-We will always be together, we will. . .–
"Rei. . .kamu dalam masalah besar . ." kata Kei sambil menatapku
" masalah?"tanyaku
"um. . nanti akan kuceritakan oke. . untuk saat ini kita harus segera menemukan Mio, dan segera pergi dari sini." Kata Kei
"lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanyaku
"ikut denganku. . kita harus bertanya pada itsuki. ." kata Kei sambil menarik tanganku.
Kami berdua berjalan kembali ketempat dimana kami berdua bertemu dengan itsuki. Sepanjang perjalanan Kei selalumemperhatikan luka di kepalaku.
"Rei. .apakah kamu yakin tidak apa apa? Lukamu terlihat belum begitu membaik" kata Kei
"ti. . tidak apa apa, hanya saja balutan perban saja yang terlepas" kataku sambil tersenyum.
". . okay. ." kata Kei
Kami sampai di depan gudang tua itu. Dengan segera Kei berjalan memutarinya untuk melihat itsuki.
"itsu. .itsuki. ." kata Kei sambil mengetuk jendela gudang tersebut yang nampaknya ditutup olehnya.
Itsuki tidak menjawab. Kei mencoba untuk mengetuknya berkali kali namun tetap tidak ada jawaban.
"Rei. .apa yang harus kita lakukan?" Tanya Kei
"hm. . ayo kita coba masuk kedalam. ." kataku
Kei hanya mengangguk dan mulai berjalan kearah pintu depan.
"Rei. .pintunya. ." kata Kei sambil menunjuk kearah pintu depan gudang tersebut.
Pintu gudang itu terbuka sedikit dengan gembok yang sudah terbuka dan terjatuh di tanah. Kami berdua secara perlahan mendekati pintu tersebut.
"Kei. .hati hati. ." kataku sambil memegangi tangan Kei.
Sesaat sebelum kami membuka pintu tersebut. . seekor kupu kupu merah terbang dari dalam gudang tersebut.
*cring*
"ku. .kupu kupu itu lagi" kataku perlahan sambil memandangi kupu kupu merah yang terbang menjauhi gudang tersebut.
"Rei! REI!" teriak Kei dari arah dalam gudang.
Secara reflex aku membalikan kepalaku dan bergegas masuk kedalam gudang tersebut.
Sesaat setelah aku masuk kegudang itu. .
"i. .itsuki?" kataku perlahan dengan tanganku yang mendekap mulutku.
Pria tampan berambut putih tersebut melayang di udara, dengan wajah yang tertunduk, dan sebuah tali yang besar melingkar di lehernya.
Itsuki tampak lemas dengan mata yang masih agak terbuka dan sedikit darah keluar dari mulutnya. Aku terduduk disana, tak kuasa menahan kejutan dari kejadian yang baru saja terjadi.
Itsuki. . bunuh diri. . .
. . .
"Rei. ." kata Kei sambil menggelengkan kepalanya.
Aku menundukkan kepalaku sejenak lalu mulai memandangi tubuh itsuki yang sudah diturunkan oleh Kei.
Aku melihat sebuah kertas kecil yang berada di genggaman itsuki, aku mengambilnya secara perlahan dan membukanya.
"maafkan. .aku. . sae. ." kataku sambil membaca tulisan kecil di kertas tersebut.
Aku menyimpan tulisan tersebut kedalam kantongku.
"Rei. .itsuki mengatakan bahwa kepala pendeta disini bernama Ryokan Kurosawa kan? Bukankah kita masih membutuhkan satu emblem lagi. . kurosawakan?" Tanya Kei
Aku menganggukan kepalaku sambil tetap berusaha memasukkan kertas itu kedalam kantong celanaku.
Sebelum kami meninggalkan gudang itu, aku menundukkan kepalaku untuk mendoakan itsuki.
"aku akan. . menghentikan ritual itu itsuki. . sekarang kamu beristirahatlah dengan tenang. ." kataku dalam hati.
Kami berdua melanjutkan perjalanan menuju rumah kurosawa yangter letak di pinggir desa dan Nampak sangat besar. Aku berjalan sambil memegangi dahiku yang mulai terasa sakit.
"Rei. .bertahanlah sedikit lagi. ." kata Kei sambil menopang tanganku di pundaknya.
Kami berjalan melewati sebuah jembatan yang panjang menyebrangi sebuah sungai untuk menuju rumah tersebut. Sekilas rumah tersebut terlihat seperti sebuah kastil jepang kuno dengan berbagai macam hiasan di sekitarnya.
"a. . aku tidak apa apa Kei. ." kataku sambil melepaskan topanganku pada Kei dan berjalan sendiri.
"kamu yakin?" Tanya Kei kepadaku
Aku membalas Kei dengan senyuman pertanda aku tidak apa apa.
Kami berdua masuk kedalam rumah itu, kenampakannya tidaklah berbeda dari rumah rumah yang kami datangi sebelumnya. Sesaat sebelum kita masuk lebih dalam keruang utama. . .
"kalian. .siapa?"
*cring*
Sesosok makhluk berwujud seperti manusia muncul di depan kami berdua.
"re. . Rei . . hati hati" kata Kei sambil memajukan tubuhnya di depanku.
"ritual. . sudah dimulai. . kalian harus. . pergi. ." kata makhluk itu
Semakin lama, semakin jelas, makhluk itu berwujud seperti seorang pria dengan kertas bertuliskan huruf kuno di wajahnya dan membawa seperti tongkat pendeta.
"tidak ! Aku harus menyelamatkan Mio!" teriak Kei. .
"ka. . kami mohon, beri kami petunjuk untuk menemukan Mio. ." kataku perlahan dari balik tubuh Kei
"HAHAHA. . master kurosawa tidak akan senang akan hal ini. ." kata pria itu dan secara perlahan mulai menghilang.
"he. . hey ! Tunggu!" kata Kei
"sudahlah Kei. . lebih baik kita terus melanjutkan pencarian" kataku.
Kami berjalan memasuki ruangan demi ruangan di rumah itu, rumah itu tampak hancur dan banyak terdapat bekas bekas seperti sudah terjadi pertempuran.
"apa. .yang terjadi disini?" pikirku sambil memejamkan mataku sejenak
"Rei. . ."
Sebuah suara muncul di kepalaku. . suara itu nampak familiar.
"i. .itsuki?" pikirku sambil menoleh kesegala arah untuk mencarinya.
"apapun yang terjadi. . jangan menengok kebawah. ." kata itsuki di kepalaku.
Aku membuka mataku kembali, tiba tiba lingkungan sekitarku berubah menjadi keadaan sebelumnya, semua bekas pertempuran itu menghilang, semua bercak darah itu menghilang. Dan semua Nampak rapi dan bersih.
"ke. .Kei. . apa yang terjadi?" tanyaku
"a. .aku tidak tahu Rei. .tiba tiba semua seperti ini " kata Kei yang juga Nampak kebingungan.
*cring* *cring*
"master Kurosawa. ."
Sebuah suara terdengar dari sebuah ruangan di balik lorong tempat kami berdua berjalan.
"sae kurosawa telah berhasil ditangkap, namun kami tidak berhasil menemukan nona Yae.. "
Kami berdua mencoba mengendap endap sampai di depan pintu ruangan tempat kami mendengar suara tersebut.
"hmm. .ritual itu tidak akan bisa dijalankan apabila hanya ada satu anak kembar. . siapkan pengelana itu, kita harus segera mempersiapkan ritual kusabi .Untuk berjaga jaga apabila sae gagal menjalankan ritualnya. ." kata pria kedua yang nampaknya ialah Tuan dari pria yang pertama.
"s . . siap tuan. . segera kami lakukan" kata pria itu.
Tiba tiba angin bertiup di sekitar rumah dengan sangat kencang sampai sampai membuat kami berdua berpegangan pada pilar pilar yang ada di lorong tersebut.
"aaaa. . .Kei. . " teriakku
*cring* *cring*
"R. .Rei! bertahanlah. ." teriak Kei
"OAAARGH!"
Tiba tiba angin itu menghilang dan semuanya terlihat gelap. Kami berdua dikagetkan oleh suara teriakan seorang pria. Belum sempat aku membalikkan pandanganku, tiba tiba tubuhku seperti ditembus oleh sesosok pria dengan pakaian hitam persis seperti pendeta itu sebelumnya,di ikuti dengan 3 pria lainnya yang membawa perempuan berkimono putih dengan wajah yang murung.
"master Kurosawa, kita telah siap melaksanakan ritual ini " kata pendeta yang pertama masuk
"baiklah, kita mulai ritual ini jangan luapa siapkan pengelana itu juga di tempat ritual " kata kurosawa
Seketika tempat itu menjadi gelap, dan ketika aku membuka mata tempat ini kembali seperti saat aku dan Kei masuk dengan banyak bercak darah di dinding nya seperti bekas pertempuran.
"Rei.. Rei kamu baik baik saja "kata Kei
"aku baik " jawabku masih memegangi kepalaku
Tiba tiba aku mendengar suara samar samar di lantai atas
"Yae.. tolong selamatkan aku " kata seseorang di balik sebuah ruangan dengan nada merintih kesakitan
"yae, jangan lakukan itu. Selamatkan aku yae"
Suara itu terus terus di ulang dan semakin kencang, tiba tiba kupu kupu merah itu kembali muncul dan tebang melewati tangga itu
"Kei, kamu lihat itu.. kupu kupu itu lagi"kataku
"iya Rei aku melihatnya, ayo kita ikuti " kata Kei sambil menarik tanganku
Suara yang tadi terdengar samar semakin lama semakin jelas ketika aku dan Kei menaiki tangga, dan kita terhenti di depan sebuah ruangan yang cukup besar dimana kupu – kupu merah itu menghilang.
Dengan gemetar dan perlahan aku menggeserkan pintu ruangan tersebut. Lalu betapa terkejutnya aku melihat sesosok perempuan dengan kimono putih yang tadi aku lihat dibawa oleh pendeta tersebut. Namun kali ini berbeda kimono yang dia kenakan tidak lagi putih tapi penuh dengan bercak darah. Lagi lagi dia menyebutkan nama yae sembil merintih kesakitan.
Aku langsung teringat kata itsuki yang menyebutkan tentang sae dan yae, lalu tentang sae yang tertangkap. Apakah perempuan ini Sae Kurosawa, salah satu anak kembar yang tertangkap itu. Belum selesai aku memecahkan tentang sae , tiba tiba aku mendengar teriakan Kei
"Arrrrgh,lepaskan aku.. aku mohon"
Aku langsung membalikan badan dan aku melihat perempuan yang ada di pojok tadi sudah ada di atas tubuh Kei dengan paku di tangannya.
"semua ini gara gara kamu " kata perempuan itu dengan suara parau
Aku langsung mencoba menggapai tangan Kei untuk melepaskannya dari cengkraman Sae, tapi tiba tiba sae melesat menebus badanku tepat di bagian perut yang membuat aku terjatuh dan melepaskan genggamanku pada Kei. Sae langsung kembali mencengkram Kei dengan tangannya lagi, dengan tertatih aku berusaha menggapai lagi tangan Kei dan dengan sekuat tenaga aku mencoba menarik Kei dari cengkraman sae dan itu berhasil walaupun membuat aku dan Kei terbanting jauh memecahkan lemari yang cukup besar dengan kaca sekelilingnya.
Tiba tiba tanganku menangkap sebuah kotak bergambar kupu – kupu dengan bertuliskan kurosawa, dengan cepat aku membuka kotak tersebut dan kotak itu berisikan emblem terakhir yang kita cari.
*cring* cring*
Lonceng itu terdengar lagi, dan ruangan kembali gelap aku mencoba memejamkan mata ku. Tiba –tiba saat aku membuka mata aku dan Kei telah berada di tengah desa, dimana aku dan Kei bertemu itsuki.
Kupu kupu merah itu kembali muncul dihadapanku dengan cepat aku dan Kei mengejar kupu kupu itu yang mengantarkan aku dan Kei tepat di sebuah pintu. Aku dan Kei langsung membuka pintu itu tapi tidak bisa dibuka telah dengan beberapa cara kita mencoba membuka pintu itu. Tiba tiba banyak sekali orang orang berbaju hitam melewati tubuhku dan Kei aku melihat orang – oang itu membawa 4 buah benda di tangannya dan pintu itu terbuka dengan sendirinya. Aku langsung teringat dengan 4 emblem yang telah kita cari, apa mungkin dengan emblem ini kita bisa masuk. Aku langsung mengeluarkan dua emblem yang ada di saku celanaku.
"Kei.. kamu pegang dua emblem lagi kan" tanyaku
"iya Rei" jawabnya
"coba keluarkan, mungkin ini tempat ritualnya itu dan kira harus menggunakan emblem ini " kataku
Saat Kei mengeluarkan emblemnya dan memberikannya padaku pintu itu langsung terbuka. Dan terlihat sebuah tangga di sana. Aku dan Kei langsung menuruni tangga itu dan kita terdiam melihat lorong panjang di depan kita dan hanya dengan penerangan seadanya.
Dengan hati hati aku dan Kei memasuki lorong tersebut, tapi tiba tiba kami mendengar kembali suara
*klak* *klak*
Di ujung lorong, dan ternyata itu akane dan dia masih seperti saat kita melihatnya di rumah itu
"dimana Azami" katanya
Dia terus menerus mengulang kata kata itu sambil berjalan kaku mendekati aku dan Kei, kita langsung menelan ludah dan terdiam di situ, kita tidak tahu harus berbuat apa mau berlari tapi pintu yang tadi kita masuki terkunci. Dengan terpaksa kita berjalan maju mendekati akane tapi entah kenapa saat kita berjalan tubuh akane itu menembus badan kita dan dia menghilang sesaat melewati tubuh kita.
"hah.. hah" aku dan Kei langsung mengatur kembali nafas belum selesai nafas kita kembali teratur kita di kejutkan oleh sosok chitose dengan lonceng di tangannya dan dia tetap menanyakan itsuki dan tetap menuduhku yang menyembunyikan itsuki, aku masih teringat dengan sosok akane yang menembus tubuhku dan aku berfikir chitose akan melewati tubuhku juga, tapi ternyata tidak chitose lansung menjatuhkan badanku ketanah dan dia langsung dengan posisi mencekikku dengan kedua tangannya. Aku sudah tidak bisa berbuat apapun karena tenagaku tidak bisa menandingi tenaga chitose yang sangat kuat, aku menutup mataku berharap sesuatu tidak tejadi padaku. Saat aku membuka mata sosok chitose sudah tidak terlihat lagi dan di depanku hanya ada Kei yang melihatku dengan cemas.
"ka..kamu baik Rei?" tanyanya
"aku, baik Kei" jawabku
"chitose .. chitose ?" tambahku
"cihitose, tiba tiba menghilang saat kamu menutup mata" kata Kei
"huh, untung ayo kita lanjutkan ke tempat ritual itu Kei " kataku
Dengan tertatih aku dan Kei berjalan kembali menyusuri lorong panjang itu dan saat kita berjalan kita melihat cahaya di ujung lorong kita tersenyum dan berharap itu adalah tempat ritual tapi semakin lama cahaya itu semakin mendekati kami dan ternyata cahaya itu berasal dari paku yang di bawa sae semakin lama sae mengangkat pakunya dan berjalan mendekati aku dan Kei, dia terus menerus mengucapkan nama yae dan kata kata jepang yang tidak jelas.
Tiba tiba langkah sae terus mendekati Kei, dengan senyumnya yang menakutkan
"semua ini gara – gara kamuuu" kata sae sambil mengangkat pakunya dan menyerang Kei.
Seketika Kei melepaskan tangannya yang sedang melingkar di bahuku dan terjatuh dengan keras yang membuat dia tidak sadarkan diri, dengan menahan perut dan kepalaku yang sakit, aku berusaha meraih Kei yang terjatuh dan ada sae dihadapannya siap untuk menyerang kapanpun.
Saat aku berhasil meraih tangan Kei seketika itu pula sae menghilang.
"k..Kei,Kei " kataku
"…."
"Kei , bangun Kei " kataku lagi
Kei membuka matanya dan dia terus menerus memegangi kepalaya.
"kamu tidak apa apa Kei " tanyaku
"aku baik Rei, t..tapi kemana sae" tanyanya
"sae tiba tiba menghilang Kei" kataku
Kei berusaha bangkit untuk meneruskan perjalanan ke tempat ritual. Saat kita sampai di ujung lorong, Kei tediam seketika
"m..Mio , m..Mayu" katanya terbata bata
Tempat ini berukuran sangat besar, dan tepat di tengah ruangan terdapat lubang yang besar.
*cring* *cring*
"aAAARGh "
Suara lonceng itu lagi, dan seketika tempat itu dipenuhi pendeta. Badanku dan Kei tidak bisa bergerak, kita hanya melihat Mio dan Mayu di tengah lingkaran pendeta. Tangan kaki Mayu di ikat oleh tali dan badannya ditutupi kain putih. Di ujung terlihat Mio yang berdiri dengan tatapan kosong .
"apa yang terjadi dengan Mio " kataku
"mungkinkah Mayu akan berakhir seperti mafuyu "
"ahhh, tidak tidak mungkin "
Aku terus menerus berkata dalam pikiranku.
Tiba tiba Mio berjalan mendekati Mayu sambil tersenyum dan membawa lilin dia meletakan lilin di sebelah Mayu dan meletakan tangannya di leher Mayu dan mencekiknya sampai Mayu meronta – ronta kesakitan. Aku melihat Kei meneteskan air mata,kita tidak bisa menahan apa yang sedang terjadi. Akhirnya Mayu melemas dan keluarlah kupu – kupu merah itu dari leher Mayu, Mio menjauhi Mayu dan pendeta membuang mayat Mayu kedalam lubang itu dengan tangan dan kaki Mayu berdarah.
*cring* *cring*
Semua pendeta dan miyu menghilang seketika, disana hanya ada Mio dengan raut wajah sedih, badanku akhirnya bisa di gerakan kembali. Aku mencoba mendekati lubang itu dengan penuh rasa ingin tahu,namun, aku seketika teringat kata kata itsuki saat dirumah kurosawa " jangan melihat kebawah " dan dengan cepat aku menutup mataku dan memalingkan wajahku dari lubang tersebut. Mio berjalan mendekati Kei dan langsung memeluk Kei sambil menangis. Aku hanya bisa melihat mereka berdua menangisi kepergian Mayu tiba tiba kami mendengar sebuah suara
"m. .mayu. .maafkan aku. . "kata mio sambal terisak di pelukan pamannya
Kei hanya bisa terdiam sambal menahan rasa sedih yang mendalam. .
"jangan sedih adikku, kita telah menjadi satu, kita akan selalu bersama , kita akan.."
Sebuah suara terdengar memenuhi ruangan tersebut sampai membuat kami semua memandang ke langit langit untuk mencari dari mana suara itu berasal. .
"m. .mayu? i..itu Mayu" kata Mio
"ssh. . aku tahu mio. . aku tahu. ." kata Kei sambal kembali memeluk keponakannya itu. .
