.CONNECTED.

BARBIE HUANG present

Cast Wu Yi Fan / Kris – Huang Zitao / Tao –Oh SeHoon / Sehun

Other Lu Han – Park Chanyeol – Byun Baekhyun

Genre Drama , Romance, Triangle Love , School Life

.

Warning YAOI / BL / Boys Love

.

! ! ! DONT LIKE DONT READ ! ! !

! DO NOT COPY PASTE OR PLAGIARISM MY FANFIC !

.

.

°Chapter 13°

.

.

Mata tajam itu tidak berubah sama sekali, seringainya menjadi- jadi kala melihat sebuah kartu tergeletak disana. Sehun merendah lalu menggapai kartu tersebut.

'Kartu Mahasiswa'

"Got you... Huang Zitao!"

.

.

.

Tao tidak berlari, ia hanya berjalan secepat mungkin dan berusaha terlihat tenang. Beberapa kali ia melihat kebelakang, takut jika seseorang membuntutinya. Gedung asrama Halevey sudah berada didepan mata, kaki itu seperti gemetaran. Sungguh ia ingin pikirannya tenang agar ia dapat mengontrol dugaannya. Saat ia akan membuka pintu asrama itu—

Grep!

Sebuah tangan menarik Tao kesisi lain dari gedung asrama.

"Agh!" Tao berusaha menarik lengannya yang digenggam erat oleh Sehun. Benar, pemuda tampan itulah yang kini menarik lengan Tao agar menjauh dari pintu utama gedung asrama. Pemuda panda mau tidak mau mengikuti kemana Sehun akan membawanya karena tidak bisa melepaskan lengannya yang dipegang erat oleh Sehun. Ketakutan sedikit menguasai perasaan Tao.

Dan disinilah mereka terhenti, disebuah gazeboo yang terletak diselatan gedung asrama Halevey. Sehun mendudukkan Tao disebuah kursi panjang disana, hingga pemuda manis itu sedikit meringis. Tao tetap menunduk tidak menatap Sehun sama sekali.

"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu." Ujar Sehun dengan nada mengejek.

Tao menelan kasar liurnya kemudian membuang muka kesamping. "O-Oh... kau mencariku? Ada perlu apa, Sehun-ah?"

"Apakah seperti itu caramu menjawab perkataan orang lain yang ada dihadapanmu? Tanpa melihat mata si lawan bicara?"

Tao diam mendengar sindiran Sehun.

"Kau benar- benar sopan, Mr. Huang Zitao."

Kali ini Tao merasa dia mulai keterlaluan. Pemuda manis itu menghela nafas pelan kemudian meluruskan kepalanya, perlahan mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah Sehun—

DEG

Apakah ini mimpi?

Tao membulatkan mata tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Terkejut karena ekspresi wajah dingin dan angkuh yang biasa menghiasi wajah Sehun menghilang tanpa jejak. Berganti dengan ekspresi wajah terluka dan hancur. Tao bersumpah mata Sehun yang ia lihat kali ini penuh dengan tekanan dan kesesakan. Berhasil menghentikan sejenak pemikiran Tao untuk pergi dari tempat itu.

"Apakah kau membenciku? Hingga menatapku saja kau tidak sudi?"

Tao langsung bangkit dari duduknya dan wajahnya terlihat panik. Lebih pada rasa bersalah karena Tao rasa dia sudah sangat keterlaluan pada Sehun. Secara langsung Sehun tidak pernah menyakitinya, bukan?

"Bu-Bukan begitu, Sehun-ah! Aku hanya—"

Hanya apa? Memangnya apa yang akan Tao jelaskan? Ia tidak mungkin mengatakan bahwa Luhan dan Kris melarang keras dirinya untuk bertemu dengan Sehun apalagi melakukan kontak dengan Sehun. Dan lagi Tao juga tidak mungkin mengatakan 'Aku hanya takut berbicara denganmu karena kau terlihat menyukaiku.' Itu sama saja bunuh diri.

"Tao-ya?"

Sehun sedikit menunduk agar wajahnya lebih dekat dengan wajah Tao, bermaksud memperjelas pandangannya karena Tao nampak melamun dan memikirkan sesuatu. Tapi pemuda manis itu cepat sadar hingga ia mengalihkan wajahnya kembali. Tanpa diduga Sehun mundur kemudian pergi dari tempat itu. Tentu saja, Tao heran karena Sehun pergi dari tempat itu begitu saja.

Yang membawa dia ketempat itu 'kan Sehun.

"Tu-Tunggu!" Tao bermaksud mengejar Sehun, tetapi langkah kakinya terhenti. Ia hanya memperhatikan punggung Sehun yang perlahan menjauh lalu berbelok dan menghilang. Pemuda manis itu menghela nafas panjang, berjalan dengan gotai untuk kembali keasrama. Entah mengapa Tao jadi merasa bersalah pada Sehun.

"Dasar aneh." Gumam Tao lirih.

.

.

.

.

"Lama sekali."

Tao ingin melempar makanan yang ia bawa kewajah Kris rasanya. Pemuda manis itu berjalan masuk kedalam kamar sembari menghentak- hentakan kaki. Kris menyadari bahwa ekspresi wajah Tao seperti sedang kesal. Apalagi cara Tao mengeluarkan makanan dari dalam kemasan.

"Hey?" Kris mencoba mendekati Tao, perlahan berdiri disamping pemuda manis itu lalu mengusap rambut si manis yang terhenti karena sentuhannya. Tao menghela nafas panjang kemudian tersenyum lelah kearah Kris.

"Apakah orang Amerika semuanya seperti itu?"

"Ha?"

"Tidak apa- apa... hanya aku kurang terbiasa dengan ke-'terus terang'-an orang Amerika." Tao mencoba mengalihkan topik. Meski sebenarnya ia memang kesal digoda seperti tadi. Tapi yang membelengku pikirannya adalah apa yang telah ia temukan perihal Oh Sehun. Oh Tuhan, marijuana bukanlah barang yang seharusnya ia miliki!

"Mereka menggodamu?"

Tao mengangkat bahu. "Sepertinya..."

Kris ingat betul bagaimana antusiasnya Henry menceritakan bahwa Tao sangat populer bahkan sudah mendapat julukan yang sedikit vulgar di Universitas itu, Sexy Panda. Sudah bisa dipastikan bahwa pemuda ini akan sering diganggu mulai dari sekarang. Kris menghela nafas pelan lalu memeluk tubuh Tao dari belakang. Merebahkan kepalanya dipundak Tao.

"Yang kau lihat hanya aku, bukan?"

Tao tersenyum mendengar bisikan Kris. Pemuda manis bermata cantik itu lalu mengusap tangan Kris yang melingkar diperutnya. "...Adakah seseorang yang kau lihat dimataku selain dirimu?"

Kris sadar jawabannya akan mengguncang Tao tetapi ia mencoba menguji pemuda manis itu saat ini. "Chanyeol."

Tetapi diluar dugaan pemuda panda itu terlihat tenang. "Ya... Chanyeol akan selalu ada didalam hatiku, seperti halnya mama dan papa."

"Apakah kau yakin—hanya menganggup Chanyeol seperti keluargamu sendiri?"

Tao mengangguk mantap. "Aku sudah memilikimu—yang tertinggi didalam hatiku. Untuk apa aku mencari orang lain untuk menggantikannya?"

Lega.

Dada Kris terasa lega dan ringan. Ia tersenyum tipis dan mempererat pelukannya ditubuh Tao. Ia ingin bertahan seperti ini, memeluk Tao yang mengusap rambutnya lembut. Kris tidak pernah merasa lebih nyaman dari ini. Kebahagiaan sedang ia peluk dengan erat, tak berniat melepasnya sama sekali. Jika nanti ia dan Tao akan terpisah lagi, disaat itulah Kris akan benar- benar mati. Dan ia bersumpah tidak akan membiarkan itu semua terjadi. Meski itu berarti ia harus kehilangan segalanya hanya untuk mempertahankan Zitao. Ia rela. Apapun itu.

"Jangan buang aku lagi... Zitao."

.

.

.

Ia baru ingat bahwa ada tugas yang harus ia kumpulkan besok, ah maksudnya pagi ini. Huang Zitao terbangun pukul 4 pagi dengan ingatan perihal resume jurnal yang harus ia kumpul pagi ini.

"Oh Tuhan! Bagaimana mungkin aku bisa lupa?!"

Tao bangkit dari ranjangnya lalu berjalan menuju meja belajar. Ia ambil beberapa buku panduan dan membukanya. Tetapi ia tidak menemukan lembaran jurnal yang diberikan Prof. Smith untuk di resume. Meski ia berhati- hati agar Kris tidak terbangun, tetap saja Tao terlihat sangat panik. Tentu, ia tidak mau membuat masalah pada tugas pertamanya. Tao berusaha mengingat— ia duduk bersebelahan dengan Sehun, ia ditunjuk berpasangan dengan Sehun dan... Benar juga! Sehun yang mengambil jurnal itu dari professor.

"Sehun!" Tao menepuk keningnya lalu berjalan keluar kamarnya perlahan. Sekejap melirik kearah Kris yang masih tertidur. Takut membangunkan pemuda tampan yang sempat dikerjai oleh Tao sebelum mereka tidur. Pintu kamar Kris dan Tao sudah terbuka dan dengan sangat hati- hati Tao melangkah keluar. Beruntung ia masih memiliki kunci kamar Sehun. Jadi Tao tidak perlu mengetuk pintu itu untuk membangunkan Sehun ataupun Luhan.

klek

Keadaan kamar itu gelap kala Tao mengintip kedalam, pelan- pelan ia melangkah masuk kemudian menutup pintu. Ia hanya fokus pada meja belajar Sehun, ia berjalan menuju meja belajar Sehun dan berusaha mencari jurnal tersebut dimeja belajar si tampan. Awalnya sulit karena keadaan yang remang, tetapi senyuman pemuda manis itu mengembang saat ia mendapatkan jurnal itu setelah mengangkat tumpukan buku.

Tapi, ketika ia berbalik badan—

Tao melihat pintu kamar mandi terbuka sedikit dan suara air mengalir cukup nyaring. Pemuda manis itu melirik ranjangnya yang dulu, melihat Luhan masih tertidur nyaman sembari memeluk bantal besar berbentuk rusa. Earphone terpasang dikedua telinga si cantik. Ah, apakah Luhan tertidur saat mendengar musik?

Tetapi yang membuat Tao tersentak adalah... ranjang Sehun yang kosong. Apakah pemuda tampan itu ada didalam kamar mandi? Tetapi... apa yang ia lakukan pagi- pagi buta begini? Menelan liurnya, Tao berjalan pelan mendekati kamar mandi. Ia peluk jurnal yang tadi ia pegang. Begitu dekat dengan pintu kamar mandi, Tao menggerakkan kepalanya untuk melihat kedalam. Dan—

Sehun yang tertidur didalam bathtub.

Kepalanya terkulai ditepi bathtub.

Tao langsung masuk karena prasangka pertamanya adalah Sehun tidak sadarkan diri. Apalagi kepala pemuda tampan itu yang terkulai lemah. Ia lupa kapan membuang jurnal yang ada ditangannya, yang ia lakukan saat ini menangkup pipi Sehun dengan kedua tangannya.

"Sehun? Sehun-ah?!" suara Tao terdengar bergetar.

Apa yang terjadi padamu?

Mata Sehun yang terpejam tak juga terbuka. Kepanikan sungguh membuat Tao kalut, ia lalu mengguncang pundak pemuda tampan yang terlihat pucat tersebut. "Sehun-ah? Kau baik- baik saja? Sehun-ah!"

Tao tidak suka ini. Karena Sehun sama sekali tidak bereaksi dan ia terlihat tak bernafas. Pucatnya kulit Sehun yang basah tentu saja membuat Tao merinding dan gemetaran. Bagaimana jika Sehun memiliki penyakit dan ia menyembunyikannya selama ini? Tao tidak lupa dengan ingatannya melihat Sehun dan temannya tadi malam. Jangan katakan—pemuda tampan ini... overdosis?

GREP!

Genggaman dipergelangan tangannya menyentak lamunan pemuda manis itu. Ia hampir mundur jika saja tangan dingin itu tidak menariknya maju kedepan. Tao nyaris masuk kedalam bathtub, beruntung sebelah tangannya menyangga tubuh itu. Tetapi, yang membuat Zitao terhenti ditempat adalah mata pemuda tampan itu. Mata Sehun.

"Kau sangat cantik... jika dilihat sedekat ini." bisik Sehun parau.

Tao mengerjapkan mata seakan sadar akan sesuatu. Ia berusaha menarik tangannya dari Sehun tetapi tarikan Sehun selanjutnya benar- benar membuat Tao masuk kedalam bathtub, apalagi kedua lengan Sehun sudah mengunci tubuh Tao.

"Ap—Apa yang kau lakukan?!" Tao menggerakkan tangannya hingga air didalam bathtub tumpah beberapa.

Sehun tersenyum licik. "Membuatmu basah."

"Sehun-ah! Lepaskan tanganmu dari tubuhku dan biarkan aku keluar dari tempat ini!" Tao terus berusaha melepas tangan Sehun dari tubuhnya, hanya saja ia tidak nyaman dengan sentuhan yang baru saja mengenai keningnya. Tidak sengaja bibir Sehun mengenai kening Tao karena gerakan pemuda panda tersebut.

.

"Jika kau tidak perduli—kenapa kau selalu datang?"

.

DEG

Gerakan Tao terhenti.

Pemuda panda itu sedikit mendongakkan wajahnya untuk mencapai wajah Sehun. Kedua mata mereka tertaut cukup dalam, hingga Tao tidak sadar bahwa ia berdebar- debar. Sehun... mirip. Sangat mirip dengan Kris.

"Kenapa kau selalu berkeliaran disekitarku?"

Tao masih tidak menjawab. Tangan Sehun sudah mengusap pipi Tao dengan lembut. Pemuda cantik itu mengalihkan matanya, ia sadar tidak boleh memandang pemuda yang bukan kekasihnya terlalu lama. Tetapi Sehun langsung membawa wajah Tao kembali lurus kearahnya.

"Jawablah."

Tao menggeleng cepat lalu kembali berusaha bangkit, karena hanya sebelah tangan yang menahan tubuh Tao—pemuda manis itu bisa keluar dari bathtub dengan mudah. Pakaian yang Tao gunakan basah kuyub dan ia tidak mungkin kembali kekamarnya dengan keadaan seperti ini. Sehun ikut bangkit dari sana dan mengambil handuk yang tergantung didekat sana. Tapi itu bukan untuk dirinya. Ia melingkupi tubuh Tao yang basah dengan handuk itu.

"Tunggu disini. aku akan mengambilkan baju gantimu—"

"Apa yang selalu kau lakukan disini?" Tao malah bertanya cepat sembari menunjuk bathtub. "Apa yang sebenarnya selalu kau lakukan?"

Kau ingin tahu? Kelemahanku?

Sehun yang akan keluar kamar mandi, kembali membalikkan tubuhnya untuk bisa bertatap muka dengan Tao. Pemuda tampan berwajah pucat itu tersenyum meremehkan. Ia dekati Tao yang masih memandanginya tajam.

"Aku hanya ingin menghilangkan 'keinginan' itu. Setiap aku menginginkan 'barang itu'... aku akan menenggelamkan diriku beberapa menit didalam air."

"Keinginan?"

Sehun mendekatkan wajahnya kewajah Tao begitu cepat, hingga ujung hidung mereka bersentuhan. Tao menelan kasar liurnya, membulatkan mata tatkala Sehun melingkarkan lengannya dipinggangnya. Tao bahkan merasa bahwa Sehun meremas pakaiannya.

"Kurasa kau tidak ingin tahu."

Tao mengalihkan wajahnya untuk kesekian kali, ia lepaskan lengan Sehun dari tubuhnya. Pemuda panda memeluk tubuhnya sendiri, menandakan bahwa rasa dingin mulai merasukinya. Sehun mengerti, sebelum ia keluar dari kamar mandi untuk mengambilkan baju ganti untuk Tao, pemuda tampan itu mengusap leher Tao. Tetapi pemuda manis tidak merespon, ia tetap diam. Bahkan ia tidak melirik Sehun yang sudah keluar dari sana.

.

"Jika kau tidak perduli—kenapa kau selalu datang?"

.

Tao menggigit bibir bawahnya, memejamkan mata.

.

"Karena... kau mengingatkanku padanya—"

.

Pada Chanyeol.

.

.

.

Brak!

Kris mendudukkan tubuhnya dibangku sembari membanting tas sandangnya diatas meja. Henry yang sudah duduk sedari tadi disana lalu mengerjapkan mata. Memperhatikan bagaimana tertekuknya wajah tampan Kris. Pagi ini nampaknya sangat suram untuk pemuda tampan bernama asli Wu Yifan itu.

"Any problem?"

Kris melirik kesal Henry yang baru saja bertanya, ia menghela nafas panjang kemudian menggeleng. Tapi Henry tahu bahwa Kris berbohong. Mana ada orang yang tidak memiliki masalah tapi kedua alisnya tertekuk marah dan menghempas apapun benda yang ada ditangannya.

"Kau tahu dimana aku bisa membeli sebuah ponsel."

Oh, Kris bertanya hal yang sama sekali tidak diduga oleh Henry. "Ya, tentu. Tumben kau ingin memiliki ponsel. Bukankah kau tidak terlalu perduli dengan—"

"Temani aku saat istirahat siang. Aku memerlukannya."

Henry mengangguk, suara Kris benar- benar tidak ramah. "Okay."

Kris harus memiliki alat komunikasi saat ini karena ia sungguh tidak ingin Tao berada diluar kontrolnya. Ia tidak khawatir tanpa sebab, apalagi setelah kejadian tadi pagi. Bagaimana mungkin ia tidak marah saat ia terbangun, ia melihat Sehun mengantarkan Tao kekamar mereka dengan ekspresi wajah Tao yang tenang dan menunduk. Kris memang pura- pura masih tertidur agar ia bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh Sehun dan kekasihnya Tao.

"Tugas itu sudah kuselesaikan. Jangan khawatir."

"Maaf merepotkanmu."

"Tidak apa- apa... Lanjutkan tidurmu. Kita bertemu dikelas nanti."

Kris tidak tahu apa yang terjadi karena keadaan tiba- tiba hening. Ia juga tidak mau membuka matanya dan ketahuan hanya berpura- pura masih tertidur.

"Sehun-ah..." Tao bersuara. "...jangan lakukan hal yang bisa membahayakanmu."

Sehun tidak menjawab dengan cepat. Tapi Kris mendengar suara dingin itu membalas perkataan Tao. "...Sampai nanti."

Kemudian Kris mendengar suara pintu tertutup.

BRAK!

Kris lagi- lagi menghempaskan buku yang ada ditangannya, jauh lebih keras. Henry dan beberapa orang yang ada didekat sana langsung memperhatikan Kris. Kemarahan yang Kris tahan sedikit pembuat pemuda tampan itu sulit bernafas. Ia benci mengetahui kenyataan Tao masih saja berhubungan dengan Sehun. Ia tahu bahwa Tao tidak akan mungkin mengkhianatinya, tetapi rasa takut itu tertumpuk semakin tinggi. Ketakutan akan masa lalu yang terulang kembali.

"Kris— are you okay? I mean.. really 'OKAY'?" tanya Henry sedikit takut.

Kris tidak menjawab, ia malah keluar dari kelasnya. Tidak mengacuhkan panggilan Henry. Pikirannya hanya berpusat pada Zitao. Ia tahu ini mulai tidak sehat karena apa yang ada dipikirannya adalah cara mengekang Zitao agar tidak lari darinya. Apa yang ada didalam pikirannya adalah cara agar Tao bisa ia batasi. Agar Zitao tidak melihat orang lain. agar Zitao—

Aku tidak ingin menyakitimu—sungguh

Kris tersadar, ia sudah berada didepan pintu kelas Zitao.

Sejak kapan kakinya melangkah kekelas ini?

Kau membuatku gila

Membuatku kalut layaknya manusia tak waras

Mata tajam Kris mencari sosok kekasihnya. Dan ia menemukan sosok itu tengah tertidur dimeja belakang paling sudut. Senyuman Kris merekah tapi hanya sesaat ketika ia menyadari siapa seseorang yang duduk disamping sang kekasih. Seseorang yang menatap kekasihnya yang tengah tertidur—

.

"Zitao akan meminta perpindahan kamar. Sebenarnya saya merasa jika Mr. Oh Se Hoon kurang menyukai Mr. Huang Zitao, itulah yang saya rasakan ketika mengantarkan mereka berdua keasrama pertama kalinya."
.

Lantas—mengapa tatapan itu begitu lembut dan penuh pujaan?

Mengapa tatapan mata yang dahulu memang terlampiaskan dari benci bisa berubah melindungi dan lembut seperti itu?

.

"Ya.. Mr. Oh Se Hoon selalu memandang Mr. Huang Zitao dengan tatapan dingin dan tak perduli. Saya bahkan mengira Mr. Oh Se Hoon memiliki dendam pada Mr. Huang Zitao. Tetapi itu hanya menurut pandangan saya."

.

Jika memang ada dendam... mengapa ekspresi wajah itu teduh dan tenang?

Mengapa tatapan itu jauh lebih dalam dan penuh kasih sayang?

Mengapa Kris tidak menemukan kebencian dimata Sehun kala memandang Tao? Mengapa pemuda dingin bermata tajam itu malah mengusap lembut rambut Tao agar mempernyaman tidurnya?

Kris merasa sesak kala itu, sesak yang mengikat tubuh dan pergerakannya. Panas ia rasakan dikala mata tajamnya menangkap tangan Sehun bergerak mengusap pipi sang kekasih. Ia tidak suka ada yang menyentuh Tao seperti itu! Ia bersumpah tidak akan pernah membiarkan siapapun memisahkan mereka lagi. Kalutnya pikiran pemuda tampan itu membuatnya bergerak tanpa sadar. Kaki itu mengayun cukup cepat, menuju kedua pemuda yang masih belum menyadari kedatangannya.

.

Kau tahu apa yang paling kutakutkan didunia ini?

Hatimu.

Hatimu yang bisa kapan saja berubah dan berpaling dariku

.

BRUAK

Sehun tersungkur dari tempat duduknya. Tubuhnya membentur meja dan kursi lain dan menimbulkan bunyi bising dikelas itu. Tentu saja membuat Zitao tersentak bangun dan betapa terkejutnya ketika ia melihat dengan jelas Kris ada dikelasnya. Tapi yang lebih mengejutkan adalah sosok Sehun yang kini berusaha bangkit dengan darah yang mengaliri disudut bibirnya. Mahasiswa lain yang ada dikelas tersebut bahkan ada yang keluar dari sana.

"Cih!" Sehun meludah dan mengusap sudut bibirnya. Mata tajam Sehun seperti mengubah atmosfir suasana. Kris tidak begeming, ia masih menahan emosinya agar tidak membunuh Sehun saat ini juga.

"Aku berusaha untuk bersabar, Mr. Oh Sehoon."

Sehun menyeringai. "Kesabaranmu tidak ada gunanya."

Tao seperti ditarik kembali kemasa lalu. Tubuhnya dingin dan tak bisa bergerak. Bayangan Sehun yang kini bergerak memukul Kris seperti berubah menjadi Chanyeol. Kejadian beberapa tahun lalu kembali terputar diotak Tao. Bagaimana takut dan mengerikannya peristiwa itu. Kris yang membalas pukulan Sehun kini nampak lebih brutal. Dan Tao takut— mengapa semua jadi seperti ini?

"...berhenti—"

Suara Tao pelan sekali. Kedua pemuda yang tengah baku hantam didepannya ini tidak juga berhenti. Sungguh, rasanya ia ingin berteriak dan menghentikan semuanya. Tapi tubuhnya kaku—

Dan sesuatu seperti menarik tubuh Tao untuk bergerak saat ia melihat Sehun akan memukul Kris tepat diperut pemuda tampan itu—

"JANGAN!"

Kepalan tangan Sehun terhenti tepat waktu, ketika ia melihat punggung Tao tepat berada didepannya. Pemuda tampan berambut perak tersebut menghempas tangannya kesisi lain, tidak jadi melakukan niatnya untuk memukul Kris. Sedangkan Kris kini membulatkan mata tak percaya akan apa yang dilakukan oleh Tao. Melindunginya? Tao baru saja melindunginya?

"Bodoh!" Bentak Kris memegang kedua pundak Tao, wajahnya benar- benar khawatir. "Apa yang kau lakukan, ouh! Kau bisa terkena pukul jika kau melindungiku!"

"Aku—aku tidak mau kau terluka..." lirih Tao menjawab.

"Oh Tuhan, Zitao!" Kris langsung memeluk pemuda manis itu lalu mengecup kening Tao cukup lama. Tao balas memeluk Kris erat sekali, ia benamkan wajahnya didada Kris yang berdetak cepat sekali. Ia tidak tahu bahwa kedua pemuda tampan itu kembali bersitegang dibelakangnya.

"Aku tidak memulai apapun." Mulai Sehun dengan suara remeh seperti biasa.

"Kau menyentuh kekasihku, apanya yang tidak memulai apapun? Kau pikir apa yang kau lakukan tidaklah salah?" Kris menggertakkan giginya, geram.

Sehun menjilat darah yang ada disudut bibirnya. "Ah, maafkan aku. Sepertinya aku tidak bisa mengontrol tanganku dengan baik."

.

DEG

.

Tao ingin menutup telinganya, ia tidak ingin mendengar apapun yang Sehun katakan. Dan lagi, kapan Sehun menyentuhnya? Apakah ketika ia tertidur? Tao sama sekali tidak tahu dan ia sangat malu karena Kris melihat hal itu. Tao takut Kris salah mengira dan pergi lagi dari hidupnya. Jika itu terjadi untuk kedua kalinya, Tao tidak akan sanggup hidup lagi rasanya.

"Right here, professor! Right here!"

Sehun dan Kris sadar bahwa seorang professor datang mendekati mereka. Tao langsung melepas pelukannya dari tubuh Kris kemudian menunduk dalam. Ketiga pemuda itu tidak berkata apapun hingga professor tua itu tepat berada didepan mereka.

"What happen here?"

"Nothing, sir." Jawab Sehun dengan senyuman dibuat- buat, ia kemudian menatap dingin Kris yang menarik Tao kebelakangnya. "Everything is fine."

"Are you sure?" kali ini mata professor menuju kearah Kris.

"Yes, sir."

Professor tua tersebut lalu mengangguk dan pergi meninggalkan mereka bertiga. Kris menarik tangan Tao dan mengambil tas pemuda manis itu dan memindahkannya kebangku paling depan. Sudah dipastikan Kris melakukan ini agar Tao tidak duduk bersampingan dengan Sehun. Tao hanya menurut atas apa yang Kris lakukan. Dikedua bangku yang ada disamping Tao sudah terisi. Ini menandakan bahwa Sehun tidak bisa duduk disamping Tao.

"Maaf membuatmu ketakutan." Bisik Kris mengusap pipi Tao lembut.

"Tidak apa- apa... aku hanya terkejut kau bisa ada digedung ini. Bukankah kelasmu ada digedung lain?"

Kris sendiri juga tidak mengerti bagaimana cara ia menjawab pertanyaan Tao. Alhasil ia hanya tersenyum simpul lalu mengusak rambut halus berwarna pirang milik Tao. "Aku... pergi dulu. Jika kau memerlukan sesuatu kau bisa mengatakannya pada Luhan."

"Baik."

"Oh, ya! Aku akan membeli sebuah ponsel nanti siang bersama Henry. Setelah itu kau tidak perlu menghubungi Luhan, kau bisa langsung menghubungiku." Jelas Kris sembari melirik jam tangannya. Dan lagi seorang professor sudah masuk kedalam kelas Tao. "Jaga dirimu."

Tao mengangguk cepat. "Kau juga!"

Senyuman manis yang diberikan oleh Kris sebelum ia berjalan keluar dari kelas Tao. Ia sempat menabrakkan pundaknya kepundak Sehun sebelum ia benar- benar pergi. Tao menghela nafas panjang, Kris masih saja menyulut perang. Ah, kekasihnya memang jauh berbeda dari yang dahulu. Atau mungkin sifat Kris yang dulu kembali nampak? Tao ingat sekali sebelum bertemu dengan Kris, sang ayah dahulu menceritakan bagaimana keras kepala dan tidak mau kalahnya Kris hingga ayah Kris meminta tolong agar Tao bisa membuat Kris menjadi anak yang lebih tenang.

Tao tergelak sesaat. Ia jadi ingat pertemuan pertama mereka. Ia tidak sengaja membanting badan Kris dengan kemampuan wushu-nya. Hingga Kris benar- benar pucat dan tidak bergerak. Masih ingat bagaimana kesalnya Kris setiap kalah melakukan olahraga apapun dari Tao.

Ah, dia jadi rindu masa kecil.

"Excuse me, ...right?"sapa gadis yang duduk disampingnya.

"Yes, Iam."Tao berusaha ramah.

"This paper..." gadis itu memberikan sebuah gumpalan kertas. "...from that guy." Tunjuk gadis itu kearah belakang, tepatnya kearah Sehun yang duduk lumayan jauh dari dirinya. Sehun tersenyum mengejek, itulah yang Tao lihat sebelum ia kembali duduk lurus kedepan.

"Thank you." Tao tersenyum kearah sang gadis.

"You're welcome." Gadis Amerika itu kembali memperhatikan sang professor yang kini menulis sesuatu dipapan tulis dan menjelaskan sesuatu.

Tao membuka gumpalan kertas itu dibawah meja, berusaha tidak bersuara. Mata Tao menyipit saat ia melihat ada tulisan menggunakan hanzi dalam kertas tersebut. Ia sedikit mengangkat kertas tersebut, agar dapat membaca tulisan tangan itu lebih fokus.

.

—"Jangan kira ini selesai begitu saja, Tao-ya... Jika kau tidak ingin membuat kekasihmu dalam masalah, siang ini kita akan bertemu dikantin lantai 3."—

.

Tao meremas kertas itu kemudian memasukkannya kedalam tas. Ia berusaha kembali fokus pada professor. Kesal dan sakit hati ia rasakan kini. Apa lagi yang Sehun inginkan? Memangnya ia tidak puas dengan apa yang terjadi tadi? Untung saja mereka berdua tidak dihukum oleh pihak Universitas. Apakah dia lupa jika dia adalah mahasiswa pertukaran dari Tsinghua?

Tetapi ia tidak ingin melibatkan Kris lebih dalam, Tao harus bisa menyelesaikan masalahnya dengan Sehun secepatnya. Sebelum semuanya menjadi lebih buruk.

.

.

.

.

.

Situasi ternyata tidak seperti yang Tao duga. Kantin lantai 3 gedung tersebut ternyata sangat sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa dan dosen, tidak sebanyak kantin lantai dasar yang biasa Tao kunjungi. Tao jadi sedikit waswas dan bermaksud mengurungkan niatnya. Tetapi disaat ia membalikkan tubuhnya untuk pergi dari tempat itu, Sehun sudah ada dibelakangnya.

Tersenyum.

Glek!

Tao menelan kasar air liurnya lalu menunduk dalam. Melihat reaksi Tao, Sehun menghela nafas panjang kemudian mengacak- acak rambutnya malas. Ia benci kala melihat sikap Tao yang seperti ini, seperti ketakutan. Tidak kemarin, tidak sekarang, jika Sehun ada dihadapannya. Tao pasti selalu menunduk. Padahal Sehun sudah mulai mencoba untuk tersenyum tulus.

Tapi sepertinya image Sehun dimata Tao tidak akan secepat itu berubah hanya karena senyuman.

"Ayo, kita ambil meja untuk berdua." Ujar Sehun kembali memasang wajah dingin. Ia berjalan meninggalkan Tao, membuat pemuda panda mengikutinya dibelakang. Mengikuti kemana Sehun berjalan. Dan setelah menemukan tempat yang cocok, Sehun mempersilahkan Tao duduk.

"Kau ingin memesan apa?" tanya Sehun disaat pelayan menghampiri mereka.

Tao menyerahkan segalanya pada Sehun karena pemuda manis itu malas berfikir. Alhasil Sehunlah yang menentukan pesanan Tao dan dirinya sendiri. Setelah memesan, keadaan hening. Kedua mata Tao enggan menatap Sehun, sedari tadi ia hanya melihat kearah luar jendela yang tepat berada disampingnya. Sehun menghela nafas, lagi.

"Kau takut padaku?"

Tepat sasaran!

Tao langsung menatap Sehun, agak terkejut karena tebakan Sehun barusan. "Si-Siapa yang takut padamu?"

"Sikapmu yang menunjukkan bahwa kau takut padaku."

"Mengapa aku harus takut padamu!"

Sehun suka ini. "Pertanyaan itu yang seharusnya aku tanyakan padamu, mengapa kau takut padaku?!"

"Sudah kukatakan aku tidak takut padamu!" Tao terus melawan ucapan Sehun.

"Kalau memang tidak, tatap aku!"

DEG

Tao terdiam, cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Sehun. Wajah pemuda tampan itu benar-benar serius, tak ada kesan main- main. Sekali lagi Tao mengakui betapa tampannya pemuda berkebangsaan Korea dihadapannya ini. Tao bisa memastikan jika Sehun pernah beberapa kali ditanyai oleh pencari bakat karena ketampanannya tersebut.

"Jika kau takut menatapku karena kekasihmu, kau sungguh bodoh! Kekasihmu yang posesif itu sangat menyebalkan! Apapun niat baikku padamu selalu saja dianggapnya sebagai hal yang salah! Memangnya apa salahnya kau dan aku berteman?" Baru kali ini Tao mendengar Sehun berkata sepanjang itu.

"Aku rasa Kris menganggapmu orang yang berbahaya." jawab Tao spontan.

Sehun memutar bola matanya malas. "Memangnya aku pembunuh bayaran?"

Tao menghela nafas panjang, sangat panjang sehingga Sehun agak heran. "Begini, Mr. Oh Se Hoon. Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan padaku?"

Pemuda tampan berkulit putih tersebut melipat tangan didada. Pas sekali pesanan mereka sudah datang dan itu sedikit mengacaukan konsentrasi Tao karena—Wow! Bagaimana ia bisa memperhatikan Sehun jika dihadapannya tersaji Cheesecake dengan siraman saus Strawberry serta secangkir Ice Chocolate. Pesanan Sehun hampir sama dengan Tao hanya saja Cheesecake milik Sehun tidak memakai saus Strawberry melainkan White Chocolate.

"Darimana kau tahu cake kesukaanku?" Tao kegirangan.

"Eh?" Sungguh Sehun tidak menduga jika cake kesukaan mereka sama. "Kau juga suka Cheesecake?"

"Yap! I LOVE CHEESECAKE!" Tao tidak sadar jika ia berteriak riang, membuatnya langsung menutup mulut kemudian memperhatikan sekitarnya. Beberapa orang yang berada disana hanya tertawa kecil melihat tingkah Tao. Lain dengan Sehun yang diam memperhatikan pemuda panda yang tertunduk malu dengan wajah memerah. Diam tidak sekedar diam kali ini, sedikit terperangah dan heran. Mengapa ia sesenang ini hanya karena mereka menyukai cake yang sama?

Mengapa dia berdebar- debar melihat wajah merona Tao yang malu- malu?

DEG

Sehun tidak mengerti.

DEG

Sehun tidak ingin merasakan hal seperti ini.

DEG

Dia tidak mau tersakiti lagi.

DEG

"Sehun?" Tao mengayunkan tangannya didepan wajah Sehun. Sontak saja pemuda tampan itu terkejut lalu nampak salah tingkah. Ia mengusak rambut peraknya kemudian menggigit bibir bawah. Tao mengerjapkan mata melihat ekspresi wajah Sehun. Jujur saja, Tao selalu mengira bahwa Sehun adalah manusia tanpa ekspersi.

"Kau baik- baik saja? Wajahmu merah."

Sehun tambah salah tingkah dibuatnya, ia tertawa kaku kemudian sedikit bersadar pada punggung kursi. "Ak-Aku? Merah? Ha-Ha-hahaha... ha.. mungkin karena siang ini cuaca panas."

Kali ini Tao yakin, pasti ada yang salah dengan Sehun.

"Kau...yakin?"

Sehun mengangguk sembari tersenyum kaku. "Se-Sebaiknya kita memberi perhatian pada cheesecake yang lezat ini."

Ternyata taktik Sehun untuk mengalihkan perhatian Tao berhasil. Pemuda panda itu kembali heboh dengan cheesecake dihadapannya. Sehun menghela nafas lega, matanya masih memperhatikan Tao. Bagaimana senangnya Tao melahap cheesecake itu kemudian bergumam riang.

Sehun kembali tersenyum, lembut sekali.

'Apakah aku membuatmu bahagia?'

Ia tidak mengerti, mengapa rasanya senang sekali membuat Tao bahagia seperti ini. Rasanya ringan dan tanpa beban. Ia senang karena kali ini ia bisa mengobrol santai dengan Tao. Sehun heran mengapa ia mudah sekali terbawa, Tao tidak lagi terlihat takut padanya. Mereka menikmati cheesecake mereka dengan obrolan ringan penuh canda tawa. Banyak yang Tao tanyakan tentang kehidupan Sehun begitu juga sebaliknya.

Sehun bersumpah, inilah cheesecake paling lezat yang pernah ia nikmati.

"Nah," Tao menjilat sendok kecilnya. "Apa yang ingin kau bicarakan?"

Sehun mengangkat tangan kanannya mengisyaratkan Tao untuk menunggu. Sehun mengambil dompet didalam saku celananya kemudian mengeluarkan sesuatu. Lalu ia mengarahkan sesuatu tersebut kearah Tao, alhasil pemuda panda itu cukup terkejut melihat apa yang Sehun berikan padanya.

"Ini! Kartu Mahasiswa milikku!" Tao mengambil kartu mahasiswa miliknya dari tangan Sehun. "Bagaimana mungkin ada padamu?"

"Aku menemukannya didekat asrama Miley tadi malam.."

DEG

Tao menelan kasar liurnya. Tao langsung teringat bahwa ia sempat tersesat di gedung asrama Miley tadi malam. Dan—disaat itulah ia melihat Sehun dan seorang mahasiswa lain bertransaksi. Oh Tuhan, semoga Sehun tidak curiga padanya! Tao tidak mau membayangkan apa yang akan dilakukan Sehun jika ia tahu bahwa Tao mengetahui transaksi marijuana yang Sehun lakukan tadi malam.

"Oh- Terima kasih, Sehun!" Tao langsung menyimpan kartu mahasiswa miliknya kedalam tas dan menyeruput Ice Chocolate-nya dengan cepat. Sehun bisa menangkap gelagat gugup dari sikap Tao.

"Apa yang kau lakukan disana?"

BANG!

Pertanyaan Sehun bagaikan tembakan untuk Tao.

"Aku-Aku? Disana? Itu... kemarin aku—aku tersesat seusai membeli makanan untukku dan Wufan—maksudku, Kris. Ya.. Karena itulah aku berada disana." Jelas Tao berusaha meyakinkan.

"Aku tahu kau ada disana, Huang Zitao."

DEG

Suara Sehun berubah serius. Tao menatap Sehun taat karena mata Sehun membidiknya dengan tepat. Sorot mata Sehun penuh selidik, berbeda dengan sosok Sehun beberapa menit yang lalu. Sehun kembali menjadi sosok dingin seperti biasanya.

"Aku—"

"Dan aku minta agar kau tidak mengatakan apapun yang kau lihat tadi malam. Pada siapapun. Termasuk Mr. Wu Yifan kekasihmu yang sangat baik hati." Kata- kata Sehun terdengar menekan.

"Sehun..." Tao menggeleng cepat. "Hal itu bisa membahayakan dirimu. Pikirkan akibat yang akan kau dapatkan jika masih terlibat disana. Sekarang aku mengerti apa yang kau lakukan setiap malam dikamar mandi... kau sudah mencoba berhenti, bukan? Setidaknya berjuanglah sedikit lagi!"

Sehun menyeringai kejam. "Kau pikir mudah? Aku sudah ketergantungan.. sejak lama. Kau pikir aku bisa berhenti meskipun aku ingin?"

"Kau pasti bisa—"

"Cukup! Aku hanya ingin memperingatkanmu bukan meminta nasehatmu!" Sehun bangkit dari kursi kemudian pergi begitu saja setelah meletakkan beberapa uang dollar. Tao yang masih terkesiap hanya bisa diam memandangi kepergian Sehun dari tempat itu. Pemuda panda itu kemudian memandang kedua piring cheesecake dihadapannya.

"Dasar bodoh..." Lirih Tao sedih.

.

.

Kau hanya berpura- pura, bukan?

Mengapa terlalu takut memperlihatkan kebaikan?

Mengapa terlalu takut untuk menyerah pada kebahagian?

Apa yang kau takutkan?

.

.

.

Kris tersenyum mantap saat sebuah ponsel berada ditangan kanannya. Henry yang sedang membawa mobil pribadinya memutar bola mata melihat tingkah temannya ini. Kris memang aneh, desis Henry.

"Jadi? Mengapa kau ingat untuk membeli sebuah ponsel?"

Kris menyimpan ponsel canggih tersebut kedalam saku celananya. Menatap lurus kedepan. "Komunikasi adalah hal yang penting, kan? Lagipula aku pikir aku sudah membutuhkannya."

Henry mengangguk, akhirnya Kris bisa berfikir normal. Tetapi masih ada yang mengangguk pikiran Henry, mengenai kejadian dahulu. "Bolehkah aku bertanya padamu?"

"Hmm.." Kris berdengung.

"Jika kau tidak berkenan menjawab, kau tidak perlu menjawabnya. Tetapi, aku hanya penasaran tentang... dirimu..." Henry begitu hati- hati. "Kau yang.. mencoba bunuh diri waktu itu."

Kris menahan nafas, pertanyaan Henry sungguh diluar dugaannya. Pemuda tampan itu mengalihkan pandangan matanya kearah lain. Ia melamun menatap keluar jendela sebelum menjawab pertanyaan Henry.

"Kau pasti merasa bersalah karena kejadiaan itu terjadi setelah aku berbicara denganmu, right?"

Henry diam, ia fokus pada jalanan.

"...Memang aku kalut setelah apa yang kau katakan pada hari itu. Tetapi bukan salahmu hal itu sampai terjadi—aku, aku yang bodoh karena merasa harapan dan keinginan yang selalu muncul akan membunuh hatiku sekali lagi." Kris tersenyum tipis. "Aku hanya tidak siap kembali terpuruk jika harapan yang selama ini aku yakini kembali membohongiku. Membuat usahaku sia- sia. Itu menyakitkan."

Henry tidak mengerti sepenuhnya, namun Henry tahu bahwa ini menyangkut anak bernama Huang Zitao yang sempat ia lihat bersitegang dengan Luhan dirumah sakit pada hari dimana Yifan mencoba untuk bunuh diri. Karena, Kris tidak pernah menunjukkan bagaimana perasaannya secara jujur. Semenjak Huang Zitao berada disekitar mereka, Kris mulai berubah. Ia nampak hidup. Lebih terlihat seperti manusia.

"Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan melakukannya lagi." Kris kembali buka suara. Kali ini suaranya tenang dan penuh percaya diri. "Harapan itu sudah terwujud. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Senyuman yang bisa Henry berikan pada Kris meski ia tidak bisa menatap sang teman baik karena sibuk menyetir. "Syukurlah. Setidaknya, aku ada disampingmu, bukan? Jika ada masalah, kau bisa sharing padaku."

Kris memukul lengan Henry kemudian tertawa kecil. "Haha! I know that. Thanks."

.

.

.

Benar.

Setidaknya, harapan itu kini bukanlah sekedar harapan.

Harapan sudah menjadi kenyataan.

That's enough, right?

.

.

.

Zitao menuruni anak tangga dengan wajah yang tertunduk lesu. Ia masih saja memikirkan apa yang terjadi beberapa puluh menit yang lalu bersama Sehun. Bukannya Tao ingin ikut campur terlalu dalam, tapi apa yang Sehun lakukan memang harus dicegah. Katakan Tao bodoh karena tidak mau meninggalkan masalah ini begitu saja, namun sungguh Tao tidak mungkin membiarkan seseorang terlibat dalam bahaya tanpa melakukan sesuatu. Tao tidak ingin ia menyesal dikemudian hari. Jika ia masih bisa mencegah hal buruk terjadi, mengapa ia tidak mencoba?

"Mengapa aku harus terlibat! Agghhh!" desis Tao kesal.

Tepat disaat kaki Tao melangkah pada jenjang terakhir. Ponselnya yang berada didalam saku celananya berbunyi. Pemuda manis itu mengerucutkan bibirnya lalu membaca sebuah nama yang sangat ia rindukan di layar ponselnya. Senyuman mengembang saat ia menggeser layar ponselnya untuk mengangkat telepon.

"Baekhyun!"

-"Zitao, apa kabar?"-

Tao mengerutkan keningnya, suara Baekhyun agak sedikit berbeda. Lesu dan terdengar sedih. Apakah terjadi sesuatu di China? Dan lagi cara Baekhyun menjawab ucapannya sangat berbeda. "Kau baik baik saja? Suaramu agak serak, Baekhyun."

Baekhyun tertawa kecil, Tao bisa mendengarnya meski tak terlalu jelas.

-"Kau tetap saja Tao yang dulu. Lebih mencemaskan keadaan orang lain daripada dirimu sendiri. Aiguu... padahal aku yang bertanya apa kabar, kau malah bertanya balik padaku."-

Tao melirik jam tangannya. "Aku bisa pastikan disana sudah larut malam, Baekhyun. Kau tidak mungkin sekedar bertanya kabarku pada jam- jam larut seperti ini, 'kan?"

Tak ada jawaban.

"Baekhyun?"

Masih tetap hening.

"Baekhyun? Kau masih disana?"

-"Kau memang sangat peka, Tao."-

"Kau adalah sahabatku, Baekhyun. Aku tidak mungkin tidak mengenalmu. Katakan padaku, aku akan mendengarkannya."

Memang kini keadaan Baekhyun di China sedang tidak baik- baik saja. Ia tidak tahu harus mengadu kemana lagi selain Tao. Dan mendengar ucapan Tao baru saja, sangat membuat hatinya lega dan ringan. Baekhyun tidak salah mempercayai Tao. Ia tidak salah menganggap Tao sebagai sahabatnya. Setelah menenangkan dirinya, Baekhyun memulai kembali.

-"Chan—Chanyeol...dia—dia akan menyusulmu."-

DEG

Tao membulatkan mata tidak percaya. Tunggu! Maksud Baekhyun, Chanyeol akan menyusulnya, Apakah—

"Tunggu, Baekhyun! Maksudmu.. Chanyeol akan ke Kanada?"

-"Bukan hanya itu, Tao... Dia juga akan berkuliah disana. Satu bulan lagi ia akan mengikuti ujian seleksinya. Jika... Jika Chanyeol lulus dalam ujian tersebut ia akan mendapatkan beasiswa yang sama sepertimu di McGill."-

Tidak.

Ini bukanlah kabar gembira bagi Tao, sama sekali tidak.

Tao mencoba mengontrol rasa cemas yang ia rasakan. Kepalanya seperti berputar- putar. "Apakah kau yakin Chanyeol akan mengikuti tes tersebut? Apakah Chanyeol yakin akan melanjutkan studi nya disini?"

-"Aku tidak tahu... hiks.."-

Tao mengerti perasaan Baekhyun. Karena Tao tahu dengan jelas bagaimana perasaan Baekhyun pada Chanyeol. "Baekhyun..."

-"Apa yang harus aku lakukan...hiks... agar mencegahnya, Tao? Dia—dia sama sekali tidak mau mendengarkanku.."-

Tao terduduk dianak tangga, ia mengusap kepalanya yang terasa berdenyut. Mengapa harus dalam waktu yang bersamaan masalah selalu datang? Sungguh Tao tidak siap jika Chanyeol menyusulnya saat ini. Well, ia belum siap melihat Kris yang terbakar api cemburu setiap saat. Intinya, masalah yang jauh lebih besar sudah menunggunya didepan mata.

'Tuhan, tak bisakah hidupku sedikit lebih tenang?'

Tao menjerit didalam hati.

.

.

.

CONTINUE

.

.

.

Anu, masih boleh cuap cuap ga?

MAAF YA SATU TAHUN BARU LANJUT MAAF BGT SUMPAH MAAP BGT DAN TERIMA KASIH SAMA SEMUA READER YANG SETIA NUNGGU, NGE-WA, NGE-LINE, NGE-BBM, NGE-TWEET, NGE-PM, NGE-REVIEW CUMA BUAT NANYA 'kak kapan lanjut epep nelangsa eneh?' MASYAALLAH CINTA BGT DEH

Aku kasih alasan: skripsi, penelitian, pacar. Jdi maaf tiga faktor diatas minta perhatian lebih hingga waktu yang aku punya dikit bgt. Tapi aku bakal trus usaha kok. YA TAO MINTA PERHATIAN JUGA HAHA/ngarep gpp lah

Thanks for SEMUA READER POKOKNYA! Reader yang selama ini selalu review dan cerewetin aku so special lah! Aku lanjutin ini ff karena kalian! Makasih sekali lagi!

SEE YA!

P.S : Support Tao no matter what happen. Iam back, because of him. I wont give up on you, Zitao. I trust you. That words will never change in my life.