Disclaimer: All character belong to Tite Kubo. But this story purely mine. I don't take any profit from this work. It's just because I love it.

Warning: AU, miss-typo, ficlet collections, for #NulisRandom2015

.

Frühling;

.

.

Spring

.

.

Chapter 14: Answer

.

.

Langkah tergesa, netra memandang awas, raut wajah gugup.

Lift sudah berada di depan Rukia ketika akhirnya gadis itu mengembuskan napasnya dengan lega. Melepaskannya seolah sedari tadi karbondioksida terikat dalam dirinya, melarang oksigen baru hingga membuat napasnya tersengal dan menipis aneh.

"Sial, aku merasa seperti sedang diburon."

Ting.

Lift terbuka.

"Nah, kau tidak membalas pesanku, Nona Kuchiki."

Netra amethyst sewarna bunga violet milik Rukia melebar. Refleks kejut membuat indera pengecapnya berteriak kecil. Sebelum kakinya kembali menarik diri untuk mundur, sebelah tangannya sudah lebih dulu ditarik sosok pencipta keterkejutannya barusan (sekaligus sosok yang seharian ini ia hindari) hingga akhirnya tubuh Rukia masuk ke dalam lift dengan sempurna.

Pintu lift kembali tertutup.

"Ichigo! Aku bisa berteriak dan melambai pada CCTV di dalam lift ini jika kau—"

"Hei, aku selalu suka caramu menyebutkan nama depanku."

"—tidak melepaskanku!"

Sret.

Genggaman itu terlepas dengan mudahnya. Wajah Rukia memerah, entah karena terlampau marah, malu, kesal, atau hal-hal komplikasi lainnya.

Setelah dirasa napas Rukia kembali normal, Ichigo kembali menyentuh tangan gadis itu. Dengan iseng, ia tekan tombol dua puluh—lantai teratas gedung ini. Padahal tujuan Rukia jelas ada di lantai sepuluh—ruang keja kakaknya. Dan, omong-omong, mereka masih berada di lantai enam.

"Ichigo—"

"—aku mengirimimu pesan semalam."

Sama sekali tak ada kesan menuntut pada suara Ichigo. Hanya nada lembut dan hangat. Membuat Rukia sangsi apa pria ini tengah menuntut penjelasannya atau memang hanya berbasa-basi?

"A-aku tahu."

"Tapi kau tak membalas, hm?"

Dan, ya. Pria ini memang sedang menuntut penjelasan.

Rukia menghela napas, sesekali matanya melirik ke arah tombol lift—masih lantai sembilan. Kenapa pula tidak ada pekerja lainnya yang naik? Aneh sekali.

"Dengar, Ichigo. Apa hakmu untuk mengajakku berkencan, hah?"

"Semua pria yang sedang jatuh cinta berhak mengajak kencan gadis yang dijatuhi cintanya itu, kan?"

Kenapa gagasannya aneh sekali.

"Ya … memang." Rukia membalas cepat sebelum kembali mengujar. "Dan apa untungnya jika aku menerima ajakanmu?"

Ichigo melirik tombol-tombol di sisi lift. Lantai enam belas.

"Hm … kutraktir makan di kedai kaki lima yang sederhana? Kuajak kau keliling Karakura dengan motor alih-alih sedan mengilap? Kubawa kau ke pasar malam di desa-desa terpencil yang sangat berbeda dengan Disneyland? Dan, hal-hal lain semacam itulah."

Rukia sudah melongo, namun Ichigo tersenyum tipis.

"Bagian mananya yang menguntungkan, Ichigo-baka!"

Tawa Ichigo pun meledak. Lift sudah berada di lantai dua puluh, bersiap untuk kembali turun ke lantai tujuan mereka. Dan Ichigo kembali menarik Rukia mendekat.

"Itulah. Keuntungannya, kau akan tahu bahwa hal-hal sederhana semacam itu ternyata lebih mudah membawa kebahagiaan ke dalam hidupmu yang membosankan, Rukia."

Entah terhipnotis atau apa, Rukia hanya terpaku ketika Ichigo melarikan jari-jemarinya di sepanjang wajah hingga rahangnya.

"Tapi, aku tidak memaksa." bisik pria itu cepat.

Lift akhirnya berdenting, menunjukkan mereka telah sampai di lantai tujuan. Pintu lift terbuka, dan Ichigo sudah bersiap untuk keluar ketika Rukia menahan sebelah tangannya.

"Baiklah. Aku mau."

.

.

tbc

a/n: special thanks to nchie ainie, Minnie TpOOh, Azura Kuchiki, stefymayu yeniferangelina. Jangan bosen-bosen mampir, ya xD see you next chapter!

LastMelodya