Chapter 14

Yui rindu dengan Zen

Episode sebelumnya:

"Dengan keadaanmu yang lemah, sekarang aku jadi tenang mana mungkin Zen datang ke istanamu. Karena kerajaanmu dan Zen sedang dalam krisis." Yui kejang-kejang terus, matanya buka tutup dan sayup-sayup. Pangeran Hiu keluar dari ruang Yui, Dayang Mei menunduk kepada Hiu Sensen. Dan ketika dayang Mei masuk, Yui menujukkan kondisinya dirinya sudah memulai membaik. Dayang Mei terkejut, tangan Yui sudah bergerak pelan-pelan. Walau Yui masih kejang-kejang, tapi detak jantung Yui dan pernapasan Yui sudah membaik.

"Syukurlah, Putri Yui membaik." Dayang Mei segera melihat ECG putri Yui dan tensi darah Yui. Dayang Mei menuju ke ruang Raja dan Ratu laut, Suasana di istana menjadi tertuju kepada dayang Mei yang membawa obat-obatan yang menuju ke kantor Raja dan Ratu laut.

"Paduka Raja, Dayang Mei menghadap anda." Asisten kerajaan duyung menyampaikan kabar, bahwa dayang Mei sedang di ruang Ratu dan Raja laut. Raja mempersilahkan masuk Dayang Mei, dan menanyakan kenapa Mei terburu-buru memawa obatan dan peralatan medis.

"Mei, kenapa kamu membawa peralatan medis di kamar Yui?." Tanya Paduka Raja yang duduk di kamarnya sedang bermain terompet kerang, Ratu laut duduk di kursi. Dayang Mei mengabarkan Putri Yui sudah membaik dia perlu obat anti kejang saja.

"Maaf, paduka Raja. Putri Yui sudah menunjukkan kondisinya sehat. Saya mau menggantikan obat-obat putri Yui. Untuk memulihkan Putri Yui yang kejang-kejang harus di ganti dengan terumbu karang obat itu menghilangkan kejang-kejang pada putri Yui." Dayang Mei menjelaskan dengan jelas dan tepat obat-obatan yang harus di suapin ke Putri Yui. Sang Raja memerintahkan seluruh istana jangan menyebarkan berita ke Istana Hiu, Raja mendapat pesan dari Pangeran Zen dan Raja sihir. Bahwa Pangeran Hiu dan Putri Zaska merencanakan pemberontakan untuk memporak porandakan kerjaan sihir dan kerajaan laut.

"Jangan sampai Pangeran Hiu mendengar berita ini, jika dia mendengar bisa hancur taktik menjebak dia dan Putri Zaska." Raja laut berhenti memainkan terompet, dia dan Ratu laut segera menuju ke Ruang Yui. Dayang Mei menuju ruang kesehatan. Ratu dan Raja bergegas ke kamar, Miia yang melihat Ayah dan Ibunya ke kamar ikut menyusul.

Di luar Pangeran Hiu menuju ke Kerajaan Hiu, dia mengabarkan Raja Hiu sahabat Raja Laut kalau Putri Yui nyawanya tidak lama lagi. Di saat Pangeran Hiu mengabarkan bahwa Yui kritis, Raja Hiu menampar anaknya.

"Ayah, Akhirnya Kerajaan duyung ada di pihak kita. Yui sedang sakit istana kerajaan Sihir dan Laut sedang perang."

Plakkkk

"Ayah kenapa, Ayah menampar Aku?" Pangeran Hiu kaget Ayahnya menampar dirinya.

"Kamu putraku yang bodoh, Kamu ini Ya. Ayah dapat kabar dari mata-mata Ayah kalau Yui sudah sadar tadi."

Flash back Raja Hiu dan Mata-Matanya:

"Hai Sai, kamu mau kemana?." Tanya Penjaga satunya, teman Sai Penjaga gerbang kerajaan duyung.

"Aku mau ke kamar mandi, mau buang air kecil." Sai berbohong dengan temannya, kalau ia mau ke kamar mandi untuk buang air kecil. Padahal ia mau mengirim surat ke Kerajaan Hiu. Melalui teleportasi sai berkomunikasi dengan raja Hiu.

"Bos, aku dapat kabar kalau Putri Yui sadar. Aku baru saja habis dari kamar mandi dekat ruang Putri Yui. Kamarnya sedang tidak di awasi, aku akan memberikan surat bunyi rekaman jantung Putri Yui." Kata mata-mata kerajaan Hiu, dia mengirim surat ke istana Hiu.

"Kamu pantau terus, jangan sampai ada yang mengawasi." Raja Hiu menutup teleportasinya, mata-mata Kerajaan sihir berbalik dan meliat keadaan apakah ada orang yang balik memata-matainya. Ia segera berubah menjadi penjaga gerbang.

"Kok, Kamu lama bangat Sai?." Tanya Teman satu teamnya.

"Oh, tadi aku tiba-tiba buang air besar perutku sakit mules tadi ketika di kamar mandi." Mata-mata dari hiu berbohong kepada penjaga gerbang."

Flash Back Off:

"Lalu Ayah, meliat dengan kemampuan ayah bahwa mata-mata Ayah menajalankan misi dengan benar?"

"Ia, Ayah sudah mengeceknya pakai indra dan pendengaran Ayah."

"Kamu jangan beri tau sepupunya Zen, kalau Yui sadar. Kamu manfaatkan Zaska lalu kamu beralih Ke Yui." Raja Hiu memberikan saran supaya anaknya tidak tertangkap Pangeran sihir dan Raja sihir, karena jika tertangkap bisa-bisa kerajaan Hiu di serang dengan koloni kerajaan sihir dan kerajaan duyung.

Di kerajaan duyung, Yui kejang-kejang sedang di suapi obat herbal dari terumbu karang yang di campur mutiara kehidupan dari kerang laut.

"Yui, ini mamah nak. Sadar anakku?." Ratu menyuapkan Yui obat herbal yang di mangkok, Yui kepalanya bersandar di pangkuan Ratu. Ratu menyuapkan sesuap obat herbal- herbal lagi, keadaan Yui semakin membaik dia tidak kejang-kejang. Tangan Yui memegang muka sang Ratu dan Yui sepenggal-penggal berbicara.

"Ma-ma-ma, Yui takut mati. Yui-i-ng-in... be-r-sa-ma... Z-Zen." Tabib istana memeriksa keadaan Yui, dia bilang keadaan Yui sudah membaik dan Yui bisa memperlambat masa kritis dan ajalnya.

"Kondisi Putri Yui sudah membaik, dia harus istrirahat. Meski dia sehat, tapi dia di diagnosa menderita penyakit terminal." Tabib meninggalkan ruang Yui dan menuju ke labolaturium istana duyung.

Dayang Mei dan Putri Miia menangis karena Yui sudah sembuh.

"Syukur, Putri Yui sudah sadar."

"Iya, Kakakku sudah sadar." Miia mendorong Kursi rodanya, ia menuju ke Yui sang kakak yang sedang duduk. DI istana Raja Hiu ada seorang yang menyamar menjadi petugas kebersihan yang mengumuti surat bersih-bersih. Raja Hiu heran ada orang baru di istana, ketika Raja mau menyelidiki sang anak menyuruh Ayahnya menemani main gamelan.

"Ayah, udah temani aku saja bermain gamelan dan kecapi." Raja tidak jadi menyelidiki pemungut sampah, Ia menemani Pangeran Hiu bermain kecapi dan gamelan. Mata-Mata dari istana Laut kerajaan duyung bergegas keluar, ia berlari memberikan Secarik kertas kepada Mata-mata yang kerajaan sihir yang menjadi pengemis. Pengemis mengirim ke kerajaan sihir dengan mengirim surat itu dia memberi mantra supaya surat itu tidak di ketahui Putri Zaska dan Zelli. Sesampai di istana mata-mata Raja sihir memberikan surat yang dikumut oleh Mata-mata Raja duyung ke pada Raja sihir. Ia menyembunyikan surat itu sesuai perintah Zen dan Raja sihir. Di Istana sihir, Zen sedang melamun dia teringat Kakeknya Yui pernah di tolong Zen dan Raja sihir. Namun pas di kerajaan sihir, denyut nadinya melemah sebelum Kakeknya Yui meninggal ia berpesan kepada Zen Untuk menjaga cucuknya yang bernama Yui dan menyerahkan sketsa ajaib yang bergambar wajah Yui.

Flash Back Zen dan kakek Yui:

"Pangeran...Hukkkk..." Kakek Yui Paduka Zet menyerahkan sketsa ajah cucunya, Zen kaget mengapa Seorang kakek menyerahkan foto cucunya kepada orang yang baru ia kenal.

"Ini Apa?"

"I-I-Itu... Sk-Sket_sketsa ... Wa-jah...Cucuku...Huk..." Kakek Yui memuntah darah, luka dalam akibat perang dengan kerajaan Hiu tidak bisa di sembuhkan keadaannya kritis.

"Untuk apa, Paduka Zet." Raja bertanya kepada Kakeknya Yui.

"To-To-Tolong ...huk...hukk... Kamu ...hukkk...hukkk...Jaga...Hukk...Cucuku..." kakeknya Yui keadaan sangat parah. Di sketsa itu ada sebuah kalung juga, Zen memompa jantung Kakeknya Yui."

"Pangeran...Huk...hukkk... aku...min-ta-to-long... Ka-mu... Me-nikah-lah... dengan...Cucuku... " Kakek Yui memegang tangan Zen dia memebrikan kotak yang berisi kalung dan sketsa.

Flash back Off:

Sedangkan di istana Laut kerajaan duyung, yui sedang menangis dia sedang melamun tentang masa indah saat pacaran bersama Zen.

Flash Back Yui :

"Pangeran, kenapa kamu tertarik dengan laut?." Yui bertanya kepada pangeran.

"Aku tertarik dengan laut, dulu ada seorang pria Tua menyuruhku untuk laut. Katanya mutiara di sini bermanfaat menyembuhkan luka bakar perang dan Luka dalam." Pangeran Tersenyum kepada Yui, Ia menutupi kebohongannya dengan senyuman manis.

Saat itu nuansa pantai indah dua insan berjalan bergandengan tangan dan saling berciuman di pantai. Yui berbicara kepada pangeran dan memberikan kalung mutiara kehidupan miliknya.

"Pangeran, berilah kalung mutiara ini kepada tentaramu."

"Tapi jika aku menerima semua kalung kehidupan, kamu tidak memilikinya."

Aku mempunyai gelang rumput laut untuk sumber energiku, walaupun tubuhku lemah dan aku di diagnosa menderita penyakit terminal aku masih punya sisa waktu. Aku ingin seperti kakekku yang menolong orang.

Pangeran Yui bergumam di dalam hati

Maafkan aku, aku membohongimu kedatanganku kesini untuk melamarmu. Tapi Ayahku menyuruh untuk beralasan mengambil obat, supaya tidak terlihat kaku atau tiba-tiba.

"Pangeran, melamu?" Yui yang sedang menanyakan Pangeran yang diam saja, dia memulai aksi genitnya. Ia tiba-tiba mencium bibir Zen. Zen terkejut.

"Yui...!"

Flash Back Off:

"Pangeran..." Yui memegang dadanya yang sakit, dia tidak bisa menahan sakitnya. Ketika dia mau mengambil air minum, Gelas terjatuh. Saat Yui mau ngemaskan pecahan gelas, tiba-tiba Yui kejang-kejang. Dia memanggil Ibunya, dia ketakutan tidak bisa membuka mata lagi.

"Ma-Ma..." Yui menyeret kaki dan tangannya. Ia berjalan dan terjatuh lalu tubuhnya kejang-kejang lagi. Dia terbaring lemah dan memanggil Ayah dan ibunya.

"Ayah... Ibu... Yui Takut... Yui... Yui... Tidak mau mati..." Pandangan Yui mulai redup... nafasnya tersengal-sengal, tubuhnya melemah, saat Raja dan Ratu menuju ke ruang Yui, mereka melihat Yui sudah terbaring dan nafasnya tersengal-sengal. Yui di bawa keruangnya dan Tabib memasang ECG, infus dan oksigen. Tabib memompa dada Yui.

Yui dalam keadaan tidak sadar, dia berteriak minta tolong kepada pangeran di dalam mimpi. Dia bermimpi kepada pangeran.

"Selamatkan aku pangeran, Aku kesakitan." Pangeran dan Yui saling berpelukan di dalam mimpi, Pangeran mengelap air mata Yui dan menghilang. Yui berlari ke arah Pangeran Zen dan berkata Aku akan berjanji bertahan pangeran.

"Aku tidak akan meninggal dengan cepat, aku akan membalas rasa sakitku."

To Be Continued.