…..~*~Black Rosette~*~…..
By: Morning Eagle
Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Just to warn you all :: AU, OOC, Misstypos...for this story
Scene 13: Pandora's Box II
POV : Rukia
(..)
(..)
(..)
Flashback, at Vladimir, Russia few days ago…
Normal's POV…
"Jadi ini adalah…"
"Ah, Hisana. Kuchiki Hisana," jelas Urahara, menunjuk layar komputer besarnya dengan telunjuk kanannya. Wajahnya terlihat lebih serius daripada biasanya dan sedikit tegang—dengan rahang yang mengeras. Tidak berbeda dengan Ichigo, menatap sebuah foto yang membuatnya hampir terjatuh dari kursi yang didudukinya. Di luar batas kepercayaan Ichigo, melihat rahasia di balik misi besarnya, untuk melindungi Rukia.
"Dia terlalu mirip dengan Rukia. Ini…tidak masuk akal." Ichigo tidak bisa berhenti menganga, terlihat seperti bocah berumur sepuluh tahun.
"Tentu, aku pun berpendapat sama denganmu. Seperti kembar identik, tapi tidak. Wajar saja Aizen salah mengambil langkah." Urahara sudah bangkit dari duduknya dan bersender pada meja kerjanya. Dia sedikit meregangkan badan kakunya, dan mungkin rasa lelah karena lagi-lagi harus mendapat tugas dadakan dari kantor pusat. "Inilah yang membuatku yakin bahwa Aizen tetap manusia—masih bisa melakukan kesalahan dan sedikit fatal untuknya. Namun, sebuah keuntungan untuk kita kali ini, sementara menunggu Hisana-san siuman—"
"Tapi tetap saja nyawa Rukia dalam bahaya! Dia tidak tahu apa-apa tentang hal ini!" Ichigo mengeluarkan suara lantangnya, hampir membuat Urahara bergidik kaget. Pria keras kepala itu menundukkan kepalanya dalam dan mengerang frustasi—meremas kuat rambut jingganya— berusaha mencari-cari cara agar Rukia tidak lagi harus menanggung beban berat. Lagi-lagi harus dikecewakan, oleh orang terdekatnya—juga Ichigo. "Dia hanya gadis biasa yang seharusnya tidak terlibat dalam hal ini. Byakuya sudah keterlaluan—"
"Byakuya melindunginya, Ichigo," potong Urahara. "Dia sudah melakukan yang terbaik untuk istrinya saat ini—diantara hidup dan mati. Tidak stabil. Dan menghapus nama Rukia dari keluarga Kuchiki untuk sementara waktu adalah langkah tepat yang sudah diambilnya."
"Tanpa berusaha untuk menolong Rukia? Bagaimana kalau saja orang-orang Aizen lebih cepat dari kita dan berhasil menangkap Rukia?!"
"Karena itulah SSF memintamu untuk menangani pekerjaan ini, juga Byakuya. Dia berusaha sebisa mungkin untuk melindungi Rukia, sementara di sisi lain juga harus melindungi keberadaan istrinya yang sedang kritis. Yah, walaupun ada sedikit pertentangan saat Byakuya mengetahui anggota tim utama SSF yang bertugas menjaga adik kesayangannya," jelas Urahara, menepuk pundak Ichigo sesekali, sebelum mengotak-atik komputernya lagi. "Dia tidak begitu suka dengan kinerja tim lapangan, yang menurutnya terlalu kasar. Entahlah, seorang detektif selalu melakukan pekerjaannya dengan serius dan memiliki perhitungannya sendiri—perfeksionis. Bertolak belakang denganmu—ah maksudku timmu. Dia tidak punya pilihan lain."
Ichigo menghela napas sesaat, menyadari kenyataan di sebuah dunia kerja—tempat kerjanya. Byakuya memang tidak menyukai hal ini, bahkan bertatapan muka dengan bocah yang menurutnya terlalu mengandalkan emosi labilnya. Senior yang sudah mengundurkan diri dan bersikap dingin setiap saat, selalu disegani oleh rekan-rekan kerjanya—bahkan pihak atas sekalipun. "Hmhm…ya, perfeksionis. Tipikal dirinya."
"Tanpanya, kau tidak akan bisa bertemu dengan Rukia-mu, bukan?"
"Apa maksudmu?!" Ichigo melirik tajam Urahara, yang sudah tersenyum lebar, sedikit membuat pria itu muak. "Apa-apaan senyummu itu?"
"Kau tahu maksudku!"
"Hentikan seringaian bodohmu itu—"
"Aku serius Ichigo-kun," potong Urahara, tanpa melepas seringaian lebarnya. "Jaga Kuchiki Rukia. Sementara perhatian Aizen teralihkan dari Hisana, kami sebisa mungkin membantumu. Keselamatan Rukia dan Hisana adalah prioritas utama kita sekarang."
"Aku tahu hal itu," jawab Ichigo datar, berusaha memikirkan bagaimana cerita ini akan berlanjut kemudian. Bagaimana dengan Rukia. "Urahara-san, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"
"Tentu. Apa itu?" tanya Urahara, penuh rasa ingin tahu.
"Mengapa Byakuya menghapus nama Rukia dari keluarga Kuchiki? Benarkah ini untuk keselamatan Rukia? Tapi, penghapusan namanya secara diam-diam sebelum Hisana-san terluka akibat dari pengejaran Aizen, sungguh tidak masuk akal. Seperti sudah diperhitungkan matang-matang."
Urahara terdiam sesaat, menatap tembok yang terlihat kosong bagi, kecuali noda debu di sana. Berpikir dalam diam. "Menurutmu?"
Ichigo memelototinya kesal, mendapati pertanyaannya dibalas dengan sebuah pertanyaan. "Kenapa menurutku?"
"Pihak mana yang kaupercayai, Ichigo-kun?"
Kini Ichigo yang terdiam, menatap kembali layar komputer yang masih menyala terang. Foto Hisana masih terpampang jelas di sana, dengan seragam agent intelijen yang dikenakannya beberapa waktu lalu. Terlalu mirip dengan Rukia, kecuali senyum yang lebih terlihat lembutnya itu. Rukia terlalu keras untuk tersenyum. Namun, di saat dia menunjukkan hal itu diam-diam, senyumnya seperti sebuah bagian yang tertutup terlalu rapat dari dirinya—sengaja disembunyikan dari dunia luar. Dan Ichigo merasa sungguh beruntung bisa melihatnya secara langsung, dan sekaligus memberikan rasa melilit di dadanya. Aneh dan menenangkan. Seakan hujanpun bisa berhenti menderas karena sebuah senyuman Kuchiki Rukia. Tentu.
"Tentu saja Rukia," jawab Ichigo mantap, memberikan keyakinanku pada Urahara yang terbelalak lebar. "Aku tidak akan pernah menjauh dari sisinya, sampai kapanpun."
Normal's POV end…
(..)
(..)
(..)
Switzerland, now at Kuchiki secret's mansion…
Rukia's POV…
Ah—begitukah? Nee-san menjadi incaran Aizen karena data rahasia yang berhasil diambilnya dari komputer orang itu. Data rahasia yang menjadi bukti kuat untuk menahan Aizen, namun menghilang entah kemana. Nee-san lah yang menjadi prioritas utama SSF, berharap nee-san bisa menjadi saksi dan mengingat apapun yang dilihatnya di kantor Aizen. Menunggu nee-san siuman bukanlah hal yang instan. Dan ini membuatku takut. Bagaimana kalau seandainya nee-san tidak kembali bangun? Apakah aku harus menggantikan nee-san untuk seterusnya—di saat Aizen salah mengira bahwa aku adalah nee-san, Kuchiki Hisana?
"Keadaan Hisana masih sudah mulai stabil, namun belum siuman semenjak kejadian itu. Dia masih tertidur di rumah sakit di pusat kota," jelas nii-sama, membuat dadaku seperti dililit kuat. Aku ingin menemuinya, segera.
"Aku…ingin bertemu dengannya…nii-sama. Kumohon—"
"Kondisinya masih belum sepenuhnya stabil dan kau baru saja tiba di Zurich. Bukan pilihan yang baik untuk menemuinya sekarang."
"Tapi…aku—"
"Hisana akan baik-baik saja."
Air mata mulai menetes ke pangkuanku, tanpa bisa dicegah oleh kedua tanganku. Rasa sakit bercampur kekecewaan yang mendalam sedikit mengusik hatiku—terasa rumit. Mendapat sebuah kenyataan yang selama ini aku cari, aku pertanyakan, menjadi sebuah realita yang tidak ingin aku ungkap. Seandainya bisa. Tapi masa tidak bisa diulang, karena sudah terjadi akibat bergulirnya waktu. Takdir? Apakah ini takdirku semenjak awal? Membawaku hingga ke tempat asing ini dan merasa seperti dibodohi. Ah—mungkin tidak sepenuhnya. Mungkin? Sedikit kebohongan yang menetes dalam hidupku terasa seperti sebuah beban yang begitu berat untuk dipikul. Menyadari aku tidak tahu harus berpegang kepada siapa saat ini. Satu-satunya jalan adalah kembali ke dalam kehidupanku yang lama—bergantung kepada diri sendiri. Mengandalkan kemampuan yang kumiliki hingga tetes air mata terakhir yang keluar dari mataku. Sampai berhenti mengalir.
"Rukia." Suara hangat itu tidak lagi terasa hangat dan meneduhkan. Namun terasa hambar. Sebuah usapan lembut pada pundakku terasa seperti sebuah bentuk ungkapan tanpa arti. Kekosongan. "Rukia—"
"Kau harus menghadapinya Rukia, mau tidak mau. Hisana juga sedang berjuang sekarang," ucap nii-sama tanpa emosi, terdengar beku di telingaku. Ah—nee-san juga sedang berjuang, dalam kondisi yang kritis. Dan aku baru mendengar hal itu sekitar lima menit yang lalu, walaupun kenyataannya yang terjadi sudah berlalu hampir satu bulan lamanya. Ini tidak masuk akal.
Sesuatu menghentakkan meja kayu di depanku, sedikit membuatku bergidik ngeri. Itu kepalan tangan Ichigo—tinjunya yang menghantam meja begitu kuat. Mata nanarku menangkap tatapan tajam Ichigo, yang ditunjukkannya pada nii-sama. "Bisakah kau lebih berperasaan sedikit?"
"Apa maksudmu, Zangetsu?" Nii-sama membalas tatapan tajam Ichigo, terasa lebih mengintimidasi.
"Kau tidak melihat adikmu sedang mengalami masa-masa sulit saat ini? Di depan matamu sendiri? Dan kau hanya mengatakan hal itu padanya—tanpa rasa peduli? Yang benar saja!"
"Sebaiknya kau kendalikan emosimu, itu tidak akan berguna sekarang."
"Seharusnya kau mengatakan hal itu kepada dirimu sendiri, Byakuya! Rukia menangis dan kau hanya mengatakan omong kosong seperti ini—"
"Jaga kata-katamu, Ichigo," balas nii-sama tajam, lebih terdengar memerintah. Spontan kata-katanya itu membuatku merinding. Sudah lama aku tidak merasakan tekanan seperti ini. "Aku mempercayaimu untuk menjaga Rukia dan sekarang kau sudah mengecewakanku. Kau boleh meninggalkan pekerjaan ini bila kau tidak ingin dan kembalilah ke dalam pekerjaan lamamu. Aku yang akan menjaga Rukia."
Kata-kata itu seperti menusukku dengan ribuan jarum tajam. Memikirkan Ichigo meninggalkanku saja sudah membuatku takut dan panik, seperti sebuah mimpi buruk di tengah badai. Dan sekarang nii-sama menyatakan hal itu secara jelas dan nyata. Kepada Ichigo. Dan juga kepadaku. Apa Ichigo akan memilih hal itu? Apa dia menganggapku sebagai beban baginya?
Ichigo menghentak berdiri dan meraih pergelangan tanganku kuat. Tubuhku tertarik secara kuat, berusaha untuk tidak jatuh. Sementara Ichigo mengambil langkah cepat menuju pintu keluar. Kedua ransel koper kami sudah tersampir di sebelah bahunya—terlihat ringan.
"Berhenti, Zangetsu. Kau tidak berhak membawa Rukia keluar dari sini—"
"Omong kosong! Kau seenaknya memerintahku untuk meninggalkan Rukia di sini? Yang benar saja!" teriak Ichigo emosi, mempererat genggaman tangannya, membuatku meronta.
"Ichi—"
"Lepaskan Rukia," perintah nii-sama dingin, yang ternyata mengambil langkah lebih cepat dari Ichigo—menghalangi pintu dengan sebelah tangannya. "Dia adikku dan sudah kewajibanku untuk menjaganya."
"Ya, dengan sikap dinginmu itu, bagaimana mungkin kau tidak mengecewakan Rukia? Pernahkah kau berpikir untuk menyadari—sedikit saja untuk memberikan perhatianmu padanya? Hah?! Kau meninggalkannya sendirian di apartemen kosong miliknya, tanpa memberikan apapun selain uang. Dan kau tidak menceritakan apapun mengenai masalah kakak perempuannya. Aku sudah menahan diri untuk tidak mengatakan hal ini padanya—menyakitinya. Tapi kau—"
"Ichigo!" bentakku takut, lagi-lagi air mata mengalir turun dari kedua mataku. Sebelah tanganku mencengkram tangannya kuat, hingga kukuku menancap tajam di sana. Dan sepertinya Ichigo tidak merasakan apapun, selain rasa bencinya pada nii-sama.
"Lepaskan Rukia—"
"Tidak akan! Tanpamu aku bisa menjaganya sendiri!" Tangan Ichigo berhasil membuka pintu depan untuk terbuka, namun tiba-tiba kembali tertutup rapat dengan sentakan kuat. Penolakan dari nii-sama. Sesaat gerakan itu seperti dipercepat oleh sebuah pemutar film. Ichigo melepaskan tangannya dariku—sengaja dilepaskan paksa—dan tubuhnya menghantam pintu dengan keras. Nii-sama melumpuhkan Ichigo dalam sekejap.
Ichigo yang tersudut tiba-tiba, langsung melancarkan serangan balik. Dengan cekatan dia memutar tubuhnya ke samping dan hendak menyerang nii-sama, membuat napasku tercekat. Dua orang yang mulai melakukan penyerangan secara mendadak. Dan aku takut mereka terluka karena hal ini. Aku harus segera mengambil tindakan, bukan begitu? Sejak kapan aku bisa menjadi selemah ini—merasa tidak berdaya, saat kedua pria ini memulai pertarungan tanpa arti mereka? Ichigo, juga nii-sama sudah mengecewakanku, dengan membongkar rahasia yang ingin kuketahui sejak awal. Tapi, begitu melihat isinya, aku merasa sangat menyesalinya—seperti kotak Pandora. Membawa kabar buruk yang tidak ingin dilihat dengan mata yang murni.
Ichigo terhempas ke belakang, punggungnya menghantam lantai dengan kuat. Sedangkan nii-sama, berdiri tegap tanpa luka yang berarti baginya. "Kau masih sama seperti dulu, tidak bisa mengontrol emosimu."
Ichigo yang meringis kesal, segera bangun dari jatuhnya dan berniat menyerang nii-sama balik. Spontan aku langsung menerjang ke arah mereka dan menarik lengan Ichigo turun. Berharap dia menghentikan hal ini sekarang juga. "Hentikan, Ichigo! Cukup!"
"Rukia—"
"Rukia, menjauh dari bocah itu."
"Cukup kalian berdua! Kalian mau menambah bebanku lagi?!" teriakku keras, menghentikan dua orang ini secara bersamaan. Napasku memburu karena lelah dan kesal, bahkan saling berebut dengan air mata yang hampir menetes keluar. "Kalian seperti anak kecil! Hentikan sikap kalian ini!"
Kutatap nii-sama tajam, berharap dia mengerti akan rasa kesal dan frustasiku. Padanya juga pada nee-san. Keluargaku. Juga pada Ichigo yang menjadi orang terpercayaku saat ini. Dimana dia mengatakan untuk selalu percaya padanya, apapun yang terjadi. Sumpah itu selalu kupegang hingga sekarang, walaupun menyakiti diriku sendiri—hampir sulit untuk bernapas.
"Maaf Rukia, aku…tidak bermaksud—" Tangan Ichigo menyentuh pipiku lembut, menelusuri jejak air mata yang sudah mengering. Aku menatapnya tajam, hendak membentaknya, namun kuurungkan niatku begitu saja. Ketika melihat tatapan hangat matanya. Dia…tidak berbohong. Untuk kali ini. "Aku…tidak mau menyakitimu."
Tentu, Ichigo. Tentu saja.
"Jangan…bertengkar lagi, mulai saat ini. Untuk kalian berdua," ucapku ketus, dan segera melangkah untuk menjauh dari mereka. Sejauh mungkin. Mencari udara segar.
(..)
Sudah hampir dua jam aku berguling-guling di ranjang baruku—kamar baru. Disinilah aku akan mulai menetap kemudian, melakukan sesuatu yang tidak bisa kulakukan secara bebas. Ketukan di pintu kamar yang sering terdengar beberapa menit sekali—dari Ichigo—sudah tidak lagi terdengar. Dia terlalu bersikeras untuk masuk kemari dan menjelaskan segala sesuatu yang menurutnya sudah membuatku menangis. Aku benar-benar menyesal sudah menangis di depannya, membuatnya kalut dan hampir menghajar nii-sama. Sikapnya terlalu berlebihan, berusaha untuk melindungiku. Sedikit kuhargai usahanya itu, walaupun sudah mengecewakan. Tidak banyak, tapi tetap saja menusuk. Terasa sakit.
Aku bangun dari posisi tidurku dan melirik pintu kamar, bertanya-tanya apakah sosok Ichigo masih ada di baliknya? Apakah suara lembutnya yang teredam oleh pintu bisa terdengar lagi? Walaupun kuharapkan, tapi tidak bisa kuraih. Karena sekarang aku mulai mempertanyakan diriku, juga dirinya. Bisakah aku tetap mempercayainya, seseorang yang seharusnya masih terasa asing untuk kuterima? Bolehkah aku bergantung padanya, yang mungkin akan menjadi beban untuknya? Nyawaku juga nyawanya, kini seperti koin yang memiliki dua muka berbeda—saling menyatu. Menunggu Aizen yang mengincar kami, mulai saat ini. Bukan hal yang mudah untuk dilalui.
Kubuka jendela kamar yang memberikan pemandangan sore menjelang malam, dengan jalan yang tertutupi salju putih. Lampu jalan mulai memancarkan cahaya malam, warna kuning di tengah kegelapan. Aku mendesah kesal, harus menghadapi malam ini dengan kesendirian. Tanpa siapapun.
Ah—mungkin aku salah. Masih ada seseorang yang bisa menjadi tumpuan hidupku sekarang. Seseorang yang sudah lama tidak kujumpai, yang tidak kulihat senyum hangatnya. Nee-san. Kulirik ke arah beranda rumah, yang terletak satu lantai di bawahku, mendapati tidak ada seorang pun di sana. Mungkin, aku bisa turun dengan aman dan segera pergi dari sini. Ke tempat nee-san.
Kuraih daun jendela dan mengeluarkan tubuhku perlahan—menginjak atap licin di bawahku. Aman. Perlahan kulangkahkan kakiku dengan sangat hati-hati, tidak mengharapkan untuk tergelincir ke bawah. Dari lantai dua. Itu pasti sakit. Begitu sampai di ujung atap, kuraih pagar tanaman sulur yang sangat kusyukuri bisa berada di sana. Aku berterima kasih pada nii-sama untuk hal itu. Bisa membuatku aman untuk sementara waktu.
Turun dari lantai dua tidaklah begitu sulit untukku, dan tidak menciptakan suara mencurigakan apapun. Kulangkahkan kakiku pada ubin berbatu di pekarangan depan dan segera melangkah cepat menuju gerbang depan. Udara dingin mulai menusuk leherku, menyadarkanku karena sudah meninggalkan shawl dan tasku di atas sana. Hampir saja aku mengumpat kesal, menyadari aku tidak membawa apapun yang berarti saat ini, hingga ke rumah sakit nantinya. Kembali memanjat dan mengambil barangku di kamar bukanlah ide yang bagus. Itu buruk. Segera kutepis pemikiranku dan meraih gerbang depan, memegang selotnya untuk terbuka. Sedikit suara membuatku panik, akibat besi yang bergesek pelan. Apa nii-sama akan menyadari hal ini? Apa Ichigo tahu aku sudah keluar dari kamarku? Tanpa pikir panjang, segera kubuka gerbang dengan kedua tanganku dan berlari ke jalan kecil perumahan di Zurich, masih terlihat gelap. Angin dingin seperti menampar pipiku keras, membuat mataku terasa kering karenanya.
Tiba-tiba sesuatu menghentakkanku ke samping, ke arah tembok batu. Punggungku menghantam salju di tembok yang terasa basah, menggelitiki kulitku. Napasku yang memburu, menciptakan kepulan asap yang terasa hangat, juga napas orang di depanku. Terasa tenang dan mencekam. Perlahan kulirik matanya—hazel terang yang semakin terang di kegelapan malam. Hanya ditemani oleh bulan dan lampu jalan. Sial!
"Kau mau kemana, Rukia?" tanya Ichigo tajam, terlihat tegang dan marah. Wajar saja dia marah.
Aku hanya bisa terdiam, sementara dia mengubah posisi tangannya, mencengkram pinggangku. Aku meronta karenanya. "Ichigo—"
"Kau mau menyerahkan dirimu pada Aizen dengan begitu mudahnya? Membuatku dan Byakuya terancam? Itu maumu?"
"Bukan! Aku hanya ingin melihat nee-san," ucapku bergetar, karena dingin dan takut. "Aku hanya ingin melihatnya—"
"Kau bisa memintaku untuk menemanimu, atau mungkin Byakuya."
"Tidak bisa…aku—"
"Kenapa? Kau pikir kau bisa menemukan letak rumah sakit dengan kemampuanmu sendiri? Bahkan berbicara bahasa asing pun kamu tidak bisa. Juga dengan pertahananmu yang selalu lengah, musuh bisa menangkapmu kapan saja. Kau adalah sasaran empuk bagi orang-orang Aizen yang sudah sangat terlatih. Sadarilah hal itu!"
"Jangan memerintahku lagi!" teriakku kesal, berusaha menepis tangan kasarnya, namun tidak bisa. Dia terlalu kuat. "Bisakah untuk tidak selalu mengaturku?"
Ichigo mendesah kesal dan semakin menekan tubuhku ke tembok. Wajahnya mendekat ke arah wajahku, hingga matanya sejajar dengan milikku. Aku hanya bisa menahan napas, berharap air mataku tidak keluar lagi. Untuknya. "Aku berusaha melindungimu, Rukia. Tidakkah kau mengerti hal itu? Aku sama sekali tidak berniat untuk memerintahmu." Sebelah tangannya menyentuh pipiku lembut, membuatku tersentak kaget. "Aku tidak tahu harus berbuat apa kalau seandainya saja—mereka menemukanmu. Kejadian di bandara Narita sudah membuatku hampir kehilangan akal, Rukia. Orang-orang suruhan Aizen yang menyatakan dirinya adalah suruhan dari Byakuya, aku takut kau termakan pancingan mereka dan—"
"Aku tidak percaya. Aku tahu mereka berbohong, jadi…jangan remehkan aku mengenai hal itu," potongku sarkastik, menatap tajam dirinya.
Ichigo hanya bisa tersenyum miris menanggapi kata-kataku. Ini tidak lucu. "Kau memang kuat, Kuchiki Rukia. Aku percaya akan hal itu, tapi—yang kita hadapi sekarang lebih serius daripada sebelumnya. Aizen tidak mungkin mengambil langkah yang sama, setelah mengalami kegagalan berulang kali. Dia akan semakin waspada dan memperkuat timnya, untuk mengincarmu. Menangkapmu. Dan aku tidak mau hal itu terjadi."
"Tapi…aku—"
"Kenapa?"
"Aku…tidak tahu harus melakukan apa. Siapa yang harus kupercayai. Siapa yang harus kujadikan sebagai tempat berlindung. Yang kutahu hanya nee-san seorang dan kondisinya…tidak memungkinkan saat ini," kataku lemas, menunduk untuk menghindari kontak mata dengannya.
"Kau bisa percaya padaku, Rukia," balas Ichigo sengit, berusaha mendongakkan wajahku, untuk melihatnya kembali. "Bukankah kau sudah berjanji akan hal itu? Aku akan selalu melindungimu—"
"Tidak. Tidak lagi. Aku…tidak bisa—"
"Rukia. Kumohon—percaya padaku. Aku tidak pernah meninggalkanmu sendirian, pernahkah kau sadari hal itu?"
Aku terpaku diam di tempat, melihat tatapan Ichigo yang berharap sepenuhnya padaku. Memohon agar aku bisa bersandar padanya, yang kutahu itu sedikit sulit untuk kulakukan sekarang. "Atas dasar apa?"
"Hah?"
"Atas dasar apa kau yakin terhadapku, Ichigo? Bukankah aku ini hanyalah seorang gadis biasa yang secara tidak sengaja telah menjadi tugasmu—melindungiku. Bukankah seperti itu yang kaupikirkan selama ini?" Aku menarik napas dalam-dalam, sebelum melanjutkan kalimatku yang terasa berat. Dengan jantung yang berdegup begitu cepat karena risih. "Aku bukan apa-apa untukmu. Aku bukan keluargamu, juga bukan temanmu. Aku—"
"Bisakah kau hentikan omong kosongmu, Rukia," gertak Ichigo. Matanya mulai mencari-cari sesuatu, sesaat lepas dari kontak mataku. "Aku tidak akan melakukan hal ini—sampai sejauh ini—bila bukan untukmu, Rukia! Jangan bodohi aku!" bisiknya keras, tepat di telingaku. Membuatku bergidik ngeri.
Pipinya menyentuh pipiku lembut, memberikan sedikit kehangatan di malam yang dingin. Napasnya menderu cepat, mengelitiki telingaku juga wajahku—memberikan getaran hebat hingga terasa di perutku. Ichigo sedikit memiringkan kepalanya, hingga bibirnya menyentuh pipiku. Kembali membuatku terlonjak kaget.
"Rukia," gumamnya pada kulitku lembut, terasa nyaman. "Kau masih sama seperti dulu, gadis pemarah yang selalu menggertak dan menyukai Chappy. Itu yang kutahu tentang dirimu." Bibirnya bergerak perlahan, mendekati sudut bibirku. Berhenti di sana. "Gadis tangguh yang tidak pernah menyerah, tapi tidak bisa berdiri seorang diri. Kau membutuhkanku." Kembali dia bergerak, mendekati bibirku dan menyapunya perlahan. Dengan bibirnya. "Sadarilah hal itu. Aku berjanji akan melindungimu," ucapnya tepat di atas bibirku, memberikan getaran hebat di sekujur tubuhku. Dan bibirnya menekan bibirku lembut, keras. Aku hanya bisa menutup mataku kuat-kuat, dan merasakan rasa panas itu mulai menjalar di permukaan kulitku. Bibirnya bergerak menuntut, memberikan kecupan ringan dan lumatan lembut pada bibirku. Terlalu kuat.
"Rukia," panggilnya lembut, menghentikkan ciumannya yang terasa—menghipnotis. Wajahnya masih tidak menjauh dariku, sementara napas kami saling beradu untuk mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Paru-paruku sangat membutuhkannya.
"Ngg…" Hanya erangan lemas yang keluar dari mulutku, sulit rasanya untuk berkonsentrasi.
"Setelah hitungan ketiga, kau lari sejauh mungkin dari sini."
"Hah? Apa—"
"Satu." Hitungan itu spontan menyadarkanku, melihat Ichigo yang masih menatapku lembut. Tapi ketegangan terasa di sekujur tubuhnya. Sesuatu sudah terjadi? "Dua."
"Ichigo, apa maksudmu—"
"Tiga." Dengan cepat Ichigo menarik lenganku dan mendorong tubuhku menjauh. Suara rintihan membuatku menoleh cepat ke arah belakangku, mendapati Ichigo sudah menumbangkan seseorang yang tidak terlihat wajahnya. Namun, sebilah pisau tajam tertancap kuat di dadanya—tepat di jantung. Apa itu Ichigo, yang melakukannya?
"Lari!" teriak Ichigo, mengeluarkan sebuah pisau lagi dari balik jaketnya dan kembali siaga pada apapun yang berada di depannya. Beberapa orang berdiri di sana, sedikit samar kulihat karena minimnya cahaya di gelap malam. Spontan aku mengambil langkah lebar dan segera berlari menjauh. Ke tempat nii-sama, secepatnya.
(..)
Kuraih kenop pintu depan dan menariknya sekuat tenaga. Terkunci. Di saat aku membutuhkannya, pintu ini malah terkunci untukku. Perlukah aku memanjat lagi ke lantai dua? Tapi, tidak ada waktu untuk hal itu, Ichigo membutuhkan bantuan sekarang juga.
"Nii-sama!" teriakku keras dan menggedor pintu sekuat tenaga. "Nii-sama!"
Tanpa menunggu lama, pintu depan terbuka lebar dan menunjukkan sosok nii-sama yang menatapku bingung. Setengah terganggu. "Apa yang kaulakukan di luar, Rukia—"
"Ichigo butuh bantuanmu! Dia…diserang beberapa orang!" Ucapku buru-buru, tanpa berpikir untuk segera menarik napas.
Nii-sama langsung menarikku masuk dan hantaman lagi-lagi terdengar. Karena keseimbangan yang kurang, tubuhku jatuh tersungkur menghantam lantai. Aku menoleh ke belakang dan mendapati nii-sama sedang mempertahankan diri dari serangan orang berbaju hitam. Tubuhnya lebih tinggi dari nii-sama dengan rambut hitamnya yang bergelombang, jatuh hingga ke bahu. Sebelah tangannya menggenggam pedang panjang, yang semakin membuatku bergidik ngeri.
Segera aku berdiri dari jatuhku dan mencari-cari sesuatu, untuk membantu nii-sama. Terdapat sebuah pedang panjang yang bersarung lengkap, tergantung tepat di atas perapian. Tanpa pikir panjang segera kunaiki pijakan di sebelah perapian dan menggapai pedang itu, berharap pedang ini adalah asli. Bukan sekedar pajangan.
"Berikan padaku," perintah nii-sama yang membelakangiku, sementara orang itu terdiam di pojok ruangan, dengan pedang yang masih tergenggam erat di tangannya.
Kusodorkan pedang itu dan diraih dengan mudah oleh nii-sama. Nii-sama membuka sarung pedangnya dan memperlihatkan wujud pedang itu—sebuah katana panjang yang begitu memukau. Indah dan mengerikan, dengan bilah tajamnya yang mengkilau terang di bawah sinar lampu. Pedang itu asli, dan bisa membelah apapun yang menghalangi jangkauannya.
"Oh, sepertinya kita seri?" Ucap orang itu yang ternyata bisa berbahasa Jepang. Orang suruhan Aizen? "Keberuntungan untukmu."
Nii-sama hanya terdiam dan segera mengambil langkah perlahan, namun cepat. Dihantamkannya pedang itu ke sisi orang itu, yang dibalas dengan dentingan pedang tajamnya. Dia kuat. Aku hanya bisa berharap nii-sama bisa segera mengalahkannya.
"Aku hanya butuh gadis itu," ucap orang itu menunjuk diriku dengan sebelah tangan, kembali membuatku bergidik. "Kuchiki Hisana."
Ah—dia salah mengira kalau aku adalah nee-san? Jadi benar, orang ini adalah orang suruhan Aizen, seperti yang dijelaskan nii-sama tadi. Mereka salah mengira kalau aku adalah nee-san. Wajah kami terlihat mirip, walaupun usia kami terpaut cukup jauh.
"Maukah kau menyerahkannya padaku?" Orang itu kembali melancarkan serangannya dan hampir mengenai nii-sama. "Aku tidak akan menganggu kalian, bila dia ikut denganku."
"Tidak akan," balas nii-sama dingin, menghentakkan pedangnya lagi hingga membuat orang itu hampir tersudut. "Jangan berbicara hal yang tidak masuk akal."
Mereka kembali bertarung, hampir mengubah ruangan tengah menjadi seperti kapal pecah. Barang-barang perabot mulai berjatuhan ke lantai dengan suara nyaring dan berdebam. Dan sesekali pedang mereka memberikan goresan di meja kayu dan sofa. Dengan panik aku mencari-cari sesuatu untuk membantu nii-sama, setidaknya bisa menghambat serangan orang itu. Mungkin panci atau pisau dapur?
Suara pintu yang terhantam menyadarkanku dari pikiran bodohku. Ichigo menggebrak pintu depan kuat, yang sudah terbuka sejak awal. Matanya berusaha menebak pemandangan sengit yang ada di depannya, sementara mencari-cari sesuatu secara liar. Akhirnya tatapannya jatuh padaku, terasa kelegaan di matanya yang kembali melembut. Beban di dadaku sedikit berkurang, melihat dia baik-baik saja, tidak terluka karena serangan mendadak di jalan tadi. Apa dia sudah menyingkirkan orang-orang yang menyerang kami?
"Apa yang kaulakukan di sini, Tsukishima?" gertak Ichigo yang maju ke arah nii-sama dan orang itu, yang masih terlibat dalam pertarungan sengit.
Orang itu—yang dipanggil Ichigo dengan sebutan Tsukishima—menoleh pada Ichigo dan memberikan senyuman datar padanya. "Hello, Freund (1). Sudah lama tidak bertemu," ucapnya dengan nada asing yang terasa kental. Beraksen Jerman?
"Kau juga ada di pihak Ginjou?" tanya Ichigo yang hendak berjalan ke arahnya, namun dihalangi oleh nii-sama—menyuruhnya mundur dengan gerakan tangan.
"Lindungi dia, biar aku yang menyelesaikan masalah ini," ucap nii-sama dan kembali melancarkan serangannya ke arah pria asing itu.
Tiba-tiba, suara kaca jendela yang dihantam sesuatu membuatku terkejut panik. Jendela di sebelahku terhantam sesuatu hingga pecah menjadi serpihan tajam. Spontan aku melindungi wajahku dari serpihan itu dan seseorang menarik lenganku kasar. Tatapanku berubah ngeri ketika melihat orang itu bukanlah Ichigo, tapi seorang anak laki-laki bermata tajam. "Ikutlah denganku!" Ucapnya kasar dan menunjukkan sebilah pisau ke arah leherku. "Dan kau jangan mendekat!"
Ichigo terpaku di tempat, dengan tatapan tajam yang terbelalak ngeri. Dia melihatku dan melihat bocah di sampingku ini, yang meraih leherku dengan rangkulan tangannya. Pisaunya yang dingin terasa di kulit leherku. "Kau mendekat maka pisau ini akan menancap di lehernya."
Ichigo mengertakkan giginya dan lagi-lagi mengumpat dalam bahasa asing—terdengar seperti itu. Bocah itu menyeringai lebar, terdengar dari suaranya yang merasa sudah berhasil melakukan aksinya. Dia menyeretku perlahan, ke arah pintu depan dengan menghindari Ichigo di depanku. Kami terpaut beberapa kaki dan ini sulit di terima oleh Ichigo. Terlihat dari raut wajahnya.
"Tsukishima-san! Aku berhasil mendapatkannya!" Teriak bocah ini yang membuatku kesal dengan kesombongannya.
Tsukishima—pria tinggi itu—hanya tersenyum simpul dan masih siaga dengan serangan nii-sama di depannya. "Bagus, bawa dia dari sini."
"Baik!" Bocah itu berteriak lagi dan kembali menyeretku ke belakang. Aku melirik Ichigo tajam, memberi isyarat kalau aku hendak melakukan perlawanan, setidaknya sesuatu untuk menjatuhkan harga diri bocah ini.
Begitu kami melewati pintu depan, dengan cepat aku mendorong tubuhku ke belakang dan menggunakan daun pintu sebagai tumpuan kakiku. Bocah tanpa pertahanan ini langsung jatuh ke belakang, menghantam tangga kecil di depan beranda dan merintih kesakitan. Punggungku menghantam tubuhnya dan segera kuambil pisau lipat yang terpental di sampingnya. Kusodorkan pisau itu tepat di depan wajahnya, yang masih meringis sakit.
"Kau salah memilih korban, bocah!" Ucapku lantang, menyeringai lebar karena berhasil melancarkan strategiku.
Bocah itu menatapku tajam dan tersirat penyesalan di matanya. "Apa katamu?!"
Ichigo berjongkok di sampingku dan meraih kerah baju bocah itu, hingga setengah tubuhnya terangkat. "Apa yang kau lakukan disini?"
"Ka…kau! Kau yang mengkhianati Tsukishima-san! Juga Ginjou-san! Kepala jeruk!"
Ichigo terlihat marah dengan sebutan itu, menyundul kepala bocah itu dengan kepalanya. Aku tersentak dengan bunyi kerasnya, seperti batu yang terbentur. "Bocah sialan! Sebaiknya sadari apa yang kaulakukan sekarang!"
Sepertinya terlambat, kata-kata Ichigo hanya menjadi angin lewat bagi bocah itu. Dia sudah tidak sadarkan diri, karena hantaman Ichigo tadi. Dasar brutal. "Ichigo—"
Ichigo bangun dari posisinya dan segera memeluk tubuhku kuat. Pisau di genggamanku terjatuh ke tanah batu dengan suara berdenting. "Kau benar-benar membuatku hampir terkena serangan jantung, bodoh!"
Suara gaduh terdengar dari gerbang depan, menyadarkanku dan Ichigo. Dengan cepat Ichigo melepaskan pelukannya dan menarikku ke belakang tubuhnya. Sepertinya bantuan dari Tsukishima sudah datang, dan tampaknya terlalu banyak untuk dihadapi Ichigo. Apa kita akan kalah di sini? Apa aku tidak bisa bertemu dengan nee-san, walaupun jarak kami tidak jauh terpisah, tinggal sedikit lagi?
"Freeze!" Ucap orang-orang itu menghentak. Aku melirik dari balik tubuh Ichigo, mendapati beberapa orang berpakaian lengkap sedang membawa senjata laras panjang. Mengarahkannya ke arah kami.
Ichigo menghela napas lega, membuatku kaget sekaligus bingung. Bahunya tidak lagi terasa tegang dan mulai berjalan ke arah orang-orang itu, besertaku yang ditariknya tanpa paksaan. "Kalian datang, akhirnya!"
Seseorang melepas kacamata dan topinya, memperlihat sosok aslinya. Rambut ungu sebahu dan…mata lentik? Laki-laki? "Zangetsu, kau sudah melakukan tugasmu."
"Bantu Byakuya di dalam," balas Ichigo lanjut, mengarahkan kepalanya ke arah pintu depan yang terbuka lebar. "Sisanya sudah kubereskan."
"Apa?!" teriak seseorang, yang ternyata rekan si rambut ungu. Pria sangar berkepala botak. "Kau menghabiskan jatahku, hah?!"
"Ini bukan main-main, bodoh!" gertak Ichigo, memelototi orang itu. Sementara, beberapa orang segera masuk ke dalam rumah, menyisakan si mata lentik dan si botak.
"Ow, apa kau Kuchiki Rukia?" tanya si mata lentik yang membuatku kaget. Spontan mencengkram lengan Ichigo dan bersembunyi di baliknya. "Kau terlihat begitu…dekat dengan orang ini, kelinci mungil?"
Tadi dia mengatakan apa? Kelinci? "Eh?"
"Sebaiknya kau pilih kata-katamu sebelum mengatakannya, Fuji Kujaku!" omel Ichigo.
Si botak berjalan ke arahku, kembali mengagetkanku dengan muka sangarnya. "Oh…jadi dia ya misi kita? Melindungi bocah ini?"
"Aku perempuan! Tidak sopan!" gertakku kesal dan mendapati Ichigo beserta si mata lentik tertawa lebar. "Ichigo!" Kuinjak kakinya, untuk menyadarkannya dari sikap menyebalkannya ini.
"Ah! Apalagi, mungil—"
"Nii-sama," ucapku terputus, ingin segera ke dalam tapi tidak bisa. Karena genggaman Ichigo yang terlalu kuat pada tanganku. "Lepaskan tanganku."
"Byakuya akan baik-baik saja, dia tidak perlu kau khawatirkan—"
"Aku ingin melihatnya!" Suaraku meninggi satu oktaf.
"Sepertinya dia tidak ingin bersamamu, Zangetsu," celetuk si mata lentik dan disertai tawa mengejek dari si botak. Aku tidak mau berlama-lama di sini, mendapati suasana pertengkaran bodoh yang akan segera di mulai. Kekanak-kanakkan.
Sosok nii-sama keluar dari pintu depan, membuatku lega dan segera berjalan ke arahnya—meninggalkan Ichigo di belakang. Sepertinya nii-sama tidak terluka, selain lengan bajunya yang robek karena sayatan tajam. Pedang. Aku menghela napas melihat nii-sama menatapku lembut, sedikit lega. "Nii-sama."
"Rukia, kau baik-baik saja?" Ucap nii-sama, sedikit membuatku terkejut. Tidak biasanya mendapati sikap nii-sama yang begitu perhatian. "Tanganmu terluka."
"Eh?" Kuangkat sebelah tanganku dan mendapati beberapa goresan merah di sana, mungkin karena pecahan kaca tadi. Bocah berandal tadi—
"Byakuya, bagaimana Tsukishima?" tanya Ichigo yang muncul di sebelahku, kembali mengait lenganku, seperti kait. Dan tatapan nii-sama jatuh pada tangan kami yang menyatu, terlihat terusik.
"Dia sudah ditangkap oleh timmu, biar mereka yang mengurusnya," jawab nii-sama datar. "Dan lepaskan tanganmu darinya, bocah." Kali ini terdengar nada mengintimidasi, lagi-lagi ditunjukkan untuk Ichigo.
(..)
Bau obat pembersih dan menyegat hingga ke hidung, sedikit membuatku mual. Rumah sakit memang tempat yang paling kuhindari selama ini, tidak berniat untuk melangkahkan kakiku ke dalamnya. Tidak sampai saat ini. Untuk melihat keadaan nee-san dan sekaligus mendapat perawatan untuk luka di lenganku. Tentu saja karena desakan Ichigo. Dia panik begitu mendapati luka di lenganku—luga gores—dan bersikeras untuk segera pergi ke rumah sakit. Orang yang terlalu panik dan menyebalkan. Bahkan membuat nii-sama hampir mengeluarkan pedangnya lagi, untuk kedua kalinya.
Aku mendesah lega begitu lenganku sudah terbalut rapi oleh perban putih. Dokter memperbolehkanku untuk segera pergi dengan bahasa isyarat yang sedikit aneh. Tentu saja dengan sebuah senyuman hangat untuk seorang pasien—seperti sebuah kewajiban utama. Aku melangkahkan kakiku menuju koridor rumah sakit, mengikuti arah yang tadi kulalui bersama Ichigo—kamar nee-san. Kulihat sosok Ichigo yang berdiri di depan pintu dengan punggung menempel di dinding. Nii-sama berdiri di sampingnya, dengan wajah enggan untuk sekedar menatap Ichigo. Bahkan suasana terasa hening di sekitar mereka, seperti terlibat dalam sebuah perang dingin. Mengancam bagi orang-orang yang lewat di dekat mereka. Termasuk aku.
Ichigo menatapku dan tersenyum lembut kemudian, membuatku merasa kikuk. Tatapanku jatuh ke arah bibirnya, yang beberapa saat lalu sudah menyentuh bibirku. Lembut, memberikan kecupan dan—arggh! Apa yang sedang kupikirkan sekarang?
"Kau tidak apa-apa Rukia? Bagaimana tanganmu?" tanya Ichigo menatapku bingung.
Aku menggeleng cepat dan menghindari kontak mata dengannya. "Ah, aku baik-baik saja. Kau terlalu berlebihan!"
"Luka kecil bisa menghasilkan luka yang lebih besar, mungil."
Aku berniat mendebatnya lagi, menatap matanya yang kusesali kemudian. Itu bukan pilihan bagus, membuatku kembali mengingat kejadian itu. Dia menciumku. Rasa panas menjalar lagi ke arah wajahku. Menyebalkan.
"Kau ini kenapa? Wajahmu memerah. Kau sakit?" Ichigo mengelus pipiku dengan sebelah tangannya dan memeriksa keningku. Semakin membuatku merasa tidak nyaman dan jantungku hampir meledak.
"Lepaskan tanganmu darinya," ancam nii-sama, membuatku bergidik, tapi tidak dengan Ichigo. Dia membalas nii-sama dengan tatapan tajamnya.
"Ah—aku ingin melihat nee-san," ucapku terburu-buru dan segera menyingkirkan tangan Ichigo dari wajahku. Segera kulangkahkan kakiku mendekati pintu kamar nee-san, menghiraukan dua orang itu yang akan terlibat dalam perang dinginnya lagi. Kumantapkan tekadku dan mengambil napas dalam-dalam, sebelum menarik pegangan pintu dan masuk ke dalam kamar itu. Putih bersih tanpa noda.
~*~(to be continued…)~*~
(..)
(..)
(..)
Author's note:
Dictionary's here:
(1) Freund: Bahasa Jerman yang berarti teman.
Oke, chapter terpanjang hingga saat ini, lot of action things here! Ada dua chara baru di sini, sekaligus musuh dari Ichigo dkk. Tsukishima dan si bocah! Sushigawara-kun! Uppss, maksudku Shishigawara-kun…hehehe XD Mereka menyerang secara tiba-tiba, ditemani juga oleh beberapa rekannya yang sudah ditumbangkan oleh Ichigo. Semoga kalian suka dengan chapter ini~
First kissu, finally! Ah, untuk raracchi-san, aku meralat perkataanku kemarin, ternyata kissu di kuchibiru nya aku munculin sekarang..hehehehe.. Idenya tiba-tiba muncul mendadak XDb gomen~
Byakuya in action! Dou da? Bagaimana? Maaf agak sedikit OOC ya di sini (atau mungkin OOC) demi kelancaran cerita..hehe
Terima kasih untuk para readers yang masih setia membaca fic ini hingga saat ini, dan cerita ini masih akan berlanjut terus! Bagi yang baru membaca, salam kenal untuk kalian semua~ XD Terima kasih atas dukungan kalian, juga melalui review2 yang memberi kritik saran, pendapat, komentar kalian, itu sangat berarti untukku. Juga yang sudah me-fave dan follow cerita ini, terima kasih banyak! Love u all~ *bighug
Bagi yang memiliki pertanyaan, ataupun kritik saran, silahkan melalui review ataupun PM secara langsung~ Terima kasih banyak.
Dan alasan untuk anonymous dan no-login reviewers:
darries: Terima kasih untuk reviewnya, darries-san! XDb Iya, Rukia sudah dikejar2 lagi sekarang…hihihi Ichi lucu ya jadi kamus berjalan *ngebayangin…plakk!* Oke, ini aku udah update ya, semoga kamu suka. Makasih semangatnya~
tiwie okaza: Makasih sudah mereview ya, tiwie-san! XDb Hihihhi…segini udah ngebut? Aku ngetik cepat ini XDb Ini ada romancenya lagi, sedikit nyempil di tengah2… Semoga kamu suka..^^
Nematoda: Makasih sudah mereview, Nematoda-san! XDb Iya, hihihhi aku buat Byakuya dan Hisana juga terlibat jauh di sini, sedikit merubah karakter Hisana juga (tidak sakit2an lagi seperti di manga nya) Makasih banyak Nematoda-san~ Terima kasih juga untuk semangatnya…Semoga kamu suka dengan chapter ini ^^
Thanks for my playlist (jika mau mendengarkan selama membaca fic ini ^^;) :
Tim Mcgraw feat Taylor Swift and Keith Urban: Highway don't Care
Gabrielle Aplin: The Power of Love, Home
Daughtry: Home
The Lumineers: Stubborn Love
Mika: Underwater
Justin Timberlake: Mirrors
Florence And The Machine: No Light, No Light
Of course these songs not belong to me! XD
