Jimin. Yoongi | Romance | Boy's Love | Oneshot | Ficlet

.

.

.

.

Another oneshot from naranari.

.

.

.

.

Ada yang masih ingat sama kumpulan cerita geli (?) minyoon ini?

Aku kasih episod spesial lagi buat kalian

Check this out

.

.

.

Yoongi belum tahu kalau disini ada musim hujan sebelumnya. Maksudnya, sudah lima hari ini kota Seoul di guyur hujan terus-menerus hingga di beberapa tempat dikabarkan banjir. Dan kalau melihat hujan, Yoongi jadi teringat dengan pacarnya. Park Jimin yang katanya keren itu, sudah dua tahun ini menemani dirinya melewati musim hujan.

Entah benar atau tidak, Yoongi pernah membaca sebuah artikel kalau hujan memiliki suatu zat yang bisa menghipnotis manusia untuk bernostalgia pada kenangan lalu. Yoongi tidak pernah terbawa perasaan kalau hujan turun, hanya saja Jimin yang selalu nyangkut dalam pikiran Yoongi. Pemuda bertubuh kekar itu selalu punya cara untukYoongi semakin mencintainya.

Seperti saat Yoongi sakit beberapa waktu lalu. Jimin sama sekali tidak pernah absen untuk menjaganya. Dia yang selalu mengingatkan Yoongi untuk minum obat dan dia yang mau saja direpotkan oleh Yoongi. Tanpa mengeluh sekali pun. Semua yang Jimin lakukan itu tulus untuk kekasihnya tersayang.

Ketika Jimin selalu meminta izinnya jika akan pergi sendiri. Tidak mau Yoongi mencarinya dan mencemaskannya. Tentang Jimin yang selalu memberi kabar padanya sesibuk apa pun. Yoongi merasa dia sangat istimewa bagi Jimin.

Ngomong-ngomong.

Ketika Jimin melamarnya pada saat kelulusan dia, Yoongi menjawab iya tapi tidak mau menikah segera. Masa mudanya masih panjang dan dia ingin mewujudkan cita-citanya dulu. Tidak masalah bagi Yoongi diusianya yang masih muda sudah memiliki calon suami. Hem, kedengarannya boleh juga.

Suara rintikan air yang jatuh dari atap rumahnya menyadarkan Yoongi. Oh, yang benar saja, apa dia baru saja melamun? Melamunkan masa lalu saat dia dan Jimin masih menjadi anak sekolah? Hujan memang pas untuk bernostalgia.

Yoongi beranjak ke ranjangnya dan mengambil ponsel yang tergeletak begitu saja diatas kasur. Mendial nomor yang sangat dihafalnya. Pada dering kedua panggilan Yoongi dijawab.

"Park Jimin's Yoongi here~"

Yoongi menyerngit tidak suka, "Apaan sih,"

"Ada apa kekasih manisku, hem?"

Yoongi hanya memutar bola matanya dengan bosan. Jimin selalu seperti itu, dia sudah sangat sering sekali mendengar panggilan menggelikan dari kekasihnya. "Hentikan Jimin. Jangan alay." Jimin disana hanya memberengut tapi sedetik kemudian wajahnya kembali tersenyum. "Hyung, sudah tidak hujan berarti hari ini jadi ya?"

Yoongi mendongak, awan hitam perlahan menghilang. Walau tetes-tetes hujan masih tersisa. "Yup. Jangan sampai telat ya Jimin."

"Siap princess."

"Sial-"

Tuut tuut.

.

.

.

Dan malam itu, dibawah langit yang berbintang dan udara segar sehabis hujan. Ada Yoongi dan Jimin yang sedang sibuk membuat tenda untuk mereka. Ini ide dari Jimin sebenarnya, dia ingin sekali berkemah dengan Yoongi di gunung. Tapi Yoongi berpikir, ini sudah masuk musim hujan. Tidak seru kalau berkemah di gunung yang udaranya sudah dingin ditambah dengan hujan. Yoongi tidak suka kedinginan. Padahal Jimin berdalih dia akan selalu menghangatkan Yoongi.

Hem, bisa saja Jimin.

Mereka akhirnya tetap berkemah tapi di halaman belakang rumah Yoongi. Jadi jika Yoongi kedinginan atau lapar dia bisa masuk ke dalam rumah. Jimin sih iya-iya saja, demi keinginan sang kekasih.

"Yoongi hyung, tendanya hampir jadi nih," Yoongi yang sedang duduk santai dikursi panjang sambil minum teh hangat hanya mengangguk. Dia melihat Jimin yang susah payah membangun tenda kemah sendirian. Tadinya berdua dengan Yoongi, tapi sang princess lelah katanya, jadi Jimin bersedia mendirikan tenda sendirian.

Bukan Yoongi yang kejam atau Jimin yang masokis; mereka memang seperti itu. Dan keduanya sama-sama tulus jadi tidak ada masalah. Selagi Jimin masih sibuk dengan tendanya, Yoongi menyiapkan segelas teh hangat untuk Jimin. Juga menata kukis buatan ibunya diatas piring. Kemudian Jimin datang dengan kening penuh keringat. Yoongi memberikannya setumpuk tisu pada Jimin. "Lap keringatnya, dan ini teh buatmu."

Jimin tersenyum dan menyambut cangkir dari tangan Yoongi, "Terima kasih Yoongi hyung." Setelah itu mereka masuk ke dalam tenda yang sudah berdiri. Menyalakan lagu jazz yang terdengar nyaman di telinga. Yoongi sengaja membiarkan tendanya terbuka agar dia bisa melihat bintang dilangit.

"Jimin," panggil Yoongi. Jimin berdehem untuk menjawab. Dia tiduran di belakang Yoongi, menikmati wajah Yoongi yang bersinar. "Aku punya rahasia yang akan kubagi hanya padamu." Jimin tertarik, rahasia Yoongi yang hanya dibagi padanya. Lihat, betapa istimewanya dia untuk Yoongi.

"Apa itu, hyung?" tanya Jimin. Dia berbaring miring dan tangannya memeluk perut Yoongi. Saat tangan Jimin menyentuh perutnya, Yoongi sedikit terkejut tapi kemudian dia mulai rileks lagi. "Aku punya mimpi pergi ke angkasa," katanya dengan tangan yang mengusap lengan Jimin diperutnya. "Sepertinya melihat bumi dari angkasa itu keren. Aku selalu penasaran dengan apa saja yang ada diangkasa. Kau tahu alien? Aku penasaran dengan mereka, ada atau tidak."

Jimin tertawa kecil mendengarnya, "Bukankah Kim Taehyung termasuk alien?"

"Ish, bukan alien macam dia maksudnya. Taehyung terlalu tampan untuk menjadi alien."

Jimin merasa tidak suka Yoongi mengatakan Taehyung itu tampan. Karna yang tampan itu hanya dirinya. "Alien bagiku hanya mitos."

"Lalu aku ingin tahu seberapa jauh galaksi bima sakti itu. Yang kudengar galaksi kita adalah yang paling besar!"

"Benar."

"Lalu aku ingin melihat Venus yang katanya cantik, Saturnus yang mempunyai cincin. Oh, Pluto yang katanya sudah tidak terlihat lagi.

"Hyung, kalau Pluto sudah tidak terlihat kenapa kau masih penasaran?"

"Ya! Suka-suka aku dong. Yang penasaran dan ingin melihat kan aku!"

Kalau princess sudah berkata demikian, maka Jimin hanya bisa menjawab iya dengan pasrah.

"Kenapa hyung penasaran sekali dengan angkasa?"

Yoongi mengangkat bahunya, "Hanya ingin saja."

Kadang Jimin merasa Yoongi ini bukan manusia, bukan juga malaikat. Dia unik dengan kepribadiannya yang seperti ini. Meski lebih sering mengomel dan menampilkan wajah juteknya, tapi Yoongi mempunyai inner-beauty yang tidak banyak dimiliki orang lain.

Yoongi yang mempunyai segudang ide cemerlang dan kadang tidak masuk diakal. Bakat terpendamnya yang menakjubkan.

"Aku ingin kesana," katanya lagi sambil menatap langit. Jimin mengikuti arah pandang Yoongi. Bagaimana pun juga lelaki inilah yang membuatnya merasakan jatuh cinta hingga berkali-kali. Jimin belum pernah merasa secinta ini pada seseorang setelah kedua orangtuanya.

Kemudian Jimin bangun dan tangannya masih diperut Yoongi. Dia menyandarkan kepalanya pada bahu Yoongi. Menghirup aroma alami yang menguar dari tubuh kekasihnya; aroma yang selalu disukainya.

Yoongi menoleh sebentar saat Jimin mengusel lehernya. Dia tersenyum dan tangannya mengelus wajah Jimin. "Bantu aku mewujudkan impianku, ya."

Jimin membenarkan posisinya, memeluk Yoongi dari belakang lalu menaruh kembali kepalanya di bahu Yoongi. "Pasti hyung. Apa pun untukmu." Yoongi tidak bisa menahan senyumnya, dia semakin membawa tubuhnya merapat pada pelukan Jimin.

Di bawah langit penuh bintang itu, Yoongi memberitahukan keinginannya yang tersembunyi. Pada seseorang yang sudah memiliki seluruh hati dan jiwanya. Seseorang yang Yoongi yakini akan melakukan apa pun untuknya. Mencitainya dengan sepenuh hati. Seseorang yang kelak akan menjadi masa depan dan belahan jiwanya. Orang itu, Park Jimin

The end

.

.

.

OKE.

Dengan berat hati aku umumin; cerita ini sebagai good bye story sebelum aku hiatus untuk waktu yang… tidak bisa ditentukan.

Sedih ya, sedih? Sedih dong. Harus sedih(?). Aku juga sedih tapi terpaksa harus hiatus. Percaya deh aku pasti bakal kangen berat sama kalian. Terima kasih buat kalian yang sudah bantu aku buat baca semua fanfict aku yang kaya begini, maklum masih amatir belum bisa nyaingin kakak Ilana Tan dan kakak Orizuka (kejauhan banget ya mimpinya hiks)

Apalagi, aku bingung mau cuap-cuap gimana lagi. Pokoknya ya terus dukung fanfict MINYOON siapapun authornya. Tetap cintai MINYOON seperti kalian mencintai aku *huek* MINYOON harus tetap Berjaya di ffn bts ini.

LONG LAST MINYOON

Last, thank you and I love you *moah*

Good bye~

©naranari

Februari 2016