Sabtu pagi yang cerah, aku dan si kembar sedang menikmati sarapan kami tanpa Sasuke. Ia bilang ada yang harus ia lakukan dan menyuruh kami untuk sarapan lebih dulu. Aku yang menurut—lapar—tentu saja mengikuti perintahnya dengan senang hati dan membawa si kembar untuk sarapan bersamaku.

"Kenapa harus bubur?" Shisui merenggut tidak suka dengan apa yang dihidangkan untuknya. Ia mengaduk-aduk bubur di mangkuk itu dengan sendok. Haah, haruskah Shisui selalu protes dengan makanannya?

"Tapi Obito suka sama bubulnya," Ungkap Obito dengan nada bahagia. Aku tersenyum lebar melihat ia menyendokkan bubur dengan lahap. "Walna bubulnya melah."

Dengan penuh kebanggaan dalam diriku, aku membalas pujian Obito. "Obito suka karena bubur itu aku yang buat." Aku menepuk dadaku. "Iya 'kan?" Tanyaku dengan nada menggoda.

Obito menatapku sambil menjilati sendoknya. Aku tersenyum dengan tingkah childishnya, perlahan aku menurunkan sendok itu dari mulutnya. "Obito selalu suka yang Nalu-tan buat untuk Obito." Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi keatas dengan senyum lebar.

Tubuhku seketika seperti kaku. Entah mengapa pujian sederhana yang terucap oleh Obito membuat dadaku berdesir akan perasaan senang. Eh, kenapa aku begini hanya karena ucapan Obito?! Aku menggeleng kuat-kuat.

"Aku juga suka apa yang Naru-chin buat untukku kok!" Aku sontak teralih pada Shisui. Pipinya menggembung, bibir kecilnya sedikit maju. Ugh, menggemaskan. "Aku yang paling suka."

"Obito yang paling suka!" Aku kembali menatap Obito yang meraung tidak suka. Ia menunjuk Shisui dengan sendok yang ia pegang. "Obito paling suka sama Nalu-tan, bukannya Shisui-nii!"

"Aku, pokoknya aku!"

"Obito bukannya Shisui-nii!"

Aaagh, kenapa jadi begini? Aku mengacak rambutku bingung melihat si kembar yang beradu mulut. Iya sih aku—ehm—senang dipuji mereka. Tapi kalau akhirnya mereka jadi ribut begini aku juga yang pusing. Aku mengusap wajahku frustasi. Cobaanku cukup berat.

"Kenapa ribut begini?" Ah itu dia Sasuke. Dia berjalan dengan tenang menghampiri si kembar dan menepuk pucuk kepala mereka. "Jangan bertengkar saat kalian makan, Shisui, Obito."

Si kembar saling bertatapan lalu menatap Ayah mereka. "Kami tidak bertengkar kok." Mereka menggeleng dan mengucapkan itu secara bersamaan. Lihat wajah polos mereka yang seakan memberitahu jika mereka tidak berdosa. Padahal jelas-jelas mereka adalah tersangka kasus pertengkaran tadi.

Mataku terus mengikuti pergerakan Sasuke. Ia menarik kursi dan mendudukkan dirinya. "Lalu kenapa kalian bertengkar?" Ketika Sasuke melihat isi mangkuknya, ia langsung menatapku dengan kernyitan di dahinya. "Bubur merah?"

Aku tersenyum dan mengangguk keras. "Iya, bubur merah." Aku mendekatkan wajahku pada Sasuke untuk membisikkan sesuatu. "Jika aku membuatkan sarapan Sasuke-san berbeda dengan mereka, Shisui-chan dan Obito-chan pasti mereka akan merajuk."

Sasuke mengangguk, mataku tepat menatap matanya. Aku meneguk ludahku melihat Sasuke tersenyum miring. Untuk beberapa alasan, Sasuke terlihat sangat tampan dari dekat—tidak! "Sepertinya kau suka sekali berdekatan denganku," Sontak ketika Sasuke membisikkan itu aku segera mengambil jarak sejauh mungkin dari Sasuke yang tersenyum menyebalkan. Kalau bisa, aku lebih baik makan di kamar si kembar saja.

Aku sebisa mungkin berusaha mengacuhkan Sasuke dan melanjutkan sarapan pagiku. God, kenapa mahluk dengan hair style itu sangat suka sekali membuat aku menjadi sangat aneh dan terlihat tidak keren? Aku melirik Sasuke lewat sudut mataku—ugh, dia masih menatapku!

"Shisui, Obito, setelah kita sarapan kita akan keluar, okay?" Aku menghentikan sendokkanku dan menatap Sasuke penuh tanda tanya. Keluar itu—dia ingin mengajak kami jalan-jalan atau bagaimana?

"Yaay kita jalan-jalan lagi!" Obito memekik kegirangan. Saking girangnya, ia sampai menjatuhkan sendoknya ke lantai. Aku menggeleng mencoba maklum, sendok yang terjatuh segera aku ambil dan mengganti sendok Obito dengan yang baru. "Mau kemana kita, Touchan? Boleh kita ka taman belmain lagi?"

Oh, tentu tidak boleh Obito. Batinku meronta tidak setuju. Oh, ayolah, tanpa Iruka, hanya ada aku dan Sasuke yang akan menjaga mereka berdua sementara Obito yang hyperactive akan membuat kami kewalahan. Kalau dia nanti hilang seperti waktu itu bagaimana?

Shisui sepertinya tidak setuju dengan Obito. Go, Shisui! Tunjukkan pada mereka rasa tidak setujumu, aku mendukungmu—itu sisi jahatku yang membatin. "Tidak mau, aku mau ke kebun binatang!" Shisui menggeleng keras, ia memajukan bibirnya. Ow, aku ingin sekali mengabadikan moment dimana wajah datar Shisui menampakkan keimutannya—apa yang aku pikirkan?

Berusaha terlihat tidak peduli dengan obrolan tiga Uchiha itu, aku memutuskan untuk meneruskan sarapanku dengan tampang yang sebisa mungkin aku buat cool. Aku tidak mau menjadi objek ejekkan Sasuke—

"Tidak, kita tidak akan ke taman bermain atau ke kebun binatang." Ah, aku bisa mendengar lolongan kekecewaan dari si kembar. Sasuke, kau mengecewakan anak-anakmu sendiri. "Kita akan bertemu dengan seseorang."

Huh, seseorang? Seseorang itu, mungkinkah akan seperti kejadian Neji dulu? Seseorang yang mungkin saja aku kenal dan ternyata mengenal Sasuke lalu dia akan membongkar identitasku kemudian membuat aku dipecat dan—STOP! Tenangkan dirimu Namikaze muda. Aku menarik nafas dan menghembuskannya lembut, berusaha agar mereka bertiga tidak menyadari kepanikanku.

"Kita akan bertemu seseorang yang sangat ingin melihat kalian." Aku membeku mendengar ucapan Sasuke. Seseorang yang sangat ingin melihat mereka. Aku sontak menolehkan pandanganku pada Sasuke, ia tersenyum menatap anak-anaknya.

Dia sungguh-sungguh akan melakukan itu?


Naruto © Masashi Kishimoto

Perfect Nanny Candidate © Haraguroi Yukirin

Pairing

SasuNaru

Warning!

Boys Love a.k.a Shonen-Ai! Metrosexual-Naruto, Alternative Universe, typo(s), etc.

Special for my new beloved friends: Kucing Gendut & Padma

Happy Reading!


.

.

Chapter 14 : Love is

.

.


Hal yang benar-benar mengejutkan dan diluar dugaanku ketika Sasuke membawa kami pulang ke kediaman Uchiha. Aku tidak berani bertanya apapun pada Sasuke. Aku hanya mendengarkan dan menjalankan apapun yang Sasuke perintahkan padaku.

Obito turun dari mobil sambil berteriak kegirangan. Ia berlari masuk kedalam rumah, begitu juga dengan Shisui. Ah, mahluk-mahluk kecil itu sagat bersemangat sekali. Pelayan yang lain juga tampak senang dengan kepulangan dua Tuan Muda nakal itu. "Jangan berlari nanti jatuh!" Seruku. Oh, bagus, mereka tidak mendengarkanku.

"Naruto," Aku menoleh ketika seseorang menyerukan namaku. Ah, ternyata Izumo. Ia berlari kecil menghampiriku. "Biar aku bantu membawakan itu."

"Ah, Izumo-san, sudah lama tidak melihatmu." Aku tersenyum lebar dan membungkuk. "Tolong bawakan ini, ya?" Aku menyerahkan ransel perlengkapan Shisui dan Obito yang aku bawa. "Ini milik Shisui dan Obito."

"Lalu milikmu mana?" Aku tersenyum dan menggeleng mendengar pertanyaan Izumo. Aku mengatakan padanya jika aku bisa membawa barangku sendiri. Izumo mengangguk paham. "Baiklah, aku duluan ya. Aku akan bawa ini ke kamar Tuan Muda."

Aku mengangguk. Sepeninggalan Izumo, aku segera mengambil tasku yang masih ada di bagasi. Aku menghela nafas berat. Sasuke membawa kami kembali ke rumah, sebelumnya ia bilang jika ada orang penting yang akan ia dan anak-anaknya temui. Entah mengapa perasaanku aneh sekali.

"Naruto!" Aku terlonjak mendengar seseorang menyerukan namaku. Aku melihat Iruka yang berkacak pinggang di depan pintu. Dia menyambutku? Tapi sepertinya tidak. Aku meringis ketika melihat wajahnya yang terlihat sangat garang sekali. Heeh, aku melakukan kesalahan apa?

"Iruka-san," Aku mengerjap. "Uh, oh, lama tidak jumpa." Aku membungkukkan tubuh, memberi hormat pada Iruka. Meskipun dia—uh—galak, namun aku sangat menghormati dan menyayanginya.

"Kau menjaga Tuan Muda juga Sasuke-sama dengan baik 'kan?" Aku langsung menegakkan tubuhku ketika mendengar pertanyaan sarkastik dari Iruka. Betapa hatiku terasa teriris mendengarnya. Dia tidak mau bertanya bagaimana kabarku dulu?

Aku mengangguk pelan, "Te—tentu saja aku menjaga mereka dengan baik, Iru—ouch!" Aku meringis kesakitan ketika Iruka menyentil dahiku. Wha—apa-apaan ini? "Iruka-san, salahku apa?" Aku mengerang tidak terima.

Tidak mendapat jawaban dari Iruka namun aku mendengar kikikkan dari beberapa pelayan yang ada dibelakang Iruka. "Itu tandanya dia rindu padamu, Naruto." Karin sontak berteriak.

Aku membulatkan mulutku tidak percaya. Dengan perlahan aku menatap Iruka. Oh, ia langsung mengalihkan pandangannya dariku. "Iruka-san, kau merindukanku?" Tanyaku tidak percaya.

Aku berusaha menahan tawaku ketika Iruka menatapku kesal namun ada semburat merah di pipinya. Ah, ini 'kah yang dinamakan tsundere? Aku kira ini hanya ada dalam anime atau manga saja. "Aku hanya memastikan jika kau menjaga Tuan Muda dengan baik." Aku tersenyum jahil melihat Iruka. "Sudah, lebih baik sana kau bereskan barang-barang Tuan Muda juga milikmu."

"Aku juga merindukanmu, Iruka-san." Aku berteriak setelah itu berlari kencang meninggalkan Iruka. Ketika aku menolehkan tubuh kebelakang untuk melihatnya, aku tertawa keras dan melambaikan tangan padanya. Tsundere, itu tsundere, haha.

Selepas membereskan semua perlengkapanku juga Shisui dan Obito, Sasuke menyuruhku menyusulnya di ruang keluarga. Okay, perasaan tidak enak yang tadi sempat hilang kembali muncul, dan sekarang ditambah dengan perasaan berdebar.

Aku menarik nafasku dalam-dalam, menghembuskannya dengan panjang. Telapak tanganku menepuk-nepuk dada dengan pelan. Apapun yang menyebabkan perasaan tidak enak ini muncul aku berharap segera menghilang. Aku melangkahkan kakiku dengan mantap menuju ruang keluarga.

Aku terhenti diambang ruang keluarga. Aku bisa merasakan mataku membulat ketika melihat Shisui dan Obito sedang bermain dengan lego mereka—ini sangat biasa. Hal yang tidak biasa adalah Sasuke juga ikut bermain lego bersama anak-anaknya.

Ah, dia memang sosok Ayah yang baik—heh, tunggu! Pikiran aneh macam apa yang terlintas di benakku yang innocent itu? Aku menggeleng, mencoba memfokuskan diriku. "Anou, Sasuke-san."

"Hn." Tanpa menoleh kearahku, dia masih sibuk menyusun legonya. Duo mini Uchiha juga dengan serius menatap Ayah mereka yang sedang membuat sesuatu. Mereka menghiraukanku—rasanya sakit, sungguh.

"Sasuke-san," Kali ini dengan intonasi yang lebih tinggi. Percuma, tidak ada yang mempedulikanku. Kalian trio Uchiha egois yang tega mengacuhkanku padahal dia—aku menatap Sasuke dengan geram—memanggilku kesini! "Maaf, tapi ada apa memanggilku kemari?"

Masih hening. Jika ini anime, pasti ada burung gagak terbang melintas diatas kepalaku. Okay, cukup, aku disini bagaikan hiasan dinding, ada namun tidak dianggap. Kalau begitu cara mereka, aku lebih baik meninggalkan mereka dan kembali menggoda Iruka hingga dia marah. Itu lebih baik daripada di—

"Jangan hanya berdiri. Kau ikut main."—hiraukan. Aku menatap Sasuke penuh tanda tanya. "Buat pesawat terbang bersama kami."

Aku termenung untuk sesaat berusaha mencerna apa yang Sasuke katakan padaku. Aku tidak ingin ikut bermain, tapi tidak ada pilihan lain—karena aku tidak bisa menolak—aku ikut mendudukkan diriku di samping Shisui dan—ugh—Sasuke.

Aku melirik si kembar melalui sudut mataku. Sedari tadi aku tidak mendengar Obito mengoceh. Anak itu 'kan biasanya sangat rewel, ia selalu ingin tahu segala hal, banyak bertanya, dan protes. Melihatnya diam dan menatap sang Ayah serius membuatku merasa aneh.

"Tousan, sayap pesawatnya harus seimbang." Aku menoleh kearah Shisui yang angkat bicara. Tangannya berusaha membetulkan letak sayap pesawat yang dipasang oleh Sasuke. Ia melepas sayap pesawat itu. "Ini miring nanti, Tousan."

"Hm? Tousan rasa ini benar." Sasuke mengangat lego pesawatnya agar Shisui tidak bisa menjangkau. Aku mengernyit mendengar Sasuke yang merasa dirinya sudah benar. Jujur saja, pesawat yang ia buat sama sekali salah—maksudku, mana ada sayap pesawat yang di belakang? Aku tahu Sasuke bukan arsitek tapi tidak sebegitunya 'kan?

"Uh, anou, Sasuke-san. Aku rasa Shisui-chan benar." Aku menyuarakan pendapatku. Aku sangat gatal ingin membongkar pesawat yang salah itu. "Sayap pesawat harusnya ada di samping bukan?"

"Kalau kata Obito pesawatnya bagus kok," Aku menoleh kearah Obito. Oh, mata bulatnya berbinar menatap pesawat lego yang Sasuke buat. "Jadi kapan Obito bisa main, Touchan?"

Hoo, aku mengangguk paham. Alasan kenapa Obito sedari tadi tidak bicara; ia menunggu sang Ayah menyelesaikan mainannya. "Tunggu, Obito. Tousan akan buat dari ulang." Sasuke berucap dengan wajah tanpa dosa. Sasuke membongkar pesawat itu dan disambut dengan lolongan kekecewaan Obito.

"Touchan kalau begitu kapan Obito main?" Obito menarik tangan Ayahnya, berusaha menghentikan Sasuke. Aku tersenyum dan mengusap punggungnya. "Nalu-tan, bilangin Touchan."

Bibirku terbuka, tidak tahu mau menjawab apa. Memangnya aku bisa apa? Aku meringis. "Uh, kita buat pesawat sendiri bagaimana? Aku bisa lho membuat pesawat dari kertas." Tawarku yang sebenarnya merupakan pengalih perhatian. Obito dan Shisui menatapku dengan raut wajah senang—gah, mereka sangat menggemaskan membuatku ingin mencubit-cubit wajah mereka.

Sasuke menggumamkan sesuatu yang tidak bisa aku dengar, raut wajahnya seperti kecewa, "Katanya kalian ingin Tousan yang membuatkan pesawat?" Wow, lihat wajah Sasuke, sepertinya dia merajuk. Ingin sekali aku memfotonya dan menjadikan itu sebagai blackmail untuknya. Aku dan si kembar tertawa melihat itu.

"Maaf mengganggu waktu anda, Sasuke-sama." Suara Iruka menghentikan tawa kami. Ia berdiri tidak jauh dari kami dan membungkuk hormat. Sejak kapan dia ada disana?

"Ada apa, Iruka?"

Raut wajah Iruka sepertinya terganggu akan sesuatu, sesaat ia mengalihkan wajahnya dari kami. "Sakura-sama datang kesini." Iruka menggeser tubuhnya beberapa langkah, menunjukkan sosok wanita anggun yang ada di belakangnya.

Sakura-san. Jantungku terasa berdetak lebih keras, sama seperti ketika kita berlari dengan cepat, namun ini diiringi rasa nyilu yang sangat tidak familiar. Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat, Sakura ada disana, berdiri dengan anggun dan sangat cantik.

Aku meneguk ludahku, tenggorokanku terasa amat kering. Sasuke, bagaimana dia—ah, dia terdiam menatap Sakura ketika aku menolehkan pandanganku padanya. Begitu pula dengan Shisui dan Obito.

Aku mendengar dehaman dari Sasuke. "Kau bisa keluar, Iruka." Dengan perintah Sasuke, Iruka membungkukkan kembali tubuhnya dan meninggalkan tempat ini, namun sebelum itu dia menoleh kearahku.

Aku menggigit bibirku. Lalu nasibku bagaimana? Aku perlahan bangkit dari dudukku, "Etto—Sasuke-san, maaf, aku akan per—"

"Kau diam disini, Naruto." Aku langsung kembali mendudukkan diriku. Seram, nada suara Sasuke seperti seoarang pemangsa, benar-benar membuatku takut, itu tidak bohong. "Sakura, kau boleh duduk jika kau mau."

Aku bisa melihat bibir berpoles lipstick terang itu bergetar, "Sasuke-kun," Ia melirih. Ia beralih pada Shisui dan Obito, "Mereka—"

"Nee, Touchan, dia siapa?" Obito mengguncang lengan Sasuke dengan kedua lengan kecilnya kemudian menunjuk Sakura. Pertanyaan itu terlontar dengan polosnya dari Obito. Dia benar-benar tidak mengenali Sakura.

Sasuke tersenyum membawa kedua anaknya dalam rangkulan, ia tersenyum pada mereka, "Dia yang ingin bertemu dengan kalian."

Obito melambaikan tangannya pada Sakura dengan ragu dalam rangkulan Sasuke, "Salam kenal, Obasan, namaku Obito." Dengan sopan, Obito memperkenalkan dirinya. Aku mengulum bibirku. Obasan, itu panggil Obito pada Ibunya, andai aku bisa melihat kedalam hati Sakura, aku ingin tahu perasaan wanita itu.

"Shisui?" Shisui mengalihkan pandangannya dari Sakura ketika Sasuke memanggil namanya—menyuruh Shisui untuk mengenalkan dirinya. Anak itu menyembunyikan wajahnya di dada Sasuke. "Shisui, kau tidak boleh begitu, itu tidak sopan."

Shisui menggelengkan kepalanya yang terbenam pada dada Sasuke. Ia tidak mau mendengarkannya. Sasuke menatapku seolah meminta tolong. Kenapa aku selalu diikut campurkan dalam masalah rumah tangganya?

Aku menghela nafas. "Shisui-chan," Panggilku berhati-hati. Aku mengelus surai ravennya. "Nee, jangan begitu. Ayo angkat wajahmu, Shisui 'kan pintar."

Shisui beralih ke rangkulanku, anak itu menatap Sakura, lalu menunduk. Malukah ia dengan Sakura? Aku tidak mengerti apa yang ia pikirkan. Shisui memang agak sulit dengan orang-orang disekitarnya. "Uchiha Shisui, senang bertemu dengan Obasan." Aku tersenyum dan mengecup pelipisnya, aku bisikkan kata pintar padanya.

"Senang bertemu dengan kalian, Shisui-kun dan Obito-kun," Aku menangkap getaran dalam ucapan Sakura—ia menahan tangisannya. Aku tidak berani menatapnya, mendengar suaranya saja sudah membuat hatiku nyilu. "Namaku Sakura—uh, Sasuke-kun?"

Ia diam menatap Sasuke, seolah minta persetujuan—atau bantuan—pada Sasuke. Aku memberanikan diri untuk mendongkakkan wajahku, aku melihat Sasuke yang terdiam menatap Sakura begitupun sebaliknya. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi.

Desahan berat terlontar dari Sasuke. Ia berdiri dari duduknya, ia juga mengajak Shisui dan Obito untuk berdiri. Aku yang berusaha menjaga sopan santunpun ikut membangunkan diriku dari duduk.

Ketika Sakura melangkah mendekati mereka bertiga, aku mengambil langkah mundur. Aku tidak akan mengganggu, tidak mau. Aku sangat sadar posisiku disini bukan suatu yang penting—aku hanya pengasuh disini. Aku berdiri disini sekarang hanya karena Sasuke memerintahkanku.

Sasuke membungkuk menyejajarkan tingginya dengan si kembar. "Shisui, Obito, dia ini Kaasan kalian." Dengan lembut ia menyentuh pundak anak-anaknya. "Shisui dan Obito tahu tidak Kaasan itu yang bagaimana?" Dengan penuh hati-hati Sasuke bertanya pada mereka.

Aku melihat anggukan dari Shisui dan Obito, namun mereka menoleh kearahku membuatku tersentak. Tidak lama mereka kembali memandang Sasuke. "Iya, aku tahu kok Tousan," Jawab Shisui. "Kaasan itu seperti yang teman-teman kita punya 'kan?"

"Kaachan yang sayang sama kita telus yang buat kita ada disini 'kan?" Sasuke mengangguk mendengar mereka. "Kata Neji-jichan dulu, Kaachan kita belum bisa beltemu sama kita, Touchan." Ah, ya, Neji. Aku sungguh terkejut, sama sekali tidak menyangka jika mereka ingat ucapan Neji waktu itu. Sasuke yang tidak tahu apa-apa, ia memandang anak-anaknya dengan keheranan.

"Sekarang Kaasan bisa bertemu sama kita," Shisui menatap Sakura. "Berarti sudah tidak sibuk lagi?"

Sakura menutupi mulutnya dengan punggung tangan, ia menyejajarkan tingginya dengan Shisui dan Obito. Aku bisa melihat matanya yang berkaca-kaca—terisak. "Iya. Kaasan sudah tidak sibuk lagi sekarang," Dengan nada suara yang bergetar, Sakura masih dapat tersenyum. Telapak tangannya mengusap surai raven mereka. "Kaasan rindu kalian."

"Kalian tidak ingin memeluk Kaasan?" Dengan tawaran dari Sasuke, si kembar langsung menjatuhkan diri mereka dalam pelukan Sakura.

Dadaku terasa sangat sesak ketika melihat mereka berempat—sebuah keluarga kecil yang bahagia. Aku bisa merasakan bibirku yang melengkungkan sebuah senyuman, namun entah mengapa tidak ada perasaan senang walaupun aku tersenyum. Aku mengalihkan pandanganku dari mereka berempat. Tidak seharusnya aku ada disini.


Sakura menatapku dengan tatapan sama seperti ketika pertama kali kami bicara di taman, dia sepertinya tidak menyukai kehadiranku. Apa masalahnya? Aku—sedikitnya—sudah membantu ia untuk bertemu dengan anak-anaknya dan berhasil, namun ia masih menatapku begitu.

"Anou, ini milik Shisui dan Obito," Aku menyerahkan ransel berisi keperluan si kembar pada Sakura. "Semuanya sudah ada di dalam, aku juga sudah membuatkan cemilan untuk kalian, jaket dan susu untuk mereka juga ada di dalam. Jika mereka minta hal yang aneh, tolong—"

"Ya, ya, aku sudah tahu." Sakura mengibaskan tangannya. Ia memotong ucapanku dengan nada terganggu. "Bagaimanapun aku ini Ibu mereka," Ia menepuk dadanya. "Aku juga tahu apa yang anak-anakku butuhkan."

Jika ingin jujur, aku benci sekali dengan ucapannya. Tapi toh kenyataannya memang begitu. Aku membungkukkan tubuhku meminta maaf, walaupun aku tidak menyukai hal itu, aku tetap harus bersikap sopan. "Sumimasen, Sakura-san."

Helaan nafas keluar dari Sakura. "Tidak perlu meminta maaf dariku, Naruto." Ketika aku mendongkak melihatnya, Sakura menundukkan paras cantiknya itu seolah tidak ingin menatapku. Ketika ia kembali mendongkakkan wajahnya, ia menyampirkan rambutnya yang menyentuh wajah ke telinga. Harus aku akui, dia cantik. "Aku—uh, terimakasih."

Dia barusan bilang apa? Rasanya ingin sekali mengorek telingaku untuk memastikan jika aku tidak salah dengar. "Terimakasih banyak kau telah membantuku." Ia bersemu. "Berkatmu aku dapat bertemu dengan mereka, dan Sasuke-kun sepertinya memaafkanku!" Girangnya.

Aku tersenyum melihat wajah Sakura yang berseri bahagia. "Aku tidak melakukan apa-apa, Sakura-san. Lagipula Shisui dan Obito sepertinya sangat senang bertemu denganmu. Mereka juga menyukaimu. Syukurlah."

Sakura menangkupkan telapak tangannya, garis matanya melengkung bahagia. "Aah, ditambah hari ini Sasuke-kun juga mau ikut dengan kami, aku benar-benar senang! Terimakasih banyak, Naruto."

Melihat Sakura sangat senang seperti itu entah mengapa sangat membuatku lega. Sekelebat bayangan ia yang meminta tolong padaku dan menangis membuatku miris untuk sesaat. Aku bisa membantu seseorang, itu rasanya sangat luar biasa.

Oh, iya, Sakura mengajak Shisui dan Obito untuk berjalan-jalan bersamanya. Tentu saja si kembar langsung setuju—terutama Obito yang langsung melompat-lompat kegirangan sehingga membuat aku gatal ingin mengikatnya. Sakura bilang ia ingin sekali membayar waktu-waktunya yang terbuang bersama dengan Shisui dan Obito.

Lalu bagaimana dengan Sasuke? Surprisingly, dia setuju dengan ajakan Sakura. Aku tahu kok sebetulnya Sasuke itu baik—sangat baik. Hanya saja kadar jahatnya lebih banyak.

Sasuke itu sangat sayang dengan anak-anaknya. Salah satu kelemahannya yang aku ketahui adalah Shisui dan Obito. Jika saja ini disebuah film, dan plotnya adalah si kembar diculik, maka Sasuke akan jadi hero. Ah, back to topic. Jadi, mereka akan pergi berempat dan aku—

"Naru-chin tidak ikut?" Aku menoleh kearah Shisui. Ia sedang menarik-narik ujung bajuku. Tentu aku tidak ikut—aku tidak mau menjadi penonton yang pasti akan terabaikan.

Aku berusaha tersenyum lebar. "Tidak." Surai raven Shisui aku acak dengan telapak tanganku dan itu membuat ia protes. Aku membungkuk membetulkan sweater bebek yang ia pakai. "Lagipula ada Kaachan kalian yang menjaga kalian. Shisui-chan nanti harus menjaga Obito-chan, okay?"

Sesaat aku bisa melihat pipi Shisui menggembung, namun tergantikan kembali dengan wajah sok tidak pedulinya. Aku tersenyum dan menusuk pipi Shisui dengan telunjukku. "Aku tidak mau menjaga Obito, dia berisik. Biar nanti Tousan yang menjaga."

"Nalu-tan!" Panjang umur sekali Obito. Dia berlari kearahku membuatku meringis dalam hati takut anak itu terjatuh. Obito, hari ini kau benar-benar membuat jantungku lemah. Ia memeluk kakiku—karena tingginya hanya sampai kakiku saja—dengan erat. "Nalu-tan ayo ikut sama kita."

Aku memasang wajah sedang berpikir, jariku berada di dagu. "Hmm, bagaimana ya?" Aku tersenyum lebar lalu menggeleng. "Tidak, terimakasih."

"Yaaah," Anak itu menyuarakan kekecewaannya. Obito menghentak-hentakkan kakinya. Dia kekanakan sekali. "Memang Nalu-tan gak mau ikut sama kita juga Kaachan?"

Aku bergetar ketika merasakan ada aura yang sangat dingin dan mengancam. Oh, Sakura-san menatapku. Tenang saja, aku tidak akan mengganggu kalian—ingin sekali aku mengatakan hal ini. "Obito-chan 'kan nanti ditemani Kaachan dan Touchan, lalu ada Anikimu juga."

Obito tidak menjawab, dia merajuk. Bibirnya dimajukan, mungkin dia pikir itu menggemaskan—yah, aku benci mengakuinya, memang menggemaskan sih—tapi dia ingin merajuk bagaimanapun aku tetap tidak bisa ikut.

"Jangan merajuk begitu." Itu bukan aku yang mengatakannya, melainkan Sasuke yang tiba-tiba muncul dan langsung menggendong Obito. Ia berbalik menatapku "Kami pergi dulu, Naruto."

Entah mengapa seolah ada yang memberontak dalam diriku untuk menahan mereka tetap bersamaku. Jangan biarkan mereka pergi. Aku harus menghilangkan pikiran seperti itu. Aku menarik nafasku dalam, tersenyum pada mereka. "Hum. Kalian hati-hati ya."

Obito masih merengek meminta aku ikut pergi. Tangannya berusaha menggapai-gapai padaku dalam gendongan Sasuke. Shisui yang digandeng oleh Sakura melambaikan tangannya padaku. Ah, apa-apaan semua ini, mereka hanya pergi untuk jalan-jalan, mengapa jadi sesedih ini?

"Kau—bisa berjalan-jalan juga dengan teman-temanmu," Aku menaikkan alisku ketika Sasuke dengan tiba-tiba mengatakan itu. "Aku dan anak-anak tidak akan pulang terlalu larut."

Aku mengerjapkan mataku tidak mengerti. "A—ah, baiklah. Aku akan ada di rumah ketika kalian pulang." Pembicaraan ini sepertinya aneh. Aku tersenyum canggung. "Kalau begitu semoga Sasuke-san menikmati liburanmu."

"Ittekimasu."

Aku membungkukkan tubuhku, lalu aku melihat padanya dan tersenyum. "Itterasshai."

Harusnya aku senang jika Shisui dan Obito tidak menggangguku. Mereka hanya monster-monster kecil yang selalu menggangguku, mereka bagaikan titisan Satan yang selalu membuatku kesal dan merasa hidup di neraka. Aku tidak suka anak kecil, aku tidak suka mereka, aku—

Tidak suka mereka yang meninggalkanku.

Aku merutuk dalam hati. Perasaan dan pikiranku sudah tidak sinkron. Aku tidak mau terlalu menyayangi si kembar—ataupun Sasuke—karena aku tahu, pada akhirnya aku juga akan keluar dari sini cepat atau lambat.

"Wanita itu mengesalkan!" Gerutuan itu membuat aku menoleh. Yap, siapa lagi kalau bukan Karin dengan wajahnya yang memerah sama seperti rambutnya. "Kemarin datang dan marah-marah, sekarang dengan seenaknya mengambil perhatian Sasuke-sama dan Tuan Muda."

"Ugh, aku juga tidak menyukainya." Raut wajah Sasame mengeras. Dari nada suaranya aku bisa tahu dia sangat terganggu. "Kenapa Sasuke-sama memperbolehkannya bertemu dengan anak-anaknya sih?"

Aku terkekeh mendengar demo mereka. "Kenapa kalian kelihatan marah begitu?" Tanyaku menggoda. "Sakura-san 'kan Ibu mereka, bukannya bagus jika Sasuke-san membiarkan Shisui dan Obito bertemu dengan Ibu mereka?"

Karena yang aku ucapkan tidak sesuai lagi dengan hatiku. Sigh. Betapa aku benci pada diriku sendiri.

"Apa-apaan itu, Naruto! Kau kelihatan biasa sekali?" Aku hanya tersenyum maklum mendengar gerutuan Karin. "Harusnya kau marah. Kau 'kan yang paling dekat dengan para Tuan Muda, kau yang mengurus mereka. Dia tidak melakukan apa-apa, seenaknya langsung membawa Tuan Muda jalan-jalan dan tidak mengajakmu."

"Iya, iya! Aku tidak suka dia mengambil perhatian Sasuke-sama dan anak-anaknya darimu, Naruto-san!" Sasame mengepalkan tangannya menyetujui ucapan Karin. "Naruto-san lebih pantas dengan Sasuke-sama dibanding wanita itu."

"Apa?" Aku tidak salah dengar 'kan? Aku menatap Sasame dengan penuh tanda tanya. "Sasame-san, apa maksudnya?"

"A—ah, astaga! I—itu, maksudku—" Gadis itu terbata dan langsung menutupi wajahnya. Oh, aku bisa melihat telinganya yang memerah. "—MAAFKAN AKU." Ia membungkuk dalam-dalam padaku.

Mereka membuatku bingung. "Tidak perlu meminta maaf, Sasame-san." Aku mengibaskan tanganku. Ketika ia menegakkan tubuhnya dan menatapku, wajahnya sepertinya malu akan sesuatu. "Lagipula aku tidak tahu apa maksud Sasame-san."

"Gah, kau bodoh, Naruto!" Aku mengaduh ketika Karin menoyor kepalaku. "Aku juga Sasame lebih mendukung kau dengan Sasuke-sama. Kau ini pura-pura bodoh atau memang bodoh?"

EEEEEH! Apa—tadi Karin bilang apa? "Kenapa?" Tanyaku frustasi. "Kenapa mendukung aku dengan Sasuke-san?"

Karin dan Sasame bertukar pandang. Mereka menangkupkan tangan, dan aku yakin mata mereka sepertinya berbinar. "Kau 'kan menyukai Sasuke-sama, begitu juga sebaliknya." Asumsi darimana itu?

"Kami mendukungmu, Naruto-san!" Jeritan bahagia mereka membuat aku sweatdrop. Tidak! Bagaimana mereka bisa menyimpulkan seenaknya jika aku menyukai Sasuke? Kenapa mereka menjadi fangirl dadakan? Oh, ayolah, Sasuke itu jauh lebih tua dariku dan dia sudah memiliki dua orang yang mengekorinya.

"Tapi aku tidak begitu." Bantahku sekuat tenaga. Mereka berdua menatapku dengan tatapan membunuh—hanya Karin sebetulnya. Aku meneguk ludahku sendiri.

"Argh! Naruto, kau jangan mengelak." Aku memundurkan tubuhku ketika Karin dengan sadis mengepalkan tangannya ke wajahku. "Aku tahu kau sebenarnya juga suka dengan Sasuke-sama. Benar 'kan?"

Itu tidak terdengar seperti pertanyaan di telingaku, itu pemaksaan! Aku menggeleng. "Ti—tidak, Karin, aku rasa aku tidak—"

"Kenapa kau sulit sekali sih?" Mengerikan, Karin mengacak rambutnya sendiri. "Aku pikir kau—"

"Apa-apaan keributan ini?" Nafasku tercekat ketika mendengar itu. Dengan perlahan, aku menengokkan wajahku pada orang itu.

"I—Iruka-san!" Kami bertiga sontak langsung membungkuk sopan. "Angkat wajah kalian dan tatap aku." Perintahnya.

Nafasku tercekat karena takut. Sial, wajah Iruka mengingatkan aku pada Onni, sepertinya dia siap memakanku. "Karin dan Sasame, sana kalian selesaikan pekerjaan kalian."

"A—ah, baik, Iruka-san!" Dengan itu kedua gadis yang menuduhku menyukai Sasuke itu langsung lari. Mereka tadi menyeramkan, namun mereka tetap kalah dengan Iruka, haha.

"Ehm, Naruto." Senyumku langsung luntur. Aku menatap Iruka dan tersenyum canggung. Apa aku juga akan kena omelan?

"Etto, Iruka-san. Karena Shisui dan Obito sedang tidak ada dirumah, bolehkah aku istirahat di kamarku?" Aku menggaruk pipiku dengan jari lalu menatapnya ragu. "Atau kalau kau membutuhkan aku, aku bisa ikut membantu kok!"

Iruka tidak menjawab dan itu membuatku merasakan kontraksi di perutku karena rasa takut. Wajahnya seperti menyiratkan sesuatu namun aku tidak mengerti sama sekali. "Naruto, kau anak yang baik."

"Huh?" Untuk kesekian kalinya hari ini aku terkejut. Aku tahu aku anak yang baik dan mudah disukai banyak orang. "Anou, maksud Iruka-san apa?"

Kepalaku tertunduk ketika telapak tangan itu mengusap kepalaku, Iruka membelaiku. What the—"Aku tahu kau sangat sayang pada mereka, Naruto."

"Sayang pada siapa?" Aku menyuarakan kebingunganku.

"Kau yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan mereka, aku mengerti perasaanmu." Iruka seperti prihatin denganku namun aku tidak tahu apa yang harus dia prihatinkan dariku. Aku merasa sangat baik dan bersahaja. "Kau boleh istirahat jika kau mau."

Aku termangu ketika ia memelukku sesaat lalu berjalan meninggalkanku. Mereka membuatku sangat bingung. Aku menaikkan bahuku, tujuanku adalah kamarku.

Jika memang si kembar sedang bersenang-senang dengan Ibu mereka begitu pula dengan Sasuke maka tidak ada yang perlu aku khawatirkan. Aku juga akan bersenang-senang dengan caraku sendiri dan tidur adalah jalan terbaik.

Sesampainya di kamarku aku tanpa basa basi menjatuhkan diri pada tempat tidur. Aku menenggelamkan wajahku pada bantal. Entah mengapa rasanya aku ingin berteriak kuat-kuat sehingga perasaan anehku ini keluar.

Baru hendak aku melakukan tindakan bodoh—berteriak—dering ponselku mengusikku. Aku menggeram kesal, tanganku berusaha mengambil ponselku di saku celana. Tanpa ada niat melihat siapa yang menghubungiku aku langsung mengangkatnya dan menempelkan ponselku ke telinga.

"Hallo?" Siapapun kau diseberang sana, aku membencimu karena memperburuk moodku.

"Sepertinya kau tidak suka aku ganggu."

Aku sontak mendudukkan diriku. Dadaku berdegup dua kali lipat dari biasanya. Suara ini—aku langsung menarik ponselku untuk melihat nama penelfonnya. "Itachi!" Pekikku. Aku tarik kata-kataku, aku tidak membencimu.

"Haha, kau tidak perlu memekik begitu. Telingaku bisa sakit."

Jangan tanyakan aku kenapa sekarang pipiku terasa memanas. Tawa yang aku dengar dari seberang sana terasa sangat nyata dan dekat. Aku tersenyum. "Ini semua salah Itachi-nii 'kan. Selalu saja tiba-tiba tidak ada kabar."

Itachi yang beberapa hari lalu aku lihat berjalan dengan sepupuku dan sempat membuatku tidak karuan, namun sekarang ketika ia menghubungiku aku sama sekali tidak bisa marah bahkan kesal sekalipun.

"Maaf ya. Banyak yang harus aku urus." Aku mendengar helaan nafas darinya. "Oh, kau sedang senggang, Naruto?"

Aku menggumam. "Hmm. Yap. Aku sedang senggang." Jawabku. "Anak-anak asuhku sedang pergi keluar bersama Ibu juga Ayah mereka, jadi aku diberikan waktu senggang."

"Begitu ya. Kalau begitu mau jalan bersamaku hari ini?"

Aku diam. Jalan dengan Itachi, kapan terakhir kali, ya? Aku mau sekali, aku ingin bertemu dengan Itachi, mengobrol secara langsung dengannya. Aku tidak bisa menyangkal jika aku merindukan dia. "Maaf, sepertinya tidak bisa."

Itachi mendesah, "Ah, sayang sekali." Walau aku tidak melihat wajahnya secara langsung aku tahu ia kecewa. "Aku sangat ingin bertemu denganmu. Apalagi ketika tahu kau sedang sedih."

"Huh?" Kenapa dia bisa berspekulasi begitu? "Kenapa Itachi-nii bisa bicara aku sedang kesal?"

"Karena aku seorang peramal." Bisa aku pastikan mulutku terbuka lebar. Ia terkekeh. "Jadi berniat membagi kesedihanmu padaku?"

Ah, Itachi sungguh baik, itulah yang membuat aku suka padanya—selain karena dia tampan. Tapi menceritakan kegelisahanku padanya bukanlah hal yang bagus. Ia sudah banyak membantuku, untuk menceritakan masalahku padanya yang bukan apa-apa tidaklah bagus. "Tidak kok, tidak ada masalah."

Tidak ada jawaban. Aku melihat layar ponselku, masih terhubung. "Itachi-nii?"

"Suaramu bergetar, Naruto." Aku menyentuh leherku ketika mendengarnya. "Aku sudah cukup berpengalaman. Ketika nada suaramu bergetar itu memiliki beberapa arti, kau berbohong, kau menahan tangis atau amarah, kau takut, atau semua opsi yang aku katakan tadi benar."

Bahkan aku saja tidak tahu jika suaraku bergetar, tapi Itachi bisa bicara seperti itu padaku. Aku berbohong padanya jika aku baik-baik saja, okay itu benar. Aku menahan tangis atau amarah? Tentu tidak! Coba pikirkan, mengapa aku harus menangis atau menahan amarah?

Marah karena mereka bertiga pergi bersama Sakura—TIDAK! Aku langsung menggeleng. "Tidak, tidak." Elakku. "Aku baik-baik saja, Itachi-nii."

"Hmm, coba aku tebak kembali." Oh, Itachi, kenapa kau begini? "Jangan-jangan kau menyukai Ayah dari anak asuhmu?"

Ayah dari anak asuh yang dia maksud itu—"Sasuke-san!" Aku memekik. "Tidak, Itachi-nii. Aku sama sekali tidak menyukai Sasuke-san. Aku tidak bisa menyukai Sasuke-san, dia itu yang menggajiku dan juga dia Ayah dari anak-anak asuhku, lalu—"

"Ow, ow, calm down, Naruto." Aku menghembuskan nafasku, entah mengapa rasanya adrenalinku meningkat. "Kau tidak perlu bicara secepat itu."

"Uh, maaf, aku tidak sadar." Aku menunduk malu.

Itachi terkekeh lembut dan itu sangat menenangkan ditelingaku. "Jadi kau menyukai Sasuke itu? Kenapa kau tidak katakan saja padanya?"

"Tidak, aku tidak menyukai Sasuke-san! Aku menyukai—" Menyukaimu. Tidak mungkin aku menyatakannya pada Itachi. "Aku tidak menyukai Sasuke-san, sungguh!"

Mungkin. Hey, darimana datangnya mungkin itu?

"Oh, ya?"

Aku dengan bodohnya mengangguk. Itachi tidak akan bisa melihat anggukanku, aku merutuk. "Iya. Lagipula Sasuke-san itu sudah kembali pada mantan istrinya." Tubuhku terasa sangat lemas. Ya, Sasuke pasti akan kembali pada Sakura.

"Jadi jika dia tidak kmbali pada mantan istrinya, kau mau apa?"

Aku mau apa? Tentu saja aku tidak akan melakukan apa-apa. Sasuke memang mengatakan jika ia menyukaiku—entah sudah berapa kali dan aku juga tidak tahu ia serius atau tidak. Tapi aku yakin, Sasuke akan lebih memilih Sakura.

Sakura, dia cantik dan pintar. Walau sifatnya sedikit membuat jengkel, namun untuk bersanding dengan Sasuke, mereka sangat cocok.

Aku meremas bantal dipangkuanku. Sejak awalpun aku dan Sasuke tidak ada hubungan spesial begitu juga untuk kedepannya. "Aku tidak akan melakukan apa-apa." Helaan nafas keluar. "Aku rasa aku juga harus segera mencari pekerjaan baru."

"Kenapa harus mencari pekerjaan baru?"

Pertanyaan Itachi mmbuat aku tersenyum kecut. "Tentu saja karena sebentar lagi aku tidak dibutuhkan, haha." Aku mencoba tertawa—terdengar seperti menertawakan diri sendiri. "Mereka sudah tidak memerlukan pengasuh lagi."

Itachi tidak menjawab. Mungkin dia berpikir jika aku akan meminta bantuannya lagi untuk mencari pekerjaan atau akan merepotkannya lagi. Tentu saja tidak akan, ia sudah cukup membantuku. "Ah, tapi sebelum aku mencari pekerjaan baru aku akan pulang dulu ke rumah orangtuaku."

Aku merindukan mereka, aku akan meminta maaf dulu pada mereka setelah itu baru mencari pekerjaan baru lagi. Aku yakin mereka akan mengusirku. "Itachi-nii, kau masih disana?"

"Sepertinya kau sangat yakin akan dipecat." Aku mengernyit mendengarnya. Itachi terdengar kesal?

"Uh—entah?" Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku rasa memang aku sudah tidak akan dibutuhkan lagi, toh sudah ada Sakura yang akan mengurus si kembar.

"Naruto, kau benar-benar naif." Aku langsung berseru tidak setuju. "Cobalah untuk tidak menyangkal perasaanmu yang sesungguhnya, Naruto."

A—apa katanya? "Perasaanku yang sesungguhnya?" Gumamku. "Aku tidak mengerti."

"Kau ini sangat mudah dibaca. Kau seperti sebuah buku yang terbuka, setiap orang bisa membacamu dengan mudah kecuali dirimu sendiri."

Itachi benar-benar membingungkanku. "Maksudmu?" Aku menggaruk pelipisku. "Perasaanku yang sesungguhnya 'kan hanya aku yang tahu."

"Memang benar. Tapi kau selalu menyangkalnya."

"Aku tidak—"

"Kau baru saja menyangkalnya." Oh, entah mengapa aku bisa membayangkan Itachi sedang menyeringai. "Sekarang jujur pada perasaanmu sendiri, okay?"

"Huh. Ba—baik." Aku menurut pasrah.

"Sepertinya kita harus menyudahi obrolan kita." Aku mendengar desahan kecewa. "Ada yang harus aku lakukan setelah ini. Sayang sekali kita tidak bisa bertemu."

Aku menahan diriku untuk tidak menunju bantal. Aku kesal, obrolan ini terlalu singkat padahal aku masih mau mengobrol dengan Itachi. "Huuh, padahal aku merindukanmu, Itachi-nii." Aku menyuarakan ketidaksukaanku. "Aku harap kita bisa mengobrol lebih lama."

"Maaf ya." Nada suara Itachi melembut dari sebelumnya. "Lain kali jika kita bertemu aku akan mentraktirmu—" Jeda sesaat. "—Maaf, aku harus pergi sekarang."

"Baiklah, janjimu aku pegang ya!" Aku tertawa. "Hati-hati, Itachi-nii."

Setelah itu Itachi memutuskan panggilan kami. Aku dengan kasar membanting tubuhku untuk kembali tidur, ponselku aku geletakkan disamping bantal.

Jangan menyangkal perasaanku yang sesungguhnya, itu kembali terngiang di kepalaku.

Aku menutup mataku dengan tangan. Perasaanku pada siapa? Pada Itachi jelas aku menyukainya. Itachi sangat baik, dia membantuku, dia hangat dan sangat mudah dicintai—menurutku. Sangat mudah untuk jatuh cinta pada pria seperti Itachi.

Lalu dengan Sasuke? Dia duda tampan, Ayah dari sepasang anak kembar yang nakal, ia yang mempekerjakanku, yang memberiku makan dan tempat tinggal. Dia yang bilang menyukaiku namun sekarang ia malah pergi dengan mantan istrinya—ARGH!

Tunggu, sejak kapan aku menggigiti bantal? Aku segera menjauhkan bantal dari wajahku. Calm down, Naruto. Kau tidak perlu semarah itu karena memikirkan Sasuke sedang bersama Sakura. Mereka itu sepasang suami-istri—ugh, mantan. Tapi pasti ada kemungkinan jika Sasuke dan Sakura kembali membangun Rumah Tangga 'kan?

Argh, persetan dengan semua itu! Aku membenamkan wajahku pada bantal dan berteriak. Aku tidak mau memikirkan hal itu.


Sore hari sekitar pukul lima aku keluar dari kamarku. Karena merasa diriku sudah harum—karena mandi—aku memutuskan mencari Iruka. Tidak ada Sasuke dan anak-anaknya membuat para maid santai, bahkan beberapa dari mereka duduk bergosip sambil minum teh. Aku tersenyum miring, ah betapa santainya hari ini.

Langkahku menuju ke dapur, aku melirik sebentar untuk melihat keberadaan Iruka namun nihil. "Sasame-san, dimana Iruka?" Aku bertanya pada Sasame yang sedang mengelap piring.

Sasame menghentikan kegiatannya. Ia menerawang seperti mencoba mengingat sesuatu. "Hmm, tadi Iruka-san bilang dia ingin istirahat sebentar di taman belakang."

Aku mengangguk. "Terimakasih ya." Aku melambaikan tanganku padanya lalu kembali berjalan ke taman belakang.

Aah, Ini masih jam lima sore, hari terasa sangat lama sekali. Apa karena tidak ada yang aku kerjakan, waktu jadi terasa sangat lambat. Kira-kira apa yang sedang mereka lakukan ya? Aku menggeleng. Tidak, tidak, kau tidak perlu mencemaskan Shisui dan Obito, Naruto. Mereka sedang bersenang-senang.

Sesampainya di taman, mataku menangkap Iruka yang sedang menyirami bunga sambil bersenandung kecil. Aku tersenyum jahil, dengan mengendap-endap aku berjalan mendekatinya. "Boo!"

"Akh!" Ia melompat terkaget dan menjatuhkan watering can yang ia pegang. "Naruto!" Geramnya setelah melihatku.

Aku tertawa canggung menggaruk tengkukku. "Maaf, Iruka-san." Aku membungkuk sedalam mungkin meminta maaf. Aku kembali menegakkan tubuhku. "Iruka-san sepertinya hari ini kita santai sekali."

"Iya begitulah." Ia melepas sarung tangan, menepuk tangannya untuk membersihkan tangannya. "Tuan Muda sedang tidak ada jadi kita sedikit lebih santai." Ia tersentak seperti mengingat sesuatu. "Ah! Sasuke-sama juga bilang jika ia akan pulang larut sehingga kita tidak perlu menyiapkan makan malam. Maka dari itu kita semua santai."

Sasuke dan anak-anak akan pulang larut? Oh, hell, entah mengapa seperti dadaku seperti tertimpa beban berat, sangat sesak. "Begitu 'kah?" Sebegitu menyenangkannya sehingga mereka menolak makan malam di rumah.

"Naruto, kau okay?" Aku menatap Iruka yang terlihat cemas. "Kau mengkhawatirkan mereka?"

Aku tersenyum, namun rasanya wajahku kaku untuk itu. "Tidak kok." Aku menggeleng. "Shisui dan Obito bersama Ayah dan Ibu mereka. Aku tidak punya alasan untuk khawatir pada mereka." Aku mengusap pipiku canggung. "Aku yakin mereka berdua sangat menikmati hari ini."

Aku sangat yakin. Apakah ada anak kecil di dunia ini yang tidak senang jika pergi bersenang-senang dengan orangtua mereka? Tentu tidak ada—atau ada, entahlah. Terutama si kembar yang baru bertemu dengan Ibu mereka. Mengingat wajah mereka saat bersama Sakura tadi sudah cukup meyakinkan aku—

Jika mereka tidak lagi membutuhkanku.

Nafasku tercekat, aku segera menutup mulutku dengan telapak tangan. "Iruka-san, se—sepertinya aku harus membereskan kamar Tuan Muda." Aku menunjuk kearah belakang, random. Aku berusaha sebisa mungkin menekan suaraku agar tidak bergetar. "Permisi."

Tanpa menatap Iruka, aku membungkuk. Secepat yang aku bisa aku berlari meninggalkan Iruka yang menyerukan namaku. Aku tidak tahu, aku hanya ingin menjauhi orang-orang sekarang. Aku benci hal ini, ketika sisi lemahku keluar dan seperti ingin menangis sekuat mungkin.

Sama seperti ketika mengetahui Sasori membohongiku. Dia memanfaatkanku lalu membuangku ketika ia sudah tidak memerlukanku. Saat itu aku sangat kesal, sisi lemahku keluar. Aku menangis seperti anak kecil yang kehilangan sesuatu yang ia sukai.

Sekarang ketika aku menyadari jika aku sudah tidak dibutuhkan lagi, rasanya sama sakit dengan waktu itu—tidak, jauh, jauh, lebih sakit. Mungkin untuk kedua kalinya aku akan terbuang.

Jika saat itu Itachi adalah penyelamatku. Lalu, siapa penyelamatku sekarang? Apa mungkin Itachi akan menolongku lagi? Orangtuaku?

Sasuke-san? Aku tertawa miris. Tidak mungkin.


Aku mengedipkan mataku yang terasa perih. Sudah berapa lama aku memelototi jam dinding sehingga rasanya mataku sangat kering begini? Dan harus berapa lama lagi aku menunggu mereka pulang, astaga!

Aku memutar kepalaku. Sial, leherku kaku karena terlalu lama mendongkak. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh lima menit, sudah selarut ini dan mereka berempat belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Terkutuklah Sasuke yang tidak mengabari aku—err, Iruka maksudku—kapan ia akan pulang. Shisui dan Obito 'kan tidak boleh tidur terlalu larut, God!

Aku menyandarkan tubuhku pada sofa. Yep, aku terduduk sendirian di ruang tamu menunggu mereka pulang. Beberapa pelayan sudah beristirahat, hanya ada aku, Iruka, dan satpam yang masih terjaga. Oh, kemana perginya Iruka?

Saat aku memutuskan untuk memejamkan mataku sejenak—aku sangat mengantuk—aku mendengar suara mesin mobil memasuki rumah. Ah, itu mereka. Aku melirik kearah jam, menyadari jika aku sempat tertidur selama lima belas menit. Aku langsung berdiri dan berjalan keluar untuk menyambut mereka.

Itu dia! Aku menggerutu dalam hati. Aku mencoba menyembunyikan kekesalanku ketika aku melihat Sasuke yang berjalan mendekatiku sambil menggendong si kembar yang tertidur. Disana ada Iruka yang membawa barang-barang yang ia ambil dari bagasi.

"Tadaima, Sasuke-san." Aku membungkuk hormat padanya ketika ia berada di depan pintu masuk. "Biar aku bantu membawa Shisui dan Obito ke kamar mereka."

Sasuke bukannya menjawabku, ia malah menatapku dan tatapannya membuat aku tercekat. "Tolong angkat Shisui. Obito terlalu kuat mencengkramku."

Dengan hati-hati aku membawa Shisui dalam gendonganku. Kepala anak ini tersandar di bahuku membuat aku bisa dengan jelas mendengar nafas teraturnya.

Aku mengikuti Sasuke yang masuk kedalam rumah setelah sebelumnya tersenyum pamit pada Iruka. Baik aku maupun Sasuke sama sekali tidak ada yang membuka percakapan. Aku, entahlah, terlalu sebal melihat wajah Sasuke. Aku menguatkan dekapanku pada Shsiui.

Sesampainya di kamar si kembar aku langsung membawa Shisui ke tempat tidurnya, membariringkannya dengan sangat hati-hati, dan melepas sepatu yang ia pakai. Aku menuju lemari, mengambil piyama milik Shisui dan juga Obito. "Sasuke-san, biar aku yang menggantikan pakaian mereka."

Aku menatap Sasuke yang terdiam di samping ranjang Obito. Sial, ia menatapku seperti itu lagi. Aku mencoba mengalihkan pandanganku. "Eetto, Sasuke-san bisa istirahat langsung."

Bulu kudukku berdiri, horor, aku bisa merasakan tatapan Sasuke. Aku meneguk ludahku. Rasanya menggantikan baju Shisui saja sangat sulit, ugh.

Setelah mengganti pakaian Shisui dengan piyama aku harus mengganti pakaian Obito. Oh, aku benar-benar tidak siap untuk ini, Sasuke masih berdiri dan—MENATAPKU DENGAN ALIS MENGERUT! Aku menggeleng. "Aanou, Sasuke-san, aku harus mengganti pakaian Obito."

"Hn."

Dengan jawaban singkat itu, aku dengan takut-takut mengganti pakaian Obito dengan piyama. Sesekali aku melirik Sasuke melalui ujung mataku, ia menyilangkan tangannya di dada, terlihat seperti mandor yang mengawasi pegawainya bekerja. Ah, aku merasakan sebulir keringat muncul di pelipisku.

"Kau sudah mau tidur?" Tubuhku menegang mendengarnya bicara. Sasuke bertanya dengan nada serendah itu, ia tidak ingin membuat anak-anaknya bangun.

"Uh, iya." Aku mengusap tengkukku canggung. "Tapi jika Sasuke-san ingin sesuatu bilang saja, saya bisa lakukan sekarang."

Ia langsung menarik tanganku membuatku terdorong kedepan hampir menabraknya. "Ikut denganku sebentar." Ia menarikku kuat, memaksaku untuk mengikuti langkahnya.

"Ouch—! Sasuke-san, tunggu, aku bisa terpeleset." Protesku ketika aku hampir jatuh terpeleset. Untung pegangan Sasuke pada tanganku cukup kuat. Tapi sangat sakit! "Sasuke-san, tolong berhenti!"

Oh, ini sangat deja vu, dia juga pernah menarikku begini. Ini hobinya 'kah? "Ssh, jangan berisik, hampir semua orang sudah tidur."

Aku langsung membungkam mulutku. Sasuke mengatakan itu dengan nada memerintah yang sangat ketara. Namun itu tidak berlangsung lama, Sasuke ternyata membawaku ke depan kamarnya. Tunggu, tunggu! Sasuke tidak mungkin melakukan sekuhara padaku 'kan?

"Sa—Sasuke-san jika anda ingin tidur silahkan saja." Aku berusaha sekuat mungkin melpaskan pegangan Sasuke di pergelangan tanganku. "Saya akan kembali ke kamar saya—hiii!"

Terlambat. Aku menjerit dalam hati. Sasuke membanting pintu kamarnya, ia menarikku bersamanya masuk ke kamarnya, setelah itu ia menutup pintu itu dengan kasar, menimbulkan suara debuman keras yang membuatku menutup mata.

Aku tidak mungkin mati disini, aku tidak mungkin mati disini. Aku berdoa dalam hati agar Sasuke tidak melakukan apa-apa padaku. Ia berjalan kearahku melewatiku menuju ke nakas samping tempat tidur berukuran kingsize miliknya. Ia mengambil remote pendingin ruangan, aku bisa mendengar suara pendingin ruangan yang menyala.

"Melelahkan sekali." Dia bicara pada siapa? Aku meneguk ludahku ketika melihat Sasuke melepas blazer yang ia pakai dan melemparkannya tepat ke kasur. Aku menengok sesaat pada blazer itu, kemudian menatap Sasuke kembali.

"Uh, anou, Sasuke-san." Aku berdehem. Entah mengapa suaraku seperti tercekat. Ketika ia menatapku, aku tersenyum paksa. "Saya rasa—uh—saya tidak sepatutnya ada di kamar Sasuke-san."

Ia mendekat! Ketika ia berjalan mendekatiku aku langsung mundur. Semakin ia mendekat, semakin aku mundur. "Oi, kau jangan mundur begitu!"

Nada bossy Sasuke tidak membuatku berhenti. Aku harus menyelamatkan diriku dari ruangan ini sebelum terjadi hal yang membuatku membayangkannya saja merinding. "Aku hanya ingin bicara denganmu, jadi tolong berhenti memberontak, Dobe."

Aku menghentikan rontaanku. Aku menatap Sasuke dengan bingung. "Bi—bicara apa?" Tidak mungkin dia memecatku 'kan? Tapi tunggu, aku 'kan memang berniat untuk berhenti.

"Duduk." Aku menahan kakiku ketika Sasuke mendorongku untuk duduk di ranjangnya. "Kau—bisa tidak kau santai saja saat bersamaku?" Sasuke sepertinya jengkel. "Aku tidak akan mlakukan hal yang tidak-tidak padamu, Usuratonkachi."

Aku tidak percaya. Tapi mata Sasuke sepertinya berusaha meyakinkanku. Bagaimana bisa matanya begitu indah—agh, jangan berpikir begitu! Aku mengangguk dan dengan menurut duduk disisi ranjang Sasuke.

Sasuke duduk disampingku. Aku sama sekali tidak keberatan duduk berdampingan dengan Sasuke, tapi bisa tidak sih dia tidak terlalu menempel denganku? Lalu kenapa hatiku thump begini? Aku menunduk pasrah. Aku bukan karakter dalam shoujo manga.

"Terimakasih." Aku takut salah dengan apa yang aku dengar. Sasuke berterimakasih padaku? Aku menatap Sasuke dengan bingung. "Terimakasih. Berkatmu, masalahku dengan Sakura sudah selesai."

Ucapannya membuat ada denyutan aneh kembali di dadaku. Seperti sangat sakit dan sesak disaat bersamaan. Masalah Sasuke-san dengan Sakura-san selesai, begitupula denganku. "Ah, tidak. Sasuke-san tidak perlu berterimakasih padaku." Aku mengibaskan tanganku.

Setelah ini aku akan pergi. "Jadi kalian berbaikan?" Aku seketika menutup mulutku. Naruto, dasar kau bodoh! Tidak seharusnya aku bertanya seperti itu.

"Begitulah." Sasuke mengangkat bahunya.

"Jadi—" Aku mengulum bibirku. Aku tahu harusnya aku tidak bertanya lebih banyak. Terkutuklah rasa penasaranku yang besar. "—Sasuke-san dan Sakura-san kembali, etto, berhubungan lagi?"

Aku merasa sangat bodoh ketika Sasuke malah menatapku dengan wajah mengesalkannya. Aku menahan diri untuk tidak melempar wajahnya dengan bantal. "Berhubungan lagi?" Sasuke balik bertanya dengan nada seperti mengejek. "Tentu tidak. Kau ini meremehkanku?"

Aku mengernyit bingung. "Meremehkan apa?" Aku sama sekali tidak meremehkannya. Aku 'kan hanya bertanya padanya, kenapa dia bisa menyimpulkan begitu?

"Kau meremehkan cintaku padamu."

Rasanya pikiranku seperti kosong. Suara husky itu seperti menggema secara berulang di telingaku. "Sa—Sasuke-san!" Oh, tidak, pipiku terasa sangat sakit.

"Sudah berapa kali aku bilang jika aku mencintaimu?" Aku tidak bisa menjawabnya. Entah sudah berapa kali Sasuke bilang ia mencintaiku. Tapi—"Kau tetap tidak percaya padaku."

Aku tetap menyangkalnya. Sasuke menatapku. Aku tidak bisa mengartikan raut wajahnya sekarang ini. Ia marah, seperti menahan diri agar tidak berteriak, entahlah, sangat sulit menebaknya.

"Berapa kali aku harus mengatakannya padamu hingga kau percaya, Naruto?" Sasuke melirih. "Atau bagimu aku terlihat main-main?"

Aku menggeleng tidak yakin. "Bukan begitu." Bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanku yang sesungguhnya.

Aku menyukai Itachi. Aku menyukai Itachi—itulah yang selalu aku tanamkan dalam diriku. Itachi yang menolongku, Itachi seperti hero dalam kehidupanku. Aku tidak pernah menyangkal perasaanku pada Itachi.

Tapi dihadapanku. Aku melihat Sasuke, tidak ada keraguan tersirat di wajahnya, alisnya mengerut seperti berusaha meyakinkan. Berapa kalipun aku mendengarnya mengucap cinta padaku, selalu aku menyangkalnya. Kenapa? Karena aku tidak menyukai Sasuke?

AGH, AKU TIDAK MENGERTI! Rasanya aku ingin sekali menjambak rambutku kuat-kuat. Menghadapi Sasuke sama sekali tidak mudah. "Sasuke-san, aku tahu," Aku berhenti. Tahu apa? Tahu ia mencintaiku? Tentu. "Hanya saja—"

"Shisui dan Obito merupakan orang yang terpenting dalam hidupku." Ia memotong ucapanku. Tentu saja aku tahu, mereka 'kan anak Sasuke. "Lalu kakakku, kemudian orangtuaku."

Ketika telapak tangan Sasuke menyentuh pipiku, aku merasakan getaran yang aneh, seperti sesuatu yang sangat hangat menyelimutiku. "Kemudian kau." Rasanya merinding. Aku tidak tahu, tubuhku lebih bereaksi dengan sentuhan Sasuke. "Tidak ada alasan untuk aku main-main. Aku bukanlah remaja yang hanya bermain dengan perasaan."

Dimataku sekarang seperti lebih memiliki aura dewasa, manly, dan sangat mengejutkan, hangat. Tubuhku bergetar. "Karena dalam hidupku, aku selalu serius."

Keseriusannya selalu aku tampik, dan sekarang aku merasa sangat jahat pada Sasuke. Ia selama ini sadar jika aku hanya menganggap ungkapannya sebagai candaan. Bibirku serasa kaku, dan lidahku kelu, aku tidak bisa membalas apapun yang Sasuke katakan padaku.

Cobalah untuk tidak menyangkal perasaanmu yang sesungguhnya, Naruto.

Itachi-nii. Itu yang ia katakan padaku tadi 'kan? Tidak menyangkal perasaanku sendiri. Apa yang aku rasakan pada Sasuke?

Sasuke selalu bisa membuatku kesal. Ia selalu menggodaku—aku tidak tahu itu godaan atau bukan. Juga, bersama Sasuke membuatku merasakan perasaan aneh yang sangat bercampur. Pipiku bisa memanas, perutku bisa terasa sakit, senang—

Marah. Marah ketika tahu jika Sasuke membawa Shisui dan Obito pergi dengan Sakura. Marah karena dia tidak pulang dan melewatkan makan malam. Rasanya ingin meraung kesal karena membuatku merasakan perasaan aneh yang bahkan aku sendiri tidak familiar.

"Aku tidak tahu, Sasuke-san." Aku mengepalkan tanganku. Aku sama sekali tidak menatapnya. "Aku tahu Sasuke-san menyukaiku. Tapi aku juga tidak tahu—apa yang aku rasakan pada Sasuke-san."

Rasanya sedikit memalukan ketika aku bicara seperti itu. Heh, aku sangat tidak keren sekali.

Perasaanku sangat mellow sekali malam ini. "Tapi ada satu hal yang aku tidak suka." Ketika aku menatap Sasuke, wajahnya seperti sangat tegang. "Aku tidak suka ketika Sakura-san datang dan mengambil perhatian Shisui, Obito, juga Sasuke-san."

Uh, kejujuranku sangat memalukan. "Aku tahu ini seperti sangat jahat. Aku seperti orang egois. Tapi aku merasa seperti, uh, seperti—" Aku mengulum bibirku, memantapkan hatiku untuk melanjutkannya. "—seperti tidak dibutuhkan lagi."

Aku menundukkan wajahku dalam-dalam. Saat ini aku berpikir, sebaiknya Sasuke tidak melihat wajahku, karena aku yakin wajahku sangat aneh. Sangat panas.

"Heh." Dengusannya membuatku benar-benar malu. "Ternyata benar, kau cemburu." Aku membulatkan mataku. Betapa aku bisa membayangkan seringaian Sasuke. "Kau mencintaiku, tidak salah lagi."

"Tidak—bukan begitu!" Aku langsung menyangkalnya. Siapa yang tahu ternyata sangkalanku disambut tidak baik oleh Sasuke. Dia menarik pergelangan tanganku—sama sekali tidak kasar—membuatku menatapnya.

Sangat dekat. Aku menahan nafasku. "Hei, jadilah pasangan hidupku, Naruto." Hembusan nafasnya menerpa wajahku. Sasuke mengucapkan itu dengan nada terendah. Sungguh, kepalaku sangat pening.

"Pasangan hidup?" Aku melirihkan kembali ucapan Sasuke. Ia membawa tanganku ke wajahnya. Adegan ini—bukan yang ada di dalam shoujo manga 'kan?

"Aku ingin kau menjadi bagian dalam duniaku." Sasuke menempelkan dahinya pada dahiku. "Menjadi center dalam duniaku."

Aku ingin sekali menitikan air mata. Ini—sangat romantis, sungguh. "Tidak—" Aku menggeleng. "Tidak bisa terburu-buru seperti ini, Sasuke-san." Aku berusaha menarik wajahku menjauh.

"Kenapa?" Sasuke bertanya tidak suka.

"Baik aku dan Sasuke-san masih sangat asing." Aku mencoba membeberkan beberapa alasan. "Walau aku sudah hampir setahun disini, aku dan Sasuke-san masih sangat asing." Aku mengeraskan ekspresi wajahku. "Dan aku masih dibawah umur, Sasuke-san."

Sasuke menampakkan wajah seperti—uh, facepalm? "Dibawah umur." Sasuke terkekeh miris, aku seram mendengarnya. "Kau membuatku terdengar seperti seorang pedofil, Dobe."

Kenyataannya kau memang seperti pedofil. Iblis dalam hatiku tertawa puas. Tunggu, suasana romantis tadi menghilang begitu saja. "Bukan maksudku begitu." Aku berpura-pura terlihat tanpa dosa. "Aku hanya bilang, usiaku masih belum cukup untuk niat baik Sasuke-san."

"Aku tidak memintamu menikah denganku sesegera mungkin." Keseimbanganku hilang ketika Sasuke kembali menarikku, membuat kepalaku tersandar di sela lehernya. "Aku hanya meminta kau membalas perasaanku. Tidak egois 'kan?"

Egois, sangat egois. Sangat Sasuke sekali. "Tidak." Desahku pasrah. Toh, itulah Sasuke yang aku kenal. "Itu memang sifat aslimu, Sasuke-san." Aku tersenyum menatapnya.

Tubuhku trerasa sangat ringan, seperti tanpa beban aku membiarkan Sasuke membawa kepalaku bersandar padanya.

Aku tidak tahu apa penyelesaiannya. Perasaanku pada Sasuke entah rasa suka seperti apa. Kemudian dengan Itachi. Aku juga tidak tahu seperti apa.

Ketika hidung Sasuke menyentuh wajahku, aku memutuskan untuk memejamkan mata. Membiarkan diriku dibawah kendali Sasuke. Mengosongkan pikiranku. Pada akhirnya, aku merasakan kehangatan hinggap dibibirku.

"You're the center of my life, Naruto."

Aku tersenyum. Terimakasih, Sasuke-san.


OMAKE

"Aah, menyenangkan bukan?" Wanita bersurai merah muda itu tertawa dengan lepas. Ia menatap anak-anaknya yang sangat bersemangat sejak tadi.

"Obito suka! Obito mau main yang itu!" Obito menunjuk merry-go-round yang sedang berputar sambil melompat-lompat. "Obito mau naik sama Shisui-nii!"

Shisui tidak menjawab, namun pancaran matanya menunjukkan ia setuju dengan adiknya. Sasuke tersenyum pada anak-anaknya. "Kalian boleh naik itu setelah kita makan malam, okay?"

Shisui dan Obito meraung kecewa. Sasuke menepuk pucuk kepala anaknya dan menggandeng mereka berdua. "Jangan begitu. Setelah makan baru kita main lagi." Bujuknya. "Ingat, Naruto bilang kalian tidak boleh terlambat makan 'kan?"

Uchiha kecil langsung terdiam karena mendengar nama itu. Mereka mendongkak dan mengangguk menatap Ayah mereka. "Okay!"

Sasuke menggandeng anak-anaknya untuk mencari restoran di taman bermain itu. Mereka tahu betul betapa cerewetnya Naruto ketika menyangkut tentang si kembar. Shisui dan Obito juga ingat betul bagaimana marahnya Naruto mereka ketika mereka menolak untuk makan.

Naruto marah karena ia sayang. Begitulah yang mereka tahu. Atau seperti itu yang dikatakan Bibi Karin pada mereka.

Oh, ya, tiga Uchiha itu meninggalkan seseorang di belakang mereka bukan?


"Jangan pilih-pilih makanan begitu, Obito." Sasuke mengomeli anaknya ketika melihat Obito membuang sayuran pada supnya. "Tousan tidak suka jika Obito begitu."

Obito merajuk. "Tapi, tapi, Touchan. Itu gak enak." Obito menunjuk-nunjuk mangkuk supnya.

"Lebih enak sup buatan Naru-chin." Ceplos Shisui. "Aku juga gak suka ini, Tousan." Shisui menjauhkan mangkuk supnya. Obito mengangguk setuju.

Sasuke menghela nafas berat. "Tousan tahu. Tapi kalian harus makan." Ia mendorong mangkuk sup itu kembali kedepan anak-anaknya. "Bukannya kalian masih ingin main disini? Besok sarapan 'kan Naruto yang buatkan."

Sakura mengaduk makan malamnya dengan kesal. "Memangnya Naruto itu hebat, ya?"

"Huh?"

Sakura membelalak kaget. Ia menatap ketiga Uchiha itu dengan pandangan serba salah. "Ah, tidak." Senyuman canggung tersungging. "Kaasan sedang berpikir seberapa hebatnya Naruto itu."

Obito dan Shisui saling bertukar pandang. Mereka mengerjapkan mata. "Nalu-tan itu hebaaat banget!" Obito merentangkan tangannya lebar. "Nalu-tan bisa buat makanan enak!"

"Ah, begitu ya." Sakura tersenyum kecut. "Kaasan juga bisa masak lho. Kalian mau coba tidak?" Sakura bertanya dengan semangat. "Kalau mau, nanti Kaasan buatkan kalian bekal."

"Boleh saja." Jawab Shisui. Untuk sesaat, Sakura tersenyum senang. "Tapi kami sudah dibuatkan bekal dari Naru-chin." Senyuman Sakura langsung lenyap. "Kalau mau, Kaasan bisa minta buatkan Naru-chin masak untuk Kaasan."

Naruto, Naruto, hanya Naruto yang mereka bicarakan.


Mobil Sasuke tepat berhenti di depan rumah Sakura. Kenyataan memang jika Sasuke tidak menyukai Sakura, namun Sasuke masih memiliki perasaan dan etika. Membiarkan wanita pulang sendiri di larut malam bukanlah hal yang bermoral.

"Terimakasih untuk hari ini, Sasuke-kun." Sakura menunduk. Ia masih terduduk di kursi samping pngemudi, belum berniat untuk turun. "Aku sangat senang."

Sasuke diam. Matanya menatap pada sepion depan, melihat pantulan anak-anaknya yang tertidur di kursi belakang. "Jangan salah paham. Aku melakukannya bukan untukmu, Sakura."

Sakura mengepalkan tangannya. "Begitu 'kah?" Ia melirik Sasuke semdu. "Karena orangtuamu? Anak-anak kita? Atau karena Naruto?"

Sasuke tidak menjawabnya—tidak berniat menjawabnya. Sakura mendesah pasrah. "Aku mencintaimu, Sasuke-kun—aku masih mencintaimu." Nada suara Sakura bergetar. "Aku juga mencintai Shisui dan Obito, anak-anak kita."

"Aku tidak bisa." Balas Sasuke. "Begitu juga Shisui dan Obito. Kami bertiga tidak ada yang bisa kembali padamu, Sakura."

"Tapi kenapa? Aku istrimu, aku Ibu mereka—"

"Kau memang Ibu mereka." Sasuke memotong ucapan Sakura. "Tapi kau bukan istriku, Sakura. Mungkin dulu seandainya kau tidak meninggalkan kami—" Sasuke terdiam. "Kau tidak tahu betapa aku membencimu, Sakura. Betapa aku ingin menghilangkanmu dari hidupku, agar Obito dan Shisui tidak mengetahui eksistensimu."

Sakura bergetar mendengar ucapan Sasuke. Namun itu tidak membuat pria tampan itu berhenti. "Namun seseorang menyadarkanku sesuatu. Aku tidak bisa selamanya memendam rasa benci itu. Aku tidak bisa selamanya membiarkan Shisui dan Obito tidak mengetahui siapa Ibu mereka." Sasuke tersenyum kecut. "Karena kau Ibu mereka."

"Sasuke-kun," Lirih Sakura.

"Tapi kau bisa melihat sendiri, bukan?" Raut wajah Sasuke mengeras. "Shisui dan Obito memang menyayangimu. Namun mereka tidak bisa melupakan orang yang merawat dan mencintai mereka."

Sakura tertunduk lesu. Ia menggigit bibir bawahnya, merenungi sikapnya selama ini. "Maaf." Lirih Sakura. "Aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal."

"Aku juga minta maaf akan perlakuan kasarku." Sakura terdongkak, ia menatap Sasuke dengan mata melebar. "Jadi kita impas setelah ini."

Sakura mengangguk pelan, "Tidak. Sasuke-kun sama sekali tidak salah." Ucapnya. Ia melongok ke kursi belakang. "Setelah ini, apa masih boleh aku menemui Shisui dan Obito?"

"Tentu saja." Jawab sang pria tampan. "Tapi diantara aku dan kau tidak ada hubungan lebih selain teman." Ucapan Sasuke terdengar sangat mutlak. "Karena aku sudah mencintai orang lain."

Untuk sesaat Sakura termenung menatap wajah Sasuke yang tersenyum kecil. Wanita itu ikut tersenyum. "Iya."

Ya, Sakura tahu betul akan hal itu.


Center of my life, for some reason, saya suka banget pas Sasuke ngomong itu, haha. Kamu tampan sekali Sasuke.

Saya berhutang beribu maaf pada Sakura. Saya tidak ada maksud untuk bashing dia, tapi memang dia dapat peran seperti itu disini *bow*

Saya juga sangat sangat meminta maaf, fic ini benar-benar lambat update, maaf *bow*

Terimakasih banyak buat yang sudah mau menunggu dan masih mau membaca fic ini :)

Thanks a lot for:

D'angel, chika kyuchan, Novalia Airis, yulimizan2, Nayuya, witchsong, Ai no Est, Jasmine DaisynoYuki, ikatriplesblingers, shiraishi connan, ryouta suke, Kucing Gendut, gnagyu, Dewi15, Aoi Itsuka, Guest(1), InmaGination, annisa . ajja . 39, Hyull, Sasunaru, nazuchi ritsu, cinya, retvianputri12, yunaucii, liaajahfujo, Meli Channie, ChubbyMinland, Guest(2), Harpaairiry, youngnoona, , Guest(3), Ichijo sena, Aiko Vallery, cissy, tanochan, BLUEFIRE0805, versetta, ChulZzinPang, lusy jaeger ackerman, ikka-chan, Kuaci Hamtaro, Kyutiesung, choikim1310, Guest(4), julia nita sifa prabarani, Rifda599, zzzz, Uzumaki Prince Dobe-Nii, Yamada Kim Naho-chan, k-i-d 4y, lovely . win . 758, viO, Kyu, 10, tyachan13, efi . astuti. 1, Guest(5), kazekageashainuzukaasharoyani, Shuu-chan, Guest(6), yuyu, Guest(7), Uchimaki Sazuna, kyurielf, Yun Ran Livianda, Jonah Kim, reader-kun, nia uzumaki, Habibah794, kaclouds1, B-Rabbit Aito, Fuuin SasuNaru, cheonsa19, yanchocho, Hiori Fuyumi, D, Guest(8), Guest(9), Alysaexostans, dewaagustasuryatno, ayuo, Wazuka Arihyoshi, Kaguya-Chan, kwinbiy, asyifaaulia31, BlueSky04, ryu ryu, Guest(10), LissyLiss, Guest(11), Guest(12), Anyone, HaniShin, Elan, fraukreuz64.

Terimakasih sebanyak-banyaknya untuk yang sudah meluangkan waktunya membaca, fav/follow, atau review fic ini, kalian benar-benar membuat saya senang.

Saya minta maaf untuk lambatnya update fic ini, saya usahakan bisa lebih cepat untuk next chapter *bow*

Untuk yang tidak login, maaf sebesar-besarnya, saya tidak bisa membalas review kalian, tapi saya benar-benar berterimakasih, tidak bohong :')

Terimakasih banyak untuk yang sudah mau membaca, saya cinta kalian *hugkisshug*

Semoga kalian suka dengan chapter ini. Kalau ada pertanyaan atau saran, bahkan koreksi tentang fanfic silahkan bisa pm, sehingga saya bisa membalasnya :D saya senang kalau bisa berteman dengan kalian XD

Maaf jika banyak kesalahan. Please wait for the next chapter. Thank you so much guys, love ya :D