.

© mybluesky

.


Note:

STD—Sexual Transmitted Disease: Penyakit menular seks.

Potassium: Hasil lab. Kandungan potassium terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat membunuh seseorang.

H dan H: Hemoglobin dan Hematocrit (berhubungan dengan darah).

Pitting edema: Pembengkakan yang dapat diatasi dengan menekan bengkak tersebut ke permukaan tubuh yang keras (contoh: pergelangan kaki pasien) dan ini akan meninggalkan bekas jari di kulitnya.

Levaquin: Antibiotik.

Agonal gasping: Pernapasan abnormal, biasanya hanya bernapas 2 atau 3 kali dalam semenit (pernapasan normal 12-20 kali/menit). Dapat terjadi setelah detak jantung pasien berhenti, dan biasanya dapat berlanjut ke kematian, kecuali dapat ditangani dengan cepat.

Kantong ambu: Sebuah kantong pernapasan yang dilengkapi dengan masker. Masker ditempatkan di mulut dan hidung pasien dan kantongnya dipompa. Kantong ambu menggantikan posisi pernapasan dari mulut-ke-mulut.

Defibrillator pads: Ada 2 lapisan (pad) lebar yang ditempelkan di dada dan punggung pasien, biasanya pada saat code blue (darurat).


.

"Ceritakan sesuatu tentangmu."

Garpu menyentuh piring saat aku memotong omelet. Sekarang masih pagi dan aku memasak sarapan untuk kami, tapi ini sedikit menyulitkanku karena Chanyeol tidak punya daging asap dan ujung rotinya sudah berjamur. Tapi, dia punya sekotak adonan pancake instan yang belum dibuka dan setengah lusin telur, jadi aku hanya memanfaatkan bahan yang tersedia.

"Aku hampir tidak punya waktu untuk memasak," ucapnya tadi. "Aku harus memastikan adonan pancake ini belum kadaluarsa."

Aku menatap kotaknya dengan bingung. "Adonan pancake bisa kadaluarsa? Aku belum pernah memasak pancake instan."

"Aku juga tidak tahu."

Ternyata, adonan pancake instan juga bisa kadaluarsa. Tapi untungnya, tanggal kadaluarsanya belum lewat, jadi aku tidak punya keraguan untuk melahap sarapan darurat kami ini.

Kami duduk di meja makan, di dapur, kami berdua duduk sangat dekat dan paha kami bersentuhan. Kami hanya mengenakan boxer dan baju kaos.

"Apa yang ingin kau ketahui?" tanyanya sebelum kembali menyuap pancake ke dalam mulutnya.

"Kenapa kau sering mengusak kepalaku?" tanyaku.

"Oh... um... itu... Ibuku sering melakukannya pada ayahku."

"Oh, apa artinya itu?" tanyaku malu-malu.

"Itu artinya aku... aku tidak tahu," jawab Chanyeol. "Apa kota favoritmu?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.

"Kau mau aku menjawab jujur?" tanyaku.

"Tentu saja."

"Aku kira Gyeonggi," jawabku.

Aku bisa merasakan wajahku memanas, tapi aku enggan mengatakan padanya kalau orang-orang yang tinggal di sinilah yang menjadi alasan kenapa aku paling menyukai kota ini. Sehun, Lisa, Seulgi, Ayah... dan, tentu saja, Chanyeol. Chanyeol, yang membuat hampir semuanya menjadi lebih menyenangkan. Pekerjaan, bisbol, mandi, menginap...

Ia terlihat kaget. "Di sini?"

"Ya. Gyeonggi kota yang indah," jawabku sambil mengangkat bahu.

"Kau benar," ia setuju sambil tersenyum.

"Bagaimana denganmu? Dimana kota favoritmu?"

"Aku dulu menyukai Seoul. Tapi, Gyeonggi sudah menggantikan tempatnya," jawabnya.

"Benarkah?"

Ia menatapku, matanya seperti menembus pikiranku. Ia tidak hanya melihat wajahku, kulitku, senyumku. Ia melihat lebih dalam dari itu. Dia benar-benar melihatku.

Dia selalu melihatku.

"Ya," jawabnya, sambil mengangkat tangan dan menyeka rambut dari wajahku. Ia membungkuk ke depan dan memberikan ciuman lembut di bibir yang membuat mataku terpejam. "Bahkan aku semakin menyukainya setiap hari."

Pagiku bersama Chanyeol berjalan dengan menyenangkan. Kami terbangun di dalam pelukan masing-masing, kejantanannya di selangkanganku, wajahnya di rambutku; lengannya memelukku erat, dan saat ia sedikit menggerakan pinggulnya aku tidak bisa menahan erangan penuh kenikmatan.

Saat mandi, kami kembali mengulangi aktivitas seperti malam tadi. Aku kembali mengenakan pakaiannya untuk sarapan, dan kemudian kami menonton TV dan bersantai sampai tiba waktunya bagi Chanyeol untuk bersiap-siap berangkat kerja.

Aku sempat berpikir untuk pergi keluar membeli kondom, tapi pada akhirnya, aku pikir kami tidak ingin pengalaman pertama kami berlangsung tergesa-gesa sebelum ia berangkat kerja. Dan juga, membayangkan harus keluar rumah hanya untuk membeli kondom sepertinya akan merusak suasana.

Tiba saat baginya untuk berangkat ke rumah sakit, aku mengenakan pakaianku yang kemarin dan pergi ke supermarket, dan aku sekarang sedang berdiri di sesi kondom.

Ribbed for her pleasure? Hmm... kedengarannya fantastis.

Twisted pleasure? Aku tidak yakin apa artinya itu, tapi kenapa tidak?

Fire and Ice? Wow! Apa benar-benar ada orang yang ingin membuat selangkangannya terbakar?

Di mana letak kondom biasa?

Ngomong-omong, aku harus menelepon Lisa dan bertanya tentang dokter kandungan padanya. Dengan begitu, kami bisa melupakan persoalan kondom ini dan selangkangan yang berapi-api.

"Hei, Baekhyun," sapanya saat mengangkat telepon. "Bagaimana kabarmu? Kau dan Sehun langsung pulang kemarin."

Seorang kasir menyuruhku maju. Ia seorang wanita paruh baya, dengan rambut ubanan yang sudah mulai menipis dan dilengkapi dengan mata yang menghakimi. Aku setidaknya punya sedikit kesopanan saat meletakan sekotak kondom ke tangannya, wajahku memerah menahan malu.

"Ya, aku minta maaf soal itu," gumamku di telepon. "Pikiran kami sedikit tidak tenang setelah pertandingan."

"Ya, dia benar-benar kesal," ucapnya. "Itu karena dr. Xi menangkap bolanya, kan?"

Aku tidak memikirkan ini sebelumnya, tapi setelah mendengar pengakuan Sehun, aku rasa itu masuk akal. "Aku tidak tahu. Mungkin saja."

Aku tidak terlalu yakin apakah Lisa tahu tentang 'situasi' Sehun dengan dr. Xi, dan aku tidak ingin mengkhianati kepercayaan Sehun padaku. Percaya atau tidak, aku berutang banyak padanya.

"Dia memang seperti itu. Dasar pecundang."

Aku membayar kondom, kemudian mengambil tas dan keluar dari supermarket. "Aku rasa begitu."

"Jadi, apa yang kau lakukan sekarang?"

"Tidak ada," aku berbohong. "Hanya sedang membeli bahan makanan."

"Oh. Aku sedang menunggu Taehyung." Suaranya terdengar melamun, dan aku tidak bisa menahan senyum.

"Kalian akan keluar?"

"Mungkin. Maksudku... mudah-mudahan kami tidak keluar," suaranya sekarang terdengar sugestif. Aku menyeringai saat membuka mobil dan melemparkan tasku ke belakang.

Aku harap aku bisa mengatakan kalau aku juga sedang menunggu Chanyeol. Aku kira memang seperti itulah keadaannya sekarang, tapi sial, dia baru saja pergi bekerja. Dia sedang menyelamatkan nyawa orang lain dan menjadi dokter seksi saat aku terjebak di sini, sendirian, dengan pakaian bisbol kotor dan sekotak kondom.

Aku yakin ini pertama kalinya aku benar-benar ingin pergi bekerja.

"Aku sebenarnya ingin menanyakan sesuatu padamu, um... tentang masalah pribadi," ucapku saat menyalakan mobil.

"Apa maksudmu?"

"Dokter kandungan mana yang kau kunjungi?" tanyaku.

"Dr. Park," jawabnya langsung.

"Ibunya Chanyeol?"

"Bukan, Chanyeol," jawabnya sinis. "Ya, ibunya. Memangnya siapa lagi?"

Aku kaget mendengar jawabannya. "Kau tidak merasa aneh membiarkan ibunya memeriksa kemaluanmu?" tanyaku tidak percaya.

"Tidak. Kenapa aku harus merasa aneh?" Ia terdiam sesaat, dan kemudian, "Byun Baekhyun. Apa kau tidur dengan Chanyeol?"

"Tidak!" seruku cepat saat aku keluar dari tempat parkir. Lisa mendengus, dan aku tahu ia tidak memercayai jawabanku.

"Kau pembohong yang payah. Kalau kau tidak tidur dengannya, kenapa kau harus cemas ibunya melihat kemaluanmu? Dia seorang dokter, Baekhyun. Dokter yang benar-benar kompeten. Dia sudah melihat banyak kemaluan orang."

"Kalau aku mengatakan sesuatu padamu, kau berjanji untuk tidak mengatakannya pada siapapun?"

"Ya, tentu saja," jawabnya.

"Aku serius, Lisa. Kau bahkan tidak boleh memberitahu Taehyung."

"Baekhyun, aku bisa menjamin, Taehyung tidak tertarik dengan kehidupan seksmu."

Aku bisa membayangkannya sedang memutar mata, tapi aku tidak percaya dia tidak akan bergosip dengan Taehyung setelah mereka melakukan... apa pun yang dia rencanakan malam ini. Aku bergidik dan mencoba untuk tidak memikirkan itu.

"Benar. Aku cukup yakin kehidupan seks kalian sudah cukup untuk menghibur kalian berdua," lanjutku.

"Benar sekali. Sekarang ceritakan semuanya padaku."

Aku mendesah, kemudian—dengan samar-samar—menceritakan tentang Chanyeol dan aku yang sudah sepakat untuk berpacaran, tapi kami masih belum berhubungan seks karena 'masalah' kami kemarin.

Lisa menghela napas keras, kemudian mulai menyebutkan alternatif untuk mengendalikan kehamilan, seperti "menarik keluar" sebelum ejakulasi dan minum pil kontrasepsi di pagi setelahnya. Aku mengatakan padanya kalau dia seharusnya malu, dia seorang perawat dan seharusnya tahu kalau metode "menarik keluar" tidak aman, dan dia memanggilku Pemalu karena tidak punya persediaan kondom di tasku. Kalau saja dia tahu.

Dan bagaimana dengan STD? Menurut Lisa, dokter tidak mengidap STD. Karena mereka dokter.

Benar.

Dan sejak kapan wanita yang membawa-bawa kondom di tas mereka? Aku selalu berpikir itu adalah tanggung jawab pria untuk membawa satu kondom dalam dompet mereka. Aku kira kebutaanku ini akibat dari lima tahun kehidupan seks yang buruk dan membosankan.

Pada akhirnya, ia memberitahuku seorang dokter terpercaya. "Namanya dr. Kwon," ucapnya padaku. "Dia bekerja di kantor yang sama dengan dr. Park."

"Terima kasih, Lisa," jawabku.

"Tahu tidak, kalau kau membiarkan ibunya menjadi doktermu, dia bisa sekaligus menjadi dokter yang membantumu untuk melahirkan bayi-bayi kalian."

"Kenapa kau sangat terobsesi dengan bayi? Oh, Tuhan, Lisa, kami baru berpacaran selama dua belas jam. Kami bahkan belum berhubungan seks."

"Aku hanya menyarankan saja, Baekhyun," ucapnya marah. "Di ruang bersalin, mereka biasanya hanya memperbolehkan dua orang ikut bersamamu ke dalam. Dengan cara ini, ibunya tidak akan dihitung sebagai orang luar."

"Aku tidak akan mengkhawatir itu sekarang. Yang kuinginkan sekarang adalah satu pak pil kecil ajaib agar aku bisa meniduri anaknya sesering yang kumau. Kau mengerti?"

Lisa mendesah saat menerima kekalahannya. "Baiklah, itu kan ruang bersalinmu."

.


.

"Boleh aku mengambil fotomu?"

Daehyun bersandar di dinding, kaki kanannya ditekuk ke belakang dan disandarkan ke batu bata eksterior. Ia menatapku, sesaat mengerutkan keningnya, dan kemudian bibirnya langsung membentuk seringaian.

"Kenapa? Ingin membawa wajah tampan ini ke manapun kau pergi?" Ia menggunakan tangan kirinya yang memegang rokok untuk menunjuk dirinya sendiri. Abu rokok jatuh saat ia menggerakannya.

Aku mengerutkan hidung. "Tidak, aku hanya berpikir ini sedikit lucu, kau merokok tepat di depan tanda tidak boleh merokok."

Ia mengernyit sebelum melirik ke belakangnya, lalu cepat-cepat berdiri lurus sebelum membuang rokoknya dan menginjaknya.

"Kalau begitu tidak boleh, kau tidak boleh mengambil fotoku," ia mendengus membela diri. Suasana hatinya langsung berubah drastis. "Hal terakhir yang kuinginkan sekarang adalah kau berjalan di sekeliling rumah sakit sambil membawa barang bukti yang memberatkanku di sakumu."

Dan hal terakhir pasien penyakit paru-paru kronis butuhkan adalah ia masuk kembali ke ruangan sambil membawa bau asap rokok. Tapi, aku tidak mengatakan itu, aku tiba-tiba teringat dengan perkataan seorang pulmonologist tempat terakhirku bekerja. Pasiennya sesak napas, dan dia datang menemuinya.

"Rasanya aku tidak mampu bernapas lagi," ucap Si Pasien.

"Nah," Si Pulmonologist menjawab dengan tenang, "Itulah yang akan terjadi saat kau merokok satu bungkus sehari selama lima puluh tahun dan merusak paru-parumu sendiri."

Si Pasien hanya mengangguk menyesal dan setuju.

Aku memutar mata. Aku sedang tidak mood untuk ikut campur dengan kesehatan Daehyun sekarang.

"Aku hanya bercanda, Daehyun. Ya, ampun." Aku memegang gagang pintu, hendak masuk ke dalam dan mulai bekerja, kemudian suaranya menghentikanku.

"Jadi... kau dan dr. Park, ya?"

Aku berhenti sesaat dan berbalik menghadapnya lagi sambil mengerutkan kening. "Ada apa denganku dan dr. Park?"

"Apa kalian berpacaran?"

Sudah tiga hari sejak malamku bersama Chanyeol, dan aku masih belum mendapat kesempatan untuk bertemu dengannya lagi. Dia mendapat shift panjang dan harus tinggal di rumah sakit sampai pukul dua pagi di malam sebelumnya. Dia meneleponku sebelum aku pergi tidur dan kami mengobrol sebentar, tapi itu tidak cukup.

Aku sangat merindukannya. Untuk pertama kalinya, aku merasa gembira datang bekerja. Dan di sini Daehyun, mencoba untuk merusak hariku bahkan sebelum hariku dimulai. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kukatakan tentang kami, karena kami belum membahas tentang apa sebaiknya kami merahasiakan hubungan ini atau tidak di tempat kerja.

Sebagian diriku berpikir hubungan kerja kami harus benar-benar profesional, sedangkan bagian lain dari diriku ingin menyanyikan status barunya dari atas atap rumah sakit.

Tapi, aku tidak bisa bernyanyi.

"Kenapa kau menanyakan itu?" tanyaku penasaran. Aku ingin tahu apakah Lisa yang mengatakan ini padanya.

Ia mengangkat bahu. "Kau tidak bisa jauh darinya. Sepanjang waktu. Maksudku, setiap kali aku melihat kalian bersama. Aku ikut senang, aku mengerti itu. Dia dokter, dan gadis mana yang tidak menginginkan dokter. Benar, kan?" Suaranya terdengar sedikit pahit.

Aku mencoba untuk tidak kesal, tapi aku gagal. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Daehyun. Kau hampir tidak mengenalku, jadi ini agak menyebalkan karena kau menganggapku berkencan dengan seseorang hanya karena status mereka."

Ia sedikit menggigit sudut bibirnya, matanya memandangiku dengan tajam. "Ya, kau benar," ucapnya. Ia terlihat sedikit bersalah, dan aku kaget dibuatnya. Ia mendesah dan menjalarkan tangannya ke rambut. "Ini bukan urusanku. Dan aku mengerti—maksudku, dia seorang dokter, setiap gadis menginginkan dokter." Semburat cemburu kembali muncul di wajahnya.

Aku tahu Daehyun sedikit menyukaiku, tapi aku tidak pernah menyadari kalau ia memendam perasaan pahit seperti ini pada Chanyeol. Walaupun begitu, ini semua tidak mengubah apa pun. Lagi pula, Daehyun juga tidak pernah berinisiatif untuk mengajakku berkencan. Bukan berarti ini ada hubungannya.

"Ya, aku bisa meyakinkanmu sekalipun aku dekat dengan Cha—dr. Park bukan karena dia seorang dokter," ucapku. Sebaliknya, itu adalah salah satu dari banyak alasanku untuk tidak ingin berpacaran dengannya.

Mata Daehyun sedikit menyipit saat aku hampir menyebut nama Chanyeol, tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi karena aku sudah mengambil pegangan pintu dan masuk ke dalam.

"Aku harus pergi, Daehyun. Aku sudah terlambat."

Ia mengangguk sekali, ekspresinya masih cemberut. "Sampai jumpa."

Saat aku mencapai lantai tempatku bekerja, aku telat empat menit. Tapi ini tidak masalah, karena pada pukul dua siang ini Chanyeol akan memeriksa pasiennya di lantaiku, dan kalau aku beruntung kami bisa punya setidaknya waktu lima menit untuk bersama.

Agak sulit dipercaya karena aku hanya mengharapkan waktu lima menit ini di sepanjang hari.

.


.

Ia tidak muncul sampai pukul empat. Ia mengenakan jas lab, rambutnya terlihat acak-acakan. Lengan berototnya terlihat lezat di balik scrub hijaunya. Ia tersenyum saat melihatku dan aku mencoba untuk tidak terlihat terlalu bersemangat.

"Hei," sapaku, memaksa suaraku agar terdengar santai. Banyak perawat di stasiun, telepon berdering, dan yang kuinginkan hanyalah waktu lima menit.

"Hei," jawabnya, senyumnya semakin melebar.

Soyou sedang menerima telepon. "Panggilan pick-up!" pekiknya untuk semua orang, dan aku mengerang sebelum menjawab telepon.

Panggilan pick-up terjadi jika ada orang yang ingin berbicara dengan seorang perawat, tapi perawat itu sedang tidak berada di tempat, dan setelah aku menghubungi perawat yang dimaksud—ternyata pager-nya dimatikan—aku menghabiskan waktu lima menit berikutnya untuk menghubungi perawat itu via interkom dan berdoa agar dia segera menjawabnya.

Tapi, tentu saja itu tidak terjadi. Keberuntungan tidak berpihak padaku hari ini. Tapi, bukan berarti aku juga punya waktu untuk benar-benar bersama Chanyeol, sekalipun aku punya setidaknya sepuluh kondom di tasku sekarang, tapi sedikit berfantasi cukup membuatku terhibur. Aku punya harapan tinggi untuk berciuman sebentar saja sebelum ia pergi.

Chanyeol pergi untuk memeriksa pasien di saat aku sedang melacak keberadaan rekan kerjaku, dan kemudian seorang pasien lain memanggilku untuk meminta obat penghilang rasa sakit. Aku mengobati pasien itu sebelum aku dipanggil untuk melakukan hal lain, dan akhirnya aku melihat Chanyeol menghilang ke dalam ruang dikte.

Aku mengikutinya ke dalam secepat yang kubisa dan menutup pintu di belakangku. Ia duduk di depan komputer, grafik pasien terbuka di depannya, dan telepon di telinganya saat ia berbicara dengan penerima.

Ia melirikku saat aku masuk. Ada sebuah bangku beroda terselip di bawah meja, dan aku menariknya keluar dan duduk di belakangnya, sedikit ke kiri.

"Sel darah putih 16,2; H dan H 8,9 dan 27,2; potassium 3,9—"

Ia terlalu tampan untuk kuabaikan. Sambil meraih ke depan, aku sedikit mengangkat ujung scrub-nya ke atas dengan jari-jariku, aku ragu-ragu sesaat sebelum meletakan tanganku di bawah pakaiannya dan mengusap kulit halus punggungnya.

Ia tiba-tiba berhenti bicara, lalu cepat-cepat berdeham dan kembali bicara.

"Dia, uhh... masih ada bunyi derak di lobus kanan bawahnya, masih ada beberapa pitting edema di ekstremitas bawah..."

Aku menyapu kukuku di kulitnya, mengangkat tanganku lebih tinggi dan membelai punggungnya. Scrub-nya semakin naik saat tanganku bergerak ke atas, dan aku bisa melihat punggungnya sekarang.

Suaranya terdengar parau. "Umm... dia..." Ia berdeham sekali lagi dan menarik rambutnya. "Masih mengeluh tentang batuknya, non-produktif. Masih menerima Levaquin 500mg untuk pneumonia-nya, dan akan mengulangi x-ray di dadanya besok pagi..."

Sekarang aku menjalarkan kukuku kembali ke bawah, dan sedikit mencakar kulitnya. Ia tiba-tiba berbalik dan meraih tanganku, matanya semakin gelap dan pandangannya terlihat panas saat ia mendekap erat tanganku dan meletakannya di pangkuannya.

Ia sekarang terburu-buru menyelesaikan diktenya, lalu membanting telepon dan menoleh melihatku.

"Kau," ucapnya dengan nada menuduh, "akan menjadi alasan kematianku." Ia meraih pinggulku dan menarikku mendekat, roda kursiku bergulir ribut di lantai, ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan langsung melumat bibirku.

Aku sedikit kaget, dan kemudian membalas ciumannya dengan penuh semangat, lidahku dengan cepat tergelincir ke dalam mulutnya, tanganku berjalan di atas bahunya dan menarik rambutnya. Ia mengerang sebelum menarik diri tiba-tiba.

"Tidak mungkin pintunya terkunci, ya?" tanyanya dengan senyum tegang, menoleh ke arahku dan ke pintu berkali-kali.

"Tidak, tapi kau harus menekan kode untuk masuk ke dalam, jadi itu bisa memberikan peringatan setidaknya dua detik sebelum seseorang mencoba masuk."

"Tidak masalah buatku." Bibirnya kembali menciumku, tapi ciuman kami berlangsung terlalu singkat karena kami mendengar jelas suara seseorang sedang menekan tombol pada keypad.

Kami dengan cepat memisahkan diri, ia berbalik dan langsung membuka grafik di depannya, sementara aku—ya, aku duduk di sini sambil berharap aku membawa catatan atau apapun. Aku buru-buru mendorong kursiku menjauh darinya saat pintu terdorong terbuka. Soyou masuk dengan gusar, dan langsung mengebor kami dengan tatapannya.

"Hei, Chanyeol," sapanya riang. Wajahnya sangat kontras dengan suara cerianya. Bibirnya mengerucut, matanya menyipit, ia mengabaikanku dan berjalan ke lemari di seberang pintu, mengambil setumpuk kertas yang terikat dan di bungkus plastik.

Aku memalingkan wajahku, takut ia akan melihat bibir merahku, rambutku yang berantakan, dan nafsu berlebihan di mataku—ada sejuta hal yang bisa membongkar rahasiaku sekarang.

Chanyeol bahkan tidak mengangkat kepalanya saat ia diam-diam berdeham dan berkata, "Halo, Soyou." Ia membalik grafiknya dan berpura-pura sedang bekerja.

"Baekhyun," ucap Soyou, "Kamar 412 baru saja menelepon dan mereka minta dibersihkan."

"Di mana teknisi?" tanyaku langsung curiga. Ia mengangkat bahu tidak peduli saat ia meninggalkan ruangan.

"Sedang istirahat, aku kira."

Ia membanting menutup pintu di belakangnya. Aku mencoba untuk tidak cemberut, meskipun aku tahu persis apa yang Soyou lakukan sebenarnya. Rasa ketidaksenanganku pasti menyebar ke seluruh ruangan, karena tangan Chanyeol sudah berada di wajahku lagi, memaksaku untuk melihatnya.

"Hei," bisiknya. "Ada apa?"

Aku segera melunak saat merasakan sentuhannya. "Tidak ada."

"Apa dia tahu tentang kita?" tanyanya hati-hati.

"Tidak. Maksudku, aku tidak mengatakan apa-apa padanya. Apa kau memberitahu orang lain?"

"Ya, tapi bukan orang yang bekerja di sini," jawabnya.

"Aku mengatakannya pada Lisa," akuku. "Tapi, aku sudah membuatnya bersumpah untuk tidak memberitahu siapa pun. Aku tidak tahu apa kau ingin ada orang lain yang tahu..."

"Aku tidak peduli kalau orang lain tahu," ia memberitahuku. "Apa kau keberatan?"

"Tidak, aku sama sekali tidak keberatan."

"Bagus kalau begitu. Aku sedikit senang kalau orang lain mengetahuinya..." Ia bermain dengan rambutku, dan aku meleleh mendengar ucapannya.

"Aku merindukanmu," gumamku. Ia bersandar ke arahku dan mencium bibirku dengan lembut, kemudian mencium daguku.

"Aku juga merindukanmu."

"Maukah kau datang ke tempatku setelah pulang nanti?" tanyaku penuh harap.

Kedua alisnya berkerut. "Aku pulang larut malam."

"Tidak apa-apa. Aku merindukanmu," ulangku lagi, suaraku terdengar memohon.

Ia kembali menciumku, kali ini ia mendaratkan bibirnya di rahangku, kemudian di leherku. "Aku akan ke sana."

.


.

Salah seorang pasien Lisa memanggil tepat sebelum pergantian shift. Saat itulah biasanya hal mengerikan selalu terjadi.

Lisa langsung memberi sinyal rapid response, tapi kondisi pasien langsung memburuk dan ia kehilangan denyut nadinya sebelum para staf sampai ke ruangan. Lisa menekan dada pasien sementara Kak Minseok—seorang perawat lain, dan aku mendorong crash cart ke dalam ruangan.

Kami menggeser backboard di bawah punggungnya sementara Daehyun memberikan napas buatan dengan kantong ambu. Defibrillator pads sudah terpasang di dada dan punggungnya, dan Chanyeol datang beberapa saat kemudian dan menerima laporan tergesa-gesa dari Lisa.

"Tekanan darahnya mulai menurun dan aku memberinya saline bolus 500, tapi kemudian dia mulai mengalami agonal gasping dan aku tidak bisa merasakan denyut nadinya..."

Chanyeol memberi petunjuk, mengambil alih situasi. Epinephrine dan atrophine sudah diberikan, sekali lagi; Chanyeol memasang selang intubate pada pasien, Kris sedang menenangkan istri pasien di lorong. Keadaan sangat kacau, terlalu banyak orang yang berdesakan dalam ruangan yang terlalu sempit.

Pasien akhirnya 'kembali', denyut jantungnya 140-an, dan kami terburu-buru membawanya ke unit perawatan intensif. Aku membantu mendorong tempat tidur, Lisa dan Kak Minseok di sampingku, sementara Chanyeol terus mengoperasikan tabung endotrakeal.

Chanyeol dan aku membuat kontak mata, tapi tidak lebih dari itu.

Kami harus profesional.

Pada awalnya aku khawatir tentang situasi kami yang harus bekerja bersama. Apa kami akan merasa canggung? Merasa aneh? Tapi, tak satu pun dari hal-hal itu terjadi.

Dalam saat-saat genting, seperti saat nyawa seseorang dipertaruhkan, status baru kami tidaklah penting. Ia hanya seorang dokter dan aku hanya seorang perawat, kami berdua harus bekerja sama untuk mencegah pasien dari kondisi sekarat.

Perawat unit intensif sudah menunggu saat kami sampai. Lisa memberi laporan ke salah seorang perawat, sementara yang lainnya menghubungkan tubuh pasien ke monitor jantung dan ventilator. Aku membantu mereka dalam diam sambil mendengarkan percakapan Lisa.

"Apa kau sudah mengecek gula darahnya?" tanya perawat unit pada Lisa.

"Belum..." jawab Lisa. "Waktuku tidak cukup. Tapi, gula darahnya sudah diperiksa siang ini di laboratorium dan hasilnya stabil. Dia bukan penderita diabetes," jelasnya.

"Mengecek gula darah adalah bagian dari protokol," ucap perawat dengan kasar. Seolah-olah protokol adalah hal terpenting. Bukan hidup pasien ini. Hanya protokol.

Aku berusaha untuk tetap diam. Ini bukan urusanku. Tapi, ketika Lisa mencoba menjelaskan sesuatu dan perawat itu masih memotong ucapannya dengan kasar, tiba-tiba saja mulutku melontarkan kata-kata tanpa izin.

"Oh, Tuhan, tidak ada alasan bagimu untuk bersikap kasar. Lisa mengkhawatirkan hal-hal lain, seperti pernapasan pasien, jadi kalau kau ingin gula darahnya, kau bisa mengetesnya sekarang."

Beberapa pasang mata berpaling ke arahku, termasuk Chanyeol. Lisa menggigit bibirnya untuk menahan senyum. Perawat unit terlihat marah.

"Oh, aku minta maaf. Ini pasienmu?" tanyanya tajam.

"Aku memperlakukan setiap pasien seperti pasienku sendiri saat aku bekerja," jawabku, suaraku dimanis-maniskan.

Aku biasanya tidak akan bersikap merendahkan seperti ini, tapi dia terlalu kasar. Kami sesama rekan kerja, bukan bawahannya. Aku lebih menerima kalau dokter yang berbicara seperti itu dibandingkan dia.

Dia cemberut dan mengalihkan perhatiannya pada pasien, mengabaikanku, dan aku harus menyembunyikan senyum puasku.

Aku menyelesaikan tugasku dan menunggu Lisa di stasiun perawat UGD. Chanyeol berdiri di depan meja, menulis grafik pasien dan menunggu panggilan dari dokter pasien. Aku memberinya ruang saat ia bekerja.

Ia akhirnya menutup grafik pasien dan menyerahkannya ke sekretaris sebelum mendekatiku. Ia sedikit bersandar ke dekatku dan berkata, "Kau tidak pernah ragu untuk menegur orang, ya?"

Untuk sesaat, aku khawatir, takut dia akan marah. Aku tahu aku seharusnya menutup mulutku. Tampaknya mulutku lebih sering menempatkanku ke dalam masalah. Tapi, kemudian aku melihat senyum kecil di bibirnya, matanya terlihat senang.

Semua kekhawatiranku menguap. Mungkin aku seharusnya malu dengan tingkahku—karena menegur perawat selevel itu—tapi, aku tiba-tiba merasa lega dan tidak peduli.

"Tidak ada salahnya membiarkan orang lain mencoba untuk membela dirinya sendiri," lanjutnya. "Aku dengar itu bisa membangun karakter."

Aku menggigit bibir bawahku, tiba-tiba merasa malu.

"Baekhyun!" seru Lisa dari belakangku, menyela kami. "Oh, Tuhan, aku benar-benar mencintaimu. Kau teman bermulut kasar favoritku sekarang. Sehun akan bangga." Ia berhenti bicara sebentar dan melihat Chanyeol. Lisa kemudian menyipitkan matanya dengan curiga, dan menarikku pergi. "Tidak. Menjauh darinya, dr. Park. Kami punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan agar kami bisa pulang cepat malam ini."

Aku tidak melawan saat ia menyeretku keluar dari stasiun perawat. Menyelesaikan pekerjaan, pulang, dan bertemu Chanyeol terdengar seperti rencana terbaik yang kupunya sepanjang tahun ini. Aku melambaikan tangan dengan sedih sebelum Chanyeol menghilang dari pandanganku, dan ia tersenyum saat ia melihatku tersandung.

.


.

Aku duduk di sofa sambil menonton TV agar aku bisa tetap terjaga. Chanyeol menelepon tiga puluh menit yang lalu, ia memberitahuku kalau ia masih harus memeriksa beberapa pasien lagi sebelum pulang, tapi ia berjanji akan datang.

Aku sedikit memikirkan kembali bagaimana postur tubuh Chanyeol saat ia menangani pasien—bagaimana seksinya Chanyeol saat mengambil alih penanganan—dan memikirkan ini sedikit membantuku menghabiskan waktu.

Tapi, aku tertidur, saat terbangun aku merasakan seseorang yang bertubuh keras menekanku, menjebakku ke sandaran punggung sofa. Aku mengerang dan berbalik melihatnya sambil berusaha membebaskan lenganku yang terperangkap. Ia berbisik lembut dan mendaratkan ciuman manis di wajahku saat tangannya menyeka rambutku.

Aku akhirnya menghela napas dan meletakan keningku di lehernya.

"Jam berapa sekarang?" tanyaku serak. Aku kemudian membenamkan hidungku di lehernya dan menghirup napas dalam-dalam, aku mengabaikan bau tajam rumah sakit yang masih menempel di kulitnya.

"Hampir tengah malam," jawabnya lirih. Ia masih membelai rambutku; tanganku berjalan di punggungnya, sebelum masuk ke dalam baju kaosnya.

"Kita sebaiknya pindah ke kamarku," ucapku mengantuk.

"Mmm." Matanya terpejam, gerakannya menjadi pelan. Ia sepertinya tidak terlalu mendengarkan ucapanku, dan untuk sesaat aku pikir dia sudah tertidur.

"Chanyeol?" bisikku.

Alisnya sedikit terangkat. "Hmm?"

"Ayo kita pindah ke tempat tidur. Sekarang sofa ini memang terasa nyaman, tapi percayalah, sofa ini sudah usang. Tidak cocok untukmu."

"Memang tidak, tapi kau cocok untukku." Lengannya mengencang di sekeliling tubuhku, menarikku semakin dekat.

"Aku serius, Chanyeol," ucapku sambil menggeliat berusaha melepaskan diri dari pelukannya. "Ayo kita pindah ke tempat tidur. Ayolah, Chanyeol. Kita hanya perlu sedikit berjalan..." Aku berusaha membujuknya dan Chanyeol tiba-tiba berguling di atasku.

Aku sedikit kaget melihat gerakannya. Tubuhnya terasa keras dan panas, rambutnya basah—aku baru menyadari hujan sudah turun lewat jendela—dan ia hanya mengenakan boxer dan baju kaos.

Ia menciumku dengan lembut, dan tiap ciumannya terasa semakin mendesak. Suaranya terdengar serak saat ia berbicara. "Kau bilang apa?"

"Entahlah," jawabku jujur. Tadi aku bilang apa? Ciumannya benar-benar memabukanku, membuatku kehilangan akal, dan tidur sudah berada jauh dari pikiranku.

Ciumannya bergerak ke leherku, ia menggigit-gigit kecil kulit leherku dengan perlahan, tangannya merayap di bawah bajuku. Seluruh tubuhku merinding dan aku meletakan lenganku di pundaknya, memeluknya erat-erat.

Ia kembali mencium bibirku sebelum menarik tubuhnya. Ia kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. "Kau ikut?" tanyanya.

Aku membiarkannya menarikku dari sofa dan kami berjalan ke kamarku, kami masih berciuman, masih saling menyentuh, aktivitas kami tidak sehiruk-pikuk malam sebelumnya.

Ia membaringkan tubuhku ke tempat tidur, punggungku menekan dadanya, pangkal pahanya berada di antara kakiku, dan bibirnya menciumi leher dan bahuku. Ia menarik turun kerah bajuku, dan membuat kulitku semakin terekspos.

Aku memutar leherku, dan ia langsung mengklaim bibirku. Aku meraih rambutnya dan sedikit menariknya untuk memperdalam ciuman kami. Bibirku tidak pernah jauh dari bibirnya saat aku memutar tubuhku dalam pelukannya, dan ia mengencangkan pelukannya, menarikku dengan kasar ke dadanya.

"Kau menakjubkan," bisiknya, tangannya menari di atas tubuhku. "Aku memikirkanmu sepanjang hari. Aku berpikir bagaimana caranya membuatmu sendirian dan memilikimu seutuhnya."

Kata-katanya membuatku panas-dingin. Aku meraih tangannya, dan meletakannya di gundukan, di antara pahaku.

"Sekarang kau memilikiku," bisikku, dan jari-jarinya tergelincir ke bawah celana piyamaku, di antara lipatan vaginaku yang sudah basah. Ia membelainya perlahan-lahan dan aku mengerang.

"Kau menyukainya?" tanyanya, seolah-olah suara memalukan yang kukeluarkan ini tidak cukup untuk meyakinkannya.

Aku menggigit bibir bawahku dan mengangguk, lalu mulai mendorong boxer-nya ke bawah pinggul. Ia kembali berguling ke atasku sebelum membantuku melepaskannya, ereksinya berdiri dengan gagah, dan aku langsung membungkus tanganku di sekitar penisnya dan memompanya perlahan.

Ia membenamkan wajahnya di leherku. Ia mengerang di kulitku, dan aku menarik-narik bajunya. Ia membantuku melepaskannya dan langsung melemparkannya ke samping, kemudian ia meraih celana piyama dan celana dalamku, dengan perlahan-lahan ia menariknya turun ke pahaku. Aku sedikit mengangkat pinggulku untuk memudahkannya, dan ia juga langsung melemparkannya ke lantai.

Tubuh keras Chanyeol menyelimutiku, bibirnya berada di leherku. Ia mengangkat daguku dan memiringkan wajahku sebelum ia mencium dan menghisap kulit leherku. Tanganku menjalar ke dadanya, ke bahunya, kemudian bergerak semakin ke bawah.

Bibirnya meninggalkan jejak di dadaku, ia menarik puting kananku yang sudah mengeras dengan giginya sebelum mengulumnya. Aku terkesiap dan melengkungkan punggungku ke arahnya, jariku menarik rambutnya yang berantakan. Ia memberikan perhatian yang sama ke payudara kiriku, sebelum kembali mencium bibirku dan penuh gairah.

Aku mengayunkan lengan kananku ke samping, meraba-raba di sepanjang meja sampai aku menemukan laci dan menariknya terbuka. Chanyeol tidak mau berhenti menciumku, jadi aku tidak bisa benar-benar melihat apa yang sedang kulakukan, tapi aku sama sekali tidak mengeluh.

Tangannya sudah kembali berada di antara pahaku, membelai lipatan vaginaku, satu jarinya menyelip masuk, dan aku berusaha keras untuk tidak menjerit.

Akhirnya tanganku menyentuh bungkusan kondom, dan aku langsung menariknya dari laci. Tapi sayangnya, bungkusan itu masih tersambung dengan beberapa bungkusan lain sehingga aku mengeluarkan untaian panjang kondom. Tanpa sengaja aku memukulnya ke wajah Chanyeol, tapi ia masih sibuk dan nyaris tidak tersentak.

Aku berpikir untuk meminta maaf karena telah mencambuknya dengan kondom, tapi jari-jarinya masih memberikan kenikmatan yang membutakan dan membuatku tidak bisa berkata apa-apa... dan kemudian ia menarik jari-jarinya keluar sambil tersenyum.

"Aku lihat seseorang sudah bersiap-siap," ucapnya malu-malu. Ia mengambil kondom dari tanganku dan merobek sepaket bungkusan sebelum melemparkan sisanya ke lantai.

"Seseorang harus bersiap-siap," jawabku terengah-engah. Ia bergerak sangat lambat—aku akan terbakar kalau tidak bisa memilikinya di dalam tubuhku sekarang. "Bahkan, kau juga sudah belajar dengan—"

Bibirnya menekan bibirku, membungkam ucapanku, jari-jarinya kembali menemukan klitorisku. Ia mengusap klitorisku perlahan dengan ibu jarinya, membuat pinggulku sedikit terangkat dari tempat tidur. Aku mengerang di mulutnya sambil menarik rambutnya dengan tangan kananku, tangan kiriku menyentuh bagian belakang lehernya.

"Oh, Baekhyun," erangnya. "Apa kau tahu apa yang sudah kau lakukan padaku?"

"Tunjukkan padaku," jawabku terengah-engah.

Ia merobek bungkus kondom dan memasangnya, dan aku tidak bisa menahan diri untuk bersandar ke depan dan membelai karet tipis yang menyelimuti penisnya. Aku memompanya perlahan sekali. Dua kali. Tiga kali, dan Chanyeol mengerang, menarik tanganku dan memitingnya ke atas kepalaku dengan tangan kanannya.

Ia kembali menciumku dan bersiap-siap untuk memasukan penisnya ke vaginaku dengan tangan kirinya. Aku melebarkan kakiku, tidak sabar untuk menyambutnya masuk, tidak sabar untuk merasakannya. Ia hanya mendorong ujung penisnya sebelum menciumi wajahku lagi, tangan kirinya sekarang sudah menjalar di bahuku sebelum sedikit menarik rambutku.

"Apa ini yang kau inginkan?" tanyanya. Dia beruntung, aku sudah mengalami frustrasi seksual yang cukup parah. Aku hampir mengemis-ngemis padanya sekarang.

"Ya, Chanyeol. Aku mohon."

Suaraku pasti terdengar sangat menyedihkan, ia tiba-tiba langsung mendorong penisnya masuk, membuatku merasa terbelah. Aku membenamkan wajahku ke bahunya dan menghirup napas dalam-dalam.

Benar-benar menakjubkan.

Sesaat ia masih diam, tidak bergerak, dan aku semakin melebarkan kakiku, aku ingin merasakan tiap inci kenikmatan ini.

Ia kemudian mengerakan pinggulnya perlahan. "Tidak apa-apa kalau begini?" tanya dengan lembut.

"Ya," desahku.

Ia kemudian terus mendorong masuk dan menarik keluar kejantanannya, dorongannya semakin kencang. Aku mengalungkan kakiku di pinggangnya dan melemparkan kepalaku ke belakang.

"Ya?" tanyanya lagi.

"Ya," aku mendesah keenakan.

"Kau benar-benar menakjubkan," bisiknya dan melepaskan tanganku. Aku langsung menarik rambutnya saat ia mengangkat pantatku, dorongan penisnya terasa semakin dalam. "Aku sudah memikirkan tentang ini dari tadi sore," ucapnya terengah-engah di bahuku. "Aku sangat ingin menidurimu di ruang dikte."

Oh, sialan.

Kilat menyambar di langit dan menerangi kamar tidurku sesaat. Suara gemuruh guntur menyusul berikutnya. Chanyeol meraih daguku dan mencium bibirku dengan keras, pinggulnya masih bergerak melawan gerakan pinggulku dengan cepat.

Kenapa aku tidak melakukan ini dari dulu? Ini jauh lebih menyenangkan dari Monarch. Dan sekalipun aku harus membeli banyak kondom, ini akan tetap jauh lebih murah.

Tanganku mencakar punggungnya, merasakan otot-otot keras di bawah kulit halusnya. Aku menurunkan tanganku ke pinggangnya dan membantu membimbing gerakan pinggulnya melawan gerakanku. Aku mencium dan menggigiti lehernya, Chanyeol juga melakukan hal yang sama, dan tangannya meremas payudaraku sebelum menjalarkannya ke sisi pinggulku.

Keinginan yang kurasakan untuk Chanyeol tidak sebanding dengan keinginan yang kurasakan dengan Joonmyun. Perasaan ini lebih kuat, lebih menggairahkan. Emosi langsung membanjiriku saat ia berbisik betapa ia sangat merindukanku di telingaku.

Aku tahu ia sudah hampir mencapai klimaks karena ia berhenti menggerakan pinggulnya dan membenamkan wajahnya di leherku sambil terengah-engah. Ia mungkin sedang berpikir tentang neneknya atau sedang menghitung mundur atau memikirkan hal-hal gila lainnya yang biasa dilakukan pria agar mampu bertahan lebih lama.

Aku mengusap pelan rambutnya, mencoba merapikan rambut berantakannya, kemudian menyelipkan tanganku di antara tubuh kami dan membelai klitorisku saat ia kembali menggerakan pinggulnya.

Dia juga tahu aku sudah akan mencapai klimaks karena aku mengangkat pinggulku tinggi-tinggi untuk bertemu dengan pinggulnya, napasku semakin terengah-engah. Ia kemudian tiba-tiba duduk, dan menarikku bersamanya. Aku mengangkang di pangkuannya dan menenggelamkan tubuhku ke kejantanannya lagi dan lagi dan menggunakan bahunya sebagai peganganku. Tangan kanannya berada di bokongku, membantu membimbing gerakanku. Tangan kirinya memutar dan mencubit puting kananku di antara jari-jarinya, sementara mulutnya mengisap dan mengulum puting kiriku. Kemudian tangan kirinya tergelincir di antara tubuh kami dan ia mempermainkan klitorisku, dan aku sudah tidak tahan lagi.

Ia menciumku dengan penuh gairah saat aku mencapai klimaks, dan kemudian dengan beberapa kali sentakan, ia akhirnya mencapai klimaks, tangannya melingkari pinggangku dan memelukku erat-erat.

Kami sejenak beristirahat di pelukan masing-masing sambil berusaha menenangkan napas. Jariku kembali mencoba untuk merapikan rambut basahnya, dan kemudian ia melonggarkan pelukannya dan membaringkanku ke tempat tidur sebelum menyelimutiku dengan tubuhnya.

Kami berciuman selama beberapa saat sebelum ia menarik keluar kejantanannya dari tubuhku dan membuang kondom.

Ia bergabung kembali denganku di tempat tidur dan menarikku ke dadanya lalu menciumi wajahku lagi dan lagi. Aku tertawa saat bibirnya menekan bibirku, dan kemudian langsung terdiam saat ciuman kami semakin dalam dan menggairahkan.

Aku akan sangat kelelahan untuk pergi bekerja besok, tapi tidur sepertinya tidak penting lagi sekarang. Aku rela untuk tidak tidur setiap malam hanya untuk merasakan bibirnya mencium bibirku. Bahkan sekalipun ciumannya hanya berlangsung selama lima detik.

"Terima kasih, Baekhyun," bisiknya di leherku, dan aku rasa aku semakin menyukainya. Setiap ciuman, setiap kata, setiap sentuhannya sungguh berarti bagiku.

Aku hanya bisa berharap agar ia akan selalu berada di sini bersamaku.

.


.

to be continued