Disclaimer : Death Note selalu milik Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata sensei
Rating : M (Untuk jaga-jaga saja karena ada contens pembunuhan.)
Pairing : gak ada, L saja, Watari juga
Warning
Pembunuhan, dll
Semua nama-nama, tempat-tempat maupun kejadian yang terkait di fic ini merupakan fiktif. Jika ternyata benar ada bukan kesengajaan.
Cerita ini hanya fiktif. Tidak ada maksud menyinggung pihak manapun.
Cerita ini merupakan kehidupan L awal menjadi detektif versi saya:
Selamat membaca.
.
.
"Chapter 14"
.
.
.
Dulu setelah menyelesaikan pertandingan tenisku melawan Daniel Atlas aku langsung menyempatkan diri mengambil buku di salah satu rak perpustakaan Wammy's House untuk membaca fabel yang menjuluki Singa sebagai pemburu paling cerdik diantara yang lainnya. Ia tidak bodoh, secara fisik punya naluri maupun kecermatan saat bertarung dengan lawannya. Tapi sayangnya yang membuatnya tampak pengecut ialah Singa jantan memerlukan jasa Singa betina untuk berburu. Hal tersebut merupakan kehormatan wajar karena seekor Singa jantan memiliki kepribadian layaknya seorang raja dan menempel penuh wibawa di rambutnya. Ia punya lisensi yang dihormati sehingga hanya akan bertindak sangat aktif ketika sesuatu mendekati wilayah kekuasaannya. Tetapi dibalik itu semua ada kalanya aku dibuat penasaran ketika mengetahui Singa betina akan tampak lebih menyeramkan ketimbang Singa jantan. Maksudku yaitu saat anak-anak seekor Singa betina sedang diancam.
Bagiku August Spark seolah-olah mirip seperti Singa jantan. Tersikap dibawah jubah lebarnya ia terang-terangan tak berusaha menutupi gayanya yang berlagak seperti raja. Ia punya kepercayaan diri sebagai seorang pemburu terhormat dengan dibekali kecerdikan dalam membunuh yang sekarang ini kuakui memang sulit membuatnya bisa dikalahkan. Mengikuti cara kerjanya, ia punya pemahaman untuk mendominasi wilayah buruannya serta cermat menunggu situasi menguntungkan ketika Wammy benar-benar terlihat sudah sempoyongan. Pengasuhku yang pengertian sedang mengalami masa-masa terburuk dalam hidupnya.
Maka si pembunuh itu bermaksud menghabisiku secara lebih efektif dan menurut perhitunganku atau mungkin juga perhitungannya agen-agen yang dipanggil ke sini oleh Wammy masih memiliki waktu sekitar lima menit untuk tiba. Waktu yang cukup lama membiarkan nyawaku hilang sekejap ditangannya sehingga kemudian ia akan bebas pergi menghindari pertarungan-pertarungan merepotkan bersama para agen.
Menggunakan telapak tangan gempalnya August Spark mengangkat pistol berplakatnya yang mentereng sembari menodongkannya tepat ke arahku.
Sedangkan aku tetap tampak mengusahakan sikap tenang dengan menyelipkan telapak tangan di dalam saku celana jeansku. Diam-diam aku mengamati gerak-gerik culasnya yang muncul melalui senyuman. Aku tak memungkiri jika ia berhasrat menghilangkan nyawaku segampang melelehkan cokelat. Sekelebat pikiran jahatnya seolah menggumpal memaksa masuk ke seluruh sel otak. Ia betul-betul menerorku.
Aku mengira dalam bayangan August Spark keping-keping kemenangan terasa merapat. Sementara aku masih saja diam terpaku sambil memelototi bulatan moncong pistol di depan mata. Kujaga keringat dingin agar tidak meluncur keluar. Aku perlu menahan diri terhadap rasa takut, setidaknya August Spark harus menganggapku sebagai barang yang berharga baginya.
Namun sekitar tiga detik August Spark bersikeras menekan pelatuk pistolnya. Maka cepat-cepat aku memikirkan langkah tepat untuk selamat, mencari-cari sebuah kesempatan emas.
Tetapi usaha yang lumayan sia-sia terjadi ketika kurasakan jantungku malah memompa semakin cepat sehingga membuatku mulai menggigit ujung jempolku dengan hati-hati. Bola mataku melebar menatap tubuh raksasa August Spark lekat-lekat. Kepalaku bertambah pening serta suatu sengatan dahsyat menyerang nadi-nadiku, rasanya mirip setrum. Kemudian tiba-tiba cairan kental mengalir keluar dari lubang hidung, aku mimisan.
Aku mengusap-usap hidungku yang berdarah setelah menganggap kecerobohan August Spark saat ini cuma sepuluh persen, pikirku. Kecerobohan cukup kecil dengan menganggapku sebagai bocah biasa yang pasrah menerima perilaku buruk tentang kematian. Tapi tentu saja ini tak akan berjalan mudah baginya, secepatnya aku perlu menemukan senjata pamungkas untuk melawannya.
Sementara dibelakangku Wammy dengan sisa tenaganya yang lemah menarik ujung pakaianku, ia jelas-jelas mengkhawatirkanku.
Aku langsung berbalik, merespon rasa khawatir Wammy dengan sedikit melempar senyum datar meskipun tentunya hal ini tak akan mudah diterimanya.
Lalu menggunakan probilitas kecil aku beramsumsi jika hanya ada satu hal untuk melawan August Spark, yaitu menggunakan sifat dasarnya yang seperti seekor Singa jantan. Binatang itu menganggap dirinya adalah raja dan ia selalu benar-benar perduli terhadap mangsanya. Aku berdebar-debar supaya membuatnya terprovokasi.
Sehingga pada akhirnya sambil menyeka darah yang keluar dari hidung menggunakan jaket parasit, aku bertindak. Tujuh persen kesempatan, aku berharap tak membuangnya cuma-cuma.
"Saya juga sangat menyukai Robert Downey. Bagaima dengan Anda?" kataku memulainya cukup manis.
August Spark menanggapinya sambil tertawa merendahkan. Tangan gempalnya tetap sigap menodongkan pistol ke arahku. "Apa hal itu yang sungguh kau perdulikan bocah, kau akan mati."
"Tapi anda ingin mengenal saya," balasku enteng.
"Apa maksudmu?" Ia mengedipkan sebelah mata. Wajahnya masih tampak meremehkan.
Aku menganggkat bahu. "Lihatlah, aku tahu sebenarnya Anda bukanlah seorang pembunuh berdarah dingin yang suka membunuh tanpa alasan. Bukankah Anda tak suka korban yang tanpa alasan, seperti yang terjadi baru-baru ini di gedung opera. Maksud saya tentang Miss Limbrown."
August Spark tertawa renyah seolah menutupi rasa terkejutnya.
"Yeah, aku yang membunuhnya. Kau mau apa, menangkapku. Dasar tolol."
Menghiraukannya sebentar jemari kananku bergerak mulus ke dalam kantong celana lalu mengambil satu batang permen loli rasa melon yang kusimpan. Dengan santai kubuka bungkusnya dan melahapnya.
Sedangkan August Spark mengira aku telah menghinanya. Lamat-lamat ia mendorong pistolnya maju lebih dekat ke dahiku seraya mulutnya komat-kamit mengumpat. Raut diwajahnya mulai berubah.
Secara jeli kurasakan besi panas menempel di kulit. Pistol itu berupaya memuntahkan peluru. Aku buru-buru ingin menghindarinya, tentunya dengan mengusahakan langkah cukup aman.
"Tak mungkin saya menangkap Anda," kataku tenang. "Tentu saja Anda jauh lebih hebat daripada bocah macam saya. Tapi saya hanya ingin tahu, bukankah Anda seharusnya memiliki suatu alasan untuk membunuh. Seperti yang akan Anda lakukan terhadap saya maupun yang sudah terjadi sebelumnya pada Miss Limbrown. Yah, kiranya saja Anda punya alasan atau kebanggaan atau empati..."
Tiba-tiba August Spark menurunkan pistolnya. Dahinya berkerut dan sudut matanya menyipit. Ia seolah mencurigaiku. Tapi hal itu sepersekian persen cukup membuatku merasa lega.
"Apa yang pernah kau selidiki tentang Crystal?" tanyanya dengan suara kasar.
Aku mendongak ke atas. Bola mataku menatapnya tajam. Tindakan gegabah dan cukup berani.
"Saya tidak pernah menyelidikinya lebih tepatnya mengira-ngira," ucapku setengah bohong. "Saya punya firasat Anda pasti memiliki alasan ketika membunuh Miss Limbrown. Saya kira sebelumnya Anda pasti sudah mengenalnya, mungkin ia termasuk yang spesial bagi Anda. Miss Limbrown seorang diva."
August Spark mengerjap.
"Cih—mengapa kau perduli bocah, alasanku membunuh."
"Agar saya tidak mati sia-sia ditangan Anda," jawabku cepat.
August Spark tersenyum sinis. Pistolnya tetap digenggam erat-erat di antara jemari kananya. Sedangkan aku mengamatinya secara sembunyi-sembunyi sambil menelan ludah. Air liurku tersedak di tenggorokan dan rasanya cukup pahit meski bercampur permen melon, aku masih berdebar-debar.
Kemudian ia mengeluarkan suara kasarnya lagi, "Ternyata kau lumayan pemberani. Asal kau tahu, aku menghabisi nyawa Crystal juga dengan berani. Tidak sama seperti yang sudah-sudah saat aku masih menjabat sebagai anjing penjaga para penguasa."
"Jadi intinya Anda menembak kepala Miss Limbrown dengan sangat bangga. Tak ada paksaan sama sekali."
Tanpa berbelit-belit August Spark mengangguk takjub. Sesaat ia sedang terkenang masa lalu sehingga raut wajahnya kembali berubah dan tampak mengerikan.
"Tentu saja kau akan rela menjadi apapun untuk kekasihmu, bahkan menjadi Matahari ataukah Iblis."
Aku menyadarinya sembari menghela nafas ringan. Permen Loli kuhisap keras-keras.
"Apakah tebakan saya benar... jika Anda memang menyukai Robert Downey."
Bola mata August Spark langsung mendelik. "Tidak sama sekali," katanya bernada marah.
"Kalau begitu kenapa secara suka rela Anda menghabisi nyawa Miss Limbrown? Anda pasti benar-benar punya alasan. "
Si pembunuh itu mendengus kesal, "Kenapa aku haus menjawabnya karena sepertinya kita tak punya waktu lagi untuk bermain-main," ucapnya.
"Tunggu sebentar saja, saya cuma ingin tahu seberapa penting Robert Downey bagi Anda," aku bersungut-sungut hampir kehilangan kendali. "Bagaimana kalau saya ubah pertanyaannya jadi begini, keberanian Anda ketika menembak kepala Miss Limbrown di gedung opera, apakah didasari oleh buku Robert Downey?"
Kali ini August Spark tampak merasa tersinggung, telapak tangan kirinya yang longgar mengepal kemudian bersamaan secara mengejutkan meraih kerah jaket parasitku. Permen loli yang kuhisap melompat keluar dan aku terpelanting ke depan seakan-akan beruang besar berwarna cokelat gelap sedang berhasrat menerkam tubuhku secara sigap. Aku kesulitan bergerak karena terjebak di antara jari-jari bengkaknya. Kemudian ia merapatkan tubuhnya padaku sehingga aroma mesiu yang bercampur keringat menabrak lubang hidungku semakin menyengat.
Setelahnya kuamati bola mata August Spark menyala-nyala terang, ia seekor Singa jantan yang tak terlalu suka diremehkan. Terdengar melalui nada suara tinggi-tinggi ia membentak. "Seandainya kau bukanlah seorang bocah tolol yang terlalu menyemangati kematianmu sendiri dengan terus-terusan menyebut nama Robert Downey. Mungkin saja aku akan menghukummu lebih sabar. Dan kau tahu pujangga brengsek itu tidak berarti apa-apa bagiku—heem, menariknya ada seorang pria yang lebih kukagumi. Pria itu dengan kemuliaannya sanggup menarik telapak tanganku dari lubang neraka. Ia seorang bijaksana yang berhasil menciptakan monster. Kemampuan menakjubkannya tak sebanding dengan sekedar seorang artis sampul. Ia telah membukakan jalan untukku."
Bisa dikatakan melalui suatu pertaruhan sekitar tigapuluh persen aku telah meraba-raba ke bagian paling menakutkan. Maka secara waspada aku berusaha menghindarinya agar tulang leherku tak dipatahkannya segera. Aku coba berontak sebab permainan ini akan berakhir.
"Lalu siapakah orang yang menyuruh Anda untuk membunuh saya, mengirimi foto saya, serta alasannya? Bukankah orang itu Anda percaya." tanyaku tanpa basa-basi.
August Spark mengeram, suaranya muncul di sela-sela raut wajah bengis yang mengintimidasi. Kerah jaket parasitku dicengkramnya erat-erat. Bola matanya mendelik memandangiku. Ia naik darah.
"Kau tak perlu tahu. Sebentar lagi kau mati," ucapnya mengancam diiringi bunyi nafas tersendat-sendat.
Aku bersusah payah melakukan perlawanan dengan melepaskan cengkramannya dari kerah jaketku. Lengannya yang berotot tebal kuputar-putar berat. Ia sama sekali tak bergeming.
"Jika Anda tak berani menjawabnya berarti Anda masih sama seperti dulu," kataku sambil tetap berusaha melepaskan cengkramannya dan memutar-mutarnya lagi. "Anda masih saja bertindak penurut sebagai anjing penjaga. Anjing penjaga yang kapanpun setia menuruti keinginan majikannya. Oh, mungkinkah ternyata dugaan saya telah keliru mengira kalau Anda sudah berhasil memiliki kebebasan serta alasan untuk membunuh. Saya kira sekarang Anda pasti punya alasan untuk membunuh dan alasan tersebut yang saya maksud ialah kehendak Anda sendiri."
Setelah sedemikian rupa kesusahan melepaskan cengkramannya, August Spark malah menghempaskan tubuhku ke belakang. Aku terjungkal sehingga tubuh bagian belakangku membentur lantai, rasanya sedikit ngilu.
Lalu dengan cara tidak menyenangkan August Spark menodongkan pistolnya lagi.
"Ingat bocah bagaimanapun aku seorang pembunuh," tukasnya.
"Yah benar," aku menganggkat bahu lalu telapak tanganku bergerak mengusuk-ngusuk bagian punggungku. "Tapi Anda bukanlah pembunuh berdarah dingin. Anda punya alasan untuk membunuh, tidak sama seperti yang pernah dilakukan oleh Dorian Kingsley saat menembak warga sipil selama perang di negara utara. Anda bukanlah pembunuh semacam itu."
August Spark mengeleng-gelengkan kepalanya ringan. Ia tampak terlena mendengar ucapanku.
"Kau juga sudah tahu tentang si pria tua laknat itu. Ialah tokoh utama dan seorang manusia hina, pengecut yang telah menjebakku lalu menendang tubuhku jatuh ke lubang neraka. Karena perbuatan busuknya itu maka aku akan senang hati membawanya ke tempat mengerikan itu. Namun sebelumnya ia harus mengetahui rasanya dipermalukan "
Aku mendorong lututku agar bangkit berdiri. Berupaya menguasai diriku sendiri agar tidak dirasuki ketakutan. Rasa takut dapat melumpuhkan akal sehat untuk bertindak tergesa-gesa. Ketenangan merupakan prioritas utama dalam menghadapi situasi berbahaya, sekiranya di waktu sekarang."
"Jadi, apakah rencana pembunuhan terhadap Mr. Dorian Kingsley juga memilki kadar perlakuan sama dengan yang akan Anda lakukan terhadap saya atau Miss Limbrown sebelumnya? Apakah Anda punya alasan? Mungkinkah orang yang Anda percayai merencanakan pembunuhan lagi...siapakah dia? Dimanakah kalian bertemu—?"
August Spark meludahi wajahku. Buih-buih air liur yang muncrat dari mulutnya meluber ke pipiku mengeluarkan bau pesing alkohol dan tembakau.
Aku mengerjap sebentar. Lalu aku mendapati wajah August Spark seolah melebar sembari samar-samar mulutnya ingin menunjukkan sebuah senyum menyepelekan.
"Kau sungguh licik bocah," katanya sinis dan angkuh.
Yah, aku sama sekali tak menyangkalnya. Wammy sering mengajariku secara sungguh-sungguh bahwa kelicikan merupakan modal bagi seorang detektif untuk berperilaku manipulatif. Tanpa malu-malu telah kubuktikan ketika terjadinya pembunuhan ke-dua dengan korban Miss Limbrown yang menggemparkan media massa. Melalui keputusan tenang saat itu aku tetap mengambil langkah cermat untuk memprioritaskan penyelidikan kasus pembunuhan Jonah Hill, tujuannya agar si pelaku utama tak keasyikan menjalankan rencananya. Meskipun dapat diduga reaksi masyarakat tak dapat dihindari saat mengetahui pembunuhan sadis pada seorang diva di atas panggung. Maka pembunuhan Miss Limbrown menyebabkan kepanikan sehingga membuat pihak kepolisian sendiri juga turut andil mencari kambing hitam dengan menyudutkan Wammy's House setelah dibuat khawatir oleh buletin panas yang digembor-gemborkan. Tentunya hal tersebut sangat wajar bagiku.
Akan tetapi tidak ada ruang pengecualian wajar bagi pembunuh Jonah Hill. Menurutku si pelaku adalah seorang pembunuh cerdik yang menyesatkan seandainya dengan mudahnya aku mengendalikan pihak kepolisian Winchester untuk mengeluarkan perintah khusus meringkus seorang pria militan bernama August Spark. Namun untuk berjaga-jaga setidaknya pernah kumasukan dalam jurnal harianku jika pembunuhan mencolok mudah ditemukan pelakunya, kiranya bukanlah suatu misteri yang perlu diumbar bagi diriku sendiri maupun buat si pelaku. Sedangkan oleh sebagian orang Jonah Hill merupakan korban tak penting namun telah menjadi pusat perhatianku secara pribadi ketika rangkaian teror yang terjadi mengarah pada pelaku pembunuh dirinya. Kejadian pertama ialah sumber dari serentetan peristiwa.
Kemudian pada saat yang sama aku telah menemukan pelakunya. Kadar kemungkinannya tidak sempurna sampai sembilanpuluh persen tapi cukup menyakinkanku jika ia pelakunya. Seperti semacam takdir yang digariskan penemuan tersebut sebenarnya telah membuatku bergidik. Kondisi ini terjadi oleh karena secara tak pantas aku benar-benar telah menghormati kepintarannya, di luar itu aku juga mengetahui tentang asal-usulnya dan dengan sembunyi-sembunyi mengambil gambar bentuk fisiknya sebagai kenangan menakutkan bagi Ms. Perskin. Maka diperlukan satu langkah tipu muslihat serta penuh perhitungan saat menjebak si pembunuh. Lalu seusai menyaring informasi yang kudapatkan dari Dorian Kingsley, sebenarnya pada waktu itu sudah kusiapkan tempat spesial di Rumah sakit( lokasi utama ditemukannya Jonah Hilll terbunuh) untuk melakukan penyergapan terhadap si pelaku. Metodenya dikhususkan secara manual dengan melibatkan sedikit personil agar tidak menimbulkan banyak keributan.
Meskipun pada akhirnya di sana aku harus mengakui sudah melakukan kesalahan perhitungan, atau lebih tepatnya melalui bahasa yang kubuat-buat telah muncul fakta peristiwa baru dan sangat tak bisa kuterima. Celah untuk mengalahkanku ialah sejujurnya aku belum mampu mengantongi nama-nama target yang akan dibunuh, walaupun aku dapat menarik kesimpulan tentang prosesnya. Sementara keunggulan si pembunuh tentu saja sudah memiliki daftar calon korbannya. Aku tak memungkiri jika alasan konyol tersebut dapat kujadikan sebagai perlindungan masuk akal dalam menyatakan diriku mungkin saja ceroboh sampai korban ke-tiga menyusul sehingga membuatku menganga. Korban ke tiga ini satu-satunya paling membuatku cemas.
Sampai pada tahap pembunuhan ke-tiga, yaitu pembunuhan Elena Dempsey aku belum berani berterus terang siapa pelaku pembunuhnya. Aku mengerti bukan suatu perkara mudah untuk menyampaikan kebenaran. Namun jika aku mengatakannya demikian tidak berarti sepenuhnya awal kesimpulanku berubah. Meskipun hal tersebut sebenarnya pernah mengganggu pikiranku sehingga sempat membuat prediksiku runtuh sekitar tigapuluh lima persen. Lalu demi menyadarkan diriku dari keterpurukan, aku telah putuskan melakukan penyelidikan cukup agresif di lapangan dengan mencari tahu jati diri sebenarnya Robert Downey yang berhubungan dengan peristiwa pembunuhan ke-tiga lewat mantan kekasihnya Ms. Gloria Perskin. Melalui keterangan mantan kekasihnya itu muncul suatu keyakinan baru dalam diriku bahwa prediksikku terhadap pelaku meningkat lagi menjadi delapanpuluh lima persen. Peningkatan ini memiliki arti mendalam bagiku tetapi untuk sekedar mengantisipasi skenario terburuknya maka aku akan terus menutup mulutku rapat-rapat sampai tiba waktunya membeberkannya. Sekurang-kurangnya sampai teror ini mereda, dan aku memiliki penjelasan pasti terhadap diriku sendiri sebagai target pembunuhan ke-empat.
Sebagaimana pada situasi sekarang, di tempatnya berpijak seorang pembunuh bernama August Spark beserta alasan kuat yang mengekangnya hampir menekan pelatuk pistolnya tepat di depan wajahku. Tapi perasaan membunuh tak akan berjalan lancar sesuai keinginannya karena hakikatnya aku diam-diam telah merencanakan suatu pengalihan untuk mengulur waktu. Rencanaku kukira cukup mapan ketika secara gamblang kudengar suara baling-baling helikopter berdesing-desing dari atap. Beberapa Agen yang sudah disiapkan Wammy berada di dalam helikopter itu. Satu menit lebih cepat dari perkiraanku.
Menyadari suatu ancaman August Spark langsung memutar bola matanya untuk mengamati situasi. Suara desingan kencang baling-baling helikopter semakin mendekat sehingga membuat konsentrasi August Spark terpecah antara memperhatikanku dan mengawasi ancaman di sekelilingnya. Ia jadi gamang.
"Sebaiknya Anda melarikan diri," kataku menyakinkan. "Anda tak akan mendapatkan apa-apa jika menghabisi nyawa saya saat ini. Jika Anda mati sekarang, maka orang yang Anda percayai pasti kecewa. Mereka adalah sekumpulan agen-agen berpengalaman. Walaupun sehebat apapun Anda pasti bakal kerepotan."
August Spark mendecih kasar, lalu ia sedikit melonggarkan pegangan pistolnya. Seandainya aku memiliki sedikit keberanian maka akan kurampas pistol itu dari tangannya, namun ternyata tidak demikian.
"Cih, rupanya anjing-anjing pengganggu telah datang," ia menggerutu tapi sudut bibirnya tampak setengah tertawa. "Mungkin aku telah dibodohi oleh seorang bocah."
Menghiraukan ocehan August Spark aku menyambar satu topeng cadangan yang kugantung di ikat pinggang super nyentrikku. Topeng penyamar wajah kembali kukenakan untuk mewanti-wanti situasi yang akan terjadi. Setidaknya aku perlu mematuhi nasihat Wammy sekarang.
Kemudian berjarak sepuluh jengkal dari tempatku berdiri tiba-tiba plafom bangunan runtuh membentuk lubang di atap. Akibat dari runtuhan itu debu-debu bercampur bekas cat kering menyembur ke segala penjuru lorong disertai bangkai tikus-tikus mati yang beberapa bagian tubuhnya sudah amburadul digerogoti semut terlihat begitu mengenaskan berhamburan jatuh terserak di lantai. Aku melongo ke atas mengamati lubang lumayan besar menganga di atap. Setelahnya dari dalam lubang muncul dua buah tali tambang menjulur ke bawah. Empat agen berpakaian gelap, bermasker dan bersarung tangan meluncur berhimpitan menggunakan tali tambang dengan gerakan terlatih sampai-sampai membuat August Spark tercekat. Aku langsung paham ia telah menggantung hasrat membunuhnya terhadapku.
Melihat kedatangan para agen, August Spark tanpa pikir panjang merubah arah moncong pistolnya bermaksud untuk menyerang mereka. Tapi salah seorang agen bergerak sigap dengan melemparkan pisau Ka-bar miliknya dan ternyata berhasil mengiris hampir setengah bagian dari jari manis dan kelingking August Spark. Darah segar mengucur keluar mengakibatkan si pembunuh meringis-ringis kesakitan. Pistol Luger kesayangan yang semula digenggamnya terbang ke udara lalu terhempas menjauh darinya. Namun dengan menahan rasa sakit luar biasa August Spark masih saja berusaha menggerakkan badannya untuk bertahan.
Setelah mendarat pada pijakan lantai, dua agen langsung mempersiapkan senapan mesin Sten gun yang disimpan di belakang punggungnya. Mereka mengokang senapan Sten gun miliknya bermaksud memberondong peluru tapi sayangnya tidak segesit gerakan August Spark untuk kabur dari lorong tersebut. Sebelum meninggalkan lorong sebuah picu granat ditarik August Spark dengan lancar melalui sisa jari-jarinya serta tak sungkan dilemparkannya ke lorong sehingga menimbulkan ledakan lumayan dahsyat. Untungnya salah seorang agen (yang tadi melemparkan pisau Ka-bar miliknya ke jari Spark) juga bertubuh paling tegap serta berpembawaan tenang melompat menyergap tubuhku membuat kami terguling-guling melibas retakan tekel, puing-puing, sampai melewati celah pintu masuk ke suatu ruangan gedung rumah sakit.
Sepersekian detik suara ledakan berdaya rendah menggema di lorong. Asap-asap kelabu menyerbu tiap ruangan dan bau besi terbakar tercium dimana-mana. Dampak Ledakan dari granat tak teralu beresiko besar terhadap nyawaku, hanya meninggalkan lengkingan panjang menyempil di telinga. Tapi mengenaskannya pilar marmer rumah sakit roboh sehingga menyabotase pintu masuk ruangan tempatku diselamatkan oleh si agen. Mengetahui sedang terjebak di salah satu ruangan rumah sakit rasa-rasanya aku ingin melahap sepiring puding tiramisu agar stressku tidak memuncak. Seusai menghiraukan hasrat yang sia-sia maka aku memutuskan mengamati kondisi si agen. Aku merasa lega sebab kukira si agen juga tak begitu mengalami cidera fatal. Ia cuma terkilir ringan di bagian lengan kanannya.
Kemudian beberapa saat ketika si agen mengurut lengannya yang terkilir, suara di alat komunikasinya berbunyi. Tombol merah menyala di sebuah kotak hitam berantena. Pip...pip...pip.
"Zero one zero five... Ganti!"
Si agen belum menjawab. Ia sedang meluruskan gulungan lengan bajunya dan pada akhirnya dapat menyambar kotak alat komunikasi di samping pinggangnya.
"Rester...?Rester...?Rester...?" suara yang keluar dari alatkomunikasinya kembali terdengar gemerisik. Menunggu jawaban. "Bagaimana situasi kalian...?"
Seusai meraih alat komunikasinya si agen menekan sebuah tombol, lalu bersamaan ia menurunkan masker diwajahnya. Tampak menyembul wajah seorang pria muda berumur sekitar duapuluh tahunan yang gemilang. Aku sempat tak mengira ia seorang pemuda jika mendengar kode namanya yang antik.
"Zero one seven seven, kami selamat tanpa luka-luka serius dan terjebak di suatu lokasi yang berantakan. Saat ini obyek perlindungan aman," ucap Rester menekan suaranya pada speaker alat komunikasi. "Bagaimana kondisi kalian? Ganti."
Pip...pip...pip.
"Kami juga selamat dari ledakan," balas salah seorang agen di alat komunikasi. "Tapi kami harus secepatnya melakukan proses evakuasi terhadap Sir Watari. Menjabarkan situasinya akan memakan proses cukup lama. Nyalakan GPS dan bertahanlah sekitar lima belas menit untuk bantuan. Kami akan berusaha memangkas waktunya dan tolong lindungi obyek!"
Tanpa ragu-ragu Rester memencet tombol alat komunikasinya.
"Dimengerti."
Pip...pip...pip.
Sebelum Rester mematikan sambungan alat komunikasinya, sambil mengulum ibu jari cepat-cepat aku menoleh ke dirinya. "Tolong beritahukan ke para agen lainnya agar membentuk tim gabungan bersama biro kepolisian Winchester untuk mengisolasi area WintonHospital di radius seratus meter. Lalu tahan sementara semua orang termasuk para pasien rumah sakit yang dievakuasi sekaligus para staff dan dokternya. Kamuflasekan penahanan sebagai sebuah prosedur keselamatan."
Tidak banyak kompromi Rester mengangguk lalu menekan lagi tombol pada alat komunikasinya. Ia mengirim pesan sesuai permintaanku bahkan melalui tekanan nada suara yang sama. Ia sungguh cekatan, aku menyukainya.
"Permintaanmu sudah kulaksanakan dan secepatnya mulai diproses," kata Rester sembari menutup sambungan pada alat komunikasinya.
"Trims."
Aku melirik Rester sembari merogoh kantong celana mengambil sebatang permen loli rasa jeruk paling kusuka. Kemudian menawarkanya padanya.
Ia menggoyangkan telapak tangannya cepat seolah menganggap permen loliku rasa jerukku mirip semacam perkenalan sepihak. Menanggapi penolakan Rester membuatku bertahan pada perasaan antara senang dan kecewa sehingga akhirnya aku membuka bungkusan pada permen loli itu tanpa khawatir. Setelahnya kugeser separuh topeng wajahku dan secepat kilat menjilati permennya. Kelihatannya Rester mengagumi kegemaranku pada permen loli secara seksama.
"Jadi kau memang masih sangat muda. Orang pilihan Wammy's House. Punya akses serta perlindungan khusus."
"Salam kenal, saya L," kataku singkat sambil keasyikan menjilati permen loli. Perkenalan diri yang efektif dan canggung.
Dengan bersikap tenang Rester merunduk melihat penampilanku, kukira semula demikian namun ternyata ia sedang was-was memeriksa lukaku. Merasa tak ada bagian yang perlu dicemaskan membuatnya mengalihkan pandangan mengawasi seisi ruangan. Ruangan setengah gelap, kemudian Rester menghidupkan senter yang dikeluarkannya dari kotak perlengkapan kecil yang bertengger di belakang pinggulnya. Ia menyoroti tiap-tiap bagian dalam ruangan. Dengan sorotan cahaya senternya, Rester menemukan saklar dan menjentiknya bolak-balik buat menyalakan lampu neon di atasnya. Namun lampu neon itu tetap tak bernyawa, ia agak kesal.
"Sambungan listrik diputus," gumam Rester, lalu ia balik menoleh ke arahku. "L, sepertinya kita terjebak di ruangan administrasi," sambungnya.
"Kita harus bergerak," balasku.
Aku celingak-celinguk membiarkan pandanganku menyapu seisi ruangan. Melalui cahaya kuning yang terpantul dari senter Rester dapat kulihat papan piket yang dipaku bergantungan di dinding bertuliskan sederet nama-nama pegawai Rumah sakit. Tepat di samping papan piket berdiri dua lemari arsip lebar berwarna cokelat tua berjajar rapi. Tak jauh di depan lemari arsip ada empat meja kayu serta kursi gelinding yang ditata berhadapan. Di salah satu meja terdapat telepon, mesin faks, printer dan seperangkat komputer pentium yang monitornya mati dengan disket masih menancap di boardnya.
Berpose membungkuk sembari diterangi oleh cahaya redup kodorong langkahku menghampiri meja lalu secara paksa langsung kutarik laci-lacinya. Dalam laci meja pertama kutemukan tiga buah kotak hamburger, saus cabe kemasan, ceceran krim mayoneise, potongan kentang goreng, empat botol air mineral serta tujuh kaleng soda. Sedangkan di pinggiran laci bekas bungkus hamburger warna-warni yang ditaburi serpihan wijen berserakan tak karuan meninggalkan rembesan minyak basah. Tentu saja secara bijak aku tak ingin menyentuh mereka.
Tidak membantu, kuteruskan langkahku pada laci meja ke dua. Rester begitu pengertian menyoroti sinar senternya ke arahku. Aku menunduk ke dalam laci dan pandanganku dihadang oleh buku teka-teki silang bersampul wanita Amerika ramping separuh telanjang. Aku mengintip sebendel kertas A4 bersembunyi dibalik buku teka-teki silang lalu menariknya menggunakan ujung jari secara tergesa. Kuperhatikan isi kertas menampilkan beberapa lembar formulir pendaftaran klinik, salinan nomor-nomor rekam medis pasien, surat keterangan tunggakan pembayaran yang belum ditandatangani, nota-nota, fotokopi angsuran serta dua lembar paling bawah yaitu coretan keluh kesal seorang pegawai rumah sakit bertuliskan 'membusuk di tempat ini kami ikutan menjadi gila dan ingin mati' yang dicatat berulang-ulang sebanyak tujuh paragraf dengan kegelisahan sehingga lembar kertasnya sedikit sobek.
Aku memikirkan laci-laci berikutnya ketika ternyata Rester sudah membantuku membuka laci lainnya. Pada laci meja ke tiga ia menemukan stempel, kotak clip, lem perekat, pulpen cadangan, tinta printer, streples, isi streples serta buku telepon berwarna kuning dengan cover bergambar payung. Sebelum membuka laci meja terakhir Rester mengangkat benda di dalam laci itu satu per satu dan bertanya padaku. Apakah diantaranya terdapat benda-benda yang kucari?
Aku menggelengkan kepala sambil melempar sebendel kertas A4 tak berguna di tanganku sekenanya. Kemudian Rester melanjutkannya pada laci meja terakhir di bawah komputer pentium yang isinya paling tidak menyenangkan. Di dalam laci ia mengangkat barang pribadi salah seorang pegawai rumah sakit berupa sebotol minyak wangi, pengharum nafas, satu tube minyak rambut, deodoran, pisau cukur, serta dua setel celana dalam wanita bermotif kepala kelinci.
Saat Rester menutup laci terakhir dengan sedikit geram, aku berjalan hati-hati menghampiri lemari arsip. Rester mengikutiku dari belakang dan menyoroti tiap langkah kami menggunakan lampu senternya. Lemari arsip itu mempunyai tiga laci lebar, ditutup rapat-rapat oleh kunci gembok mungil dan lemarinya lebih tinggi empat puluh senti dari tinggiku sehingga membuatku kesusahan menjangkau laci bagian atasnya. Ketika aku meraba-raba pada bagian atas laci, Rester datang menolongku membuka lacinya sekaligus mencongkel gembok yang menguncinya memakai gagang senter.
Laci teratas sampai bawah pada lemari arsip terbuka menampakkan sederet arsip-arsip tebal yang di masukkan ke dalam map karton kaku. Aku mengamati arsipnya menunjukkan tentang riwayat kesehatan para pasien yang disusun rapi. Rester menaruh senternya di atas lemari lalu menarik map-map itu keluar. Ia menyerahkan bagian sangat tebal padaku sampai aku tak sanggup menahan bebannya hingga beberapa map jatuh bergelimpangan di lantai.
"Sebenarnya apa yang sedang kau cari L? Sebuah alat untuk keluar dari sini," tanya Rester tiba-tiba sambil menyusun map-map yang tadi kujatuhkan.
"Bukan, saya pikir ini sebuah kesempatan untuk menemukan suatu petunjuk. Bukan untuk jalan keluar, kau tentu sudah memikirkannya melainkan ini berkaitan dengan penyelidikanku."
Rester mengabaikan pertayaannya ketika secara cepat aku memeriksa map-map itu. Satu map berisi lima arsip sedang sampai tebal dan jari-jariku bergerak mulus menelusuri tiap bagian di antara arsip-arsip. Akhirnya membutuhkan waktu sepuluh detik aku menemukan arsip yang kuperlukan bertuliskan nama Gloria Perskin yang diletakkan di dalam map bertanda khusus atau bisa dikatakan bersegel khusus. Aku menelan ludah karena penasaran.
Lalu aku mengeluarkan arsip itu dan meraba-raba ke dalam mapnya, mencari kalau-kalau ada sesuatu mencurigakan disembuyikan di dalamnya. Ternyata aku tak menemukan apa-apa, hanya saja map yang digunakan untuk menyimpan arsip Ms. Perskin terasa lebih lunak dibanding map-map lainnya. Hal ini menunjukkan jika map Ms. Perskin telah menua dimakan usia dan tak pernah diperbarui. Suatu kecurigaan menguap di pikiranku.
Aku meminta Rester menyoroti arsip Ms. Perskin yang kubentangkan dengan cahaya senternya. Sebelum membaca keterangan di arsipnya terlebih dahulu aku mengendus bau kertasnya. Sesuai dugaanku kertas yang digunakan untuk menuliskan sejarah kesehatan Ms. Perskin berbau menyengat oleh tempelan debu serta kotoran serangga yang mengering. Ini adalah bau khas kertas tua paling alami dan mudah dipahami. Dugaanku delapanpuluh sembilan persen seseorang belum pernah menyentuh arsip kesehatan Ms. Perskin. Kemungkinan besar arsipnya telah lama terkubur di dalam lemari.
Kemudian aku membacanya, riwayat kesehatan jiwa Ms. Gloria Perskin. Di dalam arsip dijelaskan rinci bahwa ia dimasukkan ke Winton Hospital sepuluh tahun lalu tepatnya tahun 1979 bulan September. Saat itu pengadilan memberikan rekomendasi padanya meskipun ia benar-benar telah mengaku melakukan tindak pembunuhan dan berakhir tanpa dijebloskan ke penjara. Saat membaca bagian ini, sampai tahap ini aku sudah mengawang-ngawang lagi keakuratan informasi dari secret data Wammy's House. Seperti ada bagian ganjil pada informasinya, yang kumaksud di sini bukan keakuratannya melainkan yang menjadi dasar informasinya.
Jika sepuluh tahun lalu di tahun 1979 ia terang-terangan menyatakan telah membakar Robert Downey beserta si gadis adopsi di villa persembunyian, maka mengacu pada keterangan di arsip rumah sakit berarti saat itu Ms. Perskin sudah terkena penyakit gila. Namun menurut pertimbanganku hal tersebut tak mungkin terjadi, bagiku 'gila' berarti seorang individu telah mengalami perubahan hormon drastis sehingga kehilangan jati diri atau kehilangan kemampuan berpikir otak untuk menalar sekitarnya akibat dari faktor-faktor mengerikan yang telah menimpa. Terdapat suatu proses rumit untuk mengklaim seorang individu tersebut 'gila' sehingga apabila semua pembunuh secara gampang dikategorikan terkena penyakit gila berarti mereka tidak pernah ada yang mendekam dipenjara. Dalam kasus ini aku berusaha membedakan antara orang gila dan tindakan yang dianggap gila. Begitupula Ms. Perskin, secara resmi oleh pengadilan ia disebut gila dan bukan tindakannya yang dianggap gila. Oleh karenanya menurut pengadilan ia dimasukkan ke Winton Hospital, rumah sakit jiwa.
Sebenarnya aku tak meragukan pernyataan resmi pengadilan tentang penyakit gila Ms. Perskin. Sebelumnya aku sudah berjaga-jaga terhadap penemuan informasi baru semacam ini, dan untuk lebih memastikannya aku perlu memahami secara langsung kondisi Ms. Perskin tanpa sekat layar komputer serta suara sintetis. Ketika berada di lapangan aku telah mengamati gerak-geriknya, perilaku, cara menalar serta gaya bahasanya, dan semua itu dapat mengarahkan kesimpulan padaku sekitar delapan puluh persen bahwa ia gila. Lalu saat aku memiiki kepercayaan diri menyatakan demikian, di sudut lain telah muncul pertanyaan mengganjal dibenakku yaitu sejak kapan Ms. Perskin menjadi gila?
Kalau aku mengacu pada kebenaran dalam arsip ini, Ms. Perskin terkena penyakit gila diperkirakan sejak sepuluh tahun lalu semenjak ia mengaku melakukan pembunuhan terhadap Robert Downey beserta si gadis adopsi. Sepuluh tahun? Tidak, aku tak ingin terlalu berlebihan untuk sepakat dengan waktunya. Aku tidak memberikan kebenaran lebih dari delapanpuluh persen tentang rentang waktunya. Untuk itu aku memikirkan pertanyaan yang pernah kulontarkan pada Ms. Perskin, dan jawaban dari pertanyaanku dapat membuatku mengamati suatu kondisi yang mengakibatkan ia berada pada fase cukup normal. Terkadang ia bisa mejadi sedikit normal saat mengenang rasa sakit hati serta kenangan membunuh. Perasaan sakit hati bisa saja yang mendorongnya menjadi gila namun untuk kenangan membunuh, yah ketika Ms. Perskin memiliki ingatan terlampau kuat seperti itu seharusnya pengadilan tidak pernah secara resmi meletakkanya di rumah sakit jiwa melainkan di penjara. Individu dapat dikatakan sadar waras bila memiliki kenangan itu, yang sadar telah melakukan pembunuhan. Tapi di sisi lain kesimpulan yang kuperoleh di lapangan telah membenarkan kalau ia gila. Lalu kapan tepatnya ia mulai gila dan memiliki ingatan membunuhnya?
Demi menjawab pertanyaan di benakku maka untuk sementara aku berasumsi seseorang pernah mempengaruhi jalan pikiran Ms. Perskin. Seseorang ini berusaha merasuki otaknya, memanipulasi dengan memberikan metode-metode tertentu, penipuan fakta serta penempatan sugesti. Intinya sosok misterius tersebut yang membuat pikirannya salah kaprah. Lalu siapakah ia? Sejak kapan? Aku membolak-balik arsip Ms. Perskin lebih jeli untuk menemukan petunjuk baru. Sambil menandai bagian-bagian penting di dalam arsip, aku berharap semua pihak tak meragukanku karena memberikan gagasan semacam ini. Aku tidak ingin terlihat sekedar asal bicara serta dianggap mencari-cari kambing hitam oleh kepolisian atau bahkan Wammy. Oleh karenanya aku akan memaparkan penjelasannya yang kuambil berdasarkan ingatan Ms. Perskin tentang si gadis adopsi. Mungkin saja penjelasan ini kukatakan untuk melegakan diriku sendiri.
Aku mengingatnya di waktu menginterograsi Ms. Perskin dengan kata-kata memancing yang sengaja kusamarkan. Ketika membicarakan tentang si gadis adopsi ia tampak mengebu-gebu seolah semua yang ada pada dirinya menolak keberadaan si gadis. Tapi yang membuatnya mencolok ialah Ms. Perskin terus-terusan secara frontal mengatakan dalam ingatan bawah sadarnya bahwa si gadis masih sangat belia—ingatannya tentang sosok si gadis adopsi tak mengalami perkembangan menurutku. Ujung-ujungnya Ms. Perskin menilai kekasihnya Robert Downey memiliki orientasi aneh dikarenakan mencintai seorang gadis kecil layaknya hubungan romantis pria dan wanita hingga berpaling meninggalkannya.
Padahal ketika terjadi kebakaran di villa persembunyian mereka sepuluh tahun lalu, saat itu si gadis adopsi bukan lagi seorang gadis kecil melainkan ia sudah beranjak remaja yang berusia lima belas tahun. Melalui pengamatanku Ms. Perskin seakan tak mengingat sosok remaja si gadis adopsi, atau aku menyimpulkan seseorang telah memberi batasan terhadap ingatannya. Hal ini berarti ingatan Ms. Perskin hanya terpecah-pecah pada beberapa poin kepingan kenangan yaitu kenangan sejak dimulainya mereka memiliki ide sinting untuk mengadopsi si gadis yang masih berusia sepuluh tahun, kenangan Robert Downey yang memiliki hubungan dengan si gadis kecil lalu menganggapya pedofilia, serta menarik garis ke belakang lagi ia masih terikat oleh kenangan terhadap semua peristiwa membahagiakan yang terjadi padanya dan Robert Downey.
Akan tetapi di sini terdapat keping kenangan yang hilang kalau seandainya Ms. Perskin merupakan sosok pelaku pembakaran di villa persembunyian. Aku mengerti jika telah berterus terang mengatakan alasannya membunuh namun di disi lain, dari kejujuranya itu seharusnya ia juga mempunyai keping kenangan tentang si gadis adopsi yang dibakarnya bersama Robert Downey di villa persembunyian saat penampilan si gadis telah berubah di usia limabelas tahun. Namun menurut penelitianku ia tak memiliki keping kenangan terhadap si gadis remaja meskipun dalam pikiran bawah sadarnya. belum pernah mengingat penampilan si gadis adopsi ketika remaja karena penyebabnya di waktu bertepatan ia sudah gila, atau kukakatan sejelas-jelasnya mustahil ia pernah berada di villa sepuluh tahun lalu .
Menarik fakta-fakta dalam ingatan , aku mengira ia sudah terserang penyakit gila sebelum terjadinya peristiwa kebakaran di villa persembunyian, mungkin dua tahun sebelumnya. Artinya ketika ia sudah menjadi gila serta tak memiliki perkembangan ingatan tentang si gadis adopsi maka delapanpuluh delapan persen aku bisa menyimpulkan dengan probabilitas tinggi bahwa Ms. Perskin bukan pelaku utama pembakaran. Jika ternyata dugaanku sangat benar berarti secara sengaja seseorang telah memberikan kenangan kuat padanya tentang membunuh, seseorang manipulatif yang mengolah pikirannya sampai-sampai membuatnya gila. Oleh karenanya aku harus melalui berbagai keterampilan agar menemukan sosok dibaliknya, sosok mengerikan yang berseliweran diantara mereka bertiga walau sekiranya di sudut ini ia bukan tersangka utamaku pada pembunuhan Jonah Hill. Meskipun dalam hasrat terpendamku, aku sudah tak tahan ingin cepat-cepat membuka topeng si pembunuh. Namun dibalik kasus sekarang paling tidak sosok mengerikan tersebut tetap berkaitan, setidaknya bagi si gadis adopsi serta Robert Downey.
Berbicara mengenai tersangka utamaku si pelaku pembunuh Jonah Hill, bisa dikatakan ia juga masih memiliki bagian yang ganjil. Aku yakin peristiwa kebakaran di villa persembuyian telah diatur sedemikian rupa. Tapi aku jadi tak terlalu memahami tujuan dari pembakaran itu setelah menyangkal pelaku utama pembakaran villa adalah . Kira-kira di benakku telah membisikkan tujuan pembakaran bukan dimaksudkan untuk menghilangkan jejak bagi dalang dibalik serentetan peristiwa bunuh diri di Eropa. Peristiwa bunuh diri terjadi terakhir kali di Liverpool pada pertengahan bulan di tahun 1980. Kejadiannya di waktu kurang tepat, hampir setahun seusai terjadinya kebakaran di villa Robert Downey tahun 1979. Korban bunuh diri ialah Charles Hill beserta pacar simpanannya.
Mula-mula aku memaklumi Robert Downey yang karyanya oleh sebagian pihak diisukan melatarbelakangi terjadinya serangkaian kasus. Kemudian ia mempunyai maksud ingin menghilangan dirinya dari peredaran publik bersama si gadis adopsi dengan menyebarkan surat kematian. Jika cara tersebut dianggap ampuh maka peristiwa bunuh diri terakhir akan terdengar konyol. Tapi korban bunuh diri merupakan Charles Hill yang kuketahui ia ayah kandung Jonah Hill. Rangkaian fakta tersebut pastinya memiliki penghubung yang tersembunyi. Aku ingin segera mengetahuinya, alasan pelaku mengatur terjadinya peristiwa bunuh diri terakhir di Liverpool serta hubungannya dengan kasus sekarang.
Di saat aku terhanyut oleh misteri yang memecah-belah pikiranku. Berada disampingku Rester menggunakan setengah tenaganya menggeser lemari arsip hingga bergerak sedikit ke depan. Kemudian ia menelusupkan kepalanya di belakang lemari arsip dan menemukan lubang ventilasi udara selebar pinggang orang dewasa. Lubang ventilasi itu diselimuti benang laba-laba yang membentuk pola semrawut sehingga tampak menutupi teralisnya yang berkarat. Oleh pihak Rumah sakit lubang ventilasinya seperti sengaja disembunyikan di belakang lemari arsip karena tak berfungsi. Seusai mengamati bentuknya Rester mengeluarkan sebuah obeng dari kotak perlengkapannya lalu merusak teralis besi di lubang ventilasi dengan melepas sekrup-sekrupnya.
Sementara aku masih sibuk membaca catatan riwayat kesehatan di arsip Ms. Perskin. Kulihat seksama tiap halaman menulis riwayat kesehatan tanpa perkembangan pasti. Aku melirik di bagian dokter penanggung jawabnya, di situ hanya tercantum nama dokter pengganti setahun lalu, mungkin ada sebagian halaman yang dilenyapkan. Setiap hari, setiap bulan, setiap tahunnya Ms. Perskin telah kenyang di beri metode therapi yang sama. Kemudian saat kegilaannya kambuh ia akan dimabukkan oleh beberapa butir tablet penenang dengan dosis lebih tinggi di malam hari. Aku menyangka seorang mengaturnya agar terus-terusan menidurkannya sekian lama di ranjang pasien Rumah sakit. Membaca per halaman arsip tiba-tiba bulu kudukku berdiri karena ditiup suatu perasaan simpati. Selesai membaca kututup arsip itu dan di bagian belakangnya, tepatnya di tepi bawah kertas kulihat samar-samar dua huruf berjajar. Aku mendorong wajahku mendekati kertas untuk membacanya lebih jelas. Sebuah singkatan yang ditulis kecil menggunakan tinta mesin cetak koran berlafalkan; H.D.
Topengku berada di setengah wajah sehingga aku dapat mengulum ibu jari. kemudian beerpikir sejenak.
"L, jika kau sudah selesai dengan arsip-arsip itu sebaiknya kita bergerak dari tempat ini atau menunggu bantuan," kata Rester membelah kosentrasiku.
Aku membangkitkan tubuhku sambil meletakkan arsip Ms. Perskin di atas tumpukkan map-map lainnya. Kemudian bergerak mendekati Rester.
"Kalau kau sudah menemukan jalan keluar, maka tetap nyalakan GPS dan kita bergerak. Tapi apakah kau sudah siap kalau terjadi pertarungan melawan August Spark?"
Rester mengangguk sempurna.
Maskernya dirapatkan lagi menutupi sebagian wajah. Lalu ia menanggalkan rompi kevlar anti pelurunya agar cukup memudahkannya bergerak. Sesaat ia memilah-milah beberapa alat di kotak perlengkapan yang tak begitu diperlukan untuk ditinggalkan. Setelah beban di tubuhnya berkurang ototnya menjadi lentur sehingga ia memlintir pinggangnya ke kiri dan ke kanan seperti suatu gerakan rutin. Selesai melakukannya Rester menarik revolvernya kemudian memutar-mutar bagian silindernya mengecek isi peluru. Delapan peluru pembunuh bersarang di dalamnya.
Semua persiapan telah selesai. Raut wajah Rester sangat tenang.
Walaupun kenyataannya, dengan nada suara lebih menyakinkan aku menginginkan pertarungan antara August Spark dan Rester terjadi. Keinginan tersembunyiku memuncak dikarenakan aku bermaksud menangkap hidup-hidup August Spark agar dapat memperoleh informasi lebih banyak darinya. Tapi malangnya hari ini misinya ialah menghabisi nyawaku, harus nyawaku, atau juga limapuluh persen nyawa Ms. Perskin yang siap ditepuknya seperti lalat yang berterbangan di sekitar keranjang sampah.
Ketika August Spark secara kesakitan telah memaksakan dirinya melemparkan granat di lorong menggunakan sisa jemarinya. Tujuan tersebut bukan untuk melarikan dirinya sendiri melainkan memisahkan rombongan para agen penyelamat dariku. Sejak semula August Spark tak menginginkan nyawa agen-agen lainnya namun ia tetap bersikeras menghabisi nyawaku sekarang. Sudah pasti ia akan menciptakan kesempatannya sendiri, selagi pertimbangannya melawan empat agen sekaligus begitu menyusahkan serta memakan banyak waktu. Maka ia memutuskan membuat ledakan singkat di lorong.
Sayangnya Anthony Rester bergerak cekatan menyelamatkanku. Tapi bagi August Spark berhadapan satu lawan satu melawan seorang agen merupakan sebuah kepercayaan diri, ia yakin mampu mengatasinya. Saat ini di suatu tempat rumah sakit aku menduga ia berencana melancarkan serangan padaku. Karenanya ketika pikiranku sudah kalap oleh tekanan, tiba-tiba aku bisa membayangkan Agust spark menemukan jalan masuk rahasia menuju ruangan administrasi lalu melompat di hadapanku sambil menodongkan Lugernya.
Kalau situasi itu benar terjadi maka pertarungan di ruangan administrasi merugikanku dan Rester. Oleh karenanya aku memutuskan segera meninggalkan tempat ini. Aku mengerti jika Rester sejatinya merupakan perisai utamaku sebabnya perlu kucarikan opsi suatu tempat aman baginya saat terlibat aksi pertarungan melawan si pembunuh. Sampai sejauh ini aku memeriksa Rester cukup terampil melaksanakan tugasnya. Ia seorang agen muda milik CIA dan menunjukkan sangat berpengalaman di balik usianya. Logat bahasanya yang kental oleh aksen Amerika mengatakan bahwa akan sangat terhormat jika ia bisa menangkap buronan bernama August Spark. Suksesnya penangkapan sama seperti bintang penghargaan di pundaknya, dan ini membuktikan ia telah berkomitmen membantu L serta Wammy's House secara keseluruhan. Lalu di saat yang sama Rester sudah memerintahkanku memasuki lubang ventilasi udara, dengan ia mengambil posisi di depan sambil menyoroti suatu jalur kecil menggunakan lampu senter.
"Kalau kita berada di jalur yang salah August Spark bisa lebih menakutkan. Apa kau melakukan pertaruhan?" tanya Rester.
Melalui sorotan cahaya senternya aku menghiraukan sekelebat bayangan hitam berbulu yang mengganggu. Tanpa ragu aku merangkak masuk ke lubang ventilasi dan langsung disambut haru oleh bau lembab, pengap sehingga meningkatkan keinginanku untuk bersin. Aku tak membenarkan kalau keputusan ini sebuah pertaruhan. Sebelum berangkat ke tempat ini terlebih dahulu aku sudah melakukan persiapan dengan mempelajari denah serta bentuk bangunan Winton Hospital bahkan sampai ke jalur-jalur alternatif yang disembunyikan. Semua terekam jelas di memori otakku.
Namun kalau seandainya saja kesialan telah membutakan langkah kami? Yah, aku hanya bisa berharap semoga jalur yang kupilih ini bukanlah jalan pintas menuju neraka.
.
.
.
Bersambung
Sampai jumpa di chapter selanjutnya...
