OUR
(Will You Be Alright?)
Berjalan beriringan dengan Kyuhyun, bukanlah hal baru bagi Yifan. Ya. Setidaknya beberapa tahun lalu. Kyuhyun dan Kibum selalu pergi-pulang sekolah bersamanya dan Luhan. Dan tak pernah secanggung seperti hari ini. Jadi dengan bodohnya Yifan terkekeh.
Kyuhyun melirik sekilas sebelum menaikan sebelah alisnya, "Kenapa?" tanyanya dengan nada ketus. Satu fakta baru yang baru disadari Yifan setelah lama tak berbicara dengan Kyuhyun, anak ini sering menggunakan nada ketus.
"Bukan apa-apa"
Kyuhyun mencibir mendengar jawaban yang diberikan Yifan, namun tak membahasnya lebih lanjut. Pemuda itu lebih memilih memandang lurus kedepan sebelum berucap dengan memasang wajah yang sulit diartikan Yifan. "Yifan ge, meskipun aku tahu memaafkan itu proses yang sulit. Tapi, maukah gege berusaha memaafkan kami?"
Yifan menoleh, "Kau tahu? Keluargamu membawamu pergi tanpa memberikan penjelasan padaku. Rasanya seolah aku langsung kehilangan 3 orang adik dalam sehari. Luhan, Kibum dan kau"
Kyuhyun tak menyahut. Kembali, rasa bersalah menyelubunginya.
"Aku sedang berusaha, Kyuhyun-ah" lanjut Yifan. Suffix yang digunakan Yifan pada namanya membuat dada Kyuhyun menghangat. "Jadi jangan pernah menyerah padaku" sebuah tepukan mendarat dipuncak kepala Kyuhyun.
.
.
Donghae menghela nafas. Pemuda penyuka ikan itu meletakan segelas jus jeruk diatas meja belajarnya. Itu pesanan Kibum. Tadi, temannya itu tiba-tiba datang kerumahnya dengan memasang wajah paling kusut yang pernah Donghae lihat seumur dia berteman dengan Kibum. Mengerti suasana hati Kibum yang sepertinya tidak baik, Donghae tak banyak bertanya, dia bahkan rela berjalan ke minimarket diujung komplek hanya untuk membelikan apa yang Kibum minta sebelum pemuda itu melamun dibalkon kamarnya.
Benar. Kibum melamun. Apa perlu Donghae capslok dan garis bawahi? MELAMUN. Sesuatu yang tidak Donghae lihat selama dia mengenal sosok Kibum. Pandangan mata Kibum juga kosong, seolah pikiran pemuda itu tak datang bersama raganya ke rumah Donghae. Lebih kosong dari pandangan mata Kibum terakhir kali dia mendapati Kibum membolos di atap.
Sejujurnya kedatangan Kibum saja sudah membuat Donghae shock –ngomong-ngomong Donghae sempat hanya menatap punggung Kibum yang langsung masuk kedalam rumahnya dengan bengong. Bagaimanapun, kedatangan Kibum ke rumahnya memang bisa dihitung dengan jari sebelah tangannya. Dan semua kedatangan Kibum itu selalu berhubungan dengan tugas kelompok. Dengan kata lain, Kibum tak pernah akan ke rumahnya –Donghae yakin soal ini, jika bukan karena adanya tugas kelompok yang memaksa Kibum mendatangi rumahnya. Dan seingat Donghae, hari ini kelas mereka tak mendapatkan tugas kelompok. Jadi, kenapa Kibum datang ke rumahnya?
Tidak, Donghae tidak akan merasa seaneh ini seandainya Kibum datang dengan wajah sedatar biasanya, tidak akan aneh jika Kibum datang setelah mengganti seragam sekolahnya, dan tidak akan seaneh ini jika Kibum tadi tidak berpamitan padanya akan menemani Kyuhyun berkeliling Namdaemun. Jadi, bolehkah Donghae berspekulasi kalau wajah kusut Kibum ada hubungannya dengan Kyuhyun?
"Apa dia akan baik-baik saja?"
Alis Donghae naik sebelah. Pemuda itu baru saja berdiri disamping Kibum ketika mendengar pertanyaan Kibum. "Ada apa?"
Kibum menoleh, memerangkap Donghae pada manik matanya yang menatap Donghae sendu. "Apakah—Kyuhyun akan baik-baik saja?" Donghae sudah akan membuka mulutnya ketika suara Kibum kembali terdengar. "Tanpa bermain basket?"
Jujur saja, jantung Donghae berdetak lebih cepat sekarang. Kyuhyun dan basket –setelah mengetahui kebenaran tentang Kyuhyun, menjadi sesuatu yang sensitif untuknya. Kyuhyun menganggap basket seperti bagian dirinya yang lain –meski memang tidak bisa disejajarkan dengan posisi Kibum. Dan seingat Donghae, dua kali Kyuhyun kolaps selalu berhubungan dengan basket. Jadi—apakah Kyuhyun baik-baik saja tanpa bermain basket? Jawabannya, Donghae tidak tahu.
"Aku selalu menginginkan dia berhenti bermain basket" Kibum memulai lagi setelah tak mendapat jawaban dari Donghae. "Tapi kenapa rasanya sesakit ini saat mengatahui dia menyerah pada basket, Hae-ya?"
Tatapan yang diberikan Kibum membuat Donghae mengernyit. Sekali lagi, Kibum menunjukan ekspresi yang lain padanya, tatapan penuh keputusasaan –yang lagi-lagi, seumur mengenal Kibum, Donghae tak pernah melihat Kibum menunjukannya. Dan sekali lagi, itu karena Kyuhyun.
"Seolah—dia menyerah pada hidupnya. Seolah dia—"
"Kibum-ah" Donghae merangkul bahu Kibum. "Aku mungkin bukan pemberi saran yang baik, tapi aku pendengar yang baik. Kau bisa bercerita padaku. Apapun, se-tak beraturan bagaimanapun. Aku akan mendengarkannya"
Benar, Donghae mungkin tak bisa memberi solusi yang baik, tapi dia pendengar yang baik. Kibum mungkin kini hanya butuh orang yang mau mendengarkannya mengungkapkan masalah dari sudut pandangnya. Dan Donghae yakin, ketika Kibum tanpa sadar datang kerumahnya, Kibum percaya bahwa dia adalah orang yang tepat untuk dijadikan pendengar.
.
.
Kyuhyun tak mendapati Kibum dirumah saat dia kembali ke rumah. Ibunya yang dia temui didapur hanya menautkan alis ketika mendengar pertanyaan Kyuhyun. Kyuhyun tak melanjutkan bertanya, dari reaksi Ibunya saja Kyuhyun sudah yakin Ibunya merasa aneh mendengar Kyuhyun bertanya tentang Kibum padahal sudah jelas Kibum tadi ijin pergi bersamanya.
Akhirnya dia menyerah, menjatuhkan dirinya diatas kasurnya. Kepala Kyuhyun sudah berdenyut nyeri sejak tadi. Mungkin dia terlalu memforsir tenaganya juga terlalu banyak pikiran. Kyuhyun butuh tidur.
"Kyu?" pintu yang terbuka dengan kepala Ayahnya yang muncul dibaliknya membuat Kyuhyun tersenyum lebar. Tadi dia tak melihat sepatu Ayahnya didepan karena terlalu ribut mencari keberadaan Kibum. Sepertinya Ayahnya sudah pulang sejak tadi.
"Kau sudah mau tidur? Tanpa berganti baju dan mencuci muka?"
Kyuhyun merengut, tersindir dengan pertanyaan Ayahnya. Namun kemudian dia segera mengambil posisi duduk, menghadap Ayahnya dengan pandangan bertanya. Kyuhyun tahu, ada yang ingin Ayahnya bicarakan padanya. Selain menyindirnya dengan kebiasaannya itu.
"Kalian bertengkar? Lagi?"
Lagi. Kyuhyun merengut mendengar pertanyaan Ayahnya. Namun tak menyangkal meski sebenarnya Kyuhyun sendiri tidak tahu apa ini jenis pertengkaran dengan Kibum atau Kibum tengah merajuk padanya.
"Kibum akan menginap dirumah Donghae malam ini" mata Kyuhyun membulat sempurna. Sebegitu marah kah Kibum padanya? Atau—beginikah rasanya dirajuki saudara sendiri?
"Jangan memikirkan hal negatif, Kyuhyun" Ayah menepuk puncak kepala Kyuhyun. "Kau yang paling tahu bagaimana Kibum kan?"
"Justru karena aku tahu bagaimana Kibum, Ayah" Kyuhyun menghela nafas. Kibum tak pernah sampai harus menghindarinya meski begitu marah sekalipun. "Haruskah aku menjemputnya?"
Ayahnya menggeleng. "Biarkan dia sendiri dulu, hm?"
Kyuhyun menghela nafas. Mungkin Kibum memang sedang butuh waktu sendiri. Jadi dia akan memberikannya. Kyuhyun hanya berharap besok dia sudah menemui Kibum yang seperti biasanya. Terlalu egois memang. Tapi—Kyuhyun ingin seperti itu. Kibum tidak boleh terlalu memikirkannya sampai seperti itu. Karena sejak dia memutuskan untuk berhenti bermain basket, Kyuhyun sudah memikirkannya matang-matang. Ya. Mungkin Kyuhyun akan menyesal nanti. Tapi setidaknya dia menepati janjinya pada Yifan. Tak apa. Dia tanpa basket, tak apa.
"Kenapa Kyuhyun-ie?" Ayahnya terkesiap ketika melihat Kyuhyun meneteskan air mata setelah lama melamun.
"Kenapa sesakit ini, Ayah?" tangan Kyuhyun meraih lengan Ayahnya ketika melihat pria itu hendak berlari keluar kamar, lalu memeluk Ayahnya sambil menangis kencang. Perasaan sesak yang sejak siang tadi ditahannya akhirnya dia lepaskan lewat tangisan.
Bohong kalau dia selapang dada itu melepaskan impiannya pada basket. Dia memang sudah memikirkannya matang-matang –apalagi setelah mendengar ucapan Yifan dipercakapan pertama mereka, tapi tetap saja Kyuhyun itu anak yang egois. Dia tak akan semudah itu merelakan impiannya.
Kyuhyun awalnya ingin menceritakan kepada Kibum tentang keinginannya keluar dari tim. Namun belum sempat bercerita pada Kibum, saudara kembarnya sudah membawanya menemui Yifan. Dan mendengar alasan Yifan, Kyuhyun jadi memutuskan sendiri. Dia akan berhenti.
Awalnya tak semenyesakkan itu. Dia bahkan dengan pintarnya masih bisa memasang senyum pada Kibum, menyakinkan saudara kembarnya itu bahwa keputusan yang dia ambil itu tak berarti apapun. Bahkan sampai Kibum keluar dari cafe dengan mata memerah, senyum Kyuhyun masih belum hilang demi menunjukan pada Yifan bahwa dia baik-baik saja dengan pilihannya.
Kyuhyun bukan tak berniat mengejar. Dia ingin. Namun detak jantungnya terlalu cepat dan Kyuhyun tak ingin tumbang didepan Yifan. Tidak untuk kedua kalinya. Jadi yang dia lakukan adalah meyakinkan Yifan bahwa dia benar-benar akan berhenti, melupakan perasaan sesak yang mendesak didada dan juga kerongkongannya. Melupakan bawa mungkin Kibum akan semarah ini padanya. Dan hebatnya dia bertahan sampai berpisah dengan Yifan dipersimpangan jalan.
"Menangislah, Kyuhyun-ie. Tidak apa-apa, Ayah disini" mengeratkan pelukan pada Kyuhyun, Tuan Cho masih mencoba menerka apa yang sedang dialami kedua putranya. Apa masalahnya begitu serius sehingga Kibum meminta ijin menginap dirumah Donghae demi menghindari Kyuhyun? Sehingga membuat Kyuhyun menangis histeris begini?
.
.
Donghae meraih dua kotak makan siang yang disodorkan Ibunya sebelum berlari mengejar Kibum yang berpamitan lebih dahulu. Pemuda itu berdecak kesal ketika berhasil mensejajari langkah Kibum. Dia tak berani berkomentar melihat bagaimana wajah Kibum masih seperti semalam. Terlalu datar. Keduanya sedang berjalan menuju halte bus.
"Aku serius soal itu, Kibum" Donghae akhirnya buka suara setelah dia berhasil duduk disamping Kibum di bus. Karena masih tergolong pagi, bus masih sepi. Tak ada yang memperhatikan mereka. "Tanyakan padanya baik-baik. Ada kemungkinan dia mengatakan hal itu karena kau terpojok oleh Yifan-yifan itu kan?"
Semalam Kibum menceritakan semuanya pada Donghae, minus hubungan masa lalu dia-Kyuhyun-Yifan, juga soal siapa Yifan sebenarnya. Intinya, Kibum hanya menceritakan garis besarnya saja. Donghae tahu itu, dan dia tak memaksa. Dia sudah cukup takjub ketika akhirnya Kibum cerita padanya.
"Kalau bukan karena itu?" keduanya sudah turun dari bus.
Donghae tersenyum. "Kau yang paling tahu dia, Kibum. Jangan bertanya padaku" Donghae menyerahkan dua kotak bekal yang sejak tadi dibawanya pada Kibum. "Untuk alasanmu bertemu dengannya" katanya sebelum berlalu lebih dahulu, meninggalkan Kibum dengan segaris senyum dibibirnya.
"Terimakasih" bisiknya.
.
.
Kyuhyun bangun dalam keadaan kacau. Benar-benar kacau. Matanya bengkak karena menangis semalaman dan ia lupa tak mengompresnya sebelum tidur semalam. Kepalanya juga pusing, efek menangis juga. Jadi yang dilakukannya sejak seperempat jam lalu adalah mengurut keningnya sambil bersandar pada headbed.
"Dokter Park akan datang nanti" Tuan Cho masuk sambil membawa sebaskom air hangat dan handuk kecil. Pria itu sudah berpakaian rapi. "Berbaring"
"Nanti Ayah telat" tangannya menjauhkan tangan Tuan Cho yang akan menyimpan handuk untuk mengompres dikeningnya. "Aku tidak demam, Ayah"
Tuan Cho menggeleng, "Mau bukti?"
Kyuhyun mendengus, membiarkan Tuan Cho menyimpan handuk kompresan dikeningnya. Dia memang sering demam belakangan ini. "Tidak perlu memanggil Dokter Park?"
"Dokter Park kemari atau kita kerumah sakit?" Kyuhyun berdecak, Ayahnya benar-benar bukan pemberi pilihan yang menguntungkan untuknya. "Kenapa membenci Dokter Park?"
"Aku tidak begitu!" elak Kyuhyun. Kenyataannya memang begitu, tak sedikitpun Kyuhyun membenci pria itu. Kalau boleh jujur, Kyuhyun sayang pria itu. Hanya saja, setiap nama pria itu disebutkan entah mengapa Kyuhyun merasa ada sesuatu buruk padanya.
"Ayah lihat kau menyukainya"
"Ayah! Ukh" kepala Kyuhyun berdenyut keras. Sensasi nyeri menjalar ke belakang kepalanya.
"Jangan berteriak Kyuhyun!"
"Habisnya Ayah malah menggodaku" dengus Kyuhyun. "Oh iya, nanti jangan biarkan Changmin dan yang lain menjengukku"
Tuan Cho mengangguk, menyuruh Kyuhyun untuk kembali istirahat. Ketika deru nafas Kyuhyun terdengar mulai teratur, pria itu memejamkan matanya yang memanas. Kyuhyun tidak pernah suka terlihat lemah didepan orang lain, bahkan didepan Kibum sekalipun. Kyuhyun menjadi sungkan dengan Kibum yang sering kali mengalah padanya. Tuan Cho paham itu. Dan Kibum, dia tumbuh menjadi saudara yang bisa diandalkan. Terlalu yakin bisa diandalkan, sampai kadang Tuan Cho rasa, Kibum tak peduli dengan dirinya sendiri.
.
.
Kibum menghela nafas panjang sebelum melangkah kearah kelas Kyuhyun –akhirnya setelah menimang ucapan Donghae. Melongok, dia mendapati kursi Kyuhyun kosong. Kibum melirik arlojinya dengan alis bertaut. Seharusnya Kyuhyun sudah datang, sudah duduk dikursinya dan dikelilingi oleh 3 sahabat ajaibnya. Atau paling membuatnya kesal, ketiganya sedang masing-masing memegang PSP. Tapi dia tak menemukan pemandangan itu.
"Kibum-sshi?"
Changmin jadi tidak tahu sopan santun –ini menurut Kibum, sejak diberitahu bahwa Kibum adalah saudara kembar Kyuhyun. Suffix 'sunbae' yang awalnya dipakai anak itu perlahan diganti dengan suffix 'sshi' bahkan kadang menggunakan suffix 'hyung'. Dan jujur Kibum tak menyukainya.
"Kyuhyun," Kibum tak suka basa-basi, apalagi itu dengan Changmin.
"Aku tahu" Changmin memotong dengan wajah super keruh –sedikit berlebihan dimata Kibum. "Tadi Guru piket memanggilku. Kyuhyun sakit lagi kan?"
"Heh?" jantung Kibum berdegub kencang. Apa yang Changmin bilang tadi? Kyuhyun sakit?
Belum sempat Changmin berucap lagi, Kibum sudah berlari meninggalkan Changmin. Dia harus memastikan Kyuhyun baik-baik saja.
.
.
"Kibum"
Gerakan Kibum yang terburu menaiki tangga terhenti. Dia menoleh, mendapati Ayah, Ibu dan Dokter Park. Meski berat, dia balik mendekati ketiganya. Sedikit berdehem ketika akhirnya mendudukan dirinya disamping Dokter Park. Tatapan mata Ayahnya sudah menjelaskan teguran yang dia terima karena lagi-lagi dia bolos sekolah –juga karena menginap dirumah Donghae, mungkin.
"Kibum?"
"Sekali lagi saja, Ayah" jawabnya. "Aku ingin memastikan dia baik-baik saja"
"Dia baik-baik saja, Kibum" bukan Ayahnya tapi Dokter Park. "Dia hanya stress dan kelelahan. Kudengar semalaman dia menangis" mata Kibum menatap Dokter Park dengan khawatir meski tahu pria itu baru saja menyindirnya. Pria itu kemudian tersenyum kecil. "Saya permisi dulu kalau begitu" katanya kemudian berlalu.
"Dia menangis semalaman?" Kibum bertanya setelah Dokter Park berlalu.
"Kalian bertengkar?" Ayahnya balik bertanya. Kibum menggeleng kemudian mengangguk ragu kemudian menggeleng lagi. Entahlah. Dia bertengkar dengan Kyuhyun atau dia merajuk pada Kyuhyun?
"Apapun masalah kalian, melarikan diri bukanlah jalan yang tepat, Kibum" itu teguran. Kibum mengangguk kesal. Dia tak melarikan diri, dia hanya butuh waktu memikirkan semuanya sendiri. "Kyuhyun sedang istirahat. Setelah dia bangun, bicaralah baik-baik dengannya" itu pesan Ayahnya sebelum pria itu berpamitan untuk berangkat ke kantor.
Kibum tak menyia-nyiakan kesempatan Ibunya mengantar sang Ayah untuk dirinya berlari menaiki tangga menuju kamar Kyuhyun. Pintu kamar Kyuhyun sedikit terbuka, Kibum sedikit menghela nafas lega ketika tak mendapati infus atau apapun menempel pada tubuh Kyuhyun. Maka dengan gerakan sepelan mungkin, dia mendekati Kyuhyun, mendudukan dirinya disamping Kyuhyun.
Mengalihkan pandangan dari Kyuhyun, Kibum memilih mengamati kamar Kyuhyun. Meski kadang Kibum suka tidak bisa membedakan kamar Kyuhyun dengan ruang ICU dirumah sakit –kalau Kyuhyun sedang kolaps dengan adanya alat-alat kedokteran yang entah apa saja namanya, tapi sejujurnya kamar Kyuhyun tak seburuk itu. Malah terkesan lebih wajar untuk anak seumuran mereka dibandingkan kamar Kibum yang terlalu polos.
Tatapan Kibum terfokus pada poster seorang pemain basket. Jangan tanyakan namanya, Kibum bukan Kyuhyun yang dengan antusias akan menyebutkannya. Kibum hanya menebak itu pasti seorang pemain basket terkenal. Hanya itu.
Lalu tatapan Kibum berfokus pada foto Kyuhyun dan teman klub basketnya. Senyum Kyuhyun disana, Kibum menyukainya. Begitu hidup dan menjanjikan banyak kebahagiaan. Jadi, bukankah tidak salah kalau Kibum bertanya hal itu.
"Kau—apakah akan baik-baik saja tanpa bermain basket?"
.
.
Seorang introvert lebih suka menutupi perasaannya. Karenanya, kadang menangis adalah cara mereka mengekspresikan perasaan ketika tidak sanggup membicarakannya dengan orang lain.
Namun, seorang lainnya lebih memilih membicarakannya dengan orang lain –dengan memberi batasan tertentu. Mencoba melihat dari sudut pandang mereka kemudian mengambil sebuah keputusan.
Karena pada kenyataannya keduanya sama, terlalu lelah memendam semuanya sendirian.
.
.
*TBC*
Akhirnya saya kembali ^^
Ada yang kangen sama fanfic ini? Hehe
.
.
.
Btw happy 12th debut anniversary our first love, Super Junior ^^
Boleh curhat dikit ya. Mereka idol pertama yang bikin saya jatuh cinta, rela tuh pulang sekolah mampir ke toko majalah cuman buat beli cover majalah yang ada foto mereka, rela uang jajan habis cuman buat mampir ke warnet biar bisa nyetel MV mereka (btw saya baru punya handphone android pas SMA haha), rela nyempetin waktu buat vote mereka kalau mereka masuk nominasi-nominasi. Intinya mereka yang pertama buat saya jatuh cinta sama Kpop.
.
Anak yang lahir tahun 2000-an mungkin bisa ngebanggain idola mereka yang menang awards diluar negeri karena kepopuleran mereka (yang kalau boleh jujur itu karena kerja keras senior mereka macam TVXQ, SJ, Big Bang & SNSD), mereka juga bisa banggain viewers MV idol mereka (bahkan sering lomba dengan fans lain supaya idol mereka jadi yang pertama mencapai sekian viewers) dan kadang saya bosan sama hal semacam itu (mungkin karena dijaman saya gak ada pa-banyak-banyak viewers kayak sekarang)
Sebagai ELF saya senang mereka udah sampai di tahun ke-12. Cuman sedikit idol yang bisa sampe ultah debut ke-12 tahun kan? Jadi saya dan ELF lain boleh bangga sama pencapaian SJ kan? Hehe
.
Tahun ini SJ comeback cuman sama 7 member, itupun Siwon gak bakal ikut promosi gara-gara skandal anjingnya (yang saya masih gak ngerti kenapa media seneng banget ngungkin masalah itu padahal pihak keluarga korban aja udah gak mempermasalahkan). Ini jadi comeback dengan sedikit member yang berpastisipasi.
Gak jadi masalah.
Saya tahu member SJ khawatir dengan hasil yang bakal mereka capai di album ini. Saya juga. Bukan seberapa banyak penjualan albumnya (sejujurnya saya gak boleh ngasih pendapat soal ini, karena saya gak pernah beli album SJ. Saya cuman modal kuota, ikut streaming) atau seberapa banyak tropi musik yang bakal SJ dapet (kita juga gak boleh terlalu berharap sama tropi melihat banyaknya idol yang comeback bareng SJ), tapi yang jadi khawatir adalah seberapa banyak ELF puas sama kerja keras member SJ yang menyiapkan album ini setelah dua tahun hiatus.
Saya mikirin itu dan sambil nonton SJ Return dimana hanya beberapa kali Siwon muncul dilayar. Sedih.
.
Udah 12 tahun. Selama 12 tahun ini ELF udah ngirim semua member SJ (yang aktif) ke militer dan 7 orang udah balik. Saya gak berharap mereka ngerilis album tiap tahun (ngeliat gimana padatnya jadwal mereka MC-ing atau variety). Saya Cuman mau mereka kayak Shinhwa yang bareng-bareng terus walopun akhirnya pindah agensi, atau kayak g.o.d yang rutin konser.
Wah saya rasa curhat saya bisa lebih banyak dari cerita yang saya tulis di chapter ini. Jadi saya cukupkan sekian aja.
SJ fighthing! ELF fighthing!
PROM15E to BEL13VE
.
.
.
