"Jim, astaga, syukurlah kau sudah sadar" Taehyung bergerak kesamping Jimin yang sedang berbaring di tempat tidurnya.

Setelah pingsan didepan rumahnya, Minhyun yang kebetulan baru saja pulang melihat Yoongi yang terjatuh bersama Jimin dipelukannya, membantu Yoongi untuk membawa Jimin kedalam rumah.

"Tae.. aku haus" Jimin berguman dengan suara serak.

"Sebentar, Eommonim sedang mengambilkan air hangat" Taehyung menepuk bahu Jimin sekilas dan berjalan kedepan pintu kamar.

"Eommonim, Jimin sudah bangun" teriak Taehyung dari depan pintu.

Ibu Jimin berjalan cepat menuju kamar Jimin diikuti dengan 3 namja yang sedari tadi hanya duduk diam diruang tamu.

"Jim, kau membuat eomma khawatir" Ibu Jimin berjalan menuju Jimin dan memeluk anak satu-satunya itu ditempat tidur.

"Eomma, aku haus" guman Jimin lagi.

"Ini, minumlah" Taehyung menyerahkan segelas air yang tadi dipegangan oleh Ibu Jimin.

"Minhyun, Hyungwon, tolong bantu Jimin duduk" pinta Taehyung.

"Aku saja" sela Yoongi.

"Aku minta Minhyun dan Hyungwon, kenapa…"

"Tae, sudahlah" Ibu Jimin menengahi pertengkaran Yoongi dan Taehyung.

"Eommonim! Dia yang membuat Jimin pingsan!" protes Taehyung.

"Tae, lebih baik ambilkan Jimin minum lagi" pinta Ibu Jimin dan mendorong pelan bahu Taehyung agar keluar kamar.

"Kami permisi saja kalau begitu" Hyungwon terkekeh kosong dan menarik paksa Minhyun dari kamar, mengikuti Ibu Jimin dan Taehyung yang sudah lebih dulu keluar kamar.

"JANGAN TUTUP PINTUNYAAAA" teriak Taehyung dari dapur saat melihat Hyungwon dan Minhyun keluar dari kamar.

.

.

.

DEVIL IN a BLACK COAT

.

.

.

"Mana Yoongi?" Wanita separuh baya dengan mantel bulu tersampir dibahunya menatap pelayan rumah Yoongi dengan tatapan angkuh-nya. Tas bermerek ditangannya diletakkan pelan diatas sofa, kemudian mendudukan diri tepat disamping tas miliknya.

"Sedang keluar kota, nyonya" pelayan rumah Yoongi menjawab dengan sopan.

"Huh? Bukannya kemarin anak itu baru pulang dari luar kota?"

"Iya, nyonya."

"Lalu, kenapa pergi lagi?" Tanya ibu Yoongi sinis.

Pelayan itu terdiam tidak bisa menjawab.

"Eomma… kenapa kesini?" Hoseok muncul didepan pintu, jasnya sudah tidak terkancing, rambutnya terlihat berantakan karena angin.

"Yah, Hosiki, memangnya aku harus izin presiden hanya untuk datang ke rumah anakku sendiri?"

"Bukan begitu, eomma tau sendiri Yoongi hyung jarang di rumah. Kenapa eomma tidak memintaku dulu untuk bertanya Yoongi hyung dimana, jadi eomma tidak sia-sia datang ke rumahnya, kan?" ucap Hoseok dan mendudukan diri disamping ibu-nya.

Ibu Yoongi menyisir rambutnya kebelakang dengan jari sebelum melirik sinis anak bungsunya dari balik kacamata hitamnya. "Kalian sedang menutupi sesuatu dari eomma?"

"Huh? Ma-mana mungkin…" Hoseok mengelak.

"Lalu? Kemana hyung-mu pergi?"

"Kalian, pergi ambilkan kami minum" perintah Hoseok pada pelayan yang sejak tadi menunduk kaku didekat mereka. "Eomma, dengar…" Hoseok berlutut didepan Ibu-nya dan menggenggam kedua tangan Ibu-nya erat-erat.

"Ne, eomma dengarkan" ucapnya angkuh.

"Begini, eomma, Yoongi hyung, dia…" Hoseok kebingungan menjelaskan pada Ibu-nya.

"Kau ini bicara apa, huh? Apa hyung-mu pergi dengan jalang kecil itu lagi? Lihat saja, akan ku jambak rambutnya kalau dia pulang" geram Ibu Yoongi.

"Bukaannn" Hoseok buru-buru membantah.

"Lalu, kemana hyung-mu pergi? Jangan menutup-nutupi apapun dari eomma, Hosiki, atau rambut kalian berdua akan eomma jambak" ancam ibu-nya.

"Hyung… dia… dia.. pergi ke Busan"

"Ke Busan?"

"Iya" Hoseok mengangguk cepat.

"Bekerja?"

"Tidak, Eomma. Eomma ingat kan selalu meminta Yoongi hyung menikah?" Hoseok tersenyum lebar agar lebih meyakinkan soal kebohongan yang akan segera diucapkannya.

"Tentu. Dia sudah jadi lajang tua, sudah saatnya bekeluarga, benarkan, Hosiki?"

"Tentu saja!" Hosoek berucap terlalu semangat. "Yoongi hyung ke Busan untuk mewujudkan impian Eomma yang satu itu" Hoseok berbohong. Yang sebenarnya dia hanya tau Yoongi ke Busan, tapi tidak tau sedang apa disana.

Ibu mereka menyipit, wajahnya bergerak maju menuju wajah anak bungsunya yang sedang berlutut dengan senyum lebar dan terkesan gugup didepannya. "Kau tidak membohongi Eomma, kan, Hosiki?" Guman Ibu-nya penuh ancaman.

"Ma-mana mungkin aku berbohong,…" Hosoek terkekeh gugup, wajahnya sedikit mundur karena wajah ibu-nya yang terlalu dekat.

"Jadi, kapan hyung mu akan pulang? Awas kalau kalian berdua bersekongkol membohongi eomma, kalian tahu apa konsekuensi-nya kan?"

Hoseok menelan ludahnya gugup. Ini gawat. Dia tidak tahu kapan Yoongi akan pulang dan ibu-nya jelas tidak bisa dibohongi soal waktu.

.

.

.

"Jim, biar ku bantu" Yoongi bergerak kearah Jimin dan membantu Jimin untuk duduk dan bersandar di kepala tempat tidur.

"Ne" jawab Jimin pelan. Tangannya mengalung dibahu Yoongi yang menunduk dan perlahan Jimin mendudukan diri. "Gomawo" guman Jimin pelan.

Yoongi mengangguk. "Aku minta maaf" ucap Yoongi entah untuk yang keberapa kalinya.

"Aku juga. Maaf sudah berteriak padamu" Jimin menunduk.

"Aku yang salah"

Jimin terdiam. Enggan menanggapi ucapan Yoongi barusan.

"Jim…"

"Tidak seharusnya aku begitu padamu. Aku sangat menyesal" potong Jimin saat Yoongi baru saja ingin bicara.

"Jim, dengar.."

"Ani. Min Yoongi-ssi, dengarkan aku. Aku yang bersalah disini, aku yang salah mengartikan ucapanmu selama ini. Aku terlalu… entahlah, aku malu mengatakannya, tapi tolong maafkan sikapku selama ini" ucap Jimin, tangannya bergerak saling meremas dibawah selimut yang menutupi pinggang sampai kaki-nya.

"Aku tidak bisa mengikuti gaya pertemananmu. Aku tidak bisa tidur dengan orang yang ku anggap teman-ku. Maaf. Tapi aku harap ini yang terakhir kali kita bertemu" guman Jimin lagi.

Untuknya, begini lebih baik. Lebih baik Jimin mematikan rasa pada namja pucat disampingnya ini dengan cara tidak saling bertemu lagi. Tidak ada marah dan tidak ada dendam sama sekali. Jimin hanya tidak sanggup dan merasa kasihan dengan dirinya sendiri. Dia tidak ingin menyiksa diri dengan mengembangkan harapan dan perasaan-nya pada orang seperti Yoongi.

"Kau bahkan tidak ingin berteman denganku?" Yoongi menatap lurus pada Jimin yang sedang menunduk.

"Tidak. Maaf"

Yoongi menangguk. Rasanya sakit sekali saat kau tidak diharapkan seperti ini. Pria di depannya ini sedang menolaknya secara halus, entah kenapa hal ini membuatnya merasa seribu kali lebih sakit dibanding dengan Jimin yang memberontak kasar dan berteriak padanya.

"Aku mengerti. Boleh aku memelukmu sebentar?" pinta Yoongi.

Jimin menelan ludahnya gugup. Perasaanya masih berantakan, membiarkan pria ini memeluknya sama saja akan membuat pertahanan Jimin hancur tanpa sisa. Bisa-bisa Jimin dianggap murahan karena memohon agar Yoongi berada disisinya.

Tapi, siapa Jimin jika dibandingkan dengan artis sekelas Stevi Kim?

"Tidak. Maaf" tolak Jimin halus.

Yoongi terdiam kaku, kebingungan harus seperti apa dia bertindak sekarang. Jimin yang seperti ini sangat berbeda dengan Jimin yang selama ini memberontak padanya.

"Pulanglah. Terimakasih sudah datang jauh-jauh dan meminta maaf padaku" Jimin melirik sekilas pada Yoongi dan tersenyum kecil.

Yoongi terdiam lagi. Tanpa permisi, Yoongi mendekat dan mencium kepala Jimin sebelum dia keluar dari kamar Jimin dan menutup pintu kamar itu pelan tanpa berkata apapun lagi.

"Tidak apa, Jiminie. Begini lebih baik" Jimin menghapus kasar air matanya yang turun tiba-tiba. "Kau pasti bertemu dengan orang yang lebih baik lagi" ucap Jimin menyemangati dirinya sendiri dan terlihat sia-sia karena nyatanya air matanya makin deras mengalir.

"Jim, kau…" Taehyung terdiam didepan pintu.

Saat Yoongi permisi untuk pulang, Taehyung buru-buru masuk ke kamar Jimin untuk memeriksa keadaan temannya itu didalam kamar. Taehyung agaknya sudah bisa menebak yang akan terjadi selanjutnya.

Jimin menangis meraung-raung dipelukannya.

.

.

.

TBC

*Lari naruto*

*Diserang 'Kok dikit banget, thor Nojutsu' dari kakak yorobun*