Disclaimer : Bleach Tite Kubo
-Find a Love-
Warning : Panpik super abel, Gaje, ga nyaMbung, parah, bisa mengerusak mata, de el el
~Selamat Membaca~
Chapter 14
.
.
.
"Kau..." lirih Rukia dengan ekpresi yang tak percaya akan yang apa dilihatnya kini.
Sosok itu tak mengalihkan pandangannya sedikitpun kearah Rukia, malah ia memilih melangkahkan kaki nya lebih lebar meninggalkan Rukia.
"Tunggu !" pekik Rukia mencoba menahan sosok itu. Merasa diacuhkan Rukia kembali mencoba memanggil sosok itu sedikit lebih kuat dari sebelumnya. "Heii, kubilang tunggu aku !" kata Rukia kesal.
Tak juga mendapat jawaban, Rukia menarik lengan sosok itu dengan sekuat tenaga sehingga sosok itu berhadapan dengan Rukia yang menatapnya lurus.
"Kubilang tunggu, kau mau kemana Gin !" kata Rukia sedikit menaikkan suaranya.
Gin yang semula kaget dengan apa yang dilakukan Rukia, segera mengalihkan pandanganya kearah lain, menghindari kontak mata yang dilancarkan Rukia padanya.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku, kau mau kemana" tanya Rukia lagi.
"A-aku.."
"Bukannya kau hari ini akan pergi keparis bersama Rangiku-san, kenapa kau disini ?" tanya Rukia mengebu-gebu.
"Kau tenang saja, aku tidak akan menggang-..."
"Tatap mataku Gin !" seru Rukia menarik wajah Gin yang tak mau membalas tatapan matanya.
"Rukia..." lirih Gin kaget melihat air mata Rukia yang jatuh dipipinya.
"Segitu sedihkah kau melihat ku yang masih ada dihadapanmu" batin Gin. Dengan kuat Gin mengepalkan tangannya dan mulai berbalik meninggalkan Rukia. "Aku akan pergi Rukia, bila keberadaanku benar-benar hanya akan menyakitimu, aku akan pergi" kata Gin lagi dalam hatinya.
"Ehh !" teriak Rukia kaget melihat Gin yang meninggalkan dirinya.
"Tunggu !" lanjut Rukia lagi mencoba mengejar Gin. "Kau mau kemana lagi" lirih Rukia menarik mantel yang dikenakan Gin, Gin tetap tak bergeming. Di hentakkan tangannya sedikit keras agar Rukia melepaskan cengkramannya yang sendari tadi menarik-narik mantel Gin.
"Akh !" Rukia terjatuh karna hentakan tangan Gin. Gin menghentikan langkah kakinya mendengar teriakan Rukia yang meringis kesakitan , tak selang beberapa detik Gin kembali meneruskan perjalanannya. Rukia menatap punggung Gin tak percaya. Gigi Rukia mengertak kuat, dengan tangan terkepal, Rukia segera berlari menuju kearah Gin. Kedua tangannya terjulur meraih pinggang Gin dari belakang saat sampai didekatnya. Membawa punggung Gin kedalam pelukannya dengan erat.
"Kenapa kau pergi meninggalkanku ! Berani sekali kau seenaknya pergi dariku seperti itu dengan mudahnya. Kalau kau memang marah karna sikap ku kemarin-kemarin, aku minta maaf. Tapi jangan sekali-sekali kau mencoba lari dari ku. Aku tidak sanggup jauh darimu Gin" kata Rukia serak.
"Kalau kau benar-benar marah dan tidak bisa memaafkan ku, kau bisa menghukumku sepuas hatimu. Kau bisa menghukumku membersihkan toilet, perpustakaan, ruang kepala sekolah, UKS, kantin, lapangan basket, lapangan bola, lapangan voli, seluruh seisi SMA Karakura, ataupun seluruh kota Karakura aku mau. Tapi ku mohon jangan tinggalkan aku !" teriak Rukia dengan suara bergetar.
"L-Lepaskan..." kata Gin pelan.
"Ehh" tanya Rukia lagi.
"Lepaskan !" ulang Gin lagi.
"A-aku tidak mau !" Rukia kembali mengeratkan pelukannya di pinggang Gin.
"Ku bilang lepaskan !" ucap Gin setengah berteriak, dengan kasar Gin melepaskan tangan Rukia yang membelit pinggangnya. Rukia yang tidak menyangka akan mendapatkan respon seperti itu dari Gin hanya bisa ternganga. Segitukah bencinya Gin atas perlakuan yang Rukia buat padanya tanya Rukia dalam hatinya. Detik berikut nya keterkejutan Rukia tidak hanya berhenti sampai disitu, matanya yang besar kembali membulat lebih besar dari ukuran biasanya melihat reaksi Gin selanjutnya.
Gin memeluk Rukia ! (Cihuy ! Kemajuan tuhh *sambil melompat-lompat kayak kangguru) Memeluknya dengan sangat erat seakan tak ingin melepaskan gadis mungil itu dari dekapannya.
"Kau kemana saja, aku mencarimu kemana-kemana tapi kau tidak ada. Bahkan di bandarapun aku juga tidak berhasil menemukanmu, aku pikir kau sudah pergi meninggalkanku" lirih Rukia membalas pelukan Gin lebih erat setelah terbengong-bengong beberapa saat.
"Rukia...Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku tidak sanggup jika harus jauh darimu. Lebih baik aku mati dari pada tidak melihatmu sedetik saja. Aku-.."
"Berjanjilah padaku kau tidak akan pernah meninggalkanku walau apapun yang terjadi" pinta Rukia diselingi isak tangisnya.
"Rukia..." kata Gin pelan.
"Berjanjilah Gin..Hiks-hiks b-berjanjilah padaku..." mohon Rukia lagi.
"Sampai matipun aku tidak akan meninggalkanmu Rukia. Tidak akan pernah" ucap Gin pasti.
Rukia tidak menjawab pernyataan Gin, ia malah terus menangis dipelukkan Gin yang mendekapnya erat. Tangis kebahagian dan kelegaan karna orang yang dicintainya kembali kesisinya.
"Sudah dong, jangan nangis. Cengeng banget sich" kata Gin mengelus punggung Rukia lembut.
"Berisik ! Terserah aku dong mau nangis apa tidak !" kata Rukia ketus sambil mengelap air matanya dengan punggung tangan kanannya tanpa melapaskan tangan kirinya yang memeluk Gin .
"Awas ya kalau kau berbohong, aku tidak akan pernah memaafkanmu" kata Rukia pura-pura marah.
"Heii, kok cuma itu sich" kata Gin cemberut.
"Memangnya apa kau mau apa lagi" tanya Rukia sedikit merenggangkan pelukkannya agar bisa menatap wajah pria yang ia cintai.
"Tambahin, dipukul kek, di cubit kek, disiksa kek, kok cuma ga akan maaf'in sih" jelas Gin singkat.
"Loh kok malah seneng disiksa sih ?" tanya Rukia heran.
"Hehehe, kalau disiksa kan artinya kau benar-benar sayang padaku. Tidak mau semudah itu melepaskanku walaupun kau harus menyiksaku sekalipun" jawab Gin pendek sambil mencubit hidung Rukia.
"Aww, sakit tahu" gerutu Rukia ikut balik mencubit pipi Gin hingga lebar kayak daun pisang.
"Kau tidak dingin Rukia" tanya Gin saat menggenggam lembut tangan Rukia yang mencubit pipinya.
"Ahh, ini.."
"Ke apartemenku yuk. Disini sangat dingin, sebaikknya kau istirahat sebentar sambil menghangatkan diri. Aku juga harus membereskan barang-barang yang sudah ku kemas disana. Bagaimana kau mau ? sebagai calon istri yang baik kau harus belajar menyiapkan perlengkapan calon suami mu ini" kata Gin melepaskan mantelnya dan memberikannya pada Rukia agar tidak kedinginan.
"Dasar ! Bilang saja kalau kau itu pemalas" kata Rukia kesal.
.
.
.
"Silahkan masuk, princess" kata Gin membuka pintu apartemennya.
"Bisa tidak sich kau tidak memanggilku dengan sebutan seperti itu. Membuatku merinding saja mendengarnya" kata Rukia bergidik ngeri.
"Loh, tidak salahnya kan aku romantis sedikit dengan calon istriku" bela Gin.
"Errr...Terserah kau saja Gin. Ehh mau ku bantu kau merapikan semua pakaianmu ?" saran Rukia.
"Tidak usah. Biar aku saja, kau istirahat saja sambil menghangatkan dirimu" ujar Gin lembut, menarik koper yang dibawanya kedalam kamar.
Rukia berjalan tertatih-tatih menuju sofa ruang tamu, sesekali matanya kembali melirik kearah luka dilututnya. Baginya saat ini luka yang dirasakanya tidak lagi terasa sakit, rasa sakit itu tergantikan oleh kehadiran orang yang sangat ia cintai. Untuk kali ini Rukia tidak mau lagi mengabaikan perasaan hatinya. Sudah cukup kepedihan yang ia rasakan saat Gin akan pergi meninggalkan dirinya hanya karna keegoisannya semata. Ia tidak menginginkannya lagi, tidak ingin lagi.
"Kenapa melamun ?" tanya Gin keluar dari kamarnya membawa kotak P3K.
"Siapa yang melamun" sanggah Rukia cepat.
"Kakimu masih sakit ? Sini ku obati, nanti bisa tambah parah" Gin meletakan kotak P3K di atas meja dan mengeluarakan berbagai macam barang dari dalamnya. Mendengar perkataan Gin, Rukia pun segera mengulurkan kakinya yang terluka kearah Gin.
"Perih tidak ?" tanya Gin mengusap lembut luka dilutut Rukia dengan kapas.
Rukia menggeleng pelan, dengan pandangan mengamati setiap pergerakan Gin yang telaten membersihkan lukanya. "Gin..Bagaimana dengan Rangiku-san ?" tanya Rukia hati-hati.
Gin terdiam, dengan tarikan nafas berat, ia pun mulai membuka suaranya. "Seperti yang kau lihat, aku meninggalkannya" kata Gin tersenyum kecut.
"Apa dia baik-baik saja ?" tanya Rukia lirih.
"Entah lah, tapi sebelum keberangkatan kami ia malah menyuruhku pergi" kata Gin lagi.
"..."
"Dia..."
Gin Flashback
"Ak-aku yakin Rangiku. Ak-aku sudah membulatkan tekat ku untuk pergi dari sini" kata Gin gagap.
"Hemm, begitu ya" kata Rangiku tersenyum kecut, kemudian menundukan kepala nya perlahan.
"Kenapa kau diam, sebaiknya pasang sabuk pengamanmu, pesawat akan lepas landas" ucap Gin hendak memasang sabuk di disisi tempat duduk Rangiku.
Grapp ! dengan tiba-tiba Rangiku mencengkram tangan Gin. "R-Rangiku..?" ucap Gin terbata-bata.
"..."
"K-Kau k-kenapa ? J-Jika kau mencengkram tanganku seperti ini, a-aku tidak bisa memasang sabukmu. Pesawatnya akan segera lepas landas"
"..."
"R-Rangiku..." panggil Gin pelan.
"Lepaskan.." kata Rangiku singkat.
"Ehh ?"
"Lepaskan Gin !" kata Rangiku lagi.
"K-Kau k-kenapa ?" tanya Gin khawatir.
"P-Pergi.." lirih Rangiku lagi.
"Apa ?" ucap Gin kaget.
"Cepat pergi, G-Gin.."
"Apa maksud mu Rangiku !" kata Gin sedikit emosi melihat Rangiku yang berbicara tidak jelas.
"Apa kau tidak dengar yang ku bilang hah ! Cepat pergi Gin !" teriak Rangiku melengking sambil melihat kearah Gin.
Gin memandang Rangiku tak percaya.
"Cepat pergi ! Bila kau tidak pergi juga aku akan menyeret mu keluar dari pesawat ini ! Ayo, cepat pergi !" teriak Rangiku sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Ada apa dengan mu, hah !" Gin ikut berdiri dari tempat duduk nya.
"K-Kau !" geram Rangiku mengepal tangan nya kuat sambil mendudukkan kepalanya dalam. Dengan tiba-tiba Rangiku segera mengambil tas di rak atas tempat duduk mereka kemudian melemparkan nya kedepan pintu. Sontak orang yang sedang masuk kedalam pesawat melalui pintu itu pun sweatdrop sambil mengeser tubuh mereka agar tidak mengenai tas lemparan Rangiku. Ckckckck, lemparan maut tuh ! Mesti waspada, kalau masih sayang sama jidat kalian. Biar ga benjol kayak ikan lohan gitu.
"Kau gila Rangiku ! Apa yang kau lakukan, hah !" teriak Gin kaget melihat tindakan Rangiku yang brutal.
"Cepat pergi Gin !"
"Rangiku !"
"Cepat pergi dan temui dia, Gin !" teriak Rangiku mengangkat kepalanya memandang kekasihnya.
"R-Rangiku..." lirih Gin kaget melihat air mata Rangiku yang mengalir dengan derasnya.
"Pergilah Gin...Temuilah dia... Temuilah orang yang kau cintai Gin ..."
"T-Tapi Rangi-.."
"Aku tahu !" ucap Rangiku lagi.
"Ehh ?"
"Aku tahu, k-kau sedang menderita saat ini Gin..." Lirih Rangiku mengigit bibir bawahnya kuat.
"Rangiku..." rintih Gin tak percaya.
"Aku tak kuat jika meihatmu menderita Gin... A-Aku tahu, saat ini kau hanya pura-pura bahagia, pura-pura tersenyum ! Aku tahu Gin kalau hatimu saat ini sakit walaupun kau tutupi dengan senyuman mu itu. Aku tahu !" teriak Rangiku sambil memejamkan matanya yang terus mengeluarkan butiran bening.
"Jika kau tersiksa didekatku, aku malah lebih tersiksa Gin ! Aku akan lebih tersiksa bila melihat orang yang kucintai tak bahagia bersama denganku !"
Gin terdiam.
"Maka dari itu, pergilah dari sisiku jika aku tak mapu membuatmu bahagia ! Pergilah Gin ! Pergilah, dan temui kebahagian mu yang sebenarnya ! Temuilah orang yang kau cintai Gin !"
"A-Aku tidak bi-..." belum sempat Gin berbicara, dengan kuat Rangiku mencengkram baju Gin dan mendorongnya kuat mengarah ke pintu masuk pesawat.
"PERGI GIN !"
"R-Rangiku.." ucap Gin terbata-bata. Matanya yang dari tadi tertutup, terbuka dengan sempurna. Jarang sekali Gin membuka kedua matanya pada orang banyak, walaupun ada masalah yang genting sekalipun. Gin hanya menunjukan warna mata asli nya pada orang-orang yang berarti bagi hidupnya. Hanya pada Byakuya, Rangiku, dan Rukia. Bahkan kedua orang tuanya pun tak pernah ia tunjukan warna asli dari bola matanya. Weleh-weleh Gin =_="
"Cepat pergi Gin sebelum aku berubah pikiran !" ucap Rangiku tanpa mengurangi volume suaranya.
"R-Rang-..."
"PERGI !" teriak Rangiku mendorong tubuh Gin kuat hingga Gin terjatuh karna kehilangan keseimbangan.
"Rangiku.." ucap Gin bergetar. Tangan kirinya yang memegang tas yang dilemparkan Rangiku dengan erat.
"M-Maafkan aku Rangiku" ucap Gin tegas sambil berdiri kemudian berlari keluar.
"Ukhh..." rintih Rangiku dengan tubuh yang bergetar hebat saat melihat sosok Gin menghilang dari pandangan matanya. Kedua tangan nya yang semula mengepal kuat perlahan terangkat kearah wajahnya.
"Huahhhhhhh !" teriak Rangiku histeris sambil terduduk di lantai. Hilang sudah seseorang yang selalu memenuhi hatinya selama 11 tahun. Yang mampu membuat ia tersenyum, dan merasakan indahnya cinta. Tapi apa boleh buat itu lah keputusan yang telah diambilnya. Demi kebahagian seseorang yang berarti bagi hidupnya, seorang yang amat berharga untuk dilepaskan, seseorang tak akan pernah lagi berada disisinya. Seseorang yang amat ia cintai, seumur hidup nya.
"Maafkan...Maafkan aku, Rangiku" lirih Gin menggeleng kepalanya pelan saat mendengar suara teriakan Rangiku sambil terus berlari.
Gin End Flashback
"Rangiku-san..." lirih Rukia menekuk kepalanya dalam.
Gin hanya terdiam.
"Apa Rangiku-san b..baik-baik saja Gin..." tanya Rukia hati-hati.
"Entahlah, a-aku berharap dia baik-baik saja. Semoga saja, d-dia bisa menemukan orang yang lebih baik untuk dirinya bukan orang berengsek seperti ku yang hanya bisa menyakitinya saja" kata Gin sambil mengepal tangannya kuat.
"G-Gin kau tidak boleh bicara seperti itu.." ucap Rukia menggengam tangan Gin erat.
"Memang benarkan Rukia, aku ini pria berengsek, kejam, tidak bertanggung jawab, aku bahkan tidak pantas disebut sebagai seorang pria ! Aku telah menyakiti Byakuya, Rangiku, dan juga kau. Aku tidak pantas dima-..."
"Gin !..." Rukia sedikit menyentakkan tangan Gin yang ia genggam erat.
"Rukia..."
"Jangan Gin..." ucap Rukia singkat sambil menggeleng kapalanya pelan. "Jangan terus menyalahkan dirimu" ucap Rukia tersenyum lembut.
"Itu kenyataannya Rukia" ucap Gin cepat. "Aku tahu, kau hanya ingin menghiburku agar aku tidak lagi merasa bersalah. Tapi memang itu lah yang terjadi sekarang, aku memang pengkhianat. Tidak pantas memiliki orang-orang seperti kalian"
"Baik aku , Byakuya-san, dan Rangiku-san tidak pernah menyalahkan mu Gin. Tidak juga menyalahkan takdir tuhan yang begitu berat pada kita berempat. Ini semua memang jalan yang tuhan berikan pada kita Gin, pertemuan kita, hubungan kita, rasa cinta kita, kekecewaan kita, kesakitan kita. Semua pasti memang sudah digariskan pada kita. Pasti...Pasti ada makna yang sangat luar biasa di balik semua ini yang telah tuhan rencanakan pada kita semua" ucap Rukia sambil tersenyum lembut kearah Gin.
"Rukia..." ucap Gin dengan mata membulat. "Buh-Buhahahahahaha" gelak tawa Gin membahana di ruang apartemennya.
"K-Kenapa k-kau tertawa ?" tanya Rukia terbata-bata.
"Buahahahahahahaha" Gin terrus tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Rukia semakin mengerut heran.
"H-Hey k-kau kenapa. Ada apa, hah ?" tanya Rukia heran.
"W-Wajahmu...Hahahaha, wajahmu sa-sama seka-li t-tidak , bwahahahaha" kata-kata Gin kembali terputus karna tawanya yang tidak bisa ditahan.
"Hah ? Apa sich, ngomong yang benar donk !" protes Rukia.
"Hahh-hahh. Wajahmu itu sangat tidak cocok seperti tadi, hahahahaha. Kata-katamu mu memang bagus,sarat akan makna, tapi kok ekpersi wajahmu tidak cocok ya saat kau mengatakan itu. Hahaha"
"Grrrrtt, kau !" geram Rukia sambil memukul kepala Gin dengan kekuatan penuh.
"Awww ! Sakit~~~" ucap Gin sambil mengelus kepalanya yang terkena pukulan telak dari Rukia.
"Apa yang lucu, hah ! Aku sedang berbicara serius kenapa kau malah tertawa, dasar !" teriak Rukia dengan emosi meluap-luap.
"H-Habis..."
"Habis apa, hah ! Mau mati kau ya !" teriak Rukia melengking melempar tas jinjing Gin yang ada disisi kirinya.
"Adofffhh !" teriak Gin kesakitan.
"Kau tidak perlu khawatir lagi Gin" ucap Rukia tiba-tiba.
"Ehhh ?" tanya Gin heran.
"Kau tidak perlua lagi khawatir, karna...karna aku akan selalu berada disisimu selamanya" ucap Rukia sendu melihat kearah Gin.
"Rukia..." ucap Gin pelan sambil menarik tangan Rukia agar mengarah padanya. Keduanya terdiam dalam keheningan saat kedua mata mereka bertemu pandang. Seakan larut dalam pandangan masing-masing. Saking terhipnotis dengan pandangan mata Gin, tanpa sadar wajah Rukia berjarak hanya ΒΌ cm dari wajah Gin. Mata Rukia yang semula terhipnotis oleh mata Red Ruby Gin, kini membulat sempurna saat merasakan sentuhan lembut tepat diatas bibirnya yang mungil. Mata Rukia yang membulat terus menatap mata Gin yang memberikan pandangan hangat walaupun bibirnya terus bergerliya di atas bibir Rukia.
Rukia menutup matanya perlahan, mencoba merasakan bibir lembut Gin yang terus melumat bibirnya dengan pelan. Tidak ada paksaan, tidak ada nafsu, tidak ada hasrat mengebu-gebu. Yang Gin salurkan hanyalah kelembutan, dan rasa cinta untuk gadis yang sudah mengisi relung hatinya. Ia tidak ingin lagi menyakiti gadis yang ia cintai, tidak ingin lagi kehilangan akan cinta yang telah gadis itu titipkan pada dirinya. Cukup sekali, dan terakhir kalinya, Gin tidak ingin lagi melihat airmata Rukia jatuh hanya karna keegoisannya.
"Apa kau lapar ?" tanya Gin pada Rukia yang terus memejamkan matanya.
"Akhh ?" teriak Rukia kaget saat sadar sentuhan lembut yang mampu membuat ia mabuk sesaat tak lagi terasa di bibirnya.
"Kau lapar tidak ?" ucap Gin lagi.
"Ahh, ummm, emm, a-aku ti-ti-tidak lapar !" ucap Rukia salah tingkah dengan wajah memerah seperti kepiting rebus. Kruyukkkkkkkkk, bunyi perut Rukia membahana. Seketika Gin dan Rukia sweatdrop mendengarnya.
"Hahaha, sepertinya yang 'itu' berkata lain" ucap Gin sambil menunjuk perut Rukia dengan jari telunjuknya.
"Jangan tertawa !" ucap Rukia ganas dengan gigi yang meruncing.
"Hehehe, baiklah. Kau tunggu saja disini, aku akan berbelanja sesuatu untuk kita makan" kata Gin sambil beranjak bangkit dari kursi yang ia duduki.
"T-Tunggu dulu ! Biar aku saja yang berbelanja" teriak Rukia berusaha menghentikan langkah kaki Gin.
"Ehh, tidak perlu. Kau istirahat saja disini. Kau pasti lelah kan dari sekolah langsung pergi kebandara. Kaki mu saat ini sedang sakit, kalau kau paksakan nanti bisa tampah parah" sanggah Gin.
"T-Tidak, biar aku saja yang berbelanja. Aku tidak apa-apa kok, sebaiknya kau bereskan saja barang-barangmu. Sudah ya, aku pergi dulu" ucap Rukia sambil beranjak keluar dari apartemen Gin.
"Ta-Tapi kakimu masih sakit.." kata-kata Gin memelan saat melihat Rukia sudah menghilang di balik pintu apartemen nya. "Huhh, dasar keras kepala" gerutu Gin sambil tersenyum lembut.
.
.
"Ughh, berat sekali. Sudah berapa lama ya aku keluar meninggalkan Gin sendirian di apartemennya. Pasti sekarang dia sangat khawatir padaku karna belum sampai juga" ucap seorang gadis berambut bob menenteng beberapa kantong plastik besar di kedua tangan mungilnya.
Gadis itu kemudia berjalan masuk kedalam lift dan segera kesebuah pintu di deretan apartemen itu.
"Aku pulang Gin !" teriak nya lantang saat berhasil membuka pintu apartemen itu dengan penuh perjuangan berat. *Gimana ga berat, kertas belanjaannya aja segede karung goni !
Tak juga mendapat sambutan atas kedatangannya, gadis itu pun mengerut kan alisnya sambil mengedarkan pandangannya kesegala penjuru ruangan. "Gin~~, aku pulang" teriak Rukia lebih kencang agar yang di panggil mendengar suaranya.
Hening, itu lah suasana ruangan yang ia pijaki sekarang. Kegelisahan pun mulai menjalar di hatinya. Dengan langkah mengebu ia pun mulai menyusuri satu-persatu tempat di apartemen itu yang masih berantakan kesana-sini, mulai dari dapur, kamar mandi, dan yang terakhir kamar tidur.
"Gin..." Rukia mengetuk pintu kamar Gin dengan pelan. "Apa kau ada didalam ?"
Tanpa ragu, Rukia pun membuka pintu kamar tersebut. Alangkah terkejut Rukia mendapati Gin sedang terbaring di lantai kamar tidurnya. Dengan jantung yang berdetak tidak karuan, keringat dingin yang mengucur deras, Rukia lekas mendekati Gin yang tengah terbaring telungkup tak berdaya.
"Astaga Gin ! Ada apa denganmu ! Apa yang terjadi !" teriak Rukia panik. Rukia pun segera membalik tubuh Gin dan mengangkat kepalanya ke pangkuannya.
"Gin kumohon sadarlah, ada apa dengamu" ucap Rukia panik sambil menepuk pipi Gin pelan, berharap kekasihnya segera membuka mata. Melihat tangan Gin yang sedikit terangkat, mata Rukia membulat. Apakah Gin sadar ? Apa yang sebenarnya terjadi dengan Gin ?
"Akhh ! Gin akhirnya kau sa-..." kata-kata Rukia terhenti saat melihat tangan Gin yang sendari tadi terangkat menuju wajahnya. "dar..." lanjut Rukia sweatdrop melihat Gin mengaruk wajahnya yang gatal.
"Ummm~~~~" gumam Gin dengan mata terpejam terus mengaruk wajahnya. Air liurnya tak berhenti menetes dari mulutnya bak air terjun membasahi rok sekolah Rukia.
"Ohh, jadi Cuma tidur ya !" teriak Rukia spontan dengan wajah memerah hingga kepala Gin yang semula tertumpu di pangkuannya terhantam lantai kamarnya. Gimana ga malu, udah capek-capek teriak, saking khawatir karna di panggl ga gerak-gerak, ehh ~~ ternyata ehh ternyata, yang dipanggil ternyata lagi molor ! Dan asal Readers tahu, biar pun kepalanya terhantam lantai keramik. Hebatnya Gin ga terbangun loh ! Malah tambah nyenyak tuh tidurnya. Gin... Gin, terlalu !
Melihat Gin tertidur pulas, membuat perasaan Rukia sedikit lega. Kembali ia pandangai wajah kekasihnya yang sedang tertidur dengan lelapnya. Rukia dapat merasakan kelegaan di wajah Gin yang sedang tertidur.
"Kau telah banyak melalui hal yang berat Gin karna aku. Maaf ya" gumamnya sambil mengusap lembut rambut Gin. "Kali ini, aku tidak akan ragu. Mulai detik ini, akan ku perjuangan rasa cinta kita apa pun yang kan terjadi nanti !"
Keteguhan mulai terpancar dari diri Rukia. dua sejoli yang saling mencintai akhirnya bisa kembali bersama. Akan kah Rukia bisa memegang kata-katanya tidak akan pernah ragu pada Gin ? Ataukah keteguhan hati Gin yang mulai ragu akan ketulusan hati Rukia yang bisa saja berubah sewaktu-waktu seperti kemarin ?
.
.
.
.
"Apa Rukia-chan belum kembali ?" tanya seorang pria pada wanita yang sedang menatap sendu jendela rumahnya.
"Restu ?" ulang pria itu lagi agar perhatian si wanita bisa beralih kepada dirinya.
"Ahh ! Umm, belum. Dia belum kembali padahal ini sudah malam. A-apakah kau sudah menghubungi teman-temannya. Siapa tahu salah satu diantara mereka tahu dimana Rukia berada" jelas wanita bernama Retsu itu.
Laki-laki itu hanya menggeleng kepalanya, ia pun berjalan mendekat kerah Retsu sambil melepaskan mantel yang dikenakanya. "Semua teman-temannya sudah ku hubungi, tapi tidak ada satu pun diantara mereka yang tau dimana Rukia berada sekarang. Mereka juga bilang, tadi pagi Rukia ada disekolah tapi setelah itu dia langsung pergi tiba-tiba tanpa bilang apa-apa"
"Kau tidak apa-apa Retsu ? Apa kau sudah makan ? Wajahmu sangat pucat sekali" kata Joushiro membelai lembut pipi istrinya.
"Aku akan makan jika Rukia-chan sudah pulang kerumah, dan aku yakin Rukia-chan pasti akan pulang kerumah sebentar lagi" jawab Retsu singkat mencoba menenangkan kegelisahan si wajah suaminya itu. "Apa jangan-jangan Rukia-chan menemui guru itu, Joushiro..." kata Retsu pelan di akhir kalimatnya.
"Hemm, tidak mungkin. Ku dengar dari teman-teman Rukia-chan, guru itu sudah kembali ke paris. Rukia-chan pasti sedang berada disuatu tempat sekarang untuk menenangkan dirinya. Remaja seperti Rukia sangat labil jika menyangkut hal-hal seperti ini. Sekarang tenangkan dirimu, Rukia pasti akan kembali sebentar lagi. Bila dia sudah pulang, kau jangan sekali-kali memperlihatkan emosimu padanya. Mengerti ?"
"Iya. Aku mengerti" restu mengangguk pelan.
.
.
.
.
"Maaf mengganggu waktu anda sebentar. Apakah nona sudah selesai ?" tanya seorang pramugari pada salah satu penumpang pesawatnya yang sedang melamun melihat pemandangan dari balik kaca jendela pesawat itu.
"Ohh, ada apa ?" ucap wanita itu dengan wajah sembab dengan mulut penuh dengan es krim.
"Apakah nona sudah selesai ? Saya ingin mengambil gelas itu nona" ucap si pramugari halus.
"Ohh ini. Tunggu sebentar" si wanita pun langsung meraup seluruh es krim dengan buas hingga menyisakan gelas dan sendok saja yang ada di genggamannya. Si wanita pun sepertinya tidak peduli dengan gemertak ngilu di giginya karna terlalu banyak es krim yang ada di mulutnya. Beberapa kali si wanita memukul-memukul kepalanya untuk mencoba menahan rasa sakit yang menjalar dari giginya hingga mencapai saraf kepalanya. Ckckckc, rakus apa doyan buu~~~
"Terima kasih. Apa ada yang anda butuhkan nona ?"
"Ahh, satu gelas lagi. Es krimnya satu gelas lagi ya" ucapnya susah payah.
"Ini sudah saya siapkan. Saya tahu anda pasti membutuhkannya" paramugari itu pun menyodorkan lagi semangkuk kecil eskrim untuk wanita berambut orange tersebut.
Wanita itu tertegun menerima es krim pemberian dari pramugari itu. Dengan tangan gemetar diraihnya manguk kecil yang sendari tadi berteger di tangan putih si pramugari. "Tenang saja nona, semuanya akan baik-baik saja" lanjut si pramugari dengan senyum lembut. Berusaha memberikan kekuatan pada gadis yang sedang menumpahkan rasa patah hatinya pada es krim yang sama sekali tidak bersalah.
"Ini untuk anda.." sang pramugari memberikan sebuah gelang perak dengan batu berbentuk mata air berwarna pink muda di tengah-tengah gelang itu.
"A-Apa i-ini, mak-maksudku un-untuk ap-.."
"Saya mendapatkan gelang itu dari sahabat saya. Katanya gelang itu bisa mendatangkan cinta sejati pada si pemakainya. Memang konyol kelihatannya, tapi tidak ada salahnya kan mencoba"
"Tapi k-kenapa ?" tanya wanita itu tampak kaget.
"Kurasa aku tidak lagi membutuhkan gelang itu, karna aku sudah menemukan cinta sejatiku. Dan menurutku, anda jauh lebih membutuhkan gelang ini dari pada aku, nona Rangiku" mata Rangiku membulat sempurna mendengar penuturan si pramugari.
"Te-Te-Terima kasih.. Ughh, terima kasih" Rangiku seketika tak kuasa menahan air matanya yang akan kembali merebak. Jika semua orang bertanya apakah 'Tuhan' ada atau tidak, maka Rangiku telah menemukan jawabannya. Ternyata 'Tuhan memang ada'. Betapa 'Tuhan' masih sayang padanya hingga mengirimkan orang-orang yang bisa meringankan sedikit kegundahan hatinya.
.
.
.
"Maaf ya membuat mu pulang selarut ini. Seharusnya kau bangunkan aku, kau tidak perlu repot-repot membersihkan apartemenku dan memasak makan malam untukku" gerutu Gin pada gadis yang sedang berjalan disampingnya.
"Ugghh, kau ini. Begitukah sikapmu pada orang yang sudah membantumu membersihkan apartemenmu, menyiapkan makan malammu ! Terima kasih tidak, malah marah-marah. Dasar !" balas Rukia sengit dengan mata melotot.
"Aku hanya tidak ingin kau lelah, itu saja" sangah Gin cepat.
"Aku tidak akan lelah Gin. Lagi pula aku tidak betah melihat tempat berantakan seperti itu. Mata ku bisa sakit tau kalau melihatnya"
"Ayah dan ibumu pasti khawatir kalau kau belum pulang malam-malam seperti ini"
"Aku tidak peduli. Sudah ku bilang berapa kali padamu kalau aku tidak mau pulang Gin. Kenapa kau bersikeras menyuruhku pulang sich !" sembur Rukia.
"Sekarang aku tanya, apa alasanmu tidak mau pulang, hah ?"
"A-Aku tidak mau berpisah denganmu" Rukia menundukkan kepalanya.
"B-Berpisah ?" Gin mengerutkan alisnya dalam.
"Aku sudah tau yang sebenarnya" Rukia masih tetap menunduk.
"Tau apa ?"
"Kenapa kau datang kerumahku Gin ? Kenapa ? Kau tau, dengan tindakanmu membocorkan hubungan kita pada ayah dan ibuku bisa memperburuk keadaan hubungan kita. Kenapa kau lakukan itu !" cecar Rukia berubi-tubi.
"Maaf ya, aku membuat mu khawatir dengan tindakanku seperti itu" kata Gin pelan tanpa melihat kearah Rukia.
"Kenapa Gin ? Aku ingin dengar alasan darimu, bukan permintaan maaf mu. Sekarang Ayah dan Ibuku sudah terlanjur benci denganmu"
"Aku melakukan semua ini karna aku sangat binggung sekali dengan mu Rukia. Kau tahu sikap mu kemarin sangat membinggungkanku. Aku tidak tau harus berbuat apa untuk mendapatkanmu kembali kalau kau tiap kali melihatku seperti dipenuhi dengan rasa benci dan dandam yang teramat besar padaku. Aku jadi kehilangan akal hingga memutuskan menemui kedua orang tuamu. Aku hanya ingin meminta maaf terakhir kalinya sebelum keberangkatan ku keparis kepada mereka karna aku tidak bisa meminta maaf kepadamu secara langsung, meminta maaf atas perbuatan ku yang telah membuat putri mereka menderita. Mereka pasti sedih melihat mu seperti itu, Rukia.." lirih Gin pelan di akhir kalimatnya.
"Aku mengerti, Gin. Tapi aku takut, takut orang tuakku tidak mengizinkanku bertemu denganmu. Bagaimana kalau Ibuku mengurungku di rumah agar aku tidak bisa bertemu denganmu ! Bagaimana kalau Ayahku memindahkanku ketempat yang jauh dari karakura agar tidak bisa bertemu dengan mu ! Bagaimana kalau kita tidak bisa bersama, ak-aku takut kehilanganmu. Benar-benar takut kehilanganmu" Rukia menggenggam erat tangan Gin seakan laki-laki itu akan lenyap lagi dari pandangan matanya.
"Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah menginggalkanmu sekali pun kedua orang tua mu menentang hubungan kita. Aku akan perjuangankan cinta kita, aku akan terus berjuang sampai kapanpun hingga orang tua mu bisa mengerti kesungguhan cinta kita. Tidak ada bedanya kan diberitahukan sekarang ataupun nanti. Orang tua mana yang ingin anak mereka berpcaran dengan guru mereka sendiri, termaksud orang tua mu. Kau tenang saja, biarkan ini jadi tantangan terakhirku untuk membuktikan betapa aku sangat mencintaimu, Rukia Ukitake" Gin kembali mengeratkan genggaman tangan Rukia. Seperti mendapat kekuatan dari kesungguhan hatinya, Rukia membalas genggaman tangan Gin. Rukia bisa melihat sorot wajah Gin saat ini mengisyaratkan bahwa ia sedang tidak main-main dalam kata-katanya.
"Kau sudah tidak khawatir lagi kan ?" Rukia menggelang cepat, Gin hanya tersenyum tipis. "Ayo, cepat pulang. Hari sudah malam. Kalau kau pulang telat, hanya akan memperburuk keadaan saja" ajak Gin mengiring Rukia berjalan terlebih dahulu tanpa melepaskan genggaman tangannya.
.
.
.
Kediaman Ukitake
Restu masih terduduk di ruang tamu ditemani segelas teh hangat bertenger manis di tangan putihnya. Sesekali dirinya melirik ke jam dinding yang masih bergerak mulus berputar detik demi detik. Helaan nafas dan doa-doa kecil berkumandang dibibir merahnya mencoba menenangkan hatinya yang gelisah menanti seseorang yang ia tunggu bisa muncul dari balik pintu rumah. Tak banyak yang dilakukan wanita paruh baya itu selain memutar-mutar gelas teh yang hampir dingin. Ditengah kebimbangan yang mendera, tanpa diduga pintu rumah yang sendari tadi ditunggunya berbunyi seperti diketuk seseorang.
Tak elak, Retsu pun segera berlari menuju pintu rumahnya. Berharap kali ini bukan tukang sate atau bubur yang sedang menawarkan jajannya. Tapi seseorang yang memang sedang ia tunggu. Gemuruh di hatinya ikut bersuara 'Tuhan, semoga saja ini benar Rukia' ucapnya diringi langkah mengebu.
"Biar aku saja yang buka Retsu" ucap Joushiro mengapai ganggang pintu rumahnya yang sudah digenggam erat Retsu.
"J-Joushiro.."
"Biar aku saja yang buka. Jika ini benar Rukia, kau harus ingat kata-kataku. Jangan menunjukkan emosimu didepannya, mengerti ?" Retsu hanya mengangguk pelan.
Setelah pintu rumah terbuka, mata Joushiro dan Retsu membelalak sempurna melihat sesosok laki-laki tinggi menjulang berdiri didepan rumahnya.
"K-Kau..." geram Retsu melihat sosok itu. "Mau ap-.."
"Retsu !" Joushiro menggelang pelan kepalanya menatap Retsu yang akan menumpahkan segala emosi yang berkecamuk di ubun-ubun kepalanya.
"Maaf mengganggu waktu anda malam-malam seperti ini Tuan Ukitake. Saya datang kesini hanya mau mengantar Rukia pulang kerumah" laki-laki itu pun segera membalikkan tubuhnya hingga menampakkan sesosok gadis mungil bermata violet. Gadis itu tampak masih marah dengan kedua orang tuanya, tampak dari pandangan matanya yang terus menghadap kearah kiri, seolah lebih baik melihat batang kayu dari pada melihat kedua orang tuanya.
"R-Rukia.." lirih Retsu melihat gadis itu tampak baik-baik saja. Perasaan marah seketika berganti menjadi perasaan lega dan haru mengerayangi hati wanita itu. Ingin rasanya wanita itu memeluk gadis mungil itu, tapi diurungkannya saat melihat lebih jelas rasa tidak suka di wajah gadis mungil itu.
"Rukia-chan" panggil Joushiro lembut. Gadis itu tidak mengindahkan panggilan ayahnya, malah memilih bersembunyi di balik punggung laki-laki berambut perak yang ada dihadapannya.
"Terima kasih Ichimaru-san sudah mengantar Rukia pulang kerumah" Joushiro membungkukkan kepalanya sebagai ucapan terima kasih.
"Tidak apa-apa Ukitake-san, sudah selayaknya saya mengantar Rukia pulang kerumahnya. Maaf saya tidak bisa berlama-lama disini, saya harus pulang, hari juga sudah malam. Permisi Ukitake-san, Konbanwa Rukia" Gin ikut membungkukkan kepalanya sebentar kemudian hendak melangkah meninggalkan kediaman Ukitake.
"Aku tidak mau pulang" ucap Rukia tiba-tiba. Kontan semua orang yang berada di tempat itu terlonjak kaget. Terlebih lagi Retsu, baru pulang kok malah mau pergi lagi sich. Bisa kumat tuh TBC tingkat angkut Joushiro, Rukia...Ckckckck (Author di lempar Joushiro ke tong sampah)
"Rukia, pulanglah" desak Gin mencoba menghilangkan sifat keras kepala Rukia.
"Aku tidak mau, Gin !" balas Rukia.
"Rukia, kumohon hilang kan sifat keras kepalamu sebentar saja. Pulang lah, Rukia"
"Sudah ku bil-..."
"Maaf Ichimaru-san, bisakah anda mampir sebentar saja di rumah kami. Tidak enak rasanya anda sudah repot-repot mengantar Rukia pulang tapi tidak mampir sama sekali disini. Rukia-chan tenang saja, Tou-san hanya ingin berterima kasih pada Ichimaru-san karna sudah mengantarmu pulang" saran Joushiro ramah.
"Tidak perlu repot-repot Ukitake-san, terima kasih banyak tapi saya harus pulang. Rukia kumohon pulanglah" ucap Gin menatap Rukia lekat.
"T-Tapi.."
"Aku janji besok kita akan bertemu, jadi ku mohon pulanglah. Ya ?" janji Gin pada Rukia.
"Tapi... Umm, baiklah. Aku akan pulang" Rukia akhirnya menyerah dan memilih untuk pulang. "Berjanjilah besok kau akan menemuiku"
"Iya, sekarang pulanglah, mandi dan tidur. Besok kau harus kesekolahkan ?" Rukia hanya mengangguk singkat.
"Maaf Ichimaru-san, bisakah anda mampir sebentar. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih kami karna sudah mengantar Rukia pulang" ucap Retsu tiba-tiba.
"Okaa-san" rukia tak percaya apa yang baru saja didengarnya. Bukankah ibunya bendi pada Gin, kenapa tiba-tiba bisa meminta Gin untuk mampir di rumahnya. Sebagai ucapan terima kasih malah katanya. Rukia bisa mencium aura tidak mengenakkan dari ucapan Ibunya tadi, seperti sedang merencanakan sesuatu.
"Okaa-san ingin meminta maaf atas kelakuan Okaa-san pada Ichimaru-san. Bisakah anda mampir sebentar Ichimaru-san" pinta Retsu.
.
...
.
Entah mengapa perasan Rukia jadi tidak tenang saat memasuki kamarnya. Pikirannya kembali bergeliat aneh mengingat di ruang tamu keluarganya ada kekasihnya yang sedang menghadap mara bahaya sendirian. Bagimana ga bahaya, toh yang dihadapi Gin sekarang adalah kedua orang tua Rukia. Pasti lah Rukia rada gemeteran takut Gin di bully orang tuanya, apalagi Ibunya yang sudah dari awal mencap Gin sebagai 'Pria berengsek yang membuat putrinya menderita !'.
Secepat kilat, sedahsyat angin tornado, seganas gelombang tsunami, sengeri puting beliung, (Kok jadi nyambung ke bencana alam sich ?). Rukia pun bergegas mandi, memakai pakaiannya, dan melesat menuruni tangga menuju ruang tamu keluarganya.
"Dimana Gin !" teriak Rukia saat melihat kursi ruang tamunya tampak kosong tidak berpenghuni.
"Dia sudah pulang, Rukia" jawab sang Ibu yang entah sejak kapan ada di belakang Rukia.
"Pulang ? Kenapa Gin tiba-tiba pulang ? Apa yang Kaa-san katakan pada Gin sehingga dia bisa pulang tanpa pamit padaku terlebih dahulu" Rukia menatap ganas Ibunya.
"Ichimaru-san memang ingin pulang karena hari sudah malam, dia tidak ingin menggangu waktu istirahatmu. Jadi dia tidak pamit padamu terlebih dahulu" jawab restu singkat.
"Itu benar Rukia, Ichimaru-san memang ingin pulang. Dia tidak sempat pamit, tapi dia bilang sudah mengirim email untukmu kalau ia mau pulang kerumahnya" tambah Joushiro.
Rukia terdiam, ia sungguh-sungguh tidak enak hati melihat Ibunya sudah tertunduk lesu karna sudah menuduhnya tanpa alasan dengan kata-kata kasar. "Aku memang anak yang durhaka !" rutuk Rukia dalam hati.
"Kalau begitu, aku tidur dulu. Selamat malam Okaa-san, Otou-san" Rukia membungkuk sebentar kemudian berjalan meninggalkan kedua orangtuanya.
"Apa tidak apa-apa Retsu ?" Joushiro buka suara setelah saling diam satu sama lain setelah Rukia pergi. Yang ditanya hanya diam tanpa mengangkat kepalanya yang sendari tadi tertunduk. Hmmm, apakah Readers mencium sesuatu disini ? Hohohoho
.
...
...
.
Ternyata benar apa yang dikatakan ayahnya, kalau Gin mengirim email di ponselnya untuk pamit pulang. Desahan nafas lega pun terpancar dari wajah Rukia. Rasa khawatir di relung hatinya kini berganti menjadi teriakan genit saat membaca berulang-ulang pesan yang dikirimkan kekasihnya itu. Dengan wajah bersemu merah, jantung berdetak kuat, Rukia kembali membaca pesan di ponselnya. Di pelototinya dengan seksama setiap rincian kata demi kata.
TO : Rukia
From : Rubah Jelex :P
Subject : Jika sudah baca pesan ini, kau harus tidur !
Maaf aku tidak sempat pamit pulang terlebih dahulu padamu, aku yakin kau pasti sangat lelah. Dan kalau aku terus berada dirumahmu, pasti kau tidak ingin aku pulang. Memang susah sekali berwajah tampan sepertiku sehingga kau tidak bisa terlepas dari jerat pesonaku sampai-sampai tidak menyuruhku pulang ! Hehehe
"Dasar rubah bodoh ! Percaya diri sekali dia. Awas kalau ketemu" umpat Rukia lagi.
Ingat ! Setelah baca pesan ini, kau harus tidur, ya. Aku tahu, kau pasti penasaran dengan apa yang Orang tuamu biacarakan padaku tadi. Sebaiknya kau hilangkan rasa penasaraanmu itu karna aku akan menceritakannya besok. Mengerti ? Baiklah, cepat tidur Rukia Ukitake, kalau kau sampai telat kesekolah hanya karna bangun terlambat, aku tidak akan memaafkanmu ! Ayo cepat tidur ! Satu..., dua..., tiga... ! Tutup handphonemu dan Oyasu minasai,my little Rabbit ^_^
Tawa Rukia langsung meledak saat membaca kalimat terakhir dari sang kekasih. Ohh, baru kali ini Rukia merasakan indahnya jatuh cinta. Hatinya terasa berbunga-bunga, wajahnya tidak pernah lepas dari senyumannya yang tiada henti-hentinya merekah. Stop Rukia Ukitake ! Waktunya tidur jika kau tidak ingin terlambat. Dan sepertinya besok dia benar-benar akan terlambat kesekolah, sudah pukul 2 pagi, Rukia baru berhasil memejam kan matanya yang terus terbuka. Ckckck, cinta pertama sich cinta pertama. Tapi ga perlu segirang itu kale sampai tidur jam 2 pagi !
.
.
.
Pagi-pagi sekali Rukia sudah terbangun dari alam tidurnya dan bergegas berangkat sekolah. Firasat Rukia entah mengapa terasa sangat aneh. Biasanya kalau Rukia tidur malam, akan sangat susah sekali membuka kedua matanya. Kecuali ada 2 hal, pertama panggilan alam ingin kekamar kecil dan yang kedua bad dream. Tapi kayaknya faktor pertama tidak memungkinkan, soalnya Rukia langsung bergegas mandi sehabis bangun tidur. Tinggalah faktor ke dua yang mungkin di alami Rukia. Apakah mimpi buruk Rukia ada kaitannya dengan sang kekasih ?
Dengan langkah lebar, Rukia segera berlari keluar rumahnya setelah memakai rapi sergam sekolahnya, tanpa makan, tanpa pamit pada orang tuanya, Rukia langsung melangkahkan kakinya kesatu tempat, apartemen Gin !
Kali ini Rukia tidak seperti kemarin dengan terburu-burnya menekan tombol disisi lift. Ia terlihat jauh lebih santai dan rileks. Rukia berusaha dengan kuat menyangkal segala pikiran buruk yang meracuni otaknya, berharap semua itu tidak akan pernah terjadi.
"Stop Rukia, hentikan pemikiran burukmu itu ! Kau ingatkan apa yang Gin katakan padamu semalam, kalau dia tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi. Dia sudah berjanji padamu Rukia ! Jadi kau harus percaya padanya !" seru Rukia pada dirinya sendiri. Rukia kini berjalan keluar dari lift menyusuri jalan di sepanjang lorong apartemen itu. dan berhentilah dia disebuah pintu bernomor 301. Setelah membuang nafas beratnya, Rukia mencoba mengetuk pelan pintu apartemen itu.
"Gin, apa kau ada didalam ?". Tidak kunjung mendapat jawaban, membuat Rukia sedikit panik hingga ia mengetuk pintu itu lebih kuat dari sebelumnya.
"Gin.. Ini aku, Rukia. Apa kau dengar suara ku Gin. Kalau dengar ku mohon jawablah" lanjut Rukia.
Sama seperti sebelumnya, tidak ada jawaban. Membuat hati Rukia jadi panas, kesal dan juga panik tentunya. Ia pun kembali mengedor pintu apartemen itu dengan tenaga penuh. "Gin, ayo buka pintunya. Ini sama sekali tidak lucu, Gin !"
Hening, itu lah yang Rukia dapat. Bukan suara Gin yang menjawab panggilannya, bukan pula suara gerutuan Gin karna ia mengedor pintu apartemennya seperti penagih hutang, malah yang ia dapat hanya keheningan. Dengan ganas, Rukia mencengkram ganggang pintu denga kuat, mempersiapkan tubuhnya untuk mendobrak pintu apartemen itu.
Treekkkk, bunyi decitan pintu apartemen itu terbuka, tidak terkunci ! Untung saja pintu nya tidak terkunci, kalau tidak sungguh malang nasip mu pintu.
"Gin !" teriak Rukia menggema di ruangan itu. Seketika tubuh Rukia membeku melihat apartemen itu kosong tanpa satu barangpun menghiasi ruangan itu. Dengan panik, Rukia melangkah memasuki satu persatu ruangan di apartemen itu. Namun sayang, semuanya sama sperti saat Rukia masuk kedalam. Tidak ada satu barang pun yang ada di seluruh ruangan itu.
Kaki Rukia lemas seketika. Ia tidak mengerti, betul-betul tidak mengerti. Apa yang sedang terjadi sebenarnya. Kemana Gin, dan dimana semua barang-barangnya. Apa jangan-jangan,Gin... Tanpa pikir panjang Rukia segera mengobrak-abrik isi tas sekolahnya berharap menemukan penghubung agar ia bisa tau dimana gun sekarang.
"Dimana sih ! Padahal biasanya ada didalam sini" rutuk Rukia tidak juga menemukan barang yang ia cari. "Ohh, Ya Tuhan ! Pasti tertinggal dirumah !" umpat Rukia. Dengan langkah seribu Rukia segera berlari keluar apartemen, berharap bisa menemukan sosok laki-laki rubah itu.
"Ehh, nona yang kemarin kan ?" tanya seorang wanita paruh baya dari arah pintu sebelah apartemen Gin.
"O..Oba-san !"
"Kau sedang apa, mencari Ichimaru-san ya ? Maaf, tapi Ichimaru-san tidak lagi tinggal disini" ucap wanita itu tersenyum ramah.
"A-Apa..." lirih Rukia tak percaya.
.
.
TO-BE-CONTINUE
Gyahahahahaha, akhirnya jadi juga Ch 14. (Setelah ngilang 1 bulan entah kemana)
Yuppzz semoga para Readers senang dengan Terbitnya Ch 14 ini. Fufufufufu (Ketawa kayak Kuntilanak)
Maaf ya buat temen-temen yang udah lama menunggu Ch ini, habis bener-bener buntu otaknya Dhiya buat neglanjutin percintaan GinXRuki. Dan juga Sory berry Strwaberry yah Fic ini agak ga nyambung, agak maksa, aneh, ancur, ga jelas, dan lain-lainya.
Maklum ga berbakat bikin beginian. Hehehehe..
Untuk teman-teman yang udah bales Review
Hitsugaya Tomome : Terima kasih buat Hitsu-kun yang sudah menyukai Fic ancur ini (Nangis gaje mode on). Ahhhh~~, Dhiya jadi terharu, Hiks-Hiks... Yupzz,, itu memang Gin-Cuannnnku ^-* (Ditabok Gin Fc).
Hehehe, ditunggu Review nya.
Aii Sakuraiii: Waahh, Aii-cHannnnn (Meluk + Cium Aii) * Dilempar Aii ke lumpur lapindo.
Terima kasih ya udah mampir di Fic abal ini, (Bunguk-bunguk ga jelas). Sesak ya Liat Bya-kun yang sedang menunggu ajalnya. Hiks-Hiks, Dhiya-chan juga sedih Loh... (Byakun : Dasar air mata Buaya !)
Hohoho, yang nolongin Rukia ya pasti nya Gin-ku ! Heheheh, Wahh Aii mau Byakun hidup lagi ya... Kalo Byakun idup jadi Hantu SenbonZakura dong ! Hihihi (Dhiya di bankai Bya-kun)
Goldy222 : Brother ! (Sok akrab banget sich !) Hehehehe, sudah jadi Ch 14 nya.. Selamat menikmati.. Maaf ,membuat mu lama menunggu ^_^
RayKousen7 : Heheheh, iyo ! Gin yang muncul. Hehehe, udah ketebak yah kayaknya... No..No...No Brother, kayaknya nich ada konflik lagi nich buat Gin X Ruki. Dhiya siap'in dech spesial campur telor buat Ray... Hehehehehe (Kok jadi nyambung ke makanan sich =_="
Oke ! Ditunggu Review nya yuaaaahhhhhh ( Melambai-lambai sapu tangan)
