Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing: SasuFemNaru
Genre: Romance and Friendship
Rated: T
Warning: AU, Typo(s), OOC, gaje, Newbie, SasuFemNaru
.
Summary: Naruto Uzumaki, anak cewek yang periang, manis, dan imut. Meskipun kyuubi tersegel dalam dirinya, orang-orang di konoha menyukainya, hidup yang menyenangkan, tapi karena kyuubi sekarang dia di incar…
Pair: SasuFemNaru, and many more, my first fic, Newbie, DLDR, but… mind to RnR?
.
A/N:balasan review~~~~~~
Nasumichan Uharu
Waah, saya juga takut bikin Naru-chan diapa-apain(?) semoga saya bisa menahan diri deh. Hee..
Sasu nyelamatin Naru kok. Arigatou..
Namikaze Narita-chan
Iyaaaa, ini lanjutannya sudah muncul (?), hehe. Salam kenal juga, u.u
Arigatou…
Ciel-Kky30
Sai? O.O hmm, mungkin, baca aja deh n.n
Arigatou…
DheKyu
Terimakasih doanya :')
Iya, ini lanjutannya sudah saya apdet, met baca. Arigatou…
Yashina Uzumaki
Saya juga suka ama yang manis-manis, Yas-chan :3
Maaf apdetnya gak kilat… u.u
Arigatou…
Ryuu
Iya ya, masalahnya kebanyakan, jadinya malah saya juga yang pusing sendiri. #ROFL
Ini udah saya apdet n.n
Arigatou…
99
Iya, bener juga sih, saya mengerti. Salah satu author fav saya juga hiatus lama banget, padahal saya udah menunggu lama bgt. Tapi saya usahakan kok, fic ini gak akan discontinue. n.n
Arigatou…
yuchan desu
saya jawab pertanyaannya dulu deh, sepertinya emang semi-canon, soalnya alurnya gak jauh beda, saya juga kurang mengerti istilah perfanfic-an u.u
kalo disini Hanzonya belum(?) saya bikin mati untuk mendukung alur cerita n.n
soal Kankuro, saya juga gak tau nama aslinya siapa. Sabaku bukan ya, O.o entahlah. Biar disini dia jadi Sabaku aja. *plak*
Danzo dibunuh Sasuke? Belum kepikiran sih… soalnya Sasuke belum sekuat itu disini.. u.u
Makasih udah nunggu dan terus menyemangati saya n.n
Arigatou…
Hysteria
Makasih sudah dibilang awesome n.n
Arigatou…
Haru'uchiha'chan
Sankyuuuu, u.u
Tenang aja, walaupun misalnya terluka, naru-chan gak akan saya bikin mati disini :3 *ditimpuk mangkuk ramen* Naru-chan memang polos seperti biasanya, u.u
Maaf gak kilat n.n
Arigatou…
Kamikaze no Shinigami
Ini sudah saya apdet lanjutannya, n.n
Arigatou…
Guest
Maaf lama, ini udah muncul lanjutannya, n.n
Arigatou…
Guest
Wah, review dua kali atau namanya yang sama ya?
Makasih udah bilang ceritanya keren *terharu*
Ini udah saya apdet. Arigatou…
UzuKyuu Huri-chan
Syukurlah Huri-chan bisa menemukan fic ini :')
Iya, genrenya emang begitu, soalnya saya gak pandai bikin yang sedih-sedih, dan asem-asem. Gak sanggup. #ROFL
Tapi humor buat chap ini kayaknya dikit…
Action dan pertarungan ada dichap ini kok, u,u saya suka action, tp gak pandai bikin(?) orang berkelahi.
Salam kenal buat Bigbronya Huri-chan deh, makasih udah suka fic ini n.n
Arigatou…
Makasih buat Nisa-chan yang kemaren udah ngasih semangat, dan juga buat para reader yang udah baca n ngereview fic Cloud Remains: Haru'uchiha'chan', Guest, Guest, Anne Garbo, yukiko no narita-chan, .
Benar, itu emang cerita ttg Past mereka berdua. Sebenarnya masih ada lanjutannya, tapi saya stuck sampai disitu.. u.u
Makasih buat reader, reviewer, dan silent reader yang nunggu fic ini :')
Met baca…
.
Bringing The Rain © Kiriya Diciannove
.
.
'Ugh… terikat…' batin Naruto sambil mencoba menggerakkan tangannya yang terikat dibelakang punggungnya. Selain itu mulutnya juga ditutup dengan lakban.
'Sudah berapa lama aku disini?'
Saat dia tersadar dia sudah berada diruangan yang tidak dikenalnya sama sekali. Sendirian.
Gadis pirang itu menghela napas, 'Diculik ya… menyedihkan…'
[Bringing the Rain]
Tidak jauh dari perbatasan Sunagakure, terdapat sebuah tempat persembunyian di dalam hutan, tempat itu sangat gelap dan tenang, meskipun demikian aliran cakra di gua yang tersembunyi itu terasa begitu kuat. Ditempat itulah markas Akatsuki berada.
"Leader…" ucap Zetsu tiba-tiba muncul.
"Ada apa?" Tanya Pain.
"Bagaimana dengan Ichibi? Sudah selesai?"
"Ya," jawab Pain singkat.
"Hmm, begitu? Aku hanya ingin menyampaikan informasi, yaaah, dan tentu saja, ini mengenai Naruto Uzumaki, jinchuuriki kesayanganmu. Dia ditangkap oleh Danzo, dan juga sepertinya tim pencari jinchuuriki Ichibi menuju kemari." Sahut Zetsu.
"Begitu…"
"Ya, dia dibawa kearah barat Konoha oleh anak buah Danzo. Sedangkan tim pengejar Ichibi ini bergerak kearah timur, tepatnya kearah markas kita ini," lanjut Zetsu.
"Apa yang harus kita lakukan Pain? Mungkin ini ada hubungannya dengan Hanzo." ucap Konan.
"Kita akan menghabisi Hanzo. Segera." Sahut Pain.
"Lalu bagaimana dengan mantan jinchuuriki ini, un?" Tanya Deidara sambil menyepakkan kakinya ketubuh Gaara.
"Pengalih perhatian tim pencari jinchuuriki itu tentunya, tentu kita tidak ingin markas ini ketahuan dengan cepat, benarkan leader?" ucap Kisame.
"Kalau begitu lakukan."
"Baiklah, kami mengerti."
.
.
.
"Ah, kau sudah bangun rupanya." Ucap seorang anbu yang baru saja memasuki ruangan itu.
Naruto mengarahkan pandangannya kepada anbu itu, walaupun wajahnya sudah jelas tidak terlihat karena memakai topeng.
"Oh, aku lupa kalau mulutmu ditutup, diamlah dengan baik disini ya, nona jinchuuriki." Anbu itu kembali keluar meninggalkan Naruto.
'Seakan aku mau tetap berada ditempat ini!' gerutu si pirang itu dalam hati.
Tidak lama setelah itu, empat orang kembali memasuki ruangan dimana Naruto berada.
Bruakkk!
Danzo memandang kearah jinchuuriki yang menatapnya dengan tajam itu, tanpa ragu Danzo menendang Naruto hingga terlempar ke pojok ruangan.
Naruto tersenyum kecil dengan sudut bibir yang berdarah, sebelum akhirnya menghilang menjadi kepulan asap putih.
Poof!
"Bagaimana bisa kalian membiarkannya kabur?" Tatap Danzo tajam kepada dua anbu yang ditugaskan menjaga ruangan itu.
"Maafkan kami, Danzo-sama!" seru kedua anbu itu langsung berlutut.
"Cepat cari dia, dan kerahkan tim yang lain untuk menangkapnya!" perintah Danzo.
"Baik!" kedua anbu itu langsung menghilang.
"Kita juga pergi sekarang, Sai." Ujar Danzo sambil menatap Sai tajam.
Sai menunduk hormat, "Baik, Danzo-sama."
.
"Ah, sial! Bunshinku sudah ketahuan," seru Naruto sambil mencari jalan pulang. 'Jadi orang itu yang bernama Danzo, entah apa yang dia inginkan dariku, tapi kenapa Sai ada bersamanya? Tidak ada waktu memikirkannya, aku segera cepat menjauh dari tempat itu. Mereka pasti mengejarku lagi…'
Si pirang itu melompati pohon dengan cepat menuju kearah timur hutan, 'Gaara bagaimana ya? Sasuke juga…'
"Berhenti disitu, Naruto Uzumaki!"
Naruto tersadar dari lamunannya, "Kuso!"
[SasuFemNaru]
"Pakkun, apa kau tahu arahnya menuju kemana?" Tanya Kakashi yang melakukan pengejaran Naruto.
"Iya, entah kenapa cakra mereka terasa mendekat, kita tidak begitu jauh dari mereka. Cakra Naruto juga terasa mendekat kemari." Jawab Pakkun.
"Ada kemungkinannya dia berhasil melarikan diri dari para anbu itu," ucap Yamato sambil berpikir.
Tiba-tiba Sasuke melihat sesuatu yang familiar, dia segera melesat kearah itu. "Kalung…. Milik Naruto…" geramnya.
"Sasuke, apa yang kau temukan?" Tanya Kakashi sambil menghampiri Sasuke. Sasuke menunjukkan kalung milik Naruto.
"Itu kalung penyegel milik Naruto," ucap Kakashi.
"Terlepas ya? Ini berbahaya, Kakashi-senpai!" seru Yamato.
"Benar, ayo kita bergegas!" ujar Kakashi, kemudian mereka melesat dengan kecepatan penuh.
Tampak terlihat dari kejauhan beberapa orang. 'Disana,' batin Sasuke sambil mempercepat langkahnya.
"Sasuke, tunggu dulu! Jangan gegabah!" ujar Kakashi. Tapi Sasuke sudah jauh di depan mereka.
Trang!
Beberapa kunai dan shuriken mengarah menuju Sasuke, namun dapat dihindarinya dengan mudah. Sharingannya segera aktif dan segera menyerang salahsatu Anbu Ne yang berada di belakangnya.
"Katon! Goukakyu no jutsu!"
Anbu itu menghindar, namun Sasuke langsung mengarahkan Chidorinya kearah Anbu itu tanpa buang waktu disertai dengan genjutsu sehingga membuat Anbu itu terjebak genjutsu dari sharingan dan terjatuh tidak sadarkan diri.
"Jangan menghalangiku," desis Sasuke.
Dua Anbu yang lain segera menyerang Kakashi dan Yamato. Sementara Sasuke terlebih dahulu mengejar Anbu yang pergi.
"Sasuke!" teriak Kakashi yang sepertinya tidak digubris oleh Sasuke.
Kakashi menghela napas sambil menangkis serangan musuh, "Anak itu…"
"Hei! Berhenti kau! Apa yang mau kau lakukan padanya!" teriak Sasuke sambil melempar beberapa kunai.
Anbu itupun berhenti, "Sasuke Uchiha ya?"
"Sasuke?!" seru Naruto langsung menoleh diantara para anbu Ne yang mengelilinginya.
"Baka! Jangan lengah!" teriak Sasuke segera menuju kearah Naruto sambil melawan anbu itu.
"Aku tahu itu, Teme! Tapi kalau melawan lima anbu sekaligus seperti ini…"
Srekk!
Seorang anbu berhasil menangkap tangan Naruto dan menahannya dengan kunai bertengger di samping leher gadis pemilik cakra Kyuubi itu.
'Ukh, lagi-lagi…' batin Naruto.
"Berhenti melawan, Uchiha, atau gadis ini akan terluka."
"Kenapa kau menangkap Naruto?!" geram Sasuke sambil menatap kearah Naruto yang berada di tangan Anbu itu.
"Tidurlah kembali, nona jichuuriki…" bisiknya. Terpengaruh genjutsu anbu itu, Naruto perlahan menutup kedua matanya.
Anbu itu kembali mengarahkan pandangannya kepada Sasuke. "Karena ini adalah misi yang diperintahkan oleh Danzo-sama!" ucapnya sambil melempar beberapa kunai dengan kertas peledak.
Duarrr!
"Cih!" Sasuke segera menghindar.
"Lama sekali," ujar Danzo tiba-tiba muncul ditengah pertarungan itu bersama dengan Sai.
"Maafkan saya Danzo-sama. Ada sedikit gangguan," kata Anbu itu seraya menatap kearah Sasuke.
"Uchiha ya? Tapi saat ini aku tidak ada urusan denganmu." Ucap Danzo, "Sai, Uchiha kuserahkan padamu."
Sai menunduk, "Ha'i, Danzo-sama."
Dalam sekejap mata, tiba-tiba Sai muncul dari samping dan menendang Sasuke, membuatnya terlempar dan membentur pohon dengan keras. Si Raven itu mencoba bangun untuk bersiap menyerang kembali, tapi ternyata Danzo dan Anbu itu sudah menghilang bersama dengan Naruto.
Meninggalkan Sai bersama dengan Sasuke.
"Sial…" Sasuke memukul pohon dibelakangnya dengan keras.
"Maaf, tapi kau cukup sampai disini saja, Sasuke-kun," ucap Sai sambil tersenyum.
"Menyingkir."
Sai masih tersenyum, "Tidak bisa."
"Kubilang menyingkir!"
"Choujuu Giga."
Beberapa singa muncul dari kertas gulungan milik Sai dan langsung menyerang kearah Sasuke, meskipun dengan mudah bisa dikalahkan oleh Sasuke.
"Kau tidak akan bisa mengalahkanku Sai." Ucap Sasuke dengan mata sharingannya.
"Hmm, mungkin…" ucap Sai sambil menyerang Sasuke dengan tanto miliknya, "Tapi misiku kali ini bukan untuk mengalahkanmu. Karena aku adalah Anbu dari Ne."
Trang!
Kunai dan tanto itu saling bertemu, memunculkan beberapa percikan cahaya di hutan itu. Mereka bertarung dengan serius, walaupun nyatanya mereka adalah teman. Tapi sejak awal mereka di jalan yang berbeda karena Sai adalah bawahan Danzo. Dan itu berarti kalau kali ini mereka adalah musuh.
"Ada apa Sasuke-kun? Kenapa kau terlihat lemah seperti ini? Kalau seperti ini kau tidak akan bisa menyelamatkannya."
Sasuke mundur beberapa langkah dengan posisi siaga sambil mengacungkan kunainya, "Dipihak siapa kau sebenarnya?"
"Seharusnya kau sudah tahu kalau kali ini kita adalah musuh," ujar Sai sambil mengacungkan tanto miliknya kearah Sasuke yang menatapnya tajam.
"Chidori!"
Brakkk!
"Kau harus mengalahkanku kalau ingin bertemu dengan nona rubahmu. Walaupun sebenarnya aku tidak ada niat demikian, tapi misi adalah misi." Bisik Sai ditelinga Sasuke saat mengarahkan tanto-nya kearah Leher Sasuke.
Tring!
Seringai terhias dibibir Sasuke, "Benar, misi adalah misi, kalau begitu aku tidak akan segan-segan lagi padamu." Ujarnya sambil menahan tanto itu dengan kunai miliknya.
"Itu yang kuharapkan, Sasuke-kun."
.
.
.
"Aish... ini menyebalkan, kenapa Jinchuuriki Ichibi ini segitu diperhatikannya oleh para pengejar itu!" gerutu Deidara yang dikejar oleh team Guy karena membawa Gaara
"Seharusnya tadi aku tidak usah menerima misi jadi pengalih perhatian." Ucapnya kesal. Dia terbang dengan burung peledaknya dan masuk kedalam hutan. "Semoga saja Sasori-danna dan Kisame berhasil mengalahkan mereka, un!"
"Deidara."
Mendengar ada yang memanggilnya, Deidara langsung menoleh, "Uchiha, huh?"
"Tidak bersama partnermu, eh?" Tanya Itachi mengabaikan ucapan sinis Deidara.
"Apa pedulimu?" ucap Deidara. Dia malas mengatakan kalau dia sedang kabur dari para pengejar karena kehabisan tanah liat peledaknya.
"Aku tidak peduli padamu." Jawab Itachi datar, menyebabkan perempatan siku-siku muncul didahi pemuda berambut pirang itu.
"Che!"
Itachi menatapnya dengan stoic, lalu menciptakan sebuah clon berbentuk dirinya yang kemudian pergi dan melesat diantara pepohonan. Deidara mengerutkan alisnya, "Apa yang kau lakukan?"
"Menjalankan perintah Leader," sahutnya. "Dan selamat bersenang-senang dengan pengejar dari Konoha." Ucapnya lagi sambil menghilang.
"Uchiha sialan!" umpat Deidara. Dia tahu, dia memang tidak akan pernah cocok baik dalam hal misi maupun berdebat dengan orang yang bernama Itachi Uchiha itu.
"Dia tidak sialan, Deidara-senpai!" ujar Tobi muncul secara tiba-tiba.
"Kau juga Tobi, apa yang kau lakukan disini, un?"
"Umm… jalan-jalan," sahut Tobi santai.
"Kenapa tidak membantuku saja?" gerutu Deidara.
"Ehh, habisnya itu kan tugas Deidara-senpai dari ketua!" sahut Tobi menghindar.
'Memangnya harus ada alasan untuk membantu?' batin Deidara kesal.
"Hmm… lagipula Tobi sudah dapat misi yang lain dari ketua. Jadi Tobi mau pergi dulu senpai! Jaa!" Tobi pun melesat pergi dari tempat itu.
"Dia di sana!" teriak Neji sambil menunjuk kearah depan, membuat Deidara sadar dia telah ditemukan.
"Bagus Neji!" kata Guy-sensei sambil mengacungkan ibu jarinya kearah Neji.
"Ah, sial…" gerutu Deidara.
Sementara itu…
Sasuke berhasil mengalahkan Sai. Ah tidak, Sai lah yang mengalah. Atau setidaknya itulah yang ada dipikiran Sasuke, dan Sasuke tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang penting seperti itu.
Tampak Sai terikat dipohon dengan sudut bibir yang berdarah dan bahu terluka karena tancapan kunai yang mengalirkan darah segar dan menetes di rerumputan. Sementara Sasuke menarik napasnya dengan tersengal-sengal dan membelakangi pemuda yang ahli menggambar itu, berniat beranjak pergi.
"Tidak membunuhku?" Tanya Sai sambil tersenyum ramah disela rasa sakitnya.
"Kau ingin kubunuh?" Tanya Sasuke balik dengan datar.
"Menurutmu?"
"Aku pergi." Ucap si raven itu.
"Oh, hati-hati." Ujar Sai lagi-lagi dengan senyum khasnya.
Sasuke melompati dahan pohon dari satu pohon kepohon yang lainnya, berusaha tidak membuang waktunya lagi.
Sai memejamkan matanya sejenak, "Apa yang akan terjadi padaku setelah ini ya?"
Sasuke terus mengejar Danzo, dia yakin mereka masih belum begitu jauh, begitu terkejutnya dia melihat Danzo sedang melawan Naruto yang diliputi oleh cakra berwarna merah, sementara itu di sebatang dahan dia melihat Itachi berdiri dengan santai. Tidak bisa, dia harus menolong Naruto sekarang, bukan waktunya memikirkan untuk melawan Itachi. Satu kibasan cakra merah yang berada di belakang Naruto mengakibatkan pepohonan tumbang, membuat mereka semua segera menghindar, Naruto sama sekali tidak menggubris teriakan yang Sasuke tujukan kepadanya, dia benar-benar kehilangan kesadarannya, bisa dilihat cakra merah di belakangnya itu membentuk empat ekor.
'Inikah kekuatan Kyuubi itu?' batin Sasuke sedikit tegang, bukan karena dia takut pada Kyuubi, tetapi takut malah dia yang nantinya akan menyakiti Naruto jika dia menyerangnya secara gegabah.
'Nah, apa yang akan kau lakukan Sasuke?" Tanya Itachi dalam hati, sepertinya dia tidak tertarik untuk ikut dalam pertarungan itu, dia hanya menyaksikannya dari jauh.
Tampak Naruto terus menyerang Danzo secara brutal tanpa mempedulikan sekelilingnya yang hancur berantakan.
"Apa yang telah kau lakukan pada Naruto!" teriak Sasuke pada Danzo, sementara Danzo itu tidak mempedulikannya sambil terus menghindari serangan Naruto yang kapan saja bisa mencabik-cabik dirinya jika dia lengah.
Naruto terlihat begitu marah dan mengerikan, membuat Sasuke tersentak dan teringat perkataan si blonde itu.
[Eh teme, kau tidak takut aku mengamuk?"
"Bukan kamu, tapi kyuubi kan? Kau tidak tahu ya kekuatan Uchiha? Asal kau tahu, mereka bisa mengendalikan bijuu!" Sasuke tersenyum sinis.
"Wah, benarkah? Kalau begitu, saat aku tidak bisa mengendalikan kekuatan Kyuubi ini, kau bisa membunuhku kan?" Tanya Naruto seakan tanpa berpikir panjang.
"Aku tidak akan melakukan hal seperti itu! Lagipula, kenapa kau berkata seperti itu?"
Naruto memutar bola matanya,"Ah, tidak… tidak kenapa-kenapa."]
"Cih, aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu Naruto." kata Sasuke sinis teringat akan kata-kata Naruto padanya, lalu dia segera mengaktifkan sharingannya dan melesat kearah Naruto yang mengamuk.
"Itukah pilihanmu Sasuke? Baiklah," gumam Itachi sambil memejamkan mata onyx nya sesaat, dan ketika membukanya, mata itu berubah berwarna merah.
"Naruto!" teriak Sasuke sambil menatap mata Naruto yang telah berubah warna, dia menatapnya tajam dengan sharingannya yang berwarna semerah darah, membuat pupil mata Naruto yang berwarna jingga itu mengecil sesaat. Perlahan cakra merah itu menghilang dari Naruto.
'Kesempatan,' batin Danzo berniat menyerang mereka yang lengah.
Namun tiba-tiba Itachi muncul di hadapannya Danzo, "Lawanmu adalah aku." kata Itachi sambil melirik kearah Sasuke dan Naruto.
"Berniat untuk menolong adikmu, huh?" ucap Danzo sambil tersenyum mengejek.
Itachi kembali menatap kearah musuhnya itu, "Tidak."
Tiba-tiba muncul Anbu yang memakai topeng kelinci di samping Danzo, tampak dia membisikkan sesuatu kepada Danzo. Tampak ekspresi terkejut menghiasi wajah Danzo.
"Sepertinya Leader sudah membereskannya, Hanzo si salamander itu." ucap Itachi sambil tersenyum.
"Akatsuki… kalian benar-benar…" desis Danzo marah. "Kita pergi sekarang!" ujar Danzo kepada Anbu yang berada di sampingnya. Dalam sekejap mereka menghilang.
"Misi selesai," ucap Itachi membiarkan lawannya itu melarikan diri. Dia segera melihat kearah Sasuke dan Naruto, yang dihadiahi tatapan tajam dan deathglare dari Sasuke. Sasuke segera memasang pose siaga, siap bertarung kapan saja.
"Tidak apa, kali ini aku tidak ada urusan dengan kalian." Ujarnya datar dengan tangan yang membentuk segel, dan membuat dirinya berubah menjadi sekumpulan burung gagak hitam yang berterbangan dan kemudian menghilang. "Lain waktu, kita akan bertemu lagi."
"Naruto!" ucap Sasuke yang menahan tubuh Naruto yang limbung di hadapannya.
.
.
.
'Lelah…'
'Kenapa tubuhku terasa lemas?'
Naruto membuka matanya perlahan. Samar-samar dia melihat mata onyx Sasuke menatap kearahnya.
"Sasuke? Apa yang…" mata Naruto terbelalak menatap kearah sekelilingnya yang luluh lantak, hancur berantakan seakan-akan baru saja terjadi angin puting beliung. "Aku yang melakukannya kan?" Tanya Naruto lirih.
Sasuke hanya tersenyum miris, "Bukankah aku berhasil menghentikanmu?"
"Kau tidak apa-apakan? Apa aku melukaimu?" Tanya Naruto sambil melihat kearah Sasuke yang penuh luka gores di wajahnya yang pucat itu. Ini buruk sekali, kenapa dia tiba-tiba mengamuk? Apa yang tadi terjadi?
"Dari dulu kau hanya bisa membuatku terkena luka gores, Dobe!" jawab Sasuke.
Naruto menghela napas lega, "Untuk hari ini, aku senang mendengar ejekanmu itu Teme."
"Sasuke, Naruto!" teriak Kakashi dari kejauhan, mereka berdua menoleh kepada Kakashi dan Yamato yang datang kearah mereka.
"Kalian tak apa?" Tanya Yamato.
"Hn, yang bernama Danzo itu sudah pergi," jawab Sasuke.
"Aneh, kenapa begitu," gumam Kakashi.
"Tadi…" Sasuke terdiam sejenak.
"Tadi?" Tanya Kakashi membeo.
"…Itachi datang dan mengatakan sesuatu kepada Danzo, sepertinya Akatsuki membunuh Hanzo." Jelas Sasuke sambil melirik kearah lain.
Naruto tersentak, 'Itachi… Sasuke, kau…'
"Hanzo yang itu?" ucap Kakashi sedikit terkejut. Tiba-tiba terlihat team Guy menuju kearah mereka.
"Kenapa kalian ada di sini?" Tanya Guy.
"Tadi ada sedikit masalah Guy-senpai. Kalian sendiri?" Yamato balik bertanya.
"Mengejar salahsatu anggota Akatsuki yang membawa Gaara." Jawab Guy.
"Ah benar, Gaara! Ternyata benar dia ditangkap Akatsuki. Ayo kita cepat cari mereka!" pekik Naruto.
"Tapi Naruto…!" Sasuke bermaksud menahannya.
"Tidak apa! Ayo selamatkan Gaara!" ujar Naruto. Bagaimanapun juga, Gaara adalah temannya yang berharga.
"Kami sudah berhasil merebut Gaara, saat ini dia bersama Chiyo baa-sama dan Sakura." Ujar Guy.
"Iya, kami tadi kesini karena kata Neji ada Naruto dan juga yang lain bertarung di sini." Sambung Tenten.
"Tadi cakra di tempat ini terasa begitu besar," ucap Neji seraya menatap kearah Naruto.
"Baiklah, sebaiknya kita menuju tempat Sakura." Ucap Kakashi.
Mereka segera melesat menuju tempat Sakura berada, meskipun Naruto berjalan sedikit terseok-seok dibantu oleh Sasuke. "Kalian duluan saja, kami akan menyusul!" ujar Sasuke yang melihat kearah Naruto yang terlihat memaksakan diri. Tampak Naruto melotot kearah Sasuke yang dibalas Sasuke dengan deathglare tingkat tinggi klan Uchiha, mau tidak mau itu membuat Naruto mengalah.
Tampak Kakashi berpikir sejenak, yaah, lagipula Danzo tidak akan mengejar mereka lagi kan? Dan juga tempat itu sudah tidak begitu jauh.
"Baiklah,tapi sebaiknya Yamato memimpin kalian," ujarnya sambil mempercepat langkah mereka bersama team Guy dan membiarkan Yamato, si pirang dan raven itu tertinggal di belakang.
"Bagaimana? Kita juga kesana sekarang, atau istirahat sebentar lagi?" Tanya Yamato setelah tim pencari Gaara itu sudah cukup jauh.
"Tentu saja menuju kesana segera!" seru Naruto.
"Yamato-taichou, jalanlah duluan di depan," ucap Sasuke.
"Yaah, baiklah kalau begitu." Ucap Yamato segera bergerak terlebih dahulu.
"Apa yang kau lakukan Teme!"
"Berisik kau Dobe! Kau Cuma membuat mereka lebih lambat, lagipula kita akan tetap menyusul mereka. Kau terlalu memaksakan diri."
Naruto terdiam, hari ini dia telah membuat masalah besar dan merepotkan.
"Gomen..." ucap Naruto pelan.
"Sudahlah, ayo naik!" ujar Sasuke yang tampak berjongkok.
'Naik?' Naruto mendongak kearah Sasuke yang membelakanginya.
"Kau ingin cepat menuju ke tempat Gaara kan?"
"Hm," Naruto mengangguk pelan walaupun dia tahu Sasuke tidak melihatnya. Dia segera naik ke punggung Sasuke dan meletakkan tangannya di leher Sasuke.
Sasuke segera melesat ke tempat tujuan mereka dengan cepat sambil menggendong Naruto, "Kau ringan ya Dobe."
"Berisik! Cewek gak suka berat badannya dibicarakan, Teme!"
"Itu kan pujian Dobe."
"Huh!" dengus Naruto sambil mengeratkan tangannya dileher Sasuke sambil membenamkan kepalanya. Rona merah menghiasi wajahnya. 'Ini punggung cowok ya… sejak kapan perbedaan kami begitu jauh seperti ini…'
Tidak lama kemudian mereka melihat team Guy bersama dengan yang lainnya. Naruto segera meminta Sasuke menurunkan dirinya dan berjalan menuju ke sana.
"Gaara… bagaimana?" Tanya Naruto ragu pada Sakura.
"Maaf…" ucap Sakura pelan.
Naruto menatap Sakura tidak percaya dan segera melihat kearah Gaara yang terbaring di rerumputan hijau itu. "Itu bohong kan? Dia berjanji akan ke Konoha lagi…"
Tampak Chiyo baa-sama meletakkan tangannya yang mengeluarkan cakra hijau diatas tubuh Gaara.
"Lalu apa yang dia lakukan?" Tanya Naruto.
"Menghidupkan lagi Gaara-kun…"
Naruto terkejut, "Memangnya itu bisa? Benarkah?!"
"I—iya, bisa…" ujar Sakura menahan tangisnya.
"Cakraku tidak cukup…" keluh Chiyo baa-sama.
"Pakai cakraku saja? Apa bisa begitu?" Tanya Naruto cemas.
Petinggi Suna itu menatap Naruto dalam-dalam, 'Naruto Uzumaki… anak ini memang menarik.'
"Letakkan tanganmu di atas tanganku."
"Baiklah!" ujar Naruto.
Sasuke menatap Naruto dalam diam, 'Anak itu selalu memaksakan dirinya.'
"Sudah cukup," ujar Chiyo baa-sama kepada Naruto, namun kemudian nenek tua itu roboh di pangkuan Sakura.
"Chiyo baa-sama…" tangis Sakura.
"Di—dia kenapa Sakura-chan?"
"Beliau meninggal, jurus itu membuat pemakai jurus meninggal, Naruto." Jawab Neji yang mengaktifkan byakugan-nya.
"A—apa? Kenapa begitu?" ucap Naruto terkejut.
Gelap… benar-benar tempat yang gelap. Harus berjalan kemana? Kearah mana?
Gaara perlahan membuka matanya, 'Silau,' batinnya, membuat dia harus memejamkan matanya lagi sesaat.
"Gaara… syukurlah…" ucap Naruto yang tadinya menatap kearah Nenek tua yang seakan sedang tidur dengan damainya, sebenarnya dia memang tidur. Untuk selamanya.
"Kalian?"
"Kami datang untuk menolongmu!" ujar Lee bersemangat.
"Benar!" imbuh Tenten.
"Gaara! Kau tak apa?" Tanya Temari yang tiba-tiba muncul bersama Kankuro dan langsung menghampirinya.
"Iya," ucap Gaara pendek. Walaupun sebenarnya dia masih merasa sedikit kaku menggerakkan tubuhnya.
"Chiyo baa-sama… jangan-jangan memakai jurus itu?" gumam Kankuro yang melihat nenek itu dalam keadaan yang begitu tenang.
"Ya, dia memakainya…" tangis Sakura sambil mengeratkan pelukannya.
"Sebaiknya kita ke Suna saja, lebih dekat. Luka kalian semua harus diobati!" ujar Temari.
"Benar, lagipula… kalian sudah menyelamatkan adik kami!" sambung Kankuro.
"Hmm… baiklah…" sahut Guy.
Mereka bersiap menuju Suna. Naruto mencoba berdiri, tapi limbung, kakinya terasa lemas. Dia terlalu banyak menghabiskan cakranya. Gaara segera menahannya agar tidak terjatuh.
"Naru-chan, kau tidak apa-apa?" Tanya Sakura menghampirinya.
"Hm, tidak apa. Hanya sedikit lemas saja," sahut Naruto tersenyum sambil melepaskan diri dari pegangan Gaara.
"Yakin?" Tanya Gaara. Tapi tiba-tiba terasa aura deathglare yang menusuk Gaara, dia menatap Uchiha yang sedari tadi hanya diam saja. Mata Sasuke seakan-akan mengatakan, 'Jangan sentuh apa yang menjadi milikku!'
"Biar aku bantu!" ujar Sasuke.
"Aku tidak apa-apa kok!"
Sasuke memasang wajah stoic-nya, "Ingat apa yang kukatakan tadi?"
"Iya, aku mengerti… " sahut Naruto pasrah, dia tidak ingin memperlambat perjalanan mereka. Gaara harus segera memeriksakan dirinya ke rumah sakit, juga para team Guy yang penuh luka-luka. Sakura tidak akan bisa mengobati mereka semua. Lebih cepat lebih baik.
"Ayo berangkat!" ujar Lee semangat.
"Dasar kau Lee, penuh luka seperti itu masih saja semangat!" gumam Tenten.
"Tentu saja! Tenten juga penuh luka? Mau kugendong?" Tanya Lee.
"Eh?" Tenten bengong.
.
.
.
Putih?
Naruto mengerjapkan matanya berkali-berkali. Ada dimana dia sekarang?
"Lho? Lho? Ini dimana?" tanyanya sambil melihat ke segala arah.
"Ini di rumah sakit Suna, Dobe." Terdengar jawaban dari pertanyaan Naruto.
"Ohh, begitu…" Naruto menghela napas, "Gaara bagaimana?"
"Ada di ruang sebelah." Jawab Sasuke singkat.
"Syukurlah semuanya sudah berakhir," gumam Naruto lega. Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kalau saja dia tidak ditolong. Mungkin dia sudah dikurung dan dijadikan senjata pembunuh. Begitu pikirnya.
Sasuke berdiri sambil menjentik dahi si pirang itu, "Lain kali berpikirlah sebelum bertindak, Dobe."
Naruto sewot, "Huh! Iya aku tahu. Terima kasih atas pemberitahuannya, Uchiha-sama!"
"Hn."
Hening sejenak…
"Ini, kalungmu." Ujar Sasuke sambil merogoh sakunya.
"Le—lepas? Pantas saja aku bisa hilang kendali…" gumam Naruto sambil meraba lehernya, memastikan kalung itu benar-benar tidak ada.
"Biar aku pasangkan," kata Sasuke.
"I—Iya."
"Istirahatlah lagi," ujar Sasuke.
"Iya, baik, baik,"
Naruto menatap wajah Sasuke yang penuh plester, terbesit rasa bersalah di hatinya. "Maaf, ya. wajahmu jadi luka-luka begitu karena aku…"
"Ya, kau sudah merusak wajah tampanku, Dobe!" ujar Sasuke sarkastik. "Tapi seperti yang kukatakan tadi, kau hanya bisa membuatku luka gores saja."
"Narsisnya…"
"Hn,bagaimana kalau kau bertanggung jawab karena telah membuatku seperti ini!" ucap Sasuke sambil menyeringai.
"Ta—tanggung jawab bagaimana?" Tanya Naruto grogi sambil menarik selimutnya sampai menutupi hidungnya. Menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Menurutmu apa yang akan kulakukan?" seringai Sasuke sambil menyipitkan matanya.
Sasuke menundukkan kepalanya sambil menarik selimut yang menutupi separuh wajah Naruto hingga hidung mereka saling bersentuhan. Jantung gadis berambut pirang berdetak dengan sangat cepat dan panas. Dia melihat kearah mata onyx yang sangat kelam itu, dekat sekali.
Naruto menarik napasnya sedalam-dalamnya karena saking gugupnya, beberapa detik kemudian dapat dia rasakan bibir mereka saling bersentuhan, hangat dan lembut. Naruto pun memejamkan matanya.
Tidak lama kemudian Sasuke melepaskan ciumannya, melihat wajah Naruto yang merah padam. Dia tersenyum tipis, "Ini cukup," ujarnya jahil.
Naruto melirikkan matanya kearah lain dengan wajah semerah tomat. Bagaimana mungkin Sasuke bisa mengalihkan pandangannya kalau merahnya wajah gadis itu sudah semerah buah tomat favoritnya.
Sasuke mengecup pelan dahi gadis berambut pirang itu, "Jangan membuatku cemas lagi."
"Ku coba," sahut Naruto sambil mengelus pipi Sasuke.
Kriekkk!
"Naru-chan! Kau sudah tak apa-apa?" terdengar suara Sakura yang membuka pintu ruangan itu.
"E—eh Sakura, iya! Aku sudah tidak apa-apa kok!" ujar Naruto reflex menjauhkan tangannya dari Sasuke.
Sakura mengedarkan pandangan ke ruangan itu, "Oh, ada Sasuke-kun ya."
"Hn. Aku sudah ingin keluar." Ujarnya berlalu.
Gadis berambut soft pink itu menatap Naruto dengan jahil, "Wah, apa aku mengganggu?"
"Ah, tidak kok!" kilah Naruto.
"Hmm… benarkah? Syukurlah kalau begitu. Kami sempat cemas saat kau tidak bangun-bangun di gendongan Sasuke begitu kita sampai di Suna tadi sore. Kudengar Anbu dari Ne menculikmu, tapi syukurlah kau selamat."
"Mereka menginginkan Kyuubi yang ada dalam diriku… Sakura-chan. Aku hampir saja menghancurkan seluruh hutan dan membunuh Sasuke tadi." Ucapnya hampir setengah berbisik.
"Tapi tidak kan? Hanya hampir!" sahut Sakura.
"Kalian semua berharga bagiku… kuharap aku bisa melindungi kalian suatu saat nanti bukannya malah melukai kalian."
Sakura menepuk kepala Naruto, "Kenapa kau akhir-akhir ini memasang wajah melankolis begitu? Tetaplah jadi seperti kau yang biasa!"
Mata Naruto berkaca-kaca, "Huweee, Sakura-chan…!"
Sakura tersenyum, "Aduh, kau kenapa sih?"
.
.
.
"Wah, aku tidak menyangka kalau Gaara sepopuler itu disini." Ujar Naruto sweatdrop. Bagaimana tidak, begitu banyak perempuan yang bergerombol di depan ruangan tempat Gaara dirawat. Keberisikannya sampai ke tempat Naruto istirahat. Mereka hysteria dengan menyebut-nyebut nama Gaara.
"Tetap saja lebih banyak fans ku!" ujar Sasuke.
Naruto menghela napas, "Iya, aku tahu! Pacarku memang popular!"
"Hm? Barusan kau bilang apa?"
Naruto segera melirik kearah lain, "Ah, ayo jalan-jalan keluar." Ucapnya sambil berjalan di depan Sasuke.
'Kabur… selalu begitu.' batin Sasuke.
"Ehh?" ucap Naruto kaget melihat kearah jendela, membuat Sasuke mengerutkan alisnya.
"Ada apa Dobe?"
"Itu Gaara kan?" tunjuk Naruto kearah taman kecil di sana. Segera saja Sasuke menoleh.
"Hn."
"Hei Gaara! Kenapa ada di sini? Para fangirls mu bergerombol di depan pintu kamar tempat kau dirawat tahu. Mereka berisik dan sepertinya sangat mencemaskanmu!" Ujar Naruto sambil memukul bahu Gaara pelan.
"Aku tahu, makanya aku kabur ke sini." Ujar Gaara membuat Naruto dan Sasuke bengong.
"Menjadi tampan memang beban berat." Ucap Sasuke.
"Hm, itu benar!" sahut Gaara menghela napas.
Naruto ternganga, "Tumben kalian nyambung…"
"Itu karena kami adalah orang yang tampan." Sahut mereka berbarengan dengan nada stoic.
'Ya kami-sama, sejak kapan mereka jadi senarsis itu? apa aku masih bermimpi?' Pikir Naruto.
"Gaara-sama? Kenapa anda disini?" ujar seseorang datang menghampiri mereka.
"Hm… siapa?" Tanya Naruto.
"Ah?" anak perempuan berambut coklat memandang kearah Naruto dan Sasuke yang sepertinya tadi tidak dia sadari keberadaannya.
"Perkenalkan dia Matsuri, adik kelasku di Suna Gakuen." Ujar Gaara.
"Oh, aku Naruto Uzumaki. Salam kenal!"
"Salam kenal Uzumaki-san…"
Hening…
Mereka menatap kearah Sasuke yang diam saja, Naruto segera menyikut Sasuke yang hanya diberikan deathglare ringan oleh pemuda itu.
"Ehm, dia Sasuke Uchiha." Ujar Naruto.
"Oh, salam kenal Uchiha-san."
Hening lagi…
"Hn."
"Jadi Gaara-sama, apa yang kau lakukan disini?"
"Hanya mencari udara segar."
"Bukannya melarikan diri dari fans anda?"
Gaara memutar bola matanya. "Itu juga."
"Kau formal sekali," kata Naruto kepada Matsuri.
"Eh, itu karena derajat kami yang berbeda. Soalnya Gaara-sama adalah putra tuan kazekage." Jelas Matsuri.
"Hee! kau tidak pernah bilang itu Gaara!" protes Naruto.
"kalian tidak pernah bertanya." Sahutnya singkat.
"Uhh…" Naruto kalah bicara.
"Itu kan bukan masalah, Dobe." Ucap Sasuke pada si blonde.
"Tapi kan… eh, iya juga sih…"
"Wah, Gaara-sama mempunyai teman-teman yang baik." Kata Matsuri sambil tersenyum sambil melihat kearah Naruto dan Sasuke yang sedang bertengkar kecil.
"Iya," ucapnya sambil tersenyum kecil.
"Heh? Apa yang kalian bicarakan sehingga senyum-senyum begitu?" Tanya Naruto heran.
"Ah, bukan apa-apa kok Uzumaki-san."
"Panggil saja aku Naru-chan! Dan panggil saja dia Teme!" ucap Naruto sambil menunjuk Sasuke.
"Haa?" Matsuri sweatdrop.
Bletak!
"Dasar Dobe!"
"Apa yang kau lakukan, Teme!" bentak Naruto sambil mengelus kepalanya.
"Kau duluan yang cari masalah, Dobe."
"Huh!" Naruto mengerucutkan bibirnya.
"Apakah mereka selalu seperti itu?" Tanya Matsuri pada Gaara.
"Ya," jawab Gaara singkat.
"Mereka akrab ya," kata Matsuri sambil tetap sweatdrop.
"Benar."
"Hei, Gaara! Seharusnya kau biarkan Matsuri memanggilmu tanpa embel-embel sama!" ucap Naruto.
"Ehh, Naru-san!" ucap Matsuri.
"Kau malu-maluin Dobe!"
"Apa! Ngajak berantem ya, Teme!"
Gaara dan Matsuri menghela napas.
"Hei, Matsuri. Lain kali tidak perlu seformal itu padaku, supaya kita bisa jadi teman yang baik seperti mereka." Ucap Gaara yang melihat kearah duo yang sedang bertengkar lagi.
"Ba—baiklah, Gaara-kun…" wajah Matsuri memerah saat mengucapkannya.
"Oh iya, Yashamaru-sama bilang dia akan cepat pulang dari misi begitu mendengar berita tentang anda." Lanjut Matsuri.
"Yashamaru ya… lama tidak bertemu dengannya."
"Siapa itu?" Tanya Naruto.
"Pamanku. Dia cantik seperti almarhum ibuku."
"Ca—cantik? S—Sou ka…" Naruto sweatdrop sambil membayangkannya.
Tiba-tiba rintik-rintik hujan turun membasahi mereka.
"Eeeeh? Hujan?" pekik Naruto sambil menatap kearah langit.
Mereka berempat segera kembali masuk menuju rumah sakit.
"Aku tidak tahu kalau di Suna bisa turun hujan juga!" seru Naruto sambil melihat keluar jendela.
"Pernah sih... tapi jarang sekali." Jelas Matsuri.
Gaara memasang wajah berpikir, "Ya, sangat jarang. Aneh."
Sasuke hanya melipat kedua tangannya sambil menatap kearah langit yang menghitam dari luar jendela.
.
.
"Kenapa kau menurunkan hujan di tempat seperti ini, Pain?" Konan menatap sosok laki-laki di depannya itu.
Pain yang menengadahkan wajahnya ke langit memalingkan wajahnya kearah Konan, "Bukankah ini hujan yang indah?" Pain mengangkat tangannya keatas sambil merasakan tetesan hujan itu jatuh ditangannya.
Konan hanya diam sambil menatap sosok lelaki itu, lalu memandang ke arah desa Suna dari tebing yang tidak jauh dari desa itu.
"Jinchuuriki Kyuubi ada di desa itu, aku bisa merasakan chakra-nya dari hujanku," ucap Pain lagi.
"... akankah kita menangkap Naruto Uzumaki sekarang?"
"Sekarang? Menurutmu bagaimana?" Tanya Pain sambil berjalan mendahului Konan.
"Terserah apa katamu saja."
TBC
.
A/N: entahlah… time nya terkesan cepat sekali ya… ingin membaginya menjadi dua chapter terasa terlalu pendek, malah jadi begini(?)
Saya kehilangan inspirasi tentang lanjutan fic ini, tapi malah dapat inspirasi buat fic baru…
Tugas-tugas juga belum pada beres… kenapa bulan puasa PR gak diliburin juga yaa?
Paket internetan HP saya juga masih banyak, padahal tenggang waktunya udah dekat. Kalau gak dihabisin secepatnya jadi mubajir.
#ROFL
Gak janji bisa apdet bulan depan. Tapi fic ini gak akan discontinue kok. Saya usahakan deh.
Ah, saya malah curhat gaje. Gomen…
Kasih saya semangat deh... biar semangat lagi… u.u
Jaa ne, minna…
Yang berbaik hati, silakan review, kritik atau saran
Mind to review?
.
