Intro: Orang bilang angka 13 angka sial. Bener, nggak, ya? Hehehe... Aku juga gak sabar ingin menyelesaikan kasus demi kasus. Dan bagiku kasusnya Callan yang paling susah. So, please stay tuned! Forgive me again for slow update this week. I hope you enjoy it. - author

PART THIRTEEN

(CALLAN)

Di teras belakang, aku duduk sambil merenung. Hari Sabtu adalah hari yang tenang. Aku tak perlu mengkhawatirkan apapun, sebetulnya.

Hal yang sama juga kulakukan malam itu. Trevor beberapa kali meminta supaya aku menghabiskan makanan penutup, tapi aku menolak. Aku sedang tidak nafsu makan. Beberapa kali Bree mengirimiku SMS, tapi aku bingung harus membalas apa. Dia sangat mengkhawatirkan kesehatanku. Saat aku pulang dari sekolah, rasa pusing di kepalaku terus menerus muncul. Aku bahkan terbaring di tempat tidur sampai petang. Bree bilang dia akan membelikan obat demam untukku, tapi aku berdalih dengan mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Kemudian, dia mengabarkan bahwa Chloe akan datang menginap di rumahnya.

Aku tidak bermaksud dingin pada Bree, karena aku akan sangat menyesalinya di kemudian hari. Dia satu-satunya orang yang paling ingin selalu tahu keadaanku. Tapi kini, bukan hanya aku, dia juga berteman dekat dengan Kaye. Aku tahu Bree suka membantu Kaye mengerjakan tugas-tugas sekolahnya meskipun dia sendiri banyak pekerjaan. Tapi belakangan, dia terlalu repot memikirkan masalah OSIS sehingga jarang kulihat berkomunikasi dengan Kaye. Orang seperti Kaye sebetulnya hanya mencari-cari perhatian saja. Aku sudah bilang berkali-kali pada Bree. Tapi tetap saja, dia menganggap Kaye justru memang butuh perhatian.

'Dia seperti dirimu, Callan,' kata Bree suatu hari. Kami sedang duduk di lapangan sepakbola, menonton tim sepakbola berlatih. Itu terjadi setelah aku memberitahunya perihal Colin. "Dia kesepian di sekolah. Aku tak menyalahkannya, tapi kurasa memang sulit menyesuaikan dengan keadaan baru kalau kau tak punya pengendalian diri yang baik. Robbie itu anak yang baik. Hanya karena dia selalu bersaing denganmu, bukan berarti kau tidak bisa membuka hati untuk menerimanya juga.'

'Apa yang diketahui Kaye tentang kehilangan?' begitu aku menjawabnya. 'Apakah dia tahu bagaimana rasanya melihat mayat kedua orangtuamu tergeletak di ruang tamu dan darah mereka tak pernah kering selama berhari-hari? Apakah dia tahu rasanya dikhianati saudaramu sendiri? Pikirkan itu, Bree!'

'Aku tidak pernah mengalami hal seperti itu,' kata Bree, pandangannya jauh ke seberang lapangan berumput hijau yang diselingi ilalang, 'tapi aku akan berusaha merasakannya, karena aku adalah temanmu. Aku akan tetap menjadi temanmu sampai kapanpun. Dan kau harus tahu, bahwa segala hal di dunia ini adalah bagian dari takdir.'

'Jadi menurutmu kematian orangtuaku juga bagian dari takdir?' suaraku bergetar menahan emosi. 'Apa yang akan kau perbuat jika kau ada di posisiku, Bree? Katakan padaku!'

Bree lalu menoleh padaku, tampak sangat iba. 'Aku akan mengatakan, aku akan hidup dari takdir itu, meskipun aku tidak bisa, dan aku tidak mau. Aku takkan memaksa orang lain untuk tahu apa yang kurasakan karena aku percaya bahwa masih ada kehidupan di balik kehidupan dan aku masih punya teman yang menyayangiku.'

Kata-kata Bree membuatku terdiam. Masih terngiang di telingaku sampai sekarang. Untuk sementara, dia bisa menghapus kesedihanku. Tapi anehnya, semakin aku berusaha melupakan peristiwa itu, semakin kuat rasa kebencianku. Sampai hari itu, ketika aku bertemu petugas kebersihan yang aneh di sekolah. Siapa dia? Mengapa dia tampaknya ingin mengatakan sesuatu?

Aku menarik napas selagi angin dingin membelai tengkukku. Air di kolam belakang beriak sedikit. Tampak seekor katak keluar dari kolam dan melompat-lompat ke dekat kakiku. Dia memandangku sejenak dengan mata besarnya, lalu kuhalau dia dengan sapuan tangan. Kodok itu melompat-lompat menjauh menuju semak-semak, sebelum entah dari mana sebuah kepala ular muncul dan mematuk si kodok. Ular itu menelan mangsanya bulat-bulat sementara matanya yang cuma segaris berkilau jahat. Aku hanya diam, menyaksikan peristiwa mengerikan itu berlangsung. Aku berjengit ketika ular itu malah melata ke arahku. Ia adalah seekor ular bersisik hijau dengan motif berlian lembayung. Kunaikkan kaki ke atas teras dan bersiap-siap memanggil Trevor, tapi si ular rupanya malah diam. Lidahnya yang hitam keluar-masuk mulutnya. Matanya kini bertemu dengan mataku.

Dia berkata, 'Ikutlah denganku. Akan kutunjukkan sesuatu.'

Aku heran pada diriku sendiri karena mengartikannya seperti itu. Tapi aku juga yakin betul bahwa itulah yang dia katakan, karena saat mata ular itu menatapku, sebuah sugesti yang bergema dalam kepalaku turut menyertainya.

Aku mengambil jaket ke dalam, lalu berjalan keluar rumah. Trevor rupanya melihat perbuatanku dan bertanya ke mana aku akan pergi. Aku menjawab hanya keluar sebentar. Di bawah bayang-bayang langit yang berbintang, juga lampu-lampu di jalan, aku membiarkan si ular memanduku. Aku tidak sadar, selama aku berjalan aku tidak merasa lelah. Sampai akhirnya, dia berhenti melata dan aku menggeleng-gelengkan kepala, seolah terbangun dari pengaruh sugesti. Kupandang sekelilingku. Gelap. Di mana aku berada?

'Tunggu di sini,' si ular memerintah. Hanya matanya yang kuning-lah yang tampak dalam kegelapan pekat itu. Kemudian, ia mendesis menjauh. Aku ditinggal sendirian. Tak lama kemudian, sebuah cahaya kemerah-merahan muncul di depanku, diikuti cahaya-cahaya berwarna sama yang mengepungku dari kanan dan kiri. Cahaya-cahaya itu kemudian menyatu dan kusadari bahwa tadi itu obor. Aku bisa melihat di mana aku berdiri sekarang. Aku berada di sebuah lorong. Ubinnya tampak kotor dan berdebu. Aku melihat si ular kembali dan ia memanduku berjalan melewati lorong yang diterangi cahaya obor itu. Sampai di ujung lorong, si ular berhenti. Ternyata, aku berada di depan sebuah pintu besi.

'Bukalah,' kata si ular. Aku mendorong pintu itu.

Tampak di depanku sebuah ruangan berbentuk bundar yang diterangi lampu bohlam. Meja yang berada di tengah-tengah ruangan itu seperti meja rapat. Kursi-kursi kosong mengelilingi meja itu. Tiba-tiba, kudengar langkah kaki keluar dari kegelapan. Aku merasakan kulitku menjadi dingin dan sekujur tubuhku merinding. Itu dia. Pria berwajah pucat itu kini berdiri di seberang meja bundar. Cahaya lampu memberikan sosok itu siluet yang membuat pipinya semakin cekung. Dia memakai jubah linen seperti kostum pendeta yang warnanya sama dengan sisik si ular. Aku tak bisa mengatakan apapun. Lidahku terasa kaku. Untuk sementara, keberanianku lenyap. Kuerhatikan si ular kini melata naik ke meja bundar, lalu melingkarkan dirinya di lengan pria itu.

"Tepat waktu, Manda," kata pria pucat itu dengan suara seperti desisan ular. "Aku tidak salah mempercayakannya padamu."

"Siapa kau?" tanyaku setelah keberanianku kembali.

"Mr McFadden," kata pria pucat itu, agak kecewa. "Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya? Mengapa kau tampaknya kasar? Tapi baiklah, akan kuperkenalkan siapa diriku.; Orang-orang di Eropa menyebutku sebagai Joseph. Kau boleh memberiku panggilan lain kalau kau mau, tapi Joseph saja, supaya kita akrab."

"Kalau begitu di mana aku?"

"Oh, kau berada di kediamanku. Manda pasti lupa memberitahu rute perjalananmu, ya? Selamat datang di Willowsnake Burrow!"

Hatiku mencelos. Alamat itu! Alamat dalam surat yang dikirimkan orang bernama Hyde padaku!

"Jadi," aku berkata lagi, "kau tahu banyak mengenai orangtuaku?"

Orang bernama Joseph itu tampaknya terkejut. "Orangtuamu? Aku tidak mengerti."

"Jangan pura-pura!" tukasku, emosi lamaku tersulut kembali. "Seseorang bernama Hyde mengirimiku surat dan mengatakan bahwa kalau aku ingin tahu mengenai orangtuaku, maka aku harus pergi ke sini! Ke alamat ini! Aku bukan orang bodoh!"

Joseph tampak berpikir sejenak. Ular di tangannya mendesis-desis perlahan. Kemudian, seringai lebar terbentuk di bibirnya. "Oh, surat itu! Ya, aku ingat sekarang. Betapa bodohnya aku, Mr McFadden. Hyde memang selalu kerja di lapangan, jadi aku sulit sekali memantau pergerakannya. Ah, sebaiknya kau duduk dan aku akan mulai bercerita. Manda, tolong berikan hidangan untuk tamu kita."

Pria itu mengecup bagian atas kepala ularnya, lalu si ular melata turun dari meja, menghilang lagi dalam kegelapan.

"Manda adalah ular pemberian bos yakuza dari Jepang," kata Joseph sambil melipat kedua tangannya di atas meja. "Dia sangat pintar, ya, pintar sekali. Oh, ya, aku akan bercerita tentang orangtuamu. Tapi sebelumnya, bagian mana yang ingin kau ketahui, Nak?"

"Semuanya!" kataku. "Ceritakan semua yang kau tahu. Aku juga akan menghargai jika kau juga tahu mengenai kematian mereka."

"Ya, ya, baiklah," kata Joseph sembari mengibaskan tangannya. "Sabar, sabar. Aku bingung harus mulai dari mana. Ah, Manda sudah kembali. Dan dia membawa hidangan yang tepat!"

Joseph mengangkat sebuah piring perak dari bawah meja, berikut ularnya si Manda. Aku menahan napas ketika melihat isi piring tersebut; sebilah pisau berlumuran darah yang sudah mengering. Aku pernah melihat pisau itu. Aku masih ingat betul. Pisau itu adalah pisau yang sama dengan yang kutemukan di dekat mayat orangtuaku. Kebencian dan rasa jijik mulai menggerogoti tubuhku. Aku benar-benar tidak kuasa melihat pisau itu lagi. Joseph rupanya langsung paham.

"Ah, ya," katanya sambil membelai-belai pisau tipis itu. Kilauan matanya terpantul pada bilah pisau yang tajam tersebut. "Mungkin kita harus mulai dari pisau ini. Aku belum pernah melihat pisau seindah ini. Lekukan pada gagangnya sungguh cantik. Cocok sekali untuk menikam. Ya, benar sekali. Pisau ini memang diciptakan untuk pembunuh handal. Sayang sekali, sungguh sayang, pisau ini harus melukai tubuh Ronan dan Michelle McFadden yang malang malam itu. Mereka tewas di tangan putra mereka sendiri, Colin, yang sudah lama tidak pulang dari tugas militernya."

"Tapi, mengapa? Mengapa dia harus membunuh mereka?" aku meraung. Kemurkaanku bertambah melihat pisau itu tergeletak di hadapanku seolah tak berdosa. "Mestinya kau tahu alasannya!"

"Anakku, banyak hal di dunia ini yang tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita," kata Joseph. "Tapi pemikiran Colin McFadden, yah, tak ada yang tahu kecuali dirinya sendiri. Aku berani mengatakannya karena aku pernah bekerjasama dengannya."

"Kau bekerjasama dengan Colin?"

"Ya, ya, kami pernah," kata Joseph sambil mengangguk-angguk yakin. "Inilah bagian dari rahasia Colin yang tidak boleh diketahui keluarganya. Dia mungkin mengatakan di telepon dan surat-surat bahwa dia sedang latihan, padahal dia sedang mebuat sebuah jebakan. Di lain hari, dia bilang pasukannya akan bertugas ke Timur Tengah, padahal dia sebetulnya masih di sekitar Eropa. Dan suatu ketika, saat dia bilang dia akan pulang, dia sebetulnya punya misi yang harus dituntaskan. Kau mengerti maksudku, Nak?"

Aku menggeleng, masih murka.

"Jelas sekali! Kakakmu adalah agen rahasia!"

"Tapi, kami melihat surat resminya sebelum dia berangkat!" kataku. "Dia menunjukkannya pada ayah dan ibuku. Dan ada cap dari dinas ketentaraan yang otentik!"

Joseph tertawa, lebih mirip dengan cegukan daripada tawa sebenarnya. "Kau masih kecil sekali waktu itu, Nak," katanya. "Bagaimana kau bisa tahu surat itu otentik?"

Aku terdiam.

Joseph bicara lagi. "Kakakmu yang sekarang sudah bukan dirinya yang lama, Nak. Dia mungkin masih Colin McFadden, tapi dia punya nama-nama lain di balik namanya. Itulah yang diinginkan Organisasi dari agen-agen yang mereka rekrut. Mereka membuat identitas baru bagi orang-orang yang mereka pikir bisa andalkan lalu menyuruh mereka melakukan misi. Ah, ya, kurasa kau tidak akan mengerti kalau kujelaskan karena bagaimanapun kau masih anak-anak. Biar kupersingkat. Misi-misi ini memiliki tingkatan tersendiri sesuai dengan pangkat agen rahasia. Yang paling berbahaya adalah misi yang berkaitan dengan ketahanan dan keamanan suatu negara, bahkan bisa mengacaukan hubungan dengan negara lain. Kau pernah menonton film James Bond, kan? Jangan dikira pekerjaan itu menyenangkan. Seorang agen rahasia harus selalu mempertaruhkan nyawa di tiap misi, dan yang ada di pikiran mereka adalah semakin dekat mereka dengan selesainya misi, semakin dekat pula mereka dengan kematian. Organisasi mencoba mengubah pemikiran itu dengan memberikan fasilitas pada agen-agen mereka, tapi bukan berarti mereka takkan mengkhianati agen-agen mereka. Organisasi adalah pusat kendali agen-agen rahasia dan merekalah yang menentukan berhasil tidaknya misi. Seorang agen hanya perlu mematuhi perintah Organisasi dan melakukan apapun sesuai prosedur, lalu semua kembali pada Organisasi. Aku mengetahuinya karena aku adalah mantan agen Organisasi." Joseph memalingkan mukanya di kalimat terakhir. Aku menduga dia mungkin juga punya kenangan buruk yang tak boleh diungkapkan.

Aku menatap tidak fokus ke depan, pikiranku menerawang. "Jadi, membunuh orangtuaku adalah bagian dari misi Colin? Begitu maksudmu?"

"Aku tak bisa mengatakan sesuatu yang lebih mungkin," jawab Joseph sambil kembali mengecup kepala ularnya. "Kecuali jika memang itulah yang dia inginkan. Seperti kataku tadi, tak ada orang yang tahu pemikirannya, kecuali dirinya sendiri. Dan kau? Bahkan kau sendiri tidak tahu apa yang dia pikirkan, bukan?"

Aku kembali terbayang wajah Colin, sosok kakak terbaik yang pernah kumiliki. Dia tidak segan-segan menyisakan uang jajan untuk membelikanku popsicle rasa baru. Dia bahkan rela bekerja paruh-waktu di tempat cuci mobil untuk memberiku kado ulang tahun. Dia menghiburku dengan canda saat Ayah memarahiku gara-gara tidak sengaja memecahkan guci antik kesayangannya. Aku yang tadinya menangis jadi tertawa karena Colin ada di sana untukku. Bagaimana sosok yang begitu menakjubkan itu bisa berubah drastis menjadi pembunuh kejam? Bagaimana bisa? Dan selama ini aku tidak pernah mengetahuinya?

"Nah, kurasa sudah cukup yang ingin kau dengar?" kata Joseph, menyeruak diantara keheningan dalam kegelapan. "Kalau begitu, giliran aku yang akan bertanya padamu, Callan McFadden."

Aku mendongak menatapnya. Joseph kini bangkit dari tempat duduknya dan berjalan perlahan-lahan mendekatiku. Matanya yang seperti mata ular tampak bersinar-sinar. Dia mengulurkan sebelah tangannya yang pucat ke arahku. Bibirnya tertarik ke belakang, menampilkan deretan gigi putih tajam yang sebelumnya tidak pernah dia perlihatkan. Tapi pandanganku terfokus pada ularnya, yang kini mendesis-desis penuh gairah kepadaku. Tangannya kini menggenggam pundakku. Mulutnya kini berada beberapa senti dari lubang telingaku.

"Sudikah kau bergabung denganku? Sudikah kau bergabung denganku melawan Organisasi?"

Aku tak bisa menjawab. Seringai lebar Joseph masih terlukis jelas di wajahnya ketika dia menarik diri menjauhiku. Pikiranku kalut. Aku sungguh tak tahu harus menjawab apa. Joseph malah tertawa lagi.

"Jangan terlalu cemas begitu! Kau tidak harus memberiku jawaban sekarang. Oh, ya! Sudah terlalu larut. Sebaiknya kau segera pulang atau pelayanmu yang tua itu akan cemas. Jangan sampai dia menelepon polisi karena nanti aku malah dikira sudah menculikmu. Sudahlah, Nak, anggap saja pertemuan kita selesai malam ini. Manda akan memandumu keluar dari sini lewat jalan pintas."

Si ular lalu melepaskan gelungannya dari tangan Joseph. Setelah itu, dia membawaku keluar melewati pintu besi. Aku menoleh ke belakang, menghadap Joseph. Ekspresinya masih sama. Bisa kudengar samar-samar suaranya mendengung di kepalaku.

'Berikan aku jawabanmu, Nak. Jangan membuatku menunggu terlalu lama.'

Lagi-lagi si ular seperti menghipnotisku. Tahu-tahu, aku sudah sampai di sebuah lorong yang beraroma lembab dan si ular menunjukkanku sebuah tangga besi yang menuju sebuah lubang di langit-langit lorong. Aku baru sadar ketika memanjat tangga dan melongok dari lubang, bahwa aku berada di trotoar Chetville. Lubang itu adalah lubang gorong-gorong yang terbuka. Aku mendorong tubuhku ke atas trotoar. Taksi-taksi kuning melintasi di jalan, disusul aroma pengap kota dan dinginnya udara malam, membawaku kembali ke kehidupan London. Ketika aku menunduk ke bawah, lubang gorong-gorong itu tertutup cepat dengan bunyi 'klang' seperti ada pengendali otomatis yang memberi komando. Aku menatap ke ujung jalan. Rumahku di sana. Apakah aku sudah pergi terlalu lama?

Syukurlah Trevor tidak mengomeliku begitu aku sampai di rumah. Dia pikir aku masih tidak enak badan sehingga dia harus maklum bahwa aku butuh udara segar. Tapi, dia juga bilang bahwa dia sempat khawatir karena jalanan cukup sepi malam ini, sehingga kejahatan apapun bisa terjadi. Yang lebih mengejutkan, dia bilang Bree dan Chloe datang mencariku tak lama setelah aku pergi.

Tiba-tiba, suara bel terdengar dari luar. Aku mengintip dari jendela ruang tengah dan melihat dua anak perempuan yang kukenal berdiri di sana. Bree dan Chloe? Mereka ke rumahku lagi?

"Mau kubukakan, Sir?" Trevor menawarkan.

"Katakan saja tadi aku habis membeli pulpen di toko," kataku. "Aku lelah sekali. Mau tidur."

Trevor mengangguk patuh. Sambil mendaki menuju kamar, kudengar bunyi pagar besi yang dibuka. Kusaksikan dari jendela kamar Trevor mengusir secara halus Bree dan Chloe. Aku tak begitu dengar apa yang mereka katakan, tapi mereka kelihatannya cemas. Aku mengawasi Bree menoleh pada jendela kamarku, dan aku langsung mematikan lampu baca di dekat kasur, sehingga dia mengira aku sudah tidur. Setelah kedua anak perempuan itu pergi, aku duduk di kasur dengan perasaan kurang nyaman. Tapi, mau bagaimana lagi? Hanya saja, aku juga merasa curiga. Mereka kemari dua kali. Memangnya apa sih kerjaan mereka?

Bree memang selalu mengkhawatirkanku. Walau begitu, kali ini, dia sungguh-sungguh kelewatan. Dan Chloe… entahlah. Aku hanya tidak ingin dia berubah menjadi seperti Bree. Atau jangan sampai.

TO BE CONTINUED