.

Berlari menyongsong asa.

Jauh ke depan dengan sejuta harapan.

Langkah kaki ini melemah.

Namun kau menolongku.

Kau menolongku.

.

..

..

Réamhaisnéis

(oracle/prophecy/ramalan)

A TAEKOOK's fanfiction.

AlphaDominantAbsolutePureBlood Taehyung x OmegaPureBlood Jungkook.

AlphaDominantPureBlood Hankyung x BetaPureBlood Heechul.

AlphaHalfBloodGuardian Jimin x BetaPureBlood Yoongi.

AlphaDominantPureBlood Namjoon x OmegaPureBlood Seokjin.

BetaPureBlood Hoseok x BetaMoonChild Nara.

Another cast? You can find it in the whole story.

Vampire life, Alpha Beta Omega Universe, MPreg.

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

Pertama, maafkan atas keterlambatan yang rasanya tak berujung ini. Benar-benar maaf. Banyak kejadian yang menghambat penyelesaian chapter ini. Yang paling utama adalah, kenyataan kalau seharusnya cerita ini sudah berhenti di bagian TaeKook bulan madu. Karena awalnya cerita ini hanya akan berhenti di sana. Namun, setelah sekian lama, akhirnya aku bisa menemukan plot untuk menyambung kebuntuan aku itu.

Jadi, let's enjoy!

..

..

..

Keheningan melanda keluarga itu sesaat setelah seluruh keluarga istana sampai di apartement mereka. Maru yang terpisah dengan Seongim kini sudah kembali bertemu. Permaisuri yang baru saja ditinggal kekasih abadinya untuk selamanya itu tersenyum tipis melihat itu semua dan berlalu ke kamarnya. Yoongi menyusul sang bunda meninggalkan Hwan yang memandang bingung ekspresi Yoongi di dalam gendongan Seokjin. Jimin tersenyum pada Seokjin yang telah menjaga putranya dan membawa putranya itu ke kamar mereka juga. Sedangkan Taehyung, tak mengeluarkan sepatah kata apapun, maupun melakukan pergerakkan apapun semenjak mereka kembali dan ia memilih bersandar di pembatas balkon ruang tamu mereka. Benar-benar tanpa pergerakkan berarti namun di dalam benaknya banyak sekali hal yang berkecamuk di dalam kepalanya. Saat Jungkook ingin bergerak menghampiri Taehyung, Hoseok menahan pergerakkan sang adik dan memilih bertemu langsung dengan Taehyung.

"Kau sudah mengetahuinya." Ucap Taehyung datar begitu Hoseok berada di hadapannya.

"Ya." Balas Hoseok singkat.

"Kenapa?" Tanya Taehyung lagi.

"Untuk kita yang memiliki sang ramalan sebagai penuntun arah kita, dan bagiku yang memiliki penglihatan itu… bukanlah hal yang benar untuk mengotak-atik takdir itu sendiri." Jawab Hoseok.

"Huh? Takdir? Tidakkah kau berpikir eksistensi kita sendiri di dunia ini sudah menyalahi aturan takdir?" desis Taehyung rendah.

Hoseok hanya menggelengkan kepalanya dan melihat Taehyung dengan Teal bersinarnya. "Kalau kau, yang kugariskan langkah kakimu adalah sebuah kesalahan dari aturan takdir, maka aku takkan memberikan kebahagiaan yang mengiringi garis takdirmu, Yang Mulia." Nada mengawang itu kembali muncul bersamaan dengan mata yang berpendar indah itu. "Dan dia yang memiliki penglihatanku ini sudah tahu resiko dari mengotak-atik garis takdir. Tapi kau tak bisa menyalahkannya karena ia menyelamatkan masa depan kalian. Vampire kecil yang memiliki garis takdir yang erat berkaitan dengan masa depan kalian." Dalam satu kerjapan mata, pendar itu menghilang dan Hoseok kembali pada fokusnya.

"Jadi aku harus menerima begitu saja?" desisan itu kembali terdengar.

"Tidak, kau tidak harus, tapi aku yang harus. Penglihatan ini mengharuskanku untuk bersabar dengan masa depan yang kulihat dan penglihatan ini juga mengharuskanku memutar akalku untuk menghalang hal buruk yang terjadi di keluargaku. Kadang, aku merasa sang ramalan tidak memberkahiku namun sedang menyiksaku. Yang Mulia, kebijaksanaan haruslah menjadi dasarmu seperti bagaimana Raja Hankyung memimpin kerajaan ini." Nasehat Hoseok dan berlalu setelah menepuk pelan bahu kokoh Taehyung yang terlihat rapuh saat ini. Karena kini ia hanyalah seorang anak yang kehilangan ayahnya, panutannya, pahlawannya dan kini ia harus menggantikan posisinya lalu berjuang sebaik mungkin untuk menyamakan langkahnya dengan apa yang selama ini sang ayah lakukan.

Sementara itu di dalam kamar Heechul, sang Permaisuri yang sedang duduk di atas ranjangnya dengan putra sulungnya yang memeluk erat dirinya, memegangi lengan Yoongi dengan pandangan menerawang seakan sedang mengingat sesuatu. "Aku baru teringat isi ramalan kelahiran appa kalian, kau tahu Yoongi?"

Yoongi menggeleng pelan karena memang tak pernah diceritakan oleh siapapun tentang isi ramalan kelahiran kedua orang tuanya bahkan oleh kedua orang tuanya langsung. "Apa isinya umma?"

Heechul semakin mengeratkan pelukannya pada Yoongi dan berujar dengan lirih, "pengorbanan yang akan dilakukan oleh appa kalian demi masa depan keluarga kerajaan, penyelamatan yang dilakukannya mencegah jalinan takdir sepasang alpha dan omega di masa depan terputus. Umma baru teringat lagi akan hal ini, dan seharusnya umma tetap mengingat ini sampai kapanpun agar umma siap ditinggal pergi begitu saja oleh appa kalian. Mengapa umma bisa melupakannya? Kenapa?"

Yoongi mengusap bahu rapuh sang Ibunda ketika melihat kedua bahu itu bergetar menahan emosinya, "tak ada yang mengharuskan umma mengingat semua itu. Takdir yang akan terjalin akan tetap terjalin dan kita akan tetap melanjutkan jalinan itu sepanjang eksisitensi kita di dunia fana ini. Umma, aku tahu umma baru saja kehilangan sosok pedamping umma, sama sepertiku yang kehilangan appaku… tapi umma, umma tidak sendiri. Umma masih memiliki aku dan juga Taehyung, menantu umma, adik kandung umma, cucu umma… umma masih ada kami, jadi Yoongi mohon…" Yoongi menangkup wajah rupawan milik Ibundanya dan memandang jauh ke dalam manik mata sang bunda yang begitu indah. "Mari bangkit dan kuat bersama-sama, umma. Karena kami menyayangimu." Yoongi mengecup lama kening sang bunda, menyemati Heechul agar tetap tegar dan tak begitu lama terlarut dalam kesedihannya karena memang banyak yang berdiri di sampingnya dan akan selalu melindunginya.

Heechul memeluk erat leher pucat sang putra dan mengangguk singkat mengiyakan ajakan Yoongi, "terima kasih, nak." Ucap Heechul.

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

Purnama yang telah menghilang dari kesempurnaannya kini telah naik ke puncak singgasana malam, sinarnya menyusup masuk di balik untaian kain yang menutupi jendela kamar pasangan yang baru bersatu itu dengan lancangnya. Taehyung kini sedang merebahkan badannya dan membiarkan kepalanya bersandar lemah di pangkuan Jungkook yang dengan senang hati membiarkan Taehyung seperti itu, jemari lentik Jungkook terus saja bergerak membelai surai merah Taehyung yang sangat halus.

"Kau mendengarnya?" Tanya Taehyung yang dibalas gumaman mengiyakan oleh Jungkook. "Aku memiliki appa yang hebat, ia seorang appa, paman, dan raja yang hebat… apakah aku bisa menggantikannya dan berdiri di derajat yang sama dengannya? Ia begitu, jauh di atas jangkauanku…"

Jungkook mengarahkan pandangan Taehyung yang sedari tadi tak bertemu pandang dengannya, kedua telapak tangan Jungkook merengkuh rahang tegas kekasih abadinya itu untuk memandang sang kekasih dengan tatapan penuh cinta yang menggetarkan raga. "Kim Taehyung, Putra Mahkota, suamiku, kekasih abadiku… sudahkah kau mencoba semua yang takutkan itu? Kau belum menjalaninya, dugaan-dugaan negatif itu takkan mungkin terjadi. Karena aku percaya padamu, aku percaya pada suamiku, aku percaya pada kemampuan suamiku, keluargamu pun turut percaya padamu, dan anggota klan juga turut mempercayaimu. Bahkan Halbae sangat mempercayaimu akan memimpin klan kita sama baiknya dengan apa yang telah abeonim perjuangkan selama ini. Karena kau adalah Putra Mahkota klan terkuat yang terlahir dengan kekuatan pendiri klan kita. Dan jangan bersikap seolah-olah kau akan menjalaninya sendirian, kau pikir aku ini siapa? Aku ini adalah pedampingmu, kekasih abadimu. Aku akan menyertai langkah kakimu, kita akan melangkah bersama-sama."

Taehyung tersenyum mendengar ucapan Jungkook dan pandangan matanya yang menenangkan dirinya itu, perlahan jemarinya membawa kepala brunet itu untuk mendekat dan menyesap bibir merah delima itu penuh penghayatan dan menyampaikan bagaimana ia berterima-kasih pada sosok omega ini karena telah berada dan menyertai langkahnya.

Jungkook mengangkat kepalanya, menyudahi kecupan itu untuk memberikan sebuah senyuman semanis madu untuk suaminya yang membuat Taehyung semakin jatuh dan jatuh terhadap omega yang menjadi takdir kehidupannya.

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

Seminggu setelahnya, pengangkatan Raja baru itu dilangsungkan, mereka memang masih berkabung terutama keluarga inti kerajaan dan juga anggota klan yang menyesalkan penyebab kemusnahan sang Raja, bahkan kedua vampire orang tua si pengkhianat kecil itu melakukan hal yang tak terbayangkan di depan mata Taehyung.

Keduanya datang di pagi itu, memohon untuk bertemu dengan Taehyung, namun penjaga menahan langkah kaki mereka berdua atas perintah tetua klan yang tak menginginkan siapapun yang memiliki hubungan dengan si pengkhianat kecil untuk bertemu anggota inti keluarga kerajaan. Tapi tidak, Taehyung datang. Penerus tahta itu menemui kedua vampire tersebut yang membuat keduanya berlutut memohon pengampunan sang penerus tahta. Taehyung hanya memandang mereka dalam diam, aura di ruangan itu seketika memberat. Jungkook yang turut datang mendampingi Taehyung mengenggam lengan suaminya, namun Taehyung tak mengindahkannya. Taehyung melepaskan tautan tangan Jungkook dengan pelan dan berjalan dengan angkuhnya ke hadapan kedua vampire yang memohon kemurahan sang penerus tahta untuk memaafkan anak mereka yang telah mengkhianati klan mereka.

Taehyung mengulurkan kedua tangannya, membuat kedua vampire itu memejamkan mata mereka, menerima hukuman terberat yang akan diberikan oleh sang penerus tahta. Bukan… bukan tebasan di kepala seperti yang kedua vampire serta semua vampire yang berada di ruangan itu pikirkan yang akan dilakukan oleh Taehyung. Namun Taehyung justru menggenggam lengan keduanya, menyelami kehidupan kedua vampire itu dan keberpihakkan mereka.

Keadaan masih hening bahkan ketika Taehyung membuka matanya untuk memandang anggota klannya itu, "Aku, memaafkan kalian." Ucap Taehyung yang langsung ditentang tetua klan. Taehyung memandang deretan tetua klan ribut protes akan keputusan Taehyung dengan pandangan jengahnya. Lalu begitu saja kedua mata berbeda warna itu bersinar terang. "Ini adalah keputusanku, penerus tahta klan ini. Dan jika kalian tak suka, kalian bisa mencari penerus lain selain aku. Mencari Raja lain selain aku, yang…" Taehyung terkekeh menjeda ucapannya, "yang… kupastikan takkan ada yang bisa merebut tahta itu dariku. Alasan mengapa aku memaafkan mereka karena untuk masa sekarang dan masa depan, bahkan di masa lalu mereka berdua sekalipun mereka tak pernah berpikir untuk mengkhianati klan ini. Sekalipun tidak! Jadi, jangan ada yang berani menyentuh mereka."

Namun… tetua klan ada memang untuk menyusahkan pemerintahan manapun dengan anggapan mereka yang selalu benar dikarenakan usia mereka yang lebih tua serta pemikiran mereka yang egois, dua dari setengah lusin tetua yang memprotes keputusan Taehyung itu maju setelah sedetik pendar mata dwiwarna Taehyung mati. Keduanya dalam sekejap mata menebas kepala pasangan suami-istri itu dan membakar langsung tubuh pasangan tersebut.

Taehyung murka, dia adalah penerus tahta klan terkuat ini, namun keputusannya bahkan tak dihormati sedikitpun. Taehyung rasa, keduanya atau mungkin seluruh tetua yang tersisa di klan ini butuh Taehyung beri pelajaran. Maka tepat setelah api itu menghanguskan tubuh kedua pasangan suami istri itu, Taehyung benar-benar mengaktifkan kekuatannya.

Dengan suara beratnya, Taehyung menggiring keduanya berdiri di tengah aula dan memancang kaki tetua yang lainnya untuk tak bergerak seincipun dari tempat mereka berdiri lalu dengan suaranya yang berat itu pula Taehyung memanggil seluruh anggota klannya. Dan tepat saat Heechul berdiri di belakangnya melengkapi jumlah anggota klannya, Taehyung menyeringai.

"Aku penerus tahta klan ini, kalian sudah tahu itu pasti." Mulai Taehyung. "Dan si pengkhianat kecil telah membuat Raja klan sebelumnya musnah, Ayahandaku. Perbuatannya tentu takkan bisa dimaafkan, maka dari itu aku langsung menghukumnya langsung di medan pertempuran dan kalian tentu mengerti alasanku melakukannya, bukan?"

Ratusan anggota klan itu mengangguk mengiyakan ucapan pangeran mahkota mereka, ratusan anggota klan itu walau tak menyaksikannya langsung namun mereka mendengar seluruh isi pertempuran itu di balik selubung pelindung tanah perlindungan dan kejadian yang baru berlangsung pun mereka mendengarkannya.

"Lalu, mereka!" tunjuk Taehyung pada abu pasangan suami-istri itu, "mereka datang padaku dan memohon ampun atas tindakan anak mereka, si pengkhianat kecil. Menurut kalian apa yang harus kulakukan? Turut menghukum keduanya seperti aku menghukum si pengkhianat kecil? Tidak! Aku memaafkan mereka, aku yang kehilangan Ayahandaku, aku sudah memaafkan mereka karena aku tahu mereka tidak pernah berkhianat sekalipun tidak. Namun mereka!" tunjuk Taehyung pada dua tetua yang berada di tengah-tengah ratusan anggota klan. "Tepat setelah aku berkata memaafkan pasangan suami-istri tersebut, mereka justru melesak dan membakar pasangan suami-istri tersebut! Mereka tak mengindahkan keputusanku. Menurut kalian apa yang harus kulakukan terhadap mereka yang bahkan tak mengindahkan keputusanku?"

Heechul maju dan melangkah menghampiri anaknya, "Putra Mahkota," panggilnya. "Apa itu semua benar?" tanyanya lembut.

"Ya, Permaisuri. Ada banyak saksi yang bisa membenarkan ucapanku." Jawab Taehyung.

"Maka dari itu, aku sebagai pemimpin tertinggi kalian saat ini," ucap Heechul mengingatkan mereka semua bahwa ia masihlah Permaisuri yang masih bisa membuat keputusan untuk kebaikkan klannya, "memerintahkan para penjaga untuk menghukum mereka yang tak menghormati keputusan Putra Mahkotaku dan mereka yang telah memusnahkan anggota klan yang tak bersalah akan dieksekusi tanpa penghormatan apapun!"

Dan tetua yang memprotes keputusan Taehyung, diturunkan jabatannya menjadi anggota klan biasa tanpa keistimewaan apapun. Dua tetua yang memusnahkan kedua anggota klan yang tak bersalah langsung dimusnahkan juga dan dibakar oleh vampire penjaga.

Bisik-bisik dukungan terhadap keputusan sang Permaisuri terdengar didengungkan seluruh anggota klan. Karena, jika memang ada, noktah yang mengotori kekuasaan serta keagungan klan terkuat hanyalah tetua mereka yang serakah, tidak bijaksana dan merugikan tersebut, sudah lama memang ingin diperbaiki… namun label tetua itu menghambat segala proses.

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

Jadi kini, tepat dengan terbenamnya sang surya, Taehyung berdiri di tengah-tengah aula klan terkuat. Berdiri di bawah Yunho yang memutuskan datang untuk menasbihkan Raja Kesebelas, Taehyung berdiri dengan pakaian kerajaan klan Rialóir, untaian sutra membalut tubuh sang penerus tahta. Jubah kerajaan yang tersulam emas itu menaungi tubuh kokoh sang penerus tahta.

Dalam kesyahduan malam yang menjelang, Kim Taehyung diangkat menjadi Raja Kesebelas. Kim Taehyung dengan kekuatan absolutnya. Kim Taehyung, alpha terkuat dengan surai merah indahnya. Kim Taehyung yang berjodoh dengan Kim Jungkook yang tentu saja kini menjadi Permaisuri.

Heechul, Ibu Suri klan terkuat duduk di singgasananya tersenyum melihat bagaimana akhirnya keturunannya menduduki tahta miliknya. Dalam kepalanya ia berbisik, dengan kesungguhan dan juga kerinduan. 'Sayang kau tidak melihatnya Rajaku. Pangeran Bungsu kita, si pembuat onar kecil itu kini telah menjadi Raja dengan bahu kokohnya untuk menampung tanggung jawab yang akan dibebankan untuknya. Ia sama gagahnya denganmu, Rajaku.' Bisik Heechul lirih menyampaikan beritanya pada Hangkyung yang sudah tak mendampinginya lagi.

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

Dari atas singgasananya, Taehyung melihat bagaimana klannya menikmati pesta yang diadakan untuk menyambut dirinya sebagai Raja selanjutnya. Namun Taehyung hanya memfokuskan dirinya pada Jungkook yang tampak begitu manis nan duduk bersandingan dengannya. Permaisurinya, Jungkook tampak begitu menawan dengan kemeja sutra dan juga jubah kerajaan yang berwarna sama dengannya. Benar-benar indah.

"Berhenti menatapiku, Rajaku." Jungkook tak menatap Taehyung yang sedari tadi menatapinya.

Taehyung terkekeh, "Apa salahnya aku menatapimu Permaisuriku?" Taehyung mencoba mengamit telapak tangan Jungkook namun Jungkook menepis pelan genggaman Taehyung. Membuat Taehyung mengernyit tidak suka dan juga tak mengerti, pasalnya, semenjak kejadian pemusnahan di aula itu Jungkook tak mau disentuh olehnya. "Katakan padaku, apa kesalahanku padamu? Sehingga kau selalu menolak sentuhanku?"

"Bagaimana rasanya, Rajaku? Saat kau kutepis seperti itu?"

Seketika itu pula pemahaman masuk ke kepala Taehyung, gambaran kala ia menepis tangan omeganya merasuk ke ingatan Taehyung. "Tidak enak… tidak nyaman… menyebalkan." Ucap Taehyung yang mulai menggenggam tangan Jungkook, kali ini tanpa penolakan dari kekasih abadinya. "Maafkan aku, Permaisuriku. Jika tindakanku saat itu melukaimu."

Jungkook akhirnya memandang Taehyung, dan mengulaskan sebuah senyuman tipisnya kepada Taehyung. "Jadi… jangan diulangi lagi ya? Aku berada di sampingmu namun kau mengabaikanku…" rajuk Jungkook dengan bibirnya yang merajuk lucu.

Taehyung tertawa kecil mendengarnya, "Ya, Permaisuriku. Kau bisa memegang janjiku."

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

Siang itu, sang surya sedang bersinar dengan cerahnya. Kicauan burung yang kembali keluar dari sarangnya setelah musim berganti menambah keindahan siang nan damai itu. Kelopak-kelopak bunga yang bermekaran, menghantarkan wewangian musim semi yang menyegarkan untuk dihirup.

Namun, di sebuah mansion, tempat empat tetua yang tersisa tidaklah setenang itu. Sebuah kejadian besar akan bermula di tempat ini. Sama dengan empat titik hangus yang menyisakan abu empat vampire yang telah meluruh itu. Dan juga kelebat bayangan yang keluar dari tanah perlindungan itu. Langkah yang membuat mereka, takkan bisa kembali ke tanah perlindungan ini suatu hari nanti. Atau bisa? Mungkin saja.

Ribuan kilometer sudah bayangan-bayangan itu tempuh, dan saat mereka sampai di sebuah pintu gerbang, lusinan pasukan menjemput mereka. Membawa masuk mereka menemui pemimpin tertinggi klan tersebut, klan yang seharusnya menjadi milik Kim Namjoon.

Sang Raja menyambut tamu-tamunya dengan seringaian menyebalkan, "Bagaimana rasanya kembali menikmati udara barat, tamu-tamu kehormatanku?" ucapnya.

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

Di dalam kamarnya, Raja Igor Gavin Kyer itu terduduk memandangi sebuah bingkai foto yang membingkai potret keluarga kecilnya yang bahagia. "Kenapa harus anak dari Namjoon, Nara?" Igor mengusap lembut potret wajah anaknya. "Kenapa kau harus menyiksa Fathermu sampai seperti ini?"

Isi percakapan dirinya dengan tamu-tamu yang baru saja datang ke klannya itu kembali terngiang.

"Benar Putriku telah berikatan dengan putra sulung, Namjoon?" ia memastikan kembali. Ia sama sekali tak tahu putrinya, Naranya berikatan dengan anak dari musuhnya.

Penyerangan yang gagal kemarin tak meninggalkan informasi apapun untuknya, tak ada satupun pasukannya yang kembali ke klan miliknya. Dan mendengar bahwa putrinya berikatan dengan Kim Hoseok, putra pertama Kim Namjoon serta turun ke medan pertempuran kala penyerangan itu dilakukan sungguh membuatnya terkejut.

"Ya Yang Mulia," tamunya mengiyakan cerita kawan seperjalanannya.

"Dan katakan lagi, ide apa yang kalian miliki untuk menghancurkan klan itu?"

"Yang paling dasar, Yang Mulia. Kita harus menghancurkan dari yang paling dasar. Perlindungan. Kita harus menghancurkan barrier perlindungan itu."

Raja Igor terkekeh mengingat bagaimana cara mereka akan menghancurkan lapisan perlindungan klan terkuat. "Penculikan lagi?" ucapnya dengan nada tak percaya. "Tapi tak apa, akan kucoba. Dan kali ini kupastikan akan berhasil." Tawa bengis itu keluar, tawa bengis dari Pahlawan Elang Putih yang kini menjelma tak sesuai dengan namanya, ia menjadi Elang Tua yang dipenuhi dendam serta kebengisan. Kebengisan yang siap untuk menghancurkan klan terkuat, ataupun dirinya sendiri. Benar-benar akan menghancurkan, tanpa sedikitpun jejak kehancuran yang akan terlihat.

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

"Ada apa?" Park Jimin melangkah masuk ke ruangan milik Taehyung, memandang Taehyung yang memasang raut wajah seriusnya.

"Aku selalu bisa merasakan bahaya yang akan mengancam diriku." Mulai Taehyung dan memandangi Jimin dengan tatapan tajamnya. Jimin mengangguk tahu betul dengan rahasia Taehyung satu itu. "Saat umur dua tahun, aku merasakannnya, bau kematian. Tapi saat kemusnahan Ayahanda, aku mengabaikan bau itu karena proses pernikahanku."

"Sudah, Kim Taehyung berhenti menyalahkan dirimu lagi. Kau seharusnya sudah tak memikirkan itu." Potong Jimin yang tak mau Taehyung mengingat hal itu lagi.

Biar bagaimanapun, Taehyung adalah sahabatnya. Sahabat yang sudah seperti bagian dari dirinya sendiri, dan mendengar Taehyung yang begitu menyalahkan dirinya itu membuat Jimin tak tega.

"Bukan, dengarkan…" Taehyung menjeda kalimatnya. "Entah mengapa kali ini aku mencium samar bau kematian bersamaan dengan kelahiran. Menurutmu bagaimana?"

"Kelahiran? Maksudmu, Nara dan Hoseok?" Taehyung mengangguk, karena saat ini Nara sudah memasuki fase terakhir kandungannya dan tinggal menunggu menit kelahirannya saja. "Kalau begitu, kita bicarakan ini dengan Hoseok juga." Ujar Jimin.

"Tapi tunggu dulu Jimin. Saat usia dua tahun maupun kematian Ayahanda tahun lalu, aku merasakannya bukan dengan kesamaran seperti sekarang. Rentang waktu kelahiran anak Hoseok dan Nara hanya menunggu menitnya saja. Sedangkan ini, samar… seakan masih jauh, seakan kematian dan kelahiran ini akan datang menyerang aku dan Jungkook… atau mungkin kau dan Yoongi hyung."

Park Jimin terdiam, benar-benar terdiam. Siapapun itu, Jimin takkan membiarkan semua itu terjadi. Tidak untuk Yoongi, Jungkook maupun Nara. Tidak! Ini tak boleh menyerang keluarganya, hanya keluarganya saja yang ia miliki di dunia ini. Dan Jimin tak mau itu terjadi.

"Kita akan membahas ini dengan Hoseok serta Paman Namjoon." Putus Jimin kemudian.

"Kita akan menyertakan Jungkook dan Yoongi hyung juga," sahut Taehyung yang mendapat delikan tak terima dari sang Guardian. "Kita harus, Jimin."

"Bagaimana harus? Kau mau mereka mendengar jika kematian itu akan menyerang mereka berdua saat mereka sedang melahirkan? Kau mau mereka khawatir? Dan membuat perkembangan janin mereka terganggu?"

"Tenangkan dirimu sobat." Ujar Taehyung dan berdiri di hadapan Jimin. "Yoongi hyung dan Jungkook tak selemah itu. Lalu, mereka memang harus tahu hal ini karena ini semua menyangkut mereka juga. Kemudian, kekhawatiran yang tak tersampaikan pada keduanya hanya membuat mereka bertanya-tanya dan semakin membebani pikiran mereka. Lebih baik mereka tahu langsung dari mulut kita saja, sobat."

Kedua bahu Jimin yang tegang itu merosot ketika ucapan Taehyung telah dicernanya. Taehyung benar, mereka harus tenang. Namun bagi Jimin ia takkan bisa setenang itu, keluarga yang ia miliki dari klan terkuat inilah harta berharganya, keluarga selalu menjadi topik sensitif bagi sang Guardian yang kehilangan keluarganya tepat di depan matanya.

"Ya, kita akan bicarakan dengan semuanya."

Taehyung mengangguk singkat mendengar persetujuan Jimin. Dan kini mereka harus bersiap untuk melawan kemungkinan terburuk dari bau kematian tersebut.

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

TBC

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

Psst, eotte?

Ah! Bagi yang sudah terlanjur follow IG aku di at azmyaira boleh difollow lagi akun khusus untuk fangirlingan aku? At kirameku titik 14 ya… tulisan titik disini akan hilang kalau disatukan, atau tidak? Hm, kirameku.14 pokoknya, titiknya diganti dari huruf ke bentuk tanda baca ya. No spasi ya.

Sekali lagi maafkan keterlambatan aku ini ya…

Byebye~