengenali kue yang dimaksud Detektif Yoo.
"Sepertinya…kau mengenali kue ini, Hyukjae ssi," kata Detektif Yoo.
0o0-0o0
"Ini sudah hampir tiga jam dan mereka belum selesai menginterogasi Hyukjae," komentar manajer Joon Hoon.
"Hmm," sahut Donghae.
"Yah. Apa rumormu dengan Hyuna lebih penting sekarang ini?" tanya Joon Hoon yang melihat Donghae sedang membaca situs gosip.
"Si stroberi itu akan baik-baik saja," timpal Donghae.
Joon Hoon tak habis pikir, Donghae bisa terlihat tenang dengan situasi seperti ini.
"Kau pikir orang itu akan berhenti melakukan sesuatu pada Hyukjae dengan rumor ini?" tanya Joon Hoon lagi.
Donghae mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap tajam sang manajer. Tatapan yang sangat jarang dilihatnya.
"Dia. Harus. Berhenti. Atau aku, akan melakukan apapun untuk menangkapnya," kata Donghae.
Mendengar itu Joon Hoon jadi mengerti bahwa Donghae hanya berusaha bersikap tenang. Aktor, Donghae adalah seorang aktor.
"Polisi akan menangkapnya. Ulah orang itu sudah menyebabkan seseorang tewas. Ini tindakan kriminal," kata Joon Hoon.
Donghae memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
"Sebaiknya polisi bertindak cepat," kata Donghae.
Joon Hoon menghela nafas.
"Kau beruntung, ayah dan ibumu tidak sedang di Korea. Aku tidak bisa membayangkan ekspresi ayahmu dan wajah shock ibumu mendengar sidik jarimu juga terdapat di kotak kue penyebab kematian seseorang. Belum lagi bila melihat pose intimmu dengan Hyuna di media-media pagi ini," komentar Joon Hoon. "Aish, Kau ini sungguh tahu membuat orang sibuk, Donghae," imbuh Joon Hoon.
Donghae tertawa kecil.
"Ehhm, Donghae ssi," sapa bibi kantin.
Donghae dan Joon Hoon membalikkan tubuh mereka ke arah sang bibi.
"Aku membawakan pesananmu," kata bibi kantin.
Donghae tersenyum dan dengan sopan berterima kasih. Normalnya bibi kantin akan sangat suka mengobrol dengan Donghae dan Joon Hoon, namun melihat banyak orang berdiri di lorong dengan ekspresi serius, sang bibi memutuskan untuk cepat kembali ke kantinnya.
"Jus stroberi?" kata Joon Hoon setelah bibi kantin meninggalkan mereka.
"Berikan ini padanya, hyung," kata Donghae.
"Huh?" Joon Hoon hendak berkata sesuatu tapi kemudian ia mengikuti pandangan Donghae. Detektif Yoo dan Penyidik Song keluar dari ruang manajemen. Joon Hoon melihat Donghae mulai melangkah ke arah mereka.
Joon Hoon mengikuti Donghae.
"Bisa bicara denganmu Detektif Yoo?" kata Donghae.
"Tentu, Tuan Muda Lee," jawab Detektif Yoo.
Sebelum Donghae melangkah menjauh dengan sang detektif dan Joon Hoon mengikuti mereka, Donghae berbalik ke arah manajernya dan berkata, "Itu," Donghae menunjuk kantong plastik berisi beberapa jus stroberi, "dari bibi kantin," imbuh Donghae.
0o0-0o0
"Ini salahku, aku seharusnya lebih cepat mengatakan pada Hyukjae tentang peraturan itu," kata Heechul.
Saat ini Heechul, Staf Kho dan Hyukjae sedang terlibat pembicaraan di ruang manajemen.
Staf Kho memijat pangkal hidungnya. Staf Kho tahu ia tak bisa menyalahkan Heechul atau Hyukjae atas kejadian ini. Absennya Hyukjae ketika SM memperkenalkan sistem manajemen mereka pada artis C&C yang bergabung beberapa waktu lalu adalah celah kenapa insiden ini bisa terjadi. Ya, mereka sepakat merumahkan Hyukjae 11 hari kala itu.
Pagi ini Staf Kho dibuat sangat terkejut dengan kedatangan Detektif Yoo dan para penyidik, terlebih mereka mengatakan perlu menginterogasi Donghae, Hyukjae dan beberapa orang lainnya terkait kasus tewasnya seorang gelandangan. Sejauh ini Detektif dan para penyidik masih berasumsi dan tidak menyatakan kesimpulan apapun. Tetapi Staf Kho tahu apa yang harus agensi tinjau kembali dari sistem manajemen. Dan tentang Donghae, Staf Kho yakin anak Lee Sooman tersebut lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Hyukjae ssi," kata Staf Kho. "Apa kau pernah mendengar apa yang terjadi pada Yunho?"
Hyukjae melihat Heechul lalu kembali melihat Staf Kho. Hyukjae menggeleng.
Staf Kho membuang nafasnya.
"Kami hampir kehilangan Yunho. Kenapa? Karena seorang Sasaeng gila memasukkan lem ke dalam minumannya," kata Staf Kho.
Hyukjae tercekat. Wajah Hyukjae yang sudah pucat seakan bertambah pucat. Ia tak pernah menyangka tindakan seorang sasaeng benar-benar bisa senekat itu.
Tapi sejak kapan ia memiliki Sasaeng? Hyukjae tak pernah mendapati hal-hal gila fans sebelum ini. Kecuali… perasaan seperti dikuntit dan Hyukjae telah menceritakannya pada Detektif Yoo saat interogasi berlangsung.
"Jika Donghae ssi tidak merusak kue itu, kau bisa membayangkan apa yang terjadi padamu?" kata Staf Kho.
Hyukjae teringat saat Donghae menubruknya dan menjatuhkan kue dari tangannya. Hyukjae juga ingat saat Donghae menginjak kuenya dan mengatakan bahwa kue tersebut tidak layak untuk dimakan.
"Dia...tidak melakukan itu untuk membuatku kesal...," batin Hyukjae.
"Hyukjae ssi, peraturan SM tentang hadiah pemberian berupa makanan dan minuman adalah satu, pastikan itu adalah makanan dan minuman pemberian orang yang kau percaya. Dua, kau tak boleh mengkonsumsi makanan dan minuman yang telah kau biarkan tanpa pengawasanmu walau itu hanya sesaat. Tiga, pastikan makanan dan minumanmu sudah dicek bebas racun. Manajer dan bodyguard telah kami bekali alat pendeteksi racun makanan. Apa kau mengerti dan dapat mengingatnya terus?"
Hyukjae mengangguk pelan.
"Maafkan aku," kata Hyukjae. Ia merasa bersalah karena telah membuat orang lain, dalam hal ini para staf, menjadi susah.
Suasana hening sesaat sampai Staf Kho, Heechul dan Hyukjae berpaling ke arah pintu yang terbuka dan tertutup kembali.
"Apa mereka sudah pergi?" tanya Staf Kho pada manajer Joon Hoon yang baru saja memasuki ruangan.
"Donghae dan Sekretaris Shin masih bersama mereka," jawab Joon Hoon.
"Sekretaris Shin?" tanya Heechul.
Joon Hoon mengangguk dan berkata, "Melobi agar kasus ini tidak menjadi konsumsi publik".
Staf Kho dan Heechul membuang nafas bersamaan. Jika kasus ini tertutup, itu akan mengurangi sakit kepala mereka.
"Kalian terlihat seperti tak berenergi," komentar Joon Hoon pada ketiganya.
"Aku pikir aku perlu kopi," kata heechul sambil berdiri.
"Aku harus menggelar rapat," kata Staf Kho.
Keduanya meninggalkan ruangan setelah menepuk pundak Hyukjae.
"Kau baik-baik saja?" tanya Joon Hoon pada Hyukjae.
"Apa aku terlihat baik-baik saja setelah tahu seseorang di luar sana berusaha membunuhku, hyung?" jawab Hyukjae yang menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Joon Hoon duduk di sebelah model manis itu lalu memberinya jus stoberi.
"Lain kali kau hanya perlu waspada. Mungkin ini bisa membantumu. Kau terlihat pucat," kata Joon Hoon.
Hyukjae hanya melihat minuman tersebut dengan tatapan datar, tidak seperti biasanya yang langsung menerima dengan mata berbinar-binar.
Joon Hoon tertawa kecil.
"Tidak beracun. Aku jamin," kata Joon Hoon.
Hyukjae tersenyum dan mengambil minuman tersebut.
"Terima kasih, hyung," kata Hyukjae.
"Bukan aku yang memberimu itu," sahut manajer Donghae tersebut.
"Hmm? Apa bibi kantin?" tanya Hyukjae.
Mendengar itu, Joon Hoon berpikir sesaat.
"…Bisa dibilang begitu…" kata Joon Hoon kemudian.
"Bibi selalu tahu kapan aku membutuhkan minuman ini," kata Hyukjae. "Bagaimana bibi tahu?"
"Karena ia sangat memperhatikanmu. Aku pun baru menyadarinya," sahut Joon Hoon.
Hyukjae yang pikirannya sedang tak fokus, gagal mencerna perkataan Joon Hoon dan justru bertanya, "Hyung, aku tak mengerti. Kenapa pria itu bisa menjadi korban?"
"Aku juga belum tahu, kita tunggu saja perkembangannya," kata Joon Hoon.
Hyukjae menghela nafas.
"Hyung, aku ingin membiayai pemakamannya," kata Hyukjae.
0o0-0o0
Malam hari, apartemen Siwon.
Siwon merebahkan kepalanya di paha Hyukjae, sedang model manis itu memainkan rambutnya. Momen seperti ini adalah momen favorit Siwon. Namun sekarang ini ia bisa melihat wajah murung Hyukjae. Kekasihnya itu juga nampak lesu sejak datang ke apartemennya. Siwon pikir, setelah tidur sejenak suasana hati Hyukjae akan berubah tapi ternyata Hyukjae masih terlihat tak ceria.
"Hei…," panggil Siwon lembut untuk menarik perhatian Hyukjae.
"Hmm?" sahut Hyukjae.
"Cium aku," kata Siwon.
Hyukjae menggeleng.
"Kau benar-benar takkan memberi kekasih tampanmu ini ciuman?"
Hyukjae menggeleng lagi.
"Baiklah…" kata Siwon dan dalam satu gerakan cepat, Siwon menindih tubuh Hyukjae ke sofa dan menggelitiki Hyukjae.
"Yah! Siwon! Yah! Wonniee…hentikan, Hahahahaha, aduh…yah!" gumam tak jelas Hyukjae.
"Apa kau akan menciumku sekarang?" kata Siwon.
Hyukjae menggeleng.
Siwon kembali menggelitiki Hyukjae sampai model manis itu memohon ampun.
"Aissh," decis Hyukjae begitu Siwon berhenti menggelitikinya.
Siwon tersenyum melihat nafas Hyukjae terengah-engah. Mata Hyukjae tertutup dan bibirnya terbuka sedikit. Siwon menempelkan tangannya ke pipi Hyukjae dan mengelusnya perlahan membuat Hyukjae membuka matanya. Hyukjae tersenyum akan sikap gentle Siwon.
Berada di dekat pengusaha muda itu, membuat Hyukjae merasa tenang.
"Maafkan aku," kata Siwon.
Alis Hyukjae berkerut, ia tak mengerti mengapa Siwon meminta maaf padanya.
"Aku telah membuatmu dalam masalah karena kue itu," ucap Siwon. Raut wajahnya menunjukkan penyesalan.
"Itu bukan salahmu, Wonnie. Aku juga tidak tahu apa yang telah aku lakukan dan aku tidak berhati-hati," kata Hyukjae.
"Aku sangat terkejut ketika Detiktif Yoo mendatangi kantorku dan menanyaiku beberapa hal. Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Siwon sambil mengecup pipi Hyukjae.
"Aku… tidak tahu," kata Hyukjae sungguh-sungguh. Seharian Hyukjae menjadi paranoid dan kehilangan selera makan.
"Hyuk, " Siwon berhenti sesaat. "Dia jelas bukan Sasaeng mu. Dia Sasaeng Donghae. Kau harus menjauhi pria itu. Aku tak ingin kau terluka karenanya," imbuh Siwon.
"Dia… menyelamatkanku," kata Hyukjae.
Siwon mengubah posisinya dan duduk di sofa dengan ekspresi serius yang tak pernah Hyukjae lihat sebelumnya.
"Kau harus menjauhinya, Hyuk! Aku serius! Kalau dia tidak mendekatimu, ini tidak akan terjadi," kata Siwon.
Hyukjae mengangkat tubuhnya dari sofa dan duduk di sebelah Siwon.
"Berjanjilah padaku!" perintah Siwon.
Hening sesaat sebelum Hyukjae mengangguk. Model manis itu tak ingin memperbesar masalah. Ia tahu, Siwon hanya sedang mengkhawatirkan dirinya.
"Jika kau mendapati hal-hal mencurigakan katakan padaku, Hyuk," kata Siwon.
Hyukjae menggigit bibirnya. Ia tak memberitahu Siwon soal perasaannya dikuntit seseorang. Reaksi Siwon atas masalah ini saja sudah cukup.
Hyukjae menyandarkan kepalanya ke lengan berotot Siwon dan bermain dengan jari-jari tangan pengusaha muda tersebut.
"Hmm Wonnie, apa Detektif Yoo menanyakan hubungan kita?" tanya Hyukjae berusaha mengalihkan pembicaraan. Menyebut nama Donghae selalu menimbulkan ketegangan di antara mereka.
"Apa dia juga bertanya itu padamu?" tanya balik Siwon.
"Tuan Choi, aku bertanya padamu," kata Hyukjae. "Apa jawabanmu ketika Detektif Yoo menanyakan itu?" ulang Hyukjae.
Siwon tersenyum manis hingga lesung pipinya membentuk sempurna.
"Yah! Apa jawabanmu…" rajuk Hyukjae.
"Mengapa kau sangat ingin tahu, sayang?" goda Siwon.
"CHOI SIWON!" nada Hyukjae meninggi.
0o0-0o0
"Ck, kenapa Siwon tak mau mengatakannya? Arrgh… aku penasaran. Arrghh…. Aiiish…," Hyukjae menggerutu sambil berjalan menuju kantin SM. Semalaman Hyukjae berusaha membuat Siwon mengatakan jawabannya tapi pengusaha muda itu memilih untuk membuatnya kesal.
Perut Hyukjae kosong, sejak kemarin ia hanya minum just stroberi dan makan sepotong roti. Hyukjae dan Siwon hampir tak pernah menyantap sarapan pagi yang berkualitas jika mereka menghabiskan malam bersama. Hal itu karena keduanya sangat parah urusan dapur.
Siwon tak pernah menyentuh peralatan dapur karena Keluarga Choi memiliki dua orang koki. Hal yang Siwon tahu hanya membuat minuman instan, seperti kopi, teh dan cokelat hangat. Sebenarnya Siwon juga memiliki seorang pelayan di apartemennya yang bertugas untuk memasak dan bersih-bersih tetapi ia memberhentikan pelayan itu sejak memacari Hyukjae agar privasi mereka terjaga. Beruntung bagi Siwon karena Hyukjae adalah seorang penggila kebersihan. Apartemennya tetap selalu rapi dan bersih. Hanya… Hyukjae itu tak pandai memasak. Siwon saja sampai tak ingin mengingat masakan terakhir yang pernah Hyukjae coba buatkan untuknya.
Biasanya Hyukjae dan Siwon akan menyantap sarapan pagi delivery tapi pagi ini Hyukjae tak mau menyantap makanan delivery apapun walau mereka memesan dari restoran dengan reputasi bagus.
"Bagaimana kalau orang itu menyabotase lagi makananku," itu alasan Hyukjae dan Siwon bisa memahaminya.
Hyukjae masih berjalan sambil menggerutu penasaran akan jawaban Siwon sampai ia sadar menjadi pusat perhatian. Hampir setiap orang atau gerombolan orang yang dilewatinya, baik itu staf, artis, maupun trainee melihatnya dengan pandangan aneh dan berbisik-bisik. Terlintas dalam benak Hyukjae, itu karena kasus kue maut sudah menyebar se-SM sejak kemarin.
"Aku sangat populer," ujar Hyukjae sarkastik pada dirinya sendiri.
Bau sedap makanan seketika membuat perutnya bergejolak begitu ia memasuki kantin. Hyukjae langsung menuju counter makanan dan memesan makanan yang diinginkannya. Menoleh kesana kemari dilihatnya bibi kantin sedang tidak di tempat hanya asistennya saja, padahal Hyukjae ingin berterima kasih atas perhatian bibi kemarin. Jus pemberian bibi kantin membuatnya merasa lebih baik.
Setelah membayar makanan, Hyukjae bergegas memilih tempat duduk di dekat jendela kaca agar dapat memandangi langit dan gedung-gedung tinggi yang bersinar terkena matahari. Pagi ini adalah pagi yang lumayan sempurna bagi Hyukjae, langit cerah, tak ada keribuatan di ponselnya dan tak ada ketegangan. Berbeda dengan kemarin dimana pagi-pagi Hyukjae terbangun akibat ponselnya tak berhenti bergetar memberi tanda notifikasi. Matanya yang masih mengantukpun terpaksa membaca isi headline, "Bukan dengan Lee Hyukjae! Lee Donghae-Hyuna Mesra di Sebuah Club." Informasi lokasi foto, keterangan waktu, keterangan detil skinship tertera di sana. Satu hal yang membuat ubun-ubun Hyukjae serasa ingin meledak adalah kolom komentar. Di bagian tersebut tertulis,
"Apa Donghae mencampakkan Hyukjae?"
"MEMANGNYA SIAPA YANG DICAMPAKKAN?! LEE DONGHAE, AKU AKAN MENGULITIMU!" Pekik geram Hyukjae pagi itu.
Hei, campak-mencampakkan itu masalah harga diri!
Hyukjae menghela nafas. Entah sejak kapan ia jadi sering melakukannya.
"Silahkan makanannya," Hyukjae mendengar asisten bibi kantin berkata padanya. Hyukjae menoleh, ia melihat menu pesanannya terhidang di meja. Setelah mengucapkan terima kasih dengan senyuman, Hyukjae mengangkat sendok dan garpunya untuk melahap makanan tersebut.
"Uhmm," Hyukjae melenguh kecil. Makanan pilihannya terasa sangat enak padahal itu hanya makanan kantin. Tapi Hyukjae memang sedang kelaparan jadi apapun yang disantapnya akan terasa enak. Hyukjae memasukkan sesendok makanan lagi ke mulutnya. Mengunyah makanan tersebut sesaat sebelum memasukkan sesendok makanan lagi, lagi, dan lagi hingga ia memutuskan untuk mengalihkan matanya dari piring.
Tapi…
"Uhuk, uhuk, uhuk,…," Hyukjae tersedak tiba-tiba. Sedakan itu menyakitkan hingga membuat matanya berair. Tangan Hyukjae dengan cepat meraih gelas minuman dan menegak isinya.
"Uhuk," Hyukjae masih terbatuk kecil walau sudah minum.
"Idiot, mesum, genit, mata keranjang,…,dasar brengsek,…" serentetan umpatan dengan suara pelan keluar dari mulut Hyukjae setelah itu.
Di seberang meja, Kira-kira berjarak dua meja dari tempat duduk Hyukjae…
"Oppa, apa kau sedang tersenyum?" tanya Hyuna pada Donghae.
"Tidak," kata Donghae.
"Kau tersenyum. Aku melihatnya," kata Hyuna.
Donghae memiringkan bahunya menghadap Hyuna lalu menyibakkan rambut Hyuna ke belakang telinga.
"Aku serius. Kau tersenyum, oppa" komentar Hyuna.
Donghae tak bisa menahan tawanya.
Hyuna menyilangkan tangan ke depan dada dan menatap Donghae dengan alis terangkat.
"Apa?" tanya Donghae sambil menahan tawa.
"Apanya yang apa?" tanya balik Hyuna.
Donghae merebahkan tubuh bagian atasnya ke meja, menyembunyikan wajahnya diantara tangan dan tertawa lagi. Bahunya sampai berguncang-guncang.
Hyuna mau tidak mau jadi ikut tertawa walau ia tak tau pasti apa yang lucu. Sekilas saja. Hanya sekilas, Hyuna mengira-ngira ia mungkin tahu penyebab tingkah aneh Donghae.
Itu karena…
Hyukjae.
Hyukjae yang sedang berkomat-kamit tak jelas seperti mengutuki sesuatu di seberang meja.
"Seseorang jelas mengutuki ku tapi aku menemukan itu… menggemaskan?! Ahh, aku dalam masalah. Ahh…aku sudah gila," batin Donghae.
Di sisi lain, Hyukjae berusaha menahan diri untuk tidak melihat ke arah Donghae dan Hyuna. Hyukjae benar-benar berusaha. Tapi ini sungguh tidak mudah karena setiap kali Hyukjae mengangkat wajahnya dari piring, pemandangan yang akan dilihatnya adalah keduanya.
"Apa yang lucu? HAHAHA lalu bla…bla…bla…HEHEHE…bla…bla…bla…" kata Hyukjae pada dirinya sendiri. Ia meniru keduanya. Memang Donghae dan Hyuna seperti terlihat menikmati waktu mereka bersama, tersenyum, tertawa, tersenyum lagi.
Rasanya Hyukjae ingin cepat-cepat meninggalkan meja dan makanannya kalau saja ia tidak benar-benar sedang lapar.
"Setelah membuatku hampir terbunuh karena ulah sasaengnya, si idiot itu masih bisa tertawa-tawa? HAH, lihat saja sampai aku mematahkan tulang kakimu, brengsek!" gumam Hyukjae. "Dia harusnya meminta maaf padaku!"
Hyukjae tahu ia sudah berjanji pada Siwon untuk menjauhi Donghae, tapi Donghae itu… Donghae itu sangat menyebalkan. "Lihat, lihat. Dia masih bisa bertingkah genit!" batin Hyukjae ketika Donghae terlihat terlalu akrab dengan Hyuna. Hyukjae tak sadar kalau ia memegang sendok terlalu erat di tangannya.
"Hyukjae hyung? Boleh aku duduk di sini?" sapa seseorang. Ketika Hyukjae mendongakkan kepalanya, Hyukjae melihat Kyuhyun tersenyum manis padanya.
"Kenapa kau selalu datang disaat seperti ini!" pekik Hyukjae dalam hati.
"Hyung?" ulang Kyuhyun karena belum mendapat jawaban.
Hyukjae mengangguk dan tersenyum palsu.
Kyuhyun menaruh tas dan ponselnya di meja lalu duduk di sebelah Hyukjae.
"Hyung, Taraaaaaaaa. Level 41," Kyuhyun menunjukkan game di layar PSPnya. "Aku menantangmu untuk melewati level ini, hyung," kata Kyuhyun.
"Hmm," Hyukjae mengambil PSP Kyuhyun. Setelah minum, tanpa banyak bicara Hyukjae memainkan game tersebut. Hyukjae suka bermain game, itu membuat suasanan hatinya selalu membaik.
Kyuhyun mencondongkan badannya ke arah Hyukjae agar dapat melihat layar dengan jelas. Tapi selain layar yang dapat terlihat jelas, Kyuhyun juga dapat mencium wangi rambut Hyukjae. Wangi stroberi? Kyuhyun tidak pernah menemukan seorang pria menyukai aroma manis seperti itu sebelumnya.
Kyuhyun mengendusi rambut Hyukjae dan tak bisa menahan diri untuk memainkan rambut model manis itu.
"Hyung, apa shampo mu?" tanya Kyuhyun.
"Kenapa?" tanya balik Hyukjae yang serius memainkan game.
"Wangi dan…" Kyuhyun memilin rambut Hyukjae. "Halus…"
Hyukjae menyebut merk shamponya namun Kyuhyun tak mendengarnya dengan baik karena kini pandangan mata Kyuhyun sedang tertuju pada leher dan bahu putih Hyukjae.
Kyuhyun berdehem dan berusaha memfokuskan matanya ke layar PSP. Tapi ia hanya berhasil beberapa detik saja. Detik selanjutnya mata Kyuhyun kembali memandangi kulit mulus Hyukjae.
"H-hyung, s-seharunya kau tidak memakai kaos terlalu longgar," kata Kyuhyun dengan tergagap.
"Aku ada latihan dance nanti, kaos longgar membuatku nyaman," ucap Hyukjae cepat dan masih fokus dengan PSP Kyuhyun.
"Tapi…tapi…(Kyuhyun berdehem lagi) di luar agak dingin," alibi Kyuhyun.
"Aku bawa jaket," sahut Hyukjae singkat. Hyukjae menggigit bibirnya berkonsentrasi membunuh musuh kunci agar bisa naik level.
"Tapi…," Kyuhyun menutup matanya, mengimajinasikan sesuatu.
"Kyuhyun, sudah level 42," kata Hyukjae sesaat kemudian.
"Hah?!" Kyuhyun terkejut dan membuka matanya. Layar kecil PSP miliknya kini menunjukkan tulisan berkedip-kedip,
LEVEL UP! LEVEL UP! LEVEL UP!
"…ssi-bal…! Aku mencobanya 9 kali!" umpat Kyuhyun dalam hati.
Hyukjae mengembalikan PSP Kyuhyun lalu melirik meja seberang. Donghae dan Hyuna sudah tidak di sana. Keduanya sedang berjalan keluar area kantin.
"Kyuhyun, aku pergi duluan ya," kata Hyukjae sambil berdiri.
"Tung-tunggu!" kata Kyuhyun. Ia memegangi lengan Hyukjae.
"H-Hyukjae hyung, p-pergi nonton d-denganku ya," ajak Kyuhyun.
0o0-0o0
Donghae memasuki ruang manajemen untuk mencari Staf Kho namun ia justru mendapati manajer Joon Hoon sedang melahap stroberi segar di ruangan tersebut.
"Aku dengar Hyuna di sini," Joon Hoon langsung berkomentar begitu melihat Donghae.
Donghae mengangguk pelan.
"Kencan pagi hari?" tanya Joon Hoon.
"Dia hanya datang mengambil sesuatu yang aku janjikan padanya," jawab Donghae sambil melihat stroberi- stroberi di atas meja staf Kho. "Ada perkembangan baru?" kata Donghae.
"Belum. Polisi masih mempelajari semua rekaman CCTV yang kukirim. Mereka juga masih melacak nomor telepon yang mengirimu pesan itu," jelas joon Hoon.
"Itu saja?" tanya Donghae.
Joon Hoon mengingat sesuatu dan berkata, "Seorang office boy mengundurkan diri pagi ini. Ia merasa lalai menjalankan prosedur pembuangan sampah. Kau tahu, plastik sampah berisi kue itu ia buang di tong sampah jalan Cheongdam karena terburu-buru untuk pergi minum dengan teman-temannya! Padahal seharusnya dia menunggu mobil sampah."
"Ck, Tidak heran gelandangan itu menjadi korban. Padahal aku juga telah menginjak kue itu agar tak layak makan. Pria yang malang," ujar Donghae.
"Yah, nasibnya buruk. Oh ya kau tahu? Hyukjae akan membiayai pemakamannya," ungkap Joon Hoon.
Donghae tersenyum mendengar itu lalu mengambil sebuah stroberi dan menggigit ujungnya. Manis.
"Siapa yang membawa ini? Aku baru tahu kau menyukai stroberi, hyung," kata Donghae.
"Tidak juga. Yang ini segar. Orang marketing yang membawanya. Kiriman dari keluarga di desa," jawab Joon Hoon.
"Hmm, " gumam Donghae. Aktor tampan itu kemudian menghabiskan stroberi yang dipegangnya.
"Hyung, Kyuhyun sepertinya suka stroberi," kata Donghae tiba-tiba.
"Kyuhyun?" tanya Joon Hoon. "Kau mau aku mengantar sebagian stroberi untuknya?"
Donghae tak menjawab tapi ia justru berkata, "Aku akan ada rapat dengan Sunpark Design dan COEX Atrium tentang SMTown Land. Beri tahu aku kalau ada informasi baru, hyung," sebelum meninggalkan ruangan.
0o0-0o0
Donghae berjalan menuju ruangan ayahnya. Dari jauh, ia bisa melihat seseorang sedang berdiri bersandar di tembok dekat pintu ruangan. Sekali lihat Donghae mengenali orang tersebut. Rambut blondenya sangat menyolok.
Seakan menyadari kehadirannya, Hyukjae melihat ke arah Donghae. Mata keduanya bertemu sesaat sebelum Donghae memutuskan untuk memutar balik tubuhnya dan menuju tempat lain.
"YAH! Beraninya kau berbalik. Apa kau tidak tahu aku sengaja menunggumu?! Kau seharusnya meminta maaf atau setidaknya mengatakan sesuatu padaku. DASAR IDIOT!" pekik Hyukjae dalam hati. "Awas kau!"
Sementara itu. Di Saphiretech…
Siwon tak bisa fokus pada pekerjaannya. Insiden kue maut Hyukjae masih membayang dipikirannya. Bagi Siwon, kekasih modelnya itu sangat berarti. Jika sesuatu terjadi pada Hyukjae, ia benar-benar takkan memaafkan Donghae.
Setelah hampir berjam-jam berusaha mengendalikan pikirannya, akhirnya Siwon menyerah. Siwon meraih ponselnya dan menekan nomor telepon yang sedari malam sebenarnya sudah ingin ia hubungi.
"Halo…" jawab orang di seberang.
"Temui aku di Dojo Kenyuukai, Tuan Lee," kata Siwon tanpa basa basi.
0o0-0o0
Pukul 8.15 malam Siwon sudah menunggu Donghae di Dojo Kenyuukai. Hampir beberapa menit sekali ia mengecek waktu, berharap jarum jam segera menunjukkan pukul 8.30. Sambil menunggu, Siwon melakukan pemanasan, sabetan Shinai-nya masih berbahaya seperti terakhir kali ia bertemu anak Lee Sooman itu.
Pukul 8. 37, ketika Siwon melihat Donghae memasuki ruangan latihan, Siwon langsung menyerang Donghae.
"Kau terlambat!" serang Siwon.
Shinai-nya ditangkis oleh Donghae.
"Jika bukan urusan pekerjaan, aku tak perlu terlalu tepat waktu," timpal Donghae.
Siwon memberi tatapan tajam sebelum kembali menyerang Donghae. Tak ada waktu bagi keduanya untuk mengenakan Bogu untuk melindungi kepala mereka. Serang dan menangkis adalah pilihan cepat yang harus mereka tentukan sekarang ini.
Siwon menyadari gerakan Donghae lebih gesit dari pada sebelumnya. Bahkan serangan balik Donghae lebih tajam. Ia menduga Donghae kembali rutin berlatih kendo. Tapi Siwon sekarang ini tidak sedang memuji lawan. Sekali lagi, ia harus memberi pelajaran pada Donghae.
Peluh keduanya bercucuran, Donghae berusaha untuk memenangkan pertarungan mereka. Tidak mungkin ia harus kalah untuk kedua kalinya. Itu tidak ada dalam kamus seorang Lee Donghae.
Donghae menyerang, Siwonpun demikian. Pertemuan Shinai mereka menimbulkan suara keras yang menggema ke sekitar ruangan. Keduanya tak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Gurat ekspresi lelah mulai terpancar di wajah mereka. Kesempatan adalah kunci. Orang yang lengah di antara mereka akan tersungkur. Dan itu…
Donghae.
Siwon berhasil mengunci serangannya lalu dengan cepat membanting aktor tampan itu ke matras, membuat Donghae menggeram kesakitan.
"Aku bilang, jauhi HYUKJAE! Jika sesuatu terjadi padanya, kau akan tahu akibatnya! Satu lagi. Sebaiknya kau temukan orang itu!" kata Siwon dengan nada penuh intimidasi. Pengusaha muda itu membuang shinai sekenanya kemudian meninggalkan ruang latihan.
Donghae memegangi lengannya yang sakit akibat terbanting lalu mengubah posisi tubuhnya untuk terlentang dan menghadap langit-langit ruang agar dapat mengatur nafas lebih baik. Dadanya terlihat bergerak naik turun tak beraturan.
Setelah beberapa saat, Donghae tertawa kecil disela-sela tarikan nafasnya.
"Pasangan ini… gemar sekali menghajar orang…," komentar Donghae.
0o0-0o0
Siwon mengabari Hyukjae malam ini ia tak akan ke apartemen kekasih modelnya itu. Hyukjae tak menanyakan apa alasannya, membuat Siwon lega tak harus berbohong. Sekarang ini Siwon lebih memilih duduk di sebuah bar elit untuk minum segelas-dua gelas minuman beralkohol ringan.
Di sisi lain, Hyukjae yang baru saja selesai latihan dance memilih langsung pulang ke apartemennya. Mandi air hangat lalu tidur dengan pulas adalah keinginan Hyukjae. Sehingga begitu ia tiba di parkiran apartemennya, Hyukjae langsung bergegas turun dari mobil dan masuk ke gedung apartemen.
Di kejauhan…Di dalam sebuah mobil, beberapa meter dari parkiran apartemen Hyukjae...
"Apa kita akan menunggu semalaman di sini?" tanya Chanyeol pada Onew.
"Kita tunggu sampai menjelang pagi. Siapa tahu ada sekelebatan Lee Donghae," jawab Onew.
"Aish. Ini akan membosankan," gerutu Chanyeol.
"Kau takkan mengatakan itu jika menguntit Do Kyungsoo," sindir Onew membuat Chanyeol merasa ingin menjejalkan sesuatu ke mulut patnernya tersebut.
"Kau membuat gosip di kantor!" kata Chanyeol.
"Apa aku harus menunjukkan pada mereka bukti-bukti?" timpal Onew.
"Hazz," decis Chanyeol. Di saat seperti ini, ia jadi mengerti perasaan para selebriti.
Tok… Tok… Tok…
Onew mendengar seseorang mengetuk kaca jendela mobil. Ketika ia menoleh seseorang di luar memberi kode agar dirinya dan Chanyeol keluar.
"Ada apa," tanya Onew begitu mereka berdua sudah berhadap-hadapan dengan orang tersebut.
"Tunjukan identitas kalian," perintah orang itu.
"Apa?! Memangnya kau si…" sahut Chanyeol yang terputus setelah melihat lencana kepolisian di tangan orang tersebut.
Mau tak mau Chanyeol dan Onew menunjukkan identitas mereka. Termasuk tanda pengenal jurnalis.
"Sebaiknya sementara waktu kalian menjaga jarak dengan Lee Hyukjae," kata polisi yang mengenakan pakaian preman tersebut sambil mengembalikan identitas keduanya.
"Kenapa?" tanya Onew.
"Lee Hyukjae saat ini dalam perlindungan kami,"
Chanyeol dan Onew saling pandang.
"Kenapa Lee Hyukjae membutuhkan perlindungan polisi?" tanya Chanyeol.
"Tak ada yang bisa kami jelaskan. Ini hanya sementara waktu. Kalian sebaiknya menaati atau kami akan mengirim surat resmi," tegas sang polisi.
0o0-0o0
Yesung menegak minumannya. Kandungan alkohol diminuman tersebut menghangatkan jalur pencernaannya. Bir, satu dua gelas takkan membuatnya mabuk.
Yesung mengamati suasana bar atau tepatnya memfokuskan pengamatannya pada Choi Siwon. Beberapa hari belakangan ia telah mengikuti pengusaha muda tersebut dan hal menarik yang ditemukannya adalah frekuensi Siwon bertemu Hyukjae sangat sering. Jika Siwon tidak ke apartemen Hyukjae maka akan berlaku sebaliknya, Hyukjae mengunjungi Siwon. Bila hal ini ditambah dengan foto yang diambilnya di Jeju, asumsi Yesungpun mengarah pada keduanya memiliki hubungan khusus. Siwon-Hyukjae bukan Donghae-Hyukjae, itu kesimpulan Yesung. Tapi hingga kini ia belum bisa menyelesaikan misteri hubungan Donghae-Hyukjae. Yesung tak berani mengungkapkan Dispath salah target. Tapi apapun itu, Siwon-Hyukjae atau Donghae-Hyukjae, Yesung yakin rumor mereka akan tetap menarik perhatian. Dispath hanya perlu menemukan kebenaran.
"Hyung, kami tak kan bisa mengikuti Lee Hyukjae beberapa hari ke depan. Kita bertemu di Mc.D ya"
Yesung membaca ulang pesan Onew.
Sebenarnya sejak pesan tersebut diterimanya beberapa menit yang lalu, Yesung ingin langsung beranjak ke sana. Hanya saja ketika sudut matanya menangkap sesuatu, Yesung mengurungkan niat.
Choi Siwon sekarang tidak duduk sendiri. Ia ditemani oleh seseorang yang tidak lain adalah manajer Hyukjae, Heechul.
"Aku tak menyangka bertemu denganmu di sini, Tuan Choi," sapa Heechul.
"Ah, Heechul ssi…," timpal Siwon.
"Sendirian?" tanya Heechul.
"Tidak. Sekarang aku bersamamu," jawab Siwon.
Heechul tersenyum.
"Bir, Wine, Whiskey, Vodka?" tawar Siwon.
"Vodka," jawab Heechul.
"Sedang mencari teman rupanya," jawab Siwon.
"Huh?" Heechul gagal paham.
"Aku bisa mengenali seseorang dari pilihan minumannya,"jelas Siwon.
Heechul tertawa.
"Kenapa aku harus mencari teman kalau aku sedang bersama Choi Siwon?" kata Heechul. Ia menggunakan nada tebar pesona.
Siwon tertawa dan memesan minuman untuk Heechul pada bartender.
"Aku… juga bisa membaca peminum Whiskey," kata Heechul yang melirik gelas Siwon.
"Benarkah?" tanya Siwon ingin tahu.
"Pertama artinya orang itu mapan. Aku rasa itu sangat terlihat," ungkap Heechul yang bahkan bisa menyebut merk pakaian yang dikenakan Siwon. Orang berpenghasilan normal akan berpikir ribuan kali untuk membeli pakaian jenis itu.
"Kedua, " lanjut Heechul. "Dia adalah tipe yang biasanya kebanyakan orang ingin mengajaknya pulang. Dan bermain... di ranjang". Heechul memelankan suara untuk menyebut kata terakhir sehingga kata tersebut jadi terdengar sedikit sensual.
Siwon tersenyum.
"Sepertinya kau cukup tahu banyak tentang peminum, Heechul ssi," kata Siwon. Pengusaha muda itu tidak bodoh. Ia tahu Heechul sedang menggodanya.
"Agresif, penggoda, kemungkinan besar seksi dan suka mendominasi serta liar di ranjang." Itu adalah penilaian Siwon tentang Heechul.
"Mungkin. Dan kalau itu benar aku juga ingin mengajakmu pulang, Tuan Choi," kata Heechul sambil tersenyum.
Mendengar itu Siwon tertawa dan mengangkat gelasnya.
"Cheers?" kata Siwon.
Heechul mengangkat Vodka yeng telah diletakkan bartender dihadapannya.
"Cheers…" kata Heechul sedikit patah hati. Jika seseorang tak merespon ajakan ranjangnya, itu berarti hanya ada dua kemungkinan dalam kamus Heechul. Satu, orang tersebut sudah memiliki kekasih dan mencoba setia. Dua, impoten. Tapi kali ini Heechul tak ingin meyakini keduanya. Mungkin ia hanya perlu sedikit usaha lagi.
Heechul melihat Siwon memainkan gelasnya.
"Jadi, kau fans Hyukjae?" tanya Heechul mencari topik pembicaraan.
"Itu yang aku katakan pada polisi. Bagaimana kau tahu?" tanya balik Siwon.
"Kami mendapatkan semua perkembangan kasus kue maut itu," jelas Heechul.
"Hmm, kalian harus memperhatikan Hyukjae lebih seksama sekarang ini. Dia dalam bahaya," kata Heechul.
"Waaah, kau mengkhawatirkannya. Kau ini benar-benar fansnya," komentar Heechul. "Mengapa aku jadi merasa cemburu?"
Sekali lagi Siwon tertawa dibuatnya.
Heechul memperhatikan cara pengusaha itu tertawa. Suaranya renyah, matanya yang tak terlalu sipit tertutup dan lesung pipinya sangat kentara.
"Aku benar-benar payah jika tak bisa mendapatkamu ke ranjang," batin Heechul.
"Aissh…" decis Heechul pelan sambil membuang pandangan ke sekeliling bar.
Hari ini Heechul khusus datang ke bar untuk mencari seseorang yang bisa diajak ke ranjang. Heechul butuh seseorang untuk melepaskan hasratnya dan ia tak menyangka akan bertemu Choi Siwon. Siapa yang tak menginginkan pengusaha muda itu? Rasanya tidak ada.
Mata Heechul terus memperhatikan sudut-sudut bar sampai matanya tertuju pada Yesung yang sedang menatap balik padanya.
Dua detik, tiga detik…kontes tatapan mata mereka berlangsung. Tak satupun dari keduanya mengalihkan pandangan.
"Aku rasa aku harus ke toilet, Tuan Choi," kata Heechul.
"Silahkan, Heechul ssi," timpal Siwon sambil melihat jam tangannya. "Mungkin aku takkan lama lagi di sini," imbuh Siwon.
Heechul mengangguk dan bergegas menuju toilet. Ia memastikan Yesung mengikutinya.
Di lorong toilet yang remang-remang…
"Apa kau menguntitku?" sergah Heechul langsung pada Yesung ketika mereka hanya berdua di tempat itu.
"Bukankah Hyukjae ada jadwal pagi besok? Kau seharusnya tidak bekeliaran selarut ini," timpal Yesung. Kedua tangannya berada di dalam saku celana.
"Oh, jadi kau mengetahui semua jadwalnya. Ah,tentu saja… kalian menulis skandal itu. Bagaimana, apa kau sudah bisa membeli sebuah apartemen baru sekarang, Yesung? Dispath pasti membayarmu sangat tinggi," sindir Heechul.
Yesung berjalan mendekati Heechul tanpa kata.
"Apa yang kau lakukan," kata Heechul. Ia tak sadar melangkah mundur hingga punggungnya bertemu tembok lorong.
Yesung menghimpit Heechul di antara kedua tangannya.
"Jangan dekati Choi Siwon," ucap Yesung jelas dan tegas.
"K-kau tak berhak m-mengaturku," timpal Heechul.
"Sebaiknya kau dengarkan aku, Chullie…," kata Yesung.
0o0-0o0
Siang itu, usai pemotretan dengan SPAO, Hyukjae kembali ke SM. Heechul menginformasikan kepadanya akan ada pengarahan untuk pembuatan poster musikal hologram dan merchandise dan promosi SMTown Land. Hyukjae antusias untuk mengikuti pengarahan tersebut. Tidak saja karena itu menarik tapi juga karena itu artinya ia akan bertemu Donghae.
Katakanlah Hyukjae sangat keras kepala. Tetapi, Hyukjae benar-benar ingin Donghae mengatakan sesuatu padanya. Maaf mungkin…atau apapun itu. Lalu tentang rumor Donghae dan Hyuna. Rumor mereka sangat menggangu Hyukjae karena hampir disetiap artikel namanya selalu disebut. Dan kalau mereka pacaran menurut Hyukjae seharusnya Donghae tak mencuri ciuman darinya.
Semakin Hyukjae berpikir tentang perlakuan Donghae padanya, amarah Hyukjae jadi semakin menumpuk. Poin bahwa Donghae telah menyelamatkannya pun menjadi bagian kecil yang tak terlihat.
Saat pengarahan poster musikal hologram…
Hyukjae kecewa karena Donghae sama sekali tak terlihat. Hyukjae sempat berpikir mungkin Donghae tak berada di SM hari itu. Tapi Hyukjae salah. Donghae muncul saat pengarahan poster musikal hologram Suho.
Saat pengarahan merchandise dan promosi SMTown…
Hyukjae, Infinite, beberapa member Girls Generation dan EXO berada satu ruang dengan para manajer, staf juga Donghae. Walau demikian pandangan Hyukjae dan Donghae tak sekalipun bertemu. Hyukjae berkali-kali jelas melihat ke arah Donghae akan tetapi aktor tampan itu tak pernah berpaling ke arahnya.
Begitu pengarahan selesai dan semua orang mulai meninggalkan ruangan Hyukjae sengaja mendekati Donghae dan berdiri dihadapannya dengan tangan terlipat di dada. Tak lupa Hyukjae memberi sorot mata yang tajam. Tapi sekali lagi, Donghae menghindar. Donghae memanggil seorang staf dan mengajak staf tersebut mengobrol sambil meninggalkan ruangan. Donghae menganggap Hyukjae seperti hantu yang tak kasat mata.
Oh, Hyukjae sangat marah dibuatnya. Sampai-sampai model manis itu menendang kaki kursi yang ada dihadapannya untuk meluapkan amarah.
"Brengsek!" umpat Hyukjae. "Arrgh…Dia membuatku frustrasiiiii!"
Hyukjae menghempaskan diri ke kursi dan menutup mata dengan lengannya.
"Hyuk, kau baik-baik saja?" tanya Heechul.
"Tolong tinggalkan aku sendiri, hyung," jawab Hyukjae.
Heechul dan Joon Hoon yang tersisa di ruangan itu saling pandang.
Joon Hoon kemudian memberi kode pada Heechul agar meninggalkan mereka berdua.
Heechul mengangguk.
"Kau terlihat seperti ingin meledak," komentar Joon Hoon begitu ia hanya berdua saja dengan Hyukjae.
Hyukjae menegakan badannya.
"Apa dia memang selalu menyebalkan seperti itu? Dia itu…dia itu… (Hyukjae mengeluarkan serentetan sumpah serapah)".
"Wow…ini pertama kalinya aku mendengar seseorang mengutuki Donghae dengan fasih dan lengkap," kata Joon Hoon, takjub.
"Arrghh…," Hyukjae mengacak-acak rambutnya.
Joon Hoon tertawa kecil lalu menghela nafas.
"Hyukjae ssi…terakhir kali bukankah kau sendiri yang meminta Donghae untuk tak mengganggumu?" ucap Joon Hoon.
Hyukjae mengangkat kepalanya dan menatap Joon Hoon.
"Aku...," Hyukjae mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku tahu. Tapi…," kata Hyukjae.
"Kau sadar Donghae menjauhimu bukan? Saranku biarkan saja seperti ini, demi kebaikanmu. Kasus kue maut itu bukan main-main, Hyukjae ssi," kata Joon Hoon.
Hyukjae terdiam.
"Mau dengar tentang sesuatu? Mungkin ini bisa membuat amarahmu mereda," ujar Joon Hoon.
Hyukjae melihat sang manajer menyeret sebuah kursi untuk duduk di hadapannya dan ia menunggu Joon Hoon untuk sesuatu yang dimaksud.
"Hmm, kau tahu berita tentang Donghae dan Hyuna kan?" tanya Joon Hoon.
"Semua orang tahu, hyung," jawab Hyukjae.
Joon Hoon mengangguk dan mengatakan pada model manis itu bahwa rumor tersebut sengaja dibuat untuk melindungi dirinya.
"Melindungiku? T-Tunggu….Mereka tidak pacaran?" Hyukjae terkejut.
"Donghae tak pernah memiliki kekasih," ungkap Joon Hoon datar.
"...Aku…aku tak mengerti hyung?" timpal Hyukjae, bingung.
"Aku sudah menjadi manajer Donghae selama bertahun-tahun, jadi aku mengetahui banyak hal tentangnya. Sekecil apapun itu. Donghae yang kau lihat tidak sama seperti Donghae yang kukenal. Mungkin bagimu Donghae itu seseorang yang kalau bertindak sesuka hati, suka bersenang-senang, mata keranjang, mesum, dan lain-lain seperti semua umpatanmu. Tapi... Donghae yang sesungguhnya selalu hidup dalam tekanan. Kau tahu, membawa nama besar orang tua itu sangat berat. Beberapa kali aku melihatnya begitu down dan ingin menyerah pada semua hal. Kondisi itu semakin menjadi-jadi ketika popularitasnya terus menanjak ke level top," Joon Hoon berhenti sejenak untuk menarik nafas.
"Di level itu, di level sekarang yang bisa kau lihat, jumlah fans Donghae sangat banyak dan diantara mereka terdapat sasaeng. Sasaeng ini memang tak pernah melakukan sesuatu untuk mencelakai Donghae, Hyukjae ssi… tapi ia tahu betul bagaimana membuat Donghae putus asa dan kesepian. Setiap kali Donghae mendekati seorang gadis, gadis itu pada akhirnya akan menjaga jarak dengannya. Kenapa? Itu karena gadis-gadis tersebut tak tahan pada teror yang terus mendatangi mereka. Pesan singkat, telepon ancaman, kejutan menakutkan dan lain-lain. Apa kau bisa membayangkan itu?"
Hyukjae tak tahu harus berkata apa. Mulutnya hanya terbuka mendengarkan Joon Hoon.
Tak mendapat respon dari Hyukjae, sang manajerpun meneruskan.
"Setiap kali Donghae mendekati seorang pria dan mereka menjadi terlalu dekat, Donghae sendiri yang akan menerima teror. Orang itu memberi tahu Donghae ia akan mencelakai mereka. Donghae menjadi stress, Donghae khawatir. Tentu ia tak ingin mereka terluka karenanya. Oleh karena itu ia sendiri menjaga jarak. Lalu…seperti yang kau lihat sekarang, ia menjadi seperti orang yang arogan dan hanya tahu bersenang-senang saja dan tak pernah serius dalam satu hubungan. Tetapi Hyukjae ssi…Donghae tak pernah memiliki seseorang yang benar-benar berada di sampingnya," jelas Joon Hoon.
Hening.
Joon Hoon membiarkan Hyukjae untuk menyerapi semua yang dikatakannya. Joon Hoon bisa melihat ada perubahan ekspresi di wajah Hyukjae. Bahkan sekilas, Joon Hoon bisa menangkap simpati yang terpancar dari mata model manis itu.
"…Apa…Donghae mendapatkan ancaman sebelum insiden kue itu?" tanya Hyukjae pelan.
"Ya, karena itu ia sengaja menubrukmu dan menjatuhkan kuemu," jawab Joon Hoon.
Hening lagi.
Hyukjae seperti memikirkan sesuatu.
"Jika…jika tahu sasaeng itu mungkin akan menyakitiku, sejak awal kenapa ia…ia…menciumku dan membuat rumor menjadi besar?"
"Itu sudah lama sekali sejak terakhir kali ia mendapatkan teror. Aku sendiri tak mengerti, mengapa kali ini, terhadapmu, Donghae sulit menjaga jarak. Tapi aku rasa Donghae berusaha, Hyukjae ssi. Terutama setelah ia mengetahui hubunganmu dengan Tuan Choi," kata Joon Hoon.
Hyukjae lagi-lagi terdiam.
Setelah beberapa saat…
"Bagaimana dengan Hyuna? Tidakkah rumornya dengan Donghae akan membuatnya dalam bahaya?" kata Hyukjae.
Joon Hoon tersenyum.
"Mungkin. Tapi Hyuna adalah gadis yang kuat. Dengan imejnya yang seperti itu, teror, ancaman dan bully sudah seperti makanan harian baginya. Selain itu, Hyuna adalah aset berharga agensinya. Ia mendapat perlakuan keamanan dan kenyamanan yang khusus," kata Joon Hoon.
0o0-0o0
Malam, dini hari.
Donghae masih berada di SM. Ia baru saja selesai mempelajari semua dokumen laporan perkembangan SMTown Land. Sebenarnya Ia bisa saja membawa semua dokumen pulang untuk dipelajari di rumah. Tapi Donghae terlalu malas membawa semuanya ke mobil jadi aktor tampan itu memilih pulang hingga larut malam.
Lift lantai G terbuka, Donghae keluar dari kotak bergerak itu sambil memijati lehernya. Lehernya terasa tegang dan ia sedikit mengantuk. Melihat toilet, Donghae memutuskan untuk mencuci wajahnya sebelum pulang.
Di dalam toilet Donghae meletakkan tas tangannya di cabinet wastefel kemudian ia melucuti jam tangannya sebelum mulai menyalakan air dan membasuh wajahnya. Segar.
Saat Donghae asyik mengusap-usap wajahnya dengan air, Donghae mendengar salah satu pintu bilik toilet yang berjejer di belakangnya terbuka. Melalui cermin betapa kagetnya Donghae mendapati Hyukjae di sana dengan handuk dan tas besar terselampir di bahu. Hyukjae Jelas habis berganti pakaian. Dari ekspresinya, model manis itu sendiri juga terlihat sama terkejutnya seperti dirinya.
Berusaha tetap bertingkah normal, Donghae mengusap air di wajahnya. Dari sudut mata, ia bisa melihat Hyukjae berjalan ke arah wastafel yang berada tepat di sebelahnya. Awalnya Donghae mengira Hyukjae akan menghajarnya habis-habisan, mengingat tatapan penuh emosi yang Hyukjae berikan padanya siang ini. Tapi tenyata Donghae keliru.
Hyukjae dengan tenangnya membasuh tangan. Bahasa tubuh Hyukjae juga sama sekali tak mengisyaratkan amarah yang meletup-letup. Setelah mengeringkan tangan dengan alat pengering, Hyukjae langsung berjalan keluar meninggalkan Donghae yang memandangi pintu toilet dengan tatapan bingung.
Donghae sangat suka menikmati suasana malam. Entah sejak kapan. Setiap kali ia tak bisa terlelap di malam hari atau memiliki banyak pikiran, Donghae selalu berkendara keliling Seoul. Terkadang dengan tujuan tapi lebih sering secara acak dan berkendara tak menentu hanya mengikuti instingnya saja.
Namun malam ini sedikit berbeda.
Donghae mengikuti ke mana Hyukjae mengendarai Audinya.
Beruntung, Donghae sedang tidak menggunakan mobil pribadinya sehingga ia tak perlu khawatir dikenali.
Selama mengekor Hyukjae, pikiran Donghae melayang ke saat mereka bertemu di toilet. Perubahan emosi Hyukjae seperti misteri baginya. Ataukah Hyukjae sedang lelah? Donghae tak paham.
Alis Donghae tiba-tiba terangkat ketika ia melihat Audi yang dikendarai Hyukjae berjalan terlalu ke kanan lalu terlalu ke kiri sebelum berjalan normal kembali.
Detik berikutnya Donghae mengeluarkan umpatan melihat Audi Hyukjae nampak oleng lagi.
Donghae merasa terganggu melihat itu, ia pun meraih ponselnya dan langsung menekan nomor dengan ID Stroberi. Jangan tanya bagaimana ia bisa mendapatkan nomor tersebut.
Hyukjae melihat panggilan dari nomor tak dikenal dan menjawab setelah dering keempat dengan tangan gemetar.
"YAH! APA KAU BISA MENYETIR?!" amuk Donghae.
Hyukjae menjauhkan ponsel dari telinganya dan melirik ke spion untuk melihat mobil di belakangnya.
"Donghae…," batin Hyukjae.
"YAH! KAU DENGAR AKU? APA KAU INI ANAK ABG YANG BARU BISA MENYETIR DAN BERLAGAK GILA DI JALANAN?! KALAU TAK BISA MENYETIR, HENTIKAN MOBILNYA! KAU AKAN MENCELAKAN OR…!" kata Donghae.
"APA KAU BISA DIAM!" pekik Hyukjae.
"AISHH. KENAPA KAU SELALU MENYEBALKAN SEPERTI INI! KALAU AKU BISA MENGHENTIKAN MOBILNYA, AKU SUDAH MELAKUKANNYA SEJAK TADI. IDIOT!" imbuh Hyukjae.
Hening.
"…A-apa…maksudmu kau tak bisa menghentikan mobil…," tanya Donghae dengan nada yang lebih pelan kali ini.
"…," Hyukjae tak menjawab.
Donghae mendengar suara seperti isakan pelan dari ponselnya dan itu membuatnya mencengkeram kemudi dengan keras.
"Stroberi…," panggil Donghae. Pandangannya fokus ke Audi yang ada di depannya. Kali ini, mobil itu sudah tak oleng.
"D-Donghae…," kata Hyukjae dengan suara tercekat.
DigDug, suara detak jantung Donghae.
"D-Dong...hae…," kata Hyukjae lagi.
DigDugDigDugDigDug
"R-rem mobilku tak b-berfungsi. A-aku sudah mencobanya berkali-kali," Hyukjae berhenti berbicara sesaat. "A-aku takut, Donghae…," ujar Hyukjae.
DigDugDigDugDigDug DigDugDigDugDigDug DigDugDigDugDigDug
Jantung Donghae berdebar hebat tak karuan mendengar suara lirih Hyukjae dan seluruh otot-ototnya menegang membayangkan kemungkinan yang akan terjadi.
0o0-0o0
tbc
a/n.
Apa pembaca-pembaca manisku, masih di sini? Kkkk. Maaf kelamaan updatenya^^y
ps: Apa kalian bisa mengintip isi hati Donghae?
