When I Lonely

/

/

/

Pojokan author :

Maaf menunggu lama untuk kelanjutannya soal umur, Hinata mau masuk 17 kan? kufikir itu batas min menikah resmi. kalau Naruto sih beda setahun sama Hinata

.

.

.

Happy reading

Suasana ruangan gelap gulita, sedikit cahaya bulan menembus tirai dan menerangi rambut Naruto yang telah kembali kuning. Bergerak sedikit tangannya meraba sebelahnya, tadi Hinata tertidur lelap disampingnya.

"Hinata?" gumam Naruto sembari bangun, matanya berat untuk dibuka namun dia tak bisa kembali tidur. Diliriknya futon tempat Hinata tidur. Kosong. Kemana gadis itu pergi?

Tangan Hinata menahan tubuhnya agar tetap jauh dari lubang kloset, lagi ritual menyebalkan ini menyerangnya. Kalau sudah begini, Hinata hanya bisa pasrah sampai 2 jam kedepan. Dia tidak mungkin mengganggu Naruto yang akan berangkat sekolah besok. Dia butuh Istirahat yang cukup setelah seharian sekolah kemudian bekerja.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Naruto, membuat Hinata kaget. Dia bahkan sudah menutup pintunya agar Naruto senpai tak mendengar suaranya dikamar mandi.

"Hm ini akan membaik setelah dua jam" jawab Hinata. Dia lemas sekali sekarang.

Lagi Hinata harus kaget, tangan Naruto menyelusup dibalik kaus longgarnya dan mengelusnya naik turun.

"Aku baik-baik saja, kembalilah tidur. Kau butuh tenaga untuk sekolah dan bekerja besok" tolak Hinata.

"Mana mungkin aku meninggalkanmu saat seperti ini? inilah gunanya aku tinggal bersamamu, kan?"

Hinata sudah mendengar kalimat itu sebelumnya, Naruto senpai suka sekali mengulang perkataannya.

"Itu karena kau belum sepenuhnya percaya padaku" jawab Naruto, dia tahu Hinata bosan mendengar kalimat ini, namun Hinata sendiri yang memaksanya mengatakannnya lagi dan lagi. lihatlah betapa tak berdayanya Hinata sekarang.

"Aku sudah merasa baikan, senpai mau membantuku kembali?" ucap Hinata sembari menekan tombol kloset.

"Tentu saja"

"Ar- Kya!" Teriak Hinata, Naruto tak membantunya berjalan tapi malah mengendong tubuhnya di depan dada pria itu.

"Pegangan yang erat" perintah Naruto, Hinata dengan cepat melingkarkan tangannya di leher Naruto.

"S-senpai kau bisa memapahku kan?" gerutu Hinata.

"Tapi aku inginnya begini" ucap Naruto sembari mengembangkan senyumnya.

Perlahan Naruto menurunkan tubuh Hinata diatas futon. Bibirnya sekilas mencium puncak kepala Hinata. Bagi, Hinata itu seperti ucapan penyemangat dari Naruto.

"Mau teh hangat? Apa aku perlu mengelus punggungmu lagi?" tanya Naruto sembari menyelimuti tubuh Hinata.

"Aku sudah merasa baikan. Kembalilah tidur" perintah Hinata, tubuhnya bergerak untuk tidur menyamping, menghindari perhatian Naruto. Hinata sebenarnya belum bisa menutup matanya.

"Tak bisa tidur lagi?" tanya Naruto, selimut Hinata bergerak dan Naruto tidur diatas futon milik Hinata.

"A-ku akan segera tidur." Gagap Hinata.

Telinga Hinata mendengar suara tawa kecil Naruto dibelakangnya, nafasnya menerpa rambut Hinata, kemudian tangan hangatnya bergerak menyentuh dimana Sleepy dan Kyuubi berada. Naruto bergumam sebuah lagu pengantar tidur untuk mereka bertiga.

Ini seperti lagu yang ayah nyanyikan untuk Hinata dan Hanabi ketika badai berlangsung semalaman. Hinata menyentuh tangan Naruto yang berada diatas perutnya, meremasnya perlahan.

Naruto mendekatkan kepalanya hanya untuk mencium leher Hinata kemudian jatuh tertidur. Dia lelah sekali, dia tak bisa pergi sekolah tanpa mengantuk dan tertidur di dalam kelas.

"Senpai?" Hinata memastikan Naruto masih bangun atau tertidur, gumamannya berhenti tiba-tiba. Tuhan Hinata selalu takut, takut kalau ini semua hanya bunga tidur, dan saat bangun semua ini akan menghilang dan lenyap.

oOo

"Hoam" Naruto menguap saat melewati gerbang masuk.

"Kau kurang tidur, Naruto?" tanya Kiba menepuk pundak Naruto.

Naruto mengangguk, setiap hari tak ada waktu luang untuknya.

"Walaupun begitu, peringkatmu terus naik dan itu membuatku cemburu" keluh Kiba.

"Ohayou Naruto senpai." Sapa beberapa murid perempuan.

"Hm" Jawab Naruto singkat.

"Dia kenapa?" bisik gadis-gadis itu "Dia jadi dingin seperti itu sejak libur semester." "Ini jadi tidak menarik lagi"

"Aku bisa mendengarnya tahu!" teriak Kiba.

"Naruto aku tidak percaya ini kau mengalahkan peringkatku!" marah Karin, astaga ada apa dengan Naruto akhir-akhir ini? dia tidak mengerti dan sekarang dia harus terima peringkatnya dikalahkan Naruto.

"Ahaha aku belajar. Aku belajar" ucap Naruto, 'dengan cukup keras' batin Naruto. tutornya adalah Menma dan dia benar-benar membantunya belajar dengan memberikan buku-buku tebal yang menyambungkan neuron diseluruh jaringan otaknya.

"Kau harus berusaha lebih keras lagi" ejek Kiba menghalangi Karin agar tidak lebih jauh mendekati Naruto.

"Aku sudah bekerja keras!" teriak Karin. Sungguh tak adil, ini membuatnya frustasi.

Naruto meninggalkan keduanya yang sedang berdebat, ini bisa membuatnya malu berada disekitar mereka jika sedang bertengkar.

"Naruto-kun"

Naruto berdecih, satu-satunya orang yang tidak bisa menerima perubahan Naruto hanyalah dia, dan dia sedang menahannya didepan loker. Bukannya tak ingin bicara, namun Naruto tidak bisa bicara lagi pada Ino, Dia tahu kondisi Naruto namun dia tak mau menyerah untuk menghantui hidup Naruto.

"Kenapa kau tidak membalas pesanku? Telponku bahkan kau tolak?" Ino mendekati Naruto.

"Sudah kukatakan Ino, aku sudah berkomitmen sekarang. Aku tidak bisa membalas pesanmu apalagi menerima telpon darimu"

"Apa karena gadis itu? Gadis yang kau hamili?"

"Apa?" Naruto tak percaya Ino masih berharap padahal dia tahu tentang Hinata dan kehamilannya. Dia tahu? Tapi kenapa dia diam saja?

"Aku tahu itu bukan hanya kemungkinan. Kau menghamilinya tapi selama beberapa waktu melihat keadaanya, perutnya tak membesar. Dia pasti membohongimu!" Ucap Ino, dia tak terima Tenten yang sudah mempermalukan Naruto masih juga berbohong. Naruto dimana akal sehatnya sekarang.

"Heh?" Naruto kembali teringat kejadian tadi pagi. Perutnya bahkan lebih besar dari wanita dengan waktu kehamilan yang sama. Lagipula, siapa yang Ino maksud?

"Dia bahkan mencaci dan memuk-"

"Kurang ajar kau, brengsek!" teriak Tenten sembari memukul punggung Naruto keras.

"Ittai!" teriak Naruto. Tenten berdecih kemudian mengomel sembari terus berjalan.

"Ah Tenten- maaf Ino. Aku sudah memutuskan" Ucap Naruto sembari menyusul Tenten. "Aku kan sudah minta maaf, kau jangan menghajarku terus terusan donk" ucap Naruto. Dia bisa masuk rumah sakit jika Tenten tak memaafkannya dan terus menghajarnya seperti ini.

"Tenten itu sudah membohongimu, Kenapa kau masih percaya padanya. Naruto-kun" ucap Ino.

"Tuhan aku tidak percaya ini, aku dendam padamu" ucap Tenten.

Naruto membalasnya dengan sebuah senyum terpaksa, setelah Naruto ketahuan, Menma segera minta maaf pada gadis ini dan membeberkan semua yang telah tejadi yang tentu saja berdampak buruk pada Naruto.

Dia diwajibkan untuk tidak menghindar dari pukulan Tenten sempai gadis ini memaafkannya.

"Sungguh ini demi Hinata, Tenten" ucap Naruto.

"Jangan bawa-bawa Hinata ya! Ini urusan kita berdua." Ancam Tenten menendang tulang kering Naruto sebelum berlari meninggalkan Naruto yang meringis kesakitan.

"Ah sial sekali." Ucap Naruto sembari masuk ke dalam kelas. hari –harinya tak seperti dulu. Dikelilingi wanita itu berkah untuknya, dan sekarang dia menerima hinaan dan ejekan dari para gadis yang selalu mengikutinya kemanapun.

Naruto berusaha menampilkan perubahan drastisnya. Seragamnya longgar dan dia berkaca mata sama seperti karin. Ini bukanlah keinginannya sendiri. Hinata yang menyarankannya saat Naruto berkonsultasi bagaimana caranya menjadi anak normal yang tak menonjol.

Ini berhasil. Ditambah dengan sikap acuh Naruto sekarang, yang mendekatinya hanya anak-anak kutu buku klub penggemar membaca.

"Yosh, jangan ribut. Waktunya berlajar" ucap lantang Kurenai-sensei didepan kelas.

"Beri salam!" ucap ketua kelas.

oOo

"Selamat datang" ucap Hinata mendengar bunyi lonceng saat pintu terbuka dan mendapati Naruto berdiri disana.

"Mau makan camilan sebelum aku pergi kerja?" tawar Naruto mengangkat kotak kue ditangannya.

"Sudah kubilang jangan pakai seragam!" omel Hinata namun bibirnya tersenyum senang, Naruto yang sekarang sungguh seperti Naruto yang selalu Hinata harapkan.

"Ah gomen. Gomen. Aku kan hanya mengajak calon istriku makan ditoko buku" ucap Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Ish. Ini aku membawanya. Kau lupa membawa baju gantimu" ucap Hinata menyerahkan kotak berisi pakaian Naruto.

"Terima kasih, aku akan ganti baju lalu kita makan kuenya bersama" ucap Naruto menukar baju dengan kue ditangannya.

Setelah berganti pakaian Naruto tak mendapati Hinata berada di meja kasir. "Hinata?" Naruto memanggil Hinata.

"Aku ada didalam senpai. Masuk saja" jawab Hinata.

Pintu geser tergesa-gesa dibuka. Hinata menatap Naruto dengan tatapan maaf. Kue yang harusnya dimakan berdua harus dibagi 3 dengan nenek Chiyo.

"Rasanya tak seenak kue buatanku" komentar nenek Chiyo.

'Lalu kenapa kau masih memakannya juga?' batin Naruto sembari masuk dan duduk disamping Hinata.

"Maaf ya" bisik Hinata. Nenek Chiyo memergoki Hinata yang sedang memegang kotak kue, mana mungkin dia berbohong kalau itu kotak kosong, lagi pula Nenek Chiyo juga sangat baik pada Hinata selama ini.

"Bukan itu masalahnya sekarang" jawab Naruto. dia sengaja membeli kue itu agar dia bisa menggoda Hinata, Sleepy dan Kyuubi di sofa depan. Kalau acaranya seperti ini, Naruto lebih suka membawanya pulang dan mereka memakannya dirumah.

"Kapan kau periksa lagi Hinata?" tanya nenek Chiyo, melihat ke arah Hinata.

"Mungkin besok nek. Senpai akan menggantikanku disini" ucap Hinata, sebenarnya dia ingin pergi bersama namun dia tak mau Naruto mendapat gosip aneh tentang mereka. Makanya tadi Hinata mengomeli Naruto karena datang memakai seragam, bagaimana kalau ada yang melihat mereka? Itu tidak boleh terjadi.

"Hoi bocah"

"Ha-i nenek" jawab Naruto sigap menegakkan punggungnya, "Ingat ini untuk masa depan bayi kalian. Meski kalian saling bertanggung jawab, mempunyai anak diusia muda beresiko tinggi. Kalian belum dewasa sepenuhnya dan jika kalian tidak bisa saling menjaga amarah, anak kalian akan hidup dalam ketakutan seumur hidup mereka. Jika kalian bertengkar jangan sampai anak kalian tahu"

"Iya nenek" ucap Naruto, mengingat sepanjang hidupnya tou-chan dan kaa-chan tidak pernah bertengkar dihadapan Naruto ataupun Menma.

"Ayah dan mama suka bertengkar" ucap Hinata. "Setiap malam dan itu membuat aku dan adikku ketakutan" Hinata menatap perutnya, dan sekarang Hinata akan memulai generasi yang sama jika dia meniru orang tuanya dahulu.

"Kita pastikan mereka tidak akan merasakannya, Hinata." Naruto memberi sebuah janji.

"Senangnya jadi anak muda" komentar nenek Chiyo. "Bukannya kau akan pergi bekerja bocah?"

"Ah" teriak Naruto baru sadar, astaga dia bahkan belum memakan camilan mereka. "Aku pergi!"

"Tunggu bocah"

"Ya nek?" Naruto berbalik untuk melihat nenek Chiyo menatapnya, "Besok antar Hinata saja, aku yang akan jaga toko"

Senyum sumringah terpatri diwajah Naruto, kalau nenek tidak mengatakannya, Naruto pasti akan memohon-mohon padanya.

"Cepat pergi" teriak Nenek Chiyo.

"Hai"

Hinata tertawa pelan, senpai sangat bersemangat hari ini. namun tawanya tak bertahan lama. Kasihan, Naruto pasti kelelahan nanti malam.

"Akibat yang harus kalian terima tak setimpal bukan?"

"Iya,"

"Kau mengkhawatirkannya? Aku lebih khawatir padamu. Hinata. Melahirkan bayi kembar beresiko tinggi padamu, kau harus memilih operasi caesar."

"Tapi biayanya mahal sekali nek. Naruto dan aku tidak mungkin mengumpulkan uang dalam waktu 4 bulan kedepan. Resiko Sleepy dan Kyuubi lahir prematur juga tinggi" ucap Hinata, kenyataan inilah yang mengganggunya.

"Jangan pendam sendirian, Hinata. Naruto berusaha untuk kalian. Dengan mengatakannya setidaknya, dia tahu apa yang harus dia lakukan"

"Dia sudah bekerja keras nek. Mana mungkin aku membicarakan itu padanya."

"Hinata, kau tak percaya padanya?"

"Aku percaya nek. Aku hanya tidak terbiasa bergantung pada orang lain. Selama ini, aku dan Hanabi selalu bergantung pada tali tipis yang ayah ulurkan pada kami. Tak ada tali lain, saat Naruto senpai melempar tali dalam penantianku, aku tidak ingin itu menjadi tali yang seperti ayah ulurkan untuk kami"

Nenek Chiyo hanya mengangguk, tak sepenuhnya dia setuju namun didikan Hinata dan Naruto jauh berbeda. Dari binar keduanya, meski Naruto terkadang terlihat frustasi dan mencoba meniru seseorang, dia masih bisa maju. Sementara Hinata, mudah terbujuk dan meminta kenyamanan kepada Naruto, jika keduanya berpisah maka itu akan menjadi akhir untuk Hinata. Atau mungkin sebaliknya? Namun sikap mudah luluh Hinata pada Narutolah yang akan menyelamatkan hubungan mereka.

"Nenek aku senang bisa bekerja dan berkenalan dengan nenek" ucap Hinata, sudah lama dia ingin berterima kasih namun tak jua mendapat waktu yang pas.

"Ah lagi pula, wanita cerewet itu masih keluargaku" ucap Nenek Chiyo.

"Nenek benar, aku harus berkunjung lagi dan berterima kasih pada Kushina-san" Hinata seolah teringat.

"Ano permisi, apa ada orang?" teriak pelanggan di depan.

"Maaf, sebentar!" jawab Hinata sembari bangun dan kembali ke toko buku. "Maaf menunggu lama" Sapa Hinata ramah.

"Aku ingin buku icha-icha paradise volume sebelumnya, apa masih ada?" tanyanya, laki-laki bermasker itu tersenyum dengan matanya melihat Hinata melongo karena buku itu buku langka karya Jiraiya sensei yang isinya tentang percintaan.

"Maaf kami belum mendapat kiriman tambahan novel tersebut ucap Hinata dengan nada menyesal. "Mungkin anda ingin buku yang lain?"

"Tidak, terima kasih. Senang bertemu denganmu nona Manis"

Astaga Hinata mimpi apa semalam sampai laki-laki asing menggodanya, maaf sekali Hinata tidak tertarik, masker itu pasti menyembunyikan bibirnya yang sedang berliur banyak.

"Terima kasih" jawab Hinata sembari meninggalkan kasir dan mencoba mencari kesibukan agar laki-laki bermasker dan berambut silver itu pergi.

"Sampai ketemu lagi, nona" ucapnya sebelum meninggalkan toko. "Oh ya, kita akan segera bertemu lagi, sebaiknya kau mengambil keputusan yang tepat"

Hinata ingin mengumpat mendengarnya. Bertemu lagi? maaf saja, dia harus tahan umpatannya karena tidak baik untuk mental Sleepy dan Kyuubi. "Tuhan terima kasih atas kesabaranku" ucap Hinata.

oOo

Hinata merapikan kamarnya yang sedikit berantakan, memasak nasi dan lauknya serta merajut beberapa kaus kaki bayi. Sesekali diliriknya jam, dia tak sabar menunggu Naruto dan dia tak mengerti kenapa waktu berjalan sangat lambat ketika dia sedang menunggu.

"Waa aku bosan!" teriak Hinata keluar kamar, dia harus melakukan apa? Dia tak bisa merajut lebih banyak lagi. Akhirnya Hinata memutuskan menunggunya diluar.

"Hinata-chan?" tanya Sasori kebingungan. Sudah berapa lama dia pergi dari apartemen Nara? Gara-gara orang tuanya memaksa pulang kerumah Sasori harus mendekam dipenjara di rumahnya sendiri, sekarang tiba-tiba saja Hinata sudah jadi ibu-ibu rumah tangga usia 30-an. Daster dan celemek, serta perut buncitnya? "HINATA! KAU MAKAN BERAPA BANYAK?!" teriak Sasori tidak terima, tubuh langsing nan bo- sebaiknya tidak perlu dijelaskan seberapa seksinya Hinata.

Hinata senang Sasori akhirnya muncul, dengan sebuah cengiran Hinata menunjuk perutnya. "Ini bayi dan kalau ditanya seberapa banyak aku makan, sepertinya cukup banyak"

"Bayi?" Kepala Sasori mulai ngadat berfikir, dalam perut buncit itu ada bayinya Hinata?

"Ah moo Sasori-senpai, aku sedang hamil" ucap Hinata sedikit jengkel karena Sasori menatapnya dengan pandangan. Apa maksud sajak itu?

"H- H- yang itu? Yang- SIAPA YANG BERANI MELAKUKAN ITU PADAMU?!" teriak Sasori lebih kencang. Membuat Shikamaru yang menyusulnya untuk numpang tidur harus menendangnya berkali-kali.

"Berisik!" ucapnya sembari menganiaya Sasori.

"Dia hamil, Shika. Gadis satu-satunya milik kita telah dinodai" Sasori mengunjang tubuh Shikamaru dengan wajah nelangsa.

"Bodoh, mati saja kau" ucap Shikamaru memukul Sasori, "Aku numpang tidur"

Sasori kembali menatap Hinata dan melihatnya semakin tidak percaya. Lupakan si tukang tidur itu! "Siapa Hinata?" tanya Sasori

"Orang yang aku cintai, tentu saja." Jawab Hinata sembari menutup telinganya karena teriakan Sasori.

"Kak Menma? oh Tuhan, aku tidak tahu aku tidak pernah mendengar desahan di kamar sebelah-"

"Sasori Senpai!!" teriak Hinata dengan wajah malu, memukulkan spatula yang dipegangnya ke tubuh Sasori dengan membabi buta. Sejak kapan dia memegang spatula?

"Ah Ah Hinata kenapa kau harus malu? Aku juga melakukannya dengan pacarku, aku melakukannya sungguh dan desahannya cukup-"

BRUK! Sasori harus tewas ke alam mimpi akibat pukulan yang Naruto layangkan padanya. "Dasar mesum" umpat Naruto sembari menarik tangan Hinata untuk masuk.

"Tapi- tapi Sasori?" tanya Hinata Khawatir.

Naruto mendang keras dinding disampingnya, "Hoi Shikamaru senpai, temanmu pingsan di depan pintu" teriak Naruto. "Urus dia dulu"

Terdengar gerutuan kemudian benda diseret masuk dan dijatuhkan begitu saja dilantai. "Kau sudah puas?" tanya Naruto mengambil air minum dan duduk dihadapan Hinata.

"Y-ya kurasa begitu" ucap Hinata. Ayolah ini tidak akan sulit, Hinata sudah menunggu sejak tadi. "Naruto-senpai"

"Aku sudah mengambil aplikasi pendaftaran pernikahan kita. Aku akan menyerahkannya besok setelah kita memeriksa Sleepy dan Kyuubi di rumah sakit" potong Naruto. "Hanya perlu kau isi yang aku tidak tau dan tanda tangani"

Hinata membaca kertas yang disodorkan Naruto. Tanpa ragu Hinata menanda tangani surat itu. Mereka akan segera resmi dan tidak akan ada wanita yang berani mengambil Naruto senpai darinya, lagi.

"Kau tadi mau bicara apa?" tanya Naruto melihat Hinata masih gusar.

"Mengenai persalinan Sleepy dan Kyuubi, Aku takut kalau mereka harus menjalani operasi caesar"

"Kau gusar karena itu?"

"Eh" Hinata melihat Naruto yang membalas kegusarannya dengan senyum cerah diwajahnya.

"Aku tahu ini mungkin akan terjadi, aku sudah mempersiapkan semuanya untuk kalian. Tak akan aku biarkan kalian meninggalkan aku" ucap Naruto.

Nenek Chiyo benar, seharusnya Hinata bicara pada Naruto senpai, harusnya dia percaya pada Naruto senpai. Hubungan ini harus berjalan bukan didasarkan atas cinta saja namun juga atas rasa percaya dan kasih sayang.

"Aku akan buat teh" ucap Hinata bangkit. Sedikit kerepotan dengan perut besarnya.

"Akhirnya..." Naruto mendesah lega, dia lelah namun pulang dan melihat Hinata kerepotan dengan perut besarnya membuatnya langsung segar kembali. Ini bukan mimpi. Ini masih kenyataan.

"Ah, panas!" teriak Hinata mengibaskan celemeknya, dia ingin minum teh dan teralihkan karena Naruto senpai mendesah.

"Lepaskan pakaianmu Hinata" ucap Naruto segera mendekati Hinata. "Kulitmu bisa terbakar" Tangan Naruto secara refleks membuka celemek ditubuh Hinata.

"Ini tidak terlalu panas, aku baik-baik saja senpai" ucap Hinata memegang tangan Naruto, dia mencium bau Naruto senpai yang sudah berubah, bau tubuh Naruto sendiri. tidak ada lagi bau bunga yang membuatnya cemburu setengah mati.

"Akhirnya Hinata" bisik Naruto, tangannya beralih menggenggam tangan Hinata dan wajahnya semakin mendekat.

Sudah lama sejak dia menyentuh Hinata seperti ini, dia ragu apa Hinata akan menerimanya? Apa Hinata tak keberatan dengan ini? Bukan berarti Naruto menginginkanya, ini adalah insting laki-laki.

Hinata mencoba menahan Naruto, "Na-Naruto senpai" Bibir Hinata kelu untuk bilang jangan, dia juga merindukan Naruto, dia menginginkan bibir itu menyentuhnya lagi sejak terakhir kali Hinata memaksa mencium Naruto senpai.

"Tidak apa-apa" ucap Naruto mengerti, tangannya mulai melepaskan Hinata. Dia tak boleh memaksa, kalau dia teruskan maka dia akan jadi salah satu laki-laki paling bejat yang pernah ada.

"Tidak," cegah Hinata menarik tangan Naruto.

"Aku mungkin tidak akan berhenti" ucap Naruto, apakah dia mulai terbakar sekarang, dia harus mengeluarkannya sedikit-sedikit karena Hinata sedang hamil. Dia tak mau menyakiti mereka bertiga.

"Huum" jawab Hinata.

Dengan cepat Naruto menarik Hinata untuk menggapai bibir yang membuatnya merindu, memberikan gigitan-gigitan kecil sembari menahan tubuh Hinata dalam pelukannya, "Hinata. Hinata. Hinata" Naruto seolah sedang membaca sebuah mantra yang dapat menenangkan dirinya.

Ini menyenangkan, ini sangat memabukkan bagi Hinata, Naruto senpai terus memberinya kebahagiaan. Suara decapan terdengar kala Naruto senpai mulai menghisap bibir Hinata, dia merasakannya, Naruto senpai menahan dirinya.

"Aku janji ini akan sangat lembut" bisik Naruto, tangannya bergerak seliar bibirnya, menyentuh seluruh bagian tubuh Hinata.

Dia ingin semua yang dimiliki Hinata dapat dikecap oleh bibirnya dan gairahnya yang memanas. "Hinata" suara baritonnya semakin tenggelam dalam gairanh.

Dia tak puas hanya dengan ciuman, daster ini sangat menganggu namun, Hinata cukup pintar dengan menggunakan daster berkancing didepan. Hanya butuh beberapa kancing yang terbuka Naruto sudah bisa menggapai dada Hinata dan melumatnya. Mendorong perlahan Hinata hingga berbaring diatas lantai.

"Ng- Naruto senpai," bisik Hinata, tangannya bergerak menahan Naruto yang semakin jauh turun kebawah tubuhnya.

"Hm"

"Aku tidak bisa melakukannya"

Naruto berhenti dengan tiba-tiba. Tidak bisa sampai sana? Naruto tidak bisa begitu saja memasukan gairah yang sudah menegakkan miliknya dibawah sana. Naruto mengangguk mengerti, dan mulai mengancingkan kembali daster Hinata. Dia harus mencari pelampiasan dikamar mandi nanti malam atau malah mungkin sekarang juga.

Hinata menarik Naruto mendekat dan berbisik pelan "Aku tidak bisa melakukannya disini."

"Baik, jangan paksakan dirimu Hinata. Lagipula aku takut tak bisa menahan diriku sendiri dan berujung dengan melukai kalian bertiga."

Hinata menggeleng, bukan itu maksudnya. "Naruto senpai, aku takut ada yang menguping kegiatan kita," ucap Hinata sembari mengelus wajah murung Naruto. Naruto sedang terbakar dan diapun sama, dia ingin menyelesaikan ini tapi ada penganggu yang membuat Hinata khawatir jika melakukannya disini.

Naruto butuh waktu mencerna kata-kata Hinata sebelum menatap calon istrinya dengan binar senang, telunjuknya menempel di bibir dan berbisik. "Ayo cari tempat aman"

"Huum" balas Hinata.

Dua telinga menempel di dinding kamar, mereka sudah siap dengan dengan tangan diantara selangkangan.

"Mana suara mereka?" bisik Sasori, wajahnya tepat menghadap Shikamaru.

"Baka!" bisik Shikamaru sembari menendang Sasori. "Mereka pasti hati-hati gara-gara kau bilang tadi"

Sasori meringis, dan membenarkan kata-kata shikamaru dalam hati. Dia dan mulut lancangnya.

"Pindah spot" ucap Shikamaru menggeser pantatnya ke dinding di sebrangnya.

Pipinya langsung memerah mendengar suara desahan yang cukup kencang dari kamar sebelah, Bagaimana bisa Sasori bisa dapat kamar sestrategis ini? tangannya segera mengangkat jempol pada Sasori untuk mengikutinya menguping.

.

.

.

.

Tbc!