.
Fight With Me
.
Pengarang: Kristen Proby
.
.
.
Park Chanyeol
Kim (Byun) Baekhyun
.
.
Ini BUKAN karya Cactus93, Cactus93 hanya ingin me-remake dan berbagi cerita yang Cactus93 sukai. Cactus93 hanya mengganti nama pemeran, mungkin dialog yang sesuai dengan keadaan. Setting cerita ini tidak di Korea.
.
Please read a/n
.
Hope u will enjoy this remake^^
Sorry for typos
Happy reading!
.
.
Previous chapter:
Chanyeol mengerang pelan dan menciumku dengan penuh hasrat, panggulnya mulai bergerak, dengan perlahan bergerak keluar dan masuk di dalam rongga sensitifku. Aku mencengkram pantatnya saat aku mulai merasakan orgasme kembali terbangun di dalam diriku. Chanyeol pasti juga merasakan hal yang sama karena dia mulai mempercepat gerakannya, dan menghantam lebih keras pada setiap dorongan.
"Lepaskan, Baekhyunie." Ucapnya lirih
"Datanglah bersamaku." Bisikku.
Chanyeol melepaskan ciumannya saat dia mengeram dan mengunci tatapan mataku dengan matanyanya yang bergairah, mulutnya terbuka saat dia terengah-engah. Dia memasuki diriku beberapa kali lagi, kemudian dengan mendorong miliknya masuk ke dalam kewanitaanku, dia menumpahkan gelombang kepuasannya di dalam tubuhku. Pada saat yang sama aku juga merasakan gelombang kepuasanku juga mengalir keluar, aku tidak melepaskan pandanganku darinya, saat tubuhku gemetar di bawah tubuhnya.
"Oh Tuhan." Bisikku saat kurasakan tubuhku mulai tenang.
Tubuhnya terjatuh lunglai di atas tubuhku dan dia menenggelamkan wajahnya di leherku.
"Hey," Chanyeol menggangkat kepalanya saat aku memanggilnya. Aku mengecup pipinya dan berkata. "Aku mencintaimu, Chanyeol."
"Aku juga mencintaimu, Baekhyunie."
.
.
Keadaan di kantor hari ini berjalan dengan...uhm cukup aneh. Nyonya Glover selalu melihatku dengan pandangan menyelidik setiap kali aku melewati meja kerjanya, hal itu membuatku gugup dan penasaran tentang apa yang ada di dalam pikirannya. Sepanjang hari ini aku bahkan belum bertemu dengan Chanyeol. Aku tiba di kantor lebih dulu sementara dia pergi ke gym dan tiba di kantor satu jam kemudian, hal yang memang kami lakukan setiap hari. Namun hari ini dia sama sekali belum mengirimkan daftar pekerjaan yang perlu aku lakukan, bahkan rekan kerjaku juga melakukan hal yang sama.
Jadi sepanjang hari ini aku hanya mengerjakan berkas yang memang perlu diperbaiki dan melakukan riset tentang calon klien yang memang aku tahu bahwa Chanyeol berkeinginan untuk mengajak orang tersebut bergabung dalam perusahaan kami.
Tepat jam dua seseorang mengetuk pintu ruanganku.
"Masuk." Jawabku.
Kepala Nyonya Glover menyembul dari balik pintu. "Kau diminta bergabung untuk mengikuti rapat yang dilaksanakan di ruang rapat, nona Kim."
"Baiklah, terima kasih, omong-omong apa kau tahu rapat ini akan membahas tentang apa?" Tanyaku, lalu aku mengambil iPad milikku dan berjalan menuju pintu.
"Aku tidak tahu, tapi mereka sudah sepanjang hari berada di sana."
"Mereka?"
"Ya, Kedua Partner, CEO perusaahaan, serta kepala personalia."
Perutku terasa mulas.
Sialan.
Aku mengikuti Nyonya Glover untuk berjalan menuju ruangan rapat. Dia mengetuk pintu kemudian masuk kedalam.
"Nona Kim." Nyonya Glover memanggilku lalu membimbingku masuk ke dalam ruangan.
Chanyeol dan tuan Luis duduk di balik meja rapat yang panjang, bersama dengan tuan Vincent, CEO perusahaan kami dan seorang wanita dengan setelan hitam, mungkin dari divisi personalia.
Chanyeol tidak memandang mataku saat aku memasuki ruangan.
"Nona Kim, silahkan duduk." Nyonya Glover mempersilahkan aku untuk duduk, dan wanita dari bagian personalia itu menunjuk ke arah sebuah kursi yang berlawanan dengan tempat duduk mereka. Bagus, aku harus duduk sendirian berhadapan dengan mereka semua.
Brengsek.
Aku mengambil tempat duduk itu dan meletakkan iPad-ku di atas meja, lalu menautkan jari tanganku dan meletakkannya di pangkuanku, melihat satu-persatu orang yang ada di depanku. Wajah mereka begitu datar, tidak menunjukkan alasan kenapa aku di panggil ke sini, namun aku sudah bisa menebak apa yang terjadi.
Carly pasti sudah memberitahukan pada mereka.
"Nona Kim," Tuan Vincent membuka pembicaraan. Aku baru satu kali bertemu dengan dia, namun dia terlihat seperti seorang pria yang baik. Dia adalah pria berumur dengan rambut yang beruban serta tatapan mata yang hangat. Dia memandangku dengan tatapan mata yang hangat, tangannya dilipat di atas meja, dan badannya agak condong ke arahku. "Aku punya pertanyaan untukmu."
"Ya, tuan." Jawabku, bangga pada diriku sendiri karena aku mampu terdengar percaya diri dan profesional.
"Berapa lama kau sudah bekerja di perusahaan ini?"
Aku mengerutkan dahiku dan sekilas memandang wanita dari bagian personalia. Bukankah mereka memiliki informasi tentang itu?
"Tiga tahun, tuan Vincent." Jawabku.
"Dan selama itu, apakah anda telah di beritahukan mengenai prosedur dan kebijakan perusahaan ini?" Tanyanya lagi.
"Tentu saja."
"Bagus." Pria itu menganggukkan kepalanya dan membaca berkas yang ada di hadapannya. "Jadi anda sadar bahwa perusahaan ini melarang adanya hubungan asmara di antara karyawan?"
"Ya, saya tahu itu." Aku tidak akan terlihat lemah dan hancur di hadapan orang-orang ini. Aku sudah tahu hal ini bisa terjadi dan aku sudah mengambil resiko itu. Aku merasakan empat pasang mata sedang memandang ke arahku dan aku membalas tatapan mereka satu persatu, Chanyeol adalah yang terakhir. Wajahnya begitu dingin, matanya menatapku tanpa emosi sedikitpun. Itu adalah cara dia memandangku selama delapan bulan yang lalu, setelah kami bercinta untuk pertama kalinya di apartemennya, sampai saat di mana dia berbicara padaku untuk mengajakku ke apartement tepat sebelum hari ulang tahunku.
"Kami telah menerima informasi bahwa anda telah terlibat dalam sebuah hubungan dengan anggota perusahaan ini." Tuan Vincent melanjutkan.
"Pagi ini anda pasti telah menerima sebuah laporan dari Carly." Responku dengan tegas, bahkan tidak melepaskan kontak mata dengannya. Mata tuan Vincent melebar, kemudian mengerutkan dahinya dan melihat ke arah koleganya.
"Sebetulnya tidak. Mengapa anda berpikiran seperti itu?" Tanyanya.
Aku mengerutkan dahiku dan mendadak menbenci diriku dengan mulut besarku. "Itu tadi hanya tebakan."
"Jadi anda tidak menyangkalnya?" Tanyanya lagi.
"Tidak tuan."
Tuan Vincent menghela nafas kemudian duduk bersandar di kursinya. "Nona Kim, anda memiliki catatan kerja yang bagus. Selama tiga tahun bersama kami anda telah melakukan kerja yang bagus."
"Terima kasih, Tuan."
"Namun peraturan adalah peraturan."
Aku memandang sekilas ke arah Chanyeol, dan mimik wajahnya masih tetap sama. Apakah dia tidak akan mengatakan sesuatu?
"Kami mengetahui bahwa anda dan tuan Park telah menjalin sebuah hubungan. Dan sebagai partner perusahaan kami, Tuan Park adalah aset yang tidak bisa kami lepas. Sayangnya, aku tidak bisa melanggar peraturan perusahaan dengan mempertahankan anda di sini, nona Kim."
Tuan Vincent berhenti berbicara dan keempat orang tersebut memandangiku. Satu-satunya orang yang membuka suara semenjak aku memasuki ruangan ini hanya tuan Vincent. Yang lain begitu tenang, dingin dan tidak terbaca.
Terutama Chanyeol.
Sekali lagi aku melihat ke arah Chanyeol dan memandangi dia untuk waktu yang lama. Dia bahkan tidak bergeming. Dia hanya diam dan membiarkan semua hal terjadi pada diriku. Dia tidak akan membelaku aku atau menawarkan untuk mengundurkan diri. Itulah yang lebih melukaiku, daripada kenyataan bahwa aku akan kehilangan pekerjaanku.
"Kami telah menghitung gaji anda, mencairkan dana liburan dan masa sakit anda, tuan Vincent telah menyetujui tiga bulan gaji sebagai pesangon. Sedangkan mengenai tabungan dana pensiun, anda akan menerima surat berisi informasi rinciannya melalui pos." Wanita dari bagian personalia berbicara untuk pertama kalinya dan memberikan lembaran cek padaku. "Anda memiliki waktu selama lima belas menit untuk membereskan barang pribadi anda."
Benarkah? Aku masih belum melepaskan pandanganku dari Chanyeol saat wanita itu berbicara. Aku berdiri dan berbalik untuk meninggalkan ruangan, namun suara tuan Vincent menghentikanku, aku kemudian kembali berbalik ke arah meja.
"Nona Kim, anda telah bekerja dengan baik di perusahaan ini, saya pribadi akan senang untuk membuatkan surat referensi kerja jika anda membutuhkannya."
Aku mengangguk ke padanya. "Terima kasih."
Aku berjalan dengan langkah gontai menuju ke ruanganku dan menutup pintunya. Brengsek. Apa itu benar-benar baru saja terjadi? Apakah benar aku baru saja dipecat dan kekasihku hanya diam saja? Dia hanya duduk di sana dan melihatku seperti orang asing?
Seakan dia tidak berada dalam tubuhku enam jam yang lalu?
Aku tidak pernah menyimpan barang pribadi di kantorku, jadi aku meraih tasku, memasukkan iPad, HP, dan sebuah lipgloss yang ku ambil dari laci meja kerjaku, serta sebuah mug lalu berjalan keluar dari ruanganku, di dalam hati aku memberi penghargaan pada diriku sendiri karena mampu bersikap tenang.
"Nona Kim," Aku membalikkan tubuhku ke arah suara Nyonya Glover dan menemukan Chanyeol sedang berdiri di samping meja kerja Nyonya Glover, sedang menatapku. Rahangnya mengeras, namun hanya itu emosi yang tergambar di wajahnya.
"Semoga kau mendapat keberhasilan, dear."
Hanya kata-kata itu yang mampu membuatku meneteskan air mata. Namun aku tidak merespon, aku hanya berjalan langsung menuju ke elevator, dan menekan tombol. Mendadak Carly ada di sampingku.
"Oh tuhan! Aku baru mendengar beritanya. Apa kau baik-baik saja?"
Dia adalah dalang semua ini, dia pasti telah melaporkan apa yang dilihatnya kepada bagian personalia pagi ini, mungkin saja dia melakukannya saat aku sedang bercinta dengan Chanyeol.
Aku tidak melihat kearahnya, pandanganku hanya tertuju pada angka yang ada di atas pintu elevator. Aku bisa merasakan Chanyeol menatap punggungku.
Persetan dengannya.
Persetan dengan mereka semua.
"Baekhyun apa kau baik-baik saja?" Carly bertanya lagi dengan suara manis palsu yang menjijikkan.
Elevator berbunyi dan pintu terbuka. Aku melangkah masuk ke dalam dan membalikkan tubuhku, mataku bertemu dengan pandangan mata Chanyeol, dan menjawab pertanyaan Carly tanpa melihat kearahnya.
"Persetan denganmu."
ooOoo
.
"Halo?"
"Yifan, ini Baekhyun." Aku berdehem dan berpindah jalur, hendak menuju ke rumahku.
"Hey, ada apa?"
"Aku ingin tinggal bersamamu untuk sementara waktu."
Sunyi.
"Apa yang terjadi?" Suara Yifan biasanya terdengar menyenangkan, namun kali ini terdengar perubahan pada nada suaranya, dan aku tahu bahwa dia siap untuk menghajar siapa saja untukku.
"Aku baru saja dipecat, dan sedang dalam proses untuk kehilangan kekasihku. Aku harus pergi menjauh dan menjernihkan pikiranku. Bolehkah aku tinggal di tempatmu?"
"Aku akan menyiapkan kamar tamu. Apa kau bisa mengemudi?"
"Yeah, aku rasa aku masih sedikit terguncang. Aku akan meledak sesampainya di tempatmu nanti."
"Kalau begitu aku juga akan menyiapkan tisue Klennex untukmu. Aku mencintaimu, kiddo."
"Aku juga mencintaimu."
Aku menutup telepon, lalu menelpon Luhan. Aku harus segera bicara padanya sebelum aku menangis. Karena begitu aku mulai menangis, aku tidak yakin kapan aku bisa berhenti.
"Baekhyun?" Luhan menjawab teleponku. "Kenapa kau tidak berada di kantor?"
"Aku dipecat."
"Sialan. Seseorang mengetahuinya."
"Yep." Aku memarkirkan mobil di pelataran rumahku, mematikan mesin dan dengan cepat berjalan memasuki rumah lalu naik ke atas, menuju ke kamar tidurku.
"Kau terdengar tenang."
"Aku sangat marah, terlebih kepada Chanyeol. Dia tidak ikut dipecat, dan saat aku sedang berhadapan dengannya dan anggota lain dari pasukan yang memecatku, dia sama sekali tidak membelaku."
Aku mendengar suara Ziyu rewel di belakangnya. "Apa kau ingin menginap di sini?" Tanya Luhan.
"Tidak, aku sedang bersiap-siap. Aku ingin pergi dari sini untuk sementara waktu."
"Datanglah kemari." Luhan menawarkan, namun aku tahu itu bukan pilihan yang bisa aku ambil untuk saat ini.
"Terima kasih, tapi aku akan pergi ke tempat Yifan. Aku benar-benar harus menjauh dari sini agar aku bisa berpikir langkah apa yang harus kuambil selanjutnya."
"Baiklah, jika kau membutuhkan apapun, kau tau dimana kau bisa menemukanku."
"Terima kasih, Luhanie." Aku merasa air mataku mulai jatuh, namun aku mencoba untuk mengabaikannya dan hanya fokus untuk memasukkan pakaianku ke dalam koper besarku. Aku hampir membawa semua yang ada di dalam lemariku, karena aku tidak tahu berapa lama aku akan berada di sana.
Aku melempar perlengkapan mandiku ke dalam koper yang lebih kecil, lalu terdengar suara pintu depan terbuka dan ditutup dengan kasar, kemudian suara orang berlari di tangga. Tiba-tiba Chanyeol sudah berdiri di ambang pintu kamarku, nafasnya terengah-engah, rambutnya berantakan, dia hanya mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam. Dia melihat ke arah koperku yang terbuka kemudian mengunciku dengan tatapan mata abu-abunya yang menyipit.
"Kau mau kemana?" Tanyanya.
"Bukan urusanmu." Aku berbalik dan hendak berjalan ke arah kamar mandi, namun dia mencegahku dan menarik lenganku.
"Mari kita bicara, Baekhyunie."
Aku menarik tanganku dari pegangannya dan melipat kedua tanganku di dadaku, aku merasa amat marah, terluka, dan bingung.
"Jangan sentuh aku. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Chanyeol. Kau mengkhianatiku."
Chanyeol maju selangkah, namun aku mundur menjauh darinya, dia kemudian menempatkan tangannya di pinggangnya yang ramping.
"Kau ada di ruangan itu dan membiarkan mereka memecatku tanpa mengatakan apapun untuk membelaku."
"Kau tidak berada di dalam ruangan itu sepanjang pagi ini di saat aku menghadapi mereka. Aku menawarkan untuk mengundurkan diri jika mereka membiarkanmu untuk tinggal."
"Tapi kau tidak mengancam mereka untuk mengundurkan diri jika mereka memecatku."
Rahangnya menegang dan dia menjalankan tangannya di rambutnya.
"Aku pikir kau tidak melakukan itu," Gumamku, aku kemudian masuk ke kamar mandi untuk mengambil shampo, pisau cukur dan shower gell milikku, kemudian memasukkannya ke dalam koper bersama dengan perlengkapan make-up milikku.
"Baekhyunie, keadaan akan lebih buruk jika kita berdua jadi pengangguran."
"Persetan dengan itu! Chanyeol, saat pertama kali aku melangkahkan kaki di apartemenmu aku sudah tahu ini semua akan terjadi. Aku menyadari diriku sedang terlibat dalam masalah yang seperti apa. Dan apa kau tahu? Aku memilihmu. AKU MEMILIHMU!" Aku memukul dadanya lalu berjalan mengitari ruangan. Aku benar-benar emosi. "Bahkan jika orang-orang itu bertanya kepadaku, aku akan mengatakan pada mereka bahwa aku mencintaimu dan mereka bisa mencium pantatku jika mereka tidak menyukainya. Aku tidak berbohong pada mereka ketika mereka menanyakan tentang hubungan kita. Tapi kau, kau duduk hanya sejauh enam kaki dariku dan tidak menunjukkan sedikitpun emosi di diwajahmu!"
"Baekhyun..."
"Tidak," Aku memotong pembicaraannya dan mendekatkan diri ke hadapannya. "Saat ini aku tidak perduli tentang pekerjaan itu. Aku akan mendapatkan pekerjaan yang lain. Yang aku pikirkan saat ini adalah, hari ini aku bahkan tidak mengenal siapa dirimu. Pria yang membelaku dengan segenap kekuatannya pada hari jumat malam yang lalu tidak ada di sana. Pria yang melindungiku agar aku tidak tertabrak mobil pada waktu di Seattle dan membuatku merasa aman, dia tadi tidak ada di sana."
"Demi Tuhan, Baekhyun, apa yang harus aku katakan?"
"Oh, aku tidak tahu, mungkin kau bisa bilang, 'ini adalah salah kami berdua?' atau mungkin 'Saya akan keluar jika anda memecatnya?'" Aku melempar pakaian dalam dan sepatu ke dalam koperku, aku bahkah tidak begitu perduli untuk melihat apa yang telah aku masukkan ke dalam koper itu, aku langsung menutup koperku.
"Jika kau bisa tenang, aku akan mengatakan padamu apa yang sebenarnya terjadi sebelum kau memasuki ruangan sialan itu, Baekhyunie."
Aku menarik nafas panjang dan menunduk sambil menggosok dahiku dengan tanganku. Aku begitu mencintainya, dan aku merasa dikhiaLuhaniei olehnya. Aku sadar aku tidak bisa berada di dekatnya untuk saat ini.
"Aku harus pergi." Aku menurunkan koper dari atas tempat tidurku dan menarik pegangannya lalu menyeretnya di belakangku.
"Kemana kau akan pergi?" Dia bertanya sekali lagi sambil menyilangkan tanganya di depan dadanya.
"Tidak perlu memperdulikan kemana aku akan pergi, Chanyeol. Lupakan saja aku." Aku mulai melangkah melewatinya namun dia berdiri di hadapanku, menghalangi jalanku menuju pintu.
"Aku tidak akan pernah melupakanmu." Matanya liar menatapku, wajahnya menegang menahan luka, melihatnya seperti ini juga membuatku terluka. Semuanya terasa begitu menyakitkan. Aku memejamkan mata dan merasakan air mata berlinang di pipiku. "Sayang, jangan menangis."
Chanyeol membungkukkan badannya dan menciumku dengan lembut, dan aku membiarkannya, menyadari ini adalah ciuman terakhir kami. Aku melingkarkan lenganku di lehernya dan menariknya ke arahku, memberikan segala sesuatu yang ada dalam diriku untuk ciuman ini. Aku menjalankan tanganku melalui rambutnya, dan akhirnya menarik diri, menyusuri wajahnya dengan ujung jariku, mencoba menghafal segala sesuatu tentang dirinya.
"Kau dan aku mungkin memang tidak ditakdirkan untuk bersama-sama," bisikku, menatap mata abu-abunya yang indah, "Namun aku menikmati setiap detik waktu yang kita habiskan bersama."
Aku melepaskan diri dari pelukannya, Chanyeol menelan ludah, aku menangkup tangannya dan menyerahkan kembali kalung dengan liontin perak berbentuk hati yang dia berikan padaku saat kami berada di pantai. Kemudian aku meraih tasku dan berjalan keluar kamar, turun kebawah dan keluar menuju mobilku.
"Baekhyunie, tunggu."
"Kunci pintunya saat kau pergi, Chanyeol."
"Demi tuhan, Tunggu!"
Aku memasukkan koperku di kursi belakang mobilku, membuka pintu bagian pengemudi, dan mendadak Chanyeol sudah ada di sampingku. "Lihat aku."
Aku menatapnya dengan mata yang mulai dipenuhi dengan air mata dan menelan ludah. Dia memandangi wajahku, tersirat kesedihan di matanya. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, namun tertahan. Akhirnya, dia hanya mengecup dahiku dan berbisik. "Aku mencintaimu."
Aku tidak menjawabnya, hanya menjalankan mobil dan berlalu.
ooOoo
.
.
Yifan membuka pintu depan rumahnya, lalu menarik tubuhku kearahnya, memelukku dengan erat. Semua saudara laki-lakiku memiliki postur tubuh yang tinggi dan badan yang kekar, karena kami semua memang berasal dari kolam genetika yang luar biasa. Yifan memiliki rambut pirang yang gelap dan matanya tajam tapi menenangkan, dia hanya dua tahun lebih tua dariku. Kami memang selalu dekat.
Aku menarik nafas panjang dan membiarkannya memelukku di ambang pintu. Aku menyandarkan pipiku di kaos Seahawks miliknya yang lembut, kepedihan yang kualami sore ini membuatku hancur. Aku menangis, dan demi Tuhan, amarahku mulai muncul ke permukaan, aku melepaskan diri dari pelukannya dan berguman "Kamar tidur."
"Lewat sini." Yifan membimbingku masuk ke dalam rumah Seattle miliknya yang indah, namun aku tidak begitu memperhatikan ruangan-ruangan yang aku lewati. Aku hanya mengikutinya naik keatas melalui tangga dan dia membukakan sebuah pintu. "Disinilah kamarmu, kiddo, pakailah selama yang kau butuhkan. Jika kau membutuhkanku, kamarku ada di seberang ruangan."
Aku mengangguk dan melangkah masuk kedalam ruangan yang indah. Tempat tidurnya telah di lapisi dengan seprai yang baru. "Aku lupa membawa tasku."
"Aku akan mengambilnya."
"Aku rasa aku akan menangis, Yifan."
"Kau ingin aku menemanimu atau tidak?"
"Aku tidak tahu." Aku menggelengkan kepalaku dan duduk di tepi tempat tidur. Tuhan, aku berharap aku bisa mati rasa. Mati rasa lebih baik dari pada sayatan luka yang aku rasakan saat ini.
"Aku akan mengambil tasmu, dan memberimu sedikit waktu, lalu aku akan kembali lagi kesini, oke?"
Aku hanya mengangguk dan menatap kakakku. Dia terlihat khawatir dan sedikit marah. "Apa kau marah padaku?"
"Tidak, aku khawatir. Aku tidak pernah melihatmu seperti ini."
"Aku rasa aku memang belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya." Aku menyentuh bibirku dengan jariku, mengingat kembali ciuman selamat tinggal bersama Chanyeol lima belas menit yang lalu. Kepalaku tertunduk, bertumpu pada tanganku, menyerah dalam kesedihan yang menghancurkanku. Tubuhku mulai bergerak maju mundur, isak tangis mengontrol tubuhku. Aku tidak pernah menangis begitu keras. Aku tidak pernah di hancurkan seperti ini.
Aku bisa mendengar suaraku sendiri, tangisan dan gumamanku. Sialan, Aku benar-benar berantakan, dan aku tidak bisa menghentikannya. Tubuhku telah mengambil alih pikiranku, mengusir rasa sakit melalui air mata dan ingus dan meludah.
Yifan kembali ke dalam ruangan sambil menarik koper berodaku di belakangnya. Dia menarik keluar beberapa lembar tisue dari kotak yang ada di sisi tempat tidur dan memberikan tisue itu kepadaku untuk membersihkan ingus dan air mata yang belepotan di wajahku, dia berdiri di depanku dengan tangan di pinggulnya. "Apa kau sudah bisa bicara?"
Aku menggeleng, tidak.
"Apa kau ingin aku membunuhnya?" Dia bertanya, suaranya pelan.
Aku menggelengkan kepala, namun kemudian sempat terbersit untuk mengiyakan, lalu aku mengangkat bahuku. Ada sedikit senyuman di ujung bibir Yifan.
"Apa yang kau ingin aku lakukan, Baekhyun?" Tuhan, aku mencintai pria ini. Aku sangat senang karena memilih untuk datang kesini.
"Jangan katakan pada siapapun kecuali kepada keluarga kita bahwa aku ada di sini. Jika Chanyeol menelponmu, katakan saja kau belum melihatku."
Dia menaikkan alisnya dan melipat kedua tangannya di dadanya. "Dia benar-benar mengacaukannya."
"Iya."
"Wanita lain?"
"Bukan." Pertanyaan itu membuatku menangis lagi, dan aku kembali hancur.
"Baiklah, malam ini kita tidak akan membicarakannya."
"Apa aku merusak rencanamu?" Tanyaku sambil terisak.
"Tidak, tapi kau tahu, demi kau, aku akan merubah rencana apapun yang aku miliki."
Aku hanya mengangguk, Yifan kemudian melepas kedua alas kakinya dan berjalan memutari ruangan, menuju ke sisi lain tempat tidur, naik keatasnya, duduk bersandar pada kepala tempat tidur dan berkata, "Kemarilah."
Dia menarikku ke pangkuannya dan aku meringkuk seperti bola dan menagis sejadi-jadinya.
Yifan terus memberikan tisue kepadaku, membuatku nyaman dengan menggosok punggungku dan memelukku, membiarkan aku menangis.
"Bukankah menjijikkan memeluk adikmu seperti ini?" Tanyaku.
"Tidak ketika kau sedang sakit seperti ini." Responnya, dan dia benar.
Aku memang sakit.
Sakit karena ketakutan, amarah, pengkhianatanan, dan kerinduan.
ooOoo
"Bangun, Baekhyun."
Seseorang mengguncang-guncang bahuku dan meremas kepalaku dengan gemas. Aku mencoba membuka mata, tapi cahaya lampu membuatku silau.
"Pergi." Teriakku dengan suara parau.
"Sekarang sudah siang."
Aku mengerang dan membalikkan tubuhku untuk berbaring di atas punggungku. Tubuhku terasa sakit karena stres dan kesedihan. Mataku bengkak karena menangis dan sakit kepala ini hampir saja membunuhku.
"Ini," Yifan menyodorkan segelas air dan beberapa pil. "Minum ini dan mandi."
"Aku rasa aku akan kembali tidur," Aku merengek dan melihat ke sekeliling ruangan. Aku masih mengenakan pakaian kerja yang aku kenakan kemarin, dan aku tidak bisa mengingat bagaimana aku bisa tertidur. Aku hanya ingat aku menangis sepanjang malam dalam pelukan Yifan.
"Tidak, kau tidak boleh melakukan itu."
"Aku akan melakukan apapun yang aku suka." Jawabku membela diri.
"Kau tidak akan mengubur dirimu dengan tidur sepanjang hari, Baekhyun. Kau lebih kuat dari itu."
"Tidak, aku lemah." Aku berbisik dan apa yang terjadi kemarin kembali terulang di kepalaku. Aku tidak mau menangis lagi, tapi aku tidak sanggup.
"Yeah, kau kuat. Ayolah, bangun. Mandi, lalu makan, setelah itu kau dan aku bisa pergi ke gym untuk memukuli sesuatu."
Memukuli sesuatu terdengar seperti rencana yang bagus. Aku meminum pil yang Yifan berikan padaku dan dengan perlahan dan hati-hati turun dari ranjang. "Aku akan siap dalam waktu lima belas menit."
ooOoo
.
"Jadi biar kuluruskan ini," kata Yifan sambil berlari-lari pelan diatas treadmill di sebelahku. "Mereka menarikmu ke dalam ruangan, CEO mengkonfrontasimu di depan semua mengenai masalah bos itu, Kau punya pelindung, dan Chanyeol tidak mengatakan sepatah kata pun untuk membelamu sepanjang waktu?"
Kami berada di gym, sebuah pusat pelatihan eksklusif dekat Seattle Seahawks untuk datang dan berlatih. Ini musim libur, begitu banyak rekan yang telah meninggalkan Seattle untuk pulang ke kampung halaman mereka, tetapi ada beberapa orang yang bekerja di fasilitas pusat seni.
"Mereka sungguh berlebihan." Aku mengkonfirmasi dan menaikkan kecepatan di atas treadmillku. "Kemudian dia datang ke rumahku saat aku sedang berkemas."
"Apa yang dia katakan?"
"Dia mengatakan padaku untuk tenang dan ia akan menceritakan apa yang terjadi sebelum mereka menarikku ke dalam ruangan."
"Dan?" Yifan bertanya dan meneguk airnya.
"Dan tidak ada apa-apa, aku tidak membiarkan dia bicara." Aku merasa Yifan menatapku, dan ketika aku bertemu tatapannya alisnya terangkat. "Apa?"
"Kenapa kau tidak membiarkan dia bicara?"
"Karena aku tidak ingin mendengarnya, Yifan. Itu tidak mengubah kenyataan bahwa ia duduk di kursi itu dan membiarkan mereka memecatku tanpa mengatakan sepatahkatapun padaku. Wajahnya tidak menunjukkan emosi sama sekali. Rasanya seperti aku orang asing yang sedang dipecat karena pelecehan seksual."
"Apakah dia mencoba menelepon?" Yifan bertanya.
"Aku tidak tahu, aku belum menyalakan teleponku sejak aku meninggalkan rumah kemarin."
"Mungkin kau harus mendengarkannya."
"Mungkin tidak." Aku menggeleng dan meningkatkan kecepatanku lagi. "Aku tidak ingin bersama seseorang yang tidak membelaku."
"Mungkin..."
"Mungkin tidak, Yifan. Diamlah!" Aku memelototi dia, selesai dengan pembicaraan ini dan dia memutar matanya padaku.
"Baiklah, anak nakal. Kau benar-benar wanita yang menyebalkan. Tapi jika Kau ingin aku membunuhnya, aku yakin aku tahu seseorang yang mengenal seseorang." Dia nyengir dan aku balas menyeringai.
"Aku akan mengingatnya. Selama sisa hari ini, aku hanya ingin membuat masalah itu keluar dari kepalaku."
"Oke. Bagaimana kalau aku mengalahkanmu di kolam renang, dan lalu aku akan mengajakmu untuk makan malam dan nonton film."
"Itu tawaran terbaik yang aku punya sepanjang hari ini."
Kami memperlambat treadmill menjadi langkah pelan dan turun dari sana. Setelah berganti ke pakaian renang, kami berjalan keluar ke area kolam untuk berenang beberapa putaran.
"Hei, Kim, siapa wanita itu?" Seorang pria ynag sangat tinggi, sangat berotot dengan kulit cokat muda dan berambut gimbal panjang hitam mendekati kami, menatapku dari atas ke bawah dalam bikiniku.
"Ini adikku, Bung." Yifan mengerutkan kening padanya dan berdiri di depanku dan aku terkekeh.
"Aku Baekhyun."
"Terrence Miller." Aku menjabat tangannya dan tersenyum ramah. Setiap hari aku akan tersanjung dengan perhatian dan pasti akan bermain-main dengan bintang sepak bola tampan, tapi aku tidak bisa berhenti berpikir tentang bagaimana marahnya Chanyeol jika dia melihat aku berdiri di sini, mengenakan bikini, sedang dilirik oleh orang-orang, dan itu membuatku muram.
Chanyeol sialan.
"Senang bertemu denganmu. Kita berenang sekarang?" Aku bertanya pada Yifan dan kami menyelam dalam, berenang bolak-balik menyusuri sepanjang kolam renang. Aku keluar jauh sebelum Yifan, lalu sku menarik diri di sisi kolam renang dan menjuntai kakiku ke dalam air hangat, melebarkan jari kakiku, menikmati rasanya.
Aku ingin tahu apakah Chanyeol sudah mencoba menelepon atau mengirim pesan. Aku merindukannya. Ini bahkan belum sehari penuh dan aku merindukannya.
Menjijikkan.
Akhirnya Yifan menarik dirinya keluar dari air di sebelahku dan kami duduk di sana untuk sementara waktu, menggantung kaki kami, sementara Yifan mengatur napas.
"Kapan kau membuat tato?" Yifan bertanya.
Aku terkesiap dan melihat ke bawah, melihat bahwa bagian bawah bikiniku telah melorot, memperlihatkan tatoku.
"Hari Sabtu lalu."
"Kau tidak seharusnya berenang sampai itu sembuh, kau tahu."
"Oh." Aku tidak memikirkan itu. "Yah, kalau begitu aku tidak akan berenang lagi."
"Apa artinya?" Yifan bertanya dan melihat kearahku. Aku mengalihkan pandanganku dan menggelengkan kepala, tidak ingin menjawabnya. Aku masih tidak menyesali tatonya, tetapi itu adalah tempat yang menyakitkan bagiku saat ini, baik secara harfiah dan kiasan.
"Apakah kau pernah akan berbicara dengannya lagi?" Yifan bertanya.
Oh Tuhan. Memikirkan untuk tidak pernah berbicara dengan Chanyeol lagi membuat darahku berjalan dingin. Apakah itu keputusan yang aku buat? Aku mengucapkan selamat tinggal kemarin. Aku memberikan kembali kalung ibunya.
Semuanya sudah berakhir.
"Persetan," bisikku.
"Maafkan aku, kid. Ambil beberapa hari dan buat dirimu tenang. Mungkin kau akan bisa memberinya kesempatan untuk menjelaskan beberapa hal. Jika Kau tidak suka apa yang dia katakan, bercinta dengannya. Mungkin dia akan dapat memberikan beberapa wawasan." Yifan mengangkat bahu dan melihat ke bawah kakinya. "Aku mungkin tidak harus memberitahumu ini..."
"Apa?" Pandanganku menyambuknya dan dia cemberut dan menggeleng.
"Dia meneleponku tadi malam."
"Apa? Bagaimana Kau tahu? Kau denganku sepanjang malam."
"Tidak, aku tidak. Ketika kau tertidur aku menyelimutimu seperti kakak yang baik dan membiarkanmu tidur. Dia meninggalkan pesan malam sebelumnya."
Aku tidak menanggapi. Aku tidak tahu apakah aku ingin mengetahui apa yang Chanyeol katakan. Aku tidak tahu apakah aku bisa menerimanya. Aku sangat merindukannya, dan aku mulai merasa lemah dalam penyelesaian masalahku, dan aku tidak menyukai kualitas baru dalam kepribadianku ini.
"Tidakkah kau ingin tahu apa yang dia katakan?"
"Tidak."
"Baekhyun." Yifan tertawa dan melihat ke bawah padaku dengan humor. "Kau begitu keras kepala."
"Belajar darimu, kakak."
"Kau benar-benar tidak ingin tahu?"
"Tidak."
"Biarkan aku hanya mengatakan ini, Nak. Dan ini datang dariku, kakakmu, seseorang yang siap membunuh untukmu. Ambil beberapa hari untuk menyembuhkan lukamu dan marahlah. Kau memiliki hak untuk melakukan itu. Tapi kemudian beri ia kesempatan untuk menjelaskan."
"Mari kita pergi untuk makan malam." Aku mulai menarik diri tetapi Yifan menghentikanku dengan tengannya yang memegang lenganku.
"Baekhyun..."
"Aku mendengarmu. Aku akan memikirkannya." Aku mencium pipinya dan menarik diri. "Aku lapar."
"Kalau begitu mari kita pergi."
ooOoo
.
Yifan mengajakku kesalah satu tempat makan favorit kami yang berada di sebelah selatan kota Seattle yang bernama Red Mill Burgers. Tempatnya memang bukan restaurant yang mewah, namun makanan yang mereka sajikan di sana sangat enak, hingga kau bersedia mati hanya untuk mendapatkannya. Kami memesan makanan dan mencari tempat duduk, sambil menunggu namaku di panggil untuk mengambil makanan kami.
"Sudah lama sekali aku tidak kesini." Aku melihat ke sekeliling restoran dan melihat Yifan lalu tertawa geli saat aku melihatnya menurunkan topi baseballnya ke bawah untuk menutupi wajahnya, "Apa kau benar-benar berpikir itu akan berguna? tinggi tubuhmu 187 cm, kekar dan wajahmu yang jelek terpampang di papan reklame besar di tengah kota Seattle. Orang-orang pasti akan mengenalimu."
"Tutup mulutmu." Dia menggerutu, membuat aku tertawa lagi.
"Baekhyun?" Aku menengok ke arah kiri dan melihat seorang wanita cantik bertubuh jenjang tersenyum kearahku dengan mata pandanya yang imut serta rambut panjang merah kecoklatann yang di beri sedikit highlight berwarna pirang.
"Tao!" Aku langsung melompat dari tempat dudukku menuju ke arahnya dan memeluknya. "Oh Tuhan, sudah bertahun-tahun aku tidak pernah bertemu denganmu, bagaimana kabarmu?"
Tao melangkah mundur dan tersenyum kepadaku, kemudian dengan sedikit gugup dia melirik kearah Yifan. "Aku baik-baik saja, thanks. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu."
"Yifan, ini Huang Zitao, temanku semasa kuliah. Tao ini kakakku, Yifan."
Yifan berdiri, tubuhnya sempurna di samping Tao, kemudian menyodorkan tangannya, raut wajah Tao nampak tenang lalu dengan sopan ia menepis jabatan tangan Yifan. "Aku tahu siapa kau."
Yifan hanya menganggukkan kepalanya dan kembali duduk.
"Jadi, apa kesibukanmu sekarang?" Tanyaku.
"Aku bekerja sebagai suster di Seatte Children's Hospital di bagian kanker." Tao tersenyum malu-malu, dan aku tersenyum lebar padanya.
"Itu hebat! Bagus untukmu. Apa kau masih menyanyi?"
"Uh, tidak." Tao menggelengkan kepalanya, wajahnya merona, kemudian ia tertunduk menatap meja. "Aku tidak bernyanyi lagi semenjak kuliah."
"Kau seorang penyanyi?" Tanya Yifan.
"Dia memiliki suara yang fantastis," Jawabku dan tersenyum pada Tao untuk memberikannya dukungan.
"Terima kasih, tapi kau tahu lah, kehidupan mengambil alih dan mendadak semuanya menjadi terlalu sibuk." Tao mengangkat bahunya dan tersenyum kembali kearahku.
Tatapan mata Yifan menemukanku dan dia mengangkat kedua alis matanya. Ya dia memang seksi, dasar bodoh.
"Apa kau sudah menikah?" Tanyaku pada Tao.
Dia hanya terkekeh hampir terdengar seperti tawa yang sinis. "Tentu saja tidak."
"Bolehkah aku meminta nomor teleponmu?" Tanya Yifan, tanpa basa-basi, dan ak mengerutkan dahiku ke arahnya.
Untuk sesaat Tao terkesiap, namun kemudiam dia menatap Yifan dengan mata yang menyalang. "Tentu saja tidak." jawabnya dingin.
Wow! Apa yang membuatnya marah.
Yifan ternganga, kemudian tersenyum sinis lalu menggelengkan kepalanya. "Tolong ulangi lagi?"
"Kurasa tadi aku mengatakannya dengan jelas." Jawab Tao, kemudian dia meletakkan tangannya di pundakku dan tersenyum padaku. "Sangat menyenangkan bertemu denganmu. Jaga dirimu."
"Kau juga, Tao."
"Apa-apan itu tadi?" tanya Yifan, setengah tak percaya.
"Aku tak tahu." Aku mengangkat bahuku dan nyengir ke arahnya. "Aku rasa kau memang punya punya cara tersendiri untuk memikat wanita."
"Tutup mulutmu."
.
ooOoo
.
TBC
.
ooOoo
.
.
.
Thanks to:
danactebh makasih^^ | NoTime To MilkTe konser ke-4 semoga crossdress plesples… asal cy kagak ikut crossdress aja wkwkwkk | diyahutari1217 kan diterakhir a/n selalu aku kasih hari aku apdet kkk | kawaiimao iya^^ | ieznha. asmaulhaq chanbaek marahan dulu aja ya kkk | astarizerida |exotob ini konflik terakhir^^ | mrsbunnybyun hahaha kenapa salahin tah lulu xD | Byunkkaeb masih kok^^ vote kamu masih kehitung … aduh kamu rajin amat buka-buka fav ff ku.. sini aku cubit sini~ hmm mungkin maksud kamu ffnya kak Redapplee yg Friends kah? Aduh itu author fav akuuu TAT apa lagi tokoh utamanya CB, tp aku baper banget tao Cuma pihak ketiga dan aku baca part kris selalu aku skip TAT .. aduuhh aku tak sanggup buat ff chenmin dengan tema beginiiii aku kan cuma remake Q.Q jika kamu punya seri trnslt novel yang lengkap aku dengan senang hati ngeremakenya^^ dan makasih buat dukungannya~ | 1106 ini konflik terakhir^^ | exindira nikahnya kapankapan ya hahaha /kabur/ | rly iya, ini novel barat dan begitu juga ini menggambarkan kehidupan orang barat yang bebas^^ | jumarohfauziyah jangan sedih ya~ baca aja ff ku yang lain /plak/ malah promosi kkk /hug/ makasih buat dukungannya^^ | ChristyLeyla cupcupcup jangan sedih ya :') | taolinna6824 aduuhh sini aku peluk~ jangan sedih ya~ /hug/ | mpxxxxx TAT 70% ffku semua Chanbaek dan aku juga bingung mau buka vote dimana TAT maafkan akuuuu dan makasih buat dukungannyaaa /hug/ | parkobyunxo kangen Carly, ya? Wkwkkk dia muncul besok kkk | cendut ini konflik terakhir^^ | Guest semoga kamu dapet jodoh seperti cy disini /amin/ | seluhaenbiased makasih dukungannya^^ | deedaimonia iyaaa… jangan niru lulu ma baek yang tatoan ya~ tak baik kkk makasih buat dukungannya^^ | keenz aduuh wedding ama baby jangan nagih aku ya /kabur/ | chenma yang ini kagak ada enceh hahaha /ketawa jahat/ | BaekQiu hari ini libur enaena ya :') | JonginDO siap^^ | parkyeolliecy61 & Yunna Park pertanyaan kalian sama persis xD kirakia Carly bakal ember apa baskom ya? /plak/ | choi96 kabar Carly baik kok hahaha | parkbaexh614 | ChanBMine inilah saatnya mereka tahu hahaha | Asmaul yang nyebar gosip carly apa bukan ya? Hahaha /kabur/ | Guest
.
A/N
Tibalah konflik yang paling ditunggu-tunggu~
Btw… ini kristao disini bukan hasil final ya, kan dari awalkan ff ini pake kristao kkk hasil votingnya akan diumumkan chap terakhir^^
Karena ini konflik utama aku kagak mau kebanyakan negcuis di a/n hahaha
sampai jumpa di chapter terakhir hari rabu ya^^
