Harry Potter itu adalah milik J.K. Rowling.
Semua juga tau
Chapter 14 –
"Mom!"
"Saat dia memintamu dan memintaku untuk kembali."
Eltanin menatapnya penuh tanda tanya. "Apa maksudmu, Mom?"
"Lucius tidak hanya memintamu untuk kembali tetapi juga aku," jawab Hermione. "Dia yang memberikan liontin itu untuk meyakinkanku bahwa Draco masih mencintaiku," lanjutnya.
"Aku tetap tak mengerti," ucap Eltanin polos, Hermione tersenyum memandang anaknnya ini. Hermione membawa Eltanin untuk menyusuri mengelilingi danau.
"Sebelumnya Draco selalu memanggilku Granger, tapi aku tau dia selalu memanggilku Hermione dibelakangku." Hermione tersenyum hangat pada anaknya, dia benar-benar menyayangi anaknya. Eltanin adalah bukti cinta antara dia dan Draco.
"Tapi kenapa dia memintamu kembali?"
"Aku juga tak tau pasti apa penyebabnya, tapi aku tak ragu kalau Lucius benar-benar menyayangimu." Eltanin meletakkan tangannya mengenggam tangan Hermione menguatkannya.
"Kenapa kau tak kembali?" tanyanya pelan.
"Kau tau? Pertama kali liontin itu diberikan padaku, setiap malam liontin itu bersinar terus menerus dan belum lagi saat siang atau pagi. Aku benar-benar berpikir untuk kembali padanya. Aku tak sanggup memikirkan bahwa Draco masih saja memanggil namaku. Sampai akhirnya aku tak sanggup untuk memakainya, kusimpan liontin itu sampai ku berikan padamu,"jawabnya. "Aku tak bisa kembali padanya saat itu karena aku masih berjanji pada Viktor untuk membantunya mendapatkan hak asuh Ivor. Dan karena aku tau Scorpius akan segera lahir" lanjutnya sedih. "Aku bukan wanita kejam tak berperasaan bukan?" ada senyum kesedihan di wajahnya. Eltanin yakin kalau ibunya masih mencintai Draco Malfoy.
"Apa kau mencintai Dad Mom?" tanya Eltanin lagi. "Viktor Krum!" kata Eltanin menjelaskan maksudnya. Hermione mengelengkan kepalanya, Eltanin bisa melihat ada bulir air mata yang jatuh perlahan.
"Aku tak bisa. Aku mencobanya dan aku tak bisa," kata Hermione, suaranya tercekat hampir tak terdengar. Hermione menarik nafasnya lagi sebelum melanjutkan "Semakin hari kau semakin mirip Draco. semakin membuat hari-hariku merasa bersalah pada mereka, pada Draco dan juga Viktor."
"Mom," Eltanin memeluk Hermione.
"Aku melakukan kesalahan sayang, maafkan aku." Eltanin mengelengkan kepalanya tak sabar. Eltanin sungguh menyayangi ibunya, melihatnya menangis seperti ini membuatnya ikut terluka.
"Kau tak perlu minta maaf."
"Aku menikah dengan Viktor untuk membantunya mengambil hak asuh Ivor dan untuk mendapatkan legimitasi hukum untukmu. Kami melakukan perjanjian verbal dalam pernikah itu yaitu pernikahan kami berakhir kalau kau sudah dianggap dewasa," kata Hermione melanjutkan. Dia tak mau menyimpan apapun terhadap anaknya, sesuatu yang berbeda kalau Hermione membohongi anaknya, dia merasa sangat bersalah.
"Maksudmu?"
"Ya. Aku sudah berpisah dari ayahmu El, tepat waktu kau berusia tujuh belas."
"Tapi waktu itu.." ucap Eltanin terkejut akan penyataan ibunya ini.
"Tujuh belas tahun bukanlah waktu yang sebentar. Kami mencoba meneruskan pernikahan kami setelah kau berusia tujuh belas," jawab Hermione. "Tapi aku tak belajar El dari kesalahku. Aku lari dari kenyataan. Aku tak bisa melupakan Draco dulu dan sekarang. Dulu aku berpikir karena kau, aku tak bisa melupakannya. Aku pikir aku bisa tapi nyatanya, tidak." Hermione ingin menjelaskan sejelas-jelasnya pada anaknya itu tapi dia hanya terdengar membuat alasan. Hermione merasa sedih melihatnya.
"Jadi kau sudah berpisah dari Dad? Sejak kapan?" tanya Eltanin pelan. Eltanin ingin mengetahui kebenarannya tanpa ingin menambah beban ibunya.
"Tepat ketika dia kembali dari Hogwarts saat kau terpilih sebagai juara." Sekarang Hermione tak mampu menatap anaknya, dia lebih memilih memandangi ubur-ubur raksasa.
"Bagaimana mungkin kau tak mengatakan padaku Mom?" tuntutnya. Hermione tak mengatakan apapun, tapi kemudian Eltanin merasa bersalah membuat ibunya semakin bersedih. "Kau tak usah menjawab, sepertinya aku mulai mengerti kenapa." Hermione tersenyum kepada anaknya, bagaimana anaknya sudah menjadi tumpuan lara hatinya selama ini.
"Saat Lucius memintaku kembali dan aku menolaknya dia membekukan berangkasku di Gringgots. Berangkas dan isinya masih ada, tapi aku tak bisa mengaksesnya sampai namaku menjadi Hermione Granger bukan Hermione Krum," jelasnya lagi. "Sekarang aku tinggal di Paris, aku membuka cabang toko ramuanku disana dan kalau kau berpikir untuk tetap tinggal disini aku akan pikirkan untuk membuka juga di London. Harry dan Ron bisa mengusahakannya untukku."
"Aku akan ikut kemanapun kau pergi Mom," kata Eltanin menenangkan.
"Tidak Son, kau tidak boleh begitu. Ini!" Hermione memberinya amplop coklat, Eltanin menerima amplop itu penuh tanda tanya. "Ini adalah semua dokumen-dokumenmu. Disitu juga ada kunci berangkas atas namamu. Warisan yang ditinggalkan Lucius untukmu dan sebagian lagi ditransfer dari berangkasku. Aku sudah mengusahakan kau bisa mengaksesnya tanpa menganti namamu."
"Maksudnya?" tanya Eltanin tak mengerti.
"Nama berangkas itu Eltanin Malfoy. Sekarang aku sudah berpisah dari Viktor, kau bisa menganti nama belakangmu menjadi Granger ataupun Malfoy itu terserah padamu. Semua dokumen yang kau perlukan ada di amplop itu. Apapun pilihanmu aku akan mendukungnya." Hermione memberikan tatapan meyakinkan pada Eltanin.
"Apa kau mengatakan ini semua pada Mr Malfoy?" tanyanya. Seingatnya ibunya tak mengatakan ini kemarin saat Hermione bertemu dengan Draco di Three Broomstick.
"Cobalah memangilnya ayah El." Hermione mengelengkan kepalanya, "Dan tidak, aku tak mengatakannya."
"Tapi dia akan bercerai dengan istrinya," kata Eltanin tak sabar.
"Dan itu adalah hak Draco untuk memutuskannya. Aku tak mau dia mengambil keputusan karena aku, biarkan itu jadi pilihannya sendiri," balas Hermione tak sabar.
"Tapi Mom, kalau kau mengatakan padanya kalau kau sudah berpisah, itu akan-"
"Tetap saja, itu bukan hak ku dan juga bukan hakmu." Kali ini mereka berhenti di dekat pohon oak di pinggir danau. Hermione menatap anaknya lekat-lekat, "Aku memintamu bersikap baik padanya, cobalah memanggilnya ayah. Dia benar-benar merindukanmu," pinta Hermione sunguh-sunguh dan Eltanin mengangguk. Eltanin tau Hermione merasa sangat bersalah pada Draco dan jika dengan memanggilnya ayah dapat membuat rasa bersalah Hermione berkurang, Eltanin akan melakukannya. "Lusa aku akan kembali ke Paris, tapi aku berjanji tidak terlalu lama, hanya menyelesaikan beberapa kepentingan. Aku benar-benar berpikir akan membuka tokoku di London, kau tau."
"Mom apa Ivor sudah mengetahuinya? Dia di London bukan?" Eltanin sangat menyayangi Ivor, selama ini dia sudah menjadi kakak terbaik untuknya. Dia tak ingin menyakitinya.
"Ya, dia sudah tau." Hermione mengelus pipi Eltanin penuh sayang. "Aku lupa memberi taumu Ivor dan Viktor akan datang pada tugas kedua," lanjutnya. "Apa kau sudah mengetahui isi telus itu?" Eltanin mengeleng "Saranku, mandilah!"
"Apa?" Eltanin melotot tak percaya.
"Berendamlah." Hermione mencium pipi kanan dan kiri serta dahi anaknya dan mengiringnya meninggalkan danau.
.
.
Benar yang dikatakan ibunya kalau pemandangan dari menara Astronomi memang terlihat sangat Indah. Menara tertinggi di Hogwarts ini memang sangat menenangkan. Apalagi untuknya yang merupakan pendatang baru dan Slytherin yang lebih sering di bawah tanah dibanding di permukaan. Langitpun tampak cerah walaupun masih dibulan Januari.
"El."
"Lily."
"Kau kenapa?" tanya Lily.
"Banyak pikiran, kau selesai latihan?" Eltanin dapat melihat Lily masih menggunakan seragam Quidditchnya dan memegang sapu.
"Iya. Latihan terakhir, besok kita akan mengasak Gryffindor. Aku melihatmu saat menyeberangi lapangan, jadi aku terbang ke sini. Kau bahkan tak menyadari waktu aku turun dari sapu," jawabnya ketus.
"Mau membaca ini? aku kesulitan untuk menceritakannya." Eltanin memberikan amplop yang tadi diberikan oleh Hermione.
"Whats?" Lily mengulang membaca dokumen itu pelan-pelan. "Kau anak Mr Malfoy? Draco Malfoy! Merlin!"
"Aku tau kau akan bereaksi seperti ini."
"Oh, maaf El. Tapi kalau aku pikir-pikir kau memang sangat mirip dengannya. Kenapa aku tak menyadarinya ya?" Lily bertanya pada dirinya sendiri "Apa Scorpius sudah tau?"
"Ya dia sudah tau, Theo juga. Jadi aku pikir aku ingin memberitahumu," balas Eltanin.
"Apa kau okey?" tanya Lily ragu-ragu. Eltanin mengangguk. "Aku lihat Scorpius baik-baik saja. Sekarang jelas bukan kenapa kau di Slytherin." Lily mengelus lengan Eltanin.
"Menurutmu apa yang harus aku lakukan?" tanyanya. Pertanyaan itu meluncur begitu saja.
"Entahlah. Pikirkanlah pelan-pelan, jangan terburu-buru. Apa Dad dan paman Ron sudah tau?"
"Aku rasa mereka jelas tau." Lily hanya mengangguk setuju.
"Tapi, Wow! Kau seorang Malfoy," ucap Lily. Ada nada antusias dan matanya sedikit melebar. Eltanin menyerigai.
"Fakta bahwa kau menganggap Draco Malfoy adalah pria paling tampan dan kau sedang berkencan dengan Scorpius. Ini reaksimu mengetahui bahwa aku adalah Malfoy?" tanya Eltanin geli mengelengkan kepala, Theo menceritakan pada Eltanin bahwa Lily sangat mengagumi Draco Malfoy. Lily memberikan senyum nakal dia tau suasana hati Eltanin sudah membaik.
"Kau tak bisa pungkiri kalau Mr Malfoy sangat tampan. Bahkan bibi Hermione yang pintar terpesona olehnya," katanya tidak terima, Lily mengalihkan wajahnya menatap danau. "Dan aku belum berkencan dengan Scorpius!"
"Belum? Kenapa belum?" tuntut Eltanin. Lily merasa pipinya sudah semerah rambutnya.
"Karena aku belum yakin dengan perasaanku sendiri apa aku benar-benar menyukainya, dan-" Lily mengepalkan tangannya "Hell! Daisy terus saja mengangguku dan mengatakan aku tak pantas untuk Scorp dan dia selalu mengalunkan tangannya ke lengan Scorpius!" Eltanin tertawa mendengar kata-kata Lily. "Diam El,"
"Kau cemburu?" tanya Eltanin jahil. "Pikirkan baik-baik. Scorpius cukup okey."
"Kau mengatakannya karena sekarang kau tau dia saudaramu!" kata Lily sakartis.
Eltanin menggeleng. "Aku obyektif Lily. Tapi kalau dia masih membiarkan Parkinson tetap mengelayutinya dan membuatmu marah aku akan ikut mematahkan tangannya." Eltanin memberikan gerakan mematahkan sesuatu yang dibalas senyum oleh Lily.
.
.
"Oh Harry, aku pikir kita sudah terlalu tua untuk semua ini," protes Hermione. Sekarang Hermione, Harry dan Ron sedang berjalan melintasi halaman ke arah Stadion Quidditch. Hari ini adalah pertandingan antara Slytherin vs Gryffindor. Kedua asrama sama-sama memenangkan pertandingan pertama mereka dan ini merupakan kesempatan besar bagi kedua asrama menambah poin untuk memenangkan piala.
"Hermione kita sudah lama tidak mengalami kesenangan seperti ini. Ini pertandingan besar Slytherin vs Gryffindor," jawab Harry.
"Tapi tetap saja kita tak bisa datang ke sekolah begitu saja. Kita sudah berumur Harry."
"Hermione ini Slytherin vs Gryffindor," balas Ron tak jelas.
"Lalu kenapa kalau Slytherin vs Gryffindor?" tanya Hermione tak sabar.
"Itu tandanya pertandingan ini pertandingan besar!" kata Ron menatap Hermione tak percaya seakan dia gila.
Tapi Hermione tau apa maksudnya setelah masuk kedalam stadion, disana dia bisa melihat banyak sekali yang menonton pertandingan ini bukan hanya murid dan guru Hogwarts tapi juga teman-temannya dulu sekolah seangkatan maupun angkatan atas maupun dibawahnya. Bahkan jumlah mereka hampir menyamai dari murid Hogwarts itu sendiri. Kenapa Hermione tak menyadari selama sekolah dulu kalau pertandingan antar dua asrama ini selalu ramai dan tensi tinggi, rivalitas dua asrama ini ternyata masih berlanjut walaupun Voldermort sudah musnah. Dari yang Hermione dengar ternyata Harry dan Ron hampir selalu datang setiap pertandingan Gryffindor terutama apabila melawan Slytherin.
"Kita duduk dimana Harry?" tanya Ron, mereka masih berdiri di depan pintu masuk. Harry terlihat bingung, dia memakai syal merah emas seperti Hermione dan Ron tapi memakai topi hijau perak Slytherin.
"Ehm..."
"Mom!" Eltanin memanggil Hermione dan berlari ke arahnya. Seperti biasa Hermione selalu mencium dahi, pipi kanan dan kiri anaknya. Anaknya itu memakai sweeter hijau dan syal silver. Dan dibelakangnya ada Draco, Theo dan Blaise.
"Wow, The Golden Trio bertemu The Silver Trio!" kata Blaise tak jelas. Blaise yang pertama menghampiri mereka dan memberikan pelukan singkat pada Hermione. Semua yang melihat sedikit terkejut melihatnya. Mulut ron bahkan terbuka lebar.
"Sejak kapan kalian menjadi The Silver Trio?" kata Ron setelah mengatasi keterkejutannya.
"Baru saja aku deklarasikan Weasley!" jawab Blaise malas. "Granger, kau mendapat undangan untuk pesta klub Slug besok malam. Kau sudah lama tak ikut acara kita hampir entah beberapa tahun, eh!" Hermione tersenyum simpul. "Potter jelas tidak suka beramah tamah –Harry memalingkan muka– ,Theo dia tidak mau ikut karena sakit hati –Theo mendengus, ya waktu itu ayah Theo adalah pelahap maut dan dia tak diundang untuk bergabung dengan klub Slug–, Draco jelas menolak –Slughorn sudah memberinya undangan tapi Draco tak pernah mau ikut–, Weselbee jelas tak diundang," wajah Ron sudah memerah. "Hanya kau yang cukup kooperatif kalau klub slug cukup menyenangkan." Gaya Blaise memang bisa membuat suasana yang sedikit tegang menjadi tegang.
"Entahlah Zabini besok aku akan kembali ke Paris," jawab Hermione, dia melirik ke arah Draco dan tersenyum lemah.
"Bisakah kita masuk. Aku rasa pertandingannya sudah akan dimulai," kata Harry. Mereka masuk ke dalam Stadion yang sudah sangat ramai. Mereka mengambil tempat diantara pendukung Slytherin dan Gryffindor supaya memudahkan Harry mendukung anaknya. Draco, Theo dan Blaise mengikuti dari belakang.
"Paman Harry. Kau akan mendukung siapa?" tanya Eltanin berteriak mengimbangi teriakan para penanonton. Harry tidak menjawab pertanyaan Eltanin. Harry ingin mendukung Gryffindor tapi Lily anaknya bermain untuk Slytherin.
"Ehm..."
"Kalau kau Mom?" tanya Eltanin beralih pada Hermione karena Harry pasti tak bisa menjawab.
"Oh, Ehm, aku mendukung Gryffindor pasti," jawab Hermione terbata tersadar dari keterkejutannya karena Hermione kepergok anaknya sedang melirik ke arah Draco yang juga meliriknya terus sedari tadi.
"Kau tak apa-apa kan kalau aku mendukung Slytherin?" tanya Eltanin sepolos mungkin. Hermione mengelengkan kepalanya.
"Dia akan baik-baik saja. Dia juga mendukung Slytherin di tahun ke tujuh," kata Draco jahil. Draco mengambil tempat duduk di sebelah Eltanin.
"Draco." kata Hermione memperingatkan.
"No offence Hermione," katanya mengangkat kedua tangannya seperti penjahat menyerahkan diri.
"Kau mendukung Slytherin Hermione? Apa hanya aku yang membela Gryffindor dengan sepenuh hati," kata Ron memandang sebal kedua sahabatnya.
"Iya Weasley dia mendukungnya sepenuh hati," ucap Blaise mengompori. Ron memandang Hermione tak percaya.
"Kau tau saat itu aku tetap mendukung Gryffindor Blaise."
"Tapi kau memakai mawar hijau," tambah Blaise semakin jahil.
"Ya, aku juga mendukung Draco," balas Hermione tak sabar. Blaise hanya tertawa kecil, Ron seperti terkena serangan jantung, Draco tersenyum puas.
"Kau memilih mendukung Father dibandingkan asramamu sendiri?" tanya Eltanin tak percaya menatap ibunya. Draco mengalihkan pandangannya ke arah Eltanin.
"Katakan lagi." Eltanin membalikkan wajahnya menatap Draco.
"What?"
"Panggil aku!"
"Father," katanya pelan. Draco memeluk Eltanin dengan erat tapi matanya mengarah pada Hermione dan Draco mengucapkan 'thank you' tanpa suara. Hermione mengelengkan Kepala, dan air matanya menetes. Draco mengacak rambut Eltanin yang memang tak pernah rapi.
"Jangan merusak rambutku!" katanya sebal dan merapihkannya dengan jari. Draco hanya menyerigai.
"Kau memang tak pernah rapi sayang. Kalau kau mau aku akan memotongnya lebih pendek sehabis ini." Hermione membelai poni rambut anaknya yang sudah hampir menutupi mata.
"Kau harus sering menyisirnya," kata Draco ikutan.
"Aku tak mau. Nanti aku mirip denganmu," katanya ngeri pada Draco. Draco mengerutkan dahinya bingung.
"Memang kenapa kalau kau mirip denganku?"
"Nanti aku hanya menjadi paling tampan versi Lily." Harry yang mendengar nama Lily langsung ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
"Apa? Menurut Lily Malfoy paling tampan?" tanya Harry ngeri.
"Berarti dia sepintar Hermione, Potter. Dia juga menganggapku paling tampan," kata Draco enteng menangkup kedua lengannya di dada bersedekap. Harry menggelengkan kepalanya memandang Hermione tidak percaya seakan ini semua salahnya.
Mereka tidak bicara lagi setelahnya karena pertandingan sudah akan dimulai. Lagu kord membahana dari para suporter. Pertandingan itu memang sangat seru dan juga kotor. Banyak teriakan dari para penonton saat pertandingan berlangsung. Pertandingan berlangsung sangat seru kedua tim saling mencetak angka dan juga berebut angka. Lily yang sudah piawai menggunakan Firebolt Blowingfirenya mencetak angka terbanyak dia mendapatkan 70 angka sendiri mengungguli Simone Zabini dan Sebastian Puncey, sampai Scorpius menangkap Snitch setelah sebelumnya adu manuver dengan Albus. Slytherin menang 310-130. Lautan hijau sangat bersuka cita atas kemenangan mereka, setidaknya kemenangan ini akan membuat Slyherin semakin dekat dengan piala Quidditch, walaupun Gryffindor belum kehilangan kesempatan.
"Oh, rasanya sungguh menyenangkan," teriak Blaise. Rambut Ron sudah tak berbentuk apa lagi Harry sepanjang pertandingan dia benar-benar tercabik.
"Malfoy mengalahkan Potter!" teriak Theo.
"Setidaknya anakmu bisa membalaskan dendammu Malfoy!" cemooh Ron.
"Father, kau tak pernah menang melawan paman Harry?" tanya Eltanin menatap Draco tak percaya.
"Aku tak suka Quidditch. Aku hanya suka terbang, aku lebih suka buku," jawab Draco pelan masih memperhatikan awan. Eltanin mengelengkan kepala tetap tak percaya, Hermione hanya tersenyum.
.
.
Tempat ini adalah tempat yang selalu dia kunjungi ketika dia kembali ke Inggris. Hermione bisa melihat seikat bunga Lily di makam ayahnya. Hermione berjalan ke arah lain dari makam, tempat dimana dia bisa menenangkan diri. Tempat dimana dia bisa bertemu dengan orang yang dia kasihi.
"Apa kau sering ke sini?" tanya Hermione pelan kepada Pria yang sedang berdiri menatap laut. Hermione berdiri disampingnya dan menutup matanya menghirup angin laut yang berhembus. "Tempat ini tak berubah sama sekali," katanya ketika membuka mata.
"Ya, tak pernah berubah," jawab Pria itu. Hermione mendapati sepasang mata biru abu-abu yang indah sedang menatapnya.
"Aku tak tau kau sangat melankolis begini Malfoy," kata Hermione ditambah serigai terbaiknya. Hermione berjanji untuk tidak berubah dan Draco senang mendapati Hermionenya telah kembali, Hermione yang pintar dan penuh percaya diri.
"Dan aku tak menyangka kau sangat kejam Granger," balas Draco dengan serigai yang tak kalah menyebalkan.
"Kau berjanji padaku!" kata Hermione memperingatkan Draco kalau Draco akan memanggilnya Hermione bukan Granger. Draco tersenyum geli melihat ekspresi Hermione.
"Aku akan menepatinya Hermione." Draco mengangguk kepalanya. "Kau akan kembali ke Paris?" tanyanya datar.
"Ya."
Mereka kembali memandang laut, mereka bagai berbagi dalam diam. Bersamanya hidupnya terasa lengkap dan Hermione yang dia butuhkan. Untuk saat ini, inilah yang terbaik untuk mereka. Draco harus menyelesaikan dulu urusannya dengan Astoria. Untuk sekarang Draco hanya bisa berkasih dengan Hermione dalam diam. Draco memeluk Hermione dengan erat dan mencium keningnya sebelum akhirnya dia pergi berapparate.
.
.
Draco tersenyum puas dengan laporan yang diberikan pemuda tinggi dan kurus di depannya. Bahkan apa yang di laporkan lebih dari apa yang dia prediksi. Perasaannya saat ini tak bisa ia gambarkan. Draco menyesap anggur buatan peri terbaik yang ada di kantornya, sepertinya dia akan memberikan bonus untuk membayar kerja keras orang suruhannya ini. Dia juga mengingat kembali pertemuannya dengan Astoria tadi.
Astoria membanting pintu ruang kerja Draco. "Apa yang kau lakukan Draco?" katanya marah, Astoria melempar perkamen ke depan muka Draco. Draco mengambilnya dan membacanya 'Surat Permohonan Cerai'. Draco mengambil tongkatnya dan memberikan mantra pada pintu ruang kerjanya agar tak ada karyawannya yang mencuri dengar.
Draco mengambil nafas perlahan. "Aku ingin kita berpisah Tori," jawabnya datar.
"Merlin Draco delapan belas tahun Draco. Apa yang kau pikirkan?" teriaknya.
"Aku hanya ingin kita berdua bahagia. Kau sadar itu Tori." Nadanya masih sama datarnya. Astoria mengertakan gigi menahan emosi.
"Kau tidak bahagia? Pikirkan tentang Scorpius!" katanya berganti haluan melihat Draco tak bereaksi apapun.
"Aku melakukannya karena aku memikirkan Scorpius," katanya tegas.
"Aku tau, itu pasti karena anakmu itu kan?" balas Astoria mencemoh
"Jangan bawa Eltanin dalam masalah ini," kata Draco memberikan penekanan pada setiap kata-katanya. Sekarang Draco ikut berdiri. Mereka dipisahkan oleh meja kerjanya.
"Jelas dia punya andil dalam masalah ini. Kau masih berharap kembali padanya, Merlin dia sudah bahagia dengan Krum, dan dia mencampakanmu!" kata Astoria mengejek.
"Aku tau itu Tori." Suaranya bagai desisan ular. "Aku melakukan ini bukan karena aku ingin kembali padanya. Tapi aku lelah berpura-pura baik-baik saja dan bahagia denganmu karena aku tidak pernah. Aku tidak pernah bahagia denganmu dan begitu juga denganmu."
"Kau tidak bisa melakukan ini. Aku pastikan kau butuh bertahun-tahun untuk bercerai denganku," katanya mengertak.
"Aku akan tetap melakukannya Tori, selama apapun aku akan memperjuangkannya. Delapan belas tahun aku tersiksa, aku tak kecewa menunggu dua tahun kalau kau masih keras kepala seperti ini." Jelas Draco lebih tau hukum ketimbang Astoria. Dia tau dua tahun adalah batas maksimal rangkaian sidang yang harus dia lakukakan kalau Draco ingin bercerai dari Astoria dengan tidak baik-baik.
"Kau sudah gila!" Astoria mengelengkan kepalanya tidak percaya, tak ada kata lagi yang bisa di ucapakan.
"Aku tidak gila. Bahkan aku sangat waras." Kata Draco dingin.
"Apa kau tak memikirkan Scorpius!"
"Tenang saja. Aku sangat memikirkannya." Draco tak mau mengatakan kalau Scorpius bahkan menyarankannya untuk berpisah. Draco tak mau melibatkan anaknya dalam urusan ini.
Astoria mengelengkan kepalanya lebih keras. Dia membanting pintu keluar ruang kerja itu dengan sangat keras. Draco ragu karyawannya tak ada yang mendengar.
Bahkan dia sedang membaca berita Daily Prophet mengenai berita perceraiannya. Draco hanya berharap Eltanin dan Scorpius tidak terpengaruhi oleh berita yang ditulis dengan sangat indah oleh nenek tua Rita Sketeer.
.
.
Pukul sepuluh Tugas kedua akan dilaksanakan. Para siswa dari tiga sekolah sudah berkumpul di sekeliling danau. Mereka belum mengetahui dengan jelas apa tugas kedua. Eltanin, Axel dan Scorpius sudah siap di tepi danau. Mereka sudah tau apa yang harus dilakukan. Mereka harus mengambil kembali yang paling berharga bagi mereka.
Eltanin dapat menghampiri ayahnya Viktor Krum yang sudah datang bersama Ivor. Dia begitu tegang, ini pertama kalinya Eltanin melihat lagi Viktor Krum.
"Dad!" Viktor menepuk punggungnya.
"Buatlah aku bangga Son!" katanya, Eltanin hanya mengangguk.
"Terima kasih kalian mau datang."
"Tentu saja kami datang. Mana mungkin kami meninggalkan kesenangan ini," jawab Ivor tersenyum. "Sudah tau apa yang akan kau lakukan." Eltanin mengangguk.
"Doakan aku!" Viktor memeluk Eltanin lagi.
"Kau tetap aku anggap sebagai anakku dan anakku yang membanggakan." Viktor memberikan senyum kepada Eltanin. "Bicaranya padanya, dia sudah akan membunuhku dengan tatapan matanya," katanya lagi memberikan isyarat pada Eltanin untuk menemui Draco. Eltanin mengangguk dan berjalan ke arah Draco.
Draco memeluk Eltanin sama seperti Viktor tapi entah kenapa rasanya berbeda. "Lakukan yang terbaik." Pelukan Draco membuat Eltanin ingin membuat Draco padanya, sedangkan pelukan Viktor tidak pernah membuatnya seperti ini.
Eltanin berjalan ke arah Scorpius dan Axel, mereka bersiap-siap untuk masuk ke dalam danau. Mr Goldstein memberikan sedikit pidato dan kemudia dia membalikan jam pasir tanda bahwa tugas di mulai. Ternyata mereka bertiga sama-sama menggunakan mantra gelembung kepala.
Mereka masuk kedalam air dan mulai berenang. Yang harus mereka temukan adalah istana tempat para duyung tinggal dan mengambil apapun yang telah mereka curi. Eltanin terus berenang lebih ke bawah dan gelap. Eltanin menengok ke arah pergelangan kakinya, ada setan air yang menjeratnya. Eltanin memberinya mantra peledak, tapi yang ada hanya percikan api, untungnya cukup efektif membuat setan air itu melepaskan tangannya.
Tidak lama setelah dia berenang agak lama dia bisa melihat ada tiga orang yang sedang tertidur dan terikat. Dikelilingi oleh ratusan duyung yang menjaganya. Eltanin bisa melihat salah satu dari tiga orang itu adalah ibunya. Eltanin juga mengenali orang yang disampingnya adalah Astoria, ini pasti sandera untuk Scorpius dan satu lagi wanita muda berambut pirang Eltanin tidak mengenalnya.
Scorpius dan Axel sudah mencapai tempatnya. Mereka sama-sama paham apa yang harus dilakukakan. Eltanin mendekati Hermione, dia bisa merasakan bahwa ibunya sangan dingin dan kaku. Eltanin melepaskan ikatannya dan mulai berenang ke atas di ikuti oleh Scorpius dan Axel. Tapi begitu takutnya Eltanin menyadari bahwa sandera yang lain sudah sadar ketika muncul di permukaan. Eltanin kesulitan membawa Hermione yang masih berat dan tertidur.
Lima meter sebelum mencapai garis finis. Scorpius sudah mendahuluinya berenang bersama ibunya dan disusul oleh Axel dan wanita berambut pirang yang menjadi sanderanya. Eltanin masih kepayahan berenang bersama Hermione yang tak kunjung bangun, Eltanin merasa ngeri. Sekarang Eltanin benar-benar panik. Dia tak berpikir lagi untuk menang, yang ada dipikirannya adalah kenapa ibunya tak bangun juga. Eltanin bahkan tak menyadari bahwa sekarang Draco ikut berenang bersamanya membawa Hermione ketepian.
"Mom!" teriaknya menguncangkan Hermione.
"Dia tak bernafas," kata Madam Pomfrey menelusup kedalam kerumunan.
_TBC_
Hai, hai,
Aku tau kalian pasti tau kan tugas kedua tapi aku memang mau bikin tugas ini sama aja seperti di buku, bukan karena aku malas mencari tugas apa yang cocok *alasan.
Aku chapter ini dan melanjutakan lagi nulis untuk chapter15 sekalian menunggu leg ke-2 liga champion, apakah juve akan ke final?. Haha *tidak nyambung.
Ya sedikit lagi.
