Disclaimer: Any Original Character are property of myself and All Canon Character are property of the original creators, ENJOY! =D
Chapter 14, here we go! Selamat menikmati! :D
Hiruma beserta Habashira dan Kakei sedang mencoba membaca situasi yang semakin memburuk kendati banyak diantara mahasiswa Zokuto dan Ojo yang mati ditempat, kemudian mereka bertiga mengalami perdebatan yang sengit karena keterbatasan waktu karena mereka dan yang lain seperti tak bisa membedakan hidup atau mati pada saat itu.
"Seperti sudah perang dunia saja tempat ini." Ujar Kakei sambil mengisi amunisi,
"Kakei, seriuslah sedikit!" Habashira pun menepuk kepala Kakei,
"Sudah belum buat rencana cadangannya? Bunglon sialan!" Hiruma pun kesal dan mencoba memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan disaat terjepit seperti ini.
"Sebaiknya kita mundur dan beri mereka sedikit 'penghalang', itu akan lebih baik." Kakei pun memberi isyarat kepada Hiruma dan tanpa ragu dengan apa yang Kakei tunjuk, kapten iblis inipun melempar granat asap kebeberapa celah sehingga mereka dengan mudahnya mundur, Semua yang tersisa langsung mengerti apa yang diinginkan oleh Kakei tanpa perlu Kakei berteriak.
Setelah itu mereka berada di parkiran gedung yang belum selesai dibangun itu, Hiruma yang keluar terakhir berusaha berlari sekuat tenaga dan menunjuk kearah truk. Habashira yang mengerti apa yang Hiruma maksud pun tanpa ragu mengambil tameng yang kepolisian biasa gunakan untuk memblokade demonstran.
Hiruma pun berkata dengan kalimat formalnya, "Kita gunakan ini dan terobos masuk hingga lantai teratas. Ingat! Jangan tinggalkan satu orang pun dibelakang, Paham kalian semua?" semua pun mengangguk dan bersiap dengan formasi 'Pyramid Line' dibawah arahan Hiruma, yang berbadan besar seperti Otawara dan Tokage berada dideretan terdepan dan mereka semua dibagi menjadi 3 tim dan per tim diketuai oleh Hiruma, Habashira, dan Kakei yang bersiap dengan AK47 yang mereka gunakan sejak awal penyergapan.
Rencana Hiruma memang tiada duanya, mereka dengan mudahnya masuk kedalam dengan hanya mengeluarkan sedikit amunisi karena formasi 'Pyramid Line' hingga mencapai lantai teratas yang merupakan sarang utama dari Tatsujin. Hiruma yang sebenarnya sudah termakan tipu muslihat Tatsujin itupun terperangkap dalam ruangan yang memiliki pintu otomatis yang terkunci sehingga Hiruma dan timnya terperangkap didalamnya.
Dan ledakan yang tidak diduga oleh seluruh mahasiswa Zokuto dan Ojo pun terjadi. Kakei hanya terpaku pada ledakan itu dan pandangannya hanya bisa melihat cahaya putih didepan matanya.
"Kakei, Oi!", Kakei hanya bisa melihat cahaya putih itu, dan setelah ia membuka kelopak matanya, rupanya ia hanya bermimpi dan tertidur dikoridor rumah sakit. "Terimakasih Ta.." Entah apa yang membuatnya terdiam sesaat, "Kamu kenapa?", "Ta.. Takami?!"
"Kamu baru tau ya aku magang disini?" Tanya Takami pada Kakei sambil membereskan jasnya,
"Aku baru tau.." Kakei hanya bisa mengusap matanya berharap ia tidak bermimpi lagi,
"Aku kan kuliah di Kedokteran Shuuei, pasti aku akan magang selama beberapa bulan dan nantinya akan berpengaruh pada kelulusanku." Ujarnya sambil membantu Kakei untuk berdiri.
"Lalu bagaimana dengan Doctor Fishes? Bukannya kamu kaptennya?" Kakei hanya bisa bertanya demikian, padahal ada segudang pertanyaan yang sebenarnya ia ingin tnayakan pada Takami terkait kematian Hiruma, Habashira, dan Kid.
Takami hanya bisa tersenyum kala ia ditanya mengenai Doctor Fishes, "Oh itu, karena jam magang disini hanya sampai sore jadi malamnya aku bisa latihan bersama yang lain"
"Lalu Yukimitsu? Dia magang juga disini?" Sebenarnya bukan itu pertanyaan yang ingin dilontarkannya pada Takami, tapi karena sudah terlanjur ya sudahlah.
"Memang dia magang, tapi bukan disini."
"Lalu?"
"Di Deimon, dia jadi guru tapi aku lupa mata pelajaran apa."
"Hah? Jadi guru? Bukannya Shuuei itu kedokteran?" Lagi-lagi Kakei malah melanjutkan pertanyaan yang bukan seharusnya ia tanyakan saat ini, tapi lama-lama ia jadi penasaran dengan Shuuei.
'Kakei payah, kenapa malah tanya tentang Shuuei?' Ujarnya dalam hati.
"Shuuei tahun lalu membuka fakultas baru dan salah satunya adalah fakultas yang Yukimitsu geluti saat ini, jadi sekarang Shuuei bukan hanya 'fakultas kedokteran' seperti yang orang-orang bilang." Takami pun membenarkan posisi kacamatanya yang mulai merosot sejak ia berbicara dengan Kakei dan hampir terjatuh dari hidungnya.
"Hmm, begitu ya? Baiklah aku permisi dulu."
"Baiklah, sampai nanti" mereka pun berjabat tangan dan saat mereka berpapasan Kakei berkata,
"Sampai nanti, pak dokter!" Takami hanya bisa terkekeh tapi kekehannya bukan seperti Hiruma jadi jangan salah membayangkan.
Kali ini Sena selaku kapten Enma Fires dihadapkan pada masalah baru, dan masalah kali ini adalah Enma Fires akan latihan dimana? Kemudian Sena mencoba menigngat-ingat, namun sayang ia hanya bisa memikirkan tempat yang ia pernah kunjungi.
"Kalau lapangan Enoshima, pasti ijinnya susah. Kalau lapangan yang waktu itu.."
'Tok Tok' terdengar bunyi pintu yang membuat pikiran Sena buyar, "Siapa sih yang datang?"
"Halo Kapten" ternyata yang mengunjunginya adalah Riku bersama Mizumachi dan Kurita.
"Oh, silahkan masuk." Sena mempersilahkan rekan-rekannya masuk,
Mizumachi yang melihat sofa yang terpampang didepannya langsung melompat dan bersandar dengan nyamannya. "Maaf kapten, aku mau langsung saja pada tujuan kita kesini. Kapan.."
"Kapan kita latihan?" Sena menebaknya sambil mengambil beberapa minuman kaleng yang ia sudah stok untuk sebulan.
"Sena peka ya, tidak seperti Riku. Ada perempuan.." Sebelum Kurita bisa meneruskan ceritanya, Riku menutup mulut Kurita yang besar dengan creampuff yang ia bawa.
"Mmmh, enak sekali Riku"
"Jadi Riku ada yang memberi 'kode' tapi tidak peka? Memang begitu dia orangnya." Sena menyindir Running Back bernomor punggung 29 itu sambil menyuguhkan minuman kaleng yang ia ambil dari kulkas.
"Oi oi, kembali ketopik utama. Kita mau latihan dimana saat Enma sedang direnovasi besar-besaran?" Riku mencoba mengalihkan topik dengan meluruskan tujuan mereka sebenarnya kesini.
"Aku sudah berpikir untuk meminjam lapangan Enoshima."
"Bodoh, sekarang kan sedang turnamen musim gugur SMA. Kamu lupa ya?" Mizumachi berkata sambil mengunyah makanan ringan yang ia beli di minimarket apartemen Sena.
"Iya ya? Aku lupa.."
Riku meneguk minuman kaleng yang Sena berikan dan setelah itu ia hanya menggelengkan kepalanya. "Ya ampun, masa kamu lupa sih?"
"Tunggu dulu, kenapa kita tidak pinjam lapangan saja di Deimon?" Kurita mencoba memberikan usulnya yang secara tidak sengaja terlintas ketika melihat foto Deimon Devil Bats juara Christmas Bowl terpajang didinding.
Riku pun tersenyum sambil meminum kembali minumannya hingga habisa dan berkata "Dan kita ajak beberapa orang di Deimon terutama tim American Footballnya untuk masuk ke Enma ketika mereka lulus? Licik sekali."
"Bukannya itu bagus ya? Dan yang kudengar dari Taki, Zokuto Blizzard menggunakan cara itu untuk merekrut para pemain American Football SMA untuk masuk ke Zokuto."
"Dan Zokuto menjelma menjadi Dark Horse baru 'University League." Mizumachi menambahkan pernyataan Sena sambil membuka makanan ringannya yang masih ada di kantong belanjanya.
"Mungkin malah bukan Dark Horse lagi, melainkan calon kandidat kuat juara Koshien Bowl." Kali ini Kurita yang berpendapat mengenai pernyataan Mizumachi,
Riku kemudian teringat akan sesuatu dan membuka laptopnya dimeja ruang tamu, "Jadi kamu bawa laptop daritadi?" Tanya Sena pada pelari berambut putih ini.
Riku mengangguk dan ia menjelaskan alasannya,"Iya, karena tadinya kita ingin memberikan alternatif lapangan yang mungkin bisa kita gunakan untuk latihan padamu. Tapi karena kita berempat secara tidak sengaja membicarakan teknik perekrutan Zokuto, itupun kalau benar yang dikatakan Taki, berarti kita harus menandai tim SMA yang tahun ini difavoritkan untuk juara."
"Dan kamu membuka website resmi Monthly American Football?"
"Hehehe, itu tau. Sekarang apa password wi-fi disini Sena?"
"Sebentar." Sena kemudian mengetik password dari wi-fi yang terpasang secara cuma-cuma di apartemennya, maklum semuanya berkat bypass Hiruma yang ia dapatkan dan lambat laun Sena membutuhkan kartu itu.
Setelah membuka website Monthly American Football, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar kembali di ruang tamu. Kali ini Mizumachi yang membuka pintu, dan ternyata yang mengetuk pintu adalah pengirim Koran yang bekerja diapartemen Sena berada untuk mendistribusikan majalah-majalah yang pemilik apatemen inginkan.
"Ah terimakasih pak","Ya sama-sama tuan Kobayakawa." Dan pengirim itupun menaiki lift dan kembali ke lobi. "Kamu berlangganan majalah apa?" Kurita bertanya sambil meneguk 5 minuman kaleng sekaligus.
"Ah, majalah Monthly American Football."
"Kalau begitu.. kenapa tidak bilang daritadi kalau kamu berlangganan?!"
"Maaf, lagian kan lebih lengkap kalau kita lihat di website langsung dan di majalah ini hanya meringkas yang ada di websitenya."
"Lalu untuk apa kamu berlangganan kalau kamu bisa melihatnya di websitenya?" Tanya Mizumachi dengan cueknya sambil membuka makanan ringannya, Mizumachi sudah membuka 4 bungkun makanan ringan berukuran jumbo.
"Habisnya suka ada kuis berhadiah dan mendapat 250.000yen tiap majalahnya terbit, hanya itu alasannya aku berlangganan" Sena hanya menggaruk kepala sambil tersenyum pada mereka bertiga.
Riku sedikit terkejut karena nominal yang diberikan cukup untuknya selama beberapa minggu, "Lumayan juga untuk beberapa minggu. Yah memang susah ya, terkadang sebagai mahasiswa kita dengan antusiasnya mengikuti undian berhadiah yang belum tentu kita menangkan."
"Ironisnya begitu, tapi tidak ada salahnya kan? Aku juga sering ikut kok" Ujar Mizumachi sambil meminum minuman kaleng yang belum ia buka.
Kemudian Sena membuka halaman depan majalah dan tidak kaget memang ketika majalah American Football Jepang memberikan bela sungkawanya atas kepergian Hiruma, Habashira, dan Kid untuk selamanya. 'Jadi ingat kak Hiruma' Ucapnya dalam hati.
"Sena, sudah ketemu bagian SMAnya?" Riku menanyakan sambil mencoba mencari artikel yang membahas kekuatan tim-tim SMA secara data-data yang diperoleh Monthly American Football.
"Belum, aku masih melihat bagian Liga American Football Jepang"
"Hah?! Sendai Tofu melawan Urawa Red Stars berapa skornya?" Tanya Mizumachi dan Kiruta secara bersamaan.
"Hmm.. Ini dia, skornya 37-35 untuk Urawa Red Stars."
Mizumachi pun girang bukan main karena tim kesayangannya menang, dan ia berkata pada Kurita sambil menepuk punggungnya, "Hahaha! Kurita, jangan lupa traktirannya ya?"
"Iya, iya." Kurita menjawab dengan pelan.
"Hei, lihat. Aku sudah ketemu!" Mereka berempat seketika melihat ke layar laptop milik Riku itu.
"Deimon kali ini jadi salah satu kandidat juara! Senangnya." Sena sangat antusias kala melihat almamaternya Devil Bats menjadi tim yang difavoritkan juara.
"Deimon, Ojo, Seibu. Wakil Tokyo sepertinya tak perlu ditelusuri lebih lanjut lagi ya?"
"Kau benar Riku, coba sekarang kita cek Kanagawa."
Kemudian Kurita secara refleks berkata, "Tunggu dulu, coba dicek selain ketiga tim yang difavoritkan juara. Siapa tau tim-tim lain sudah memperbaiki kelemahan mereka dan menjadi Dark Horse turnamen kali ini.", Riku dan Sena saling memandang hingga mereka menuruti permintaan Kurita untuk mencari data tim-tim lain.
Mata Mizumachi seketika berbinar-binar bagaikan seseorang yang baru saja diterima cintanya oleh pujaan hati, ia pun berkata, "Benar juga apa yang si gendut bilang kan? Jadinya kita tau siapa Dark Horse turnamen kali ini, lihat itu ada banyak! Sangaat Banyak!". Saat mereka melihat daftar tim Dark Horse versi Monthly American Football, Sena diam seribu bahasa ketika ia melihat sekolah pacarnya masuk dalam daftar tersebut. "Sukeito Rollerblades, disini ratingnya D tapi kenapa masuk daftar Dark Horse turnamen?"
Riku yang juga larut dalam penasaran yang mendalam sedalam cinta Sena terhadap Suzuna, tanpa basa-basi membaca ulasan khas si komentator kribo yang ia sendiri lupa siapa namanya yang dikemas sangat menarik untuk dibaca.
"Kekuatan utama dari Sukeito Rollerblades ini adalah offensive setipe dengan Seibu namun yang menjadi perbedaan yang signifikan adalah jika play utama Seibu lebih menitik beratkan pada pass , maka play utama Rollerblades lebih menitik beratkan pada run. Mereka secara diam-diam sudah menghelat 3 pertandingan ujicoba dan salah satu pertandingan ujicoba mereka adalah melawan tim SMA nomor 1 di Jepang saat ini, Deimon Devil Bats."
"Kenapa berhenti? Ayo teruskan ulasannya Riku!"
"Dan hasil akhir pertandingan merupakan jawaban dari keganasan Rollerblades yang baru dibentuk beberapa bulan sebelum turnamen musim gugur. 2 kali menang dan 1 kali kalah, hanya itu hasil rekapan tim kami yang dengan susah payah mencari data dari Sukeito Rollerblades yang cukup tertutup terhadap media. Menang 88-3 atas Hakushu Dinosaurs, 66-9 atas Kyoshin Poseidon, dan kalah 64-70 di tangan Deimon Devil Bats."
Mizumachi menaruh kedua tangan dikepala sembari berkata, "Haa? Poseidon kalah telak? Tidak masuk akal! Kalau angkanya segitu berarti..","Mereka murni melakukan 'run play' yang terbilang nekat namun sangat sukses." Jawab Riku sambil terus melihat informasi yang bisa digali dari website tersebut.
"Ooh, inisih ratingnya A bukan D lagi?! Monthly American Football mabuk ya?" Kurita berkata sambil membuka kotak creampuff terakhirnya. Sena pun bertanya pada dirinya sendiri seperti layaknya artis dalam sinetron, "Apa yang menulis artikel tentang Rollerblades ini habis minum sake? Makanya bisa aneh begitu?"
"Hei ingatlah! Kita disini bukan membahas kekuatan tim SMA, kita ini sudah Kuliah dan sekarang kita mau latihan dimana? Di Sukeito?" Tanya Riku yang mulai panas karena mereka daritadi tak kunjung membahas topik permasalah utama, dan Sena selaku kapten Enma Fires memberikan pendapatnya, "Tidak juga sih, aku lebih memilih Deimon karena kepala sekolahnya terlalu baik."
Urat di kening RIku mulai nampak dan ia seperti ingin meluapkan kekesalannya, "Jadi untuk apa kita membahas Sukeito?!"
"Kau sendiri yang mulai, kita nanti akan mencoba metode perekrutan Zokuto, sekarang kau malah kesal sendiri." Mizumachi berkata dengan santainya sambil tiduran diatas sofa yang sangat empuk yang hampir membuatnya tertidur pulas menuju dunia mimpi. Riku yang terdiam bagaikan sedang dirasuki sesuatu kemudian tertawa tiba-tiba karena hal bodoh yang ia lakukan. "Riku kamu kenapa? Belum minum obat?" Tanya Kurita pada Riku yang 'nampaknya' mulai gila. "Ini sih memang Riku yang sebenarnya, bukannya dia lupa minum obat penenang untuk orang gila kak Kurita." Ungkap Sena pada sang lineman berbadan bulat tersebut.
Hari demi hari telah berlalu semenjak kepergian sang kekasih, Mamori maish tak bisa melupakan sosoknya yang begitu ia rindukan walaupun wataknya memang seperti itu. Agon yang melintas di ruangan klub Saikyoudai yang sangat besar karena permintaan Hiruma untuk menggunakan Auditorium yang sudah tak dipakai lagi di lingkungan Saikyoudai, merasa kasihan melihat Mamori yang selalu murung akhir-akhir ini.
Memang ia mengerti kenapa sang manajer Saikyoudai berperilaku seperti itu, tapi tetap saja itu bukan hal yang baik. Kemudian ia bergegas menuju lapangan untuk latihan bersama anggota lain yang sudah berada dilapangan sebelum dirinya, "Agon, tak biasanya kau buru-buru untuk latihan. Biasanya kan selalu telat? Tumben.." kata Yamato yang baru selesai memberikan instruksi kepada para anggota terutama anggota baru yang jumlahnya melebihi para senior.
"Oi Yamato, taukan jika aku buru-buru kesini akan ada apa?"
"Akan ada rencanamu yang gila seperti biasanya, ya kan?" Jawab Banba,
"Kali ini aku berbicara tentang Mamori, aku kasihan sama dia"
"Yah, memang sih aku juga kasihan sama dia, tapi aku juga bingung harus apa." Jawab Taka yang juga baru sampai ditempat latihan Saikyoudai.
"Hanya perempuan yang mengerti perasaan Mamori saat ini, itu sih menurutku." Tukas Yamato,
Entah apa yang terlintas di pikiran Agon, dia senyum-senyum sendiri setelah mendengar tanggapan Yamato,"AH! Aku ada rencana, ikutlah denganku."
"Yang lain latihan ya, Koshien Bowl sebentar lagi jadi latihan yang semangat biar masuk tim inti! Aku permisi dulu ada urusan memdadak bersama Agon."
Semua pemain yang ada dilapangan serentak menjawab "Baik Yamato!"
Singkat cerita mereka berdua sudah berada didepan pintu masuk ruang klub, mereka seperti mendengar Mamori sedang tertawa bahagia sambil menggengam handphonenya.
…
"Jadi kamu mau ketemu aku?'
…
"Baiklah, nanti aku kesana! Sampai jumpa nanti!"
…
Dan Mamori akhirnya menyudahi percakapan, dan dia pun langsung keluar dan mungkin akan bertemu dengan orang yang tadi menelponnya. Melihat Mamori akan keluar dari ruang klub, Agon panik seperi akan ada inspeksi mendadak, "Oi dia datang, bersikap biasa!","Aku tau bodoh!" Yamato kemudian merapihkan pakaiannnya padahal saat ini dia memakai seragam tim.
"Oh, Halo! Kalian sedang apa disini? Mau bolos latihan?" Mamori memberikan muka cemberutnya pada mereka berdua yang sedang bersandar di luar ruang klub.
Agon dengan impulse kecepatan dewanya menjawab pertanyaan Mamori dengan mengandalkan itu, "Mamori! Anu kami ingin mengambil perlengkapan si Yamato ini yang tertinggal di ruang klub."
"Aku sudah merapihkan semua yang ada di ruang klub tapi tidak ada satupun barang-barang pemain yang ada disana, kalian mau mencoba berbohong sama aku ya?" Mamori bertanya kembali dan kali tatapannya sangat tajam bagaikan pisau yang sudah diasah dan siap untuk menusuk.
"Tadi terselip dimana bodoh!?"
Yamato tiba-tiba saja menjawab pertanyaan Agon dengan spontannya,"Ah aku kan bilang tadi 'mungkin' ada di ruang klub."
Agon menghela nafasnya seolah tidak percaya dengan jawaban Yamato, "Mamori, kami akan mencari barang Yamato ini di ruang klub, mungkin tercecer dibawah kursi-kursi Auditorium. Kami permisi dulu."
"Yasudah, aku mau pergi dulu. Ada urusan, sampai nanti!" Mamori pun pergi kearah pintu keluar barat Saikyoudai.
Dan mereka dengan reflek menjawab, "Ya Mamori.."
"Huh, hampir saja."
"Impulse ku ada gunanya juga disaat seperti ini, hehehe."
"Sekarang apa?"
"Ikut aku" Agon kemudian mengajak Yamato untuk pergi ketempat latihan kembali karena kali ini, Agon membutuhkan Jumonji, karena dia lebih tau Mamori ketimbang yang lain yang ada di Saikyoudai Wizard selain Hiruma.
"Selamat datang di Jepang pak!"
"Oh, Bandaranya baugs juga ya."
"Ahaha terimakasih pa katas pujiannya."
"Besok pemakaman dia kan?"
"Iya pak, benar. Menurut informan kami, akan dilangsungkan di pemakaman nasional Tokyo."
"Bukannya itu pemakaman untuk para tokoh pahlawan ya?"
"Iya pak benar, mereka yang berhasil kami bunuh itu dianggap pahlawan karena sudah membela nama Jepang."
"Terserahlah yang penting aku ingin melihat dunia American Football Jepang hancur! Sekarang antar aku dan pengawalku pergi menuju tempat penginapan terbaik di Tokyo."
"Baik."
Sebenarnya aku bingung membuat judul untuk chapter kali ini, karena inti cerita hanya diawal dan akhir cerita. Tapi tidak apa yang penting bisa terselesaikan Ke Ke Ke! :D
Kalau ada waktu, boleh dong RnR dari kalian biar aku juga bisa tau kekurangan dari fanfic ini. (pujian juga boleh :p)
Terimakasih!
