A Little Secret

Disclaimer : I own the story. Others? Not mine. Secret Garden © SBS. Leave Out All The Rest © Linkin Park

Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Shounen Ai, Yaoi, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst

.

.

Enjoy It!

#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#

.

.

Gaara tampaknya tidak bisa mengalihkan perhatian dari sosok Neji yang sedang memainkan gitar akustik di sampingnya. Pemuda itu tidak tahu kapan semuanya bermula, tapi yang jelas saat ini ia mengakui kalau ia tidak bisa lagi menolak pesona sang Hyuuga.

"Kenapa kau memandangiku seperti itu? Kau kagum padaku?" tanya Neji yang langsung dibalas dengan kerlingan bosan sang Sabaku.

Neji hanya terkekeh pelan menanggapi respon yang diberikan pemuda yang lebih muda darinya. Setelah dua bulan lebih mereka bekerja sama, sekarang Neji sudah sangat terbiasa dengan sikap si pemuda berambut merah.

"Kau tahu? Kalau kau terus memperhatikanku seperti itu, kau bisa jatuh cinta padaku nanti," tuturnya sembari mengacak rambut Gaara.

Gaara menyingkirkan tangan Neji dari kepalanya, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dan melemparkan death glare yang entah sejak kapan sudah tidak mempan untuk menghadapi si pemuda berambut coklat.

Kegiatan mereka sontak terganggu dengan kedatangan Hanabi dengan sebuah laptop yang terbuka di pelukannya.

"Kalian harus segera meluruskan semua ini!" serunya.

Baik Neji ataupun Gaara langsung menatap laptop milik Hanabi dan melihat apa yang harus mereka luruskan.

'Sudah kuduga kalau Neji adalah seorang gay.'

'Pantas saja dia tidak pernah benar-benar dekat dengan seorang gadis, ternyata dia 'seperti itu'.'

'WTH? Aku tidak menyangka kalau Neji menyukai sesama lelaki.'

'Menjijikkan! Bagaimana bisa mereka melakukan hal seperti itu di tempat umum?'

Neji merasakan napasnya tercekat di tenggorokkan setelah membaca sebuah artikel yang disertai banyak foto momen kebersamaannya dengan Gaara. Foto-foto saat Neji mengejar Gaara, saat Neji masuk ke apartemen rekannya itu, saat Neji menarik lengan baju Gaara di Shibuya, hingga saat Gaara membuat 'pengakuan jati diri', semuanya ada di halaman web yang sedang ditampilkan layar laptop.

Gaara sendiri tidak kalah terkejutnya dengan Neji, apalagi ketika membaca nama penulis artikel yang sama sekali tidak asing baginya.

"Beritahu aku, apa kalian benar-benar bersama?" tanya Hanabi penuh penekanan.

"Kau pikir aku sudah gila?" Neji balik bertanya dengan nada kesal. Siapa juga yang tidak kesal dengan keadaan seperti ini?

"Kalau kalian tidak bersama, bagaimana mungkin Hidan mendapatkan semua foto ini? Jangan mencoba membohongiku, Neji," Hanabi menatap artisnya tajam.

"Aku belum berniat menghancurkan karirku, Hanabi. Aku tidak segila yang kau pikirkan!"

Gaara mencengkram buku partitur di tangannya erat. Sejak awal ia sudah menduga kalau cepat atau lambat ucapan semacam itu pasti keluar dari bibir Neji, tapi ia tidak pernah menduga kalau rasanya ternyata jauh lebih sakit dari yang ia bayangkan.

"Kau tidak punya waktu. Temui staff yang sudah menunggumu di ruang meeting sekarang. Aku akan mengatur jadwal konfrensi pers untuk meluruskan semuanya. Gaara, hindari wartawan sebisamu. Untuk sekarang, aku melarangmu keluar dari gedung ini."

Gaara memperhatikan sosok Hanabi yang berjalan tergesa keluar dari ruangan studio. Pandangan mata beriris emerald itu kemudian beralih pada sosok yang melangkah di belakang sang manager sembari meremas rambut.

Semua orang tahu kalau skandal adalah bagian dari dunia entertaimen. Skandal bisa menaikkan popularitas seorang artis, namun bisa juga membuat artis itu jatuh dari singgasananya. Dan skandal yang sedang menerpa Neji termasuk ke dalam jenis skandal yang kedua.

"Jangan keluar dari gedung ini? Apa mereka mau memperlakukanku seperti orang bodoh?" gumam Gaara sebelum bangun dan melangkah meninggalkan ruangan.

Beberapa skandal memang bisa dimanfaatkan untuk mendongkrak pamor, tapi beberapa skandal patut dihindari karena dapat merusak image dan menghancurkan karir. Dan, lagi, skandal yang sedang dialami Gaara dan Neji termasuk di dalam kategori yang kedua.

Hubungan sesama jenis sudah jelas menjadi hal yang tidak pantas di mata semua orang, termasuk di mata penduduk negara ini. Tidak heran kalau orang-orang dengan 'penyimpangan' semacam itu lebih memilih untuk bersembunyi karena mereka tidak mungkin bisa melawan tatapan-tatapan jijik yang mengarah pada mereka.

Lalu apa yang terjadi jika seorang selebriti 'dihadiahi' skandal semacam ini? Tentu semua orang sudah bisa menjawab kalau karir selebriti itu akan hancur dan tidak akan kembali seperti sedia kala jika selebriti itu tidak bisa mementahkan skandal tadi.

.

-0-

.

Gaara masih berdiri di posisinya dalam diam, sementara lelaki yang sedang duduk santai di depannya tampak menyeringai. Kalau saja Gaara tidak memiliki kontrol emosi yang bagus, tentu saat ini ia sudah menghujani sosok di hadapannya dengan puluhan atau bahkan ratusan bogem mentah.

"Apa yang membawamu kemari, Sabaku-san?"

Entah kapan terakhir kali Gaara mendengar dirinya dipanggil dengan marga yang kini tak pernah digunakannya lagi. Ya, sejak keluar dari rumah ia memang sudah memutuskan untuk tidak memakai marga keluarganya lagi. Bukan karena ia tidak ingin, tapi lebih karena ia tidak bisa.

"Aku tahu kau tidak bodoh, Hidan. Artikelmu itu yang membuatku mau menjejakkan kaki di kantormu ini," jawab Gaara tenang.

"Oh, benarkah? Aku sangat tersanjung kalau begitu," ucap Hidan disertai tawa.

Hidan, lelaki berambut keperakan, adalah seorang wartawan. Ah, tidak. Daripada disebut wartawan, lelaki berusia dua puluh delapan tahun itu lebih cocok disebut sebagai paparazzi. Ya, lelaki inilah yang sudah menulis artikel dan membuat skandal Neji dengan Gaara.

"Sebenarnya apa yang kau inginkan? Kupikir urusanmu dengan anggota keluarga Sabaku sudah selesai."

Hidan berdecak tiga kali sembari menggelengkan kepala. Ia menyandarkan diri ke puinggung kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada.

"Jujur saja, awalnya aku tidak sadar kalau orang yang dikejar-kejar Hyuuga muda itu adalah kau. Tapi setelah tahu kalau itu kau, aku malah semakin tertarik membuat berita tentang kalian."

"Benarkah? Kurasa yang membuatmu tertarik bukanlah berita tentang kami, melainkan banyaknya uang yang bisa kau dapat dari sampah yang kau buat."

Hidan kembali tertawa dan menatap pemuda yang berdiri tegap di hadapannya. Sebelum ini juga sebenarnya ia sudah pernah bertemu Gaara, karena seperti yang diucapkan pemuda berambut merah itu, ini bukan pertama kalinya ia berurusan dengan anggota keluarga Sabaku.

"Seharusnya kau dan rekanmu berterimakasih padaku. Dengan munculnya berita ini, kalian akan makin sering dibicarakan orang."

Gaara mendengus sinis. Sebodoh apa ia sampai mau berterimakasih untuk skandal yang sudah dihembuskan lelaki itu?

"Daripada kau membuang waktumu di sini, bukankah lebih baik kau menemani rekan duetmu melakukan konfrensi pers, Gaara? Aku tidak sabar ingin melihat kelanjutan 'drama' kalian, terlebih dengan 'perbedaan'mu itu," Hidan menyeringai.

Suara pintu ruangan yang dibuka paksa membuat Gaara mengurungkan niat untuk menerjang Hidan dan mencekik lelaki itu sampai mati.

"Gaara?"

Seringai licik makin tampak di wajah Hidan ketika melihat sosok yang baru saja muncul dari balik pintu. Ia bertepuk tangan tiga kali dan memutar kursinya agar bisa menatap 'bahan skandal'nya secara langsung.

"Well, well, well…Kalian memang pasangan yang serasi. Sepertinya aku harus menambahkan info di artikelku kalau kalian juga ternyata memiliki ikatan batin," ucapnya.

Langkah Neji yang menghentak sukses terhenti karena Gaara kini berdiri di depannya dan menghalangi jalan. Neji menatap iris emerald itu dengan tajam, sementara Gaara membalas dengan tatapan tenang.

"Kita pergi."

Hanya kalimat singkat itu yang diucapkan Gaara sebelum memaksa Neji membalikkan tubuh dan mendorong rekan duetnya itu keluar dari ruangan.

"Aku benar-benar tidak sabar melihat perkembangan berita ini. Pasti akan sangat seru," ucap Hidan dengan tatapan tajam dan seringaiannya.

Gaara melemparkan pandangan keluar jendela. Kini pemuda itu tengah berada di dalam mobil yang dikendarai Neji. Beruntung mereka bisa kabur sebelum para wartawan membanjiri kantor Hidan, sehingga mereka terselamatkan dari hujan pertanyaan.

"Kenapa kau bisa ada di sana?" Akhirnya Neji memecah keheningan.

"Karena aku ingin menemuinya tentu saja," jawab Gaara sekenanya. Neji melirik rekannya.

"Darimana kau tahu kantor Hidan?"

Sebenarnya ketika Neji menyadari kalau Gaara 'menghilang', ia mengira kalau pemuda itu memutuskan untuk kembali ke apartemen dan menunggu pemberitaan reda. Dan setelah menghubungi beberapa rekannya yang pernah 'berurusan' dengan Hidan, Neji memutuskan untuk datang dan menemui lelaki itu. Pemuda berambut coklat panjang itu tidak pernah menyangka kalau sosok yang pertama dilihatnya di dalam ruang kerja tadi adalah Gaara.

"Aku tahu kau mendengar pertanyaanku, Gaara," tuntut Neji.

Gaara menghela napas. Setelah ini ia yakin akan ada lebih banyak pertanyaan yang diajukan partner-nya. Gaara melemparkan pandangan lurus ke jalan.

"Aku mengenal lelaki itu."

Tubuh Neji dan Gaara tersentak bersamaan ketika mobil yang mereka tumpangi dengan kecepatan sedang dipaksa untuk berhenti mendadak. Gaara meletakkan sebelah tangannya di depan dada, ia bisa merasakan dengan jelas betapa cepat jantungnya berdetak di dalam sana.

"Kalau kau mau mati, jangan sertakan aku, bodoh!" seru Gaara kesal, tak lupa disertai dengan tatapan super tajam yang mengarah lurus pada sosok pemuda di sampingnya.

Neji sendiri kini tengah berusaha menenangkan diri setelah kejadian mengerikan tadi. Akibat sangat terkejut setelah mendengar jawaban Gaara, kakinya refleks berpindah dari menginjak pedal gas menjadi menginjak pedal rem.

Setelah merasa sedikit tenang, Neji menepikan mobilnya. Untung jalanan sedang sepi sehingga kejadian tadi tidak menyebabkan kecelakaan lalu lintas.

"Kau tadi bilang apa? Kau mengenal lelaki itu?" Neji kembali ke pembicaraannya yang terputus tadi.

Gaara menghela napas dan mengangguk. Neji makin memperhatikan rekannya yang sudah kembali menatap lurus ke depan.

"Sejak kapan kau mengenalnya? Ah, tidak. Kenapa kau bisa mengenal orang itu?"

See? Benar 'kan perkiraan Gaara tadi? Saat ini Neji mulai memberondongnya dengan berbagai pertanyaan yang malas ia jawab.

"Aku tidak punya kewajiban untuk memberitahumu urusan pribadiku. Selama itu tidak berkaitan denganmu, aku tidak mau membicarakannya."

Walaupun samar, Neji bisa melihat kemarahan yang tersirat di wajah Gaara. Neji mengangguk pelan dan kembali menyalakan mesin mobil.

"Aku mengerti," ucapnya sebelum kembali melajukan kendaraan.

Sepanjang sisa perjalanan tampaknya tidak ada yang berniat untuk kembali membuka mulut. Namun ketika mobil memasuki basement sebuah gedung, Gaara menatap rekannya tidak mengerti.

"Kenapa kau membawaku kemari?"

Neji memarkirkan mobilnya dengan hati-hati dan mematikan mesin. Ia melepas sabuk pengaman yang melilit tubuhnya.

"Kurasa kita harus menginap di sini malam ini. Aku yakin seratus persen kalau halaman apartemen kita pasti dibanjiri wartawan-wartawan itu. Ayo."

Gaara hanya bisa menghela napas dan mengikuti Neji keluar dari mobil dan memasuki gedung yang belum pernah dijejakkinya. Beberapa orang yang mereka temui di koridor menyapa Neji, dan Neji hanya membalasnya dengan anggukkan dan senyum kecil.

Neji menghentikan langkah di sebuah ruangan dan membuka pintunya perlahan. Pemuda itu meraba dinding di dekat pintu dan menekan saklar lampu.

"Kita akan bermalam di sini? Di studio?" tanya Gaara tidak percaya.

"Yep," Neji melepaskan mantel yang dipakainya dan melemparkannya begitu saja ke atas sofa.

Gaara memperhatikan seisi ruangan dalam diam. Sebenarnya dulu ia mempunyai keinginan bermalam di studio seperti ini untuk memainkan semua alat musik yang dapat ia mainkan sepuasnya.

"Kau mau langsung tidur? Berhubung hanya ada satu sofa, aku akan tidur di lantai," papar Neji yang sudah mengambil dua bantal sofa dan menumpuknya di atas karpet.

Gaara menggeleng sekilas. Waktu baru menunjukkan pukul empat sore, dan tentu Gaara tidak akan beristirahat sekarang. Ia memang lelah, terlebih setelah bertatap muka dengan lelaki yang tidak ia sukai tadi. Tapi, daripada beristirahat, Gaara memiliki cara lain untuk menenangkan pikirannya.

Perlahan pemuda beriris hijau itu masuk ke dalam studio dan melangkah pelan mendekati sebuah bass yang ada di samping sebuah gitar.

"Neji, apa aku boleh memainkan alat musik yang ada di sini?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari benda bersenar tebal itu.

Neji merebahkan diri dan menutupi bagian atas tubuhnya dengan mantelnya tadi. Ia mencoba menyamankan diri.

"Tentu. Aku sudah minta izin menggunakan ruangan ini semalaman untuk kita, jadi terserah kita mau melakukan apa di sini. Lagipula ruangan ini kedap suara, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Gaara langsung menoleh ke arah Neji ketika kata 'kita' meluncur dari mulut partner-nya. Terlebih kata itu terdapat dalam kalimat 'terserah kita mau melakukan apa' dan ditambahkan kalimat 'ruangan kedap suara'.

"Gaara? Apa kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu memerah?" Neji membalikkan tubuh. Kini ia tidur dengan posisi tengkurap dan kepala sedikit menengadah untuk menatap wajah Gaara.

"Aku baik-baik saja," Gaara segera membuang pandangan dan menggelengkan kepala kuat-kuat. For the God sake! Apa yang baru saja dipikirkannya?

Neji hanya mengangguk mendengar jawaban Gaara dan menatap pemuda yang sekarang sedang duduk di lantai dengan bass di pangkuannya. Iris lavendernya tampak berbinar ketika mendengar hasil petikan senar bass.

"Aku tidak tahu kalau kau bisa bermain bass," ucap Neji kagum.

"Aku pernah belajar memainkannya dulu."

"Benarkah? Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"

"Untuk apa? Aku bukan orang yang suka pamer."

Neji mengerlingkan mata mendengar ucapan Gaara yang sudah berhenti memainkan bass di tangannya.

"Alat musik apa lagi yang bisa kau mainkan? Ah, kau bisa bermain drum?" tanya Neji kemudian.

"Drum?" Gaara menatap set drum yang ada tak jauh dari tempatnya duduk. "Aku tidak yakin."

"Tidak yakin?" dahi Neji terlihat sedikit berkerut.

"Aku pernah belajar memainkannya, tapi itu sudah setahun yang lalu—atau mungkin lebih lama dari itu," ungkap Gaara.

"Ayo mainkan! Kalau hasilnya buruk pun hanya aku yang mendengar, jadi tidak ada masalah 'kan?" paksa Neji.

Gaara meletakkan bass ke tempatnya semula dan melangkah mendekati drum. Ia duduk dan menggenggam stik dengan hati-hati.

"Kalau pernainanku buruk, kau cukup menutup telingamu rapat-rapat," ucapnya sembari menunjuk Neji dengan stik di tangan kirinya. Neji mengacungkan ibu jarinya dan mengangguk paham. Kedua tangannya kini sudah ia persiapkan di samping telinga.

"Semoga tidak terlalu memalukan," bisik Gaara sebelum mulai menggebuk alat musiknya. Beberapa menit kemudian ruangan itu sudah dipenuhi suara drum.

"Wow! Walaupun kaku, tapi tadi itu tidak buruk, Gaara!" puji Neji.

"Tidak buruk? Kurasa tadi itu mengerikan," sahut Gaara tidak puas. Dalam hati ia bertekad untuk kembali menekuni alat musik di hadapannya ini.

"Apa selanjutnya? Kau bisa bermain gitar?" tanya Neji yang entah kenapa terdengar sangat antusias.

"Bagaimana mungkin aku bisa bermain bass tanpa bisa bermain gitar? Di mataku mereka adalah alat musik yang berkaitan, kau tahu?"

Gaara kembali mendekati bass yang tadi dimainkannya dan meraih gitar yang diletakkan tepat di samping bass. Pemuda itu kembali duduk dengan tenang.

"Tunggu dulu!" seru Neji yang tentu saja membuat Gaara tidak jadi memetik senar.

"Apa lagi?" tanyanya sebal. Ia tidak suka kalau ada yang mengganggunya bermain alat musik.

"Tidak akan seru kalau kau hanya memainkan gitarnya saja," ucap Neji yang sekarang sudah ada di posisi duduk.

"Lalu?" Gaara menatap Neji tidak mengerti. Neji tersenyum tipis.

"Nyanyikan sebuah lagu untukku."

Gaara membulatkan mata. Menyanyikan sebuah lagu? Untuk Neji?

"Ayolah, aku belum pernah memintamu bernyanyi untukku 'kan?"

"Kau memang belum pernah memintanya, tapi kau sudah memintaku untuk bernyanyi denganmu, ingat?" Gaara membalikkan.

"Sekali ini saja, Gaara, nyanyikan satu lagu untukku."

Gaara menatap gitar di tangannya. Lagu apa yang akan dinyanyikannya untuk Neji? Ia tidak tahu lagu yang mungkin disukai rekannya itu.

"Kalau kau bingung, kau bisa menyanyikan salah satu laguku," cetus Neji, membuat Gaara melemparkan tatapan tajam.

"Menyanyikan lagumu? Yang benar saja. Kau pikir tidak ada lagu lain di luar sana apa, sehingga aku harus menyanyikan lagumu?" tanyanya sinis. Neji terkekeh pelan.

"Kalau di luar sana memang banyak lagu, maka nyanyikan satu untukku."

Gaara kembali fokus pada gitarnya dan menarik napas panjang.

"Aku tidak tahu apakah kau menyukai lagu ini atau tidak, tapi yang jelas aku menyukainya," ucap Gaara sebelum mulai memetik senar.

.

.

When my time comes

Forget the wrong that I've done

Help me leave behind some

Reasons to be missed

And don't resent me

When you're feeling empty

Keep me in your memory

Leave out all the rest…

Leave out all the rest

.

.

Forgetting all the hurt inside

You've learned to hide so well

Pretending someone else can come

And save me from myself

I can't be who you are…

I can't be who you are…

.

.

Neji tidak yakin apakah saat ini ia sedang berhalusinasi atau tidak, tapi yang jelas Gaara terlihat sangat berbeda ketika memainkan alat musik sembari bernyanyi seperti tadi. Neji mengangkat sebelah tangannya dan meletakkannya di depan dada.

Ada apa dengan jantungnya? Kenapa berpacu dengan sangat cepat?

.

.

TBC

.

.

Author Notes: Mari kita kesampingkan kegalauan Sasuke dan Naruto mulai dari chapter ini sampai beberapa chapter ke depan. Saya akan mulai fokus pada NejiGaa sekarang~

.

.

Review Reply:

.

.

Kirara: Sudah di lanjut~ Saya belum bisa memastikan ini fic bakal kelar di chapter berapa. Perkiraan saya selalu meleset soalnya *sigh*

Meg chan: Sudah di-update~ ^^

sasunaru4ever: Kayaknya banyak yang berminat menculik karakter fic ini ya, hahaha XD Sudah dilanjut~

crimson-nightfall: Hal klise adalah bagian dari sebuah cerita, tenang saja :D Shika? Hmm... Akan saya pertimbangkan, tapi saya tidak mau janji juga, kekeke... Ne, sampai jumpa di chapter berikutnya~ ^^

Misyel: Bagus? Terima kasih ^^ You're welcome, and yes, I'll continue~

mika: Poor Sasuke and Naruto... Sudah di-update ^^

suki teme: Kebetulan sedang ada waktu dan selesai mengetiknya cepat, jadi bisa langsung di-update~ Terima kasih sudah menunggu ^^