"Tenten mengirim uang lewat giro. Awalnya karena dulu itu adalah satu-satunya bentuk jasa layanan yang ada, tapi makin ke sini?", ia bersikeras menggunakan jasa giro sebagai bentuk dari kewas-wasan dari catatan bank."
Juugo mengangguk. Fugaku pasti mengawasi ketat jumlah uang yang mengalir lewat bank. Dengan menginvestasikan uang kiriman Itachi secara manual lewat pos ke dalam tanah kosong milik Sai dan Ino, tidak akan ada kecurigaan.
"Sungguh bagaikan cerita dari dalam buku..." gumam Sai.
"Maaf?"
"Ah, tidak. Aku selalu berpikir kalau kisah mereka sungguh romantis. Mayoritas orang akan menentang, tapi saat aku memikirkan bahwa cinta harus diperjuangkan, aku dan Ino bersimpati pada Tenten dan Sasuke."
Kakak dan adik yang saling jatuh cinta berhak memperjuangkan cinta mereka?
Juugo tidak bisa mengomentari cara pandang itu.
"Gadis itu pernah bercerita dulu sekali, masa mereka sering ke Hokkaido berlima tiap musim panas, Sasuke mencium Tenten di tengah hiasan rangkai bunga matahari, di pusat lapangan bunga. Sepertinya ia bersumpah akan menikahinyaーatau semacamnya."
Juugo melihat ke kejauhan. Sosok yang dibicarakan Sai dan istrinya yang berambut pirang tengah menelusuri labirin yang dibuat di antara rimbunnya mahkota bunga keemasan. Hiasan yang dibicarakan Sai tampak seperti altar; mereka membuat yang sama persis dengan yang ada di Hokkaido, sepertinya.
Memang, untuk ukuran anak 8 tahun, menciumi saudara sendiri dan mengatakan akan menikahi mereka kelak adalah hal yang manis.
Beda cerita kalau janji itu dipertahankan hingga dewasa.
Lagipula, tidak seperti Amerika yang progresif, Jepang tidak mengakui pernikahan saudara sedarah...
Sai mengangguk seolah membaca pikiran Juugo. Upacara pernikahan merekaーkalaupun Sasuke bisa kembali ke Jepangーtidak akan tercantum di catatan sipil.
Kebanyakan orang akan menganggap dua orang itu gila.
Sejujurnya, sebagian diri Juugo yang mengenal moral sosial juga mempercayai itu.
