Dating With The Dark

Oleh: (Santhy Agatha)

Copyright © April 2013 by (Santhy Agatha)


Christopher Agnelli as Kim Jongin
Andrea / Helena Alexander as DO Kyungsoo
Eric as Jung Yonghwa
Sharon as Song Minri (OC)
Katrin as Park Min-Young
Richard as Ravi
Profesor Adam as Him Self


Disclaimer: I'M NOT OWN THIS STORY!

THIS STORY FROM SANTHY AGATHA's NOVEL "Dating With The Dark"

Tidak ada yang dirubah kecuali nama cast!

Tidak merubah alur cerita!


.

.

.

DATING WITH THE DARK
(The Dark Partner Series #1)

.

.

"Kau tidak apa-apa?" Yonghwa membungkus tubuh basah Kyungsoo dengan selimut, dia membawa Kyungsoo ke rumahnya. Tubuh Kyungsoo masih gemetar dengan tatapan mata kosong, perempuan itu shock.

Setelah mendarat di pulau dewata, Yonghwa membawa Kyungsoo ke landasan milik pemerintah, sebuah tempat rahasia yang digunakan untuk keperluan darurat jika misi mereka mengharuskan mereka melarikan diri dengan cepat. Atasannya ternyata menanggapi dengan cepat laporan Yonghwa, karena sebuah pesarat pribadi berlogo pemerintah sudah menunggu mereka di landasan. Yonghwa membawa Kyungsoo menaiki pesawat itu, dan mereka langsung di bawa pulang.

Sepanjang perjalanan, atasannya menelepon, meminta Yonghwa mempertimbangkan untuk membawa Kyungsoo ke lokasi perlindungan yang tersedia, tetapi Yonghwa bersikeras untuk membawa Kyungsoo ke rumahnya. Rumahnya adalah tempat yang paling aman karena Yonghwa paling mengenal seluk beluk rumahnya, juga setiap titik dalam pengamanannya. Lagipula Yonghwa tidak mau menyembunyikan Kyungsoo. Kalau memang Jongin mengejar dan ingin mengambil Kyungsoo, maka mereka harus berhadapan secara jantan. Kalau tidak, dia akan terpaksa membawa Kyungsoo terus menerus dalam pelarian.

Atasannya akhirnya menyetujui kekeras kepalaan Yonghwa, dengan berat hati tentunya, dia lalu mengatakan akan mengirim agen-agennya untuk menyusul dan menjaga rumah Yonghwa.

Mereka menempuh perjalanan kembali ke kota ini dalam kebisuan. Sekarang sudah hampir satu jam sudah berlalu setelah mereka pulang, dan kondisi Kyungsoo masih tetap seperti itu. Yonghwa sendiri telah menghubungi anak buahnya, dan mereka telah menerima instruksi dari atasan langsung Yonghwa untuk segera datang ke rumah Yonghwa dan melakukan penjagaan ketat. Saat ini mereka semua sedang dalam perjalanan.

Kyungsoo menatap ke arah Yonghwa, berusaha memfokuskan pandangannya, tetapi air mata malahan mengalir deras dari matanya, bibirnya bergetar,

"Aku...aku membunuhnya..."

Yonghwa menghela napas panjang, memeluk Kyungsoo dengan lembut,

"Kau menyelamatkan nyawaku sayang, terima kasih ya."

Tubuh Kyungsoo lunglai dalam pelukan Yonghwa, membiarkan lelaki itu membelai rambutnya.

Kyungsoo sendiri merasa begitu bingung akan perasaan yang berkecamuk di benaknya, masih teringat jelas ekspresi wajah Jongin tadi sebelum dia rubuh ke lantai. Kesedihannya itu...seakan-akan merenggut jiwa Kyungsoo membuatnya ingin menangis meraung-raung tetapi tidak tahu kenapa...

Ponsel Yonghwa tiba-tiba berbunyi, Yonghwa mengerutkan keningn ya dan mengangkatnya,

"Minri." Sapanya ketika mengetahui siapa yang meneleponnya.

Yonghwa tidak tahu kalau Minri sekarang sudah sampai di bandara kota ini, dan sedang menunggu taxi untuk menuju ke tempat tinggal Yonghwa.

"Yonghwa." Minri membuat suara secemas mungkin, "Aku mendengar dari pak Jimmy atasanku bahwa Kris Wu sedang bergegas ke pulau Rafael Alexander, ada tamunya yang tertembak, aku cemas sekali Yonghwa, kau kan tahu aku menduga bahwa Kyungsoo ada di pulau itu.. aku cemas kalau Kyungsoo yang tertembak." Minri mengarang dan berakting dengan lancarnya, bagaimanapun juga, itu adalah keahliannya, bahkan supaya lebih meyakinkan, perempuan itu mulai terisak-isak, membuat Yonghwa di seberang kehabisan kata-kata.

Yonghwa mengerutkan keningnya lagi dan berpikir, Minri setahunya adalah sahabat Kyungsoo yang paling dekat, dan tentu saja perempuan itu sangat mencemaskan Kyungsoo. Yonghwa tidak tega mendengar perempuan itu menangis terisak-isak, mungkin tidak masalah kalau dia memberitahukan keberadaan Kyungsoo di rumahnya, dia bisa meredakan kecemasan Minri dan mungkin kehadiran Minri bisa menenangkan Kyungsoo.

"Minri...aku tidak bisa menjelaskan semuanya secara terperinci...tetapi Kyungsoo... Kyungsoo sekarang berada di sini di rumahku, bersamaku."

"Benarkah?" Minri terpekik, "Biarkan aku bicara dengannya Yonghwa, biarkan aku tahu dia baik-baik saja."

"Kyungsoo sedang tidak bisa bicara." Yonghwa melirik ke arah Kyungsoo yang masih meringkuk dan terisak-isak di sofa, "Mungkin kau bisa ke rumahku saja?" Yonghwa memberitahukan alamat rumahnya kepada Minri.

Gotcha! Minri menyeringai lebar. Jantungnya berdegup penuh antisipasi ketika taxinya datang, Minri memberikan alamat rumah Yonghwa kepada supir, dan dia duduk dengan tidak sabar menunggu taxi sampai ke tujuan.

Tunggulah Kyungsoo, dewi pembalasan akan datang dan membunuhmu!

.

.

.

Yonghwa menuangkan secangkir kopi kental hitam dari mesin pembuat kopinya. Aroma harum langsung menguar ke udara, memenuhi ruangan. Dia melirik ke arah Kyungsoo, perempuan itu tadi menangis histeris, kondisinya sangat kebingungan sehingga Yonghwa berpikir dia harus membawa Kyungsoo ke psikiater, kejadian tadi mungkin terlalu mengguncang jiwanya.

Suara mobil terdengar di depan rumahnya, membuat Yonghwa segera mengintip ke luar dengan waspada, dia mendesah ketika melihat Minri yang turun dari taxi itu,

Sebelum Minri mengetuk pintu, Yonghwa sudah membuka pintunya dan menyambut Minri.

"Di mana Kyungsoo?" Minri melongok ke dalam berusaha mencari, Yonghwa memiringkan tubuhnya, membiarkan Minri masuk,

"Di sofa, dia tertidur setelah menangis lama."

Minri menatap Yonghwa dengan bingung,

"Sebenarnya apa yang terjadi Yonghwa?"

"Aku tidak bisa menjelaskannya kepadamu sekarang." Yonghwa bergumam tegas, "Aku hanya berharap kau bisa menghibur Kyungsoo."

"Tentu saja." Minri tersenyum, matanya melirik ke arah Kyungsoo yang tidur meringkuk di sofa, dia mengguncang bahu Kyungsoo lembut,

"Kyungsoo...?" Minri berbisik, memanggil nama Kyungsoo. Tubuh Kyungsoo terguncang dan dia menolehkan kepalanya, matanya mengerjap, seolah tidak yakin.

"Minri?" bisiknya lemah, mengusap matanya.

"Ini aku Kyungsoo, kau baik-baik saja?"

Kyungsoo langsung menangis lagi ketika melihat wajah sahabatnya itu, dia langsung memeluk Minri,

"Aku membunuh Jongin...aku..." suara Kyungsoo tenggelam di dalam tangis sementara Minri memeluknya mencoba menghibur Kyungsoo yang histeris.

Sementara itu Yonghwa menatap mereka berdua dan mengangkat bahunya,

"Aku akan membuatkan kopi..." gumamnya membalikkan tubuh ke arah dapur.

Baru beberapa langkah, tiba-tiba saja Yonghwa tertegun oleh rasa nyeri dan panas yang menembus punggungnya, dia menoleh dan terkejut mendapati Minri berdiri di belakangnya dengan senyum bengis, tangan Minri memegang pisau, dan pisau itu sekarang menancap di punggungnya, berlumuran darah.

Darahnya!

Yonghwa hendak membuka mulutnya ketika pandangan matanya mulai berkunang-kunang, masih di dengarnya suara tawa terkikik Minri.

"Rasakan itu dasar agen bodoh! Berani-beraninya kau menggangu Jongin, kekasihku!"

Jongin adalah kekasih Minri?

Yonghwa mengernyit ketika merasakan kesadarannya makin tenggelam akibat rasa sakit yang amat sangat di punggungnya, dia tersengal, berusaha mencari pegangan tapi terlambat! Tubuhnya rubuh di karpet, penuh darah. Minri membungkuk dan mencabut pisau itu dari punggung Yonghwa, dan mengacung-acungkan pisau yang penuh darah itu kepada Kyungsoo.

Kyungsoo yang menatap seluruh adegan itu dari sofa memekik kaget, dia terpaku di tempat duduknya, matanya membelalak menatap Minri yang memegang pisau berlumuran darah, dan kemudian berpaling ke tubuh Yonghwa yang sekarang terkulai di karpet.

"Minri?" Kyungsoo menatap Minri dan kemudian baru menyadari perbedaan yang ditemukannya di dalam penampilan Minri itu. Minri berpenampilan lebih mencolok dan menggoda...benarkah ini Minri yang sama?

Minri sendiri menatap Kyungsoo dan tersenyum keji,

"Aku akan membunuhmu Kyungsoo..."

"Minri?" Kyungsoo bergumam gugup, beringsut dari kursinya ketakutan ketika Minri melangkah semakin mendekat. "Minri? Ada apa?"

"Ada apa?" Minri mulai tertawa, "Seharusnya kau sadar Kyungsoo, bahwa aku tidak pernah benar-benar menjadi temanmu. Aku mau mendekatimu atas perintah Jongin."

Apa? Kyungsoo berteriak dalam hati, kesadarannya kembali ketika menerima tatapan membunuh dari Minri. Jadi selama ini Minri hanya menyamar? Apakah Jongin yang mengirim Minri kemari untuk membunuhnya?

"Kau perempuan yang tidak tahu terima kasih, Jongin begitu baik, begitu tampan dan dia harus terikat padamu, perempuan lemah yang sama sekali tidak berharga."

"Terikat padaku?" Kyungsoo sama sekali tidak mengerti maksud perkataan Minri, apakah Minri mengira Kyungsoo mengikat Jongin karena dia adalah satu-satunya korban yang gagal dibunuh oleh Jongin?

"Kau masih tidak ingat ya." Minri tertawa cekikikan, tawa yang aneh karena matanya bersinar kejam,

"Betapa menyedihkannya kau Kyungsoo, aku berani bertaruh bahwa kau akan menyesal setengah mati kalau kau ingat. Dasar perempuan bodoh, demi membela lelaki yang tak berguna itu kau malahan menembak suamimu sendiri!"

Menembak suaminya? Tetapi Kyungsoo menembak Jongin...apa maksud Minri dengan suaminya?

"Ya Perempuan bodoh. Itulah kenapa Jongin tidak bisa melepaskanmu, itulah kenapa Jongin begitu terikat kepadamu. Kau adalah isterinya! Isteri yang tidak tahu terima kasih karena melupakan suaminya begitu saja! Kau tak pantas untuk Jongin, aku akan membunuhmu!"

Dengan gerakan cepat, Minri menyerbu Kyungsoo, dengan pisau berdarah masih teracung di tangannya. Kyungsoo melompat menghindar, melompati sofa itu sehingga sofa itu jatuh terguling bersamanya, menimpa kepalanya dalam benturan yang cukup keras.

Kepala Kyungsoo berputar-putar benaknya melayang. Isteri Jongin...? Dia isteri Jongin?

Bagaimana bisa? Kenangannya kembali kepada makan malam mereka dahulu, ketika melihat cincin emas yang melingkar di jari Jongin...

"Apakah...apakah kau sudah menikah?" Kyungsoo akhirnya menyuarakan pertanyaan di benaknya, matanya melirik sekilas lagi ke arah cincin di jemari Jongin.

Jongin mengikuti arah pandangan Kyungsoo ke cincinnya dan tersenyum miris,

"Maksudmu cincin ini?" Jongin menatap Kyungsoo dalam-dalam, "Dulu aku pernah menikah."

Dulu aku pernah menikah...apakah maksud Jongin, dia menikah dengan Kyungsoo? Tetapi kapan?

Bagaimana bisa? Kenapa Kyungsoo sama sekali tidak mengingatnya?

Tiba-tiba Kyungsoo merasa cairan panas mengalir dari dahinya ke matanya, dia mengambil cairan itu dengan jemarinya dan menatapnya. Cairan itu berwarna merah, itu darah...kepalanya berdarah!

Menyadari itu Kyungsoo merasa pandangannya mulai berkunang-kunang, kesadarannya semakin lama semakin hilang...

Sementara itu Minri berdiri dengan napas terengah, menatap Kyungsoo yang terkulai dengan sebagian tubuh tertindih sofa yang terbalik,

Ini adalah pembunuhan yang mudah. Seharusnya Minri melakukannya dari dulu, mengusir pengganggu ini, melenyapkan Kyungsoo dari muka bumi ini, Selamanya!

Tangannya teracung mengambil ancang-ancang untuk menancapkan pisaunya sedalam mungkin ke punggung Kyungsoo yang tak berdaya...

Lalu suara tembakan itu terdengar, langsung menembus punggung Minri tepat masuk ke jantungnya, hingga tubuh perempuan itu tersentak, dia menoleh ke belakang dan membelalakkan matanya kaget, tidak menyangka bahwa dirinya akan tertembak.

Min-Young berdiri di sana, dengan beberapa agen. Dialah yang menembak Minri.

"Min..." Minri mengenal Min-Young sebagai salah satu anak buah Jongin yang disusupkan ke kantor pemerintah tempat Yonghwa berada, dia hendak menyebut nama Min-Young, tetapi lidahnya kelu, sekujur tubuhnya kaku dan mati rasa, kesadarannya makin lama-makin hilang.

"Semua sudah selesai, Minri." Min-Young bergumam, menatap dingin tubuh Minri yang langsung tumbang dan kehilangan nyawa.

Beberapa agen langsung memeriksa Minri, memastikan bahwa dia benar-benar mati. Sementara itu Min-Young langsung berlari ke arah Yonghwa yang terkulai bersimbah darah di karpet, dia memeriksa nadinya dan memejamkan matanya penuh syukur, Yonghwa masih hidup, Syukurlah...untunglah Min-Young datang tepat waktu. Ravi meneleponnya tadi, menginformasikan bahwa Kyungsoo dibawa kabur, Jongin tertembak, dan para pengawal kehilangan jejak di pulau dewata.

Beberapa saat setelahnya, atasannya menelepon meminta mereka semua bersiap ke rumah Yonghwa untuk melakukan penjagaan karena Yonghwa sudah mendapatkan Kyungsoo. Min-Young langsung menghubungi Ravi untuk melaporkan perkembangan terbaru itu, lalu dia bergerak dengan beberapa agen, mendatangi rumah Yonghwa untuk melaksanakan tugas, meskipun dia membawa misi pribadinya: Kyungsoo tidak boleh bersama Yonghwa, demi kebaikannya, Kyungsoo harus kembali kepada Jongin.

Sayangnya Min-Young melupakan Minri, wanita psyco yang sudah menjadi rahasia umum begitu tergila-gila kepada Jongin. Min-Young tidak menyangka Minri akan senekat itu mengejar Kyungsoo, dan melukai Yonghwa.

Min-Young menatap ke arah Yonghwa. Darah Yonghwa sangat banyak, nyawa Yonghwa masih terancam karena dia kehilangan banyak darah. Min-Young memandang paramedis yang menyusul di belakangnya dan memandang dengan cemas ketika mereka memeriksa Yonghwa, kemudian mengangkut tubuh Yonghwa untuk dibawa ke ambulans,

Min-Young menolehkan kepalanya menatap Kyungsoo yang juga pingsan dan sedang diperiksa oleh paramedis.

Dia menghela napas panjang. Kyungsoo harus baik-baik saja, karena dia adalah isteri dari tuan Jongin, tuan besarnya.

.

.

.

Jongin yang baru saja sadarkan diri, duduk di atas ranjang putih itu, menatap tajam ke arah Ravi yang sedang menerima telepon dari Min-Young. Ravi tampak bercakap-cakap dengan serius, kemudian dia menutup teleponnya dan menatap majikannya,

"Semuanya beres."

Jongin memejamkan matanya, merasakan kelegaan yang amat sangat membanjiri tubuhnya.

Semalaman dia tidak sadarkan diri karena pistol yang menembus dadanya. Peluru itu hanya beberapa inci dari bagian vital tubuhnya, meleset sedikit saja dan mungkin Jongin tidak akan bisa diselamatkan, sekarang peluru itu sudah dikeluarkan.

Kyungsoo menembaknya untuk menyelamatkan Yonghwa. Jantung Jongin terasa berdenyut rasa sedih bercampur cemburu menggelegak dalam jiwanya. Kyungsoo...isterinya yang telah melukapannya sejak kecelakaan itu.

Tidakkah dia tahu betapa Jongin mencintainya? Betapa Jongin rela melakukan segalanya demi perempuan itu?

.

.

.


[Bab 14]

[Satu tahun sebelum kecelakaan Kyungsoo dan ayahnya]

"Kenalkan ini Jongin, dia akan mengawal ayah." Profesor Adam, ayah Kyungsoo membawa lelaki tampan itu ke ruang tamu tempat Kyungsoo sedang duduk dan membaca novel kesukaannya. Kyungsoo terkesiap ketika melihat tamu yang dibawa ayahnya itu. Astaga! Lelaki itu sangat tampan, bagaikan ciptaan dewa, dengan mata gelap dan pekat serta garis wajah yang kuat, bagaikan dewa Yunani...

Lelaki itu mengulurkan tangannya dan Kyungsoo langsung membalasnya dengan gugup, menciptakan senyum tipis di bibir lelaki itu,

"Saya Jongin. Atasan ayah anda yang juga atasan saya, menugaskan saya untuk menjaga profesor Adam."

"Kenapa harus dijaga, ayah?" Kyungsoo menoleh ke arah ayahnya sambil mengernyitkan keningnya, bingung.

Profesor Adam melemparkan tatapan bingung ke arah Jongin, tetapi lelaki itu malahan memasang wajah datar, tidak mau membantu, membuat profesor Adam sibuk sendiri memikirkan alasannya,

"Ayah sedang menangani proyek penting dan rahasia, sayang."

"Proyek rahasia?" Kyungsoo masih mengerutkan keningnya, ayahnya adalah profesor di bidang matematika yang sangat ahli. Tetapi apakah ada sesuatu yang berhubungan dengan matematika yang bisa dianggap penting, rahasia dan membahayakan?

Jongin menatap Kyungsoo yang tampak bingung, lelaki itu lalu memasang senyumnya yang paling manis,

"Apakah kau mau membantuku Kyungsoo? Aku agak kesulitan mengucapkan beberapa patah kata bahasa di sini, mungkin kau bisa mengajariku."

Lelaki ini memang bukan orang sini, dan logatnya terdengar sangat aneh. Dilihat dari mukanya yang klasik dan rambutnya yang kecoklatan Kyungsoo menebak kalau lelaki ini adalah orang eropa. Wajahnya terlalu klasik untuk menjadi orang Amerika.

Jongin mengangkat alisnya dan melihat Kyungsoo yang sedang mengawasinya,

"Italia." Gumamnya santai, seolah mampu membaca pikiran Kyungsoo dan seketika itu juga membuat pipi Kyungsoo memerah karena tertebak apa yang sedang dipikirkan oleh benaknya.

Ah, orang Italia. Pantas saja. Kyungsoo menahan senyum,

"Aku akan membantumu." Jawabnya ramah, senyumnya begitu ceria membuat Jongin yang muram mau tak mau ikut tersenyum lebar.

Profesor Adam melihat perubahan ekspresi Jongin yang menjadi hangat itu, dia melirik Kyungsoo, puterinya yang sangat cantik dan bercahaya, yah siapapun orangnya biasanya mereka akan mudah luluh kalau sudah mengenal Kyungsoo. Lelaki itupun dalam hatinya tersenyum, Kyungsoo, anugerah terbesar dalam hidupnya. Dia sangat beruntung bisa memiliki putri seperti Kyungsoo.

.

.

.

Ketika mereka sedang berdua di ruang kerjanya, suasana berubah menjadi sangat serius. Profesor Adam duduk di sana, menatap dalam-dalam ke arah Jongin yang diam dan tenang, sungguh susah membaca ekspresi lelaki ini. Lelaki ini tiba-tiba dikirimkan oleh organisasi tempatnya menerima pekerjaan khusus, katanya untuk menjaganya, karena misinya berbahaya dan melibatkan perubahan dunia, tetapi Profesor Adam bukan orang bodoh, dia tahu ada sesuatu yang aneh, yang direncanakan oleh orang-orang penting dalam organisasi berbahaya tempat dia bekerja sekarang.

Profesor Adam mendesah dan menghela napas panjang, dia sebenarnya tahu bahwa menerima pekerjaan dari organisasi ini cukup berbahaya, misi organisasi itu bukanlah misi biasa, melainkan rencana menggulingkan kekuasaan di sebuah negara. Tetapi Profesor Adam terjepit, dia terlilit hutang yang luar biasa besar, sebagai lelaki dia memang sangat jenius dan sempurna di bidang akademis, tetapi kejeniusannya itu membawa kelemahan pada dirinya, dia kecanduan berjudi. Berjudi membuat otaknya berputar, memikirkan rasio demi rasio matematika dalam memperhitungkan kemenangannya, sayangnya, kepandai an analisa dan matematikanya tidak selalu membawanya kepada kemenangan.

Dua bulan yang lalu, dia kalah berjudi dalam jumlah yang sangat besar. Begitu besar nya sampai jika seluruh hartanya dijual, tidak akan mencukupi untuk membayar hutang judinya.

Profesor Adam putus asa, sampai akhirnya dia menghubungi organisasi itu, organisasi yang pernah menawarkan sejumlah uang yang cukup besar baginya, asalkan dia mau melakukan penelitian penting demi mencapai tujuan mereka. Deal kerjasama itu membereskan masalah hutang judinya, tetapi sekarang dia terikat perjanjian kerja dengan organisasi yang sangat berbahaya. Apakah pekerjaan ini akan membahayakan Kyungsoo juga? Jantung Profesor Adam berdebar, Kyungsoo puteri kesayangannya, dia harus menjaga Kyungsoo sebaik- baiknya.

"Puterimu sangat cantik dan baik hati." Jongin bergumam, dari tadi matanya menelusuri seluruh bagian ruangan itu, seperti kebiasaannya, memperhatikan sampai detail yang sekecil-kecilnya.

Profesor Adam menatap lelaki di depannya itu, sikap Jongin tampak tenang, tetapi Profesor Adam tahu, ada yang begitu kelam tersembunyi di sana. Lelaki ini berbahaya.

"Aku sangat menyayanginya." Dia lalu menghela napas panjang, memaksa Jongin memalingkan wajah kepadanya, "Apakah kau dikirim untuk membunuhku?"

Ekspresi Jongin tidak terbaca, dia hanya menatap Profesor Adam dengan mata cokelatnya yang dalam,

"Kau seharusnya tahu, ketika kau mengikat perjanjian dengan organisasi itu, sama saja menyerahkan nyawa."

Jawaban tidak langsung. Tetapi Profesor Adam mengerti apa maksudnya. Dia telah menjual nyawanya kepada organisasi ini. segera setelah penelitiannya selesai, mungkin saja lelaki di depannya ini akan mencabut nyawanya.

"Apakah kau juga akan membunuh Kyungsoo?"

Ada kilat di mata Jongin, tetapi dengan cepat lelaki itu menghapusnya, senyumnya adalah senyum muram yang menakutkan,

"Kita lihat saja nanti."

"Apakah kau bagian dari organisasi itu?" Profesor Adam tidak mau menyerah meskipun Jongin sudah memberi isyarat tidak mau bercakap-cakap lagi.

Jongin menggelengkan kepalanya pelan, "Bukan. Aku hanya disewa untuk melaksanakan tugas." Matanya menyala, "Harga sewaku sangat tinggi, dan aku hanya mau menerima pekerjaan khusus."

Profesor Adam menelan ludahnya, dia berdehem untuk mencairkan suasana menakutkan kental yang melingkupi mereka.

"Kau akan tinggal di sini?"

Jongin tersenyum, "Mungkin saja. Ini adalah tempat terbaik di mana aku bisa mengawasimu."

Mata lelaki itu menatap ke luar, menerawang dan entah kenapa Profesor Adam tahu, Jongin sedang memikirkan Kyungsoo.

..

.

ToBeContinue~

..


Hi...ada yg merindukan Taenoo tidak? ah pasti tidak u.u

Sepertinya aku lama ga update cerita ini :D bukan niat ga mau nerusin, emang lagi sibuk bgt -_-

yasudah gitu aja deh..oya ada yg mau ujian dan masih praktek? semangat yah! kalo ntar pas ujian ga bisa kerjain soalnya, tengok kanan kiri ajah /emang kode soalnya sama Taenoo? pasti beda dan rasakan itu wkwkwk just kidding, guys! pokoknya belajar yg rajin yah, sering-sering coba soal-soal try out dan panduan UN lainnya, oke?!

Last, bye all :* :* :* :* :*