Note : seperti janji Moya ! ini adalah bonus untuk Please don't #azek semoga suka. Oya ini 11 tahun setelah cerita chap kemaren.

Chapter bonus : Happy Ending

Pernah mendengar pepatah everything will be okay in the end. If it's not okay, it's not the end. Bisa dikatakan semua kisah pasti memiliki akhir yang bahagia, jika tidak maka itu bukanlah sebuah kisah yang sebenarnya, dikehidupan nyatapun kita juga pasti menemui kebahagiaan setelah kita melewati cobaan bukan. Jadi boleh kukatakan bahwa tidak ada yang namanya sad ending, karna cerita itu harusnya berakhir dengan bahagia, tidak peduli seberapa beratnya jalan cerita yang kita tulis, dia harusnya memiliki akhir yang bahagia. Menurutku begitu, kalian boleh satuju atau tidak.

"Naluchi-nii kembalikan boneka lubahku ~ !"

Rengekan itu berasal dari seorang balita bersurai pirang dengan manic onyx yang segelap malam.

"tidak mau ! Maluchi-chan cali mainan lain saja."

Balas seorang balita lain yang memiliki surai raven dengan sepasang iris safir yang mengingatkan kita pada dalamnya lautan.

"tapi Maluchi mau main boneka rubah."

Balita itu tampak tidak menyerah.

"Naluchi-nii ~"

Balita raven itu tidak menyahut.

"Naluchi-nii !"

Tetap tidak ada jawaban.

"hiks hiks huweee kaa-chan Naluchi-nii jahat !"

Suara tangisan balita pirang itu pecah seketika. Dengan tergopoh seorang wanita langsung berlari kearah kedua balita tersebut.

"sst ada apa sayang ?"

Tanya wanita itu pada si balita pirang.

"Naluchi-nii tidak mau meminjamkan boneka lubah itu, padahalkan Maluchi mau main sama boneka lubah."

Wanita itu menghela nafas, kadang dia kerepotan sendiri menghadapi dua anak kembarnya ini. Walaupun mereka kembar tapi sifat mereka bertolak belakang. Jika Naruchi selalu cuek dan suka berbuat seenaknya, maka Maruchi akan lebih cerewet dan juga cengeng. Karna itulah tidak jarang Maruchi menangis karna keusilan Naruchi. Tapi walaupun begitu, mereka malah terlihat sangat akur dengan saling bertengkar seperti ini.

"Tadaima !"

Suara seorang laki-laki membuat dua balita itu langsung berlari kearah pintu, keduanya langsung memeluk laki-laki raven itu dengan erat.

"Tou-chan ! okaeli !"

Balas kedua balita itu kompak. Wanita itu tersenyum melihat ketiga orang itu. Dia lalu berjalan mendekat dan menerima tas yang di bawa oleh suaminya tersebut.

"Tadaima Ruko-chan."

˥[Ͼ_Ͽ]Γ (/∏,∏\) ˥[Ͼ_Ͽ]Γ

"Sousuke bisa bantu tou-san sebentar."

Remaja yang berusia kurang lebih sebelas tahu itu langsung berjalan menghampiri tou-sannya.

"anak pintar."

Sasuke mengacak pucuk rambut putra tunggalnya.

"jadi tou-san mau minta tolong apa ?"

Sasuke menyerahkan sebuah kain lap pada Sousuke.

"bisa tolong bersihkan perabot diruangan ini ?"

Sousuke mengangguk. Dia langsung melakukan apa yang diperintah tou-sannya tanpa sibuk membalas ucapannya. Tipe pendiam, sama seperti tou-sannya.

"nanti sore kita akan menjemput jii-san. Dan dia akan tinggal bersama kita."

Sousuke mengangguk tanpa suara. Pasti menyenangkan, batinya.

"apa kau senang ?"

Sousuke menghentikan pekerjaannya.

"uhm, aku senang sekali."

˥[Ͼ_Ͽ]Γ (/∏,∏\) ˥[Ͼ_Ͽ]Γ

"tou-san sudah semakin tua ternyata."

Fugaku terkekeh mendengar ucapan Sasuke yang menurutnya sangat tepat sasaran. Dia memang sudah sangat tua sekarang.

"Yasashiburi jii-san."

Fugaku mengacak surai raven Sousuke gemas. Dia bahkan sudah memiliki tiga cucu saat ini. Sousuke dari Sasuke, dan si kembar Naruchi dan Maruchi dari Itachi.

"Sousuke-chan, Yasashiburi na."

Sousuke mengerucutkan bibirnya. Kenapa jii-san suka sekali memanggilnya dengan suffix 'chan', diakan tampan bukan imut.

"aku bukan perempuan jii-san. Jadi berhenti memanggilku begitu. Itu tidak keren tahu."

Kali ini Sasuke yang tertawa mendengar ucapan anaknya, apa dia tidak salah dengar, anaknya yang selama ini pendiam, sekarang merajuk hanya karna dia dipanggil dengan suffix chan oleh kakeknya sendiri.

"mana Sakura-c han ?"

Sasuke tidak langsung menjawab.

"kaa-chan sedang pergi ke Kyoto, katanya dia ingin menjenguk jii-san yang sedang sakit."

Dan ini adalah hari ke empat puluh dia harus tinggal di rumah tanpa Sakura. Apa gadis musim semi itu tidak tahu kalau dia sangat merindukannya. Baru kali ini dia sangat benci dengan kenyataan bahwa ayah mertuanya itu sangat manja kepada Sakura, apa dia tidak tahu kalau Sakura sudah berkeluarga sekarang. Oke, kau terdengar seperti suami yang posesif Sasuke-san.

"yah sayang sekali, padahal jii-san sangat ingin bertemu dengan kaa-sanmu."

Aku yang lebih merindukan istriku asal tou-san tahu.

˥[Ͼ_Ͽ]Γ (/∏,∏\) ˥[Ͼ_Ͽ]Γ

"Himari-chan ayo makan buburmu."

Bujuk seorang wanita lavender kepada balitanya yang sekarang sedang terkena demam.

"uhm pahit kaa-chan."

Hinata menghela nafas, kalau begini terus demamnya tidak akan sembuh.

"oh putri kecil tou-chan tidak mau makan ya ?"

Tanya seorang laki-laki pirang yang kini duduk disamping si gadis lavender.

"pahit."

Laki-laki itu memasang pose berpikir yang dibuat-buat.

"padahal kalau Hima-chan mau makan tou-chan mau mengajak Hima-chan ketaman bermain loh !"

Manic safir Himari berbinar. Taman bermain.

"tapi karna Hima-chan tidak mau makan yaudah tou-san ba –"

Himari langsung mengambil mangkok bubur yang dipegang kaa-sannya lalu memakannya dengan lahap. Membayangkan serunya bermain di taman bermain membuatnya lupa bahwa bubur itu terasa pahit di mulutnya.

"anak pintar."

Hinata tersenyum, laki-laki pirang ini memang cocok sekali menjadi tou-san. Tidak salah dia menerima lamarannya, walaupun dia tidak melamarnya dengan cara yang romantic tapi tetap saja kalau itu Naruto dia akan langsung menerimanya.

"nah setelah minum obat nanti Hima-chan tidur dulu, nanti sore kita akan ke taman bermain. Oke ?"

Himari mengangguk semangat.

"mimpi yang indah ya sayang."

Naruto mengecup dahi putri kecilnya itu. Dia sungguh tidak menyangka bahwa impiannya untuk bisa menikah dengan Hinata akan benar-benar menjadi kenyataan. Bahkan sekarang mereka sudah memiliki Hima-chan ditengah-tengah mereka, kebagiaan yang sempurna bukan.

"ne Hinata ayo kita keluar."

…..

"aku sangat merindukanmu Hinata."

Hinata terkikik geli saat melihat wajah kekanakan Naruto. Kemana perginya sosok tou-san yang baru saja dikaguminya itu.

"Padahal aku Cuma pergi satu hari."

Naruto langsung memeluk Hinata dengan sangat erat. Dia benar-benar merindukan wanita yang sudah memberikannya satu orang putri yang sangat cantik itu.

"aku benar-benar merindukanmu."

Ucap Naruto sambil menghirup aroma lavender yang menguap dari tubuh Hinata.

"ayolah Naruto-kun aku hanya menginap sehari saja di rumah Hanabi. Lagi pula dia memang sedang ada masalah kan, jadi aku harus menghiburnya."

Naruto menggerutu kesal. Dia tahu itu, tapi tetap saja tanpa Hinata sehari saja rasanya seperti setahun. Itu sungguh menyiksa.

"harusnya dia tahu kalau kau sudah punya suami. Dia tidak bisa terus bergantung padamu kan ?"

Hinata melepaskan pelukan Naruto, membuat laki-laki pirang jambrik itu menatap tidak rela pada Hinata.

"kau kekanakan Naruto-kun. Hanabi itu adikku satu-satunya kalau kamu lupa."

Dengan secepat kilat Hinata langsung mencium pipi kanan Naruto lalu berlari pergi menuju kamar. Samar-samar Naruto mendengar Hinata menggumamkan sesuatu sebelum dia benar-benar menghilang di balik pintu.

"aku juga sangat merindukanmu, Naruto-kun."

˥[Ͼ_Ͽ]Γ (/∏,∏\) ˥[Ͼ_Ͽ]Γ

"ini kamar tou-san. Anggap saja rumah sendiri."

Fugaku mengangguk, dia benar-benar beruntung memiliki anak sebaik Sasuke. Dia yang secara suka rela membiarkan orang tua ini tinggal di rumahnya. Awalnya Itachi yang menawarkan rumahnya tapi Sasuke terus bersikeras bahwa tou-sannya itu harus tinggal bersamanya. Dia juga ingin tahu bagaimana rasanya memiliki tou-san. Selama ini dia sangat sedih saat tahu dia tidak lagi memiliki tou-san, tapi saat dia tahu dia masih memiliki tou-san dia sangat senang, walaupun dia sedikit marah saat tahu bahwa tou-sannyalah yang membunuh ibunya, tapi sepertinya itu tidak bisa bertahan lama, keinginannya untuk dapat tinggal dengan tou-sannya lebih besar daripada rasa bencinya.

"aku akan kembali kekamarku. Tou-san istirahat saja dulu."

Setelah melihat anggukan dari tousannya, akhirnya dia pergi meninggalkan tou-sannya berberes-beres.

Kriet

Kenapa gelap sekali, apa listriknya mati.

'ceklek'

"surprise !"

Sasuke membulatkan matanya saat melihat sosok yang sudah sangat dirindukannya itu kini sedang berdiri dihadapannya, mengenakan gaun hitam pendek dengan perpotongan dada yang cukup rendah, memudahkannya untuk mengintip sesuatu yang menyembul dibaliknya.

Ceklek

Sasuke mengunci pintu kamarnya. Dia tidak mau Sousuke datang mengganggu. Walaupun itu adalah hal yang mustahi, tapi tidak ada salahnya untuk sedia payung sebelum hujan kan.

"apa kau merindukanku ?"

Sasuke tidak menjawab, dia hanya terus berjalan mendekat , hingga akhirnya jarak mereka hanya tersisa beberapa milimeter saja.

"kau ingin menggodaku hm ?"

Sakura menggeleng, tapi kedua tangannya kini sudah terkalung di leher Sasuke. Lain yang dia maksud lain pula yang dia lakukan.

"kau membuatku frustasi selama empat puluh hari ini. Dan kau harus membayarnya Sakura."

Sakura menggeleng. Tidak ada salahnya menggoda suami pendiamnya ini kan.

"kalau aku tidak mau ?"

Sasuke berseringai mesum.

"aku hanya tinggal memaksamu kan ?"

˥[Ͼ_Ͽ]Γ (/∏,∏\) ˥[Ͼ_Ͽ]Γ

"Ruko-chan sedang apa ?"

Itachi berjalan mendekat kearah Naruko yang masih sibuk memandangi hujan dari beranda kamarnya.

"aku baru tahu kalau hujan itu menakjubkan."

Itachi melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri.

"bagiku kau lebih menakjubkan."

Itachi menghirup aroma jeruk yang sangat ketara dari perpotongan leher Naruto.

"aku tidak tahu itu. Dari segi apa kau bisa bilang begitu."

Tangan Itachi mulai merambat keatas, membuat Naruto terasa lemas seketika.

"kau sudah membuatku jatuh cinta sebanyak tiga kali pada satu orang yang sama tapi dengan identitas yang berbeda. Apa itu tidak bisa disebut menakjubkan ?"

Naruko menyandarkan kepalanya di dada Itachi yang berada di belakangnya.

"ne Ruko-chan, boleh aku menutup jendelanya ?"

Naruko menangguk, sebelum akhirnya tubuhnya meringan karna Itachi yang menggendongnya ala bridal style dan membawanya masuk kedalam kamar mereka.

"Kaa-chan Maluchi tidul disini ya ? Naluchi-nii menyebalkan !"

Kedua orang dewasa itu langsung membeku ditempat saat melihat balita itu berdiri di depan kasurnya sambil membawa boneka rubahnya. Bagaimana cara dia bisa masuk.

"I-Itachi-san turunkan aku."

Protes Naruko sambil menggeliat tidak nyaman di gendongan Itachi.

"Luchi-chan kenapa kau meninggalkanku ? aku takut tidul sendili !"

Datang lagi seorang balita yang tampaknya sedang merajuk karna adiknya meninggalkannya sendiri di kamar mereka.

"habis Naluchi-nii menyebalkan !"

Naruko menggeleng. Kapan dua anak ini sekali saja tidak usah bertengkar.

"habis aku kan juga pengen tidul di atas."

Oh jadi itu masalahnya. Tempat tidur mereka memang disusun bertingkat. Dan biasanya Maruchi yang akan tidur diatas sedangkan Naruchi akan tidur di bawah.

"aku tidak peduli siapa yang mau diatas dan siapa yang mau dibawah, yang jelas cepat kalian berdua pergi dari kamar ini."

Desis Itachi tidak suka.

"ittai ! kenapa kau memukulku Ruko-chan ?"

Naruchi berjalan menghampiri adiknya.

"kau dengal itu, tou-san marah pada kita. Sekalang ayo kita cepat kembali ke kamal. Luchi-chan tidak mau tou-san malah kan ?"

Naruko terkejut melihat sifat dewasa Naruchi.

"uhm tapi Luchi boleh tidul diatas kan ?"

Naruchi mengangguk.

"yeay ! Luchi sayaaang Naluchi-nii !"

Setelah kepergian dua balita itu, dengan cepat Itachi mengunci kamar mereka. Dia tidak mau dua pengganggu itu kembali lagi. Dan dua pengganggu itu adalah anak-anakmu Itachi-san.

"kau berlebihan Itachi-san, mereka itu darah dagingmu loh !"

Itachi hanya mendengus tidak suka.

˥[Ͼ_Ͽ]Γ (/∏,∏\) ˥[Ͼ_Ͽ]Γ

Tok tok tok

Kriet

"Ohayou Ruk – are ? dimana kaa-chanmu ?"

Naruchi sendiri masih asik mengucek matanya. Membuat wanita bersurai merah itu langsung mencubit kedua pipinya karena gemas.

"hoam tidak tahu baa-chan, kamar kaa-chan dikunci."

Kushina berseringai mesum. Sampai mengunci pintu ya, aku penasaran apa saja yang mereka lakukan.

"lalu dimana Luchi-chan ?"

Tap tap tap

"hoaam siapa yang datang nii-chan ?"

Kelopak mata Maruchi berkedip lucu, sebelum akhirnya dia bisa mengenali siapa gerangan yang ada di depan rumahnya.

"baa-chan ! aitakatta !"

Maruchi langsung memeluk Kushina dengan erat.

"oh cucu baa-chan baru bangaun tidur ya ?"

Kedua balita itu mengangguk polos.

"oya baa-chan bawa ramen loh ! siapa yang mau ?"

"lamen !"

Seru keduanya senang, mereka langsung mengambil dua bungkus ramen yang di bawa oleh Kushina.

"dimana mereka ?"

Tanya Kakashi pada Kushina. Hey sejak kapan mereka saling mengenal.

"di kamar. Aku akan membangunkan mereka, kau temani dulu dua balita itu."

Tanpa mengatakan apapun, Kakashi langsung berjalan mengekori kedua balita yang sudah terlebih dahulu berlari menuju ruang makan.

"Naru-chan buka pintunya !"

Teriak Kushina sambil menggedor pintu kayu itu dengan sangat pelan (read:keras)

"eungh….jam berapa ini ?"

Tanya Naruko dengan suara serak. Tangannya menggapai jam yang berada di sampingnya.

"oh masih jam delapan."

Naruko langsung membuka kelopak matanya lagi.

"ARE ! SUDAH JAM 8 !"

Pekik Naruko panik. Diguncangnya tubuh sang suami yang sepertinya masih nyaman berkelana di dunia mimpinya.

"Itachi-san bangun !"

"Naru-chan buka pintunya !"

Naruko langsung bergegas mengenakan pakaiannya yang tercecer di lantai saat mendengar suara kaa-sannya dari luar kamar.

Sret

"apa lagi ? kita sudah kesiangan."

Desis Naruko saat dia melihat Itachi menahan pergerakan tangannya untuk memakai baju.

"morning kiss."

Dengan sangat tidak ikhlas Naruko mendekatkan wajahnya lalu mencium pipi Itachi dengan cepat, dia sungguh malu sekarang.

"hey aku maunya disini !"

Itachi langsung menarik tubuh Naruko agar menimpanya. Dan benar saja kini Naruko berada diatas tubuh Itachi. Tanpa menunggu aba-aba Itachi langsung mencium bibir Naruko yang selama ini berhasil menjadi candu untuknya. Awalnya hanya ciuman singkat, namun lama-kelamaan berubah menjadi ciuman yang agresif. Ah bisa kalian jelaskan kenapa baju Naruko sekarang tercecer lagi dilantai.

"Ruko-chan ! kalian tidak berniat untuk melakukan 'itu' lagi kan ?"

Grr ibu mertuanya itu sangat mengganggu.

Dengan tidak rela Itachi melepaskan ciumannya dan membiarkan Naruko mengenakan bajunya 'lagi'.

"kita bisa melakukannya lain kali, lagi pula jarang-jarang kaa-san berkunjung."

Ucap Naruko sambil tersenyum penuh arti.

"baiklah-baiklah aku menyerah !"

˥[Ͼ_Ͽ]Γ (/∏,∏\) ˥[Ͼ_Ͽ]Γ

"jadi –"

Kushina menatap Itachi dan Naruko secara bergantian. Dia sungguh tidak bodoh, dia tahu kalau dibalik syal yang melilit di leher Naruko itu pasti banyak tanda kepemilikan yang diberikan Itachi.

"berapa kali kalian melakukannya ?"

Naruko langsung terbatuk.

"Shina-chan jangan berbicara begitu di depan anak-anak."

Tegur Kakashi. Kushina hanya tertawa tanpa dosa.

"awalnya akan 4 ronde, tapi gara-gara kaa-san mengganggu kami jadi hanya 3 ronde."

Sahut Itachi polos. Naruko langsung menatap tajam kearah suaminya itu. Dia itu polos atau bodoh sih.

"apa ? aku hanya menjawab pertanyaan kaa-san kok !"

Astaga, dia sungguh kekanakan.

"kau juga ! kenapa menjawabnya ! apa kau tidak takut kalau otak anakmu akan tercemar hal-hal seperti itu !"

Kakashi menunjuk Itachi dengan emosi tingkat tinggi. Dia tahu kalau Itachi itu akan sangat kekanakan saat berhadapan dengan Naruko tapi tidak bisakah dia menahannya saat di hadapan anak-anaknya sendiri.

"oya, kenapa Kakashi-san datang bersamamu ?"

Ucapan polos Naruko sukses membuat Kushina dan Kakashi terdiam. Oya, mereka lupa kalau selama ini mereka tidak tahu tentang kebenaran Kakashi.

"sebenarnya selama ini aku menyuruh Kakashi untuk mengawasimu saat aku tidak ada."

Huh, aku sama sekali tidak tahu tentang itu.

"Kakashi itu adalah murid dari tou-sanmu, dan saat mendengar tentang rencanaku untuk menghilangkan sisi lainmu dia langsung menawarkan diri untuk membantu."

Itachi memandang Kakashi dengan pandangan tidak percaya.

"jadi dari awal kau sudah tahu kalau Naruto itu Naruko ?"

Kakashi mengangguk.

"yang benar saja, jadi hanya aku yang tertipu disini !"

Rajuk Itachi kekanakan. Naruko hanya menggeleng melihat tingkah kekanakan Itachi. Kadang dia bingung bagaimana cara dia bisa jatuh cinta pada makhluk seperti Itachi, dan sampai memiliki dua anak kembar. Jodoh itu kadang memang diluar akar sehatnya.

"pantas saat aku bilang 'dia sudah kembali' kau tidak terkejut. Lalu, apa untungnya untukmu Kakashi-san ?"

Kakashi tertawa canggung.

"yah, bisa dibilang aku membuat sedikit perjanjian dengan Shina-chan."

Kushina tertawa melihat wajah gugup Kakashi. Dia masih ingat betul saat itu dia sendiri yang menawarkan dirinya untuk membantu Naruko. Dan meminta ganti rugi yang menurutnya cukup berani untuk seorang murid kepada mantan istri dari gurunya.

"izinkan aku menjaga Ruko-chan Kushina-sensei !"

"benarkah ? wah terimaksih Kakashi-chan."

"dakara chan wa yamette !"

"haha baik-baik Kakashi-kun."

"ta-tapi itu tidak gratis."

"eh ?"

"Kushina-sensei harus mau menjadi istriku saat Ruko-chan sudah sembuh nanti."

"EH !"

Memang awalnya Kushina menganggap itu hanya cinta monyet remaja yang labil. Tapi pandangannya berubah, saat dia melihat Kakashi yang duduk bersimpuh di depannya, dia memberikannya sebuah cincin pernikahan. Semenjak itulah dia mencoba untuk menerima kehadiran murid dari almarhum suaminya itu untuk masuk kedalam hidupnya.

"Kami akan menikah minggu depan."

Itachi tersedak begitupun denga Naruko. Kejutan apa lagi ini.

"kalian serius ?"

Kakashi mengangguk.

"tidak pernah seserius ini Ruko-chan."

Naruko tertawa, siapa sangka jika orang yang sudah dia anggap aniki keduanya itu sekarang akan berganti title menjadi ayahnya, membayangkannya saja membuat Naruko ingin tertawa.

"Baiklah, Yoroshiku ne Otou-san. Psst rasanya aneh memanggil mu dengan panggilan tou-san."

"tapi kau harus tetap memanggilku begitu !"

Protes Kakashi sebal.

"Jadi kau benar-benar akan menjadi ayah mertuaku ?"

Kakashi mengangguk semangat.

"Benar sekali, jadi kau juga harus memanggilku Otou –"

"buahahahahahahahaha aku tidak bisa hahaahhahahahaha menahannya lagi hahahahahahahaha !"

Tawa Itachi memotong ucapan Kakashi. Dia heran kenapa dua orang aneh ini harus dia biarkan masuk kedalam hidupnya, dan lebih parahnya lagi mereka sebentar lagi akan menjadi anak dan juga menantunya. Poor you Kakashi-san.

˥[Ͼ_Ͽ]Γ (/∏,∏\) ˥[Ͼ_Ͽ]Γ

Setuju dengan kata pepatah need process to love and be loved. Don't be hurry, patient in waitin, sincere in waiting, if he/she is your soulmate. You must be together. Tidak peduli seberapa berat kisah yang menghalangimu untuk bertemu dengan jodohmu kalian pasti dipertemukan, dan tidak peduli seberada mudah kisah yang harus kau lalui jika dia bukan jodohmu kalian tidak akan bisa bersama. Karna jodoh tidak akan tertukar bukan.

Owari