Title : KissMons
author : DandelionLeon
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, other member Exo. Dan sebagai tambahan di chapter ini : Byun Baekbeom, Appa & eomma Byun. Other cast cari sendiri.
Genre : Romantic, humor, gak jelas.
Rate : M (menyesatkan) XD
Disclaimer : member Exo milik emak bapaknya, saya cuma pinjam nama aja. Fanfic ini murni dari otak somvlak saya yang dibumbui kemesuman tingkat senior high school /halah/
Warning : YAOI, cerita aneh, banyak adegan mesum, DLDR! Dan yang mau nyontek ff aneh ini, sebaiknya kalian fikir dua kali karena kalian sendiri yang bakal rugi .
.
.
DandelionLeon present...
.
.
Here we go
.
.
Biasakan review setelah baca!
.
.
Action!
.
.
PRAAANGGG!
Suara bising dari sebelah kamarnya membuat Baekhyun terbangun dari tidurnya-atau mungkin pingsannya. Matanya yang sipit itu menatap kekasihnya yang masih tertidur dengan tatapan tajam. Di guncangkannya bahu tegap telanjang itu dengan kuat. Berharap kekasih raksasanya itu akan terbangun.
"Chanyeol... Bangun."
"hmm..."
Chanyeol masih tertidur dengan pulasnya, hanya gumaman yang sangat pelan yang terdengar oleh telinga Baekhyun. Lelaki mungil itu berdecak. ia mengumpat kesal dengan tingkah kekasihnya itu.
"YEOL! BISAKAH KAU BANGUN?" sukses, pekikan nyaring yang langsung mengenai telinga lebar Chanyeol itu membangunkan si lelaki jangkung dari acara mimpi indahnya.
"ADA APA_"
BUUUUGGHHHHHH...
Pekikan Chanyeol terhenti, saat mendengar suara keras dari kamar Jongin dan Kyungsoo terdengar. Baekhyun menatap Chanyeol dengan panik. Sedangkan Chanyeol, ia hanya menguap dengan lebar lalu kembali bergelung masuk ke dalam selimut.
"Yak! Kenapa kau tidur? Bagaimana jika terjadi di sebelah sa_"
AKKKHHHH...
Diameter mata Baekhyun membesar saat mendengar pekikan Kyungsoo. Oh tidak, malangnya nasib tetanggaku itu... Fikir Baekhyun dengan berlebihannya.
"Yeol! Ayo kita ke sana, Kyungsoo berteriak, pasti terjadi sesuatu."
Chanyeol mengintip Baekhyun dari ekor matanya. Ia menarik tubuh telanjang Baekhyun ke dalam pelukannya.
"Yak! Kenapa malah memelukku?" Sungut Baekhyun dengan kesal.
"Kau lihat jam berapa sekarang." Bisik Chanyeol. Sungguh jawaban yang tidak sinkron dengan pertanyaan yang diajukan Baekhyun tadi.
Mata Baekhyun menyipit, ia melihat keberadaan jam dinding dengan sedikit sulit karena lampu kamar mereka sama sekali belum dinyalakan sejak kegiatan panas mereka tadi sore.
"Jam setengah dua belas, kenapa?"
"Mereka tengah bercinta."
"B-bercinta? Lalu kenapa Kyungsoo berteriak tadi? Lalu, ada suara benda terjatuh!"
Chanyeol terkekeh menyadari kepolosan kekasihnya itu. Ia mendekatkan wajahnya pada leher Baekhyun lalu menjilatnya perlahan.
"eunggh... Jangan dijilathh..." lenguh Baekhyun disertai protesan yang terdengar pelan. Chanyeol menghentikan aksinya. Ia menatap mata Baekhyun lalu mengusap pipi halus anak itu.
"Dijilat saja sudah bersuara, bagaimana jika bercinta? Kau jangan pura-pura lupa Baekkie. Bahkan kita hampir saja mematahkan kaki ranjang ini. Pasti Kyungsoo dan Jongin juga sedang melakukan hal seperti kita tadi." Jelas Chanyeol enteng.
"Seperti kita tadi?"
"Yeah, seperti kita. Tetapi tentu saja dengan cara yang berbeda, kkkk"
"Byuntae!"
Baiklah, jika diingat kembali. Chanyeol memang benar-benar menghajar lubang Baekhyun sampai Baekhyun merasa pinggangnya akan patah jika tak dihentikan. Mereka bercinta hingga delapan ronde, itu belum termasuk saat mereka bercinta di depan cermin. Ughh... Chanyeol memang perkasa, Baekhyun akui itu. Tapi tetap saja menyebalkan, karena lelaki itu Baekhyun tidak jadi pulang ke rumahnya.
"Yeol, kau harus bertanggung jawab! Aku tidak jadi pulang karena ulahmu!"
Chanyeol menatap Baekhyun datar. Tangannya kembali menarik Baekhyun ke dalam pelukannya.
"Besok saja marahnya, eum? Aku mengantuk sekali Baekkie~"
"memangnya ada marah yang ditunda? Aisssh! Salahmu sendiri 'kan?"
Akhirnya kedua anak adam itu memilih untuk segera berlayar menuju mimpi. Dari pada mendengar desahan di sebelah kamar mereka, lebih baik tidur saja.
.
.
"Perhatian! Semuanya! Perhatiaaaan!"
DUUKKK... DUUUKKK... DUUUKkkk...
Suara pukulan meja tersebut menghentikan aktifitas murid-murid di kelas Baekhyun. Si tersangka pemukul meja menghela nafasnya berat sebelum memulai pembicaraan. Satu detik... Dua detik... Ia masih memejamkan matanya... Tiga... Empat... Lima...
"Yak! jika tidak jadi bicara, lebih baik kau duduk saja di bangkumu! Kami ingin bermain bola!" Ucap Jeongmin dengan wajah datar.
Sungguh, si tampan bertubuh sedikit tinggi dan sedikit pendek di depan sana sudah menggeretakkan giginya penuh kesal. Ia merasa tidak di hargai sebagai ketua kelas.
"Hey Suho! Sudah belum? Kenapa kau jadi diam eoh?"
Suho menatap Youngmin tajam. Lelaki yang baru saja di pangkas cepak oleh guru BK itu balik menatap Suho tajam. Masih dendam karena gara-gara Suho yang melaporkannya, rambut emasnya menjadi rambut tentara saat ini.
Oke, lupakan saja bocah itu dengan dendam dan rambut tentaranya. Kita balik pada Suho. Ia mencoba bersikap tenang lalu tersenyum bak malaikat.
"Terimakasih atas perhatiannya. Aku akan mengatakan pengumuman penting dari kepala sekolah. Kalian tau bukan acara Ulang tahun sekolah sebentar lagi? Jadi, seperti ritual biasa. Kita akan mengadakan acara. Sebagai kejutan, anak dari sekolah putri yang ada di sebelah sekolah kita akan menjadi tamu spesial di acara ini."
YEAAAYYYY...!
Teriakan senang dari beberapa siswa di kelas itu membuat suasana ricuh. Bagi sebagian siswa normal, tentu saja mereka senang dengan kedatangan 'siswi-siswi cantik dari sekolah sebelah. Tetapi itu tidak berlaku untuk mereka yang abnormal. Sebut saja salah satunya Chanyeol. Lelaki itu hanya menguap tak peduli. Malam panasnya bersama Baekhyun semalam sudah cukup membuatnya lelah. Ia melirik Baekhyun yang kini sudah tertidur lelap dengan kepala diatas meja. Ia tersenyum lembut lalu mengusap puncak kepala lelakinya itu dengan sayang, sungguh manis.
DUUUKKKK... DUUUKKKK...
'sial! Membuatku terkejut saja!' umpat Chanyeol dalam hati saat Suho kembali memukuli meja. Suasana ricuh kembali tenang. Suho mulai berdehem kembali lalu melanjutkan ucapannya yang tertunda.
"Belum selesai aku berbicara! Jangan senang dulu kalian! Masing-masing kelas akan menampilkan satu bakat yang akan di tampilkan di kontes nanti. Kelas kita akan menampilkan apa?" Tanya Suho terlampau semangat.
"Sexy dance saja, ho."
Suho menatap Kris dengan wajah datar minta di hajar. Bukan... Bukan karena usul Kris ia kesal. Justru karena sebutannya itu.
"Memangny disini ada yang namanya 'Ho'?" Tanya Suho sinis.
"Siapa bilang aku mau memanggilmu? aku tadi hanya tertawa."
Dasar Kris gila! Memangnya ada ketawa seperti itu?
"Dasar bule sinting!" Ujar Suho penuh kekesalan.
"Sudahlah, bagaimana usulku tadi?"
Suho terlihat berfikir. Sexy dance? Terdengar bagus bukan? Apalagi jika yang melakukannya itu Lay. Oh Tuhan, membayangkannya saja sudah membuat Suho ingin mimisan sekarang juga. Pasti Sexy sekali. Ingatkan si ketua kelas itu untuk segera merubah ekspresi mesumnya sekarang juga.
"Baiklah! Aku setuju! Kita akan mengundinya nanti."
Terdengar helaan nafas tak suka dari beberapa murid disana. Suho memang suka seenaknya sendiri. Bahkan mereka belum sempat mengajukan setuju atau tidak. .
.
Baekhyun dan Chanyeol berjalan dengan tangan bertautan. Seragam sekolah mereka sudah berada di ruang binatu beberapa saat lalu. Tentunya saat ini mereka tengah memakai pakaian casual biasa. Chanyeol dengan sewater turtle neck krim dan juga mantel tebal panjang berwarna coklat gading. Ia juga memakai celana jeans berwarna hitam, disertai sepatu sneakers abu-abu. Sedangkan lelaki mungilnya tampak manis dengan balutan jaket bulu berwarna hijau lumutnya. Celana skinny hitamnya membuat Chanyeol bisa leluasa memperhatikan bagaimana sexy nya kaki itu. Ughh... Hampir saja pisang Chanyeol tegang memikirkannya.
Ah, sebelumnya ada hal yang harus kalian ketahui. Keduanya tengah berjalan menuju kediaman Byun berada. Kebetulan esok juga hari minggu. Lagi pula Baekhyun bersikeras pulang karena sebelumnya ia ditahan oleh Chanyeol agar tak bisa berjalan satu senti pun.
Chanyeol melirik Baekhyun. Sesekali pemuda mungil itu akan meringis kesakitan. Mungkin bagian bawahnya masih sakit. Chanyeol jadi tak tega. Ia berjalan mendahului Baekhyun lalu berjongkok.
"Hey, tak ada waktu untuk bermain. Sedang apa kau berjongkok disitu?"
"Ck! Dasar bodoh! kau lihat yang seperti di drama-drama? Aku ingin menggendongmu tentu saja!
Baekhyun mengusap hidungnya yang memerah akibat suhu yang mulai menurun. Ia memakai topi jaketnya yang kebesaran. Kaki mungilnya mendekati Chanyeol lalu dengan santainya ia memeluk leher Chanyeol. Tentu saja ia senang mendapat tumpangan gratis seperti sekarang.
"Baiklah, kajja!" Pekiknya riang. Chanyeol sampai berfikir. Sebenarnya umur Baekhyun itu tujuh belas tahun atau lima tahun sih?
"Peluk yang erat. Aku tidak ingin kau terjatuh lalu aku akan di hajar oleh Byun Appa."
Baekhyun mencibir di belakang Chanyeol. Setelahnya lelaki itu menyenderkan kepalanya pada pundak kokoh Chanyeol yang lebar. Ia mengendus harum tubuh Chanyeol yang menenangkan.
"Yeollie, Kenapa kau ingin ikut ke rumahku?" Tanya Baekhyun.
"Memangnya salah jika aku ingin bertemu calon mertua?"
PLAKK... Sebuah tepukan di kepala Chanyeol lantas membuat lelaki tinggi itu tersenyum bodoh. Ia tau di belakang sana Baekhyun tengah merona hebat.
"Idiot!"
"Omong-omong, tubuhmu ringan sekali."
Baekhyun tak mempedulikan ucapan Chanyeol. Ia tau, ujung-ujung lelaki itu pasti akan berucap mesum seperti biasa.
"Baekkie?"
"..."
"Baekhyunnie?"
"..."
"Baekhyun?"
Tetap tak ada sahutan. Sebuah dengkuran halus menjawab segalanya. Lelaki itu terkekeh geli. Menyadari tingkah kekasihnya yang entah mengapa terasa menggemaskan. Chanyeol memang bukan tipe lelaki yang menyukai hal-hal chessy. Tetapi saat di dekat Baekhyun, semua sirna begitu saja. Cinta memang bisa mengubah segalanya eoh? Menggelikan!
Langit mulai berubah warna menjadi jingga, mentari pun mulai menenggelamkan dirinya. Rumah Baekhyun mulai dekat. Chanyeol berjalan kesana dengan senyuman, namun tak bisa di tampik bahwa jantungnya berdegup kencang. Takut dengan respon yang akan ia terima nanti. Apakah ia diterima? Atau justru di usir karena berani mengubah orientasi anak kesayangan keluarga Byun itu? Entahlah. Dengan gugup ia menekan bel yang berada di dekat pagar rumah Baekhyun.
Rumah itu tergolong besar, tak jauh beda dengan rumah Chanyeol. Pagarnya tinggi menjulang berwarna putih gading. Tak lama setelahnya, pagar tersebut terbuka, menampakkan sesosok satpam disana.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?"
"em, aku dan Baekhyun ingin menemui eomonim Byun."
Chanyeol menunjuk Baekhyun yang tertidur pulas di punggungnya. Satpam itu pun menggerti. Ia tersenyum sesaat lalu mengantarkan Chanyeol-dan Baekhyun- ke depan pintu utama rumah tersebut.
"Pencet saja belnya tuan. Tuan dan nyonya pasti ada di dalam."
Chanyeol berterima kasih pada satpam paruh baya itu. Setelah satpam itu pergi, ia mulai memencet bel rumah tersebut.
Ting... Tong...
ting... Tong...
"Tunggu seben_ Nugusseyo?" Chanyeol tersenyum tipis saat lelaki mirip Baekhyun itu melihatnya penuh selidik.
"Annyeonghasseyo, aku Park Chanyeol. Aku dan Baekhyun_"
"Kau Chanyeol?" Tanya lelaki itu yang sudah dipastikan itu adalah hyung Baekhyun, Byun Baekbeom. Tubuhnya yang memang tak setinggi Chanyeol membuatnya sedikit mendongak untuk melihat wajah Chanyeol secara jelas. Walau dia tidak sependek Baekhyun tentu saja.
"N-ne." Entah mengapa Chanyeol merasa ciut. Apalagi saat mata sipit itu memandangnya dengan memicing. Bahkan sempat tadi Baekbeom mengendus bau tubuhnya. Hell! Memangnya Chanyeol itu bau?
"H-hyung-nim?"
'Apa aku tidak diterima? Ck! Bagaimana ini?' batin Chanyeol gelisah. Tetapi pekikan dengan binar senang dari Baekbeom membuat pemikiran negatif Chanyeol menguap begitu saja entah kemana.
"Woah! Kau Chanyeol? Chanyeol yang dulunya gendut dan berani mencium adikku yang imut kan? Jinjja? Daebakk! Kau sudah berubah pesat! Apa kau operasi plastik? Hahaha."
Chanyeol tersenyum kikuk. Ia menggeleng bermaksud mengatakan dirinya 'tidak pernah operasi plastik sama sekali'. Heol, ternyata adik dan hyung sama saja. Sama-sama cerewet dan juga terlalu berlebihan dalam berekspresi.
"haha, pasti tidak! Wajahmu masih mirip kok. Aku hanya bercanda oke? Ah! Ayo masuk, udara sangat dingin. Eomma pasti senang kalian datang! Eomma~ yuhu~"
Chanyeol menatap calon hyung iparnya itu datar. Ia mengikuti kemana arah makhluk langka itu berjalan. Ruang makan adalah sasaran utama mereka. Kebetulan sekali Chanyeol dan Baekhyun datang disaat seperti sekarang. Ia melihat nyonya Byun terlihat sibuk memasak-entah apa itu. Sedangkan Tuan Byun terlihat duduk santai di kursi meja makan dengan secangkir kopi.
"Eomma, Appa! Tebak siapa yang datang?"
Chanyeol menyentak tubuh Baekhyun pelan karena dirasanya tubuh mungil itu mulai merosot jatuh dari punggungnya. pegal juga sih membawa makhluk kecintaannya itu.
Tuan Byun dan Nyonya Byun melihat ke arah Chanyeol. Dengan sopan si jangkung mulai membungkuk hormat pada keduanya.
"Annyeonghasseyo. Ahjussi, ahjumma."
"Ommo! Chanyeol-a? Aigoo~ Sudah lama tidak bertemu, kau semakin tampan saja, hm?"
Chanyeol tersenyum malu saat di beri pujian oleh ibu Baekhyun itu.
"Kau anaknya Park Jinyoung kan? Astaga! Kau sudah tumbuh dewasa eoh?"
Jadilah mereka membicarakan Chanyeol. Bagaimana dengan Baekhyun? Ayolah! Kenapa mereka tidak mencari keberadaan si pendek itu?
"Err, ahjumma. Dimana kamar Baekhyun?"
"Mwoya? Kau tidak sabar ingin melakukan 'hmm' dan 'hmm' dengannya eoh? Hahahaha." Goda Tuan Byun diikuti gelak tawa dari nyonya Byun dan Baekbeom. Padahal ia sama sekali belum pernah menceritakan apa hubungan dia dengan Baekhyun.
"A-aniyo. Baekhyun tertidur, sepertinya kelelahan."
"kkkk, kamarnya ada di lantai dua. Yang pintu kamarnya berwarna putih dengan gantungan stroberi." Terang nyonya Byun.
"Arasseo, gomapseumnida. Aku naik ke atas dulu."
"Nanti kalian harus turun untuk makan malam eoh? Eomma akan membuatkan masakan enak."
"Ne, ahjumma"
.
.
Chanyeol meletakkan tubuh ringan Baekhyun di atas ranjang empuk dengan motif batman. Ia menyalakan saklar lampu. Ingatkan Chanyeol untuk menutup mulutnya yang menganga. Ruangan tersebut bernuansa gelap, terdapat beberapa poster bintang rock terpasang disana-sini. Apakah sebegitu gilanya Baekhyun untuk berubah menjadi 'manly' ? setidaknya warna kamarnya tidak hitam juga kan?
"aigoo, berbanding terbalik dengan sikapnya yang manja, cengeng dan juga sedikit girly." Komentar Chanyeol. Ia mendekati ranjang Baekhyun. Dilepasnya jaket parasut-sedikit berbulu- itu dari tubuh ramping Baekhyun.
"ush... Ush... Jangan terbangun." bisik Chanyeol saat tubuh Baekhyun menggeliat. Setelahnya lelaki tampan itu menghidupkan penghangat ruangan-karena Chanyeol tau Baekhyun tak tahan dingin. Ia ikut melepaskan mantelnya lalu meletakkannya pada bangku belajar Baekhyun berada.
Dipandanginya wajah cantik itu. Tangannya membenarkan anak rambut Baekhyun yang halus. Ia mengecup dahi Baekhyun setelahnya.
"Aku senang karena keluargamu menerimaku dengan baik."
"nghh..."
Chanyeol tersentak saat tubuh Baekhyun menggeliat tak nyaman. Ia mengusap kepala Baekhyun. Mata sipit itu akhirnya membuka juga.
"Chanyeol? Kita dimana?"
"Di neraka." Ucap Chanyeol dengan ekpresi datarnya.
"Pantas saja gelap." Ucap Baekhyun dengan suara khas orang baru bangun tidur.
"Dasar bison mini!"
Baekhyun terkekeh geli. Ia menarik leher Chanyeol lalu memeluknya posessif.
"Bagaimana dengan keluargaku?"
"Mereka baik, tidak sepertimu." Canda Chanyeol.
Dengan kesal Baekhyun menggigit rahang Chanyeol kuat. Membuat Chanyeol memekik sakit.
"Hey! Kenapa menggigitku?"
"Siapa suruh kau menyebalkan?" rajuk Baekhyun disertai bibirnya yang mengerucut minta di cium.
"kau ingin ku cium?"
"Tidak! Aku tidak mau berakhir di bawahmu. bokongku masih sakit Yeol."
Chanyeol tersenyum miring lalu mengecup bibir itu singkat.
"Salah sendiri kau menggodaku."
Chanyeol mengecup bibir itu lagi. Hingga berulang-ulang. Baekhyun tersenyum menanggapi. Kecupan ringan itu menjadi lumatan-lumatan kecil. Chanyeol mulai menghisap bibir itu dengan gerakan sensual. Lidahnya menjilat-jilat belahan bibir tipis Baekhyun. Baekhyun membuka akses lebih untuk Chanyeol dengan membuka mulutnya. Lidah basah Chanyeol melesak dengan kurang ajar. Mengobrak-abrik rongga mulut Baekhyun. Tautan lidah tak terelakkan lagi. Beberapa kali lenguhan terdengar yang mana semakin membuat Chanyeol hampir kehilangan akal sehatnya.
Tubuhnya yang menindih tubuh Baekhyun itu membuat lelaki mungil di bawahnya mulai sesak akibat kekurangan oksigen. Belum lagi ciuman liar Chanyeol yang semakin lama kian menuntut saja.
"Engghh...mmhh... Cppkk... Mmm..."
Suara decakan, erangan dan juga lenguhan halus terdengar. Tangan Chanyeol mulai merambat di sekitar leher Baekhyun lalu turun pada dada lelaki itu. Ia memasukkan tangannya ke dalam sweater dengan rajutan halus yang Baekhyun kenakan. Menekan puting Baekhyun berulang kali.
Seakan tersadar dengan perbuatan mereka. Baekhyun mulai memberontak. Ini di rumahnya. Orang tuanya dan juga hyungnya berada di bawah. Baekhyun tak berani menjamin Chanyeol takkan berbuat lebih dari ini. Lelaki mesumnya itu jika sudah di pancing sedikit maka ia akan lupa segalanya. Bagaimana jika nanti Baekhyun mendesah kuat? Chanyeol akan menghajarnya kuat hingga ia tak mampu menahan suaranya. Ibunya akan mendengar lalu mereka akan 'tamat' .
"Hmmpph... Hmmmph..." Baekhyun memekik tertahan. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Chanyeol yang kesal karena kegiatannya terganggu dengan kesal menangkup pipi Baekhyun dengan kedua tangannya. Tak ia pedulikan tangan kurus Baekhyun terus memberikan pukulan-pulan ringan di dadanya.
"Chanyeol, Baekhyun ayao kita ma_ OH Ya AMPUN!" Pekikan Baekbeom menghentikan aksi panas yang dilakukan Chanyeol. Baekhyun tersenyum lemah pada hyungnya. Ia berterima kasih dalam hati. Jika saja Baekbeom tidak datang, mungkin ia sudah di telanjangi oleh Chanyeol.
.
.
Suasana makan malam terasa canggung-bagi Chanyeol dan Baekhyun tentunya. Chanyeol makan dengan tenang. Sesekali ia akan tertawa ringan saat mendengar lelucon yang di lontarkan tuan Byun atau nyonya Byun. Sedangkan Baekhyun menunduk dalam sambil memakan nasi. Baekbeom terus menatapnya dengan tatapan sulit di artikan.
"Baekkie? Kenapa menunduk begitu?"
Baekhyun mengangkat wajahnya saat sang ibu menegurnya. Pipinya terlihat merona.
"Ommo! Kenapa bibir anak eomma menjadi tebal begitu?"
"Dia baru saja berciuman panas dengan Chanyeol, eomma." Ucap Baekbeom dengan santainya.
"Uhhhukkk..."Chanyeol tersedak dengan air putih yang hendak di minumnya. Baekhyun menatap hyungnya kesal. Ia melempari kakak lelakinya itu dengan sebutir buah anggur, namun Baekbeom menghindar dengan cepat.
"Ehhem..." deheman sang ayah membuat Baekhyun terdiam. Aksi lempar-melemparnya terhenti sejenak.
"Apakah itu benar?" Tanya Tuan Byun pada Chanyeol. Chanyeol menggeleng kuat, lalu mengangguk, lalu menggeleng lagi membuat ibu Baekhyun terkekeh.
"kalian manis sekali. wajar saja kan yeobeo? Anak zaman sekarang memang tidak bisa di duga."
"Hm, asal jangan kelewat batas saja. Appa mengizinkan kok."
Baekhyun menatap ayahnya tak percaya. Semudah itu ayahnya memberi izin?
"Appa? Tetapi kami itu sesama lelaki_"
"Kata siapa? Appa selalu menganggap Baekkie itu gadis kecil appa yang tomboy, kkkk" Ucap pria bertubuh tambun itu.
"Mwoya? Ck! Aku ini namja, Appa!"
"Namja, tetapi dicium saja wajahnya seperti wajah orang hampir mati."
"HYUNG!"
.
.
Malam yang terasa hangat. Chanyeol merasa seperti kembali di tengah keluarganya. Selesai makan makan malam tadi, mereka mengobrol sesekali bercanda di ruang keluarga. berulang kali pula Baekbeom menggoda Baekhyun atau Chanyeol. Chanyeol terkekeh membayangkan kejadian beberapa waktu lalu. Baekhyun yang tengah mengganti spreinya dengan yang baru-kali ini motif sinchan- melihat Chanyeol yang duduk di kursi belajarnya dengan bingung.
"Chanyeol? Jangan tertawa sendiri. Kau membuatku takut."
Chanyeol menatap Baekhyun yang baru saja selesai merapikan tempat tidurnya. Ia berjalan membantu Baekhyun untuk mengambil selimut di dalam lemari.
"Tidak, keluargamu sangat menyenangkan! Terutama Appa mu."
Chanyeol tak berbohong. Karena ia sangat suka dengan sosok ayah yang suka bercanda seperti ayah Baekhyun atau ayahnya.
"Ck! mereka hanya bertingkah sok manis di depanmu saja!"
"Benarkah? Ah~ lelahnya." Chanyeol membaringkan tubuhnya di ranjang Baekhyun.
"Wangi tubuhmu, hehe." Ucapnya setelah mengendus selimut tebal Baekhyun.
"Tentu saja! ini kan selimutku." Ucap Baekhyun lalu ikut berbaring di sebelah Chanyeol.
"Lain kali aku akan mengajakmu ke rumahku."
Baekhyun menjauhi sedikit tubuhnya.
"Apakah keluargamu menyeramkan?" Tanyanya dengan mata memicing.
"Ck! Keluargaku bukan prederator! Appa dan eomma tak jauh beda dengan orang tuamu. Mungkin, Yura noona yang akan menghajar pipimu hingga melar. Kau tau Baek? Dia benar-benar ingin bertemu denganmu! Baru saja aku memperlihatkan fotomu, dia sudah memekik seperti orang gila."
Baekhyun mengernyit kembali.
"Dari mana kau mendapatkan fotoku?"
Dan Chanyeol terkekeh sambil menunjukkan v-sign dari jemarinya.
"hehe, aku mencurinya saat kau sedang tertidur."
"YAK! SIALAN KAU!"
.
.
Udara pagi ini membuat Baekhyun tersenyum. Setidaknya hari ini sedikit lebih cerah dari kemarin hari. Ia gantian menggoda hyungnya yang akan segera menikah itu.
"Hyung, nanti malam pertama kau harus membuat istrimu tergeletak telak." Ucapnya dengan wajah mesum. Oh, sepertinya ia sudah tertular oleh Chanyeol.
Baekbeom menepuk kepala anak itu dengan sebal.
"Kau masih sekolah! Tau apa kau tentang malam pertama atau sejenisnya? Berciuman dengan Chanyeol saja wajahmu sudah seperti wajah orang mati!"
'eyy... Bahkan kami sudah sering bercinta.' gumam Baekhyun bangga dalam hati.
"Ck! Byun Baekbeom, aku ingin bertanya hal privat." Bisik Baekhyun dengan alis naik turun menggoda hyungnya. Baekbeom menjitak kepala adiknya itu.
"Panggil aku 'Hyung'! Ah~ atau 'oppa' juga boleh, kau dulu kan pernah menangis seperti orang gila hanya karena ingin memanggilku 'oppa', hahahaha."
"Yak! Jangan bawa masa lalu!" Pekik Baekhyun dengan wajah merona. Dan seperti itu lah. Byun bersaudara itu saling melempar ejekan satu sama lain. Chanyeol menatap keduanya linglung.
DRRTTT... DRRTT... Ponselnya bergetar. Ia mengernyit saat melihat nomor tak dikenal itu ada di layar handphonenya.
"Yeoboseyo?"
'Bagaimana kabarmu Chanlie?'
DEG! Suara ini...
"Mau apa kau?" Tanya Chanyeol, atau lebih terdengar seperti desisan. Ia menjauh dari tempat Baekhyun dan Baekbeom berada.
'Santai saja, kenapa kau seperti sekarang?'
"Apa maumu?"
'Aku merindukanmu, Chanlie.'
"Ck! Tidak usah berbasa-basi!" Chanyeol mencoba mengontrol emosinya.
'Hm, baiklah. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku sudah kembali ke Korea.'
Chanyeol terdiam. Menghadapi makhluk yang satu ini tentunya ia harus bisa menjaga sikap. Jika tidak, tau sendiri akibatnya.
"Lalu apa hubungannya denganku?" Ucap Chanyeol disertai senyum sinisnya.
'Jangan pernah lupakan bahwa aku ini adalah calon istrimu.'
"Dalam mimpimu, Bae Suzy!"
.
.
To be continued
.
.
Sejujurnya aku udah males nulis FF lagi. Tau deh, semangatku nguap entah kemana. Ide ngilang gitu aja. Dan respon readers yang gak begitu memuaskan.
Ah, sebelumnya aku udah janji bakal buat FF ini gak ada konflik, tapi bisa aja aku berubah fikiran. walau kalian benci ini, tapi... Setelah difikir memang cerita tanpa konflik terasa kayak Luhan tanpa Sehun /ga/ ... Ehm, siapa sosok suzy? Ntar aja dikasih tau.
Oke, segitu aja dulu. Gomawo buat yang masih mau ninggalin jejak review di ff aku ini. Kalian yang terbaik.
Saya akan sangat senang jika anda memberi satu review aja buat saya... Oke? /kedip ganjen/
Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
