special thanks
djokroe, Nekuro Yamikawa, Akihisa Funabashi, ErzaScarlet-47, MizuRaiNa, Nakazawa Ayumu, Vhi, Kie2Kei, Karen White, everdistant utopia, Forene
dia, yang baik banget karena udah nyusunin kartu (di saat yang lain pergi, kamu tetap disana untuk bantuin aku. makasih yaa!)
kakakku yang tersayang, semangat yah! (maaf karena nggak pernah menjadi adik yang bisa bantuin kamu sepenuhnya, tapi apapun yang terjadi, aku bakalan terus berusaha bantuin kamu)
dan kamu yang tentunya udah buka halaman ini!
warning
mungkin agak sedikit absurd, ada beberapa unsur pemaksaan, tapi saya harap nggak seperti itu kelihatannya.
Kaito-Luka, Miku-Kaito, Len-Miku
bab ini panjang lho, sekitar 5000k, lagi-lagi kepanjangan dan nggak ada momen pas kalau mau dibagi ke bab lain. Harap bersabar atau bacanya dicicil supaya nggak bosen (tapi seriusan, dari semua bab yang aku buat, aku sukaaaa banget bagian part terakhir, enjoooy~)
berry blue
(sendok keempatbelas)
Luka tahu ada sesuatu yang salah antara hubungannya dengan Kaito. Bukan... bukan karena sebenarnya dia berbohong pada pemuda baik hati itu, jelas dia tidak mau disalahkan soal ini walaupun sebenarnya dia masih memendam hubungan percintaan dengan orang lain yang bahkan tidak pernah meneleponnya.
Sesuatu yang mungkin terasa salah itu jelas ditempeli label milik Kaito. Ada sesuatu yang mengganjal hati Luka sejak awal. Masalah hubungannya dengan Kaito sama sekali tidak seperti yang dibayangkannya.
Kaito baik... bahkan teramat baik. Pemuda itu rela melakukan apapun demi Luka, sesuatu hal romantis sekaligus bodoh yang menurut Luka sangat manis. Hanya saja, di setiap perkataan Kaito, ada beberapa hal yang terasa janggal.
Terutama untuk hal-hal yang menyangkut masalah Hatsune Miku.
Anggap saja Luka cemburu soal ini, tapi jujur saja, hubungan Kaito dan Miku sama sekali tidak terasa alami. Ada sesuatu yang jelas terlihat di mata orang luar, tapi jelas tidak terlihat di mata keduanya sebagai orang dalam.
Dan jujur saja, ada sebersit perasaan kesal di hati Luka.
Kaito mengatakan dia peduli dan sayang pada Luka, kalau begitu sudah sepantasnya dia tidak memedulikan gadis lain di dunia ini! Bahkan termasuk untuk sahabat sejak kecilnya itu sendiri!
Akan tetapi, Luka juga tidak bisa memaksa Kaito untuk berhenti mempedulikan Miku. Dia tidak bisa dicap sebagai gadis posesif yang pencemburu karena itu akan merusak imej malaikat di pikiran Kaito.
Karena itulah, satu-satunya cara adalah mengkonfrontasi Miku untuk menjauhi Kaito. Dan akhirnya, disanalah mereka berdua berdiri, di ruangan musik sehabis pelajaran seni.
Selasa siang yang menurut Miku adalah hari terburuk baginya.
Luka berdiri disana, menyandar pada sebuah piano besar berwarna putih dengan jemari yang menyusuri pinggiran halusnya. Mata biru langitnya menatap perputaran jemarinya dengan wajah tanpa ekspresi. Sedari tadi, sekitar empat sampai lima menit lalu setelah dia minta untuk bicara pada Miku, tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya.
Miku yang jelas memiliki sikap tidak sabaran mulai menghela napas panjang sambil memutar bola matanya. Setelah hampir lima bulan sekelas dengan Luka, dia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran orang yang katanya malaikat tercantik di sekolahnya.
Atau seperti itulah yang dia kutip dari ucapan cinta pertamanya.
Setelah satu menit berlalu, akhirnya bibir gadis berkuncir dua itu mulai membuka juga. "Jadi, kamu nggak akan nyuruh aku tinggal disini untuk diam-diaman doang kan?"
Jemari Luka berhenti bergerak hingga akhirnya gadis merah muda itu menegakkan kepalanya, menatap Miku datar. Beberapa saat kemudian, senyuman penuh formalitas terbentuk di bibirnya. "Ya... ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Miku merasakan firasat buruk. Selama ini hubungannya dengan Luka tidak pernah lebih baik daripada hubungan teman sekelas yang dibumbui dengan perasaan semacam persaingan cinta. Sekiranya dia sudah bisa menebak, apapun yang akan dibicarakan Luka sekarang pastilah menyangkut maniak es krim tetangga depan rumahnya.
"Ini tentang Kaito-kun."
Ucapkan selamat pada Hatsune Miku karena sepertinya dia memiliki bakat cenayang yang belum terasah!
Mendadak, lidah Miku terasa kelu.
Manik biru kehijauannya melirik pergelangan tangannya, tempat dimana bandul bertuliskan friends forever itu terlihat berkilau.
"Maksudmu kau curiga soal hubunganku dengan Kaito?"
"Kalian terlalu dekat," sahut Luka kemudian. "Kau tahu soal hubungan kami berdua kan? Aku merasa sangat tidak nyaman jika kau berada di dekat Kaito."
Entah kenapa, kalimat terakhir dari Luka barusan justru terdengar seperti: aku itu pacarnya, bukan kau! Jadi jauhi dia, cewek jalang!
Miku tersenyum tipis dan menatap mata Luka dalam-dalam. Bukankah sudah jelas posisinya sekarang? Dia cuma sahabat sejak kecil Kaito yang menyukai Kaito dari dulu, tapi terlambat menyadarinya hingga gadis merah muda itu memiliki Kaito sekarang. Dia cuma jadi penganggu sekarang. Bukankah Kaito selalu merasa bahagia jika bersama Luka? Bukankah itu sudah jelas apa artinya?
"Aku hanya menganggap Kaito sebagai teman." Tidak sepenuhnya dusta, Miku memang sedang berusaha dengan sangat keras untuk menganggap Kaito hanya sebagai temannya.
Luka menatapnya, datar, tanpa ekspresi, dan diam untuk sesaat. Bukannya dia tidak percaya pada ucapan Miku, hanya saja, dia teramat yakin kalau sebenarnya perasaan cinta untuk seorang teman itu terlalu berlebihan. Miku-lah yang tidak bisa mengukur kadarnya!
"Bukannya aku ingin membatasi pergaulan Kaito-kun, hanya saja, aku merasa kalian berdua terlalu dekat."
Sekarang giliran Miku yang menutup mulutnya, diam dengan sorot mata yang tidak terbaca.
"Kau mengerti maksudku, Hatsune-san?"
"Caramu cemburu sangat tidak manis ya, Megurine-san." Akhirnya Miku tersenyum tipis. "Kalau kau merasa aku dan Kaito terlalu dekat, kenapa kau tidak datang ke kekasihmu itu dan merengek dengan wajah cantikmu itu seberapa kau tidak ingin dia mendekat dengan cewek lain?"
"Aku punya hak untuk tidak memilih pilihan itu."
"Lantas, kau datang kepadaku dan memintaku untuk menjauhi Kaito agar si bodoh itu menganggap aku-lah yang jahat karena memutuskan persahabatan kami. Ide brilian."
Luka memutar bola matanya. "Itu kewajibanku untuk memperingatkanmu untuk menjauhi pacarku."
"Oh ya?" Miku tersenyum sambil membuang muka. "Kalau begitu, bukankah aku juga memiliki hak dan kewajiban yang sama kuatnya denganmu? Aku juga punya hak untuk menolak permintaanmu barusan kan?"
"Jangan membuat aku tertawa, Hatsune-san. Apakah sekarang kau akan mengakui kalau kau sebenarnya menyukai Kaito-kun? Bukankah itu sesuatu yang konyol?" Luka meletakkan jemarinya di dagunya dan menatap Miku tajam. "Bukankah kalau Kaito-kun tahu akan hal itu, dia akan merasa sangat terbebani?"
Miku menatap Luka tajam. Dia tidak suka kalimat yang terlontar dari si merah muda itu.
"Bayangkan posisinya, Hatsune-san," Luka tersenyum, "dia pacarku. Dia menyukaiku. Dia menginginkanku dibandingkan dirimu. Kalau dia tahu perasaanmu, dia akan merasa terbebani bukan, karena dia tidak akan pernah bisa datang kepadamu seperti apa yang selalu kau harapkan dalam mimpimu."
Buku-buku jari Miku teremas dengan sempurna. Gadis berkuncir dua itu mengigit bibir bawahnya, menahan semua perasaannya.
"Berhentilah bermimpi, Hatsune-san. Kau itu cuma penganggu dalam kehidupan Kaito-kun. Sadari itu dan menjauhlah darinya! Bukan kau yang diinginkannya, tapi aku!" Jeda sejenak dan suasana menjadi klimaks ketika Luka mengatakan kalimat selanjutnya. "Kau suka Kaito-kun kan?"
Miku tidak mau menjawab hal itu. Tidak mau!
"Kalau kau menyukainya, kau akan membiarkan dia bahagia kan?"
Miku masih diam.
"Dan kau tahu dia akan bahagia jika bersama siapa kan?"
Miku tidak mau menjawab hal itu!
Luka berjalan mendekati Miku dan menatap dengan tajam. Senyumannya yang terlihat cantik justru membuatnya terlihat mengerikan. "Jadi, kau sudah bisa menebak artinya kan?"
Miku balas menatap Luka. "Aku benci kau dari awal aku melihatmu hingga sekarang!"
"Apa itu artinya kau akan menjalankan kewajiban seorang sahabat untuk membiarkan sahabatmu itu bahagia dengan gadis yang dia cintai?"
Luka tersenyum lebar dan berjalan melewati Miku menuju pintu ruang musik. Kemudian, dia berhenti untuk mengatakan sesuatu lagi pada Miku. "Berhentilah berharap, bangunlah dari mimpi itu, dan lupakan perasaanmu. Apapun yang terjadi, Kaito-kun tidak akan pernah memilihmu dibandingkan aku!"
.
.
.
.
"Cewek itu iblis!"
Gumi memutar bola matanya tanpa menoleh sedikit pun pada teman sebangkunya. Sedari tadi, dia hanya mendengarkan ocehan Miku tanpa sedikit pun komentar. Si jenius itu sudah tahu kalau apapun yang dia katakan pasti akan dibalas dengan gerutuan panjang lagi dari Miku, karena itulah dia memilih untuk diam mendengarkan walaupun sesungguhnya dia merasa teramat bosan.
"Apa-apaan lagi dia itu... minta supaya aku menjauhi Kaito... memangnya mau dia itu apa?!"
"Tahu deh, tanya saja sama orangnya kalau mau."
"Aku kesal!"
"Karena dia bisa memonopoli cowok itu dibandingkan dirimu." Gumi menaikkan sebelah alisnya. "Baru menyesal sekarang?"
"Kau sama sekali tidak membantu, Gumi!"
"Mau tahu apa saranku?" Si jenius itu menatap Miku sekarang. "Katakan perasaanmu pada sahabatmu itu dan aku yakin semuanya akan kembali seperti dulu lagi. Kalian berdua itu sama bodohnya, sama-sama tidak mau mengatakan perasaan masing-masing karena takut terluka!"
Miku membuang muka, dia sama sekali tidak berniat membalas apapun yang dikatakan Gumi barusan. Entah karena dia memang tidak mau mengakui kebenaran dari setiap ucapan Gumi, ataukah karena dia memang kehilangan seluruh pikiran warasnya.
"Aku sedang mencoba melupakannya, Gumi."
"Kalau itu merupakan salah satu tindakan bodoh, apakah aku juga dilarang untuk mengatakannya padamu?"
"Bukan itu masalahnya!"
"Jangan melakukan hal bodoh!"
"Aku tahu aku nggak sejenius kamu!" seru Miku. Dia meraih semua barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. "Aku nggak peduli lagi sama apapun yang kamu katakan!" Sambil mengenakan tasnya, Miku berjalan menjauh keluar kelas.
"Mau kemana?" tanya Gumi santai.
"Pulang!"
"Ada kumpul kelas buat tugas seni kan? Kita bakalan ngomongin soal pementasan di aula sehabis ini."
"Maksudmu, kita bakalan berunding untuk memilih temanya."
"Nggak." Gumi memasang ekspresi datar. "Kita bahkan sudah memilih ide cerita penampilannya."
Dahi Miku berkerut. Seingatnya, dia tidak pernah ikut dalam diskusi itu. "Kapan? Kenapa aku bisa nggak tahu?"
"Aah... saat pelajaran seni tadi. Ketika kau sedang ke toilet kurasa. IA sensei yang memutuskan untuk menggunakan ide—"
"Aku tahu," potong Miku cepat. "Pasti ide jenius lainnya darimu kan?"
Mata hijau Gumi seketika berubah. Dia memutar bola matanya menuju arah gadis berambut merah muda yang duduk di depan kelas. "Kalau nggak ada dia, aku yang bakalan menang."
"Hah? Maksudmu ide penampilan kelas kita berasal dari cewek menyebalkan itu?! Damn! Rasanya aku nggak mau ikut pementasan!"
Gumi menghela napas. "Silahkan saja kalau kamu mau nilai ujian akhir kamu nol. Pementasan itu salah satu syarat untuk mengikuti ujian kan? Jangan bilang kamu lupa."
"Well," Miku memutar bola matanya. "Aku kan bukan jenius sepertimu, Nona. Puas?!"
"Kita bakalan ngomongin para pemerannya, Miku."
"Terus, kenapa?"
"Mau dapet peran sisa memangnya?"
Miku mendengus keras dan kembali meletakkan tasnya di atas meja. Dia menatap iris hijau Gumi dengan serius. "Memangnya tadi kamu nggak ngusulin ide pementasan? Aneh rasanya kalau ide-ide brilianmu itu ditolak."
"Dan kau pikir IA-sensei akan mendengarkan aku dibandingkan murid kesayangannya? Kau bercanda. Jelas, ada beberapa hal yang mengalahkan kejeniusan. Bisa dikatagorikan ke dalam tindakan kolusi."
Ternyata malaikat mampu melakukan salah satu tindakan pidana yang melawan hukum di kelas.
"Ide pementasannya apa?"
"Dongeng klasik. Sampah."
Miku tahu hal itu. Teman sebangkunya itu sama sekali tidak menyukai hal-hal kalsik yang klise seperti dongeng-dongeng di buku cerita bergambar. Miku sebenarnya tidak membenci hal itu, tapi, tolong, mereka sudah SMA dan masih ingin memainkan peran dengan sihir dan cinta abadi?
"Okey, aku ngerti. Jadi, apa yang akan kita bawakan? Cinderella dengan sepatu kacanya? Putri salju dan kurcaci budaknya? Aah, kurasa pasti Putri sombong dengan Pangeran Katak konyol itu kan? Sangat menggambarkan Megurine-san kurasa."
Gumi memaksakan senyuman. "Rapunzel. Cewek itu mengusulkan drama Rapunzel. Mengerti alasannya?"
Miku diam sebentar untuk berpikir. "Nggak. Kenapa?"
"Karena rambut Rapunzel panjang. Menurutmu siapa di kelas kita yang rambutnya panjang?"
"Megurine Luka. Aah..." Miku melirik Luka yang sedang mengobrol dengan beberapa teman sekelasnya. Kelihatannya sedang membicarakan konsep penampilan mereka nanti. "Hebat sekali ya. Dia mengincar peran utama..."
"Itu belum ditentukan. Menurutmu siapa lagi yang punya rambut panjang selain dia?"
Ekspresi gadis berkuncir dua itu kelihatan bingung. "Siapa—"
"Kau, bodoh!" potong Gumi tidak sabar. "Penentuannya antara kamu dan dia. Kalau kau bisa menjadi pemeran utama, pasti rasanya menyenangkan!"
Miku mengerjap pelan. "Nggak mungkin."
"Kenapa nggak?"
"Aku nggak pinter akting."
"Lalu? Memangnya cewek itu bisa?"
"Tentu saja dia bisa. Dia kan drama queen, menurutmu kenapa cowok-cowok bisa terpeseona pada semua kebohongannya? Jelas dia punya bakat alami!" Miku memutar bola matanya. "Dan aku sama sekali nggak punya bakat apa-apa."
"Wajar kalau bocah es krim itu suka padanya dibandingkan dirimu."
"Hah?"
"Kamu nggak punya motivasi dan semangat untuk lebih merebutnya."
"Kenapa nyambung kesana? Oke, aku memang nggak punya motivasi dan semangat karena aku realistis. Aku nggak akan menang dari Megurine Luka, jadi kenapa aku harus berusaha untuk menang darinya?" Miku mengangkat gelangnya. "Ini adalah hadiah darinya sebagai representasi persahabatan kami berdua. Dia bahkan nggak pernah melihat aku lebih dari seorang sahabat, karena itulah, kenapa aku harus melihatnya lebih dari itu?"
Ketika Gumi sudah membuka mulutnya, ingin membantah Miku, gadis kuncir dua itu segera memotong. "Batas gelembung cair seperti teorimu? Bahkan menurutku itu sama sekali nggak logis, Gumi."
Gumi menjatuhkan dirinya ke dalam sandaran kursi kelas, menatap Miku dalam-dalam tanpa mengatakan apapun. Beberapa saat kemudian, dia menarik napas panjang dan menghembuskannya. "Kau mau berpaling kan? Benar nggak itu?"
Dahi Miku berkerut. "Maksudmu?"
"Karena menunggu bocah es krim itu melelahkan, jadi kau memilih sosok lain yang menjadi pelampiasanmu, dan..."
"Aku nggak melampiaskan apapun kepada siapapun, Gumi!"
"Pada Len? Masa?" Alis Gumi terangkat. "Entah kenapa aku merasa hubungan kalian mulai berubah, Miku."
"Kau cemburu, Gumi? Kau bisa ambil Len kalau begitu."
"Bukan disitu poinnya."
"Lantas dimana poinnya?" seru Miku frustasi. "Katakan padaku?! Menurutmu aku harus bagaimana?!"
Gumi menatap Miku lama sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali bicara. Sejujurnya, dia merasa kasihan terhadap Miku. Dia tahu, hipotesanya mengenai perasaan Kaito pasti benar, tapi dia tidak tahu butuh berapa lama bagi pemuda itu untuk menyadarinya. Harus ada trigger yang menggerakkan hal itu. Salah satu caranya, Gumi harus memainkan pion Kagamine Len.
Tapi, yang Gumi takutkan adalah ketika Kaito sudah menyadari perasaannya pada Miku, Miku justru berubah menjadi serius kepada Len.
"Aku mau bertaruh satu hal."
"Apa?"
"Kalau kau jadi Rapunzel dalam drama, kau akan menyatakan perasaanmu padanya."
"Ide konyol, Gumi."
"Aku serius!"
"Dan kalau aku tidak menjadi Rapunzel bagaimana?"
"Aku akan menuruti satu keinginanmu asalkan itu bukan permintaan bodoh yang mempermalukanku."
"Yang benar saja, memangnya seberapa penting peran Rapunzel di dunia ini?"
"Penting sekali sampai kau harus mati dalam memperjuangkannya," sahut Gumi dengan ekspresi datar.
Miku memutar bola matanya. "Yeah, asalkan kau senang." Gadis kuncir dua itu mengacungkan tangannya. "Aku punya ide gila. Bagaimana kalau aku yang memerankan Rapunzel?"
Dan semua orang langsung menatapnya. Miku tahu, seharusnya, dia tidak bertaruh dengan Gumi.
.
.
.
.
Pemuda pirang itu berjalan santai dengan ritme teratur. Jemarinya berputar seirama dengan beat lagu yang dia dengar melalui headset putih yang terpasang di telinganya. Sesekali, dia berputar layaknya penari di atas panggung, mengangguk-anggukkan kepalanya dengan ringan lalu tersenyum lebar.
Beberapa orang yang tidak terlalu dekat dengannya mungkin mengira bahwa Kapten basket putra Utaunoda sudah bertukar keperibadian karena sosok setenang Kagamine Len tidak biasanya menari di tengah koridor, tapi inilah kenyataannya. Inilah sisi Kagamine Len yang jarang diketahui oleh orang-orang—sisinya yang amat menyukai musik.
Bersama dengan kakak kembarnya, Len sudah belajar musik sejak SMP—dan saat itulah pertama kalinya dia bertemu dengan Hatsune Miku.
Ketika sudah melihat pintu ruang klub basket, Len melambatkan langkahnya dan tepat berhenti di depan pintu. Dia sudah ingin meraih handel pintu ketika suara gerutuan dari dalam menghentikannya. Dengan dahi berkerut, dia membuka pintu dan mendapati sosok berambut hijau terang sedang berlutut di atas lantai, membereskan barang-barang yang tercecer disana.
"Sedang apa kau disini?"
Sosok hijau itu kelihatan terusik oleh kedatangan Len. "Piket. Memangnya tidak bisa lihat dengan matamu apa?"
"Hemm..." Len hanya mengangguk pelan dan berjalan melewatinya. "Memangnya ini jadwalmu?"
"Nggak, tapi aku kalah taruhan dengan Miku."
"Kau?! Kalah taruhan? Wow!" Len menahan tawanya. "Kemana otak encermu itu, Nona? Bukankah kau paling ahli dalam memprediksi sesuatu?"
Gumi meletakkan tangannya di pinggang dan menatap Len tajam. "Aku jenius, tapi aku bukan esper."
"Sudah nggak jenius lagi maksudmu?"
Gumi melemparkan salah satu buku di lantai ke arah Len. "Mati saja sana!"
Len menangkap bukunya sesuai refleks dan diam untuk sesaat, menimbang-nimbang apakah dia harus mengatakan pertanyaannya atau tidak. "Umm, Gumi, kalau kau yang menggantikannya piket, lalu, dimana..."
"Bentar lagi datang. Kau kesini untuk mencarinya, Pemuja Cinta?" Alis Gumi terangkat dan dia tersenyum lebar penuh kemenangan. "Benar-benar sudah bertekad untuk meluluhkan hatinya, eh?"
"Apa sih yang kau bicarakan?" Len hanya tersenyum sambil duduk di salah satu sofa ruang klub yang menghadap ke arah komputer. "Aku cuma ingin memperbaiki hubungan kami saja."
"Naif sekali bicara seperti itu."
"Nggak senaif kamu kok, Gumi, tenang saja."
Gumi memutar bola matanya. "Kenapa mendadak tidak percaya diri? Bukankah kau adalah orang paling sombong di Utaunoda?"
"Paling?" Alis Len terangkat sebelah. "Salah nggak sih? Yang pertama paling sombong tentu saja kamu!"
"Okey, aku nggak akan ngomong lagi!"
Len tertawa. "Bercanda-bercanda." Dia kemudian menghela napas dan mengangkat tangannya ke udara. "Karena Miku itu nggak bisa ditebak."
"Apanya yang nggak bisa ditebak?"
Len segera menegakkan punggungnya ketika suara Gumi mendadak terdengar menjadi suara orang yang paling disukainya saat ini. Iris biru langit Len kemudian menangkap warna biru kehijauan alih-alih hijau daun warna rambut Gumi. Dia mengerjap pelan dan menemukan gadis kuncir dua itu sedang berdiri di dekat pintu, memegangi bungkusan plastik berisi kaleng soda dan cemilan ringan.
"Kalian membicarakan apa?" tanyanya curiga.
Gumi melirik Len cepat. "Aku nggak ikut-ikutan lho. Tahu-tahu aja Len bicara begitu."
"Hah?" Miku meletakkan bungkusannya di atas meja. "Memangnya tadi kalian membicarakan apa?"
"Bukan 'kalian'," koreksi Gumi sambil berjalan mengambil salah satu kaleng sodanya. Dia menatap Miku kemudian Len. "Cuma si Len yang dari tadi membicarakanmu."
"Hah?"
"Aah... Aku harus keluar sebentar, Miku. Leon-sensei barusan memintaku untuk datang ke kantornya. Nanti aku kembali lagi kok. Jadi," Gumi lagi-lagi melirik Len, "nikmati saja waktu berdua kalian ya."
Setelah mengucapkan hal itu, gadis jenius itu keluar dari ruangan klub itu, membiarkan kedua kapten basket sekolahnya berbicara berdua saja. Dan Len benar-benar bersumpah dia akan mencekik Kojima Gumi hingga kehilangan napasnya!
"Jadi... kalian membicarakan apa tadi?" tanya Miku ragu-ragu.
"Aah..." Len memutar kepalanya, berusaha mencari topik pengalih pembicaraan. "Masalah latihan tim basket cewek, kita dari tadi membicarakan hal itu."
Miku memiringkan kepalanya dan mengangguk sekilas. "Hoo... peduli sekali ya, padahal bukan urusanmu kan?"
"Aku juga anggota klub kan, jadi sudah sewajarnya kalau aku ikut mengurusinya."
Miku lagi-lagi hanya mengangguk sekilas sebelum berjalan ke kulkas mini klub mereka dan memasukkan kaleng-kaleng soda ke dalamnya. Setelah itu, tidak ada obrolan lagi. Tidak ada suara di ruangan itu.
Len akhirnya menarik napas panjang dan melirik Miku. "Hei, bicara dong!"
"Mau bicara apa? Aku nggak tertarik bicara denganmu! Lagipula, sejak kapan kamu jadi mendadak suka bicara denganku?"
"Hei, Miku..."
Tidak ada sahutan.
Len memutar bola matanya. "Aku belum minta hadiah atas kemenanganku di pertandingan kemarin."
"Hah?!" Dahi Miku berkerut. "Memangnya siapa yang menjanjikan hadiah padamu?"
"Kita taruhan kan? Dan aku yang menang kan?"
"Aah... taruhan bodoh itu ya..."
"Makanya, aku mau hadiahnya sekarang!"
Miku menatap Len sebal. "Seenaknya sekali sih?!"
"Pemenang boleh melakukan apa saja kan?"
"Memangnya itu isi taruhan kita waktu itu?!"
"Pokoknya turuti saja keinganku untuk hari ini!"
"Nggak bisa kayak gitu dong!"
"Kan aku yang menang?"
"Memangnya aku pelayanmu?!"
"Bukan, tapi aku ingin kau jadi gadisku!"
Miku mengerjapkan matanya. Eh?
Len mengerjapkan matanya. Eh?
"Bilang hal konyol apa barusan?"
"Apanya yang konyol?"
"Hah?"
"Eh?"
Miku mengangkat tangannya. "Bentar... coba katakan kalimat kamu barusan!"
"Eh?" ulang Len pelan.
"Bukan yang itu! Yang sebelumnya!"
"Bilang hal konyol apa barusan?"
"Bukan yang itu, bodoh! Yang sebelumnya!"
Len menutup mulutnya dan membuang muka. "Aku mau hadiahnya sekarang. Kita sudah membicarakan hal ini kemarin kan? Temani aku beli sports run bulan ini!"
Miku masih tercengang menatap Len. "Kau lucu sekali sih! Memangnya siapa yang mau menurutimu?"
"Aku bisa memaksamu." Iris biru langitnya bertemu dengan iris biru kehijauan Miku.
"Hah? Dengan cara apa, bodoh?"
Len menarik napas panjang. Haruskah dia melakukan hal ini?
Kemudian suara Gumi kembali bergaung di telinganya. "Kenapa mendadak tidak percaya diri? Bukankah kau adalah orang paling sombong di Utaunoda?"
Sudah kelewat basah ya ceburkan diri saja!
Len segera berdiri dari tempatnya berjalan menuju arah Miku, menarik tangannya. "Ayo pergi!"
Miku menatapnya dengan tidak percaya. Memangnya siapa sih Kagamine Len itu hingga berani memperlakukannya seperti ini? "Kalau aku bilang nggak mau," dia menarik paksa tangannya hingga genggaman Len terlepas, "ya nggak mau!"
Len menatap Miku dalam-dalam kemudian dia tersenyum. "Kau akan membuatku menggunakan cara paling jelek yang tidak pernah kau inginkan!"
"Ooh, coba saja, Kapten!" tantang Miku dengan tangan di pinggang. "Kau pikir aku takut?"
Len tersenyum lebar hingga membuat bulu kuduk Miku meremang. "Oh ya, terima kasih kalau begitu."
Mata Miku melebar tak percaya saat Len melakukan hal itu padanya.
Dan teriakan Hatsune Miku menggema hingga koridor SMA mereka.
.
.
.
.
Shion Kaito sedang duduk di bangku taman sambil memainkan ponselnya ketika orang yang sedari tadi ditunggunya akhirnya datang juga. Bibirnya membentuk seulas senyum dan dia segera menghentikan gerakan jemarinya.
"Sudah selesai urusannya?" tanyanya singkat.
"Baru ngomongin masalah peran dan pembagian staf. Rencananya nanti malam mau buat naskah di rumah Kotagawa-san."
"Jam berapa? Nanti aku jemput aja ya."
"Nggak apa-apa kok," dia menggelengkan kepalanya hingga membuat helaian rambut merah mudanya jatuh dari daun telinganya. "Aku nggak mau ngerepotin, Kaito-kun."
"Tapi Luka-chan nggak akan pernah membuatku merasa kerepotan kok." Senyum Kaito semakin lebar. "Mau makan es krim dulu nggak sebelum pulang?"
Luka mengangguk pelan. "Arigatou, Kaito-kun."
Kaito memasukkan ponselnya dan segera mengambil tas jinjing Luka. Hal yang selama ini selalu dia lakukan agar kekasih tercintanya itu tidak perlu memikul bawaan berat. Sikap gentleman yang jelas akan membuat hati Luka semakin luluh karenanya.
"Jadinya kelasmu akan memainkan apa?"
Luka tersenyum sambil mengenggam jemari Kaito. "Rapunzel... dan kau tahu, aku yang akan menjadi pemeran utama perempuannya."
"Hemm, cocok kok. Rambutmu panjang." Tapi Kaito melupakan satu orang yang rambutnya juga sama panjangnya seperti Luka—miris.
"Kelasmu sendiri akan memainkan apa?"
"Drama klasik Momotaro. Ketua kelasku, Kagamine-san, tidak tertarik dengan drama klasik Eropa seperti Rapunzel dan Cinderella."
"Pemikirannya sama seperti Kojima-san di kelasku. Kadang aku berpikir mereka berdua begitu cocok ya."
Nama Kojima kemudian menarik perhatian Kaito. "Oh ya, ngomong-ngomong, Miku dapat peran apa?"
Seharusnya Luka tahu bahwa hubungan antara Kaito dan Miku memang tidak pernah sejelas apapun yang pernah dipikirkannya. Dia mendadak menghentikan langkahnya dan menatap Kaito dalam-dalam.
"Aku mau tanya sesuatu."
"Apa?"
"Bagaimana perasaanmu terhadap Hatsune-san?"
Kaito mengerjap sesaat. Sama sekali tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Ada jeda sejenak sebelum dia menjawabnya. "Dia sahabat karibku sejak kecil." Kaito tertawa. "Kenapa mendadak tanya seperti itu?"
Luka menatap Kaito lama sebelum akhirnya mulai melanjutkan ucapannya. "Aku cuma dengar gosip," dia memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Kaito, "katanya sekarang Hatsune-san sedang pacaran dengan seseorang ya?"
"Eh?" Kaito diam untuk sesaat, berusaha mencerna setiap ucapan Luka barusan. "Miku pacaran dengan siapa memangnya?"
"Kamu nggak tahu?" Luka memiringkan kepalanya kemudian meletakkan jari telunjuk di bibirnya. "Hemm, kok aneh ya kalau gitu?"
"Apanya yang aneh?"
"Kamu bilang kalian sahabat karib sejak kecil kan?" Luka menatap Kaito dengan ekspresi serius. "Lalu, kenapa dia nggak memberitahumu masalah sepenting ini? Maksudku... kau selalu memberitahu segalanya padanya kan?"
Kaito hanya menundukkan kepalanya, menatap sepatu kets putihnya tanpa bisa mengatakan apapun untuk membalas ucapan Luka. Dia masih terlalu syok untuk mengetahui kenyataan bahwa Miku sudah memiliki orang lain di kehidupannya tanpa Kaito. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya, sesuatu yang seketika membuatnya merasa tidak nyaman, sesuatu yang mendesak keluar dari dalam dadanya. Rasa menyesakkan yang menyakitkan... yang bahkan dia sendiri tidak mampu mendeskripsikannya.
"Luka-chan, kapan kau dengar gosip itu?"
"Sudah lama kok, sebelum tim basket bertanding. Memangnya kenapa, Kaito-kun? Memangnya Hatsune-san pernah mengatakan sesuatu soal itu?"
Memang tidak dikatakan, tapi Kaito pernah melihat kilasan adegan kenyataan tentang Miku dan cowok pirang dikuncir yang berciuman di lapangan basket.
"Kaito-kun?" panggilan Luka terdengar jauh sekali bagi Kaito. Dia seolah tidak sadar bahwa dia sedang berdiri. Sesuatu di dalam hatinya telah meluluhkan semangatnya, membuat berdiri pun terasa sangat menyakitkan.
"Kaito-kun, kamu nggak apa-apa kan?" Kali ini, Luka meraih jemari pemuda berambut biru itu, menatap iris lautannya dalam-dalam. "Lihat aku, Kaito-kun, aku ada di sampingmu kan?"
Tapi tidak akan pernah ada lagi Miku di sampingnya.
"Aah..." Kaito akhirnya mulai bereaksi lagi dengan balas mengenggam tangan Luka. "Aku baik-baik saja." Seulas senyum lebar kembali ditunjukkannya. "Aku cuma... agak syok... dan merasa dikhianati."
"Itu artinya hanya kamu yang menganggap dia sebagai sahabat karib, dia hanya menganggapmu sebagai orang lain, orang luar asing yang tidak sepantasnya diberitahu rahasia semacam itu," lanjut Luka kemudian.
"Kau merasa sebal pada Miku, Luka-chan?"
"Tentu saja! Dia jahat sekali padamu! Kalau aku jadi kamu, aku nggak akan mau temenan lagi sama dia! Lebih baik kau menjauh dari dirinya, Kaito-kun!"
Pandangan Kaito terasa hampa. "Begitukah?"
Dan seolah merespon perasaan Kaito, mendadak, pemuda blue berry itu mendengar teriakan yang amat sudah dikenalnya dari koridor di depannya. Suara Miku yang nyaring disertai dengan tawa riang yang amat tidak disukainya menggema di barisan koridor.
"AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHMU!"
"Oh ya? Coba saja kalau begitu?"
"DEMI TUHAN, LEN! TURUNKAN AKU BODOH!"
"Nggak akan!"
"LEN!"
Dan kemudian, sosok kuncir dua itu melewatinya bersama sosok pirang dikuncir lainnya. Dengan gaya romantis ala Romeo yang menculik Julliet, dimana Len menggendong Miku sambil tersenyum lebar dan sang gadis meronta-ronta untuk dilepaskan.
"Waah... ternyata gosipnya benar ya..." sahut Luka kemudian. Gadis merah muda itu melirik Kaito dengan senyuman lebar. "Aku nggak nyangka lho kalau mereka semesra itu."
Kaito tidak sempat mendengar ucapan Luka apalagi melihat ekspresi kemenangan di wajah kekasihnya itu. Satu hal yang pasti, dia bisa merasakan sesuatu di dalam dirinya terasa hancur ketika melihat pemandangan itu.
Mendadak, kilasan adegan di suatu masa terlintas di benak Kaito.
Dia ingat itu adalah momen saat Miku pertama kali bertemu dengan kembar pirang dan Mikuo bertingkah untuk kesekian kalinya.
"Aku sudah bilang aku tidak suka padamu kan, bocah biru!" Dia ingat Mikuo pernah mengatakan hal itu. Bahkan Mikuo selalu mengatakan hal itu.
"Dari awal kita bertemu, Mikuo-niisan sudah mengatakan hal itu kan?" Kaito segera merasakan rasa sakit di kepalanya ketika Mikuo menjitaknya.
"Kau terlalu bodoh untuk secepat itu memanggilku 'niisan'!"
"Apa sih?! Sebutkan alasannya!"
Mikuo meletakkan tangannya di atas pinggang. "Kau itu terlalu naif. Kalau sampai Miku diambil orang, apa yang akan kau lakukan?"
"Miku mau diculik siapa?"
"Bukan Miku-nya!"
"Lalu apa?"
"Hatinya."
"Hah? Memangnya dia masih bisa hidup kalau hatinya diambil?"
Lagi-lagi Mikuo menjitak kepalanya. "Kau memang super bodoh abad 21 ya!"
"Sakit tahu!" protes Kaito. Dia menatap kakak sahabat karibnya itu dengan marah. Mereka hanya berbeda empat tahun sebenarnya dan tinggi mereka hanya berbeda sepuluh senti. "Aku nggak ngerti apapun yang kau katakan!"
"Kau bodoh sih, makanya aku nggak suka padamu!" Mikuo memutar bola matanya. "Baiklah, sekarang aku tanya, kalau nanti jarak kalian semakin jauh, apa yang akan kau lakukan?"
"Memangnya Miku akan pindah?"
"JAWAB SAJA, BODOH!"
"Umm..." Kaito menggaruk bagian belakang kepalanya. "Tentu saja tidak akan kubiarkan."
"Yang kau lakukan?"
"Umm... mengejarnya tentu saja."
Mikuo menatapnya dengan ekspresi datar. "Kau memang bodoh ya?"
"Makanya aku tanya, memangnya Miku akan pindah kemana?"
"Ke tempat lain dimana dia merasa lebih nyaman daripada berada di tempatmu." Mikuo berjalan melewatinya. "Aku akan kuliah tahun depan, jadi aku nggak bisa berada di sampingnya, bocah bodoh! Apa yang akan kau lakukan setelah itu?"
"Umm... menjadi penggantimu?"
"Bodoh! Memangnya sejak kapan aku merestuimu untuk berada di posisiku?! Jangan besar kepala, bocah bodoh!"
Kaito mengigit bibir bawahnya. "Lantas, kau mau aku melakukan apa?"
Mikuo menatapnya datar tanpa ekspresi. "Aku meramalkan sesuatu, bocah bodoh."
"Memangnya kau esper?!"
"Diam dulu!" bentak Mikuo akhirnya. Dia menatap Kaito tajam sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya. "Aku bisa meramalkan nasib adikku tercinta kalau kau masih bersikap bodoh seperti ini untuk selamanya."
Kaito mulai merasa lelah mendengar kalimat-kalimat yang melecehkannya.
"Yah, seperti yang kubilang tadi," lanjut Mikuo kemudian.
"Apa?"
"Kalau hati Miku diculik, apa yang akan kau lakukan?"
"Mengejarnya."
Dahi Mikuo berkerut mendegar jawaban Kaito. "Walau itu terlihat bodoh?"
"Aku akan melakukan apapun untuk Miku."
"Walau itu artinya akan melukai Miku?"
Dahi Kaito berkerut. "Maksudmu?"
"Begini situasinya," Mikuo mulai mencontohkan dengan jemarinya. "Seandainya saja, Miku menyukai orang lain dan itu bukan kau," telunjuknya menunjuk Kaito, "maksudku, dia menemukan teman-teman baru yang membuatnya merasa lebih nyaman daripada ketika berada di sampingmu, apa yang akan kau lakukan?"
"Maksudmu, aku tidak menjadi sahabat Miku lagi?"
"Sederhananya... iya."
"Kalau begitu, aku tetap akan mengejarnya."
Mikuo menatap Kaito dalam-dalam. "Selayaknya orang bodoh, kau memang berpikir dengan cara yang bodoh." Dia kemudian tertawa dan berbalik menjauhi Kaito. Dalam beberapa langkah, dia kemudian berbalik, menanyakan pertanyaan terakhirnya. "Kalau saat itu, Miku tetap tidak mau kembali padamu, apa yang akan kau lakukan?"
Kaito menatap Mikuo, tapi tetap mengatupkan mulutnya.
"Aku..."
Suara Miku mulai menjauh.
"Aku..."
"Akankah kau terus mengejarnya bagaikan orang bodoh, Kaito?"
"Kaito-kun?"
Senyum Mikuo tergambar jelas di wajahnya. "Ataukah kau akan membiarkan Miku bersama teman-teman barunya, membiarkan dia menemukan kebahagiaan tanpa dirimu?"
"LEN, TURUNKAN AKU!"
Iris biru lautannya mengerjap pelan.
"Menurutmu apa yang harus kulakukan, Mikuo-niisan?" Kaito balik bertanya. "Kalau itu situasinya, menurutmu apa yang sebaiknya kulakukan? Aku ingin Miku bahagia, tapi aku..."
Mikuo lama menatapnya sebelum akhirnya mencubit pipi Kaito. "Dengar ya," dia berkata dengan tatapan tajam, "apa tugas seorang sahabat?"
"Membuat sahabat kita merasa bahagia?"
"Sudah jelas bukan?"
"Tapi, aku tidak mau kehilangan Miku! Aku nggak ingin berada di tempat dimana Miku tidak ada disana!"
"Kalau begitu gampang kan?" Mikuo tersenyum padanya. "Kau tinggal menciptakan kebahagiaan buat Miku dimana ada kau disana untuk melindunginya."
Genggaman terhadap tangan Luka terlepas.
"Kalau Miku tetap ingin pergi menjauh dariku, bagaimana?"
Mikuo menatap Kaito dalam-dalam. "Menurutmu bagaimana?"
Meskipun masih terlihat jelas keraguan dalam benaknya, Kaito menegakkan kepalanya dan menatap Mikuo lurus-lurus. "Aku akan menunggunya."
"Walau itu terlihat bodoh?"
"Karena aku sayang Miku."
"Tentu saja, aku tahu itu."
"Walaupun akan makan waktu lama..."
"Kau tetap akan menunggunya?"
"Ya."
"Walau itu akan sangat melelahkan?"
"Ya!" Iris biru lautnya menatap Miku serius. "Karena aku sayang Miku, sekarang dan hingga kapan pun juga."
"Kaito-kun..."
Sepatu ketsnya mulai menapaki koridor.
"Kaito-kun!"
"Hemm," Mikuo tersenyum lebar. "Entah kenapa yang barusan itu terdengar seperti pernyataan cinta, bocah bodoh!"
"Hah?! Apa yang kau bicarakan, Mikuo-niisan?"
Napasnya mulai terasa sesak.
"Apakah kau tidak sedang jatuh cinta pada adikku yang manis, eh?"
"Hah?!"
Dahi Mikuo seketika langsung berkerut. "Jadi, menurutmu adikku tidak cukup manis untuk dipacari, eh?!"
"Pacaran? Seperti yang orang dewasa lakukan?"
"Ya, umm, maksudku tidak seperti yang orang dewasa lakukan juga—tunggu! Kau mau melakukan apa pada Miku memangnya?!"
"Bukan itu... umm... aku sayang Miku sih, tapi kalau untuk pacaran seperti orang dewasa lakukan..."
"Makanya, aku tanya memangnya orang dewasa itu melakukan apa?!"
Kaito sudah sampai ke ujung koridor, tapi dia tidak menemukan Miku disana.
"Berpikir! Berpikir, bodoh! Kemana Len akan membawanya? Umm... ruang klub? Tidak-tidak..." Napasnya sudah terengah-engah. Dia menelan ludahnya sendiri untuk membasahi kerongkongannya. "Berpikir, Kaito..."
Kemudian, pikirannya seolah terbuka dan dia segera berlari menuju tempat itu.
Tempat parkir.
Kaito segera mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mencari warna biru kehijauan yang sudah amat dikenalnya dan warna pirang yang amat tidak disukainya.
Dan dia menemukannya, menemukan gadis berkuncir dua yang sedang memegang helm dengan muka memerah. Ekspresi Miku terlihat sangat sebal sementara Len tersenyum lebar dengan sorot mata lembut seperti yang selalu dilihat oleh Kaito ketika si pirang itu mengantar Miku pulang.
"Miku..." bisik Kaito pelan, dia tahu, suaranya tidak akan terdengar.
"Jadi, orang dewasa biasanya melakukan apa?"
"Umm..." Kaito memutar bola matanya dengan panik, mencoba mencari jawaban. "Seperti... bergandengan tangan dan... berciuman... kurasa..."
"Mesum! Jauhi adikku!"
"Bukan itu... umm... aku..." Wajah Kaito terasa memanas. "Aku ingin Miku bahagia. Aku ingin menjadi orang yang paling bisa membantunya. Aku ingin selalu melihat senyumnya. Bersama dengan Miku selalu membuatku senang. Makanya... aku... aku tidak ingin kehilangan Miku."
Napas Kaito terasa sesak. Rasa pedih di hatinya terasa semakin hebat.
"Hei, bocah bodoh," Mikuo menatapnya datar. "Sudah kubilang ya, kau itu bodoh sekali, tapi nggak kusangka kamu sebodoh ini!"
"Apa maksudmu, Mikuo-niisan? Berhenti memanggilku bodoh dan bodoh terus!"
Miku sama sekali tidak menolak ketika Len memasangkan helm untuknya.
"Kalau kau seperti ini terus, apa yang akan kuramalkan benar-benar akan terjadi lho!"
Kaito hanya diam memperhatikan saat sahabat karibnya itu duduk di atas motor sport.
"Tentang Miku yang diculik orang?"
"Bukan Mikunya, tapi hatinya."
"Nggak akan kubiarkan! Aku akan menjaga Miku supaya tidak ada yang bisa menculiknya!"
"Hemm..." Mikuo menganggukkan kepalanya. "Kita lihat saja bisa bertahan berapa lama."
"Len, aku benci padamu!" Kaito bisa mendengar Miku berkata.
"Ya, aku tahu itu dan aku tidak peduli tentang itu. Sekarang, pegangan pada pundakku."
"Nggak mau!"
"Tapi, walaupun begitu," Mikuo menatap Kaito lurus dengan senyuman tipis di bibirnya. "Ingatlah satu hal, bocah bodoh."
"Pegangan!"
Kaito menatap Mikuo dengan serius. "Apa?"
"Ketika Miku sendiri yang sudah memilih untuk menyerahkan hatinya, aku minta kau berhenti."
"Nggak mau! Aku nggak akan jatuh kok, tenang aja!"
"Berhenti untuk apa?"
Mikuo menatapnya dalam-dalam. "Berhenti untuk memberitahu perasaanmu padanya."
"Miku..." panggil Len.
Kaito melangkahkan kaki dan mengulurkan tangannya seolah dengan begitu, dia akan menggapai Miku disana.
"Dan biarkanlah dia bahagia."
Miku akhirnya menganggukkan kepalanya dan memegang pundak Len erat-erat.
"Tuh kan, lebih aman begini kan?" Len tersenyum lebar. "Jangan jatuh cinta padaku ya."
"Apaan sih?" Miku memutar bola matanya. "Aku benci padamu tahu!"
Namun, entah kenapa, kalimat terakhir Miku justru terdengar bagaikan pernyataan cinta bagi Kaito.
.
.
.bersambung
a.n.
akhirnya cuplikan ramalan lengkap Mikuo di Better Than You, Worse Than Me bisa kebuka sepenuhnya disini. hehe
tuh kan tuh kan, makin lama makin ribet kan, mau peluk Miku Kaito Len bertiga~
sejujurnya, akan ada banyak sekali cerita lepas dari cerita ini (sukaaa banget buat cerita yang lepas-lepasan, tapi bingung kapan waktu yang tepat buat dipublish)
kamu mau baca? kabarin aku yah enaknya dipublishnya kapan ;)
teruuus, kalau kamu ke toko buku, nemu novel yang judulnya Faith karangan Ca terbitan Grasindo dan menurut kamu itu menarik, di beli yah, jangan ragu-ragu karena nggak akan gigit kamu kok bukunya hehe ;)
dan lagi-lagi wisuda April di depan mata.. huff~ jadi terkenang masa sibuk-sibuknya LO-kakak unyuu tahun lalu (berjalan di samping dia pas wisudaan itu seriusan bakalan jadi momen yang nggak bisa dilupain sama sekali! seolah jadi PW padahal cuma jadi LO fufufu ;P)
silahkan yang ingin berkomentar mengenai cerita sejauh ini ;)
semua pendapatmu bakalan diterima kok
:2005-2012:
