Between Love and Mission

Author: Nacchan Sakura

Disclaimer: I DO- ..not own vocaloid.

.

.

.

I want to distance myself from others, but I can't stand being alone. –

(Shizuo Heiwajima - Durarara!)

.

.

.

Rin's POV

.

.

.

"Jadi—Rin ternyata menyukaiku, ya?"

Sebuah seringai penuh arti muncul di wajah Len. Oh, sial. Aku rasa aku tidak bisa kabur sekarang.

"E-ehh.. aku—"

Aku terdiam, sesekali menelan ludah yang semenjak tadi tertahan. Aku dapat merasakan debar jantungku sendiri dengan jelas. Apa Len dan Miku juga mendengarnya?

"Bukan, itu... uhh... Aku—"

Kriiiing!

Bel tanda istirahat sudah selesai pun berbunyi. Dari luar perpustakaan mulai terdengar ramai suara langkah kaki dan orang-orang berbincang menuju kelas. Suasana perpustakaan masih hening seperti asalnya—

"A-aah! Pelajaran sesudah ini 'kan pelajaran Al-sensei!" Teriakku secara tiba-tiba. "K-kalau kita telat ke gedung olahraga, kita bisa dihukum!"

"E-eeh? Yang benar?" Jawab Miku, sambil menarik tanganku. "Kalau begitu, ayo kita pergi!"

"I-iya, sampai nanti ya, Len!"

"Hah? Tunggu—"

Dan kami berdua sukses meninggalkan Len kebingungan di dalam perpustakaan, sendirian.

.

.

.

"Tadi nyaris saja, ya..."

Aku menatap sinis Miku yang dengan santainya berbicara—seakan dia tidak merasa bersalah.

"APANYA YANG 'NYARIS'?! Dia sudah mendengar—dia sudah tahu semuanya, dan ini salahmu, Miku!"

"Maaf, maaf. Tapi yang membawaku ke perpustakaan 'kan, kamu. Kamu yang bilang kalau perpustakaan itu tempat yang aman, 'kan?"

"Ukh—memang sih, aku juga tidak menyangka kalau Len akan ada disana."

"Tapi itu berarti kata-kataku benar, 'kan?" Miku menyeringai tipis. "Kau menyukai Len."

Aku terdiam.

Suara gaduh di dalam gedung olahraga seakan menjadi pelindung agar siapapun tak bisa mendengar suara debar jantung dan isi hatiku. Namun diantara kegaduhan ini, entah kenapa aku merasa—sekelilingku begitu sunyi.

Mungkin..

"TIDAK SAMA SEKALI!" Ucapku dengan lantang—membuat semua orang terhenti dan menoleh kepadaku.

"Eh—Rin-chan? Ada apa?" Gumi berlari ke arahku yang masih menundukkan wajah. "Rin—"

Aku mengangkat wajahku perlahan, dan semuanya terdiam secara tiba-tiba.

"...Rin-chan... kenapa kau menangis?"

Eh?

Aku merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari mataku—air mata. Sejak kapan aku menangis?

"E-eh..." Aku menyeka air mataku perlahan. "E-eh...?"

Air mataku tidak berhenti, sementara orang-orang terus menatap ke arahku. Aku berusaha menyeka air mataku sampai habis—namun tangisanku malah semakin deras.

"A-aku pergi ke ruang kesehatan dulu!"

Aku pun berlari keluar dari gedung olahraga, meninggalkan Gumi yang berteriak memanggil namaku. Al-sensei bahkan tidak sempat mencegahku, namun dari belakang aku mendengar seseorang mengejarku.

"Rin, tunggu!"

..Len, itu suara Len.

'Sial, dari semua orang yang ada, kenapa harus dia yang mengejar?!' pikirku dalam hati. Namun aku terus berlari, sampai akhirnya aku mendekati pintu ruang kesehatan. Dengan cepat tubuhku berbelok dan memasuki ruang kesehatan.

Namun sialnya nasibku di hari ini—ketika tanganku hendak menutup pintu ruang kesehatan dan menguncinya, Len dengan cepat menahan pintu ruang kesehatan dengan tangannya.

"Tunggu—Rin, kenapa kau kabur, sih?!"

'KARENA KAU MENGEJARKU, BODOH!' Ucapku dalam hati. Namun mulutku tak mengatakan apapun, dan aku tetap berusaha menutup pintu walau harus menjepit tangan Yakuza shota yang satu ini.

"Pergi. Biarkan aku sendiri." Ucapku dengan dingin. Len menatapku dengan tajam.

"Membiarkanmu sendiri, sementara kau menangis tanpa alasan?! Kau bodoh atau apa? Aku tidak bisa melakukan hal itu!" Len menggeser pintu ruang kesehatan sekuat tenaga, membuatku sedikit terpental ke belakang. Len kemudian menutup pintu ruang kesehatan dan menguncinya dengan cepat.

"...Kenapa..?" Gumamku. "Kenapa... kenapa kau tidak bisa membiarkan aku sendiri?" Aku menundukkan wajahku, berusaha agar air mata tidak kembali turun.

Aku hanyalah orang jahat yang bertugas membunuhmu,

Aku hanyalah gadis yang akan menusukmu dari belakang, seraya memakai topeng yang menunjukkan wajah tersenyum.

"Sudah jelas, bukan?" Len berjalan mendekatiku, tangannya menyentuh kedua sisi wajahku dengan lembut. "Aku menyukaimu, Rin."

"Aku benar-benar menyukaimu."

.

.

.

[Normal POV]

"Aku tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini."

Kaito berhenti sejenak dari kegiatan memakan Es krimnya, dan menatap Miku yang sedang memainkan rambut panjangnya. Miku membalas tatapan Kaito.

"Maksudku, agen yang kau suruh itu. Dan target kita."

"Oh." Kaito menelan Es krim yang sedikit mencair di mulutnya. "Memang mereka kenapa?"

Miku menggelengkan kepalanya seraya menghela nafas. "Kau memang bodoh. Bukankah jelas sekali bahwa mereka saling menyukai?"

Kaito tersedak Es krim kesukaannya dalam sekejap. Masih untung Es krimnya tidak tumpah mengenai meja kerja miliknya di ruang guru.

"Ap—"
"Kaito. Aku.. punya permintaan."

"A-ah? Permintaan apa?"

"...Aku—"

.

.

.

"Kenapa Rin tadi menangis, ya..." Gumi menghela nafas seraya menyusuri lorong sekolah yang membawanya menuju taman. Sekarang jam makan siang tambahan karena pelajaran olahraga sudah selesai, namun ia belum menemukan sosok Rin. Dan karena yang lainnya sibuk dengan urusan masing-masing—terpaksa Gumi makan siang sendirian hari ini.

Saat Gumi hendak duduk di kursi taman terdekat, ia melihat sosok Mikuo di kejauhan—sedang berbicara di telepon entah dengan siapa. Sosoknya membelakangi Gumi dan tak terlihat jelas, karena Mikuo berdiri di belakang batang pohon yang cukup lebar dan besar.

Gumi tersenyum, syukurlah—ia tidak perlu makan sendirian. Ia hendak berlari dan memanggil nama kekasihnya yang ia cintai itu, namun—suara percakapan Mikuo membuat langkah kakinya terhenti.

"Aku mengerti. Iya. Aku.. tidak akan gagal lagi kali ini." Gumi melihat sosok Mikuo menelan ludah dan terdiam sejenak.

"Aku tidak akan berhenti menjadi Dark Diva, aku sudah memutuskan untuk mencuri apa yang diperintahkan olehmu, dan aku tak akan ingkar janji."

Gumi seketika terdiam. Bola matanya membesar, dan mulutnya terbuka—namun, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Raut wajahnya yang terkejut itu perlahan membuat tetes-tetes air terlihat di sudut matanya.

'A-apa—jadi selama ini, Dark Diva itu adalah Mikuo? Jadi selama ini—Mikuo membohongiku?'

Gumi pun berbalik, berlari meninggalkan tempat itu dengan segera. Tanpa ia sadari—kotak bentonya terjatuh, dan suara kotak bento yang terjatuh membuat Mikuo sadar bahwa seseorang sedang mendengarkan pembicaraannya.

Mikuo mematikan sambungan teleponnya dan berbalik, melihat sosok gadis dengan rambut berwarna hijau berlari menjauh. Dengan seketika, ia merasakan terkejut dan panik muncul di dalam dirinya.

"-Gumi!"

.

.

.

"Mengakulah, Akaito."

Lily menatap Akaito yang kini tengah memasang wajahnya yang netral. Lily menahan Akaito di sebuah sudut ruang kelas yang kosong dan tidak terpakai. Akaito kemudian menyeringai kecil.

"Apa yang kau katakan, Lily? Aku tidak mengerti—"

"Ini ada hubungannya dengan Mikuo." Lily memotong kata-kata Akaito. "Alasan kenapa Mikuo terlihat selalu dekat denganmu—walau kalian tidak begitu terlihat akrab, kenapa Mikuo selalu terlihat waspada di dekatmu, kenapa Mikuo selalu terlihat ketakutan. Ini semua karena kau."

Akaito tertawa kecil. "Mikuo memang seperti itu, Lily. Sebenarnya kami sudah saling kenal sejak kecil. Ia memang penakut dan tak bisa apa-apa tanpa aku. Kalau tidak ada aku, dia tidak akan bebas dari teman-temannya yang senang menindas dia—"

Lily mengepalkan tangannya, dan meninju tembok di samping Akaito hingga retak. Akaito menghentikan kalimatnya dan kini menatap Lily yang benar-benar emosi.

"Kau—kau yang menyuruh Mikuo menjadi pencuri. Kau yang memintanya menjadi Dark Diva."

.

.

.

"Hanya karena sandiwara semata, mereka semua mempercayaiku. Bodohnya..."

Seorang gadis dengan rambut berwarna magenta dan berbentuk spiral tersenyum lebar. Matanya melihat betapa luasnya sekolah ini dari atap yang sepi.

"Mereka pikir, obat penghilang ingatan itu akan mempan kepadaku? Lucu sekali." Teto tertawa kecil. "Nah.. yang mana dulu ya, yang akan aku beritahu kepada semua orang? Tentang perasaanku pada Len? Tentang Len yang sebenarnya adalah Yakuza bernama Rei? Atau tentang Mikuo yang sebenarnya adalah Dark Diva?"

"Atau tentang Rin yang sebenarnya adalah pembunuh bayaran?"

.

.

.

[Rin's POV]

Suara yang kini kudengar di tengah kesunyian—apakah itu suara detik jarum jam,

Atau suara degup jantungku?

Yang kini aku rasakan—apakah itu rasa benci,

Atau rasa cinta yang tak terhingga?

Yang kini aku alami—apakah ini semua hanya sebuah ilusi,

Atau kenyataan yang tak bisa diubah?

Aku terdiam, mataku menatap Len yang menatapku seraya tersenyum hangat—walau matanya entah kenapa menunjukkan sedikit rasa sedih yang tidak kumengerti.

"Kau.. kau berbohong.." Aku mengalihkan pandanganku. "Kau pasti bercanda, 'kan? Seperti biasanya, selalu bilang bahwa aku adalah pacarmu, selalu bilang kalau kau akan menjadikan aku milikmu—kau hanya pura-pura, kau tak pernah serius, Len.."

Angin bertiup, membuat tirai putih yang menghiasi jendela ruang kesehatan menari perlahan. Keheningan menyelimuti ruangan ini sekali lagi, dan aku masih tidak bisa melihat wajah Len.

Namun keheningan itu berubah menjadi waktu dimana semuanya terasa terhenti—waktu, gerak, segalanya—ketika aku merasakan tangan Len membuat wajahku menghadap ke arahnya, dan Len mendekatkan wajahnya ke arah wajahku. Nafasnya yang hangat bertiup di wajahku, dan sesuatu yang hangat menempel di bibirku.

Len menciumku.

Dibanding dengan rasa terkejut dan bertanya 'Kenapa?', aku lebih berpikir bahwa aku ingin menjaga dengan baik saat-saat ini. Aku membiarkan diriku jujur kepada apa yang sebenarnya aku rasakan—aku membiarkan diriku menjadi 'Aku yang sebenarnya', untuk saat ini saja.

Len melepaskan kecupannya dan menatapku, aku membalas tatapannya dan Len tersenyum. "Aku benar-benar menyukaimu. Pura-pura menjadi pacar itu hanya alasan—memang benar aku ingin menghindari Miki yang terobsesi padaku, tapi Miki sebenarnya sudah pindah sekolah sehari setelah aku memintamu untuk pura-pura jadi pacarku."

"Apa—" Aku terdiam sejenak. "Jadi selama ini, kau sebenarnya membohongiku?"

"Kalau tidak begitu, kau akan berhenti berpura-pura jadi pacarku. Dan kau akan meninggalkan aku. Aku hanya mengulur waktu, aku ingin berada di sisi Rin lebih lama lagi. Rin.. kau sudah berjanji tidak akan meninggalkan aku, bukan?"

Tubuhku gemetar, mengingat janji yang dengan mudahnya tadi pagi aku ucapkan. Mana mungkin janji seperti itu bisa aku tepati, bukan? Aku suatu hari akan membunuh lelaki yang perlahan mulai aku cintai—lelaki yang kini bukan hanya 'target'ku semata.

"Kau akan menyesal telah menyukaiku, Len. Kau akan menyesal karena telah mempercayaiku."

Len menggelengkan kepalanya. "Tidak akan, kalau ini adalah sesuatu yang kuputuskan untuk lakukan—aku tak akan menyesal."

Hidupku bahkan lebih buruk dari kisah Romeo dan Juliet.

Aku bahkan tak tahu harus melakukan apa agar ceritaku tetap berjalan,

dan aku tak bisa menentukan sendiri alur cerita yang aku inginkan.

"Kau.. tidak akan menyesal?" Tanganku merogoh kantung celana olahraga yang masih kupakai, dan mengambil sebuah pistol kecil yang selalu kubawa kemanapun. "Kau benar-benar... tak akan menyesal..?"

Tanganku perlahan mengeluarkan pistol tersebut, aku berusaha menghapus semua keraguanku dan mengakhiri semuanya disini. Walau aku akan menyesal nantinya, tapi ini adalah tugas yang harus aku selesaikan.

Pada akhirnya—

Ceritaku tidak akan berakhir, seperti lingkaran tanpa akhir yang terus mengulang dari titik awal sampai akhir.

"Selamat tinggal, Len."

.

.

.

DOR!

Aku menghentikan tanganku yang hendak mengeluarkan pistol kecil dari kantong celanaku—tidak, suara tembakan tadi bukan dari pelatuk pistol milikku. Ada orang lain yang membawa senjata api ke sekolah ini.

"Siapa—"

Aku dan Len menoleh dan melihat pintu ruang kesehatan yang didobrak sehingga terbuka. Disana, sosok Teto yang tersenyum lebar terlihat dengan sebuah pistol di tangannya terlihat jelas.

"Len-kun! Ternyata, kau disini~"

"Teto..?" Len menatapnya penuh tanya, sementara aku bersiap dengan pistol di tangan kananku. Ternyata dugaanku benar, ingatan Teto tak bisa dihapus semudah itu.

"Len, menyingkir!" Aku mengangkat pistol di tangan kananku dan bersiap menarik pelatuk, namun Teto hanya tertawa melihatku.

"Rin, apa yang kau lakukan? Bersandiwara menjadi pahlawan dan melindungi Len, hah?" Teto menyeringai. "Munafik. Padahal kau suatu hari juga akan membunuhnya."

Len menoleh ke arahku sambil menggumam, 'Eh..?', dan aku disini terdiam, merapatkan mulutku, dan menghindari tatapan Len.

"Apa maksudmu.. Teto?" Len kembali melihat ke arah Teto. "Rin.. membunuhku?"

"Ah, Len-kun yang malang. Coba saja kau tidak menolak pernyataan cintaku di hari itu, pasti kau tidak akan mengalami semua ini." Teto berjalan mendekati Len dan memeluk Len yang masih terdiam di tempat. "Aku pasti akan melindungimu, dan akan kubunuh pembunuh bayaran ini terlebih dahulu, sebelum ia datang dan masuk ke dalam skenarioku."

Len mendorong tubuh Teto yang memeluknya dan bola matanya terlihat membesar. "Pembunuh bayaran..?"

"Teto, hentikan!" Aku hendak menghentikan Teto, namun Teto mengacungkan pistolnya ke arahku seraya berteriak, "DIAM!"

"Len-kun, mau sampai kapan kau terus mengharapkan gadis ini? Padahal disini, ada aku yang akan melindungimu.." Teto menatap Len seraya tersenyum—namun, entah kenapa matanya begitu kosong, seakan tertutup dengan rasa cinta yang berlebihan.

"Teto, menjauh dari Len!" Aku berlari ke arah Teto dan menepis tangannya yang menggenggam pistol berwarna perak, sehingga pistol itu terlepas dari tangannya.

"Len, ayo lari dari sini!"

Aku menarik tangan Len dan membawanya pergi dari ruang kesehatan. Dari kejauhan, aku mendengar Teto berteriak, 'Tunggu!', namun aku terus berlari bersama Len.

"Rin, kesini!" Kini, Len yang menarik tanganku dan ia membawaku ke lantai bawah menuju pintu keluar. Kini, ia berada di depanku.

"Len.. maafkan aku... ya." Gumamku dengan suara yang kecil, tak yakin bahwa Len bisa mendengar suaraku.

"..Aku tidak tahu apa yang terjadi, dan aku butuh penjelasanmu." Jawab Len. "Tapi, aku tidak membencimu. Jadi, jangan meminta maaf."

Masih bisa,

Masih ada kesempatan.

Mungkin sekarang..

Aku masih bisa mengubah alur cerita hidupku.

"Terima kasih... Len."

.

.

.

To Be Continue