"...sial, kenapa sih aku tidak bisa menang!", Jongup nyaris mematahkan keyboard dengan tangan kosong tapi mengingat benda itu bukan haknya, ia hanya melemparkannya kembali ke tempat semula. Entah sudah berapa kali ia terbunuh hari ini.

"Ada masalah apa? Hari ini kau badmood sekali", ucap temannya yang duduk disebelahnya, asik karena ia masih lancar-lancar saja dengan layar dihadapannya, sesekali membalaskan dendam Jongup pada tim lawan.

"Bagaimana aku tidak kesal, anak brengsek itu jelas sekali cuma mempermainkanku, aku tahu tapi tetap masuk kedalam permainannya!", jelas Jongup mengingat-ingat ia menunggu seperti orang bodoh selama dua jam lebih.

"Oooh... pasti soal Zelo", kata temannya, "Yah kau cukup menghindarinya kalau memang tahu anak itu tidak beres"

Jujur saja Jongup sudah sejak awal memberi garis pemisah antaranya dengan Junhong karena ia adalah pendisiplin murid dan Junhong adalah murid nakal, tetapi garis itu semakin lama semakin kabur karena ia lebih mengenal Junhong dari waktu ke waktu, ia bahkan mengakui kalau tanpa Junhong hidupnya kosong. Ia pikir kalau bisa mengenal Junhong lebih lagi, ia bisa memiliki lebih banyak alasan kuat untuk bersamanya tetapi bocah Choi itu seperti puzzle yang rumit.

Ditambah lagi dengan alasannya mengingkari janji pagi ini...

"Maafkan aku Jonguppie...kemarin...err..", Junhong tidak bisa menjelaskan kalau ia membantu Hyungnya, bisa-bisa Jongup mengira ia kembali menjadi berandal.

"Aku tidak datang kok, aku tidak bilang aku mau kencan denganmu", jawab Jongup berbohong

"Begitu yah...", Junhong nampak tidak terkejut juga kurang usaha, pedahal Jongup berharap Junhong meminta maaf dengan berlutut mungkin memberi ciuman lembut seperti di film. "Tapi aku benar-benar minta maaf... sampai jumpa dikelas kalau begitu"

Lagi-lagi Jongup dibuat bingung, ia bingung karena ada sesuatu dalam dirinya yang berharap Junhong meminta maaf dengan sungguh-sungguh atau kalau pun Junhong memang hanya mempermainkannya, ia tidak perlu muluk-muluk bertemu dengan Jongup hanya untuk memohon ampun. Dan hari itu Junhong tidak menempel padanya sama sekali, ia melamun keluar jendela seperti idiot, entah berapa kali ia menyiapkan beberapa gumpalan kertas untuk dilemparkan pada anak itu tetapi Jongup kembali mengurungkan niatnya sehingga mejanya penuh dengan kertas – Jongup benci tidak mendapat perhatian apapun hari ini. Permainan macam apa lagi yang dimulai Junhong sebenarnya?

"Bicara tentang Zelo, bukankah itu dia?"

"Nah Jae, kalau kau juga mau mempermainkanku, lupakan", ketus Jongup

"Aku serius, siapa lagi pria yang percaya diri berjalan dengan rambut norak selain dia?"

Jongup segera berdiri dan melihat ke jendela luar, memang benar sosok itu adalah Choi Junhong, mengenakan pakaian santai dan membawa sekatung belanjaan – lalu Junhong berhenti sebentar didepan seorang pria berhoodie dan mereka kembali berjalan entah kemana.

"Perasaanku tidak enak", Jongup keluar dari Game Center dan mengikuti kepala norak Junhong.

Dari keramaian kota sampai ke wilayah yang gelap, Jongup terus mengikuti Junhong dan pria itu sampai mereka masuk ke dalam satu pintu. Disini Jongup ragu-ragu, apakah yang dia inginkan dari mengikuti Junhong, apakah dia harus tetap maju dan mengetuk pintu itu, bagaimana kalau Junhong kembali ke kelompok berandal, atau jika hanya ada dua orang dalam satu rumah...

"Haruskah kita mengetuknya?"

Jongup melompat dan memegang dadanya supaya jantungnya tidak ikut meloncat keluar, ia tidak sadar temannya juga ikut, "Ya! Yoo Youngjae, tidak bisa yah kau memberi tahuku kalau kau juga ikut!?"

"Huh? Kupikir kau tahu karena dari tadi diam saja", ucap Youngjae, jelas tak menduga Jongup akan terkejut, "Jadi sampai disini, apa selanjutnya?"

"Entahlah...", Jongup menggigit kukunya

"Pria itu...bukankah dia yang hampir memukulmu?", kata Youngjae

"Bagaimana kau tahu?!", Jongup terkejut pedahal hari itu jelas sekali Youngjae pulang duluan

"Nah...aku hanya memperhatikan dari jauh saja sebelum pulang. Bisa saja kau habis dikeroyok berandalan itu kalau aku tidak melapor ke pos polisi", ucap Youngjae, kini jelas kenapa Jongup bisa berhasil kabur dari kelompok Junhong – Youngjae memang cerdik.

Mereka berhenti berbicara dan mendongak keatas, Junhong terlihat keluar dari pintu itu dan berpamitan. Jongup panik karena Junhong akan melalui tempat bersembunyinya dan ia pasti ketahuan, Junhong sudah berada ditangga terakhir dan ia akan segera berdiri dihadapan Jongup.

GRUSAKK GDEBUGH BUGGH!

"Junhong!", "Zelo!?", Jongup keluar dari tempat persembunyiannya dan pria itu keluar dari biliknya mendengar suara keras diantara anak tangga.

"...J..Jongup?", Junhong terkejut, entah terkejut karena ia sampai dilantai dasar dengan kecepatan cahaya atau karena tidak menduga akan melihat Jongup. Pria itu menatap tajam Jongup, sebelum salah paham membesar Junhong segera memberikan alasan palsu, "Aku baik-baik saja, Daehyun-Hyung! D-Dia disini untuk menjemputku!...aku memintanya datang.."

Ketegangan masih ada diantara mereka, tetapi pria itu tidak begitu ingin merepotkan dirinya memberi ancaman atau sebagainya, ia tahu jelas Junhong tidak lagi memilih bersamanya. Ia membalikkan badannya dan membanting pintu.

Junhong berusaha berdiri tetapi kakinya terkilir sehingga ia spontan rubuh kembali, Jongup maju dan memberikan punggungnya, "Kau tidak bisa berjalan, naiklah ke punggungku dan kita pulang"

Jantung Junhong rasanya mau copot berserta pergelangan kakinya, tangannya memegang kedua bahu Jongup dan tubuhnya merekat ke punggung Jongup yang hangat. "Tsk.. kakimu ini terlalu panjang yah sampai kau tidak bisa mengendalikannya, bagaimana bisa kau terjatuh tanpa sebab"

"...maaf..", kata Junhong dengan suara kecil, degupan Jantungnya begitu gaduh. Pedahal ia selalu menempel padanya tapi ini pertama kalinya ia membebankan berat tubuhnya kepada Jongup dalam waktu yang lama.

Mereka berjalan keluar dari kawasan Apartment dan Youngjae berhenti di persimpangan, "Nah, aku sampai disini saja – arah rumah kita berbeda"

"Ok, sampai jumpa besok", kata Jongup, merasa agak sungkan setelah menyeret temannya ke tempat asing

Jongup kembali berjalan kearah kediaman Bang dengan Junhong dipunggungnya, ia sebenarnya senang kini Junhong tidak jauh darinya, kedua tangan Junhong yang sangat putih kembali melingkar disekitarnya – tetapi dia agak pendiam hari ini. Sebenarnya kenapa Junhong masih menemui pria itu?

.

"Hei", Junhong akhirnya mengangkat suara, "...kenapa kau bersama siswa dari kelas lain? .."

"Kami hanya teman bermain game kok, dilingkungan sekolah kita tidak bicara banyak", jelas Jongup, "Kau sendiri kenapa bersama orang itu, bukankah gara-gara dia kau..."

"Aku tidak kembali padanya, lagi pula perkumpulan berandal yang kau maksud sudah bubar.. Hyung sendirian...", ucap Junhong

Ia terlihat mengenal pria itu lebih lama dari yang Jongup perkirakan, bagaimana bisa Junhong bersantai-santai disekitar orang yang sudah menyakitinya ? Tahukah Junhong, kalau ia sangat khawatir Junhong akan dipukuli lagi, bagaimana kalau Hyung yang ia maksud sedang menjebaknya? Jongup tidak suka dengan pria itu.

.

Junhong mengeratkan pegangannya karena tahu Jongup mulai mencapai batas dan mereka sudah bisa melihat atap rumah Bang, sebenarnya tidak tega melihat Jongup kecapekan tetapi ia tidak ingin segera berpisah. Alasan Junhong begitu mencintai Jongup, Jongup itu ketus tetapi sangat peduli dengan Junhong, berada disekitar Jongup itu menenangkan, ia tidak banyak tersenyum seperti kata Himchan tetapi hal itu lebih baik dari pada terus tersenyum dengan kepalsuan.

"Junhong? Jongup?", panggil Himchan dari belakang, "Ada apa, kenapa kalian seperti Koala?"

"Himchan-Hyung~ Yongguk-Hyung~", sambut Junhong

"Kakimu kenapa? Apa kau jatuh, sakit sekali?", tanya Himchan yang melihat pergelangan kaki Junhong sangat merah dan Junhong hanya mengangguk-anggukan kepalanya

"Jongup, mau kugantikan?", Yongguk menawarkan karena Jongup terlihat kelelahan

"Nah, aku bisa kok", kata Jongup

.

Sesampai dikediaman Bang, kaki Junhong diobati dan ia dilarang melangkah satu langkah pun dari sofa sementara Jongup duduk disebelahnya dan bernafas lega, Junhong benar-benar berat dan ia juga keras kepala sampai kehabisan tenaga.

"Terima kasih yah Jonguppie", ucap Junhong

"Nah, aku tidak akan melakukannya lagi", kata Jongup menutup matanya

Junhong memberi ciuman dipipi tepat saat Himchan datang dengan segelas jus untuk maknae, "lanjutkan saja...pacarannya...", Himchan salah tingkah dan segera pergi ke dapur lagi.

"Hyung! Kita tidak pacaran!", wajah Jongup merah dan ia berusaha mendapat pengertian dari Hyungnya.

"Kupikir kita sudah jadian", mata Junhong membesar

"S-Sejak kapan!?", Jongup menjawab balik

"Sejak kau sayang padaku?.. dan aku juga sayang padamu", ucap Junhong

Wajah Jongup menjadi merah semerah buah tomat kesukaan Junhong, "t..Tidak, lagi pula kita tidak jadi kencan jadi aku tidak bilang aku mau jadi pacarmu!"

Yongguk menutup majalah ditangannya, dari awal ia sudah satu ruangan dengan mereka tapi baru sekarang angkat suara, "...bukannya kalian baru selesai kencan, maksudku..membopoh Junhong itu romantis"

Yongguk-Hyung memang selalu bisa mengalahkan Jongup kalau sudah berargumen, tapi kalau membawa Junhong itu kencan maka cuma Junhong yang senang sedangkan ia merasa menderita dan kecapekan.

"Jadi...kita pacaran?", Junhong memainkan jari-jarinya

"...kalian pasti sepakat menjebakku...", Jongup menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Chilla:

Mian buat readernim yang mengharapkan banghim, tpi untuk summon 2 anggota terakhir saya mendapat plotnya melalui maknae-line
tapi jangan khawatir BangHim tetap idup! *kibarkan bendera banghim*