Dengan cepat, tubuh mungil Sungmin telah berpindah kedalam pelukannya. Kangin yang sedari tadi mendekap tubuh sang putra segera beranjak saat Kyuhyun dengan bahagianya mengambil alih tubuh mungil tersebut.
"Kau sudah bangun chagi? Syukurlah.. Aku sangat takut sayang." Ucapnya.
"…"
Tak ada jawaban. Sungmin diam. Tak bergerak sedikitpun. Dia tak merespon semua belaian lembut Kyuhyun. sampai akhirnya beberapa kata menyakitkan lolos dari bibir shap-m miliknya.
"Jangan sentuh aku!"
Jdeeeerrr….
Ya Tuhan. Apalagi ini?
.
.
.
*~ THANK YOU ~ *
Cast : -Cho Kyuhyun, - Lee Sungmin, - Eric Moon ( Shinhwa ), - Kim Ryeowook, -Kim Jong Woon/Yesung, - And Other..
Rate: T to M
Genre : Hurt/Comfort, Romance
- WARNING! YAOI, Crack Pair(Eric-Sungmin), OOC, Abal, GAJE, EYD amburadul dan Typo dimana-mana
-REVIEW DI TUNGGU-
Don't Like? Don't Read…!
DON'T COPAS!
HAPPY READING…. ^^
.
.
PART 13
.
.
Sakit…
Itulah yang saat ini di rasakan seorang Cho Kyuhyun. Kalau boleh dia meminta kepada Tuhan. Dia ingin sekali waktu kembali pada saat Dokter memintanya untuk menyetujui operasi Sungmin. Ah ani. Itu akan sia-sia. Dia ingin kembali pada saat dia membentak Sungmin di pinggir jalan, pada saat dia meninggalkan Sungmin dengan kejam. Dia ingin kembali pada saat itu. Saat di mana dirinya melakukan hal terbodoh yang kini sangat di sesalinya. Seandainya Tuhan masih berbelas kasih padanya, seandainya waktu benar-benar dapat di putar kembali. Seandainya bayi mereka selamat. Dan andai-andai lainnya kini bergemuruh di dalam hatinya yang terasa sakit.
"Sayang, ada apa denganmu? Kyuhyun sangat mengkhawatirkanmu sayang." Suara Leeteuk yang sedikit bergetar menyadarkannya kalau saat ini, tubuh mungil Sungmin masih berada dalam pelukannya tanpa reaksi apapun. Tetap diam.
Perlahan namun pasti, jemari kekarnya semakin mencengkram pakaian pasien yang di kenakan Sungmin. Dengan memberanikan diri, ia mengangkat sebelah tangannya. Mengusap sayang punggung namja mungil yang teramat di cintainya.
"Eomma! Appa! Aku tak ingin bertemu dengannya! Aku tak ingin bertemu dengan orang yang telah tega membiarkan bayiku di keluarkan!"
Nyut…
Gerakan halus Kyuhyun terhenti kala mendengar ucapan Sungmin yang tenang namun sangat menohok hatinya.
Ekspresi Sungmin masih sama, tak pernah berpaling sedikitpun dari objek absurd di hadapannya, dia seakan enggan untuk sekedar menggerakan ekor matanya kearah Kyuhyun.
Dengan sekuat tenaga, Kyuhyun menahan sakit di dalam hatinya. Air mata yang sudah tertampung di pelupuk matanya seakan menertawakan kebodohan yang telah dia perbuat. Yah, ini memang salahnya. Jika saja dia tidak terlalu egois, Sungmin tidak akan mengalami hal seperti ini.
"Sayang, apa yang kau katakan? Kalaupun kami ada di posisi Kyuhyun saat itu, kami juga akan melakukan hal yang sama. Bayi kalian tak dapat di selamatkan. Akan sangat bahaya kalau tidak segera di keluarkan dari rahimmu." Kini giliran sang appa. Kangin. Yang berbicara.
Kyuhyun hanya bisa diam dalam posisinya memeluk Sungmin. Mulutnya bungkam. Sedari tadi, dia hanya bisa menggingit bibir bawahnya dengan kuat, menahan bendungan di pelupuk matanya yang sebentar jlagi akan tumpah ruah. Semua kata tercekat di kerongkongannya. Bahkan, hanya sekedar memanggil nama orang terkasih yang berada dalam pelukannyapun dia tak bisa.
"APPA! AKU TAK INGIN BERTEMU DENGANNYA!" Kini Sungmin berteriak. Dan sukses membuat namja tampan kelahiran pebruari itu semakin merasakan nyeri di ulu hatinya.
.
"Kyu, ikut appa sebentar." Tepukan halus di bahu kekarnya tak sedikitpun dapat mengurangi rasa sakit yang dia alami. Obsidian kelamnya menatap Siwon dengan nanar.
Anggukan kecil Siwon merupakan isyarat bahwa semua akan baik-baik saja. Dengan hati yang masih menjerit sakit, perlahan pelukan yang semula sebagai bentuk kerinduannya terhadap namja mungil yang masih mematung di tempatnya kini terlepas. Dan dengan berat hati, diapun memutuskan untuk mengikuti langkah Siwon ke luar ruangan.
.
.
*KYUMIN
.
.
"A.. Appa.."
Pertahananya roboh. Dia sudah tak dapat lagi menahan bendungan yang kian mendesak keluar sedari tadi. Tubuhnya ambruk dalam pelukan hangat namja paruh baya yang kini telah di terimanya sebagai ayah. -Siwon-.
"Eotteokhae? Appa?" Suaranya bergetar hebat. Baru kali ini dia merasakan sakit yang teramat sangat. Penyesalan memang selalu terlambat. Seandainya penyesalan itu datang di awal, mungkin dia tak akan pernah melakukan hal bodoh yang membuatnya semenderita ini.
Siwon, dengan senang hati memeluk tubuh bergetar putranya sayang. Usapan-usapan halus penuh kasih dia daratkan di punggung Kyuhyun. Kedua ayah dan anak itu tak mempedulikan di mana mereka saat ini. Biarlah semua orang yang melewati mereka menatap dengan aneh, bahkan iba. Yang pasti saat ini, Kyuhyun hanya ingin menumpahkan semua kesakitannya dalam pelukan sang appa yang baru dia rasakan kembali. Meskipun saat ini dia membutuhkan Hangeng. -appa kandungnya- namun pelukan Siwon tak kalah hangat dari Hangeng. Dan dia yakin, sang appa di atas sana pasti tengah memeluknya juga.
Dan Siwon, dengan sayang dan penuh kesabaran, dia berusaha ingin membuat sang putra merasa tenang.
Bangku di depan kamar inap Sungmin menjadi saksi bisu keduanya. Tak ada kata yang terucap kembali, hanya isakan Kyuhyun beserta helaan nafas Siwon yang merasa sakit kala melihat Kyuhyun berada dalam titik terlemahnya. Hanya pelukan hangat dan usapan-usapan sayang yang saat ini bisa dia berikan. Diapun sama bingungnya dengan Kyuhyun. Dia tak menyangka sedikitun kalau reaksi Sungmin akan seperti itu.
.
"Kyu, mungkin Sungmin butuh waktu untuk menerima kenyataan pahit ini. Kau harus bersabar menunggu Sungmin." Ucapnya setelah lama hening.
"Aku takut appa."
"Kami akan selalu ada untuk membantumu anakku. Kau harus yakin, kalau Sungmin akan kembali seperti dulu. Sungmin akan memaafkanmu, dan mengerti dengan keputusan berat yang telah kau ambil saat operasi." Siwon kembali berusaha menenangkan Kyuhyun dengan ucapan-ucapan tegasnya.
Air mata dengan derasnya kembali menuruni pipi tirus Kyuhyun. Biarlah saat ini dia di katakan cengeng. Hatinya yang sakit akibat penyesalan mengalahkan pribadi kerasnya.
Dan biarkan saat ini Siwon menenangkan seorang putra yang selama ini ia sayangi dan ia harapkan mengakuinya sebagai ayah.
.
.
*KYUMIN*
.
.
Satu minggu berlalu..
Satu minggu terasa satu abad bagi Kyuhyun. Selama satu minggu ini Sungmin masih menolak untuk bertemu dengannya, dan dia hanya bisa menatap Sungmin dari luar ruangan melalui kaca transparan yang terdapat di tengah –tengah pintu ruangan tersebut.
Akhirnya, meskipun berat. Kyuhyun menuruti semua saran dari para orang tua untuk memberikan Sungmin waktu.
Seperti saat ini. Dengan langkah gontai, Kyuhyun mendekati pintu yang seperti jurang pemisah antara dirnya dan Sungmin itu. Dia ingin memastikan kesehatan Sungmin. Dan kalau Sungmin tengah beristirahat, dia berniat masuk mendekati ranjang Sungmin.
Namun, harapannya sia-sia.
Dan apa yang dia lihat saat ini membuat hatinya semakin perih.
Bagaimana tidak? Di dalam sana, Sungmin tengah memberikan senyum tulusnya pada seseorang yang membuat hubungan mereka sempat berantakan. Di sana, dengan senyum indah yang terkembang di bibirnya, Sungmin menerima suapan demi suapan dari tangan Eric. Kalau Kyuhyun tidak salah ingat, orang tua mereka sempat mengeluh karena Sungmin susah di suruh makan.
Tapi, apa yang dia lihat saat ini? Dengan tangannya yang terampil, Eric menyuapi Sungmin yang terlihat lahap dan menikmati makanan rumah sakit yang perawat sediakan untuknya.
.
Denyutan di hatinya makin bertambah kala melihat Sungmin dengan riangnya bercerita banyak hal dengan Eric. Dan jangan lupakan senyuman yang selalu menghiasi bibir indahnya. Kyuhyun memang tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, namun melihat ekspresi bahagia Sungmin dan ekpresi tenang Eric, sudah dapat di simpulkan kalau mereka tengah membicarakan hal yang bisa membuat Sungmin bahagia.
Apakah Eric lebih bisa membuatnya bahagia?
Apakah tak ada lagi kesempatan untuk dirinya?
Tak ada lagikah maaf untuknya?
Yah.. Mungkin memang tidak ada. Tapi, walau bagaimanapun, dia akan tetap berusaha untuk mendapatkan maaf itu. Karena dia sadar, bahwa seluruh hatinya hanya untuk Lee Sungmin seorang. Dan dia sadar, dia tak bisa hidup tanpa Sungmin. Semua kebodohan yang telah dia perbuat saat ini membuatnya sangat menyesal sampai titik terdalam.
Tapi, jika Sungmin lebih bahagia dengan namja lain. Haruskah dia merelakannya?
Karena saat ini yang dia inginkan adalah melihat sang bunny bahagia. Dia tak ingin lagi melihat kesedihan di wajah cantiknya. Apalagi kalau dirinyalah yang membuat kesedihan tersebut. Benarkah dia harus merelakannya?
.
.
*KYUMIN*
.
.
Sepi..
Lampu utama dalam ruangan itu telah di matikan. Hanya menyisakan satu lampu temaram untuk menemani sang pasien yang kini tertidur lelap di atas ranjangnya.
Dengan sangat hati-hati, namja jangkung yang sedari tadi menunggu di luar ruangan melangkahkan kaki jenjangnya kedalam ruangan tersebut. Sangat pelan. Seolah tak ingin satu hewan kecilpun mendengar langkahnya.
Langkahnya terhenti kala telah mencapai samping kiri ranjang pasien. Bibir tebalnya menyunggingkan senyum kaku. Yang sarat akan kepedihan.
Perlahan, jemarinya terangkat untuk mengelus lembut mahkota sang namja manis yang masih tertidur nyenyak di atas ranjang tersebut. Usapannya turun pada pipi yang sedikit kurus namun masih terlihat menggemaskan baginya.
"Sayang, apakah kita harus bertemu seperti ini terus? Aku ingin kita bertemu saat mata indahmu itu terbuka. Bukan tertutup rapat seperti saat ini." Suaranya bergetar. Hatinya kembali sakit mengingat kenyataan bahwa dia hanya bisa mendekati sang namja tercinta di saat malam saja. Di saat kedua foxy indah yang dia ingin lihat sinarnya tertutup rapat.
Kenapa Tuhan masih menyiksanya seperti ini? Bolehkan dia menyalahkan ketidak adilan Tuhan saat ini?
.
.
Kyuhyun mendudukan dirinya di bangku yang terdapat di samping ranjang Sungmin. Jemari kekarnya meremas jemari Sungmin dengan lembut. Fokusnya tak pernah lepas dari wajah polos serta damai Sungmin saat tertidur. Dia tak ingin menyia-nyiakan moment ini. Karena hanya saat Sungmin tertidurlah dia bisa menatap sang bunny dengan puas. Meskipun hatinya sakit kala menatap wajah polos tersebut, namun hanya itu yang bisa dia lakukan. Karena saat Sungmin terbangun, dia hanya dapat mengintip dari balik pintu dengan perih.
"Chagi.. Ku mohon maafkan aku. Aku sangat menyesal." Kini kedua manic obsidian itu mengeluarkan cairan bening. Tangannya beralih mengusap perut rata Sungmin. Meskipun Dokter sudah menyatakan kalau rahim di dalam tubuh Sungmin masih baik, namun tetap saja anak pertama mereka tidak dapat bertahan lama di dalam rahim tersebut. itu membuatnya sangat sakit. dan dia juga yakin Sungmin pasti lebih sakit darinya.
"Tolong jangan menyiksaku seperti ini. Akupun sangat sakit saat tahu kalau buah hati kita tidak dapat di selamatkan. Maafkan aku sayang."
Sebelah tangan Kyuhyun membekap mulutnya yang mulai terisak. Dia tak ingin Sungmin terusik dengan isakannya. Sementara tangan yang lainnya masih setia meremas jemari Sungmin.
"Kau boleh membentakku, atau bahkan membunuhku. Asal kau bahagia. Tapi jangan seperti ini. Aku lebih tersiksa saat kau tak ingin melihatku seperti saat ini." Bisiknya masih dengan suara bergetar menahan tangis. Kalau dia boleh memilih, lebih baik Sungmin meninggalkannya bersama Eric. Namun masih bersedia bertemu dengannya. Daripada Sungmin yang tak mau melihat wajahnya. Itu membuat sakitnya berlipat ganda. Memang sangat sakit, jika seseorang yang sangat kita cintai tak ingin melihat kita lagi.
"Seandainya aku dapat memutar waktu kembali, aku tak akan pernah melakukan hal bodoh yang membuat kita menjadi seperti ini. Aku sangat menyesal sayang. Aku tahu kau pasti tak bisa memaafkanku. Tapi, meskipun aku tahu kau tak akan memaafkanku, aku akan terus meminta maaf padamu. Bahkan sampai ajal yang harus memisahkan kita, aku akan tetap meminta maaf. Maaf Ming.. Maafkan aku.."
.
.
Entah kantuk yang menyerang, atau memang Kyuhyun lelah karena terus menangis, kedua mata obsidian itu tertutup dengan tetesan-tetesan bening yang masih keluar dari sudutnya.
Dengan membungkukan punggungnya, Kyuhyun tertidur di sisi ranjang Sungmin dengan kedua tangannya terlipat untuk menjadi tumpuan di atas ranjang Sungmin yang bersebelahan langsung dengan perut rata namja cantik tersebut. Kini dia tertidur. Tertidur dalam tangis.
.
.
.
Kedua foxy bening itu perlahan terbuka. Indra pendengarannya dapat mendengar helaan nafas teratus dari samping bawah tubuhnya. Yang dia yakini sang empu tengah tertidur lelap.
Kedua foxy itu mulai berkaca-kaca. Jujur, sejak beberapa saat lalu dia tak tahan ingin menumpahkan aliran bening yang sudah berkumpul dalam foxynya yang dia biarkan tertutup. Dan sejak beberapa saat yang lalu juga hatinyapun berdenyut sakit. Jika ego tak menguasainya, sejak tadi dia ingin sekali membuka mata kemudian memeluk tubuh hangat sang kekasih yang teramat di rindukannya. Jujur, hatinya yang paling dalam terasa sakit. Dia merindukan pelukan hangat dengan aroma maskulin yang selalu membuatnya tenang saat memeluknya.
Sungmin menggigit bibir bawahnya. Kini giliran dia yang meredam tangis dalam diam. Dia tak ingin mengusik namja tampan yang tertidur di dekatnya. Tangannya yang bergetar dia beranikan untuk terangkat dan mendarat di surai hitam kecoklatan namja tampan yang ia rindukan.
"Kau pasti lelah. Maafkan aku. Kyu. Hikz.." Bisiknya serak. Dengan jemarinya yang kini menelusuri garis wajah tampan yang masih menutup mata itu. Dan kini, isakan lolos dari bibir Shap-Mnya.
.
.
Kedua halis tegas Kyuhyun perlahan terpaut. Sedikit mengernyit karena merasakan ada sesuatu yang menggangu tidur singkatnya.
Dengan kedua foxy dan pipi yang telah basah oleh air mata, Sungmin masih setia menyentuh wajah Kyuhyun. Bukan dia tak menyadari Kyuhyun yang terusik. Hanya saja, kini dia sudah menguatkan hatinya. Dan dia sudah memikirkan masak-masak apa yang akan terjadi setelah ini. Karena benar apa yang Kyuhyun rasakan saat ini "Penyesalan Selalu Datang Di Akhir." Dan dia tak ingin merasakan hal tersebut. Dia tak ingin menyesal, maka dengan menguatkan hatinya. Dia siap. Dia siap memberikan senyumnya pada namja tampan yang kini tengah membuka matanya dengan kaget.
"Ming?" Saking kagetnya, Kyuhyun menyentakan tubuhnya hingga kini terduduk tegak. Bukan apa-apa, dia takut Sungmin akan menatap dia seperti sebelumnya. Tatapan kebencian yang sangat menyakitkan hati. Dia takut Sungmin akan mengusirnya dari tempat tersebut.
Namun.. Apa yang dia dapatkan saat ini seperti mimpi untuknya.
Sungmin tersenyum kearahnya!
Apakah dia bermimpi?
"Kyunnie.. Hikz.. Mianhae.. Hikz.." Bisikan serak beserta isakan Sungmin menyadarkannya kalau ini bukan mimpi.
Ini nyata. Dan kini Sungmin benar-benar tersenyum kearahnya. Bahkan apa tadi? Sungmin mengucapkan kata maaf?
"Sayang.." Dengan ragu Kyuhyun kembali menggerakan kedua tangannya dan dengan ragu pula dia menyentuh jemari Sungmin.
"Kyunnie.. Mianhae.."
Kini Kyuhyun menggenggam jemari Sungmin erat.
"Apa yang kau katakan? Aku yang seharusnya minta maaf. Aku telah membuatmu menderita. Maafkan aku Ming. Semuanya salahku. Aku sudah membuatmu sakit. Dan anak kita.."
Kyuhyun member jeda sebelum melanjutkan. "Anak kita meninggal karena aku." Lanjutnya terisak.
Sungmin menggelengkan kepalanya kasar. Diapun sama terisaknya seperti Kyuhyun.
"Kau memang tak pantas memaafkanku. Kalau kau membenciku, aku akan menerimanya Ming. Karena aku memang salah, aku bodoh. Aku telah menyia-nyiakanmu dan anak kita. Sampai akhirnya aku-"
"Sssttt… jangan terus menyalahkan dirimu Kyu." Dengan cepat Sungmin memotong ucapan Kyuhyun.
"Aku juga salah. Aku yang menyebabkan bayi kita meninggal" ucapnya bergetar. Dia masih ingat betul bagaimana dia tanpa mempedulikan keselamatan bayinya berlari ketengah jalan untuk menyelamatkan Kyuhyun. Karena yang ada dalam benaknya saat itu adalah keselamatan orang yag sangat di cintainya.
"Tidak Ming. Kalau aku tidah menyakitimu saat itu, hal seperti ini tidak akan terjadi." Dengan sayang Kyuhyun menyeka rembesan bening yang semakin deras dari kedua foxy Sungmin.
"Jeongmal mianhae.." Lanjutnya dengan mengelus pipi Sungmin dengan punggung tangannya.
Sungmin yang masih terbaring, sedikit mengangkat tubuhnya sebagai isyarat bahwa dia ingin bangun dari tidurnya. Dengan cepat, Kyuhyun membantu sang kekasih dan menempatkan bantal di punggung Sungmin agar namja cantik tersebut merasa nyaman.
Kyuhyun berniat kembali duduk di kursi samping ranjang Sungmin, namun cengkraman lemah tangan Sungmin membatalkan niatnya. Dengan gesture tubuh Sungmin yang menyuruh Kyuhyun duduk di dekatnya, akhirnya Kyuhyun mendudukan diri di ranjang Sungmin, hingga saat ini mereka berhadapan dekat.
"Jangan terus-terusan meminta maaf Kyu. Itu hanya akan membuatku semakin sakit." Jemari Sungmin terangkat untuk menyentuh wajah tampan di hadapannya. Kemudian dia kembali berucap.
"Kau tahu? Aku berlari sampai melupakan bayi kita karena tak ingin terjadi hal buruk terhadapmu."
Kyuhyun menyentuh punggung tangan Sungmin yang masih bertengger di wajahnya, kemudian menggenggam tangan lembut tersebut.
"Seharusnya kau biarkan aku Ming. Dengan begitu tidak akan terjadi apa-apa dengan bayi kita."
"Lalu menurutmu, kalau terjadi apa-apa denganmu aku akan baik-baik saja. Kyunnie?"
Sungmin menatap dalam manic obsidian tegas di depannya.
"Kalau terjadi apa-apa padamu, aku tak tahu apakah masih bisa bertahan seperti sekarang." Lanjutnya.
"Ming.."
"Aku memang sangat sedih mengetahui kenyataan bahwa bayi kita tidak bisa di selamatkan. Tapi dengan adanya dirimu aku masih bisa bertahan Kyu. Justru aku takut, aku takut kau membenciku karena tindakan bodohku yang membuat bayi kita meninggal."
Sreettt…
Dengan cepat Kyuhyun menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Dia memeluknya dengan sangat erat, seolah takut akan ada yang memisahkan mereka.
"Kenapa kau berpikiran seperti itu sayang? Jangan pernah berpikir aku akan membencimu. Karena kau adalah nafasku, aku tak mungkin bisa hidup tanpamu."
"Kyunnie.. Hikz.."
"Maafkan aku Ming. Maafkan aku."
"Jangan mengatakan itu lagi Kyu. Aku kan sudah bilang, itu lebih membuatku sakit. Jangan mengatakan kata maaf lagi."
Kyuhyun melonggarkan pelukannya. Obsidian kelamnya menatap tepat manik foxy Sungmin. Kedua ibu jarinya terangkat untuk menghapus aliran bening di pipi Sungmin.
"Gomawo chagi.. Kau masih bersedia memaafkanku."
Kyuhyun bergerak perlahan mendekati wajah cantik Sungmin. Satu ciuman dalam mendarat di kening Sungmin. Kedua foxy indah itu tertutup untuk meresapi ciuman sayang sang kekasih.
Kyuhyun kembali bergerak, kini dia mendaratkan kecupan di kelopak mata Sungmin kiri kanan bergantian, kemudian kedua pipi halus Sungmin, hidung bangir Sungmin, dan terakhir satu kecupan manis di bibir shap-m Sungmin yang masih sedikit bergetar.
Detik berikutnya, Kyuhyun kembali merengkuh tubuh mungil Sungmin kedalam pelukan hangatnya, mengelus punggung sang namja cantik dengan penuh kasih. Dalam hati dia berjanji. Mulai saat ini, tak akan lagi ada air mata yang menetes dari manic rubah sang kekasih, tak ada lagi kesedihan yang akan Sungmin rasakan. Dia akan memberikan kebahagiaan seutuhnya untuk namja cantik yang teramat sangat di cintainya.
.
Dengan kedua mata yang terpejam, Sungmin makin menelusupkan dirinya pada dada bidang Kyuhyun, mencari kenyamanan tersendiri dalam dekapan hangat sang namja tampan. Kedua sudut bibirnya tertarik untuk melukiskan senyuman cantik yang sarat akan kelegaan.
Kini mereka berharap, tak akan ada lagi kesedihan yang menghantui hubungan mereka. Hanya kebahagiaan yang harus menghiasi hubungan keduanya.
.
.
*KYUMIN*
.
.
Pagi hari…
Langkah kaki Leeteuk terhenti kala pintu ruangan inap Sungmin terbuka. Matanya berkaca-kaca akibat kebahagiaan dan haru yang menyelimuti hatinya di pagi ini.
"Yeobo, kenapa kau tidak masuk?" Kangin yang menyusulnya dari belakang merasa heran melihat tingkah sang istri.
"Sstt.. Jangan berisik yeobo. Mereka masih tidur. Lihatlah." Leeteuk menjawab pertanyaan sang suami tanpa mengalihkan pandangannya dari depan. Bibirnya melukiskan senyum bahagia, kemudian dia memutuskan untuk menatap wajah sang suami yang sama-sama terlihat bahagia dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
"Kita tunggu di luar saja yeobo." Ajaknya. Kemudian menarik tangan kekar kangin ke luar ruangan.
Sementara itu, kedua objek yang sedari tadi menjadi perhatian Kangin dan juga Leeteuk masih terlelap dalam tidur indah.
Kyuhyun yang terlelap di ranjang Sungmin dengan Sungmin yang berada dalam pelukannya terlihat sangat nyaman dan juga nyenyak.
.
.
.
"Aku tidak mau makan Kyu.." Sungmin mempoutkan bibirnya kesal.
"Makanan rumah sakit tidak enak." Lanjutnya sedikit merajuk.
Kyuhyun yang merasa gemas, mencubit pelan pipi sang bunny yang makin mengerucutkan bibirnya kesal.
"Saat itu kau terlihat menikmati makanan ini waktu Eric menyuapimu."
"Eh?"
Kyuhyun melipat kedua tangan di dada dengan bibir tebalnya terkatup rapat, seolah dia tengah marah, atau.. Cemburu?
"Ee.. I.. Itu kan.." Sungmin sedikit tergagap. 'kenapa Kyuhyun bisa tahu?' pikirnya.
"Kyunnie.. Waktu itu kan aku lapar~~" Kini kedua tangan Sungmin menggoyang-goyangkan lengan Kyuhyun yang masih terlipat di dadanya.
Kyuhyun masih diam pura-pura marah. Sungguh. Sungmin benar-benar lucu seperti itu.
"Kyunnie~~.. Baiklah. Aku makan. Kau mau menyuapiku kan?"
Sungmin memandang Kyuhyun dengan puppy eyesnya, berharap Kyuhyun dapat luluh. Dan benar saja, Kyuhyun menghela nafas dalam. Dia tak tahan dengan aegyo alami Sungmin.
Chup..
Dengan cepat, bibir tebalnya menyambar bibir pinkish Sungmin. Setelahnya, dia mengambil benda persegi yang berfungsi sebagai tempat makanan pasien itu kedalam pangkuannya.
"Geure. Sekarang buka mulutmu. Aaaa.." Satu sendok penuh Kyuhyun angkat mendekati bibir tipis Sungmin yang masih sedikit terpout karena tak ingin makan.
"Good boy.." Lanjutnya setelah satu suap nasi telah mendarat dengan lancar ke dalam mulut mungil sang kekasih. Sebelah tangannya terangkat untuk mengelus surai hitam Sungmin sayang.
Sedangkan Sungmin, hanya dapat tersenyum polos mendapati perlakuan Kyuhyun. Kebahagiaan membuncah di hatinya.
.
Tok.. Tok..
Ketukan di pintu mengalihkan perhatian keduanya. Dengan serempak, Sungmin maupun Kyuhyun menolehkan kepala kearah pintu.
"Apa kami mengganggu?" Namja tinggi dengan senyum tampannya membuka pintu ruangan tersebut.
"Eric hyung? Ah ani. Ayo masuk." Ucap Sungmin yang mendapatkan tatapan tidak suka dari Kyuhyun. Setelahnya, Sungmin hanya memberikan senyuman cantik kearah Kyuhyun seolah tak mengerti dengan tatapan tidak suka Kyuhyun.
Eric memasuki ruangan inap Sungmin diikuti namja manis di belakangnya. Eh?
"Hyung, kau kesini juga?" Kyuhyun menatap namja manis yang kini berdiri di samping Eric.
"Ne. Kyu. Aah.. Sungminnie, bagaimana kabarmu? Maaf aku baru sempat menengongkmu hari ini." Ucap namja yang lebih pendek dari Eric itu sambil mendekati ranjang Sungmin.
"Aku sudah lebih baik Hyesung hyung. Terimakasih kau mau menjengukku kemari." Sungmin memberikan senyumnya pada namja manis yang ternyata Hyesung itu dengan tulus.
"Kau berangsur baik karena ada obat yang lebih 'AMPUH' kan Sungminnie?" Ucap Eric sambil melirik Kyuhyun yang masih duduk di samping Sungmin. Pipi halus Sungmin merona hebat. Sementara Kyuhyun, hanya mencebikkan bibirnya kearah Eric.
"Yaa! Kau masih marah padaku? Eoh? Apa kau masih cemburu?" Eric makin gencar menggoda adik tampannya.
"Ish… sudahlah. Kalian seperti anak kecil." Hyesung terkikik kecil melihat kedua kakak beradik yang saling bertentangan itu. Yang satu melirik sinis, yang satunya tak henti menggoda sang adik.
"Kyunnie, Sungminnie kami kemari hanya ingin pamit." Lanjut Hyesung kemudian.
"Pamit? Maksudmu hyung?" Kyuhyun memilih untuk mengabaikan Eric dan menatap Hyesung yang sudah seperti kakak baginya itu.
"Appa menugaskanku untuk kembali bekerja di kantor pusat. Di Jepang. Karena appa yang masih sering merasa sakit setelah di operasi, sudah tidak kuat mengelola perusahaan besar sendiri." Eric yang menjawab pertanyaan Kyuhyun.
"Aah.. Aku sudah mendengarnya waktu itu. Appa bilang akan berhenti. Dan kalian akan kembali ke Jepang?" Setelah menganggukan kepala tanda mengerti, Kyuhyun menatap Eric dan juga Hyesung bergantian.
"Ne.. Dan kita akan memulainya dari awal." Ucap Hyesung.
Untuk beberapa detik, Kyuhyun dan juga Sungmin saling menatap. Dan keduanya kembali mengalihkan pandangan pada dua namja yang lebih dewasa dari mereka. Kyuhyun dan juga Sungmin menatap mereka curiga.
"Hyung.. Aku menatap gelagat mencurigakan. Benarkan chagi?" Kyuhyun mengetuk-ngetuk dagunya dengan gaya berpikir sambil meminta persetujuan Sungmin. Sementara Sungmin hanya menganggukan kepala imut tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua namja yang menunduk malu di hadapan mereka.
"Kau memang cerdas Kyu. Kami akan memulai semua dari awal. Termasuk hubungan kami." Akhirnya Hyesung bersuara.
"Dan ini semua berkat Sungminnie." Kini giliran Eric yang berucap.
"Eh? Aku?" Sungmin yang merasa tak pernah melakukan apa-apa menunjuk dirinya sendiri heran.
"Iya semuanya berkat kau Sungminnie, saat aku kemari beberapa waktu lalu, bukankah kau bilang aku harus memikirkannya kembali supaya tak akan ada penyesalan?"
Kyuhyun sedikit berpikir saat mendengar penuturan Eric. Otak jeniusnya langsung bekerja. Jadi, saat Eric kemari, bukannya karena ingin mendekati Sungmin kembali. Tapi meminta saran Sungmin mengenai hubungannya dengan Hyesung? Kalau begitu, saat itu dirinya salah paham?
Senyum menawan tercipta di bibir tebal Kyuhyun. Sebelum akhirnya berucap.
"Chukkae. Hyung. Aku tahu, hubungan kalian pasti akan kembali baik." Ucapnya.
"Kyunnie benar. Dan kalian sebenarnya masih saling mencintai satu sama lain." Tambah Sungmin.
"Gomawo. Kami memang telat menyadarinya, tapi kami akan memulai semuanya dari awal." Ucap Hyesung dengan senyum kebahagiaan yang menyelimuti wajah manisnya.
"Oh ya. Kapan kalian berangkat?"
"Nanti sore. Penerbangan kami 3 jam lagi."
"Baiklah. Tapi kalian harus ada di Korea saat aku dan Sungmin menikah."
"MWO?"
Ketiga namja di ruangan itu menatap Kyuhyun horror. Terlebih Sungmin. Menikah?
"Yya! Kyunnie. Apa yang kau katakana? Menikah?"
"Kau benar chagi. Kita akan segera menikah."
"Apa-apaan kau ini. Kau belum melamarku!"
"Saat ini aku melamarmu. Kita akan menikah. Kau pasti mau kan menikah denganku?" Ucap Kyuhyun santai.
"Yyaaa! Mana ada lamaran seperti ini. Haiiissshh.." Sungmin mempoutkan bibirnya kesal.
Sementara itu, Hyesung dan juga Eric hanya bila menggelengkan kepala melihat tingkah kedua adik mereka. Namun, ada kelegaan yang mereka rasakan.
.
.
_END_
.
.
_END FOR THIS CHAPT!_
.
.
*Senyum* udah rujuk(?) Lagi kan KyuMinnya? Udah aja yaa.. Sayyah juga cape jadi anak durhaka mulu. Kasian mereka tersiksa terus. #jduaaagghh..
*Kaget ya sayyah nulis END?#GakTuh#
Tenang z readers, masih ada beberapa chapt lagi ko. :p
*Chapt ini kecepetan ya? sayyah pengen buru2 mereka rujuk soalnya.. Mian kalo mengecewakan.. T.T
*Jeongmal gomawo buat yang udah ngingetin adanya typo di chapt kemarin. Tapiii.. Jeongmal mianhaeee.. Aku gx bisa benerin typo(s) di chapt kemarin. Karena sekali lagi, gx bisa buka FFN dari Lappy. Ini masih update via HP. Hikz.. Jadi gx bisa benerin typo(s) TT_TT
*Jeongmal gomawo buat yang udah review di chapter kemarin..
Sekarang review lagi ya pemirsaaahh…
#CivokAtu2 :*
Calanghaeeeeeeeeeee….. ^^
*Mian for typo(s). sayyah miss typo yee.. hueeee… T_T
