Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
prof. creau : Iya, pamannya si Fon, dan berhubung sebagai hitman Fon sering berpindah-pindah, jadi mamanya si Hibari dan Miyuki bilangnya Fon petualang (mamanya bingung waktu anaknya nanya kerjaan pamannya si master beladiri itu, masa iya di bilang pamannya hitman?). Iya, itu sayap punya Miyuki. Adegan itut erinspirasi dari sikap tenang dan lembut Miyuki+Hibari yang nggak sabaran. Byanagkan kalo ada orang yang tahu dia di bilang mesum, mau ditaro di mana harga dirinya sebagai ketua komite kedisiplinanan plus karnivore Namimori? #ditonfa. Oke, makasih sudah mereview, kamu semangat juga ya baca cerita Sacchan di jam segitu~ Sacchan aja langsung tidur habis upload. Tenang saja, Sacchan akan memberimu oleh-oleh chapter Miyuki dan Ririn bertemu begitu pulang, oke? ;)
Hikage Natsuhimiko : Selamat Idul Fitri juga Hikage-san.#bales peluk. Selamat ya udah bisa log in~#naburin bunga di belakang Hikage. Ririn bukan warewolf kok, tapi emang imagenya si Miyuki jadi mirip vampire berhubung kakaknya, si Kyoya emang vampire karena dia suka 'menggigit' orang lain (dalam artian yang berbeda). Wah, Sacchan juga bilang 'kyaaa~' waktu bayangin si anak serigala-lebih mirip anak anjing- itu. Sebenernya nggak di kasih tau, cumin ada hint satu kalimat dari Ririn, Sacchan harap kamu bisa menebak orangnya~
Oke, Minna selamat membaca~
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Ririn Start to Move
.
.
.
Cavallone Mansion, Italia
Hari sudah beranjak sore, udara semakin dingin membuat sesosok manusia yang sedang tertidur di ruangan itu terbangun. Ririn membuka matanya perlahan merasakan udara dingin menusuk tubuhnya. Tubuhnya bergetar akibat udara luar yang masuk melalui satu-satunya jendela di ruangan itu.
"Dingin," gumam Ririn sambil berdiri dan menutup jendela dengan susah payah.
"Woof," Rin yang terbangun karena merasakan majikannya bergerak menatap Ririn dengan khawatir.
"Tidak apa-apa," Ririn mengangkat Rin dan memeluknya. "hangat," gumamnya sambil menempelkan Rin ke pipinya yang dibalas Rin dengan mengusapkan kepalanya.
Ririn lalu berjalan menuju lilin yang mengelilingi lingkaran-lingkaran itu dan memungutnya satu-persatu. Lingkaran serta simbol-simbol yang di gambar Ririn sebelumnya hilang tanpa jejak seakan memang tidak ada gambar apapun.
Selesai memungut lilin-lilin itu, Ririn memasukkan ke dalam kotak. Ririn berjalan menuju tengah-tangah lingkaran kecil yang sebelumnya ada di sana dan mengambil barang yang sekarang berkurang jumlahnya. Ririn mengambil tas rajutnya dan cermin miliknya.
Botol-botol, sarung tangan, dan gantungan kunci yang sebelumnya ada bersama cermin dan tas rajut itu hilang entah ke mana. Ririn mengambil tas rajutnya yang tidak begitu jauh berbeda seperti sebelumnya dan mengamati cerminnya.
Sekarang di bagian bawah cermin itu tergantung sebuah gantungan berbentuk serigala kecil yang menyatu dengan cermin itu sendiri. Ririn memasukkan cermin itu ke dalam tas miliknya dan berjalan keluar dari ruangan itu sambil membawa kotak berisi lilin.
Ririn berjalan memasuki kamarnya sambil berpegangan pada tembok. Darah yang dia keluarkan tadi malam terlalu banyak membuat tubuhnya lemas dan kepalanya pusing. Ririn meletakkan kotak itu di salah satu sudut kamar dan mengambil baju ganti lalu berjalan menuju kamar mandi membawa Rin.
Rin sempat memberontak, tetapi Ririn bersikeras membawanya mandi karena bulunya terkena darahnya. Akhirnya, dengan menggunakan handuk yang di basahi air hangat Ririn berhasil membersihkan darah di bulu Rin dan mengeringkan bulunya dengan hair dryer.
"Ririn mau mandi, tunggu ya,"
Ririn meletakkan Rin di atas pangkuan sebuah boneka beruang yang tingginya melebihi Ririn di salah satu sudut ruangan dan berjalan menuju kamar mandi.
Ririn mengisi bath tub hingga penuh. Sebelum masuk ke dalam air, Ririn mencuci tangannya untuk menghilangkan darah kering di tangannya. Dia memperhatikan telapak tangan kirinya yang sebelumnya terdapat luka menganga selebar lima senti sekarang hanya berupa goresan berwarna merah.
"Hmm, ternyata lebih lama dari biasanya,"
Ririn memasukkan serbuk mandi ke dalam bath tub dan masuk ke dalamnya, berusaha menghilangkan segala rasa lelahnya.
"Ririn harus cepat memulihkan tenaga," gumamnya sambil membasuh wajahnya dengan air.
Setelah selesai mandi dalam jangka waktu yang terbilang lama itu, dia keluar dari dalam bath tub dan memakai bajunya dengan cepat. Tubuhnya gemetar, bukan karena kedinginan, tetapi karena kepalanya yang terasa mengambang dan tubuhnya yang lemas.
Ririn keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan menuju dapur sambil memeluk Rin. Dia meminta tolong kepada koki untuk membuatkan makanan yang banyak mengandung zat besi untuknya. Begitu sampai di dapur dia sudah meminum dua gelas air untuk menghilangkan rasa hausnya setelah melafalkan mantera selama lebih dari lima jam tanpa henti.
"Ririn tidak apa-apa? Ini karena kamu jarang makan, makanya terkena anemia," ucap koki itu sambil memandang Ririn dengan khawatir. Wajah gadis itu terlihat sangat pucat. "kamu juga hanya sarapan kemarin dan hari ini aku yakin kamu belum makan apapun sedikitpun!" koki itu berkacak pinggang menatap Ririn.
"Maaf," gumam Ririn sambil menundukkan kepalanya. Sekarang gadis itu duduk di kursi yang ada di dapur itu.
"Kalau kamu mau main, itu tidak apa-apa, tapi kalau kamu tidak makan nanti kamu sakit dan Boss akan panik," ucap koki itu dengan lembut. "Dari mana saja kamu? Para maid sudah mencarimu di kamarmu, laboratorium, dan perpustakaan, tetapi tidak menemukanmu," koki itu bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari masakannya.
"Ririn memanggil Rin," jawab Ririn sambil mengangkat Rin yang sejak tadi ada di pangkauannya, memperlihatkannya pada koki.
"Anak anjing?" Koki itu menaikkan alisnya begitu membalikkan badannya dan melihat Rin.
Dia tidak melihat Rin sejak tadi karena begitu datang Ririn langsung duduk di kursi dan meminta air minum, Ririn meletakkan Rin di pangkuannya sehingga terhalang meja dan Koki itu tidak bisa melihatnya.
"Bukan, Rin serigala,"
Koki itu menatap Ririn dengan dahi berkerut. Koki itu cukup yakin bahwa itu adalah anjing sejenis Siberian Husky. Dia mengamati anjing itu dan menatap Ririn.
"Mana induknya?"
"Ririn mamanya,"
Perkataan Ririn membuat Koki itu tertawa. Sebenarnya, berhubung Ririn yang 'melahirkan' Rin, tidak salah dia menyebut Rin sebagai 'anak'nya.
"Baiklah, baiklah, kamu bisa menjadi mamanya" Koki itu memandang Ririn dengan senyum di wajahnya.
Ririn memang sering membawa binatang-binatang aneh setelah main di luar mansion. Dia pernah membawa kodok, kadal, dan serangga yang membuat maid berlarian karena takut yang pada akhirnya dibuang oleh bawahan Dino, bahkan membawa ular beracun entah-dari-mana-dia-mendapatkannya, yang membuat Dino panik.
Sejak saat itu Dino menyuruh maid atau siapapun mengawasi Ririn ketika bermain di luar mansion, tapi tetap saja gadis itu sering hilang dari pengawasan. Setidaknya saat ini dia membawa binatang yang normal.
"Jadi namanya Rin?"
"Um," Ririn menganggukkan kepalanya. "Ne, Ririn juga mau memberi Rin makan," Ririn meletakkan Rin di atas meja.
"Woof," Rin berdiri sambil menatap Koki. Ekornya bergoyang dan kepalanya dimiringkan.
"Baiklah," Koki itu mengambil dua mangkuk plastik.
Satu mangkuk dia isi dengan daging cincang dan satu lagi dengan susu. Koki itu meletakkan dua mangkok itu di salah satu sudut ruangan dan menurunkan Rin dari meja. Dia mengelus Rin yang dibalas dengan suara senang. Rin memakan makanannya dengan cepat.
"Baiklah, kurasa masakannya sudah matang. Sekarang giliranmu untuk makan,"
Koki itu meletakkan semangkuk sup krim bayam, dua potong roti gandum, sepotong ayam goreng, segelas jus jeruk dan segelas susu di hadapan Ririn.
"Terima kasih," ucap Ririn yang dibalas dengan senyuman oleh Koki.
Awalnya Ririn tidak yakin dapat menghabiskan makanan itu mengingat porsi makannya yang biasa, tapi ternyata dia berhasil menghabiskan semua makanannya, yang membuat Kokinya senang mengingat nonanya biasanya hanya makan sedikit. Tpi hal itu juga membuat Ririn sadar besarnya tenaganya yang terkuras setelah melakukan 'ritual'.
"Masakan yang enak seperti biasa," ucap Ririn setelah menghabiskan semua makanan di meja.
Koki itu tersenyum senang mendengar komentar Ririn. Walaupun Ririn mengucapkannya dengan wajah datar, tapi Koki itu tahu bahwa nonanya selalu berkata dengan jujur. Setelah selesai makan, Ririn membawa Rin kembali ke kamarnya.
Keadaannya sudah lebih baik dari sebelumnya. Tubuhnya masih terasa sedikit lemas, tapi setidaknya gemetarnya sudah berhenti dan tubuhnya tidak lagi menggigil kedinginan. Dia cukup beruntung karena Dino selalu menyalakan pemanas di seluruh ruangan karena Ririn sangat tidak tahan dingin.
"Sayang sekali, padahal Ririn ingin segera ke tempat itu, sepertinya Ririn masih harus beristirahat untuk malam ini," ucapnya sambil menatap bulan sabit di luar.
Ririn mengambil tasnya dan mengeluarkan cerminnya, memeluk Rin dan mengarahkan cerminnya ke bulan. Ririn mengambil kursi dan duduk di dekat jendela sambil mengarahkan cerminnya ke bulan. Ririn sendiri memejamkan matanya sambil memeluk Rin. Tubuh mereka dan cermin itu diselimuti cahaya tipis.
"Uuung," Rin mengangkat kepalanya menatap Ririn.
"Kita tidak punya tenaga lagi, selagi ada bulan, kita harus mengisi tenaga walau sedikit," Ririn mengelus kepala Rin yang duduk di pangkuannya.
Ririn lalu berjalan ke arah kasur dan menarik selimut dan bantalnya dan membawanya ke depan jendela.
"Kita akan tidur di sini agar kekuatan kita cepat pulih," ucap Ririn sambil mengatur bantal-bantal dan selimut itu di bawah jendela.
Ririn tidur sambil memeluk Rin dan cerminnya, menatap bulan yang menerangi mereka.
"Sekarang Ririn tidak akan pernah sendirian lagi," ucapnya sambil memeluk Rin.
"Woof!" Rin seakan menyetujui ucapan Ririn menggoyangkan ekornya dengan senang.
XXXXX
Ririn bangun saat hari sudah siang dan cahaya matahari terlalu menyilaukan matanya. Ririn dengan cepat mandi, makan dan berjalan ke laboratoriumnya. Setelah selesai membuat beberapa ramuan, Ririn memasukkan semua bahan, peralatan dan ramuannya ke dalam tas rajutnya.
Untuk ukuran tas rajutnya yang sedang, banyaknya barang-barang yang dimasukkan Ririn sebenarnya tidak cocok tetapi entah kenapa tas itu tetap terlihat datar seakan isinya hanya dua buku tipis. Ririn baru menyelesaikan semua kegiatannya saat hari menjelang malam.
Berbekal beberapa potong sandwich dan dua botol air mineral, Ririn pergi ke tempat yang di tujunya. Tidak ingin ada orang yang mengetahui tujuannya, Ririn menggunakan pintu belakang untuk pergi.
Dia mengenakan baju yang sama seperti yang dia pakai saat meninggalkan Giglio Nero Mansion. Mantel abu-abu panjang selutut dengan hoodie, celana panjang hitam, kaus lengan panjang sepaha dan tas rajut abu-abu. Dia meminum sebutir pil berwarna merah sebelum melanjutkan perjalanannya.
"Uuung,"
"Tenang saja, aku tahu. Tapi, kalau aku tidak meminum obat ini, aku tidak kuat terhadap udara dingin di sini," Ririn menatap Rin yang berada di pelukannya, menatapnya khawatir dengan mata lembut.
Ririn tentu saja tahu setiap obat yang dia buat memiliki efek samping, tidak terkecuali obat yang akhir-akhir ini sering diminumnya. Ririn menatap langit yang sayangnya tidak terlihat bulan. Beberapa saat yang lalu Ririn melihat ada bulan sabit. Sepertinya awan menutupi bulan itu.
Ririn berjalan memasuki hutan dan berjalan selama beberapa jam tanpa henti. Setelah beberapa kali mencoba melakukan warp jarak pendek ketika ada bulan, Ririn akhirnya bernapas lega mereka telah mencapai setidaknya setengah dari perjalanan.
Ririn sedang duduk di bawah salah satu pohon, baru saja selesai memakan sandwichnya dan meminum air mineralnya ketika mendengar suara ribut dan seruan-seruan menuju ke arahnya.
"Tunggu! Cepat, kejar dia!"
"Waaa!"
Seorang anak laki-laki yang kelihatannya lebih muda dari Ririn, tetapi lebih tinggi darinya berlari di kejar lima orang lelaki berbaju hitam. Anak itu berambut cokelat dan memakai syal bergaris. Salah seorang dari kelima laki-laki itu menembak anak itu, salah satu tembakannya menggores kaki anak itu dan membuatnya terjatuh.
"Fuuta de la Stella, kami membutuhkan buku yang kau bawa," ucap salah satu laki-laki sambil menyeringai, berjalan perlahan mendekati Fuuta.
"Kalian tidak malu bergerombol mengejar seseorang yang jauh lebih muda dari kalian menggunakan senjata?"
Ririn tiba-tiba muncul dan berdiri di depan Fuuta. Di sebelah Ririn berdiri Rin yang menyalak dengan keras kepada mereka. Rin menatap mereka sambil menggeram.
"Gadis manis, sepertinya bukan posisimu untuk bicara seperti itu," laki-laki yang tadi berhasil menembak Fuuta dan berjalan mengghampirinya memandang Ririn sambil tersenyum meremehkan.
"Hei, pergi dari sini, kamu bisa terluka!" Fuuta berseru pada Ririn yang berdiri di hadapannya.
"Itu benar, dengarkan perkataannya dan pergilah dari sini dengan tenang," ucap salah satu laki-laki yang berdiri di belakang laki-laki pertama.
Ririn tidak mengatakan apapun dan mengeluarkan beberapa bola berwarna ungu dan biru dari dalam tasnya dan melemparkannya ke arah empat orang itu. Dalam sekejap bola yang di lemparkan Ririn meledak, menghasilkan asap berwarna ungu dan biru.
"Ukh, Apa yang kamu lakukan? Hei, kalian tidak apa-apa?" laki-laki yang tidak terkena asap itu berdiri di tempatnya, berusaha memanggil teman-temannya.
"Percuma, mereka tidak sadarkan diri. Aku baru saja melemparkan bom tidur dan pelumpuh, begitu mereka menghirup asap itu sedikit saja, mereka akan langsung tidak sadarkan diri dan tiidak bisa bergerak," ucap Ririn dengan wajah tanpa ekspresinya.
"Kurang ajar!" laki-laki itu menembakkan pistolnya kepada Ririn.
"Riflessa," Ririn mengangkat cermin yang di pegangnya ke depan dada. Mata dan tubuhnya bercahaya kekuningan walau tipis.
Seketika peluru-peluru yang tadi ditembakkan kepadanya memantul dan berbalik arah mengenai laki-laki yang tadi menembaknya. Cahaya yang ada di mata dan tubuh Ririn menghilang seketika. Begitu laki-laki itu terjatuh, Ririn mendekatinya, menendang pistolnya dan menaburkan serbuk berwarna biru dan ungu ke mulut dan hidungnya. Laki-laki itu pingsan seketika.
"Dengan begini mereka tidak akan bisa bergerak untuk beberapa jam ke depan," ucapnya sambil menghampiri Fuuta. "Kamu tidak apa-apa?" Ririn berlutut di depan Fuuta yang menatapnya dengan kagum.
"Tidak apa-apa, aku hanya tergores. Terima kasih sudah menolongku," Fuuta menatap Ririn sambil tersenyum.
"Tidak masalah, Master bilang kita harus menolong orang yang kesulitan," ucap Ririn sambil mengeluarkan kapas, perban, plester, obat merah dan alkohol.
Ririn menatap barang-barang yang dikeluarkannya dengan bingung. Bagaimana cara merawat orang menggunakan benda-benda ini? Mengingat lukanya yang selalu sembuh dengan sendirinya karena darah yang mengalir di tubuhnya, Ririn hanya bisa menatap benda-benda itu dengan bingung. Lagi pula dia membawa barang itu hanya untuk berjaga-jaga, tidak pernah dia memikirkan untuk memakainya.
"Ririn tidak mengerti memakai ini, kamu bisa pakai sendiri?" Ririn memberikan barang yang diambilnya dari tasnya kepada Fuuta.
"Ah, bisa. Terima kasih," Fuuta menerima benda-benda itu dan mulai membersihkan lukanya.
"Orang-orang itu akan terbangun beberapa jam lagi, kamu mempunyai waktu untuk kabur. Ini, Ririn berikan sedikit bom asap tadi untukmu melindungi diri. Mau kamu bunuh atau kamu apakan mereka terserah padamu, Ririn tidak peduli. Ririn harus pergi sekarang," ucap Ririn sambil memberikan tiga bola ungu dan tiga bola biru lalu berdiri dan berjalan meninggalkan Fuuta dengan cepat.
"Tunggu, bagaimana dengan obat-obat ini!" Fuuta memanggil Ririn yang sudah mulai menjauh.
"Simpan saja, Ririn tidak membutuhkannya," ucap Ririn tanpa menghentikan jalannya.
"Terima kasih sudah menolongku!" kali ini Fuuta berteriak lebih keras karena Ririn hampir tidak terlihat. Samar-samar dia mendengar 'sama-sama'.
Begitu Ririn menghilang dari pandangannya, Fuuta berdiri dan mengeluarkan sebuah buku yang sangat besar dari kantungnya yang-entah-bagaimana-dapat-muat walau kantungnya jauh lebih kecil dari buku itu.
Daun-daun yang berguguran, ranting, batu, dan benda di sekitarnya melayang untuk sesaat. Tubuhny melayang dan kakinya tidak menyentuh tanah. Matanya kosong. Hanya untuk beberapa detik. Setelah itu dia kembali berdiri dan benda di sekitarnya kembali jatuh ke tanah.
"Ranking Planet tidak bisa menemuka data tentangnya. Ada gelombang yang mengacaukan tentang dirinya. Siapa gadis itu?" Fuuta bergumam dengan dahi berkerut.
XXXXX
Ririn melihat sebuah mansion megah yang mirip istana tidak jauh dari tempatnya berdiri. Mansion itu sangat besar, tetapi terlihat sedikit suram dan dikelilingi aura gelap. Hutan yang mengelilingi mansion itu tidak membuat mansion itu terlihat semakin baik. Mansion itu lebih mirip seperti mansion berhantu karena cahaya matahari terhalang oleh pohon-pohon dari hutan itu.
Berkali-kali dia hanya bisa melakukan short warp karena kekuatannya terkuras beberapa hari yang lalu akibat ritual yang dilakukannya. Beruntung dia bisa memakai kekuatan bulan sabit walaupun hanya sedikit sebelum matahari terbit.
Beberapa kali dia mencoba membuat ilusi bulan purnama dengan kekuatannya, tetapi kekuatannya terlalu lemah, hingga dia hanya menggunakannya untuk berpindah tempat jarak pendek.
"Akhirnya, kita sampai. Kalau begini aku bisa pergi ke sana," gumam Ririn sambil duduk di bawah sebuah pohon besar, kelelahan karena memaksa memakai warp walaupun kekuatannya sudah habis, sekaligus karena perjalanan berjam-jam.
"Woof," Rin menjilati wajah Ririn, berusaha menghilangkan sedikit rasa lelahnya.
"Terima kasih, Ririn hanya kelelahan. Begitu rasa lelah Ririn hilang, kita pergi ke mansion itu," Ririn mengelus Rin yang dibalas dengan gonggongan senang.
DRRT
Ririn meraih kantong celananya dan melihat layar ponselnya. Ada telepon dari kakaknya.
"RIRIN~"
Sudah mengantisipasi teriakan Dino, Ririn mengangkat ponselnya jauh dari telinga. Setelah itu dia mengangkat ponsel di depan wajahnya, sangat yakin dia dapat mendengar suara kakaknya dengan amat sangat jelas walaupun tanpa menempelkan ponselnya ke telinga.
"Ya, Kak," jawabnya.
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik,"
"Kakak kangen padamu~,"
"Ya,"
"Ririn, cobalah katakan sesuatu, kamu tidak pernah berbicara apapun saat aku menelponmu," Dino berbicara dengan suara sedih.
"Apa?"
"Apapun?"
"…."
"Ririn?"
"Ya?"
"Kenapa kamu malah diam?"
"Ririn tidak bisa memikirkan apapun yang ingin Ririn bicarakan,"
"Hhh, sudahlah, kamu memang bukan tipe yang banyak bicara. Ririn, kakak kangen padamu, tapi tenang saja, tidak lama lagi aku bisa kembali ke Italia,"
"Kakak,"
"Ya?"
"Ririn mau ketemu Kakak,"
"…."
5 menit kemudian…
"?"
Ririn memandangi teleponnya dengan dahi berkerut. Kenapa jadi tidak ada suaranya? Dia memeriksa layar ponselnya. Masih tersambung. Apakah rusak? Dia mendekatkan telinganya ke ponsel itu hanya untuk menjauhkannya sedetik kemudian.
"ROMARIO, KAU DENGAR? RIRIN MAU BERTEMU DENGANKU! DIA KANGEN PADAKU!"
Ririn menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
"Boss, tenang! Tolong berhenti berteriak saat menelepon Nona, anda tidak kasihan dengan indera pendengaran Nona yang terancam mengalami kerusakan?"
Ririn menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Romario. Sepertinya dirinya memang terancam harus pergi ke THT jika kakaknya masih berbicara di telepon dengan suara seperti itu. Ririn masih bisa mendengar suara kakaknya yang terdengar senang dan Romario yang berusaha membuat kakaknya tenang.
"Kak?"
"Ya?" Dino langsung menjawab dengan cepat.
"Tolong katakan pada Romario untuk berhenti memanggilku 'Nona',"
Samar-samar dia mendengar Romario menghela napas dan berkata 'baiklah, Ririn'. Terkadang Ririn heran dengannya karena dia masih memanggil Ririn dengan Nona. Mungkin lupa, mungkin kebiasaan, tetapi saat ini hanya Romario satu-satunya yang terkadang masih memanggilnya dengan sebuatan 'Nona'. Seluruh maid dan bawahan Dino dan orang-orang di Millefiore memanggilnya Ririn.
"Ririn~ tenang saja, aku akan segera kembali secepatnya dan bertemu denganmu~," Dino berbicara dengan suara riang.
"Tidak. Ririn akan ketemu Kakak hari ini juga,"
PIP
Dan dengan satu kalimat itu, Ririn mematikan ponselnya. Dia menatap layar ponselnya sesaat sebelum memasukkannya ke dalam kantung celananya.
"Baiklah, waktunya kita pergi,"
"Woof!"
Ririn berdiri sambil memeluk Rin dan berjalan menuju mansion besar di hadapannya.
Sementara itu Dino…
"Romario, siapkan pesawat sekarang juga! Aku harus kembali ke Italia!" Dino dengan antusias mengguncangkan bahu Romario.
"Boss, itu tidak mungkin, pekerjaan anda masih sangat banyak," Romario menunjuk meja kerja Dino yang penuh dengan setumpuk kertas dengan wajah bersalah. Tugas-tugas Dino telah di alihkan ke Jepang.
"Tapi Ririn bilang ingin bertemu denganku!"
"Boss, tolong anda kerjakan pekerjaan anda,"
"Tunggu, Romario!"
"Maaf, tapi anda memiliki janji dengan Hibari-san untuk bertarung dengannya sore ini, dan saya tidak mau mendengar alasan anda nanti jika pekerjaan ini tidak selesai tepat waktu,"
Romario sambil menggumamkan 'maaf' kepada Bossnya menariknya paksa menuju meja untuk mengerjakan tugasnya yang sempat terabaikan. Sementara itu, Dino mengerjakan tugasnya dengan wajah sedih dan menggumamkan 'Ririn, Ririn' berkali-kali yang membuat tangan kanannya itu menghela napas menanggapi sister-complex Bossnya.
XXXXX
Suatu tempat di Italia….
"Bodoh kalian semua! Menangkap seorang bocah saja tidak bisa!"
Seorang laki-laki paruh baya berkumis memarahi lima anak buahnya yang berpakaian hitam di hadapannya. Salah seorang di antara mereka memiliki beberapa luka tembak.
"Tapi Boss, kami bertemu dengan anak yang di cari oleh 'orang itu'," ucap salah satu dari bawahannya.
"Ceritakan," Laki-laki paruh baya itu meletekkan rokok di mulutnya dan menyalakannya, menatap anak buahnya dengan alis terangkat.
"Anak perempuan berambut hitam bergelombang, bermata silver dan membawa cermin," ucap bawahannya yang terkena beberapa luka tembak.
"Bodoh! Anak seperti itu juga banyak!" bentak bossnya.
"Tapi anak itu memakai kekuatan aneh! Dia memantulkan seluruh peluru yang saya tembakkan menggunakan cerminnya, tubuhnya juga di kelilingi cahaya kekuningan!"
"Begitukah? Sepertinya 'orang itu' tidak menceritakan apapun tentang hal itu. Baiklah, hubungi 'orang itu', kita akan membicarakan hal ini," perintah Laki-laki paruh baya itu.
Kelima anak buahnya pergi dari tempat itu. Laki-laki itu berjalan menuju jendela ruang kerjanya dan menatap luar.
"Kalau benar anak itu anak yang kamu cari, keinginan kita bisa tercapai," gumam Laki-laki itu sambil tersenyum licik.
Di tempat lain…
"Apa? Di Italia?" seorang pria berusia awal tiga puluhan baru selesai mandi ketika ponselnya berdering. Dia duduk di sofa kamarnya sambil mengeringkan rambutnya.
"Begitu? Tidak salah lagi itu dia. Kerahkan tim pencari untuk mencari anak itu di seluruh Italia!" ucap pria itu setelah mendengarkan penjelasan dari orang di seberang telepon. Dia mematikan ponselnya dan berjalan mendekati jendela, memandang langit biru.
"Cermin bulan dan cahaya di tubuhnya. Kekuatan bulan miliknya sudah bangkit. Dia benar-benar anakmu Amel!"
"Beberapa tahun yang lalu, aku memang tidak sengaja membiarkannya dibawa oleh mafia-mafia itu. Ternyata menyerang mafia lemah itu tidak ada salahnya walaupun tidak berhasil mendapatkan keberadaan tentang dirinya. Pada akhirnya, di akan kembali padaku," Pria itu tersenyum licik.
"Karin, boneka kecilku yang manis, aku akan mendapatkanmu dan kekuatanmu kembali. Sumber ke abadianku!" Pria itu tertawa jahat dengan kencang.
Continue…
XXXXX
Riflessa : pantulkan
Ne, Hikage-san, apakah kamu bisa menebak Master Ririn dari kata-katanya pada Fuuta sebelumnya? Seorang yang sangat bijak yang ada di KHR!
Readers untuk penggemar Miyuki, chapter ini Miyuki nggak muncul dan berfokus ke Ririn, tolong jangan kecewa ya karena Miyuki akan muncul di chapter depan.
Untuk chapter selanjutnya kalo nggak malam ini Sacchan akan update besok pagi sebelum pergi. Sacchan akan usahakan malam ini jika tidak ada halangan karena kemungkinan besok pagi tidak akan keburu mengingat Sacchan harus pergi pagi-pagi sekali.
Minna mind to R&R?
