Jimin itu tak seperti ini. Jimin itu tak pernah berbuat kasar pada Yoongi. Dan Jimin itu tak pernah memaksanya hingga seperti ini. Apalagi mencengkeram lengannya seperti tadi.

Jimin yang Yoongi tahu itu...

Tidak seperti ini.

.

Melihat Yoongi yang setengah telanjang saja sudah membuat bibir Jimin mengering dan ia harus menjilatnya. Rasa panas semakin menggelora di tubuhnya, libidonya meningkat keras, dan rasanya begitu menggairahkan.

Ah, Jimin jadi berpikir, akan lebih menarik jika ia bermain-main dan membuat Yoongi basah lebih dahulu sebelum Jimin melucuti seluruh pakaiannya bukan?

Jimin semakin menyeringai lebar.

.

.

.

.

Jimin | Yoongi | Boy's Love | As Sweet As Sugar's Sequel! | This gonna be Mpreg. Do you want to, don't you? | I don't take any profit with this chara | AU | R-18 | Beware! '-')/

.

Do not plagiarize!

.

Enjoy!

.

.

.

.

Yoongi terus merontakan kedua tangannya dalam ikatan itu, lama-kelamaan memang melonggar, tetapi itu belum cukup untuk meloloskan tangannya.

Dan kini Yoongi juga terus mengerang tertahan dengan menggigit bibir bawahnya sendiri. Tak ingin mendesah dengan perlakuan Jimin yang liar diatas tubuhnya. Jimin yang menciumi leher Yoongi dengan gemas, mengecupi disepanjang tulang selangkanya yang terlihat begitu seksi dimata Jimin, tak lupa juga ia memanjakan kedua nipple Yoongi dengan menghisapnya kuat dan memainkannya dengan tangan secara bergantian.

.

Oh sungguh, kalau sebelumnya Jimin begitu penat dengan semua pemikirannya dan melampiaskan semuanya pada alkohol, kini Jimin merasa jauh lebih baik dengan melampiaskan semua pada hasrat dan gairahnya.

Sampai Jimin benar-benar tak peduli kalau yang ia lakukan itu menyakiti kekasih gulanya.

Kekasih yang sudah Jimin perjuangkan cintanya hingga kini.

.

Jimin bergumam entah apa dengan lidahnya yang sedang mengeksplorasi bahu Yoongi dengan semangat. Menghisapi dan menjilati bahu seputih susu itu bagaikan lumuran es krim.

Yoongi hanya terus meronta dan menggelengkan kepala, menggigit bibirnya tanpa mau mengeluarkan desahannya. Dan hanya bergerak tidak nyaman di bawah kungkungan Jimin.

.

Jimin menurunkan bibirnya dari bahu Yoongi ke dadanya, menghirup aroma lembut seperti camomile dengan hidungnya disana, lalu tanpa ragu ia mengalihkan bibirnya ke salah satu nipple kecil milik Yoongi untuk menghisapnya kuat dan membuatnya menegang, tak lupa Jimin menggunakan lengannya untuk mencubiti sebelah lagi nipple Yoongi yang tak ia kulum, menariknya lalu meremasnya dengan gemas dada rata yang hanya sedikit empuk itu.

Sebelah tangan yang lainnya Jimin gunakan untuk menelusuri celana panjang hitam Yoongi, mencoba menurunkan celananya.

.

Dan Min Yoongi masih setia dengan bungkamnya dan rontaan tangannya yang belum juga terlepas.

Terus menggeliat dan berupaya menghentikan aksi Jimin.

Berharap kekasihnya yang sedang mabuk itu segera tersadar dari nafsu liarnya yang membumbung.

.

Jam dinding terus berdetak. Suasana semakin panas tetapi yang terdengar hanyalah gesekan dari bibir Jimin diatas kulit Yoongi, dan kaki Yoongi yang terus menggeliat diatas ranjang dan membuat seprai putih milik Jimin tak terbentuk lagi.

.

Lama-lama Jimin berdecak sebal juga. Ia kemudian memberikan tanda ciuman terakhir di bawah dada Yoongi. Menghisap kencang lalu melepasnya begitu saja. Menimbulkan suara kecup yang begitu menggoda.

.

Jimin lalu bangkit dari atas tubuh Yoongi dan separuh berdiri dengan lututnya. Ia menatap Yoongi geram karena sedari tadi Yoongi hanya bungkam.

Yoongi sediri masih melipat bibirnya ke dalam dan menatap samping. Menatap ke arah meja belajar Jimin lebih menarik daripada ia harus menatap Jimin.

.

Oh, memangnya itu tak menggoda apa. Walaupun Jimin sedang mabuk. Tetapi kalau Jimin sedang shirtless dan memperlihatkan lekuk tubuh bagian atasnya, itu 'kan juga membuat Yoongi merasa...

Ah Yoongi sendiri bingung mendeskripsikannya, apalagi kalau ketika ia menatap abs gemuknya yang menggoda untuk diraba...

Ukh, Yoongi sungguh tak mengerti bagaimana memberinya sebuah kata, tetapi yang ia tahu, ketika melihatnya, Yoongi merasa getaran panas dari dalam tubuhnya dan berdesir keras dalam aliran darahnya.

Dan juga... membuatnya bergairah.

.

Tetapi kini Jimin sedang mabuk. Dan ada perasaan berbeda lainnya yang juga hadir.

Perasaan tersakiti.

.

Jimin kembali berdecak melihat Yoongi yang mengalihkan pandangannya. Jimin lalu menunduk dan mengarah pada ikatannya di sisi ranjang. Hampir menindih Yoongi lagi namun tubuhnya memayungi wajah Yoongi.

"Baiklah, aku akan melepaskan ikatan ini, tetapi kau harus berjanji." Jimin menyeringai kembali. Menundukkan kepalanya ke bawah tubuhnya. Memergoki Yoongi yang sedang mencuri-curi lirikan pada bagian atas tubuhnya yang kini dengan sengaja Jimin berada tepat diatas wajahnya.

"Kau harus bersuara untukku, babe."

.

Yoongi meremang. Ia mati-matian untuk tidak meluruskan kepalanya dengan menghadap dada Jimin yang tepat berada diatas wajahnya saat ini.

Yoongi mengumpati Jimin dalam hati karena perlakuannya itu.

Ukh, jauh didalam hati, Yoongi juga ingin memeluk tubuh kekasihnya yang terbentuk sempurna itu. Menenggelamkan wajahnya disana dan menghirupi wangi maskulinnya, misalnya...

.

.

Dan Jimin benar-benar melepas ikatan kemeja di lengan Yoongi. Kemudian kembali pada posisinya di kaki Yoongi yang terbuka lebar.

Yoongi menghela napas lega dan merentangkan kedua tangannya karena pegal. Huh, pergelangannya juga terasa begitu pegal.

.

Tetapi Yoongi tercekat napasnya sendiri begitu tanpa aba-aba Jimin langsung saja menurunkan celananya. Beserta celana pendek boxer hitamnya. Melepasnya jauh melewati pergelangan kaki Yoongi dan Jimin entah melemparkannya kemana. Dan itu membuat Yoongi mengeluarkan suaranya untuk mengerang.

.

Yoongi bergetar kembali karena ia kini sudah telanjang sempurna, oh tidak juga rupanya, karena Yoongi masih memakai kedua kauskaki putihnya yang menyelimuti kedua kaki mungilnya.

Dan Yoongi juga dapat merasakan pinggulnya bergetar. Hawa dingin yang menyapa tubuh bagian selatannya yang tak terbalut apapun itu membuat Yoongi yang sudah agak menegang karena perbuatan Jimin sebelumnya, menjadi separuh menegang.

.

Jimin menjilat bibir bawahnya menatapi kulit seputih susu milik Yoongi yang sempurna dari atas ke bawah. Untuk di beberapa bagian; leher, bahu, dan dada sudah terdapat tanda cium dari Jimin.

Lalu Jimin menatap perut yang masih terlihat rata itu. Kemudian tersenyum miris. Menebak-menebak apakah benar ada sesuatu—ah, atau ada seseorang yang hidup disana?

Entahlah, lalu Jimin menatap junior Yoongi bergerak gemetar karena hawa dingin yang menerpa tiba-tiba. Seolah memang seperti memanggil Jimin untuk segera memanjakannya.

.

Jimin terkekeh. Lalu menggenggam perlahan junior itu dalam genggaman hangat jari-jemari dan telapak tangannya.

Lalu Jimin memaksa Yoongi semakin melebarkan kedua kakinya dan Jimin duduk diantaranya. Menahan pahanya dengan sebelah tangan Jimin yang lain mencengkeramnya agar kedua kaki itu tak menyatu.

.

Yoongi kembali tersentak, ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, dan bersuara tertahan untuk menghentikan Jimin.

"Jim—hentikan." Ucapnya menatap Jimin dan menggelengkan kepalanya cepat. Lalu sebelah lengannya berada diatas lengan Jimin yang sedang menggenggam milik Yoongi itu.

Jimin hanya semakin mengeratkan genggamannya. Lalu menggerakkannya naik-turun dengan perlahan dan membuatnya menegang sempurna.

.

Yoongi menggeram dengan mulutnya yang ia tutupi dengan tangannya itu agar tak terdengar bahwa ia mendesah. Dan juga kembali menggerakkan kedua kakinya dengan percuma.

.

Jimin hanya menyeringai senang merasakan milik kekasihnya itu semakin menegang dalam genggamannya. Dan Jimin yang terus memompanya membuat Yoongi segera basah di dalam genggaman posesif dan hangat itu.

Melihat hal itu, Jimin tanpa memberi kode apapun menundukkan wajahnya di selangkangan Yoongi.

Lalu menenggelamkan junior milik Yoongi kedalam mulut hangatnya yang siap memanjakan dan memberikan godaannya pada Yoongi.

.

"Hngg—"

Saat itu juga Yoongi melepas desahan pertamanya.

Lengan yang sebelumnya menutupi mulutnya sendiri itu beralih mencengkeram sprei dan mengepalkan genggamannya disana. Dan lengan lainnya berada di rambut Jimin. Meremas surai gelap itu dengan pasrah karena Yoongi sia-sia untuk lepas dari jeratan kekasihnya sendiri yang sedang mabuk.

.

Yoongi terus membuka dan menutup kedua matanya. Sebelah kakinya mengalungi bahu Yoongi dengan gemas.

Sesekali Yoongi juga mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah bawah tubuhnya.

Melihat kepala Jimin yang naik turun di selangkangannya. Melihat apa yang dilakukan Jimin. Melihat bagaimana juniornya tenggelam dalam mulut Jimin.

.

Yoongi tak bisa untuk tak peduli. Dan kini ia hanya mendesah, tak rela dan ada sudut airmata kesedihan berkumpul di kedua matanya.

.

Hal seperti ini pertama bagi Yoongi. Sebelumnya Jimin tak pernah memberinya kegiatan blowjob. Dan Yoongi baru tahu kalau rasanya jauh lebih menakjubkan seperti ini. Rasanya begitu hangat. Begitu nikmat bagaiman mulut Jimin melingkupinya dengan basah.

Tetapi saat ini, kenikmatan yang Yoongi rasakan tidak seperti sebelumnya yang selalu membuat Yoongi nyaman dengan perasaan hangat dan terlindungi dengan perlakuan Jimin yang begitu lembut padanya.

Tetapi kini, semua hanyalah kenikmatan yang menyakitkan.

.

.

Jimin terpejam menikmati alurnya sendiri menaikturunkan kepalanya untuk memanjakan junior yang sudah pasti lebih mungil dari milik Jimin.

Jimin membiarkan bibirnya menyelimuti giginya selagi ia menghisap dan bergumam untuk menghasilkan getaran yang dapat membuat Yoongi melayang karena kenikmatannya itu.

Jimin juga melilit lidahnya di sepanjang junior milik Yoongi, tak lupa memainkan teman kembar kecilnya disana.

Membuat Yoongi terus bergerak gusar dan semakin kuat mencengkeram rambut Jimin.

Tetapi Jimin bahkan tak memikirkannya sekalipun.

.

Yoongi merasakan perutnya mengejang. Desahannya sudah tak terkontrol. Dan kini ia merasa ia akan datang. Sebuah orgasme akan menjemputnya.

Jimin juga menyadari hal itu. Tetapi ia malah memperkuat gerakan hisapannya dan menggumamkan sesuatu tentang Yoongi. Masih memainkan bola kembar milik Yoongi dan kini sebelah lengannya yang lain meremas pipi bokong Yoongi dengan gemas hingga memerah.

.

"...a—ak Jimin!"

Yooongi semakin menghempaskan kepalanya diatas ranjang dan tanpa sadar menaikkan pinggulnya dan membuat juniornya semakin tenggelam dalam mulut Jimin.

Lalu menyemburkannya dengan lemas disana.

.

Jimin masih menghisapnya kuat hingga kedua pipinya menirus sebelum akhirnya Yoongi menumpahkan hasil kenikmatannya dari perlakuan Jimin.

Jimin sudah menunggunya sejak tadi, ia menunggu Yoongi segera datang dan menyemburkan sarinya di mulut Jimin. Dan Jimin dengan senang hati menerimanya walau ia sendiri merasa kaku karena memang belum pernah melakukan sebelumnya.

Ini memang pertama kali untuk Jimin. Dari apa yang pernah dimimpikannya, ternyata Yoongi terasa jauh lebih manis daripada yang ia kira. Bahkan Jimin rasa ia ketagihan dan menginginkannya lagi.

.

Jimin menyudahi kulumannya begitu Yoongi berbaring lemas diatas ranjang dengan terengah. Jimin melepasnya dengan sensual dan berakhir kecupan kecil terdengar yang membuat Yoongi mendesah kecil.

Jimin bangkit terduduk kembali. Ia semangat dan bergairah sekali sekarang.

Lalu dengan cepat Jimin meraih kedua tangan Yoongi. Menariknya untuk duduk dan memeluk Jimin.

Tarikan Jimin yang membuatnya terbangun dari rebahannya itu membuat posisinya menjadi terduduk diatas pangkuan Jimin dengan kedua kakinya yang melebar dan berada di kedua sisi pinggang Jimin.

.

Yoongi mengerang kesal. Ia sedang lemas pasca orgasmenya. Lalu tiba-tiba Jimin menariknya duduk, hal itu membuat junior Yoongi berbenturan dengan milik Jimin yang sedang menegang dibalik celananya. Otomatis Yoongi mengerang.

Tetapi Jimin tak peduli itu, ia menarik Yoongi untuk menciumnya kembali dengan liar. Penuh gairah yang membakar.

.

Jimin terus mengulumi kedua bibir Yoongi bergantian seperti permen. Menghisapinya, lalu mengesekkan dengan giginya secara gemas karena rasa manisnya.

Dan Jimin menahan Yoongi dengan punggungnya, dan semakin mendekapnya erat begitu ia memasukkan lidahnya kembali menyusuri rongga mulut Yoongi yang selalu terasa menyenangkan untuk Jimin.

Sedangkan kedua lengan Yoongi sendiri bertengger malas di kedua bahu Jimin.

Yoongi juga tetap membuka separuh kedua matanya dan menatap Jimin dengan sendu, hanya untuk menatap Jimin yang sedang penuh nafsu menciumnya dengan memejamkan kedua mata.

Yoongi hanya sesekali membalas malas perlakuan itu. Yoongi tak bisa menemukan perasaan tulus dari Jimin yang melakukan hal-hal padanya semenjak Yoongi menemukannya pulang dalam keadaan mabuk.

Yoongi tak mengerti itu.

Kenapa Jimin lebih memilih seperti ini daripada membicarakan masalahnya berdua dengan Yoongi.

Apa...

Apa Jimin tak bisa mempercayai Yoongi lagi?

Begitu?

.

.

.

.

Yoochun dan Junsu sedang berada di Gimhae airport saat ini.

Junsu bilang akan ke Seoul malam ini juga. Dia bilang, dia khawatir pada Jimin. Tak bisa membiarkannya sendiri karena ia tahu sifat anaknya itu seperti ayahnya.

Kalau punya masalah selalu di pendam sendirian. Tetapi tak pernah berhasil di tutupi dengan baik. Dan berakhir selalu dengan stress sendiri. Setelah begitu mereka baru akan melampiaskannya pada alkohol dan semacamnya.

Begitu. Betapa mengertinya ia terhadap suami dan anaknya yang merepotkan itu. Makanya kini ia harus menyusul Jimin untuk mengajaknya berbicara kembali. Setidaknya untuk memberinya arahan. Karena bagaimanapun, Jimin itu masih muda dan ia mudah terpengaruh lingkungan. Jadi Junsu tak bisa menyepelekan hal ini begitu saja. Terlebih kalau memang benar tebakannya ketika Jimin membawa kekasihnya untuk menemuinya itu.

.

"Kenapa harus semalam ini sih. Besok pagi 'kan juga bisa." Gerutu Yoochun di bandara. Ia menguap-uap sambil berbicara.

Junsu hanya menyeruput kopi hangatnya dan duduk tenang. "Aku bisa pergi sendiri. Pulang saja sana dan tidur kembali."

Sebenarnya hanya Junsu yang akan pergi memaksa malam ini. Dan Yoochun tak bisa ikut dengan istrinya itu karena harus menyelesaikan pekerjaannya. Kebetulan esok ia ada janji dengan klien.

"Ya, jangan begitu. Aku 'kan harus mengantar istriku walau hanya sampai bandara."

"Iya iya." Junsu menghela napas dan menimpali. "Jangan lupa beri Jihyun makan selama aku pergi."

.

.

.

.

Jimin masih mencium bibir Yoongi. Ia begitu menikmati bagaimana bibirnya menangkup penuh menguasai seluruh bagian dari bibir Yoongi.

Jimin jadi merasa kecanduan, lebih candu dari wine terbaik perancis sekalipun.

Tetapi begitulah Jimin, hanya dari bibirnya saja ia sudah begitu memuja Yoongi.

.

Tetapi Jimin mulai merengut bingung. Kenapa Yoongi kini begitu pasif?

Ia bahkan tak memberontak atau membalas penuh perlakuan Jimin. Yoongi hanya diam pasrah. Tak meronta ingin lepas tapi juga tak kunjung membalas Jimin.

Jimin tidak suka yang seperti ini. Ia merasa diabaikan.

.

Masih dengan menempelkan bibirnya dengan bibir Yoongi, Jimin membuka kedua matanya.

Dan begitu kedua matany terbuka, ia langsung menatap tatapan sendu dari Yoongi yang sedang menatapnya.

.

Jimin tiba-tiba berdebar kencang. Kedua matanya yang baru saja terbuka langsung menatap kedua manik Yoongi.

Kedua manik kecil sewarna lelehan cokelat dan begitu jernih pancarannya itu menatap Jimin sendu.

Jimin langsung terdiam terpaku menatapnya. Menghentikan gerakan ciumannya tepat begitu Jimin dapat melihat bahwa ada sebulir airmata hangat terjatuh di salah satu sudut kelopak mata sayu itu. Menuruni pipinya.

Jimin terdiam.

Kemudian dengan sadar dan perlahan ia menjauhkan ciumannya. Menatap lekat kekasih gulanya itu.

Memberinya ruang untuk bernapas kembali dan saling menatap satu sama lain dengan emosi yang tercampur disana.

.

Jimin merasa cukup pusing. Tatapan Yoongi entah bagaimana membuatnya terasa seperti di pukul keras tepat di kepalanya.

Membuat Jimin kembali terbayang apa yang baru saja dilakukannya. Berjalan di trotoar, memasuki bar, memesan wine, kemudian pulang, lalu...

Jimin memaksa Yoongi.

.

Yoongi mengusap kasar airmata yang baru saja jatuh di pipinya itu dengan punggung tangannya secara kasar. Ia masih menatap Jimin.

Lalu tak lama kemudian, Yoongi memecah keheningan yang tercipta. Karena Jimin tiba-tiba berhenti dan menatapnya dengan pandangan yang sulit Yoongi mengerti.

.

"Kenapa berhenti... Hm?"

Yoongi membuka suara dan berkata pelan. Kedua lengannya ia biarkan tetap bertengger malas di kedua bahu Jimin.

Dan tetap menatapnya lurus. Tenggelam dalam kedua manik gelap yang selalu Yoongi sukai disana.

.

Tetapi Jimin masih tak bersuara.

Yoongi menghela napas sedih. "Waktu itu... kau bilang mencintaiku bukan sesuatu yang kau rencanakan. Kalau begitu..."

Suara Yoongi mulai bergetar. Ia mengepalkan kedua tangannya di belakang leher Jimin.

"Membuatku terjatuh lalu meninggalkanku... adalah rencanamu. Benar begitu—"

.

Jimin menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Yoongi. Dari nada suaranya saja membuat perasaan Jimin teriris. Dan apa yang dikatakannya barusan malah menohok keras perasaan Jimin dengan dalam. Dan juga sebagai tanda membuat Jimin sadar bahwa ia telah menyakiti kekasih tersayangnya itu.

Jimin segera saja memotong ucapan Yoongi. Lalu menariknya kedalam dekapannya.

Mengusap punggung dan tengkuknya yang halus untuk membuatnya nyaman. Karena sungguh, Jimin sepenuhnya sadar bahwa ia telah menyakiti perasaan lembut kekasihnya. Bahkan hampir menghancurkannya.

.

"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Maafkan—"

"Bohong!"

Yoongi membentak dingin.

.

Jimin melonggarkan dekapannya lalu menatap Yoongi dalam. Menatapnya penuh perasaan bersalah.

"Bisakah kau merasakan?" Jimin masih menatap Yoongi, yang dibalasnya dengan tatapan sedih. "Kau itu separuh hidupku."

Jimin lalu kembali mendekap Yoongi erat. Ia berusaha keras menahan tangisnya yang menyesakkan.

Jimin mengeratkan dekapannya kala ia merasa hampir saja ia lepas kendali. Hampir saja ia menyakiti Yoongi kalau saja ia tak melihat simbol airmata dari Yoongi yang menandakan bahwa lelaki manis itu tersakiti.

Tersakiti oleh Jimin.

.

"Maafkan aku. Aku salah. Aku tak seharusnya menyakiti hal paling berharga dalam hidupku." Jimin berucap dalam dekapannya. Ia sesekali mengecup belakang leher Yoongi dengan sayang.

"Maafkan aku... Yoongi-hyung."

.

Yoongi mengusap sebelah matanya. Akhirnya ia mendengar Jimin memanggil namanya.

Sejak mabuk, Yoongi berpikir Jimin benar-benar melupakannya.

Tetapi kini Jimin meminta maaf padanya. Lagipula, memangnya pernah Yoongi tak memaafkan Jimin? Yang ada Yoongi akan selalu memaafkannya walau tanpa harus berkata panjang lebar pada Jimin.

Dan Yoongi bisa merasakan kembali perasaan hangat menyelimutinya dalam dekapan Jimin.

.

"Takkan meninggalkanku?" Tanya Yoongi pelan begitu Jimin menjauhi kembali pelukannya agar ia bisa saling menatap kekasihnya itu.

"Takkan pernah." Jimin berucap tegas dan meyakinkan di hadapan Yoongi.

"...janji?"

Jimin mulai tersenyum. Ia lalu mendekatkan wajahnya pada Yoongi. Mencium keningnya, kedua kelopak mata sipitnya, kedua pipi Yoongi yang terasa begitu kenyal, hidung kecilnya, lalu Jimin mengakhirinya dengan kecupan sayang di bibir laksana kuncup mawar itu.

Jimin lalu tersenyum hangat.

Yang membuat Yoongi merona karena perlakuannya yang tadi.

.

"Aku janji." Jimin meraih kedua tangan Yoongi. Mengelus pelan jemari Yoongi dimana tersemat cincin emas putihnya disana, yang terlihat beradu karena kulit Yoongi yang putih seperti susu. Kemudian Jimin mengecup kedua punggung tangan Yoongi dengan lembut.

"Kau boleh membunuhku kalau aku melakukannya." Lanjut Jimin.

Yoongi terkekeh kecil mendengarnya. "Baiklah, ingatkan aku untuk membunuhmu nanti."

Jimin tersenyum mendengarnya. Lalu ia tertawa kembali dan memberikan Yoongi banyak kecupan sayang.

Dan mereka menikmati perlakuan hangat berdua di kamar itu.

Kembali pada Jimin yang akan selalu berusaha untuk membuat Yoongi tersenyum.

.

.

"Um... hyung?"

Jimin berucap pelan. Lalu Yoongi mengangkat sebelah alisnya heran menatap wajah Jimin.

"Kenapa?"

Jimin hanya menunjukkan cengiran lebarnya. Lalu lengannya meraih sebelah tangan Yoongi, dan menuntun lengan Yoongi itu kearah celana Jimin.

Tepat di selangkangannya yang masih terdapat sebuah kebanggaannya yang masih menegang sempurna disana.

.

Yoongi sontak membulatkan kedua matanya.

Lalu menarik jauh-jauh lengannya yang sempat menyentuh benda milik Jimin yang membesar di balik celananya.

Dan dengan secepat yang ia bisa, Yoongi beranjak menjauh dari Jimin. Menarik selimut biru langit kesukaan Jimin lalu turun dari ranjang. Kemudian cepat-cepat membalut tubuhnya asal-asalan dengan selimut itu.

"TIDAK! AKU SEDANG TIDAK MOOD MELAKUKANNYA. LAKUKAN SAJA SENDIRI SANA! DAN JUGA MANDI! KAU BAU ALKOHOL."

.

Jimin berjengit kaget melihat Yoongi yang buru-buru menjauh darinya lalu meneriakinya dengan semangat.

Dan Jimin baru saja membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi Yoongi sudah berbalik meninggalkannya.

Yoongi berjalan menuju pintu kamar Jimin. Punggungnya terlihat separuhnya karena tak membalut seluruh tubuhnya dan membiarkan selimut kesayangan Jimin itu menyapu lantai mengiringi langkah Yoongi.

Beberapa saat kemudian, pintu tertutup kembali dan Yoongi telah pergi dari kamar Jimin.

.

Jimin tertawa meringis menatap kepergian kekasihnya.

"Huh, Yoongi-hyung berhutang servis pembuka padaku. Aku harus menagihnya nanti." Gerutu Jimin.

Ia lalu beranjak dari ranjangnya berjalan cepat menuju kamar mandi.

Jimin butuh guyuran air dingin untuk menenangkan tubuhnya yang terasa panas.

.

"Oh shit... Tubuh putih mulus itu... Dan cengkeraman hangatnya yang menggoda."

Jimin bergumam disela guyuran air dingin yang mengaliri seluruh tubuhnya.

.

.

.

.

Yoongi melongok di daun pintu kamar Jimin. Mendengar suara gemericik air, Yoongi yakin Jimin sedang berada di kamar mandi.

Yoongi lalu kembali memasuki kamar itu untuk berpakaian kembali.

.

Yoongi menggerutu dengan memajukan bibirnya karena pakaiannya yang berserakan. Lalu juga karena ia tak bisa memakai kemejanya kembali karena kancingnya yang terlepas.

Akhirnya Yoongi hanya mengenakan kembali boxer pendek hitam yang hanya sepahanya, lalu memakai kemeja Jimin yang kebesaran di tubuhnya.

Yoongi juga membereskan ranjang Jimin yang berantakan, lalu kembali keluar kamar dan menuju dapur.

Walau hari sudah tengah malam. Gara-gara Jimin, Yoongi jadi merasa lapar.

.

.

Yoongi membuka kulkas Jimin dan menunduk untuk melihat-lihat isinya. Mencari sesuatu yang bisa ia makan.

Yoongi menemukan sisa kotak buah-buahannya, Yoongi mengambil itu dan mengapitnya di lengan. Lalu Yoongi juga meraih snack jagung disana lalu menutup lemari pendingin itu dengan sikutnya.

Yoongi meletakkan makanannya diatas konter dapur, lalu Yoongi menyeduh susu bubuknya dengan air panas.

.

.

Yoongi mengunyah satu persatu buah disana, bergantian macamnya dari apel, jeruk, pepaya dan juga pir.

Yoongi sesekali merengut lucu ketika mengunyah buah tersebut karena rasa dingin yang menyengat giginya. Lalu Yoongi menetralkannya dengan susu hangatnya yang ia seduh tadi.

Yoongi begitu menikmatinya dan memakannya dengan lahap.

.

Sampai semua buahnya hanya tersisa tinggal beberapa potong, Yoongi mulai berhenti menyuapkannya. Kemudian memegangi perutnya.

.

Astaga,

Yoongi belum pernah merasakan yang seperti ini.

Perutnya tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa. Rasanya seperti sesuatu di dalam perutnya terikat dengan kencang. Keram dan mulas menjadi satu.

.

Yoongi berdiri, mencoba untuk melangkah. Ia ingin menghampiri Jimin untuk meminta bantuannya.

Tetapi baru beberapa langkah Yoongi tempuh, ia tak kuat lagi merasakan sakitnya. Dan Yoongi menyandarkan punggungnya di dinding terdekat. Mengerang sakit dan memegangi perutnya.

"Hh, sakit..."

Yoongi memejamkan erat kedua matanya. Ia hanya berdiri dan bersandar di dinding.

Yoongi rasa, bergerak sedikit saja membuat rasa sakit di perutnya semakin jadi.

"Ukh, perutku... Jimin."

Yoongi semakin merintih dan meremas perutnya sendiri. Mencoba mengurangi rasa sakitnya yang percuma.

.

Yoongi mengerang semakin keras. Ia tak mengerti kenapa perutnya terasa aneh dan sakit seperti itu.

Dan yang membuat Yoongi terkejut dan ketakutan tak lama kemudian adalah, ada darah hangat mengalir di pahanya. Warna merahnya begitu pekat hingga seperti menghitam.

Yoongi tentu saja sangat takut dan khawatir.

Dengan melawan rasa sakit di perutnya, Yoongi meneriakkan nama Jimin disana.

.

"JIMIN!"

.

.

Jimin menghela napas lega begitu keluar dari kamar mandi. Habis bermain solo (lagi), Man.

Dan kini Jimin sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk yang bertengger di lehernya. Ia sudah memakai training panjangnya dan kaus panjang tipis hitam.

Jimin baru saja ingin meraih ponselnya yang berada diatas meja nakasnya. Tetapi ia menarik kembali tangannya ketika tiba-tiba terdengar suara Yoongi yang memanggil namanya.

Jimin sontak khawatir, tak biasanya Yoongi berteriak memanggilnya. Lalu Jimin segera berlari keluar kamarnya. Mencari-cari Yoongi hingga Jimin menemukannya di dapur.

.

"Yoongi-hyung!"

Jimin menghampiri dapur lalu terdiam untuk beberapa saat begitu melihat Yoongi bersandar di dinding dengan kedua tangan meremas perutnya sendiri.

Dan yang lebih mencengangkan Jimin, ia melihat darah mengalir di paha Yoongi hingga ke betisnya.

.

Dan suara erangan kesakitan Yoongi, menyadarkan lamunan sesaat Jimin.

"Yoongi-hyung! Kau berdarah?!" Tanya Jimin cepat. Ia menangkup wajah Yoongi.

Yoongi hanya menggeleng dan terus mengerang, ia sudah hampir menangis. "Sa—sakit sekali Jimin... sakit, ukh—"

.

Jimin segera bergerak cepat. Ia meninggalkan Yoongi sebentar untuk mengambil dompetnya lalu kembali menghampiri Yoongi.

.

"Kita ke rumah sakit sekarang, Hyung."

Jimin segera menggendong Yoongi dengan tangan kanannya berada di belakang kepala Yoongi, dan tangan kirinya mengangkat Yoongi di lipatan lututnya.

Yoongi segera saja memeluk leher Jimin dan mencengkeram pundaknya untuk melampiaskan rasa sakitnya. Dan terus mengerang kesakitan.

.

Jimin sangat khawatir dan juga bingung. Kenapa kekasihnya itu tiba-tiba berdarah?

Jimin benar-benar tak mengerti. Ia sangat ketakutan, apalagi mendengar Yoongi mengerang kesakitan seperti itu.

Jimin benar-benar takut, sungguh.

.

Jimin baru saja keluar dari bangunan apartemennya. Dan ia begitu terkejut melihat sebuah taksi berhenti di hadapannya dan ketika jendela penumpangnya terbuka, Jimin melihat wajah ibunya disana.

.

"Loh Jimin?! Kenapa?!" Tanya Junsu khawatir, ia menatap Yoongi yang mengerang kesakitan dalam gendongan Jimin.

"Aku harus ke rumah sakit, Eomma!"

.

Dan Jimin segera menaiki taksi tersebut bersama ibunya.

Jimin sudah hampir menangis melihat keadaan Yoongi yang terus mengerang kesakitan.

Jimin tak tega melihatnya, sungguh.

.

.

.

.

To be continued...

.

.

.

.

Nb: haaaai ._.

Tadinya gak mau update loh seriusan, tapi kebayang absnya Jimin di mama yang kayaknya udah lama banget gak ngeliat gitu, langsung semangat ngetik fanficnya o- *terkapar lemah karena absnya jimin lebih bagus dari jaman no more dream*

Terus juga suga yang pake kepangan rambut palsu di topinya, itu asli lucu dan keren sekaligus xD jadi kepikiran yang kinky deh... *ini otaknya hentai*

Btw ini panjang banget ya? Ini mah bukan sekuel, ganti jadi season dua. Soalnya masih panjang kayaknya LOL

Tebak dong kenapa yoongi berdarah lagi :(

.

Yaudah, mau bales review nonlogin dulu lah :'D

luna kenapa ;_; emang kamu dimana. Dan jangan pernah nungguin ff ini huks/?. btsgula kenapa baru muncul ;_; dan sttt punya seme kayak jimin juga gak? XD. 454 hahaha tabok ajalah sana jiminnya. Dan perkiraanmu ada benernya juga sih :v yoyo gimana uasnya~xD aduh tidak, bakalan mati nih bunda kena puppy eyesnya baby kookie #mati. Kim Yong Jin yeah jimin itu meragu, dia kan masih bocah.. Bunda cuma bisa lanjutin separo hiks. anthi lee tentu saja, kan ada minyoongi yang gregetz '-' yoo ini lanjut. hyperhopeu iya iya begitulah jimin :') huhu memang kamu tinggal dimana? Siplah ini berlanjut panjang hahaha. Aeibi812 nggak kok, jimin emang begitu sih, tabok aja dianya. Fighting juga!. mrs kim yesseu~ ini update lagi. Maaciw udah baca :3. chimin95 kamu siapa? dimana? :v ayo ketemuan disana xD btw jimin dikatain binal! Thankyu wkwk :'D *pasang petasan*. Minaaa *ikutan nyanyi girls day* iya nih hoho berlanjut kok, keep calm and tabokin jimin. gewrlsdei yah! Ini ratednya aman! Gak bakal ada bdsm D': iya jimin emang kampret, silahkan ditabok sesuka hati sesuai selera. istri jongin yang soleha astaga aku ngakak sama namanya, tolong dipertahankan, dan tetap menjadi yang tersoleha untuk abang jongin, oke? Keguguran? Umm umm... *one month later* saranmu boleh xD tapi jangan sampe kesana dong, sian jimin :v. armybana kamu kemana aja D: iya kamu buang aja jiminnya, pake absnya boleh buat gantiin talenan :'v janganlah bedesem, aku gak bakal tegaaa. Iya maaciw sayang, mari kita lihat jimin terjun dari patung pancoran hiks. Kiddo HAI BABY CAPSLOCKNYA JANGAN LUPA DIPENCET LAGI DAN INI UDAH UPDATE LOH UHUK. Guest kamu siapa? Kenapa gak ada namanya :'v kenapa baru ngeship juga, ff minsu sekarang mulai beranak pinak, ayo baca lagi!. widhianapcy kenapa :( padahal jimin udah nungguin kamu haha ini update, ayo baca lagi!

.

Umm, terima kasih sudah membaca sampai sini dan juga reviewnya yang kemaren :"D I love you~ kritik dan masukannya boleh~

Review, please? :3

.