CERITA HORROR PENGANTAR TIDUR
.
Disclaimer : Kuroko no Basuke punya Tadatoshi Fujimaki. Kalau punya saya, pasti Nigou (?) yang jadi pemeran utamanya :v
.
Genre (s) : Suspense/Horror
.
Warn : Drabble, OOC, Abal, beberapa chapter mungkin AU, Typo selalu jadi fans terberat saya, No Pairing pastinya dan pemeran utama selalu berubah-ubah.
.
(A/N) : *gerombolan orang berlari lewat* *mengintip dari dalam ruangan yang gelap* *menghidupkan lampu senter* Yo, pembaca sekalian. Jumpa lagi dengan saya disini! Saat ini saya sedang bersembunyi dari pembaca yang ngamuk dengan chapter saya yang sebelumnya. Haha
Berhubung dengan chap kemaren, anggap saja 'saya' disana adalah Momoi. Lagipula sekalian ngasih tau ama fans KnB, kalian pada lupa ya? Momoi itu juga termasuk Generasi Keajaiban! Inget2 pas di season 1, pas opening sebelum lagunya? Momoi juga disebut. Meski saya g suka Momoi karena terlalu cewe #what (dan itulah kenapa saya jadiin dia pemeran utama di chap sebelumnya) tp kan kasihan dia dilupain. Semenjak season 2, yang disorot cuma cowo2 pelangi doank, Momoi kaga. Padahal rambutnya kan juga ngejreng nyakitin mata wkwk
And for Hamano03. I'm okay, see? The last chapter was just a joke, you didn't have to take it seriously haha. I'm sorry if it worried you. And sorry for not answering your PM also. I just wanna kept the mysterious element stuck to you, my reader.
Chapter kali ini sebenarnya fanfic one-shot pertama yang saya buat sebagai debut saya di fanfiction. net lol. Judulnya 'Which one is Reality'—Indo kok. Judulnya aja yg inggris hehe. Itu cerita horror juga. Saya remake disni, tp chap ini bukan penutup dr fanfic 'Cerita Horror Pengantar Tidur' y. Ntar di chap berikutnya. Dn bakalan jd chap terakhir, sriusan g bohong kaya kemaren `3`
*gerombolan orang yang tadinya lewat, kembali* uh oh, gotta go. Selamat membaca~~
.
.
.
ILUSI ATAU KENYATAAN
.
.
Lampu senter menyala dalam kegelapan. Menampilkan wajah seorang ganguro bersurai biru tua. Manik kaca berwarna senada mengecil sepersekian senti, memberi kesan binatang buas pada si dia yang terlihat gemetar. Bibir yang tadinya terkatup, perlahan terbuka. Dan ia mulai berkata.
"Ini kejadian yang menimpaku baru-baru ini. Hari itu malam minggu, saat aku pergi ke toko buku untuk membeli majalah Horikita Mai-chan tersayang. Edisi terbaru lo, tentu saja aku harus memilikinya! Tapi entah kenapa, mau berapa banyak toko buku yang kukunjungi, majalah yang kucari selalu habis. Penjaga toko selalu menggeleng, berkata bahwa semuanya menghilang dalam sekejab mata. Hingga akhirnya, aku sampai di sebuah toko buku yang letaknya cukup terpencil di sudut kota. Lampu penerangan disana mati, menyala, mati menyala. Aura yang begitu mengerikan, membuatku merinding. Dan di tempat yang gelap dan sunyi itu aku melihatnya..."
.
"Seorang anak SMP yang tampangnya cupu telah memborong semua majalah Horikita Mai-chan, tanpa menyisakannya satupun untukku!"
.
.
Hening.
.
.
"Aominecchi, itu bukan cerita horor."
"Itu horor bagiku!" seru Aomine, menjauhkan lampu senter dari bawah dagu dan menggoyang-goyangkannya ke udara kosong; membuat debu yang tak kasat mata akhirnya terlihat. Aomine terpuruk, sorot lampu seakan berpusat hanya pada dirinya seorang, air mata buaya mengalir deras, "Bayangkan, aku harus berkeliling kota pada malam hari dan mendapati majalahnya sudah habis..."
Yang menonton hanya bisa menghela napas lelah. Memang sudah pada dasarnya, lelaki kekar mantan Ace Touo itu orang yang kalem. Kecuali disaat berhubungan dengan sesuatu yang ia suka; basket atau majalah dewasa kesukaan, "Sudah, sudah. Cepat pergi sana" Midorima melambaikan satu tangan cepat, gestur universal untuk menyuruh Aomine menghilang dari hadapan. Ia sudah lelah dengan tingkah laku kekanakan lelaki tan tersebut, "Permainan harus segera dilanjutkan."
Yang diusir mendecih, "Nggak seru." Sebelum Aomine mematikan lampu senternya dan berjalan meninggalkan ruangan.
Sementara Kagami meringkuk disana. Ingin menangis dan berharap untuk segera pulang.
Saat ini, pemuda surai merah bak api berkobar indah sedang memainkan salah satu permainan memanggil arwah yang cukup terkenal bersama musuh-yang-kini-menjadi-temannya. Namanya 'Hyaku Monogatari'.
Bagaimana kejadiannya hingga Kagami yang sebenarnya adalah seorang 'penakut', bisa mengikuti permainan yang nyatanya sangat ingin ia hindari? Semuanya bermula pada hari itu, hari ke 13 liburan musim panas...
"Maaf, tapi aku tak ikut." itulah jawaban yang—memang seharusnya—terlontar dari bibirnya saat ia menerima ajakan dari Kise via telepon.
"Hee? Kenapa?" Diam sejenak. Sebelum kekehan mengejek terdengar dari seberang, "Jangan bilang kau takut hantu?"
Sungguh sebuah penghinaan terbesar bagi seorang center garang berperawakan kekar, jika diejek seperti itu oleh seorang model yang bahkan tak bisa memegang cacing tanah. Hei! Bukankah hal yang wajar bagi seseorang untuk takut pada sesuatu yang tak kasat mata? Mereka saja yang bodoh, berani menganggu makhluk astral dialam sana yang, jelas, tak semurah hati manusia pada umumnya. Dan Kagami yang baik, ramah dan cinta damai (deskripsi yang sungguh subjektif) memilih untuk menjaga jarak sejauh mungkin dari perbatasan alam akal sehat dan kegilaan. Ia masih cinta nyawa, terima kasih.
Kagami bisa membayangkan wajah menyebalkan yang akan dilampirkan lelaki berambut pirang itu jika tahu dirinya memang tak suka berurusan dengan hal-hal berbau mistis. Yang saat ini tengah ia kutuk dalam hati masih berbicara dengan riang; begitu berisik bak kerumunan jangkrik di musim panas, "Kami tunggu di bangunan terlantar yang tak jauh dari rumahmu. Tenang saja. Midorimacchi bilang 'Leo' berada di peringkat dua 'paling beruntung' hari ini. Jangan lupa bawa boneka teddy bear berwarna pink, ya. Ja na!"
KLEK
Dan sambungan telepon pun terputus.
Kau kira aku akan percaya dengan ramalan bodoh itu, hah?!
.
.
Dan begitulah ceritanya.
.
.
Dengan ogah-ogahan, Kagami akhirnya datang juga. Lokasi yang dikatakan Kise memang benar berada tak jauh dari apartemen tempat ia tinggal. Di malam gelap penuh bintang tanpa awan, bulan purnama bersinar begitu jelas layaknya batu topaz cantik menyilaukan. Kagami menjabarkan bahwa rumah reot yang nantinya akan menjadi tempat bertemu ia dan sekumpulan lelaki surai warna-warni adalah sebuah sekolah tua. Kagami mendadak merinding. Apalagi malam hari itu terasa agak lain dari sebelumnya; terasa lebih dingin—walau tak sedingin musim semi atau musim bersalju.
Oke, fix. Kagami mau pulang.
Tidak apa-apa kan? Lagipula permainan yang nantinya akan mereka laksanakan tak ada kondisi tentang apakah pemainnya harus ganjil atau genap, ya kan? Jadi mereka bisa melakukan ritual atau apalah itu sendiri. Dan Kagami akan minum coklat panas, meringkuk di dalam selimutnya yang hangat, memimpikan permainan basket one-on-one—dengan pemain berbakat datangan dari luar negeri kalau bisa—begitu semangat, dan hidup bahagia! Yeey! Rencana yang bagus, ayo kita lakukan!
"Oh, Taiga. Akhirnya kau datang."
Kagami ingin menyumpah menyerapah. Why, disaat ia tinggal selangkah lagi menuju indahnya surga dunia, Satan datang dan menariknya kembali ke neraka paling terdalam? Dengan pergerakan lambat bagaikan robot, Kagami memutar leher, menatap lelaki bersurai hampir senada—miliknya jauh lebih muda, lebih ke arah cerry daripada milik Kagami yang bagai api—dan memberi senyum selebar mungkin, walau tahu itu terpaksa, "yo, Akashi. Senang melihatmu lagi!"
Yang disapa tersenyum tipis. Dan Kagami mendapat firasat bahwa mantan ketua merangkap pelatih Rakuzan itu tahu dilema apa yang sedang ia hadapi. Sialan, ingin Kagami meninju wajah pangerannya itu. Tapi apa daya, ia bukan apa-apa. Layaknya rakyat jelata tersasar di kediaman kerajaan mewah, Kagami tak ingin mendapati gunting melayang ke arahnya lagi; seperti kali pertama mereka bertemu. Jujur, ia masih sering digelayuti mimpi buruk tersebut. Dengan sosok Akashi yang bertambah dua kali lebih besar dan dua kali lebih mengerikan, "kenapa hanya berdiri saja disana? Ayo masuk."
Kagami menggerutu, mengikuti Akashi dua langkah di belakang. Debu mendadak menyeruak masuk, dan ia refleks menutup lubang hidung. Ukh, bagaimana Akashi bisa bertahan dengan bau lumut dibarengi bangkai hewan seperti tikus ini? Tapi yah...dia Akashi. Tak perlu penjelasan lain, karena keberadaannya sendiri sudah mutlak.
Kedua lelaki itupun sampai ke ruang yang cukup luas daripada yang lain; mungkin dulunya ini lab kimia atau sejenisnya, ditilik dari lemari tua berisikan tabung elemenyer yang sudah pecah membelah. Meja-meja panjang disingkirkan ke tepi dinding, memberi ruang cukup luas di bagian tengah. Dan disana, duduk membentuk lingkaran di atas kayu tua termakan usia, teman-temannya berkumpul. Kise melambai padanya ketika mendapati Kagami masih membeku di ambang pintu, tertawa kecil; pasti mengingat pembicaraan mereka di telepon beberapa jam lalu. Aomine berbaring dengan kedua tangan di belakang kepala, nampak tak peduli dunia. Momoi berusaha untuk membangunkan teman masa kecil, sebelum mendengus kesal dan balik mengobrol bersama model majalah terkenal. Midorima membersihkan jam digital berbentuk beruang hutan sedang memakan ikan. Dan Murasakibara, seperti biasa, sedang mengunyah snack kesukaannya—Kagami harus mengingatkannya lagi akan pentingnya makanan berserat bagi atlet seperti mereka.
Akashi bergabung dengan mantan rekan pebasket, menepuk ruang kosong di sisi kiri figur ramping, memberi isyarat bisu untuk Kagami duduk disampingnya. Oh, ya ampun! Ia ingin pulang! Karena ia masih ingin hidup! Masih ingin menikmati indahnya dunia fana! Tapi apa daya. Pemuda berzodiak Leo duduk dengan kaki terlipat. Ia tak bisa apa-apa selain menuruti perintah.
Dua jam telah berlalu, dan Kagami yang sudah diambang batas makin lama makin membeku.
"Tenanglah, Kaga-chin. Lagipula kau sudah membawa teddy bear milikmu, bukan?" Murasakibara angkat suara saat melihat betapa kakunya lelaki beraksen Amerika. Bola kaca violet menatap datar strap phone berbentuk beruang pink lucu, tergantung di handphone flip milik Kagami yang mengintip dari balik saku celana.
"Kagamin!" Momoi tertawa geli, "kau manis sekali~~"
Layaknya seorang gadis SMA yang tertangkap basah hendak menyelipkan surat cinta ke loker sepatu orang yang disukai, wajah Kagami memerah padam, hampir-hampir menyamai rambut bawaan lahir miliknya. Asap imajiner seolah keluar dari kedua telinga, dan ia berseru cukup lantang, "I-Ini bukan punyaku! Ini hadiah dari adik saudaraku!"
"Tunggu, bagaimana kau bisa tahu tentang teddy bear itu?"
"Tadaimaaa..." belum sempat Murasakibara menjawab, Aomine pun kembali. Dengan wajah tertekuk amat kecewa sebelum kembali duduk dalam lingkaran.
"Mine-chin juga tak bertemu hantu, ya?" tanya si raksasa, mengalihkan topik pembicaraan. Sementara Kagami mengepul seperti kepiting baru masak, kesal karena tak diacuhkan.
"Begitulah. Lama-lama aku mulai bosan."
Peraturan permainan ini cukup mudah. Siapkan 1 lilin untuk setiap orang—bisa diganti dengan senter—dan 3 buah ruangan yang saling terbuhung, membentuk huruf 'L' jika dilihat dari atas. Lalu sambil duduk melingkar di dalam ruangan pertama, masing-masing mulai menceritakan cerita horor yang mereka tahu. Bisa pengalaman pribadi, bisa juga mitos. Setelah selesai, sang pencerita tadi harus mematikan lampu senternya dan berjalan menuju ruangan ketiga sendirian. Disana, ada sebuah cermin dan Aondon, atau lentera yang terbuat dari kertas biru dan kayu. Bercerminlah sebentar dan kembali lagi ke ruangan pertama.
Peraturan yang harus diikuti dalam permainan ini adalah sang pencerita harus menutup pintu yang menghubungkan ketiga ruangan saat masuk dan pergi dari ruangan pertama atau ketiga. Berdirilah di tengah ruangan kedua untuk sementara waktu sebelum kembali. Jika 'beruntung', hantu Aoandon akan muncul di sampingmu.
"Haah...padahal aku ingin melihatnya" Aomine melipat kedua tangan di belakang kepala. Niatnya ingin kembali berbaring. Namun satu-satunya gadis disana memelintir sebagian kulit kencang, membuat Aomine meringis kesakitan. Itu tanda dari Momoi bahwa persetan dengan perilakumu yang sekenanya, kau harus sopan, Daiki! Ganguro itu mencibir, dan lanjut berujar, "ada yang bilang hantu Aoandon itu menyerupai seorang wanita cantik berpakaian kimono biru."
"Oha-asa berkata hantunya nenek-nenek." Midorima menaikkan kacamata dengan satu jari.
"Sejak kapan Oha-asa mengulas cerita tentang hantu, Midorimacchi?" Kise balik bertanya, heran. Dia, yang dipatahkan argumennya, hanya melengos. Debu pink terulas di pipi berahang tegas, namun berusaha ia sembunyikan.
"Yaah...meskipun hantu, aku tak peduli asalkan dia cantik dan berdada besar."
"Baiklah, giliran terakhir..." bola mata beda warna milik Akashi meneliti tiap wajah temannya. Mereka terlihat lelah. Sudah waktunya untuk menghentikan permainan ini, "Taiga."
Kagami, yang masih berupaya untuk menarik perhatian si jangkung penyuka makanan manis, terhenyak. Telunjuk terarah ke paras yang melongo kebingungan, bola kaca terbuka lebar dan mulut menganga, "Eh? Tapi aku tak punya cerita seram."
"Cerita apa saja boleh deh. Cepatlah, Kaga-chin. Aku mulai lapar." Dan untuk membuktikan pernyatannya barusan, suara perut yang lebih terdengar seperti auman singa menggelegar. Terdengar menyeramkan kalau saja Kagami tidak tahu asalnya darimana.
Benar juga. Ketegangan yang ia rasakan dalam permainan ini membuat perutnya kosong. Dan jika tak cepat-cepat, ia bisa telat pulang ke rumah lalu besoknya terlambat masuk ke kelas. Dosen yang mengajar nanti terkenal akan kedisiplinannya. Ia tak mau ambil resiko tinggi, dimana jikalau telat, ia harus membersihkan seluruh toilet pria yang bisa ia temui, sendirian. Kagami ingin pingsan hanya dengan membayangkan hukuman bak kerja rodi tersebut.
Dirinya menghela napas panjang. Kalau tak segera diakhiri, bisa tambah runyam,
"Baiklah. Tapi jangan salahkan aku jika ceritanya tak seram"
Setelah anggukan kompak satu kali dari teman-temannya, Kagami terbatuk sekali dan mulai mendongengkan kisah yang ia alami, "Hari itu malam Jum'at, saat aku sedang makan ramen di luar sembari menonton TV. Disana disiarkan sebuah berita kecelakaan, mengenai bus yang jatuh ke dalam jurang. Ada beberapa yang selamat, tetapi 80% penumpang banyak yang hilang dan ada juga yang tak tertolong lagi—"
Suaranya yang tadi tegas tanpa getaran, perlahan mulai memelan. Sebelum akhirnya menghilang. Kedua alis ganda berkerut jadi satu. Dagu ditangkupkan pada pertemuan jempol dan jari telunjuk. Bibir mengencang membentuk garis lurus, "Hei, apa kalian merasakan ada yang aneh dari cerita itu?" Kagami berkata, hampir-hampir bergumam, "Aku seperti...melupakan sesuatu. Sesuatu yang berhubungan dengan korban kecelakaan itu..."
Sunyi seketika. Dimana Kagami pun akhirnya sadar bahwa reaksi teman-temannya terlalu nihil. Ketika kepala itu terangkat, ia tak mendapati perhatian apapun. Semuanya menunduk, bahu bergetar dan tangan terkepal erat.
"A-Apa sih, Kagami? Ceritamu sama sekali tidak seram. Aku bahkan tak mengerti maksud dari ceritamu itu" Aomine memecahkan keheningan mencekam, suaranya terbata-bata. Tingkah laku yang tak wajar untuk si dia yang memiliki ego begitu tinggi; walau tak setinggi Akashi—miliknya sih sudah berada di luar angkasa sana, tempat dimana manusia normal tak bisa menjangkaunya. Tawa yang jelas sangat dipaksakan meluncur keluar dari bibir pucat pemain dengan kemampuan formless shot menawan, "S-Sudahlah. Lebih baik kau segera pergi ke ruangan ketiga sana!"
Aku tak ingin mendengarnya dari seseorang yang bahkan tak bisa membedakan mana cerita horror dan mana yang bukan! Kagami menggerutu, kesal.
"A-Aominecchi benar! Cepat selesaikan permainan ini supaya kita bisa pulang Kagamicchi" Kise ikut menambahkan.
Jelas-jelas tingkah teman-temannya itu mendadak berubah menjadi aneh. Wajah pucat dan pupil mengecil. Bahkan Midorima pura-pura asyik membersihkan kacamata hitam bingkai kotak, secara tak langsung membuatnya takkan bisa menatap Kagami dengan jelas karena kelainan mata minus itu. Meski demikian, Kagami menurut saja. Ia menghela napas—hari ini sudah tak terhitung banyaknya Kagami mengeluarkan hasil pertukaran oksigen dan karbondioksida dalam beberapa jam belakangan—mematikan lampu senter dan berjalan menuju ruang ketiga.
Ruangan itu sedikit lebih luas dibandingkan sebelumnya. Mungkin karena tak begitu banyak perabotan disini; hanya ada satu meja panjang dan lemari berisi buku usang dimakan rayap. Sepertinya bekas ruang konsultasi, ditilik dari beberapa poster berisikan macam-macam psikologi dan kesehatan remaja. Kagami jadi ingat pengalamannya dulu berkunjung ke tempat yang sama. Padahal ia tak ada gangguan sama sekali, cuma lelah karena terlalu semangat latihan basket sampai pagi. Tapi mungkin kebiasaannya tidur di tengah pelajaran menjengkelkan guru yang bertugas, sehingga membuatkannya surat perjanjian untuk bertemu di ruang selebar enam tatami dan berkonsultasi. Hanya butuh waktu sepuluh menit dan Kagami sudah diusir pulang kerumah oleh yang bersangkutan untuk mendapat waktu istirahat lebih.
Di atas meja yang berletak 3 langkah dari tempatnya berdiri, ada sebuah cermin dan Aondon.
Setelah ini, permainan selesai, huh? Pikir Kagami.
Saat ia mengambil cermin—
"Kagami-kun."
Rasanya seperti cracker tahun baru diledakkan tepat di kedua telinganya, membuat ia lupa bagaimana caranya bernapas dan jantungnya serasa berhenti berdetak walau hanya sesaat.
"K-Kuroko?"
Sesosok lelaki dengan tudung baby blue dan wajah datar yang biasa telah berdiri di belakang punggung lelaki surai merah hitam; figur itu terpantul di depan cermin yang Kagami pegang. Hawa keberadaan Kuroko itu memang sulit dideteksi—ia yakin anjing kepolisian terlatih sekalipun akan kesulitan melacak pemuda satu ini. Mau seberapa akrab ia dengan lelaki bertubuh mungil hampir-hampir kurus jikalau tak memiliki otot karena resimen basket yang diberikan pelatih dulu, tetap saja Kagami tak akan pernah terbiasa dengan 'jurus muncul dan menghilang tiba-tiba'-nya yang makin lama kehebatannya makin terasah. Mungkin leluhurnya keturunan keluarga ninja?
Setelah keterkejutannya hilang, dan ia dapat kembali bernapas, Kagami menghembuskan napas panjang. Lagi, "Apa? Ternyata kau. Sekarang sudah giliranmu melanjutkan permainannya, ya?"
"Permainan?" Kuroko memiringkan kepalanya. Manik senada dengan surai mengerjap perlahan, "Aku kemari karena melihatmu malam-malam masuk ke gedung ini sendirian"
"Haah? Aku tak mengerti maksudmu, Kuroko. Sudahlah...segera selesaikan dan kembali ke ruangan pertama" Kagami berkata, seraya menutup pintu ruangan ketiga—sesuai peraturannya—dan berbicara dengan Kuroko dari balik pintu. Tuhan, ia benar-benar ingin pulang. Kagami sudah merindukan kasur empuk dan penghangat dikamarnya. Bisa dibayangkan begitu jelas karena dingin malam yang menerpa saat ini (dingin. Terlalu dingin) Kagami merinding, "Kise dan yang lainnya sudah menunggu"
Tak ada suara untuk beberapa detik kedepan, membuat Kagami berpikir Kuroko mungkin tak mendengarnya. Walau tebakannya salah, ketika suara datar tanpa nada itu balik membalas, "Kagami-kun...kau aneh"
"Haaah? Ngajak berantem, ya?"
"Kagami-kun! Ada yang ingin kubicarakan." seruan dari suaranya yang kalem terdengar jelas meski pintu tertutup, "Ini mengenai berita tentang kecelakan bus yang jatuh ke jurang beberapa hari lalu. Tolong, dengarkan baik-baik!"
Tak biasanya Kuroko menaikkan suaranya. Bahkan saat ia marah dengan mantan kawan satu SMP saja tak sekeras ini. Mengakibatkan Kagami sontak terkaget. Apalagi ia bisa mendeteksi getaran disana, mempertanyakan apakah Kuroko sedang mencoba menahan isak tangis yang memaksa untuk muncul ke depan panggung. Kagami pun bungkam, memberi acuan pada temannya tuk melanjutkan. Samar-samar ia bisa mendengar gumaman 'terima kasih' darinya, meski Kagami tak mengerti mengapa ia berkata demikian. Kesunyian menghempas. Yang terdengar hanyalah serangga-serangga malam berorkestra ria guna mencairkan suasana namun gagal. Tak tahu berapa lama ia menunggu. Dan ketika Kagami akan membuka mulut dan bertanya apakah Kuroko masih disana, yang dipikirkan pun mulai berbicara.
"Sebenarnya...di dalam bus itu. Kami ber-enam juga berada di sana" terdengar suara Kuroko tercekik, benar ia mencoba menahan sendu. Sementara Kagami sendiri, kelopak mata terbuka lebar, "Pada kecelakaan itu, aku berhasil selamat—"
.
"—tapi 'mereka' tidak"
.
Satu kalimat itu cukup untuk membuat wajah Kagami berubah pucat. Kaget menerjang dirinya, membuat ia tak kuasa mengucapkan sepatah kata pun. Tidak...tidak mungkin...kan? Jari jemari terkepal terlalu kuat, mencoba menghilangkan getar yang perlahan merayapi sekujur tubuh. Karena Kagami baru saja bertemu dengan mereka. Kagami baru saja bercerita dengan mereka. Baru saja bersenda gurau begitu ria bersama mereka. Jadi tidak mungkin kalau mereka—
"Taiga?"
.
Napas Kagami tertahan.
.
Pemuda tajir seantero Kyoto itu berada di depan pintu kayu, sementara kelima teman berdiri tak jauh dibelakang, asyik mengobrol satu sama lain, "Taiga, kau sudah selesai? Jika kau tak bertemu dengan hantunya, ayo kita pulang. Hari sudah malam"
Itu suara Akashi!
Suaranya berada tepat di balik pintu ruangan pertama yang tertutup!
Ia mencoba berbicara. Menjelaskan. Menanyakan. Tidak mungkin pernyataan Kuroko tadi benar, bukan? Semuanya hanya lelucon yang kelewat batas, ya kan? Tak ayal, bibir Kagami yang bergetar membuatnya hanya mampu mengucapkan sebuah kalimat tak selesai, "T-Tapi Kuroko bilang..."
Begitu nama itu disebut, suasana berubah sunyi senyap. Ketegangan yang begitu mencekam menyelimuti bagai langit tanpa akhir. Kagami yang tadinya mendengar Kise yang mengobrol dengan Midorima, Aomine yang kesal diceramahi Momoi, dan Murasakibara yang mengunyah, kini semuanya hilang. Tergantikan dengan angin malam menghembuskan dedaunan diluar sana. Setelah beberapa saat termangu dalam gelap, Akashi berbicara. Suaranya lirih, terdengar sangat lelah, "sebenarnya Taiga... kami ber-enam terlibat dengan kecelakaan bus yang kau ceritakan tadi" ujarnya, "Detik-detik terakhir sebelum bus jatuh ke dalam jurang, kami berhasil menyelamatkan diri—"
.
"—tapi 'dirinya' sedang bernasib malang"
.
Tubuh Kagami bergetar hebat. Keringat dingin mulai mengucur turun melalui tengkuk, membasahi baju dan menjadikannya bagai kulit kedua anak lelaki sulung tanpa adik.
.
"Kagami-kun, disana aku melihat mereka..." ia mendengar suara Kuroko lagi di sisi kanan telinganya.
.
"Kami melihatnya dengan mata kepala kami sendiri..." dan ia mendengar suara Akashi lagi di sisi kiri telinganya.
.
"Bahwa Akashi-kun, Aomine-kun, Midorima-kun, Murasakibara-kun, Kise-kun..."
.
"Bahwa Tetsuya..."
.
"Mereka..."
.
"Dia..."
.
"—sudah meninggal"
.
.
Disaat itulah ia merasakan lututnya seketika lemas. Dirinya tak kuasa menahan berat badannya lagi dan akhirnya jatuh terduduk.
Kagami ingat.
Ya. Ia ingat mengapa berita itu terdengar aneh di telinganya.
Pada hari itu, ke-tujuh temannya pergi jalan-jalan guna menikmati liburan musim panas.
Dan pada hari yang sama pula kecelakaan itu terjadi.
.
Aah...kalau dipikir-pikir, sebenarnya dalam beberapa hari terakhir ini Kagami sama sekali tak menerima kontak dari teman-temannya itu. Tidak, sampai akhirnya Kise mengajaknya memainkan permainan ini.
.
.
Selesai sudah.
.
Tak ada jalan keluar lagi
.
Ia...terjebak.
.
.
Di tengah malam pada musim panas ini, bahkan serangga-serangga yang tadi berisik minta ampun, sekarang tak mau lagi mengeluarkan suara. Mereka mulai mengetuk-ngetuk pintu, memanggil namanya.
"Kagami-kun? Kau dengar aku?"
"Taiga? Ada apa?"
Suara yang tadi bersahabat, kini terdengar menyeramkan di telinganya. Ketukan pintu di kedua sisi begitu dalam dan begitu bergema di ruangan tempat pemain basket berambut crimson berada sekarang. Terus mengetuk seperti itu. Berulang dan berulang kali lamanya.
.
.
.
"Hei, Kagami-kun..."
.
"Taiga..."
.
.
"—kau pilih yang mana?"
END
(A/N) : bagi yang pernah baca, g ada yg berubah kok. Cuma tambahan deskripsi dan pergantian pemain; dr Kise jd Akashi. Dan maaf y kalo kurang detail. WB nih, WB TwT
Silahkan menerjemahkan; apakah GoM yang mati, Kuroko yang mati, semuanya mati, atau cuma lelucon tak lucu yang mereka siapkan untuk menakut2i Kagami -w-
Dan seinget saya, Kise emang takut ama cacing tanah. Hadeeehh Kise. Lu itu cowo, kalo cewe wajar aja takut. Payah banget sih wkwkwk
Sampai bertemu di chapter selanjutnya. Dah~~
Don't forget to leave your review
Best Regards
Akabane Kazama
