Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.
And Cecily von Zigesar and George R R Martin for some character's name (sorry for not mention this earlier)
Pairings: Draco Malfoy/OC
Setting: Harry Potter and Sorcerer's Stone (Book & Movie)
The Two-Tale Heart
XIV
DRACO
Sudah cukup bagi Draco mendengarkan ceramah dan amarah ayahnya hari pertama dia berlibur di rumahnya sendiri, Malfoy Manor, sekarang dia dipaksa untuk memilih hadiah-hadiah Natal untuk semua anak-anak kenalannya.
Ibunya tahu betul Draco sedang menjalani masa hukuman-tak-tertulis, maka dia memanggilkan pembelanja pribadi ke rumah. Mereka tidak berbelanja ke Diagon Alley seperti biasanya. Maka, datang ke rumah pada hari itu adalah seorang penyihir wanita muda yang amat glamor. Dia membawa tas tangan kecil lalu mengeluarkan berbagai macam pilihan barang mewah. Draco mengernyit menatap Mantra Perluasan tersebut. Ketika wanita itu mulai mengeluarkan perhiasan-perhiasan, entah mengapa Draco menjadi agak mual.
"Ini sudah tradisi..." kata ibunya melembut menyadari keengganan Draco, seolah dia pernah tidak menyukai hal ini setidaknya setiap tahun sepanjang hidupnya. "Kau mendapatkan hadiah-hadiah bagus dari mereka. Sudah sepantasnya kita membalas..."
Meja panjang dan sofa kini dipenuhi jubah-jubah yang melambai. Beberapa tebal beberapa sehalus sutera berwarna lembayung. Kotak-kotak perhiasan, ramuan-ramuan perawatan tubuh, alat tulis keren, berhamburan di lantai. Ibunya khusus memilihkan agar Draco hanya tinggal menunjuk apa dan akan diberikan kepada siapa.
"Bagaimana untuk Theo dan Blaise?" ibunya mengecek daftar.
"Bagaimana dengan mereka?" Draco balik bertanya kesal.
"Mereka berdua, juga Crabbe dan Goyle, selalu mengikutimu di Hogwarts... Draco, kau seolah baru pertama kali saja melakukan hal ini..." ibunya sekarang mulai tak sabar.
Draco menghembuskan nafas, "Baiklah, maaf, Bu... Beri mereka jubah bulu serigala itu..."
Ibunya melambaikan tongkat sihirnya dan segera saja jubah tersebut masuk ke kotak, terbungkus rapi dengan kartu ucapannya.
"Marc Zabini?" tanya ibunya setengah menggoda.
"Beri dia neraka..."
"Draco..."
"Aku bercanda, Bu!"
Mereka membungkus beberapa arloji, manset, dasi, dan berbagai macam untuk kenalan Draco yang laki-laki.
"Perhiasan untuk para anak perempuan, kukira?" tanya ibunya lagi.
Selama beberapa detik pertama, yang terpikir oleh Draco, entah mengapa, adalah Serena.
"Tidak!"
"Draco..." keluh ibunya. "Kau tidak bisa begitu... Kau tahu betul bagaimana..."
"Hmm, maaf, Bu... Maksudku..."
"Baiklah!" putus ibunya tidak mau pusing.
Dan dia segera saja memilihkan segala hal yang berkilau, bagus, berenda, bagus, berwarna pastel, dan bagus untuk teman-teman perempuan Draco. Lalu langsung membungkusnya dengan kartu ucapan.
"Itu bagus sekali, Bu..." kata Draco sementara pikirannya melayang.
Draco merasa sangat gelisah ketika ibunya sudah sampai pada ujung daftar. Untunglah saat itu ayahnya tidak ada di rumah. Ayahnya selalu marah-marah apabila melihat Draco gelisah. Mungkin kegelisahan Draco amat mengganggunya. Sewaktu ibunya memutuskan membayar pada si wanita-pembelanja, Draco menyelanya.
"Bu, tunggu!"
"Ada apa, Draco? Ada yang terlewat?"
"Hmm..." gumam Draco, sekarang bingung.
"Siapa?"
"Ah... Tidak... Hmm, boleh kuambil tabungan untuk membeli sesuatu?" tanya Draco berharap.
"Tentu tidak," jawab ibunya langsung. "Kau tahu bagaimana Ayahmu. Tidak ada uang jajan selama liburan. Yah, karena kau belum jadi nomor satu di sekolah... Ibu tidak mengeluh, tapi... Ayahmu agak kecewa. Jadi apa yang kau butuhkan tinggal bilang, tapi tidak untuk jajan sendiri..."
Draco merasa dia diperlakukan seperti anak yang belum sekolah, maka dia cemberut sedemikian rupa. Ketika si pembelanja pribadi membungkus barang-barang yang tidak jadi dibeli, mata Draco berpindah-pindah dengan cepat dan cemas kepada barang-barang tersebut.
Draco tidak yakin apakah dia perlu memberikan Serena hadiah Natal. Sama tidak yakinnya apakah dia akan memberi Serena yang sembrono itu perhiasan. Atau jubah bulu yang berenda ataupun melambai. Draco pernah tahu dari Blaise bahwa Serena adalah anak orang kaya di dunia muggle. Tapi siapapun yang melihat Serena pasti tidak akan terlalu yakin. Draco belum pernah melihatnya begitu bergaya. Draco melirik seperangkat alat tulis mahal. Draco sama sekali tidak pernah melihat Serena amat sangat rajin belajar seperti si darah-lumpur Granger walaupun dia keponakan para pemilik Flourish & Blotts. Dan terlebih lagi, apa yang akan ditanyakan ibunya kalau Draco membeli hadiahnya tepat saat ini juga?
"van der Woodsen? Hmm, coba kutanya Ayahmu sementara Dobby akan mencari di daftar kenalan kita. Siapa anak itu ngomong-ngomong? Penyihir dari keluarga mana?"
Dan Draco sama sekali tidak punya jawaban cukup bagus.
Si pembelanja pribadi akhirnya pergi sebelum Draco sempat memutuskan.
"Draco, bantu ibu menulisi undangan lalu masukkan kertas-kertas peri yang bisa bernyanyi ini, ya?"
Ibunya menyuruh Draco menulis sampai pegal. Tangannya sudah lengket oleh serbuk-serbuk perak dari kertas-peri-bernyanyi ketika ayahnya datang, membuat punggungnya tegak lagi.
"Tambah orang kalau begitu..." kata ayahnya, melempar jubah bepergiannya pada Dobby, saat melihat mereka sibuk menulisi undangan. "Semua dewan sekolah Hogwarts akan kuundang, kecuali... yang kugantikan posisinya tahun depan tentu saja..."
Ayahnya menduduki kursi dan menyuruh Dobby yang masih bergelut dengan jubah untuk menuangkan anggur. Ibunya mengernyit heran.
"Kau mau menjadi anggota dewan sekolah Hogwarts? Jangan salah paham... Tapi kau tidak pernah bekerja sekalipun seumur hidupmu..."
"Cissy!" potong ayahnya.
Tampaknya hanya Draco yang memperhatikan genggaman ayahnya pada gelas anggur agak mengencang. Dobby dengan takut-takut berusaha menuangnya tanpa tumpah.
"Ini untuk Draco juga. Kalau saja dia bisa mencapai posisi puncak di awal. Apa yang kau dapati dari mengelapi sapu terbang, Nak?"
Ini bukan yang pertama kali ayahnya menyindir dalam hitungan hari. Draco mempertahankan diri untuk tidak berteriak, "Screw you!" yang akan membuat mulutnya dijahit.
"Tidak tahu, Ayah... Aku selalu menyuruh anak lain mengerjakannya..."
Genggaman ayahnya pada gelas anggur mengencang lagi dan kali ini ibunya sadar.
"Baik, Draco, karena kita akan kedatangan banyak tamu serta dewan sekolahmu, tolong awasi pembuatan kue-kue di dapur... Dobby, tetap disini dan bantu aku menyegel undangan..." perintah ibunya.
Sekejap Draco menangkap pandangan cemas antara ayah dan ibunya. Dan lagi menyuruh Dobby menggantikan pekerjaan Draco dan Draco mensupervisi dapur tampaknya salah alamat.
"Baik, Bu..."
Akhirnya bukan perintah ibunya dan ketakutan Draco pada ayahnya yang membuat Draco menurut, melainkan kemalasannya untuk terlibat hal-hal yang aneh lagi.
.
.
.
Salju turun tanpa ampun di pedesaan tempat Malfoy Manor berada. Taman mereka basah, kolam-kolam dan air mancur sudah membeku. Lasalle si merak putih, sudah dipindahkan ke dalam rumah saking dinginnya.
Draco setengah mati kesal mendengarnya berkuak-kuak. Dan mual mencium aroma unggas. Tapi senang melihat Lasalle kuyu seperti burung botak kena flu.
Natal akan tiba besok. Keluarga Malfoy yang terkenal dan kaya menjadikan Natal hanyalah sebagai tradisi besar untuk mengingatkan kepada teman-teman mereka bahwa mereka tetap yang terbaik. Jadi mereka selalu mengundang orang-orang terpilih untuk makan malam.
Jauh-jauh hari, ayah Draco telah menyiksa peri-peri rumah mereka untuk merapikan tanaman-tanaman beku, mengukir air mancur, dan membersihkan rumah agar tetap berkilau tetapi hangat.
Draco menatap dikejauhan dengan perasaan yang tak menentu dari balkon kamarnya. Jubah bulunya menghangatkan tubuh walaupun tidak wajahnya. Hidungnya yang mencuat mulai membeku.
Ayahnya sekarang mengadakan jamuan natal sekaligus pengumuman bahwa dia akan diangkat sebagai dewan sekolah Hogwarts. Walaupun kenyataannya dia akan efektif bertugas pada tahun ajaran baru di bulan September, posisi itu cukup terhormat. Sekolah masih tetap didominasi oleh si Dumbledore, Kepala Sekolah. Tetapi Draco yakin ayahnya akan mengacau. Dan Draco merasa tekanan yang tidak nyaman untuk segera membuktikan diri.
Dan ini sulit. Dia tidak tahu harus membual apa lagi. Seluruh sekolah kini sudah terlanjur menganggapnya pecundang. Draco memilih mati daripada mengakui ini. Tapi dia bahkan belum menjadi penguasa Slytherin. Guru yang suka padanya pun hanya sebagian. Nilainya ada di bawah si Granger sialan. Dan popularitasnya jelas jauh di bawah si Potter.
Baru saja terpikir olehnya bahwa selain menebeng nama ayahnya yang terhormat dan menggunakannya untuk menindas anak lain, menjadi musuh utama Potter adalah popularitas yang bagus.
Lalu dia teringat Serena dan bagaimana gadis itu selalu memandangnya dengan mencemooh tapi juga berhasil membuat Draco berbuat hal-hal spontan yang menjatuhkan dirinya sebagai Malfoy.
Seperti menjadi anggota cadangan, dan sekarang cemas tentang hadiah Natal yang akan diberikan atau tidak pada anak perempuan itu.
Setelah berulang kali pintu kamarnya diketuk Dobby, Draco akhirnya berpakaian dan turun ke bawah. Pagi itu ayah dan ibunya sibuk memerintah untuk sentuhan terakhir. Mereka tampak cemas apabila ada setitik noda yang akan membuat keluarga Malfoy tampak tercela, padahal makan malamnya pastilah akan berantakkan juga.
Keduanya mengikat rambut pirang-panjang mereka. Hal kecil ini mengingatkan Draco pada sesuatu...
"Ayah..." panggil Draco tanpa berpikir dua kali.
Butuh waktu beberapa detik sebelum ayahnya menoleh. Mungkin menganggap Draco kurang penting dibanding supervisi meja makan.
"Ada apa, Nak? Mengapa kau lama sekali turun?"
"Profesor Quirrell kirim salam..."
Sekarang ibunya menjatuhkan alas gelas bulat yang sedang dia ubah menjadi kotak-kotak. Dia berpaling kaget menatap Draco.
"Dia hanya menanyakan kabar kalian, sih..." lanjut Draco santai.
"Draco! Sebaiknya kau jangan pedulikan..." mulai ibunya.
"Dan jangan sampai kau sebut-sebut Quirrell dihadapan tamu-tamu kita!" gertak ayahnya memotong.
Ini reaksi yang diharapkan Draco.
"Ayah tidak tahu, kan? Sebenarnya di sekolah, guru-bau-bawang itu selalu mengikutiku kemana-mana, membuatku takut. Tapi bukan itu masalahnya... Anak-anak lain juga menganggapku aneh karena Quirrell selalu menggerecokiku. Mereka pikir kami berhubungan... Aku tidak bilang dia kenalan kalian..."
"Apa?" potong ayahnya lagi, hampir meledak.
Draco mengeluarkan suara merajuknya yang terbaik. Ibunya bereaksi menghampiri Draco.
"Oh, Draco... Kenapa kau tidak pernah bilang dalam surat-suratmu? Dengar, kan, Lucius? Siapapun akan menjadi anak aneh jika dibuntuti si ular itu..."
Draco melihat mata ayahnya melemparkan peringatan kepada ibunya. Lalu Draco tahu sebabnya, walaupun mengatai Quirrell aneh, ibunya membandingkan Quirrell dengan ular.
"Itu bukan salahku!" hanya itu yang digertakkan ayahnya.
Draco mengangkat bahu keras kepala, "Anak lain kan tidak tahu kebenarannya? Begitu pula dewan sekolah yang akan datang..."
Ayahnya melotot lagi.
"Kau berani..."
"Tidak, Ayah! Aku tidak berani..." raung Draco masih dengan nada merajuknya. "Tapi Ayah telah membuatku jadi anak aneh karena dibuntuti Quirrell yang entah-ada-urusan-apa dengan kalian. Dan kalian menghukumku. Bagaimana aku bisa tampak senang nanti malam? Anggota dewan mungkin akan mendengar aku adalah anak aneh..."
"Draco..." bujuk ibunya. "Kami tidak menghukummu..."
"Kalau begitu aku boleh belanja sendiri di Diagon Alley? Sebelum toko-toko tutup? Tolonglah, Bu..." rengek Draco.
"Tapi... Tidak..." ibunya ragu.
"Tidak!" sentak ayahnya.
"Tapi Ayah dan Ibu yang telah menyebabkan Quirrell..."
"Jangan sebut-sebut dia!" gertak ayahnya sekarang tak sabar.
Percik api kecil, membuncah antara tongkat ayahnya dan lantai batu. Draco sudah sejauh ini untuk mundur.
"Hanya satu kali jalan-jalan dan aku tidak akan menyebut-nyebut Quirrell..."
Ayahnya sekarang memandang ibunya, meminta bantuan. Tampangnya seolah dia baru saja dipalak anak sendiri. Yang mungkin memang benar...
"Baiklah! Kembali tepat waktu saat minum teh!" gertak ayahnya setelah Draco merasa ibunya mengangguk disisinya.
"Dan kalau Ayah memberi surat perintah dan tanda tangan Ayah untuk aku membuat... apa ya, namanya? Oh, ya! Buku cek penyihir yang baru saja dikeluarkan Gringgotts... Aku akan melupakan Quirrell sama sekali..."
.
.
.
Draco tidak mempercayai keberuntungannya. Berjalan sendiri di tengah sisa-sisa keramaian Diagon Alley yang bersalju sangat langka dia dapatkan. Biasanya dia akan bepergian bersama ibunya, yang membuat Draco agak tidak bebas. Draco membeli kopi susu panas dan meminumnya sambil berjalan, seolah dia pemilik dunia.
Dengan kantung uang yang hanya berisikan buku cek baru, dia merasa amat sangat santai. Draco tidak tahu mengapa goblin-goblin bodoh itu baru memikirkan hal semacam ini sekarang. Beberapa penyihir seperti ayahnya protes karena tahu sistem itu adalah sistem yang sama dengan yang dipakai muggle. Tapi tidak bisa dipungkiri, buku cek bisa amat sangat berguna bagi penyihir yang kebanyakan emas seperti keluarganya.
Tapi masih ada satu hal yang mengganjal Draco sekarang. Dia telah mengancam orang tuanya. Berani mengancam orang tuanya. Dan meminta untuk diberikan kebebasan atas tabungannya. Untuk apa? Berbelanja di Diagon Alley. Untuk apa? Membeli hadiah natal untuk Serena van der Woodsen...
Draco hampir saja berbalik lagi ke Leaky Cauldron, tempatnya mendarat dengan Floo tadi. Dia merasa apa yang diperbuatnya amat konyol. Dia berbuat sejauh ini hanya karena seorang anak perempuan yang menyebalkan? Rasanya tidak seperti Draco...
Draco termenung sesaat. Lalu berbalik, tetapi berbalik kembali. Begitu seperti orang bingung. Siapapun yang melihatnya akan menyangka dia penyihir yang kehilangan orang tua di jalan.
Kakinya membawanya melangkah ke toko mainan. Draco yang menganggap semua mainan adalah kesukaan anak kecil yang tidak keren, biasanya melewati toko ini.
Tapi jendela pajangnya penuh dengan miniatur yang bergerak ramai menarik mata. Di bagian bawahnya, para sinterklas gendut dan manusia salju sedang berlomba main selancar di es buatan. Rusa-rusa yang menarik kereta terbang dikejar oleh penyihir-penyihir bertopi runcing, melempari semua dengan gundukkan salju mungil.
Di sisi lain, para miniatur pemain Quidditch seolah sedang berlatih di hari bersalju. Beterbangan dengan riang, para Chaser melakukan formasi elang sambil bersin-bersin.
Draco terpaku menatapnya...
.
.
.
"Draco! Kau terlambat..." desah ibunya setengah lega setengah cemas.
Tentu saja Draco datang terlambat untuk menyambut tamu-tamu. Ayahnya sudah memelototinya sedemikian rupa di tengah senyum meminta maaf pada tamunya.
"Tidak apa-apa, kan? Draco pastilah anak yang aktif, Lucius..."
Seseorang yang tidak dikenal Draco menepuk-nepuk punggung tangan ayahnya dari seberang meja. Draco menyadari itu mungkin adalah salah satu anggota dewan sekolah.
Draco merasa wajahnya memerah karena kehabisan nafas dan agak malu. Dia segera duduk di sebelah ibunya. Draco hanya sempat memakai jubah pestanya asal-asalan. Mudah-mudahan mansetnya terkancing dengan benar. Dan brosnya bukanlah yang berbentuk kepingan salju. Pansy yang bodoh memberikan itu Natal tahun lalu.
Draco menyisir rambut pirang-peraknya dengan tangan ke belakang, sebelum ibunya melakukan itu di depan semua tamu. Sangat sembrono. Tapi dia bisa mendengar desahan Pansy dan anak-anak perempuan lain di seberang meja. Jadi Draco berpikir dia tampak baik-baik saja.
Seorang dewan sekolah berambut kelabu yang dikenal Draco bernama Mr Payne, berdiri dengan tergesa, lalu mengajak semua bersulang seolah dialah tuan rumahnya. Suaranya serak karena beberapa giginya sudah hilang.
"Kepada para tamu dan tuan rumah, Mr dan Mrs Malfoy... Serta Mr Malfoy Junior... Aku dan kesepuluh temanku sungguh berterimakasih telah diundang..."
Beberapa orang penyihir pria dan wanita yang sudah sepuh itu tampak berbinar senang. Ayahnya benar-benar tidak mengundang orang yang akan dia gantikan kedudukannya. Tapi hal itu tampaknya tidak mengganggu mereka. Jelas saja begitu, mereka saat ini diperlakukan layaknya raja dan ratu dengan fasilitas mewah dari ayahnya.
"Kami menyambut Mr Lucius Malfoy untuk menjadi anggota yang keduabelas dewan sekolah Hogwarts..." dia berhenti sejenak untuk dramatisasi, "Sekolah kita yang tercinta..."
Semua orang di meja bertepuk sopan sementara ayahnya mengangguk kesana kemari, diiringi tatapan kagum ibunya. Ibunya pastilah telah melatih ini berulang kali.
Acara selanjutnya sama membosankannya seperti biasa. Denting pisau dan garpu serta obrolan mewarnai suasana meja. Draco berusaha menikmati kalkun dengan isian keju leleh dan ham yang sangat lezat. Sayurannya semanis sausnya. Draco tidak bisa mengeluh. Setelah sesiangan perutnya hanya diisi kopi susu, dia mulai mengakui kepandaian Dobby dan peri-rumah lainnya. Para tamu sibuk memuji-muji kelezatan makanan juga.
Beberapa menit berlalu dan para pria kini sudah mulai tambah minuman anggur. Pembicaraan beralih ke topik yang paling dibenci Draco. Bagaimana prestasi anak-anak mereka di sekolah.
"Draco selalu berusaha untuk jadi yang terbaik. Iya kan, Draco?" tuntut ayahnya.
Draco merasa dia mendengar dengus samar dari kursi tempat Marc Zabini duduk.
"Hmm..." ujar Draco bingung.
"Itu harus!" gelegar seorang dewan sekolah yang amat gemuk. "Pada zamanku dulu, kami selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik, caranya Draco, adalah masuk klub perpustakaan..."
Bayangan si Granger terlintas di matanya, Draco mengerjap untuk menghilangkannya.
"Tapi penting juga untuk beraktivitas di luar ruangan. Quidditch Hogwarts cukup bagus kudengar..." kata seorang lagi. "Kau masuk tim tentunya?"
Ini jelas membuat Draco kalang kabut, begitu juga ayahnya yang tertawa dibuat-buat.
"Dumbledore tersayang kita bilang terlalu bahaya untuk anak kelas satu main... Kita mungkin bisa mengubah aturannya tahun depan?"
Draco berharap tidak ada yang ingat bahwa Harry Potter mendapat pengecualian.
"Kudengar..." seorang nenek tua menepuk punggung tangan Draco dari seberang meja. "Ada gadis kelas satu kelahiran muggle yang amat brilian, ya? Temanku Profesor McGonagall yang bercerita... Kau mengenalnya?"
Itu pasti si Granger, Draco ingin mengatakannya langsung. Tapi sendok di tangan ayahnya terlihat bergetar.
"Kita tidak tahu itu gosip atau bukan, kan? Anakku tidak mungkin kalah dengan kelahiran muggle..." kata ayahnya setengah mendengus. "Lihat saja sampai ujian akhir. Draco pasti nomor satu..."
Ayahnya menatap Draco dengan tatapan yang khas, 'Awas saja kalau tidak'-nya.
"Ah, pasti Lucius..." si nenek menyetujui.
Draco berharap pembicaraan berikutnya adalah memuji-muji perhiasan yang bagus atau memuji makanan penutup yang berupa puding natal bersaus jeruk yang amat lezat. Tetapi dia masih harus menunggu sampai entah kapan.
"Kudengar anak dari keluarga terpandang lainnya ada yang masuk Hogwarts..." tanya seseorang.
Draco memutar matanya. Dia mungkin akan benar-benar melempar sendok pada orang pertama yang berkata 'Potter'.
"... van der Woodsen dari Manhattan, Amerika. Wah, bayangkan itu, kudengar mereka juga masih berhubungan dengan keluarga terakhir Ravenclaw... Apa yang bisa kita dapat dari melobi mereka?"
Seorang dewan sekolah yang pastinya mata duitan itu mengedip. Ayahnya mengernyit.
"Aku tidak pernah dengar..."
Kalau tadi Draco sama sekali tidak keberatan menyebutkan nama Granger di meja makan, sekarang Draco merasa khawatir apabila nama Serena disebut. Lalu pastilah akan keluar kata-kata 'ayahnya muggle' dari beberapa anak perempuan yang iri. Dan ayahnya akan memasukkan Serena dalam daftar hitam anak yang tidak boleh sedikit pun Draco sapa.
"van der Woodsen?" celetuk Mr Nott keras, mengatasi sendawa tamu yang mulai kekenyangan. "Untuk anak itukah kau memberikan gelang berlian yang mahal itu, Theo? Kau bahkan belum mengirimnya tadi..."
"Ayah!" kata Theodore setelah berhasil menelan pudingnya.
Sebelum siapapun mulai bereaksi, Blaise menyela dengan panas.
"Kupikir kau sama sekali tidak menyukai anak itu. Dia kan di Gryffindor... Dan kau bilang dia anak Yankees yang aneh, entah apapun artinya itu..."
Blaise jelas sedang agak cemburu.
"Oh, Blaise... Kau tahu kau lebih naksir anak itu, terlebih kakakmu..." balas Theodore, berusaha membuat malu Blaise dan Marc alih-alih dirinya.
Beberapa orang tua tertawa karena Marc sekarang juga terlihat salah tingkah. Mungkin menyangka mereka hanya memperebutkan seorang gadis biasa. Draco tidak tertawa. Dia merasa ada ceri yang menyangkut di tenggorokannya. Draco sama sekali tidak tahu Theodore juga akan mengirim hadiah untuk Serena sialan itu. Padahal benar. Serena adalah anak Gryffindor yang seharusnya tidak mereka lirik sama sekali.
Dan gelang berlian? Dibanding apa yang akan diberikan Draco?
Tanpa sadar dia melirik ayah dan ibunya. Mereka berpandangan dan mengangkat alis sekilas, mengejek dan tidak peduli lebih jauh. Mungkin lega karena anak mereka tidak sekonyol anak keluarga Zabini dan Theodore. Atau lega karena anak mereka tidak dekat-dekat dengan anak yang tidak terpandang menurut mereka. Yah, itu yang mereka tahu saat ini, pikir Draco getir.
"Draco, ayo ikut yang lain ke ruang belajar..." kata ibunya setengah mendorong Draco lembut setelah makan malam resmi selesai.
"Tapi aku mau tidur saja..." Draco mulai merajuk, dia merasa amat sangat bosan bermain-sebelum-tidur dengan anak-anak itu di ruang belajar.
"Draco, ayolah..." ibunya mendorongnya setengah memaksa.
Draco mau tidak mau berjalan diiringi beberapa temannya. Dalam ruangan belajar tersebut, kelompok Marc duduk dengan santai sambil bercerita seolah di rumah sendiri. Mereka tertawa-tawa merasa dirinya paling keren. Beberapa lagi bermain catur sihir atau memeriksa buku-buku koleksi ayahnya. Draco duduk sejauh mungkin dari Marc. Sialnya, tempat kosong sudah diisi oleh Blaise dan Theodore yang sedang perang dingin.
"Ayolah!" seru Draco berusaha meyakinkan dirinya juga. "Kalian tidak mungkin bertengkar gara-gara cewek jelek itu!"
"Itu betul Draco... Dan kau memberiku apa, Blaise?" tuntut Pansy. "Kuharap kau tidak buang-buang berlian untuk cewek itu!"
Blaise menggerutu yang menyatakan dia juga memberi perhiasan.
"Baiklah! Aku hanya ikut-ikutan saja... Kau kan tahu tidak ada yang cantik-cantik di Slytherin tahun ini? Dan yang mengatai van der Woodsen itu jelek sama saja dengan menipu diri sendiri..." kata Theodore keras.
"Hei!" protes datang serempak dari anak-anak perempuan yang kebetulan semua di Slytherin.
"Aku akan membuang hadiahnya!" tantang Theodore. "Puas kalian sekarang?"
"Langkah bagus, Nott!" seru Marc di ujung, jelas mendengar seruan-seruan Theodore. "Kalian tidak ada tampang untuk yang cantik-cantik... Bagaimana denganmu, Malfoy? Kalian sama-sama anggota cadangan, kan?"
Draco nyaris membentak Marc tapi dia lebih khawatir wajahnya yang panas akan terekspos.
"Tentu kau tidak akan membuangnya, Theo! Itu kan hadiah mahal! Berikan padaku! Aku akan menggantinya..." Draco mengeluarkan cek barunya dan menulis sejumlah galleon untuk Theodore. "Aku lupa memberi hadiah pada perawat kakekku... Dia mungkin akan senang dan memujiku, lalu berusaha membujuk Kakek mewariskan hartanya padaku... Bukan kepada ayahku..."
.
.
.
Kenyataannya adalah Draco sama sekali tidak mengetahui alamat Serena. Untunglah pikirannya bekerja dengan amat cepat tadi. Walaupun dia harus membayar lagi agar Theodore memberikan hadiah yang masih komplit dengan bungkus dan kartu serta alamatnya. Theodore bilang alamat rumah Serena dicuri seseorang dari si bodoh Longbottom saat mereka belum liburan. Jadi semua anak bodoh yang naksir pada Serena sekarang punya alamatnya.
Draco tercenung saat hadiah itu sudah terbungkus rapi. Stark, burung hantu-elangnya, menunggunya dengan tidak sabaran.
Draco berpikir apakah dia sebodoh itu juga. Berusaha memberikan hadiah kepada gadis yang belum tentu akan menghargai pemberiannya. Ataukah dia sama dengan Marc dan Blaise yang hanya mengincar gadis-gadis cantik penyejuk mata? Ataukah seperti Theodore yang hanya ikut-ikutan?
Draco baru berusia sebelas, dan ini pertama kalinya dia gundah karena memikirkan seorang anak perempuan...
Tapi kemudian wajah Serena terlihat jelas. Bagaimana dia amat cemas dan bersemangat saat pertama kali memasuki Hogwarts, lalu kemudian layu dan selalu terlihat sedih saat terakhir Draco bertemu dengannya. Draco tiba-tiba cemas kalau Serena tidak akan kembali lagi ke Hogwarts... Entah mengapa...
Draco menuliskan sesuatu pada kartunya lalu menyelipkannya. Dan kemudian menyuruh Stark terbang malam itu juga. Sebagian perasaan cemasnya hilang saat Stark menyatu dengan langit malam. Setidaknya, perasaannya akan sampai ke tangan yang berhak...
.
.
.
Draco bangun pagi-pagi sekali. Memakai mantel dan langsung menerjang tumpukan hadiahnya yang amat tinggi. Berbagai jubah dan sepatu kulit mahal, berbagai ornamen untuk jubahnya, cincin-cincin dengan berbagai macam bentuk kepala, arloji, parfum, bahkan meja belajar baru dan buku-buku tebal yang pastilah dari anggota dewan sekolah. Ayahnya sama sekali tidak memberi apa yang Draco harapkan, yaitu sapu terbang. Draco bisa saja membeli sendiri, tapi ayahnya pasti akan memarahinya karena dia baru saja menghamburkan uang untuk membeli hadiah Theodore yang ada alamat Serena-nya.
Dan setelah mencari dua kali balikan, Draco sama sekali tidak menemukan hadiah dari anak perempuan itu...
.
.
.
"Draco! Kau tidak turun?"
Pansy berteriak padanya dari luar pintu kereta. Kereta berbentuk bawang telah membawa mereka kembali ke Hogwarts, setelah perjalanan yang lama dan dingin dengan Hogwarts Express.
Draco menyadari dia melamun lalu melompat turun menghadapi kastil besarnya yang telah dia tinggalkan selama liburan Natal. Hatinya masih campur aduk antara malas menghadapi kelas yang ada Harry Potternya atau senang karena masa-masa liburannya pun tidak terlalu menyenangkan.
Aula depan penuh dengan anak-anak yang ribut saling menyapa. Beberapa bahkan saling berpelukan dan berciuman di tempat, termasuk Marc, membuat Draco jengah.
Mata Draco terus mencari dengan gelisah. Lalu, bahkan dari keramaian suasana, Draco akhirnya mendengarnya. Tawa riang yang seperti anak umur empat tahun.
Serena tampaknya memutuskan untuk berganti pakaian muggle-nya di kastil dan bukan di kereta. Dia tampak seperti muggle yang Draco lihat di jalan-jalan mereka. Rambut coklatnya tampak lebih pendek sedikit dan tingginya seolah bertambah beberapa senti dalam musim dingin ini. Menyeret koper dan sangkar burung hantu, dia menggandeng seorang anak perempuan berambut merah-jingga. Mereka tertawa seolah sudah saling mengenal berpuluh tahun dan sekarang menguasai dunia.
Draco tidak mengenali teman baru Serena, tapi beberapa orang jelas tidak terlalu peduli. Serena dan teman barunya tersebut melewati mereka yang memandang penuh harap, layaknya mereka hanyalah patung. Tetapi sebelum Draco sempat menghindar dan menghilangkan ekspresi cemberutnya, Serena mengangkat wajah dan pandangan mereka bertemu.
Apakah itu ekspresi kaget dan perasaan bersalah di matanya? Draco tidak tahu pasti, yang jelas si teman-baru tersebut dengan galak memandangi Draco, lalu bergegas berjalan lagi, menyeret Serena di belakangnya.
Draco menahan diri untuk tidak marah-marah dan memikirkan terus-menerus apakah Serena menerima hadiahnya atau tidak atau apakah dia berencana memberi Draco hadiah tapi tidak tahu kemana mengirim. Tapi perasaannya mulai santai pada saat makan malam, karena perutnya sudah penuh terisi kembali. Dia baru saja membuat target rencana untuk semester baru, tidak akan peduli lagi pada van der Woodsen bodoh itu.
Bagaimanapun dia laki-laki yang punya harga diri. Dia adalah Malfoy. Malfoy tidak gelisah hanya karena hal-hal remeh. Habis perkara. Draco menghabiskan jus labu kuningnya berteguk-teguk.
"Draco, ada Quirrell..." desis Pansy yang kali ini membuntutinya untuk berbarengan ke ruang rekreasi.
"Mana?" tanya Draco dengan bodohnya, lupa seharusnya dia menghindari guru itu.
Mata mereka bersirobok. Quirrell tampaknya menunggu seseorang. Dia luar biasa pucat dan berkedut. Jubahnya masih ungu dan turbannya agak miring. Kedua belah telapak tangannya saling terkait.
Draco berusaha terus berjalan. Sialnya, ini bukanlah hal remeh yang Draco bisa hindari. Draco menggunakan Quirrell sebagai ancaman sebelum Natal kemarin, tapi berhadapan dengan orangnya langsung membuatnya takut.
"Ah, Mr Malfoy..." desis Quirrell tanpa gagap.
Draco terkesiap sampai berhenti.
"K-k-kau, hmm, k-k-kalian b-b-boleh p-p-pergi... Mi-mister C-c-crabbe d-dan..."
"Crabbe! Goyle! Tetap disini!" perintah Draco.
Quirrell tergagap lagi entah tentang apa. Yang jelas membuat Crabbe, Goyle, dan Pansy akhirnya pergi meninggalkan Draco dan Quirrell sendirian. Draco hampir mengumpat tentang ketidaksetiakawanan mereka, tapi matanya dengan waspada tidak beralih dari Quirrell. Genggaman tongkat sihirnya pada saku jubah diperkencang. Sialnya, koridor hampir kosong sekarang. Anak-anak pastilah berbondong-bondong melewati jalan pintas agar bisa segera tidur.
"N-n-nah... N-n-nah? O-o-orang t-t-tuamu... M-m-menyampaikan p-p-pesan?"
Draco menggeleng cemas.
"SIAL!" umpat Quirrell lagi-lagi tampak kesal.
Draco terkesiap dan mundur. Quirrell tampak sama berbahayanya dengan orang gila yang jahat.
"N-n-nah k-k-kalau beg-begitu..."
Quirrell mengernyit, sekarang tampak kesakitan, seolah dia sedang menghadapi sesuatu yang buruk.
"K-k-kau m-m-mungkin bisa membantu..."
Draco mundur dan siap lari, tapi mata Quirrell kini mulai bersinar menakutkan...
"Profesor Quirrell!" teriakkan seseorang bergema di dinding batu.
Ada yang berlari menghampiri mereka, Draco memberanikan diri melihat ke belakang, berharap seseorang menyelamatkannya.
Serena van der Woodsen, masih mengenakan pakaian muggle, berlari-lari seolah menunggu waktu yang pas. Dia kentara betul mengikuti Draco tadi, karena walaupun dia tadi berlari dan nafasnya terengah, rambutnya tidak beterbangan dan dia tidak berkeringat.
"Madam Pomfrey minta bantuan! Ada murid yang tampaknya terkena gigitan, entah vampir atau manusia serigala... Dia memintamu untuk melihatnya!"
"Apa?" lengking Quirrell, terdengar lebih takut.
"Ya! Anda diminta bergegas, karena, yah, bulan akan penuh beberapa hari lagi..." desis Serena.
Perlu waktu bagi Quirrell untuk memutuskan apakah dia akan tetap mengurus Draco dan bantuan apapun yang akan dimintanya atau ke rumah sakit melihat kondisi pasien.
"B-b-baik! K-k-ke P-p-p-poppy d-d-dulu..."
Setelah pandangan mengancam terakhir pada Draco, Quirrell melesat menuju lantai atas.
Suasana hening kecuali bunyi sepatu Quirrell di lantai batu. Serena ada dihadapan Draco sekarang, tapi ada jarak yang terbentuk diantara mereka, seolah Serena sengaja menjauhkan diri... Seolah, apakah itu di matanya? Seolah dia agak takut...
"Kau bohong..."
Draco membuka percakapan akhirnya.
Serena mengangkat bahu tidak menyangkal, "Apa yang akan dia perbuat? Mendetensiku? Menyiapkan ramuan-bawang?"
Serena nyaris tertawa akan leluconnya sendiri.
Draco memutuskan berbalik pergi.
"Hei! Tunggu!" cegat Serena. "Aku tahu Quirrell tadi membuatmu cemas, dia membuatku cemas juga... Maka aku berbohong..."
Draco meneruskan langkahnya. Dia mendengar Serena mengejarnya. Lalu ada yang menggamit lengan jubahnya.
"Jangan sentuh aku, van der Woodsen!" Draco otomatis menyentakkannya.
Serena tampak kaget sekaligus terluka tapi lalu menguasai diri.
"Oke, aku minta maaf... Aku hanya mau berterima kasih..."
"Lupakan!"
"Draco, maafkan aku karena..."
"Aku bilang lupakan!"
"Aku tidak bisa memberikan hadiahku!" potong Serena mendesak. "Kau... Maksudku, keluargamu..."
Draco berhenti karena kata-kata terakhir Serena. Tapi tidak ada penjelasan lebih lanjut setelah beberapa detik yang lama. Serena masih tidak melihat Draco. Dia terlalu sibuk memainkan jari-jarinya.
Ada apa dengan keluarga Draco yang membuat Serena cemas?
Lalu kenyataan menghantam Draco jauh lebih keras dibanding ketakutannya pada Quirrell.
Masih keturunan Ravenclaw dan ibunya adalah salah satu pendukung Dumbledore pada saat kekuasaan Voldemort yang pertama... Serena, seperti semua orang lainnya, sekarang pastilah menyadari bahwa keluarga Malfoy, ada berseberangan dengan mereka...
Ini menyakitkan hati Draco lebih daripada cacian ayahnya...
"Oh, maafkan aku..." kata Draco pada akhirnya dengan suara yang tidak seperti dirinya. "Kupikir kau tidak menilai seseorang hanya dari tempat mereka tinggal, atau dalam kasusku... keluargaku..."
Setelah mengutip kata-kata Serena yang masih diingatnya saat pertama kali mereka bertemu, Draco berbalik untuk pergi. Draco terus berjalan. Tidak tahu harus mengharap apa. Apakah Serena yang memanggilnya kembali karena menyadari kekeliruannya atau Serena yang tetap diam di tempat.
Tapi tidak terdengar lagi suara Serena yang mencegahnya pergi, sampai pintu batu ruang rekreasi Slytherin menutup di belakang Draco...
.
.
.
