Membuat konflik baru dengan pola jeles selingkuh atau ditaksir cowok lain itu terlalu mainstream XD

tenang...saia punya banyak pasokan halang rintang untuk mochi-kun dan semenya itu *diinjek madjikan*

but now it's unyu-unyu timeeeee!

.

.

.

CHAPTER 13

.

.

.

Manajer Changmin memandangi datar artisnya yang saat ini menggelepar kelelahan di sofa studio. "Kalau aku bilang comeback-mu di-delay bagaimana?"

Changmin terlonjak dari posisinya yang sudah nyaris memejamkan mata tadi. "Kamu pasti bercanda kan hyung."

"Sayangnya tidak. Sebentar lagi produsermu akan memasuki ruangan ini dan mengabarkan hal yang sama."

"Wae?!"

"Itu demi menaikkan ratingmu."

Memang sudah tidak perlu basa-basi lagi, batin Changmin kecut.

"Cih! Bilang saja grup sebelah yang sedang terkenal jadi agensi ingin memanfaatkan peak moment ini kan?"

"Makanya ini demi kebaikanmu juga Changmin, daripada bersamaan pasti kamu yang kalah."

Changmin menghembuskan nafasnya keras-keras. Walau pahit tapi dia sadar popularitasnya tidak terlalu tinggi dan memang lebih baik cari aman.

Kemarin baru saja syuting MV dan melihat sample cetakan package CD lalu sekarang menerima kabar seperti ini. Sudah tidak laku sekali kah dirinya? "Aku tidak suka stunt seperti itu. Sudah kubilang sejak awal kan kalau aku ingin jadi singer, konsep yang ini juga aku tidak suka."

Manajer-ssi hanya mengendikkan bahu. "Yakin tidak suka? Kalau kamu sejak awal di-plan jadi singer tentunya nggak akan ketemu 'dia' kan."

"Hyung!" Changmin berteriak kesal. Inilah kelemahannya dan selalu dimanfaatkan manajernya itu. Dengan kesal Changmin memakai topinya dan meninggalkan manajernya menuju studio dance. Untungnya memang ada urusan ke sana. Mungkin bertemu Yunho bisa membuat hati sedikit cerah. Semoga.

Di sana dapat dilihatnya Yunho sedang menari sendirian dengan earphone tersumpal di telinganya, tak menyadari kedatangannya. Jang Woo Hyuk yang melihat Changmin pun langsung menghampiri.

"Changmin, aku bisa minta waktu berbicara denganmu nanti? Sebentar kok," tanya Woo Hyuk dengan nada pelan dan hati-hati. Karena sedang kesal jadi Changmin langsung mengangguk saja.

"Membicarakan apa?"

Jang Woo Hyuk melirik ke arah Yunho. "Setelah selesai nanti saja, aku ingin bicara berdua denganmu soal Yunho."

Hati Changmin berdesir mendengarnya, berharap bukan sesuatu yang buruk. Apakah ketahuan? Untung pakai topi jadi ekspresinya tidak terlalu kentara.

Walau Jang Woo Hyuk tetap tidak mau memberikan clue namun Changmin yakin bukan hal buruk karena dia mengatakannya saat Yunho ada. Bahasa tubuh dan mimik mukanya juga tidak menunjukkan hal aneh. Jadi Changmin sudah agak tenang ketika dancernya sejak lama itu muncul di mobil van-nya untuk membicarakan hal itu.

"Aku hanya ingin meminta tolong, jika kamu tak keberatan tentunya. Kalau Boa-ssi sudah setuju dan kurasa jika kamu mau maka ini akan semakin bagus."

Changmin mengerutkan keningnya ketika Jang Woo Hyuk kemudian menyodorkan tabletnya yang memutar sebuah video. Dia cukup mengenali tayangan itu karena beberapa kali tak sengaja menyetelnya di TV dan sudah mencapai beberapa season. Sebuah kompetisi dance.

"Aku merekomendasikan Yunho pada PD acara itu dan mereka tertarik."

Detik itu juga rasanya jantung Changmin jatuh dan menggelinding di aspal.

"Jika semua lancar dan jadi terlaksana, aku meminta Boa memberikan video message untuk mempromosikannya nanti dan dia bersedia. Nah, Yunho kan dancermu juga jadi kalau kamu tak keberatan tolong bantu promosikan dia juga."

Sekarang Changmin yakin dirinya agak-agak tuli dan tidak tahu harus bilang apa. "Apa…dia sudah tahu hal ini? Maksudku sudah approve ikut kompetisi," Changmin yakin Yunho tak pernah membahas ini dan itulah yang membuatnya kaget sekarang.

"Belum. Aku berniat menjadikan ini kejutan untuknya. Aku hanya bilang rekamannya untuk project baru tapi dia tidak tahu untuk acara ini. Aku sudah menunjukkan pada PD dan mereka ingin lihat langsung satu kali dan setelah itu deal."

Oh, jadi ini project baru yang selama ini dibicarakan Yunho.

"Kalau begitu kenapa acara ini? Dance competition tidak hanya ini kan."

"Beberapa kali dia bilang ingin tampil di situ tapi memang susah untuk terpilih dan aku bantu mumpung ada koneksi. Dia tidak terlalu suka acaranya sih tapi hadiahnya adalah impiannya selama ini. Beasiswa dance di LA. He's really good, sayang kalau menghalangi bakatnya."

Dimana jantungku tadi?!

.

.

.

Sayang kalau menghalangi bakatnya.

Kata-kata Jang Woo Hyuk itu bercokol lama di area abu-abu otak Changmin. Saat itu dia tidak memberikan jawaban jelas dengan dalih sedang capek -terima kasih untuk kabar mendadak comeback-nya diundur- dan dimengerti oleh Jang Woo Hyuk. Beberapa hari berlalu sejak itu membuat Changmin tidak bisa tidur tenang. Dia juga masih merahasiakannya dari Yunho. Menurut pengamatannya, Yunho benar-benar tidak tahu konspirasi indah itu.

Sejak awal Changmin senang karena Yunho hanya seorang dancer, tidak menonjol, dan itu yang dicarinya. Kehidupan yang tenang dan stabil seperti sekarang ini. Lalu tiba-tiba seseorang memberinya tawaran untuk membuat pacarnya itu dikenal publik dan pergi ke luar negeri, jika menang.

Kepala Changmin berdenyut hebat setiap membayangkan Yunho muncul dimana-mana dan menjadi komersil.

Tapi jika sampai menolak untuk memberikan dukungan tanpa alasan jelas maka dia akan dicurigai Jang Woo Hyuk. Dan jika Yunho pada akhirnya tahu dia menolak membantu mempromosikannya maka jelas hubungan ini jadi taruhannya. Intinya hubungan ini di ujung tanduk apapun keputusannya.

"Min? Ada apa? Akhir-akhir ini kamu sering melamun."

"Tidak ada apa-apa."

"Apa soal kita menginap di rumahmu itu?" mendadak air muka Yunho berubah gelisah. Sebenarnya dia sudah diberitahu masalah telah selesai namun kejadian itu cukup membuatnya trauma hingga nyaris 2 minggu berselang.

"Bukan. Tidak ada apa-apa kok."

Yunho meletakkan majalah yang dibacanya dan kini menatap Changmin serius. "Apa hingga sekarang kamu masih berpikir aku percaya begitu saja dengan ucapan semacam itu?"

Giliran air muka Changmin berubah pias. Gelisah.

"Tidak baik selalu mengatakan semuanya baik-baik saja Changmin."

Changmin yakin sekali saat mengatakan itu Yunho terdengar seperti hyung-nya dibanding kekasih atau pasangan hidup. Ia menggigit bibirnya gelisah.

"Akan ada kejutan untukmu nanti."

Duh, kenapa mengatakan itu?!

Yunho mengernyit curiga, merasa perhatiannya dialihkan tapi juga murni penasaran. "Memikirkan sebuah kejutan untukku?" ucapan itu bernada curiga yang semakin tajam. Changmin mengangguk dan tersenyum menenangkan Yunho, yang tidak terlalu berguna sebenarnya.

Sesungguhnya Changmin juga belum tahu apakah itu akan jadi kejutan menyenangkan atau sedih.

"Ulang tahunku masih jauh dan kamu tipenya tidak begitu. Itu bukan kejutan namanya, setidaknya untuk kebiasaanmu. Ada apa memangnya?"

"Maaf…aku sudah berjanji tak boleh mengatakannya," Changmin mengakhiri pembicaraan mencurigakan itu dengan ciuman di bibir Yunho. Lebih baik mengalihkan perhatian dengan bercinta saja kan. "Nanti saja kalau waktunya sudah tiba."

Namun sayangnya Yunho sudah terlanjur hilang mood dengan sikap Changmin itu. Bagi Yunho itu sikap kekanakan dan jelas dia tidak menyukainya. Changmin menghela nafas memandangi Yunho yang menolak ciumannya, beranjak dari sofa dan menutup pintu kamar dengan hingga bunyinya memekakkan telinga.

Sepertinya aku tidur di sofa ini saja deh.

.

.

.

Yunho membuka matanya dan sinar matahari memasuki ruang pandangnya. Musim belum terlalu panas tapi cahaya matahari bisa menerobos kuat karena korden kamarnya masih yang lama, berwarna putih kusam. Dia memandang pria yang masih tertidur di sebelahnya, syukurlah akhirnya bisa memutuskan sendiri untuk memilih tidur di kamar. Hari ini dia memutuskan untuk melupakan masalah semalam. Tak ada gunanya juga kan.

Tiba-tiba Yunho teringat sebelumnya berencana membeli korden baru.

Kesibukan mempersiapkan comeback dan pindahan cukup menyita waktu mereka. Bahkan barang-barang Yunho masih banyak yang belum ditata karena setiap pulang memilih langsung tidur, menyalakan TV saja tak sempat.

Tunggu...

Bahkan bercinta saja sudah tidak ada tenaga dan waktu. Bahkan akhir-akhir ini aku sudah tidak berminat.

"Morning love~" Tanpa disadari Yunho ternyata Changmin sudah bangun dan tersenyum seperti biasanya. Rambut iklanya yang berantakan itu tampak begitu lucu bagi Yunho.

"Hari ini kamu ada waktu tidak? Ayo kita belanja peralatan untuk rumah."

Changmin langsung terduduk dengan wajah cerah. Matanya yang bulat membuat Yunho luluh. Bagi Changmin ini permintaan langka, apalagi Yunho semalam ngambek seperti itu. "Kamu mau kita berbelanja? Berdua di pertokoan biasa?"

Yunho mengangguk mantab dan Changmin menciumnya. "Aku akan menjemputmu nanti."

Yunho menyadari selama ini yang selalu menolak jalan bersama di tempat umum, selain menonton di bioskop karena gelap dan masuknya pun terpisah saat film sudah mulai. Tapi sikap Changmin yang gentleman meminta maaf padanya dan ibu membuatnya ingin menghiburnya juga. Dia tahu Changmin pasti masih merasa bersalah.

Syukurlah rencana indah itu bisa terlaksana tanpa halangan. Yunho dan Changmin janjian bertemu di lokasi lain dan memilih berbelanja di toko khusus peralatan rumah tangga eksklusif agar tak menarik perhatian dibanding di tempat biasa walau sebenarnya itu keinginan mereka berdua. Toh, Changmin tetap bersyukur. Kata ibu, bersyukur itu baik untuk kesehatan.

Tujuan pertama mereka memesan korden, dengan catatan ukuran yang tadi pagi sudah mereka ukur sendiri, dan cukup lama memutuskan mengambil warna apa. Mereka juga menghabiskan waktu memilih seprai, tapi itu karena sibuk dengan imajinasi mereka sendiri sih. Walau semula tak ada rencana namun akhirnya Changmin menurut ketika Yunho tiba-tiba menyukai sebuah gambar yang cukup mahal untuk dijadikan hiasan dinding mereka.

"Aku ingin beli peralatan masak," ucap Yunho sambil mengunyah makanannya. Saat ini mereka makan setelah sesi belanja pertama berakhir.

"Kita kan sudah punya."

"Bukan yang seperti itu. Ada lainnya yang kubutuhkan."

"Kamu belajar memasak?"

Yunho mengangguk dan itu membuat Changmin tersedak minumannya. "Kamu tidak bercanda kan hyung?" tanya Changmin setelah reda terbatuk-batuk dan membuahkan tatapan malas dari Yunho.

"Kamu tak perlu memaksakan diri memasak jika demi aku." Sekarang di dalam kepala Changmin sedang memproduksi gambaran reka adegan Yunho membuat dapur seperti terkena badai. Mengerikan pokoknya.

"Bisa dibilang bukan murni demi kamu sih, hanya penasaran saja. Jadi aku ingin lebih menguasainya dan kurasa jago memasak bukan hal yang buruk kan."

Aku yakin kamu tidak akan pernah bisa jadi "jago" masak.

"Ada apa sih hyung?"

"Tidak apa-apa Min….hanya penasaran."

"Tiba-tiba saja penasaran?"

Yunho membetulkan cara duduknya dan terlihat agak gelisah sebelum menjawab. "Aku menonton channel memasak dan disitu terlihat enak-enak semua dan sepertinya mudah membuatnya tapi ternyata tidak dan itu membuatku semakin penasaran."

Changmin tertawa mendengar Yunho menjelaskan dengan wajah manyun. Dia sudah tahu sejak awal kalau Yunho memang tipe yang selalu penasaran dan sekalinya penasaran akan dikejarnya sampai mati. Bahkan untuk hal-hal yang sangat sepele. Contoh yang pernah dilihat dengan mata kepala sendiri adalah taruhan menghitung biji kacang dengan cepat saat menunggu di ruang ganti beberapa waktu lalu.

"Baiklah, aku akan belikan yang menurutku bagus."

"Pasti nanti kamu akan sengaja bilang 'jelek' terus."

Changmin tertawa lagi melihat muka manyun Yunho. Kalau tidak di tempat umum pasti sudah diciumnya bibir itu.

Tapi dalam kurun kurang dari sejam Changmin merutuki dirinya sendiri. Tadinya berniat sok antagonis dengan menolaki barang-barang yang ditunjuk Yunho, tapi sepertinya dia kalah licik. Yunho sudah tahu apa sisi dirinya yang menjadi kelemahan Changmin dan itu dimaksimalkan saat belanja.

Setelah pergelutan antara puppy eyes Yunho dan tatapan hyung-kamu-bukan-sedang-sekolah-jadi-chef dari Changmin, akhirnya bisa pulang dengan membawa cukup banyak alat masak. Yunho juga puas akhirnya bisa memiliki satu pisau dapur ala chef yang dengan berat hati disetujui Changmin. Bukan perkara harganya, tapi resikonya di tangan seorang Jung Yunho. Changmin berharap Yunho lupa pernah membeli benda itu karena dia yakin orang itu akan tergores kurang dari satu menit memegangnya.

Changmin yakin sekali Yunho dan dapur bukan kombinasi serasi.

Dia meyakini hal itu sejak tinggal bersama. Walau baru sebulan namun Changmin sudah cukup mengenali karakter Yunho yang ceroboh dan serampangan, yang jelas itu bukan hal bagus untuk memasak di dapur. Bagaimanapun dapur itu tempat paling berbahaya di dunia. Bahkan dia yang hobi makan saja ogah ke dapur karena berbahaya. Paling hanya merebus ramen atau menggoreng telur, yang lebih sering ditinggalkan begitu saja di atas nyala api hingga matang sendiri.

Tapi suasana hati Yunho yang ceria membuat Changmin tidak bisa bilang "tidak".

Jadi dia diam saja pulang ke rumah disambut aroma aneh-aneh dari dapur. Mulai dari sesuatu yang gosong, rendaman kimchi yang gagal, tumpahan cuka hingga segala macam bumbu bubuk yang membuatnya bersin. Jadi dia menjawab dengan hati-hati ketika Yunho menyuruhnya mencicipi hasil eksperimennya dengan wajah nervous.

Yunho juga bekerja dalam proyek yang sama dengan Changmin namun dia lebih sering pulang cepat. Sedangkan Changmin selalu lebih malam karena mempersiapkan comeback itu rumit. Kini memasuki tahap akhir malah Yunho sudah lepas tangan dan mengurusi proyeknya dengan Woo Hyuk yang di luar. Jadilah Yunho menghabiskan waktu dengan eksperimen di dapur.

Ya, setidaknya dengan begini Changmin merasa dapur rumahnya benar-benar jadi dapur sungguhan.

Tapi seringnya juga Changmin malah jadi tenaga cuci piring dadakan karena jengkel sendiri melihat betapa tidak fasehnya Yunho mencuci. Akhirnya lebih capek karena pulang-pulang malah membantu Yunho membereskan sisa kerusuhan. Memang hingga detik ini mereka belum memutuskan memakai jasa pembantu harian agar tidak ketahuan tinggal berdua. Hanya pakai cleaning service layanan apartemen seminggu sekali yang itupun membersihkan saat mereka sama-sama di luar. Jadilah untuk harian kebersihannya tanggung jawab bersama.

Itulah keajaiban dari tinggal bersama, batin Yunho.

Selama ini dia selalu hidup sendirian tapi malah malas mengurusi hidupnya sendiri. Dulu Jihye rutin mengunjunginya dua minggu sekali hanya untuk membersihkan apartemennya. Merasa ada yang mengurusi akhirnya membuat Yunho semakin meremehkan keharusan untuk menata diri sendiri. Beda dengan Changmin yang sejak trainee tinggal beramai-ramai jadi harus kompromi dengan segala hal.

"Jihye bertanya apakah dia bisa berkunjung kemari," ucap Yunho di ketika makan malam dengan Changmin. Memakan pasta hasil eksperimennya yang membuat Changmin sedikit mengernyit. Yunho sudah hapal setiap detil bahasa tubuh Changmin setiap memakan hasil masakannya karena dia memang selalu tak mau berkomentar. Berarti yang ini rasanya agak aneh.

"Tidak masalah. Terserah kamu saja," ucap Changmin datar sambil tetap menyendoki pasta yang dirasakannya terlalu asin.

"Apakah kita perlu membuat semacam house warming party? Dengan keluarga dan orang-orang yang tahu kita saja maksudku."

Changmin memandang Yunho dengan dahi berkerut-kerut, seolah-olah itu pertanyaan maha sulit. "Jangan deh. Aku juga tidak mau Kyuhyun tahu tempat ini. Bisa gawat nanti."

Yunho tertawa mendengarnya. Dia tahu itu tidak serius. "Baiklah, setidaknya aku ingin mengundang adikmu kemari."

"Jiyeon?" tampang Changmin berubah mendengar nama itu. "Kurasa dia ada di urutan pertama orang yang harus dilarang menginjakkan kaki di sini."

"Hei….dia kan adikmu~ dia anak yang manis kok~" Yunho mengekor Changmin yang kini sudah mencuci piring mereka. Pernyataan itupun membuat tampang Changmin makin horor. "Kenapa kalian cepat sekali kompak? Mengerikan."

Changmin mengucapkannya masih dengan fokus mencuci piring tanpa tahu mata partnernya menatapnya lekat. Yunho memang memiliki fetish tersendiri pada lengan Changmin, menurutnya paling seksi ya yang seperti ini, mengenakan lengan panjang yang dinaikkan hingga siku dengan masih mengenakan jam tangan.

Changmin melirik ke sebelahnya dengan seringaian menggoda. Tanpa kata, Yunho membalas tatapan itu dengan angkuh. Itu biasanya selalu berhasil membuat Changmin langsung turn on. Tentu saja begitu. Maka Changmin cepat-cepat membereskan pekerjaannya dan langsung mencium pria itu penuh gairah hingga tubuhnya terdesak diantara counter dapur.

Memang sudah lama tidak bersetubuh sehingga membuat sesi kali ini cepat sekali terbakar. Terakhir kali melakukannya di rumah keluarga Shim entah berapa minggu lalu dalam situasi tak menyenangkan pula. Setelah kejadian itu Changmin agak menahan diri mengajak Yunho bercinta. Tapi tampaknya sekarang sudah tak apa-apa. Kali ini mau mendesah sekeras-kerasnya pun tak masalah.

Ah, ini salah satu keajaiban dari tinggal bersama.

…jadi kenapa tidak bereksperimen juga untuk hal satu ini?

Yunho menahan Changmin ketika berusaha mengarahkan mereka ke kamar. "Bagaimana kalau di tempat lain saja?" tawar Yunho di tengah mengatur nafasnya yang membuahkan tatapan bertanya. Tapi sedetik kemudian dijawab dengan seringaian siluman khas Shim Changmin. Ini yang disukainya dari Yunho, meski terlihat plain namun sebenarnya dia tipe petualang di ranjang, bahkan mengalahkan dirinya yang playboy.

"Kamu mau di mana sayang?"

Pertanyaan itu dibarengi gigitan-gigitan kecil di sekujur bahu dan leher yang membuat Yunho sulit berpikir. Tadi iseng saja jadi belum menyiapkan jawaban juga. Sempat berpikir kamar mandi tapi rasanya terlalu biasa, di dapur sudah pernah dulu, kalau di balkon terlalu dingin.

Lalu sebuah benda memasuki ruang pandang Yunho dan menunjukkannya pada Changmin melalui matanya. Changmin menukar pandang dengan Yunho. "Serius kamu mau melakukannya di situ?"

"Jika kamu tidak keberatan."

"Why not."

Yunho melingkarkan kakinya di pinggang Changmin, membuat ciuman mereka tetap lekat ketika pria itu membawanya ke tempat yang dimaksud dan merebahkannya di sana.

Di meja makan.

"Finally, I can 'eat' you…literally."

.

.

.

"Changmin…."

Yang dipanggil pun hanya menjawab dengan gumaman meski agak penasaran karena begitu pelan dan nada bertanyanya penuh keraguan. Tampaknya acara makan pagi yang damai di hari sepagi ini akan diganggu dengan pembahasan serius.

"Kurasa aku ingin membeli meja makan baru," ucap Yunho masih dengan nada pelan namun serius. Changmin melirik isi piring Yunho yang belum berkurang banyak sejak entah berapa menit lalu, bahkan punyanya sudah habis dari tadi. Apakah dia diet konyol lagi? atau rasanya kelewat buruk untuk dimakan?

"Aku juga ingin memindah posisinya. Pokoknya jangan di sini."

Kini Changmin benar-benar memperhatikan dengan serius dari posisinya di seberang Yunho.

"Kenapa?"

"Aku tidak bisa makan!"

Changmin tertawa selepas-lepasnya hingga air matanya keluar dan perutnya sakit. Sungguh dia tidak ingat apa yang sudah dilakukannya dengan Yunho di atas meja ini semalam. Bercinta sampai lemas. Protes Yunho sekarang malah membuatnya teringat dan semakin tidak bisa berhenti tertawa.

"Hyung…kamu sendiri kan yang minta," ucap Changmin susah payah di sela-sela tawanya. Yunho makin manyun mendengar itu. "Aku tidak akan mengulanginya lagi!"

Changmin susah payah mengunyah makanannya sambil menahan tawa.

Sayang sekali, padahal aku suka bunyinya.

"Haish….bagaimana bisa kamu tetap menelan makananmu di meja ini?!"

.

.

.

***TBC***

.

.

.

Author speaks here!

hmm...tampaknya makin banyak yang baca fic satu ini dan terima kasih untuk yang udah mau komen. Makasih yg udah mendoakan authornya juga...wkwkwk~ Saia memulai ini dengan segelintir reader dan sekarang udah melebihi perkiraanku semula. Tidak menyangka akan sebanyak ini. Terima kasih sudah menerima kecintaan saia sebagai pemuja uke Yunho yang non mainstream *ketjup atu-atu*

Hal ini jadi membuatku kepikiran sesuatu. Banyak yg bilang "Teenage Dream" ini bagus karena natural, seperti nyata. Sekarang tolong diingat-ingat bahwa INI HANYA FIKSI. Mereka di cerita ini hanya karangan saia, bukan sifat atau hubungan mereka aslinya, karena yang tau kebenarannya hanya mereka. Jadi tolonglah tetap shipping Yunho dan Changmin kita tercinta ini sebagai cute lil bro and his beloved hyung ^^

jika ada yg menganggap our lovely Yunho&Changmin ini real lover di kehidupan nyata karena terlalu terpengaruh cerita ini maka saia akan berhenti menulis lanjutannya dan menghapusnya.

Salam kenal juga buat kalunadesuka0131 dan iqichan! *hug* selamat datang dan silahkan datang kembali~~

saia akan tetap menulis fic, bahkan hingga tua, selama ada waktu krn saking cintanya saia ama menulis. Jadi ya mungkin akan tetep jadi author tapi tidak di sini dan mungkin bukan menggarap pairing homin/minho ini dan mungkin malah tidak mempublishnya. semuanya serba "mungkin" saat ini :D

Maaf kalo spoiler tapi kayaknya seru kalo saia jawab ptanyaan augesteca sekarang saja *smirk*

Jadiiiii...saia tidak berencana membuat mereka go public hingga akhir cerita. Biar seru aja...hahahaha~~ *dirajam reader*