Yeiho! Saya kembali! Sepertinya saya sudah menunda fic ini beberapa hari. Maklum, om saya sedang merayakan pernikahannya. Jadi mau tidak mau saya juga ikut ambil bagian. *bohong padahal sebelumnya cuma nonton anime*

Yak, tapi, tak usahlah kalian kepo dengan apa yang saya lakukan selama saya menghilang dari permukaan fanfiction (?) ini. Mending kepoin kelanjutan cerita ini. Oke, oke? Okelah~ Jangan lupa, RnR!

Disclaimer : Selalu ingatlah readers sekalian, mau yang masih newbie atau bukan, bahwa Kingdom Hearts punya Tetsuya Nomura dan seganjil krunya.

Warning : Gaje udah pasti, jelas udah pasti, tapi AU itu yang lebih pasti. OC dan OOC apa lagi, kalau typo jangan ditanya. Yang gak suka? Kok bisa? :p

Truth or Dare!

Game 9 – Kedatangan Kakak Awesome

Author/Ugya POV

Seminggu yang lalu sudah cukup melelahkan bagiku. Yah, menangani dua cewek yang lagi patah hati karena cowoknya lebih memilih sahabatnya daripada mereka. Eh, sudahlah. Jangan bicarakan itu lagi. Nanti aku malah senyum-senyum sendiri ingat kejadian peluk-memeluk itu. Walaupun sebenarnya Olette yang memelekku.

Hari ini Hari Selasa. Beberapa hari lagi para siswa akan menempuh ujian tengah semester. Yah, kurasa itu sebabnya juga UKS jadi lebih sepi dan perpustakaan jadi lebih ramai dari biasanya. Harusnya mereka belajar dari sejak mereka masuk sekolah pertama kali. Bukan malah jadi ajang kebut-kebutan 'Siapa yang paling cepat dapat tempat nyaman dan buku yang berisi trik-trik belajar'. Ya. Trik belajar. Bukan buku pelajaran umum yang biasa dibaca orang-orang kutu buku sepertiku.

Tapi, memang suasana ini terlalu sepi. Biasanya Larxene, Marluxia, Sephiroth, Hayner, Aqua, dan Tifa akan datang untuk sekadar menamparku. Maksudku, menjahiliku. Atau apalah yang mereka suka lakukan.

Olette? Memang sungguh sangat disayangkan, terutama bagiku yang merupakan penggemar setianya, sejak saat itu—yah, kalian tahu, 'kan?—dia jarang sekali datang kesini. Entah karena takut bertemu dengan Tifa. Atau mungkin malah malu bertemu denganku lagi. Aduh, saya terlalu berkhayal.

Aku pun mulai merasa kelaparan. Padahal ini masih pagi dan tadi aku juga sudah sarapan. Dua setengah porsi pula. Tapi, yang kuheran, tubuh ini tidak mengalami pemuaian secara signifikan sama sekali. Secara signifikan pun, mungkin sebagian besar akan mengalir ke pipi atau paha. Tunggu. Itu aib.

Terpaksa aku mengambil bekal dari tasku yang niatnya akan kumakan waktu istirahat kedua bersama-sama dengan penghuni asrama yang lain di atap sekolah. Bekal hari ini di buat oleh Larxene. Awalnya aku cukup ragu. Mengingat resep yang ia berikan ke Sa'ix sebelumnya. Walaupun ia juga sudah menegaskan kalau itu sebenarnya bukan resep makanan.

Tapi, setelah aku membuka tutup bekalnya, aku terkejut. Bulu kudukku berdiri. Bulu mataku yang lentik walaupun aku bukan wanita, mulai menunjukkan goyang morenanya. Air liurku memaksa ingin menetes, seperti berkata "Aku akan melihat dunia luar! Hore!". Tapi, tentu saja itu aneh dan menjijikan, jadi aku mengembalikan kembali air liurku ke liang kuburnya yang sebenarnya. Sesuatu yang ada di bawah, yakni jari kakiku, menari bahagia. Jangan berpikiran mesum dulu.

Tentu saja. Aku memang terlalu berpikiran negatif soal masakan Larxene. Padahal dilihat saja sudah menggiurkan seperti ini, bagaimana dengan rasanya? Pasti tidak sanggup untuk kutelan dan akan kubiarkan membusuk di dalam mulutku. Tunggu. Itu ungkapan yang terlalu berlebihan.

Dari yang kulihat, Larxene membuat sushi mungil yang berisi dedagingan. Kalau dilihat sekilas, bisa disimpulkan yang ada adalah daging ayam, ikan, dan sapi. Walaupun sebagian yang kusebut adalah daging yang bisa saja sulit untuk dikunyah, tapi terlihat malah seperti "Aku lembut dan empuk lho! Ayo kemari dan tidurlah disini!" Tunggu. Maksudku mereka lembut untuk dimakan. Dan jangan bayangkan aku akan tidur di setumpuk sushi itu. Sushi itu ditemani dengan tempura keemasan yang terlihat matang sempurna.

Selain itu ada juga sayuran segar yang warnanya cerah. Wortel dan kacang panjang yang dipotong kecil-kecil menjadi beberapa bagian, serta tauge atau juga biasa disebut kecambah yang seperti rela dimakan jika itu olehku. Sayuran itu sungguh menampilkan warna yang cerah sekalipun sayuran ini memang terlihat sehabis direbus. Selain itu saus yang warnanya kecoklatan yang berada di atas sayuran juga menampilkan rasa manis. Benar-benar tidak memperlihatkan bahwa sayuran ini hanyalah pecel yang dilumuri dengan saus kacang manis-pedas.

...

Kenapa? Apa ada yang salah? Itu memang pecel. Apa kalian tidak tahu masakan itu? Cobalah cari di internet.

Aku pun mulai tidak sabar untuk memakan bekal yang sungguh sangat menarik ini. Aku meletakkan bekal di salah satu kasur UKS dan menarik salah satu kursi yang ada mendekati bekalku berada. Selain itu, aku juga menyiapkan sendok dan segelas air yang kuisi air mineral dari botol air mineral yang sempat aku beli di pasar modern tadi pagi.

Tahu pasar modern? Itu lho, Supermarket Agrabah. Dibilang pasar modern karena dulunya memang pasar tradisional yang benar-benar kumuh. Tapi kini sudah direnovasi menjadi supermarket bintang sepuluh dengan berbagai fasilitas masa kini. Seperti salah satunya mesin kasir otomatis yang dibenci Tuan Krabs. Tunggu. Itu out of fandom.

Okelah, mari kita lanjutkan. Aku mulai duduk semanis mungkin agar bisa menyeimbangkan bekal super manis yang ada di hadapanku ini. Aku meraih sendok yang tadinya kuletakkan di sebelah bekalku dan mulai menjemput beberapa makanan yang ada di bekalku.

"Selamat makan~" gumamku sendirian di ruang yang sepi ini. Aku pun mulai menyambut kedatangan makanan yang kini sudah menyentuh lidahku ini. Makanan yang kini beradu dengan gigi dan lidahku ini sungguh nikmat. Tunggu. Jangan pikir aku sedang berciuman. Aku sedang menyantap bekal. Ingat?

"Hmmm~! Enak! Aku memang terlalu menilai negatif Larxene!" ucapku dalam keheningan ini. Setelah kutelan, tiba-tiba pintu geser UKS terbuka. Menunjukkan sosok garang yang sudah familiar di mataku.

"Ah, disini kau rupanya. Setelah kau membereskan yang ada di kasur itu, segera ke kantor asrama khusus. Ada yang perlu kita bicarakan," kata sosok itu. Mari kita ganti kata sosok ini dengan nama. Mungkin...

"Hee~?! Tapi, aku baru saja akan menyantap sendok kedua dari makanan penuh surga ini, Babi Jantan!" kataku sambil menyebutnya babi jantan. Oh, mungkin readers bingung. Sosok yang dimaksudkan disini adalah Xemnas. Dan coba bayangkan betapa lucunya jika ia dimiripkan dengan babi jantan bermuka garang. Lucu, 'kan?

...

Oke, mari kita lupakan keabsurdan itu.

"Terserah apa katamu. Yang jelas cepat ke kantor asrama khusus dan jangan pernah panggil aku babi jantan lagi," katanya sambil memperingatkanku dan mulai memutar badannya dan mulai melangkah meninggalkan ruang UKS. Meninggalkannya dengan pintu terbuka.

"Setidaknya tutup pintunya dulu, preman penguasa babi idiot," kataku pelan sambil mencelanya dengan suara yang tidak bisa dikatakan keras, tapi juga tidak bisa dikatakan pelan.

Tetapi setelah aku beranjak dari tempat dudukku, dengan tiba-tiba lagi Xemnas berdiri di depan pintu UKS dengan mata setengah terbuka dan tatapan dingin. Setelah aku mulai kengerian dengan tatapannya itu dia menghentakkan pintu geser itu dengan kencang yang hanya membuatku semakin diliputi rasa kacau dalam diri.

Sungguh. Aku ini terlalu puitis. Darimananya? Aku bahkan tidak tahu.

-Setelah membereskan bekal surga Larxene-

Aku yang sungguh melewatkan sendok kedua dari bekal surga Larxene benar-benar kecewa. Kenapa ini harus terjadi? Kenapa harus selalu aku yang disuruh? Kenapa hanya aku dari sekian banyak orang yang ada di sekolah ini?!

Oke, maafkan aku jika aku terlalu mendramtisir cerita ini. Mungkin lambat laun genrenya akan membelok lagi setelah sekian lama tidak dibelokkan.

Akupun mulai menutup pintu UKS dari luar dan melangkah menuju kantor asrama khusus. Aku berjalan dengan santainya. Dengan gaya memasukkan tangan ke dalam saku kemeja yang ada di sebelah kancing baju. Kalian pasti tahu itu, 'kan?

Ah, dan biar kujelaskan kantor asrama khusus yang tadi sempat disebutkan itu. Kantor itu sebenarnya adalah kantor yang mengurus hal-hal yang berhubungan dengan asrama khusus yang pembaca kenal selama ini. Ya, asrama The World That Never Was. Biasanya, jika sampai ada keperluan sampai Xemnas segala keperluan ini mendesak. Karena biasanya hal-hal sepele sekalipun yang mengurus justru penghuninya masing-masing. Memang bukan aneh lagi karena Xemnas sendiri yang sudah tua. Ya, dia tua. Sungguh tua. Benar-benar sudah tua. Keladi pula.

Apalagi jika aku juga diundang dalam ruangan yang penuh kejut listrik dari tatapan dingin gak bermutu dari Xemnas. Bisa jadi ini adalah suatu perihal yang benar jika dikatakan serius tingkat waspada.

Tapi, aku penasaran. Hal apa yang sampai memanggilku segala? Apa ada sempak yang tertinggal dan tidak tahu siapa pemiliknya? Atau ada yang akan mengadakan upacara pernikahan kura-kura dengan harimau dalam asrama? Ah, aku teralu jauh dan keras memikirkannya. Jika aku memang benar-benar penasaran, seharusnya aku tidak jalan sesantai ini.

Setelah sekian lama aku berjalan, akhirnya aku mencapai tempat tujuan yang telah kutunggu-tunggu. Tempat dimana semua pertanyaanku akan terjawab. Aku akan tahu siapa keluargaku yang sebenarnya.

...

Oke, itu cuma lawakan garing ala sinetron keluarga yang bercerita tentang anak yang sudah terpisah dari keluarganya selama-lamanya.

Di depan pintu kantor asrama khusus inilah dimana jantungku berdetak lebih kencang daripada saat aku akan menyantap bekal surga Larxene tadi. Aku memang terlalu melebih-lebihkan bekal Larxene.

Aku meraih gagang pintu berwarna coklat halus yang terbuat dari kayu. Begitu aku memutarnya dan mendorongnya ke dalam, pemandangan yang pertama kulihat adalah Xemnas yang sedang menyantap bekal milik Larxene.

"Bekal ini memang enak. Terima kasih atas makanannya," katanya dengan tenang sambil menutup bekalnya yang sudah habis tak bersisa.

"HEI! KENAPA KAU MALAH DENGAN SANTAINYA MENGHABISKAN BEKAL ITU SEDANGKAN KAU MENYURUHKU UNTUK MEMBERESKANNYA LALU PERGI KE RUANGANMU, HAH?!" teriakku dengan nada tinggi. Tinggi. Jauh tinggi ke tempat kau berada~.

"Hentikan teriakanmu Ugya-sensei. Kau mengganggu kegiatan pembelajaran di kelas-kelas jika kau terus berteriak seperti itu. Dan selain itu aku tidak pernah memintamu untuk berhenti makan bekal. Aku hanya memintamu untuk segera membereskannya. Masalah kau mau makan di ruangan ini pun juga tak masalah. Dan kau sepertinya sudah membuat tamu kita menunggu dengan kesabaran yang hampir memuncak," jelasnya sambil memperingatkanku. Aku mulai muak dengan peringatannya padaku. Sungguh. Ingin sekali aku menuangkan cairan HCl ke kepalanya itu.

"Terserah!" kataku tak peduli dengan penjelasannya. "Tunggu. Tamu katamu? Untukku?"

"Ya. Tidak, siapa orang yang akan berniat untuk mengunjungi orang sepertimu? Lebih tepatnya tamu kita ini datang untuk salah satu penghuni asrama kita," jelasnya seraya mengejekku dengan sindiran dalam penuh makna.

"Hoo, begitu," gumamku sambil menoleh ke tamu yang disebut Xemnas. Benar kata Xemnas, saat aku tersenyum padanya dia juga membalas senyumku dengan urat di dahinya. Dia sudah menahan kesabarannya sejak tadi.

Dari penampilannya dia terlihat cukup yankee, walau sebenarnya hanya rambutnya yang terlihat seperti itu. Cewek dengan rambut yang sebenarnya hanya cocok dengan cowok, kemeja biru gelap yang ukurannya seimbang dengan dadanya, serta rok denim selutut. Apa dia trap?

"Apa kau tra—?" belum aku menyudahi kalimatku, orang ini sudah hampir menendangku. Ya, hampir, karena dia tidak berniat sejauh itu dan hanya menempatkan kaki beralaskan sepatu bot itu beberapa milimeter dari pipi tembemku.

"Jangan kau sebut kata itu lagi. Mengerti?" katanya yang langsung kurespon dengan anggukan cepat. Kulirik, Xemnas hanya santai saja sambil meminum kopi yang baru saja ia buat.

Aku pun mulai duduk di sofa berwarna coklat muda yang empuk berhadapan dengan cewek garang ini. "Jadi, ada apa?" tanyaku singkat.

"Orang ini bernama Paine. Dia dulunya alumni dari sekolah ini. Sekarang berkarir sebagai penyanyi klasik maupun akustik. Oh, dia juga alumni dari asrama TWTNW," jelas Xemnas sambil menyerahkan sebuah file berisi berkas-berkas orang yang bernama Paine ini.

Setelah mataku membaca kata demi kata yang ada dalam lembaran kertas sampai halaman akhir, aku sempat terkejut. Tentu saja. Readers mungkin akan berkata "Lagi-lagi sesuatu yang crack." setelah mendengar apa yang kubaca.

"Jadi kau kakaknya?" tanyaku.

"Ya," jawabnya singkat. Yah, lagipula aku tidak mengaharapkan jawaban yang lebih dari itu.

"Pantas saja kelakuannya garang sepertinya. Kakak beradik memang mengerikan," gumamku sepelan mungkin sambil menutupi mulutku dengan kumpulan kertas yang kubaca tadi.

"Kau menggumam sesuatu?" ancamnya sambil menyiapkan tangan kanannya. Aku menggeleng cepat dengan mata setengah terbuka.

"Baiklah, jadi kau kemari untuk meminta ijin supaya bisa menginap selama, kurang lebih, dua minggu ini untuk membimbingnya dalam belajarnya menghadapi ujian, benar?" tanyaku memastikan.

"Lebih tepatnya mengawasi. Aku ini tidak sepintar guru-guru yang ada disini," kata Paine sedikit merendah. Tapi kuyakin kau lebih pandai bermusik dibanding aku.

"Lalu apa masalahnya? Kalau mau menginap, ya, menginaplah. Kuyakin tidak ada yang keberatan. Adikmupun pasti akan sen—"

"Itulah masalahnya, Ugya-san," potong Xemnas di tengah pembicaraanku dengan Paine. "Paine punya masalah dengan adiknya,"

"Apa hanya karena dia bukan adik kandung?" tanyaku langsung ke intinya.

"Ya. Itulah sebabnya dia lebih ingin di asrama daripada di rumah," jelas Paine.

"Lalu, kenapa kau ingin mengawasinya? Kalau memang dia ingin menjauh dari keluarga kalian, itu haknya, 'kan?" yah, perkataanku seperti orang yang pasrah keadaan.

"Tidak. Kau tidak tahu masalah yang sebenarnya. Ini semua sebenarnya hanyalah salah paham. Setidaknya, hanya akulah yang mengakuinya. Tapi, dia hanya tidak tahu dan malah salah paham," kata Paine yang hanya membuatku dan Xemnas bingung hingga memiringkan kepala 145 derajat. "Supaya kalian lebih jelas lagi, aku akan menceritakannya,"

-TWTNW Mansion-

"Wah! Kalian berdua pulang terlambat! Kalian juga tidak datang ke atap siang ini! Kalian PHP!" teriak Xion yang langsung saja menyambut kami di depan pintu asrama. Sepertinya ia terus menunggu sampai malam.

"Cepet elo masuk, Larxene udah hampir selesai nyiapin makan malem," kata Sa'ix dari belakang Xion. Kami pun masuk tanpa ada rasa ragu sedikitpun. Sa'ix menatap wanita yang ikut masuk bersamaku dan Xemnas.

"Tu-tunggu! Die, 'kan?!" Sa'ix sempat kaget.

"Sepertinya tidak ada yang keluar asrama. Baiklah kalau begini jadi lebih mudah," kata Xemnas.

"Minna-san~! Kami punya kabar bahwa ada seorang penyanyi yang akan menginap selama dua minggu di rumah kita! Ini dia!" teriakku sambil memperkenalkan orang yang dimaksud.

"Waow! Dia kan Paine! Gyaaaa~! Gue minta tanda tangan lo dong!" kata Roxas yang sepertinya nge-fans.

"Gak sopan panggil pake lo-gue, bego!" kata Sa'ix yang tiba-tiba datang dan berteriak dari arah belakangku. Terdengar juga siulan Xigbar yang terdengar mesum.

Seorang yang baru saja keluar dari dapur pun membelalakkan matanya dan kurasa juga tidak sengaja menjatuhkan piring yang niatnya akan dijadikan tempat untuk menaruh masakan. Alhasil, piringnya pecah.

"Kakak?!"

-TeBeCeh-

Eaeaea~ malah jadi sinetron keluarga beneran kan? Drama banget deh ini lama-lama. -_-'

Yak, dan kayaknya udah pada tau Paine itu kakak siapa. Yang belum tahu? Tunggu aja chapter berikutnya. :p Salah siapa gak tahu~

Dan jangan protes dengan kata-kata mansion di asrama TWTNW itu. Karena ... ya, anggep aja gitu. Hehe. *plak*

Kayaknya chapter ini panjang banget, yah? Udah gitu deskripsi jadi tambah banyak. Dialognya malah di belakang-belakang. Tapi, semoga tetap menarik di mata pemabaca sekalian~! :3

Selanjutnya balasan Review!

Eqa Skylight, Aduh, jangan kuat-kuat kek jadi orang. Plis, biasa aja deh. Aqua itu pembunuh. *woi* Hemb. Bakal kujadiin chapter yang bahas tentang Aqua sih. Tapi yang jelas itu bukan Ventus. *ea, spoiler deh*

Hikari Kengo, Zexion nosblit to the max. *alay* Gak! Untuk apa saya nge-raep makhluk sok pintar itu! Gak sudi~! Muka dibuang? Caranya lepas mulut, mata, hidung, dan alis lalu buang ke sembarang tempat. *woi* Dan, plis. Saya emang gak normal alias nijikon. *ngaku*

Terima kasih buat yang udah review! Makasih juga buat para Silent Readers yang sudah membaca! Walaupun yang baca cuman dikit, tapi itu sudah berharga buat saya~

Dan saya minta maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan selama saya membuat chapter ini. Entah itu karena update yang lamanya bejibun atau apalah itu.

Well, thanks for reading and leave your review~! Flamer should get some sweet candies~! :3:3:3:3:3