Sungmin menatap Donghae dengan lega, tapi lalu menatap dokter Kibum yang begitu pucat pasi,
"Sungmin, aku... Ah aku bingung bagaimana mengatakannya, tapi aku harus segera pergi, ini darurat... Tapi aku bertanya-tanya mungkin kau mau ikut.."
"Ada apa dokter?", Sungmin mulai tegang ketika dokter Kibum tidak juga mengatakan maksudnya.
"Kyuhyun, barusan kecelakaan di jalan tol, dia sudah dibawa ke rumah sakit, tapi kami belum tahu kondisinya, Max juga sedang dalam perjalanan menuju kesana."
"Apa?" warna pucat mulai menjalar ke wajah Sungmin, lalu segera digantikan dengan kepanikan luar biasa, "Ya Tuhan, aku ikut ke rumah sakit, dokter!"
Donghae mengamati kepanikan Sungmin dari kejauhan, tapi dia hanya diam dan menatap.
Sungmin tampak pucat pasi dan ketakutan luar biasa. Kenapa sampai begitu? Seolah-olah kondisi Kyuhyun benar-benar membuatnya cemas. Padahal Kyuhyun kan hanya atasannya di perusahaan? Atau... Jangan-jangan lebih dari atasan ? Pikiran buruk itu menyeruak dalam benak Donghae, dan dia cepat-cepat menyingkirkannya. Tapi ketika dia melihat betapa Sungmin mulai gemetaran karena cemas dan panik ketika bersiap-siap berangkat, mau tak mau pikiran buruk itu memenuhi benaknya, ada hubungan istimewa apa antara Kyuhyun dengan Sungmin?
Perjalanan ke rumah sakit berlangsung begitu menyiksa bagi Sungmin, dia terus menerus berdoa, seakan semua trauma masa lalu menghantamnya lagi keras-keras.
Ini hampir sama dengan kecelakaan yang membunuh kedua orangtuanya dan melukai Donghae dulu.
Dan Sungmin tidak akan kuat menanggungnya kalau sampai terjadi apa-apa kepada Kyuhyun. Ya Tuhan! Jangan sampai terjadi apaapa pada Kyuhyun, dia belum sempat mengatakan... Dia belum sempat mengatakan dengan jelas, bahwa dia... Bahwa dia mencintai Kyuhyun.
Sungmin berlari di depan menuju ruangan gawat darurat sementara Kibum mendorong kursi roda Donghae di belakangnya.
Dia melangkah memasuki ruang perawatan itu dan langsung bertatapan dengan Kyuhyun.
Lelaki itu duduk di meja perawatan, telanjang dada, kepalanya terluka dan sudah di tutup perban, dokter sedang membalut luka di pundak dan lengannya. Banyak darah, tapi sudah dibersihkan. Selebihnya, Kyuhyun tidak apa-apa. Lelaki itu masih hidup, masih untuh, dan ketika Kyuhyun memalingkan kepalanya lalu menatap Sungmin dengan mata birunya yang menyala-nyala.
Sungmin pingsan.
-KyuMin-
Kyuhyun berteriak memanggil Sungmin, begitu juga dengan Kibum dan Donghae yang ada di belakang Sungmin. Tapi Sungmin pingsan mendadak dan jatuh ke lantai.
Dengan kasar Kyuhyun menyingkirkan tangan dokter yang sedang membalut lukanya dan melompat turun, setengah berlari menghampiri Sungmin, perawat datang menghampiri, tapi Kyuhyun menyingkirkannya,
"Biar aku saja." gumamnya serak, mengeryit sedikit ketika mengangkat Sungmin menyakiti luka di lengan dan bahunya, tapi dia tidak peduli, dipeluknya Sungmin dengan posesif dan dibaringkannya ke meja perawatan,
"Tuan, saya belum menyelesaikan membalut lukanya." gumam dokter di ruang gawat darurat itu sedikit jengkel,
"Nanti saja." Kyuhyun bergumam tajam dengan arogansi yang sudah seperti pembawaan alaminya sehingga membuat dokter itu terdiam, mengangkat bahunya lalu pergi.
"Sayang," Kyuhyun menepuk pipi Sungmin, tapi perempuan itu begitu pucat pasi, dengan panik, Kyuhyun menoleh ke arah Kibum di pintu, mengabaikan Donghae,
"Dia tidak apa-apa?"
Kibum mendorong Donghae mendekat, lalu menyentuh Sungmin,
"Dia demam Kyu, dia sedang sakit ketika memaksa mengikuti aku kesini, terus tepuk pipinya pelan-pelan dan sadarkan dia, sepertinya dia shock,"
Kibum menatap Kyuhyun tajam, "dan kau..kau tidak pernah kecelakaan selama hidupmu, apa yang kau lakukan di jalan tol tadi sehingga berakhir di rumah sakit ini? Apakah kau mabuk?"
Kyuhyun mengeryit,
"Aku tidak mabuk, aku hanya terlalu buru-buru ingin cepat sampai jadi kurang hati-hati." saat itulah Sungmin bergerak membuka mata, "ah, sayang…..sayang, kau baik-baik saja?"
Sungmin mengerjap-ngerjapkan matanya, begitu mendapati wajah Kyuhyun ada di dekatnya, airmata mengalir di pipinya, tangannya bergetar ketika terangkat dan menyentuh wajah Kyuhyun, meyakinkan dirinya bahwa betul-betul Kyuhyun yang ada di depannya,
Dengan lembut Kyuhyun meraih tangan Sungmin dan mengecupnya,
"Aku ada di sini, aku baik-baik saja." gumamnya setengah berbisik.
Sungmin membiarkan tangannya dalam genggaman Kyuhyun, merasakan kulit Kyuhyun yang panas, mensyukuri bahwa lelaki itu masih hidup. Tadi rasanya seperti mau mati saja ketika mengetahui bahwa Kyuhyun kecelakaan, pikiranpikiran buruk melandanya, membuatnya ingin menangis dan berteriak, membuatnya hampir menyalahkan Tuhan. Karena dia sudah memutuskan akan menerima tidak bisa bersama-sama dengan Kyuhyun lagi asalkan lelaki itu tetap hidup, asalkan lelaki itu masih ada, hidup dan bernafas di dunia ini, biarpun Sungmin tidak bisa melihatnya lagi. Pikiran bahwa Kyuhyun bisa saja meninggal dan tidak ada di dunia ini hampir membuatnya ingin menyusul saja. Karena itulah tadi ketika melihat Kyuhyun masih hidup meskipun terluka membuatnya lega luar biasa sehingga pingsan. Sungmin merasakan dadanya sesak ketika menyadari, bahwa cinta barunya, cintanya yang tidak diduga, cinta yang bertumbuh tanpa disadari karena kebersamaan mereka yang tidak direncanakan itu ternyata sudah mencapai tingkat intensitas yang sangat besar.
"Jangan pernah ulangi lagi," suara Sungmin bergetar ketika mencoba berbicara serius kepada Kyuhyun, "Jangan pernah ulangi lagi melakukan seperti ini kepadaku."
Kyuhyun meraih kedua tangan Sungmin dan mengecup jemarinya dengan lembut,
"aku berjanji," jawabnya penuh perasaan, "Sekarang tidurlah sayang, aku ada di sini."
Dengan lembut Kyuhyun mengusap dahi Sungmin yang panas, membuat pikiran Sungmin melayang, dia merasa lelah sekali, tubuhnya, jiwanya dan raganya.
Tubuhnya sakit dan lunglai sedang jiwanya kelelahan menahan perasaan.
Usapan tangan Kyuhyun di dahinya membuatnya dipenuhi kelegaan luar biasa, membuatnya dipenuhi rasa damai tidak terkira sehingga Sungmin akhirnya terlelap lagi.
"Kemari, lukamu harus dibalut." Kibum mencoba menarik perhatian Kyuhyun, lelaki itu menatap Sungmin dengan serius, memastikan bahwa Sungmin sudah tidur, lalu menurut menggerakkan tubuhnya agar Kibum lebih mudah membalut luka di pundak dan lengannya.
Saat itulah Kyuhyun menyadari kehadiran Donghae, yang hanya diam saja menatap semua kejadian itu tanpa berkata-kata. Mata Kyuhyun berkilat-kilat,
"Aku mencintainya." gumamnya terus terang, membuat Kibum tersedak dan saat itulah dia juga baru menyadari kehadiran Donghae.
Donghae hanya terdiam, menatap Sungmin yang tertidur pulas dengan sedih,
"Aku tahu." gumamnya pelan.
Kyuhyun mengangkat dagunya, mengernyit ketika perban itu membebat kencang lukanya,
"Dan dia juga mencintaiku, tetapi dia memilihmu." sambungnya getir.
Donghae menghela nafas,
"Itupun aku juga tahu."
"Sudah selesai." Kibum menyela cepat, lalu menepuk pundak Kyuhyun,
"Berbaringlah dulu di ranjang sebelah", Kibum mengedikkan bahu ke ranjang di sebelah ranjang yang dipakai Sungmin yang masih kosong. "Kau harus berbaring, kepalamu terbentur dan jika kau tidak segera berbaring kau akan mengalami vertigo." sambungnya tegas ketika melihat Kyuhyun akan membantah.
Semula Kyuhyun akan membantah, dia ingin melanjutkan pembicaraan dengan Donghae, menjelaskan semuanya. Tetapi Kibum benar, rasa pusing mulai menyerangnya, pusing dan nyeri di bahu dan kepalanya. Obat penghilang rasa sakit yang disuntikkan dokter jaga tadipun mulai bereaksi, membuatnya merasa lemas dan lunglai. Akhirnya Kyuhyun mengangkat bahu dan melangkah ke ranjang kosong itu.
"Kita belum selesai bicara." gumamnya pada Donghae, mulai menguap.
"Nanti saja." sela Kibum mengernyit, lalu meraih kursi roda Donghae dan mendorongnya keluar,
"Ayo Donghae, kita harus membiarkan mereka beristirahat."
bisiknya lembut dan mendorong mereka keluar dari ruangan perawatan itu.
Kibum mendorong Donghae sampai di ruang tunggu yang tenang dan sepi, lalu duduk di sofa di sebelah Donghae. Suasana hening, dan Donghae hanya termenung tidak berkata-kata sampai lama.
Kibum menunggu, menunggu sepatah pertanyaan dari Donghae sebelum menjelaskan semuanya, dan akhirnya pertanyaan itu datang setelah menunggu sekian lama,
"Apa yang terjadi di sini?", gumam Donghae serak, dia tetap bertanya meskipun kebenaran itu sudah menyeruak dalam kesadarannya, membuat dadanya sesak. Kibum menghela napas mendengarnya,
"Ceritanya panjang..."
"Aku punya banyak waktu", sela Donghae tak sabar, "Jelaskan semuanya"
"Sungmin tidak pernah bermaksud mengkhianatimu kau tahu," gumam Kibum sedih, "Dia selalu berusaha setia kepadamu."
"Kau bicara begitu padahal jelas-jelas di depan mataku tadi dia jatuh cinta setengah mati kepada lelaki lain?" gumamnya getir.
"Kau tahu, Sungmin putus asa ketika dia akhirnya berhubungan dengan Kyuhyun... biaya operasimu... operasi ginjalmu – dokter mengultimatum kau harus segera dioperasi ginjal untuk menyelamatkan nyawamu – sangat mahal, hampir mencapai tiga ratus juta won, sementara seluruh harta Sungmin sudah habis, dia menanggung hutang yang sangat besar di perusahaan... jadi... jadi Sungmin memutuskan menjual keperawanan dan tubuhnya kepada Kyuhyun."
"Oh Tuhan!"
Wajah Donghae pucat pasi, keringat dingin mengalir di tubuhnya. Jadi semua ini bermula dari dirinya? Semua kegilaan tak diduga ini bermula dari keinginan Sungmin menyelamatkan nyawanya? Menjual keperawanannya! Oh Tuhan, Donghae tidak pernah peduli apakah Sungmin masih suci atau tidak, baginya Sungminnya adalah Sungmin yang sama. Tapi... Mengetahui bahwa Sungmin melakukan itu demi dirinya benar-benar menghancurkan hatinya. Mengetahui bahwa pada akhirnya Sungmin menyerahkan hati pada lelaki lain yang disebabkan oleh dirinya sangat menyakiti perasaannya.
"Dan Kyuhyun, atasan Sungmin itu pasti laki-laki brengsek karena mau mengambil manfaat dari gadis lemah yang sedang kesulitan." desis Donghae marah.
Kibum menggeleng,
"Tidak seperti itu Donghae, Kyuhyun sangat kaya, dia bisa mendapatkan gadis manapun yang dia mau, Tapi sudah sejak lama dia menginginkan Sungmin, menurutku sebenarnya sudah sejak lama Kyuhyun mencintai Sungmin tetapi dia tidak menyadarinya, karena itu mungkin Kyuhyun menganggap satu-satunya cara untuk memiliki Sungmin adalah menerima tawarannya."
Donghae mengernyit mendengar penjelasan Kibum, hatinya sakit menyadari bahwa sekarang dia menjadi penghalang antara dua orang yang saling mencintai.
"Kenapa Sungmin tidak membiarkan aku mati saja?" rintihnya dalam geraman penuh kesakitan, "Mungkin lebih baik aku dibiarkan mati saja sehingga aku tidak menghalangi kebahagiannya..."
Kibum menyentuh pundak Donghae lembut,
"Jangan pernah punya pemikiran seperti itu," selanya tegas, "Sungmin mencintaimu sepenuh hati, dia berjuang mati-matian demi kehidupanmu, jangan pernah menghancurkan hatinya dengan kata-kata seperti itu."
"Dia sudah tidak mencintaiku lagi, dia hanya kasihan padaku, tatapan lelaki itu, tatapan Kyuhyun kepadaku ketika mengatakan bahwa Sungmin lebih memilihku dibanding dirinya tadi begitu penuh penghinaan dan kemarahan, seolah lebih baik aku tahu diri dan menyingkir saja."
"Kyuhyun memang seperti itu, dia marah karena Sungmin memilih untuk bersamamu. Tapi Kyuhyun mencintai Sungmin, karena itu dia menghormati keputusan Sungmin."
"Lelaki itu, apakah benar dia mencintai Sungmin? dia terlalu berkuasa, terlalu mendominasi, terlalu arogan… aku takut dia hanya ingin menunjukkan kekuasaannya, hanya ingin memuaskan arogansinya untuk memiliki Sungmin..."
Kibum menggeleng,
"Kyuhyun yang dulu memang seperti itu, tapi ketika bersama Sungmin, gadis itu dengan segala kepolosan dan kebaikan hatinya telah merubahnya. Kyuhyun benar-benar mencintai Sungmin, aku mengenal Kyuhyun sejak dulu kau tahu, dan dia tidak pernah seperti itu sebelumnya, begitu mencintai seorang perempuan, begitu tergila gila hingga hampir dikatakan bisa gila karenanya."
Donghae menghela nafas panjang,
"Kalau begitu, kau ingin aku yang melepaskan Sungmin?"
Kibum mengangkat bahunya pedih,
"Keputusan ada di tanganmu... Sungmin sendiri tidak akan pernah meninggalkanmu, dia terlalu setia dan menyayangimu untuk meninggalkanmu. Dia rela mengorbankan perasaannya demi kamu. Jadi, kalau kau tidak melepaskannya, dia juga tidak akan pernah mengkhianatimu demi Kyuhyun."
Donghae memegang pangkal hidungnya, mengernyit seolah kesakitan,
"Aku sangat mencintai Sungmin." gumamnya perih.
Air mata Kibum mulai menetes melihat kepedihan Donghae, pelan dia berjongkok di depan Donghae dan memeluk lelaki itu. Donghae tidak menolak, dia juga tidak menahan air matanya menetes. Kepedihan itu begitu dalam, kepedihan untuk merelakan diri melepaskan sesuatu yang paling berharga di tangannya, agar sesuatu paling berharga itu bisa menemukan kebahagiaannya.
"Aku tahu dan aku bisa mengerti kesedihanmu, kau tak perlu melepaskan Sungmin kalau kau tak bisa." bisik Kibum lembut, mengusap kepala Donghae di bahunya, membiarkan lelaki itu terisak dengan kepedihannya.
Lama Donghae menumpahkan perasaannya, dengan isakan tertahan dan keheningan yang dalam, lalu dia mundur, melepaskan diri dari pelukan Kibum, duduk tegak dengan tekad kuat di matanya.
"Aku tidak mungkin membiarkan Sungmin menderita dengan bertahan bersamaku, tidak setelah aku melihat betapa dalamnya perasaan Sungmin kepada Kyuhyun tadi, tapi sebelumnya aku ingin berbicara dengan Kyuhyun."
-KyuMin-
Sungmin masih tertidur di ruang perawatan. Kibum menungguinya. Sementara Kyuhyun yang baru terbangun, dua jam setelah kecelakaan itu berjalan pelan, menuju ruang tunggu, dia sudah mencuci muka dan agak segar, tapi mau tak mau nyeri di kepala dan bahunya membuatnya mengernyit ketika berjalan.
Donghae sedang duduk membelakanginya di kursi roda. Menatap ke luar, ke arah jendela lebar yang ada di ruang duduk itu, hujan sedang turun deras di luar membuat suasana ruangan itu begitu suram.
"Bagaimana keadaan Sungmin?" Tanya Donghae, menyadari kehadiran Kyuhyun tetapi tidak menoleh untuk menatapnya.
"Baik, Kibum sudah mengatur perawatan dan obatnya, sekarang dia masih tertidur." Kyuhyun berdiri, bersandar di tembok dekat Donghae, ikut menatap hujan yang mengalir deras di luar yang gelap, hanya menyisakan tetes air yang berkilauan terkena cahaya lampu.
"Kau pasti tahu kenapa aku ingin berbicara denganmu."
Kyuhyun mengangguk meski tahu Donghae tidak menoleh untuk melihatnya.
Hening sejenak, terasa begitu lama sampai kemudian terdengar Donghae menghela nafas panjang.
"Apakah kau mencintainya?" tanyanya pelan.
"Sangat." jawab Kyuhyun cepat, tulus.
Donghae memejamkan mata ketika rasa perih menyengat di dadanya mendengar ketulusan Kyuhyun kepada Sungmin. Mengetahui bahwa ada lelaki lain yang mencintai Sungmin dengan intensitas begitu besar kepada Sungmin ternyata menyakitinya, membuatnya terasa terpuruk dan di kalahkan. Tapi Donghae menguatkan hatinya, semua demi Sungmin, demi kebahagiaan Sungminnya.
"Apakah kau akan membahagiakannya?"
"Kebahagiaannya akan menjadi tujuan hidupku." gumam Kyuhyun jujur, dia lalu menoleh menatap Donghae yang sedang menatapnya, dua laki-laki yang mencintai satu wanita saling bertatapan.
"Maafkan aku..." Kyuhyun mengehela nafas, "aku tidak pernah bermaksud mencuri Sungmin darimu, aku tidak mengetahui keberadaanmu sampai saat terakhir, kau tahu."
Donghae mengernyit mendengar informasi yang baru didapatnya itu, Kibum belum menceritakan semua ini padanya, mungkin Kibum ingin Donghae mendengar sendiri dari mulut Kyuhyun.
"Sungmin tidak menceritakan alasan kenapa dia menjual diri padamu?"
"Tidak, mungkin semua akan berbeda jika dia menceritakan semuanya dari awal," gumam Kyuhyun penuh penyesalan, "aku memang jahat dan selalu mengambil apa yang kuinginkan tanpa tanggung-tanggung, tapi aku tidak pernah mengambil keuntungan dari penderitaan seseorang. Saat itu dia datang padaku, menjual dirinya padaku...kau tahu apa yang kupikirkan waktu itu?"
Kyuhyun menatap Donghae dengan sedih, "Kupikir dia pelacur penggemar barangbarang mahal yang putus asa membutuhkan uang untuk memenuhi hasratnya akan kemewahan."
"Sungmin tidak seperti itu." geram Donghae marah.
"Ya, dia tidak seperti itu," Kyuhyun setuju, "Tapi waktu itu apa yang bisa dipikirkan lelaki seperti aku? lelaki dengan kekayaan yang selalu mendapatkan wanita karena uang? aku memang salah waktu itu, aku menginginkan Sungmin dan aku punya uang yang diinginkannya, jadi kuterima tawarannya."
"Tapi pada akhirnya kau tetap jatuh cinta padanya meskipun kau menganggap dia pelacur murahan." Donghae merenung.
Sekali lagi Kyuhyun menganggukkan kepalanya.
"Ya, aku jatuh cinta kepadanya, bahkan aku mulai tidak peduli kalau ternyata memang hanya menginginkan uangku, aku berpikir, tidak apa-apa, toh aku punya uang banyak, tidak apa-apa selama dia ada di sisiku." Kyuhyun menghela nafas panjang.
"Kenyataan tentang keberadaanmu pada akhirnya menghantamku... Bahwa dia melakukan semua ini demi cintanya kepadamu."
Donghae memejamkan matanya.
"Dia sudah tidak mencintaiku lagi, dia hanya kasihan dan merasa bertanggung jawab."
"Dia tetap mencintaimu," Kyuhyun tersenyum sayang ketika membayangkan Sungmin, "hatinya selalu dipenuhi cinta tanpa pandang bulu, mungkin karena itulah dia berhasil menyentuh hatiku yang gelap."
Donghae menganggukkan kepala, ikut tersenyum ketika membayangkan Sungmin.
"Yah... Meskipun begitu, hatinya sudah kau miliki," Donghae menghela nafas, "Aku akan melepaskan Sungmin."
"Kau pikir dia akan mau?" sela Kyuhyun sedih, "Dia sudah memutuskan akan menjagamu, dia tidak akan mau."
"Dia pasti mau, aku sendiri yang akan berbicara padanya, aku tidak perlu dijaga, terapi ini berhasil dan Kibum meyakinkan kalau aku rutin melakukannya, dalam waktu empat bulan aku sudah akan bisa berjalan dengan normal. Aku masih bisa melanjutkan karirku sebagai pengacara setelahnya, mungkin butuh waktu lama dan aku harus belajar lagi, tapi kurasa aku bisa melangkah dengan kekuatanku sendiri."
Kyuhyun menganggukkan kepalanya, yakin kalau Donghae pasti mampu melakukan apa yang dikatakannya.
"Maafkan aku." gumamnya tulus.
"Kenapa?", Donghae mengernyit menatap Kyuhyun ingin tahu.
"Karena sudah mengalihkan hati Sungmin darimu."
Donghae tersenyum, kali ini senyum yang benar-benar tulus,
"Seharusnya aku berterimakasih kepadamu, kau menjaganya selama aku tidak bisa ada untuk menjaganya."
Kyuhyun terdiam, Donghae juga terdiam lama.
Lalu Kyuhyun mengaku,
"Kau mungkin ingin memukulku, bahkan membunuhku setelah aku mengatakannya padamu..."
"tentang apa?" mau tak mau Donghae merasakan ingin tahu ketika mendengar nada misterius di suara Kyuhyun.
Sesaat Kyuhyun tampak kesulitan berbicara,
"Aku... aku punya rencana jahat untuk merebut Sungmin darimu, aku pikir kalau Sungmin tidak mau memilihku, aku akan memaksanya memilihku."
"Rencana jahat apa?" sela Donghae, langsung waspada.
Kyuhyun tertawa getir,
"Bukan... rencana ini tidak menyakiti siapapun... kau tahu... Aku ingin sengaja membuat Sungmin hamil... agar mau tak mau dia menjadi milikku."
Sejenak Donghae terdiam, pengakuan Kyuhyun ini mau tak mau menyulut kemarahannya. Menyadari bahwa Kyuhyun memanipulasi kepolosan Sungminnya.
"Dasar Brengsek." geram Donghae pelan.
Kyuhyun menganggukkan kepalanya.
"Ya memang, aku brengsek. aku putus asa, setengah gila untuk memiliki Sungmin, aku minta maaf."
"Menurutmu apakah rencana jahatmu itu sudah berhasil?" Tanya Donghae kemudian, tiba-tiba menghubungkannya dengan kondisi sakit Sungmin.
.
.
.
TBC
Tuing tuing… kekeke akhirnya donghae mau melepaskan sungminbuat kyuhyun juga :D.. tapi bagaimana donghae setelah tahu kalau kyuhyun seperti memanipulasi sungmin yang polos? Tunggu chapter selanjutnya :D
