Italic = flashback

Chapter 14


"Biar aku yang membersihkan rumput liarnya. Mama berdoa saja." bocah perempuan berambut panjang yang diikat pada kedua sisi itu, membelai gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rerumputan liar dalam hening. Tangan mungil namun berisi miliknya sibuk mencabut dan sesekali menghitung kiranya berapa helai rumput liar yang sudah ia musnahkan.

"Mama menangis ?" yang ditanyai hanya menunduk dalam, sibuk membenarkan letak kacamatanya yang mulai merosot.

"Tidak." yang lebih kecil kemudian berdiri di belakang ibunya. Memeluk erat leher lelaki yang telah melahirkannya, untuk menciumi pundak indah itu.

"Nenek pasti sedih jika tahu mama sedang menangis" jemari mungilnya menyusuri pipi sang ibu. Memberi hadiah kecupan pada tangan anaknya yang tadi digunakan untuk mengusap lembut pipinya. Sedikit tarikan agar putri kecilnya masuk ke dalam pelukan.

"Mama rindu nenek, rindu sekali."

"Mendoakan adalah obat rindu terbaik di dunia." dan tangisnya pun pecah saat sang suami datang untuk bergabung di depan makam. Usapannya memang menenangkan, hingga membuatnya tidak sungkan untuk menumpahkan gelisah hatinya. Menuangkan rindunya yang tak pernah terbalas.

"Ak-ku.. Entah lah, ini sudah berlalu sekian tahun tapi tidak ada yang berkurang dari rasa sedih ku. Apa ini yang kau rasakan saat ibumu meninggal ?" tidak ada jawaban. Hanya terus diam saat melihat suami manisnya meronta-ronta dalam pelukan putri kecil mereka.

Tingkat kekuatan seseorang memang berbeda. Sehun itu hanya sampulnya saja yang kuat, menyebalkan, cerewet, dan tsundere. Tapi untuk masalah hati, Sehun satu-satunya manusia terlemah dan rapuh. Ia mudah patah. Lembut hatinya memikat Jongin dan ingin selalu melindungi. Tidak ada yang menyalahkan jika Sehun menjadi sehancur ini. Jongin pernah mengalami masa itu, tapi ia akan dengan mudah sembuh. Karena sekali lagi, kekuatan hati seseorang tak pernah sama.

"Mama.."


"Ibu.." Sehun mengabaikan nasihat Baekhyun, mengabaikan ucapan Jongin untuk memintanya kuat dan berbesar hati. Penyesalan bercokol dan menusuk sampai ke jantungnya. Ia terlalu sibuk hingga melewatkan beban yang tak pernah ingin dibagi oleh Tiffany. Tidak, tepatnya Sehun yang jarang bertanya apakah ibunya sehat ? sudah makan ? atau tidur dengan baik ?

Padahal ibunya selalu menanyakan di setiap penghujung hari, apa saja kiranya yang dilakukan Sehun seharian. Dan Sehun hanya membalas jika tidak malas. Ia menyesal, jika bisa diputar waktu, setiap menit ia akan menghubungi ibunya. Membalas setiap pesan yang dikirim oleh wanita yang melahirkannya dengan senang hati tanpa diperbudak rasa malas serta tidak peduli.

"Bangunlah bu kumohon, kita harus berangkat ke Daegu lusa. Atau ibu ingin berangkat hari ini. Sehunie siap mengantar bu. Iya 'kan Jongin ? iya 'kan ?" Jongin tidak menjawab meskipun Sehun memukulnya sebanyak puluhan kali. Sehun guncang, dan apapun pergerakan yang diberikan akan terlihat salah.

"IBU BANGUN BU. JONGIN BANGUNKAN IBU KU!"

.

Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Ternyata tidak kunjung mengeringkan air mata Sehun. Jongin sudah menggunakan berbagai cara untuk mengembalikan keadaan suami cantiknya itu. Bahkan Jongin masih sangat ingat, terakhir kali senyum Sehun diberikan padanya siang itu. Siang paling indah di depan lobby rumah sakit. Sekaligus menjadi siang paling pilu.

"Sehun ada anak kita di dalam sana." dan kata itu selalu berhasil membuat Sehun membuka mulut. Hanya untuk makan dan minum. Tapi tidak untuk berbicara dengan Jongin.

Tiffany adalah tipikal orang yang peduli pada orang lain, tapi lalai pada dirinya sendiri. Gejala sakit yang didapatinya, hanya diabaikan kemudian dilupakan. Menurut penuturan dokter yang menangani saat itu, Tiffany datang hanya untuk periksa biasa. Tapi ternyata disinilah semua baru diketahui. Fungsi hati Tiffany tidak normal, dan ternyata disana sudah ditumbuhi kanker tersembunyi namun akarnya sudah menyebar. Sudah stadium lanjut, sedang usianya yang lebih dari setengah abad tidak memberi solusi. Satu-satunya yang membuat ia bertahan hidup adalah kemoterapi. Seandainya ia masih berada di usia 40-an, mungkin operasi bisa dilakukan. Itupun hanya mengangkat kankernya, tapi tidak dengan akarnya.

Jongin baru mengetahui itu semua dari dokter saat itu. Saat nyawa ibu mertuanya sudah tidak bisa diselamatkan. Tiffany pingsan ketika mengadakan rapat di sekolah. Kondisi badannya memburuk karena asupan makanan yang sedikit ditambah beban pikiran, entah apa. Tebakan dokter, pikiran terberat Tiffany adalah penyakitnya. Tidak dibagi kepada siapapun. Harusnya penyakit itu disembuhkan, bukan disembunyikan. Walau alasannya karena tidak ingin Sehun ikut berpikir dan berakibat buruk pada kehamilannya. Jongin ikut terguncang tentu saja. Tapi tidak boleh terlalu lama, karena ia harus segera bangkit untuk Sehun-nya. Sehun hanya sendiri sekarang. Hanya dirinya yang dimiliki Sehun di dunia ini.

-KH-

Jongin tahu seberapa dekat Sehun dan ibunya. Meskipun setiap bertemu mereka selalu berdebat, tapi satu sama lain tidak akan memaki. Sehun hanya membantah sewajarnya, dan Tiffany akan terus mengomel dengan lucu.

Pertama bertemu dulu untuk melamar Sehun. Jongin cukup terkejut, karena bukannya penolakan yang didapat. Tiffany justru membuka lebar kedua lengannya untuk memeluk Jongin dan mengucapkan banyak terimakasih. Aneh, tidak mudah ditebak, tapi Jongin suka. Seolah kembali mendapat pelukan dari ibunya sendiri yang lama tidak pernah dirasakan.

Sehun itu sangat bergantung pada ibunya, sekalipun mereka sudah tinggal terpisah. Saat bertengkar dengan Jongin karena keegoisan Sehun. Diam-diam Jongin menguping, Sehun sedang sibuk menghubungi ibunya melalui sambungan telepon untuk dipandu membuat ayam goreng sebagai permintaan maaf.

Dan lagi, Jongin masih sangat ingat bagaimana Sehun menangis karena kehabisan susu hamil dan ibunya datang membawa satu karton besar sebagai stoknya sampai melahirkan.

Hubungan ibu dan anak yang unik. Mereka memiliki kebiasaan sama. Tidak suka disebut tua. Prinsip Tiffany dan Sehun adalah 'tak apa tak mandi asal cantik'. Jadi bisa ditebak jika kebiasaan jarang mandi Sehun merupakan turunan dari Tiffany.

Semenjak memutuskan untuk saling mencintai dan saling memiliki. Sehun sering sekali bercerita tentang masa kecilnya. Tentang hidup yang dijalani sebelum bertemu dan terjebak dengan Jongin. Sehun akan menceritakannya saat malam tiba hingga kantuk menjemput. Bagai dongeng, Jongin akan menjadi pendengar yang baik. Dan masa kecil kesayangannya itu tidak sesempurna yang dilihat. Sehun mengalami masa sulit saat ayahnya meninggal. Ibunya harus menghabiskan banyak waktu, serta mencurahkan kemampuannya agar sekolah yang telah mereka bangun tetap berdiri tegak. Menjadi orang tua tunggal tidak pernah menyenangkan. Tidak ada tempat berbagi, tidak ada lagi sandaran saat lelah menghadapi kejam dunia. Tapi Tiffany memiliki Sehun, senyum Sehun selalu cukup untuk menutupi beban hatinya karena rasa sepi tanpa kekasih.

Ini juga baru diketahui Jongin. Penentangan Tiffany karena Sehun menjadi model juga sempat menjadi drama dalam hidup Sehun. Sampai ia memilih membeli apartemen, walau saat suasana mereda Sehun akan kembali pulang. Jika ditelaah kembali, Sehun baru menyadari. Alasan ibunya bukan karena Sehun harus mewarisi Sekolah. Tapi karena ibunya takut waktu yang dihabiskan bersama anaknya semakin sedikit. Itulah mengapa saat Jongin memberi keputusan mutlak bahwa Sehun tidak boleh kembali menjadi model, tidak pernah dibantah.

-KH-

Pelukan terakhir dipagi itu masih bisa dirasakan hangat sekaligus nyerinya. Dan kini hanya tersisa tangis serta dekapannya pada pusara. Bertuliskan nama sang ibu. Sehun memutuskan agar ibunya dimakamkan di Daegu. Sesuai permintaan terakhirnya. Berjejer dengan makam ayah serta neneknya. Ucapan bela sungkawa hanya membuat sepi terasa semakin menusuk. Jongin tidak tahu harus memberi kata-kata seperti apalagi agar Sehun mau berhenti menyalahkan dirinya sendiri.

"Aku ingin mati juga." rahang Jongin mengeras saat Sehun dengan berani-beraninya mengucapkan hal sekonyol itu.

"Ayo pulang." namun emosinya diredam karena situasi yang tidak memungkinkan.

"Aku ingin mati, Jongin. Untuk apa aku hidup jika tidak berguna begini ? Ibu menghabiskan sepanjang waktunya untuk menyayangiku. Sedangkan aku ?! Berkunjung saja jika tidak malas. Menghubunginya jika aku ingat ! Aku ini apa ?!" pertengkaran di makam adalah hal terburuk. Tapi Jongin kehabisan sabarnya saat Sehun tidak berhenti menyalahkan dirinya.

"Ayo kita mati bersama." Jongin terus menyeret Sehun. Entah kemana, ia sudah kehabisan cara dan akalnya yang cerdas seolah menjadi tumpul karena tangis Sehun.

"Ini yang kau mau 'kan ? Ayo kita mati bersama. Bertiga dengan aku, kau, dan ANAK KITA!" mendengar kata 'anak kita', hati Sehun mencelos. Ia seolah ditarik kembali pada kenyataan bahwa di perutnya sedang ada satu nyawa tak berdosa.

Sehun berubah menjadi panik ketika melihat raut tenang Jongin yang seolah sangat siap untuk mati. Mereka berdiri di tengah jalan raya. Jongin hanya memenuhi permintaan Sehun untuk mati. Tidak akan ada yang terluka, jadi mereka harus mati bersama.

Truk besar yang melaju di depan sana membuat Sehun bertambah gusar. Sekali lagi, ia menoleh pada Jongin. Suaminya itu tetap tak gentar.

"Jongiiiinnn.." untuk pertama kalinya Sehun kembali menjadi peduli setelah sekian lama bak mayat hidup karena kepergian ibunya. Sehun menarik dengan keras tangan suaminya untuk berpindah dan menepi. Tidak lagi berdiri ditengah dan menjemput mati seperti permintaannya.

"Kenapa ?" diam-diam senyum tipis diukir Jongin pada bibirnya. Membiarkan Sehun menangis sekeras-kerasnya di dalam pelukannya. Sore hari di Daegu menjadi saksi drama hidup Sehun dan Jongin yang penuh haru. Tidak terasa juga Jongin ikut menangis dan mengecupi puncak kepala lelaki manisnya.

"Maafkan aku."

"Aku tidak keberatan jika harus mati bersamamu, Sehun. Tapi aku kecewa karena kau melupakan fakta bahwa anak kita harus tetap melihat dunia." Sehun tampak mengangguk. Isakannya tidak sekeras tadi. Hanya tersisa sendatan kecil yang menandakan Sehun mulai tenang.

"Apa Kimie akan memaafkan ku ?"

"Tentu saja. Ku mohon jangan seperti ini. Ibu pun tidak akan suka" lama keterdiaman melingkupi. Mereka masih sibuk mengais kehangatan masing-masing melalui pelukan. Tidak peduli senja mulai membingkai langit.

"Iya, ibu pasti akan mengomel jika tahu aku menjadi cengeng." Sehun mengangkat wajah sembabnya untuk membalas tatapan Jongin.

"Sedih boleh, aku tidak akan melarangmu menangis meraung-raung sekalipun. Tapi kau tidak boleh menyerah pada hidupmu. Kau tidak sendiri. Ada aku, ada Kimie. Sebentar lagi Kimie lahir. Tidakkah hidup kita sempurna ?" sesaat setelah Jongin menyelesaikan ucapannya, Sehun memberi kecupan di bibir menawan itu.

"Jongin, berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku, sekalipun aku sangat menyebalkan suatu hari nanti. Jika kau bosan katakan padaku, biar aku yang mundur. Jangan berpaling atau pergi diam-diam."

"Aku tidak akan pergi, tidak akan bosan, dan tidak akan berpaling. Aku janji." Jongin mengangkat kelingkingnya, untuk disambut dengan tautan kelingking lentik milik Sehun.

"Dan jangan pernah mundur Sehun. Sekalipun aku mengatakan bosan, yakinlah itu hanya emosi sesaat."

"Maka mari berjanji untuk tidak saling pergi." Jongin menunduk sedikit untuk meraih bibir ranum suaminya yang cukup lama tak terjamah. Jari besarnya mengusap sisa air mata Sehun yang masih membasahi pipi. Diakhiri dengan kecupan pada dua kelopak mata yang bengkak dan merah karena terlalu banyak menangis itu.

"Janji. Tolong jangan menangis lagi. Duniaku menjadi sangat gelap. Aku kesepian saat kau hanya mengurung diri, Sehun." ibu jari Jongin membelai lembut kelopak mata Sehun. Dan membuat Sehun terpejam karena rasa nyaman yang menjalar.

"Bolehkan sesekali aku menangis saat merindukan ibu ?"

"Boleh, sesekali saja. Karena jika setiap kali kau menangis. Itu sama saja kau mengurangi satu nyawaku."

"Cih, dasar pembual !" Sehun mencubit pelan perut atletis suaminya. Kemudian mereka tertawa bersama diujung senja Daegu. Memulai dari awal untuk saling memiliki dan menjaga.

-KH-

"Tarik nafas, hembuskan perlahan."

"Tidak tidak tidak. Ini sakit sekali. Aku lupa cara mengambil nafas. Arrrggghhh.. Perut ku." Sehun mencengkram pinggiran ranjang di ruang operasi.

"Sayang lihat aku." Sehun menoleh pada Jongin yang masih setia menemaninya.

"Ikuti aku ya.. Tarik nafas." Jongin memandu suaminya agar mengikutinya menarik nafas.

"Hembuskan perlahan." dan diikuti dengan baik oleh Sehun.

Rasanya tidak tergambarkan. Sakit, sembelit, dan terutama ingin mati. Sehun mendadak lupa cara bernafas karena perutnya yang terus berkontraksi hebat sejak semalam. Sampai di ruang operasi pun masih sama. Menunggu tim dokter mempersiapkan segala hal untuk operasi rasanya seperti menunggu nyawa dicabut.

"Jongin sakit, astaga ini sakit sekali. Aku ingin mati. Ingin mat-mmpph" Jongin tidak peduli jika ada beberapa pasang mata yang sedang membulat karena perbuatannya. Jongin membungkam mulut Sehun saat lagi-lagi bibirnya mengeluarkan kata yang paling dibenci Jongin, ingin mati.

"Jika bisa, tukar rasa sakitnya untukku. Jangan pernah bicara ingin mati. Kau mengerti ?" Sehun hanya mengangguk. Melalui ciuman singkat tadi, Sehun seolah mendapat kekuatan berlimpah untuk menghadapi sakitnya persalinan.

Air matanya tertahan di sudut saat jarum suntik dan sebagainya mulai ditancapkan satu per satu pada permukaan kulit mulus Sehun. Pandangannya mulai buram dan dalam alam bawah sadarnya. Sehun bisa merasakan genggaman erat Tiffany. Ibunya sangat cantik hari itu. Tidak lagi membawa tas jinjing mahal andalannya, atau syal bulu kesayangannya. Ibunya mengenakan dress berwarna peach. Rambut tergerai indah, dan tampak bersinar.

"Hei, anak bodoh." senyum menyertai ucapan Tiffany. Kata 'bodoh' yang menjadi kebiasaannya jika mengatai Sehun menuntun rasa nyaman dan hangat. Sehun berkali lipat lebih baik.

"Ibu.."

"Ayo berusaha, ku kutuk kau menjadi bahagia." derai tawa Tiffany semakin jauh dan berangsur-angsur hilang. Sebelum meninggalkan satu kecupan penuh kasih pada pipi anaknya.

Tawa Tiffany kemudian berganti dengan pecah tangis seorang bayi entah berasal dari mana. Di hamparan luas itu nyatanya Sehun hanya sendiri. Ia bersujud karena situasi yang membingungkan. Antara ingin menangis dan bahagia. Antara ingin kembali atau menyusul ibunya. Sehun berada di antah berantah tak bertuan. Ini indah, tapi sepi. Tidak ada Jongin. Ya Sehun sekarang ingat, meskipun memiliki keinginan besar untuk menyusul ibunya. Sehun lebih ingin kembali pada Jongin.

-KH-

"Sehun ?" Jongin menyambar tubuh lemah itu dengan tidak sabar. Sehun bergerak terlalu perlahan.

"Jongin.." sapanya lirih. Bibirnya mengering dan pucat. Memang Sehun kehabisan banyak darah karena proses operasi yang bisa dikatakan tidak lancar. Detak jantung Sehun tidak stabil saat itu. Oleh karenanya jadwal siuman Sehun jauh lebih lama daripada pasien pasca operasi yang lain.

"Ibu.." Sehun belum sepenuhnya sadar. Disela operasi tadi Jongin juga mendengar Sehun terus memanggil ibunya. Air matanya keluar meski ia terpejam. Detak jantungnya nyaris menghilang tidak mau terbaca oleh monitor. Sampai tangis anak mereka yang berhasil keluar membuat keajaiban luar biasa. Detak jantung Sehun kembali stabil.

"Minum." dengan gerakan hati-hati Jongin membawa segelas air.

"Mana yang masih sakit ?" Sehun meraba perutnya. Mengabaikan pertanyaan Jongin.

"Anak kita masih berada di inkubator. Tunggu 2 jam lagi akan dibawa kemari." paham dengan maksud Sehun. Jongin menjelaskan tanpa diminta.

Stress yang dialami Sehun semasa kehamilan membuat Jongin merasa sangat bersalah. Ia terlalu sibuk dan melewatkan jadwal periksa selama ini. Ditambah pertengkaran mereka dan juga kepergian Tiffany. Berefek buruk pada kandungan Sehun. Jadwal melahirkan yang meleset jauh dari perkiraan. Berat badan bayi yang kecil mengharuskannya di inkubator.

"Anak kita perempuan, sangat cantik seperti mu. Dan sangat kuat seperti mu." Jongin mengecup kening Sehun penuh kasih sayang.

"Cepat pulih." Sehun mengangguk. Efek bius masih membuatnya berada di antara sadar dan tidak.

"Hai.." Baekhyun menginterupsi kegiatan pasangan kekasih itu dengan satu gundukan di tangannya. Baekhyun sendiri yang menangani persalinan Sehun.

"Bacon.." Baekhyun mengerucutkan bibirnya.

"Panggilanmu itu.." desis Baekhyun menggemaskan.

"Hyung, aku merindukanmu." Baekhyun mengecup kening sahabat yang sudah dianggap seperti adiknya itu sebelum meletakkan si bayi.

"Iya aku pun sama. Terimakasih telah berusaha keras." Baekhyun ingat saat-saat kritis Sehun. Ia hampir menangis di tengah proses operasi saat mengetahui fakta bahwa detak jantung Sehun hampir berhenti. Inilah mengapa dalam kedokteran tidak disarankan untuk seorang dokter menangani keluarga atau orang terkasih mereka. Karena saat hati ikut campur, maka logika mereka tidak berjalan dengan baik dan berakibat fatal pada proses penyembuhan.

"Dia cantik sekali." Baekhyun membuka kain bayi Sehun.

"Jongin bisa kau keluar ?"

"Kenapa aku harus ?" Baekhyun memutar bola matanya.

"Dia harus menyusui dan melakukan skin to skin agar bayi kalian cepat pulih" Baekhyun mematai Jongin yang tidak kunjung beranjak.

"Aku mau disini. Kau lupa kita ini sudah tidur bersama dan saling telanjang satu sama lain." Baekhyun sudah siap memukul Jongin dengan sepatunya jika saja tidak ada seorang bayi disini.

"Nanti kau tegang, Sehun belum pulih. Sana pergi !" Baekhyun mendorong dengan paksa tubuh besar Jongin untuk keluar ruangan.

"Astaga si pendek ini benar-benar." tubuh Jongin terlempar keluar, dan dengan sigap Baekhyun mengunci pintu kamar rawat Sehun.

"Hyung, kau jahat sekali." Sehun tersenyum. Ada rasa hangat melingkupinya melihat interaksi Jongin dan Baekhyun. Oh, betapa Sehun menyayangi keduanya.

"Skin to skin harus kau lakukan setiap dua jam sekali sampai anakmu dinyatakan pulih. Dia terlalu kecil untuk lahir, dan terlalu muda saat keluar. Skin to skin bisa memperpanjang umurnya dan membuatnya lebih kuat. Dan lagi Sehun, makan yang banyak. Kau tidak boleh egois. Dia juga berhak hidup." Baekhyun membuka satu per satu kancing baju rumah sakit yang dikenakan Sehun. Dan meletakkan bayi telanjang yang sedang terlelap itu ke dada telanjang Sehun.

"Dia kecil sekali, kulitnya lembut, rapuh, aku takut dia akan patah hyung." Baekhyun tidak mengindahkan ucapan penuh takjub yang dilempar Sehun. Ia hanya merasa terharu dengan interaksi seperti ini. Dimana si manja ini sudah dewasa. Seseorang yang berkeinginan kuat untuk menggugurkan, kini menjadi satu-satunya orang yang ingin mempertahankan. Dengan rela menukar jiwa dan raganya agar sang anak bisa melihat dunia. Sifat keibuannya sudah terpupuk setelah 8 bulan mereka hidup dalam tubuh yang sama. Saling membagi nafas, saling membagi makanan, dan terutama saling membagi kekuatan.

"Dia tidak akan patah, Sehun. Dia telah hidup bersama seorang ibu tangguh selama ini."

"Hyung, terimakasih. Kau seperti ibu pengganti untukku." Baekhyun tersenyum.

"Ibumu tidak akan terganti, dan aku akan menjadi siapapun yang kau mau. Berbahagialah Sehun. Kalian berdua sudah mengalami masa yang sulit selama ini. Semoga ada nya Kimie membuat hidup kalian menjadi lebih hidup."

"Audrey, namanya Kim Audrey."

"Yang berarti kekuatan." nama itu tidak pernah diperkirakan Baekhyun akan disematkan untuk anaknya. Saat senggang mereka selalu berburu nama, dan Audrey tidak pernah masuk ke dalam daftar nominasi. Tapi sepertinya Sehun menggunakan pilihan yang tepat.


"Mama pitaku mana ?" Audrey sibuk mondar mandir menyusuri setiap sudut kamarnya. Hanya mencari satu pita, pemberian Yeri eonni dan aunty Seulgi.

Kamar dengan tema pink sepanjang mata memandang itu tampak rapi. Meskipun baru berusia 8 tahun. Tapi Audrey ini sangat perfeksionis dalam hal apapun termasuk menata kamar kesayangannya, mirip seperti Sehun.

"Tanya papa mu"

"Hah ?" Audrey melebarkan bibir mungilnya. Ini sulit dipercaya. Untuk apa papanya yang sangat jantan itu menggunakan pita girly seperti milik nya ?

"Papa ?" Audrey berbalik untuk menyaksikan papa nya yang tengah sibuk memainkan stick PS.

"Pitaku mana ?"

"Pita apa ?" pertanyaan yang dibalas dengan pertanyaan. Bagus sekali.

"Pitaku, pemberian Yeri eonni dan aunty Seulgi. Audrey hari ini ingin main kesana." Jongin meletakkan stick PS miliknya. Mencoba mengingat.

"Ah.. Papa ingat."

Jadi disinilah Audrey meratapi pita kesayangannya. Digunakan untuk mengikat kabel laptop karena pengikat kabel milik Jongin telah rusak. Jadi dalam keadaan genting, dirasa tidak ada salahnya ia memanfaatkan benda yang ada.

"Papa… Asdfghjklzvxnc."


Tbc


CUAPS : Haloo, ini hadiah untuk kalian yang setia nunggu sebulan. Sebenernya chapter ini udah ready dari . Anyway, siap2 untuk jumpa END di beberapa chapter depan. Dan semoga dichapter ini ngga drama ya, aku takut ngga ngefeel masa :( terus-terus, buat yg susah bayangin Audrey itu siapa. Silahkan liat video pepero versi Sehun yang lagi gigit-gigitan sama bocah cewe itu yak. Liat deh detailnya, Jongin kaya yang proud father gitu. Gemeesss. Dan untuk arti Audrey itu bener-bener KEKUATAN. Silahkan di belai kolom review. Jan sider, nanti ku ciom kelyan. Wkwkw. LOVE U GUYSSS :)