Tittle : GONE

Casts: Suho/ Kim Joonmyeon

Kris/ Wu Yi Fan

Luhan/ Wu Luhan

Baekhyun/ Wu Baekhyun

Tao/ Wu Zitao

Oh Sehun

Akan bertambah sesuai kebutuhan (?)

Genre : Drama, family, Hurt/Comfort, GenderSwitch (GS) for Suho

Rate : T

Disclaimer : Mereka semua punya Tuhan, dan cerita ini punya saya.

-Happy Reading-

Previous Chapter

"LUHAN!"

"Demi apapun juga Suho aku melihat tubuhnya melayang, aku melihatnya hampir mati di depan mataku sendiri!"

"Terima kasih Yifan, tolong jaga Luhan untukku."

"Kau berbohong."

"Hanya bulan depan Appa, aku janji, hanya satu minggu, selama ulang tahun Baekhyun dan Tao saja, Appa sudah berjanji padaku."

"Luhan! Apa begitu Eommamu mengajarkanmu berbicara pada ayahmu?!"

"maaf, hingga enam bulan kedepan aku tak bisa pulang ke Korea, aku juga tak bisa pulang saat ulang tahun Baekhyun dan Tao, maaf Eomma."

"Yixing?"

"Zhoumi Ge..."

.

.

.

Gone Chapter 14 begin...

"Siapa dia Yixing?" Pria yang disebut Zhoumi tadi bertanya heran.

"Ah, perkenalkan Ge, ini temanku dulu sewaktu di Korea, Yifan," Yixing berkata gugup, menarik senyum yang terlalu dipaksakan, "dan Yifan, ini Zhoumi..."

"calon suamiku."

Raut bingung dan terluka jelas membingkai wajah Kris, ia hanya menatap Yixing yang tengah menggigit bibirnya tak percaya. Pria itu menggeleng pelan, mencoba menyangkal tapi kenyataan menamparnya keras, saat pria bernama Zhoumi meremas pelan bahu Yixing, mengecup puncak kepala wanita yang masih sangat ia cintai.

"Benarkah? Kalau begitu kau harus datang ke pernikahan kami bulan depan." Zhoumi tersenyum teduh, menunjukkan giginya yang berbaris rapi.

Kris tak menanggapi pernyataan Zhoumi, matanya menatap Yixing lekat, wanita itu menunduk sebisa mungkin menghindari tatapan Kris yang penuh luka dan tanda tanya.

"Yixing, tapi ki – " perkataan Kris terpotong saat Yixing menatapnya tajam, tatapan yang selama ini tak pernah Yixing berikan padanya.

"Ge, kembalilah ke meja ke meja terlebih dahulu, nanti aku menyusul."

"Kau mau kemana Yixing?" Zhoumi bertanya heran.

"Ada yang harus kubicarakan dengan Yifan, berdua."

Tak menunggu tanggapan Zhoumi, Yixing segera menarik lengan Kris menuju ke luar restaurant menghindar dari tatapan penuh tanda tanya calon suaminya. Ia benar-benar harus menyelesaikan urusannya dengan Kris empat mata, bukan tak ingin jujur kepada sang calon suami, tapi hanya saja yeah ia tak ingin masalah masa lalunya terbawa hingga ke kehidupan masa depannya nanti. Setelah berada di tempat yang cukup sepi, Yixing memutar tubuhnya berdiri menghadap Kris.

Untuk sesaat keduanya hanya diam, saling tatap. Menyalurkan segala perasaan lewat diam yang begitu menyiksa, hingga akhirnya Kris buka suara.

"Yixing, jelaskan padaku." Suaranya penuh nada kecewa.

"Kita sudah berakhir, aku akan menikah dengan Zhoumi." Dingin, tak banyak emosi yang ditunjukkan Yixing.

"APA-APAAN INI YIXING?! Kau pasti bercanda, kita berjanji untuk menikah kau ingat?" Kris tak bisa percaya kata-kata Yixing, ia tak ingin mempercayainya.

"YIFAN! Bagian mana dari 'kita sudah berakhir' yang tak kau mengerti?!" kini ekspresi wajah Yixing mengeras.

"Tapi kita tak pernah sepakat untuk mengakhiri ini semua Yixing."

"Saat kau berbohong padaku bahwa kau belum pernah menikah, kau pikir kita pernah sepakat untuk itu, DEMI APAPUN JUGA YIFAN! KAU BERBOHONG PADAKU!" nafas Yixing memburu menahan gejolak amarah dalam jiwanya.

"Dengar Yixing," suara Kris merendah, "aku berbohong padamu karena aku sangat mencintaimu Yixing, aku melakukan itu agar kau tak kembali lepas dari genggamanku."

"Karena cinta?" Yixing menyipitkan matanya, menggeleng tak percaya, "karena cinta kau membohongiku? karena cinta kau melukai wanita yang tak pernah memalingkan pandangannya darimu? Karena cinta kau meninggalkan keluargamu?"

"Aku juga wanita Yifan, aku tahu benar bagaimana perasaan Joonmyeon saat kau menceraikannya demi aku, aku tahu bagaimana sakitnya ia saat harus bersikap seolah kalian tak pernah mempunyai hubungan apapun di hadapanku, dan kau meninggalkannya penuh luka begitu saja, you are egoistic f*cking bastard!"

Yeah, Yixing tidak bohong dengan ini semua, awalnya ia merasa sakit karena Kris dan Suho membohonginya mentah-mentah, mengatakan bahwa mereka hanya teman lama. Namun setelah mengetahui hubungan mereka sebenarnya, ia mulai merangkai teka-teki alasan mengapa Suho selalu menatap Kris dengan tatapan yang berbeda, tatapan penuh rindu, cinta, dan sedikit luka.

Mata Suho tak pernah bohong, selalu ada cinta di setiap tatapannya pada Kris. Yixing tak habis pikir bagaimana bisa masih saja ada cinta dalam tatapan Suho meskipun mantan suaminya ini telah menyakitinya bahkan sejak awal hingga akhir perkawinan mereka.

"Kau Benar! Aku memang bajingan," Kris tersenyum miring, lalu terkekeh mengejek.

"AKU MENJADI BAJINGAN KARENA DIRIMU YIXING! Aku. Cinta. Padamu! Apa kau tahu?" Kris memberi tekanan pada akhir kalimatnya.

"Apa kau tahu seberapa besar cintaku padamu? Apa kau tahu seberapa pengorbanan yang telah kulakukan hanya untuk dirimu? APA KAU TAHU?! KATAKAN PADAKU!" Kini Kris benar-benar berteriak tepat di depan wajah Yixing, membuat wanita di hadapannya itu diam sejenak.

"Kau sangat menyedihkan Yifan," Yixing kembali meggeleng pelan menatap Kris tajam tak percaya, "jika itu yang kau sebut cinta, aku salah pernah mencintaimu Yifan." Yixing tersenyum mencemooh, memberikan tatapan penuh bisa.

"Kau egois Yifan, kau selalu menginginkan orang lain untuk mengerti dirimu, sementara kau sendiri tak pernah mau mengerti orang lain."

"Kau pikir siapa yang egois?! kau yang telah meninggalkanku tanpa kabar selama hampir dua puluh tahun?" suara Kris bergetar, amarahnya bercampur dengan rasa kecewa, "jika saja kau tidak meninggalkanku tanpa kabar aku tak akan menikahi Joonmyeon, jika saja waktu itu kau ada aku dapat membawamu ke hadapan ayahku dan kita akan menikah." Tatapan mata Kris meredup.

Yixing diam, perkataan Kris seolah membungkamnya, ia tahu sejak awal dirinyalah yang memulai. Andai saja waktu itu ia tak meninggalkan Kris, menggantungkan semua perasaan cinta, dan memberikan harapan semu pada lelaki ini. Andai saja. Jika saja waktu itu ia berani muncul di hadapan Kris dan mengatakan semuanya, mungkin semua ini tak akan terjadi, mereka mungkin tak akan melangkah sejauh ini. Hanya jika.

Bohong jika ia bilang ia tak lagi mencintai Kris setelah hampir dua puluh tahun ia meninggalkan pria ini tanpa kepastian, bagaimanapun juga Kris adalah cinta pertamanya. Tapi Yixing tahu posisinya, ia mencoba untuk tidak menjadi egois, ia tak berharap Kris akan menunggunya hingga selama itu. Namun ketika bertemu kembali dengan Kris ia tak meyangka akan dipeluk sebegitu hangat bahkan tatapan mata pria itu masih sama seperti yang ia ingat, penuh cinta dan kerinduan. Wanita mana yang tak akan hanyut dalam tatapan seperti itu?

"Maaf, ini semua memang salahku," Yixing menunduk, air matanya mengalir begitu saja, "aku tak seharusnya jadi pengecut saat berada pada titik terendah kehidupanku,"

"maaf, saat itu aku benar-benar hancur, aku bahkan merasa tak sanggup menghadapi dunia, lalu bagaimana aku akan menghadapimu." Yixing tak tahu mengapa emosinya menjadi tidak stabil seperti ini, dia marah pada Kris namun pada saat yang bersamaan perasaan bersalah begitu membebani dirinya.

Kris membawa tubuh Yixing yang bergetar ke dalam pelukannya, membiarkan setelan Armani-nya basah oleh air mata. Pelan ia mengusap punggung Yixing, mendengarkan setiap isakan dan racauan kata maaf dari bibir wanita dalam pelukannya ini.

"Itu bukan murni kesalahanmu Yixing." Perlahan Kris memejamkan matanya. Bagaimana bisa takdir begitu kejam membolak balikkan kehidupan mereka.

Cukup lama sampai akhirnya Yixing melepaskan diri dari pelukan Kris, memundurkan tubuhnya, manatap ke dalam mata hitam yang pernah membuatnya jatuh ke dalam lubang tak berdasar. Matanya beralih pada hidung bangir Kris, rahang tegas serta bibir tebal yang menjadi magnet bagi siapa saja yang melihat wajah pria ini. Yixing tersenyum tipis. Entah ia buang kemana semua rasa marah, kesal dan kecewanya tadi yang begitu berapi-api.

'Kali ini saja, hanya kali ini, terakhir kalinya aku menatap wajah tampan ini, setelah ini aku akan menatap wajah lainnya.'

Seolah membeku, Kris hanya diam di bawah tatapan Yixing, matanya bergerak mengikuti gerakan mata wanita itu, hingga akhirnya tatapannya jatuh pada bibir kemerahan Yixing yang tersenyum tipis. Ada rasa hangat menelusup ke dalam hatinya saat kembali melihat senyuman wanita yang teramat ia cintai.

"Bukankah aku terlalu pengecut Yifan?" Yixing kembali tersenyum, mencemooh dirinya sendiri, "harusnya aku tak datang kembali, dengan begitu kita tak perlu terperosok jatuh sedalam ini, terlalu banyak hati yang telah tersakiti."

"Kita bisa memulainya lagi dari awal Yixing, bukankah kita sudah berjanji?"

"Tidak Yifan, maaf," kembali menatap mata Kris, "aku sudah memutuskan untuk menikah dengan Zhoumi, kami sudah sepakat, pernikahan kami akan berlangsung bulan depan." Senyum penuh permintaan maaf yang kini merekah di bibir wanita itu.

"Maaf karena aku telah membuat semua penantianmu selama ini sia-sia, maafkan aku yang terlalu bodoh dan pengecut ini Yifan, maaf –" Yixing membekap mulutnya sendiri, menahan isakan jeleknya yang bisa lolos kapan saja, kata-katanya terhenti, air mata terus jatuh dari mata sayu miliknya.

Mendung menggantung di netra gelap Kris sudah jatuh menjadi hujan penuh kesedihan dan kecewa. Ia menggigit bibir tebalnya, menatap Yixing nyaris tak percaya, otaknya menyangkal semua perkataan Yixing, terlalu sulit dipercaya. Tak pernah disangka bahwa ia akan berakhir seperti ini.

"Maaf karena aku hadir dan merusak kebahagiaan yang mungkin hampir saja kau peroleh tanpaku, maaf karena wanita yang selalu kau cintai ini tak bisa menjadi akhir bahagiamu." Susah payah Yixing menelan ludahnya sendiri, menahan isakannya.

"Tidak Yixing! Tidak! Kita sudah berjanji Yixing, kau tak bisa meninggalkanku begitu saja," Kris menangis tersedu, menjatuhkan harga dirinya yang sangat agung, memohon dan meraung pada wanita yang ia anggap belahan jiwanya itu.

Namun kenyataannya Yixing perlahan berjalan menjauh, "Selamat tinggal Yifan, selamat tinggal cinta pertamaku."

Setelah kalimat perpisahan itu Yixing berlari masuk kembali ke dalam restauran, meninggalkan Kris yang telah mati rasa. Lidahnya kelu, bahkah untuk melafalkan nama Yixing saja sudah sulit baginya, ia merasa tak sanggup lagi berlari. Begitu menyakitkan baginya, melihat harapannya akan cinta pertama hancur berkeping tepat di depan matanya sendiri. Sudah terlalu banyak yang ia korbankan, dan semua hanya berakhir seperti ini.

Kris jatuh pada dua lututnya, dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya. Bibirnya tak henti menyebut nama Yixing pelan, semakin lirih hingga hanya tangisannya yang terdengar, tangisan putus asa dan kekecewaan, tangisan atas hati yang terluka.

However first love rarely works out, it leaves deep scar and the pain is unforgetable.

Malam itu Kris menenggelamkan dirinya diantara botol-botol alkohol berbagai merek di sebuah bar elit yang dulu sering ia kunjungi hanya untuk sekedar minum-minum. Namun kali ini terasa sangat berbeda, tak ada teman-temannya yang selalu melantunkan gelak tawa dan lelucon disana sini, hanya dirinya dan kesedihannya yang menggunung.

Ia terus saja memupuk rasa kecewa, menyiraminya dengan air mata penyesalan. Ia belum siap merasakan patah hati kembali, saat dulu Yixing meninggalkannya setidaknya ia masih punya sedikit harapan, namun saat ini, harapan itu tak lagi ada, Yixing sudah menjadi milik orang lain, dan wanita itu sudah menolaknya mentah-mentah.

Mungkin Yixing benar, dirinya memang menyedihkan. Selama ini ia terlalu egois, masih mengharapkan cinta wanita lain saat istrinya sendiri selalu menghujani dengan cinta dan kasih sayang. Tentu saja ia tidak buta untuk melihat bagaimana sikap Suho, tatapannya, bahkan senyum wanita itu, semua bahasa tubuh itu Kris tahu bahwa Suho mencintainya sebagai seorang pria, dan selama ini ia hanya pura-pura buta. Bukankah ia benar-benar egois.

Kris menangis sambil terus meneguk minumannya, hingga ia tak lagi bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan, ia bahkan tak bisa berjalan lurus. Membuat pelayan bar harus menghubungi supir pengganti untuk membawanya pulang ke rumah.

.

.

.

"Tuan muda, sekarang hampir tengah malam, sebaiknya Anda istirahat."

"Tak apa Bibi Wang, aku menunggu Appa." Luhan tersenyum pada wanita yang hampir menyentuh usia lima puluhnya itu, salah satu maid di mansion milik ayahnya.

"Baiklah, saya ada di dapur jika Anda membutuhkan sesuatu." Wanita yang disebut Bibi Wang tadi tersenyum, menunjukkan kerutan di sudut-sudut matanya.

"Terima kasih Bibi Wang." Setelah itu Bibi Wang menunduk hormat, lalu berjalan menuju dapur.

Luhan menghentakkan kakinya pelan, sudah pukul 11:45 malam dan belum ada tanda kepulangan ayahnya, padahal asistennya mengatakan bahwa pertemuan mereka sudah berakhir beberapa jam yang lalu. Berkali-kali Luhan mencoba menghubungi ponsel ayahnya, tapi ponselnya sama sekali tidak aktif.

Kembali ia mengecek ponselnya berharap ada pesan dari sang Appa, namun nihil hanya beberapa pemberitahuan dari akun Weibo miliknya. Pemuda itu menghela nafas jenuh, sudah dua jam ia duduk di ruang tengah menunggu kepulangan Kris. Ada hal yang harus ia sampaikan pada ayahnya itu, eum mungkin lebih tepatnya permohonannya.

Luhan tersenyum saat orang yang meminta permohonan tersebut merengek padanya. Tao, si Bungsu itu yang tadi merengek padanya meminta sang ayah untuk memberikan ucapan ulangtahun lewat video, ya, hari ini adalah ulang tahun Tao, dan si kecil itu bilang ayahnya sama sekali belum mengucapkan apapun padanya.

"Hyungie~ Luhanie hyung... " dari layar ponselnya Luhan dapat melihat bagaimana puppy eyes milik Tao itu, membuatnya semakin gemas saja.

"Wae? Aigoo, ada apa dengan tatapan itu?" Luhan tersenyum meledek.

"Appa belum mengucapkan apapun Hyung, padahal biasanya Appa akan segera mengucapkan di haru ulang tahun Tao." Si Bungsu mengerucutkan bibirnya.

"Benarkah?" Tao mengangguk, "Appa sedang sibuk Tao, mungkin Appa belum sempat."

Helaan nafas kecewa terdengar dari ujung sana, bibirnya semakin mengerucut.

"Bagaimana jika Hyung meminta Appa untuk mengucapkannya segera setelah Appa pulang nanti?" mata Tao berbinar bahagia.

"Benar?" Luhan mengangguk, "Minta Appa untuk melakukan video call, bagaimana?"

"Okay," Luhan mengacungkan jempolnya.

"Yeay!" Luhan tertawa saat melihat bagaimana the birthday boy berteriak senang.

Ia mengerti kenapa ayahnya belum mengucapkan apapun pada ulang tahun Tao, sudah dua hari terakhir ini ayahnya disibukkan oleh urusan perusahaan, perusahaan pemasok bahan baku utama mereka memutuskan untuk mengakhiri kerjasama secara tiba-tiba, membuat perusahaan kewalahan mencari pemasok pengganti, setidaknya begitulah yang ia curi dengar dari pembicaraan ayahnya dengan Henry.

Luhan kembali melirik jam tangannya, pukul 11:55 tapi ayahnya belum juga sampai di rumah. Ia kembali menelan kekecewaan bahwa mungkin ia tidak akan bisa segera memeuhi permintaan adiknya, karena jam segini Tao pasti sudah tidur. Mungkin ia bisa meminta ayahnya untuk melakukannya besok pagi, sebelum pria itu berangkat bekerja. Setidaknya ia harus memberitahu ayahnya terlebih dahulu.

Deru mobil yang memasuki pekarangan rumah membuat Luhan menegakkan kepalanya, lalu berjalan tergopoh menuju pintu utama. Saat ia membuka pintu yang ia dapati adalah ayahnya yang sedang menyanggakan tubuh kekarnya di salah satu pilar. Lalu pria itu berjalan limbung ke arahnya, membuat kening Luhan berkerut cukup dalam.

"Appa?" Luhan mengikuti langkah ayahnya.

"Appa..."

Kini tubuh Kris berputar menghadap Luhan, ia memijat pelan batang hidungnya. Kemudian mata elangnya menatap Luhan tajam. Tatapan yang berbalur luka, amarah, dan entahlah, tatapan itu begitu asing bagi Luhan.

"Apa yang ingin kau katakan?"

"Hari ini ulang tahun Tao dan Appa belum mengucapkan apapun padanya, bahkan sekarang hari sudah hampir berganti."

Diam. Kris tak menanggapi, beberapa kali matanya hanya berkedip. Sedetik kemudian ia melangkah maju mengeliminasi jaraknya dengan Luhan. Ayah dan anak ini hanya diam saling pandang membuat susasana di ruang tengah rumah besar itu jadi sangat mencekam.

"Lalu apa yang kau harapkan?" Kris berkata dingin, dari jarak sedekat ini Luhan bisa mencium aroma alkohol yang pekat.

Mendengar itu Luhan memicingkan matanya, menatap ayahnya tak percaya.

"Appa mabuk?"

"Kenapa?" Kris menyeringai, "kau peduli?"

Kali ini Luhan yang diam tak menanggapi, mendengarkan apa saja yang ingin dikeluarkan ayahnya.

"Apakah kau peduli? APA KAU BENAR-BENAR PEDULI PADAKU?!" Kris mendorong telunjuknya tepat di dada Luhan, membuat tubuh pemuda itu sedikit mundur.

"Tak ada yang benar-benar peduli padaku di dunia ini! Kalian selalu menyalahkanku, seperti aku yang paling bersalah di dunia ini, apa kalian pernah menanyakan bagaimana perasaanku? APA KALIAN PERNAH?! HAH?!" Kris berteriak tepat di hadapan wajah Luhan, membuat Luhan sedikit memejamkan matanya.

Walaupun ucapan ayahnya tak begitu jelas karena pengaruh alkohol, tapi tentu saja ia masih dapat menangkap apa yang sedang diucapkan ayahnya. Kata-kata penuh amarah.

Air mata mengalir indah melewati rahang tegas Kris, tangisannya tak ia tahan lagi.

"Ibumu menyalahkanku karena perceraian ini, apakah salah meraih kebahagiaan bersama cinta pertamaku? Apakah aku tak berhak bahagia?" dengan suara rendah dan diselingi tangisan yang menyedihkan Kris meracau.

"Bahkan Yixing pun menyalahkanku, dan sekarang ia meninggalkanku, aku sudah menunggunya hampir separuh usiaku dan dia memilih menikah dengan pria lain, apa aku benar-benar tak berhak bahagia?! Apa kalian pikir aku tak punya hati?!" Kris meraih bahu Luhan dengan dua tangan kekarnya, meremasnya, "KATAKAN PADAKU LUHAN!" kemudian mengguncangkan tubuh pria yang lebih muda.

Tangisan Kris semakin menjadi, kini ia menangkup wajahnya yang telah basah air mata dengan dua telapak tangan besarnya, membuat isakannya tertahan disana. Luhan tak bergeming, tak tahu harus menjawab apa, ia hanya berdiri diam melihat bagaimana ayah yang selalu ia lihat kuat itu menangis bagai anak kecil yang kehilangan permen favoritnya.

"Lalu kau," Kris menatap Luhan tajam, membuat Luhan menahan nafasnya sesaat, "kau terus saja merengek ini dan itu, mengatasnamakan adik-adikmu, kau egois Luhan, kau tahu itu?" suara Kris merendah di akhir kalimatnya, kembali ia melangkah maju semakin mempersempit jarak dirinya dengan Luhan.

"Tak bisakah kau membuat hidup ayahmu ini menjadi mudah HAH?! Berhenti mengeluh dan bersikap kekanakan." Kris meraih kerah kemeja Luhan, menatap Luhan dengan mata merahnya yang sayu, aroma alkohol kembali menguar.

"Ap-Appa..." suara Luhan bergetar, ia tak pernah melihat sisi ayahnya yang seperti ini, terasa sangat menyeramkan.

"Kau hanya perlu megikuti semua perintahku, KAU MENGERTI?!" dengan sekali hentakan Kris menghempaskan tubuh Luhan dengan sangat keras hingga kepalanya membentur pilar yang ada di tengah ruangan.

"AKH!" Luhan meringis saat merasakan bagian belakang kepalanya menghantam permukaan yang keras.

Kris berbalik lalu berjalan dengan limbung sambil sesekali merapat ke dinding untuk menyeimbangkan tubuhnya, Luhan hanya dapat melihat punggung ayahnya yang hilang di balik pintu kamar utama dengan pandangan yang mengabur karena air mata.

"Tuan muda, Anda tidak apa-apa?" Bibi Wang mengusap pelan bahu Luhan, membuatnya mendongak, "Apa Anda terluka?"

Luhan hanya menganggeleng, "Aku tak apa Bibi Wang." lalu ia berdiri dan berjalan menuju kamarnya dengan kaki yang bergetar, meninggalkan sang pelayan yang menatap khawatir.

"Tapi Tuan, sebaiknya kita pastikan terlebih dulu kondisi Anda." diabaikannya perkataan Bibi Wang.

Luhan terus berjalan sambil memegangi kepalanya, berkali-kali ia memejamkan matanya dengan erat, menghalau semua rasa sakit yang tiba-tiba saja datang menyerang. Dunianya seolah berputar-putar, entahlah rasanya terlalu absurd untuk diungkapkan hanya dengan kata.

Susah payah Luhan berjalan menuju kamarnya, menguncinya rapat. Bibirnya bergetar, semua masih terasa kabur baginya, bulir-bulir air mata membasahi pipinya. Ia tak menyangka akan melihat sisi lain dalam diri ayahnya, monster yang akan bangun kapan saja. Jujur, ia merasa takut setelah melihat ayahnya yang seperti itu. Bagaimana tidak, ia seperti melihat orang lain, bukan seperti ayahnya yang selama ia kenal.

.

.

.

Suho memijat kepalanya pelan, di hadapannya sekarang Tao sedang banjir air mata. Pagi ini si Bungsu menolak bangun dari tempat tidurnya, dan terus menanyakan kapan ayahnya akan menelepon. Tao terus-terusan merengek ingin diucapi selamat ulang tahun oleh ayahnya.

"Tao, ayolah sayang, kau harus berangkat ke sekolah."

"Tidak, Tao akan menunggu telepon dari Appa,ulang tahun Tao sudah lewat Eomma dan Appa belum mengucapkan apapun, padahal Luhan Hyung sudah berjanji." Tao kembali bersembunyi di balik selimutnya.

"Tao, mungkin Appa sedang sibuk." Suho menghela nafasnya pelan saat mendengar Tao masih terisak.

"Apa Tao sudah tak penting lagi bagi Appa? Apa selama ini Tao nakal Eomma?" akhirnya Tao menyibakkan selimutnya, menunjukkan ekspresi yang menghancurkan hati ibunya.

"Hey, kenapa bicara seperti itu?"Suho duduk di tepi tempat tidur Tao, menghapus jejak air mata putranya dengan ibu jari.

"Kalian adalah yang terpenting bagi Eomma dan Appa, Tao harus ingat itu, dan juga Tao tidak nakal, jadi jangan berpikiran macam macam heum?" Suho mengusap rambut hitam Tao.

"Tapi selama ini Appa selalu mengingat ulang tahun Tao, Appa tak pernah melewatkannya meskipun Appa sedang bekerja, lalu kenapa sekarang Appa berubah Eomma?" air mata kembali mengalir dari sudut-sudut mata Tao.

Suho hanya menggigit bibirnya sambil terus mengusap rambut Tao, ia tak tahu harus memberikan alasan apa lagi. Selama ini Kris memang tak pernah melewatkan ulang tahun anak-anaknya, setidaknya ia akan mengirimkan pesan suara jika ia benar-benar tidak sempat. Tapi kali ini, sulit dipercaya Kris melewatkan hari spesial bagi Tao, mengingat bagaimana si Bungsu itu terus menempel pada ayahnya.

'Apakah ia benar-benar telah mengesampingkan anak-anaknya?'

'Ataukah karena ia sudah mendapat hak asuh atas Luhan, karena itu ia mengabaikan dua putranya yang lain?'

'Atau karena Yixing?' Suho menggeleng-gelengkan kepalanya, menghilangkan semua pikiran buruknya.

Suara dengkuran halus terdengar dari bibir Tao, ia sudah kembali tertidur, mungkin karena terlalu lelah menangis sepanjang pagi, ia bahkan hampir tak tidur tadi malam menunggu ucapan dari sang ayah. Suho membenarkan letak tubuh Tao, menarik selimut hingga menutupi separuh tubuh si Bungsu.

Setelah mengabari wali kelas Tao mengenai ketidakhadirannya, Suho kembali menimbang apakah ia harus menghubungi Kris atau tidak. Sudah semalaman kemarin ia mencoba menghubungi mantan suaminya itu, tapi ponselnya sama sekali tidak aktif. Sebenarnya ia tidak ingin terlalu sering menghubungi Kris, karena hanya mendengar suara pria itu saja Suho dapat merasakan kembali luka di hatinya yang masih menganga, tapi mau bagaimana lagi, anak-anaknya berada di puncak segala kepentingannya, tak peduli jika ia harus bernostalgia dengan luka ataupun menjatuhkan harga dirinya di bawah kaki Kris.

Dengan berat hati Suho memutuskan untuk kembali menghubungi Kris. Kali ini tidak ada lagi suara operator melainkan nada sambung yang menandakan ponsel di seberang sana sedang aktif. Sedikit harapan memenuhi paru-paru Suho, setidaknya ia bisa meminta Kris meninggalkan pesan suara. Ia tak bisa terus-terusan melihat su Bungsu bersedih menangisi ucapan ulang tahun dari ayahnya yang tak kunjung ia terima.

Helaan nafas putus asa lepas begitu saja dari bibir Suho, berkali-kali ia men-dial nomor Kris namun tak satupun dari panggilan itu yang dijawab. Ia menggigit bibirnya pelan, lalu kembali bergelut dengan ponselnya menghubungi nomor Luhan yang mungkin saja ia dapat membantu.

Suho memejamkan matanya erat saat mendengar suara operator wanita menandakan ponsel Luhan sedang tidak aktif. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi makan, menangkup wajahnya dengan dua telapak tangan kembali menghela nafas putus asa, ia tak tahu harus berbuat apa lagi.

Seharian itu Suho mencoba untuk menaikkan kembali mood si bungsu yang manja itu, mencoba mengalihkan kesedihannya yang berkepanjangan, karena Tao yang bersedih dan merajuk di waktu yang bersamaan adalah bencana. Sisa hari itu mereka habiskan dengan memanggang kue manis kesukaan Tao, membuat ppopgi, permen tradisional Korea dan berakhir dengan memasak makan malam bersama.

Terasa sangat menyenangkan, rasanya seperti sedang melakukan mom and son date, akan lebih menyenangkan lagi jika dua anaknya yang lain ikut serta. Tapi mau bagaimana lagi, Luhan ada di Cina sekarang dan si anak tengah, Baekhyun, sedang berada di sekolah. Suho akan menyimpan ide ini untuk mengisi liburan mereka saat Luhan kembali ke Korea, membanyangkannya saja ia sudah tersenyum geli.

.

.

.

Kris bangun dengan sakit kepala yang begitu menyiksa, puluhan palu seperti menghantam kepalanya. Ia memijit pelipisnya pelan, matanya menyipit saat cahaya matahari menyelusup masuk melalui celah-celah gorden yang sedikit terbuka. Ia melirik jam digital di atas meja samping ranjang, pukul 13.40. Ia pasti tidur seperti orang mati, sudah lewat tengah hari dan ia baru terbangun. Berapa lama ia tidur, 10 jam? 12 jam? Entahlah.

Masih terus memijit pelipisnya ia berusaha duduk, lalu menyibak selimut tebalnya tergesa saat perutnya seperti diputar. Dengan langkah panjang ia menuju kamar mandi, menumpahkan isi perutnya di kloset, efek berbagai jenis alkohol yang ia tenggak tadi malam sangat menyiksanya, seluruh tubuhnya terasa sakit sekarang. Dengan susah payah ia kembali berdiri, membuka laci kabinet paling atas mengambil sebutir aspirin dan meneguknya bersama air keran.

Ia memejamkan matanya saat aspirin masuk begitu saja melalui tenggorokannya, kemudian kembali ia buka matanya, menatap bayangan dirinya di cermin besar yang sedikit berembun. Otaknya mengulang kembali kejadian tadi malam, kalimat-kalimat Yixing yang lekat dalam ingatannya memutar terus menerus seperti radio rusak.

Giginya bergemeretuk, tangannya mengepal kuat. Melalui cermin besar ini ia dapat melihat garis-garis amarahnya. Ekspresinya mengeras, ia menggeram kesal, sebelum akhirnya memukulkan kepalan tangan kanannya ke cermin besar di hadapannya, meninggalkan retak dan noda darah disana.

"Ternyata bukan mimpi." Kris tersenyum tipis, senyuman yang teramat menyedihkan.

Ia masih sulit percaya, perjuangannya selama ini hanya berakhir begini. Berjuta kisah cinta pertama di luaran sana, kenapa harus miliknya yang berakhir memilukan seperti ini. Apa ia kurang berkorban? Apa ia kurang memperjuangkannya?

Atau karena Yixing memang tak pernah mencintainya, sebesar cintanya pada wanita itu?

Apapun alasannya, pada akhirnya ia tetaplah terluka. Lalu kemana ia harus membawa luka menganga ini? siapakah yang ia harapkan bisa menjahit kembali luka ini, menyatukan hatinya menjadi bagian yang kembali utuh. Tak ada, tidak pula dirinya sendiri.

Setelah mandi dan membalut luka di tangannya, ia berjalan keluar kamar mandi bersamaan dengan dering telepon kabel yang terhubung dengan seluruh ruangan di mansion ini, well semacam jaringan telepon internal.

Ia mengangkat gagang telepon tersebut sambil kembali memijat pelipisnya, "Ya?"

"Maaf Tuan, tapi Tuan Henry menunggu Anda di ruang tengah." Suara wanita di ujung sana menyahut, salah satu pelayan di rumah besar ini.

"Dan ju – "

"Baik, aku akan turun." Kris memotong cepat.

Setelah memutus hubungan teleponnya, Kris mengambil kemeja putih dari dalam lemarinya asal, mengenakannya di tubuh kekarnya bersama dengan jas hitam. Setelan itu terlihat sangat cocok di tubuhnya, lagipula pria beranak tiga itu memang cocok mengenakan apapun. Tak lupa ia mengambil ponselnya yang berada di atas meja, melirik ponselnya tersebut, begitu banyak panggilan tak terjawab yang ia acuhkan begitu saja.

Baru Kris membuka pintu kamarnya, Pak Kim, satu-satunya pelayan berkebangsaan Korea di rumah itu sudah menunggunya di depan pintu. Walau sudah cukup berumur pria ini masih tetap berwibawa, dan pria ini sangat royal pada keluarganya, dibuktikan dengan pengabdiannya selama hampir tiga puluh tahun pada keluarga Wu.

"Tuan," Pria tua itu sedikit membungkuk, "maaf, tapi Tuan Muda Luhan belum keluar dari kamarnya sejak tadi malam, Tuan Muda bahkan melewatkan kelasnya hari ini."

Dahi Kris berkerut, "Ada apa lagi dengan anak itu?"

Kris berjalan cepat menuju kamar Luhan, pintu dengan cat warna putih itu tertutup rapat. Bibi Wang dan seorang pelayan wanita yang lebih muda berdiri di depan pintu itu, mencoba mengetuk berulang, berharap penghuni kamar mau membuka pintu kamarnya. Melihat Tuan Besarnya datang, Bibi Wang segera menyingkir memberi ruang pada Kris.

Dengan cepat Kris mengetuk keras kamar Luhan, terkesan seperti menggedor kasar, "Luhan! Hentikan permainan kekanankanmu ini!"

Ia kembali mengetuk kasar, "LUHAN! BUKA PINTUNYA! Apa lagi yang kau inginkan sekarang, hah?!"

Tetap tak ada jawaban dari dalam sana, bahkan seperti tak ada tanda-tanda kehidupan.

"Baik Luhan! jika kau ingin bermain-main maka Appa akan menurutinya."

"Pak Kim, tolong ambilkan aku rantai besi dan gembok." Kris tak menoleh pada Pak Kim yang tengah menunjukkan ekspresi bingung, terus saja ia memandangi pintu yang masih tertutup rapat itu.

"Baiklah Tuan." Segera Pak Kim turun mengikuti perintah majikannya.

"Dengar Luhan! Masih ada waktu untukmu untuk menghentikan permainan kekanakan ini." ekspresi wajah Kris mengeras, "kau tinggal di rumah ini maka kau harus mengikuti peraturan yang ada di rumah ini! Berhenti bersikap manja!"

Pak Kim kembali membawa rantai besi dan gembok, di belakangnya Henry berjalan mengikuti.

"Luhan kau akan membuka pintu ini atau tidak?!" hening masih tak ada jawaban dari balik pintu kamar Luhan, "Baiklah waktumu habis."

Segera Kris mengambil rantai besi lalu mulai melilitkannya pada kenop pintu kamar Luhan, menghubungkannya pada dinding di sebelahnya, membuat pintu itu terkunci rapat. Tindakan Kris itu mengundang keterkejutan yang luar biasa diantara para pelayan bahkan Henry.

Henry mencoba meraih lengan Kris, menghentikan kegiatannya "Hey Yifan, apa yang kau lakukan ha? Kau mau mengunci anakmu sendiri?"

"Diam Henry, ini rumahku dan dia anakku, jadi biarkan aku yang memberinya pelajaran." Kris menatap Henry tajam kemudian melilitkan kembali rantai besi itu, kemudian menggemboknya.

Henry hanya menggeleng tak percaya, "Kau gila Yifan, ada apa denganmu? kau mau membunuhnya atau apa." Kali ini perkataan Henry tak ditanggapi oleh Kris.

"LUHAN!" Kris mengatupkan rahangnya, "kau yang menginginkan permainan ini kan?! Maka nikmatilah permainan yang kau buat sendiri."

Kris berbalik pada beberapa pelayan yang berkeliling di sekitar pintu kamar Luhan, "Kalian dengar! Jangan ada yang pernah membukakan pintu ini, kecuali aku yang memerintahkan dan jika dia memohon untuk keluar katakan padaku, tak ada yang berhak membuka pintu ini tanpa izin dariku."

Mendengar ucapan Kris, mereka hanya dapat menelan ludah kasar. Pak Kim hanya dapat merapatkan bibirnya, ia tak tahu harus berbuat apa jika sudah seperti ini, biar bagaimanapun Kris punya hak penuh atas apapun yang terjadi dalam rumah besar ini, dan lagipula Kris adalah ayah Luhan. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain berdoa untuk keselamatan Luhan, atau setidaknya pemuda di dalam sana mau mengesampingkan egonya dan memohon pada ayahnya.

Setelah melempar ultimatumnya, Kris berjalan menuruni tangga diikuti Henry yang masih menggeleng tak percaya. Bagaimana bisa Kris berubah secepat ini, dari ayah yang begitu menyayangi anak-anaknya menjadi pria kejam tak berperasaan.

"Yifan!" Henry menahan lengan Kris, "ada apa denganmu? Apa yang kau harapkan dari mengurung Luhan seperti ini?"

"Luhan adalah anakku, aku yang akan mengajarinya untuk bersikap sebagaimana calon pemimpin perusahaan, jadi berhenti mengurusi urusanku!" Kris menatap Henry tajam.

Henry hanya memutar bola matanya jengah, "Kau pasti sudah kehilangan akal sehatmu, kemana kau buang otakmu ha?!" ia memang bawahan Kris, tapi di luar kantor ia adalah sahabat Kris, sudah menjadi kewajibannya untuk menyadarkan pria ini.

Kris tak menghiraukan ucapan Henry, hanya berlalu meninggalkan pria yang lebih pendek itu, hilang bersama mercedes hitamnya di balik pagar besar. Hanya helaan nafas yang lolos begitu saja dari bibir Henry, jika seperti ini ia yakin Kris tak berangkat ke kantor dan itu artinya dirinyalah yang bertugas untuk mengurus perusahaan.

.

.

.

Baekhyun berjalan menyusuri jalan menuju rumahnya dengan senyum yang mengembang, tangan kanannya menenteng tas kertas yang berisi beberapa potong chesseecake yang ia beli sepulang sekolah tadi untuk Tao. Setelah melihat bagaimana adiknya yang manja itu tak mau bangun dari tempat tidurnya tadi pagi sambil terus merengek menanyakan kapan ayah mereka akan memberinya ucapan ulang tahun, Baekhyun berharap hal kecil yang ia bawa ini dapat mengembalikan senyuman manis Tao.

Mungkin terdengar berlebihan bagaimana si Bungsu itu merajuk dan menangis hanya berharap sebaris kalimat ucapan ulang tahun, tapi baginya itu adalah hal yang wajar mengingat bagaimana sifat Tao dan seberapa dekat adiknya itu dengan ayah mereka. Lagi pula bagi mereka walaupun hanya sebaris kata murahan yang menurut orang lain mungkin tak ada artinya, ucapan dari Eomma dan Appa di hari kelahiran mereka itu memiliki makna yang besar, makna bahwa mereka berharga, bahwa hari kelahiran mereka di dunia ini benar-benar dinanti oleh kedua orangtua mereka.

Senyuman manis kembali terkembang di bibir Baekhyun mengingat bagaimana tahun-tahun sebelumnya saat ia merayakan ulang tahun dengan keluarganya, hingga tanpa sadar lagu ulang tahun melantun pelan dari bibirnya. Namun kenyataan kembali menyadarkan Baekhyun, kenyataan bahwa keluarga mereka tak utuh lagi seperti dulu, bahwa tahun ini ulang tahunnya hanya akan ia lewati bersama ibu dan adiknya, Baekhyun ingat betul bagaimana ibunya menyampaikan bahwa kakaknya, Luhan, tak akan pulang hingga enam bulan sejak keberangkatannya, well sekarang tinggal tiga bulan lagi.

"Ah Eomma..." Baekhyun merogoh saku celananya, mencari ponselnya, ia harus segera memberitahu ibunya jika ia pulang agak terlambat. Ia tak ingin membuat ibunya khawatir.

Susah payah ia merogoh setiap saku di seragamnya, mencari benda persegi itu. Ia tak mungkin menghilangkannya kan? Seingatnya ia tak mengeluarkan ponselnya seharian ini, lalu apakah tertinggal di rumah? Baekhyun masih gigih mencari di setiap saku bahkan dalam ranselnya, hingga tak menyadari bahwa ia sudah berada di tengah jalan. Mobil dari ujung jalan yang melaju cepat tak terlihat oleh Baekhyun, saat ia menyadarinya sudah sangat terlambat untuk menghindar.

TIIIIIINNNN!

"AKH!"

.

.

.

To Be Continued...

.

.

Hellow hellow!

Soooo... gimana guys? Apakah sudah terpuaskan yang pingin Kris patah hati? Udah cukup belum patah hatinya? Atau biar greget hatinya yang patah itu ditaburin sianida aja... /masih aja lu thor/

Atau malah ada yang bilang ini kurang untuk Kris? Perlu disiksa lagi gak nih, kita bikin hancur dia (huahahaha...)

Thanks banget buat para reader yang udah sempetin review, thanks juga buat para reader baru, welcome to drama world...

Saya udah baca review kalian, thanks yang udah ngasih saran, that means a lot for me. Yang kemarin minta lebih didramatisir, udah drama banget belum nih? Lol. Yang pingin liat Kris menderita, mana suaranya?!

Okay guys gimme your review about this chapter, kasih saya kritik atau saran biar ff ini ada peningkatan baik dari segi bahasa maupun plotnya. Sebaris review Anda sangat berarti bagi saya (Lol).

Dan yang terakhir maaf atas kesalahan dalam penulisan.

Don't forget to leave your review below ^^

EXO WE ARE ONE!

EXO SARANGHAJA!

.

.

Big Thanks to:

ruixi1 - teukiangle - .9047 - BunnyJoon - babyjunma - chenma - anoncikiciw - Baby niz 137 - xobechan56 - hunexohan - RHLH17 - Rina Putry299 - fyodult - dichanbaek- Assyifa - elfishminxiu - Milkasoonja - Raemyoon - hunhanson – Guest – myunmyun – Qnie – PhantomYi – nayeol – yousee - park so eun – noVi - daebaektaeluv – SyiSehun – chans - oh ana7 - BLUEFIRE0805 - Syifa Mu - hae15 - HamsterXiumin – kaila