Bedeviled


Cast:

Chanyeol, Kai, Sehun, Kris, Chen, Tao, Jinyoung, Gongchan, dll

Rating: T

Summary: Dengan kekuatan merepotkan yang dia miliki, tanpa sengaja Chanyeol merubah dirinya menjadi LUAR-BIASA-AMAZING hingga semua orang di mall tergila-gila padanya. Kai dan Sehun yang marah besar memberi Chanyeol hukuman—dan itu termasuk tidak ada acara kencan dengan Kris selama Tiga bulan penuh. Chanyeol jelas saja tidak terima. Lagi-lagi sim-sala-bim! Nasi telah menjadi bubur. Hanya butuh satu kalimat keliru, kedua orangtuanya kembali ke usia remaja lalu kabur bersama-sama karena mereka amat sangat saling mencintai satu sama lain.

Nah, sekarang Chanyeol mendapat beban dunia di pundaknya.

Kai akhirnya bisa meninggalkan jalan hidup iblisnya. Tapi karena dia kembali ke remaja, siapa yang tahu bencana apa yang bisa ditimbulkan oleh Raja-Iblis-Versi-Tujuh-Belas-Tahun? Dan bagaimana Chanyeol bisa memperbaiki keadaan ketika dia punya satu ton penggemar yang mengikutinya kemana-mana? Dengan dibantu Kris dan Chen, dimulailah misi pencarian yang sangat merepotkan itu.


Chapter 8 – Teen Parents in Action (Part III)

"Mau tahu apa yang lebih buruk dari punya orangtua ajaib? Punya orangtua ajaib berusia 17 tahun!"


#HAPPY READING#


Sunday, 08/11/2015

Chanyeol's P.O.V

"Jangan pernah ganggu bisnisku lagi! Mengerti, tidak? Aku sudah berbaik hati daritadi. Kau terus mengacaukan semuanya dan bikin muak. Minggir! Aku masih punya urusan penting." Bola mata Kai jadi hitam seluruhnya.

Aku tetap tegar di tempat. "Yang kau lakukan ini salah! Ini… ini bukan dirimu…"

"Kau tidak tahu apa-apa soalku, telinga lebar cerewet!"

"Telingaku tidak lebar!"

"Itu karena kau jarang bercermin."

Aku sedang tidak mood berdebat soal telinga. Ayah kandungku menghina telingaku… wow, berat juga cobaan kali ini.

"Kita bahkan baru ketemu tadi pagi," tukasnya kekeuh.

Ya, gelagat dan ingatan Kai lebih buruk dari orang amnesia. Dia berbahaya. "Baiklah, kau benar. Tapi para pengunjung mall ini, mereka cuma sekelompok orang tak bersalah yang ingin belanja keperluan keluarga. Kau tidak butuh jiwa mereka. Bukankah targetmu hanya orang-orang berperangai jahat? Mereka-mereka ini orang baik." Minimal aku kenal beberapa diantara mereka—teman-temanku dari sekolah. Sisanya sih kebanyakan wanita-wanita tua yang ingin membeli brokoli, daging domba, dan peralatan masak. Lalu hadirlah Kai… merusak daftar belanjaan. Mereka mungkin bisa dapat berton-ton daging domba dari Kai, atau satu lemari plus panci-panci baru abad ke-25, tapi jiwa mereka taruhannya! Harus mengabdi pada Raja Iblis seumur hidup. Kan sayang! Timbal-balik yang sangat tidak setimpal.

"Aku bebas mengambil jiwa manapun sesukaku. Apa pedulimu? Aku bebas membangun tentara di kerajaanku. Membuat neraka jadi tempat yang paling kuat dan berjaya. Apa pedulimu? Akan kutunjukkan pada orang-orang bodoh ini aku yang paling hebat. Yang terhebat. Sehun pasti kagum. Tak ada yang sanggup menandingiku. Tidak ada!"

Nada bicara Kai sarat semangat kegembiraan. Full of blessing and excitement. Aku baru lihat dia selepas ini. Dia tampak lebih gembira daripada waktu kubilang aku mengijinkan dia masuk ke kehidupanku.

Yang dia lakukan ini bukan mengabulkan impian orang. Ini jalan untuk memuluskan mimpinya sendiri!

"Aku butuh tim sukses yang besar. Banyak orang yang bersedia mengerjakan apapun yang kusuruh."

"Ini gila," komentarku mulai putus asa.

"Tidak." Kai menggelengkan kepalanya. "Ini menyenangkan. Dan ini baru permulaan."

"Mohon bersabar ya. Yang mau silahkan antri. Ayo, ayo, mari gabung ke antrian. Kalian tidak perlu susah payah kerja. Impian kalian akan terkabul." Suara serak datar itu mengalihkan fokus, bukan hanya suara itu menyuruh orang-orang tetap berdiri dalam antrian dan berpromosi demi iblis, tapi suara itu rupanya datang dari mulut ibuku. Oh-funky-Sehun!

"Ma!" panggilku. Cowok remaja sableng itu bahkan tidak menoleh sedikitpun. Masuk akal sih. Dia 'kan lupa dirinya seorang 'Mama'. "Sehun—maksudku… Hunnie!"

Dia berkoar-koar sambil menggiring lebih banyak muda-mudi polos untuk bergabung dalam antrian dengan iming-iming uang saku jutaan serta mobil gratis, baru kemudian menuju ke arahku. Well, ke arah pacar tersayang—lebih tepatnya.

Dia tersenyum centil, mengedipkan mata pada Kai. "Aku menolongmu mengumpulkan orang-orang ini, beb. Aku baik, kan?"

BAIK APANYA?!

"Sehun!"

Dia melotot kejam kepadaku. "Apa sih?"

"Apa?" Aku melotot balik. "Tega-teganya kau berbuat begitu!"

"Tega kenapa? Dasar orang aneh tidak jelas."

"Tega sekali kau membantu iblis menyesatkan orang-orang!" pekikku.

"Apa salahnya membantu orang yang sedang kesulitan?" Dia mendengus sambil melipat tangan di dada. Sombong luar biasa. "Ini kesempatan emas."

"Oh ya, tentu." Kusetel intonasiku, pura-pura riang. "Terus imbalannya apa?"

Sehun memutar mata. MEMUTAR MATA! "Kolot. Makanya buka pikiranmu. Toh Kai tidak akan menyakiti orang-orang ini."

"Kau bercanda ya?" suaraku meninggi. "Perbuatan Kai akan menyakiti mereka! Cowok kebanggaanmu mengambil jiwa manusia!"

"Terserah deh. Memang harusnya begitu. Kai memberi apa yang mereka inginkan, kenapa dia tidak boleh dapat sesuatu sebagai imbalan?"

Apa orang ini benar-benar ibuku? Pribadi yang sama yang hobi meracik serum kebaikan? Yang rajin membersihkan udara rumah dari aura-aura buruk? Yang bersahabat dengan tiang totem berwajah seram dan suka menggendongnya kemana-mana? Mustahil dia rela membantu iblis… jadi volunteer malah! Ibuku versi remaja pasti punya pola pikir omong kosong mengambil jiwa-jiwaan ini cuma semacam game yang unik. Bukan masalah gawat.

"Ma—hunnie, apa kau lupa, dia itu jahat! Iblis keji!"

Sehun malah mengedipkan mata sok seksi. "Aku ingat."

Oke, aku tahu Kai telah merapal sebuah mantra supaya ibuku menerima dengan lapang dada kekuatannya serta hal-hal supernatural di dunia, tapi ini terlalu pengertian!

Senyum manis penuh hasratnya terpaku pada Kai. "Menurutku dia keren sekali."

Ya, ya aku baru ingat. Ibuku versi ini tergila-gila pada bad boy.

"Iblis bukan berarti dia jahat."

Iblis bukan berarti jahat? Itu logika darimana ya?

"Kai masih lebih manis dan rendah hati dibanding mantan teman baikku."

Rendah hati? Otaknya pasti berceceran di lantai waktu berpindah-pindah tempat tadi.

"Kau harusnya lihat apa yang sudah dia lakukan. Si brengsek itu mendorongku ke genangan lumpur. Dan bukannya menolongku berdiri, dia malah ikut tertawa."

Apa ibuku juga punya masa remaja yang kelam? Dia tidak pernah cerita.

"Cho Kyuhyun si bajingan idiot itu mendorongku! Aku tahu dia sengaja. Dia cuma iri karena kepopuleranku mengalahkan reputasinya. Aku tahu dia jealous! Bukan salahku kalau semua gadis tergila-gila pada pesonaku. Dia saja yang payah! Makanya kubalas dia, kuracuni minumannya pakai obat pencahar. Jadi selama ujian berlangsung dia ke toilet terus hingga terpaksa ikut remedial karena kertasnya kosong."

Oh. My. God. Ibuku rupanya punya masa remaja yang beda-beda tipis dengan Jung-fucking-Jinyoung. Dia populer. Digila-gilai para gadis. Penggemar bad boy. Keras kepala. Pembully terbaik sepanjang sejarah. Kurang apalagi? Pria yang membesarkanku selama 17 tahun ini adalah kandidat kuat yang sudah pasti mendorongku ke lumpur dan meracuni minumanku jika seandainya kami terlahir di tahun yang sama, bersekolah di sekolah yang sama, dan duduk di kelas yang sama.

Tiba-tiba Sehun menoleh antusias ke Kai. "Aku punya ide!" katanya sambil tepuk tangan keras. "Aku harus membalas Kyuhyun! Kai, aku butuh bantuanmu, kita kerjai dia bareng-bareng. Kita buat wajahnya jadi penuh keriput. Buat dia otomatis melompat-lompat seperti katak setiap kali ada orang yang memanggil namanya. Atau kita ubah suara dengkurannya mirip babi. Kau bersedia kan, sayangku?"

"Apapun untukmu," Kai menyeringai sok keren. "Kau ingin Kyuhyun? Sekalian kupanggil dia kemari."

Beberapa detik kemudian, gumpalan awan kelabu muncul di atas kepala kami. Secepat kilat awan kelabu itu lenyap, secepat kilat seorang pria paruh baya tinggi muncul di tengah-tengah kami. Pakai kaos oblong jelek kebesaran dan celana piyama yang sudah gompal-gompal ujungnya.

Kebingungan. Dia menoleh takut-takut. Tercengang shock. "Ini bukan kamarku! Dimana ini?" pekiknya kelabakan.

"Siapa itu?!" Sehun menghentakkan kaki di lantai. "Itu bukan Kyuhyun!"

"Tidak mungkin," Kai tampak takjub, memandangi tangannya sendiri. "Tidak mungkin. Aku tidak pernah keliru."

"Ya, kau pasti keliru. Itu bukan dia! Siapa bapak itu?" Dia cemberut dan siap memaki orang-orang.

"Kenapa aku bisa ada disini!?" Pria itu juga hampir meledak. Dia melirik ke ibuku dan terperangah saat itu juga. "Sehun?" Dia geleng-geleng. "Tidak. Bukan. Pasti putranya. Astaga, mirip sekali…" Mulut dan matanya membulat tak percaya. "Kau… anaknya Sehun?"

Wow. Reuni yang sungguh mengharukan. Ck! Kenapa endingnya selalu begini?

"Anak? Ada apa dengan semua orang hari ini?! Aku belum punya anak!" Sehun berteriak frustasi.

Sudah pasti pria itu Cho Kyuhyun. Tapi bukan Kyuhyun yang pernah diare seharian hingga terpaksa ikut remedial, ini Kyuhyun versi orangtua. Kyuhyun yang seharusnya seumuran dengan ibuku yang asli. Pria itu Cho Kyuhyun masa kini.

Kyuhyun berkacak pinggang sambil memijati dahinya. "Aku mungkin berhalusinasi. Tadinya aku tidur-tiduran di kasur, bersantai, nonton siaran bola. Ini gila. Apa aku jatuh tertidur? Pasti ini mimpi buruk. Kenapa bedebah kecil Sehun ada dalam mimpiku? Ayolah, Kyu. Bangun, bangun!" dia tepuk-tepuk pipinya sendiri. "Cepat bangun."

Ibuku meradang. "Siapa yang kau panggil bedebah?!"

Kyuhyun mengernyit, terpaku dan membeku. "Bocah tidak sopan! Aku lebih tua darimu! Mana rasa hormatmu?! Tidak hanya muka yang mirip, ternyata kelakuannya sama-sama bobrok!"

"Maaf Tuan Cho… permisi…" Aku buru-buru melerai. Maksudku, ini sudah tahun berapa? Sudah tidak jaman! Ibuku versi dewasa yang bijak tidak akan mungkin memulai perkelahian kekanak-kanakan dengan musuh semasa SMA-nya. Dia mungkin akan tos, salaman, berdamai, lalu minum teh hijau berdua sambil bernostalgia. Yang jelas bukan ribut dan saling memaki di tempat ramai! "Dengar, pintu keluar ada di area shopping center. Kau bisa lewat sana."

Pria itu mengerutkan kening. "Maksudnya?"

Ya ampun, jangan bilang dia telmi.

"Kau sedang bermimpi," dustaku, mencoba melancarkan jurus hipnotis. Kutaruh kedua tanganku di pundaknya. Kutatap matanya dalam-dalam. Super dalam. Trik ini selalu berhasil pada magician. "Ini mimpi. Ini tidak nyata. Dan setelah aku selesai berhitung, dari satu sampai tiga, kau sudah harus kembali ke rumahmu. Satu… dua… tiga—Kembali ke kamarmu! Kembali ke rumahmu! Lupakan kejadian ini. Kau tidak pernah bertemu kami! Kembali!"

Tuan Cho Kyuhyun sang rival masa sekolah berjalan menjauhi kami dengan patuh.

BERHASIILLL! YIHAAAA! Kemampuanku meningkat!

Setelah aku membereskan satu orang, datang dua orang lagi menggantikan posisi Kyuhyun.

"Chanyeoool!"

"Kris! Chen!" aku balas melambai-lambai. Kebetulan sekali. Aku butuh mereka di sisiku. Sendirian saja menghadapi Iblis dan partner-in-crime-nya yang baru benar-benar cobaan berat.

"Chanyeol, tadi aku bertemu Kris hyung di sana, memeluk segepok duit sambil komat-kamit seperti orang yang tanpa sadar merampok setelah kerasukan. Kupikir pasti itu ulah ayahmu."

Aku tertawa jengah. Lalu melirik pasangan aneh paling fenomenal di mall ini. Mereka sibuk promosi dan menarik orang-orang supaya antri. Tatapan nanarku kembali ke Kris, cowok itu masih agak paranoia dan linglung. Tampangnya pucat, penuh tanda tanya dia menatap sekeliling.

"Hyung," Kutepuk pipinya, lembut. "Hyung, ini aku."

Dia mengerjap kaget. "Chan? Chanyeol? Oh, syukurlah." Dia menerjangku dan kami berpelukan sebentar. "Aku takut sekali. Entah apa yang terjadi, aku tidak ingat. Tau-tau saja di tanganku ada uang… banyak uang kertas… dan seorang kakek yang tersungkur di lantai. Aku tidak tahu ada apa ini sebenarnya. Aku berperilaku kasar dan liar seperti binatang."

Aku tidak berani bilang dialah pelaku utama yang menendang pantat kakek itu. Kris bisa pingsan, padahal aku butuh dia sekarang.

"Hyung," kutempelkan jari telunjukku ke bibirnya supaya dia berhenti meracau. "Kau dan Chen harus membantuku, kita sedang dalam misi."

"Misi?"

Aku mengangguk. "Ya, kau kepingin tahu siapa ayahku sebenarnya?"

"Ayahmu?"

"Ayahku," aku membeo. "Setelah ini kau akan tahu makhluk seperti apa dia, juga siapa yang kau pacari ini."

Kris melongo.

Chen tidak bermulut ember dengan mengatakan kekacauan ini delapan puluh sembilan persen ulahku, dia hanya diam sambil memberiku tatapan "aku akan membantumu mencari solusi meskipun aku masih marah soal cincin kawin". Aku baru saja hendak memeluknya, ketika suara jeritan bahagia seorang cowok melengking keras di udara.

"Mobil baru! Yeaaaaaaaaah!"

Baro! Gawat! Sudah sampai di Baro!? Berikutnya Sandeul, lalu Minseok hyung…

"Chen, tarik pacarmu dari antrian! Tarik! Tarik semua orang! Bantu aku keluarkan teman-teman dari sana."

Tanpa disuruh berulang kali dia sigap berlari mendekati antrian panjang. Perang sumpah serapah dengan ibuku yang keras kepala saat berusaha menarik tangan Xiumin hyung menjauh.

"Chanyeol," Kris menginterupsi pikiran mumet di kepala. "Aku tidak tahu… semua ini benar-benar membingungkan. Aku heran daritadi kenapa selalu bertingkah ganjil dan tidak masuk akal. Aku merasa ada energi… atau entah apa istilahnya, energi aneh ini menguasai pikiranku. Seperti mengurung akal sehat, aku berada di bawah kendali."

"Cara kerjanya memang mirip hipnotis." Aku berpaling sesaat. Kira-kira gimana reaksi Kris kalau kubilang energi aneh yang mengurung akal sehatnya itu berasal dariku.

"Kurang ajar, kau harusnya seret dua temanmu itu kemari! Bukan mengusir para pelangganku pergi!" pekik Kai meledak-ledak marah.

"Jangan sombong. Mereka tidak mau apa-apa darimu!" balasku. Berdiri di depan Kris, menghalanginya dari serangan si iblis.

"Tentu saja, manusia macam apa yang menolak jadi milyader di usia muda?" Dia melayang mendekati Chen. "Apa keinginanmu?"

"Aku tidak mau kau mengabulkan keinganku," jawabnya ketus.

Kai mengedip pada Kris. "Gimana dengan kau?" tanyanya. Kris sudah pernah melihat wajah ayahku sebelum-sebelumnya, hanya saja, aku ragu dia masih mengenali ayahku dalam bentuk remaja brutal dan sok ini.

"Hyung, itu tipuan," kuperingatkan dia.

Kai mengibaskan tangan dan mengirimku ke seberang ruangan. Aku terhempas keras dan jatuh dengan posisi bokong duluan. Terus terang, aku merasa agak terhibur karena Kris justru berlari menghampiriku. Ekspresi mukanya panik. "Kau tidak apa-apa?" Kris mengulurkan tangan dan membantuku berdiri.

"Tidak!" teriakku, mengabaikan Kris gara-gara ayahku mulai beraksi membujuk Chen dengan segala iming-iming impian dan kekayaan supaya dia menandatangani kontrak—Hitam diatas putih. "Kau itu siapa sih? Jin?! Begitukah caramu? Mengabulkan keinginan semua orang? Dasar jin abal-abal! Kupikir kau mengontrol orang-orang agar berbalik menuruti keinginanmu, tapi sekarang malah kau yang dikontrol oleh mereka. Mau-maunya disuruh-suruh manusia. Kedudukanmu memang lebih rendah!"

Kai berbalik menghadapku.

Berhasil! Bermain-main dengan ego selalu sukses memancing perhatiannya. "Kau itu iblis! Kau hanya buang-buang waktu mengurusi manusia-manusia di mall bodoh ini. Kau pikir itu bisa membuat Sehun cinta dan tergila-gila padamu? Pergi berlibur sana! Taruhan, pacarmu lebih tertarik jalan-jalan keliling dunia."

"Benar juga," Kai memijat kening.

Pheew! Akhirnya dia menyerah juga.

"Aku lebih baik dari ini," lanjutnya. "Aku berpikir terlalu sempit dan dangkal. Mall bukan satu-satunya tempat di dunia." Dia menghela napas. "Baiklah, setelah kupikir-pikir, saatnya mengambil alih seluruh dunia."

Bukan itu maksudku!

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarkkkh!

Raja iblis bodong!

.

.

.

.

"Ini balasan karena berani mengganggu," Suara Kai benar-benar pure evil. Rendah dan bergema. Aku bukan satu-satunya orang yang merasa begitu. Beberapa orang yang berdiri di antrian kini berharap lebih baik mereka di rumah sambil makan ramen cup ketimbang berada disini. Ya, mereka masih belum sadar siapa pemuda tan yang sok kuasa ini, hanya saja feeling manusia mereka merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.

"Chanyeol! Menjauh darinya." Kris berusaha menarikku mundur.

"Tidak apa-apa, hyung. Dia tidak akan menyakitiku. Kami punya ikatan darah," jawabanku terdengar dewasa, profesional, dan kalem sekali. Sukses meyakinkan Kris yang panik, buktinya cengkraman tangannya mulai mengendur, walau aku sendiri tidak yakin. Ikatan darah bisa apa? "Kau yang harusnya menjauh."

"Berhenti menyakiti orang-orang. Lupakan ambisimu," Aku berjuang membujuk Kai. "Sebelum aku melakukan sesuatu yang akan kau sesali dan mencoreng nama baikmu sebagai raja iblis." Tidak ada pengaruhnya sih. Buktinya majikan para iblis itu malah tertawa.

"Bocah telinga lebar, biar kuberitahu, kau bukan tandinganku! Lihat ini!"

Tiba-tiba, bersama seluruh makhluk hidup di mall ini, kedua kakiku terangkat ke udara sekitar empat meter dari lantai. Kemudian, dengan sekali lambaian tangan, Kai mengirim kami semua ke langit-langit dan memutar tubuh kami bagai gasing.

Orang-orang menjerit massal.

"Ahhhhhhhhhhhhh! Kenapa ini? Berhenti! Berhenti! Kepalaku pusing!"

"Apa ini?! Turunkan kami!"

"Ibuuuuuuuuu! Aku phobia ketinggian!"

"Ampuuuuuuuun!"

"Tolongggg!"

Aku merasa seperti naik wahana di taman hiburan. Hanya saja wahana ini akan berputar selama-lamanya! Kai mengubah kami semua—kecuali pacarnya—menjadi tornado mini!

Aku melihat Chen dan Kris serta anak-anak dari sekolahku. Mata Chen terpejam rapat-rapat, wajahnya mulai menegang. Putaran angin semakin cepat. Jinyoung and the gank menjerit dan meraung histeris. Baekhyun pingsan dan tubuh mungilnya terputar-putar pasrah mengikuti pusaran angin. Terbanting kesana-kemari. Sungguh terhibur melihat mereka ketakutan. Nah jeleknya, bagaimana aku sempat menari dan berbahagia jika aku sendiri bernasib serupa? Putaran semakin cepat dan tak terkendali. Banyak anak kecil menangis. Para ibu menenangkan anak-anak mereka, padahal mereka juga menangis.

Semua benda dibawah kaki berubah menjadi bayangan samar, lampu-lampu berubah menjadi bayangan yang terang dan berkilauan. Mataku pusing, kepalaku berkunang-kunang. Kami diputar oleh tornado dengan kecepatan tinggi.

"Ada apa sih ini!?"

"Seseorang tolong kami!"

"Panggil polisi!"

"Kai, turunkan mereka!" pintaku.

Dia mencibir sinis. "Turunkan saja sendiri. Bukankah kau punya kekuatan?"

Tubuhku terempas dan menabrak tubuh Kris. Cowok itu terpental ke jendela Burger King, aku sendiri terpental ke papan iklan McD.

Tidak lucu! Kami bukan mainan gasing sialan! Kai harus diberi pelajaran!

Tubuh kami melayang dan terangkat kembali ke udara, berputar makin dasyat.

"Aku mau turun. Perutku sakit, aku mau muntah," keluh seorang wanita pertengahan dua puluh sembari menangis sesenggukan.

"Aku juga!" jerit Kyungsoo.

"Chanyeol! Lakukan sesuatu!" pekik Chen masih dengan kedua mata terpejam. "Tolong kami!"

Aku merasa pusing sekali. Rasa mual hampir mencapai permukaan tenggorokanku. Semuanya tampak seperti bayangan kabur yang terang dan tidak jelas. Udara terasa mencambuk wajahku. Rambutku berkibar-kibar dengan liar. Kami terus berputar, semakin cepat… semakin cepat lagi. Aku mengedipkan mata. Mengedip lagi, berjuang keras mencari dimana posisi Kai berdiri. Seluruh tenagaku terkuras sampai ke batas maksimal hanya gara-gara ini.

"Oww!" aku kembali terhempas, ke tubuh Chen kali ini. Lalu angin membanting kami ke sisi yang berlawanan. Aku terjatuh di deretan bangku, Chen terjatuh di atap kios soft drink.

"Hentikan angin ini! Hentikan!"

"Ini terlalu cepat!"

"Aku mual!"

Aku sendiri masih merasa mual. Isi perutku berakrobat. Mulutku terasa asam, kurasakan sisa-sisa ampas makan malamku naik ke leher.

Pusing… amat pusing… jidatku terbentur kanopi toko, bahuku terbanting dan entah menubruk benda apa. Lampu hiasan?

Diatara suara-suara jeritan, sekarang aku dapat mendengar suara erangan yang keras, dan kulihat percikan warna kuning berhamburan di udara. Seorang anak benar-benar telah mengeluarkan makan siangnya! Aku menelan ludah dengan susah payah. Rasanya pahit bercampur asam. Oke, sekarang aku benar-benar termotivasi untuk…

Huekk.

Tahan, tahan, jangan muntah. Tahan. Kututup mataku untuk menghilangkan rasa pusing itu, tapi sia-sia.

Sampai kapan kami akan berputar seperti ini? Sampai kapan?! Aku harus mencari cara… tapi… APAAAAAAA?!

Seorang anak kecil kembali mengirimkan muncratan muntah ke udara. Kalau tadi warna kuning pekat, yang ini warna putih dan menggumpal. Orang-orang menjerit jijik.

"Aaaaaaaaaa! Jaket mahalku!" pekik Tao yang kecipratan. "INI MAHAL TAU!"

"Chanyeol!" suara Chen berasal dari suatu tempat entah dimana. "Kumohon… cepat! Lakukan sesuatu!"

Suara-suara jeritan marah dan tangis ketakutan mengalahkan suara raungan angin topan ganas.

Tanah tampak miring ke atas. Lantai tampak menghantam langit-langit. Posisi ubin lantai dan kubah atap seperti bertukar tempat. Semuanya bergelombang. Semuanya bikin pusing. Cahaya lampu bergoyang-goyang. AKU GILA! Tanpa sadar aku berteriak "MAMAAAAA!" Tubuhku membawaku ke tempat yang salah, aku berputar ke arah Mamaku, mengirim dia bergabung ke parade manusia-manusia angin topan.

Dia ikut berteriak histeris. "Kaaaaaaaaaaai! Turunkan aku! Awas kau!"

"Maaf… sori sori," Kai langsung bertindak dalam sekali perintah. Dia bekerja dibawah daya tarik ibuku.

Oke aku punya rencana.

Sehun baru saja sampai ke tanah, tapi kudorong salah seorang manusia angin berputar untuk menghantam tubuhnya telak-telak. Dia kembali bergabung dengan kami.

"KAI! SUDAH CUKUP! Turunkan aku! Hentikan permainan tololmu! Ini tidak lucu lagi!" jerit Sehun sambil memegangi kepalanya. "Bawa mereka semua turun! Kau merusak tatanan rambutku! Teriakan jelek mereka bikin telingaku pecah!"

Ya, ibuku berhasil membantuku dan melakukan tugasnya dengan caranya sendiri. Karena sedetik kemudian semua orang terhempas kembali ke lantai yang dingin. Semua. Tanpa terkecuali.

Beberapa orang terbatuk-batuk dan segera merangkak ke tempat aman, jauh-jauh dari Kai.

"Aku mau pergi dari tempat gila ini!" pekik Jinyoung. "Ayo, guys!" Dia berlari lintang-pukang mencari pintu keluar diikuti teman-temannya. Orang-orang berbondong-bondong pergi dengan wajah pucat pasi.

Hikmah dari insiden tadi, mata khalayak umum mulai terbuka. Orang-orang akhirnya sadar siapa Kai.

Aku mau keluargaku kembali. Aku tidak mau punya ibu sombong tukang perintah yang punya mulut kompor dan senang memanas-manasi iblis. Aku tidak mau punya orangtua yang bahkan tidak mengenaliku sebagai putra mereka. Aku tidak mau punya ayah freak yang terlalu berambisi ingin mengontrol seluruh planet.

Tak ada yang bisa menghentikan para pengacau itu berbuat semena-mena kecuali… aku. Iya kan?

"Kau harus menghentikan ayahmu," Chen terseok-seok menghampiri. "Kau harus memperbaiki ini sebelum kerusakannya bertambah parah. Dia sanggup merubah kita jadi… angin topan, FUCKING HURRICANE! Coba pikir apa yang akan ayahmu lakukan terhadap ratusan rakyat tak berdosa di luar sana? Kau mau bencana menyebar luas?"

"Aku tidak mau." Yang kubutuhkan sekarang adalah semacam jubah besi ajaib yang bisa melindungiku dari sihir hitam paling jahat sekalipun. Masalahnya sekarang aku tidak tahu gimana cara menciptakannya tanpa menimbulkan kekacauan aneh lain. "Aku butuh waktu untuk berpikir."

"Oh ya? Kapan kau akan selesai berpikir? Aku mau pulang dan tidur sebentar, bilang ya kalau sudah selesai."

Dia bercanda, kan?

"Chen!" seruku putus asa. "Jangan melucu dulu! Kau harus membantuku. Aku bingung."

"Yang tadi sindiran, caplang!" Chen spontan menjerit. Aku tahu dia kesal dan sama bingungnya. "Tapi… hei… kurasa aku punya ide." Sebuah cengiran jahil melintas di wajahnya. Aku tidak suka itu. Perasaanku tidak enak. Apa yang hendak dia lakukan? Ide apa?

"Apa? Apa?" desakku cemas. "Cepat beritahu aku."

"Hei kau!" Chen menoleh ke Kai sebelum sempat kuhentikan. "Aku berubah pikiran. Apa kau bisa mengabulkan permintaanku?"

"Kau ngapain sih?!" kupelototi dia.

"Ini bagian dari rencana," Chen tersenyum.

"Jangan, jangan." Aku menggeleng kencang. "Jangan lakukan itu."

"Yes," dia malah nyengir.

"No," aku melotot.

Dia manggut-manggut. "Yes."

"NO!" pekikku frustasi.

"Percayalah, Chanyeol. Aku percaya padamu. Kau pasti bisa melakukan sesuatu untuk menghentikan ayahmu. Seperti angin topan tadi."

Aku tidak tahu musti bilang apa. Terlalu banyak himpitan tekanan di pundakku saat ini.

Kai melayang mendekati Chen. "Aku tahu mulut pembual sepertimu hanya berlagak, akhirnya kau menyerah juga. Tapi sebentar lagi kau akan memohon dan berlutut di kakiku, aku bahkan tidak perlu mengabulkan apa-apa."

"Ah, dasar banyak omong!" Chen bersedekap. "Mana? Mana buktinya? Aku perlu bukti nyata, tuanku, perlihatkan kemampuan spektakulermu dulu. Supaya aku benar-benar yakin sebelum menyembah di kakimu."

Hah! Chen menyerap banyak hal, dia memakai caraku! Smooth way. Kacaukan kepalanya, permainkan egonya, dengarkan sebelah telinga. Kai paling cepat tersulut kalau ada yang meragukan kemampuannya.

"Kalau kau memang mampu, Yang Mulia, perlihatkan dong, jangan bertele-tele."

"Oke," Kai menyanggupi dengan mata memicing sengit, tampak geram setengah mati, namun di sisi lain butuh pengakuan. "Cepat ucapkan permintaan bodohmu. Apa yang kau inginkan?"

Chen menatapku sebentar, mengedipkan mata, lalu berbisik. "Kau pasti bisa, Chanyeol."

Dua pelupuk mataku terasa panas. Chen… sampai segitunya dia…

"No way!" seruku, kurebut kertas di tangannya, kurobek jadi serpihan-serpihan kecil.

"Hama pengganggu!" desisnya. "Apa kau tahu cara mengenyahkan serangga perusak? Injak sampai gepeng."

"Dan apa kau tahu cara menyingkirkan iblis ambisius yang terlalu berambisi menguasai mall?" balasku percaya diri. "Buat orang yang paling dia sayangi berbalik melawannya. Bagaimana kalau kita mulai dari pacarmu," tunjukku ke Sehun.

Ibuku sedang mengagumi Kai seolah-olah dia sejenis roti panggang chocolate chip bertabur sirup. Aku berkonsentrasi ke matanya, kukirim kekuatan telepati lewat sorot mataku. Lari sekarang! Jangan dengarkan Kai. Kabur sejauh mungkin dari dia.

Ibuku mulai berlari.

Kai menjentikkan jari, dan seolah ada lengan tak kasat mata yang menarik kerah bajunya, Sehun terdorong mundur hingga berdiri di sisinya lagi. Namun hanya beberapa detik, saat Kai mencoba berbicara dia menyumbat telinganya pakai tangan, lalu kembali berlari.

Kupikir Kai akan menggunakan kekuatannya untuk menghentikan Mama. Tapi dia malah berpaling murka ke arahku, "Dasar sok pintar, jangan senang dulu. Aku benci diganggu. Dan akan kubuat kau menyesal."

"Kai, tenanglah. Calm down," tukasku. Dia serius. Alis hitamnya nyaris bersatu di jidat. Kedua tangannya mengepal. Bola elektrik muncul dari kepalan tangannya. Dia menggeram dan mendesis. Total ingin merontokkan nyali.

"Kuperingatkan kau…" Kai melangkah maju, sementara aku bergerak mundur. Semakin dia melangkah, semakin aku merasa terdesak hingga punggungku menempel di tembok.

"Jangan Kai, kita ini saudara, ingat?" Aku gemetaran. "Plis…"

Bola-bola energi di tangannya membesar. Percuma. Rayuan ikatan darah sudah tidak mempan.

Aku melotot gentar. "Kau benar-benar ingin memusnahkanku? Disini? Di depan semua orang?"

Kai mengedikkan bahu santai. "Yang bilang memusnahkan siapa? Aku hanya akan mengirimmu pergi."

"Kemana?" tanyaku waswas dan hati-hati karena merinding.

"Aku tidak tahu," Dia menunduk, mengamati dua bola listrik maut di tangannya. "Mungkin di gurun? Padang pasir Kairo? Di rumah igloo tanpa pintu di Alaska? Atau… mungkin… kau bisa jadi bintang laut di akuarium. Entahlah. Ada banyak pilihan."

Sialan. Dia bersungguh-sungguh! Dia benar-benar akan mengirimku pergi! Napasku tidak beraturan. Seperti ada sekantung semen mengganjal tenggorokanku. Aku tidak bisa. Aku tidak mau dikirim kemana-mana!

Alih-alih kasihan, Kai justru tertawa. "Merasa tak berdaya, hah? Mau mengemis minta ampun? Kayak aku mau memberi ampun saja." Kai melempar bola listrik jahanam itu ke angkasa dan menghantam lampu gantung di atas sana. Lampu itu menghilang. Berikutnya aku!

Aku spontan berjongkok. Kai tertawa semakin keras. "Ups, meleset. Tenang… tadi baru penasaran."

Tamatlah aku. Dihancurkan oleh ayahku sendiri. Betapa teganya dia lupa. Kenapa dia tidak ingat siapa aku? Kemarin-kemarin dia selalu bilang menyayangiku.

Kesadaran itu menghantamku.

Sayang…

Perasaan asing mendadak mencuat ke permukaan.

Aku ingin ayahku menyayangiku seperti kemarin-kemarin. Aku ingin orangtuaku kembali.

.

.

.

.

"Tunggu!" tahanku mendadak melompat berdiri. "Tunggu, aku menyerah oke? Kau boleh ambil jiwaku, aku mau surat kontrak tadi. Aku mau buat permintaan."

Kai heran. "Kenapa?"

Tidak sulit mengelabui Raja Iblis.

"Karena aku berhak mendapatkan sesuatu… aku… tidak mau terlibat masalah. Aku hanya ingin pulang dan tidur dalam damai. Aku ingin rumah besar yang mewah untuk melupakan ini semua," jawabku lemah. "Aku berjanji aku akan berhenti mengganggu, kau bahkan bisa mesra-mesraan dengan Sehun setelah ini. Kau bebas menguasai planet-planet manapun, termasuk bumi. Bahkan kau bebas membuat matahari berhenti bersinar. Terserah. Aku tidak bakal protes, tapi aku ingin impianku dikabulkan sebagai gantinya."

Kai menggaruk tengkuknya sesaat. "Ya sudah. Asal permintaanmu tidak bawa-bawa namaku."

"All right," aku mengangguk senang. Penuh semangat menghampirinya. Aku tidak boleh lengah. Kai tidak bodoh. Dia cuma… licik.

"Aku masih tidak paham, apa yang membuatmu berubah pikiran?"

Tuh kan. Sudah kuduga dia bakal curiga.

"Aku…" Kali ini aku mencoba bermain Truth or Dare. Truth lebih manis dan honest, agak menantang, tapi boleh dicoba. Atau kita mix saja keduanya sekaligus. "Aku telah banyak mengacau hari ini, dan aku ingin memperbaiki kesalahanku selagi bisa."

Kai mencibir. "Mau dapat penghargaan sebagai anak paling manis sedunia? Taruhan deh, pasti ayahmu akan sangat bangga," sindirnya.

Aku menutup mulut, tersenyum dibalik telapak tangan. "Tepat sekali."

"Jadi apa permintaanmu?"

"Aku sudah pakai kekuatan terlalu banyak, salah satunya mencoba mempengaruhi Sehun supaya kabur darimu, aku menyesal telah melakukan itu. Aku paham seberapa besar rasa cintamu padanya," tukasku. Kuharap pancingan emosional ini membuat Kai iba dan berhenti berprasangka. "Kau tidak bisa membiarkan dia terus berlari dan merasa ketakutan setiap bertemu denganmu. Seumur hidupnya! Permintaanku: aku ingin membatalkan semua kekacauan yang telah kuperbuat. Aku ingin semuanya kembali. Tarik kembali mantra-mantra ini. Jiwaku sebanding dengan permintaan besarku. Apa kau bisa mengabulkannya?"

Kai hanya terdiam. Tampak berpikir keras. Kemudian dia menjentikkan jari keatas kepalanya. "Deal." Sebuah kertas muncul dari dalam kepulan asap hitam bersama satu pulpen merah. "Tanda tangan. Bukan dirobek."

Dari sinilah timbul kepercayaan, bahwa jauh di dalam sana, dibalik mata gelap pemuda itu, ada Kai yang lama, Kai versi tua—ayahku—sedang mengamatiku. Ayahku tak pernah berbohong ketika dia bilang sangat menyayangiku. Dia bersungguh-sungguh. Jauh di dalam dirinya dia pasti merasakan ikatan yang kuat denganku. Itu sebabnya kata-kataku selalu berhasil menyenggol alam bawah sadarnya. Walaupun logika iblisnya melakukan pergolakan.

Aku memang bersungguh-sungguh menyerahkan jiwaku. Apapun! Apapun akan kulakukan agar keluargaku kembali. Jika ini sukses besar, aku akan meminta ayahku menggagalkan semua kontrak yang dia sepakati. Termasuk yang satu ini.

Kalau memang tidak bisa dibatalkan…

Yaaah… resiko…

Ya sudah. Hidupku berada di genggaman Hades.

I'M FUCKED.

.

.

.

.

Saat aku menulis coretan terakhir di kertas, segumpal asap muncul dan menyelubungi ayahku. Mama berlari mundur, entah habis bersembunyi dari mana dia, kemudian berdiri tegak disamping ayahku. Asap menyelubunginya juga. Aku melihat perubahan terjadi di wajah dan fisik nyata orangtuaku. Aku menyaksikan mereka bertranformasi dari remaja ke manusia hampir manula. Garis-garis abu-abu di rambut mereka kembali. Tinggi badan Mama bertambah. Otot-otot dan massa perut mereka bertambah. Pundak mereka melebar dan lebih tegas. Rahang juga lebih tegas. Tanda-tanda penuaan tipis bermunculan di bawah kelopak mata dan di beberapa sudut wajah. Ketika kepulan asap lenyap, mereka kembali jadi tua bangka biasa. Mama tua bangka biasa. Kai iblis tua angka.

Thank goodness they were back!

Aku lebih dari bahagia. Ingin sekali kuadakan reuni family, minimal kupeluk mereka sampai masing-masing kehabisan napas dan mengomeliku.

"Selamat datang kembali," Kuberi mereka senyuman cerah. Tapi mendadak aku merasa cemas. Apakah mereka akan melanjutkan acara hukum-menghakimi yang tadi sempat tertunda atau justru bangga karena aku berhasil menyelamatkan dunia?

"Chanyeol," Mama menggeleng dan kerutan-kerutan muncul di jidatnya. Kerutan-kerutan halus yang tidak tampak di wajah remajanya. Whoa! Apa mengkhawatirkan aku sepanjang hari yang jadi penyebab dia cepat menua? Aku butuh penjelasan kenapa dia hobi menghukumku sementara masa mudanya amat kacau. Ya, dia marah besar. Hebat. Padahal aku sudah mengembalikan dia ke usia tua. Usia dimana orang-orang bertingkah bijaksana. Kupikir dia akan berterima kasih.

"Kau dalam masalah, Nak." Kai—ehm, Papaku ikut pasang wajah muram. "Sudah kuperingatkan untuk tidak sembarangan pakai kekuatan. Tidak tanpa pengawasanku."

Aku tidak percaya ini. Mereka masih berniat menghukum! Helooooo… aku 'kan sudah membatalkan kekacauan! Aku baru saja menyelamatkan seluruh umat manusia dari mereka! Ya, maksudku, versi muda mereka. Kai mungkin malu karena aku lebih jenius darinya.

"Aku tidak sengaja, itu kecelakaan. Sumpah."

"Cukup," Mama geleng-geleng. "Kita lanjut bicaranya di rumah."

Mengapa aku lupa menambahkan amnesia ke dalam daftar permintaanku? Amnesia akan sangat sempurna! Orangtuaku tidak bakal ingat seluruh kekacauan tadi. Bonusnya, aku terbebas dari hukuman.

Sekarang aku masih harus menghadapi satu kenyataan, orangtuaku ingat segala hal! Semuanya. Perfect.

Kai bahkan tidak bangga atau berseri-seri melihatku. Seharusnya aku yang meluap-luapkan kemarahan Dia telah melupakanku sebelumnya! Bertingkah tidak mengenalku. Justru dia yang harus minta maaf. Dia bahkan mengancam akan melempar bola energi laknat itu ke wajahku. Dia hanya ingin terlihat gagah dan keren dan berwibawa di depan ibuku. Barangkali dia tak peduli denganku atau keselamatanku atau keluarga ini.

"Biar kutebak. Kau pasti ingin kontrak itu tetap berlaku supaya kau bisa menahan jiwaku? Dengan begitu kau lebih gampang mengendalikan pikiranku seperti boneka pertunjukan yang tak berotak."

Kai menghela napas. Tapi dia tidak menyangkalnya.

"Apa?!" Mama menoleh siaga. "Benarkah itu?"

Aku menunggu Kai menjelaskan sesuatu. Membantah tuduhanku salah dan tak berdasar. Habis aku terlalu marah. "Itu benar," aku mengangguk. "Saat Mama sibuk lari ketakutan, Kai mengambil jiwaku." Aku menoleh pada ayahku. "Bukankah itu yang kau inginkan selama ini? Iya kan?"

Kai merunduk meratapi kertas kusut di genggaman tangannya. Dia kembali menarik napas panjang. "Aku tidak mau jiwamu, Chanyeol. Aku hanya ingin kau selamat. Kau putraku. Dengan kekuatan besarmu yang tak terkendali itu kau bisa menyakiti dirimu sendiri. Baru dipikirkan saja sudah…" Dia berhenti berbicara dan malah menatap ke langit-langit. Tidak mungkin. Matanya berkaca-kaca? Dia terharu? Karena aku?

"Kau kelihatan tidak peduli…" aku menunduk menatap ujung sepatuku. Sekarang dibebani perasaan bersalah.

Tak disangka-sangka, dia meremas gumpalan kertas itu kuat-kuat. "Aku melapor ke istriku karena aku ingin melindungimu. Aku khawatir. Kau sendiri tahu apa dampaknya jika kekuatanmu berada di luar kendali. Kau membutuhkan ibumu. Menyembunyikan rahasia dari ibumu jelas bisa berpengaruh buruk terhadap emosimu yang belum stabil. Lihatlah yang terjadi hari ini, aku hampir menyakitimu, dan aku hampir menyesali itu seumur hidupku." Dia menatapku dengan tatapan penuh kasih sayang yang tumpah ruah, meluber seperti air segar. "Untungnya kau mengambil langkah bijak. Kau bertindak cepat. Salut, Nak."

Kai melempar bola kertas itu ke lantai, seperti sampah yang tidak berarti apa-apa, dan dalam sekejap benda itu diselimuti api. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, kertas itu terbakar habis dan berubah jadi serpihan abu. Aku merasa lega. Sekeping kecil beban terangkat. Jiwaku jadi milikku lagi.

"Kau sangat berarti bagiku, Nak." Dia menggeleng lemah sambil menghembuskan napas pelan, menatapku sendu. "Jangan berbuat begitu lagi. Jangan buat kami khawatir."

Begitu kuperhatikan sorot matanya, aku sadar dia bukannya marah karena aku pakai kekuatan, dia kecewa karena aku nyaris membahayakan diriku. Marah karena dia hampir melukai aku. Kesal karena dia tak bisa melindungiku dari kekuatan neraka yang dia miliki.

Ayahku peduli. Beban demi beban terangkat dari pundak, dia peduli, aku bersyukur aku punya ayah yang peduli. Aku mendekat, kupeluk dia. Kedua tangannya menyambutku dalam pelukan beruang besar. Ugh… aku tidak boleh menangis. Ayolah.

"Hei, libatkan aku!" Mama bergerak dan bergabung dalam pelukan keluarga bahagia. "Oh, Chanyeol, aku senang kau baik-baik saja."

"Aku juga senang," kubalas pelukan eratnya.

"Bukan berarti hukumannya tidak berlaku," dia membisikkan peringatan. Aku terkekeh kecil. Tentu saja. Mama kan ratu hukuman. It's okay. Dia bebas menghukumku. Lebih baik punya ibu galak tukang menghukum daripada ibu yang tidak peduli sama sekali. "Kau masih berutang banyak penjelasan," tambahnya.

Apa yang lebih penting dari membayangkan kuliah tujuh menit ibuku soal moral dan pemakaian kekuatan adalah tepukan pelan di pundakku. Aku menoleh, Chen, Kris! Aku mulai panas dingin lagi. Jantungku kebat-kebit. Kris berdiri di belakangku dengan wajah cerah dan senyum kalemnya, menginterupsi acara reuni keluargaku, menuntut tanggung jawab dan penjelasan.

"Hm… Chanyeol, aku mau bicara denganmu setelah ini, boleh?" Dia tersenyum sopan pada Papa dan Mamaku.

"Oh, mau pinjam Chanyeol?" Mama sumringah. "Sekarang juga boleh."

What?! Tidak! Apa?! Aku belum—

"Chanyeol," Chen meremas pundakku. "Aku senang kau berhasil melakukan sesuatu yang benar, alih-alih menciptakan kostum drakula salah pergaulan atau melenyapkan para pengujung di mall ini. Tapi Kris hyung butuh lebih dari sekedar penjelasan."

Aku gelagapan. "Enng.. ahh.. itu…"

"Nak?" Kai—mm Papa menatapku diiringi seringai penuh arti. "Tenang saja, aku tidak menghapus ingatan cowokmu, agar lebih memudahkan."

Memudahkan apanya! Aku mau mati! Ya Tuhan, ini lebih parah dari angin tornado mini. Perutku terasa dikocok-kocok. Kris penyebabnya.

.

.

.

.

Mall memang bukan tempat yang tepat untuk membahas ayah iblis kita dan kekuatan perusaknya. Terlebih jumlah orang yang berlalu-lalang di sekitar kami tidak berkurang sama sekali. Malah makin ramai! Aktivitas sudah kembali ke sediakala sih. Ada yang sedih, ada yang senang, ada yang sibuk menelpon suaminya di rumah agar mengangkati jemuran sebelum langit kelam menjatuhkan vonis. Ayahku menepati janji untuk membereskan kekacauan sampai ke akar-akarnya, termasuk bagian delete memori dan-lain-lain. Tapi aku kebagian tugas paling sulit! Selain menyadarkan orangtuaku, aku masih harus meyakinkan cowok yang paling kusayangi kalau aku bocah setengah iblis baik hati yang tidak punya keinginan menguasai neraka. Aku tidak punya niat jahat untuk melanjutkan tugas merebut jiwa-jiwa lemah, menghasut manusia, apalagi menguasai bumi. Aku cuma mau jadi Park Chanyeol reguler. Bocah biasa-biasa saja. Tanpa kekuatan. Tanpa bayang-bayang mahkota di neraka. Tujuanku simpel. Cita-citaku sangat pasaran. Ingin sukses. Ingin bahagia. Ingin jadi pendamping hidup seseorang (Kalian tahu siapa orang itu). Kemudian menikah dan membangun keluarga harmonis bersamanya.

"Jadi…" Kris berdehem, melirikku, tampak salah tingkah. "Kau dan ayahmu…"

"Raja iblis dan sang buah hati, yap… itulah kami. Keluarga abnormal." Aku tertawa ganjil, sungguh sangat dipaksakan. "Ehm… kau masih punya kesempatan jika ingin mundur…" Aku menghirup napas dalam-dalam, tenggorokanku gatal. Kris terlalu sopan untuk menampilkan raut jijik. Aku pantas mendapat penolakan. Kris pemuda baik-baik, dia pantas mendapatkan orang baik-baik yang sebanding. Bukan keturunan iblis yang berkali-kali mengacau dan berbuat keributan disana-sini. Papaku memang tidak lagi ikut campur soal rekayasa ingatan. Dan kini aku tahu betapa tertekannya atmosfir kejujuran. "Silahkan benci aku." Aku menunduk, meremas jari-jariku, gelisah. "Maaf. Terpaksa merahasiakannya. Selama ini aku bohong padamu, hyung. Aku menyembunyikan identitasku karena aku khawatir dengan penilaianmu."

"Nah, bukan waktunya untuk menilai." Kris memberiku tatapan aku-sudah-menyaksikan-segalanya-jadi-terima-kasih-telah-mewarnai-hidupku. "Ceritakan. Dari awal. Dengan cara santai, anggap aku tembok yang tidak punya muka."

Kutahan kikikan geli dari bibirku. "Tidak bisa."

"Kenapa tidak bisa?"

"Karena muka tembok ini terlalu tampan untuk dihilangkan dari pandangan."

Dia tersenyum, "Terima kasih. Kau juga terlalu keren untuk ukuran iblis. Kau iblis yang imut."

Gantian aku yang tersenyum geli. "Aku tidak imut. Tinggiku 185."

"Terserah, kau tetap imut di mataku. Iblis atau bukan," jawabnya. Kemudian dia mengulurkan satu tangan, "Hai. Namaku Kris Wu. Kau?"

Kuikuti tindak-tanduknya. Tanganku menjabat tangan Kris. Kubalas tatapan dalamnya. "Namaku Park Chanyeol. Murid tahun senior. Bukan manusia, bukan iblis. Aku ditengah-tengah."

"Hai, Park Chanyeol murid tahun senior bukan manusia bukan iblis." Kris terkekeh kelewat riang. Cenderung tidak serasi dengan tampangnya. "Kau manis sekali."

Berani bertaruh ada rona merah menyebar di kulit pipiku. "Hai juga Kris." Banjir kelegaan mengaliriku. Aku tidak percaya telah mengakuinya! Aku mengaku pada cowokku secara langsung! Tidak pakai perantara! Aku menghabiskan hampir satu tahun untuk mengira-ngira reaksinya. Takut Kris minta putus. Penolakannya menghantuiku, hingga membangkitkan kekuatan bodoh saking cemasnya, menciptakan kekacauan gara-gara aku terlalu arogan untuk mencari tahu kebenaran. Aku takut ditolak, nanti malah berbekas seperti cap telapak tangan pada semen basah.

Masih menganga, aku menatapnya tak percaya, berharap dia tidak melihatku sebagai spesies langka yang pantas diawetkan ilmuwan. Ternyata kami malah mengobrol santai. Berarti selama ini aku salah. Apa istilah lainnya? Keliru? Salah sangka? Terlalu pengecut?

"Kau tidak marah?" tanyaku.

"Marah? No. Agak sedikit kecewa—yes. Ternyata kau menganggapku sedangkal itu."

Faktanya dia sakit hati.

"Maafkan aku, oke? Menjelaskan latar belakang silsilah keluarga iblis bukan perkara mudah. Aku takut dan lebih gampang untuk punya pikiran bahwa semua orang akan memberikan reaksi yang sama begitu tahu siapa aku. Maksudku, Jinyoung saja menghujat ibuku karena dia peramal."

Aku melakukan generalisasi. Memukul rata. Keputusan yang sangat kekanakan.

"Aku bukan Jinyoung," dia makin murung. "Kalau kau cukup mengenalku, kau akan tahu bahwa aku tidak pernah setidak adil itu. Ya ampun…" dia mengusap-usap wajahnya. "Aku sampai salah paham, kita bertengkar hebat. Penjelasan ini lebih masuk akal dari kru-kru tivi yang menyusup demi merangkai surprise ajaib. Berarti yang terjadi di halaman belakang rumahku itu tidak disengaja?"

Aku gigit bibir. Pipiku panas. Rasanya ingin meleleh lalu bersatu dengan lantai. "Duh… soal itu aku benar-benar menyesal, sumpah, aku tidak pernah punya rencana mengukir inisial di pohonmu. Atau meteor di kolam… tidak ada yang masuk akal, aku takut dianggap gila."

Kris menghela napas, super panjang, dalam, dan sarat perenungan. "Mungkin aku bakal menganggapmu gila. Kau benar, seperti habis nonton pertunjukan sulap, memang sulit dicerna, sampai sekarang aku masih merasa sedang bermimpi. Luar biasa aneh tapi indah."

"Kenapa bisa indah?" tanyaku bersiap-siap melompat untuk mencium pipinya.

"Karena ada kau di dalamnya." Kris melirik syahdu. "Dan kuharap, kalaupun ini mimpi, aku tidak terbangun sampai kau memberiku sesuatu."

Apa aku benar-benar telah mengembalikan keadaan? Kris tidak dibawah pengaruh sihir cinta, iya kan? Apa bekas-bekasnya masih menempel?

"Chan? Helo?"

Aku mengerjap, lalu memalingkan wajah. "Sesuatu? Contohnya apa?"

"Hei, tidak seru dong kalau aku bilang-bilang. Bukan mimpi lagi namanya," protesnya. "Mimpi itu penuh dengan kejutan. Beri aku kejutan."

"Hyung, mana ada aktor dalam dunia mimpi membocorkan kepada lawan bicaranya kalau ini 'mimpi'?"

Dia menggaruk belakang lehernya, merasa kalah dan gerah. "Baiklah, just… do something. Will you?"

Kutatap dia sok serius. "Oke, oke… gimana kalau…" Kupersempit jarak diantara kami. "Ciuman?"

Kris berdecak. "Sudah kubilang beri aku kejutan! Jangan bertany—" Kutubruk bibirnya menggunakan bibirku. "Nyaa…" Kris tercengang shock. Berani bertaruh dia tidak siap dengan gerakan barusan.

Senyum tengil melebar dari sudut ke sudut. Skor untukku. "Kejutaaaan!"

Kris melempar sorot mengerikan. "Awas kau." Tangannya sigap menarik daguku. Dia mulai melumat bibirku di bawah tatapan para pengunjung dan decak geli mereka. Skor kami seimbang karena aku cukup terkejut. Bahkan, dia dapat skor sepuluh poin setelah berhasil membuatku seperti tersengat listrik. Setiap sel dalam tubuhku melonjak-lonjak kepanasan karena antusiasme berlebih. Aku merasa ingin tertawa. Kris membuatku merasa seperti angin musim panas yang berhembus damai mendampingi pergerakan keluarga burung camar bersahabat. Bercengkrama dengan mereka di angkasa biru. Dia membuat isi perutku terasa seperti kapal layar yang naik-turun di dermaga pada hari tak berawan.

Tapi kemudian, dari sudut mata, kulihat Chen, Xiumin, Papa, dan Mamaku menatap kami penuh penghayatan dari seberang sana. Chen berjinjit, berusaha mengintip ciuman kami lebih jelas.

Dengan segara aku bergeser, menjaga jarak dari Kris. Aku melambai salah tingkah, berjuang keras menyamarkan ekspresi bersalah dan tersipu-sipu di wajahku. Mereka balas melambai lalu berbalik, lanjut ngobrol dengan santai, seolah aku dan Kris hanya tetangga yang kebetulan tinggal bersebelahan dengan mereka.

"Kurasa aku harus pulang," bisikku.

"Apa?" Kris malah budek.

Aku mendongak menatapnya sambil tersenyum lembut, "Ada masalah keluarga yang masih harus dibawa ke meja bundar."

"Meja bundar ruang makan di rumahmu maksudnya?"

Aku terkikik. "Kau ingat bentuk meja di ruang makanku?"

"Jumlah poster di kamarmu saja aku ingat," selorohnya bercanda. Dia meraih kedua tanganku, memainkan jari-jariku. "Oke. Selesaikan dulu urusan rumah tangga kalian, bilang kalau sudah, nanti kuhubungi, oke? Sampai jumpa Park Chanyeol murid tahun senior bukan iblis bukan manusia."

Ini yang kusukai dari Kris. Dia memahamiku. Dia memberiku ruang saat aku membutuhkannya. Dia tidak memaksa. Aku mengobrol banyak hal dengannya. Aku sudah membacanya, Kris bukan tipe tertutup sekali kau berusaha menyelami kepribadiannya. Memilih kejujuran tidak selalu mudah. Aku tahu ini adalah langkah benar yang harus dilakukan. Ya, aku senang tumpukan batu bata tidak lagi menimpa kepalaku dan menindih dadaku.

"Hyung, berjanjilah kau tidak akan menceritakan identitasku kepada anak-anak sekolah, termasuk teman-teman bandmu."

Dua jari teracung di depan wajahnya. "Promise."

.

.

.

.

Aku duduk di kursi Buddha.

Kursi Buddha tidak membuatku tenang, atau menyembunyikanku dari amukan, atau merubah pikiran orangtuaku. Mereka masih berdebat, berunding untuk menentukan jenis hukuman apa yang tepat.

Kalau saja mereka lebih memaklumi siklus para remaja, aku tidak mungkin berteriak. Gara-gara mereka juga semua kekacauan di Mall tadi bisa terjadi. Bukan aku yang meledakkan langit-langit Mall dan menciptakan hujan duit! Aku tidak pernah berencana mengubah mereka jadi remaja.

Ya, ya, percuma membela diri. Hukuman tetaplah hukuman. Mutlak.

Mama berucap datar namun mematikan. "Aku tidak percaya kau memilih menyembunyikannya dariku."

"Aku tidak mau kau kecewa."

"Omong kosong, mana mungkin aku kecewa?"

Aku tidak bilang "yeah", tapi raut mukaku cukup menjelaskan segalanya. Mama buru-buru menambahkan, "Memang benar, bukan kekuatanmu yang jadi masalah. Aku membuat ramuan dan jimat perlindungan setiap saat, kekuatan kecilmu hanya masuk dalam kamus peristiwa nyeleneh yang harus kupelajari."

Kok tidak terpikir ya? Mama selalu tertarik dengan benda mistis dan hal-hal berbau supranatural. Kalau aku cerita dari awal, dia mungkin hanya menganggap kekuatanku sebagai bakat, anugrah, sesuatu yang keren.

"Tapi…" Aah. Sudah pasti ada tapi. "Caramu menggunakan kekuatan itu yang bikin cemas."

"Oh ya?" Aku menyipitkan mata. Ini dia! Akhirnya keluar juga uneg-uneg utama. Dia pasti bakal berkoar-koar tentang betapa tidak bertanggung jawabnya aku sebagai remaja keturunan iblis. "Ma, jadi menurutmu aku harus apa? Memanggil temanku pakai kekuatan telepati lalu balas dendam padanya saat dia sedang di rumah menonton siaran bola? Meracuni minumannya saat ujian supaya dia ikut remedial? Seperti yang kau lakukan dulu terhadap mantan sainganmu di SMA?"

Aku yakin sekali mendengar suara semburan tawa tertahan keluar dari mulut ayahku. Me versus My Mom. Satu poin berhasil kukantongi.

"Namanya Kyuhyun, oke? Dan kami bukan mantan saingan. Hanya seorang teman lama." Dia buru-buru berpaling ke ayahku. "Kenapa aku bisa lupa soal yang itu?"

"Dia baik-baik saja," Kai mengangguk kalem. "Jangan khawatir. Sudah kubereskan. Dia aman kok, tidurnya sangat pulas."

Mama buang napas sesaat lalu memijat pundak kirinya. "Aku dibawah pengaruh, kalau tidak, mana mungkin aku berbuat tolol dan kekanakan."

"Yang kulakukan hanya merubahmu ke remaja, Papa membuatmu jadi lebih pengertian dan paham tentang dunia per-iblisan, tapi kami tidak mengutak-atik sifat alamimu. Moral masa mudamu memang jeblok. Akui saja, Ma."

"Itu kan dulu," cibirnya masih berkilah. "Kau tidak bisa menyalahkan anak-anak."

"Nah! Itu!" tudingku. "Mama tidak bisa menyalahkanku juga. Aku juga anak-anak, waktu seumuranmu aku tidak pernah mendorong siapa-siapa ke kubangan lumpur."

"Ya, tapi kau mengacaukan pentas drama sekolah. Nyaris merusak lampu sorot gedung, ditambah kolam renang pacarmu," balasnya kejam. "Kasus kita beda, Chanyeol." Dia ngotot memposisikan dirinya tak bersalah. Huh! Menurutku sama. Bedanya apa? Malah ibuku lebih parah. Aku tidak sengaja. Dia jelas-jelas sengaja ingin menyakiti kawannya. "Watak remajaku beda jauh dari aku yang kau saksikan sekarang ini."

"Oh ya?"

Mama kembali tarik buang napas. "Orang dewasa sepertiku telah mengalami banyak hal selama berpuluh-puluh tahun hidup di bumi yang sama, aku berproses, kau juga begitu nanti. Dengar baik-baik, aku tidak bangga punya kenangan masa remaja seburuk itu. Tidak! Tapi semua orang pada dasarnya akan berubah. Terima saja, hadapi itu. Ini bukan tentang aku, kita akan membahas masalahmu sampai tuntas."

"Ooo… aku paham," Kulipat tanganku di dada. "Maksudnya kau versi remaja bebas melakukan apapun, sementara aku? Secuil kesalahan kecil dan aku harus menghadapi hukuman seumur hidup?"

"Percayalah," Mama meremas pelan bahuku. "Aku juga selalu dapat hukuman saat seusiamu. Dulu aku berpikir aku tidak pantas menerimanya. Tapi yaa… aku pernah kacau."

"Menjaga kekuatanmu tetap pada tempatnya ada tugasku, Nak." Papa angkat bicara. "Pertama-tama kau butuh latihan jadi sewaktu-waktu kau butuh menggunakannya, tidak perlu ada embel-embel kecelakaan. Jadi kau harus betul-betul berlatih dan aku akan jauh lebih keras dan disiplin kali ini. Asal kau mau berjanji tidak menggunakannya tanpa sepengatahuanku. Kau bebas."

YES! Aku merasa lega sampai kulihat kedua orangtuaku saling bertukar pandang. Bibirnya melengkung perlahan, membentuk senyum simpul. Matanya berbinar-binar. Bahkan tanpa sihir cinta, ibuku tergila-gila padanya. Not surprised at all.

"Baiklah," bunyi kursi bergeser dan suara bokongku yang meninggalkan telapak tangan Buddha imitasi sukses mengalihkan perhatian mereka. "Aku setuju, apa rapat ini ditutup?"

"Tidak perlu buru-buru," tahan ayahku.

Sepasang alisku tertekuk. "Kenapa?"

"Kita semua harus ganti suasana. Bagaimana kalau kita merayakannya dengan Barbeque? Super Beef Preme?"

Mama geleng-geleng. "Tapi tempat itu 'kan mahal sekali."

"Perfect," aku melesat ke kamar untuk menyambar jaket dari gantungan di belakang pintu kamar. "Kebetulan aku kangen barbeque!"

"Kau tidak kangen kami?" tanya ayahku iseng.

Kujulurkan kepala dari pintu. "Kangen. Tapi kalian bukan makanan. Plus, aku tidak jamin rasanya enak."

Papa mengeluarkan suara rentetan tawa terbahak-bahak. "Hati-hati, Nak. Semakin tua sapi semakin alot dan lezat."

Aku ikut tertawa. "Kata siapa? Lagipula kalian bukan sapi. Kalian orangtuaku, dan aku sayang kalian. I love you!"

Mama mendengus. "Ya, semoga bukan gara-gara daging barbeque."

"Tidak kok, aku betul-betul sayang kalian." Aku lari menubruk orangtuaku. Sekali lagi kami berpelukan ala keluarga bahagia. Keluarga aneh, kacau, langka, absurd, abnormal yang bahagia.

Saat di mobil, aku menatap tengkuk ayah ibuku bergantian. Mama benar, orang-orang berubah. Meski aku benci jadi seperti ayahku, aku tahu dia sedang berusaha untuk berubah… dan ya, aku sayang dia.

Untuk kali ini, aku cukup bahagia jadi diriku sendiri.

.

.

.

TBC—

.

.

~Coming Soon Chapter—"Life In Peace. Bring It On!"—Coming Soon Chapter~

A/N: Hai haiiii :*

Sekali lagi thanks buat yang udah bersedia komen di chap lalu, makasihhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

That's mean a lot for me :D. And untuk chap depan aku rencananya mau fokus ke konflik Chanyeol dan Jinyoung, dan mungkin.. buat mereka berdamai? Nah, untuk mencapai perdamaian, dibutuhkan penyelaman kepribadian masing-masing #asik (entah saya ngomong apa ini -_-). Apa teman-teman punya saran buat next? Of course, masih tetap akan ada krisyeol momen juga kaihun momen bertebaran. I'll figure it out. Tapi saya terbuka untuk saran dan masukan. Tidak menutup kemungkinan review dari kalian bisa jadi inspirasi buat cerita berikunya :D. Saya senang banget temen-temen reader udah mau fol/fav dan komen panjang/pendek.

Sebagai penutup, I hope you guys like it. Chap ini adalah chap terakhir dari chap delapan :D.

See you next chapter :*