Title : Back to Tomorrow

Cast : JaeJoong Kim, Yunho Jung

Changmin Shim, Yoochun Park, Junsu Kim

Rating : General – Mature

Genre : Friendship, Angst, Romance

Author : Zee

.

.

Semua tokoh disini adalah milik Tuhan.

Aku hanya memiliki cerita saja.

.

.

~Back to Tomorrow~

.

.

PART 13

.

.

AUTHOR's POV

"Aku tidak pernah berniat untuk menyingkirkan siapapun, aku hanya ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku." Boa sedikit berteriak, matanya sudah berkaca-kaca mengingat berbagai hal. Yoochun membetulkan letak duduknya, agak kaget dengan pengakuan Boa.

"Mengambil apa yang seharusnya menjadi milikmu?" Yoochun mengulang perkataan Boa.

"Yunho-Seharusnya dia menjadi milikku, bukan JaeJoong!"

Brak

Kedua orang tersebut tersentak kaget, kemudian memandang ke arah pintu kamar mandi yang tiba-tiba terbuka. Ekspresi terkejut di tunjukkan oleh keduanya, namun gadis itu lebih terkejut, terlihat dari melebarnya kelopak matanya dan wajahnya yang semakin pucat.

"Yu-Yunho." Suaranya sangat lemah.

Yunho, namja itu keluar dari kamar mandi dengan nafas yang memburu, menantap Boa dan Yoochun bergantian dengan tatapan tajam. Dia melangkah keluar, sedangkan seseorang lagi di belakangnya mengikutinya.

"Ja-Jae?"

JaeJoong berjalan di belakang tubuh Yunho, melangkah kemanapun Yunho melangkah dengan menyeret tiang penggantung infus milik Yunho, tangan yang menggenggam batang besi itu bergetar, sementara itu wajahnya terus saja menunduk, tak berani menatap siapapun. Mereka mendengar dengan jelas pembicaraan antara Yoochun dan Boa, karena sedaritadi mereka memang ada di dalam kamar mandi. Yunho harus memuntahkan isi perutnya beberapa kali hingga mereka bisa mendengar pembicaraan kedua orang itu setelah urusan Yunho selesai.

"Apa kalian bisa menjelaskan ini semua? Apa maksudnya? Obat apa yang di berikan Boa padaku? Dan sejak kapan aku seharusnya menjadi milikmu, Boa-ssi?"

Suara itu begitu datar dan dingin, siapapun akan dibuat merinding karena mendengarnya, tak terkecuali JaeJoong. Dalam kondisinya yang kacau sekarang ini, dia sangat tahu bahwa Yunho saat ini sedang tidak main-main dan sangat marah.

"Hyung, sebenarnya-"

"Diamlah Yoochunnie, aku ingin gadis ini yang menjawab." Yunho menunjuk dengan dagunya pada Boa yang berdiri beberapa langkah agak jauh darinya.

Siapapun dapat melihat bahwa kaki Boa sedikit bergetar. Tangannya mengepal seolah ingin mengumpulkan kekuatan yang tersisa dari tubuhnya setelah keterkejutannya melihat kemunculan Yunho yang tak terduga, dan karena Yunho mendengar semua pembicaraannya dengan Yoochun.

"Yu-Yun, ini tidak seperti yang kau pikirkan." Ucap Boa dengan suara yang bergetar.

"Memangnya kau tahu apa yang sedang ku pikirkan? Aphrodisiac? Obat perangsang? Apakah kau memberiku obat perangsang malam itu?" Tanya Yunho, sungguh wajah Yunho yang lesu karena sakit terlihat sangat menakutkan sekarang.

Boa tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Bibirnya terasa kelu, tatapan mata Yunho seolah mengintimidasinya, menusuk hingga ke jantungnya, seolah-olah dia bisa mati seketika hanya dengan tatapan mata itu.

"MENGAPA KAU TIDAK MENJAWAB!"

Tak hanya Boa, tapi juga JaeJoong tersentak kaget mendengar suara teriakan tersebut. Gadis itu mengeluarkan air matanya. Lagi-lagi tak menyangka akan mendapat perlakuan kasar dari Yunho. JaeJoong menarik ujung baju bagian belakang Yunho, mengisyaratkan agar namja itu tetap tenang, namun sepertinya saat ini, hal itu tidak berpengaruh bagi Yunho.

"Malam itu kau sengaja menjebakku? Kau tahu JaeJoong akan pulang malam itu, dan kau memberiku obat perangsang agar JaeJoong melihatnya, bukan?" Yunho masih saja terus berteriak, tangannya yang bebas dari infus bergerak menekan perutnya yang terasa perih, namun terus di abaikan olehnya.

"Yu-Yunho, ak-"

Boa menggeleng cepat, sesekali di seka air mata yang menetes ke pipinya.

"KAU TAHU TINDAKANMU ITU HAMPIR SAJA MEMBUNUH JAEJOONG !"

Teriak Yunho lagi.

"Yun-"

Sebuah tangan yang bergetar meraih telapak tangan kiri Yunho dari belakang. Baru kali ini JaeJoong melihat Yunho semarah itu hingga membentak seorang wanita. Dan dia sungguh ketakutan, dia menggenggam erat tangan Yunho, mencoba menyalurkan rasa hangat yang akan membuat Yunho nyaman dan menghentikan marahnya.

"Aku tidak pernah bermaksud seperti itu." Balas Boa.

"AH, jadi kau mengakui kalau kau memang memasukkan obat itu pada minumanku, eoh?" Sindir Yunho lagi yang membuat mata sang yeoja terbuka lebar, sekali lagi dia salah mengucapkan kata-kata yang malah berdampak pada dirinya sendiri. Air mata semakin deras mengalir keluar dari matanya, dia memundurkan tubuhnya selangkah kebelakang.

"Ya, aku melakukannya, aku MELAKUKANNYA!" Jerit gadis itu. Pegangan tangan JaeJoong terlepas dari Yunho, dengan langkah bergetar, JaeJoong melangkah, menyejajarkan dirinya dengan Yunho. Dengan mata yang berkaca-kaca dia menatap gadis yang selama ini dia anggap sebagai sahabatnya.

"Boa-ya. A-apa maksudmu? Mengapa kau melakukannya? Bukan- bukankah kita bersahabat? Bukankah kau selalu mendukungku dengan Yunho? Mengapa kau melakukan ini?" Tanya JaeJoong dengan nada yang sedikit bergetar, tangannya mengepal erat, bukan karena marah, tapi karena denyutan sakit yang bergejolak di dadanya.

"Aku mencintainya. Aku mencintai Yunho."

Suara gadis itu melemah, dia menundukkan wajahnya sesaat setelah mengatakan hal tersebut hingga membuat ketiga orang yang berada satu ruangan dengannya itu terbelalak, tak menduga dengan jawaban Boa.

"Bo-Boa, se-sejak kapan kau-?"

JaeJoong tergagap, tak mengira bahwa sahabatnya itu-orang yang selama ini dianggapnya sebagai sahabat baiknya, yang di anggap selalu mendukungnya, ternyata malah mengaku mencintai orang yang sama dengannya, belum lagi pengakuan gadis itu sebelumnya yang ingin memiliki Yunho.

"Aku-aku yang selama ini selalu bersamanya, aku yang selama ini selalu mendukungnya, menepuk bahunya ketika dia benar-benar terpuruk. Aku yang menemaninya setiap kali dia menangis karena kau dan kau-"

Boa meninggikan suaranya, ketika menunjuk Yoochun yang ada disisi lain ruangan tersebut.

"-meninggalkannya. Dia terpuruk dan aku yang berhasil membantunya untuk bangkit. Aku ada disisinya setiap kali dia membutuhkan seseorang, ketika kau tak pernah ada disisinya." Kali ini jari mungil Boa menujuk pada JaeJoong.

"Apakah salah jika akhirnya aku jatuh cinta padanya? Aku hampir berhasil mendapatkan cintanya, mengalihkan perhatiannya darimu. Tapi tiba-tiba kau datang dan kau merusaknya. Kau mengambil Yunho dariku."

Gadis itu menjerit.

JaeJoong mematung. Hatinya berdenyut sakit, sangat sakit. Lebih sakit daripada ketika Yunho memberitahu padanya bahwa dia akan menikahi gadis itu. Dia menerawang kembali pada masa beberapa tahun silam, saat dia menggugat manajemennya, saat dia tak berada disamping kekasihnya, ketika dia harus berdiri di panggung yang berbeda dengan kekasihnya. Dia jadi merasa bersalah, bersalah karena pernah meninggalkan kekasihnya dan sang magnae. Ini semua adalah salahnya, begitu pikirnya.

Jika saja dia tidak pergi dulu, pasti tidak akan ada perpisahan yang membuat sahabatnya harus terus bersama kekasihnya hingga menimbulkan kisah seperti ini.

"Harusnya sekarang Yunho bisa jadi milikku, jika saja kau tidak kembali, aku bisa menjadikannya MILIKKU sekarang."

Ujar Boa yang masih terus saja meninggikan suaranya. JaeJoong tak mampu berkata-kata, air mata menetes dari mata beningnya, dia bahkan tidak bisa fokus berpikir saat ini. Yunho menggenggam tangan JaeJoong yang berada disampingnya, merematnya pelan, hingga pandangan sang namja cantik beralih padanya. Yunho tersenyum lembut pada JaeJoong. Lalu dia melepaskan kembali genggamannya, dan maju beberapa langkah mendekati Boa.

Yunho membungkukkan badannya selama beberapa saat. Setelah itu dia menatap gadis itu dengan tatapan datar tanpa emosi yang meledak-ledak seperti tadi.

"Terima kasih sudah menjadi penyemangatku disaat aku membutuhkan dorongan untuk tetap maju. Dan maaf, selamanya aku tidak akan pernah menjadi milikmu, seperti apapun cara yang kau gunakan untuk menahanku agar tetap disisimu, pada akhirnya aku akan kembali lagi bersama JaeJoonggie, karena dari awal, hanya dialah satu-satunya orang yang ku cintai. Aku harap setelah ini, kita tidak saling bertemu kembali. Aku tahu dimana letak pintu keluarnya kan, Boa-ssi."

Yunho membungkuk sekali lagi.

Kristal bening yang mengalir dari mata gadis itu semakin banyak, seolah tak terbendung lagi dan dia pun tak bisa menghentikannya. Dia membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan kanannya. Kata-kata dan penolakan Yunho benar-benar membuat jantungnya seakan ingin berhenti kemudian langsung berdenyut cepat dan keras, hingga membuatnya kesakitan.

"Yu-Yunho."

Gadis itu masih memandang tak percaya pada Yunho, penolakan itu memang di sampaikan secara halus dengan tutur yang lembut. Namun setiap kata terasa begitu menusuk, menyayat hatinya dengan ganas.

"Silahkan keluar. Aku tidak ingin melihatmu lagi." Yunho mengarahkan telapak tangannya ke arah pintu yang menjadi akses satu-satunya untuk keluar masuk dari ruangan tersebut. Dengan tatapan nanar, gadis itu melihat kembali pada Yunho dan melirik JaeJoong sekilas.

Kemudian dia berbalik dan pergi keluar ruangan dengan langkah gontai yang terlihat sedikit sempoyongan.

"Aku keluar, hyung. Kalian bicaralah."

Yoochun menepuk bahu Yunho, dan setelah mendapat anggukan setuju dari Yunho, Yoochunpun meninggalkan kedua orang tersebut sendirian di dalam kamar rawat tersebut.

Yoochun masih menangkap sosok Boa yang terduduk lemas di depan ruangan dengan tatapan menerawang dan air mata yang tidak berhenti mengalir. Yoochun memandang remeh pada gadis itu, lalu menyeringai.

"Ironis sekali. Berusaha mendapatkan sesuatu dengan menggunakan segala cara, tapi hasilnya kau malah kehilangan lebih banyak. Kau sungguh menyedihkan, Boa-ssi." Yoochun berbicara dengan sangat dingin diiringi dengan senyum sinisnya yang terlihat sangat menyeramkan.

Setelah mengatakan hal tersebut pada Boa, dia melangkah pergi. Banyak hal yang harus dia kerjakan bersama dengan Junsu, Changmin, dan manajer mereka. Lagipula dia tidak akan betah jika berlama-lama berada di satu tempat dengan orang yang ternyata secara tidak langsung sudah menghancurkan kondisi harmonis hubungan kedua hyungnya, dan juga dia dan yang lainnya.

Dia tidak akan mengampuni orang-orang yang ikut andil dalam rusaknya keadaan mereka. Untung saja Yoochun masih berbaik hati pada Boa, hingga dia tidak perlu merasakan hal yang sama dengan CEO busuk itu. Paling tidak, Yoochun tidak membeberkan soal perilaku Boa itu pada media seperti yang dilakukannya ketika hendak menangkap sang CEO.

.

.

Sepeninggalan Boa dan Yoochun.

JaeJoong langsung terduduk lemas bersimbah air mata.

Dia benar-benar tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini.

Yunho berlutut di hadapan JaeJoong, mengabaikan perih menusuk yang dirasakan di perutnya. Jangan dikira dia tidak shock. Dia bahkan lebih shock ketimbang JaeJoong. Yunho tidak menyangka bahwa Boa bisa berbuat sedemikan.

Dia sangat merasa bersalah pada JaeJoong dan Boa ketika kejadian malam itu.

Bersalah pada JaeJoong karena dia mengkhianati namja yang dicintainya. Mengingkari janjinya untuk tak mencari wanita lain. Tapi dengan kesadarannya, dia malah menyerang Boa yang saat itu sedang bersamanya. Dia bahkan nyaris stress dan mengalami depresi ringan ketika mengetahui kecelakaan yang menimpa JaeJoong, setelah namja cantik itu melihat perbuatannya.

Bersalah pada Boa, karena tanpa perasaan dia malah melucuti baju gadis itu, menindih tubuh gadis itu dibawahnya dan nyaris melakukan satu hal yang akan dia sesali jika sampai terjadi. Dia sangat menyesal, terlebih ketika dia tidak bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya itu karena terlalu mencintai JaeJoong.

Berbulan-bulan dia merasa sangat bersalah hanya karena kejadian tersebut.

Tapi rupanya, kejadian itu memang sudah di atur.

Di atur oleh seorang yang benar-benar dia percayai, seseorang yang selama ini menjadi tempatnya bercerita jika JaeJoong tak berada di sampingnya, seseorang yang merupakan sahabat dari kekasihnya.

"Baby."

Yunho mengusap kelapa kekasihnya yang sedaritadi menunduk. Kemudian tangannya berpindah ke bawah, mengelus pipi JaeJoong, dan berakhir di dagu lancip milik JaeJoong, perlahat tangan itu menuntun JaeJoong untuk mendongakkan wajahnya, menatap padanya. Yunho dapat melihat lelehan cairan bening yang keluar dari kelopak mata kekasihnya tersebut.

JaeJoong mulai mengeluarkan suara isakannya ketika dia melihat wajah Yunho yang disamarkan oleh air mata yang mengenang di pelupuk matanya. Langsung saja dia menerjang tubuh Yunho, di kalungkan lengannya di leher Yunho dan di benamkan wajahnya di antara leher dan bahu Yunho. Setelah itu Yunho dapat merasakan basah di kulitnya dan telinganya menangkap dengan jelas, keras suara isak JaeJoong.

"Jangan menangis, baby-ah. Ku mohon."

Yunho menepuk-nepuk pelan punggung JaeJoong dengan tangannya yang bebas dari infus. Bukannya menghentikan tangisnya, JaeJoong malah semakin terisak hingga sesegukan. Rasa khawatir langsung melanda Yunho.

"Mianhae." Kata Yunho karena tak juga mendapati JaeJoong berhenti menangis. Berkali-kali dia meminta maaf pada JaeJoong, untuk semua hal yang sudah di perbuatnya pada namja cantik yang paling dicintainya itu, dia tak mau lagi melihat JaeJoong menangis seperti ini, dia begitu sakit melihatnya.

.

.

Gadis itu bangkit.

Tak ada gunanya tetap duduk di depan ruangan tersebut.

Dia harus memikirkan cara lain.

Dengan langkah gontai, dia berjalan perlahan di sepanjang lorong.

"Boa-ya?"

Owh. Shit.

Boa mengumpat dalam hati. Dia lupa memakai aksesoris yang tadi di pakai untuk menyamarkan wajahnya agar tidak di kenali orang lain. Tapi tatapan matanya berbinar ketika melihat bahwa yang memanggil adalah Mrs. Jung yang berjalan berdampingan dengan Mr. Jung.

Dia tersenyum.

Tiba-tiba sebuah ide muncul di dalam kepalanya.

"Kau baru dari tempat Yunho?" Tanya Mrs. Jung

"Nee, omoni." Suaranya di buat selesu mungkin hingga menarik perhatian Mr dan Mrs. Jung.

"Ada apa denganmu? Apa terjadi sesuatu?" Dan berhasil, Mrs. Jung bertanya tentang keadaannya.

"Se-sebenarnya, ada yang ingin ku bicarakan dengan kalian."

.

.

Dan berakhirlah ketiga orang yang tadi bertemu di lorong itu di kafetaria rumah sakit, duduk berhadapan di sebuah meja bundar yang tidak terlalu besar.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Mrs. Jung yang tidak sabar, karena ingin segera melihat putra sematawayangnya yang keadaannya semakin hari semakin membaik.

"Ini soal Yunho."

"Ada apa dengan Yunho? Apa terjadi sesuatu padanya?" Tanya Mr. Jung yang terlihat tidak sabaran, tentu dia tidak ingin melihat putranya yang sudah mulai pulih berkat JaeJoong itu malah jadi memburuk kondisinya.

"Ah, animida, dia baik-baik saja, Aboeji." Boa menjawab dengan cepat karena reaksi khawatir yang diperlihatkan oleh Mr. Jung.

"Lalu, apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Mrs. Jung lagi

Boa terdiam sejenak, sepertinya dia sedang menimbang kata-kata yang akan dia keluarkan.

"Bisakah, aboeji mempercepat pernikahanku dengan Yunho?" Tanya Boa

Mr. Jung dan istrinya saling berpandangan begitu mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut gadis yang duduk gelisah di hadapannya.

"Tadi aku melihatnya dengan JaeJoong di kamarnya, mereka terlihat sangat mesra-"

Entah apa yang dipikirkan oleh gadis itu, tapi dia sudah mulai kembali berbohong pada bumonim orang yang dicintainya.

"Bukankah Aboeji dan Omoni tidak ingin melihat itu? Aku khawatir kalau mereka akan kembali seperti dulu. Oleh sebab itu aku meminta pada kalian agar mempercepat pernikahan kami." Sambung Boa.

Mr. Jung menghela nafasnya.

"Yunho akan menikahimu jika dia ingin menikahimu."

Boa membulatkan matanya. Dia memandang Mr. Jung yang baru saja mengeluarkan kata-kata yang menurutnya seperti penolakan atas permintaannya tersebut. Tak hanya Boa, Mrs. Jung juga tak kalah terkejut dengan ucapan sang suami. Bukankah selama ini suaminya itu yang paling antusias soal pernikahan Yunho dan Boa?

"Aboeji?" Boa sungguh tidak mengerti pikiran namja paruh baya yang selalu mendukungnya tersebut.

"Aku tidak akan memaksa apapun lagi pada anak itu." Ujar Mr. Jung

"Ta-tapi Aboeji. Apakah Aboeji rela jika Yunho kembali seperti dulu? Bersama dengan JaeJoong, dan menjadi anak yang selalu membantah, lalu apakah Aboeji mau nama baik keluarga Jung tercemar karena hubungan keduanya?" Boa menjadi panik sendiri dan berbicara tanpa di pikirkan dahulu. Mr. Jung tersenyum tipis.

"Yunho adalah satu-satunya anak laki-lakiku. Dia sudah dewasa dan berhak memilih jalan hidupnya sendiri. Sebagai Ayahnya, tak ada yang lebih ku inginkan selain melihatnya bahagia. Jika dengan namja itu dia bisa bahagia, maka aku akan membiarkannya meraih kebahagiaannya. Aku tidak mau menjadi seorang ayah yang egois dan mementingkan diriku sendiri. Apa gunanya nama baik keluarga tapi seorang anak tertekan di dalamnya."

Mr. Jung berkata pelan, tegas, dan panjang, mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya. Boa dan Mrs. Jung sama-sama menatap tak percaya pada namja paruh baya itu.

Mata Mrs. Jung berkaca-kaca, dia tidak menyangka bahwa sang suami akan berkata demikian. Umma Yunho itu begitu bahagia sekarang, terlebih ketika Mr. Jung tersenyum penuh arti ke arahnya.

Beda lagi dengan Boa, matanya sama berkaca-kaca, namun perasaannya bukanlah senang dan lega seperti yang di rasakan oleh Mrs. Jung, melainkan perasaan putus asa karena mendapat penolakan dari Mr. Jung. Padahal Bumonim Yunho inilah yang menjadi senjata terakhir Boa untuk mendapatkan namja berwajah kecil tersebut.

"Kuharap kau mengerti, Boa. Tak setiap keinginan bisa kau dapatkan."

Mr. Jung mengamit tangan istrinya, tersenyum lembut pada yeoja yang sudah mulai menitikkan air mata harunya, lalu menuntunnya untuk pergi meninggalkan Boa sendirian. Gadis itu menatap nanar kepergian kedua orang tua Yunho, air matanya jatuh.

Apakah akhirnya harus seperti ini?

Berakhir dengan tidak mendapatkan apapun di tangannya?

Dia kehilangan sahabatnya.

Kehilangan teman-temannya.

Orang yang di cintainya malah membencinya.

Sekarang dua orang yang paling mendukungnya, dengan jelas mengabaikannya.

Benar kata Yoochun.

Dia benar-benar menyedihkan.

.

.

YUNHO's POV

Seharian ini JaeJoong memangis tersedu-sedu. Setelah kejadian tadi pagi dengan Boa, namja cantik itu terus saja menangis, dia tertidur dalam pelukanku karena kelelahan. Dia bahkan melewatkan makan siangnya, dan terus tertidur dalam pelukanku di kamar rawatku.

Bukan hanya JaeJoong yang kaget dengan pengakuan Boa akupun tak kalah kaget. Gadis itu adalah tempatku berkeluh kesah, aku menumpahkan semua pikiranku padanya, berharap dia mengerti dan mampu memberiku saran, walau bagaimanapun dia adalah sahabat JaeJoong sejak bertahun-tahun, oleh karena itu aku mempercayainya seperti JaeJoong mempercayai Boa. Tidak kusangka dia akan menusuk kami dari belakang seperti ini.

Aku tidak tahu kapan dia mulai mencintaiku, mungkin setelah JaeJoong dan Yoochun serta Junsu keluar dari manajemen kami, sejak kami mulai dekat, sejak aku mulai mencurahkan isi hatiku padanya, sejak aku menangis di hadapannya, mungkin saat itulah cinta itu muncul. Tapi sungguh aku tidak menyangka bahwa gadis itu akan tega melakukan rencana buruk seperti itu dengan dalih mencintaiku dan ingin menjadikanku miliknya.

Aku masih ingat ketika aku bercerita perihal mantan CEO kami yang akan menyerang JaeJoong, dan tiga orang itu yang kembali akan masuk ke dalam grup. Aku bukannya tidak menyukai hal tersebut, tapi mengingat kejahatan sang CEO aku tentu tidak ingin ketiga orang itu ikut terluka. Di saat aku kalut, aku ingat betul gadis itu menyuruhku untuk bersikap tidak baik pada ketiganya, agar ketiganya tidak betah dan memilih untuk keluar dengan sendirinya.

Owh. Bodohnya aku

Mengapa saat itu aku tidak berpikir dahulu sebelum bertindak dan malah menuruti saja apa yang di sarankan olehnya. Rasa kalutku benar-benar menutupi pikiran rasionalku, dan aku mulai berbuat tidak baik pada tiga orang itu, termasuk Changmin yang ikut terkena imbasnya.

Harusnya aku mulai curiga ketika dia menyuruhku untuk melukai JaeJoong, bukan melukai secara fisik, tapi memberikannya luka secara mental, membuat JaeJoong sedih dan tertekan, membuat namja itu membenciku untuk kemudian dia pergi meninggalkanku. Tapi apa yang kulakukan, aku menurutinya, lagi-lagi kekalutanku dimanfaatkan olehnya. Dia tahu betul aku akan mengikuti semua saran yang dia berikan untukku jika aku sedang kalut.

Dan yang paling membuatku tersentak adalah, pengakuannya bahwa malam itu dia memberikanku obat perangsang. Harusnya aku tahu mengapa malam itu aku bisa begitu agrasif dan sangat bernafsu walau dihadapanku bukan JaeJoong, tapi orang lain. Harusnya aku bisa menahan diri untuk tidak menyerangnya malam itu. Seandainya aku memiliki benteng yang kuat, pasti JaeJoong tidak akan sampai koma selama 4 bulan dan harus di rawat hampir 1 bulan di rumah sakit.

Gadis itu bahkan tidak berhenti sampai disitu. Entah apa yang dikatakan pada orang tuaku, hingga mereka menyuruhku untuk menikahi gadis itu. Sungguh aku tidak menyangka bahwa dia bisa berbuat sampai sejauh itu hanya dengan alasan dia mencintaiku dan dia ingin memilikiku, dia bahkan mengkhianati sahabatnya sendiri.

"Ungh..."

Aku menoleh pada namja yang tidur di sebelah kananku, dia meleguh kemudian mengerjapkan mata bulatnya. Sudah hampir sore sekarang dan dia baru saja bangun dengan matanya yang bengkak. Manik matanya melihat ke arahku, bibirnya sedikit bengkak akibat menangis tadi. Dia memiringkan posisi tidurnya dan melesakkan wajahnya di dadaku.

Aigo.

Aku terkekeh pelan.

Aku mengusap kepalanya pelan. Dia mencengkram baju pasienku.

"Mianhae." Ucapnya dengan suara parau.

Aku mengecup lama dahi kekasihku. Kemudian memeluknya dengan penuh kasih.

"Ani-harusnya aku yang meminta maaf padamu. Maafkan aku karena sudah membuatmu terluka."

Perlahan dia menjauhkan tubuhnya, lalu duduk di ranjang menghadap ke arahku yang masih tertidur. Dia menggeleng pelan, membuat helaian rambutnya bergerak mengikuti gerakan kepalanya. Dia terlihat sangat lucu.

"Tidak, aku lah yang salah, kalau saja aku mendengarkanmu dan tidak bersikap egois, pasti tidak akan terjadi hal seperti ini." Ucapnya cepat.

Aku menggerakkan tanganku, menyentuh lembut pipinya yang sudah mulai kembali berisi.

"Tidak, seharusnya aku bisa berpikir lebih jernih lagi, aku bahkan membuatmu dan ketiga dongsaeng kita terluka karena sikapku, aku benar-benar minta maaf, baby."

Dia menggeleng lagi, lalu menangkupkan tangannya di atas tanganku yang membelai pipinya.

"Kau tidak salah, bear. Kau memang harus bersikap tegas padaku." Dia masih saja keras kepala dan tidak mau kalah. Aku menarik wajahnya, mengecup bibir nya sekilas, lalu mendorong kembali wajahnya dengan sangat lembut, membuat jarak agar aku dapat melihatnya dengan jelas.

Dia sudah mulai memanggilku dengan panggilan kesayangannya 'bear' ditambah lagi dia tidak menolak ketika ku cium tadi, aku tidak mampu membendung rasa bahagiaku, hanya karena hal kecil itu.

"Arraso. Kita berdua yang bersalah. Aku bersalah karena aku tidak bersikap baik dan tidak berpikir panjang untuk setiap perbuatanku, dan kau bersalah karena kau tidak mau mendengarkanku, dan sampai mau mengakhiri hidupmu, apa kau puas?" Tanyaku, dia terkekeh lalu mengangguk.

"Dan kau juga bersalah karena kau mau menikahi gadis itu." Tambahnya.

"Hey, itu karena aku terpaksa, kau tahu." Kilahku, dia tersenyum lalu mengangguk kecil lagi.

Dia mendekatkan wajahnya, perlahan. Pelan-pelan, mata bulatnya dengan intens menatap mataku, aku bahkan dapat melihat pantulan bayanganku dari manik hitam kecoklatannya. Nafas hangatnya menerpa permukaan kulitku, perlahan kulihat matanya terpejam.

"YO, MAN!"

Deg.

Mata JaeJoong kembali terbuka, terbelalak kaget. Begitu juga denganku, kami saling berpandangan.

"Ups, sepertinya kita datang diwaktu yang salah."

Sebuah suara tinggi yang khas membuat kami sama-sama menolehkan wajah kami ke arah pintu masuk kamar.

Gezz.

JaeJoong segera menjauhkan wajahnya, dan buru-buru dia turun dari tempat tidur, dengan wajah yang memerah, sementara aku hanya tersenyum kikuk pada kedua dongsaengku yang datang.

"Astaga, apa kami melewatkan sesuatu?" Tanya Changmin.

"Apa kami perlu keluar agar kalian bisa melanjutkan kegiatan kalian?" Sambung Junsu.

"Y-Ya!" JaeJoong berteriak salah tingkah dan juga malu.

Ah mungkin karena kami sudah lama tidak terlihat mesra seperti tadi di depan para dongsaeng, kami jadi salah tingkah dan gugup seperti ini.

Ah.

Kim Junsu dan Shim Changmin, kalian benar-benar datang di saat yang tidak tepat. Kalau saja kalian datang agak lama, pasti aku sudah bisa merasakan bibir lembut dan kenyal serta manis milik JaeJoong lagi tadi.

Ugh.

Dan benar saja, kegugupan kami menjadi bahan dua orang itu untuk dapat mengolok-olok kami, JaeJoong bahkan berteriak berkali-kali karena malu. Aku senang bisa melihatnya tersenyum lagi. Terlebih kami bisa tertawa lagi bersama seperti ini. Aku sangat bersyukur.

Terima kasih Tuhan.

.

.

AUTHOR's POV

Sudah hari ke empat sejak pengakuan Boa.

JaeJoong sudah bisa keluar dari rumah sakit 3 hari yang lalu setelah dokter menyatakan kondisinya membaik, baik fisik maupun psikisnya. Yunho sampai mendengus kesal karena JaeJoong keluar dari rumah sakit, itu artinya dia tidak bisa berada di dekat namja itu lagi setiap malam. Aigo, Tuan Jung sungguh kekanak-kanakan.

"Jangan banyak menggerutu, Yunnie." Ucap JaeJoong, tapi pria berbibir tebal itu tetap saja merajuk.

JaeJoong mendesah pelan karena melihat sifat Yunho tersebut.

"Lagipula aku bisa selalu ada di sisimu, bukan." Kata JaeJoong lagi.

"Tapi tidak dengan malam hari, kau akan pergi meninggalkanku sendirian, malam-malam disini, di tempat yang dingin, gelap dan tanpa cinta." Ucap Yunho hiperbolis, membuat JaeJoong bergidig dan bertanya-tanya dalam hati, siapa yang mengajari namjanya itu berkata seperti itu. Rumah sakit itu memang tidak memperbolehkan ada tamu yang menemani ketika jam malam tiba.

"Ish."

Dengan cepat JaeJoong menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulut Yunho agar namja itu tidak meneruskan kalimatnya yang membuat bulu kuduknya berdiri. Dan dengan cepat pula Yunho menelan bubur di mulutnya.

"Kalau begitu aku mau dirawat di rumah saja, tidak mau di rumah sakit lagi." Lanjut Yunho, JaeJoong mendengus kesal.

"Dua hari lagi kau baru bisa keluar dari rumah sakit, kau tahu itu. Makanya sekarang cepat habiskan makananmu dan minum obatmu, kemudian cepatlah pulih jadi kau bisa cepat pulang." Nasehat JaeJoong, Yunho menghentakkan kakiknya kesal, membuat mata si cantik terbuka lebar, lalu terkekeh pelan.

Astaga.

Kekasihnya itu, berapa sebenarnya umurnya.

JaeJoong terus mengolok-olok Yunho yang bertingkah seperti anak kecil.

.

.

"Apa kami mengganggu."

Dua orang paruh baya memasuki ruangan tersebut. Yunho baru saja meminum obatnya. JaeJoong bangkit dari kursinya dan menoleh, lantas membungkuk begitu tahu siapa yang datang, JaeJoong mengembangkan senyum manis pada dua orang tersebut, orang tua dari namja yang dicintainya. Sementara Yunho malah memasang wajah waspada, takut jika sang ayah kembali menghina JaeJoong.

"Ahjussi, ahjumma." Sapa JaeJoong

Mrs. Jung menghampiri putranya, dan duduk di samping ranjang.

"Adeul, bagaimana keadaanmu?" Tanya Mrs. Jung

"Baik, omoni." Jawab Yunho sementara manik matanya melirik pada namja paruh baya yang sekarang berdiri berdampingan dengan JaeJoong, waspada jika sang Appa kembali menyerang JaeJoong dengan kata-kata pedasnya. Tapi yang di lihatnya adalah, Mr. Jung yang menepuk-nepuk pelan punggung JaeJoong, dan JaeJoong yang tersenyum lembut pada Aboejinya.

Aneh.

Sepertinya tuan muda Jung belum tahu soal Aboejinya, yang secara tidak langsung telah memberikan restunya pada JaeJoong dan Yunho.

"Terima kasih sudah menjaga Yunho dengan baik." Kata Mr. Jung pada JaeJoong.

"Ah, Ani- ahjussi, ini memang sudah kewajibanku." Sahut JaeJoong.

Mrs. Jung tersenyum melihat interaksi suaminya dan kekasih putranya, terlebih ketika melihat ekspresi bingung yang di tunjukkan Yunho.

"Mengapa kau masih memanggil Aboejimu dengan sebutan ahjussi?" Tanya Mrs. Jung

JaeJoong menggaruk tengkuknya gugup. Sementara Yunho memandangi orang disekelilingnya dengan bingung, dan tatapan penuh tanya.

"Ah... nee, ahjumma." Ujar JaeJoong kikuk

"Lihat, yeobo, dia masih saja memanggilku Ahjumma." Adu Mrs. Jung kepada sang suami yang masih memasang wajah stoicnya.

Mr. Jung menepuk punggung JaeJoong lebih keras.

"Panggil kami seperti, Yunho memanggil kami, arraso?" Ujar suara bass dengan nada tegasnya yang tak terbantahkan.

"N-nee, ahju-Aboeji." JaeJoong buru-buru meralat perkataannya dan langsung mendapatkan senyuman puas dari kedua orang tua Yunho.

"Baiklah, sekarang siapa yang mau menjelaskan siatuasi ini padaku?" Tanya Yunho.

"Tidak ada." Jawab Mr. Jung dengan acuh

"Nee, tidak ada yang akan menjelaskannya padamu, benar begitu JaeJoonggie?" Sambung Mrs. Jung yang langsung di iringin dengan anggukan dari JaeJoong.

"Ya! Apa kalian mau membuatku mati penasaran?" Yunho tidak terima, dia begitu penasaran mengapa bumonimnya yang sebelumnya selalu terlihat memusuhi JaeJoong malah berbalik 180 derajat sekarang.

"Bukankah kau memang ingin mati, Yunnie? Kau bahkan tidak mau makan selama beberapa hari kemarin, kenapa tidak mati sekalian saja." Celetuk Mrs. Jung yang tentu saja hanya bercanda untuk meledek sikap putranya beberapa hari silam.

Yunho mengerucutkan bibirnya, kesal.

"Omoni tega sekali menyuruhku mati, memangnya Omoni tidak akan sedih kehilangin putramu yang tampan ini?" Gerutu Yunho.

"Tidak. Kalau kau mati, kami masih punya JaeJoonggie." Mrs. Jung masih saja menggoda Yunho menimbulkan gelak tawa yang menggema dalam ruangan tersebut.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka tertawa bersama seperti ini. Tak ada yang lebih membahagikan untuk Yunho maupun JaeJoong, saat kedua orang tua Yunho mampu menerima hubungan mereka, seperti sekarang ini. Sungguh, mereka sangat bahagia sekarang.

.

.

DongBangShinKi.

Mereka memiliki dorm baru saat ini. Sebenarnya bukan dorm, ini adalah rumah kediaman pribadi JaeJoong yang dijadikan tempat untuk berkumpul ketika mereka bekerja bersama. Hari berlalu tanpa terasa. Gugatan terhadap mantan CEO itu berlangsung dengan lancar, namja paruh baya itu mendapatkan hukuman yang setimpal, ditambah dengan mengganti kerugian dan uang yang selama ini digelapkannya dari perusahaan.

Pembaharauan kontrak terjadi besar-besaran di manajemen. Para artis di minta untuk menandatangani kontrak baru mereka. Karena kontrak lama mereka sudah di rekayasa oleh CEO tersebut. Mereka berlima, memilih untuk keluar dari manajemen tersebut, dan masuk ke manajemen dimana JaeJoong-Junsu-Yoochun bernaung ketika mereka berpisah dulu. Junsu dan JaeJoong memiliki sebagian besar saham manajemen itu. Mereka mengajak beberapa artis pendatang baru dari manajemen lama mereka yang diperlakukan tidak adil, masuk ke manajemen baru mereka.

Saat ini mereka sedang berkumpul membicarakan tentang pekerjaan mereka selanjutnya. Mereka harus membuat pertemuan dengan para wartawan untuk membicarakan perihal kejadian yang banyak terjadi belakangan ini.

JaeJoong menyenggol lengan Yunho yang duduk disampingnya dengan sikutnya, memberi isyarat pada Yunho agar namja itu mengatakan sesuatu pada ketiga dongsaengnya yang duduk dihadapan mereka.

"Cepat katakan." Bisik JaeJoong pada Yunho, namja bermata setajam elang itu, mengangguk ragu lalu menatap ketiga dongsaengnya yang telah selesai makan dan sedang menikati makanan pecuci mulut yang kekasihnya buat.

"Ehem!"

Yunho berdehem agak keras, hingga ketiga adiknya memfokuskan pandangan pada Yunho yang terlihat salah tingkah, menunggu sang leader yang jelas sekali ingin menyampaikan sesuatu pada mereka.

"Begini, sebenarnya-"

Yunho menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, jelas sekali dia ragu mengatakan apa yang ingin dia katakan, siku JaeJoong kembali menyikut lengan Yunho dengan keras, memaksa Yunho mengatakan apa yang harus dia katakan.

"Ada apa, hyung?" tanya Junsu yang tidak sabar.

"Ada apa? Cepat katakan, aku masih lapar." Desak Changmin yang tidak sabaran, tak bisa menunggu lama karena puding mangga di depannya begitu menggiurkan dan tak mau dia diamkan terlalu lama. Mulutnya ingin cepat-cepat memakan dan memasukkan kelambungnya. Aigo.

Yoochun terkekeh dan menggeleng kecil melihat tingkah Changmin yang sama sekali tidak berubah, mementingkan makanan apapun keadaannya.

"Aku ingin minta maaf." Yunho berdiri dari duduknya, kemudian membungkuk di depan ketiga adiknya. Junsu, Yoochun dan Changmin saling melayangkan pandangan, bingung pada tingkah laku Yunho, sementara JaeJoong tersenyum lembut.

"Meminta maaf soal apa, hyung?" Junsu memiringkan kepalanya tidak mengerti. Aigo, sepertinya namja yang sebelumnya pintar memecahkan masalah dan mendapatkan informasi begitu cepat untuk kasus CEO itu, sekarang sudah berubah menjadi namja polos kembali.

Pletak

Changmin sampai harus menjitak kepala Junsu, hingga membuat Junsu mengaduh kesakitan karena jitakan itu tidak pelan.

"Appo-" Keluhnya sambil mengusap kepalanya yang berdenyut sakit.

"Tak ada yang perlu di maafkan, Hyung." Celetuk Changmin, Yoochun mengangguk setuju.

"Benar kata Changmin, hyung. Tak ada yang perlu di maafkan, karena memang kau tidak melakukan kesalahan." Sambung Yoochun.

JaeJoong menyentuh lembut tangan Yunho, menarik namja itu untuk kembali duduk di kursinya. Yunho duduk dengan benar. Ketiga dongsaengnya benar-benar membuatnya bangga, mereka sungguh memiliki hatinya yang besar, dia sangat beruntung memiliki begitu banyak orang baik disekitarnya.

"Tapi aku tetap merasa bersalah. Aku sudah berberbicara kasar pada kalian, bahkan aku sampai memukul kalian. Sungguh aku minta maaf untuk semua hal itu." Kata Yunho.

"Hyung, satu-satunya kesalahanmu adalah, kau tidak menceritakan masalahmu pada kami." Kata Changmin.

"Nee, hyung. Kesalahanmu hanya itu, memendam masalahmu sendiri, tidak membiarkan kami ikut terlibat untuk memecahkannya." Sambung Yoochun, Changmin dan Junsu mengangguk cepat.

"Benar, coba saja kalau kalian berdua berdiskusi dan memecahkan masalah dengan kami, kita tidak perlu bertengkar setiap hari. Kalian juga tidak perlu bermusuhan, lalu Yunho hyung juga tidak perlu sampai masuk ke dalam perangkap Boa, dan JaeJoong hyung juga tidak akan sampai menceburkan dirinya ke sungai Han."

Pletak

Pletak

"APPO..."

Junsu mendapat dua jikatan keras sekaligus dari Yoochun di kanannya dan Changmin di kirinya.

"YA! Kenapa kalian memukulku." Pekik Junsu tak terima.

"Kau terlalu banyak bicara, dolphin." Balas Changmin, Junsu mendengus kesal pada sang magnae yang memanggilnya seenaknya.

"Ya! Aku ini hyungmu, kau seharusnya memanggilku dengan sebutan 'hyung' bukan yang lainnya." Omel Junsu

"Tidak akan." Tolak Changmin mentah-mentah

Yoochun menggelengkan kepalanya, bahkan ketika situasi sedang serius seperti sekarang ini, mereka masih saja bisa bertengkar seperti itu.

"Tapi Junsu benar."

Ucapan Yunho yang cukup keras berhasil membuat semua kembali fokus pada namja berkharisma tersebut.

"Semuanya pasti tidak akan terjadi seperti ini, jika aku tidak memendamnya sendirian dan berdiskusi dengan kalian." Kata Yunho lagi.

"Gwenchana, hyung. Yang sudah terjadi biarkan berlalu. Yang terpenting sekarang kita harus tetap bersama, saling mendukung dan bicara jika ada masalah." Yoochun bicara dengan bijaknya, membuat yang lain tersenyum dan mengangguk setuju.

"Yoochun hyung benar. Kita harus selalu bersama." Sahut Changmin

"Benar, selamanya hanya ada DongBangShinki untuk lima nama, Junsu tampan, Changmin jangkung, Yoochun dahi lebar, JaeJoong hyung yang centil, dan Yunho hyung yang keras kepala, yeiy."

Junsu bersorak sendiri sambil mengangkat gelas jusnya tinggi-tinggi seperti orang yang hendak bersulang, keempat lainnya sontak langsung tertawa keras mendengar celotehan dari Junsu tersebut, dia terlihat sangat bersemangat sekarang. Tapi kemudian...

Pletak

Pletak

Pletak

Pletak

"Apa maksudmu, menyebutku begitu?!" Teriak Yunho, JaeJoong, Yoochun dan juga Changmin.

Owh. Poor Junsu

Lagi-lagi dia harus memasrahkan kepalanya untuk menjadi sarang jitakan dari orang-orang yang disayanginya tersebut.

Mereka benar.

Masalah sebaiknya tidak di pendam sendirian. Berbicara dengan orang lain dan meminta saran orang lain juga sangat dibutuhkan. Terkadang pikiran kita kalut hingga kita tidak bisa berpikir dengan jernih, hingga membuat suatu keputusan yang salah. Memilih orang yang bisa memberikan saran dengan baik tanpa memiliki maksud untuk memperburuk situasi juga sama pentingnya, jangan sampai kita bercerita pada orang yang salah.

Kebersamaan itu sangat sulit untuk di dapatkan, begitu pula mempertahankannya. Kebahagiaan yang di dapatkan dalam kebersamaan akan terasa sempurna jika semua aspek saling melengkapi dan saling mendukung.

Cinta dan maaf juga begitu penting. Cinta yang tulus akan selalu memaafkan, dan cinta yang tulus juga akan selalu mencari cara untuk mendapatkan maaf. Seperti yang di lakukan oleh JaeJoong dan Yunho, seburuk apapun keadaan di masa lalu, justru akan memperkuat cinta mereka di masa yang akan datang.

Dan Junsu benar.

Hanya akan ada lima nama dalam DongBangShinKi.

Sang Leader yang selalu berkharisma, Jung Yunho

Namja cantik yang penyayang, Kim JaeJoong

Sang magnae yang telah tumbuh dewasa, Shim Changmin

Namja dengan pembawaan tenang, Park Yoochun

Dan si polos yang selalu ceria, Kim Junsu.

.

.

Tarik Bang Changmin
.

.

Te. Be. Ce
.

.

Ups !

.

.

.

.

.

.

F I N
.

.

Yorobun ~~~~

Saranghae

Sudah tiba di penghujung cerita.

Terima kasih banyak untuk teman-teman sekalian yang sudah menyempatkan diri membaca FF ku ini.

Eum. Akhir ceritanya seperti itu aja. Karena ga mau bikin cerita yang terlalu panjang dan berbelit-belit kayak sinetron.

OIya. Mungkin akan ada EPILOG untuk cerita ini.

Jadi kalau masih ada pertanyaan yang belum terjawab dalam cerita atau kurang puas untuk sesuatu dalam cerita, mohon di beritahukan.
.

.

.
Terima kasih banyak sekali lagi

.

.

With Love

.

.

~zee~