Aichi mengetuk-ngetuk kedua telunjuk jarinya dengan sedikit gemetar. Jujur saja, ia tegang sebetulnya. Tidak terasa drama besar yang akan diadakan saat Festival Sekolah-nya berlangsung pun tiba juga. Waktu-waktu latihan Aichi yang sebetulnya cukup lama hanya terasa sehari saja. "Duh, semoga saja tidak ada dialog yang kelupaan, semoga saja kakiku tidak gemetaran..." doa Aichi dalam hatinya sambil membaca mantra-mantra nggak jelas yang diajarkan adiknya.

"Sudahlah, jangan tegang begitu, Aichi-kun. Kau pasti bisa ber-acting dengan baik! Aku yakin padamu!" seru Izaki yang duduk di sebelah kiri Aichi bermaksud menyemangati.

"Benar, selama kau tidak melakukan adegan yang bukan-bukan, aku yakin kau pasti menjadi bintang besar yang top, Nak!" sambung Morikawa yang duduk di sebelah kanan Aichi. Sekarang mereka sedang duduk di salah satu kursi menganggur yang berada di belakang panggung. Menunggu waktunya show tiba. Sekitar empat puluh menit lagi.

"Ta-Tapi ini 'kan pertama kalinya bagiku..." ujar Aichi lagi, masih dengan tatapan oh-begitu-uke-nya yang membuat beberapa orang yang berlalu lalang―entah itu anggota klub drama, atau salah satu pemain drama ini, penata rias, editor, dan lainnya―yang berjiwa seme mau tak mau menahan diri untuk tidak menyerang Aichi di tempat.

"Justru itu, kami disini untuk menenangkan dan menyemangatimu!" seru Izaki sembari mengepalkan tangannya di depan Aichi. Kemudian si bluenette tersenyum dan menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Ya, Izaki dan Morikawa memang teman terbaiknya. Disaat apapun, nasehat mereka sangat manjur untuk mengusir ketidak-nyamanan dan ketegangan di hatinya.

"A-Ahaha, benar juga. Terima kasih, Morikawa-kun, Izaki-kun, nasehat kalian sungguh menenangkanku―"

BRAK.

"Hah!?" Seluruh arah pandang seisi belakang panggung tertuju pada pintu masuk yang didobrak kasar dari luar. Tentu saja mereka semua terkejut dengan dobrakan keras orang itu sampai pintu terbuka kencang dan si pendobrak hampir terjatuh.

"Cih, apa-apaan, sih!? Membuat kaget saja!" umpat Morikawa memaki-maki orang yang tadi membuat seisi belakang panggung terkaget-kaget. Orang itu, sebut saja Komoi, salah satu editor di klub drama, memasang wajah panik.

"Teman-teman, ini gawat! Ini gawat! Ini darurat! DARURAAAT! WE'RE ON DANGER! PLEASE, SOMEBODY HEEEEELP!" Dan sekarang pemuda berambut menyerupai mangkok itu teriak-teriak nggak jelas dengan mendramatis dan slow-motion, juga efek screen-tone blink-blink, membuat seisi ruangan jawdrop melihatnya.

"Ada apa, sih!?" teriak Rekka berkacak pinggang dan menghampiri Komoi yang masih berdiri di depan pintu masuk ke ruang tunggu―belakang panggung―. Tanpa banyak cincong, Komoi langsung memegang pundak Rekka dan menggoyang-goyangkannya dengan kecepatan dewa langit.

"BAGAIMANA INI, REKKA!? BAGAIMANA INI SEMUANYA!? BAGAIMANAAAA!? BIDOU SI PEMERAN THE MASK THIEF JATUH KOMA KARENA KEMARIN TERTABRAK KUDAAAA! DAN SEKARANG DIA TIDAK BISA TAMPIIIL! PADAHAL INI HARI H-NYA KAWAN-KAWAN SEKALIAN! INI HA. RI. HAAAAAA!" teriak Komoi tepat di depan muka Rekka. Entah liurnya muncrat sampai tumpeh-tumpeh ke muka gadis berkekuatan ganas itu.

"What the hell of jumping horse!? Bi-Bidou jatuh koma!? D-Dan sekarang... Dan sekarang dia tidak bisa tampil!? Dia gilaa! Dasar orang narsis saraap! Seharusnya dia tampil dulu hari ini, baru komaaa!" teriak Rekka tak kalah besarnya dari Komoi dengan ekspresi horror. Otomatis pemain lainnya yang sudah berkumpul di ruang tunggu langsung heboh dan panik.

"YA, MANA KUTAHU, SETAN! HARUSNYA KAU MARAHI KUDA ITU! KENAPA TIDAK MENABRAKNYA BESOK SAJAAA, GILA!" teriak Komoi lagi dengan air matanya yang bagaikan air terjun pun mengalir deras dan membuat lantai ruang tunggu bochor-bochor.

"Yaks! Air matanya yang aneh dan misterius itu mengenai sepatuku, Sialan!" seru Izaki menatap jijik ke arah genangan air yang baru saja membasahi sebagian dari sepatu miliknya.

Tapi bukan itu yang Aichi pikirkan,

"BAGAIMANA INI, KITA HARUS MENCARI PEMERAN PENGGANTI, SEKARANG!"


.

.

Ketika Harus Memilih Diantara Dua Seme

.

Part 14

.

Made By © Hyucchi (IllushaCerbeast)

.

Disclaimer: We don't own Cardfight! Vanguard ever! Kalau CV milik kami, pasti cerita ini akan menjadi film bioskop, lol XDD

.

Rate: M (for lime only. Lemon? Idk~)

.

Pairing(s): KaiAichi, RenAichi, KaiAichiRen, KamuiEmi, DaiLeon, ArLeon, DaiLeonAr.

.

WARNING(s): Lime, Yaoi, Shounen-Ai, Misstypo, OOC, Non-Canon, Setting AU, fail Romance, and all.

.

DON'T LIKE? JUST DON'T READ.

Enjoy~

.

.


Tap.

Tap.

"Duh, Aichi, apa kau tahu kira-kira siapa yang cocok jadi pemeran pengganti Bidou-san!?" tanya Kamui diselah-selah larinya―bersama Aichi―. Mereka menelusuri lorong sekolah lantai dua yang sudah ramai karena murid-murid dan pengunjung festival yang berlalu lalang, upaya mencari pemeran pengganti The Mask Thief.

"Hah, a-aku tidak tahu. Aku tak punya ba-banyak kenalan di kelasku. Memangnya Morikawa atau Izaki tidak bisa?" tanya Aichi balik, pandangannya terfokus ke kiri dan ke kanan selama mereka berlari pelan. Siapa tahu ia menemukan orang―entah itu pengunjung festival ataupun murid sekolah ini―yang bersinar terang, mengatakan kalau dia adalah malaikat yang akan menyelamatkan Aichi dari masalah ini.

Oh, itu tidak mungkin.

"Iyaks! Aku tidak sudi kalau orang berkepala kebelah dua itu yang menjadi The Mask Thief! Dari tampangnya saja sudah kelihatan bodoh, sarap, gila, dan biadap. Bagaimana mungkin ia bisa berperan sebagai The Mask Thief yang lembut dan mempesona!?" tolak Kamui mentah-mentah tidak percaya kenapa Aichi dengan tidak berdosanya merekomendasikan Morikawa sebagai pemeran pengganti.

Ya, walau Morikawa sendiri sudah bersedia dengan senang hati―terbukti ketika ia langsung memamerkan bokongnya di depan semua pemain tadi saat ditanya ada yang bisa menjadi pemeran pengganti Bidou atau tidak―. Walau berujung pada penendangan ramai-ramai pada bokong Morikawa yang tidak berdosa.

"La-Lalu bagaimana kalau Izaki?" sambung Aichi lagi, sekarang keduanya sudah menuruni tangga menuju lantai satu.

"Nggak mungkin. Ketua klub drama yang bawel itu pasti nggak mau, soalnya wajah Izaki tidak bisa menyaingi Bidou. Yah... Kau tahu sendiri Rekka-senpai secerewet apa..." tukas si donker-hair menghela nafas panjang. Aichi pun melakukan hal yang sama. Lagipula tadi Izaki sudah menolak dengan halus ajakan Aichi untuk menjadi pemeran pengganti dengan alasan tidak berpengalaman.

"La-Lalu kita harus mencari siapa!?"

"Yah, Aichi, kita usahakan mencari siapa saja menjadi pemeran pengganti. Lagipula anggota klub drama lain juga ikut mencari. Dengan itu pasti cepat ketemu!" ujar Kamui optimis dan kembali mengedarkan pandangannya ke sepanjang koridor yang ramai berusaha untuk mencari.


...

"Argos, aku mau itu..." tunjuk sesosok pemuda berambut pirang pada sebuah stand bertulis 'Takoyaki' di halaman luas sekolah. Tentu saja, halaman sekolah mereka penuh dengan stand bazaar dan promosi sana-sini disaat Festival Sekolah berlangsung.

Pemuda satunya lagi tersenyum lembut lalu menggandeng tangan si pirang untuk menghampiri stand itu. "As your command, My Love..." ujarnya penuh dengan kelembutan dan nada mesra. Banyak siswi-siswi maupun pengunjung wanita yang terpesona pada ketampanan seorang Shwarderts Argos. Rambutnya yang ikal tosca terlihat begitu halus dan lembut, wajahnya yang tampan menyirat ketenangan yang begitu dalam, juga suaranya yang rendah dan menggelitik indra pendengaran itu...

Tapi sayangnya, selama Argos menginjakan kakinya di sekolah ini, ia tak sedetik pun berpisah dari orang yang paling dicintainya, Souryuu Leon. Pemuda berambut pirang tadi.

Sudah dua puluh menit sejak mereka berdua tiba―dengan alasan ingin menemani Leon ke Festival Sekolah―, ia selalu berjalan sesuai keinginan yang Leon mau. Apapun yang Leon inginkan pasti akan ia penuhi. Sungguh, lelaki uke di sekolah ini sangat iri pada Leon, dan mereka semua hanya bisa menggigit iler mereka sendiri atas kemesraan yang Argos pancarkan hanya untuk si pirang.

Haup.

Leon memakan Takoyaki yang baru saja dibeli Argos untuknya dengan lahap. Anak satu ini memang sangat banyak makannya, dan untungnya hal itu tak mempengaruhi besar tubuhnya yang terlihat ramping dan langsing. Membuat Argos maupun Daigo semakin tergila-gila pada keseksian tubuhnya.

"Do you like it?"

"Of course, I am..." jawab Leon singkat dan cuek, lalu kembali memakan Takoyaki kesukaannya. Ya, sekalipun ia tadinya terbiasa dengan makanan barat, tapi nafsu makannya tak hilang melihat makanan-makanan Jepang.

'Huhuhu, aku bisa memanfaatkan Festival Sekolah Leon untuk bermesra-mesraan dengannya. Bayangkan saja, selama di Jepang aku susah sekali mendekatinya. Pagi dan siang, dia di sekolah, sore dan malam selalu disaingi Beruang Bangkai itu. Semoga saja Beruang Bangkai yang sudah kujebak dengan Ranjau Extra Super khusus Beruang tidak akan datang menganggu kesini. Mampus kau, Bangkai!' jerit Argos dalam hatinya terkikik senang. Tak ragu-ragu Argos langsung merangkul bahu Leon dimana empunya masih sibuk makan dan cuek saja.

Oh, ternyata ketidak-hadiran Daigo yang membuat pembaca kebingungan punya alasan tersendiri.

"Eh?" Leon yang tak mempedulikan rangkulan mesra si tosca-hair di bahunya maupun jeritan tertahan uke di sekolahnya pun mendelik melihat sosok yang dikenalnya. Sedang berlari ke arah tempat dimana sekarang Argos dan Leon sedang duduk―menunggu Leon selesai makan Takoyaki pesanannya―.

'Lho, itu Aichi. Dan Katsuragi. Mereka pemain drama yang seharusnya tampil nanti, 'kan? Kenapa mereka malah keluyuran di luar festival?' pikir Leon mengkerutkan keningnya, tampak berpikir sejenak. 'Mungkin mereka ada masalah...'

Grep.

"Wah―!"

Aichi yang tadi pandangannya terfokus ke depan dan terus berlari pun langsung terjatuh dramatis begitu seseorang menarik lengan bajunya dan menariknya cukup keras. Sebenarnya tarikan itu tak akan membuat orang jatuh, tapi kalau yang ditarik orang telmi dan uke macam Aichi, sih lain soal.

Bruk.

Mendengar suara Aichi berteriak dan orang terjatuh, Kamui yang tadi berlari di samping Aichi pun refleks menghentikan kedua kakinya dan menengok ke belakang. "A-Aichi, kenapa kau terjatuh?! Kau tidak apa-apa!?" seru si donker-hair lalu membantu Aichi berdiri.

Si bluenette menggeleng pelan. "Bu-Bukan... Aku ditarik orang―" lalu Aichi refleks menengok ke belakang berhubung ia belum melihat wajah orang yang tadi menariknya sampai membuatnya terjatuh. Siapa tahu itu tukang pos yang nyasar, atau nenek-nenek iseng, atau uke lain yang sengaja mengerjainya karena iri, atau bisa juga kingkong nyasar dan―Oke, cukup.

"Le-Leon-kun?" pekik Aichi sedikit terkejut. Oh, ternyata sepupunya yang aneh dan dingin itu juga mau datang ke festival sekolah.

"Kenapa kau berlari? Seharusnya sekarang kau sudah berada di belakang panggung untuk drama. Aku ingin menonton drama-mu," ujar Leon dengan tampang datar yang tidak kalah dari Kai Toshiki. Kamui sampai cengo dibuatnya, apa jangan-jangan Leon itu kerabat jauhnya si Landak? Ah, entahlah.

"I-Itu, kami sedang mencari pemeran pengganti The Mask Thief, pemain sesungguhnya tidak bisa hadir karena koma ditabrak kuda kemarin..." jelas Aichi dengan wajah sedikit panik. Waktu tunggu mereka yang seharusnya digunakan untuk latihan sekilas malah terkuras karena mondar-mandir mencari pemeran pengganti. Parahnya belum ada sms dari Kai, Ren, Rekka, Kourin, dan pemeran drama lain untuk mengabarkan bahwa mereka sudah menemukan pemeran penggantinya Bidou.

Leon mengangguk tanda mengerti.

"Sudahlah, Aichi, ini bukan waktunya mengobrol! Ayo kita cari lagi! Maaf, Souryuu, tapi ini masalah besar karena dramanya tinggal―"

"Mungkin aku bisa membantu," potong si pirang sebelum Kamui menyelesaikan bicaranya dan langsung menggeret lengan Aichi untuk kembali berlari-lari. Kedua insan pemeran Calamity Princess dan Dragon Witch itu langsung membelalak mata dan memandang Leon penuh harap.

"Su―Sungguh?"

Leon mengangguk. Lalu ia menatap Argos yang berdiri di belakangnya―yang sebetulnya sedang menunggu Aichi dan Kamui pergi agar ia kembali berduaan dengan Leon―. "Argos, help them now,"

"What?" Sekarang giliran Argos yang membelalak mata. Kamui yang sebetulnya tak pernah melihat Argos pun hanya diam dan mengernyit dahinya melihat pria dengan gen rambut barat itu. Ia tak peduli, mau tukang becak, atau supir truk, atau siapa saja, pokonya asalkan ada yang bisa jadi pengganti, itu sudah membuat mereka semua lega.

'Le-Leon-kun meminta Argos-san menjadi pemeran penggantinya? Atau menyuruh Argos-san yang punya sederet bodyguard itu untuk mencarinya? Oh, Leon-kun, walau kau agak mengerihkan, tapi disaat seperti ini kau sungguh membantu!' jerit hati Aichi sedikit berharap.

"Leon, you want me to... to be 'The Mask Thief' for Drama Club? Hahaha, don't kidding me,"

"I'm not kidding you. I want you to help Drama Club, be 'The Mask Thief' for them now," balas Leon lagi tetap menatap Argos dengan pandangan datar. Sedangkan pemuda berambut tosca pucat itu mengumpat dalam hati. Kenapa pujaan hatinya ini meminta sesuatu yang sulit, sih? Argos kesini untuk bermesraan, bukan untuk bermain drama. Lagipula ia masa bodo' apa yang terjadi dengan klub yang bukan menjadi urusannya.

"Leon, uhm... I can't acting you know? Maybe I will ask my bodyguard for"

"I want you, not your bodyguard. Now or never," sahut Leon cepat lalu mengernyitkan dahinya tanda Argos tak boleh mengelak lagi. Sedangkan Aichi maupun Kamui yang tak mengerti apa yang dikatakan kedua insan itu hanya mampu melihat dengan tatapan berharap.

Argos meneguk ludah. Ia memang bersumpah akan menuruti apapun yang Leon mau, sekalipun itu istana mahal atau sebuah pulau tropis impian. Ia akan membelikan semuanya. Tapi sekarang... ia diminta berakting? Dengan bahasa Jepang pula. Argos sama sekali tidak mau!

"S-Sorry, I can't..." jawab Argos dengan hati-hati, takut melukai perasaan anak yang ia cintai sejak mereka berjumpa di Amerika dulu. Ia sangat tahu kalau Leon itu sensitif.

"Psst, Aichi, apa kau mengerti apa yang mereka bicarakan?" bisik Kamui tepat di samping telinga Aichi. Pemuda berwajah manis itu menggeleng pelan.

"Argos..." ujar Leon pelan. Sangat pelan, rendah, dan penuh penekanan. Membuat Argos langsung panik bukan main.

"Yes, My Love?"

"I hate you. Go back to America and don't meet me again."

JDAR.

Aichi dan Kamui langsung membelalak begitu melihat guyuran air nggak jelas yang tiba-tiba membasahi Argos. 'Apa yang sebenarnya terjadi?' umpat Aichi dalam hati. Ia dapat merasakan aura menyeramkan dari tubuh Leon, aura yang sama ketika ia menghadapi genk Kyou untuk pertama kalinya waktu itu.

"Aichi, biar aku yang jadi The Mask Thief, tidak masalah, 'kan?"

"Eh? Kau yang mengganti? Benar, nih?" tanya Aichi terbelalak, diantara terkejut juga senang. Ia tidak menyangka sepupunya yang dikenal arogan dan sedikit egois itu mau menawarkan diri untuk pertolongan. Kamui juga, begitu Leon berbicara seperti itu pada mereka, ia langsung memasang ekspresi senang.

"Ya," Leon mengangguk. Mengabaikan Argos yang mulai panik.

"Bagus, bagus! Rekka-senpai yang cerewet seperti bebek gila itu pasti setuju! Kalau begitu, ayo!" ajak Kamui―yang sepertinya juga tidak peduli pada Argos―langsung menggandeng tangan Leon dan Aichi dan menarik mereka menuju klub drama.

"N-No! Leon, please... I can't live without you...!" seru Argos yang refleks mengejar Leon. Tapi sayangnya, si pirang justru meliriknya dengan tatapan tidak suka.

"I think Daigo is better than you," ujar Leon dengan nada jutek khasnya lalu pergi bersama Kamui dan Aichi. Meninggalkan Argos diantara stand dan keramaian festival di halaman sekolah dengan wajah galau.


...

Tok.

Tok.

Cklek.

Kai maupun Ren yang tadi masih menunggu di ruang rias refleks menengok ke arah pintu, dimana berdiri seorang Taishi Miwa disana. Kai mengangkat alisnya, tanda bertanya 'Ada apa?' ke arah Miwa.

"Kai, Suzugamori, pengganti 'The Mask Thief' sudah ditemukan. Jadi kalian santai saja disini sampai show-nya tiba. Hahaha, jangan tegang, ya!" seru Miwa dengan cengiran khasnya lalu kembali menutup pintu. Walau sebetulnya ia tidak yakin meninggalkan dua insan yang 'saling bermusuhan' itu dalam satu ruang.

Blam.

Dan kemudian suasana hening dan mencekam yang tadi sempat tertunda kembali menyelimuti ruang itu. Kai maupun Ren, saling menebar aura negatif satu sama lain. Ya, sudah jelas. Bagaimana pun mereka itu 'rival' dalam hal cinta. Siapa, sih, orang gila yang nekad meninggalkan mereka berdua di satu ruangan?

"Hei, Landak, memangnya apa yang kau sukai dari Aichi no ukee?" tanya Ren, membuka pembicaraan. Tapi hal itu bukannya melunakkan suasana, justru itu pertanyaan yang membuat api membara suatu pertarungan semakin berkobar diantara mereka.

Kai hanya menghela nafas pendek dan memejamkan matanya. "Bukan urusanmu," sahutnya tak kalah dingin dari suara Ren bertanya tadi.

"Aku mengikuti drama aneh ini hanya demi Aichi no ukee. Jadi, aku tak akan mengalah padamu, camkan itu..." suara Ren kembali berujar dengan nada serius. Membuat Kai yang tadi tampak tenang-tenang saja kembali membuka matanya. Ia melirik sekilas ke arah pemuda bermarga Suzugamori itu, yang berbalik menatap berang kedua iris emerald-nya.

"Kau mengajak bertanding? Diatas panggung?" tanya Kai walau datar, tapi sedikitnya ia tidak percaya kalau Ren akan seserius ini, mengajaknya bertanding terang-terangan di atas panggung nanti. Dimana banyak pasang mata yang akan menyaksikan mereka semua.

"Tentu saja, aku tidak main-main akan perasaanku," jawab Ren dengan senyum tenangnya yang terlihat seperti menyindir sosok pemuda beriris emerald itu. Dan hal tersebut sukses membuat jantung Kai berpacuh cepat menahan emosi.

"Lihat saja, siapa yang bisa mendapatkan hati Calamity Princess," sahut Kai dingin lalu bangkit berdiri dari duduknya dan menatap ke arah cermin yang memantulkan dirinya, Kai sudah menyerupai pangeran negeri dongeng yang begitu didamba-dambakan semua orang. Ia menampik jubah hitamnya cukup lebar, sampai akhirnya jubah itu menampilkan kembali wajah Suzugamori di pantulan cermin.

"Ya, Fate Prince... atau Combat Vampire," ujar Ren mendeklarasikan perang mereka.


...

"W-Wah, Rekka! Coba lihat ke kursi penonton panggung!" bisik Komoi yang baru saja mengintip ke tempat penonton yang berada di depan panggung tentunya, berhubung show drama mereka tinggal dua puluh menit lagi.

Rekka yang penasaran pun menghampiri Komoi dan ikut mengintip. Alhasil ia juga terkejut dengan dramatisnya sama seperti pemuda berambut mangkok itu. "A-Astaga, banyak sekali!" serunya terharu. Seumur-umur klub drama pentas, ia yakin tahun ini merupakan drama dengan jumlah penonton terbanyak.

"Pengaruh Uke-sama, Aggresive Seme, dan Cruel Seme dalam satu drama. Ini fantastik! Marvelous! Klub kita bisa terkenal, Rekka! Lihat, bahkan sampai agen dari pihak sponsor juga datang!" pekik Komoi semangat sembari menunjuk beberapa orang yang memakai pakaian khusus dan bertulis jelas nama-nama sponsornya.

Biasanya, klub drama tidak sampai menggaet penonton sebanyak ini. Paling-paling hanya separuh kursi penonton yang terisi, entah apa alasannya―mungkin karena pemainnya yang tua bangkai, atau dramanya yang setara dengan drama bisu, atau bisa juga karena terlalu banyak pemain cadangannya sampai-sampai tidak bisa membedakan mana pemain utama mana pemain figurannya―. Tapi sekarang, semua kursi diisi tanpa terkecuali. Bahkan sampai disediakan kursi cadangan oleh pihak sekolah karena banyak yang berminat dengan drama ini.

"O-Oh, a-aku tidak tahu harus berkata apa. I-ini keajaiban. M-Malaikat Sendou i-itu yang membuat semuanya menjadi seperti ini. Uh, aku tak bisa menahan air mataku. I-Impianku menjadi selebritis p-pun akan segera tercapai, hiks..." sekarang Rekka malah terisak, diantara terharu dan bahagia. Jerih payah mereka berminggu-minggu kemarin tidak sia-sia.

Komoi sweatdrop dan melirik ke arah Rekka dengan pelan. "Apa hubungannya dengan selebritis? Bukannya yang bermain disini Sendou, Kai, dan Suzugamori? Kau 'kan cuma aktris di belakang layar―Gyaa!" jerit Komoi begitu kepalanya langsung dijambak dan ditarik-tarik Rekka sampai membentuk menjadi Rock'n Roll gadungan.

"Apanya yang pemain di belakang layar, Setan!? Aku ini ketua klub drama, tentu saja aku yang paling banyak disorotkan! Aku yang paling ditanya-tanya oleh pihak sponsor itu! Kau tahu kenapa? Karena aku ketuanya! Aku ketua klub drama!" teriak Rekka tepat di muka Komoi sampai-sampai pemuda malang itu harus menahan dirinya agar tidak pingsan di tempat karena―

"Re-Rekka, kenapa mulutmu bau sekali, seperti bau pete busuk... Kau tidak gosok gigi semalam, ya―Gyaaa! Ampun, Rekka!"

"Siapa yang nggak gosok gigi semalam, hah!? Aku ini ketua klub drama yang rajin gosok gigi, Sialan! Saking rajinnya, bahkan aku menggunakan semua pasta gigi setiap menit aku menggosok gigi! Dan sekarang kau masih menudingku tidak gosok gigi, hah!?" teriak Rekka emosi dengan dahinya yang berurat-urat saking kesalnya. Juga letusan gunung berapi dan penguin terlempar yang menjadi background kemarahannya.

"A-Apa!?" Komoi menjerit syok. "Kau mengganti pasta gigi setiap menitnya kau menggosok gigi!? Pa-Pantas saja baunya tidak enak! Itu racun! Itu racun gila, Rekka! Campuran zat-zat kimia pasta gigi berbeda-beda yang bermetarmofosis di dalam mulutmu menjadi racun dan bersarang di mulutmu! Yaks, menjijikan sekali―GYAAA!"

"Mereka sedang apa, sih?" ujar Miwa sedikit sweatdrop melihat Rekka yang dengan asyiknya menjambak-jambak Komoi dan memaki-maki anak itu tepat di depan mukanya. "Kelihatannya asyik banget, ya," tambahnya sembari membenahi posisi topeng kostumnya.

"Hah, mungkin saja mereka sedang ber-lovely-dovey, Miwa. Biarkan saja..." sahut salah satu pemain drama, Hiromi, sembari memasang pose terharu menyaksikan adegan mesra(?) yang dibuat oleh Komoi dan Rekka. Giliran Miwa jawdrop, ia langsung menengok Hiromi yang duduk di sampingnya dengan gaya robot.

"A-Apa tadi kau bilang?"

"Mereka sedang ber-lovely-dovey~! Atau dengan kata lain bermesraan dengan penuh cinta dan perasaan! Aku... A-Aku bisa merasakannya! Aku bahkan sanga merasakannya! Perasaan mereka menyatu! Perasaan mereka melebur menjadi suatu kesatuan yang abadi dan begitu harmonis! Oh, indahnya anak zaman sekarang..." lanjut Hiromi sembari menghapus linangan air matanya saking terharu begitu melihat Komoi mulai digiling Rekka di lembaran rumput laut besar.

Miwa membulatkan matanya dengan wajah pucat. Ia yakin ada yang tidak beres dengan Hiromi. "Lantas kau anak zaman kapan?" tanya Miwa sedikit bercanda. Tapi nyatanya, pemuda berambut merah muda panjang sehalus buntut kuda itu menanggapinya dengan cara lain...

"Oh, Miwa, kau menanyakan sesuatu yang begitu penting dan bersejarah. Baiklah, akan kuceritakan kisah sejarah dan di zaman mana aku tinggal..." sahut Hiromi sembari mengacungkan jempolnya penuh rasa percaya diri. Miwa pun langsung menepuk jidatnya.


...

Plok. Plok. Plok. Plok.

Suara tepuk tangan di panggung drama yang begitu besar saling sahut-bersahutan. Keras dan meriah. Memenuhi ke seluruh inci sudut ruangan yang bisa terbilang mewah itu. Seluruh pasang mata memandang ke depan panggung dengan tatapan tidak sabaran. Terutama para fangirl-fangirl yang tidak sabaran melihat adegan this-and-that ataupun seme dan uke yang ingin mempelajari bagaimana berdiri menjadi posisi seme/uke yang baik dari senior(?) mereka―Aichi, Kai, dan Ren―.

"Selamat datang, ladies and gentleman! Terima kasih banyak bagi kalian semua yang sudah datang ke pertunjukan drama besar kami! Drama 'Between Prince & Vampire' diangkat dari kisah dongeng dengan penambahan dan pengurangan secukupnya dari Suzumiya Rekka, ketua klub drama sekolah ini," si narator―yang akrab dipanggil Suiko―mulai bercerita di pinggir panggung dengan anggun.

Grek. Grek.

Lalu tirai panggung pun dibuka, menampilkan isi panggung yang sudah ditata posisi tempat untuk adegan pertama. Semua mata penonton langsung tertuju ke arah panggung yang masih sedikit gelap. Namun samar-samar, mereka menduga-duga kalau itu setting tempat di sebuah istana.

"Alkisah, zaman dahulu kala, dimana siluman maupun dewa dan dewi masih merajarela di tanah bernama bumi ini, berdirilah sebuah kerajaan makmur bernama Evaloshiel. Kerajaan Evaloshiel dikenal sebagai kerajaan manusia terkuat yang pernah ada di muka bumi. Siluman maupun dewa pun takluk pada kerajaan tersebut. Di sekeliling Evaloshiel selalu tumbuh rempa-rempa yang berlimpah, langit pun selalu cerah dan stabil,"

Jgrak.

Lampu panggung mulai menyala, sehingga penonton dapat melihat isi panggung dengan jelas sekarang. Mereka ber-wow ria melihat modal yang dikeluarkan klub drama untuk membuat isi panggung kelihatannya cukup tinggi. Dugaan mereka benar, setting tempat pertama adalah di dalam sebuah istana. Di kiri panggung terdapat sebuah tangga spiral bermodel classic, dan dari tangga itu terjulur karpet mewah sampai ke kanan panggung.

"Pemimpin Kerajaan Evaloshiel, Braince, adalah orang yang sangat keras, egois, dan begitu arogan. Dulu, Kerajaan Evaloshiel memiliki tetangga, yaitu Kerajaan Ghoivea. Dengan ide busuknya, Braince memperdaya penyihir untuk menyegel energi terlarang ke dalam tubuh putri bungsu dari Kerajaan Ghoivea, dan kemudian ia menyebarkan berita ke seluruh penjuru negeri bahwa putri dari kerajaan tersebut adalah putri yang terkutuk. Sehingga takutlah seisi bumi," lanjut Suiko dengan suaranya yang begitu lugas, sampai-sampai seisi ruangan terfokus pada ceritanya.

Kemudian pemeran Raja Braince dan yang lainnya muncul ke atas panggung dan mulai berakting.


...

Aichi melirik luar panggung dengan takut-takut. Melihat adegan pertama sedang berlangsung. Dan sebentar lagi ada gilirannya. Tentu saja jantungnya jadi berdetak tak beraturan. Seumur-umur, ini pertama kalinya ia eksis dalam sebuah drama. Ia melirik ke arah Kai dan Ren yang nanti akan berperan dalam satu scene dengannya.

"Eh?"

Aichi menautkan alisnya, sedikit bingung.

Ren yang merasa ditatap pun berhenti bertopang dagu di tempatnya duduk dan tersenyum pada Aichi. "Ada apa, Aichi no ukee? Ada yang aneh dengan penampilanku?" kemudian Ren melirik ke arah setelan jas putih yang dikenakannya, disertai ukiran bunga mawar yang begitu mewah di bagian pinggir lengan dan kaki.

"E-Eh, ti-tidak, Ren-san. Eh, aku hanya gugup," jawab Aichi berusaha menetralisir rasa deg-degan di hatinya yang tak kunjung berhenti. Kai yang mendengar Ren dan Aichi memulai perbincangan hanya mendelik pelan, namun kedua matanya tetap terpejam dan tenang.

"Ahaha, begitu. Aku juga gugup, sih, tapi tenang saja, kita berjuang bersama-sama di depan panggung nanti, ya!" seru Ren lalu mengedipkan matanya pada Aichi. Si bluenette mengangguk dan tersenyum singkat, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain, misalnya ke arah sushi Komoi yang baru selesai dibuat Rekka.

Aneh.

Ini aneh.

Aichi mengernyitkan dahinya. Ia tahu ada yang tidak beres disini. Dua senpai-nya itu. Sepertinya mereka bertindak berbeda dari kemarin dan hari-hari sebelumnya. Bahkan Ren pun, walau mengedipkan sebelah mata pada Aichi, tapi itu bukan kedipan menggoda yang biasanya sengaja ia lakukan untuk menarik perhatian Aichi. Eh, bukan bearti si shappire ini ingin digoda juga.

Tapi rasanya, ini ganjil. Ren tidak menggodanya habis-habisan. Sekalipun ia―dengan terpaksa―sudah cross-dressing seperti ini. Sebuah gaun biru anggun yang membaluti tubuh seksinya. Tapi dijamin 100% kalau tidak diberitahu, maka penonton tidak akan tahu kalau Aichi itu laki-laki!

Masalahnya bukan itu,

Tapi Ren maupun Kai. Mereka bertindak lain dari biasanya. Kai juga, jangankan curi-curi meliriknya, sengaja mendekatinya pun tidak. Apa Aichi ada melakukan kesalahan pada mereka? Sepertinya tidak. Mereka tidak memberi simbol kesal atau musuh pada Aichi. Hanya saja kelakuan mereka kepada Aichi lebih pasif sekarang. Kenapa? Padahal saat datang ke sekolah tadi, mereka sudah berlomba-lomba siapa yang mengiringi Aichi ke klub drama duluan.

'A-Apa jangan-jangan mereka sakit? Ta-Tapi masa sakitnya berbarengan? Hm, bisa juga, sih... Tapi sakit apa dan kenapa bisa? A-Atau jangan-jangan diracuni?' pikir Aichi dengan serius, sampai-sampai lupa pada rasa nervous-nya beberapa detik yang lalu karena sebentar lagi akan tampil.

"Sendou Aichi, Kai Toshiki, Suzugamori Ren, Suzumiya Kourin, ayo cepat bersiap! Sebentar lagi giliran kalian mulai!" seru Rekka sedikit berbisik takut suaranya menganggu aksi panggung yang sedang seru-serunya. Aichi mengangguk gugup. Pemuda berambut biru itu mulai menarik gaunnya ke atas supaya ia mudah berjalan, kemudian melangkah menuju posisinya akan keluar nanti.

Ia sama sekali tidak melihat kalau aura panas mulai menyelimuti kedua insan yang sedari tadi dikiranya sakit. Dan kini kedua figur itu menatap satu sama lain dengan tatapan tajam. "Bertemu di panggung, Rival..." sahut Ren dingin lalu beranjak pergi menuju sisi panggung tempat dia akan keluar ke atas panggung nanti.

Kai mengepalkan tangannya kuat. Tidak menyangka kalau hari ini akan tiba. Sebuah perang yang mereka deklarasikan, dan panggung drama ini sebagai medan dimana mereka akan bertempur. Meskipun dirahasiakan dari sang pujaan hati. Tapi ia tidak akan kalah.

Diantara dua seme, manakah yang akan Aichi pilih?


.

.

.

To Be Continued

.

.

.

A/N: Halo, minna. Nggak ada yang mau gebukin author nih karena lama update? *langsung-dikeroyok-massal* Gomenasai update-nya lama, pertama karena author super sibuk, kedua karena author sampai sakit tingkat kronis(?). Jangan lupa lihat note tambahan di profile author, ya, info buat yang protes karena author kelamaan update, ehehehehe.

Btw, jangan bingung soal marga Ultra-rare disini, karena memang sengaja kami buat berbeda. Kourin dan Rekka sama-sama memakai marga Suzumiya karena mereka kakak beradik, sedangkan Suiko disini bukan saudara mereka, tidak apa-apa, 'kan? Jadi jangan pusing, ya, hehehe.

Terus, ada yang pusing nggak sama pemeran-pemeran drama? Ini, deh, author kasih beberapa clue supaya kalian enggak pusing-pusing, hehehe.

Pemihak Calamity Princess (Aichi) itu hanya Dragon Witch (Kamui). Terus, yang ada di pihak Wylace (Kai) itu The Great Knight (Miwa) dan Death Blood Flower (Kourin). Sedangkan pemihak Combat Vampire (Ren) itu ―belum pernah disortir, anggap saja bonus trailer, hahaha―Poisonus Flora (Hiromi), The Mask Thief (Harusnya Bidou, karena dia koma habis ditabrak kuda, jadi diganti Leon). Lainnya anggap saja pemeran kurang penting (bah?).

Ya, hanya itu informasinya. Kalau kebanyakan entah episode depan nggak ada apa-apanya, dong, hahaha. Oke, kayaknya chapter depan mulai serius, soalnya Kai sama Ren mulai panas-panasan(?) mau perang, nih :p Tapi tenang saja, author tetap jaga genre, humor tetap distabilkan sebisa author, jangan cemas, ya! XDD

Review, onegai? Author tahu kalian gak akan maafin author abal satu ini karena kelamaan update, tapi kami tetap membutuhkan review dari kalian, oke? Saran, kritikan, masukan, komentar, semua akan diterima dengan senang hati! :)

Just it. Smell, ya!


SPECIAL THANKS

Watanabe Mayuyu, DemonicBloodyAngel, Yu Asano, Misaki Hondou, UnknownTanpaNama, Yun Mei Ho, Usagi-chan lover, Kirito Zanmakusa, Yuuyuuyuu, Rikagii Fujiyama, Wataru Quifo, Aichi Marron ver, Reiko Shizuka, Ama, Kiriyuu Natsume, Laruku Tsuyumu, and YOU TOO! :D