Disclaimer: J. K. Rowling
-oOo-
"Malfoy! Oi, Malfy-boy!"
Bahkan sebelum menoleh untuk mengecek pun, aku sudah tahu bahwa sumber suara itu tak lain dan tak bukan adalah Ginny Weasley. Weasley berlari ke arahku, memeluk beberapa buku dengan protektif di dadanya. Syalnya beterbangan di sekitar lehernya, sepatunya menghentak-hentak lantai dengan bunyi berisik.
Aku tersenyum kering. "Weasley."
Weasley mengabaikan senyum tidak antusias yang kuberikan. Alih-alih, ia malah blak-blakan menanyakan sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia. "Jadi—katakan padaku. Bagaimana ceritanya kau bisa mencium Hermione?"
Tak bisa menahan diri, aku celingak-celinguk untuk memastikan tak ada orang yang mendengar kata-kata spontan Weasley. "Bagaimana kau tahu?" hardikku tidak senang.
Weasley memutar bola matanya. "Menurutmu? Tentu saja Hermione memberitahuku."
Aku menghela napas pendek dan menyandarkan kepalaku ke pintu lokerku yang terbuka. Tentu saja Granger akan memberitahu Weasley, mereka kan bersahabat. Dan sahabat cewek biasanya lebih terbuka terhadap satu sama lain. Theo saja belum kuberitahu. Bukan berarti aku akan menyembunyikan hal ini darinya—aku hanya belum menemukan waktu yang tepat. Oke, aku tahu itu alasan yang payah sekali, tapi—entahlah. Aku merasa malas dan tidak enak memberitahukan Theo tentang hal ini. Padahal sebelumnya aku baik-baik saja menceritakan hal tentang Granger.
"Bukankah Granger sudah memberitahumu?" elakku malas.
"Ya. Tapi aku ingin mendengar versimu."
"Well, baiklah. Versiku adalah; kami bertemu, kemudian kami saling bicara, lalu kami berteman dan kami berciuman."
Weasley mengabaikan jawaban sarkastikku. "Apakah kau menggunakan lidahmu?"
Aku merasakan panas yang familiar menjalar di pipiku. "Kenapa kau mau tahu?"
"Spit it out, Malfy-boy."
Menahan diri untuk tidak mengerang, aku memaksakan diri untuk menjawab tanpa kedengaran terlalu kecewa. "Tidak."
"Tidak?" Weasley menggeleng-gelengkan kepalanya dramatis. "Lalu apa yang kalian lakukan? Saling menempelkan bibir satu sama lain seperti anak 14 tahun? Kuberitahu kau, Malfoy. Ciuman pertamaku bahkan lebih panas dari itu—"
Aku mengangkat tangan, menyuruhnya behenti. "Aku tidak tertarik mendengar ceritamu. Apa pun itu."
"Lalu tepatnya apa yang kalian lakukan?" seringai Weasley. "Maksudku, apa yang kalian lakukan dalam ciuman itu?"
"Kau ini memang mau tahu ya?" lirikku jengkel.
Weasley mengangguk sambil tertawa antusias. "Jelas. Sekarang katakan padaku."
Aku membuang napas keras lewat hidung. Tatapanku jatuh pada buku Sejarahku ketika aku menjawabnya. "Awalnya dia agak—uh, menggigit bibirku?"
Tergelak-gelak senang melihatku menderita karena malu, Weasley terus menggodaku. "Lantas apa yang kau lakukan? Diam saja?"
"Tidak. Aku—" Aku mengigit bagian dalam bibirku, dalam hati bertanya-tanya apakah suaraku terdengar mesum apa tidak. "—aku agak menyentuhkan lidahku pada ujung bibirnya. Tak kusangka dia akan membuka mulutnya, jadi aku masuk dan lidah kami—uhm—"
Ugh. Neptunus, bunuh aku sekarang.
Weasley kelihatannya senang bisa membuatku salah tingkah. "Oh ya?" Dia tertawa, syalnya bergoyang heboh di sekitar lehernya. "Katamu tadi tidak pakai lidah?"
"Well, yeah—" Aku berdeham, membetulkan letak kacamataku. "Kupikir kalau kujawab tidak kau akan berhenti bertanya."
"Oh, aku senang sekali bertanya," sahut Weasley ceria. "Kau menyukainya? Ciumannya, maksudku."
Aku terdiam beberapa saat, memikirkan dan menelaah ulang pikiranku waktu itu. "Aku agak—yah," ujarku tidak jelas. "Maksudku, ya. Aku—aku menyukainya."
Weasley memekik senang. "Hell yeah! Aku akan menceritakan ini pada Hermione! Aku tidak sabar melihat bagaimana reaksinya nanti—"
"TIDAK!" teriakku lantang. Menyadari beberapa orang menatapku heran, aku memelankan suaraku menjadi sebuah desisan marah. "Tidak, Weasley. Aku melarangmu. Kau tidak boleh mengatakan apa pun pada Granger tentang ini. Jangan sampai—"
"Ya, aku harus menuruti apa katamu kan?" cela Weasley.
"Aku serius, Weasley. Lebih baik jangan. Hubunganku dan Granger sudah cukup rumit tanpa dibumbui gosip sana-sini."
Weasley mengangkat salah satu alis merahnya. "Siapa yang bilang akan membumbui ceritamu dengan gosip? Aku hanya akan mengatakan fakta, Malfoy. Aku akan mengatakan semua yang kau katakan padaku. Yah, mungkin aku juga akan menambahkan kalau kau bilang ingin sedikit menyentuhnya—" Weasley terkikik keras.
Aku menatapnya gemas. "Weasley, kumohon jangan lakukan itu—"
"Memangnya kenapa? Bagaimana kalau aku bilang kau ingin menjilatnya? Atau memasukkan tanganmu ke dalam kausnya? Oh oh—" Mata Weasley berkilat-kilat sementara bibirnya membentuk seringai mesum. "—bagaimana kalau kukatakan Hermione membuatmu tegang? Dan kau akan mengajaknya naik ke ranjang lalu bercin—"
"Draco Malfoy?"
Sebuah suara asing menyelamatkanku dari kebrutalan Weasley yang tanpa perasaan terus menerus menanyakan hal-hal tidak baik. Bisa-bisa aku mati dipenuhi rasa malu dan salah tingkah akibat kata-kata vulgar Weasley. Uh, aku tak tahu tubuh kecil dan berambut merah seperti Weasley ternyata punya pikiran yang jorok luar biasa.
Berdiri di sebelahku adalah seorang cewek kurus dengan mata biru tua dan rambut lurus hitam sebahu. Walaupun tidak memakai hak tinggi, ujung kepala cewek itu nyaris mengenai alisku. Wajahnya tirus dan agak dingin. Bibirnya tipis. Matanya menatapku tajam, mengabaikan Weasley sama sekali.
Aku berusaha keras untuk tidak gugup. Tidak terlalu berhasil—cewek ini memang mengeluarkan aura mengerikan yang membuatku teringat pada dukun-dukun muda. "Y—Ya?"
Cewek itu tersenyum tipis, nyaris tidak kelihatan. Ia mengulurkan tangannya yang berjari panjang padaku. "Aku May Morra."
Aku menyambut tangannya dengan jabatan kaku. "Halo," sambutku dengan suara pelan. "Er, apa kita pernah bertemu?"
Morra tidak segera menjawab, matanya menyipit tajam. Terperangah. Seolah dia tidak mengharapkanku menyambutnya seperti itu. "Pernah," jawabnya pelan, hati-hati."Tapi kuakui baru kali ini aku melihatmu secara langsung."
"Oh," anggukku. "Maaf, aku tidak pernah mengenalimu."
"Tidak apa-apa," jawab Morra santai, pelan-pelan melepaskan jabatan tangannya. "Aku juga tidak akan bicara denganmu kalau kau tidak—ah, menjadi sainganku."
Aku mendengar Weasley bertanya kepada cewek ini. Nadanya galak dan ingin tahu sekaligus. "Saingan? Apa maksudmu saingan?"
Morra memandang Weasley sebentar sebelum bertanya dengan nada datar. "Apa kau pura-pura tidak tahu atau memang tidak tahu?" Tanpa menunggu jawaban, ia memalingkan wajah padaku lagi. "Kau harus bersiap, Malfoy. Aku tidak pernah main-main. Duncan sudah kuperingatkan—dan ia kelihatan tidak senang."
Aku menatapnya bingung. Apakah cewek ini gila atau dia sedang bermain truth or dare dengan kawan-kawannya sehingga mempermainkanku seperti ini? Dan siapa itu Duncan?
Aku berusaha tetap sopan padanya. "Maaf, aku tidak mengerti. Apa maksudmu?"
Alis hitam cewek ini terangkat sedikit, keheranan. "Apa maksudmu dengan 'apa maksudmu'?"
"Ma—maksudku," gagapku sedikit. "Apa maksudmu dengan bersiap-siap? Aku tidak—apakah kita pernah punya urusan yang belum terselesaikan sebelumnya?"
Morra terdiam. Matanya mengawasiku seperti elang. Ia menelengkan kepala ke satu sisi, mempelajariku. Kemudian menelengkan kepala ke sisi yang lain, mencermatiku. Suaranya tampak tidak percaya ketika ia menjawab, "Kau—tidak mengerti?"
Mengerucutkan bibir, aku menggeleng.
Senyum tipis tidak menyenangkan muncul di bibir tipis Morra. Kemudian ia menggelengkan kepala sambil terkekeh pelan. "Oh, sebenarnya tidak mengherankan. Pengumuman memang baru saja dipasang."
Pengumuman?
Weasley berdiri di sebelahku sambil berkacak pinggang galak. "Kau gila ya? Tahu-tahu datang menghampiri Malfoy tanpa tujuan jelas. Atau sebenarnya kau naksir dia dan memutuskan untuk mulai PDKT? Kalau begitu waktumu tidak tepat, Morra. Malfoy baru saja berkencan dengan gadis cantik dari negeri dongeng, sebentar lagi mereka menikah dan mempunyai lima belas anak. Kau tidak punya kesempatan sama sekali."
Aku ingin menempeleng kepala merah Weasley karena sudah mengatakan sesuatu yang kelewat konyol dan memalukan. Aku tidak sedang berkencan dengan Granger—kalau dia yang dimaksudkan. Aku juga tidak akan menikah dalam waktu dekat apalagi akan punya lima belas anak. Dan aku tidak mengetahui siapa pun gadis cantik dari negeri dongeng.
Morra mengalihkan pandangannya pada Weasley, jelas terganggu. "Bukankah kau Weasley? Aku tidak yakin—Minny atau sejenisnya?" katanya, menunjuk Weasley sambil mengeluarkan senyum geli yang tidak terlalu kentara.
"Ginny. Ginny Weasley," koreksi Weasley jengkel. "Dan apa hubungannya denganmu?"
Gadis itu mengubah senyumnya menjadi seringai mengerikan—yang lagi-lagi tidak terlalu kelihatan. "Bukankah kau pacaran dengan cowok berkacamata calon Presiden HHS itu? Siapa namanya? Jerry Pather?"
"Harry Potter," sambut Weasley, makin jengkel karena nama pacarnya dimainkan. "Apa hubungannya dengan Harry? Apa maumu? Siapa kau?"
Morra menatap Weasley tiga detik, sebelum beralih padaku lagi. "Well, karena kelihatannya kalian belum tahu, maka lebih baik kuberitahu sekarang." Ia berdeham, suaranya resmi."Aku calon Katua OSIS di tahun ajaran depan, bersama dengan kau, Malfoy."
Aku mengedip-ngedip selama beberapa waktu. Lagi-lagi menanyakan kewarasan cewek Morra ini. Apakah dia baru saja bilang bahwa dia adalah salah satu calon Ketua OSIS bersama denganku? Apa maksudnya itu?
"Apa maksudmu?" seru Weasley, kaget sekaligus tidak mengerti. "Apa kau ini calon Ketua OSIS dan Malfoy adalah wakilmu? Well, kuberitahu kau. Itu cara yang tidak sopan mengingat kau akan bekerja sama dengannya nanti. Mungkin lebih baik kau menjabat tangannya lagi dan membeberkan opini-opinimu tentang politik. Dan, oh—bicara lebih sopan."
Morra menatap Weasley dengan tatapan jengkel yang nyata dan tidak melebih-lebihkan. Ini satu-satunya emosi yang cukup kuat untuk menunjukan bahwa ia benar-benar manusia. "Kau bodoh ya?" gerutu Morra. "Informasi simple seperti itu saja kau tidak mengerti. Yang kumaksudkan adalah—aku, Malfoy dan seorang cowok jerawatan bernama Gerald Duncan adalah calon Ketua OSIS periode mendatang yang terdata sejauh ini."
Eh?
Tunggu, tunggu. Apa maksudnya; aku, Malfoy dan seorang cowok jerawatan bernama Gerald Duncan? Aku memikirkan itu dengan keras, berusaha mencerna dengan benar. Tidak terlalu berhasil karena aku masih saja kebingungan, seolah kata-kata yang dikatakan Morra sama sekali tidak aku kenal.
Tapi Weasley lebih tanggap. Dia membantuku menjelaskan berita Morra.
"Apa kau berusaha bilang padaku," ujar Weasley tidak percaya, matanya membelalak lebar. "Bahwa Malfoy, Draco Malfoy yang ini, adalah calon Ketua OSIS?"
Morra menyeringai sedikit. Tampak mengancam dan mengintimidasi. Mata birunya menggelap sedikit ketika ia berkata dengan nada bengis yang jarang digunakan cewek-cewek normal. "Pengumamannya baru saja ditempel di papan dekat ruang Kepala Sekolah tadi pagi."
-oOo-
Aku mengetuk pintu ruang Kepala Sekolah dengan tidak sabar—tanganku lumayan gemetar. Panik dan tak percaya berdenyut-denyut di kepalaku, rasanya seperti migrain. Napasku putus-putus, keringat dingin mengucur dari dahiku yang tertutup poni pirang yang dari tadi kusibak—membuat rambutku berantakan di bagian depan. Kacamataku miring karena dari tadi aku mengusap wajah dengan kalut. Pikiran-pikiran tidak jelas berkelebat di otakku, tidak bisa kutangkap maksudnya.
Aku sudah melihat pengumuman yang dimaksud Morra. Ditempel dengan paku payung di papan pengumuman di sebelah kantor ini, ada sebuah kertas yang tampak resmi dan di-laminating rapi. Kertas itu hanya sebuah kertas folio biasa, tapi entah mengapa kertas itu tampak lebih menakutkan dibandingkan dengan kertas-kertas lain yang ditempel di sana. Tulisannya besar-besar dan bertinta hitam. Kertas itu berbunyi;
Calon Ketua OSIS Periode Mendatang
Duncan, Gerald Adrian (kelas VI)
Malfoy, Draco Lucius (kelas VI)
Morra, May Olive (kelas VI)
Kampanye akan dimulai pada tanggal 1 Februari dan berakhir tanggal 3 Maret.
Pemilihan akan dilaksanakan pada tanggal 10 Maret.
Ini tidak nyata. Pengumuman itu hoax. Lagi pula, bukankah pemilihan Ketus OSIS selalu dilakukan setelah pemilihan Presiden HHS? Bahkan tak ada tanda-tanda kampanye Presiden HHS sudah dimulai.
Aku tahu mengetuk-ngetuk pintu Kepala Sekolah dengan cara seperti ini adalah cara termudah mendapatkan Kartu Detensi. Tapi aku tidak peduli. Mungkin malah kalau aku mempunyai catatan kelakukan yang lumayan buruk, orang-orang tak akan membiarkanku mengisi jabatan Ketua OSIS yang saat ini sedang ditempati seorang cowok bertabiat baik. Aku sudah siap untuk menggedor-gedor pintu—menendangnya sampai rusak kalau memang perlu—ketika pintu terbuka dengan satu sentakan keras. Membuat kepalan tanganku nyaris membentur di wajah siapa pun orang yang membuka pintu.
Dr Dumbledore tersenyum kaget dan sopan melihatku. "Selamat siang, Mr Malfoy," sapanya ramah, sama sekali tidak marah walau dia tahu aku siap mendobrak masuk ke kantornya. "Ada kejutan menyenangkan apa hari ini?"
"Sir," ujarku, berusaha kelihatan tegas dan sopan di saat yang bersamaan. "Apakah Anda sudah liat pengumuman tentang calon Ketua OSIS itu? Kenapa—kenapa nama saya ada di sana? Kenapa—kenapa—saya tidak pernah bilang mau menjadi Ketua OSIS, Dr Dumbledore."
"Pengumuman calon Ketua OSIS?" Dr Dumbledore menolehkan kepalanya yang berjenggot panjang ke arah pengumaman sialan itu ditempel. "Oh, ya itu. Well, aku tidak tahu mereka menempelnya sekarang. Kukira akan ditempel hari Jumat supaya tidak terlalu menimbulkan kehebohan seperti tahun lalu."
Aku ingin menangis saking frustasinya ditanggapi begitu santai oleh Dr Dumbledore. Apakah dia tak bisa melihat ekspresi desperate-ku? Mungkin aku tidak terlalu menampakannya. "Sir, saya tidak tahu kenapa nama saya muncul di sana. Saya—saya tidak menginginkan jabatan itu."
Dr Dumbledore menatapku lewat kacamata bulan-separo yang menempel di wajah tuanya. "Well, Mr Malfoy, aku tidak mengerti kenapa kau mengatakan itu. Seingatku ada orang yang menemuiku pada hari pertama masuk beberapa hari yang lalu dan bilang kau ingin menjadi Ketua OSIS, tapi belum menemukan waktu untuk bicara denganku."
Ada orang yang mengatakan—ada orang yang mengatakan—oh, aku benar-benar kalut. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku kalut separah ini. Atau mungkin aku memang belum pernah kalut separah ini. Bahkan menyelesaikan kalimat di kepalaku saja aku tidak mampu.
"Lalu Anda—Anda memercayai orang itu begitu saja? Tanpa bertanya-tanya atau menemui saya terlebih dahulu?" Suaraku nyaris merengek. Kepalaku agak berat dan aku agak kepanasan—walaupun udara di luar dingin dan tidak ada pemanas di sekitar sini.
Mengerutkan kening sambil berpikir, Dr Dumbledore menjawab. "Harus kuakui anak itu memang meyakinkan. Dia termasuk siswa yang bisa dan biasa dipercaya oleh guru, jadi aku tidak ragu-ragu saat memasukkan namamu ke daftar itu." Dr Dumbledore mendesah. "Kuakui itu memang kesalahanku."
Napasku berat ketika aku menghembuskannya lewat hidung, berusaha menjernihkan kepala. Aku harus segera membereskan masalah ini secepatnya. Aku harus menghapus namaku dari daftar itu, entah bagaimana caranya. Ketua OSIS berada di luar jangkauanku. Asisten Guru, mungkin aku bisa menanganinya—tapi Ketua OSIS merupakan perkara lain.
"Sir, saya tidak bisa melakukannya," ujarku dengan suara lelah. "Saya tidak ingin kekuasaan. Saya tidak berpengalaman."
Senyum Dr Dumbledore membuat perasaan jengkel merayap di tubuhku. Tentunya ini masalah serius kan? Kau tidak bisa memaksa orang untuk mengambil tanggung jawab pula Dr Dumbledore. Tidak peduli dia sudah tua, bijak, bepengalaman, terkenal, disegani atau punya jenggot panjang yang legendaris.
"Mr Malfoy, kusarankan kau mendinginkan kepalamu dulu dan berpikir ulang mengenai keputusanmu itu," ujar Dr Dumbledore dengan sikap kebapakan yang makin membuatku tidak senang. "Kau jelas sedang tidak berpikiran jernih saat ini."
Pikiranku memang sedang agak kacau saat ini, tapi bukan berarti aku tidak tahu apa yang sedang kulakukan. Aku tahu persis apa yang kulakukan. Dan Dr Dumbledore membuatnya tidak mudah.
"Tidak, Sir. Saya tahu apa yang saya lakukan dan saya tidak menginginkan ini," ujarku, memasang tampang memohon terbaikku. "Please, Sir. Lakukan apa saja agar nama saya tidak ada di sana. Sebelum semua orang mengetahui hal ini."
Bisa dibilang Dr Dumbledore takjub melihatku. "Mr Malfoy, apa kau yakin? Aku tidak tahu apakah—"
"Saya yakin sekali, Sir. Tolonglah saya. Saya tidak mau murid-murid lain tahu saya menjadi calon Ketua OSIS."
Dr Dumbledore menghela napas. "Kau bisa saja mengundurkan diri sekarang, Mr Malfoy. Tapi kurasa sudah terlambat untuk menyembunyikan ini dari murid-murid HHS yang lain."
Aku terperangah. "Ken—kenapa begitu, Sir?"
"Karena pengumuman itu juga dipasang di Hogwarts Gossip," tutur Dr Dumbledore, menyesal. "Dan majalah itu terbit hari ini. Mungkin sekarang sudah tersebar."
Lututku lemas. Dadaku serasa penuh dengan rasa kecewa. Tidak, mereka tidak boleh tahu. Aku belum siap. Aku tahu Ketua OSIS juga berarti mereka harus siap dibicarakan, menjadi buah bibir. Mereka harus kebal dan tahan banting. Aku tidak mau. Tidak, tidak—
Aku menatap mata Dr Dumbledore. Dia balas menatapku dengan rasa simpatik. Well, paling tidak dia mengerti maksudku. Atau dia sebenarnya tidak mengerti? Atau dia hanya memasang wajah begitu karena tahu apa yang kuharapkan darinya?
"Dr Dumbeldore," suaraku tak lebih dari bisika lirih yang tidak enak didengar. "Si—siapa orangnya yang—yang mengatakan pada Anda saya menginginkan jab—jabatan itu?"
Dr Dumbledore mengeryit dalam sementara ia berusaha mengingat. "Yang jelas perempuan," gumamnya. "Rambutnya cokelat. Tunggu—aku bisa mengingatnya. Oh! Miss Granger." Dr Dumbledore menatapku dengan sorot mantap. "Miss Hermione Granger yang mengatakan itu padaku."
-oOo-
Benar kata Kepala Sekolah tua itu. Hogwarts Gossip sudah menyebar ketika aku berlari sepanjang koridor menuju kafetaria. Para siswa membacanya dengan antusias, mencermati setiap rubrik di sana. Tapi kelihatannya belum ada yang mendiskusikan daftar calon Ketua OSIS. Atau tidak di depanku, setidaknya.
Mataku menyapu kafetaria dua kali, sebelum menemukan sosok Granger. Dia duduk di sebuah meja bundar di pinggir kafetaria, dekat dengan jendela yang menghadap bukit tempat Ravenclaw Resident berada. Sedang memakan sepotong roti sambil tertawa-tawa, kelihatannya malah hampir tersedak. Kakiku membawaku ke sana nyaris tanpa kusadari. Aku hampir saja menabrak seorang gadis kecil berhak tinggi kalau aku tidak mengerem di saat-saat terakhir.
Tak peduli dengan orang lain yang berada di meja itu, aku langsung memanggil Granger begitu sampai. Granger mendongak, tampak terkejut. Senyumnya merekah begitu menyadari keberadaanku. Beberapa kepala menoleh untuk melihatku, tapi aku nyaris tidak melihat mereka. Tatapanku hanya pada Granger sementara pikiranku kacau balau.
"Granger, aku ingin bicara denganmu," desakku. "Sekarang."
Granger sudah membuka mulut hendak menjawabku, tapi kata-katanya dipotong dengan tidak sopan oleh salah satu orang di sana.
"Siapa kau?"
Dengan satu kerlingan singkat dan tak peduli, aku menyadari bahwa yang baru saja bicara adalah Ron Weasley. Cara bicaranya mirip dengan Ginny, walaupun kedengaran lebih kasar dan tidak bersahabat.
Aku mengabaikannya, menunggu jawaban Granger.
"Granger." Aku berusaha memasukkan semua perasaan panikku ke sana, supaya Granger mengerti betapa aku butuh dia. "Sekarang."
Granger—yang entah bagaimana bisa mengerti kebutuhanku—bangkit berdiri diiringi dengan pertanyaan heran Ron Weasley.
"Mau ke mana, Hermione?" Pandangannya jatuh padaku dengan ekspresi bingung dan heran. "Kau mau mengikuti dia?"
Granger mengangguk. "Tidak akan lama, Ron."
Granger mengikutiku berjalan menuju pintu masuk kafetaria. Walaupun pembicaraan kami tak sepenuhnya tidak terdengar, paling tidak beberapa orang di sana tidak terlalu ingin menguping. Toh tidak enak juga menguping pembicaraan orang yang merengek-rengek dan marah-marah—yang dalam hal ini adalah aku.
Sebelum ia bertanya, aku sudah menyemburnya duluan. Katak-kataku pedas dan penuh emosi.
"Apa yang, demi Tuhan, akan kau katakan tentang aku menjadi salah satu calon Ketua OSIS?"
Granger tampak kaget, tapi ia segera menguasai diri. "Oh, er—selamat?" Bahkan ia kelihatan ragu-ragu.
"Kau tahu maksudku." Aku tak bisa menghilangkan nada menuduh dalam suaraku. "Mengapa kau—kau melakukan itu? Aku tidak pernah bilang mau menjadi Ketua OSIS, Granger!"
Granger kelihatan takut sekaligus menyesal. "Kupikir kau—kau bilang sendiri padaku kalau kau tertarik dengan jabatan itu. Maka aku mengatakannya pada Dr Dumbledore."
Aku menatapnya frustasi. "Kenapa kau mengatakannya?"
Granger merona salah tingkah. "Ka—karena aku tahu kau tidak akan mengatakan keinginanmu pada Dr Dumbledore."
Apakah masuk akal jika aku menarik rambutku sendiri dan menyumpah-nyumpahi Granger sambil menunjuk-nunjuknya dengan dramatis? Tentunya aku tidak bisa menarik-narik rambutku dan menunjuk-nunjuk Granger tanpa terlihat tidak waras.
"Aku bermaksud memikirkannya, Granger," sahutku lelah, jengkel sampai ubun-ubun. "Bukankah sudah kubilang padamu? Kau ingat kan?"
"Aku ingat. Tapi, yah, kau tahu kan." Granger bergerak salah tingkah. "Untuk tahun ini pemilihan Ketua OSIS didahulukan sebelum pemilihan Presiden HHS. Jadi kau tak punya banyak waktu—"
"Well, paling tidak kau kan bisa mengkonfirmasikan padaku dulu," hardikku tajam. Samar-samar aku ingat kalau hanya beberapa bulan yang lalu aku tidak berani membentak-bentak Granger. "Dr Dumbledore bilang kau bilang padanya pada hari pertama masuk. Nah, setidaknya hari kedua kau bisa memberitahuku!"
Bibir bawah Granger bergetar, siap menangis. "Aku tidak kepikiran itu," akunya dengan suara pelan dan mengibakan.
Tapi aku sedang dilanda rasa kalut yang begitu parah sehingga tak memedulikannya sama sekali. "Sekarang sudah dua minggu sejak hari pertama masuk dan orang yang pertama kali memberitahuku bahwa aku masuk daftar calon Ketua OSIS adalah May Morra! Calon Ketua OSIS yang ambius dan setengah sinting itu sendiri!"
"Oh, Draco," ujar Granger, suaranya bergetar. "Aku minta maaf. Aku sungguh, sungguh minta maaf. Aku menyesal. Seharusnya aku tidak melakukan itu tanpa bicara denganmu. Katakan padaku apa yang bisa kulakukan untuk menebusnya."
Aku mendegus mengejek, sakit hati. Granger langsung menangis di depanku dan kemarahanku yang menggebu-gebu tadi langsung berkurang banyak. Dunia ini tidak adil. Aku seharusnya tidak boleh luluh begitu saja hanya karena Granger tampak mengibakan.
"Aku ingin namaku dihapus dalam daftar itu sebelum orang-orang mengetahuinya," kataku. Berusaha sekuat tenaga untuk bersikap dingin, tapi tidak terlalu berhasil. "Dan asal kau tahu saja, daftar itu juga ada di Hogwarts Gossip."
"Kalau begitu aku akan menghapusnya sekarang! Aku akan mencabut kertas pengumuman itu dan menyita semua Hogwarts Gossip di sekolah ini," sahut Granger cepat, bersungguh-sungguh.
Aku memberinya tatapan menilai. Granger benar-benar akan melakukan itu? Aku yakin ia bisa saja langsung mencabut pengumuman di papan pengumuman, tapi aku sangsi ia bisa menyita semua Hogwarts Gossip. Tak peduli betapa populer dan terkenalnya dia, Hogwarts Gossip adalah satu-satunya karya sekolah yang begitu dihargai dan disayangi semua siswanya.
Belum sempat aku mengatakan apa-apa, ada yang memanggil namaku.
"Dra—Draco Malfoy?"
Ini kedua kalinya aku disela dalam percakapanku dengan sesorang pada hari ini. Kalau tadi aku merasa terselamatkan, sekarang rasanya aku ingin marah-marah dan menyumpah-nyumpah siapa pun yang memanggilku.
Berdecak sebal keras-keras, aku melihat segerombolan murid-murid cewek-cowok yang semuanya memakai kacamata—dan kelihatan culun. Aku bisa melihat bahwa mereka adalah anggota-anggota dari salah satu Klub-Klub sekolah. Bisa dilihat bahwa mereka termasuk Klub untuk orang-orang nerds—yang bisa bergaul. Karena setidaknya mereka mempunyai komunitas. Dulu aku pernah berpikir untuk bergabung dengan klub ini, tapi baru kusadari bahwa aku tidak bisa berhadapan dengan teman-teman baru.
Mungkin saking marah dan jengkelnya, aku sama sekali tidak tertarik untuk menjadi culun dan gagap seperti biasa. "Ada apa dengan kalian?" tanyaku setengah menggertak.
Cowok paling depan—sepertinya pemimpin mereka—mengkeret begitu aku bicara. Tapi ia tetap melanjutkan atas nama klubnya. Ia menegakkan punggungnya dan berjalan mendekat. Ia juga berkacamata, bahkan bentuk kacamatanya lebih besar dan ketinggalan jaman dibandingkan punyaku.
"Aku Dill Redwood. Kami dari Klub Pecinta Buku," ujarnya dengan kaki gemetar.
Oh, yang benar saja. Mau apa mereka ini. "Lalu?"
Redwood makin menciut menerima jawabanku yang lumayan kasar—walaupun aku tidak peduli. "Ka—kami mau memberitahumu bahwa ka—kami—"
Salah seorang cewek berambut cokelat terang dan lumayan gemuk menepuk pundak Redwood dan menunjuk dirinya sendiri. Redwood mengangguk cepat-cepat sementara si cewek segera maju ke depan dan tersenyum lebar padaku.
"Selamat siang, Mr Malfoy," sapanya, sopan dan resmi. Ia mengulurkan tangannya yang gempal. "Namaku Val Figlestone, aku perwakilan dari Klub Pecinta Buku."
Aku nyaris saja memutar bola mata kalau Figlestone tidak buru-buru melanjutkan.
"Kami—kami baru saja melihat salah satu rubrik di Hogwarts Gossip." Figlestone buru-buru merogoh tasnya dan mengeluarkan Hogwarts Gossip yang masih licin. "Dan—kami mendapati bahwa kau menjadi salah satu calon Ketua OSIS—"
Ia membuka halaman yang dimaksud dan membaliknya sehingga halaman itu menghadap padaku. Terdapat fotoku di sana—kalau aku tidak keliru diambil saat kami berada di pesta. Bagaimana aku bisa tidak sadar aku sedang difoto? Di foto itu, aku sedang bersandar ke salah satu meja sambil memejamkan mata. Ada kerutan kecil di dahiku saat itu. Satu tanganku memegang botol soda, sementara tangan yang lainnya masuk ke saku celana dalam-dalam. Ada artikel dengan dua paragraf di bawah foto itu. Di atasnya, terdapat tulisan; Draco-Oh-Beautiful-Nerd-Malfoy.
Bloody damn shit!
Tak tahan, aku mengerling sadis pada Granger. Ekspresinya agak datar, ada senyum kecil di ujung bibirnya. Aku langsung tahu bahwa ia sudah menemukan dan membaca rubrik itu. Aku langsung sewot dan berhasrat untuk menendang sesuatu.
"Lalu apa yang—"
"Kami hanya ingin mengatakan," potong Figlestone, tersenyum senang dengan mata berbinar-binar. "Bahwa kami akan memilihmu sebagai Ketua OSIS. Kami—Klub Pecinta Buku—mendukungmu saat pemilihan nanti seratus sepuluh persen, apa pun yang terjadi."
Aku memberinya tatapan tajam, menilai apakah dia bersungguh-sungguh. Figlestone menyambut tatapanku malu-malu. Begitu wajahnya sudah merah semua, aku mengalihkan pandang. Menegakkan diri, aku berkata dengan nada menuduh dan marah pada Granger—yang tersenyum geli melihat perubahan wajah Figlestone.
"Ini semua akibat dari perbuatanmu."
Lalu aku masuk ke kafetaria, mencari Theo.
-oOo-
Besoknya, berita sudah terlalu terlambat untuk ditarik lagi.
Walaupun belum waktunya kampanye, semua orang mulai mencari informasi tentang tiga calon Ketua OSIS itu. Dalam perjalanan menuju kelas pertamaku pagi ini, aku sudah dihadang oleh lima orang dan dua klub yang memberiku pertanyaan aneh-aneh yang membuatku malu. Totalnya, ada sekitar tiga belas orang yang bertanya sarapan apa aku pagi ini.
Ketika sedang berjalan menuju kelas selanjutnya pada siang hari, aku dihadang dengan seorang cowok dengan rambut cokelat seperti tikus, selalu tersenyum dengan bintik-bintik jerawat di sekitar pipinya. Ia memperkenalkan diri sebagai Gerald Duncan. Tidak seperti May Morra yang ambius dan terkesan mampu membunuh seekor kucing hanya dengan kerlingan mata, Duncan lebih menyenangkan dan bersahabat. Ia juga datang dengan alasan—
"Aku hanya ingin mengenal lawan-lawanku," kekehnya santai.
Tak berapa lama kami malah sama-sama membicarakan May Morra.
"Dia mendatangiku duluan dan mengatan sesuatu seperti 'Duncan, aku siap menghabisimu'," keluh Duncan, bergidik. "Dia cewek mengerikan! Tidak seharusnya mereka membiarkan seorang seperti Morra memimpin OSIS HHS. Semua siswa bisa beku hanya dengan satu jentikan jarinya."
Pada akhirnya kami berhenti bicara dan memisahkan diri ketika melihat Morra di ujung koridor. Rambut pendeknya menutupi sedikit wajahnya, membuat kami merinding. Matanya menatap kami dari sela-sela helai rambutnya, seolah siap menerkam kami kapan saja.
Aku berpikir, kalau belum mulai saja sudah separah ini, bagaimana dengan waktu pemilihan nanti? Tahun lalu, pemilihan begitu rusuh dan tidak tertib. Banyak kecurangan di sana-sini. Aku jelas tidak mau repot-repot berbuat curang karena aku memang tidak mau menjadi Ketua OSIS. Duncan kelihatannya terlalu bersahabat dan lembut hati untuk melakukan tindakan kriminal. Satu-satunya yang patut dicurigai hanyalah Morra. Tapi kelihatannya Morra punya ilmu gaib yang membuat orang memilihnya tanpa berbuat curang.
Tunggu—tapi bukankah itu termasuk curang juga? Maksudku, lihat saja caranya memandang kami. Seolah ia sanggup melahap aku dan Duncan kalau kami menang di pemilihan nanti.
Theo menerima berita ini tanpa banyak bicara. Tapi aku beruntung dia tidak pingsan di tempat. Setelah mengetahui cerita lengkapnya, dia malah hendak menyalami Granger dan menyuruhku bersyukur karena ada orang yang mau bersusah payah memberikanku kesempatan untuk berkembang. Begitu aku mengutarakan alasanku, Theo langsung marah-marah.
"Malfoy, kau ini bodoh tahu!" serunya ketika sekolah hari ini berakhir. "Dr Dumbledore sudah memberimu kesempatan, Granger sudah memberimu kesempatan, tapi kau malah bercuap-cuap tidak mau!"
Aku terlalu malas untuk menyahutinya.
"Seharusnya kau bersyukur! Lihat orang-orang yang telah memberimu dukungan. Bahkan sekarang belum masa kampanye, tapi kau sudah menarik perhatian publik. Lagi pula, apa kau tahu yang ditulis dalam Hogwarts Gossip?" ujar Theo, panas karena tidak mendapat respon positif dariku. "Mereka mengatakan kau adalah terobosan baru! 'Seorang Ketua OSIS yang pendiam dan tampan di masa periode mendatang akan membawa sebuah era baru di HHS', begitu tulisannya. Aku tidak yakin soal kau pendiam, tapi di mata masyarakat kau memang tampan!"
Aku mengerling dengan perasaan aneh di punggung dan hatiku. Apakah aku salah dengar atau Theo baru saja menyebutku tampan? Yah, walaupun dia mengatakannya dengan tekanan kuat pada kata 'di mata masyarakat'.
Theo kelihatannya sama sekali tidak memperhatikan. "Kalau aku jadi kau, aku akan berterima kasih pada orang-orang yang dengan sukarela mau meluangkan waktu mereka untuk memperhatikanku. Astaga, Draco. Saat aku diangkat menjadi Kapten Voli, orang-orang tidak memperhatikanku seperti ini. Padahal aku adalah Kapten Voli termuda sejak HHS didirikan! Dan HHS sudah didirikan bahkan sebelum Inggris ada."
Oke, Theo mulai melebih-lebihkan. Inggris sudah ada sejak entah kapan dan HHS akan merayakan ulang tahunnya yang ke lima puluh sekian bulan April nanti. Tentu umur Inggris tidak semuda itu kan? Dan, ah, ya. Kapten Voli termuda. Aku sudah dengar ini ratusan kali—dari mulut Theo sendiri.
"Dan kau bahkan tidak berterima kasih sama sekali! Dasar tidak tahu diri!" gertak Theo.
Aku menoleh sewot. "Kau tidak mengerti, idiot. Kalau kau tidak mengerti, lebih baik tutup mulut.
"Nah, masalahnya adalah aku mengerti! Jadi aku tak akan tutup mulut."
"Bedebah kau." Aku mengutuk dengan emosi.
Sumpah balasan Theo tidak pernah terdengar karena seorang cewek yang memperkenalkan diri sebagai Parvati Patil memintaku melakukan wawancara sebentar—wawancara yang jelas untuk Hogwarts Gossip edisi berikutnya. Senyumnya begitu berharap dan anehnya, genit. Aku sebenarnya ingin cepat pulang dan makan siang. Mum memasak sup hari ini karena suasana hatinya sedang bagus. Aku menolaknya tanpa berusaha untuk terdengar sopan. Tapi Theo tidak sependapat denganku.
"Draco ini suka malu-malu," ujar Theo pada Patil yang memandangku dengan penuh harap. "Dia tidak biasa—er, ditanya-tanya tentang kehidupan pribadinya."
Patil langsung menyambut kata-kata Theo dengan suka cita. Lupa kalau tadi aku sudah bilang tidak dengan begitu kasar dan tidak menyenangkan.
"Oh, ini bukan tentang kehidupan pribadi," kata Patil ceria. "Aku hanya akan bertanya seputar pencalonanmu menjadi Ketua OSIS. Kau boleh mengusirkukalau aku mulai bertanya tentang hal pribadi."
"Baguslah kalau begitu!" kata Theo bersemangat, mengabaikan pelototan garangku. "Silahkan ambil waktumu, Parvati. Aku akan menunggu di sini."
Pada akhirnya aku meninggalkan mereka berdua. Tiba-tiba aku merasa marah pada semua orang tertangkap mataku. Patil berteriak-teriak sesuatu tentang, "Kalau tidak bisa sekarang, bisa kapan-kapan, Malfoy! Aku siap jika kau siap!"
Aku tidak mau, bukan tidak siap. Itu beda.
-oOo-
Satu minggu menjelang kampanye dimulai. Hidupku tak akan pernah sama. Tak akan pernah tenang lagi.
Samar-samar aku menyadari, semua perubahan ini terjadi tepat saat Granger memutuskan untuk bicara padaku di koridor loker untuk mengajakku bergabung dengan Klub Jurnalistik. Saat itu aku masih culun, penggugup dan menyedihkan. Tak ada yang memperhatikanku sama sekali. Bahkan melirik dua kali saja tak ada. Seolah aku transparan, kasat mata. Tidak dipedulikan sama sekali.
Dan lihatlah aku sekarang. Benar-benar terkenal seperti selebriti gadungan. Aku bahkan tak bisa mengacak rambutku dengan frustasi tanpa ada yang menanyakan apakah aku baik-baik saja atau mengatai-ngataiku. Aku masuk dalam rutinitas sekolah yang membuatku takjub sekaligus jengkel setengah mati.
Setiap pagi aku akan dihadang paling tidak lima siswa dengan tiga jenis yang berbeda sebelum masuk kelas pertamaku.
Pertama, para wartawan gadungan dari berbagai majalah sekolah, radio atau mading yang mati-matian berusaha membuatku bicara—berusaha menguak rahasia pribadiku dengan kedok memberitakan ambisi-ambisiku menjadi Ketua OSIS. Biasanya aku akan mengatupkan mulut rapat-rapat dan hanya membukanya untuk mengatakan sesuatu seperti, "Permisi, aku mau ke kelas Matematika." –walaupun aku tidak pergi ke kelas Matematika. Ini biasanya ampuh—karena tidak ada orang yang tidak takut dengan kebengisan dan kekejaman Miss Vector. Mereka akan meninggalkanku walau dengan berat hati dan pandangan yang mengatakan bahwa mereka berjanji pada diri sendiri akan kembali memberiku pertanyaan-pertanyaan menjebak yang entah bagaimana akan berujung dengan pengetahuan bahwa kucingku bertelur, bukan melahirkan. Bukan berarti aku punya kucing dan berpikir bahwa mungkin saja kucing bertelur.
Kedua, siswa-siswa kelas dua belas yang terancam tidak naik kelas. Mereka biasanya akan meminta keadilan seperti nilai minimal kenaikan kelas yang tidak terlalu tinggi atau peraturan tentang waktu belajar yang sedikit dilonggarkan. Mereka selalu mengerikan dan sanggup menggebukiku sampai babak belur kalau aku berani tidak menyetujui mereka. Terus terang kukatakan bahwa kekuasaan Ketua OSIS tidak sampai seperti itu. Awalnya mereka menunjukkan gelagat seolah mereka akan memukulku, tapi begitu kukatan kalau itu termasuk kekuasaan Presiden HHS, mereka langsung berhenti dan memutuskan untuk menunggu calon-calon Presiden HHS. Aku menyadari bahwa banyak sekali anak-anak yang seperti ini, orangnya selalu berbeda tiap pagi. Semoga semua calon-calon Presiden HHS selamat sampai lulus.
Ketiga, sekelompok gadis yang hobi mengikik dan mengerjapkan mata. Mereka yang paling mengerikan, sekaligus menggelikan. Mereka berkumpul di sekitar lokerku. Aku—yang setiap pagi harus pergi ke loker untuk mengambil buku dan barang-barang—sampai sekarang belum menemukan cara supaya bisa menyingkirkan mereka secara permanen. Cewek-cewek itu terkikik satu sama lain melihatku berjalan, kemudian menanyakan sesuatu seperti, "Apa kabar, Draco?" atau "Tidurmu nyenyak tadi malam, Draco?" atau "Kemeja yang bagus, Draco. Di mana kau membelinya?" dan pertanyaan sejenis yang sebisa mungkin kujawab dengan sopan. Biasanya ditambah senyum kecil kalau sedang ingin, tapi seringnya aku tidak ingin—karena mereka hampir selalu membuatku mual. Kemudian setelah aku berurusan dengan lokerku yang cukup berantakan—karena aku selalu berusaha cepat untuk menghindari mereka—cewek-cewek itu akan melambai dan mengucapkan salam perpisahan seperti, "Bye, Draco!" atau "Aku yakin kau sudah pintar walaupun tidak belajar, Draco!" atau "Draco, kalau kau butuh bantuan, kami siap membantumu!"
Tapi May Morra tidak peduli menggelayutiku atau meniupkan ciuman jauh untuk membuatku ngeri. Dia cukup berdiri di dekatku dengan rambut hitam terurai di sekitar wajah dan menatapku dengan matanya yang mengerikan. Para cewek yang mengerumuniku berbisik-bisik dan menunjuk-nunjuk Morra dengan ekspresi jijik. Morra mengabaikan mereka sama sekali. Tujuannya hanya aku.
"Kita harus berpidato di auditorium hari Selasa besok," ujarnya datar sebagai ucapan salam, matanya menyala-nyala. "Sebagai pembukaan masa kampanye."
Saking kagetnya, aku lupa kalau aku takut padanya dan melupakan rasa sebal karena dari tadi dikelilingi cewek-cewek berisik. "Dari mana kau tahu? Mengapa tak ada yang memberitahuku?"
Morra tersenyum kering. "Kebetulan hanya aku yang bertemu Madam McGonagall hari ini. Beliau memintaku memberitahukan ini padamu dan Duncan."
Aku menatapnya gelisah. "Apa yang harus dipidatokan?"
Morra mengangkat bahu, tidak peduli. "Banyak. Nah, sekarang aku mau masuk kelas Bahasa Inggris dan mempelajari cara-cara berpidato yang benar karena aku siap menghabisimu dan Duncan."
Dengan seringai hambar dan samar yang membuatku hilang semangat, Morra melenggang pergi. Para gadis langsung menjauh memberi jalan untuknya, seolah dia berpenyakit menular.
Tanpa sadar—seolah memang sudah seperti kebiasaan—orang yang pertama kali kujumpai untuk kuberitahu adalah Theo. Sebalnya adalah, bukannya membantu, ia malah ikut-ikutan freak out dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Apa yang akan kau katakan pada mereka?" ujar Theo ngeri.
"Mungkin aku bilang saja kalau aku memang tidak mau menjadi Ketua OSIS dari awal," jawabku suram.
Theo membetulkan letak tas di bahunya ketika ia berpikir. "Kurasa kita tinggal cari orang yang bisa membuatkan pidatomu. "
"Tapi pasti orang itu akan menuliskan hal-hal yang kurang lebih menceritakan tentang betapa aku ingin menjadi Ketua OSIS," aku mengingatkan.
"Yah, tinggal kita cari orang yang mengerti keadaanya kan?" Ekspresi Theo menunjukkan bahwa ia sudah memikirkan siapa orang yang dimaksud.
Aku menatapnya. "Aku tidak suka ekspresimu."
"Yeah?" Theo menyeringai lebar. "Baiklah. Temui aku di pintu depan saat pulang sekolah nanti."
"Hey!" protesku ketika Theo pergi mengambil jalan yang berlawanan denganku. "Mau apa kau?"
Theo menoleh dan memasang wajah terganggu. "Mau kubantu atau tidak?"
Sebelum aku sempat menjawab, Theo sudah berbelok dan menghilang dari pandangan. Menggerutu panjang-pendek aku segera menuju kelas Biologi, mengira-ngira siapa yang mau-mau saja disuruh-suruh Theo membuat pidato. Kemungkinan cewek—karena hanya cewek yang mau melakukan apa saja untuk Theo hanya dengan melihat senyumnya.
Aku menghela napas keras-keras. Kuharap Theo memilihkan cewek yang setidaknya mengetahui susunan pidato yang benar.
-oOo-
Mungkin saya perlu bilang kalo fic ini fokusnya di Draco. Bukan Dramione. Itu yang bikin ending fic ini kemungkinan besar bukan happy ending (tapi ini masih bisa berubah, jadi simpen dulu Avada Kedavra kalian buat saya)
Memang awalnya mau rencana update besok Minggu, tapi ternyata gak bakalan sempet karena pagi-pagi saya harus ke sekolah untuk ikut latihan kepemimpinan OSIS. Walopun Draco bukan OSIS tap bisa dicalonkan jadi Ketos, saya ini udah lama jadi anggota OSIS tapi gak pernah dicalonkan jadi Ketos. Sebenernya emang gak tertarik juga sih.
NAH, karena besok (7 Juli) adalah ulang tahun saya yang ke 1*, saya minta review yang banyak dari para pembaca! Saya tahu ada dari kalian-kalian ini yang cuma jadi silent reader, harap-harap cemas kapan saya update tapi ngga bilang...(karena saya sering kayak gini juga, mohon maklum)
Sampai ketemu di chap selanjutnya!
DarkBlueSong
