LUNA
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
ABO dynamics
.
.
.
Sikap Taehyung itu sungguhlah lucu. Meski sakit, Yoongi tertawa. "Aku Yoongi. Kau tidak mengenaliku? Jangan bercanda."
"Bogeum, ayo kita pergi saja." Taehyung malah berniat untuk berlalu. Karena tak mendapat respon yang diinginkan, Yoongi melangkah untuk dekati alpha itu. Tapi bersamaan dengannya, Bogeum maju juga. Tanpa aba-aba pergelangan tangan Yoongi disambar, dicengkram.
"Lepaskan!"
Bogeum mengendusi badan Yoongi sekilas, sebelum sebuah sikutan mengenai dagunya dan dia balas memukul perut Yoongi hingga omega itu terbentur tanah. Saat itu juga bunyi jatuh yang cukup keras terdengar oleh mereka. Seokjin turun dari pohon. Dengan wujud serigalanya dia berlari pada Bogeum. Omega itu menubruk badan Bogeum ketika dia baru saja menegakkan tubuhnya sedikit. Mereka terguling di tanah yang lembab. Bogeum berada di antara empat kaki Seokjin; di bawah seekor serigala yang menggeram marah.
"Wow, tenang, ada apa denganmu? Apa kau kawan dari omega itu?" Bogeum mencengkram leher Seokjin. Dia memaksa serigala itu untuk menyingkir. Seokjin yang tercekik kemudian berubah menjadi manusia. Tangannya dia gunakan untuk menarik lepas cekikan itu. Tapi Bogeum tak mau kalah. Dia malah menggunakan hidungnya untuk mengendusi bau di rahang Seokjin.
"Bangsat!" Dia mengumpat, sambil menanamkan kuku-kukunya di punggung tangan Bogeum. Ketika mendapat celah, dia jauhkan tangan itu dan seketika berdiri hanya untuk memberikan satu injakan keras. Bogeum mengaduh. Bagi Seokjin alpha ini sudah selesai, dia mau membantu Yoongi untuk bangun, tapi ketika melihat ke depan seorang alpha yang tadi hendak pergi itu nyatanya sedang memandang dalam diam. Jelas Seokjin terkejut, baru sadar kalau yang dia sangka alpha asing adalah temannya sendiri. "Apa maksudnya? Kau menghilang dan sekarang muncul kembali bukan dengan Jungkook tapi dengan ... temanmu yang beringas ini?"
"Kau bilang aku beringas? Lalu kau? Omega macam apa yang berani menyerang alpha?" ucap Bogeum tak terima.
"Aku tak bicara denganmu!"
Taehyung tak mau peduli. Dia hanya ingin segera pergi. "Bogeum, ayo kita pergi."
"Taehyung! Kau ini kenapa?!" Seokjin meraih Taehyung dengan mencengkram lengannya. Tapi kemudian tangan Seokjin dihempaskan. Seokjin menatap nyalang, sedang Taehyung balas dengan geraman. Dia berpaling dan menjauh tanpa peduli pada mereka yang ada di belakangnya.
"Taehyung!"
Diteriaki pun Taehyung tidak menggubris. Seokjin masih memikirkan alasan mengapa Taehyung tak mengacuhkannya. Yoongi, jelas geram. Yoongi merubah wujudnya, lantas berlari mengejar Taehyung. Dia pikir, dengan wujud serigalanya, dia bisa menghentikan Taehyung yang manusia. Ternyata, alpha itu punya insting yang jauh melebihi dirinya hingga begitu Yoongi menubruk, dia langsung dihempaskan.
"Menjauh dariku!"
Yoongi jatuh. Wujudnya berubah menjadi manusia lagi dan Seokjin berlari, memeluknya yang tersungkur. Butir-butir es menempel di kulit dan rambut ketika dia angkat wajah. Perih. Bukan karena hempasan itu, tapi karena Taehyung yang menolaknya secara jelas. Alpha itu mengerutkan dahi, berpaling hendak meninggalkan para omega. Tanpa dia sadari, seorang alpha lain berdiri tak jauh di depan sana. Yang lucu, kedatangan alpha itu tak terduga sama sekali.
"Jimin?" Sewaktu Seokjin menoleh, barulah dia tahu siapa yang datang.
Jimin berjalan mendekat, dia menggendong sebuah tas besar hasil jarahan. Hanya, dalam langkahnya itu, dia sama sekali tak melirik Seokjin maupun Yoongi, matanya terus lurus pada Taehyung.
"Aku punya perasaan tak enak ketika meninggalkan kalian berdua. Ternyata benar. Ada sesuatu. Dan, oh. Sepertinya aku mengenalmu," katanya, ketika dia semakin dekat. Jimin menunrunkan tudung jaketnya, lalu menatap alpha bermata biru di depannya dengan tajam. "Taehyung."
Yang ditatap hanya diam. Malah kawannya yang bicara. "Rupanya kau dikenal banyak orang, Taehyung-ah."
Jimin tersenyum miring. Dia tentu berpikir kenapa Taehyung begitu kasarnya pada Yoongi. Pastilah ada sesuatu yang salah pada alpha pirang itu. Pasalnya, Taehyung yang dia kenali bahkan memperlakukan Yoongi dengan sangat lembut. "Kau kawannya Taehyung? Katakan pada kawanmu untuk tidak melukai omega-ku," katanya, pada Bogeum.
Tapi Taehyung ternyata langsung menjawab. "Itu karena aku tak punya urusan dengannya, atau denganmu. Jadi jangan ganggu aku, dan biarkan aku pergi."
"Ini menjadi sebuah urusan bagiku. Memangnya kau lupa aku dan mereka adalah siapa? Kanapa kau muncul tanpa Jungkook? Di mana anak itu?"
"Aku tidak mengenal kalian. Siapa pula Jungkook?"
Jimin melepas tawa ringan yang mengejek. "Konyol."
Buagh! Jimin mengambil langkah maju lalu menghadiahkan Taehyung sebuah pukulan keras di pipi. Ketika Taehyung terhuyung, Bogeum menarik baju Jimin untuk membalas. Tapi belum sempat mengenai wajah alpha itu, tangannya sudah ditangkis. Bogeum tak lantas berhenti, dia gunakan kakinya untuk menendang, dan diapun memulai perkelahiannya dengan Jimin.
Semua alpha itu kuat, tapi Jimin jadi lebih kuat karena dia sedang marah. Dia marah pada Taehyung, tapi kebetulan Bogeumlah yang jadi lawannya. Hingga emosi yang meledak-ledak itu dilampiaskan pada Bogeum. Bogeum mengerang sakit setelah dipukul Jimin secara membabi-buta di bagian wajah. Taehyung menarik Bogeum mundur, supaya bisa lepas dari alpha yang sedang ganas itu. Jimin terengah-engah. Dia menghapus darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Kemari kau, Taehyung!"
Bogeum didorong, dan Taehyung ditarik. Begitu saja sebuah pukulan dilayangkan tepat mengenai hidung mancung itu. Darah segar langsung mengucur. Taehyung membalas. Kali ini giliran Taehyung yang jadi lawan Jimin. Yoongi ingin melerai mereka, tapi Seokjin menahannya karena takut Yoongi terluka. Jimin tak akan memandang siapa yang dia pukul ketika dia gelap mata. Seokjin sendiri baru tahu, kalau alpha yang selalu sinis itu ternyata akan semarah ini ketika melihat omega-nya dilukai. Dan alasan lain, pastinya karena Jimin tak suka dengan Taehyung yang tak mengenalinya.
Seokjin melirik Bogeum, dan alpha itu hanya terbaring setengah duduk memandang mereka yang berkelahi. Jelas sekali kalau dia lelah. Wajahnya babak belur. Jimin tak main-main kalau memukul.
Sementara, perkelahian itu makin parah saja. Yoongi yang sudah tak tahan akhirnya memaksa Seokjin untuk melepasnya.
"Yoongi!" teriak Seokjin.
Yoongi segera mendekati dua alpha itu. Tanpa pikir panjang dia memeluk erat salah satunya dari belakang. Jimin. Begitu dipeluk, ditarik mundur pulalah olehnya. Pukulan yang tadinya hendak Jimin layangkan, tak jadi mengenai Taehyung. Mereka berdua jadi berjarak. Alpha pirang itu membungkuk dengan tangan menunmpu di lutut. Dia terengah-engah kehabisan napas dan tenaga. Pun dengan Jimin yang masih Yoongi tahan.
"Sudah. Cukup. Kau tak perlu semarah ini. Tak perlu memukulnya lagi. Dia bisa mati!"
"Kau membelanya?!"
"Jimin!"
Jimin dan Yoongi bertengkar. Bogeum bangun, duduk. Mukanya jengah, rasanya seperti sebuah menonton sesuatu yang tak dia paham awal mulanya. "Oke. Seseorang harus menjelaskan padaku apa yang terjadi. Aku mulai berpikir kalau sebelum Taehyung masuk ke kelompokku, dia ada bersama kalian, betul?"
"Dia adalah anggota kelompok kami," jawab Jimin.
"Yang benar saja, aku tak mengenal kalian!"
"Ada yang tak beres dengan otakmu, hah?!" Atas sanggahan Taehyung, jelas saja emosi Jimin tersulut lagi.
Buagh! Tidak ada yang sempat mencegah pukulan telak itu. Taehyung jatuh tak sadarkan diri setelah pelipisnya dihantam tinjuan Jimin yang begitu kerasnya. Jimin lantas melepaskan diri dari pelukan Yoongi, lalu ditariklah kerah baju Taehyung hingga badannya sedikit terangkat.
"Aku mau membawanya kembali. Katakan pada anggota kelompokmu yang lain kalau dia bukan lagi bagian dari kalian."
Bogeum terdiam. Dia tahu Jimin serius soal ini. Dia hanya memerhatikan bagaimana Jimin mengangkat tubuh Taehyung dan menggendongnya di punggung. Kalau tak kenal, tak mungkin begitu.
"Aku tak akan mengambil barang-barangmu," kata Jimin. Dia membenarkan posisi Taehyung yang agak merosot. Caranya dengan membungkuk lebih rendah, lalu mengangkatnya sedikit. "Seokjin, Yoongi, ayo kita pergi dari sini. Urusan kita sudah selesai."
Pada akhirnya, Taehyung dibawa. Yang tertinggal dari alpha itu bagi Bogeum hanyalah sebuah kantung gemuk hasil jarahan dari dalam tower.
-o0o-
LUNA
-o0o-
Satu kelompok yang terbagi dua itu bertemu di titik yang telah dijanjikan. Titik ini juga menjadi tempat persinggahan sementara, sebab ada lubang di bawah celah akar pohon yang cukup bagus untuk dijadikan tempat berlindung. Meski hujan salju tak lagi selebat kemarin-kemarin, tapi sisa-sisa dinginnya yang menusuk masih ada.
Mereka hanya saling mendiamkan. Tidak ada yang bicara. Seokjin hendak membuat perapian bersama Hoseok. Namjoon dan Jimin mengeluarkan barang-barang dari kantung-kantung yang mereka dapat untuk mengecek isinya. Sedang Taehyung yang terbaring, diobati oleh Yoongi.
Sedikit-sedikit, Jimin melirik omega itu. Muka Yoongi terlihat sedih memandang Taehyung yang babak belur setelah dihajar habis-habisan. Pelan-pelan ujung jarinya mengoles obat. Terdengar dengusan panjang dari Namjoon yang sudah mulai lelah.
"Jadi, kalian bertemu dengan Taehyung? Lalu membawanya kembali ke kelompok. Yang buat aku penasaran, kenapa dia sampai babak belur seperti itu?"
Seokjin otomatis melirik Jimin. Namjoon melihatnya. Tanpa perlu bertanya lagi, dia sudah dapat jawaban. Hanya saja masih ada yang kurang. "Jimin, kenapa kau menghajarnya? Dia tak mau kembali?"
"Dia pura-pura tak mengenali kami."
"Sungguh? Itu lucu. Bagaimana bisa?"
"Dia bahkan tak kenal Jungkook."
"Padahal waktu itu, bukankah dia menghilang bersama Jungkook?"
Jimin menoleh sekilas. Lalu menggelengkan kepala. Entah, itu artinya. Dia pun tak tahu di mana alpha muda itu berada.
"Kurasa kita harus menunggu Taehyung bangun untuk bertanya padanya apa yang sebenarnya terjadi," ujar Hoseok.
"Oh sungguh, aku tak suka ini." Namjoon beralih dari kantung-kantung itu pada Seokjin yang sedang menyelip-nyelipkan ranting supaya apinya besar. Dia duduk di samping omega itu. Meneleng sebentar untuk menghirup bau Seokjin. Namjoon lihat, Seokjin hanya diam saja sedari tadi. "Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa."
Samar Namjoon melihat ada yang aneh di leher Seokjin. Tanpa basa-basi dia langsung saja menurunkan kerah jaket omega itu untuk melihat lebih jelas warna biru yang membekas di sana. Seokjin tidak protes. Dia masih mengurusi api unggunnya sementara Namjoon menelisik. Itu luka memar, seperti bekas cekikan. Namjoon tak tahu saja kalau Seokjin memang sempat dicekik oleh Bogeum.
"Hoseok, Seokjin terluka," kata Namjoon.
"Aish, kenapa kau tak bilang dari tadi? Sini kuobati." Hoseok mengulurkan tangan untuk menjangkau kantung miliknya yang teronggok jauh dari tempatnya duduk.
Di sisi lain, Jimin telah selesai memilah. Dia memisahkan makanan dan obat-obatan juga barang keperluan lainnya. Sengaja dia keluarkan makanan yang bisa dikonsumsi secara langsung, dan yang tahan lama dia simpan kembali di dalam kantung. Ketika melirik pada Yoongi, pekerjaannya mengobati Taehyung sudah selesai pula. Tapi Yoongi tak lantas pergi untuk menghampiri Jimin, malah merebahkan diri di samping alpha pirang itu. Dia menyamankan diri, tangannya diantara perut dan dada Taehyung. Sedikit Jimin merasa cemburu. Bagaimana tidak? Yoongi adalah omega-nya. Hanya saja, dia cukup paham bahwa Yoongi sangat menyayangi Taehyung. Dan ia tidak bisa mengganggu hubungan itu.
"Hei, Namjoon-ah." Jimin mengalihkan perhatiannya pada Namjoon, sebab baru saja dia terpikirkan sesuatu. "Kupikir, kita juga harus membawa Jungkook kembali."
"Kenapa?"
"Dalam karantina ini, tidak mungkin kita dibiarkan meliar terus-menerus. Suatu saat mereka pasti akan mengumpulkan kita. Entah untuk apa, tapi yang jelas. Kelompok akan bertemu kelompok, dan seperti pack di luar, kita akan memperebutkan kekuasaan."
"Maksudmu, kau tidak ingin meninggalkan Jungkook karena takut jika hari itu tiba, dia akan muncul sebagai lawanmu?" Namjoon menunjuk Jimin dengan jari.
Jimin tertawa. Risih gara-gara kata-kata Namjoon yang terkesan meremehkannya. "Takut? Anak itu bisa apa?"
"Dia pintar, licik, dan kurasa punya potensi menjadi alpha yang kuat."
"Dia masih polos."
"Kita tak tahu apa karantina ini bisa mengubahnya yang polos itu dengan cepat." Namjoon melempar ranting mainannya yang sudah tak menarik. "Seokjin, kau mau makan?"
"Aku mau tidur. Lelah," jawab omega itu.
"Oke, beristirahatlah."
Seokjin pergi ke sisian lubang, mencari tempat yang nyaman untuknya tidur. Tersisa Namjoon dan Hoseok di depan perapian. Hoseok sedikit marah ketika Namjoon dengan sengaja menyapukan bara ke kakinya.
Jimin memerhatikan Yoongi lagi. Sejak tadi omega itu tak bersuara, bahkan posisinya tak berubah. Masih berbaring memeluk Taehyung. Dia berjalan pada mereka, lalu ikut merebahkan diri di samping Yoongi tanpa bicara apa-apa. Sebenarnya Jimin tak mengantuk, bahkan tak ada niatan untuk tidur buru-buru. Dia hanya ingin dekat dengan omega-nya.
"Yoongi."
"Hm?"
Mendengar jawaban itu, Jimin sudah cukup senang, sebab Yoongi ternyata belum tidur.
"Maaf jika aku sudah keterlaluan padanya."
Yoongi menoleh. Pelan-pelan dia bangun, mendengus sebentar. Lalu dia amit tangan Jimin dan meminta alpha itu keluar lubang bersamanya. Taehyung yang ditinggalkan kemudian dijaga oleh Hoseok. Beta itu sudah mengerti kalau Jimin dan Yoongi perlu waktu berdua. Untuk bicara, atau entah.
"Jimin."
Di luar, mereka masih bergandengan tangan. Jimin tahu Yoongi mau mengatakan sesuatu, jadi dia tuntun omega itu untuk bersandar di celah akar pohon besar.
"Apa?"
"Kau tak perlu semarah itu jika alasannya karena aku."
Alis Jimin terangkat satu, bingung kenapa Yoongi bicara seperti itu. "Apa salah? Kau omega-ku. Pantas kalau aku marah karena melihatmu diperlakukan kasar."
"Jimin." Yoongi berpaling. Perasaannya separuh-separuh. Dia senang Jimin mengakui dirinya secara terang-terangan, tapi sebagian ada rasa tak nyaman karena Taehyung mesti babak belur karena kemarahan Jimin. Dia tak tahu harus berbuat apa, makanya dia hanya diam saja. Tapi ketika Jimin menghampirinya untuk minta maaf, dia tahu kalau ada banyak hal yang ingin dikatakan pada alpha itu. "Jimin, kau mengatakan kalau aku adalah omega-mu, kau marah ketika aku terluka, tapi kita di sini punya waktu yang terbatas, dan setelah keluar dari karantina, kita akan kembali ke tempat masing-masing. Seperti katamu dulu, kita ini hanya kelompok, bukan pack sungguhan. Lalu kau dan aku, apa juga seperti itu?"
"Kalau kita masih bisa hidup sampai karantina selesai, aku ingin membawamu berkelana, berlayar ke negeri yang jauh. Aku punya mimpi, ingin jadi manusia utuh. Aku ingin melupakan diriku yang sebagian adalah binatang ini. Dan saat aku menikmati hari-hariku sebagai manusia, aku mau kau ada bersamaku," tuturnya, sedikit mengawang.
Yoongi tersenyum tipis sembari memandang wajah Jimin yang entah mengapa terlihat polos ketika membicarakan tentang mimpinya. "Kau benar-benar serius soal keinginanmu untuk menjadi manusia itu, ya."
"Iya."
Tatapan Jimin adalah hal yang paling aneh yang pernah Yoongi temui semur hidup. Tidak ada orang yang memiliki tatapan seperti itu selain alpha ini. Matanya seolah-olah merupakan lubang dimensi yang dapat menyedot apa saja. Yoongi sadar Jimin menginginkan sesuatu. Pelan-pelan dia menelengkan kepalanya dan memberi alpha itu sebuah ciuman. Lalu mereka berpelukan, sedang tautan bibir mereka belumlah terlepas. Jimin inginkan lebih, seperti ketika Yoongi memberinya cinta di malam bersalju itu.
"Yoongi, tanda ini berarti kau milikku. Kau milikku..."
Jimin menggigit tengkuk Yoongi sementara perih yang ingin disuarakan berusaha ditahan omega itu dengan tangan yang menutup mulut kuat-kuat. Jimin menjilat sedikit darah yang keluar dari bekas gigitannya. Terlalu dalam. Pantas Yoongi meringis. Hanya saja ketika bertatapan, Yoongi malah tertawa meski matanya berkaca-kaca.
"Ini sakit, tahu."
"Aku tahu. Maaf."
Mereka terdiam beberapa saat. Hanya berbagi embus napas.
Lalu Jimin menyandarkan kepalanya di bahu omega itu dan berkata. "Yoongi, apa kau senang Taehyung sudah kembali?"
"Hu-um. Dan aku juga ingin Jungkook kembali."
"Ya, aku akan membawanya. Kita. Dan mereka yang di dalam lubang itu." Jimin menjawab lambat-lambat.
Yoongi menghela napas, memandang awan-awan di langit malam yang saling bersambungan. "Aku ingat Jungkook pernah tidur sambil kupeluk waktu kau dan Taehyung keracunan."
"Seperti kita sekarang ini?"
"Tidak, tidak. Aku dalam wujudku yang lain."
Jimin menjauhkan wajah hanya untuk memberi tatapan kaget. "Kalau begitu berubahlah. Aku ingin melihat wujud serigalamu."
Yoongi hanya tertawa sedikit sembari memutar matanya malas. Jimin bergeser duduknya untuk memberi ruang. Yoongi kemudian berubah menjadi serigala putih. Ekornya mengembang tebal. Lembut ketika sengaja Jimin sentuh bulunya. Alpha itu menyunggingkan senyum. Dia tangkup rahang omega-nya untuk mengadukan dahi pelan-pelan. Aroma Yoongi sangat enak untuk dihirup. Jimin betah berlama-lama menenggelamkan wajahnya di sisian muka sang omega. Dia tentu tak lupa bagaimana aroma Yoongi begitu memikatnya di pertemuan pertama. Sampai sekarang, aroma itu masih membuatnya gila. Beruntung, dialah yang memiliki Yoongi saat ini.
"Yoongi, ada alasan kenapa aku bersikap buruk pada omega. Sebab, kelemahan alpha yang paling besar, adalah omega itu sendiri..."
-o0o-
LUNA
CONTINUED
.
.
.
Note: Fanfic ini udah bulukan astaga. Maafkan aku yang menelantarkan Luna begitu lama. Apalah daya, kalau wangsit tak ada, nulis juga tak bisa.
