"Yoochun-ah! Bisa minta bantuanmu?", tanya Yesung saat Yoochun akan kembali ke kamarnya setelah ia membantu Jaejoong seonsaengnim di ruangannya.
"Boleh saja, seonsaengnim! Tapi seperti biasa ya!", tawar Yoochun yang sudah diketahui oleh semua orang sebagai permintaan atas imbalan jasanya.
"Tentu saja.", jawab Yesung dengan wajah datarnya. "Darimana kau tadi?", tanya Yesung sambil menatap gelas plastik berisi milkshake yang ada di genggaman Yoochun.
SLUUUURP! Yoochun menyeruput es jeruknya di genggaman tangan yang satunya. "Aku baru saja membantu Jaejoong saeonsaengnim. Sebagai imbalannya, ia memberikan aku ini. Aku tidak suka milkshake strawberry, jadi aku bawa saja. Mungkin saja Sungmin akan suka.", jelas Yoochun, menghabiskan segelas es jeruknya.
"Oh begitu. Aku pikir kamu akan memberikannya padaku.", ujar Yesung melangkah ke dalam ruangannya.
Yoochun hampir saja tersedak setelah mendengar kata-kata sang guru. Walaupun namja berjidat lebar ini sudah biasa dengan sikap unik Yesung, tetap saja ia sering merasa aneh dengan celetukan tak terduga namja sipit itu. "Hahahaha… Enak saja! Ini untuk Sungmin. Jaejoong seonsaengnim memberikannya untuk roommate-ku."
Yesung mengeluarkan Ddangkoma dari akuarium kacanya. "Ddangko, jangan nakal ya. Kamu boleh main di luar sini. Lakukan apa yang kamu pikir baik.", nasihat Yesung pada 'anak' tertuanya. Hewan bercangkang keras itu hanya diam, tak memberikan respon.
Yoochun meletakkan gelas strawberry milkshake itu di atas meja, lalu ia mendekati Yesung untuk memberikan bantuan. Yesung asyik membedah hewan bersisik di depannya, ular phyton sepanjang sepuluh meter. Yoochun memandang ragu apa yang dilihatnya saat ini. Masa iya, dia harus ikut membedah ular itu, apalagi di diminta untuk membersihkan organ dalam hewan itu. Euh, ini mengerikan. Namja berjidat lebar itu semakin heran dengan Yesung yang sesekali terkekeh senang saat pisau bedah menyentuh bagian-bagian vital ulat phyton itu.
"Kau mengerikan, seonsaengnim. Aku takjub padamu.", puji Yoochun yang lebih terdengar seperti cibiran kepada Yesung.
Yesung hanya mengangguk beberapa kali. "Daripada kamu diam saja, lebih baik kamu ikut membedah dia. Aku ini menyelesaikan ini secepatnya.", pinta Yesung dingin. Namja itu ingin memamerkan koleksi organ dalam miliknya ke para siswa di sekolah dalam pelajaran biologi.
"Ba-baiklah!", jawab Yoochun ragu.
Tanpa kedua namja itu sadari, hewan kesayangan Yesung berpredikat anak tertua sedang asyik menjelajah ruangan Yesung yang nampak seperti lab itu. Ddangkoma naik ke atas rak berisi ramuan-ramuan penting. Kakinya yang kecil, membantunya melangkah dengan sangat lambat. SREEEEEK! Tes! Tes! Tes! Tubuh besar Ddangko menyenggol salah satu tabung reaksi, membuatnya terguling ke ujung rak. Isi tabung reaksi itu jatuh, menetes ke dalam gelas milkshake Yoochun yang terletak di bawah rak.
"Ups! Jatuh! Sudahlah. Sepertinya cairan ini bukan racun. Hehehe…", kekeh Ddangkoma pelan. Kura-kura itu melangkah pergi dari kekacauan yang sudah ia buat. Benar-benar tidak bertanggungjawab.
"Seonsaengnim, apa yang bisa saya bantu lagi?", tanya Yoochun setelah merapikan sisa pembedahan ular besar itu.
Yesung tidak menjawab. Dia memandang kagun ke dalam toples besar berisi ular phyton yang sudah diformalin. Di sebelah toples itu ada toples lain yang berisi organ-organ dalam sang ular, tanpa diformalin. Yesung sangat senang karena ia memiliki banyak bahan untuk ramuannya yang lain.
Yoochun menepuk bahu Yesung untuk mendapatkan perhatian namja sipit itu. "Seonsaengnim?", panggil namja berjidat lebar itu.
"Sudah sana pergi! Upahmu akan aku bayar seperti biasanya.", usir Yesung sambil mengibas-ibaskan tangannya tanpa melihat ke arah sang siswa.
Yoochun mendengus kesal. Ia melangkah pergi dari ruangan itu, tak lupa membawa milkshake-nya. Sesampainya di kamar 388C, Yoochun bergegas ke kamar mandi. Ia merasa tubuhnya lengket dan bayang-bayang ular phyton terkuliti itu menghantuinya. Bulu kuduknya merinding jika mengingat seonsaengnimnya membedah ular besar itu tanpa rasa takut.
"Hei, Sungmin. Kau sudah pulang?", tanya Yoochun yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Namja berjidat lebar itu mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia kaget melihat Sungmin yang baru saja pulang—entah darimana, bukan urusannya juga.
"Ini minuman siapa?", tanya Sungmin tak menjawab pertanyaan Yoochun.
Yoochun meletakkan handuknya sembarang di atas ranjangnya. "Oh itu! Itu untukmu. Minum saja!".
"Terima kasih.", balas Sungmin. Tanpa sungkan-sungkan ia meneguk minuman itu sampai habis tak bersisa. "Enak sekali. Strawberry milkshake is the best. Kamu beli dimana, Chun?".
Yoochun merebahkan tubuhnya. "Oh, itu pemberian Jaejoong Seonsaengnim.", jawab Yoochun enteng.
.
Yuya Matsumoto
_Proudly Present_
Sungmin's Mystery Of Life
[ SMOL ]
Chapter 13: Runaway
.
.
\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9
.
.
"Jangan pernah keluar dari kastil ini. Kamu masih terlalu muda untuk menghadapi pertempuran besar yang mungkin akan terjadi saat mereka mengetahui keberadaanmu.". Kata-kata pendiri International High School Of Lunar masih teringat jelas dalam kepala yeoja manis itu. "Patuhi permintaan kami, maka semua akan baik-baik saja.".
Yeoja manis itu mendengus kesal. Ia menumpu wajahnya dengan kedua tangan di atas pahanya. Lee Taemin—yeoja manis—memandang langit di luar kastil dengan gelisah. Hidup di dalam kastil tua selama hampir dua puluh tahun membuatnya bosan. Ia ingin menghirup udara segar, melihat perkembangan dunia.
Taemin tersenyum bahagia kala ingatannya berputar pada peristiwa sebulan yang lalu. Seorang pemuda masuk ke dalam kastil itu. Wajahnya sangat tampan, mengingatkannya pada mantan kekasihnya. Choi Minho, yang sekarang masih mendekam dalam ruang antar dimensi. Taemin sangat yakin, pemuda itu adalah anaknya yang dulu ia lahirkan dengan memperjuangkan nyawanya. Seorang anak yang sudah dipisahkan dari dirinya sejak lahir. Taemin ingin bertemu.
Yunho sedang sibuk di ruang bawah tanah, mencari petunjuk lain untuk membebaskan Minho. Taemin hanya berdua dengan Minho, yang tentu saja tidak akan bisa menghalanginya untuk pergi dari sana. Taemin menyeringai. Sebuah ide terlintas di dalam otaknya.
"Di difesa del corpo.", ucapnya memantrai dirinya agar tubuhnya bisa bertahan dalam segala bentuk ancaman, terutama dari selubung kastil itu.
BEEEEES! Taemin keluar dari selubung kasat mata itu. Tubuhnya tak terluka. Tidak ada satupun kejanggalan yang ia rasakan. Taemin menjerit senang. "Hahahaha… Untung saja aku masih mengingat beberapa mantra yang diajarkan appa.".
Taemin melihat ke belakangnya, hanya ada semak-semak tanpa bangunan tinggi membentuk kastil. Ia tersenyum. "Oh, ternyata ini yang membuat orang-orang tidak bisa masuk ke kastilku.", ujar Taemin berpendapat. Ia tidak ingin berlama-lama berada di daerah itu. Lucu sekali, jika ia ketahuan kabur sebelum iya menemukan Kyuhyun, bukan?
.
.
(O_O!)
.
.
"Kenapa kita sering sekali ke taman ini?", tanya Sungmin yang menyandari di sebuah batang pohon di taman belakang sekolah.
"Karena di sini kita bisa berduaan, tanpa ada yang mengganggu.", jawab Kyuhyun datar, masih sibuk dengan buku yang ia baca.
Sejak pagi dua sejoli ini asyik bermalas-malasan di tempat favorit mereka, taman belakang. Suasana taman ini memang asri dan jauh dari keramaian. Banyak bunga, pohon rimbun dan bangku-bangku taman. Tak banyak yang tahu tempat ini, karena letaknya jauh dari mana pun. Siswa di sekolah ini seringkali malas berjalan dari asrama ke kelas mereka, karena letak yang sangat jauh, apalagi hanya untuk bermain-main di taman yang letaknya lebih jauh lagi. Hal ini bukan jadi penghalang untuk KyuMin. Justru keduanya senang, karena privasi mereka terjaga dengan baik.
Sungmin mengerucutkan bibirnya sebal. Sudah dua jam mereka duduk di bawah pohon itu, tapi Kyuhyun hanya asyik dengan buku di tangannya. Apakah buku itu lebih seksi dari Sungminnya? "Kyuuu~", rajuk Sungmin berusaha mencari perhatian sang namja. Sungmin mengapit lengan Kyuhyun, menyandarkan kepalanya di bahu Kyuhyun.
"Hmm…", gumam Kyuhyun, tak tergoda dengan sikap Sungmin.
Cup! Sungmin mencium pipi Kyuhyun. "Apa buku itu lebih seksi daripadaku, hmm?", bisik Sungmin dengan desahan di akhir katanya. Namja manis itu juga meniup leher Kyuhyun pelan.
Kyuhyun merasakan sensasi aneh di tengkuknya yang tanpa henti ditiup oleh Sungmin. Bulu kuduknya berdiri. Namja itu mulai terangsang oleh sikap manja Sungmin. PLUK! Kyuhyun meletakkan bukunya di tanah. Ia menatap Sungmin. "Kenapa jadi manja begini?", tanya Kyuhyun sedikit bingung dengan perubahan sikap Sungmin.
Sungmin mengerucutkan bibirnya. "Mollayo. Aku hanya ingin dimanja saja.", jawab Sungmin pelan.
Kyuhyun merengkuh tubuh Sungmin. Keduanya saling berpelukan dari samping. "Min, seandainya kamu benar-benar hamil, apa kamu senang?".
Sungmin mendongakkan kepalanya, menatap ke dalam mata obsidian Kyuhyun. "Tentu saja. Aku pasti akan senang memiliki anak darimu, Kyu.".
Kyuhyun mengelus pipi Sungmin. "Bagaimana kalau kita mencoba peruntungan lagi, Min? Aku ingin sekali memiliki aegya bersamamu, chagi. Mau, ya?", mohon Kyuhyun.
Sungmin menjauhkan tubuhnya dari Kyuhyun. Ia cemberut. "Tidak ada cara lebih romantis untuk memintaku melakukan 'itu' lagi denganmu, Kyu?".
Kyuhyun tersenyum jahil. "Hahahaha… Aku hanya bercanda. Sudahlah kalau kamu tidak mau.", kata Kyuhyun kecewa. Ia mengambil lagi bukunya.
SREEEET! Sungmin menarik kepala Kyuhyun. Namja manis itu melumat bibir Kyuhyun. Ia tidak ingin membuat Kyuhyun sedih. Sungmin sadar Kyuhyun sudah banyak memberikan cinta untuknya. Rasanya tidak adil bukan kalau ia terus saja menyakiti namja tampan itu?
Suara kecipak terdengar nyaring. Kyuhyun dan Sungmin saling berperang lidah, tidak ada yang mau mengalah. Tangan Sungmin meremas rambut Kyuhyun, menariknya untuk memperdalam ciuman mereka. Tangan Kyuhyun mulai meraba dada Sungmin yang masih terbungkus kemeja.
DUUUUG! Seseorang memukul kepala Kyuhyun dengan keras. Namja tampan itu meringis kesakitan, menyebabkan ciumannya terlepas dari sang kekasih. Sungmin membersihkan sisa saliva yang tersisa di pinggir dagunya. Kyuhyun mengaduh keras saat seorang yeoja menarik telinganya tanpa ampun.
"Apa yang kamu lakukan? Kalian ingin melakukan sesuatu di luar batas?", marah yeoja bernama Taemin itu. Ia melepaskan tangannya dari Kyuhyun.
Kyuhyun menatap calang ke arah Taemin. "Siapa kau? Seenak-enaknya melarangku menyentuhnya! Dia itu kekasihku.". Perlukah kamu menyebutkan Sungmin sebagai kekasihmu kepada semua orang, Kyu?
PLAAAK! Taemin memukul kepala Kyuhyun, membuat Sungmin meringis. "Aaaw… Pasti sakit tuh.", katanya pelan.
"Tidak sopan. Aku ini eomma -mu. Bersikaplah sopan padaku.", marah Taemin sambil bersedekap. Kyuhyun dan Sungmin melotot kaget, mendengar penuturan yeoja itu.
"Yeah! Berharap saja sana! Aku tetap bukan anakmu. Aku ini anak keluarga Cho. Eomma-ku ada di Incheon. Dasar kau pembohong!", bantah Kyuhyun menjauh dari Taemin.
Yeoja itu menangis. Hatinya sakit saat anak satu-satunya yang selama ini ia rindukan justru menolak dirinya. GREEEEP! Taemin memeluk Kyuhyun dengan posesif. "Aku ini eomma kandungmu, nak. Jangan bersikap seperti ini kepadaku.", tangisnya pilu, membasahi kemeja bagian dada milik Kyuhyun.
Kyuhyun memandang Sungmin dengan tatapan aneh. Ia sungguh tak mengenal yeoja itu. Bukannya membantu Kyuhyun, Sungmin justru mengerucutkan bibirnya sebal. Ia merasa cemburu kekasihnya dipeluk oleh orang lain, yeoja pula. Namja manis itu melangkah pergi dari hadapan Kyuhyun yang masih ada di pelukan Taemin.
"Ya! Minnie!", panggil Kyuhyun saat Sungmin sudah pergi. Kyuhyun melepas pelukan Taemin dengan kasar. "Diam kau! Aku tidak pernah mengenalmu. Kamu bukan ibuku. Sampai kapanpun!", ujar Kyuhyun setengah berteriak. Namja itu berlari mengejar Sungmin yang sudah menghilang di koridor.
.
\(^w^)/…::YuyaLoveSungmin::…\(^0^)9
.
.
"Agassi, siang ini mau makan apa?", tawar Yunho saat masuk ke dalam kamar agassi-nya. Ia melihat ke sekeliling ruangan kosong itu. Perasaan buruk menyerbunya. "Jangan-jangan…".
Leeteuk terlonjak kaget saat Yunho memanggilnya lagi lewat layar LCD di atas meja kerjanya. Jika waktu itu ruangan Leeteuk dalam keadaan kosong, sehingga Yunho harus berteriak sangat lantang, sekarang Leeteuk sedang berada di depan meja itu. Teriakan Yunho membuatnya hampir mati berdiri.
"Ya! Jangan berteriak!", jerit Leeteuk kesal.
Yunho terkekeh pelan, merasa sedikit bersalah. "Tolong bantu aku mencari agassi. Ia kabur dari dalam kastil.".
Leeteuk mengalihkan pandangannya dari tumpukan pekerjaan di depannya ke layar monitor itu. "Bagaimana bisa? Kita sudah menyelubungi kastil itu dengan mantra. Seharusnya ia sedang terluka dan tidak mampu menembusnya!".
"Sepertinya agassi menggunakan mantra pertahanan. Aku tidak bisa mencarinya. Minho harus tetap dijaga.", kata Yunho beralasan.
Leeteuk menghela napas panjang. "Baiklah. Aku akan meminta bantuan Kangin. Semoga agassi tidak melakukan hal bodoh dan penyusup itu tidak menyadarinya.", doa Leeteuk sebelum Yunho mengakhiri laporannya. Layar monitor itu mati seketika, meninggalkan Leeteuk yang sedang pusing memikirkan berbagai masalah yang terus bertambah.
"Chagiya, jangan marah! Aku saja tidak mengenal dia. Mana mungkin aku berselingkuh dengannya.", kata Kyuhyun dengan kedua tangan di depan dadanya, meminta maaf.
Sungmin berhenti melangkah. "Aku tidak bilang kalian berselingkuh. Oh, jangan-jangan kalian memang berselingkuh di belakangku. How dare you!", kata Sungmin galak. Namja manis itu masuk ke dalam kamarnya, mendiamkan Kyuhyun yang masih terus merayunya.
"Dia bilang dia itu eomma -ku berarti dia sudah tua. Coba kamu pikir. Bukankah ini semua aneh?", tanya Kyuhyun mulai menganalisa.
Sungmin mengangguk beberapa kali. Benar juga apa kata Kyuhyun. Sekolah ini adalah sekolah namja yang sejak pertama terbentuk tak pernah membiarkan satu yeoja pun masuk ke sini. Bagaimana bisa yeoja itu terlepas dari pengawasan Shindong seonsaengnim? Terdengar sangat mustahil.
"Karena aku memang tinggal disini sejak empat puluh tahun lalu.", jawab seseorang membuat Sungmin dan Kyuhyun segera mengalihkan perhatian mereka ke orang itu.
Sungmin dan Kyuhyun terlonjak kaget saat mereka menemukan sosok yeoja di taman itu sedang tersenyum ke arah mereka. Kapan yeoja itu masuk ke kamarnya?
"Sebenarnya siapa Anda?", tanya Sungmin sopan.
Taemin tersenyum pada namja manis itu. "Aku? Aku anak dari pendiri sekolah ini.", jawabnya jujur.
Kyuhyun mengerutkan dahinya. Ia tidak percaya dengan setiap kata yang keluar dari yeoja di depannya itu. "Lalu kenapa kami tidak pernah melihatmu?".
"Karena aku disembunyikan oleh keluarga. Ayolah, chagi! Kita kembali ke kastil. Appa -mu pasti senang jika melihatmu lagi.", ajak Taemin sambil menarik tangan Kyuhyun paksa.
"Kastil?", gumam Kyuhyun seperti mengingat sesuatu. Bukankah ia pernah datang ke suatu tempat aneh dan bertemu dengan seorang yeoja. Apakah dia? "Kamu yang ada di kastil kumuh itu?", tanya Kyuhyun tak pasti.
Taemin mengangguk senang. GREEEEP! Yeoja itu memeluk Kyuhyun lagi. "BINGO! Nah, ayo kita kembali ke kastil!", ajaknya sekali lagi.
Kyuhyun melepas pelukan Taemin. Ia menyeringai. "Baiklah, aku akan ikut. Tapi ajak Sungmin juga ya!", kata Kyuhyun memberikan penawaran.
Taemin tersenyum senang. "Oke. Nevermind.".
Kyuhyun, Sungmin dan Taemin berjalan cukup jauh, melewati koridor, taman, gedung sekolah dan kantin untuk menuju satu tempat, yaitu ruangan pribadi Leeteuk. Taemin tidak menyadari bahwa ia dibawa oleh Kyuhyun ke tempat Leeteuk. Yeoja itu hanya bersenandung senang di tengah-tengah keduanya.
Sesampainya di ruangan pribadi Leeteuk, mereka tidak menemukan siapapun. Mereka tidak tahu kalau namja cantik itu justru sedang mencari 'sandera' mereka ini. Kyuhyun mencari ke seluruh tempat ruangan itu, namun hasilnya tetap nihil. Ia mendengus kesal. Beberapa waktu ini Leeteuk memang susah sekali dicari. Sebenarnya ada masalah apa?
"Kenapa kita ke sini?", tanya Taemin mulai curiga. Yeoja itu mulai menjauh dari Sungmin yang duduk di sisinya di sofa Leeteuk.
"Kyuhyun ingin mengurus sesuatu dulu. Tenang saja.", kata Sungmin mencoba menenangkan. Bukannya tenang, Taemin pergi dari samping Sungmin. Namja manis itu terlihat panik. Ia takut Kyuhyun akan memarahinya karena tidak bisa menjaga seorang yeoja di sisinya.
"Eomma! Bisakah kau diam di sini dulu? Aku sedang mencari seseorang untuk membatalkan janji kami hari ini. Tidak mungkin aku pergi begitu saja tanpa berita.", tahan Kyuhyun sekembalinya dari ruang bawah tanah di ruangan Leeteuk itu.
Sungmin bernapas lega. Setidaknya Taemin tidak pergi kemana-mana. Yeoja itu kembali duduk di samping Sungmin. "Diamlah bersama Sungmin. Ia tidak akan menyakiti eomma, karena ia adalah orang yang paling kupercayai. Jadi eomma juga harus percaya padanya.", kata Kyuhyun dengan penekanan pada kata 'eomma'. Sebenarnya agak aneh memanggil orang selain sebagai eomma-nya, tapi demi sandiwara, ia harus tetap melakukannya.
CUP! Kyuhyun mencium kening Sungmin, memberikan ketenangan pada namja itu. "Aku pergi sebentar. Jaga dia.", pinta Kyuhyun yang segera dijawab dengan anggukan oleh Sungmin.
Tak beberapa lama Kyuhyun menghilang dengan Ovunque Armadio ke tempat Leeteuk dan Kangin berada. Namja tampan itu tidak menjelaskan apapun pada kedua petinggi sekolah itu. Ia hanya memaksa keduanya untuk kembali ke ruangan pribadi Leeteuk, karena ada masalah mendesak. KangTeuk menebak masalah itu berasal dari agassi mereka yang sudah pastinya mengira Kyuhyun sebagai anaknya.
"Ya! Kenapa mereka ada di sini?", tanya Taemin kaget saat ia melihat KangTeuk di depan dirinya. Taemin berusaha lari, tapi Sungmin memegang erat lengannya. "Aku tidak mau ke kastil. Biarkan aku bertemu anakku!", jerit Taemin frustasi.
"Kalian berdua bisa kembali ke kamar. Biarkan dia menjadi urusan kami.", kata Kangin memberi perintah agar keduanya meninggalkan mereka bertiga. Kangin masih tidak ingin Kyuhyun dan Sungmin mengetahui rahasia ini.
"Baiklah!", jawab Kyuhyun singkat. Ia merangkul Sungmin.
Sungmin berhenti di depan pintu ruangan itu. "Bagaimana dengan kelas tambahan untukku?", tanyanya membuat Kyuhyun mengeluh pelan.
"Kita tidak akan ada pelajaran apapun sampai aku memberitahumu. Kembalilah dan jaga kesehatanmu.", kata Leeteuk tegas sambil memegang tangan Taemin yang terus memberontak.
BRAAAAK! Pintu ruangan itu tertutup. Taemin duduk pasrah di atas sofa. Ia mengerucutkan bibirnya. Tangannya bersedekap di depan dada. "Apa yang mau kalian lakukan?", tanya Taemin galak.
Kangin menghela napas berat. "Kenapa agassi melakukan hal gegabah? Kita bisa bicarakan semuanya. Jangan seperti ini.".
"Kalau tidak seperti ini kalian tidak akan membiarkanku menemui anakku.".
Leeteuk memutar bolamatanya, merasa kesal dengan kelakuan yeoja di depannya. "Anakmu yang mana? Cho Kyuhyun? Namja tampan yang datang bersama kami tadi?", tanya Leeteuk meyakinkan dugaannya benar.
Taemin mengangguk-angguk mantap. "Benar. Tampan kan anakku?", kata Taemin bangga.
Kangin lagi-lagi menghela napas. "Apa agassi akan berhenti bersikap bodoh jika kami memberitahu siapa sebenarnya anakmu?", tanya Kangin memberi penawaran.
Leeteuk melotot ke arah Kangin. "Apa maksudmu bicara seperti itu?", bisik Leeteuk tak setuju dengan kata-kata Kangin. Mereka duduk bersebelahan di sofa yang sama, menghadap ke arah Taemin yang duduk di sofa tunggal.
Kangin menyentuh bahu Leeteuk, memberikan keyakinan kepada namja itu. "Tenang. Semua akan baik-baik saja.", bisik Kangin.
"Hei, kalian membicarakan apa? Kenapa bisik-bisik?", tanya Taemin curiga.
"Aniya! Jadi bagaimana dengan penawaranku tadi? Jika agassi berjanji untuk menuruti semua permintaan kami dan berhenti melakukan hal gegabah, kami akan menjelaskan siapa anak agassi sebenarnya.".
"Aku setuju denganmu, Kangin-ah! Jadi jelaskan semuanya.", pinta Taemin dengan bijak. Aura bangsawan Hexe terkuar dari tubuhnya. Ia duduk dengan anggun.
Leeteuk menarik napas panjang, mengumpulkan semua keberaniannya. Ia berdoa semoga keputusan mereka benar saat ini. "Agassi, Kyuhyun bukan anak Anda.".
Taemin terlihat shock, mendengar beberapa penggal kata dari Leeteuk. "Jadi siapa anakku?".
"Namja manis yang sedaritadi bersamamu. Lee Sungmin adalah anakmu. Dia sedang mengandung anak namja tampan bernama Kyuhyun itu.", lanjut Leeteuk singkat.
"Ja-jadi dia anakku? Anak kandungku? Ommo!". Yeoja itu tidak menyangka Sungminlah anaknya, bukan Kyuhyun yang selama ini ia duga.
.
.
(O.O!)…::TBC::…(^O^)
.
.
Finished on 17 January 2013, 12:05 am, RSPI, Jakarta, Indonesia
Semoga kalian suka chapter ini.
Pertama2 Yuya mau minta maaf. Kmrn terkesan menuntut kalian terlalu byk. Maaf! Yuya ga akan kyk gtu lg #membungkuk#
jujur Yuya terlalu senang dg respon kalian, dan Yuya sdg galau saat itu. Bingung hrs masukin apa lagi di FF ini. Yuya blm mau masukin cast terlalu byk. Nanti yuya jd bgg. Makanya yuya nanya2 byk hal, jd terkesan menuntut kalian. Mianhae. Yuya khilaf.
Saat chapter kmrn terbit, Yuya dpt kbr appa Yuya msk RS krn tulang iga belakangnya patah. Sedih bgt, udh pasti. Rasanya mau HIATUS aja slama jaga appa di RS, dan kerja di sore harinya. Lalu yuya melihat begitu byk review luar biasa dr kalian dan bbrp review yg menyadarkan keegoisan yuya kmrn. Yuya jd merasa bersalah dan semangat dlm satu waktu.
Yuya berusaha update secepat yg Yuya bisa. Maaf kalo ga total jdnya. tapi ini semua sesuai dg draft yg udah Yuya susun sebelumnya.
Yuya ga akan nanya apa2 lg dr kalian, Yuya ga akan banyak ngomong lagi di awal-akhir chap, Yuya ga mau terkesan egois lg. Semua review kalian jd masukan bagi Yuya. Yuya terharu bgt. Yuya memang msh dlm tahap belajar. Maaf klo msh byk typo dan kesalahan dalam diksi. #Yuya j g ngerti ap itu diksi. Hhe...#
terakhir, maaf kalau curahan hati ini terkesan mendramatisir. yuya memang sedang tidak dlm keadaan mood yg baik. Makanya sensitif bgt. Maaf ya~ tolong jgn ad yg salah sangka.
yuya memang lebay orangnya, harap maklum ya! Next chap ga akan lebay gini lg. Makasih atas smua review kalian. Love you guys!
Keep review if you mind!
Annyeong ^^
