Dangerous Pureblood
by
Coldnana
l
l
l
l
Cast : Nantikan dalam cerita.
Omegaverse, Chanbaek, Yaoi, Vampire, Fantasy, M-Preg
l
l
l
l
Jangan berharap banyak yaa sama Chapter ini, takutnya mengecewakan :')
Tunjukan padaku bagaimana perasaan kalian setelah baca Chapter kali ini yaa ;)
l
l
l
Sekedar ngingetin kalo Chapter ini tembus 8K hampir 9K , jadi jangan bosen yaak bacanya :3
So, silahkan temukan kejutan di dalamnya :3
Hope You Like It ^_^
Jangan lupa review yaaa :* #muuaacch
Thankssss, and...
Happy Reading Guys~~
l
l
l
l
l
Chapter sebelumnya...
"KATAKAN PADAKU! SIAPA YANG SUDAH BERANI MERACUNI BAEKHYUN?!"
Teriakan itu menjadi penutup segalanya, tak ada yang bisa bergerak, sementara Chanyeol semakin murka dan Baekhyun yang tak sadarkan diri di gendongannya semakin memperburuk keadaan.
Keadaan saat ini sungguh mengerikan, keadaan ini sungguh kacau, upacara kedewasaan yang sakral berubah menjadi upacara kematian!
l
l
l
l
"Eheem..." sebuah suara terdengar, lebih tepatnya suara berdeham seseorang terdengar.
Chanyeol mengalihkan perhatiannya pada sumber suara yang tak lain adalah seorang wanita yang tadi berteriak pada kekasihnya untuk jangan meminum darah itu, dia adalah Yunhwa namun Chanyeol tak tahu itu.
"Kau, siapa kau? Apa kau yang meracuni Baekhyunku?" ujar Chanyeol sembari menatap tajam wanita yang tadi berdeham.
Haaah...
Terdengar sebuah helaan nafas dari Yunhwa, wanita itu menghela nafas berat, kemudian secara perlahan bergerak, sedikit sulit membebaskan diri dari aura ini, namun dia pada akhirnya berhasil terbebas dari aura yang Chanyeol keluarkan.
Semua vampire masih terbelenggu, mereka belum menyadari bahwa aura yang di keluarkan Chanyeol lah penyebabnya.
Yunhwa berjalan mendekat ke arah Chanyeol yang masih setia memeluk Baekhyun dalam keadaan berlutut, kemudian dia bersuara, "Aku Byun Yunhwa, aku ibu Baekhyun dan Baekhyun bukan di racuni, itu karena dia meminum darah yang salah, oleh sebab itu dia kehilangan kesadarannya."
Mata Chanyeol memicing curiga, otaknya berfikir keras, dia tidak bisa mempercayai wanita di depannya ini begitu saja.
"Apa kau mengatakan yang sebenarnya? Kau yakin bukan kau pelakunya?" ujar Chanyeol dengan nada waspada dan penuh intimidasi, dia bukanlah tipe seseorang yang percaya sesuatu tanpa bukti yang nyata.
Yunhwa kembali menghela nafas lelah, kemudian dia kembali bersuara, "Jika memang aku yang meracuni Baekhyun, untuk apa aku berteriak melarangnya meminum darah itu?" ujarnya dengan nada rendah menahan geram.
Jangan kalian lupakan bahwa 'Dark Blood' mengalir dalam nadi Yunhwa, tentu saja terkadang sulit baginya menahan emosinya.
Chanyeol terkesiap, dia membenarkan ucapan Yunhwa dalam hati, wanita itu tidak mungkin mencegah Baekhyun meminum darah itu jika memang dia berniat meracuni si mungil, sepertinya dirinya telah mengambil kesimpulan dengan terburu-buru tanpa mengetahui kebenarannya.
Tentu saja dia akan berfikir begitu, dia tahu bahwa Baekhyun pernah di racuni dan seumur hidupnya dia menderita karena racun itu, jadi bukan salah Chanyeol jika dia berfikir demikian, dia hanya terlalu panik, takut akan kehilangan Baekhyun.
Chanyeol menghembuskan nafasnya lelah kemudian bersuara, "Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanyanya dengan nada putus asa.
Yunhwa tersenyum kemudian menepuk bahu sang pangeran, setelah itu dia bersuara, "Tenanglah dulu pangeran, sekarang hilangkan aura 'Absolute Chain' yang kau keluarkan itu dulu." Ucapnya dengan lembut.
Chanyeol tak terlalu mendengarkan, namun dia mengerti apa yang harus dia lakukan, detik selanjutnya aura yang dikeluarkannya sudah hilang tanpa jejak.
Semua yang ada di sana kembali bisa menggerakan tubuh mereka yang terbelenggu, kemudian Yunhwa berjalan mendekat ke arah Yunhoo yang terdiam seperti orang bodoh melihat Yunhwa yang berjalan menghampirinya.
"Apa kabarmu?" ujar Yunhwa memulai.
"Apa ini benar kau Yunhwa?" ucap Yunhoo tak percaya.
Yunhwa mengangguk, kemudian kembali bersuara, "Bantulah aku selamatkan putra kita."
"A-apa maksudmu?" tanya Yunhoo tak mengerti.
"Baekhyun, kita harus menyelamatkan Baekhyun, dia membutuhkan pertolongan dari kita."
"Apa yang kau katakan? Bukankah Baekhyun anak Chanho dan Chanhee?" tanya Yunhoo tak mengerti.
Demi apapun, kenyataan apa lagi ini? Apa langit sedang mempermainkannya? Siapa sebenarnya Baekhyun? Kata-kata siapa yang harus dia percayai kali ini?
"Apa maksudmu? Baekhyun itu putra kita, bukankah selama ini kau yang membesarkannya?"
"Tapi, nyatanya dia bukan anak kita, dia adalah kembaran pangeran Chanyeol yang di tukar waktu bayi." Ujar Yunhoo dengan nada sedikit sedih.
Sebenarnya pria paruh baya itu masih sulit menerima kenyataan yang ada, dia merasa bahwa Baekhyun itu putranya, darah dagingnya, meski dia sempat membencinya namun kali ini, jujur, dia merasa kehilangan setelah tahu bahwa Baekhyun bukanlah putranya, dan sekarang Yunhwa mengatakan bahwa Baekhyun adalah putranya, jadi siapa Baekhyun sebenarnya?
"Siapa yang mengatakan itu?" ucap Yunhwa sedikit terkejut.
Mata Yunhwa menatap Yunhwa sebentar kemudia beralih menatap pria asing yang tak Yunhwa kenal, dia adalah Baek Gi.
"Kakek Baek Gi yang mengatakannya, bahkan dia menunjukan kejadian malam itu, saat kau meninggal."
"Jadi dia kakek Baek Gi?" gumam Yunhwa dalam hati.
Yunhwa menghela nafas, dia mulai memahami situasi yang terjadi, harusnya dia datang lebih cepat, namun tubuhnya baru bisa pulih setelah beratus tahun lama, hingga dia baru bisa menemui mereka sekarang.
"Sepertinya ada kesalahpahaman di sini." Ujar Yunhwa.
"Apa maksudmu?" tanya Yunhoo makin tak mengerti.
"Aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti, tapi sekarang yang lebih penting kita harus menolong Baekhyun sebelum terlambat." Ujar Yunhwa pada Yunhoo.
"Baiklah."
Yunhwa mengeluarkan mangkuk perak yang memang khusus di sediakan untuk menampung darah campuran dari orang tua si vampire yang melaksanakan upacara kedewasaan.
"Isilah mangkuk ini dengan darahmu." Pinta Yunhwa pada Yunhoo sembari memberikan lelaki itu mangkuk yang ada di tangannya.
Yunhoo sebenarnya tak mengerti dan bingung namun dia memilih untuk tak banyak bertanya, dia tak ingin Baekhyun terlambat untuk di selamatkan karena dia yang terlalu lama membuang-buang waktu.
Setelah Yunhoo mengisi separuh dari mangkuk itu dengan darahnya, Yunhwa memasukan darahnya dan mengisi mangkuk itu sampai penuh, kemudian mengaduk darah dalam mangkuk itu hingga menyatu, darahnya keduanya saat ini telah tercampur sempurna.
Detik selanjutnya wanita itu kembali berjalan mendekati Chanyeol yang masih setia memeluk si mungil, dia bahkan sudah menggendong si mungil ala bridal.
"Chanyeol, bisa kau taruh tubuh Baekhyun di Altar?" tanya Yunhwa lembut.
Chanyeol mengangguk kemudian menaruh tubuh si mungil yang tak sadarkan diri itu di Altar, di tempat upacara itu memang di sediakan Altar, untuk berjaga-jaga jika ada upacara yang gagal dan tak di terima.
Setelah Chanyeol menidurkan Baekhyun di Altar, Yunhwa mendekati tubuh ringkih itu kemudian mulai meminumkan campuran darah itu melalui mulut si mungil, namun baru setetes dia memberikannya, cairan itu kembali mengalir keluar.
Yunhwa tak menyerah, dia memiringkan tubuh si mungil dan mengangkat kepalanya sedikit, kemudian kembali mencoba memasukan lagi cairan merah pekat itu, namun hasilnya tetap sama, Baekhyun tak bereaksi.
Yunhwa mengerang frustasi, percuma saja jika Baekhyun tak meminum cairan itu sampai habis.
"Bagaimana ini? Dia harus meminum cairan ini jika ingin selamat tapi dia bahkan menolaknya!" ujar Yunhwa dengan nada frustasi.
"Apa dia harus meminum cairan itu sampai habis?" tanya Yunhoo tak mengerti.
"Dia harus, hanya itu cara satu-satunya untuk menyelamatkan Baekhyun dan menyelesaikan upacara ini."
Chanyeol yang sejak tadi hanya memperhatikan kembali bersuara, "Berikan padaku." Ujarnya pada Yunhwa meminta mangkuk perak yang tengah Yunhwa pegang.
"Untuk apa?" tanya Yunhwa tak mengerti.
"Berikan saja padaku." Jawab Chanyeol cepat.
Dengan ragu Yunhwa memberikan mangkuk perak yang tengah di pegangnya, detik selanjutnya Chanyeol menenggak cairan merah pekat yang ada di dalam mangkuk itu dan Yunhwa yang terkejut, memekik dan berteriak.
"CHANYEOL APA YANG KAU LAKUKAN?! KAU TAK BOLEH MEMINUM DARAH ITU!" teriaknya frustasi.
Semua yang ada di sana menjadi panik mendengar teriakan Yunhwa, namun mereka tak bisa melakukan apapun selain hanya melihat, Chanho dan Chanhee juga berubah panik, suasana yang tenang berubah mencekam.
Saat Chanho ingin bersuara, tindakan Chanyeol mengejutkan semua vampire, dia mendekatkan mulutnya dengan mulut si mungil, mengalirkan cairan merah pekat yang baru saja di tenggaknya itu secara perlahan melalui sebuah ciuman.
Leher Baekhyun terlihat bergerak naik nurun, si mungil meminum cairan itu melalui mulut sang pangeran, semua bernafas lega melihat kenyataan itu, ternyata Chanyeol tak menelan cairan itu, dia berniat meminumkannya pada si mungil.
Semua bernafas lega, kecuali satu vampire, dia adalah Yunhwa.
Tiba-tiba Chanyeol merasa tubuhnya bereaksi aneh, tenggorokannnya terasa terbakar, kepalanya terasa sakit dan Chanyeol tak bisa menahannya.
ARRGGHH...
Chanyeol berteriak melampiaskan rasa sakitnya, suasana yang telah tenang kembali berubah panik, ketika Chanho dan Chanhee ingin mendekati Chanyeol, Yunhwa berteriak.
"JANGAN MENDEKATINYA!"
Semua memandang Yunhwa bingung, namun Yunhwa kembali melanjutkan ucapannya, "Jangan ada yang berani mendekatinya atau kalian semua akan terbunuh!"
Chanyeol semakin merasa tenggorokannya sakit, pandangan matanya menggelap, dia merasa sangat tersiksa.
"Sudah aku katakan kau tak boleh meminum darah itu, aku tahu kau pasti tanpa sengaja menelannya sedikit, mengapa kau melakukan itu Chanyeol?" ujar Yunhwa frustasi.
Chanyeol tersenyum tipis, di sela rasa sakitnya dia masih berusaha untuk menjawab pertanyaan Yunhwa, "Aku tak peduli apa yang terjadi padaku, aku hanya ingin menyelamatkan kekasihku." Ujarnya lemah.
"Dan aku berhasil, lihatlah tubuh Baekhyun mulai berubah tak pucat lagi." Lanjutnya lirih.
"Bodoh." Ujar Yunhwa lirih.
Tenggorokan Chanyeol terasa semakin sakit dan terbakar.
ARRGGGHHH...
Dia kembali berteriak, rasa sakit ini begitu menyiksa, Chanyeol memegang lehernya, tanpa sadar mencekiknya karena rasa sakit yang tak tertahan.
Sementara si mungil perlahan tapi pasti dia mendapatkan kesadarannya dan membuka matanya. Ketika membuka mata, Baekhyun sangat terkejut dengan keadaan Chanyeol, kemudian dia bersuara, "Yeolie, a-apa yang terjadi?"
Yunhwa yang melihat Baekhyun sadar segera berjalan mendekat ke arah si mungil, kemudian bersuara, "Baekki, kau harus memberikan darahmu pada Chanyeol!"
"Ta-tapi..."
"Jika kau tak memberikannya maka dia akan mati." Ujar Yunhwa frustasi.
"A-apa? Ma-mati?"
"Kau harus memberikannya Baekhyun, cepatlah!"
"Ta-tapi aku..."
"Dia akan mati dalam hitungan menit jika kau tak segera melakukannya Baek!" ujar Yunhwa frustasi.
"Ta-tapi bagaimana caranya?"
Belum sempat Yunhwa membalas ucapan Baekhyun, Chanyeol yang berdiri sedikit jauh dari tempat Baekhyun kembali berteriak, dia sedang sekarat dan hanya Baekhyun yang bisa menyelamatkannya.
Chanyeol tiba-tiba kehilangan kesadarannya, membuat Baekhyun segera berteriak memanggil namanya, si mungil berlari ke arah Chanyeol, mendekatinya.
Yunhwa juga berjalan mendekat kemudian dia bersuara, "Lakukanlah Baekki, buat goresan di lehermu untuk mengeluarkan darahnya lalu dekatkan lehermu pada mulut pangeran."
Baekhyun menuruti perkataan Yunhwa, dia menggores lehernya menggunakan kukunya kemudian mendekatkan lehernya pada mulut sang pangeran. Seketika Chanyeol membuka matanya, matanya merah menyala, tanpa sadar Chanyeol menarik si mungil sedikit kasar membuat si mungil tersentak.
Chanyeol yang di kuasai insting vampirenya langsung bangkit dan menggendong si mungil ala bridal kemudian mendudukan dirinya di Altar, mengendus leher si mungil kemudian menjilat darah yang keluar dari luka goresan yang Baekhyun buat di lehernya.
Semuanya tercengang melihat pemandangan di depan mereka, terlalu vulgar, terlebih Chanyeol merupakan calon Raja jadi mereka tak boleh melihat hal seperti ini, oleh sebab itu semuanya menolehkan pandangan mereka, tak berani menatap kedua insan yang tengah duduk di Altar tersebut, tak terkecuali Yunhwa, dia juga menyadari posisinya, terlebih dia mengetahui fakta bahwa keduanya merupakan reinkarnasi leluhur pertama pencipta kerajaan Alahontas.
Baekhyun merasakan geli karena Chanyeol menjilati lehernya, lebih tepatnya menjilati dan merasakan rasa manis dari darah milik si mungil yang keluar melalui luka goresan yang di buat.
"Ch-Chaniee..." lirih Baekhyun tak tahan dengan rangsangan yang Chanyeol berikan.
Namun Chanyeol tak peduli, saat ini dia merasa sangat haus dan menderita, darah campuran itu tak sengaja dia telan sedikit, Chanyeol saat ini tak sadar, dia hanya mencari dan ingin segera meminum darah yang menjadi candunya itu.
Taring Chanyeol keluar, kemudian dia menancapkan taringnya pada leher si mungil.
"Ahhh...Chanyeol pelan-pelan, sa-sakitthh." Ujar Baekhyun berusaha menahan rasa ngilu akibat tancapan taring sang pangeran.
Tanpa sadar Chanyeol memindahkan tangannya yang memegangi bahu si mungil ke arah punggung si mungil kemudian mengelusnya perlahan, seolah mengatakan bahwa semua baik-baik saja dan itu berhasil, Baekhyun menjadi nyaman dengan elusan itu dan melupakan rasa sakitnya.
Setelah merasa si mungil cukup tenang, Chanyeol memulai aksinya, dia meminum darah si mungil dengan rakus, dia sangat menyukainya, cukup lama Chanyeol meminum darah si mungil sampai dia puas dan menghentikan aksinya, Chanyeol kembali mendapatkan kesadarannya, dia terkejut melihat keadaan si mungil yang sedikit lemas dan luka gores di sertai luka bekas taring dengan sisa-sisa darah di leher si mungil dan lupa sisa-sisa darah itu juga ada di mulut sang pangeran.
Chanyeol seketika menyesal, dia pasti tanpa sadar telah dengan rakus meminum darah si mungil dan mungkin saja melukainya, dengan lirih dia berkata, "Ba-Baek ma-maafkan aku."
"Ja-jangan meminta maaf Chan." Ujar Baekhyun lemah.
"Apa yang terjadi sebenarnya!" ujar Chanyeol berteriak frustasi.
"Tenanglah pangeran, itu hal yang wajar, kau tak perlu menyesalinya, hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkanmu, kau tadi hampir mati, ckck...kalian berdua ini, mengapa selalu di hantui bayang kematian." Ujar Yunhwa sedikit frustasi.
"Apa maksudmu?" tanya Chanyeol tak mengerti.
"Kau tak tahu?" tanya Yunhwa sedikit kesal.
"Tidak." Jawab Chanyeol cepat.
Yunhwa menghela nafasnya frustasi kemudian bersuara, "Pantas saja kau bisa mengalami hal seperti ini." Ujarnya sembari mengusap wajahnya kasar.
"Seperti apa?"
"Kondisi dimana kau hampir mati, dan ini semua juga karena kenekatanmu." Ujar Yunhwa kesal.
"Siapa juga yang menyuruhmu menenggak darah itu! Kau tak sengaja menelannya sedikit kan?" lanjut wanita itu lagi dengan nada kesal.
"Umm, sepertinya begitu." Ucap Chanyeol tak yakin.
"Dasar! Kau dan kenekatanmu itu, benar-benar mirip dengan ayah dan ibumu." Ujar Yunhwa sarkastis.
Chanyeol hanya tersenyum canggung, Yunhwa yang melihatnya membuang nafas kesal kemudian dia berusaha mentralkan emosinya dan kembali bersuara, "Sudahlah, sekarang cepat urus putraku dan obati lukanya itu."
Chanyeol mengalihkan perhatiannya pada Baekhyun yang entah sejak kapan terbaring lemah di atas Altar, dia mendekati si mungil kemudian dia menjilat leher si mungil membersihkan sisa-sisa darah yang ada, dan ajaib luka gores dan luka bekas taring Chanyeol seketika menghilang.
Mata Yunhwa membulat sempurna, terlalu terkejut, begitu juga dengan semua vampire yang ada di sana terutama para tetua, dalam sejarah, baru kali ini mereka melihat fenomena penyembuhan total secara cepat seperti yang Chanyeol lakukan.
"Ka-kau barusan melakukan apa?" ucap Yunhwa terbata-bata karena terlalu terkejut.
Chanyeol mengernyit bingung kemudian dia bersuara, "Apa maksudmu?"
"Ka-kau mengobati lukanya?" tanya Yunhwa lagi tak percaya dengan apa yang dia lihat sebelumnya, dia memang tahu fakta bahwa Chanyeol adalah reinkarnasi dari pangeran Barat, leluhur mereka, pendiri Alahontas namun bahkan di kehidupan sebelumnya Chanyeol, ketika dia masih menjadi pangeran Barat dia tak bisa melakukan hal itu.
Chanyeol mendengus, sedikit kesal dengan pertanyaan Yunhwa, namun dia kembali menetralkan emosinya kemudian bersuara, "Tentu saja, bukankah tadi kau yang menyuruhku untuk mengobati luka putramu?"
Yunhwa terdiam, Chanyeol sepertinya tak tahu bahwa apa yang baru saja dilakukannya adalah hal yang luar biasa, akan sulit menjelaskannya pada pangeran satu ini, jadi wanita itu memilih mengakhiri percakapan rumit ini dan bersuara, "Kau benar." Ujarnya sembari terkekeh.
Chanyeol menangkap sesuatu yang salah dari ucapan Yunhwa kemudian bersuara, "Ada sesuatu yang ingin kau katakan bukan?" tanyanya langsung pada inti permasalahan.
Yunhwa menghentikan kekehannya kemudian terdiam.
"Katakan." Ujar Chanyeol lebih seperti perintah.
Yunhwa tersentak, entah mengapa dia merasa terintimidasi dengan hanya sepatah kata yang Chanyeol ucapkan, terlebih sadar atau tidak Chanyeol mengeluarkan aura baru yang tak biasa semacam aura kepemimpinan yang mutlak, apa mungkin ini karena dia telah meminum darah matenya? Entahlah Yunhwa tak tahu.
"Katakan." Kembali Chanyeol berucap.
Yunhwa menghembuskan nafasnya berat, entah mengapa dia tak bisa menolak perintah yang Chanyeol ucapkan.
"Dalam sejarah dunia vampire tak ada penyembuhan cepat dan mutlak seperti yang telah kau lakukan pangeran." Pada akhirnya Yunhwa menyerah dan mengatakan semuanya kepada Chanyeol.
"Benarkah?"
"Benar pangeran."
Chanyeol mengedarkan pandangan pada seluruh vampire di tempat itu, seolah bertanya pada mereka mengenai kebenaran perkataan Yunhwa, semuanya hanya menunduk dalam, kemudian matanya bertemu dengan mata milik ayahnya, Chanho mengangguk, lalu dia menatap ibu dan wanita itu mengangguk, beralih kepada Yunhoo dan Lily, keduanya juga mengangguk dan terakhir adalah Baek Gi, lelaki itu juga mengangguk.
Chanyeol menghela nafas, kemudian bersuara, "Hanya itu yang ingin kau katakan?"
Yunhwa mengangguk, kemudian bersuara, "Sebaiknya kita selesaikan dulu upacara ini." Ujarnya sembari melirik Baekhyun yang mulai mendapatkan kesadarannya membuat Chanyeol juga mengalihkan pandangannya pada si mungil.
Chanyeol hanya mengangguk dan Yunhwa berjalan mendekati Baekhyun kemudian bersuara, "Bagaimana perasaanmu nak? Apa kau bisa berdiri? Apa kau sanggup menyelesaikan upacara ini?" tanyanya lembut.
Baekhyun tersenyum lembut kemudian bersuara, "Aku baik-baik saja." Ucapnya sembari bangkit dari posisi tertidurnya untuk duduk kemudian berdiri.
"Aku akan menyelesaikan upacara ini." Lanjutnya lagi sembari tersenyum.
00000
000
0
Upacara telah selesai, semua vampire yang berada di tempat di langsungkannya upacara kedewasaan itu telah kembali ke tempatnya masing-masing, keluarga kerajaan, Baekhyun, Yunhwa serta yang lainnya saat ini tengah berada di aula tempat keluarga kerajaan berkumpul.
"Jadi, apa kau benar Byun Yunhwa?" tanya Chanho kepada Yunhwa, dia mengambil alih karena dia adalah raja negeri ini.
"Kau benar, aku Byun Yunhwa." Ujar Yunhwa mantap.
"Dimana kau selama ini? Dan siapa yang berada di dalam makammu?" Chanho kembali bertanya, sementara yang lain tak ada yang berani bersuara, terutama saat ini mereka berada di daerah kekuasaan sang raja, bahkan Chanhee, sang ratu sekalipun memilih diam dan menyimak pembicaraan dua vampire itu.
Yunhwa menarik nafas perlahan lalu menghembuskannya dengan sangat perlahan, kemudian dia bersuara, "Aku, tidak, maksudku kami berada di langit selama ini dan untuk masalah makamku itu aku tidak tahu."
"Kami?"
"Benar kami, aku, putraku dan Chan In."
Semua yang ada di ruangan itu terkejut namun tetap memilih diam menyimak pembicaraan itu.
"Apa yang kau bicarakan? Bukankah kau sendirian?"
"Tidak, aku datang bersama mereka."
Chanho memejamkan matanya, mulai bingung dan lelah dengan semua ini, satu persatu orang yang di kira telah tiada tiba-tiba muncul, belum lagi dengan berbagai kenyataan yang nyatanya simpang siur, tidak jelas sama sekali.
"Lalu..." Chanho menjeda ucapannya sebentar, kemudian melanjutkannya setelah menghembuskan nafasnya lelah, dia juga memijat pelipisnya yang terasa pusing, "Dimana mereka?"
Yunhwa tersenyum kemudian dia memanggil Baek Boom dan Chan In melalui telepatinya, sejak tadi kedua vampire itu memang tak berada di aula karena mereka tak di izinkan masuk oleh sang raja, karena Chanho tak tahu keberadaan mereka, mereka berdiri jauh dari kerumunan dan memutuskan tak ikut campur sampai Yunhwa memanggil mereka.
"Mereka sudah di depan pintu, mereka akan masuk jika anda mengizinkannya Yang Mulia." Ucap Yunhwa kemudian.
"Baiklah, masuklah." Ujar Chanho memerintah.
Pintu terbuka dan masuklah dua sosok vampire, vampire tampan dan gagah serta vampire mungil nan cantik.
"Hormat kami Yang Mulia." Ucap keduanya serempak sembari menundukan kepala dan menekuk sebelah kaki mereka memberi hormat pada sang raja.
"Baek Boom dan Chan In?"
"Benar Yang Mulia." Ucap kedua vampire itu kembali berbarengan, sangat serasi dan kompak.
Mata Baekhyun membulat sempurna, dia sedikit ragu, apakah salah satu dari vampire itu merupakan Baek Boom? Perubahan yang terjadi lumayan banyak, membuat Baekhyun ragu.
Suasana menjadi hening.
"Perkenalkan ini Baek Boom dan ini Chan In." Yunhwa angkat bicara memecah keheningan sembari menunjuk Baek Boom dan Chan In bergantian.
Suasana kembali hening.
Yunhwa menghela nafasnya berat, dia paham benar, tentu saja tidak akan ada yang percaya dengan ucapannya yang datang tiba-tiba seperti mayat hidup dan seorang pembohong, jadi dia memutuskan untuk memulai ceritanya demi meyakinkan semua vampire dalam ruangan itu.
"Aku tahu, aku sangat paham jika sulit bagi kalian untuk mempercayai perkataanku." Ucapnya memulai.
Semua vampire saling berpandangan, sedikit membenarkan perkataan Yunhwa, terutama Chanyeol yang sebenarnya masih belum mempercayai sepenuhnya ucapan Baek Gi apalagi Yunhwa yang datang setelah kakek leluhurnya itu.
"Aku Byun Yunhwa, kami bertiga selama ini berada di langit, tak sadarkan diri, baru-baru ini kesadaran kami kembali, selama beratus tahun kami tertidur di sana." Kembali Yunhwa berujar.
"Ini semua tak masuk akal, kalian di langit? Apa kalian sedang mencoba bercanda dengan seorang raja?" Chanyeol yang sejak tadi hanya diam, akhirnya tak tahan dan membuka suara, dia tak peduli meski semuanya di larang bicara kecuali yang di kehendaki sang raja untuk berbicara, sungguh dia tak peduli.
Sementara Chanho, selaku sang raja hanya diam saja, sudah terlampau sering Chanyeol mengabaikan aturan istana dan tak ada yang bisa menghentikannya termasuk Chanho sendiri, meskipun dia seorang raja.
Semua yang ada di aula itu juga hanya diam saja tak menampilkan raut wajah terkejut, mereka sudah terlampau hafal dengan tindakan sang pangeran yang suka berbuat sesukanya, bahkan jika Chanyeol mau dia bisa mengganti atau menghilangkan peraturan yang tidak dia sukai.
Semua vampire termasuk Chanho dan Chanhee merasa beruntung dengan sifat Chanyeol yang menyayangi keluarganya ataupun orang yang berharga dalam hidupnya termasuk para bawahan dan pengikut setianya, jadi Chanyeol tak akan berbuat lebih jauh, karena sesungguhnya jika dia sudah serius maka tak akan ada yang bisa menghentikannya, sang raja sekalipun.
Hampir semua tak terkejut, kecuali Baekhyun yang berdiri di samping Chanyeol, ke tiga vampire yang tiba-tiba datang, Yunhoo, Lily serta Baek Gi. Tentu saja mereka terkejut karena mereka semua adalah pendatang baru, bahkan Baek Gi sekalipun tak menyangka jika kuasa Chanyeol sangat besar dan mengerikan seperti ini.
Namun Yunhwa sang terpilih tentu saja tak gentar meski terselip sedikit rasa takut dalam hatinya tapi dia tetap memberanikan diri membuka suaranya, "Aku tak bercanda, mana berani."
Dia menghentikan ucapannya, menghela nafas lelah kemudian dia menunjukan sebuah buku bersampul coklat berlambangkan dua sayap putih yang saling bertindih membentuk tanda silang, di atas lampang sayap itu terdapat tulisan 'Memories'.
"Kalian pasti tahu ini." Ujarnya memulai.
Semua mata terkejut, mereka tahu betul itu apa, buku yang ada dalam legenda dan hanya tersimpan di langit, semua terkejut kecuali Baekhyun yang tak tahu apapun, pemuda itu mengernyitkan dahinya bingung, kemudian memberanikan diri untuk bersuara, dia tak tahu aturan kerajaan, jadi dia berfikir jika Chanyeol boleh berbicara maka dia juga di perbolehkan untuk bersuara.
Jika kalian lupa, Baekhyun selama ini hidup terisolasi dari dunia, tentu saja dia tak tahu dan tak memahami aturan ataupun legenda yang selalu rakyat negeri ini dengar.
"Memang itu buku apa?" tanya Baekhyun dengan nada lugu serta wajah polosnya.
Semua mata memandang Baekhyun dengan pandangan berbeda-beda, ada yang heran, takut, khawatir dan sebagainya, terutama mereka yang belum mengenal dan mengetahui kisah hidupnya, mereka terkejut karena Baekhyun berani berbicara.
Sementara Yunhoo hanya mengutuk dirinya dalam hati, dia harusnya memberitahu Baekhyun mengenai aturan istana serta legendanya, dia mengutuk dirinya karena terlalu fokus mengembangkan obat yang bisa menyembuhkan Baekhyun sehingga dia lupa untuk mengenalkan Baekhyun tentang dunia.
Sementara karena hukum dan peraturan raja itu mutlak, maka Baekhyun yang melanggar harus mendapat hukuman, meskipun Chanho enggan untuk melaksanakan itu, tapi istana tetap akan melakukannya, hukuman akan diberikan dengan ataupun tanpa persetujuan sang raja, hukum langit.
Tiba-tiba terdengar petir menyambar membuat semua yang berada di aula terkejut bukan main, terutama Baekhyun, dia benci petir, petir terus merambat dan masuk ke dalam aula, semua yang tahu arti dari fenomena itu bergidik ngeri dengan wajah pucat pasi, mereka kasihan pada si mungil, petir itu mengincar Baekhyun, itu hukum langit.
Baekhyun telah melanggar jadi dia harus di hukum, semua tak ada yang bisa lolos dari hukum itu bahkan raja sekalipun, hanya Chanyeol yang bisa terbebas dari hukum itu dan membuat langit takut, petir itu semakin dekat dan seketika Chanyeol mendekap tubuh si mungil yang terlalu takut dan terkejut untuk bereaksi.
Pangeran tampan itu membuat perisai yang menghalangi petir itu mengenai tubuh si mungil, kemudian dia menatap tajam ke arah langit, lalu dia bersuara, "Berani melukainya, aku pastikan tempat tinggal kalian hancur!" ancamnya pada penduduk langit.
Seketika petir itu menghilang, membuat semua vampire bergidik ngeri, sang pangeran benar-benar mengerikan, tanpa tindakan, hanya ancaman saja dapat membuat para penduduk langit menarik kembali petir kepatuhan itu untuk menjauh dan membiarkan si mungil terbebas dari hukumannya, mungkin langit harus menambah daftar vampire yang akan bebas dari hukuman mereka setelah ini.
Well, jika dikatakan tanpa tindakan, itu salah besar, Chanyeol telah mengubrak abrik langit ketika dia masih kecil, saat itu dia kehilangan teman bermainnya di hutan kesunyian, Chanyeol tak sengaja mendengar salah satu penduduk langit mengatakan bahwa Baekhyun di bawa ke langit karena telah memetik buah terlarang dan akan segera mendapatkan hukuman.
Chanyeol murka, dua penduduk langit yang sedang berbincang dan mengasihani nasib si mungil menjadi sasaran kemurkaannya, dia memaksa mereka membawanya ke langit, aura yang di keluarkan tak main-main hingga membuat dua penduduk langit itu ketakutan.
Chanyeol menyelamatkan Baekhyun dari hukuman dan membuat langit kacau, hal itu menjadi trauma bagi penduduk langit, dan terkenal sebagai 'Kutukan Chanyeol' karena mereka sangat sadar, kesalahan di masa lalu menjadi karma bagi mereka, memberi kutukan bagi pasangan itu meskipun mereka tak salah, hanya karena mereka merupakan pangeran masing-masing kerajaan yang saling berperang itu membuat mereka harus menanggung dosa peperangan abadi itu meski pada akhirnya mereka pula yang menghentikannya.
Pangeran Barat yang terlahir kembali sangatlah berbeda dengan pangeran Barat di masanya dulu, Pangeran Barat menjelma menjadi sosok yang mengerikan yang mampu membuat langit bertekuk lutut padanya, dia telah melewati berbagai rintangan dan menyimpan rasa sakit dan dendam yang dalam pada langit hingga dia terlahir sebagai titisan dewa dan reinkarnasi Pangeran Barat sekaligus, dialah puncak segala kehidupan, bahkan penduduk langit akan tunduk padanya.
Suasana mendadak hening, semua terkejut dan takut dengan apa yang baru saja Chanyeol lakukan. Sampai Yunhwa memutuskan untuk berdeham memecah keheningan yang mencekam ini. Detik selanjutnya wanita itu kembali bersuara, lebih tepatnya menjawab pertanyaan putra mungilnya, "Ini adalah buku legenda yang hanya ada di langit."
"Kau yakin? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya di langit." Ujar Chanyeol datar, semua vampire kembali terkejut dengan ucapan sang pangeran.
"K-kau pernah ke langit nak?" tanya Chanho terkejut.
Chanyeol hanya mengangguk, Chanho mengerti bahwa Chanyeol tak ingin pembicaraan itu berlanjut, jadi dia menghentikan pembicaraan itu meskipun rasa penasaran menghantuinya.
Yunhwa tersenyum, dia tahu bahwa Chanyeol sering berkunjung ke langit hanya untuk mengganggu penghuninya namun dia tak tahu kapan tepatnya Chanyeol bisa datang ke langit sesuka hatinya.
"Saya yakin pangeran." Ucap Yunhwa mantap.
Chanyeol menaikan sebelah alisnya menatap Yunhwa sedikit curiga, detik selanjutnya dia menjentikan jari tangannya lalu dari atas langit muncul pria berpakaian putih kemudian mendarat di hadapan Chanyeol membelakangi semua orang, sepertinya dia penduduk langit.
"Yaakk, sialan kau Chanyeol, tak bisakah kau memberi peringatan atau aba-aba terlebih dahulu untuk memanggilku? Ini menyebalkan, kau selalu memanggilku tiba-tiba." Gerutu pria itu pada sang pangeran.
Sementara Chanyeol hanya menatap sosok itu datar ketika yang lain di buat tercengang oleh keluhan sang pria, Chanyeol menjentikan jarinya lagi kemudian keluar sebuah kaus kaki di tangannya, dengan sigap dia memasukan kaus kaki itu kemulut si pria yang terbuka lebar karena sibuk menggerutu.
"Kau itu se-" ucapan pria itu terpotong kala kaus kaki busuk memasuki mulutnya, dia terbatuk dan segera mengeluarkan benda menjijikan itu dari mulutnya lalu menatap Chanyeol tajam, dia murka, benar-benar murka, merasa terhina, dia ini penduduk langit tapi Chanyeol selalu bersikap tak sopan padanya.
Tatapan matanya yang mengerikan dan aura yang menyeramkan membuat seisi aula ketakutan kecuali Chanyeol. Pangeran tampan itu sama sekali tak terpengaruh.
Pria itu menarik nafas dalam berusaha mengumpulkan tenaga untuk mengeluarkan unek-unek dalam benaknya, kemudian dia bersuara, "Yakk Park Chanyeol!" teriaknya lantang.
"Apa-apaan itu? Itu menjijikan! Kali ini kaus kaki siapa yang kau gunakan?! Baunya sungguh." Ujar lelaki itu sembari meminum air yang entah dari mana dan membuang air itu, lebih tepatnya dia menggunakan air itu untuk berkumur, membersihkan sisa benda menjijikan itu dari mulutnya.
"Suho." Jawab Chanyeol singkat, padat dan jelas dengan wajah menyebalkannya yang membuat sang pria ingin menghajarnya saat itu juga.
"Akan aku hajar pria itu nanti." Ujar pria itu mengeram kesal, kalau saja Suho rajin mencuci kaus kakinya maka Chanyeol tak akan bisa menggunakan benda itu, awas saja vampire sialan itu.
Chanyeol menatap pria itu malas, kemudian dia bersuara, "Kau berisik."
Pria itu menatap Chanyeol tak percaya, kemudian dia berdeham setelah melihat tatapan mata sang pangeran yang dingin, dia tahu dia tak boleh lagi bermain-main, sudah waktunya serius, jadi pada akhirnya dia bersuara menanyakan inti permasalahan langsung, "Jadi, untuk apa kau memanggilku ke sini?"
"Pastikan sesuatu untukku." Ujar Chanyeol langsung.
"Apa itu?"
"Buku itu." Ujar Chanyeol sembari menunjuk ke arah buku yang di pegang Yunhwa.
Pria itu melihat buku yang Yunhwa pegang kemudian matanya membulat.
"Apa buku itu berasal dari langit?" lanjut Chanyeol kembali.
"Kau benar, itu buku yang berasal dari langit. Mengapa dia bisa memilikinya? Buku itu bukan buku sembarangan, hanya para tetualah yang tahu dimana buku itu di simpan."
"Aku mendapatkannya dari Zi Huan." Ujar Yunhwa tersenyum.
"Huang Zi Huan?" tanya pria itu tak percaya.
"Kau mengenalnya?"
"Tentu saja, dia kakekku."
Yunhwa terkejut kemudian suasana kembali menjadi hening, "Jadi Tao, wanita ini bicara yang sebenarnya?" ujar Chanyeol memecah keheningan.
"Kemungkinan begitu." Ujar Tao cepat.
"Baiklah, kau boleh pergi." Ujar Chanyeol sembari mengibas-ngibaskan tangannya sebagai isyarat untuk Tao pergi.
Tao mendengus kesal, dia merasa di perlakukan seperti panda liar yang di usir. Kemudian dia bersuara, "Baiklah, baiklah Chanyeol yang terhormat, aku akan pergi." Ujarnya kesal.
"Langsung pulang, nanti kakekmu mencarimu." Ujar Chanyeol datar.
Tao mengernyit bingung, kemudian dia menjawab, "Memangnya aku mau kemana lagi kalau bukan pulang?" tanyanya bingung.
"Kukira kau akan menemui Suho?" tanya Chanyeol lagi.
"Ahh! Kau benar, aku harus membuat perhitungan pada pria itu." Ujar Tao setelah mengingat tujuan awalnya.
"Pulanglah, Suho tidak tahu kalau aku menggunakan salah satu kaus kaki koleksinya." Ujar Chanyeol datar.
Sementara Tao menampilkan wajah yang murka dan sedikit ngeri, lalu dia berteriak, "Apa?! Jadi dia memang sengaja mengoleksi benda terkutuk itu?! Aku harus buat perhitungan dengannya!" ujar Tao murka.
Sebelum Chanyeol kembali bersuara, pria bermata panda itu sudah menghilang dari aula itu, sudah dapat di pastikan dia menuju tempat Suho, Poor Suho, kkkk. Sementara Chanyeol hanya mengedikan kedua bahunya membiarkan kepergian makhluk bermata panda tersebut.
Perhatian Chanyeol kembali teralih pada Yunhwa, kemudian dia bersuara, "Baiklah, kau memang berkata yang sebenarnya, jadi ceritakanlah apa yang sebenarnya terjadi."
Yunhwa mengangguk kemudian memulai ceritanya.
"Aku tak tahu darimana kalian mendengar mengenai Baekhyun dan Chanyeol yang merupakan mate, tapi itu benar adanya." Ujarnya memulai.
"Satu hal yang salah di sini adalah, kalian yang menyangka mereka adalah saudara kembar, itu sama sekali tidak benar." Lanjutnya lagi.
"Apa maksudmu? Itu tak masuk akal, mereka mate tapi bukan saudara?" kali ini Chanho kembali mengambil alih.
"Seperti yang sudah ku bilang, kalian pasti pernah mendengar ramalan mengenai pasangan silang, mereka adalah pasangan silang, Chanyeol adalah pasangan Baekhyun sementara Baek Boom adalah pasangan Chan In."
"Bagaimana kau menjelaskan mengenai malam dimana Chan In di culik? Kami jelas-jelas melihatnya bahwa sebelum Chan In di culik, bayi itu terlebih dahulu di tukar." Ujar Chanho masih belum percaya.
"Ahh...dimana kalian melihatnya?" tanya Yunhwa mulai mengerti.
"Cermin masa lalu." Kali ini Baek Gi angkat bicara setelah sang raja mempersilahkannya bicara tentu saja.
"Dan kalau boleh tahu anda siapa?" tanya Yunhwa karena tak mengenali sosok yang menjawab pertanyaan yang dia lontarkan itu.
"Aku Park Baek Gi." Jawabnya singkat.
"Kau tak terlihat kaget sama sekali." Lanjutnya lagi setelah melihat respon Yunhwa.
Yunhwa tersenyum kemudian kembali bersuara, "Sebelum Zi Huan mengirim kami kembali dia menjelaskan semuanya, termasuk siapa diri anda tapi dia tak menyebutkan mengenai hal ini sama sekali."
Suasana kembali hening. Kemudian Chanho kembali bersuara, "Lanjutkan." Perintahnya.
"Sebelum malam aku menghilang, aku memang melihat seseorang mendekati bayiku, aku mengendap-mengendap agar dia tak menyadari keberadaanku, Baekhyunku itu kuat dia melindungi kakaknya Baek Boom sementara Chanyeol melindungi adiknya Chan In, sehingga pria itu malah terpental karena cahaya biru yang Baekhyun dan Chanyeol keluarkan." Ucapnya melanjutkan.
"Aku bernafas lega, memilih diam di sudut ruangan dan setelah itu pria itu pergi, lebih tepatnya menghilang, malam kedua pria itu kembali datang, auranya tidak lagi seperti malam sebelumnya yang mengeluarkan aura membunuh, sehingga Baekhyun dan Chanyeol merasa dia bukan orang yang berbahaya, dia berhasil menggendong putraku, ketika aku ingin mencegahnya seseorang datang menghentikan pria itu dan terjadilah pertarungan."
"Pria itu melarikan diri, sementara pria yang mencegahnya membawa Baekhyun kembali tanpa menyadari kehadiranku, lalu dia pergi, Baekhyun selamat."
"Malam selanjutnya, seorang pria kembali datang, kali ini dia menargetkan Chanyeol, dia hampir berhasil jika usahanya tak kembali di gagalkan seperti malam sebelumnya, dan Chanyeol selamat."
"Seolah belum jera, pria itu kembali datang, namun kali ini dia membawa pasukan yang lebih banyak membuat para penyelamat Baekhyun dan Chanyeol kewalahan di halaman rumah sakit, aku bisa melihat seringai mengerikannya, seolah dia merencanakan sesuatu yang buruk dan aku merasakan 'Dark Blood' dari tubuhnya."
"Pria ini berbeda, dia berbeda dari pria-pria yang datang sebelumnya, kemungkinan besar dia adalah petinggi di 'Dark Blood'." Ucap Yunhwa lagi.
"Pria itu menukar putraku dan Chan In, seketika aku tahu apa yang dia rencanakan, dia merencanakan bencana, jika itu terjadi maka sistem pasangan silang tak akan berjalan, takdir pasangan silang itu adalah bertemu ketika takdir mempertemukan bukan di paksa seperti itu." Ujar Yunhwa menjelaskan.
"Setelah itu pria itu berjalan pergi, dia tak menyadari keberadaanku, kalian tahu, aku juga memiliki 'Dark Blood' dalam tubuhku, menyembunyikan keberadaan bukanlah hal yang sulit." Ujarnya setelah melihat kebingungan di mata para vampire di aula.
Semua tersentak tapi memilih diam.
Detik selanjutnya Yunhwa kembali melanjutkan ceritanya.
"Aku berjalan mendekati bayiku yang di tukar dengan Chan In, aku kembali menukar mereka setelah itu aku berniat untuk keluar, ketika mencapai pintu aku merasakan hawa keberadaan pria itu lagi, kali ini lebih mengerikan, seolah dia marah padaku karena telah menggagalkan rencananya, jadi dia berniat mengambil Baekhyun namun aku menghalanginya dengan kekuatanku."
"Setelah itu dia beralih mengambil Chan In di saat aku lengah, aku tak bisa membiarkan itu terjadi, lalu aku berlari mengejarnya, kemudian kami bertempur hebat, baik dia maupun aku sama-sama terluka, aku mengerahkan kemampuan terbaikku, memaksakan diriku lalu berlari dengan cepat merebut Chan In dari tangannya."
"Dia tak menyerah, dia kembali berusaha merebut Chan In dari pelukanku, dia menyangka Chan In adalah Baekhyun karena melihat aku yang mempertaruhkan nyawaku demi melindunginya, aku berlari sejauh yang aku bisa, kemudian cahaya yang sangat menyilaukan mata seolah menelanku."
"Ketika aku terbangun aku sudah berada di langit." Ujar Yunhwa menyelesaikan ceritanya.
"Lalu bagaimana dengan Baek Boom? Bukankah dia tak ikut bersamamu?" Chanho kembali bertanya, dia ingin semuanya menjadi jelas.
"Hari dimana aku sadar dari tidur panjangku adalah hari dimana tragedi Alfeist terjadi, Dark Blood mengincar Baek Boom dan Baekhyun yang kebetulan sedang ada di hutan kesunyian, aku berusaha menyelamatkan kedua putraku, namun mereka berhasil membawa Baekhyunku pergi, aku tak tahu bagaimana Baekhyun bisa selamat dari tragedi itu." Ujarnya menahan tangis.
"Maafkan ibu Baekki." Lirihnya.
Sementara Baekhyun yang mendengarkannya terkejut dan tak tahu harus berkata apa, dia bahkan tak ingat apapun mengenai kejadian itu.
"Baek Boom terluka sangat parah, aku membawanya ke langit, dia harus mengalami pemulihan selama bertahun-tahun, awalnya aku ingin kembali namun karena kondisi yang tak memungkinkan membuatku urung melakukannya, aku pikir aku telah kehilangan Baekhyunku, jadi aku fokus merawat Baek Boomku."
"Kondisi Baek Boom hampir pulih, saat aku menemukan sebuah buku bertulis memories di perpustakaan, aku membacanya, mengenai kisah cinta Alahontas dan tragedinya, meminta penjelasan pada pihak langit dan mereka memberitahu bahwa Baekhyun sedang dalam bahaya karena dia akan meminum darah yang bukan merupakan darah orang tuanya ketika upacara kedewasaan."
"Saat mereka memberitahuku, kami sedang berada di langit kabut, tempatnya sangat jauh dan butuh waktu dua minggu untuk kembali ke Alahontas, secepat mungkin kami bergegas ke Alahontas untuk mencegah Baekhyun meminum darah itu, namun kami terlambat dan sisanya seperti yang kalian lihat." Ujar Yunhwa benar-benar menyelesaikan ceritanya.
Baek Gi jatuh dengan lutut bersimpuh, dia hampir saja mencelakai Baekhyun karena kesalahan yang dia buat, kemungkinan karena campur tangan Dark Blood sehingga cermin masa lalu menampilkan kejadian yang tak lengkap, Baek Gi merasa bodoh sekarang, dia seharusnya tak perlu terlihat tahu segalanya di saat dia hanya bisa melihat lewat cermin bodohnya bukan mengalaminya sendiri.
Dia sudah salah mengambil keputusan dan Baekhyun hampir celaka.
"Aku rasa semua sudah jelas." Ujar Chanho pada akhirnya.
00000
000
0
Saat ini Baekyun, ayahnya dan neneknya tengah bersama Yunhwa dan Baek Boom di istana yang Yunhoo tempati.
"Apa ini benar kau nak?" tanya Lily tak percaya, dia menatap sendu putrinya itu sembari mengelus pipinya yang di banjiri air mata lembut.
"Benar ibu." Ujarnya lalu memeluk sang ibu.
Cukup lama dia memeluk sang ibu hingga akhirnya pelukan itu terlepas, kemudian Yunhwa mengalihkan perhatiannya pada Yunhoo yang melihatnya dengan tatapan rindu dan tak percaya.
"Sebuah pelukan?" ujarnya sedikit kaku sembari merentangankan kedua tangannya bersiap menerima pelukan.
Sementara Baekhyun tengah berbicara dengan kakak kembarannya yang telah lama hilang.
"Euum..Hai." ujar Baekhyun kaku. Dia tak pernah dekat dengan kakaknya meski mereka tumbuh bersama, dia selalu melihat punggung Baek Boom, seingatnya Baek Boom membencinya.
"Hai juga, sudah lama tidak bertemu." Ujar Baek Boom tak kalah kaku.
"Haha...kau benar, lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, kudengar kau kehilangan ingatanmu setelah tragedi Alfeist terjadi."
Baekhyun mengangguk, dia memang masih belum mampu mengingatnya meski nyatanya pernah membuka kontak pandora berbahaya itu.
"Maafkan aku." Ujar Baek Boom lagi.
"Untuk?" tanya Baekhyun tak mengerti.
"Untuk semuanya." Ujarnya menunduk, kembali mengingat segala perlakuan angkuhnya selama mereka bersama dulu.
Baekhyun terdiam, dia tak mengerti, jadi dia menarik kesimpulan bahwa itu karena kakaknya membencinya dulu, tanpa tahu perlakuan mengerikan yang dia terima.
"Aku tak tahu apa salahmu, tapi aku memaafkanmu." Ujarnya tulus dengan senyuman manisnya dan mata yang melengkung membentuk bulan sabitnya.
Baek Boom termenung, menunduk dalam, betapa lugu dan polosnya Baekhyun sementara kesalahan yang dia lakukan bukanlah kesalahan ringan, dia bahkan tak bisa memaafkan dirinya sendiri selama ini terus di hantui persaan bersalah pada si mungil.
"Terima kasih." Ujarnya kembali dengan pelan, namun Baekhyun masih bisa mendengarnya kemudian dia bersuara, "Sama-sama."
Si mungil kembali tersenyum, sementara Baek Boom menunduk dalam, dirinya membatin, berterima kasih pada si mungil karena dialah alasan Baek Boom masih bisa berdiri di sini saat ini, meski si mungil tak mengingatnya, dia bertekad jika ada kejadian buruk ke depannya, dia yang akan menjadi perisai si mungil dan bersedia mengorbankan nyawanya kali ini.
"Sebuah pelukan?" ujar Baekhyun kaku, memecah keheningan.
Baek Boom mengangguk kemudian mereka berpelukan, sedikit kaku namun Baekhyun merasa nyaman dan Baek Boom sangat merasa senang sekaligus sedih di saat bersamaan.
Yunhwa yang melihatnya tersenyum, kemudian berjalan mendekat setelah pelukan itu terlepas. Baekhyun melihat Yunhwa mendekat, kemudian bersuara, "Apa kau benar ibuku?"
"Benar sayang, ini ibu, kemarilah."
Yunhwa merentangkan tangannya memberi isyarat agar si mungil berjalan ke arahnya dan memeluknya, Baekhyun mendekat dan memeluk ibunya erat, dia merasa nyaman dan aman, ibunya, wanita yang melahirkannya, alasan dia bisa ada di dunia ini, pelukan yang dia rindukan, kasih sayang yang dia impikan, akhirnya dia bisa merasakannya.
Pertemuan anggota keluarga yang telah lama berpisah itu penuh dengan suasana haru dan bahagia.
00000
000
0
Sementara di istana lain, suasana haru juga menyelimuti.
Chan In terlihat bingung, namun dia mengerti bahwa mereka semua adalah keluarganya, hanya saja dia merasa asing dan dia sudah menganggap Yunhwa sebagai ibunya,wanita itu yang membesarkannya, tapi wanita yang berdiri di hadapannya ini adalah wanita yang melahirkannya, ibu kandungnya.
Dia tahu rasanya, karena sebentar lagi dia juga akan menjalani hal yang sama.
Mereka berpelukan, saling melepas rindu. Kemudian Chan in menyampaikan kabar bahagia itu pada mereka dan sang raja maupun ratu terlihat sangat bahagia. Chanyeol juga merasa sedikit asing namun saat mendengar kabar itu, rasa itu menguap entah kemana.
Dia tahu pasti bahwa Baekhyun bukan kembarannya, tapi fakta bahwa bayi dalam lukisan itu adalah Baekhyun tak berubah dan cinta pertamanya yang dia kira kembarannya ternyata bukanlah kembarannya, dia adalah Baekhyun. Entah bagaimana malah Baekhyunlah yang terlukis di sana bukannya Chan In, itu masih menjadi misteri.
00000
000
0
Sementara di tempat lain, terlihat lagi kedua ketua sedang berdebat, ah lebih tepatnya bertengkar.
"Kau tak mengatakan yang sebenarnya pada Chanyeol waktu itu!" ujar Jongdae memulai pembicaraan.
Sementara Minseok mengorek telinganya yang tak gatal, seolah-olah menjadi gatal karena mendengar teriakan si pengganggu Jongdae, musuh bebuyutannya. Dia meniup ujung jarinya ke muka Jongdae seolah ada sesuatu yang dia dapat hasil mengorek tadi.
Jongdae menatap tajam Minseok, omega sialan di depannya ini selalu bertingkah kurang ajar, padahal dia matenya, Alphanya.
"Yakk! Kim Minseok!" ujarnya geram.
"Apa?" jawab Minseok malas.
"Aku salah apa pada langit? Mengapa aku terkena kutukan bisa menjadi matemu sih?!" protes Jongdae, dia mendengus kesal.
"Yaakk! Kau pikir aku juga mau menjadi matemu?!" balas Minseok tak kalah sebal.
"Ini kutukan, sudah pasti kutukan." Ujar Jongdae mendramatisir.
"Yaakk! Kim Jongdae!" teriak omega itu lantang.
"Apa?" balas Jongdae malas.
Minseok mendengus sebal, sementara Jongdae menatapnya datar, meskipun mereka adalah mate, tapi hubungan mereka sangat buruk, mereka tinggal bersama karena keterpaksaan, setiap hari kerjanya hanya bertengkar.
"Mengapa kau tak memberitahunya?" ujar Jongdae mengeram menahan amarah.
"Mengapa aku harus?" balas Minseok tak peduli.
"Tak bisakah kau juga melindungi tuanku? Demi tuhan, kau itu mateku, istriku!" ujar Jongdae frustasi.
"Itu juga berlaku untukmu." Ujar Minseok mendengus tak suka.
Jongdae terdiam. Suasana menjadi hening untuk beberapa saat, keduanya berperang dengan pemikiran masing-masing, kekeraskepalaan menguasai keduanya, mereka adalah Guardian, pasukan pelindung, juga yang melihat tumbuh kembang pangeran Timur dan Barat, bahkan mereka merawatnya di saat raja dan ratu kedua kerajaan sibuk berperang.
Mereka sudah menyayangi masing-masing pangeran yang mereka rawat seperti anak sendiri, mereka sudah menyayangi mereka sampai mendarah daging, tentu saja, Jongdae sangat membenci pangeran Barat dan Minseok membenci pangeran Timur.
Alasannya? Simpel saja, karena pangeran mereka terluka. Setelah peperangan yang terjadi, masing-masing Guardian dari kerajaan Barat dan Timur bersatu dan memiliki misi melindungi raja dan ratu mereka, di kerajaan baru, Alahontas.
Semua berjalan lancar, sampai tragedi itu terjadi, baik Jongdae dan Minseok sama-sama menyaksikan penderitaan dari pangeran mereka dan bertekad melindungi keduanya dari takdir yang kejam di kehidupan kedua pangeran itu ketika mereka terlahir kembali.
Tapi yang mereka tak sadari adalah, takdir tetap berjalan meski mereka telah mencoba menghalangi, sekali di takdirkan bersama maka mereka akan tetap berakhir bersama apapun yang terjadi, seberat apa rintangannya, takdir mereka adalah untuk bersama, tak ada yang bisa menghentikan bahkan diri mereka sendiri.
Jongdae menghela nafas berat, dia mendesah lemah kemudian bersuara, "Akan ku pikirkan."
Setelah itu dia pergi meninggalkan Minseok yang tampak mematung, tak percaya dengan jawaban yang Jongdae, suaminya ucapkan.
00000
000
0
6 bulan kemudian...
Setelah semua kebenaran terungkap, maka langkah selanjutnya adalah pernikahan.
Benar sekali, hari ini adalah hari dimana Baekhyun akan menikah dengan Chanyeol, keduanya semakin dekat selama 6 bulan ini, sementara Baek Boom dan Chan In telah memiliki seorang putra, berstatus Alpha, gagah seperti ayahnya.
Yunhwa dan Yunhoo kembali mesra, Chanho dan Chanhee juga tak kalah mesra, sementara Sehun dan Luhan makin lengket dan Kyungsoo dan Kai sudah memiliki kemajuan meski memang mereka adalah pasangan yang berjalan lambat dan kaku.
Sementara ke tiga pengganggu itu menjadi bertobat dan ajaib mereka menemukan mate mereka masing-masing, lebih tepatnya dua diantara mereka, entah bagaimana ceritanya, Irene malah berakhir bersama Suho dan Eunhee berakhir bersama Tao, jatuh cinta pada pandangan pertama katanya.
Lalu Kristal, entahlah gadis satu itu masih belum jelas siapa matenya, dia selalu merahasiakannya. Alasannya? Takut di rebut darinya katanya, kekanakan sekali ckck.
Pernikahan harus segera di lakukan, Baekhyun adalah mate Chanyeol, hanya dia yang bisa memberikan Chanyeol keturunan, mengingat hanya dialah yang bisa selamat dari benih mematikan sang pangeran, sebenarnya sudah sejak lama pernikahan mereka ingin di langsungkan, namun mereka menunggu kelahiran dari Lucas, keponakan mereka.
Pernikahan berlangsung meriah, Baekhyun sangat cantik dengan balutan jas putihnya sementara Chanyeol sangat tampan dengan balutan jas hitamnya.
00000
000
0
Pesta berlangsung sampai tengah malam dan saat ini semua telah kembali ke kediaman masing-masing, begitu pula dengan Chanyeol dan Baekhyun yang telah sah menjadi pasangan.
Baekhyun duduk di pinggir ranjang dengan gugup, dia saat ini berada di ruangan Chanyeol, tak lagi berada di ruangan bawah tempatnya pernah tidur selama 6 bulan ini, tempatnya dimana? Tentu saja Istana Phoenix, dia tak menyangka bahwa pintu yang selalu membuat penasaran itu akhirnya bisa dia masuki.
Baekhyun sangat terkejut dengan apa yang tersimpan di dalamnya, interior yang indah dengan ukiran burung Phoenix, di dominasi warna gelap, beberapa bagian terbuat dari emas, seperti tiang-tiang penyangga atap tempat tidur, lantainya berbeda dengan yang berada di luar, lantai kayu yang hangat dengan karpet putih lembut, jendela-jendela besar di salah satu dinding yang saat ini tirainya terbuka.
Cahaya rembulan masuk ke dalam kamar melalui jendela itu, sangat indah, kamar itu sangat terang tanpa perlu pencahayaan lampu, Baekhyun semakin gugup.
Ruangan ini begitu luas, sementara Chanyeol sedang mandi di kamar mandi, Baekhyun memilih untuk mandi belakangan dan menyuruh pangeran tampan itu untuk membersihkan dirinya lebih dulu.
Ini memang bukan pertama kali mereka melakukannya, namun ini pertama kali mereka melakukannya dalam keadaan sadar, status yang sudah sah dan niat yang berbeda, benar sekali, niat untuk menyalurkan cinta, karena Baekhyun tidak berada dalam heatnya jadi mustahil untuk membuat anak sekarang.
Satu hal yang Baekhyun dan Chanyeol tak tahu, para tetua itu telah merencanakan sesuatu, terutama saat Chanyeol berkata mereka tak akan melakukannya, Baekhyun sudah lelah karena pesta hari ini jadi pangeran tampan itu hanya berencana untuk bermanja-manja dengan sang istri, berbagi kasih sayang, kecupan manis dan pelukan sayang lalu tertidur dengan senyum bahagia.
Baekhyun tak tahu mengapa dia gugup, padahal mereka tak akan melakukannya malam ini.
Chanyeol keluar dari kamar mandi dengan bathrobe putihnya, dia menyuruh si mungil untuk membersihkan diri, si mungil menurutinya dan membersihkan diri di kamar mandi tempat sang pangeran membersihkan dirinya tadi.
00000
000
0
Sementara di tempat lain, para tetuah sedang berdiskusi.
"Menurut kalian rencana kita akan berhasil?" tanya Chanhee cemas.
Ke lima vampire tetuah kerajaan itu telah menyusun rencana agar Chanyeol dan Baekhyun bisa segera melakukannya, Yunhoo bahkan bersusah payah membuat obat perangsang heat yang paling ampuh, jadi meski bukan waktunya Baekhyun dan Chanyeol mengalami heat mereka tetap bisa memiliki anak.
Mereka terkejut ketika Chanyeol berkata bahwa dia tak akan melakukannya dan hanya berniat bermesraan saja dengan Baekhyun lalu setelah itu tertidur. Mereka tak akan membiarkannya, mereka benar-benar ingin memiliki cucu pewaris, Lucas bukanlah pewaris kerajaan, jadi tentunya mereka sangat mengharapkan bahwa Chanyeol dan Baekhyun bersedia bekerja keras untuk membuat cucu pewaris untuk kerajaan.
Jadi tanpa pikir panjang mereka menambahkan dosis obat itu dua kali lipat dari rencana awal, mereka tak peduli lagi jika Chanyeol marah, pasangan pengantin itu harus melakukannya, Hell...ini malam pengantin mereka, malam pertama mereka setelah sah menjadi pasangan sehidup semati dan mereka hanya ingin bermesraan? BIG NO!
Apa lagi yang di perlukan? Mereka telah saling cinta dan saling menerima, mereka bukanlah orang asing seperti saat mereka di jebak dan melakukan hal itu secara tak sadar, beruntunglah karena tak ada cinta di antara keduanya dulu sehingga Baekhyun tak hamil meski keduanya sama-sama sedang heat saat itu.
Sekarang semua syarat sudah lengkap, mereka saling cinta, salah satu faktor paling penting dalam pembuatan anak di dunia vampire, mereka sudah sah, hanya tinggal merangsang heat mereka dan semua masalah beres, tapi Chanyeol malah mengatakan hal konyol itu, jadi mereka tak punya pilihan selain menambah dosisnya agar Chanyeol tak bisa menahan hasratnya.
Mereka memilih menaruh di makanan keduanya karena mereka tahu bahwa mereka tak akan bisa memasuki istana Phoenix tanpa seizin Chanyeol, dan beruntungnya baik Chanyeol maupun Baekhyun sama sekali tak curiga dengan hal itu, kkkk~.
"Mungkin." Jawab Chanho tak yakin.
"Mengapa kalian pesimis begitu?" kali ini Baek Gi ikut berbicara.
"Benar, jangan pesimis, rencana kita pasti berhasil." Ujar Yunhwa bersemangat.
"Tapi Hwa, kau dengar sendiri kan tadi? Chanyeol tak ingin melakukannya, dia hanya ingin bermesraan dengan Baekhyun, tidak lebih." Ujar Chanhee cemas.
"Tapi, mereka memakannya kan? Rencana kita sudah sempurna, kita pasti berhasil." Jawab Yunhwa antusias.
Chanhee dan Chanho menampakkan raut wajah ragu.
"Jangan ragu, kalian ingin segera memiliki cucu pewaris kan?" tanya Baek Gi lagi.
Keduanya mengangguk.
Lily tersenyum kemudian bersuara, "Maka yakinlah rencana ini akan berhasil."
"Tapi, bagaimana jika Chanyeol marah?" tanya Chanhee ragu.
"Itu urusan nanti." Ujar Baek Gi lagi.
Chanhee menghela nafas, kemudian akhirnya bersuara, "Aku harap rencana kita berhasil."
"Tentu saja." Jawab Yunhwa semangat.
"Berapa lama lagi efeknya akan terlihat?" tanya Baek Gi pada Yunhoo.
"Mereka telah kembali ke kamar pengantin mereka satu jam setelah meminum obat itu, mungkin efeknya akan muncul satu jam lagi." Jawab Yunhoo menerka-nerka.
"Ciihh, mengapa begitu lama?" tanya Baek Gi sebal, dia berharap efeknya akan lebih cepat dari pada yang Yunhoo katakan.
"Heii, aku susah payah mencari obat ini, ini yang paling ampuh dan juga memiliki efek yang cukup lama, jadi Chanyeol tak akan curiga pada kita." Ujar Yunhoo menyuarakan protesnya membela diri.
Baek Gi memutar bola matanya malas, kemudian bersuara, "Yaahh, kita lihat saja hasilnya besok." Ujarnya terkekeh.
Semuanya mengangguk lalu tersenyum penuh arti.
"Baiklah, waktunya istirahat." Ujar Lily mengakhiri pembicaraan penuh muslihat itu.
Detik selanjutnya pertemuan itu berakhir dan mereka bubar untuk istirahat di ruangan masing-masing.
00000
000
0
Kembali lagi ke istana Phoenix.
Baekhyun telah selesai membersihkan diri, dia juga memakai bathrobe putih dan keluar dari kamar mandi itu, terlihat Chanyeol telah memakai baju santainya berwarna putih dengan celana berwarna ungu, pria itu terlihat sangat tampan di terpa sinar rembulan yang masuk melewari kaca-kaca jendela di ruangan itu.
Chanyeol berdiri menatap langit malam dan sang rembulan yang bersinar terang, kebetulan yang menakjubkan, malam pengantin mereka yang sesungguhnya bertepatan dengan malam bulan purna. Chanyeol menyadari Baekhyun yang berjalan keluar dari kamar mandi kemudianberbalik dan tersenyum.
"Pakailah baju yang menurutmu nyaman sayang, kau bisa pilih di lemari di sebelah kirimu." Ujarnya lembut.
Baekhyun mengangguk kemudian masuk ke dalam lemari yang Chanyeol maksud, dari pada di sebut lemari itu lebih seperti ruangan dengan berbagai macam pakaian lengkap, Baekhyun sedikit terkejut, sehebat itukah Chanyeol sampai dia bisa menciptakan semua ini? Bahkan dengan kekuatan ayahnya dan dirinya saja mereka tak mampu menciptakan yang lebih dari sekedar lemari mewah biasa.
Satu hal yang di tahu pasti kini, Chanyeol memiliki bakat, vampire sempurna dan luar biasa dan beruntungnya merupakan suaminya, bukan hanya status pangerannya saja, Chanyeol membuktikan bahwa dia memanglah yang terpilih sebagai penerus tahta kerajaan ini.
Pilihan Baekhyun jatuh pada baju santai katun yang berwarna putih yang besar dan panjang, dia malas menggunakan celana jadi dia memilih baju itu, dan sesuai dengan perkiraannya baju itu menutupi pahanya hingga hampir ke lutut, Baekhyun sangat seksi dengan baju pilihannya itu.
Pria mungil itu keluar dari dalam lemari itu menuju ke ruangan semula, dia sangat terkejut, matanya mengerjap lucu kemudian tangannya bergerak mengucek kedua matanya bergantian, takut salah melihat, setelah di rasa apa yang dia lihat memang nyata Baekhyun malah celingak celinguk seperti orang bodoh, dia ragu bahwa ruangan ini adalah ruangan yang benar.
Baekhyun rasa dia telah salah ruangan, jadi dia memutuskan untuk kembali ke dalam lemari namun tindakannya di hentikan oleh Chanyeol, "Kau tidak salah ruangan Bee, kemarilah." Ujarnya terkekeh.
Entah dari mana Chanyeol muncul dia tak tahu, setahunya tadi ruangan ini kosong.
"Kau dari mana?" tanya si mungil bingung.
"Mengurus sesuatu." Ujar Chanyeol menjawab.
"Apa yang terjadi dengan ruangan ini?" tanya si mungil lagi.
"Aku mengubahnya." Jawab Chanyeol santai.
Baekhyun terkejut, sangat terkejut, mengubah ruangan ini dalam sekejab? Terdengar sangat mustahil tapi Chanyeol berhasil melakukannya, sungguh luar biasa.
"Ka-kau mengubahnya?" ujar si mungil terbata.
Chanyeol mengangguk, kemudian bersuara, "Kau suka?" tanyanya lembut.
Baekhyun mengangguk antusias, "Apa lagi yang kau harapkan? Ini sangat luar biasa!" ujarnya dengan mata berbinar.
Chanyeol terkekeh kemudian menuntun si mungil untuk menaiki tangga menuju kasur berseprai putih di atas ruangan yang mirip seperti panggung, hanya ada tempat tidur di sana, sementara langit-langit yang tadi tertutup kini terbuka, benar sekali, Chanyeol mengubah atap ruangan itu menjadi atap transparant sehingga bulan dan bintang serta langit malam terlihat sangat jelas, belum lagi tempat tidur yang berada di atas, sangat dekat dengan atap, seolah mereka tengah berada di atas langit.
Sekarang ruangan itu di penuhi cahaya rembulan, seolah mereka tengah bermandikan cahaya bulan yang begitu indah menambah keindahan keduanya.
"Indahnya." Ujar Baekhyun sangat senang.
Suasananya begitu romantis sekarang.
"Benar, indahnya." Ujar Chanyeol sembari memandang si mungil yang tengah menatap langit malam yang penuh dengan bintang, tapi bukan itu maksudnya, yang Chanyeol maksud indah tentu saja si mungil, Byun Baekhyun yang hari ini resmi menjadi Park Baekhyun.
Chanyeol membawa si mungil ke dalam pelukannya, membiarkan si mungil bersandar di dada bidangnya, Baekhyun merasa nyaman dengan perlakuan Chanyeol.
"Aku mencintaimu." Ucap Chanyeol dengan sangat lembut.
Wajah Baekhyun memerah mendengar pernyataan cinta yang begitu tiba-tiba, dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami, kemudian bergumam kecil, "Aku juga mencintaimu." Tapi Chanyeol dapat mendengar gumaman itu.
Pangeran tampan itu tersenyum lembut lalu terkekeh melihat kelakuan istrinya yang begitu menggemaskan, dia mengelus surai rambut sang istri sayang kemudian memberikan kecupan-kecupan ringan di pucuk kepala si mungil membuat Baekhyun merasa aman dan nyaman.
Baekhyun mendongak setelah tak lagi merasakan kecupan-kecupan kecil pada pucuk kepalanya, merasa sedikit kehilangan, namun setelah Chanyeol mengecup dahinya tiba-tiba ketika dia mendongakan kepalanya untuk melihat sang pangeran, Baekhyun terkejut namun akhirnya menutup matanya, kecupan penuh cinta itu berlangsung dalam dan cukup lama.
"Tidurlah, aku akan memelukmu sampai kau tertidur." Ujar Chanyeol lembut.
Baekhyun menggeleng kemudian bersuara, "Kau juga harus tidur, mari tidur bersama." Ujar si mungil lebih lembut.
Chanyeol terkekeh, kemudian kembali bersuara, "Kau saja yang tidur, aku akan memelukmu sampai kau tertidur."
"Kau juga harus tidur Chanie." Ujar Baekhyun manja.
Chanyeol memencet hidung si mungil gemas kemudian masih tetap pada pendiriannya dia menggeleng, "Tidak Bee, kau saja yang tidur, aku masih ingin melihat wajahmu lebih lama." Ujarnya membuat si mungil tersipu malu.
"Kalau begitu aku juga tak mau tidur." Ujar Baekhyun merengek.
Chanyeol menyerah, kemudian dia tersenyum lembut ke arah si mungil lalu bersuara, "Baiklah sayang, mari tidur." Ujarnya sembari menggendong Baekhyun ala bridal dan menidurkannya di ranjang mereka.
Chanyeol dan Baekhyun sekarang tertidur dalam posisi saling berhadapan, saling memandang seolah takut kehilangan, pandangan penuh cinta.
"Tidurlah, aku mencintaimu." Ujar Chanyeol lembut.
"Aku juga mencintaimu." Ujar si mungil sembari tersenyum manis.
Keduanya mulai tertidur lelap, saat hampir tertidur tiba-tiba Chanyeol dan Baekhyun membuka mata mereka lebar.
"Apa yang terjadi?" tanya Chanyeol panik.
"Chanie, apa yang terjadi? Mengapa tubuhku terasa panas?" tanya Baekhyun.
"Tubuhmu juga terasa panas Bee?" tanya Chanyeol tak mengerti.
Baekhyun mengangguk, kemudian keduanya terkejut ketika merasakan aroma manis dari tubuh masing-masing, Baekhyun mencium aroma mint bercampur coklat sementara Chanyeol mencium aroma vanila bercampur stroberry.
Keduanya membulatkan mata mereka lebar kemudian dengan panik mereka berkata bersamaan.
"Apa kau sekarang sedang heat?"
Keduanya membulatkan mata mereka semakin lebar, terlalu terkejut, kemudian kembali bersuara bersamaan dengan panik, "Apa kita sedang heat?!" ujar keduanya tak percaya.
0
0
0
0
0
To be Continued~~
0
0
0
0
Okee, sekian dari saya, terima kasih wkwk...
Jangan lupa review #maksa wkwk
Bela-belain ngetik, karena mau izin hiatus, padahal besok udah mulai magang malah sempet-sempetnya ngetik dan up ckck.
Biarlah demi readers tercintahhh...
Makanya jangan lupa REVIEW YANG HEBOH...
Kalo gk heboh aku gk mau ngetik lagi loohh wkwk #ngancem
HAHAHA #Ketawa jahat.
0
0
0
0
See you next Chapter MUUAACCH..
Jangan lupa reviews yaaak
Oke, Bye...selamat malam dan selamat tidur haha...
