Mingyu's POV
Udah hampir satu minggu ini gue gak ketemu Wonwoo sama sekali.
Gue gak tau gimana bisa dia selalu gak ada dan gak ketemu sama gue, padahal gue berkali-kali –mungkin puluhan kali—nyariin dia.
Mungkin dia punya radar yang bisa deteksi keberadaan gue dari radius sekian meter dan saat radar itu mendeteksi keberadaan gue, dia langsung pergi entah kemana.
Stop! Kembali ke laptop karena gue emang lagi nugas pake laptop.
Kepala gue pening mendadak baca soal-soal latihan yang harus gue kerjain.
Gue benci Fisika dan dengan bodohnya kemakan omongin Joshua untuk masuk Teknik Industri yang notabenenya makanan sehari-harinya adalah Fisika.
Dan kaya magic gue berhasil masuk ke fakultas dan kampus yang sama dengan Joshua.
Alhasil otak gue sering nge-hang, kaya sekarang ini.
Dari 5 soal yang ada, gue baru bisa selesaikan satu soal.
Itupun dengan diiringi doa di setiap penulisannya, karena gue ngerjainnya let it flow pokonya nulis entah bener atau enggak.
ARGGHH! Gue butuh bantuan Won—maksud gue Joshua.
"Lo ngapain garuk-garuk kepala? Siluman monyet di dalem perut lo udah bangun?"
Sialan. Itu pasti mulut pedesnya Vernon.
"Sialan lo! Gue stress ngerjain tugas Fisdas –Fisika Dasar—."
Vernon dan Joshua duduk samping gue dengan wajah kalem tanpa beban.
"Matdas tentang statistika kemarin lo stress, sekarang Fisdas juga lo stress. Makanya lo belajar, jangan ngurusin percintaan mulu," mulut pedesnya Vernon kambuh lagi.
Gue lempar pensil di tangan gue ke kepala Vernon.
Tau rasa lo.
"Ini gue lagi usaha. Kalian emang udah kelar tugas Fisdas?"
Gue yakin Joshua udah, karena emang dia cowok paling pinter di antara kami bertiga.
Berbahagialah dia yang dikaruniai otak encer, beda sama gue.
Joshua itu belajarnya gak rajin banget, di kelas sering ketiduran, buku catetan kosong, kerjaan main game dan basket, tapi gak tahu kenapa nilainya selalu bagus dari SMA.
Beda sama gue, yang kalo belajar tuh lama inget dan gampang lupa. Kalo Joshua itu cepet inget dan lama lupa.
Kalo gue sebelas dua belas sama Vernon. Meskipun gue akuin dia kadang-kadang lebih rajin sih. Kadang-kadang ya.
Gue juga gak satu SMA sama dia, jadi yang gue liat sejauh ini otak kami hampir sama.
Gue yakin Vernon belum ngerjain tugas.
"Gue udah kelar dari kemarin," jawab Vernon dengan bangganya, bangga banget malah astaga.
Joshua juga ikut ngangguk.
"WHAT!? Kalo Joshua udah kelar gue percaya, kalo lo..." gue menggantungkan kalimat gue sambil ngelirik ke arah Vernon curiga.
"Dibantuin Seungkwan," timpal Vernon enteng.
Seungkwan!? Temen Wonwoo!?
"SEUNGKWAN!?" tanya gue kaget.
Ya iyalah gue kaget, satu minggu ini gue gak ngeliat Trio Kwek Kwek –Wonwoo, Seungkwan, DK—di kampus, dan tadi Vernon bilang dia dibantuin nugas sama Seungkwan!?
"Njir kalian parah! Kenapa gak ngajak gue!?"
"Gue ngerjain sendiri, yang minta bantuan Vernon doang," jawab Joshua yang bikin perasaan gue lega.
"Kalo lo mau nanya Wonwoo, dia gak ada. Gue kemaren cuma belajar berdua sama Seungkwan," sahut Vernon seakan tahu apa yang mau gue tanyain.
"Tunggu.."
Ada sesuatu yang aneh gue endus.
"Lo kok bisa berdua doang sama Seungkwan?" tanya gue curiga.
Vernon langsung bantingin buku tugasnya ke gue.
"Gak usah banyak tanya, intinya lo mau liat tugas gue kan? Nih gue kasih liat!"
Dengan sangat senang hati, gue ambil buku Vernon.
"Tumben lo baik," kata gue mulai membuka buku tugas Vernon.
"Bego. Soalnya beda sama yang punya lo," kata Joshua yang langsung bikin gue inget kalo tugas ini gue kebagian kode soal A dan dia kebagian kode soal B.
Dan yang sama soalnya sama gue adalah Joshua.
"Josh..."
"Gak! Lo mikir sendiri! Gue gak mau liatin tugas gue!"
Belom ngomong apa-apa udah dapet penolakan.
"Ada Wonwoo tadi gue liat di taman belakang. Lo minta ajarin kakak asuh lo aja sono!"
Wonwoo!?
"Beneran lo?" tanya gue gak percaya.
Joshua mengiyakan dnegan serius. Gak mungkin juga Joshua bohongin gue tentang Wonwoo.
Gue dengan sedikit terburu-buru rapihin alat tulis dan laptop gue untuk nyamperin Wonwoo sebelum dia kabur lagi.
Dengan setengah berlari Mingyu menuju taman belakang.
Dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Wonwoo tapi tidak dia temukan.
Apa Joshua bohong? Gak mungkin.
Mingyu mengeluarkan HP di saku celananya dan mengetik sebuah nama.
Jeon Won Woo, lalu menekan menu panggilan.
Nomor yang Anda tuju tidak dapat...
Pippp.
Lagi-lagi bukan suara Wonwoo yang dia dengar.
Lo dimana sih!?
Bukan Mingyu namanya yang menyerah pada percobaan pertama.
Mingyu tahu kalau HP Wonwoo nyala, hanya saja Wonwoo yang menolak panggilan darinya.
Sudah kelima kalinya tapi jawabannya tetap sama.
Mingyu mencoba mengirim pesan, meski sangat kecil kemungkinannya untuk dibalas.
15:29 Mingyu : Lo dmna? Kita perlu ketemu.
Setelah 5 menit menunggu, tak ada jawaban sama sekali.
15:35 Mingyu : Gue serius. Lo dmn skrg?
Sambil menunggu balasan dari Wonwoo, Mingyu mengelilingi daerah sekitar perpustakaan yang biasa Wonwoo kunjungi.
Dddrrrtt... Dddrrttt...
Seungkwan melirik ke arah HP Wonwoo yang sedari tadi terus bergetar.
Deretan angka-angka tertera di layar HP Wonwoo.
"Kenapa sih gak diangkat aja?" tanya Seungkwan sambil mengambil HP Wonwoo.
Dengan cepat Wonwoo merebut HP itu dari tangan Seungkwan.
"Gak. Biasalah stalker. Gak penting," Jawab Wonwoo yang kembali fokus dengan film yang sedang dia tonton di laptopnya.
"Mingyu?" tebak DK asal.
Wonwoo tidak merespon sama sekali.
Sikapnya itu membuat DK dan Seungkwan tahu bahwa itu memang panggilan dari Mingyu.
"Kenapa? Masih marah?"
Wonwoo mendengus kesal.
"Suara lo ganggu fokus gue."
Bukannya menjawab, Wonwoo malah semakin fokus pada filmnya.
Mingyu kembali menemui Vernon dan Joshua karena dia tidak dapat menemui Wonwoo.
"Kenapa lo? Dia ada kan?" tanya Joshua.
Mingyu menggeleng.
"Tadi padahal ada ko di taman belakang, kami berdua liat," ujar Vernon dengan yakin.
Mingyu duduk samping Joshua dan menyenderkan kepalanya ke meja.
"Gue percaya. Gue mau minta maaf dengan tulus. Tapi buat ketemu aja susah," sahut Mingyu hampir menyerah.
"Dia kayanya marah banget ke gue gara-gara dia diberhentiin dari tugasnya," tambah Mingyu lagi.
"Mungkin sih," jawab Vernon.
"Terus gue harus gimana? Gue pingin dia balik jadi koordinator lagi,"
"Lo tinggal ngomong sama Woozi dan panitia inti lain. Jelasin yang sebenernya gimana. Mungkin masih ada salah paham," ujar Joshua.
Mingyu berpikir sejenak mencerna perkataan Joshua.
Selama ini Mingyu berpikir hal yang sama, tapi itu menjadi alternatif terakhir bagi dia.
Mingyu takut jika hal itu malah memperburuk citra Wonwoo di mata panitia lain.
Perkataan Joshua memperkuat tekad Mingyu untuk bicara langsung.
"Gue duluan ya. Biar masalah ini cepet kelar," sahut Mingyu seraya meninggalkan kedua temannya.
Masalah ini harus cepet kelar supaya beban pikiran gue berkurang. Pikir Mingyu seraya menyusuri koridor fakultasnya mencari keberadaan Woozi atau panitia inti yang lain.
Koridor terlihat sepi, bukan seperti koridor kelas saat SMA yang ramai karena istirahat dan pulang pada jam yang sama.
Senyum Mingyu mengembang saat melihat Jun yang sedang berjalan dari arah berlawanan.
"Jun!" panggil Mingyu seraya berjalan mendekat ke arah Jun.
"Lo liat Woozi gak?" tanya Mingyu langsung tanpa basa-basi.
"Dia lagi di Student Center. Ada perlu?"
Mingyu mengangguk.
"Dia lagi rapat bareng panitia ospek. Gue juga mau lanjut rapat. Duluan ya!" jelas Jun yang langsung berjalan menuju Student Center.
Rapat bareng panitia? Ini mungkin timing paling pas.
Mingyu tanpa pikir panjang langsung menuju SC.
Benar saja, Woozi dan panitia ospek sedang berkumpul.
Sepertinya mereka sedang istirahat.
"Woozi, gue mau ngomong penting," ujar Mingyu menghampiri Woozi.
Woozi mengalihkan pandangannya dari laptop di depannya pada Mingyu.
"Duduk aja. Ada masalah apa?" tanya Woozi.
Panitia inti yang lain diam-diam memperhatikan mereka berdua karena semua tahu mengenai kejadian Sabtu itu.
"Masalah yang waktu itu. Gue denger Wonwoo udah gak jadi panitia inti lagi gara-gara kejadian itu. Itu pure kesalahan gue dan Wonwoo gak seharusnya dapet hukuman dan perlakuan kaya gitu," jelas Mingyu.
Woozi menutup laptopnya dan menatap Mingyu serius.
"Iya gue tahu. Tapi di satu sisi ini kesalahan dia juga karena gak bisa jadi senior yang bimbing adik tingkatnya," sahut Woozi.
Kali ini ekspresi Woozi tidak semenyeramkan saat ospek. Bahkan terlihat seperti senior biasa.
"Dia udah ngingetin gue, gue aja yang malah maksa dan gak dengerin dia. Ini bukan salah dia," bela Mingyu yang tetap tak mengalah.
Suara mereka membuat suasana SC menjadi sepi.
Tak sedikit yang terang-terangan melihat dan memperhatikan mereka.
"Ini udah kebijakan panitia. Segimana pun salahnya lo, kami sebagai senior harus bertanggung jawab. Panitia ospek itu harus bisa jadi panutan buat junior kita. Dengan kejadian kemarin, bisa bikin temen satu angkatan lo salah paham. Kami sebagai panitia gak mau ada yang ngerasa kalo lo diiistimewakan. Di mata kami, semua adik tingkat kami itu sama," jelas Woozi panjang lebar.
Nyali Mingyu sedikit menciut mendengar penjelasan Woozi.
Apa gak ada cara lain? Gak pantes kalo Wonwoo yang nanggung semua hukuman, padahal gue yang salah.
"Oke gue ngerti. Tapi karena di sini gue yang salah, gue pingin nebus kesalahan gue," sahut Mingyu agak memaksa.
Woozi mengangkat salah satu alisnya.
"Caranya?"
"Gue bakalan lakuin hukuman yang sama kaya Wonwoo lakuin," jawab Mingyu tegas.
Woozi menatap Mingyu bingung, "Push-up?"
"Iya, karena gara-gara gue juga dia gak jadi panitia inti lagi, gue bakal lakuin hukuman itu 2 kali lipat sebagai tanda penyesalan dan permintaan maaf gue," sahut Mingyu.
Woozi melirik ke arah panitia inti lain.
"Lo yakin?" tanya Woozi.
Mingyu mengangguk mantap.
Maafkan baru bisa update :)
Semoga kalian suka
Tunggu kelanjutannya yaaa~~~
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca :)
Aku tunggu follow, fav dan reviewnya
